COLLABORATIVE GOVERNANCE KOMISI PENANGGULANGAN AIDS DAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT LOKAL DALAMKASUS HIV AIDS DI KOTA SURAKARTA

Gratis

30
355
111
2 years ago
Preview
Full text
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id COLLABORATIVE GOVERNANCE KOMISI PENANGGULANGAN AIDS DAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT LOKAL DALAM KASUS HIV/AIDS DI KOTA SURAKARTA Disusun Oleh : Asri Swastini D0106036 SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Ilmu Administrasi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 commit to user i perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id HALAMAN PERSETUJUAN Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta Pembimbing Drs. Sudarmo, M.A. Ph.D NIP 196311011990031002 commit to user ii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id HALAMAN PENGESAHAN Telah diuji dan disahkan oleh Panitia Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta Pada Hari : Senin Tanggal : 20 Desember 2010 Panitia Ujian Skripsi (Ketua) 1. Drs. Sonhaji, M.Si NIP. 195912061988031004 (Sekretaris) 2. Drs. Muchtar Hadi, M.Si NIP. 195303201985031002 (Penguji) 3. Drs. Sudarmo, M.A, Ph.D NIP. 196311011990031002 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta Drs. H Supriyadi SN, SU NIP 195301281981031001 commit to user iii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id MOTTO “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. IA membaringkan aku di padang yang berumput hijau, IA membimbing aku ke air yang tenang; IA menyegarkan jiwaku. IA menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-NYA Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab ENGKAU besertaku; gadaMU dan tongkatMU, itulah yang menghibur aku. ENGKAU menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; ENGKAU mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” ( Mazmur 23 :1-6 ) commit to user iv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERSEMBAHAN Special Thanks for : Sahabatku yang begitu setia, tak pernah meninggalkanku, Memberi aku kekuatan yang memampukanku untuk tetap berjuang, Terima kasih Tuhan Yesus buat semua penyertaanMu yang sangat luar biasa di hidupku… Karya sederhana ini kupersembahkan kepada : - Ibuku terkasih, atas segala cintanya yang begitu tulus dan terima kasih sudah menjadi ibu sekaligus bapak yang hebat bagiku - Semua mas dan mbakku yang kukasihi - Ketujuh keponakan kecilku (Lintang, Jovan, Carissa, Deo, Kyla, Melody, dan Grace) yang selalu berhasil membuatku bersemangat kembali - Keluarga keduaku di PMK FISIP UNS, aku sangat mengasihi kalian commit to user v perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati senantiasa penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan judul “COLLABORATIVE GOVERNANCE KOMISI PENANGGULANGAN AIDS DAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT LOKAL DALAM KASUS HIV/AIDS DI KOTA SURAKARTA”. Berbagai hambatan dan pengalaman menjadi pengalaman yang berharga bagi penulis sebagai bagian dari proses penyelesaian studi di kampus. Berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihaklah akhirnya skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, atas segala bantuan, bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada penulis, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Drs. Sudarmo, M.A, Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan yang sangat bermanfaat. 2. Bapak Drs. Harsojo Soepodo, SH, MM selaku sekretaris penuh waktu KPA Surakarta yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di KPA Surakarta. 3. Bapak Drs. Prawoto Mujiyono selaku pengelola program KPA Surakarta atas segala kebaikan hati, keramahan, informasi, kesediaan waktu dan keterbukaan selama penelitian di KPA. 4. Ibu Hariyanti, A.Md selaku pengelola administrasi KPA yang telah sangat membantu dalam kelancaran penelitian. commit to user vi perpustakaan.uns.ac.id 5. digilib.uns.ac.id Semua manajer program dan staf LSM-LSM Peduli Aids Kota Surakarta : LSM Kakak, LSM SpekHam, LSM Gessang, LSM Mitra Alam, dan LSM Graha Mitra atas segala kerja sama dan keterbukaan informasi yang diberikan. 6. Keluarga besar AN’06 atas pertemanan yang mengesankan. 7. Semua sahabat OSPAMA yang selalu memberi dukungan. 8. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam penelitian ini, yang tidak bisa disebut satu persatu Penulis menyadari masih banyak kelemahan dan kekurangan dari skripsi ini karena adanya keterbatasan teknik dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dan semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi semua yang membacanya. Surakarta, Desember 2010 Penulis commit to user vii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii MOTTO .........................................................................................................iv PERSEMBAHAN............................................................................................v KATA PENGANTAR ....................................................................................vi DAFTAR ISI ............................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................x DAFTAR TABEL ..........................................................................................xi ABSTRAKSI................................................................................................ xii ABSTRACT ................................................................................................ xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……………………………………………….. 1 B. Rumusan Masalah…………………………………………………….. 7 C. Tujuan Penelitian……………………………………………………… 8 D. Manfaat Penelitian…………………………………………………….. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kolaborasi………………………………………………………… 9 1. Pendahuluan…………………………………………………… 9 2. Pengertian Collaborative Governance…………………………… 12 3. Alasan Kolaborasi…………………………………………… 18 4. Ukuran Keberhasilan Kolaborasi………………………………….. 