Konstruksi realitas pada media cetak: analisis framing pemberitaan insiden Monas di Koran Tempo dan Republika edisi Juni 2008

Gratis

2
42
116
3 years ago
Preview
Full text
KONSTRUKSI REALITAS PADA MEDIA CETAK : ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN INSIDEN MONAS DI KORAN TEMPO DAN REPUBLIKA EDISI JUNI 2008 Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Oleh Febyanti Junaedi NIM 105051102006 KONSENTRASI JURNALISTIK JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H / 2009 M KONSTRUKSI REALITAS PADA MEDIA CETAK : ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN INSIDEN MONAS DI KORAN TEMPO DAN REPUBLIKA EDISI JUNI 2008 Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Oleh Febyanti Junaedi NIM 105051102006 KONSENTRASI JURNALISTIK JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H / 2009 M KONSTRUKSI REALITAS PADA MEDIA CETAK : ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN INSIDEN MONAS DI KORAN TEMPO DAN REPUBLIKA EDISI JUNI 2008 Skripsi Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S. Sos.I) Oleh Febyanti Junaedi NIM 105051102006 Di Bawah Bimbingan Dra. Armawati Arbi, M.Si NIP 19650207 199103 2 002 KONSENTRASI JURNALISTIK JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H/ 2009 M LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta, 18 Juni 2009 Febyanti Junaedi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di saat seluruh bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2008, terjadi insiden yang melibatkan dua organisasi massa, yaitu Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di Lapangan Silang Monas. Berbagai spekulasi mengenai penyebab terjadinya insiden yang dikalangan media lebih dikenal dengan nama insiden Monas ini, sempat dilontarkan oleh beberapa pihak. “Ada yang mengatakan, massa AKKBB yang merupakan organisasi massa pro-Ahmadiyah menjelek-jelekkan FPI yang sangat keras menentang dan meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Bahkan, ada yang mengatakan, kerusuhan itu dipicu oleh sebuah tembakan yang membuat laskar FPI marah.”1 Terjadinya insiden Monas ini sempat menjadi headline di beberapa media massa di Indonesia. Selama sepekan baik itu media elektronik maupun media cetak menayangkan dan menampilkan berita mengenai insiden Monas. Berita mengenai insiden Monas ini adalah salah satu berita dengan sensitifitas yang cukup tinggi. Banyak redaksi baik media cetak ataupun elektronik yang menyatakan bahwa insiden Monas merupakan salah satu isu paling sensitif ketika masuk sidang redaksi. Sensitif dikarenakan berita ini berkaitan dengan persoalan agama, yaitu persoalan yang menyangkut banyak pihak. Sikap masing-masing redaksi dan institusi media terhadap persoalan tersebut pastilah 1 Achmad Setiyaji, Tragedi Monas Berdarah (Bandung : Semesta Ide, 2008), h. v. berbeda. Peristiwa boleh saja sama, tetapi sudut pandang pastilah berbeda. Pernyataan tersebut dapat digambarkan secara jelas pada dua surat kabar nasional, yaitu Koran Tempo dan Republika. Koran Tempo dan Republika mengambil sudut pandang yang berbeda dalam setiap penulisan berita mengenai insiden Monas. Koran Tempo menyatakan bahwa insiden Monas merupakan peristiwa penyerangan atau aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI kepada AKKBB, sedangkan Republika menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan bentrokan antara FPI dan AKKBB yang terjadi karena persoalan Ahmadiyah. Koran Tempo (Senin, 2 Juni 2008) menempatkan kasus tersebut pada halaman pertama sebagai Top Headline dengan mengetengahkan judul “Bubarkan FPI”, sedangkan Republika pada hari yang sama menempatkan kasus tersebut juga pada halaman utama dengan mengetengahkan judul “Bentrokan Akibat Pemerintah Lamban”. Pada hari berikutnya, Koran Tempo (Selasa, 3 Juni 2008) menjadikan kasus ini sebagai Top Headline dengan menampilkan foto Panglima Komando Laskar Islam