Komunikasi Terapeutik Pada Anak Penyandang Down Syndrome (Studi Deskriptif mengenai Komunikasi Teraputik Oleh Terapis Pada Anak Penyanang Down Syndrome Dalam Meningkatkan Interaksi Sosial Di Rumah Autis Bandung)

Gratis

10
72
112
2 years ago
Preview
Full text

A. LATAR BELAKANG MASALAH

  Merujuk pada penjelasan diatas, dapat dikatakan Down Syndrome merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh kelainan genetik pada anak yang terjadi padamasa kandungan yang berdampak pada keterbelakangan fisik dan mental. Terapi pada anak penyandang Down Syndrome lebih mengacu kepada bagaimana anak dapat hidup dengan kesehatan yang lebih baik dan bagaimana anakdapat bersosialisasi dan hidup dalam masyarakat, agar dapat mandiri dan mengurangi ketergantungan kepada orang lain.

B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan Latar Belakang yang telah peniliti paparkan diatas, maka peneliti membuat Rumusan masalah Sebagai Berikut: 1. Bagaimana sikap terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung?

2. Bagaimana teknik komunikasi yang dilakukan oleh terapis pada anak penyandang

  Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung? Bagaimana Isi Pesan yang disampaikan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung?

METODE PENELITIAN

  Pada penelitian ini, peneliti melakukan suatu penelitian dengan pendekatan secara Kualitatif dengan metode deskriptif dimana untuk mengetahui dan mengamatisegala hal yang menjadi ciri sesuatu hal. Menurut David Williams (1995) dalam bukuLexy Moleong menyatakan: “Bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan olehorang atau peneliti yang tertarik secara alamiah”.

D. HASIL PENELITIAN

  Melalui proses komunikasi saat terapi berlangsung antara terapis dengan anak penyandang Down Syndrome dapat terlihat bagaimana sikap terapis, teknikkomunikasi apa yang dilakukan oleh terapis pada anak dan isi pesan apa yang berusaha disampaikan oleh terapis. Sikap GeneralisasiSikap ini ditunjukkan terapis dengan tidak membeda-bedakan perlakuan anak penyandang Down Syndrome dengan anak lainnya, dengan kata lain tidak sikapspesial yang ditunjukkan oleh terapis agar terbentuknya karakter mandiri pada anak dan meminimalkan munculnya sifat keras kepala dan manja pada anak.

E. KESIMPULAN

  Sikap terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung Sikap terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung terbagi menjadi dua, yakni sikap fisik dan psikologis. Teknik komunikasi yang dilakukan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung Teknik komunikasi yang disampaikan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung pada saat proses terapi berlangsung terbagi menjadi 4 metode yaitu metode floortime, teknik bermain, teknik massage (pijatan) dan teknik evaluasi.

c. Isi Pesan yang disampaikan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung

d. Komunikasi Terapeutik oleh Terapis pada anak penyandang Down Syndrome di Rumah Autis Bandung

  Isi pesan yang disampaikan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial di Rumah Autis Bandung pada saat proses terapiberlangsung berupa pesan verbal dan nonverbal. Bentuk pesan non verbal lainnya yaitu dengan sentuhan (kontak fisik) dan intonasi suara yang ceria dan juga terapis mampu menciptakan suasana kondusif gunamembangun kenyamanan anak berdasarkan pemahaman terapis pada karakter anak yang Komunikasi Terapeutik oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome RumahAutis Bandung sudah efektif hal ini terbukti adanya peningkatan atau kemajuan perkembangan anak, khususnya dalam hal interaksi sosial.

F. SARAN

  Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti menyarankan untuk melakukan pra-riset dengan serius sebelum akhirnya terjun ke lapangan agar peneliti selanjutnya lebih memahami fungsi komunikasidalam proses terapi pada anak penyandang Down Syndrome. Bagi Orangtua Peneliti menyarankan untuk para orangtua agar memperhatikan proses komunikasi terhadap anaknya yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi agar mengurangihambatan anak dalam berinteraksi anak dengan orang lain.

