Trafficking dan prostitusi : studi kasus Gang Dolly Surabaya

Gratis

2
16
61
2 years ago
Preview
Full text
TRAFFICKING DAN PROSTITUSI STUDI KASUS Gang Dolly Surabaya Skripsi Diajukan kepada Fakultas Adab dan Humaniora Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora ( S.Hum) Oleh: KHILFA ADIB NIM: 103022027511 JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1430 H/ 2009 M. ABSTRAKSI Berbicara tentang perempuan tidak akan habisnya persoalan hidup yang merongrong kehidupan kaum hawa ini. Bahkan sejak Indonesia belum merdeka hingga mencapai kejayaannya nasib perempuan Indonesia masih belum juga banyak berubah. Walaupun pada saat ini perjuangan perempuan dalam menyuarakan persamaan hak dan derajatnya mulai menunjukan eksistensinya, namun di satu sisi tidak dapat di pungkiri bahwa masih banyak perempuan Indonesia yang ditempatkan dalam kedudukan yang termarginalkan trafficking, prostitusi merupakan problem sosial yang sangat tua dia ada sejak manusia hadir di muka bumi ini, hingga kini prostitusi masih menjadi momok bagi struktur dan sistem sosial masyarakat, praktik prostitusi di Gang Dolly Surabaya, merupakan bagian dari problematika sosial yang terjadi di salah satu kota di Indonesia yaitu: Surabaya, praktik ini telah menjadi bisnis yang meraksasa yang relatif sulit menghapuskannya, di balik dinamika bisnis Gang Dolly Surabaya itu, pastinya selalu ada pihak-pihak yang merasa "di korbankan" atau yang "mengorbankan". Berbagai kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan telah menjadi masalah yang krusial. Mulai dari kekerasan rumah tangga, hingga perdagangan manusia. Perempuan menjadi bagian di dalam lingkaran setan itu. DAFTAR ISI ABSTRAKSI . i DAFTAR ISI . ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. 1 B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah. 3 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian. 5 D. Kerangka Konseptual. 6 E. Metode Penelitian . 8 F. Sistematika Penulisan . 11 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A Letak Geografis . 13 B Penduduk dan Mata Pencahariannya . 15 C Sosial Kemasyarakatan . 18 BAB III TRAFFICKING, PROSTITUSI DAN PERMASALAHANNYA A. TRAFFICKING . 20 1 Definisi Trafficking. 20 2 Sebab-sebab Terjadinya Trafficking . 23 a Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat . 24 b Politik . 26 c Hukum . 29 d Agama . 31 3 Bentuk-bentuk Trafficking . 32 4 Pelaku Trafficking. 34 5 Korban Trafficking. 36 B. PROSTITUSI . 37 1 Definisi Prostitusi . 37 2 Sebab-sebab Terjadinya Prostitusi. 39 a Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat . 39 b Politik . 41 c Hukum . 42 d Agama . 43 BAB IV PERKEMBANGAN TRAFFICKING DAN PROSTITUSI, DAMPAK SERTA UPAYA PENANGGULANGANNYA A. Perkembangannya. 45 1 Trafficking . 45 2 Prostitusi. 47 B. Dampak Trafficking dan Prostitusi Terhadap Sosial . Kemasyarakatan . 51 C. Upaya Penanggulangan Trafficking dan Prostitusi. 54 1 Political will Pemerintah Dalam Penanggulangan Trafficking dan Prostitusi. 54 Masyarakat dan Lingkungan . 