Pengaruh Kerjasama Pertanahan dan keamanan Amerika Serikat-Indonesia Melalui Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) Terhadap Peningkatan Kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Gratis

0
65
157
2 years ago
Preview
Full text

PENGARUH KERJASAMA PERTAHANAN DAN KEAMANAN AMERIKA SERIKAT-INDONESIA MELALUI INDONESIA-U.SSECURITY DIALOGUE (IUSSD) TERHADAP PENINGKATAN

KAPABILITAS TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI) SKRIPSIDiajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer IndonesiaEKA PRASETYO 44305002 UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL BANDUNG2009

KATA PENGANTAR

  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Analisis, yaitu metode yang menggambarkan kenyataan dan situasi berdasarkandata yang satu dengan data yang lainnya berdasarkan pada teori dan konsep- konsep yang digunakan, maka hipotesis yang diambil sebagai berikut “KerjasamaPertahanan dan Keamanan Amerika Serikat-Indonesia melalui Indonesia-U. Berdasarkan perolehan dan pengolahan data, dari hipotesis di atas teruji bahwa IUSSD memiliki pengaruh dalam peningkatan kapabilitas TNI, baikAngkatan Laut, Angkatan Udara maupun Angkatan Darat, terutama peningkatan kemampuan teknis personil dan korps angkatan, tetapi IUSSD ini tidak memberipengaruh yang signifikan terhadap keadaan Alutsista, karena Alutsista setiap angkatan masih berada di bawah standar ideal kebutuhan pertahanan Indonesia.

INDONESIA (TNI)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

  Dengan era reformasi yang sedang dilaksanakan di Indonesia dan dengan keadaan luas wilayah Indonesia yang besar juga terdapat pulau-pulau kecil sertaterdiri dari bermacam-macam suku, Indonesia mempunyai tantangan tersendiri dalam menjaga keutuhannya. TNI berperanpenting dalam menjaga kedaulatan NKRI, oleh karena itu kemampuan atau kapabilitas TNI sebagai ujung tombak dalam memperkuat pertahanan dan Dalam melakukan tugasnya untuk menjaga pertahanan dan keamananNKRI, TNI dapat bekerjasama pula dengan rakyat, karena konsep utama strategi pertahanan adalah melakukan pembinaan dari rakyat sebagai unsur utama darientitas bangsa tersebut.

5. Meningkatkan persahabatan dengan negara negara tetangga, khususnya di

  Tak lepas dari kekuatan laut dan udara, kekuatan darat juga sangat diperlukan untuk mempertahankan wilayah nasionaldengan mendayagunakan seluruh potensi yang ada di dalam masing-masing Dengan kondisi serba terbatas, kemampuan TNI mengantisipasi apalagi mengatasi ancaman yang mungkin muncul di kawasan Asia Pasifik agaknyameragukan. Delegasi AS menyatakan bahwa pada saat ini (Tahun Anggaran 2006) telah tersedia dana untuk membantu Indonesia membeli peralatan atau pelatihansekitar $US 1 M untuk TNI melalui program FMF; serta merencanakan untuk mengajukan kepada kongres dana anggaran untuk TNI untuk TA 2007 sekitar$US 6.5 M, yang umumnya diperuntukkan bagi kebutuhan keamanan maritim.

1.2 Identifikasi Masalah

  1.3 Pembatasan Masalah Pembatasan masalah merupakan suatu upaya untuk menetapkan batas- batas permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan kita untukmengidentifikasikan faktor mana saja yang termasuk kedalam lingkup permasalahan dan faktor mana saja yang tidak (Suriasumantri, 1998 : 311). Pada tahun 2002 IUSSD pertama dilaksanakan dan 2008 merupakan pelaksanaan IUSSD yang terakhir, yang mana dalam kerjasama tersebut terdapatprogram-program yang dihasilkan atau dilanjutkan, serta kendala-kendala dalam merealisasikan hasil kerjasama tersebut dalam upaya meningkatkan kapabilitasTNI.

1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

  Kegunaan Teoritis, untuk memperkaya khasanah pengetahuan yang lebih mendalam mengenai kerjasama pertahanan dan keamanan, khususnyakerjasama pertahanan dan keamanan Indonesia-Amerika Serikat dan memberikan wawasan lebih mendalam tentang pengaruhnya terhadappeningkatan kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kegunaan Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan tambahan informasi dan pembelajaran bagi para penstudi masalah-masalah internasional khususnya yang terkait dengan topik penelitian yang dibahas kali ini, dan khususnya dapat berguna juga bagi peneliti sendiri untukmenambah informasi dan pengetahuan permasalahan internasional.