G. DAFTAR PUSTAKA Damaiyanti, Mukhripah. 2010. Komunikasi Terapeutik dalaam Praktik Keperawatan

  Komunikasi dalam Keperawatan: Teori dan Aplikasi. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Tinjauan Terdahulu

  Metode Penelitian yang digunakan adalah metode etnografi Hasil dari penelitian ini adalah proses komunikasi akan berjalan dengan baik jika dipersiapkan terlebih dahulu dan dikonsepkan secaramatang, guru berkomunikasi dan memberikan dan mengarahkan komunikasi secara positif. Untuk itu peneliti menyarankan kepada orangtua dan guru untuk terlibat dengan komunikasi yang baik, agar anak tunagrahita bisa berkomunikasi danmenciptakan peritiwa komunikasi yang baik.

2. Perilaku Komunikasi Orang Tua dan Guru Dengan Anak Tunagrahita

  Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis teliti yaitu penelitian ini mengkaji mengenai aktivitas komunikasi terapeutik antaraperawat dengan pasien, mulai dari fase, sikap dan teknik serta tujuan dari komunikasi terapeutik itu sendiri sedangkan penelitian yang penulis telitimengkaji mengenai komunikasi terapeutik oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome mulai dari sikap, teknik dan juga isis pesan yang disampaikan oleh terapis. Selain itu proses komunikasi terapeutik pada penelitian ini didapat melalui observasi pada saat dikelas dengan sistemsekolah pada anak tugrahita sedangkan penelitian yang penulis teliti melalui observasi pada saat terapi dan fokus subjek penelitian yaitu anak penyandang Down Syndrome.

3. Komunikasi Terapeutik pada Anak Autis dalam Membangun Interaksi Sosial

  Bentuk komunikasi yang Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis teliti yaitu penelitian ini mengkaji mengenai proses dan bentuk komunikasi sertatindak tutur terapis pada anak autis sedangkan penelitian yang penulis teliti mengkaji mengenai komunikasi terapeutik oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome mulai dari sikap, teknik dan juga isi pesan yang disampaikan oleh terapis. Melihat dari metode, pendekatan, hasil penelitian dengan semua yang mengacu pada ketiga penelitian terdahulu sejenis yang dilihat oleh peneliti,maka peneliti menyajikan pada tabel 2.1 agar lebih mudah untuk dipahami alur relevansi dengan penelitian yang peneliti susun sekarang.

2.1.2 Tinjauan tentang Ilmu Komunikasi

2.1.2.1 Pengertian Komunikasi

  Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahamisatu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). Kata itu juga dekat dengan“communitas” (bahasa Latin) yang “tidak hanya berarti komuniti tapi juga persahabatan dan keadilan dalam pergaulandan kehidupan antar manusia.” (Mulyana, 2005:2)Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadikomunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap.

2.1.2.2 Pengertian Komunikasi menurut Para Ahli

  Lasswell (1960)“Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Ross “Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengarmembangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.” (Ilmu Komunikasi SuatuPengantar , 2005, hal 62, Dedy Mulyana) Menurut Carl I.

2.1.2.3 Unsur Komunikasi Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan

  komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu. Komunikasi telah didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia, sehingga untuk terjadinya proses komunikasiminimal terdiri dari 3 unsur yaitu: 1.

2.1.2.4 Fungsi Komunikasi

  Lasswell adalah sebagai berikut : The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda). The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.

2.1.2.5 Proses Komunikasi

  Menurut RusadyRuslan proses komunikasi adalah: "Diartikan sebagai "transfer informasi" atau pesan-pesan (message) dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima pesan sebagai komunikan, dalam proses komunikasi tersebut Sementara itu menurut onong Uchjana Effendy proses komunikasi terbagi dua tahap, berikut uraiannya : 1. Lambangsebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan sebagainya yang secara langsung dapatmenerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.

2.1.3 Tinjauan tentang Komunikasi Interpersonal

2.1.3.1 Pengertian Komunikasi Interpersonal

  Arni Muhammad (2005:159) menyatakan bahwa "komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorangdengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya". Mulyana (2000: 73) menyatakan bahwa "komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, sepertisuami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya".

2.1.3.2 Komponen-komponen Komunikasi Interpersonal

  EncodingEncoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol- simbol verbal dan nonverbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa, serta disesuaikan dengan karakteristik komunikan. Noise merupakan apa saja yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan penerimaanpesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis.

2.1.3.3 Tujuan Komunikasi Interpersonal

Arni Muhammad (2005:168) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

1. Menemukan Diri Sendiri

  Berbicara dengan teman mengenaiaktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalahmerupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikankeseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.

