Perubahan Arti Metaforis dalam Kumpulan Cerpen Filosofi Kopi Karya Dewi Lestari dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia

Gratis

0
4
120
2 years ago
Preview
Full text
PERUBAHAN ARTI METAFORIS DALAM KUMPULAN CERPEN FILOSOFI KOPI KARYA DEWI LESTARI DAN IMPLIKASI TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Oleh Aisatul Fitriah NIM 1110013000051 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014 ABSTRAK Aisatul Fitriah, 1110013000051, 2014, “Perubahan Arti Metaforis dalam Kumpulan Cerpen Filosofi Kopi Karya Dewi Lestari dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pembimbing Makyun Subuki, M.Hum. Penelitian ini mendeskripsikan tentang perubahan arti metaforis meliputi metafora antropomorfis, metafora binatang, metafora konkret ke abstrak dan metafora sinaestetik pada 18 cerita pendek yang terkumpul dalam satu kumpulan cerpen Filosofi Kopi karya Dewi Lestari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan arti metaforis yang terdapat dalam kumpulan cerpen Filosofi Kopi karya Dewi Lestari. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yaitu metode penelitian yang mendeskripsikan hasil temuan berupa perubahan arti metaforis yang terdapat dalam kumpulan cerpen. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi dokumentasi. Teknik penganalisaan data dibuat dengan menggolongkannya ke dalam empat bagian berdasarkan referen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 44 perubahan arti metaforis yang digunakan Dewi Lestari dalam karyanya berupa kumpulan cerpen Filosofi Kopi. 44 perubahan arti metaforis tersebut meliputi: metafora antropomorfis sebanyak 19 buah, metafora binatang sebanyak 9 buah, metafora konkret ke abstrak sebanyak 3 buah dan metafora sinaestetik sebanyak 13 buah. Kata Kunci: Semantik, Perubahan arti, Metafora, Filosofi Kopi i ABSTRACT Aisatul Fitriah, 1110013000051, 2014, “Metaphorical Meaning Changes in the set of Short Story Filosofi Kopi Works Dewi Lestari and Implications Of Learning Indonesia”, Education Departement of Indonesia Language and Literature Faculty of Tarbiyah and Teaching Science, State Islamic Universty Syarif Hidayatullah, Jakarta. Supervisor Makyun Subuki, M.Hum. This study describes the changes in the metaphorical senese include anthropomorphic metaphor, animal metaphor, metaphor concrete to the abstract and metaphorical sinaestetik in the 18 short stories collected in a collection of short stories of Dewi Lestari works Filosofi Kopi. The purpose of this study is to determine the changes in the metaphorical sense that is contained in the collection of Filosofi Kopi short stories Dewi Lestari. The method used is descriptive qualitative research methods that describe the findings in the of changes in the metaphorical sense form contained in the collection of short stories. Data collection techniques using documentation study technique. Data analysis techniques created by classifying data into four sections based on the referents. The results showed that there were 44 changes in the metaphorical sense used by Dewi Lestari in her works, Filosofi Kopi. 44 of these include changes in the metaphorical sense: as many as 19 pieces anthropomorphic metaphor, animal metaphor as much as 9 pieces, the concrete to the abstract metaphor 3 pieces and metaphorical sinaestetik and as many as 13 pieces. Keywords: Semantics, The meaning changes, Metaphor, Filosofi Kopi ii KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Skripsi berjudul “Perubahan Arti Metaforis dalam Kumpulan Cerpen Filosofi Kopi Karya Dewi Lestari dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia”, disusun guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis membutuhkan bimbingan, bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sebagai ungkapan rasa hormat, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada 1. Nurlena Rifa‟i, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Mahmudah Fitriah ZA., M.Pd. sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang selalu memberikan kemudahan dan semangat. 