Hubungan kemandirian dan dukungan sosial dengan tingkat stres lansia

Gratis

3
11
170
2 years ago
Preview
Full text
HUBUNGAN KEMANDIRIAN DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES LANSIA INDRI HERYANTI PUTRI DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Hubungan Kemandirian dan Dukungan Sosial dengan Tingkat Stres Lansia” adalah karya saya dengan arahan dan bimbingan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun di suatu perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya orang lain diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian terakhir skripsi ini. Bogor, Februari 2011 Indri Heryanti Putri Nim I24052113 ABSTRACT INDRI HERYANTI PUTRI. The Relationship between Independency and Social Support with Stress of Elderly. Under guidance of Diah Krisnatuti. The main purpose of this research was to observe the relation between independency and social support with stress level of elderly on married and widowed status. The method of this research was cross sectional study with 66 samples (33 from each married and widowed). Data was analyzed by sample independent T-test, Mann-Whitney, Spearman correlation, and regression. This research showed that sample married males is more than females and sample widowed females is more than males. Males have better emotional independent than females. Independency has significant correlation with stress level, in which sample with higher independent level has lower stress level. Social support has no significant correlation with stress. Independency and social support of elderly was classified as middle level. The emotion, instrumental and information support of elderly are mostly came from family. Mean while the self-esteem support came from friend. Stress level of elderly was classified as low level and was influenced by quantities of children and diseases, work status and emotion independent. There is no difference about characteristic, health and physical condition, social support, independency and stress level between married and widowed sample. But there is difference about gender, work status, pattern of residence and emotion independent between them. Keyword: independency, social support, elderly stress. RINGKASAN INDRI HERYANTI PUTRI. Hubungan Kemandirian dan Dukungan Sosial dengan Tingkat Stres Lansia. Dibawah bimbingan ibu Diah Krisnatuti. Tujuan umum penelitan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kemandirian dan dukungan sosial dengan tingkat stres responden. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi karakteristik, kondisi fisik dan kesehatan responden berstatus menikah dan janda/duda, 2) Mengidentifikasi tingkat stres, tingkat kemandirian dan dukungan sosial responden berstatus menikah dan janda/duda, 3) Menganalisis hubungan karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik dengan tingkat stres dan tingkat kemandirian kedua kelompok responden, 4) Menganalisis hubungan dan pengaruh tingkat kemandirian dan dukungan sosial terhadap tingkat stres kedua kelompok responden. Desain penelitian cross sectional study, lokasi di Kota Bogor. Pemilihan lokasi secara purposive dengan pertimbangan kemudahan menjangkau responden dan jumlah penduduk lansia terbanyak di Kelurahan Cilendek Barat (RW 05 dan 12). Penelitian dilakukan selama bulan Juli sampai Desember 2010. Responden penelitian adalah seseorang berusia 60 tahun ke atas, bertempat tinggal di Kelurahan Cilendek Barat Kecamatan Bogor Barat baik pria maupun wanita yang dibedakan berdasarkan status pernikahan lansia saat ini (menikah atau janda/duda). Pemilihan responden dari masing-masing RW secara cluster random sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini 66 orang (33 orang menikah dan 33 orang janda/duda). Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuisioner meliputi: karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik, tingkat kemandirian, dukungan sosial serta gejala stres responden. Data sekunder diperoleh dari studi literatur buku, internet dan penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan topik penelitian. Analisis data yang dilakukan uji korelasi Spearman, uji T-test dan Mann-Whitney serta uji regresi linear berganda. Hasil penelitian memperlihatkan proporsi terbesar jenis kelamin responden berstatus menikah (60,6%) laki-laki dan status janda/duda (87,9%) perempuan. Lebih dari separuh responden pada kategori lansia awal (60-69 tahun). Sepertiga responden tidak tamat SD. Proporsi terbesar responden tidak bekerja. Jenis pekerjaan responden berstatus menikah (18,2%) sebagai pedagang/wiraswasta, sementara itu terdapat kesamaan persentase (12,1%) untuk pembantu dan berdagang pada status janda/duda. Lebih dari separuh responden berpendapatan kurang dari lima ratus ribu rupiah/bulan. Proporsi terbesar responden memiliki sumber pendapatan dari bekerja atau pensiunan. Responden berstatus menikah memiliki persentase yang sama untuk kategori keluarga sedang (36,4%) dan kecil (36,4%), sedangkan pada status janda/duda terkategori keluarga sedang (57,6%). Jumlah anak responden berstatus menikah terkategori sedang (39,4%) dan banyak (39,4%), sedangkan pada status janda/duda (39,4%) terkategori banyak. Pola tempat tinggal responden terbanyak tinggal bersama pasangan dan anak atau anak saja. Proporsi terbesar kondisi kesehatan yaitu memiliki 2 jenis penyakit dengan jenis penyakit terbanyak diderita adalah darah tinggi pada responden berstatus menikah (48,5%) serta darah tinggi dan asam urat pada status janda/duda (masing-masing 45,5%). Lebih dari separuh responden pada kategori tidak sakit secara fisik. Untuk jenis sakit fisik yang paling banyak dikeluhkan yaitu kaki agak susah jalan jauh. Persentase terbesar tingkat kemandirian total (menikah (69,7%) dan janda/duda (48,5%)), kemandirian aktivitas sehari-hari (menikah (54,6%) dan janda/duda (39,4%)) dan kemandirian interaksi sosial (masing-masing 57,6%) pada kategori mandiri. Sementara itu responden berstatus menikah terkategori mandiri secara ekonomi (39,4%) dan sangat mandiri secara emosi (48,5%), sebaliknya pada status janda/duda yaitu terkategori sangat mandiri secara ekonomi (36,3%) dan mandiri secara emosi (39,4%). Dukungan sosial total dan dukungan