1.6 Kerangka Pemikiran, Hipotesis, dan Definisi Operasional

1.6.1 Kerangka Pemikiran

  Indonesia merasa perlu bekerjasama dengan Amerika Serikat untuk mendapatkan bantuan dalam upaya meningkatkan kapabilitas TNI sebagai salahsatu pihak utama dalam bidang pertahanan dan keamanan, dan Amerika Serikat perlu membantu karena Indonesia merupakan negara yang memiliki peran bagieksistensi Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Oleh karenaitu, konsep keamanan harus dilihat dan dituangkan kembali melalui pendekatan atau metodologi baru” (http://www.prio.no/ Sementara kapabilitas TNI merupakan kemampuan yang dimiliki TNI sebagai ujung tombak pertahanan dan keamanan negara, dan harus ditingkatkanagar dapat terus mendukung kedaulatan NKRI serta untuk menanggulangi segala gangguan keamanan yang berasal dari dalam dan luar negeri atau kawasan.

1.6.2 Hipotesis

  Pengertian hipotesis sendiri yaitu bisa diartikan sebagai jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan,dimana materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan (Suriasumantri, 1998: 312). Berdasarkan atas penjelasan yang terdapat dalam identifikasi masalah, pembatasan masalah serta kerangka pemikiran, maka peneliti menarik hipotesissebagai berikut: “Kerjasama Pertahanan dan Keamanan Indonesia-Amerika Serikatmelalui Indonesia-U.

1.6.3 Definisi Operasional

  Dialog yang dilaksanakan Indonesia dan Amerika Serikat merupakan langkah kedua negara untuk melanjutkan kerjasama yang terhenti sejak peristiwaberdarah di Santa Cruz, Timor Timur tahun 1991. Untuk meningkatkan kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI), Indonesia memanfaatkan hubungan yang telah terjalin dengan Amerika Serikat denganmengadakan kerjasama antar institusi militer yaitu dengan mengadakan dialog keamanan, yang selanjutnya diaplikasikan dalam program latihanbersama dengan militer Amerika Serikat dan bantuan militer yang diberikan terhadap TNI dari Amerika Serikat.

1.7 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

1.7.1 Metode Penelitian

  Metode penelitian yang digunakan dalam menjelaskan permasalahan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yang menjelaskan hubungan Metode deskriptif analitis adalah suatu metode untuk menggambarkan kenyataan dan situasi berdasarkan data yang satu dengan data yang lainberdasarkan pada teori dan konsep-konsep yang digunakan (Bailey, 1987 : 38). Sedangkan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dimana peneliti menjelaskan permasalahan berdasarkan data yang dikumpulkan, disusundan kemudian di analisa.

1.7.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penyusunanSkripsi ini yaitu dengan menggunakan studi dokumen, yaitu dimana peneliti menggunakan data yang berasal dari referensi perpustakaan, internet dan jurnal-jurnal yang berkaitan.

1.8 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.8.1 Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di beberapa perpustakaan, antara lain: 1. Perpustakaan Pusat Kajian Wilayah Amerika Serikat Universitas Indonesia, Jakarta.

1.8.2 Waktu Penelitian

  Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti untuk pra penelitian (tahap pengenalan, pemahaman dan pendalaman masalah) yaitu dimulai sejak bulanFebruari 2009 dan direncanakan selesai pada bulan Juli 2009. 8 Sidang Skripsi Waktu Kegiatan Bab I : Merupakan Bab Pendahuluan yang berisikan pemaparan tentang latar belakang penelitian, identifikasi masalah, pembatasan masalah,perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka penelitian, hipotesis dan definisi operasional, metodologi penelitian, Penulisan ini terdiri dari lima bab.

1.9 Sistematika Penulisan

  Bab II : Merupakan Bab Tinjauan Studi Pustaka yang memuat pendekatan, teori dan konsep dalam studi Hubungan Internasional yang relevanuntuk menganalisis permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini. Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalahHubungan Internasional, Hubungan Bilateral, Politik Luar Negeri,Kerjasama Internasional, Konsep Pertahanan dan Keamanan, Power, , Konsep Kapabilitas, Kapabilitas Militer, Dan Security Dialogue Konsep Pengaruh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hubungan Internasional

  Pada kenyataannya Hubungan Internasionaltidak terbatas hanya pada hubungan antar negara saja, tetapi juga merupakan Dalam interaksi tersebut sering timbul berbagai masalah, oleh karena itu maka hubungan internasional perlu untuk dipahami dan dipecahkan dalam bentukstudi. Studi hubungan internasional itu sendiri dengan demikian merupakan suatu studi tentang interaksi yang terjadi diantara negara-negara berdaulat di dunia ataumerupakan studi tentang para pelaku bukan negara atau non-state aktor yang perilakunya mempunyai pengaruh dalam kehidupan negara berbangsa.