Munarman sedang mencekik salah seorang anggota yang diduga berasal dari AKKBB, judul yang diambil ialah “Pemerintah Kaji Pembekuan FPI”. Di hari yang sama, Republika kembali menempatkan kasus tersebut pada halaman utama dengan judul “Masyarakat Diimbau tak Lakukan Provokasi”. Selama bulan Juni 2008, Koran Tempo empat kali menjadikan kasus insiden Monas sebagai Top Headline ditempatkan pada halaman depan, sebelas kali menjadikan kasus tersebut sebagai Headline ditempatkan pada halaman kedua dan juga diberitakan pada rubrik Metro, serta rubrik Nasional. Sedangkan Republika, tercatat enam kali menempatkan kasus insiden Monas sebagai Headline di halaman depan dan tiga kali menempatkan kasus tersebut bukan di halaman depan. Beberapa judul berita di atas dan juga judul-judul lainnya serta pandangan kedua media cetak tersebut mengenai insiden Monas tampak menarik untuk diteliti. Salah satu fungsi utama dari media massa sendiri adalah memberikan informasi kepada khalayak. Berbagai media massa yang telah ada, dimanfaatkan oleh khalayak untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi yang secara otomatis akan lebih mengembangkan wawasan intelektual mereka. Menyampaikan berita secara obyektif adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh institusi media dan wartawan. Meskipun mereka telah menyampaikan informasi secara akurat dan aktual namun, pada kenyataannya tetap saja berita yang disampaikan masih jauh dari obyektifitas. Di media massa seperti surat kabar misalnya, pemberitaan yang ada selalu saja dikaitkan dengan beberapa kepentingan, baik itu kepentingan individu maupun organisasi. Banyak berita di surat kabar tidak dinyatakan secara eksplisit tetapi implisit. “Lewat narasinya, surat kabar menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia : siapa pahlawan dan siapa penjahat; apa yang baik dan apa yang buruk bagi rakyat; apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan seorang pemimpin; tindakan apa yang disebut perjuangan (demi membela kebenaran dan keadilan) dan pemberontakan atau terorisme; isu apa yang relevan dan tidak; alasan apa yang masuk akal dan tidak; dan solusi apa yang harus diambil dan ditinggalkan.” 2 Konstruksi berita pada dasarnya merupakan sebuah informasi yang disampaikan secara kuantitatif dan kualitatif. Sisi kuantitatif dapat dilihat dari seberapa sering berita tersebut muncul dan jumlah pemakaian istilah dalam 2 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Politik Media (Yogyakarta : LKiS, 2002), h. x . berita. Sedangkan sisi kualitatif dapat dilihat berdasarkan unsur objektivitas dan faktualitas. Media memiliki ideologi yang ingin mereka refleksikan melalui berita-berita yang disampaikan, baik ditujukan dalam cara penulisan berita, bentuk penceritaan suatu peristiwa atau penentuan fakta mana yang harus ditekankan atau justru dihilangkan. Proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, di antaranya analisis wacana, analisis framing dan analisis semiotika. Analisis framing merupakan metode yang sesuai digunakan pada penelitian ini, karena dalam perspektif komunikasi analisis ini dipakai untuk mengetahui bagaimana cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi dan menulis berita. Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana suatu peristiwa atau realitas dibingkai oleh media.3 Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu, peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Melalui penelitian ini, peneliti merasa perlu untuk mengkaji lebih lanjut karakter pemberitaan Koran Tempo dan Republika mengenai penyebab terjadinya insiden Monas, 1 Juni 2008, dilihat dari proses pembingkaian masalah pada berita-berita yang disampaikan. Dengan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, peneliti merasa tertarik untuk menulis sebuah skripsi yang berjudul KONSTRUKSI REALITAS PADA MEDIA CETAK : Analisis Framing Pemberitaan Insiden Monas di Koran Tempo dan Republika Edisi Juni 2008. 