Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia

 2  4  115  2017-05-18 15:25:32 Report infringing document
ABSTRACT TALITHA RAISSA. Fiber and Liquid Intake, Physical Activity, and Symptom of Constipation among Elderly. Under Direction of CESILIA METI DWIRIANI. The objective of this study was to analyze differences in fiber and liquid intake, physical activity, and symptom of constipation among elderly people lived in government (Sukma Raharja) and non-government (Salam Sejahtera) Elderly Social Institution. This study using crossecsional study design conducted in August until September 2011. The subjects were 61 elderly consist of 30 people from Sukma Raharja and 30 people from Salam Sejahtera. Almost all of elderly (90%) in Sukma Raharja are 60-74 years old, while in Salam Sejahtera 71% are 74-90 years old. All of elderly in Sukma Raharja are women, while in Salam Sejahtera, 51,6% are women. Education background in Salam Sejahtera is higher than in Sukma Raharja and in both groups most of elderly have normal nutritional status. There was significantly (p=0,001) differences in BMI of elderly in Sukma Raharja and Salam Sejahtera. Level of energy (p=0,000), protein (p=0,000), and carbohydrate (p=0,000) adequacy of elderly in Sukma Raharja are significantly higher than elderly in Salam Sejahtera. There was no difference level of fat adequacy (p=0,503), fiber (p=0,925) and liquid intake (p=0,228), and physical activity (p=0,280) in the elderly in two places. There was no significant correlation between fiber intake (p=0,538), liquid intake (p=0,147), and physical activity (p=0,342) with symptom of constipation of elderly. Keyword : fiber intake, liquid intake, physical activity, constipation ii    1    PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan, terutama di bidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan usia harapan hidup. Hal tersebut juga memicu perkembangan jumlah penduduk Lanjut usia (lansia) yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2005, angka harapan hidup orang Indonesia adalah 70,0 tahun. Tahun 2006 meningkat menjadi 70,2 tahun. Jumlah ini terus meningkat menjadi 70,4 tahun pada tahun 2007 dan di perkirakan pada tahun 2025 angka harapan hidup penduduk indonesia akan menjadi 73 tahun (BPS 2007). Jumlah penduduk lansia Indonesia mencapai 19,32 juta orang atau 8,37% dari total seluruh penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia dimana pada tahun 2005 jumlah penduduk lansia sebesar 16,80 juta orang. Angka ini naik menjadi 18,96 juta orang pada tahun 2007, dan menjadi 19,32 juta orang pada tahun 2009 (Komnas Lansia 2010). Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%), sedangkan pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat menjadi 66,2 tahun. Tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun (Depsos 2007). Semakin meningkatnya usia harapan hidup, maka semakin meningkat pula upaya untuk mempertahankan atau menjaga status kesehatan pada lansia. Kondisi kesehatan pada lansia sangat ditentukan oleh asupan makanannya, baik kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan bertambahnya usia dan proses penuaan, timbul masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah fisik, biologik, psikologik, sosial, maupun penyakit degeneratif (Safithri 2005). Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus (Depkes 2003). Sekitar 30–40% orang diatas usia 65 tahun di Inggris mengeluh konstipasi, 30% penduduk diatas usia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Sekitar 20% populasi diatas 65 tahun di Australia, mengeluh menderita konstipasi (Siswono 2003). 1 2    Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai dubur (Soelistijani 2002). Semakin lama tinja tertahan dalam usus, konsistensinya semakin keras, dan akhirnya membatu sehingga susah dikeluarkan. Hal tersebut berpangkal pada kelemahan tonus otot dinding usus akibat penuaan yaitu kegiatan fisik yang mulai berkurang, serta kurangnya asupan serat dan cairan (Arisman 2007). Saat ini masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat, maka terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat-baratan (western style diet). Makanan jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat. Masyarakat umumnya belum tahu atau kurang menyadari bahwa makanan jadi telah kehilangan banyak komponen-komponen essensial makanan, khususnya serat. Asupan serat yang terlampau rendah dalam kurun waktu lama akan mempengaruhi kesehatan (seperti konstipasi), kegemukan, dan serangan penyakit degeneratif (Soelistijani 2002). Para ahli klinis, ahli gizi dan ahli teknologi pangan dalam dasawarsa terakhir ini sepakat bahwa serat merupakan komponen yang sangat dianjurkan dalam pola diet, ini disebabkan oleh banyaknya penyakit yang muncul akibat rendahnya konsumsi serat, terutama di negara-negara maju. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, cukup bukti bahwa berbagai serat dapat membantu mencegah atau mengatasi penyakit seperti sembelit, gangguan usus, obesitas dan penyakit jantung (Bangun 2005). Menurut Kusharto (2006), serat mampu mengatasi konstipasi karena serat dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui saluran pencernaan. Pengaruh nyata yang telah dibuktikan adalah bertambahnya volume feses, melunakkan konsistensi feses, memperpendek waktu transit di usus, dan memproduksi flatus. Selain konsumsi serat yang rendah, konstipasi juga disebabkan oleh kurangnya asupan cairan. Menurut Muhammad (2010), salah satu masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan tubuh. Hal ini terjadi karena adanya berbagai perubahan perubahan yang dialami lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi 3    ginjal untuk memekatkan urin, dan penurunan rasa haus. Penurunan rasa haus pada lansia otomatis akan menurunkan asupan cairan, padahal dalam fungsinya cairan memegang peranan penting terutama untuk mengolah makanan dalam usus, tanpa cairan yang cukup usus tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga timbullah sembelit. Berdasarkan beberapa hal yang telah diuraikan mengenai pentingnya peranan aktivitas fisik, asupan serat dan cairan sebagai penyebab konstipasi yang terjadi pada lansia, maka peneliti ingin mengetahui perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui perbedaan asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik sosial dan status gizi contoh. b. Menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi (protein, karbohidrat, dan lemak) pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. c. Menganalisis perbedaan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, dan kejadian konstipasi pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. d. Menganalisis hubungan antara asupan serat dan cairan dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. e. Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh. Hipotesis 1. Ada perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. 2. Ada hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. 4    Kegunaan Penelitian Kegunaan bagi Pihak Panti Sebagai informasi dan masukan bagi pengelola panti mengenai konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti. Kegunaan bagi Pihak Pemda Sebagai informasi dan masukan bagi pihak pemda mengenai pelaksanaan dan pengelolaan panti, konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti, terutama Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja yang merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan.                                             5    TINJAUAN PUSTAKA Lanjut Usia Manusia usia lanjut merupakan seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial yang nantinya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan. Depkes (2000) dalam Notoatmodjo (2007) mendefinisikan bahwa usia lanjut merupakan orang yang sudah memasuki tahap dewasa akhir dengan usia sekitar 60 tahun ke atas. Menurut Notoatmodjo (2007), usia lanjut adalah kelompok orang yang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, menyatakan bahwa yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Usia lanjut menurut WHO (1997) dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun (Notoatmodjo 2007). Pada seorang usia lanjut mengalami perubahan-perubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang dan mengalami perubahan mental (Wirakusumah 2002). Konstipasi Kebiasaan buang air besar normal mempunyai variasi yang luas pada setiap orang. Perubahan kebiasaan BAB merupakan manifestasi klinis yang umum dari penyakit saluran cerna. Konstipasi didefinisikan sebagai evakuasi feses yang jarang atau sulit dan dapat akut atau kronis. Konstipasi absolut didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses maupun flatus (Grace & Neil 2006). Menurut Bangun (2005), konstipasi merupakan keadaan atau gejala hambatan gerak sisa makanan di saluran pencernaan sehingga buang air besar tidak bisa lancar dan teratur. Pada keadaan normal, setiap 24 jam usus besar (kolon) akan dikosongkan secara periodik. Seseorang dianggap konstipasi apabila tidak dapat buang air besar selama dua hari atau lebih. Penyebab konstipasi menurut The National Digestive Disease Information Clearinghouse (NDDIC) dalam Muhammad (2010), yaitu kurangnya asupan serat 5 6    dalam konsumsi sehari-hari, kurangnya aktifitas terutama di usia lanjut, obatobatan tertentu (obat golongan narkotika, antasid yang mengandung alumunium dan kalsium, antihipertensi golongan penghambat kalsium, obat anti Parkinson, antispasmodik, antidepresan, suplemen Fe, diuretik, antikonvulsan), intoleransi susu, penyakit dan gangguan pada usus besar, kehamilan, usia lanjut, pemakaian pencahar berlebihan, kebiasaan menahan buang air besar, kurang asupan cairan, gangguan fungsional pada usus. Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam hubungannya dengan konstipasi, yaitu dimana konstipasi akut sering mengindikasikan obstruksi usus, dengan gejala utamanya berupa nyeri kolik abdomen, muntah, konstipasi, dan distensi. Apabila yang terjadi adalah konstipasi kronis maka akan beresiko untuk berkembang secara perlahan menjadi obstruksi usus (Bangun 2005). Konstipasi kronis biasa terjadi akibat diet rendah serat. Selain itu, bisa juga karena makan tidak teratur, kurang pergerakan dan olah raga, dan mengabaikan saat terjadi rangsangan untuk buang air besar. Konstipasi yang terjadi pada usia lanjut dengan atau tanpa gambaran sistemik harus diobati secara sungguh-sungguh dengan tidak mengabaikan berat badan yang menurun (Daldiyono et al 1990). Muhammad (2010) mengemukakan gejala-gejala konstipasi pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pola makan, hormon, gaya hidup dan bentuk usus besar masing-masing orang. Akan tetapi, gejala umum yang sering ditemui diantaranya adalah perut terasa penuh, nyeri dan mulas; tinja atau feses lebih keras dari biasanya; pada saat BAB feses atau tinja sulit dikeluarkan atau dibuang, tubuh berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang tinja; serta menurunnya frekuensi BAB, dan meningkatnya waktu BAB (BAB menjadi 3 hari sekali atau lebih). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Konsumsi Pangan Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau sekelompok orang (keluarga atau rumahtangga) pada waktu tertentu. Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan 7    zat gizi. Kekurangan dan kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat gizi bergantung pada berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, berat badan, iklim dan aktivitas fisik (Almatsier 2003). Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992). Serat Serat adalah zat non-gizi yang termasuk sebagai salah satu jenis kelompok polisakarida atau karbohidrat kompleks. Serat terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu dan membentuk rantai kimia panjang, sehingga sukar dicerna oleh enzim pencernaan (Soelistijani 2002). Menurut Lubis (2009), serat makanan adalah komponen karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi dapat dicerna oleh mikro bakteri pencernaan. Serat makanan merupakan bahan baku yang baik untuk pertumbuhan mikroflora usus. Serat makanan tidak dicerna di usus halus, akan tetapi dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui usus besar. Hal ini dapat menambah volume feses, meningkatkan pengaruh laksatif, melunakkan konsistensi feses, memperpendek transit time di usus, memproduksi flatus, hasil produksi metabolisme bakteri dan keluaran anion organiknya akan mengubah garam empedu dan asam lemak berantai pendek. Serat makanan menurut jenisnya dibedakan menjadi dua, yaitu serat larut dan serat tak larut air. Serat larut berfungsi dalam memperlama waktu pengosongan lambung sehingga seseorang dapat merasa kenyang lebih lama, sedangkan serat tidak larut air dapat menurunkan waktu transit dalam kolon, menghasilkan feses lebih lembek dan lebih banyak (Kusharto 2006). Selanjutnya menurut Almatsier (2003), serat larut air mudah di fermentasi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan bakteri kolon menyebabkan bertambahnya berat feses. Serat tidak larut air, terutama lignin yang terdapat 8    dalam dedak gandum tidak mengalami fermentasi. Serat tidak larut air mampu menyerap air, sehingga mengalami peningkatan berat dan mempunyai pengaruh laksatif paling besar. Serat membantu pengeluaran feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus, sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar, sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan. Konsumsi serat yang kurang akan mengakibatkan seseorang mengalami sembelit atau konstipasi, sehingga sangat dianjurkan seseorang mengkonsumsi serat sebesar 20-30 g per hari untuk orang dewasa. Perbandingan konsumsi serat larut dan serat tak larut sebaiknya 1:3 (Muchtadi 2009). Sumber serat larut yang baik adalah jenis kacang-kacangan, rumput laut, agar-agar, apel, pisang, jeruk, wortel, bekatul, dan buncis, sedangkan sumber serat tak larut seperti polong-polongan, buah berbiji, serta sayuran (Kusharto 2006). Cairan Air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Pada pria dewasa, 55%-60% berat tubuh adalah air dan pada wanita dewasa 50%-60% berat tubuhnya adalah air. Air sebagai salah satu zat gizi mikro yang mempunyai fungsi dalam berbagai proses penting dalam tubuh manusia, seperti metabolisme, pengangkutan dan sirkulasi zat gizi dan non gizi, pengendalian suhu tubuh, kontraksi otot, transmisi impuls saraf, pengaturan keseimbangan elektrolit, dan proses pembuangan zat tak berguna bagi tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang air berdampak buruk terhadap kesehatan atau meningkatkan risiko kejadian berbagai penyakit, seperti sembelit, kram, batu ginjal, infeksi saluran kemih dan lain-lain (Hardinsyah et al 2011). Menurut Driskell (2009), dehidrasi (kurang cairan) kronis akan dapat berakibat terjadinya konstipasi. Almatsier (2003) menyatakan bahwa konsumsi cairan terdiri atas air yang diminum, yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme (air metabolik). Menurut Sawka, Cheuvront, dan Carter (2005), total konsumsi cairan adalah berasal dari air minum (drinking water), air pada minuman (water in beverages), dan air pada makanan. Kebutuhan air tiap orang berbeda dan berfluktuasi tiap waktu. Hal tersbut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin, usia, tingkat aktivitas, serta faktor lingkungan. Sebagian besar lansia mengurangi minum air putih atau 9    minuman lain karena berbagai alasan, misalnya karena timbulnya rasa mual setelah minum susu, keasaman sari buah yang dapat mengganggu lambungnya, serta tidak suka air. Penyebab utama hal tersebut adalah keengganan untuk terlalu sering buang air kecil, karena telah menurunnya kontrol terhadap kandung kemih (Muchtadi 2009). Menurut Hardinsyah et al (2011), asupan air pada usia lanjut yang optimal adalah 1-1,5 liter per hari. Pada keadaan usia lanjut, kepekaan pusat rasa haus berkurang sehingga diperlukan perhatian lebih dari pengasuh usia lanjut untuk mengawasi konsumsi minuman pada kelompok ini. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Penilaian Konsumsi Pangan Penilaian komsumsi pangan adalah kegiatan mempelajari seluk beluk tentang makanan, menelaah jumlah makanan yang dikonsumsi, dan membandingkan dengan baku kecukupan gizi yang dapat dipenuhi. Konsumsi makanan dapat diukur secara kualitatif dan kuantitatif. Penilaian konsumsi makanan secara kualitatif biasanya digunakan untuk menggali informasi mengenai kebiasaan makan dan frekuensi konsumsi menurut jenis pangan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi dan dari informasi ini dapat diketahui dan dihitung konsumsi zat gizi dari makanan tersebut (Suhardjo 1989). Pengukuran makanan secara kuantitatif dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain metode recall 24 jam, metode perkiraan makanan (estimted food records), penimbangan makanan (food weighing), metode food account, metode inventaris (inventary method), pencatatan (household food record) (Supariasa 2002). Besarnya porsi makanan dan estimasi jumlah makanan yang dimakan dan diminum oleh responden, dapat diketahui dengan metode recall 24 jam (Khomsan dkk 2007). Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Metode recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang asupan harian individu (Sanjur 1997 dalam Supariasa 2002). 10    Meskipun metode recall 24 jam sudah dapat menggambarkan besar porsi dan estimasi jumlah makanan yang dikonsumsi, namun metode ini memiliki kelemahan berupa ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa. Oleh karena itu, metode penilaian konsumsi makanan pada lansia dilengkapi dengan metode food weighing. Supariasa (2002) mengemukakan penimbangan makanan atau food weighing merupakan salah satu metode pengukuran konsumsi makanan secara kuantitatif pada tingkat perorangan yang digunakan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung asupan zat gizinya. Adapun kelebihan dari metode ini ialah data yang diperoleh lebih akurat/teliti. Kekurangannya yaitu memerlukan waktu yang cukup lama, mahal karena membutuhkan peralatan, ada kemungkinan responden merubah kebiasaan makan mereka jika penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, tenaga pengumpul data harus terlatih dan trampil, serta memerlukan kerjasama yang baik dengan responden. Pada metode penimbangan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan biasanya dilakukan beberapa hari tergantung tujuan, dana, dan tenaga yang tersedia. Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan makanan adalah petugas atau responden menimbang dan mencatat bahan makanan yang dikonsumsi dalam gram. Apabila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga dilakukan penimbangan sisa makanan tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat. Kemudian dari jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari dapat dianalisis menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) atau Daftar Komposisi Gizi Jajanan (DKGJ). Selanjutnya hasil analisis zat gizi dibandingkan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) (Supariasa 2002). Perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan disebut sebagai tingkat kecukupan zat gizi. Klasifikasi tingkat kecukupan menurut Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) adalah: defisit tingkat berat (<70%), defisit tingkat sedang (70-79%), defisit tingkat ringan (8089%), normal (90-119%), dan kelebihan (>120%). Penilaian untuk mengetahui 11    tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi zat gizi aktual (nyata) dengan kecukupan zat gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik atau disebut juga aktivitas eksternal adalah kegiatan yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai kegitan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut lamanya intensitas dan kerja otot (FKM-UI 2007). Menurut Hoeger dan Hoeger (2005), aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot skeletal dan membutuhkan pengeluaran energi. Almatsier (2003), menjelaskan bahwa aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot-otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk menghantarkan zat-zat gizi dan oksigen keseluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan. Menurut Rosmalina dan Permaesih (2008), aktivitas fisik merupakan faktor utama yang membedakan kebutuhan energi, selain itu juga berat badan dan umur. Aktivitas fisik sehari mencakup lama dan jenis aktivitas yang biasa dilakukan akan mempengaruhi jumlah energi yang dikeluarkan. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas fisik ini akan mengakibatkan terjadinya kelemahan tonus otot dinding saluran cerna sehingga akan terjadi konstipasi (Arisman 2007). Status Gizi Lansia Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Penilaian status gizi menurut Riyadi (2004) dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya menggunakan pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh), terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara intik energi dan protein. 12    Indikator dari status gizi adalah berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Status gizi diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Salah satu perubahan fisik yang terjadi pada lansia seiring pertambahan usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang dapat merubah struktur tulang. Perubahan struktur tulang akan terjadi pada tulang-tulang punggung (vertebrae), struktur jaringan pengikat dan tulang rawan (invertebrae) yang akan merubah kurvatura tulang punggung menjadi lebih melengkung (kifosis torakalis) dan posisi akan menjadi bungkuk (Darmojo 1999). Tinggi badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang diperlukan untuk pengkajian status gizi. Namun, dalam prakteknya seringkali menemukan kesulitan untuk mendapatkan data TB pada lansia terutama yang sudah tidak dapat berdiri dan mengalami