2.1.1 Hubungan Bilateral

  Pengertian hubungan bilateral diungkapkan oleh Anak Agung BanyuPerwita dan Yanyan Mochamad Yani dalam bukunya Pengantar Ilmu Hubungan Internasional sebagai berikut:“hubungan bilateral keadaan yang menggambarkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi atau terjadinya hubungantimbal balik antara dua pihak” (2005:42). Hubungan bilateral juga terjadi karena kepentingan nasional suatu negara tidak dapat terpenuhi dari dalam negerinya sendiri, disini hubungan bilateralmerupakan cara suatu negara untuk memenuhi kepentingan nasionalnya.

2.2 Politik Luar Negeri

  Politik luar negeri diungkapkan oleh Anak Agung Banyu Perwita danYanyan Mochamad Yani dalam bukunya Pengantar Ilmu Hubungan Internasional : sebagai berikut:“politik luar negeri itu pada dasarnya merupakan “action theory”, atau kebijaksanaan suatu negara yang ditujukan ke negara lainuntuk mencapai suatu kepentingan tertentu. Didalam hubungan internasional politik luar negeri merupakan alat yang dilakukan oleh suatu negara terhadap lingkungan eksternalnya yang merupakannegara lain dalam mencapai, memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan nasionalnya.

2.3 Kerjasama Internasional

  Dalam usaha sebuah negara untuk menyelesaikan suatu masalah yang bersifat regional maupun internasional bisa diselesaikan bersama dengankerjasama, dalam kerjasama ini terdapat kepentingan-kepentingan nasional yang bertemu dan tidak bisa dipenuhi di negaranya sendiri. Dalam suatu kerjasama internasional bertemu berbagai macam kepentingan nasional dari berbagai negara dan bangsa yang tidak dapat dipenuhidi dalam negerinya sendiri (Perwita dan Yani, 2005: 33) Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mempunyai cukuppengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut.

2.4 Konsep Pertahanan dan Keamanan

  Pertahanan dan keamanan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan oleh suatu negara, dengan dinamisasi yang terus terjadi di dunia, pertahanan dankeamanan harus lebih ditingkatkan, ditambah dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat, pertahanan dan keamanan suatu negara juga harus ditingkatkan, haltersebut bertujuan agar suatu negara dapat melindungi wilayah atau kedaulatannya dari gangguan yang berasal dari luar negaranya. Dengan adanya konsep pertahanan dan keamanan sebagai prioritas utama bagi negara yang sudah merdeka dan diakui kedaulatannya oleh seluruh duniamerupakan hal yang baik dan sangat penting, karena tanpa pertahanan dan keamanan keutuhan dan integritas suatu bangsa dan negara akan dapat terpecahbelah, dan secara langsung atau tidak langsung menyebabkan kehancuran bagi negara tersebut.

2.4.1 Kerjasama Pertahanan dalam Hubungan Internasional

  Ketergantungan antar negara dalam sistem dunia saat ini, terutama masalah ekonomi dan lingkungan memberikan pengaruh terhadap kebutuhanpertahanan negara dalam hubungan internasional, kerjasama menjadi hal yang Theory of International Politics sebagai berikut: “…But now interdependence of countries, issues of collective security, peace and environment have become prudent. Untuk kerjasama pertahanan yang bersifat regional biasanya didasari keinginan untuk menciptakan sarana prasarana yang mendukung setiap angkatanmiliter negara-negara dalam kawasan tersebut, hal ini menjadikan negara-negara dalam kawasan tersebut memiliki pertahanan yang kuat dalam menjagakawasannya dari pengaruh yang berasal dari luar kawasan.

2.4.1.1 Power sebagai Aspek Pertahanan Militer

  Unsur power yang ketiga adalahkekuasaan (authority), yang didefinisikan sebagai kerelaan aktor B untuk memenuhi intruksi-intruksi (preskripsi, perintah) yangdikeluarkan oleh aktor A, yang dipelihara dalam persepsi B mengenai aktor A sperti sikap hormat, solidaritas, kasih sayang, Menurut Vandana dalam bukunya Theory of International Politics, power dalam aspek militer dijelaskan sebagai berikut:“The military element is an important factor in national power. and arms” Dari penjelasan di atas, tergambar bahwa Power dalam pertahanan militer menjadi sangat penting, karena pertahanan suatu negara tidak akan memilikipengaruh yang berarti bagi negaranya jika tidak memiliki unsur kekuatan yang memaksa atau tidak dapat dipatuhi oleh negara lain.