62 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 66 2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Adanya hukum sebagai kaidah sosial tidak berarti bahwa pergaulan antar manusia dan masyarakat hanya diatur oleh hukum. Selain oleh hukum kehidupan manusia dalam masyarakat yang bermoral, munusia juga di atur pula oleh agama, kaidah-kaidah susila, kesopanan, adat kebiasaan dan kaidah-kaidah lainnya.1 Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini tentu akan timbul pula berbagai masalah baru, yang kesemuanya ini membutuhkan peninjauan baik dari segi hukum, kesusilaan serta kaidah-kaidah sosial lainnya. Salah satu masalah yang sangat mengkhawatirkan generasi penerus, adalah meningkatnya praktik trafficking dan prostitusi. Bahwa prostitusi dapat menghancurkan betapapun besarnya sistem sosial, ia dapat membuat masyarakat bobrok moral bangsa, demi kepentingan moral dan tata susila.2 Meski di sadari bahwa praktik prostitusi dapat mengancam sendi-sendi moral masyarakat dan pada kenyataannya masih banyak masyarakat kita terjerumus di dalamnya. Dalam masyarakat modern, sebagai produk dari kemajuan teknologi misalnya, mekanisasi, industrialisasi migrasi dan urbanisasi dari desa–kota memunculkan banyak masalah sosial. Masalah-masalah sosial pada zaman modern yang di anggap sebagai sakit secara sosial atau secara populer di kenal sebagai penyakit masyarakat itu, sebagai fungsi struktural dari totalitas sistem sosial, dengan kata lain penyakit masyarakat demikian ini merupakan produk sampingan atau konsekuensi yang tidak di harapkan dari sistem Sosio-Kultural zaman sekarang, dan berfungsi sebagai gejala sendiri.3 1 Chaidir Ali. Filsafat Hukum, Memories Book, Bandung 1972 hal. 5 AS Adam, SH. Tinjauan tentang zinah dalam rangkaian delik susila pada KUHP. Swada, Jakarta 1969 hal. 17 3 Kartini-Kartono, Pathologi Sosial, CV. Rajawali Press, Jakarta 1981 2 Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang telah ada sejak manusia mengenal perkawinan, sebab suatu penyimpangan dari norma-norma perkawinan yang sah, bisa merupakan prostitusi karena itulah masalah prostitusi ini merupakan masalah sosial yang tertua seperti halnya kemiskinan dan kemelaratan. Dengan adanya perkembangan masyarakat dewasa ini, maka perwujudan dari pelacuran pun semakin sulit dapat di kontrol oleh karena di samping bertambah banyaknya pelaku prostitusi itu sendiri, juga sangat sulit pula untuk mencari jalan keluarnya, wanita pelacur adalah wanita yang menjual dirinya kepada laki-laki dengan menerima pembayaran atas servis yang di berikannya. Prostitusi yaitu penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran.4 Gang Dolly Surabaya merupakan salah satu tempat yang menjadi lahan praktik trafficking dan prostitusi tumbuh subur dan berkembang, karenanya penulis mencoba mengangkat kasus ini di karenakan Gang Dolly merupakan Lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Gang Dolly juga menjadi lokalisasi tertua di Indonesia dan di Legalkan oleh Pemerintah Daerah, serta di jadikan pemasukan khas pajak daerah dari bisnis lendir itu. Serta masih banyak sekali lika-liku Gang Dolly Surabaya yang patut untuk di ketahui. Serta sampai sejauh manakah usaha-usaha Pemerintah untuk mengatasi praktik trafficking dan prostitusi di Gang Dolly Surabaya. Hukum timbul bersama-sama dengan timbulnya rakyat dan menjadi kuatnya rakyat, dan akhirnya berangsur-angsur lenyap manakala suatu bangsa kehilangan suatu kepribadian rasionalnya.5 B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah Wanita-wanita yang menjadi pelacur (lepas dari latar belakang mereka) adalah sudah menjadi kebiasaan, yang cukup lama dan telah mengakar di masyarakat karena itu menanggulangi perilaku mereka agak sulit dan perlu penanganan yang unik. Namun demikian perlu terus di support sampai sejauh 4 5 P.J De Bruine Ploos Van Astal dalam Soedjono, S.H 1970 hal. 57 Ibid. 1969 hal. 3 manakah usaha-usaha pemerintah untuk mengatasi praktek trafficking