28 5. Hambatan Kolaborasi……………………………………………… 38 commit to user viii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id B. Kolaborasi Pemerintah dalam Upaya Penurunan Angka HIV/AIDS… 43 C. Kerangka Berpikir………………………………………………….. 43 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian……………………………………………………… 46 B. Jenis Penelitian……………………………………………………… 48 C. Sumber Data………………………………………………………… 49 D. Teknik Pengumpulan Data………………………………………….. 50 E. Metode Penarikan Sampel…………………………………………… 52 F. Teknik Analisis Data………………………………………………… 53 G. Validitas Data……………………………………………………….. 55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian………………………………………………………. 58 B. Pembahasan…………………………………………………………. 75 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan………………………………………………………… B. Saran……………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN commit to user ix 97 100 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 2.1………………………………………………………………… 45 Gambar 3.1………………………………………………………………… 55 commit to user x perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Hal Tabel 1.1……………………………………………………………………… 3 Tabel 4.2……………………………………………………………………… 59 commit to user xi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRAKSI ASRI SWASTINI. D0106036. Collaborative Governance Komisi Penanggulangan Aids dan Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal dalam Kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta, Skripsi. Jurusan Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2010. Komisi Penanggulangan Aids Surakarta (KPA) berkolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat lokal (LSM) peduli Aids melakukan secara aktif tugas mereka untuk menurunkan angka penderita Aids. Dalam proses kolaborasi diantara mereka KPA tidak bekerja secara efektif tetapi bergantung pada LSM lokal peduli Aids dalam pencarian data dan penjangkauan kelompok sasaran. KPA tidak mendukung dalam pendanaan terhadap LSM lokal tetapi pihak LSM dalam operasionalnya dapat bertahan melalui bantuan dana dari lembaga donor internasional. Pihak LSM lokal merasa KPA tidak bekerja signifikan dalam penurunan angka penderita Aids. Penelitian ini menggunakan metode etnografi trianggulasi yang terdiri dari beberapa metode kualitatif meliputi observasi, wawancara mendalam dan telaah dokumen. Teknik pengambilan sampel menggabungkan purposive and snowball sampling. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi antara KPA dengan LSM lokal peduli Aids tidak berjalan efektif. commit to user xii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRACT ASRI SWASTINI. D0106036. Collaborative Governance of The Aids Prevention Commission and The Local Non-Government Organizations in Cases HIV/AIDS in Surakarta, Bachelor Thesis. The Department of Public Administration. Faculty of Social and Political Science, Sebelas Maret University, Surakarta. 2010 The Aids Prevention Commission called Komisi Penanggulangan Aids (KPA) in collaboration with any other local Non-Government Organizations (NGO’s) caring on Aids in Surakarta have activily conducted their tasks to alleviate the number of people suffering from Aids. In the process of collaboration among them, the KPA could not work effectivily but it is highly dependent on the local NGO’s in particaly in collecting data and reaching the targeted group. The KPA itself did not provide any financial support to the local NGO’s that in fact their survival is highly dependent on the overseas funding agencies. The local NGO’s themselves felt that the KPA did not significat work in alleviateing the number of people with Aids. This research used triangulation ethnography methods, consisting of some qualitative methods including observation, in-depth interview, and documentation. It used combined purposive and snow-ball samplings in the data collection. The research concludes that collaboration between the KPA and the local NGO’s caring on Aids worked ineffectively. commit to user xiii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit HIV/AIDS bukanlah jenis penyakit baru dalam dunia kesehatan. Penyakit ini telah dikenal cukup lama dimana saat ini keberadaannya semakin meluas dan dapat menyerang siapapun. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia. Sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung. (www.rri.co.id/2009/06/05) Jumlah kasus kematian akibat AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. Sejak 30 Juni 2007, 42% dari kasus AIDS yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan heteroseksual dan 53% melalui penggunaan obat terlarang. (www.rri.co.id/2009/06/05) Berdasarkan hal ini, maka permasalahan HIV/AIDS merupakan permasalahan serius yang harus diatasi. Selanjutnya permasalahan ini ditangani commit to user 1 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2 oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional dan memiliki Strategi Penanggulangan AIDS Nasional untuk wilayah Indonesia. Ada 79 daerah prioritas di mana epidemi AIDS sedang meluas. Daerah tersebut menjangkau delapan provinsi: Papua, Papua Barat, Sumatra Utara, Jawa Timur, Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Program-program penanggulangan AIDS menekankan pada pencegahan melalui perubahan perilaku dan melengkapi upaya pencegahan tersebut dengan layanan pengobatan dan perawatan. (www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/05/06) Diantara 8 provinsi yang diprioritaskan tersebut salah satunya adalah provinsi Jawa Tengah. Dalam konteks provinsi Jawa Tengah perkembangan penyebaran HIV dan AIDS semakin mengkhawatirkan dari tahun ke tahun sehingga dapat mengancam kesehatan masyarakat dan kelangsungan hidup manusia. Human Immunodeficiency Virus (HIV) penyebab Acquired Immuno deficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah virus perusak sistem kekebalan tubuh manusia yang proses penularannya sulit dipantau, meningkat secara signifikan dan tidak mengenal batas wilayah, pekerjaan, usia, status sosial, dan jenis kelamin. (http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/05/06). Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Surakarta sangat terlihat bahwa HIV/AIDS dapat terjadi pada siapapun. Kota Surakarta sendiri sebagai salah satu kota yang ada di provinsi Jawa Tengah menempati posisi nomor dua setelah kabupaten Banyumas untuk urusan jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di Jawa Tengah sejak bulan Maret 2010. Menurut commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3 Manajer Program The Global Fund-AIDS Tuberculosis Malaria District Implementing Surakarta Titiek Kadarsih, hal itu harus dipandang dari sisi positif bahwa gunung es penderita HIV/AIDS di Kota Surakarta semakin terungkap. "Kami menargetkan pada 2015 bisa terungkap semua gunung es, mencapai 860 penderita HIV/AIDS. Jika jumlahnya lebih banyak dari itu, berarti program yang kami kerjakan saat ini tidak tepat. Kami justru ingin menemukan sebanyakbanyaknya penderita agar bisa diobati untuk mencegah penularan lebih besar," kata Titiek. Sejak Oktober 2005-Maret 2010, di Surakarta ditemukan 365 kasus HIV/AIDS dengan 106 di antaranya meninggal. Dari jumlah penderita HIV/AIDS, persentase terbesar ditempati wanita pekerja seksual (WPS) sebanyak 149 orang dan ibu rumah tangga sebanyak 74 orang. (http://www.cetak.kompas.com) Tabel 1.1 Hasil Pemetaan Data Populasi Kunci KPA Maret 2010 Kel Risiko Estimasi Data Lap Dijangkau Gap ODHA Penasun (Idus) 270 1.309 753 556 69 WPS langsung 1.310 4.307 2.863 1.444 39 Pelanggan WPS 24.350 40.474 38.675 1.799 149 Waria 80 103 103 11 6 MSM/LSL 2.510 1.168 900 268 27 Ibu RT/Anak PLHIV/ODHA 74 860 331 156 104 364 Sumber : Data Cakupan Maret 2010, KPA Kota Surakarta Dari tabel tersebut dapat dilihat perkembangan kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta. Sampai bulan Maret 2010 ini masih terus ditemukan kasus-kasus HIV/AIDS baru yang berasal dari beberapa kelompok resiko, yaitu mulai dari commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4 pengguna narkoba suntik, WPS atau wanita pekerja seks, pelanggan WPS, waria, LSL atau laki-laki seks dengan laki-laki, sampai ibu-ibu rumah tangga dan atau anaknya. Dari hasil pemetaan data populasi kunci yang dilakukan oleh KPA kota Surakarta, masih terjadi gap antara estimasi, data lapangan, dan yang telah berhasil dijangkau oleh KPA maupun LSM-LSM peduli Aids yang ada di kota Surakarta. Gap atau selisih jumlah inilah yang menguatkan asumsi bahwa masih banyak kasus-kasus HIV/AIDS yang belum tersentuh oleh pemerintah ataupun institusi sosial lainnya. Selain itu, klien HIV/AIDS kota Surakarta juga terus meningkat bahkan dengan cukup cepat dan berkali lipat. Masih berdasarkan data cakupan Maret 2010 KPA kota Surakarta, pada bulan Oktober 2005 jumlah penderita HIV yang tercatat hanya 2 orang saja dan terus meningkat dari waktu ke waktu sekitar 15 kali lipat hingga berjumlah 30 orang pada tahun 2009, dan sudah ada 8 penderita HIV baru yang tercatat sampai bulan Maret 2010 ini. Sedangkan untuk penderita AIDS peningkatannya jauh lebih cepat. Pada Oktober 2005, hanya tercatat 2 orang penderita dan terus meningkat sampai pada tahun 2009 ditemukan ada 73 penderita AIDS. Itu berarti terjadi pelipatgandaan sampai lebih dari 36 kali, dan telah ditemukan 11 kasus penderita AIDS baru di bulan Maret 2010. (Sumber : Data Cakupan Maret 2010, KPA Kota Surakarta) Semakin tingginya angka HIV/AIDS di Kota Surakarta disinyalir karena masih rendahnya kesadaran masing-masing stakeholders untuk giat melakukan sosialisasi pada wilayah kerja mereka, dan rendahnya kesadaran dari masyarakat Surakarta sendiri terkait bahaya HIV/AIDS yang dapat menyerang siapapun. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5 Selama ini, HIV/AIDS memang masih kalah populer dibanding kasus demam berdarah meskipun sama-sama fatal akibatnya. Untuk tahun 2010 ini anggaran yang diberikan dari APBD Surakarta untuk program penanggulangan HIV/AIDS hanya sebesar 75 juta saja. Hal ini sangat kecil dibanding dengan dana LSM yang berasal dari lembaga donor luar negeri, bisa mencapai 1 miliar satu tahun untuk 5 kabupaten/kota. Di tingkatan pusat, pemerintah memiliki Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang yang berfokus pada upaya penanganan HIV/AIDS di seluruh Indonesia, selanjutnya KPA Nasional ini memiliki cabang-cabang baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. KPA Surakarta merupakan instansi independen yang bertugas sebagai koordinator penanganan HIV/AIDS di kota Surakarta. Semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Surakarta menjadi anggota KPA, meliputi semua dinas yang ada di Kota Surakarta, organisasi profesi seperti IDI, Persatuan Perawat, Organda, Apindo, dan lain-lain, dan LSM peduli AIDS yang ada di Kota Surakarta yaitu Mitra Alam (Injeksi Drug User), SpekHam (WPS dan pelanggan), Graha Mitra (Waria), Gessang (Gay), dan Yayasan Kakak (Anak yang Dilacurkan) sehingga diharapkan semua komponen ini bisa mengkomunikasikan dan menginformasikan tentang bahaya HIV/AIDS. Berdasarkan hal ini, maka KPA merupakan koordinator utama upaya penanganan HIV/AIDS di kota Surakarta dimana selanjutnya KPA Surakarta bekerjasama dengan stakeholders lain dengan tujuan penanggulangan HIV/AIDS dapat jauh lebih efektif. Tugas KPA hanya sebagai koordinator. Hal ini diperkuat melalui pernyataan Drs. Prawoto Mujiyono, selaku pengelola program KPA Surakarta : commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6 “KPA itu tugasnya adalah untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan yang ada di daerah ini yang berkaitan dengan pencegahan, penanggulangan sehingga akan terwujud penurunan angka HIV. Koordinator supaya upaya kegiatan itu berjalan lancar. KPA kan bukan lembaga implementer tapi koordinator.” Program yang dimiliki KPA selama ini antara lain sosialisasi kepada masyarakat maupun kelompok-kelompok