2.1.4 Tinjauan tentang Komunikasi Terapeutik

2.1.4.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik

  Menurut (Potter- Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan seorangperawat dengan teknik-teknik tertentu yang mempunyai efek penyembuhan. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untukmembina hubungan saling percaya terhadap pasien dan pemberian informasi yang akurat kepada pasien, sehingga diharapkan dapatberdampak pada perubahan yang lebih baik pada pasien dalam menjalanakan terapi dan membantu pasien dalam rangka mengatasipersoalan yang dihadapi pada tahap perawatan.

2.1.4.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik

  Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan padapertumbuhan klien yang meliputi: Pertama, realisasi diri, penerimaan diri, dan peningkatan penghormatan diri. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas.

2.1.4.3 Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik

  Menurut (Suryani 2000), ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami dalam membangun dan mempertahankan hubunganyang terapeutik: Pertama, hubungan perawat dengan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan. Dalam memberikan intervensi keperawatan diperlukan suatu komunikasi terapeutik, dengan demikian diharapkan seorang perawatmemiliki kemampuan khusus mencakup ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal dan penuh kasih sayang dalam melakukankomunikasi dengan pasien.

2.1.4.5 Teknik Komunikasi Terapeutik

  Teknik komunikasi terapeutik dengan menggunakan referensi dari Stuart dan Sundeen, dalam Ernawati (2009) yaitu: 1. Bertanya Bertanya (question) merupakan teknik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

3. Penerimaan

  Dengan demikianperawat mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dank lien mempunyai hak untuk mampu melakukan hal tersebut, maka iapunakan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan bukan sebagaibagian dari orang lain. Memberikan PenghargaanMemberi salam pada klien dan keluarga dengan menyebut namanya, menunjukan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, untukmenghargai klien dan keluarga sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagaiindividu.

2.1.4.6 Sikap Perawat dalam Komunikasi Terapeutik

  Sedangkan kehadiran psikologis dapat dbagi dalam dua dimensi yaitu dimensi tindakan dan dimensi respon (Truax, Carkhfoffdan Benerson, dikutip dalam Stuart dan Sundeen, 1987) 1. Fungsinya yaitu, mempertahankan respon perawatterhadap perasaan klien, memberikan penjelasan yang akurat dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.

2.1.5 Tinjauan tentang Terapis

  Memiliki konsep teoritis yang padat dan logis yang cukup sesuai untuk dipergunakan dalam memahami pikiran-pikiran dan tingkah laku yangnornial maupun patologis 3. Memiliki kecakapan untuk menggunakan dan mengontrol institusi untuk membaca yang tersirat dan menggunakannya secara empatis untukmemahami apa yang dimaksud dan dirasakan pasien dibelakang kata- katanya.

2.1.6 Tinjauan tentang Down Syndrome

Down Syndrome

2.1.6.1 Pengertian Down Syndrome merupakan bagian dari anak tunagrahita

  Down Syndrome merupakan kelainan genetis yang menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental dengan ciri-ciri yang khas pada keadaan fisiknya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Down Syndrome adalah suatu gangguan pada susunan kromosom yaitu adanyakromosom 21 ekstra yang menyebabkan gangguan pada perkembangan fisik dan otak yang dapat menyebabkan keterbelakangan fisik danmental dengan ciri-ciri yang khas pada keadaan fisiknya.

2.1.6.2 Penyebab Down Syndrome

  Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab gangguan Down Syndrome yaitu, pembelahan sel antara lain adanya kelainan hormonal, sinar X (X-ray), infeksi yang disebabkan virus salah satunya adalah virus toksoplasma, masalah kekebalan tubuh atau predisposisigenetik. Trisomy 21Anak yang terkena Down Syndrome memiliki kromosom ekstra pada kromosom 21, seseorang yang normal memiliki 46 kromosomdi setiap sel, namun seseorang dengan Down Syndrome memiliki 47 kromosom.

2. Translocation

  Sejauh ini para ahli meyakini bahwa Down Syndrome merupakan kelainan susunan yang terjadi pada kromosom nomor 21,dari 23 pasang kromosom manusia. Ketidakjelasan penyebab pasti itu membuat faktor keturunan dalam Down Syndrome hingga saat ini belum terobati dan tak tercegah.