emosi responden berstatus menikah (total (54,6%) dan emosi (51,5)) terkategori sedang, sementara pada status janda/duda (total (54,5%) dan emosi (63,6%)) terkategori baik. Dukungan instrumental pada kategori baik (menikah (87,9%) dan janda/duda (84,9%)), sedangkan dukungan informasi pada kategori sedang (menikah (48,5%) dan janda/duda (45,5%)). Dukungan penghargaan diri (self-esteem) responden berstatus menikah (48,5%) terkategori sedang, sementara pada status janda/duda memiliki persentase yang sama pada kategori sedang (42,5%) dan baik (42,5%). Sumber dukungan yang dimiliki untuk aspek emosi (menikah (42,5%) dan janda/duda (46,1%)), instrumental (menikah (81,2%) dan janda/duda (76,6%)) dan informasi (menikah (46,1%) dan janda/duda (42,6%)) terbanyak dari keluarga. Sementara sumber dukungan penghargaan diri, responden berstatus menikah (42,4%) terbanyak dari keluarga dan teman atau dengan kata lain dari semua pihak, sedangkan pada status janda/duda (48,5%) sumber dukungan terbanyak diperoleh dari teman. Tingkat stres responden berstatus menikah (100%) dan berstatus janda/duda (100%) pada kategori ringan. Tingkat kemandirian total dan ekonomi lebih baik pada responden berstatus bekerja. Sementara itu semakin tua responden maka tingkat kemandirian total, aktivitas sehari-hari dan emosi semakin rendah. Semakin banyak anak dan sumber pendapatannya dari anak maka tingkat kemandirian total dan ekonomi semakin rendah. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka kemandirian emosi semakin baik, responden laki-laki memiliki kemandrian emosi lebih baik. Semakin buruk kondisi kesehatan dan semakin tua usia responden maka semakin tinggi tingkat stresnya. Dari hasil uji hubungan diketahui pula bahwa kemandirian berhubungan nyata dan negatif dengan tingkat stres, sedangkan tidak terdapat hubungan nyata antara dukungan sosial dengan tingkat stres responden. Tingkat stres dalam penelitian ini dipengaruhi kemandirian emosi, jumlah anak, status pekerjaan dan jumlah penyakit. Jumlah anak dan kemandirian emosi berpengaruh nyata dan negatif dengan tingkat stres. Status pekerjaan dan jumlah penyakit berpengaruh nyata dan positif dengan tingkat stres responden. Hasil T-test dan Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata antara responden berstatus menikah dan janda/duda dari segi karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik, tingkat kemandirian, dukungan sosial dan tingkat stres, hanya terdapat perbedaan pada status pekerjaan, jenis kelamin, pola tempat tinggal dan kemandirian emosi responden. Berdasarkan hasil penelitian maka diharapkan untuk dilakukan pemberdayaan lansia dengan membentuk kelompok pelatihan usaha mandiri dan upaya preventif kesehatan (olah raga dan penyuluhan gizi lansia) oleh para kader POSBINDU dan instansi pemerintah terkait guna menjadikan lansia yang mandiri dan sejahtera. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. HUBUNGAN KEMANDIRIAN DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES LANSIA INDRI HERYANTI PUTRI Skripsi Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sains pada Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 LEMBAR PENGESAHAN Judul : HUBUNGAN KEMANDIRIAN DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES LANSIA Nama Mahasiswa : Indri Heryanti Putri Nim : I24052113 Menyetujui : Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Diah Krisnatuti, MS. NIP. 19601007 198503 2 001 Mengetahui : Ketua Departemen IKK, Dr. Ir. Hartoyo, MSc NIP. 19630714 198703 1002 Tanggal Ujian : Tanggal Lulus: KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT dalam kehidupan ini yang telah memberikan segala kenikmatan rahmat dan hidayahNya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “ Hubungan Kemandirian dan Dukungan Sosial dengan Tingkat Stres Lansia” dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun guna melengkapi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana S-1 Jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Disadari dalam penulisan skripsi ini banyak kesulitan yang dihadapi, namun dengan adanya bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada orangtua dan keluarga atas semua dorongan dan semangat yang telah diberikan. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ir. M.D. Djamaludin, M.Sc selaku Dosen pembimbing akademik yang selama tiga tahun di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberikan motivasi kepada saya. 2. Dr. Ir. Diah Krisnatuti, MS selaku Dosen pembimbing skripsi yang bersedia meluangkan waktunya selama masa perkuliahan untuk membimbing saya. 3. Dr.Ir. Herien Puspitawati MSc, MSc dan Alfiasari, SP, MSi selaku Dosen penguji atas saran dan masukan yang diberikan. 4. Tin Herawati, SP., M. Si selaku pembimbing seminar yang bersedia untuk meluangkan waktunya memandu seminar sehingga dapat berjalan dengan baik. 5. Seluruh staf pengajar IKK atas segala ilmu dan bantuannya selama perkuliahan dan seluruh staf pegawai Fakultas Ekologi Manusia IPB yang telah membantu penulis baik selama masa perkuliahan maupun dalam penyelesaian skripsi ini. 6. Mardiana Rusman dan Elfi Kusumaardiati yang telah membantu dan membimbing, juga memberi saran-saran serta kesabaran kepada saya dalam merampungkan penelitian ini hingga selesai. 7. Rekan-rekan IKK 42, Dini, Tika, Anne, Sri, Endah, Asroheni, Eka WL dll, yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu disini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan segala kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan skripsi penelitian ini menjadi lebih baik lagi. Atas perhatian serta kritik dan saran yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih. Bogor, Maret 2011 Penulis Indri Heryanti Putri RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Bogor, Jawa Barat pada Tanggal 9 Agustus 1987. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari keluarga bapak Boy Ahmad Biran dan Ibu Wahyu Handayani. Pendidikan dasar (SD) pada tahun 1993 hingga tahun 1996 di SD Angkasa 2 Bogor dan melanjutkan lagi di SDN Cideng 09 pagi Cilamaya Jakarta Pusat dan lulus pada tahun 1999. Pada tahun yang sama, tahun 1999 penulis melanjutkan lagi sekolahnya ke jenjang pendidikan tingkat menengah pertama di SLTP Negeri 94 Jakarta sampai tahun 2002. Setelah itu penulis melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas di SMU Negeri 2 Bogor sampai dengan tahun 2005. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia pada tahun 2005. Pada tahun 2006 penulis diterima menjadi mahasiswa Departemen Ilmu Kleuarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI. ................................................................................................ v DAFTAR TABEL .......................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix PENDAHULUAN Latar Belakang ................................................................................ Perumusan Masalah ....................................................................... Tujuan Penelitian ............................................................................ Kegunaan Penelitian ....................................................................... 1 3 4 4 TINJAUAN PUSTAKA Kemandirian .................................................................................... Dukungan Sosial ............................................................................. Stres ............................................................................................... Lansia . ............................................................................................ 7 10 15 21 KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................................ 27 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu ............................................................ Cara Pemilihan Contoh.................................................................... Jenis dan Cara Pengumpulan Data ................................................. Pengolahan dan Analisis Data......................................................... Definisi Operasional......................................................................... 31 31 32 33 37 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................................ Karakteristik Responden.................................................................. Kondisi Kesehatan dan Fisik .......................................................... Tingkat Kemandirian ........................................................................ Dukungan Sosial.............................................................................. Tingkat Stres.................................................................................... Hubungan Antar Variabel ................................................................ 39 40 47 51 55 61 63 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 71 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 73 LAMPIRAN. ................................................................................................. 77 DAFTAR TABEL Halaman 1 Data primer dan data sekunder serta cara pengumpulannya .................. 32 2 Data hasil uji reliabilitas ............................................................................. 33 3 Data dan cara pengolahannya................................................................... 33 4 Data sebaran responden berdasarkan jenis kelamin ................................ 40 5 Data sebaran responden berdasarkan usia............................................... 41 6 Data sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan ........................ 42 7 Data sebaran responden berdasarkan status pekerjaan .......................... 43 8 Data sebaran responden berdasarkan jenis pekerjaan ............................. 43 9 Data sebaran responden berdasarkan tingkat pendapatan....................... 44 10 Data sebaran responden berdasarkan sumber pendapatan ..................... 45 11 Data sebaran responden berdasarkan besar keluarga ............................ 46 12 Data sebaran responden berdasarkan jumlah anak .................................. 46 13 Data sebaran responden berdasarkan pola tempat tinggal ....................... 47 14 Data sebaran responden berdasarkan jumlah keluhan penyakit............... 48 15 Data sebaran responden berdasarkan jenis penyakit ............................... 49 16 Data sebaran responden berdasarkan jumlah keluhan fisik ...................... 50 17 Data sebaran responden berdasarkan jenis keluhan fisik ......................... 51 18 Data sebaran responden berdasarkan kemandirian aktivitas sehari-hari .. 52 19 Data sebaran responden berdasarkan kemandirian ekonomi ................... 52 20 Data sebaran responden berdasarkan kemandirian emosi ....................... 53 21 Data sebaran responden berdasarkan kemandirian interaksi sosial ......... 54 22 Data sebaran responden berdasarkan kemandirian total .......................... 55 23 Data sebaran responden berdasarkan dukungan emosi ........................... 56 24 Data sebaran responden berdasarkan dukungan instrumental ................. 57 25 Data sebaran responden berdasarkan dukungan informasi ...................... 57 26 Data sebaran responden berdasarkan dukungan self-esteem .................. 58 27 Data sebaran responden berdasarkan dukungan sosial total ................... 59 28 Data sebaran responden berdasarkan sumber dukungan ........................ 60 29 Data sebaran responden berdasarkan gejala stres ................................... 62 30 Data sebaran responden berdasarkan tingkat stres .................................. 63 31 Data hubungan karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik dengan tingkat kemandirian responden ............................................................................. 64 32 Data hubungan karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik dengan tingkat stres responden ......................................................................................... 65 33 Data hubungan tingkat kemandirian dan dukungan sosial dengan tingkat stres responden ......................................................................................... 66 34 Data pengaruh tingkat kemandirian dan dukungan sosial dengan tingkat stres responden ......................................................................................... 