kelainan tulang. Alternatif lain untuk memprediksi TB lansia yaitu pengukuran tinggi lutut (TL). Tinggi lutut dapat digunakan untuk melakukan estimasi TB lansia. Hasil pengukuran TL dikonversikan menjadi TB menggunakan rumus Chumlea (1984) dalam Fatmah (2008): TB pria = 64,19 - (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut daIam cm) TB wanita = 84,88 - (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) Menurut Riyadi (2004) indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) ini sudah divalidasi sebagai indikator lemak tubuh total pada persentil atas dan juga direkomendasikan untuk orang dewasa serta data referensi yang bermutu tinggi juga telah tersedia. Indeks Massa Tubuh merupakan perbandingan BB dalam satuan kilogram dengan TB kuadrat dalam satuan meter. Kategori IMT dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Kategori indeks massa tubuh Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat Sumber : Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 13    KERANGKA PEMIKIRAN Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun keatas. Lansia mengalami beberapa proses perubahan jangka panjang, berupa perubahanperubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang, dan mengalami perubahan mental penurunan. Perubahan tersebut memicu berbagai masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, salah satunya masalah pencernaan yaitu konstipasi. Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai anus. Konstipasi dapat diketahui dari beberapa gejala yang umum terjadi pada penderitanya, meliputi perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih. Konstipasi umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik rendah. Penurunan fungsi gigi-geligi pada lansia berakibat keengganan untuk mengkonsumsi makanan bertekstur keras seperti buah dan sayur yang merupakan sumber serat makanan. Penurunan rasa haus pada lansia juga otomatis akan menurunkan asupan cairan harian. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas ini akan mengakibatkan terjadinya konstipasi. Selain itu, konstipasi pada lansia juga sering disebabkan karena adanya penyakit atau gangguan pada usus besar dan konsumsi obat-obatan. Lansia yang memiliki riwayat penyakit hipertensi terbiasa untuk mengkonsumsi obatobatan anti hipertensi, dimana beberapa jenis obat anti hipertensi dapat menyebabkan konstipasi. Kerangka pemikiran penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 1.     13  14    Lansia Karakteristik Contoh ‐ Umur ‐ Jenis Kelamin ‐ Tingkat Pendidikan ‐ Status Gizi Asupan Energi, Protein, Karbohidrat, dan Lemak ‐ Penyakit dan gangguan pada usus besar ‐ Gangguan fungsional pada usus Konsumsi obat-obatan Penurunan fungsi fisik Kurangnya aktifitas fisik  - Asupan serat - Asupan cairan Konstipasi Keterangan : = Variabel yang tidak diteliti = Variabel yang diteliti Gambar 1 Kerangka pemikiran hubungan antara asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lanjut usia. 15    METODOLOGI PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain crossecsional study, semua data yang dibutuhkan dikumpulkan dalam satu waktu (Singarimbun & Effendi 2006). Penelitian dilakukan di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2011. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling berdasarkan pertimbangan bahwa RPSTW Sukma Raharja merupakan satu-satunya panti yang dikelola Pemda Kota Bogor, sedangkan PW Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta dipilih dengan pertimbangan jumlah lansia yang dirawat relatif lebih banyak dibandingkan dengan panti-panti swasta lainnya. Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Keseluruhan lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera masing-masing berjumlah 60 dan 62 orang. Penentuan jumlah contoh dilakukan dengan cara proporsional stratified random sampling. Jumlah contoh diperoleh dengan menentukan jumlah contoh minimal terlebih dahulu, yaitu 30 untuk masing-masing panti. Perhitungan jumlah contoh dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Perhitungan jumlah contoh Panti RPSTW Sukma Raharja PW Salam Sejahtera Total Jumlah lansia P L 59 1 31 31 Total Ukuran Contoh 60 62 122 60/122 x 60 = 30 62/122 x 60 = 31 61 Berdasarkan perhitungan, diperoleh jumlah contoh 61 orang dengan masing-masing 30 lansia dari RPSTW Sukma Raharja dan 31 lansia PW Salam Sejahtera. Penentuan lansia yang menjadi contoh penelitian ialah dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Tidak pikun 2. Masih bisa berkomunikasi dengan baik 3. Bersedia diwawancarai dan dilakukan penimbangan terhadap makanan yang dikonsumsi. Jenis dan Cara Pengambilan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Adapun data primer yang dikumpulkan meliputi data karakteristik 15  16    lansia (nama, umur, jenis kelamin, dan pendidikan), konsumsi pangan dan cairan, aktivitas fisik, status gizi, dan data kejadian konstipasi contoh. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi jumlah lansia yang berada di Panti, menu yang diberikan dari pihak panti, dan gambaran umum panti. Jenis dan cara pengumpulan data primer dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jenis dan Cara Pengumpulan Data No 1 Variabel Karakteristik Contoh Data Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan 2 Data asupan Konsumsi makanan dan minuman 3 Aktivitas Fisik 4 Status Gizi Jenis dan alokasi waktu untuk aktivitas fisik dan olah raga Berat badan dan tinggi badan 5 Kejadian Konstipasi Lokasi penelitian 6 Gejala-gejala konstipasi Gambaran umum Panti Cara Pengumpulan Data Wawancara menggunakan kuesioner. Penimbangan makanan (food weighing) yang disediakan panti dan recall makanan jajanan selama 2 hari berturut-turut, dengan mencatat jenis dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi mulai dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Wawancara menggunakan kuesioner dan recall 2x 24 jam. Pengukuran langsung menggunakan timbangan bath room merk Camry dengan ketelitian 0,1 kg dan kapasitas 120 kg. Pengukuran tinggi badan menggunakan Microtoise merk Design dengan ketelitian 0,1 cm dan kapasitas 200 cm. Wawancara langsung menggunakan kuesioner. Data profil panti Data konsumsi makanan dari kedua panti diperoleh dengan cara yang berbeda. Pada RPSTW Sukma Raharja, konsumsi nasi dan sayuran lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Berat atau jumlah pangan yang diambil diketahui dengan terlebih dahulu menimbang berat pangan yang diambil setiap per satuan alat (sendok sayur) yang dipakai oleh pihak panti saat memberikan makanan kepada penghuni panti. Hal tersebut karena petugas dapur RPSTW Sukma Raharja membagikan makanan secara prasmanan dan tidak disediakan tempat/wadah khusus. Lansia membawa piring/mangkuk milik sendiri sebagai tempat/wadah makanan mereka, sehingga porsi yang diterima penghuni panti cenderung berbeda, sedangkan makanan yang berupa potongan seperti pangan hewani dan nabati dilakukan penimbangan dengan cara mengambil 3 potong dari 17    jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Pada PW Salam Sejahtera, total konsumsi nasi lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Penimbangan dilakukan untuk lauk pauk dan sayuran, yaitu dengan cara mengambil 3 potong dari jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Recall 2x24 jam dilakukan pada kedua panti untuk makanan yang dikonsumsi lansia contoh diluar dari yang diberikan oleh pengelola panti, serta makanan yang dikonsumsi penghuni panti pada saat malam hari, karena peneliti hanya melakukan penelitian dari pagi hingga sore. Data konsumsi dan aktivitas fisik juga diperoleh dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap masing-masing lansia contoh. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi bias dari lansia contoh yang telah mengalami penurunan daya ingat. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh kemudian diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, cleaning data, tabulasi dan analisis data. Pengolahan dan analisis data menggunakan program Microsoft Excel dan Software Statistik. Data karakteristik. Data karakteristik contoh yang meliputi umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan, data asupan /asupan makanan dan minuman, data aktivitas fisik, dan data status gizi. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Data umur contoh yang diperoleh dikelompokkan menjadi tiga kelompok menurut WHO (1997) yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Data tingkat pendidikan contoh diolah dengan mengelompokkannya menjadi enam kategori yaitu tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat Perguruan Tinggi/D3. Data konsumsi. Data konsumsi yang diperoleh dikonversi dalam satuan gram kemudian dihitung kandungan energi, protein, karbohidrat, lemak, dan serat dengan menggunakan program nutrisurvey kemudian hasil akhirnya diperoleh rata-rata untuk 2 hari. Asupan energi dan protein. Angka kecukupan gizi contoh dihitung berdasarkan status gizi contoh. Apabila status gizi normal maka menggunakan Angka Kecukupan Gizi (2004) yang telah dikoreksi dengan berat badan aktual 18    contoh sehingga didapatkan angka kecukupan energi dan protein koreksi. Status gizi kurang tingkat berat dan lebih tingkat berat menggunakan berat badan ideal dalam menghitung angka kecukupan zat gizi contoh. Rumus yang digunakan dalam mengkoreksi angka kecukupan zat gizi adalah sebagai berikut (Hardinsyah & Tambunan 2004): AKG Koreksi= berat badan aktual (kg) x AKG berat badan standar dalam daftar AKG Angka kecukupan gizi kemudian digunakan untuk menghitung tingkat kecukupan zat gizi. Tingkat kecukupan zat gizi contoh diperoleh dengan menggunakan rumus (Hardinsyah & Tambunan 2004): Tingkat kecukupan zat gizi = asupan zat gizi aktual x 100% angka kecukupan gizi Penggolongan tingkat kecukupan dilakukan berdasarkan Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) yaitu defisit tingkat berat (<70% AKG), defisit tingkat sedang (70-79% AKG), defisit tingkat ringan (80-89% AKG), normal (90-119% AKG), dan kelebihan (≥120% AKG). Asupan serat. Data asupan serat contoh dibandingkan dengan kebutuhan serat orang dewasa dan dilakukan penggolongan tingkat konsumsi serat berdasarkan anjuran asupan serat per hari yaitu 20-30 g dengan kategori kurang (< 20 g), cukup (20-30 g), dan lebih (> 30 g) (Muchtadi 2009). Asupan cairan. Data asupan cairan dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan sumbernya, yaitu air yang berasal dari makanan, minuman, dan air metabolik. Asupan air dari makanan dihitung berdasarkan kandungan air dari rata-rata konsumsi pangan selama 2 hari. Kandungan air pangan diperoleh dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia dalam Mahmud et al (2009) dengan rumus: Kgij= {(Bj/100) x Gij x (BDDj/100)} Keterangan: Kgij = Kandungan zat-zat gizi-i dalam bahan makanan-j Bj = Berat makanan-j yang dikonsumsi (g) Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 g BDD bahan makanan-j BDDj = Bagian bahan makanan-j yang dapat dimakan Air metabolik merupakan air hasil metabolisme zat gizi pangan (karbohidrat, protein, lemak). Jumlah air yang dihasilkan dari proses metabolisme zat gizi dapat dilihat pada Tabel 4. Asupan cairan dihitung dari rata-rata konsumsi cairan dalam 2 hari penelitian baik dari makanan, minuman, maupun 19    air metabolik dibandingkan dengan kebutuhan cairan perhari dikali 100%. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Kemudian dilakukan penggolongan tingkat konsumsi cairan yang dianalogikan sama dengan pemenuhan zat gizi, yaitu kurang minum (<90%), cukup minum (90-110%), dan minum berlebih (>110%) (Depkes 2005). Tabel 4 Air metabolik Zat Gizi Karbohidrat Protein Lemak Air Hasil Metabolisme (ml/100 g zat gizi) 55 41 107 Sumber : Muchtadi et al (1993) Aktivitas fisik. Data aktivitas fisik didapatkan dengan metode recall 2x24 jam dan pengeluaran energi aktivitas fisik dihitung berdasarkan jenis kegiatan dengan menggunakan faktor kelipatan dan EMB untuk tiap jenis kegiatan. Menurut FAO/WHO/UNU (2001) besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang dalam 24 jam dinyatakan dlam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut: PAL= ∑(PAR ×alokasi waktu tiap aktivitas) 24 jam Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) PAR= Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu) Tingkat aktivitas fisik kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu ringan (1,40≤ PAL≤1,69), sedang (1,70≤PAL≤1,99), dan berat (2,00≤PAL≤2,39) (FAO/WHO/UNU 2001). Jenis aktivitas fisik yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada FAO/WHO/UNU (2001) dengan nilai PAR yang berbeda dalam setiap jenis kegiatan kkal per menitnya antara laki-laki dan perempuan. Nilai PAR yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Keseimbangan energi diperoleh dengan menghitung selisih antara energi yang didapat dari konsumsi pangan (asupan energi) dan pengeluaran energi dari aktivitas fisik, masing-masing dalam satuan kalori. Keseimbangan energi dikatakan positif apabila asupan energi lebih besar dari pengeluaran energi, dan dikatakan negatif bila asupan energi lebih kecil dari pengeluaran energi. 20    Perhitungan pengeluaran energi aktivitas fisik dapat dilihat dengan rumus sebagai berikut: Pengeluaran Energi = PAL x EMB Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) EMB = Energi Metabolisme Basal Penentuan nilai EMB didasarkan pada umur dan BB disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Rumus FAO/WHO/UNU untuk menentukan EMB Kelompok Umur 0–3 3 – 10 10 – 18 18 – 30 30 – 60 ≥ 60 Sumber: Almatsier S (2004) EMB (kkal/hari) Laki-laki Perempuan 60,9 BB - 54 61,0 BB – 51 22,7 BB + 495 22,5 BB + 499 17,5 BB + 651 12,2 BB + 746 15,3 BB + 679 14,7 BB + 496 11,6 BB + 879 8,7 BB + 829 13,5 BB + 487 10,5 BB + 596 Status gizi. Status gizi contoh diukur berdasarkan indeks massa tubuh yang terdiri dari 5 kategori menurut Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) yang dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Kategori status gizi berdasarkan IMT Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 Data IMT diperoleh dengan terlebih dahulu mengetahui tinggi dan berat badan lansia. Tinggi dan berat badan lansia diperoleh dengan pengukuran langsung terhadap lansia contoh. Akan tetapi, ada beberapa lansia contoh dikedua panti yangmengalami kelainan tulang yaitu 4 orang di RPSTW Sukma Raharja dan 10 orang di PW Salam Sejahtera, sehingga digunakan pengukuran TL yang dikonversi ke dalam TB dengan menggunakan rumus Chumlea (1984). Konstipasi. Data konstipasi diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner mengenai gejala-gejala dasar konstipasi seperti perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih dengan jawaban ya atau tidak. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi, rata-rata dan standard deviasi. Data 21    yang dianalisis secara deskriptif adalah data karakteristik contoh, asupan zat gizi, aktivitas fisik, status gizi dan kejadian konstipasi contoh. Untuk mengetahui perbedaan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, serat, cairan, aktivitas fisik, dan status gizi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam sejahtera yang dikelola pihak swasta dianalisis dengan independent sample t-test. Sedangakan analisis data yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel adalah uji korelasi Rank Spearman. 22    Definisi Operasional Contoh adalah lansia di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera laki-laki dan perempuan berusia ≥ 60 tahun. Asupan serat adalah asupan serat yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan dan minuman dalam satuan gram sehari. Asupan cairan adalah asupan cairan yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan, minuman, dan air metabolik dalam satuan liter sehari. Aktivitas fisik adalah data recall semua aktivitas fisik yang dilakukan contoh selama 24 jam atau 1 hari penuh. Gejala-gejala konstipasi adalah tanda-tanda konstipasi yang dialami contoh berupa gangguan buang air besar dengan gejala tidak BAB selama 2 hari atau lebih, perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB. Karakteristik sosial adalah karakterisitk lansia contoh yang meliputi umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Tingkat Pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang pernah diperoleh oleh contoh. Status gizi contoh adalah keadaan gizi contoh yang diukur dari BB dan TB yang dikonversikan dan dikategorikan berdasarkan IMT contoh. Asupan energi adalah jumlah rata-rata energi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan kkal dalam sehari. Asupan protein adalah jumlah rata-rata protein dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan karbohidrat adalah jumlah rata-rata karbohidrat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan lemak adalah jumlah rata-rata lemak dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. 