beresiko melalui berbagai media, penjangkauan pada kelompok-kelompok beresiko untuk mau memeriksakan kesehatannya baik ke klinik IMS (inveksi menular seksual) yang ada di puskesmas Manahan dan Sangkrah maupun ke klinik VCT (voluntary counseling and testing) yang ada di RS. Dr. Moewardi dan RS. Dr. Oen, training PE (peer educator) atau kelompok dampingan sebaya yang akan mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS di kelompok mereka masing-masing dan training PO (peer outreach) atau petugas penjangkau yang bertugas mengarahkan teman sebaya untuk mau periksa ke IMS dan VCT. Perkembangan kondisi terbaru kasus-kasus HIV/AIDS di Surakarta dapat selalu dipantau oleh KPA karena KPA sebagai koordinator, mengkoordinasi klinik-klinik dan LSM-LSM peduli Aids yang ada di Surakarta untuk memberikan laporan bulanan kepada KPA yang selanjutnya akan dilaporkan kepada walikota. Kerjasama yang terjalin antara KPA dengan stakeholders lain selama ini masih hanya sebatas kesepakatan bersama, sehingga terkadang stakeholders yang lain merasa tidak terlalu menganggap penting untuk ikut berperan aktif menurunkan angka HIV/AIDS di Kota Surakarta atau setidaknya aktif dan sungguh-sungguh dalam upaya sosialisasi bahaya HIV/AIDS di wilayah kerja mereka masing-masing. Yang terjadi selama ini, pihak LSMlah yang paling commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7 berperan menjangkau kelompok-kelompok beresiko tinggi terkena HIV/AIDS dan sosialisasi kepada masyarakat. Berdasar hal inilah, maka penelitian ini menekankan pada kolaborasi antar institusi dalam upaya penurunan HIV/AIDS dan tidak memfokuskan pada penurunan HIV/AIDS melainkan hanya menekankan pada kolaborasi antar insitusi itu saja. Institusi yang dimaksud disini adalah KPA dengan LSM-LSM peduli Aids yang selama ini dianggap paling berperan dalam proses penanggulangan HIV/AIDS di Kota Surakarta. Dengan demikian, hasil penelitian nantinya akan berfokus pada masalah kolaborasi antar institusi yang selama ini berjalan, yaitu antara KPA dengan LSM-LSM peduli Aids mengenai sejauh mana efektivitas kolaborasi tersebut dan tidak menitikberatkan pada hasil penurunan angka HIV/AIDS di Kota Surakarta. A. Rumusan Masalah Penelitian ini akan memfokuskan kajian pada perumusan masalah, yaitu : 1. Bagaimana KPA menyelenggarakan tugas pokok dan fungsinya dalam upaya penanganan kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta ? 2. Bagaimana kolaborasi yang dibangun KPA dengan LSM-LSM Peduli Aids yang ada di Kota Surakarta untuk penanganan kasus HIV/AIDS dan seberapa efektif kolaborasi tersebut ? commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8 B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu : 1. Mengetahui program-program yang selama ini dilakukan oleh pihak KPA dan LSM-LSM peduli Aids dalam upaya penurunan angka penularan HIV/AIDS di Kota Surakarta. 2. Mengetahui efektivitas kolaborasi antara KPA dan LSM-LSM peduli Aids dalam upaya penurunan angka penularan HIV/AIDS di Kota Surakarta. 3. Memberikan rekomendasi tentang kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Surakarta. C. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Memberikan masukan dalam upaya perbaikan kinerja kebijakan dan peningkatan kolaborasi antar instansi melalui rekomendasi kebijakan. 2. Memperluas pengetahuan dan wacana baru bagi pembaca mengenai keadaan dan kondisi terkini HIV/AIDS di Kota Surakarta dan kolaborasi yang terjalin selama ini. 3. Meningkatkan kompetensi penulis sebagai mahasiswa ilmu administrasi dalam mengkaji permasalahan sosial dalam masyarakat. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kolaborasi 1. Pendahuluan Teori-teori yang dipakai dalam penelitian ini banyak mengambil dari karya-karya penelitian Sudarmo, hal ini dikarenakan teori-teori yang ada sangat relevan dan tepat untuk diterapkan dalam penelitian skripsi ini. Sebuah masalah yang dirasakan orang atau kelompok orang, mungkin tidak dirasakan oleh kelompok lainnya. Namun sangat mungkin persoalan yang terjadi di kelompok tertentu, akan berdampak bagi kelompok lainnya, demikian seterusnya sehingga kelompok yang pertama merasakan bahwa kemungkinan mereka akan semakin merasakan banyak beban ketika masalah dari pihak lainnya menimpa padanya. Dalam menangani, mengelola dan menata suatu masalah publik, sering tidak cukup hanya dilakukan oleh unit-unit institusi-institusi pemerintah setempat baik secara terpadu atau terkait, melainkan tidak jarang memerlukan keterlibatan institusi non-pemerintah lainnya, termasuk lembaga swadaya lokal (LSML) sesuai dengan pusat perhatian yang mereka masing-masing. Ketika cara mengelola, menata dan memenej suatu urusan adalah dengan melibatkan berbagai stakeholder dalam suatu jaringan atau kelompok, maka disinilah konsep collaborative governance antar institusi, termasuk institusi pemerintah maupun non pemerintah, penting digunakan untuk menganalisis sistem pengelolaan secara bersama. commit to user 9 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10 Ketika sebuah isu menegaskan adanya kolaborasi antara institusi maka dalam perspektif administrasi publik, seharusnya didalamnya telah tercakup konsep collaborative governance karena paradigma administrasi publik yang menekankan nilai-nilai citizenship dan atau demokrasi secara tidak langsung (dengan sendirinya) mempraktekan governance, meskipun dimungkinkan juga stakeholder tertentu tidak dilibatkan secara fisik tetapi kepentingan mereka seoptimal mungkin diupayakan untuk diakomodasi dalam proses pengambilan keputusan. Dalam konteks ini stakeholder bisa didefinisikan sebagai pihak (atau orang atau kelompok) yang terpengaruh atau terkena dampak dari sebuah tindakan, program atau kebijakan atau pihak yang memang seharusnya dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan suatu pemecahan suatu persoalan bersama. Kolaborasi antar institusi menjadi isu penting dalam administrasi publik mengingat banyak persoalan