68 vii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Model stres ABC-X Hill .............................................................................. 19 2 Model stres resiliensi McCubbin ................................................................ 20 3 Kerangka pemikiran ................................................................................... 29 4 Kerangka pengambilan contoh .................................................................. 31 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data sebaran responden berdasarkan sumber dukungan sosial per item stres responden ........................................................................................... 79 2 Data uji hubungan ....................................................................................... 81 ix PENDAHULUAN Latar Belakang Lansia adalah orang berusia lanjut yang dalam beberapa referensi belum disepakati batasan umurnya. Menurut Connidis (2010), Lansia adalah seseorang yang berusia sekitar 60 sampai 65 tahun atau lebih. Sementara itu Burnside (1979) diacu dalam Anitasari (1993) mengatakan batasan lansia didasarkan pada usia kronologisnya yaitu : young-old (60-69 tahun), middle-age-old (70-79 tahun), old-old (80-89 tahun) dan very-old-old (lebih dari 90 tahun). Undang-Undang No. 13 tahun 1998 diacu dalam Widyantari (2003) mendefinisikan lanjut usia sebagai seseorang yang telah mencapai usia 60 (enampuluh) tahun keatas. Peningkatan pelayanan kesehatan dan membaiknya keadaan ekonomi pada akhir abad ini membawa dampak pada peningkatan harapan hidup, sehingga bertambah banyak orang yang akan mencapai usia lanjut (Oswari 1985). Menurut Menkokesra (tanpa tahun), jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 1980 berjumlah 7.998.543 jiwa atau 5,45 persen dari total penduduk dengan usia harapan hidup sekitar 52,2 tahun, pada tahun 1990 berjumlah 11.277.557 jiwa atau sekitar 6,29 persen dari total penduduk dengan usia harapan hidup 59,8 tahun, pada tahun 2000 berjumlah 14.439.967 jiwa atau sekitar 7,18 persen dari total penduduk dengan usia harapan hidup 64,5 tahun, pada tahun 2006 berjumlah kurang lebih 19 juta jiwa atau 8,9 persen dengan usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9 juta atau 9,77 persen dari total penduduk dengan usia harapan hidup 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta atau 11,34 persen dengan usia harapan hidup 71,1 tahun. Sementara itu Sugiri (2009) peningkatan jumlah penduduk lanjut usia berpendapat, bersamaan dengan tersebut membawa implikasi pada berbagai aspek kehidupan, baik berkeluarga maupun bermasyarakat. Salah satunya adalah masalah yang berkaitan dengan kehidupan penduduk lansia, yaitu beban ketergantungan (dependency ratio) semakin besar. Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut. Wirakartakusuma dan Anwar (1994) diacu dalam Suhartini (2009a) memperkirakan angka ketergantungan usia lanjut pada tahun 1995 adalah 6,93% dan tahun 2015 menjadi 8,74% yang berarti bahwa pada tahun 1995 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong tujuh orang usia lanjut yang berumur 2 65 tahun ke atas sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong sembilan orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas. Menjadi tua merupakan suatu proses yang senantiasa mengiringi kehidupan setiap manusia. Proses menua merupakan proses alami yang pasti dialami oleh semua makhluk hidup tanpa terkecuali semenjak ia dilahirkan sampai ia meninggal. Lahir, tumbuh dan menjadi tua merupakan siklus kehidupan yang wajar dialami manusia, namun dalam proses tersebut terutama pada usia lanjut diiringi dengan terjadinya perubahan-perubahan kearah kemunduran. Kemunduran yang paling pertama dirasakan oleh lansia umumnya adalah dalam hal fisik. Oswari (1985) mengatakan bahwa pada umur empat puluhan, biasanya orang masih dapat membaca dengan mata biasa, tetapi setelah itu sebagian besar orang memerlukan kacamata untuk membaca. Pada umur kirakira 50 tahun alat pengecap mulai pula kehilangan rasa, sedangkan alat pencium berkurang pada umur kira-kira 60 tahun. Pada umur 60 tahun seseorang hanya mempunyai 50 persen dari kekuatan otot masa remajanya. Penurunan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis. Dengan berubahnya penampilan, menurunnya fungsi panca indra menyebabkan lanjut usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi. Kondisi kesehatan mental lanjut usia di Kecamatan Badung Bali menunjukkan bahwa pada umumnya lanjut usia di daerah tersebut tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Lansia merasa tidak senang dan bahagia dalam masa tuanya, karena berbagai kebutuhan hidup dasar tidak terpenuhi, dan merasa sangat sedih, sangat kawatir terhadap keadaan lingkungannya. Dalam sosialisasi terkait urusan di masyarakat kurang aktif (Suryani 1999 diacu dalam Suhartini 2009a). Berbagai kemunduran yang dialami lanjut usia dalam proses menuju tua menjadikan lansia menjadi terbatas dalam melakukan aktifitasnya dan cenderung tergantung dengan orang lain. Hurlock (1980) mengatakan bahwa ketergantungan lansia pada orang lain membuat lansia menjadi merasa tidak berguna dan terbatas segala aktivitasnya, sehingga akan dapat mendatangkan beban metal tersendiri bagi lansia. Untuk lansia yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dalam proses menuanya ini, lambat laun akan menyebabkan stres. Stres itu sendiri merupakan gejala yang timbul akibat 3 kesenjangan (gap) antara realita dan idealita, antara keinginan dan kenyataan, antara tantangan dan kemampuan, antara peluang dan potensi (Utomo 2009). Perumusan Masalah Lansia merupakan tahap terakhir kehidupan manusia. Pada tahap ini pertumbuhan yang terjadi mengarah pada kemunduran. Sesuai Hurlock (1980) yang mengatakan bahwa perkembangan pada lansia berbeda dengan perkembangan pada tahap usia lainnya yaitu pada lansia perkembangan yang terjadi lebih mengarah pada kemunduran. Disisi lain terjadi perubahan struktur supportif dari lansia dengan mulai banyaknya perempuan yang umumnya menjadi pengasuh bagi lansia mulai turun ke dunia kerja sehingga lansia menjadi terabaikan. Oswari (1985) juga mengatakan perkembangan lansia paling pesat terjadi di negara-negara berkembang yang umumnya lansia memiliki ekonomi kurang. Suhartini (2009a) mengatakan bahwa sebagian besar lanjut usia di Kecamatan Jambangan Surabaya memiliki penghasilan yang rendah. Sementara itu masih banyak lansia terlantar di Indonesia yang umumnya tidak memiliki rumah dan pekerjaan. Sementara kebijakan negara berupa ramah lansia masih kurang dapat menyentuh semua lansia yang ada khususnya bagi lansia yang masih memiliki keluarga. Karena kebijakan yang ada lebih berfokus pada lansia-lansia terlantar dan tidak punya sanak saudara. Mundiharno (1994) diacu dalam Latifah (2000) mengatakan bahwa selama ini perhatian pemerintah terhadap lanjut usia masih kurang. Hal ini terlihat dari kebijakan pembangunan yang lebih tertuju pada lanjut usia bermasalah. Karena itu penting kiranya unuk melihat bagaimana lansia dalam melalui hari-harinya terutama bagi lansia yang masih memiliki keluarga. Selain itu permasalahan terbesar yang menimpa lansia adalah masalah kesehatan, penurunan kondisi fisik dan kesepian. Sehingga penting kiranya melihat kepemilikan dukungan sosial lansia guna membantu lansia dalam menyesuaikan diri dengan kondisi tuanya. Menurut Kuntjoro (2002) dukungan sosial merupakan bantuan atau dukungan yang diterima individu dari orangorang tertentu dalam kehidupannya dan berada pada lingkungan sosial tertentu yang membuat si penerima merasa diperhatikan, dihargai dan dicintai. Sementara berdasarkan kepada berbagai kemunduran yang dialami lansia maka penting juga untuk mengetahui tingkat kemandirian lansia merujuk 4 pada kemunduran dan keterbatasan yang dimiliki lansia. Kemandirian sendiri menurut Mu’tadin (2002) merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Berdasarkan uraian diatas, maka penting kiranya bagi peneliti untuk melakukan penelitian terkait dengan : 1. Bagaimana karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik lansia? 2. Bagaimana tingkat kemandirian, kepemilikan dukungan sosial dan tingkat stres lansia seiring dengan terjadinya berbagai kemunduran yang menyertai proses penuaannya? 3. Apakah hubungan karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik lansia terhadap kemandirian dan tingkat stresnya pada lansia? 4. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat stres lansia? Tujuan Penelitian Tujuan Umum : Adapun tujuan umum dari penelitan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dan kepemilikkan dukungan sosial dengan tingkat stres pada lanjut usia. Tujuan Khusus : 1. Mengidentifikasi karakteristik, kondisi kesehatan dan fisik responden yang berstatus menikah dan berstatus janda/duda. 2. Mengidentifikasi kemandirian, dukungan sosial dan tingkat stres responden yang berstatus menikah dan berstatus janda/duda. 3. Menganalisis hubungan karakteristik dan kondisi kesehatan serta fisik terhadap kemandirian dan tingkat stres kedua kelompok responden. 4. Menganalisis hubungan dan pengaruh kemandirian dan dukungan sosial terhadap tingkat stres kedua kelompok responden. Kegunaan Penelitian 1. Bagi masyarakat Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai tingkat kemandirian lansia, dukungan sosial yang diterima lansia dan tingkat stres pada lansia. Selain itu juga hubungan 5 dari tingkat kemandirian, dukungan sosial yang diterima dengan tingkat stres lansia. Sehingga diharapkan bagi para keluarga yang memiliki anggota lansia dapat menjadi sumber informasi untuk melakukan upaya preventif dan promotif kesejahteraan dan kebahagian lansia. 2. Bagi institusi pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan lansia khususnya terkait kemandirian, dukungan sosial dan tingkat stres lansia. Ataupun sebagai rujukkan bagi penelitian lanjutan dengan mengembangkan variabel-variabel yang sudah diteliti. 3. Bagi pemerintah dan instansi terkait Diharapkan juga penelitian ini akan dapat memberikan informasi kepada pemerintah sebagai referensi dalam penentuan kebijakan selanjutnya dalam permasalahan lansia mengingat Indonesia saat ini sedang memasuki negara berstrukstur lanjut usia. TINJAUAN PUSTAKA Kemandirian Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Assocciation) menemukan bahwa salah satu dari empat kebutuhan psikologis tergantung yang membuat manusia bahagia adalah autonomy atau kemandirian, yaitu rasa bahwa apa yang dikerjakan adalah pilihan dan diperjuangkan oleh diri sendiri (Agussabti 2002, diacu dalam Priana 2004). Budi (2008) mendefinisikan kemandirian sebagai kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya. Mandiri menurut Mu’tadin (2002) merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Dari pendapat beberapa ahli, Ruhidawati (2005) mengartikan kemandirian merupakan suatu keadaan dimana seorang individu memiliki kemauan dan kemampuan berupaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya secara sah, wajar dan bertanggung jawab terhadap segala hal yang dilakukannya, namun demikian tidak berarti bahwa orang yang mandiri bebas lepas tidak memiliki kaitan dengan orang lain. Mu’tadin (2002) juga mengatakan bahwa untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri Kemandirian pada lansia menurut Snowdon et al. (1989) dapat dipengaruhi oleh pendidikan lansia, dipengaruhi juga oleh gangguan sensori khususnya penglihatan dan pendengaran (Raina et al. 2004), dipengaruhi oleh penurunan dalam kemampuan fungsional (Verbrugge et al. 1997, diacu dalam Mathieson et al. 2002), dan dipengaruhi pula oleh kemampuan fungsi kognitif lansia yang juga menurun (Greiner et al. 1996). Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang akan mampu mempertahankan hidupnya lebih lama dan bersamaan dengan itu dapat mempertahankan kemampuan fungsional/kemandiriannya juga lebih lama karena cenderung melakukan pemeliharaan dan upaya pencegahan pada kesehatannya (Snowdon et al. 1989; (Pinsky et al. 1987; Haug et al. 1987; Willey et al. 1987; National Center for Health Statistics 1981, 1988), diacu dalam Snowdon et al. 1989). 