dan prostitusi di Gang Dolly Surabaya. Di antara kesulitan tidak semua orang membenarkan untuk mencari nafkah hidup yang sangat melampaui batas norma-norma masyarakat apalagi mengacu pada aturan agama maupun per Undangundangan. Namun ada beberapa alasan mengapa kaum pria menyokong praktik prostitusi. Sebagai suatu jalan keluar dari kekurangan kebutuhan sex, dan dalam arti lain, hal ini dalam penggantian yang lebih murah dari pada mengawini atau bergaul dengan seorang gadis.6 Dengan jalan ini mereka dapat melupakan tanggung-jawab lainnya atau ke khawatiran akan kehamilan. Yang berbahaya lagi ialah adanya wanita yang bersuami melakukan praktek melacurkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan perbuatannya itu malah terkadang mendapat izin dari suaminya. Terutama dengan kasus trafficking yang kini sedang marak dilakukan oleh oknum-oknum yang bekerja untuk membawa gadis desa yang lugu dan dengan perekonomian yang sangat kurang, terutama para gadis di bawah umur, mereka diiming-imingi kerja dan gaji yang sangat besar Rp.5.000.000 an perbulan tetapi mereka tidak di pekerjakan, tetapi di jual kemucikari seharga Rp.2.000.000 perorang,7 para korban terdiri atas perempuan-perempuan muda yang berusia 16-23 tahun yang rata-rata berasal dari keluarga petani yang kurang mampu. Dengan banyaknya tempat-tempat untuk melacur yang di sediakan oleh mucikari, maka pelacuran akan semakin sulit dapat di kontrol, mereka dapat dengan mudah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam melakukan operasinya dengan aman, bahkan hal demikianlah yang lebih memungkinkan banyaknya pengaruh jelek terhadap masyarakat di sekitarnya. Dalam realitasnya keadaan semacam ini perlu di Interpretasikan dan di deskripsikan sebagai sebuah kebebasan menuju ke arah kemajuan peradaban. Namun pada hakekatnya kemajuan yang ada 6 7 Kincy dalam Soedjono,Pathologi Sosial. S.H. 1970 hal. 24) Wawancara dengan oknum Trafficking yang disamarkan merupakan sinyal akan adanya dekonstruksi sosio-kultural bangsa sebagai akibat adanya hegemoni budaya asing terhadap budaya lokal. Karena demikian luas dan kompleknya masalah itu, maka penelitian ini akan di batasi pada permasalahan: (1) keterlibatan perempuan dalam dunia prostitusi apakah sebagai profesi atau dieksploitasi (2) jika sebagai profesi atau di ekploitasi faktor apa yang menyebabkan realitas itu (3) bagaimana usaha pemerintah untuk mengatasi atau meminimalisir perilaku tersebut. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Berbarengan dengan membludaknya pelacur di suatu daerah, barangkali erat kaitannya dengan istilah urbanisasi desa-kota, sebab urbanisasi merupakan salah satu faktor dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk.8 Secara faktual, hingga kini perdagangan anak dan perempuan (trafficking) untuk prostitusi masih terus berlangsung, tanpa ada usaha cukup memadai dari Pemerintah untuk menanganinya. Berdasarkan atas apa yang di temui oleh penulis di lapangan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sebab musabab dan faktor-faktor perempuan terjun ke dunia prostitusi dan lika liku kehidupan di Gang Dolly Surabaya, serta mencoba untuk mengangkat kasus trafficking dan prostitusi Gang Dolly Surabaya yang pastinya belum pernah di angkat lebih detail sebagai penelitian perbandingan secara mendalam di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta untuk menggugah sensitivitas gender masyarakat dan Civitas Akademik yang bersikap apatis terhadap issue trafficking