2.1.6.3 Tipe-tipe Down Syndrome

  Tanda yang paling khas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakanganperkembangan fisik dan mental pada anak. Berdasarkan teori yang dijelaskan oleh Selikowitz (2001; 41) mengenai ciri fisik anak Down Syndrome yang dapat dilihat langsungdapat disimpulkan yaitu tinggi badanya relatif pendek, bentuk kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka seringdikenal dengan Mongoloid, mulut mengecil dan lidah menonjol keluar, serta beberapa kekhasan fisik lainnya.

2.1.6.4 Perkembangan Anak Down Syndrome

  Sedangkan tingkat kesehatan jasmani anak normal pada umur yang sama berada dalam kategori “kurang” Dengan demikian tingkatkesegaran jasmani anak Down Syndrome berada setingkat lebih rendah daripada anak normal pada umur yang sama. Hal ini perlu diwaspadai karena justru kehangatan dan keramahan anak-anak tersebut dapat dimanfaatkan oleh Menurut Mangunsong (2009; 135), untuk perkembangan kognitif anak Down Syndrome, kebanyakan dari mereka yang menderitasindroma down ini mengalami kesulitan dalam mengingat suatu informasi.

2.1.7 Tinjauan tentang Interaksi Sosial

2.1.7.1 Pengertian Interaksi Sosial

  Interaksi sosial menurut Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 2007:55) merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkuthubungan antara orang-orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial juga merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mumgkin ada kehidupanbersama Young dan W.

2.1.7.2 Syarat-syarat terjadinya Interaksi Sosial

  Kontak sosial dapat bersifat positif mengarah pada suatu kerjasama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatupertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial. Adanya komunikasiArti terpenting komunikasi menurut Soekanto (2007:60) adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain(yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

2.1.7.3 Bentuk Interaksi Sosial

Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 2007:65) bentuk interaksi sosial ada dua yaitu:

1. Proses yang Asosiatif

  Kerja Sama b. Proses yang Disosiatif a.

1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong 2

  Kooptasi, yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasisebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan. Koalisi, yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama.

2.2 Kerangka Pemikiran

2.2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

  Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya yaitu tentang komunikasi terapeutik pada anak penyandang Down Syndrome,maka fokus penelitian ini merujuk kepada komunikasi terapeutik pada anak penyandang Down Syndrome dalam meningkatkan interaksi sosial. Berbagai aspek komunikasi antara pasien dengan tenaga kesehatan mempengaruhi tingkat ketidaktaatan, misalnya informasi yang kurang,ketidakpuasan terhadap aspek hubungan emosional dengan dokter dan ketidakpuasan terhadap pengobatan yang diberikan.

2.2.2 Kerangka Pemikiran Konseptual

  Dalam penelitian ini peneliti hanyamengaplikasikan faktor kelima, yaitu meningkatkan interaksi kesehatan dengan pasien yaitu melalui komunikasi terapeutik dikarenakan faktortersebut memiliki keterkaitan dengan permasalahan yang akan peneliti teliti, khususnya terhadap subjek penelitian ini yaitu anak penyandang Down Syndrome. Terapis tidak cukup hanyamengetahui teknik komunikasi dan isi pesan komunikasi tetapi yang sangat penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi, misalnyaberhadapan, mempertahankan kontak mata dan rileks.

ISI PESAN

INTERAKSI SOSIAL

KOMUNIKASI Perubahan perilaku anak mengarah pada peningkatankemampuan berkomunikasi Sumber: Peneliti, 2015 Alur pikir diatas menggambarkan sikap, teknik komunikasi dan isi pesan yang disampaikan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndromemerupakan bagian dari komunikasi terapeutik demi meningkatkan interaksi sosial anak dalam proses komunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungansekitar.

BAB II I METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

  Pada desain penelitian ini, peneliti melakukan suatu penelitian dengan pendekatan secara Kualitatif dimana untuk mengetahui dan mengamati segalahal yang menjadi ciri sesuatu hal. Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanyadimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.(Moleong, 2007:5) Dalam Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya.

1. Latar alamiah (natural setting) 2

  Keterpercayaan dengan kriteria khusus (special criteria for trustworthiness).(Moleong 2007:8) Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam- dalamnya melalui pengumpulan data sebanyak-banyaknya. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencarisampling lainnya.