8 Raina et al. (2004) dalam penelitiannya mendefinisikan kemandirian fungsional pada lansia dengan mengukur keterbatasan aktivitas instrumental sehari-hari (IADL: instrumental activity daily living), kesejahteraan emosi lansia dan persepsi terhadap kontrol pengambilan keputusan sehari-hari. Sementara itu Verbrugge et al. (1997) diacu dalam Mathieson et al. (2002) mengatakan bahwa lansia sering mengalami penurunan dalam kemampuan fungsional dan mengalami kesulitan yang lebih besar dalam melakukan tugas sehari-hari. Mathieson et al. (2002) dalam penelitiannya mengukur kemandirian lansia dengan melihat kemampuan lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari berupa aktivitas dasar (BADLs/ basic activities of daily living), aktivitas dalam berpindah/bergerak (MADLs/ mobility activities of daily Living) dan dalam hal penggunaan alat-alat (IADLs/ instrumental activities of daily Living). Setiati (2000) diacu dalam Suhartini (2009b) juga mengatakan bahwa kualitas hidup orang lanjut usia dapat dinilai dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) menurut Setiati (2000) ada 2 yaitu AKS standar dan AKS instrumental. AKS standard meliputi kemampuan merawat diri seperti makan, berpakaian, buang air besar/kecil,dan mandi. AKS instrumental meliputi aktivitas yang komplek seperti memasak, mencuci, menggunakan telepon, dan menggunakan uang. Salah satu kriteria orang mandiri adalah dapat mengaktualisasikan dirinya (self actualized) tidak menggantungkan kepuasan-kepuasan utama pada lingkungan dan kepada orang lain. Mereka lebih tergantung pada potensi-potensi mereka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan pertumbuhannya. Selain itu Greiner et al. (1996) dalam penelitiannya mengatakan bahwa terjadi peningkatan resiko kehilangan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari (ADL) pada lansia dengan fungsi kognitif yang menurun. Lebih lanjut dikatakan bahwa kehilangan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari dapat diantisipasi dan dicegah dengan mekanisme dukungan sosial dan pelatihan secara fisik (Greiner et al. 1996). Adapun kriteria orang yang mandiri menurut Koswara (1991) diacu dalam Suhartini (2009) adalah mempunyai (1) kemantapan relatif terhadap pukulanpukulan, goncangan-goncangan atau frustasi, (2) kemampuan mempertahankan ketenangan jiwa, (3) kadar arah yang tinggi, (4) agen yang merdeka, (5) aktif dan, (6) bertanggung jawab. Lanjut usia yang mandiri dapat menghindari diri dari 9 penghormatan, status, prestise dan popularitas kepuasan yang berasal dari luar diri mereka anggap kurang penting dibandingkan dengan pertumbuhan diri. Havighurst (1972) diacu dalam Mu’tadin (2002) menjelaskan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu: • Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang lain. • Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain. • Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. • Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain. Aktivitas sehari-hari dalam penelitian Greiner et al. (1996) meliputi aktivitas kekamar mandi (bathing), mengenakan pakaian (dressing), berjalan (walking), berdiri (standing), kekamar kecil (toileting) dan pemberian makanan (feeding). Sementara itu Hurlock (1980) mengatakan bahwa ketergantungan orangtua dalam hal ekonomi khususnya bagi lansia pria merupakan pil pahit yang harus diterima lansia dan akan membuat gerak lansia menjadi terbatas baik secara fisik maupun ekonomi. Suhartini (2009c) dalam penelitiannya mengukur kemandirian lansia dengan melihat kemampuan lansia dalam beraktivitas sehari-hari, kemampuan lansia secara ekonomi dan kemampuan lansia dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Sementara itu dalam penelitian ini berdasarkan beberapa sumber diatas mengukur kemandirian lansia dari empat aspek yaitu kemandirian aktivitas sehari-hari, kemandirian secara emosi, kemandirian secara ekonomi dan kemandirian dalam interaksi sosial lansia. Steinberg (1993) diacu dalam Aspin (2007) mengemukakan pendapat yang didasari oleh toeri Ann Freud (1958), bahwa kemandirian adalah permasalahan sepanjang rentang kehidupan, tetapi perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan fisik yang dapat memacu perubahan emosional, perubahan kognitif yang memberikan pemikiran logis tentang cara berpikir yang mendasari tingkah laku dan juga perubahan nilai dalam peran sosial serta aktivitas. 10 Dukungan Sosial Hubungan dengan orang lain merupakan kunci yang mendasari dukungan sosial sebagai pemenuhan semua kebutuhan sosial ((Bowlby 1969; Weiss 1974), diacu dalam Cutrona 1996). Dukungan sosial didefinisikan sebagai jalan masuk untuk hubungan yang mempertemukan bebagai macam kebutuhan dasar interpersonal ((Kaplan et al. 1977; Lin 1986), diacu dalam Cutrona 1996). Sementara Kaplan et al. (1977) diacu dalam Cutrona (1996) mengatakan definisi dari dukungan sosial menunjukan kepuasan seseorang terhadap persetujuan, penghargaan dan pertolongan oleh seseorang yang berarti. Lebih lanjut Cobb (1979) diacu dalam Cutrona (1996) menjelaskan mengenai konsep dukungan sosial sebagai petunjuk seseorang untuk percaya bahwa dirinya diperhatikan dan dicintai, dihargai dan memiliki jaringan yang saling memenuhi kewajibannya. Cobb (1979) diacu dalam Cutrona (1996) juga mempercayai bahwa relationship dapat menimbulkan kepercayaan positif masyarakat untuk memulai langkah yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah mereka atau menerima keadaan yang tidak dapat berubah dengan dapat meminimalisasi kehilangan terhadap penghargaan dirinya. Seberapa banyak dukungan sosial anggota keluarga diterima ketika krisis tergantung pada seberapa banyak dukungan yang mereka berikan dari satu orang ke orang lain terutama ketika krisis. Pasangan yang memberikan lebih banyak dukungan kepada anak mereka selama proses pengasuhan mendapatkan lebih banyak bantuan ketika mereka tua (Lee et al. 1994, diacu dalam Galvin et al. 2003). Lebih lanjut dikatakan bahwa komunikasi merupakan jalan penting untuk berbagi dan menerima kesenangan/kenyamanan hidup (Galvin et al. 2003), serta merupakan cara untuk mendapatkan dukungan dari anggota kelompok (Cawyer et al. 1995, diacu dalam Galvin et al. 2003). Komponen dukungan sosial Weiss (1974) diacu dalam Cutrona (1996) mengajukan enam fungsi berbeda dari hubungan dengan sesama manusia yang disebut “the social provision scale” , yaitu: 1. Attachment Hubungan dekat/karib yang menyediakan perlindungan dan keamanan. 11 2. Social integration Perasaan saling memiliki dalam kelompok atau masyarakat dengan kesamaan ketertarikan dan perhatian. 