2.4.2 Kerjasama Keamanan dalam Hubungan Internasional

  Salah satu wujud kerjasama pertahanan dan keamanan dilakukan dengan, yang dimaksudkan agar kedua negara yang bekerjasama bisa Security Dialogue berkomunikasi tentang berbagai masalah dalam bidang pertahanan dan keamanan, bisa saling mengetahui keadaan pertahanan dan keamanan dalam negeri masing-masing, dan bisa menentukan langkah yang akan ditempuh guna menyelesaikan masalah tersebut. Jadi dalam Security Dialogue yang diadakan oleh dua negara tersebut, pembahasan dan dialog tentang keamanan tidak dapat dilakukan dengan teori-teori yang sederhana, harus ada kombinasi antara teori yang dijadikan pijakan dengan kebijakan tentang keamanan yang berseberangan sebagai akibatperbedaan letak wilayah ataupun dasar negara yang dianut.

2.5 Konsep Kapabilitas

  Wittkopf, kapabilitas jugamerupakan faktor yang sangat menentukan bagi politik luar negeri suatu negara dan kemampuan militernya, hal tersebut dijelaskan sebagai berikut: “The proposition that state’s internal capabilities shape their foreign policy priorities is supported by the demonstrable fact that state’s preparations for war strongly influence their later use offorce. Dengan definisi tadi, potensi suatu angkatan bersenjata harus terus dikembangkan mengikuti dinamisasi politik pertahanan dan keamanan yangterjadi di dunia, dan digunakan untuk kebaikan negara tersebut ke dalam dan ke luar negerinya.

2.5.1 Kapabilitas Militer

  K esiapan Pasukan, kesiapan untuk menyediakan kapabilitas yang diperlukanoleh komandan pasukan untuk menjalankan tugas yang diberikan. Pengendalian adalah fungsi untuk menyediakan dan menjaga tingkat kesiapan pasukan,material, dan keperluan yang dipakai untuk mendukung kebutuhan militer (http://www.thefreedictionary.com/military+capability, diakses 16 Mei 2009).

2.6 Konsep Pengaruh

  Amerika Serikat berperan dalam memberikan pengaruhnya terhadap kehidupan politik Indonesia, tak terkecuali dalam kerjasama untuk meningkatkankapabilitas TNI, menurut Holsti dalam buku Pengantar Ilmu Hubungan karangan Perwita dan Yani konsep pengaruh didefinisikan sebagai: Internasional “Kemampuan pelaku politik untuk mempengaruhi tingkah laku orang dalam cara yang dikehendaki oleh pelaku tersebut. Negara donor berpengaruh terhadap negara-negara yang lain yang menerima bantuan-bantuan yang diberikannya, tidak hanya ada timbalbalik dari B kepada A, akan tetapi juga reaksi C, D, E, F, dan seterusnya yang dapat berpengaruh terhadap hubungan A dan B.

BAB II I OBYEK PENELITIAN

  Dapat dilihat bahwa Amerika Serikat tidak hanya memiliki motif yang bersifat teknis kemiliteran tetapi juga memiliki motif yangbersifat politis dan kemitraan strategis untuk mendukung segala kepentingan Berbagai pertemuan dan kegiatan telah dilaksanakan kedua negara dalam rangka meningkatkan kemampuan pertahanan dan keamanan militer keduanegara. Dengan kerjasama yang telah dijalin, kedua negara dapat saling bertukar informasi tentang pengetahuan militer ataupun masalah-masalah yang dihadapidan cara-cara yang mungkin dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, serta menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan kedua negara gunamengantisipasi perkembangan lingkungan strategis regional dan global.

3.1.2 Pasca Embargo Militer Amerika Serikat

  Pada tahun 2005 embergo militer terhadap Indonesia dicabut oleh AmerikaSerikat, karena Indonesia telah menunjukan kemajuan yang baik dalam menerapkan HAM dan mengatasi masalah yang terjadi di tubuh TNI. Kerjasama antara TNI dan US PACOM ini adalah bagian dari Training(TEWG) yang merupakan bagian USIBDD yang and Excersice Working Group telah kembali berjalan mulai 2004 setelah sebelumnya sempat dibekukan pada1997.