3. Dra. Hindun, M.Pd. sebagai Sekertaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang selalu memberikan semangat. 4. Makyun Subuki, M.Hum. sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi. 5. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. iii 6. H. Nawawi, Hj. Maemunah dan Hj. Taslimah selaku kakek dan nenek tercinta yang selalu memberikan semangat, dukungan dan doa untuk penulis 7. M. Fahrurozi dan Fatonah selaku orang tua, motivator, dan penasehat terbaik yang selalu memberikan semangat, arahan, doa dan dukungan materil untuk penulis 8. Keluarga besar Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia (PBSI) khususnya kelas B angkatan 2010 yang selalu membuat suasana baik di dalam maupun di luar perkuliahan terasa berwarna. 9. Keluarga besar pojok seni tarbiyah (POSTAR) yang telah memberikan banyak pengetahuan, teman, dan pengalaman selama menjadi anggota 10. Keluarga besar lingkar sastra tarbiyah (LST POSTAR) yang telah memberikan banyak ekspresi, sahabat dan keluarga yang unik 11. Empat roda dan satu spion, Mabruroh, Yunia Ria Rahayu, Kurnia Dewi Nurfadilah dan Sari Satriyati yang telah memberikan banyak warna selama bersama baik di dalam maupun di luar pementasan LST 12. Temen kosan H. Asani yang telah membuat banyak canda tawa serta semangat dalam pembuatan skripsi, Ayu Rizqi Pramulya N, Tuti Alawiyah, Sutirih, dan Nur Aoliya 13. Semua orang yang berjasa dalam pembuatan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga semua kebaikan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik lagi. Hanya kepada Allah jualah kita berserah diri, semoga yang kita amalkan mendapat Ridho-Nya. Amin ya Robbal „alamin. Akhirnya penulis memohon maaf atas kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini, dan penulis pun menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga dengan hadirnya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan para pembaca serta kemajuan ilmu pengetahuan. Jakarta, 20 Agustus 2014 Penulis iv DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ABSTRAK . i KATA PENGANTAR . iii DAFTAR ISI. v BAB I PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang Masalah. 1 B. Identifikasi Masalah . 5 C. Pembatasan Masalah . 6 D. Rumusan Masalah . 6 E. Tujuan Penelitian . 6 F. Manfaat Penelitian . 6 G. Metode Penelitian . 7 H. Data dan Sumber Data. 8 I. Teknik Pengumpulan Data. 8 J. Teknik Analisis Data. 9 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. 12 A. Cerpen. 12 1. Sejarah Cerpen . 12 2. Pengertian Cerpen. 12 3. Ciri-ciri Cerpen. 14 4. Pembagian Cerpen. 14 5. Unsur Intrinsik Cerpen. 16 B. Hakikat Perubahan Arti . 24 Keserupaan Antararti (Metafora). 25 C. Penelitian yang Relevan. 32 v BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 35 A. Biografi Dewi Lestari. 35 B. Analisis Data. 36 1. Metafora Antropomorfis. 37 2. Metafora Binatang . 64 3. Metafora dari Konkret ke Abstrak . 76 4. Metafora Sinaestetik. 80 C. Implikasi Terhadap Pembelajaran . 94 BAB IV SIMPULAN DAN SARAN. 96 A. Simpulan. 96 B. Saran . 97 DAFTAR PUSTAKA. 98 UJI REFERENSI LAMPIRAN-LAMPIRAN vi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan arti terjadi beriringan dengan perkembangan bahasa. Edward Sapir mengungkapkan, “Bahasa bergerak terus sepanjang waktu membentuk dirinya sendiri. Ia mempunyai gerak mengalir tak satu pun yang sama sekali statis. Tiap kata, tiap unsur gramatikal, tiap peribahasa, bunyi dan aksen merupakan konfigurasi yang berubah secara pelan-pelan, dibentuk oleh getar yang tidak tampak dan impersonal, yang merupakan hidupnya bahasa.”1 Perubahan arti yang terjadi di dalam bahasa disebabkankan oleh dua faktor, yakni faktor kebahasaan dan faktor non-kebahasaan. Dari faktor kebahasaan, dapat dilihat pada penggunaan kata ya yang menunjuk arti persetujuan kini telah mengalami perubahan sebaliknya, yakni menyatakan arti penolakan, penyangkalan, atau pengingkaran terhadap sesuatu. Hal tersebut sangat sering kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. Perubahan tersebut disebabkan karena pemakaian kata ya yang terlampau tinggi sehingga batas arti antara