publik yang memiliki implikasi luas yang tidak bisa ditangani secara optimal dan dipecahkan secara tuntas jika hanya mengandalkan pada satu institusi pemerintah saja. Melalui kolaborasi ini diharapkan persoalan atau masalah publik yang dihadapi bisa atasi atau paling tidak bisa diminimalisir secara signifikan. Collaborative governance muncul dan dikembangkan secara adaptif untuk merespon adanya kompleksitas dan konflik-konflik bernuansa politik atau persolan-persoalan yang menuntut diadopsinya nilai-nilai demokrasi, namun konsep tersebut tidak atau belum diinspirasikan oleh filosofi politis atau teori tertentu. Dengan kata lain ada commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11 kecenderungan bahwa dilakukannya collaborative governance didorong oleh adanya upaya pragmatisme dalam menyelesaikan masalah yang selama ini tidak kunjung teratasi melalui penerapan teori-teori konvensional yang selama ini dipercaya mampu mengatasi masalah (Sudarmo, 2010). 2. Pengertian Collaborative Governance Pengertian kolaborasi secara umum bisa dibedakan ke dalam dua pengertian: (1) kolaborasi dalam arti proses, dan (2) kolaborasi dalam arti normative (Sudarmo, 2010). Pengertian kolaborasi dalam arti sebuah proses merupakan serangkaian proses atau cara mengatur/mengelola atau memerintah secara institusional. Dalam pengertian ini, sejumlah institusi, pemerintah maupun non pemerintah (termasuk lembaga-lembaga swadaya masyarakat setempat/atau [LSM] lokal dan lembaga-lembaga swasta lokal maupun asing) ikut dilibatkan sesuai dengan porsi kepentingannya dan tujuannya. Bisa saja, kolaborasi ini hanya terdiri dari institusi-institusi pemerintah saja, LSM lokal saja, lembaga swasta saja; atau bisa juga mencakup institusi yang berafilisasi ke pemerintah berkolaborasi dengan LSM-LSM setempat yang didanai oleh pihak swasta/LSM/penyandang dana dari luar negeri. Namun dalam kolaborasi ini institusi-institusi yang terlibat secara interaktif melakukan governance bersama.Adapun porsi keterlibatanya tidak selalu sama bobotnya, mungkin saja mereka hanya terlibat dalam hal penyediaan data-data tentang angka riil penderita commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12 HIV/AIDS oleh LSM ke institusi pemerintah, sedangkan operasi lapangan dalam memberikan penyuluhan dilakukan langsung oleh LSM-LSM tersebut yang secara intensiif didanai oleh pihak asing, atau didukung oleh pihak pemerintah dalam hal penyediaan kondom dan alat kontrasepsi lainnya. Sedangkan kolaborasi dalam pengertian normative merupakan aspirasi, atau tujuan-tujuan fisolofi bagi pemerintah untuk mencapai interaksi-interaksinya dengan para partner atau mitranya. Memang collaborative governance bisa merupakan bukan institusi formal tetapi juga bisa merupakan a way of behaving (cara berperilaku/bersikap) institusi non-pemerintah yang lebih besar dalam melibatkan ke dalam manajemen publik pada suatu periode (Sudarmo, 2010). Dalam hal ini kolaborasi antara KPA Surakarta dan para LSM lokal Surakarta yang berkepentingan dalam penurunan angka HIV/AIDS bisa juga dikategorikan ke dalam kolaborasi dalam konteks normatif sepanjang sama-sama memiliki aspirasi atau tujuan-tujuan yang serupa untuk menurunkan penyebaran HIV/AIDS, walaupun masing-masing LSM tersebut bekerja secara-sendiri-sendiri sesuai dengan ketentuan yang mereka sepakati bersama penyandang dana masing-masing bagi LSM tersebut. Namun demikian, jika peneliti lebih berkepentingan untuk menganalisis atau meneliti pada kolaborasi antar institusi dalam penurunan angka HIV/AIDS maka sifat kolaborasi ini lebih menekankan pada proses; dan sebaliknya jika peneliti atau analis lebih concern pada motif atau commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13 tujuan untuk menurunkan angka HIV/AIDS maka kolaborasi antara KPA dan LSM peduli HIV/AIDS bisa dikategorikan sebagai kolaborasi dalam arti normatif. Dengan mengacu pada dua pengertian ini maka seorang peneliti atau analis bisa memilih apakah dia akan memfokuskan kolaborasi dalam arti proses atau dalam arti normatif. Dalam konteks hubungan kerjasama KPA dan para LSM lokal di Surakarta yang peduli atau berkecimpung terhadap isu tentang penderita HIV/AIDS, bisa dikategorikan sebagai collaborative governance dalam arti proses, terutama ketika peneliti atau analis tidak ada ketertarikan untuk melihat lebh jauh hasil akhir dari kolaborasi tersebut dalam penurunan angka HIV/AIDS. Bisa disebut demikian karena KPA secara berkolaborasi bersama LSM-LSM peduli AIDS ikut mengelola bagaimana berupaya menurunkan angka HIV/AIDS di Surakarta walaupun hasil akhirnya kurang diperhitungkan, apakah dari kolaborasi tersebut angka tersebut akan menurun atau bahkan akan meningkat mengingat banyak faktor dari para individu rentan penyakit menular itu sendiri yang justru ikut berkontribusi bagi peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS. Pada umunya, collaboration dipandang sebagai respon organisasi terhadap perubahan-perubahan atau pergeseran-pergeseran lingkungan kebijakan. Pergeseran-pergeseran bisa dalam bentuk jumlah aktor kebijakan meningkat, isu-isu semakin meluas keluar batas-batas normal yang biasa dirasakan atau sulit terdeteksi karena ketertutupannya, commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14 kapasitas pemerintah daerah, kota dan atau pemerintah pusat terbatas sedangkan institusi-institusi di luar pemerintah meningkat, dan inisiatif spontan masyarakat semakin meluas dan kritis. Ketika pergeseranpergeseran tersebut terjadi, maka hal ini bisa dirasakan bahwa pemerintah memiliki pilihan terbatas atau kecil dan bahkan seakan dipaksa untuk mengikuti untuk segera menyelesaikan atau mengatasi apa yang tengah menjadi isu tersebut; namun demikian pemerintah tetap harus menyesuaikan dan membuat dirinya tetap relevan dengan lingkungan yang tengah bergejolak atau berubah. Kolaborasi dalam konteks ini merupakan cara merespon terhadap perubahan sehingga pemerintah