dan prostitusi. Penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi perbaikan moral bangsa melalui jalur akademik, hingga mayoritas rakyat Indonesia memiliki sensitivitas gender yang selama ini masih terbelenggu oleh nilai-nilai moral yang secara kultural selalu menomor duakan kaum perempuan. Sehingga pada akhirnya di harapkan juga dapat bermanfaat bagi pihak terkait atau instansi terkait yang bertugas menangani permasalahan ini. 8 Rozy munir, Dasar-dasar Demografi 1981 hal. 115 D. Kerangka Konseptual Dalam penulisan skripsi ini penulis mencoba menggunakan kerangka berfikir secara Induktif. Bahwa perempuan selalu menjadi korban atas segala ketidakmampuan dan termarjinalkan sehingga banyak perempuan yang di jadikan alat untuk mengeruk keuntungan terutama dalam eksploitasi seksual. Bermula dari rasa kemanusiaan dan keingintahuan saya sebagai penulis ingin mendeskripsikan praktik trafficking dan prostitusi di Gang Dolly Surabaya. Terutama yang berperan langsung dalam proses terjadinya praktik tersebut seperti mucikari atau germo serta aparat-aparat yang tidak bertanggung jawab, yang di sebabkan keterbatasan pengetahuan serta lemahnya hukum di Indonesia. Dalam perkembangannya praktik trafficking dan prostitusi tetap tumbuh subur di Indonesia terutama di Gang Dolly Surabaya. Di mana pada praktiknya mempunyai peran masing-masing dan saling berkaitan, seperti calo yang mempunyai peran mencari wanita untuk bisa di tipu dengan bermacam iming-iming janji, lalu setelah terjerat di bawalah wanita tersebut untuk di tampung oleh mucikari yang berperan sebagai menampung untuk selanjutnya di perdagangkan untuk eksploitasi seksual yang mana praktik seperti ini juga di bekingi oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kerangka berpikir ini di tunjang oleh hasil temuan peneliti di lokasi penelitian Gang Dolly Surabaya, terutama dengan kasus Trafficking yang sedang marak di lakukan oleh oknum-oknum yang bekerja untuk membawa gadis desa yang lugu dengan perekonomian yang sangat kurang, mereka di iming-imingi kerja dan gaji yang sangat besar 5.000.000 an perbulan, tetapi mereka tidak diperkerjakan, tetapi dijual kemucikari seharga Rp. 2.000.000 perorang,9 dan para korban terdiri atas kaum perempuan. Di karenakan sekitar 81,2 % penduduk Indonesia bermukim di daerah sekitar pedesaan.10 sedang hanya 18,8 % saja yang bermukim di kota-kota besar. Kenyataan ini tentunya akan mengakibatkan bahwa kesempatan untuk mengejar uang di kota jauh lebih besar kemungkinannya di bandingkan dengan di daerah pedesaan. 9 Wawancara dengan oknum trafficking (disamarkan) Ashadi, Prawacana, dalam Yuyu AN. Krisna Menyusuri Remang-remang. Sinar 1981 harapan Jakarta. Hal. 55. 10 Manusia tidak lagi mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan, yang bermoral dan amoral, realita dan fantasi. Kondisi mental dan spiritual mereka berpusat pada satu titik yang tidak menentu sehingga mereka kehilangan makna sampai akhirnya bersifat permisif, apatis dan amoral karena standar moralitas dan agama telah hilang dalam kehidupan mereka. Dalam realitasnya keadaan semacam ini di interpretasikan sebagai sebuah kebebasan menuju ke arah kemajuan peradaban. Namun, pada hakekatnya kemajuan yang ada merupakan sinyal akan adanya dekonstruksi sosio-kultural sebagai akibat adanya hegemoni budaya asing terhadap budaya lokal. Peninjauan trafficking secara regional ini nampaknya penting pula untuk di telaah secara khusus, mengapa mereka bisa di perjualbelikan sebagai