kata ya atau sebaliknya menjadi kabur, samarsamar. Dilihat dari faktor non-kebahasaan, perubahan arti diakibatkan oleh berbagai faktor di antaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan sosial, perbedaan bidang pemakaian dan masih banyak lagi. Di bidang militer misalnya, digunakan kata operasi yang berarti penumpasan, penggeledahan, atau penangkapan terhadap pemberontak sedangkan di bidang kedokteran, kata operasi merupakan istilah kesehatan yang berarti pembedahan terhadap tubuh manusia untuk mengambil atau menghilangkan suatu penyakit yang dilakukan oleh dokter ahli. Hal ini menunjukkan adanya pemakaian kata operasi pada dua bidang yang berbeda, yakni militer dan kedokteran. Perubahan arti dalam penggunaan bahasa sudah sering dan banyak kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari sehingga perubahan tersebut menjadi 1 Stephen Ullman, Pengantar Semantik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 247. 1 2 terasa lumrah dan wajar. Perkembangan bahasa yang terjadi di sepanjang waktu menuntut pengguna bahasa untuk terus menerus mengikuti perkembangan tersebut. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengguna bahasa dalam berkomunikasi. Secara sadar atau tidak, pengguna bahasa memiliki peranan penting dalam menciptakan perubahan bahasa. Hal ini senada dengan ungkapan Meillet, “Bahasa itu dialihkan secara turun temurun dalam suatu cara yang „tak bersinambungan‟ (discontinuous) dari generasi yang satu ke generasi berikutnya: tiap-tiap anak harus belajar bahasa itu seperti barang yang baru.”2 Dalam praktik berbahasa, perubahan arti tidak hanya kita jumpai dalam percakapan sehari-hari saja tetapi juga dalam media cetak seperti koran, salah satu sumber/media informasi berbentuk tulis. Pada koran, kita sering menjumpai penggunaan kata diamankan daripada kata ditahan atau kata dibunuh daripada dihabisi yang digunakan sebagai judul atau isi dalam berita. Hal ini menunjukan adanya pemilihan kata yang dirasa lebih pantas atau nyaman untuk digunakan dalam interaksi sosial. Dalam perubahan arti, hal ini disebut tabu yakni konsep yang menggambarkan larangan tertentu dalam dunia sosial. Pemilihan kata-kata tersebut disebabkan oleh faktor kenyamanan (taboo of delicacy). Cruse mengungkapkan, “Akibat dari tabu bahasa adalah munculnya eufemisme yaitu sebentuk ungkapan pengganti yang dipergunakan untuk memperhalus efek dari ungkapan lain yang dirasa lebih kasar.”3 Terjadinya perubahan arti memang disebabkan oleh berbagai faktor. Akan tetapi, perubahan arti yang terdapat dalam suatu ungkapan tertentu selalu memiliki hubungan yang mengaitkan arti lama dengan arti baru yang dimiliki oleh suatu kata. Jenis hubungan tersebut didasarkan pada dua kategori: pertama, kedekatan antararti (contiguity)/metonimi, merupakan sebutan pengganti untuk suatu objek atau perbuatan dengan atribut yang melekat pada objek atau perbuatan yang bersangkutan. Di Jakarta misalnya, salah satu ikon patung ucapan selamat datang dengan simbol dua orang 2 3 h. 110 Ibid. Makyun Subuki, Semantik Pengantar Memahami Makna, (Jakarta: Transpustaka, 2011), 3 pelajar lebih dikenal dengan Bundaran HI karena letaknya yang dekat dengan hotel grand Indonesia. Dalam penamaan tempat (pasar), masyarakat Jakarta banyak menggunakan waktu berupa hari seperti: senen, rabu, jum‟at dan minggu. Kedua, perubahan arti yang disebabkan karena keserupaan antararti (similarity)/metafora, secara umum merupakan perubahan arti yang mengaitkan suatu arti dengan arti lainnya, adanya referensi. Parera dalam buku teori Semantik menyatakan, metafora menjadi sumber untuk melayani motivasi yang kuat untuk menyatakan perasaan, emosi yang mendalam, dan sarana berbahasa yang bersifat ekspresif. Salah satu unsur metafora adalah kemiripan dan kesamaan tanggapan pancaindra. Perubahan arti karena keserupaan antararti (similarity)/metafora dapat kita temukan dalam cerpen (cerita pendek), salah satu media pengarang atau sastrawan dalam berkomunikasi dengan pembaca untuk menyampaikan suatu gagasan maupun pendapat. Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang pemilihan permasalahannya lebih terfokus, dalam menyelesaikan bacaan pun tidak memerlukan waktu yang lama selain itu cerpen juga dapat memberikan kesan tunggal terhadap pembaca mengenai permasalahan yang dibicarakan. Ellery Sedgwick dalam Notosusanto mengungkapkan, “cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. Cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan hal-hal yang tidak perlu atau “a shortstory must not be cluttered up with irrelevance”.”4 Dalam dunia pendidikan, khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia cerpen merupakan salah satu dari beberapa bentuk karya sastra yang diperkenalkan dan dipelajari siswa di sekolah. Dalam materi cerpen, siswa melakukan kegiatan membaca sehingga dari kegiatan tersebut siswa diharapkan mampu memahami cerita dan pesan yang disampaikan pengarang di dalamnya dengan harapan siswa mampu menerapkannya di dalam kehidupan. Untuk memahami cerita dan pesan yang terdapat dalam cerpen, kegiatan yang dilakukan siswa melalui membaca saja belum cukup 4 Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 2011), h. 179. 4 membantu, hal ini dikarenakan cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan bahasa kias (metafora). Hal ini senada dengan pernyataan Edi Subroto, “metafora adalah salah satu wujud kreatif bahasa di dalam penerapan maknanya; artinya berdasarkan kata-kata yang telah dikenalnya dan berdasarkan keserupaan atau kemiripan referen, pemakai bahasa dapat memberi lambang baru pada referen tertentu, baik referen itu telah memiliki nama lambang atau belum. Metafora banyak terdapat dalam karya sastra”5. Untuk memahami cerita dan pesan yang terdapat dalam cerpen, siswa harus mengetahui arti dari bahasa yang mengalami perubahan arti (kiasan) berdasarkan konteks cerita. Melalui konteks cerita, selain membantu siswa untuk memahami arti dari penggunaan bahasa yang mengalami perubahan arti (kiasan), siswa juga dapat mengetahui unsur intrinsik lain dalam cerita. Dalam cerpen kita dapat menemukan kalimat Bulan pada awal dan akhir bulan, yang bertengger separuh di langit dengan warna kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Aspek Moral Dalam Kumpulan Cerpen Tamu Dari Paris Karya Yanusa Nugroho Tinjauan Semiotik
3
121
59
Kepribadian Tokoh Utama Dalam Kumpulan Cerpen Larutan Senja Karya Ratih Kumala: Analisis Psikologi Sastra
13
172
76
Kekuatan Unsur Intrinsik Cerpen Dalam Kumpulan Cerpen Ah. . . Gerimis Itu Karya Hidayat Banjar: Analisis Struktural
15
300
100
Gaya Bahasa Retoris Dan Kiasan Dalam Rectoverso Karya Dewi Lestari
14
92
81
Watak Tokoh Utama dalam Kumpulan Cerpen Kacamata Tanpa Bingkai Karya Sori Siregar: Analisis psikologi Sastra
13
106
71
Penderitaan Wanita dalam Kumpulan Cerpen Catatan Hati Seorang Istri Karya Asma Nadia: Analisis Psikologi Sastra
0
43
113
Kajian Unsur Intrinsik dalam Kumpulan Cerpen “Gimbal-gimbal Cantik” Karya Laksita Judith Tabina dkk. dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kelas V dan VI
0
23
3
Analisis Perbandingan Alur pada Lima Cerpen Karya Dewi Dee Lestari dan Film Rectoverso serta Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
2
20
186
Kesantunan Berbahasa dalam Naskah Drama Umang-Umang Karya Arifin C. Noer dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
6
57
106
Fenomena Sosial dalam Puisi "Pesan Uang" dan "Bercukur Sebelum Tidur" Karya Joko Pinurbo dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
5
31
123
Analisis Alur Novel Orb Karya Galang Lufityanto; Suatu Tinjauan Semiotik dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
1
47
115
Ilokusi dalam Dialog Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP
1
24
139
Perubahan Arti Metaforis dalam Kumpulan Cerpen Filosofi Kopi Karya Dewi Lestari dan Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia
0
4
120
Potret Buruh Indonesia dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput Karya Wiji Thukul: Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
5
75
213
Simbolisasi dalam Kumpulan Cerpen “Filosofi Kopi” Karya Dee : Sebuah Tinjauan Semiotik
1
14
131
Show more