tetap aktif dan harus tetap efektif dalam suatu lingkungan manajemen publik yang kompleks dengan tetap melibatkan para institusi-institusi lain yang relevan dengan tujuan yang diinginkan. Lebih dari itu, collaboration dipandang sebagai gambaran tentang cara menangani sesuatu isu atau persoalan tertentu yang sifatnya kabur dan tidak jelas yang memiliki implikasi bahwa ukuran-ukuran (standarstandar) dan relevansi dari wilayah isu yang satu ke wilayah isu lainnya secara berbeda-beda. Dengan demikian, siapa/stakeholder mana saja yang dilibatkan atau harus dilibatkan dalam kolaborasi, dan bentuk dan proses kolaborasi dimungkinkan akan berbeda-beda dari sebuah wilayah isu tertentu ke isu lain dan dari satu sektor ke sektor lain. Ini untuk menggaris bawahi bahwa kolaborasi antara institusi dalam penurunan angka penularan HIV atau pedagang kaki lima misalnya, tentu berbeda dengan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15 stakeholder mana saja yang terlibat atau dilibatkan, bentuk dan proses kolaborasi nya dalam isu-isu kesejahteraan petani padi, perdagangan anak, pelacuran, dan isu tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri. Satu hal yang perlu diyakini dan diterima adalah bahwa sebenarnya kolaborasi bukanlah hal baru. Sejak lama kolaborasi telah banyak dilakukan namun fenomena ini semakin mendapat perhatian akhir-akhir ini terutama ketika disadari bahwa single otoritas sering tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi atau tidak mampu memenuhi dengan kapasitas yang dimilikinya di era pelayanan publik seiring dengan pergeseran paradigma pelayanan dalam administrasi publik. Namun tentu saja setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi kolaborasi ini, sesuai dengan perspektif displin ilmu yang mereka gunakan. Terkait dengan konsepsi kolaborasi, sejumlah pemerhati mengemukakan pandangannya bahwa pemerintah sejak lama sudah melakukan kolaborasi, yakni dalam bentuk mencari diluar batas-batas wilayah pemerintah untuk medapatkan saran-saran atau nasehat, ahli, dan mitra kerja yang potensial. Sebagian lainnya mengatakan bahwa kolaborasi yang sifatnya non-hirarkhis dan non birokratis pada dasarnya berkebalikan dari apa yang secara tradisional (hirarkis dan birokratis) telah diperlihatkan pemerintah, dan cenderung bersifat top-down terhadap mitranya. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16 Apakah pemerintah melakukan atau tidak melakukan kolaborasi di masa lampau, hampir bisa disepakati secara konsensus bahwa dalam hal dimana lingkungan kebijakan berubah berarti bahwa pemerintah dituntut harus mengadopsi kesepakatan governance yang cepat agar efektif namun bisa diterima semua pihak. Padahal, agar setiap keputusan bisa diterima oleh semua pihak, menuntut adanya collaborative governance dalam setiap pembuatan keputusan yang melibatkan partisipasi semua stakeholder dan mengakomodasi kepentingan semua kelompok. Ini untuk menggarisbawahi bahwa jika pemerintah daerah atau lembaga tertentu yang berafiliasi ke pemerintah mengambil keputusan yang bisa berpengaruh bagi kehidupan kelompok marginal, seperti pedagang kaki lima, mereka yang terjangkit HIV atau penyakit AIDS (kaum ODHA), kaum homoseksual, misalnya, maka melakukan kolaborasi dengaan kelompok tersebut adalah hal yang sangat penting agar tidak terjadi penolakan hasil keputusan tersebut oleh mereka. Atau, pemerintah dan atau lembaga-lembaga yang berafiliasi ke pemerintah, perlu berkolaborasi dengan lembaga-lembaga swadaya yang memfokuskan pada persoalanpersoalan kaum marginal tersebut agar mampu memahami, mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kelompok-kelompok tersebut secara efektif.(Sudarmo, 2010) commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17 3. Alasan Melakukan Kolaborasi Secara umum collaborative governance muncul secara adaptif atau dengan sengaja diciptakan secara sadar karena alasan-alasan sebagai berikut: (1) kompleksitas dan saling ketergantungan antar institusi, (2) konflik antar kelompok kepentingan yang bersifat laten dan sulit diredam, dan (3) upaya mencari cara-cara baru untuk mencapai legitimasi politik (Sudarmo, 2010). Fragmentasi hukum dan pemecahan masalah yang sifatnya multi jurisdiksi merupakan dua sumber utama atau symptom adanya kompleksitas institusi dan interdependensi. Konflik antar kelompok kepentingan yang bersifat laten dan sulit diredam seringkali merugikan berbagai pihak dan memerlukan tenaga dan perhatian yang sangat besar. Sehingga tanpa melakukan collaborative governance dalam pemecahan masalah, konflik antar kelompok sulit untuk diatasi. Juga, ketka berbagai upaya telah dlakukan dan belum membuahkan hasil, maka kolaborasi bisa dilakukan sebagai upaya pemecahan masalah yang memiliki legitimasi kuat karena melibatkan berbagai kelompok kepentingan untuk secara aktif berpartisipasi dn mengambil keputusan secara bersama-sama untuk bisa disetujui secara bersama-sama. (Sudarmo, 2010). Terdapat banyak argumen tentang berkembangnya pentingnya melakukan collaborative governance, antara lain adalah karena: (1) kegagalan implementasi kebijakan di tataran lapangan, (2) ketidakmampuan kelompok-kelompok, terutama karena pemisahan regim- commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18 regim kekuasaan untuk menggunakan arena-arena institusi lainnya untuk menghambat keputusan, (3) mobilisasi kelompok kepentingan, dan (4) tingginya biaya dan politisasi regulasi (Sudarmo, 2010). Disamping empat alasan tersebut diatas, terdapat dua alasan lain atas kemunculan dan dikembangkannya collaborative governance, yakni: (1) pemikiran-pemikiran yang semakin luas tentang pluralisme kelompok kepentingan, dan (2) adanya kegagalan akuntabilitas manajerialisme (terutama manajemen ilmiah yang semakin dipolitisasi) dan kegagalan implementasinya (Sudarmo, 2010). Demikian pula, kecenderungan dilakukannya collaborative governace adalah dilatarbelakangi oleh perkembangan organisasi dan