3 Ibid, h. 3. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih mudah dan terarah, maka penulisan skripsi ini dibatasi pada analisis tekstual (message) pemberitaan insiden Monas oleh tim redaksi Koran Tempo dan Republika. Khususnya dalam headline berita mengenai penyebab terjadinya insiden Monas yang melibatkan antara FPI dan AKKBB pada kedua harian tersebut. Sedangkan untuk batasan waktu terbitnya, peneliti mengambil berita-berita selama satu bulan yaitu, Juni 2008. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis framing model Robert N. Entman. Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas antara lain : 1. Bagaimana struktur define problems (pendefinisian masalah) pada berita-berita terkait penyebab terjadinya insiden Monas di Koran Tempo dan Republika ? 2. Bagaimana struktur diagnose causes (penyebab masalah) pada beritaberita terkait penyebab terjadinya insiden Monas di Koran Tempo dan Republika ? 3. Bagaimana struktur make moral judgement (membuat pilihan moral) pada berita-berita terkait penyebab terjadinya insiden Monas di Koran Tempo dan Republika ? 4. Bagaimana struktur treatment recommendation (menekankan penyelesaian) pada berita-berita terkait penyebab terjadinya insiden Monas di Koran Tempo dan Republika ? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Tujuan Teoritis Dengan menggunakan analisis framing model Entman, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur define problems (pendefinisian masalah), diagnose causes (penyebab masalah), make moral judgement (membuat pilihan moral) dan treatment recommendation (menekankan penyelesaian) antara Koran Tempo dan Republika dalam pemberitaan insiden Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. b. Tujuan Praktis Mencari hubungan / perbedaan proses framing Koran Tempo dan Republika mengenai insiden Monas. 2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis Sebagai upaya mengembangkan khazanah keilmuan tentang jurnalistik dan memberikan gambaran karakter pemberitaan surat kabar, dalam hal ini Koran Tempo dan Republika mengenai insiden Monas. b. Manfaat Praktis Memberikan kontribusi tentang bagaimana sebuah berita diperoleh, diolah dan disampaikan pihak institusi media kepada khalayak pembaca surat kabar, dalam hal ini Koran Tempo dan Republika terkait dengan insiden Monas. Mengetahui bagaimana Koran Tempo dan Republika mengkonstruksikan sebuah pesan. Juga memberikan pengetahuan kepada khalayak umum tentang proses framing yang dilakukan oleh kedua surat kabar nasional tersebut. D. Tinjauan Pustaka Penulisan skripsi dengan judul Konstruksi Realitas Pada Media Cetak : Analisis Framing Pemberitaan Insiden Monas di Koran Tempo dan Republika Edisi Juni 2008 ini terinspirasi dari beberapa penulisan skripsi yang pernah peneliti lihat di Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Di antara penulisan skripsi tersebut, menggunakan teknik analisis framing yaitu untuk mengetahui konstruksi realitas pemberitaan pada media cetak. Skripsi tersebut antara lain : Skripsi mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik, Andrizal yang berjudul Konstruksi Berita Kontroversi Jamaah Ahmadiyah Indonesia dalam Majalah Forum Keadilan dan Majalah Sabili (Analisis Framing Model William A. Gamson dan Andre Modigliani, dengan pisau analisis model Gamson dan Modigliani. Skripsi mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik, Eri Suhasni Wulandari yang berjudul Analisis Framing Pemberitaan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah di Harian Media Indonesia, dengan menggunakan pisau analisis model Pan dan Kosicki. Skripsi mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Doni yang berjudul Konstruksi Media Cetak Atas Realitas (Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Baitul Muslimin Indonesia PDI-P di Harian Kompas dan