3.1.1 Metodelogi Penelitian

  Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif. Nazir adalah : “Metode deskriptif bertujuan untuk mendapatkan fakta secara cermat dan faktual mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta berhubungan antarfenomena yang diselidiki serta mengembanngkan atau memaparkan masalah dan mengadakan analisa yang didasarkan atas hasilpengamatan dari berb agai kejadian” (Nazir,1983:63).

3.2 Informan Penelitian

  Subjek penelitian yang diteliti untuk menjadi pembahasan dalam penelitian adalah terapis anak penyandang Down Syndrome. Kriteria-kriteria yang ditentukan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: Terapis anak penyandang Down Syndrome  Bekerja di Rumah Autis Bandung Adapun untuk pemilihan tempat penelitian merupakan atas kesepakatan bersama antara peneliti dengan informan disesuaikan dengan kajian peneliti.

3.2.3 Informan Pendukung Penelitian

  Sehingga dapat memberikan informasi yang akurat mengenai informan kunci, dimana informasi tersebut dapat melengkapidata-data yang di anggap kurang dan sekiranya dibutuhkan. Dimana kedua terapis tersebut merupakanpihak yang paling mengetahui mengenai permasalahan yang akan yang peneliti teliti, yakni komunikasi terapeutik oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

  Arikunto (2002:136) ”Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data penelitiannya”. Berdasarkan pengertian tersebutdapat dikatakan bahwa metode penelitian adalah cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data yang di perlukan dalam penelitian.

3.3.1 Studi Lapangan

  (Kriyantoro, 2007:96) Maka, dalam hal ini peneliti pun mengumpulkan data-data dengan salah satu caranya melalui wawancara untuk mendapatkan informasi yang benar-benar relevan dari narasumber terkait dalam hal ini dilakukan oleh terapis dan anak penyandang Down Syndrome terpilih sebagai informan kunci penelitiandan orang tua anak penyandang Down Syndrome sebagai informan pendukung penelitian, dengan itu semua mengetahui kebenaran danmenjadikan keyakinan bagi peneliti.  Observasi Non Partisipan Pada pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan salah satunya melalui observasi dengan melihat dan mengamati individu-individu atau kelompok yang menjadi informan pada penelitian ini, diantaranya melihat dan mengamati secara langsung proses terapi yang dilakukan oleh terapis pada anak penyandang Down Syndrome dalam berkomunikasi di Rumah Autis Bandung.

3.3.2 Studi Pustaka

   Library Research Teknik pengumpulan data yang diambil dari buku-buku ilmiah, literatur dan sumber lainnya yang memiliki keterkaitan dan hubungan dengan permasalahan yang diteliti untuk menambahkan beberapa data yang perlu diperjelas dan akan digunakan sebagai landasan teori sebagai pendukung teoritis dalam permasalahan yang peneliti angkat. Studi Kepustakaan yaitu mengadakan penelitian dengan cara mempelajari dan membaca literatur-literatur yang ada hubungannya denganpermasalahan yang menjadi obyek penelitian. Internet Searching Internet bisa menjadi salah satu sumber dalam teknik pengumpulan data yang lebih fleksibel dan efisien.

3.4 Uji Keabsahan Data

  Sebagai bekal peneliti untukmeningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkaitdengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksadata yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.

3.5 Teknik Analisa Data

  Teknik analisa data adalah suatu kegiatan yang mengacu pada penelaahan atau pengujian yang sistematis mengenai suatu hal dalam rangkamengetahui bagian-bagian, hubungan diantara bagian, dan hubungan antara bagian dan keseluruhan. “Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapatdikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, danmemutuskan apa yang dapat diceritakan orang lain”.

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

  Penelitian yang dilakukan terfokus pada satu lembaga sosial tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Komunikasi Terapeutik pada Anak Autis dalam Membangun Interaksi Sosial (Studi Etnografi Komunikasi tentang Terapi Komunikasi di Yayasan Risantya, Bandaung, Oleh Terapis pada Anak Autisdalam Membangun Interaksi Sosial) Lusiana Atik.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Dengan segala keimanan yang beliau ajarkan kepada umatlah yang membantu penulis dalam mengerjakan Skripsi dengan judul Komunikasi Terapeutik pada Anak Penyandang Down Syndrome (Studi Deskriptif mengenai Komunikasi Terapeutik oleh Terapis pada Anak PenyandangDown Syndrome dalam Meningkatkan Interaksi Sosial di Rumah AutisBandung) ini dapat diselesaikan dengan segenap keyakinan dalam pemahaman materi yang telah disampaikan oleh Dosen. Terutama penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tuakami yang terkasih, terimakasih Mama dan Papa karena telah mendukung dari kejauhan, mendukung dalam doa, semangat serta materil.