tumbuhnya pengetahuan dan kapasitas institusi atau organisasi seiring dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari lingkungan selama organisasi tersebut bekerja dalam rentang waktu tertentu (Sudarmo, 2010). Ketika pengetahuan semakin terspesialisasi dan terdistribusi dan ketika infrastruktur institusi bagi pemecahan masalah dan deliberasi menjadi semakin berkembang, kompleks dan padat, maka tuntutan dan permintaan kolaborasi antar bagian atau institusi meningkat pula mengingat sebuah masalah sering merdampak bagi semua bagian atau sejumlah institusi atau masalah sejenis menjadi fokus perhatian dari berbagai institusi yang memiliki kepentingan sejenis sedangkan mereka memiliki keahlian berbeda-beda yang mungkin bersifat komplementer; dengan demikian pemecahan masalah secara kolaborasi antara institusi menjadi hal yang commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 19 lebih direkomendasikan atau justru merupakan sebuah kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang. Justru karena collaborative governance kemunculannya dan perkembangannya sifatnya adaptif (sengaja diciptakan) terhadap suatu persoalan yang menuntut pemecahan dari berbagai pihak terkait maka dimungkinkan bahwa bentuk-bentuk collaborative governance akan bervariasi dan mencakup banyak bentuk, yang antara lain dalam hal manajemen, kebijakan komunitas, keterlibatan wakil rakyat, negosiasi regulasi, dan perencanaan kolaborasi serta bentuk-bentuk lain yang mencakup berbagai stakeholder yang harus terlibat secara normatif. Juga dalam analisis collaborative governance perlu ditegaskan batas-batas definisinya yang tentu saja bervariasi dalam hal (1) tingkat formalitasnya, (2) tingkat durasinya, (3) tingkat fokusnya, (4) tingkat institutional diversity nya, (4) tingkat “valence” nya, (5) tingkat stability atau volatility nya, (6) tingkat inisiatifnya, dan (7) tingkat pencetusan masalah, apakah sifatnya probel-driven atau opportunity-driven (Sudarmo, 2010). Ke tujuh elemen inilah yang kemudian ikut berkontribusi dalam mendefinisikan collaborative governance. Terkait dengan sifat kolaborasi, hubungan collabotarive governance bisa berjalan secara terlembaga melalui kontrak-kontrak formal atau juga collaborative relationships bisa berjalan melalui kesepakatan informal. Memang sekarang telah banyak hubungan kolaboratif melalui kontrak atau kesepakatan formal sehingga mudah commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 20 menjelaskan, mendeskripsikan para partisipannya, mudah menggambarkan atau menjelaskan prosedurnya, dan mudah menjelaskan tujuanya. Namun demikian, sebaliknya jika hubungan kolaboratif dilakukan melalui kespakatan informal maka cenderung lebih sulit untuk menganalisis meskipun tetap bisa dilakukan. Hubungan kelompok marginal dan Pemerintah kadang bisa formal kadang bisa informal. Namun demikian, jika telah menyangkut persoalan keuangan atau tanggung jawab keuangan yang harus disetorkan pedagang kaki lima (PKL) misalnya, ke pihak-pihak tertentu termasuk pihak swasta atau perusahaan tertentu, maka hubungan kolaborasi lebih menekankan pada kesepakatan atau kontrak formal agar jelas garis tanggung jawabnya. Juga hubungan formal bisa terjadi terutama antara pihak LSM kepada pihak penyandang dana; dan hubungan semi formal bisa terjadi antara LSM dan lembaga pemerintah yang sama-sama memfokuskan pada isu penurunan angka HIV di Surakarta. Durasi kolaborasi bisa bersifat permanen atau sementara. Kolaborasi yang bersifat permanen antara kelompok marginal dan pemerintah bisa berupa hubungan hak dan kewajiban antara kedua stakeholder. Contohnya, KPA yang pada prakteknya memerlukan kolaborasi dengan LSM-LSM lokal yang memiliki kepentingan serupa dalam hal penurunan angka HIV, berkewajiban melaporkan hasil kerjanya kepada Walikota Surakarta. Namun demikian, apakah kolaborasi itu akan berjalan secara permanen atau sementara belum bisa diprediksikan mengingat kesinambungan kehidupan LSM peduli AIDS di Surakarta commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 21 sangat tergantung pada penyandang dana dari luar negeri. Sebaliknya KPA yang seharusnya ikut mendukung secara finansial kepada LSM-LSM lokal peduli AIDS, institusi pemerintah tersebut belum memberikan kontribusi finansial secara signifikan. (Sudarmo, 2010) Fokus collaborative governnace juga bervariasi, ada yang cukup luas ada yang spesifik. Ada kecenderungan semakin spesifik fokus kolaborasi maka semakin memudahkan dalam analisis karena unsur-unsur yang akan dianalisis sifatnya khusus dan spesifik dan terfokus. Sebaliknya jika fokus kolaborasi terlalu luas maka akan mempersulit analisis karena terlalu banyak bagian yang harus dianalisis sehingga menuntut kejelian yang amat tinggi untuk mendapatkan hasil analisis yang tajam, dalam dan komperehensif. Collaborative governace terhadap kaum marginal pada dasarnya cukup spsesifik, namun analisis bisa meluas tergantung pada seberapa kompleks hubungan mereka dan stakeholder lainnya dalam governance. Untuk kepentingan penelitian, peneliti atau analis bisa memfokuskan pada kolaborasi antara institusi pemerintah dengan LSM lokal setempat peduli AIDS; atau kolaborasi antara institusi pemerintah dengan kaum marginal lainnya. Collaborative governance memerlukan sejumlah institusi (kelompok beserta para pemukanya) yang berpartisipasi dalam governance (penataan, penertiban, pembinaan, pemberdayaan atau pengelolaaan kelompok marginal) yang semuanya ikut dianalisis terkait dengan peranannya dan kontribusinya masing-masing dalam menangani persoalan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 22 terkait dengan masalah yang dihadapi stakeholder lainnya terutama pihak pemerintah setempat (Sudarmo, 2009a). Demikian pula ketika akan menganalisis isu penurunan angka HIV maka perlu dilihat pula stakeholder yang terlibat termasuk KPA dan LSM-LSM peduli AIDS seSurakarta, serta institusi-institusi atau individu-individu tertentu