ekploitasi seksual di Gang Dolly yang merupakan daerah perkotaan yang berpenduduk padat sisi dan di sisi lain mereka melakukan usaha prostitusi, dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. E. Metode Penelitian Studi kasus11 merupakan: Penyelidikan mendalam (indepth studi) mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambaran yang terorganisasikan dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut. Cakupan studi kasus dapat meliputi keseluruhan siklus kehidupan atau dapat pula hanya meliputi segmen-segmen tertentu saja dapat terpusat pada beberapa faktor yang spesifik dan dapat pula memperhatikan keseluruhan elemen atau peristiwa. Penelitian studi kasus ini di gunakan untuk mendapatkan suatu hal yang terperinci tentang seseorang atau sesuatu unit selama kurun waktu tertentu, dan kita akan mendapatkan informasi yang mendalam dan menyeluruh terhadap tingkah laku seorang individu.12 Tujuan studi kasus dan penelitian lapangan adalah mempelajari secara intensif latar belakang, status terakhir dan interaksi sosial seperti individu, kelompok. Lembaga, atau komunitas. Dengan menggunakan studi kasus dapat beberapa keuntungan, antara lain, kita dapat melakukan penelitian lebih 11 Azwar. S (2005) metode penelitian Yogyakarta Pustaka Belajar 12 . Sevilla. G. C ; Ochave, A. J; punsalan. GT. Regalah. (1993) Metode pengantar penelitian Jakarta UI Press mendalam. Dengan menggali lebih dalam seluruh kepribadian seseorang,yakni dengan memeperhatikan keadaannya sekarang, pengalaman masa lampau, latar belakang lingkungannya, mungkin kita dapat mengetahui kenapa orang itu berperilaku atau bersikap seperti itu. Serta dapat mendeskripsikan dan menganalisa secara lebih intensif terhadap satu sistem terbatas seperti seorang individu, suatu program, suatu peristiwa, suatu intervensi, atau suatu komunitas. Walaupun demikian, studi kasus juga mempunyai kelemahan, di antaranya,13 karena kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pertanggungjawaban Pidana PJTKI dalam kasus Human Trafficking
2
52
163
FENOMENA INDUSTRI JASA (JASA SEKS) TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL ( Study Pada Masyarakat Gang Dolly Surabaya)
63
366
2
Kemiskinan dan perilaku keagamaan : studi kasus di Desa Cinangka Ciampea Bogor
0
21
111
Stres kerja di kalangan staf perpustakaan : studi kasus di perpustkaan dan arsip
0
4
84
Lembaga swadaya masyarakat kontras dan hak asasi manusia : studi kasus penegakan HAM di indonesia kasus kerusuhan me1 1998
1
10
87
Rancang bangun E-learning aero gasdinamika dan getaran : studi kasus badan pengkajian dan penerapan teknologi
0
3
397
Dakwah melalui pengobatan Dzikir dan Do'a : studi kasus kyai zarqoni di gading serpong tangerang
2
33
83
Makna dan fungsi sanggah dalam agama Hindu : studi kasus dalam masyarakat Hindu Jawa
0
6
67
Analisis homonim musytarak Lafzi terhadap Terjemahan as-sa'adi : studi kasus surah al-baqarah dan surah ali-imran
2
8
101
Trafficking dan prostitusi : studi kasus Gang Dolly Surabaya
2
16
61
Agama dan politik : studi kasus pada dewan pimpinan pusat (DPP) Partai Amanat Nasional
1
11
0
Sejarah politik Islam Indonesia : studi kasus Parmusi tahun 1967-1971
0
7
81
Penerapan transaksi jual beli dinar dan dirham : studi kasus di BMT Daarul Muttaqiin Depok
1
16
0
Perencanaan strategis sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) Bidang Akademik : studi kasus STMIK Tasikmalaya
0
2
15
Redesain Saung Angklung Udjo : studi kasus jl.Padasuka - Bandung
4
22
96
Show more