3.2 IUSSD I - IUSSD VI

  Terjalinnya hubungan bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat, membuka jalan bagi TNI untuk meningkatkan kapabilitasnya dalam berbagaisektor, dan sehubungan dengan semakin membaiknya hubungan Indonesia danAmerika Serikat, terutama pasca-embargo militer Amerika Serikat terhadap Indonesia. Security Dialogue - IUSSD) yang pertama pada tahun2002, yang merupakan forum kedua negara untuk saling berkomunikasi.

3.2.1 Sejarah Awal Pembentukan IUSSD

  3.2.2 Kerjasama Pertahanan dan Keamanan Indonesia-Amerika Serikat melalui IUSSD Dalam tahun-tahun terakhir hubungan kerjasama pertahanan Indonesia-AS meningkat cukup signifikan, baik di bidang pendidikan dan latihan bersama antarAngkatan Bersenjata terutama Angkatan Laut kedua negara, maupun dalam bidang pengadaan Alutsista. USIBDD tersebut semakin menunjukkan kinerjanya dari tahun ke tahun yang ditunjukkan oleh kegiatan-kegiatan yang disepakati kedua angkatan bersenjata yang terus meningkat setiap tahun baik darisegi jumlah kegiatan maupun bobotnya (http://www.dephan.go.id/modules.php? name=Sections&op=viewarticle&artid=54, diakses 29 Maret 2009).

3.2.2.1 Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) ke I

  Hasil pertemuan IUSSD pertama ini antara lain kedua negara sepakat meningkatkan komunikasi antar institusi pertahanannya dan sepakat untuk Sebagai penutup pertemuan, delegasi kedua negara sepakat bahwa dialog sangat penting artinya sebagai pilar bertumpunya hubungan antar Indonesia danAS. Disamping itu juga disepakati untuk meningkatkan frekuensi komunikasi antara Menteri Pertahanan kedua negara dan juga antara perwakilan masing-masing Menhan.

3.2.2.2 Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) ke II

  Kerjasama pertahanan dan keamanan Amerika Serikat dan negara ASEAN. Pengembalian peralatan militer Indonesia yang ada di gudang AS.

3.2.2.3 Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) ke III

  Sebagai penutup, kedua delegasi sepakat untuk menyelenggarakan IUSSDV pada tahun 2007 di Indonesia dan sepakat untuk mengadakan serta melanjutkan kontak-kontak lebih lanjut pada tingkat Menteri dan pejabat yang mewakili. Memperbaiki pemahaman, posisi, persepsi dan kebijakan masing-masing negara dalam isu-isu keamanan di tingkat regional dan internasional untukmeminimalisir kesalahpahaman yang mungkin terjadi antara kedua belah pihak.

3.2.2.6 Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) ke VI

  Kapabilitas dan struktur matra darat diarahkan untuk memberikan efek penangkalan yang tinggi di bidang kekuatan pertahanan darat, serta mampumengatasi setiap ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dengan kondisi medan dan topografi Indonesia yangberagam. Kedua matra tersebut tidak akan bisa menopang pertahanan Indonesia tanpa adanya pertahanan dari udara, matra udara diarahkan untuk memberikanefek penangkalan yang tinggi di bidang kekuatan pertahanan udara dengan kemampuan manuver dan jelajah yang tinggi.

3.3.1 Angkatan Laut

  TNI Angkatan Laut adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang bertanggung jawab atas operasi laut, dipimpin oleh Kepala Staf TNI AngkatanLaut, kekuatan TNI-AL saat ini terbagi dalam 2 armada, Armada Barat yang berpusat di Tanjung Priok, Jakarta dan Armada Timur yang berpusat di TanjungPerak, Surabaya. Pangkalan Utama X (Mako Lantamal X) di Jayapura, membawahiPangkalan Angkatan Laut Sorong, Biak, Timika, dan Merauke serta satuFasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan di Manokwari yang mampu memproduksi KAL 12 dan 28 meter.

3.3.2 Angkatan Udara

  TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu KomandoOperasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di HalimPerdanakusumah, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Pengamanan dan Pengendalian pangkalan udara Demikian juga tugas ofensif darat dari kekuatan udara untuk fungsi fungsi yang khas operasi udara akan dilakukan oleh pasukan darat inti yang telahmemiliki kualifikasi lintas udara, terjun payung, SAR Tempur, PengendalianTempur dan kualifikasi lain yang diperlukan.