7. Yth. Ibu Astri Ikawati, A.Md.Kom, selaku Sekretariat Program Studi Ilmu

  Teman-teman “Seperjuangan” di UNIKOM terutama teman-teman di IK-1 dan IK-H2 yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Dengan segenap kerendahan hati demi kesempurnaan skripsi ini penulis sangat menantikan kritik dan saran yang dapat membangun dan menjadi sebuahpelajaran.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (112 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Efektivitas Solution Focused Family Therapi Untuk Meningkatkan Dukungan Sosial Keluarga Pada Ibu Yang Memiliki Anak Down Syndrome (Application of Solution Focused Family Therapy To Improve Social Support On Mother In Child Minding Down Syndrome )
9
70
127
Komunikasi Antarpribadi Orangtua Anak Down Syndrome (Studi Kasus Komunikasi Antarpribadi Orangtua Anak Down Syndrome di Sekolah Luar Biasa Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan)
19
120
109
Faktor-faktor Yang Harus Diperhatikan Pada Penatalaksanaan Pasien Down Syndrome Dalam Perawatan Endodonti
0
26
41
Gambaran Klinis Anomali Ortodonti Pada Penderita Down Syndrome
0
50
46
Strategi Komunikasi Guru Dalam Menghadapi Temper Tantrum Pada Anak Autis (Studi Deskriptif Kualitatif Pada Anak Autis Di Sekolah YAKARI Di Kota Medan)
4
69
97
Dinamika Sikap Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Down Syndrome
0
4
113
Komunikasi Interaksi Orang Tua Dan Guru Pada Anak Dalam Pembentukan Kepribadian Anak
0
30
256
Komunikasi Terapeutik Pada Anak Penyandang Down Syndrome (Studi Deskriptif mengenai Komunikasi Teraputik Oleh Terapis Pada Anak Penyanang Down Syndrome Dalam Meningkatkan Interaksi Sosial Di Rumah Autis Bandung)
10
72
112
Aktivitas Komunikasi Terapis Anak Autis Dalam Proses Memudahkan Kemampuan Berinteraksi dengan Lingkungan (Studi Etnografi Komunikasi Mengenai Aktivitas Komunikasi Terapeutik Antara Terapis Anak Autis Dalam proses Memudahkan Kemampuan Berinteraksi Dengan L
3
20
153
Pola Komunikasi Orang Tua Dengan Anak Down Syndrome (Studi Deskriptif Mengenai Pola Komunikasi Orang Tua dengan Anak yang Mengalami Down Syndrome di Kota Bandung)
3
39
108
Komunikasi Interaksi Orang Tua Dan Guru Pada Anak Dalam Pembentukan Kepribadian Anak
1
38
256
Komunikasi Terapeutik Antara Konselor Dengan Resident di Rumah Cemara Bandung (Studi Deskriptif Mengenai Komunikasi Terapeutik Antara Konselor Dengan Resident di Rumah Cemara Bandung)
0
2
1
Pola Komunikasi Pengajar Kepada Anak Jalanan di Rumah Belajar Sahaja Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Pengajar Kepada Anak Jalanan di Rumah Belajar Sahaja Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar)
4
24
96
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Dukungan Sosial Keluarga 2.1.1. Pengertian Dukungan Sosial - Efektivitas Solution Focused Family Therapi Untuk Meningkatkan Dukungan Sosial Keluarga Pada Ibu Yang Memiliki Anak Down Syndrome (Application of Solution Focused Fami
1
1
22
Efektivitas Solution Focused Family Therapi Untuk Meningkatkan Dukungan Sosial Keluarga Pada Ibu Yang Memiliki Anak Down Syndrome (Application of Solution Focused Family Therapy To Improve Social Support On Mother In Child Minding Down Syndrome )
0
0
11
Show more