yang terlibat. Collaborative governance juga memerlukan kejelasan “valence” yaitu para pelaku atau pemain yang secara jelas berhubungan bersamasama dalam kolaborasi dan jumlah hubungan diantara mereka. Dalam konteks collaborative governance kaum marginal maka ada beberapa pelaku yang berhubungan dengan mereka termasuk pihak pemerintah dan sejumlah pihak swasta, dan bahkan mungkin saja partai politik tertentu Walaupun analisis perlu membatasi, tetapi tidak mudah karena tidak menutup kemungkinan stakeholder yang kurang diperhitungkan justru merupakan unsur penting bagi collaborative governance, misalnya, dalam hal penurunan angka HIV, analis/peneliti perlu membatasi institusiinstitusi mana saja yang benar-benar terlibat secara kolaboratif, namun peneliti/analis perlu waspada pihak-pihak mana saja yang perlu dijadikan informan mengingat tidak jarang sejumlah informan jauh dari perhatian dan jangkauan peneliti/analis yang mengakibatkan data kurang akurat. (Sudarmo, 2010) Collaborative governance juga mungkin sifatnya stabil sampai dengat batas tertentu berkaitan dengan “rasa berbagi diantara para commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 23 anggota” seperti pada kolaborasi antara KPA dan LSM-LSM se Surakarta yang peduli AIDS mungkin bersifat lama atau permanen atau bisa saja tak tentu tergantung seberapa mampu lembaga-lembaga ini mampu beroperasi dengan topangan dana tertentu mengingat dana amat penting peranannya bagi kesinambungan operasi mereka. Sebuah LSM bisa saja berhenti beroperasi ketika penyandang dana tidak lagi secara berkesinambungan mendanai aktivitasnya. Banyak LSM di Surakarta hidupnya masih tergantung pada penyandang dana dari luar negeri. Ini berarti bahwa kondisi keuangan yang minimal bisa mengancam kesinambungan kolaborasi dengan KPA terutama ketika LSM tersebut berhenti beroperasi. Semakin kurang stabil sebuah kolaborasi maka semakin besar energi yang harus mereka curahkan melalui rasa berbagi bersama guna memelihara dan mempertahankan kolaborasi itu sendiri. (Sudarmo, 2010) Collaborative governance juga mencakup pengertian keterlibatan institusi-institusi mana saja yang tengah memulai usaha kerjasama, dan apa insiatif dari masing-masing menentukan/mendefinisikan tujuan, institusi (stakeholder) menilai hasil, dalam menyebabkan perubahan, dan sebagainya. Dengan kata lain siapa yang mempengaruhi (atau mengajak) kepada yang lain. Maka dalam hal ini, siapa yang memulai melakukan inistaitif bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, inisiatif pasti bermula dari pemain/pelaku yang memiliki tuntutan jelas untuk mencerminkan kepentingan publik yang lebih besar. Dalam masyarakat yang sudah sangat demokratis dan berjalan secara optimal tingkat commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 24 demokrasinya, semua pencapaian tujuan yang diperoleh dalam proses kolaborasi tentunya bisa dinilai. Namun demikian, dalam keadaan demokrasi sangat lemah atau pemerintahnya itu sendiri tidak demokratis (misalnya tidak bersih, korup) atau bahkan tidak ada pemerintah, maka menilai hasil kolaborasi sangat tidak masuk akal dan bahkan dalam secara umum bisa kontroversial karena persyaratan yang diperlukan (yaitu pemerintah yang demokratis) tidak dipenuhi. Kedua, masing-masing stakeholder atau institusi yang berkolaborasi harus memiliki peran dalam menentukan tujuan-tujuan kolaborasi. Jika ternyata instutusi lain hanya sekedar berperan sebagai agen yang terlibat dalam mengimplementasikan agenda dari pelaku dominan (atau pelaku utama, katakanlah menjalankan agenda pemerintah atau agenda dari swasta besar) maka hubungan yang tercipta pasti bukan hubungan collaborative governance (Sudarmo, 2010), tetapi bentuk hubungan yang lain yang bisa berupa kooptasi, dominasi dan mungkin saja divide and rule yang bertentangan dengan democratic collaborative governance (Sudarmo, 2008) Ketiga, Hubungan diantara institusi-institusi yang terlibat harus bersifat strategic, artinya bahwa setiap institusi dalam melakukan tindakan selalu bisa dilihat secara transparan oleh institusi lainnya yang merupakan bagian dalam kolaborasi itu dan antisipasi bahwa institusi lain akan memberikan respon terhadap perilaku atas tindakan dari institusi tersebut, sehingga saling memperlihatkan transparansi dalam bertindak dan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 25 antisipasi terhadap respon atas tindakan yang dilakukan dalam collaborative gobernance merupakan sebuah kelaziman yang harus terjadi (Sudarmo, 2010). Dalam collaborative governance, apakah kolaborasi itu ditujukan untuk mempertahankan staus quo dari pihak-pihak tertentu yang ingin tetap mempertahankan keadaan yang selama ini memberikan keuntungan dan atau mempertahankan kekuasaannya atau dominasinya sehingga bersifat “defensive”, ataukah kolaborasi itu bertujuan untuk memperbaiki situasi staus quo (sesuatu yang ingin dirubah dari situasi sekarang yang selama ini dipandang tidak membawa kebaikan bagi banyak/semua pihak). Jika kolaborasi ini dilakukan untuk memperbaiki situasi yang masih bersifat status quo, maka gaya collaborave tersebut merupakan kolaborasi yang sifatnya “offensive”. Collaborative governance bisa mengambil dua bentuk ini, bisa berupa salah satu atau campuran keduanya. Demikian pula kolaborasi antara KPA dan LSM peduli AIDS bisa mengambil bentukbentuk seperti itu. Namun untuk kedepan kolaborasi yang bersifat defensive kurang mendukung bagi terselenggaranya pelayanan penderita AIDS atau bahkan penurunan angka AIDS sekalipun jika KPA dijadikan sebagai institusi dominan yang menangani AIDS karena dalam tataran praktis keberadaan lembaga ini juga masih menggantungkan kapasitas masing-masing LSM peduli AIDS di Surakarta. Dengan demikian, kedepan, KPA perlu menjalankan gaya kolaborasi yang offensif , yakni melakukan perubahan-perubahan atau perbaikan dalam mendukung kinerja commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2

Dokumen baru