3.3.3 Angkatan Darat

  Anggotakekuatan darat inti akan dibekali dengan pengetahuan yang memadai untuk melakukan strategi dan taktik perang gabungan dengan melibatkan unsur-unsur kesenjataan darat, laut dan udara. Kegunaan formasi ini adalah murni operasi teritorial dan oleh karenanya unit kavaleri ringannya berfungsi untuk memperkuat mobilitas dan tidak untukmeningkatkan daya tembak sehingga cukup dilengkapi dengan sarana ranmor(kendaraan bermotor) dalam jumlah yang memadai dan dipersenjatai secukupnya saja.

3.4 Anggaran Pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI)

  11,536 triliun yang digunakan untuk gaji prajurit TNI dan pegawai negeri sipil yang bekerja di instansi militer (http://www.tempo.co.id/hg/ Terjadi peningkatan kembali pada anggaran pertahanan tahun 2004, anggaran sebesar Rp. 33,678 triliun sumber: data diolah sendiri berdasarkan data dari Kompas, 7 Oktober 2002, Buku PutihPertahanan 2008, www.tempo.co.id, diakses Kenaikan nilai nominal anggaran pertahanan terjadi pada anggaran rutin, sementara kenaikan anggaran pembangunan dalam jumlah yang sangat kecilsehingga kenaikan tersebut tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pembangunan kekuatan.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Realisasi Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD)

  Forum komunikasi dua arah antar Departemen Pertahanan dan institusi militer AmerikaSerikat dan Indonesia ini rutin diadakan setahun sekali dengan tempat dan waktu yang bergantian. Realisasi IUSSD ini juga melibatkan Indonesia dalam ke dalam bentuk latihan bersama dengan negara-negara kawasan dan negara lainnya.

4.1.1 Dialog

  Kerjasama pertahanan dan keamanan Amerika Serikat dan Indonesia direalisasikan dengan dialog yang didahului dengan presentasi dari kedua belahpihak dan membahas tentang topik-topik yang antara lain tentang keamanan regional dan global, serta topik-topik lainnya yang berhubungan denganpertahanan dan keamanan, yang juga berhubungan dengan TNI. Defence Dialogue Kegiatan ini meningkatkan kemampuan TNI dalam hal kemampuan personil secara individu maupun kelompok, TNI dan US PACOM saling bertukar Dalam dialog dengan US PACOM ini, militer Indonesia juga mendapatkan pendidikan dan latihan intelijen yang berguna untuk mempertajamkemampuannya dalam mengumpulkan data yang akan menjadi tumpuan segala bentuk pelaksanaan operasi militer dalam berbagai skala guna kepentinganpertahanan nasional.

4.1.2 Latihan Bersama

  Latihan ini merupakan yang keenam kali yang digelar antara TNI dan USPACOM, latihan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan personelTNI dalam melaksanakan perencanaan misi militer untuk pengamanan dan pertahanan instalasi penting, termasuk untuk menangani masalah terorisme. CARAT yang merupakan rangkaianpelatihan militer bilateral tahunan antara AS dan enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia itu bertujuan meningkatkan kerjasama regional, menciptakanpemahaman bersama di antara angkatan militer yang ikut pelatihan dan mengembangkan kesiapan operasional.

4.1.3 Bantuan Militer

  Bentuk realisasi yang lain dari kerjasama IUSSD ini adalah dengan Expanded International Military Education and Training merupakan sub-program dari IMET, IMET merupakan program dari State yang diimplementasikan melalui Department of Defense. Permintaan untuk tahun 2008 adalah sebesar US$15.700.000 (lebih dari dua kali lipat permintaan untuk tahun 2007), yang menurutDepartemen Luar Negeri Amerika Serikat ditujukan bagi Indonesia untuk mewujudkan reformasi militer dan untuk meningkatkan keamanan laut, kontra-terorisme, mobilitas, dan kemampuan untuk mengatasi keadaan bahaya (http://www.etan.org/news/2007/milglossarybh.htm, diakses 29 Juni 2009).

4.2 Kendala-kendala Dalam Merealisasikan Kesepakatan Indonesia-U.S

  Kendala tersebut datang dari Kongres Amerika Serikat yang memutuskan semua bantuan dana serta realisasi program-program kerjasama pertahanan dankeamanan di bawah payung IMET serta mengembargo militer Indonesia sebagai hasil dari tindak pelanggaran HAM secara besar-besaran di Santa Cruz, TimorTimur oleh TNI pada tahun 1991. Dan beberapa kendala lainnya seperti AnggaranPertahanan yang tidak pernah mencukupi kebutuhan setiap angkatan militer Indonesia, baik untuk pengembangan dan pengadaan kebutuhan Alutsista.

