Partisipasi Politik Perempuan : Studi Kasus Bupati Perempuan Dalam Pemerintahan Dalam Kabupaten Karanganyar

 3  97  88  2017-03-01 00:00:59 Report infringing document
PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN: STUDI KASUS BUPATI PEREMPUAN DALAM PEMERINTAHAN KABUPATEN KARANGANYAR Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Meraih Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Oleh: AHMAD NAWAWI NIM: 10.30.33.22.77.77 JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H/2009 M PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi yang berjudul “PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN : STUDI KASUS BUPATI PEREMPUAN KARANGANYAR” DALAM telah PEMERINTAHAN diujikan dalam sidang KABUPATEN munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 26 Juni 2009. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Jurusan Pemikiran Politik Islam. Jakarta, 26 Juni 2009 Sidang Munaqasyah Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota Dr. Masri Mansoer, MA NIP.19621006 199003 1 002 Dra. Wiwi Sajaroh, MA NIP. 19690210 199403 2 004 Anggota Penguji I Penguji II Dr. Sirojuddin Aly, MA NIP. 19540605 200112 1 001 Dr. A. Bakir Ihsan, MA NIP. 19720412 200312 1 002 Pembimbing skripsi Dr. Agus Nugraha, M.Si. NIP. 19680801 200003 1 001 ABSTRAK Ahmad Nawawi, Partisipasi Politik Perempuan: studi Kasus Bupati Perempuan dalam Pemerintahan Kabupaten Karanganyar, Skripsi, Pemikiran Politik Islam, Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Januari 2009. Perempuan sering kali dipandang sebagai mahluk kelas dua yang lebih mengedepankan perasaan, sehingga keikutsertaannya dalam dunia politik diprediksi akan sangat buruk prestasiya. Namun demikian, feminisme semakin menyadarkan akan pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam aspek perpolitikan. Kesadaran itu kemudian menjadi semangat yang mendorong perempuan untuk turut tampil dan mengatur pemeritahan. Tampilnya perempuan di muka umum, dalam dunia politik, menunjukkan adanya geliat partisipasi politik perempuan. Gejala yang memperlihatkan kemampuan perempuan dalam menekan perasaan dan bersikap profesional dalam menyusun program kepemerintahan. Dalam penelitian ini, penulis akan membahas (1) Bagaimana partisipasi politik perempuan dalam kepemerintahan Kabupaten Karanganyar, (2) Bagaimana isu gender mempengaruhi strategi politik yang dibuat oleh Bupati Karanganyar. Hasil Kajian ini adalah perempuan di era globalisasi seperti saat ini telah memiliki peluang untuk tampil dalam perpolitikan. Sebagai konkretisasi penyetaraan gender, perempuan bahkan dapat memegag peranan penting dalam sebuah kepemerintahan. Hal itu sebagaimana yang tercermin dari kepemimpinan Hj. Rina Iriani Ratnaningsih, S.Pd., M.Hum., dalam pemerintahan kabupaten Karanganyar. Tujuan dipilihnya judul penelitian tentang partisipasi Politik Perempuan yang mengambil Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar ini adalah ingin mengetahui realisasi dari sebuah argumentasi, bahwa sosok perempuan lemah dalam memimpin atau terlibat langsung dalam dunia politik, sekaligus berapa besarkan tingkat partisipasi politik semenjak terpilihnya Bupati Karanganyar. Sedangkan metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodoloogi penelitian dengan menggunakan tipe kualitatif, sehingga akan dihasilkan data-data deskriptif, yang menggambarkan dengan masalah yang sedang diteliti. Sebagai seorang bupati perempuan, Rina merepresentasikan kemampuan perempuan dalam mengambil kebijakan kepemerintahan. Lewat programprogramnya (yang meskipun masih terasa pengaruh gender dalam pemilihan namanya), Rina mencoba menunjukkan eksistensi perempuan dalam dunia publik. Dengan demikian, kesetaraan kewargaan di Indonesia semoga semakin terealisasi