Republika), dengan pisau analisis model Pan dan Kosicki. Beberapa skripsi tersebut menjelaskan bagaimana media cetak, baik itu majalah ataupun surat kabar dalam mengkonstruksikan suatu realitas kepada khalayak melalui teks-teks berita yang berkaitan dengan kasus Ahmadiyah Indonesia, Al Qiyadah Al Islamiyah dan Baitul Muslimin Indonesia PDI-P. Perbandingan skripsi-skripsi di atas dengan skripsi yang penulis susun, ialah terletak pada berita yang diteliti serta pisau analisis yang digunakan. Peneliti menggunakan pisau analisis framing model Robert N. Entman yang membagi analisisnya terhadap empat elemen, yaitu pendefinisian masalah, sumber masalah, membuat pilihan moral dan menekankan penyelesaian. E. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian Paradigma penelitian ini adalah paradigma konstruksionis yang sering disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Dengan konsentrasi analisis yaitu menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi dibentuk.4 Paradigma konstruksionis memperhatikan interaksi antara komunikator dan komunikan untuk menciptakan pemaknaan atau tafsiran dari suatu pesan. Paradigma konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas. Paradigma ini memandang kegiatan komunikasi sebagai proses yang dinamis. Titik perhatian tidak terletak pada bagaimana seorang mengirimkan pesan, melainkan bagaimana masingmasing pihak yang terlibat dalam lalu lintas komunikasi memproduksi dan mempertukarkan makna. 4 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, h. 37. Dalam buku “Analisis Framing Konstruksi, Ideologi dan Politik Media”, Eriyanto menyebutkan bahwa, penelitian dengan paradigma konstruksionis memiliki beberapa karakteristik, yaitu : 1) Memiliki tujuan untuk menentukan realitas yang terjadi sebagai hasil interaksi antara peneliti dengan objek penelitian 2) Peneliti melibatkan dirinya dengan realitas yang diteliti 3) Makna yang dihasilkan dari suatu teks merupakan hasil negosiasi antara teks dengan peneliti 4) Hasil penelitian merupakan interaksi antara peneliti dan objek penelitian 5) Subjektivitas peneliti menjadi dasar dari proses analisis 6) Empati dan interaksi dialektis antara peneliti dan teks sangat ditekankan dalam rekonstruksi realitas yang diteliti 7) Kualitas dilihat dari sejauh mana peneliti mampu menyerap dan mengerti bagaimana individu mengkonstruksikan realitas 2. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan sebuah makna dari gejala-gejala sosial di masyarakat. Penelitian ini bersifat kualitatif karena dalam pelaksanaannya lebih dilakukan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan kategori. Pendekatan kualitatif tidak menggunakan prosedur statistik dalam pendekatannya, melainkan dengan berbagai macam sarana. Sarana tersebut antara lain dengan wawancara, pengamatan, atau dapat juga melalui dokumen, naskah, buku, dan lain-lain. Penelitian ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling. Penelitian ini lebih menekankan pada kualitas data bukan kuantitas data.5 5 Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikas (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006), h. 58. 3. Subjek dan Obyek Penelitian Subjek penelitian ini adalah Koran Tempo dan Republika, sedangkan yang menjadi objek pada penelitian ini adalah berita utama atau headline terkait dengan penyebab terjadinya insiden Monas, 1 Juni 2008. 4. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu data primer dan sekunder. Data primer merupakan sasaran utama dalam analisis, sedangkan data sekunder diperlukan guna mempertajam analisis data primer sekaligus dapat dijadikan bahan pendukung ataupun pembanding. 1) Data Primer (Primary-Sources) Ialah data tekstual yang diperoleh dari pemberitaan di Koran Tempo dan Republika. Penulis memilih berita yang hanya menyangkut penyebab terjadinya insiden Monas, 1 Juni 2008. 