4.2.2 Embargo Militer Amerika Serikat

  Selain penghentian dana bantuan dalam program pelatihan militerIndonesia oleh Amerika Serikat, kendala juga muncul saat militer Indonesia dikenai embargo oleh Amerika Serikat akibat pelanggaran HAM yang dilakukanoleh pihak militer Indonesia di Timor Leste dan Papua. Rendahnya kemampuan untuk menerapkan teknologi baru di bidangpertahanan menyebabkan peralatan militer yang dimiliki kebanyakan sudah usang dan ketinggalan jaman dengan rata-rata usia lebih dari 20 tahun.

4.2.3 Minimnya Anggaran Pertahanan Indonesia

  Untuk mempertimbangkan keterbatasan kemampuan negara dalam menyediakan anggaran pertahanan dan keamanan pemerintah, serta dalam rangkamengurangi jumlah pinjaman luar negeri dalam pembangunan nasional, pemerintah berupaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber pendanaan melaluipinjaman perbankan dalam negeri. Di samping itu, untuk mencapaikemandirian industri dan teknologi militer bagi pertahanan negara dibutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang dan harus dilaksanakan secaraberkelanjutan.

4.3 Evaluasi Peningkatan Kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI)

  Amerika Serikat juga terus menaikkananggaran bagi TNI dalam program IMET, FMF, dan FMS agar TNI dapat terus meningkatkan kapabilitasnya dan bisa meneruskan reformasi yang sedangdilaksanakan. TNI hanya mengalami peningkatan dari segi kemampuan teknis personil, untuk Alutsista TNI belummenunjukkan peningkatan yang baik, karena jumlahnya masih kurang dari batas minimum yang harus dimiliki untuk negara sebesar Indonesia.

4.3.1 Struktur Pertahanan

  Karena dengan wilayah Indonesia yang sangat Berdasarkan dari data yang dilampirkan dalam Tabel 3.1, Angkatan LautIndonesia masih jauh dari harapan, kurang mendukungnya keadaan Alutsista menjadi faktor yang membuat Angkatan Laut kurang optimal dalammelaksanakan tugasnya. Terlihat dari jumlah personil yang hanya terdiri dari 55.068 personil, padahal dengan keadaanIndonesia pada tahun 2005 tersebut, jumlah personil idealnya 130.068 personil,Jumlah personil Angkatan Udara pada tahun 2006 sebanyak 27.850 personil yang idealnya 58.150 personil, sama seperti Angkatan Laut, jumlah Angkatan Udaratidak memenuhi jumlah batas standar personil yang harus dimiliki.

4.3.2 Modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista)

  Sungguh jumlah yang sangat sedikit dibandingkan jumlah ideal yang harus dimiliki sebanyak 1890 unit, dan ditambahdengan tidak adanya pesawat jenis penghancur atau pembom, padahal untuk negara sebesar Indonesia kekuatan Angkatan Udara seperti itu sangat dibutuhkan,karena jika hanya mengandalkan jenis dan tipe pesawat tempur yang seadanya, Angkatan Udara tidak bisa menjaga wilayah udara Indonesia secara optimal. Pertahanan dan diakses dari situs http://books.google.co.id, diakses 1 Postur Ideal TNI Juli 2009Dari keterangan keadaan Alutsista di atas, keadaan persenjataan Indonesia setelah beberapa kali dilaksanakan IUSSD belum juga memberikan kontribusiyang signifikan terhadap keadaan Alutsista, peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam latihan bersama hanya dipakai saat latihan dan saat pelaksanaanpendidikan saja.

4.3.3 Kesiapan dan Kemampuan Personil

  Kesiapan personil yang diperlukan juga ditunjukkan dengan Dari setiap latihan bersama maupun dialog antar angkatan bersenjata, seperti yang dilaksanakan TNI dan US PACOM, peningkatan kemampuanpersonil TNI terlihat baik, angkatan bersenjata Amerika Serikat memberikan pengetahuan dan cara-cara tentang menggunakan senjata serta mengajarkan taktikatau teknik yang dapat digunakan dalam menghadapi ataupun mengatasi segala bentuk ancaman keamanan dan perang. Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, karena hal itu, tingkat kesiapan personil yang paling terlihat peningkatannya ada pada Angkatan Laut, realisasidari dialog lebih banyak terdapat pada latihan bersama bidang maritim yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh TNI AL dan Marinir Amerika Serikat.