dengan baik. KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran, Amiin. Salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar sarjana Strata Satu (S1) diperguruan tinggi termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah membuat karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi. Dalam rangka itulah penulis membuat skripsi dengan judul “PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN : STUDI KASUS BUPATI PEREMPUAN DALAM PEMERINTAHAN KABUPATEN KARANGANYAR”. Tersusunnya skripsi ini, tentunya tidak luput dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terimakasih khususnya kepada : 1. Ketua Sidang Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ; Bapak Dr. Masri Mansoer, MA 2. Ketua Jurusan Pemikiran Politik Islam, Bapak Drs. Agus Darmadji, M.Fils. 3. Sekretaris Jurusan Pemikiran Politik Islam, Ibu Wiwi Siti Sajaroh, MA. 4. Dosen Pembimbing Skripsi, Bapak Dr. Agus Nugraha, Ma yang telah meluangkan waktu memberikan bimbingan, mencurahkan tenaga dan fikirannya untuk membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu Dosen Pemikiran Politik Islam, untuk segala perhatian dan bantuannya. 6. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat serta Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan fasilitas pustaka guna melengkapi literatur yang diperlukan dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Ayahanda dan Ibunda tercinta, Bapak Marsan dan Ibu Hj. Siti Maimunah atas segala do’a dan kasih sayang serta jasanya. Semoga do’a dan jasa beliau mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. 8. Kakak-kakakku, Ida Farida, Nurasia, Siti Masitoh, Taufiq Hidayat. “Semoga kita semua selalu akur dan romantis” 9. Keponakan tercinta, Lulu,Sohibul Wafa, Ubaidillah, yang selalu “mijitin Om” saat lelah. “Tetaplah kalian menjadi mutiara semangat bagi Om yach .!” 10. Untuk yang telah mengisi hatiku saat suka maupun duka, Imas Uliah tercinta. Semoga Allah SWT selalu meridho’i jalinan kasih kita. Amiiiiin!. 11. Sahabatku seperjuangan yang telah memberikan dorongan dan semangat, Asep, Ato, Ghofur, Sa’I (Condet), Thank’s atas kontribusi dan motivasinya. Semoga persahabatan kita abadi .”Ayo dong semangat, selesaikan skripsi, jangan kerjaan yang diprioritaskan!” 12. Semua pihak dan Jajaran Birokrat Pemerintahan Kabupaten Karanganyar yang turut memberikan dorongan dan dukungan yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu (terimaksih banyak Bapak dan Ibuu untuk semua data-datanya) semoga Kabupaten Karanganyar selalu Prima dan konsisten dalam memberikan pelayanan kepada rakyatnya. semoga Allah SWT membalasnya dengan segala kebaikan yang berlimpah. Akhirnya dengan kerendahan hati, penulis berdo’a semoga kebaikan mereka yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang berlipat ganda, dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya, Jakarta, Juni 2009 Penulis Ahmad Nawawi . DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iv ABSTRAKSI . vi BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang Masalah . 1 B. Batasan dan Perumusan Masalah . 4 C. Tujuan Penelitian . 4 D. Metode Penelitian . 5 E. Sistematika Penulisan . 7 PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN . 8 A. Pengertian Partisipasi Politik . 8 B. Perempuan dan Partisipasi politik . 11 C. Kepemimpinan Kepala Daerah Perempuan . 18 BAB II BAB III BUPATI PEREMPUAN DALAM PEMERINTAHAN KABUPATEN KARANGANYAR . 26 A. Bupati Perempuan di Karanganyar . 26 A. Profil Kabupaten Karanganyar . 26 B. Profil Bupati Karanganyar . 29 B. Program Bupati Karanganyar . 32 1. Program Kerukunan Antar Masyarakat . 32 2. Program Kerukunan Umat Beragama . 34 BAB IV 3. Program Ratna . 40 4. Program Larasita . 45 5. Program Desisera . 