3. Reassurance of worth Pengenalan terhadap keahlian dan kecakapan seseorang. 4. Guidance Penyediaan nasehat dan informasi. 5. Reliable alliance Pengetahuan bahwa orang lain akan menawarkan bantuan tanpa syarat ketika dibutuhkan. 6. Opportunity to provide nurturing Perasaan dibutuhkan untuk kesejahteraan orang lain. Peran dukungan sosial Bee (1996) diacu dalam Chandra (2003) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat mengurangi pengaruh negatif dari pengalaman yang menyebabkan stres diantara para lansia. Murrell et al. (1992) diacu dalam Hertamina (1996) menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan sumber penting bagi lanjut usia tidak hanya untuk mencegah melawan stres, tetapi juga untuk meningkatkan kehidupan lansia. Dukungan sosial juga dapat mengatasi rasa kesepian yang umumnya dirasakan lansia (Hertamina 1996). Antonnucci (2001) menambahkan bahwa seseorang yang merasa banyak memiliki dukungan lebih baik dalam penanggulangan terhadap sakit, stres dan pengalaman yang menyulitkan lainnya. Peran dukungan sosial dalam kehidupan seseorang dapat dijelaskan melalui 2 model (Cutrona 1996; Cohen & Syme 1985), yaitu Main effect model dan Stress buffering effect model. 1. Main Effect Model Dukungan sosial dalam model ini tidak berhubungan secara khusus dengan situasi krisis tetapi merupakan konsep mengenai peningkatan kualitas hidup untuk terlepas dari tingkat kesulitan. Perspektif ini menekankan dengan tingginya kualitas dukungan sosial seseorang maka ia akan lebih santai secara fisik dan mental dalam menghadapi tingkat kesulitan baik rendah maupun tinggi (Cutrona 1996). Cohen dan Syme (1985) menambahkan bahwa model ini melihat fungsi dukungan sosial terhadap kesejahteraan dan 12 kesehatan dengan mengabaikan tingkat stres. Dukungan dinilai dari derajat yang menghubungkan seseorang dengan jaringan sosial. 2. Stres-Buffering Model Dukungan sosial dalam model ini menekankan pemenuhan kebutuhan yang muncul sebagai akibat pengalaman hidup (life event) yang penuh stres atau kejadian yang merugikan. Manfaat utama dari pendekatan ini melindungi penerima dukungan sosial dari terjadinya kemunduran kesehatan dan kesejahteraan yang disebabkan oleh tekanan (baru terjadi maupun secara terus menerus terjadi) atas kejadian yang penuh stres (Cutrona 1996). Dalam model ini Cohen dan Syme (1985); Cohen dan McKay (1988) mengatakan dukungan sosial melindungi seseorang dari efek pathogenic untuk kejadian penuh stres, dengan melibatkan dua point utama yaitu mencegah seseorang untuk menginterpretasikan bahwa suatu kejadian penuh stres dan menanggulangi dampak dari stres yang sudah terjadi dengan mengurangi atau menghilangkan stres. Manfaat dukungan menggunakan kehadiran dari stres. Dukungan dinilai dari tersedianya sumber daya sebagai bantuan kepada seseorang dalam merespon kejadian penuh stres. Bentuk dukungan sosial Terdapat empat bentuk dukungan sosial antara lain yaitu emotional support, esteem support, tangible/instrumental support dan informational support (Cutrona 1996). Dibawah ini akan dijelaskan setiap dukungan tersebut: 1. Emotional Support (Dukungan Emosi) Dukungan emosi meliputi ekspresi dari cinta, empati dan perhatian terhadap individu (Cutrona 1996). Cobb (tanpa tahun) diacu dalam Cohen dan McKay (1988) mengatakan bahwa dukungan emosi mengurangi stres melalui perasaan seseorang terhadap kepemilikan cinta dan atau perasaan dicintai. 2. Esteem Support (Dukungan Penghargaan) Dukungan penghargaan terbentuk melalui pengakuan terhadap kualitas seseorang, kepercayaan terhadap kemampuan seseorang, pengakuan terhadap gagasan seseorang berupa perasaan atau tindakan (Cutrona 1996). Cohen dan McKay (1988) menekankan dukungan ini pada evaluasi dan perasaan seseorang tentang diri mereka sendiri 3. Informational Support (Dukungan Informasi) 13 Dukungan informasi meliputi memberikan masukan mengenai beritaberita faktual, nasehat, informasi atau perkiraan-perkiraan terhadap situasi yang terjadi (Cutrona 1996). 4. Instrumental Support (Dukungan Instrumental) Dukungan instrumental diwujudkan dalam bentuk bantuan atau arahan dalam mengerjakan tugas atau juga berupa sumber-sumber fisik seperti uang, barang-barang atau tempat tinggal (Cutrona 1996) atau disebut juga sumberdaya materi (Cohen dan McKay 1988). Sumber-sumber dukungan sosial Hampir setiap orang tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, tetapi mereka memerlukan bantuan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dukungan sosial merupakan mediator yang penting dalam menyelesaikan masalah seseorang. Hal ini karena individu merupakan bagian dari keluarga, teman sekolah atau kerja, kegiatan agama ataupun bagian dari kelompok lainnya (Nursalam 2009). Sumber-sumber dukungan sosial, antara lain: 1. Keluarga Keluarga memegang peranan besar dalam pemberian dukungan bagi individu. Hal ini juga didukung oleh Smolak (1993) diacu dalam Jauhari (2003) mengatakan bahwa jaringan sosial lansia memiliki porsi yang besar pada anggota keluarga dan lebih lanjut dikemukakan Antonucci (1985) diacu dalam Hertamina (1996) bahwa sumber dukungan utama bagi lansia adalah anak-anak mereka, terutama anak perempuan. Selain itu pasangan seringkali menjadi orang pertama yang memberikan dukungan ketika keadaan krisis (( Beach et al. 1993; Blood & Wolfe 1960; Burke & Weir 1977), diacu dalam Cutrona 1996). Lebih lanjut Antonucci (2001) mengatakan bahwa pasangan merupakan penyedia dukungan yang istimewa. Laki-laki maupun perempuan, keduanya merasa lebih nyaman dengan dukungan dari pasangan mereka. Dukungan dari pasangan lebih disukai untuk dukungan emosi dan insrumental ((Cantor 1979; Cantor et al. 1994), diacu dalam Antonucci 2001). Saudara (kakak atau adik) menjadi penyedia penting untuk dukungan sosial, dan sering kali mereka didorong untuk menjadi penyedia dukungan instrumental, khususnya bagi lansia yang tidak menikah (Antonucci 2001). 