4.3.4 Pengendalian Kemampuan Angkatan Bersenjata

  Dari setiap latihan bersama dan bantuan militer, TNI mengalami peningkatan dalam beberapa faktor seperti kesiapan pasukan dan durasioperasional, tetapi tidak dalam material dan keperluan yang dipakai dalam mendukung kebutuhan militer. Anggaran pertahanan yang dimilikiIndonesia memang mengalami peningkatan setiap tahun, tetapi jumlahnya belum memenuhi kebutuhan standar berdasarkan jumlah personil angkatan bersenjata,dan jumlah serta kondisi Alutsista yang dimiliki dengan keadaan luas wilayahIndonesia yang begitu besar, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa anggaran pertahanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuanTNI.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  S Security Dialogue(IUSSD) terhadap peningkatan kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI), peneliti mengkaitkan permasalahan yang terjadi pada TNI dengan pengaruhkerjasama pertahanan dan keamanan Amerika Serikat-Indonesia. S Security Dialogue (IUSSD) diaplikasikan melalui dialog, latihan bersama, dan bantuan militer sehingga memberikanpengaruh terhadap peningkatan kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI) teruji dan hasilnya tidak terlalu signifikan, belum semua terdapat peningkatandalam setiap aspek yang dibutuhkan TNI dalam meningkatkan kapabilitasnya.

5.2 Saran

  Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menemui beberapa kendala seperti kesulitan dalam mencari data. Sulitnya untuk mendapat akses masuk kebeberapa instansi pemerintah dalam mencari informasi bagi penelitian ini menjadi kendala yang tidak bisa peneliti tutupi dengan informasi yang berasal dari medialain.

5.2.1 Saran Teoritis

5.2.2 Saran Praktis

  Hal ini merupakan koreksi dan pendorong bagi peneliti untuk lebih baik bilamana ada kesempatan lagi, danpeneliti berharap ada orang yang mau meneliti dengan lebih baik, teliti, dan bagus. Dan bagi mahasiswa yang berminat selamat berjuang dan peneliti yakin bagi yang berminat hasilnya akan lebih baik, dan bermanfaat bagi peneliti yangmengambil tema yang sama, Amin.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (157 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Pengaruh Lingkungan Kerja, Kompetensi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Di Badan Pertanahan Nasional Kota Medan
2
86
127
Kerjasama militer Vietnam dengan Amerika Serikat dalam mengelola ancaman keamanan Laut Cina Selatan Tahun 2011
0
5
80
Strategi Komunikasi Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Melalui Kegiatan Tentara Nasional Indonesia Manunggal Keluarga Berencana Kesehatan (Studi Deskriptif Mengenai Strategi Komunikasi Melalui Kegiatan Tentara Nasional Indonesia Manunggal
0
21
128
Kerjasama Indonesia - Amerika Serikat Dalam Pertukaran Informasi Teknis dan Keselamatan Bahan Nuklir (2008-2015)
0
2
1
Kerjasama keamanan maritim Indonesia-Australia dalam kerangka perjanjian Lombok
0
5
1
Pengaruh Kerjasama Pertanahan dan keamanan Amerika Serikat-Indonesia Melalui Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) Terhadap Peningkatan Kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI)
0
65
157
Pengaruh Kerjasama Pertanahan dan keamanan Amerika Serikat-Indonesia Melalui Indonesia-U.S. Security Dialogue (IUSSD) Terhadap Peningkatan Kapabilitas Tentara Nasional Indonesia (TNI)
2
25
157
Kerjasama Amerika Serikat dan Meksiko Melalui Merida Initiative Dalam Memberantas Perdagangan Narkotika (2008-2016)
1
5
1
Kewenangan Peradilan Militer Terhadap Penegakan Hukum Pada Perkara Koneksitas Dilakukan Oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Dikaitkan Dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer JUNCTO Tentara Nasional Indonesia
1
6
65
Strategi Komunikasi Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Melalui Kegiatan Tentara Nasional Indonesia Manunggal Keluarga Berencana Kesehatan (Studi Deskriptif Mengenai Strategi Komunikasi Melalui Kegiatan Tentara Nasional Indonesia Manunggal
0
2
1
Kerjasama Indonesia - Amerika Serikat Dalam Pertukaran Informasi Teknis dan Keselamatan Bahan Nuklir (2008-2015)
0
5
1
Kerjasama keamanan maritim Indonesia-Australia dalam kerangka perjanjian Lombok
9
91
153
View of Membangun Kinerja Usaha Melalui Faktor Pembentuk Kapabilitas Pelaku Kewirausahaan Industri Kreatif Nasional
0
0
20
Pengaruh Lingkungan Kerja, Kompetensi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Di Badan Pertanahan Nasional Kota Medan
0
0
23
Pengaruh Lingkungan Kerja, Kompetensi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Di Badan Pertanahan Nasional Kota Medan
0
0
10
Show more