50 ANALISIS TERHADAP KEPEMIMPINAN BUPATI RINA IRIANI SRIRATNANINGSIH . 54 A. Strategi Kepemimpinan Politik . 54 B. Strategi dalam Meraih Kepemimpinan . 55 C. Strategi dalam Menjalankan Kepemimpinan . 57 D. Strategi dalam mempertahankan Kepemimpinan . 58 PENUTUP . 63 A. Kesimpulan . 63 B. Saran . 66 DAFTAR PUSTAKA . 68 BAB V LAMPIRAN ABSTRAK Ahmad Nawawi, Partisipasi Politik Perempuan: studi Kasus Bupati Perempuan dalam Pemerintahan Kabupaten Karanganyar, Skripsi, Pemikiran Politik Islam, Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Januari 2009. Perempuan sering kali dipandang sebagai mahluk kelas dua yang lebih mengedepankan perasaan, sehingga keikutsertaannya dalam dunia politik diprediksi akan sangat buruk prestasiya. Namun demikian, feminisme semakin menyadarkan akan pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam aspek perpolitikan. Kesadaran itu kemudian menjadi semangat yang mendorong perempuan untuk turut tampil dan mengatur pemeritahan. Tampilnya perempuan di muka umum, dalam dunia politik, menunjukkan adanya geliat partisipasi politik perempuan. Gejala yang memperlihatkan kemampuan perempuan dalam menekan perasaan dan bersikap profesional dalam menyusun program kepemerintahan. Dalam penelitian ini, penulis akan membahas (1) Bagaimana partisipasi politik perempuan dalam kepemerintahan Kabupaten Karanganyar, (2) Bagaimana isu gender mempengaruhi strategi politik yang dibuat oleh Bupati Karanganyar. Hasil Kajian ini adalah perempuan di era globalisasi seperti saat ini telah memiliki peluang untuk tampil dalam perpolitikan. Sebagai konkretisasi penyetaraan gender, perempuan bahkan dapat memegag peranan penting dalam sebuah kepemerintahan. Hal itu sebagaimana yang tercermin dari kepemimpinan Hj. Rina Iriani Ratnaningsih, S.Pd., M.Hum., dalam pemerintahan kabupaten Karanganyar. Tujuan dipilihnya judul penelitian tentang partisipasi Politik Perempuan yang mengambil Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar ini adalah ingin mengetahui realisasi dari sebuah argumentasi, bahwa sosok perempuan lemah dalam memimpin atau terlibat langsung dalam dunia politik, sekaligus berapa besarkan tingkat partisipasi politik semenjak terpilihnya Bupati Karanganyar. Sedangkan metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodoloogi penelitian dengan menggunakan tipe kualitatif, sehingga akan dihasilkan data-data deskriptif, yang menggambarkan dengan masalah yang sedang diteliti. Sebagai seorang bupati perempuan, Rina merepresentasikan kemampuan perempuan dalam mengambil kebijakan kepemerintahan. Lewat programprogramnya (yang meskipun masih terasa pengaruh gender dalam pemilihan namanya), Rina mencoba menunjukkan eksistensi perempuan dalam dunia publik. Dengan demikian, kesetaraan kewargaan di Indonesia semoga semakin terealisasi dengan baik. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iii ABSTRAKSI . v BAB I PENDAHULUAN . 1 F. Latar Belakang Masalah . 1 G. Batasan dan Perumusan Masalah . 4 H. Tujuan Penelitian . 4 I. Metode Penelitian . 5 J. Sistematika Penulisan . 7 PARTISIPASI POLITIK PEREMPUAN . 8 D. Pengertian Partisipasi Politik . 8 E. Perempuan dan Partisipasi politik . 11 F. Kepemimpinan Kepala Daerah Perempuan . 18 BAB II BAB III BUPATI PEREMPUAN DALAM PEMERINTAHAN KABUPATEN KARANGANYAR . 25 C. Bupati Perempuan di Karanganyar . 25 A. Profil Kabupaten Karanganyar . 25 B. Profil Bupati Karanganyar . 28 D. Program Bupati Karanganyar . 31 6. Program Kerukunan Antar Masyarakat . 31 7. Program Kerukunan Umat Beragama . 33 8. Program Ratna . 39 9. BAB IV Program Larasita . 44 10. Program Desisera . 49 ANALISIS TERHADAP KEPEMIMPINAN BUPATI RINA IRIANI SRIRATNANINGSIH . 53 A. Strategi Kepemimpinan Politik . 53 B. Strategi dalam Meraih Kepemimpinan . 