14 Hubungan persaudaraan pada usia tua sangatlah penting karena saudara merupakan perawat yang potensial (Chappell & Badger 1987, diacu dalam Connidis 2010), terutama dalam ketiadaan pasangan atau anak sebagai penyedia bantuan (Cicirelli 1992, diacu dalam Connidis 2010). Lebih lanjut Connidis (2010) mengatakan saudara perempuan terutama yang tinggal berdekatan dipandang mempertinggi anggapan bahwa saudara merupakan sumber bantuan yang potensial. Saudara secara umum lebih disukai untuk dukungan emosi dan instrumental pada lansia perempuan dibandingkan pada lansia laki-laki ((Campbell et al. 1999; Minner & Uhlenberg 1997), diacu dalam Connidis 2010). Minner dan Uhlenberg (1997) diacu dalam Connidis (2010) juga mengatakan bahwa saudara lebih aktif dalam menyediakan dukungan emosi dibandingkan dukungan instrumental. Berbagai faktor membuat keluarga merupakan tempat yang terbaik untuk peran dukungan, yaitu: keluarga menghargai kelanjutan hidup dari anggota keluarga yang berusia lanjut. Anggota keluarga yang tua memiliki sejarah biopsikososial dari fungsi, kepribadian dan kesehatan. Diatas semua itu, keluarga lebih dapat menghargai kelanjutan dari kebiasaan, tingkah laku khas, kesukaan dan rutinitas sehari-hari yang dilakukan lansia dari pada orang lain yang bukan keluarga. Disamping itu keluarga juga mengetahui latar belakang cara berpikir, ketertarikan intelektual dan kemampuan dari anggota keluarga yang berusia lanjut (Eyde dan Reich 1983, diacu dalam Hertamina 1996). 2. Teman atau sahabat Teman secara umum menunjukkan peran unik dan penting dalam kehidupan lansia (Adams & Blieszner 1994, diacu dalam Antonucci 2001). Hubungan dengan teman sebaya bersifat tidak mengikat dan teman menyediakan dukungan pada semua usia, tetapi terutama sekali lansia dalam bentuk umpan balik positif dan saling menghargai ((O’Connor 1995; Lansford 2000), diacu dalam Antonucci 2001). Wortman dan Lottus (1992) diacu dalam Hertamina (1996) mengatakan bahwa the sense of support yang kita peroleh lebih penting dibandingkan dari siapa kita memperoleh dukungan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Antonucci dan Kahana (tanpa tahun) diacu dalam Smolak (1993) diacu dalam Jauhari (2003) menunjukkan bahwa lansia yang tinggal dengan kelompok umur 15 yang sama (lansia) cenderung untuk memiliki interaksi sosial yang lebih luas dibandingkan bila ia tinggal dengan kelompok umur yang lain. Hal ini dapat disebabkan karena lansia lebih menyukai bila ia ditemani oleh orang-orang yang seumur dengan mereka dan lansia cenderung berpikir bahwa orang muda tidak ingin berhubungan dengan mereka. Stres Menurut Atkinson et al. (2000) stres terjadi jika orang dihadapkan pada peristiwa yang mereka rasakan dapat mengancam kesehatan fisik atau psikologinya. Dengan kata lain stres merupakan hasil dari hubungan (relationship) antara individu dengan lingkungannya. Salah satu ciri yang paling jelas tentang pengalaman stres adalah kuatnya pengaruh psikologis. Orang menunjukkan perbedaan individual yang besar dalam reaksi mereka terhadap stresor. Bahkan respon fisiologis terhadap peristiwa yang sulit dapat dipengaruhi oleh proses psikologis (Atkinson et al. 2000). Lebih lanjut stres didefinisikan sebagai respon atau keadaan tegang yang dihasilkan oleh stressors atau tuntutan (nyata ataupun persepsi) dan tidak dapat dikendalikan ((Antonovsky 1979; Burr 1973), diacu dalam Friedman et al. 2003). Burgess (1978) diacu dalam Friedman et al. (2003) mengartikan stres sebagai ketegangan pada diri seseorang atau sistem sosial (seperti keluarga) dan merupakan reaksi terhadap situasi yang menghasilkan tekanan. Menurut Selye (1956) stres dibatasi sebagai respon non spesifik pada tubuh terhadap berbagai jenis tuntutan. Sindrom Adaptasi Umum (General Adaption Syndromel /GAS) adalah konsep yang dikemukakan oleh Selye yang menggambarkan efek umum pada tubuh ketika ada tuntutan yang ditempatkan pada tubuh tersebut. GAS terdiri dari tiga tahap, yaitu : 1. Peringatan (alarm reaction), tahap pengenalan terhadap stres dimana terjadi shock bersifat sementara (pertahanan terhadap stres di bawah normal) dan mencoba dihilangkan. Tahap ini berlangsung singkat, jika stres berlanjut maka individu akan ke tahap selanjutnya. 2. Perlawanan (resistance), pertahanan terhadap stres menjadi semakin intensif, dan semua upaya dilakukan untuk melawan stres. Pada tahap ini, tubuh dipenuhi hormon stres; tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernafasan meningkat. Bila upaya yang dilakukan gagal dan stres tetap ada, akan masuk ke tahap selanjutnya. 16 3. Kelelahan (exhausted), kerusakan pada tubuh semakin meningkat dan kerentanan terhadap penyakit pun meningkat. Secara spesifik stres merupakan gejala psikologis yang menurut Lazarus (tanpa tahun) diacu dalam Utomo (2009), sebagai sebuah hubungan khusus

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT STRES PADA NARAPIDANA DI RUMAH TAHANAN SITUBONDO
0
9
2
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES NARAPIDANA WANITA
4
21
77
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA ANDROPAUSE DI GEBANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATRANG KABUPATEN JEMBER
0
31
155
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA ANDROPAUSE DI GEBANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS PATRANG KABUPATEN JEMBER
0
10
19
Hubungan Dukungan Sosial, Tingkat Religiusitas dengan Kepuasan Hidup Lansia pria dan wanita
0
7
75
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PENDERITA KUSTA PADA LANSIA
0
3
86
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES KERJA PADA KARYAWAN SOLOPOS Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Stres Kerja Pada Karyawan Solopos.
1
17
12
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES KERJA Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Stres Kerja.
0
1
14
PENDAHULUAN Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Stres Kerja.
0
1
7
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES KERJA Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Stres Kerja.
0
1
10
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES KERJA PADA KARYAWAN Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Stres Kerja Pada Karyawan.
0
1
16
Hubungan antara dukungan sosial dan tingkat stres orangtua dari anak autis.
0
6
123
59 HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM PEMENUHAN AKTIVITAS SEHARI-HARI
1
2
6
DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANG DENGAN HIVAIDS
0
1
9
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANGTUA DARI ANAK AUTIS
0
0
121
Show more