2) Data Sekunder (Secondary-Sources) Yaitu dengan mencari referensi berupa buku-buku, tulisan lain yang berkaitan dengan penelitian ini dan wawancara dengan pihak dari Koran Tempo dan Republika. 5. Teknik Analisis Data Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis framing. Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Data yang ada dikumpulkan, kemudian diolah menggunakan analisis framing dengan merujuk pada model atau kerangka Robert N. Entman, sehingga akan terlihat bagaimana Koran Tempo dan Republika mengemas berita tentang penyebab terjadinya insiden Monas. Berdasarkan pada rumusan masalah, kerangka Entman tersebut terdiri dari struktur problem identification / define problem menekankan pada bagaimana suatu peristiwa dipahami oleh wartawan, causal interpretation / diagnose causes menekankan pada apa dan siapa yang menjadi sumber dari suatu peristiwa, moral evaluation / make moral judgement dipakai untuk membenarkan atau memberikan argumen pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat dan treatment recommendation / suggest remedis dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. 6. Unit Analisis Unit analisis dalam penelitian ini adalah meneliti teks berita, yaitu berita utama / headline yang terdapat pada Koran Tempo dan Republika mengenai penyebab terjadinya insiden Monas, antara lain berita pada Koran Tempo : Bubarkan FPI (2 Juni 2008), Pemerintah Kaji Pembekuan FPI (3 Juni 2008), Dua Korban Penyerangan Dirawat Intensif (3 Juni 2008), Pemerintah Diminta Tegas Soal FPI (3 Juni 2008), Polisi kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

KONSTRUKSI SURAT KABAR TERHADAP INSIDEN MONAS 1 JUNI 2008 (Analisis Framing pada Headline Koran Tempo dan Jawa Pos Edisi 2-8 Juni 2008)
0
20
2
KONSTRUKSI MEDIA DALAM PEMBERITAAN KONFLIK GAZA (Analisis Framing pada Berita Harian Kompas dan Republika Edisi 16-24 November 2012)
0
3
43
KONSTRUKSI REALITAS KONFLIK GAZA DI MEDIA ONLINE (Analisis Framing Berita BBC Indonesia Edisi Juni-Agustus 2014)
1
17
25
Konstruksi realitas Islam di media massa : analisis framing; konflik Palestina Israel di harian Kompas dan Republika
1
11
119
Konstruksi realitas di media massa ( analisis framing terhadap pemberitaan Baitul Muslimin Indonesia PDI-P di Harian Kompas dan Republika )
1
8
116
Konstruksi Realitas Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Korupsi M. Nazaruddin di Harian Republika)
1
7
148
Konstruksi Media Cetak Atas Berita Meninggalnya Soeharto : Analisis Framing Pada Koran Republika
0
5
100
“Konstruksi pemberitaan Miss World 2013 di media massa” (analisis framing pada Harian Sindo dan Republika)
0
7
0
Konstruksi Realitas Sosial Berita Korupsi Di Metro Tv (Analisis Framing Pemberitaan “Skandal Akil Mochtar” dalam Primetime News)
1
22
145
KONSTRUKSI PKS DALAM PEMBERITAAN KASUS SUAP KUOTA IMPOR DAGING SAPI DI KORAN REPUBLIKA DAN KOMPAS (Analisis Framing Partai Keadilan Sejahtera dalam Pemberitaan Kasus Suap Kuota Impor Daging Sapi di Koran Republika dan Kompas)
0
3
175
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN INSIDEN PENEMBAKAN DI LAPAS CEBONGAN SLEMAN (JOGLOSEMAR EDISI MARET 2013) Analisis Framing Pemberitaan Insiden Penembakan Di Lapas Cebongan Sleman (Joglosemar Edisi Maret 2013).
0
1
13
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN INSIDEN PENEMBAKAN DI LAPAS CEBONGAN SLEMAN (JOGLOSEMAR EDISI MARET 2013) Analisis Framing Pemberitaan Insiden Penembakan Di Lapas Cebongan Sleman (Joglosemar Edisi Maret 2013).
0
2
12
PEMBERITAAN KELOMPOK TERORIS SANTOSO DALAM MEDIA MASSA (Analisis Framing Tentang Pemberitaan Kelompok Teroris Poso Santoso dalam Koran Tempo edisi Januari – Maret 2016).
0
0
14
Konstruksi pemberitaan Ramadhan 2016 di media online: framing pemberitaan kompas.com dan republika.co.id periode 12-16 Juni 2016.
0
0
142
KONSTRUKSI PEMBERITAAN MEDIA TENTANG NEGARA ISLAM INDONESIA (ANALISIS FRAMING REPUBLIKA DAN KOMPAS)
0
0
17
Show more