54 C. Strategi dalam Menjalankan Kepemimpinan . 56 D. Strategi dalam Mempertahankan Kepemimpinan . 57 PENUTUP . 62 C. Kesimpulan . 62 D. Saran . 65 DAFTAR PUSTAKA . 67 BAB V LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama ini, perempuan yang berperan dalam politik sangat kecil, sehingga usulan yang dibuat menghadapi ketentuan dan hambatan, terutama untuk memperjuangkan kepentingan perempuan. Diskriminasi perempuan membuat sebagian perempuan trauma untuk memberikan peluang bagi dirinya untuk menempuh jalur kekuasaan di legislatif. Peran politik perempuan dalam menentukan arah kebijakan selalu terbungkam dan kalah oleh dominasi kekuasaan dan kepentingan laki-laki. Artinya, dalam sosial masyarakat, perempuan dinilai tidak mampu memimpin dan membuat kebijakan. Perempuan dianggap sebagai sosok yang lebih mengutamakan perasaan dibandingkan rasionalitas. Konstruksi yang demikian membuat masyarakat berpikir bahwa perempuan adalah mahluk lemah yang tak berdaya dalam menguasai sesuatu, termasuk dalam hal berpolitik. Hal tersebut merupakan akibat dari penyalahartian konsep gender. Gender pada dasarnya menuntut adanya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Hal tersebut sebenarnya bukan tanpa dasar, karena secara formal perempuan mempunyai kewargaan yang sama dengan laki-laki dalam sistem demokrasi. Mengikuti perkembangan isu kesetaraan gender tersebut, keinginan perempuan untuk turut tampil dalam ranah politik semakin meningkat. Saat itu merupakan langkah para perempuan dalam menunjukkan eksistensinya dalam perpolitikan, misalnya dalam kursi parlementer. Para perempuan tersebut kemudian dapat menjadi perwakilan bagi perempuan lainnya dalam menyuarakan aspirasi di arena politik. Pada umumnya, sepanjang periode meluasnya perwakilan politik perempuan, perubahan-perubahan cenderung terjadi baik dalam struktur negara maupun dalam hubungan-hubungan gender. Dalam bentuk struktur, negara perlahan mulai melimpahkan beberapa kapasitasnya pada unit-unit daerah yang dipengaruhi oleh perempuan. Dengan demikian, muncul indikasi bahwa akan terjadi peningkatan jumlah perempuan dalam perwakilan politik, sehingga feminisasi politik1 tidak dapat dihindarkan. Sejak tahun 2002, wacana peningkatan jumlah perempuan di panggung politik sudah mulai terdengar gaungnya. Sampai akhirnya di pemilu 2004, isu tersebut terealisasi meskipun hanya sebatas penetapan kuota 30% atas perempuan dalam parlemen. Jumlah tersebut merupakan gambaran umum dari minimnya partisipasi perempuan Indonesia dalam dunia perpolitikan. Partisipasi perempuan dalam politik Indonesia tidak cukup siginifikan dalam semua tingkatan pengambilan keputusan di pemerintahan. Artinya, partisipasi perempuan di bidang politik selama ini terkesan hanya memainkan peran sekunder setelah lakilaki pada peran primer. Sebagai peran sekunder, perempuan dalam dunia politik seakan memiliki peran yang beraneka ragam. Wilayah politik yang mampu dimainkan masih sebatas wacana dalam diskusi dan pelatihan. Akan tetapi dalam pergumulan politik, sebenarnya perempuan bisa menembus apa saja dengan kualitas yang 1 Joni Lovenduski, Politik Berparas Perempuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), h. 32 dimilikinya. Ia mampu menjadi pemimpin dari tingkat kepala desa sampai presiden dan wilayah publik yang signifikan. Hal yang demikian, sebagaimana direpresentasikan oleh Hj. Rina Iriani Ratnaningsih, S.Pd., M.Hum. sebagai bupati Kabupaten Karanganyar. Sebagai seorang perempuan, Rina mampu menunjukkan eksistensinya dalam politik dengan menjadi orang nomor satu di Karanganyar. Sebuah pencapaian yang lebih dari kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi
Dokumen baru
Dokumen yang terkait

Partisipasi Politik Perempuan : Studi Kasus B..

Gratis

Feedback