23    HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Kota Bogor adalah salah satu panti dibawah lembaga atau satuan kerja yang berfungsi untuk memberikan pelayanan sosial bagi penyandang masalah sosial Lanjut Usia terlantar. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Bogor terbentuk sejak tahun 1957 diatas sebidang tanah seluas 1810 m2. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Kota Bogor merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan yang berfungsi memberikan pelayanan sosial bagi para lansia terlantar dan tidak mampu berdasarkan profesi pekerjaan sosial. Kedudukan RPSTW Sukma Raharja Bogor sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 38 Tahun 1997 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja RPSTW Sosial di Lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan keputusan Gubernur Jawa Barat No. 29 tahun 2003 tentang Pembentukan Instalasi Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Sosial provinsi Jawa Barat. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No. 113 Tahun 2009 tentang Pembentukan Sub Unit Pelaksanaan Teknis Dinas pada Dinas sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu RPSTW Bogor diubah menjadi Sub Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki RPSTW Sukma Raharja saat ini berupa bangunan yaitu 1 unit kantor, 4 unit asrama, 1 unit aula, 1 unit gazebo, 1 unit Mushola, 3 unit kamar mandi, 3 unit kamar emergency, 1 unit dapur, dan 1 unit rumah dinas Kepala Panti. Jumlah penghuni yang dilayani di RPSTW Sukma Raharja Bogor sebanyak 60 orang, terdiri dari 59 Lansia wanita dan 1 orang Lansia laki-laki. Jumlah pegawai sebanyak 16 orang termasuk 10 tenaga TKK yaitu 6 orang Pegawai Negeri Sipil, 3 orang perawat, 1 orang pramu wisma, 1 orang pramu Wreda, 2 orang petugas keamanan, dan 2 orang petugas dapur. 23 24    Beberapa persyaratan untuk bisa diterima di RPSTW Sukma Raharja Bogor yaitu: 1. Wanita berusia minimal 60 tahun keatas 2. Bukan Pensiun PNS/Polri/TNI 3. Membawa surat keterangan sehat dari dokter 4. Mengisi formulir permohonan 5. Menyerahkan surat keterangan tidak mampu dari Desa/ Kelurahan setempat 6. Membawa surat rujukan dari Dinas Sosial Kabupaten/ Kota 7. Menyerahkan KTP, fotcopy KK, foto terbaru ukuran 3x4 2 lembar. Adapun pembiayaan dibebankan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat/APBD Tk. I yang menyantuni sebanyak 60 orang Lansia. Pegelolaan makanan di RPSTW Sukma Raharja dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi dilakukan untuk pangan sumber protein hewani dan nabati, seperti ayam, ikan, tahu, dan tempe. Nasi diambil sendiri oleh penghuni panti, sedangkan sayuran diberikan secara langsung oleh petugas dapur pada saat pembagian makanan. Penghuni panti menggunakan tempat/piring/mangkuk masing-masing untuk mengambil makanan yang diberikan oleh pengelola. Panti Wreda Salam Sejahtera Awal tahun 1996 diadakan pertemuan dengan diberi nama “Ikatan Kekerabatan/Kekeluargaan Tio Chiu”. Pertemuan ini menghasilkan gagasangagasan, salah satunya muncul gagasan mulia dengan tujuan untuk mengadakan bentuk kegiatan yang lebih berarti, bukan untuk kalangan terbatas tetapi untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Gagasan ini yaitu dengan membangun dan membentuk sebuah panti yang diberi nama Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera dibawah naungan Yayasan Kasih Mulia Sejahtera Panti Wreda dan resmi berdiri pada tanggal 12 Desember 1996. Lokasi PW Salam Sejahtera Kota Bogor cukup strategis baik untuk hubungan dengan masyarakat lingkungan sekitarnya, pusat perbelanjaan dan Pemerintahan Kota Bogor, sehingga penghuni panti tidak merasa diasingkan dan dapat menikmati hari tuannya dengan diliputi rasa ketentraman lahir batin. PW Salam Sejahtera Kota Bogor terletak di Jalan Padjajaran belakang Gedung Olympic, diapit oleh dua gedung pertokoan yang dibelakangnya terdapat perumahan masyarakat. 25    Panti Wreda Salam Sejahtera dibangun diatas sebidang tanah seluas ± 3.642 m2 yang didirikan oleh 10 orang yaitu salah satunya Bapak Eddy Mulianto sebagai ketua. Adapun bangunan tersebut terdiri dari ruang sekretariat, ruang tamu, ruang perawat, balai pengobatan/poliklinik, ruang pertemuan yang biasanya dipakai sebagai tempat ibadah, kamar berjumlah 60 unit yang dibagi menjadi 3 wisma yaitu wisma A dengan 25 unit kamar, wisma B 8 unit kamar, dan wisma C 27 unit kamar yang dikhususkan untuk lansia laki-laki. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi dan WC tersendiri. Ruang makan yang dilengkapi meja dan kursi serta perlengkapan lainnya, dapur dan ruang cuci dengan ukuran 6,5x6 m2 dan ruang penyimpanan bahan makanan 5x5 m2. Jumlah karyawan di PW Salam Sejahtera yaitu 24 orang yang terdiri dari 5 orang bagian pengelola makanan, 6 orang suster, 2 orang Ahli Madya Fisioterapi, 4 orang satpam, 2 orang bagian administrasi, 3 orang bagian kebersihan, 1 orang tukang cuci dan 1 orang driver. Adapun struktur organisasi di PW Salam Sejahtera dapat dilihat pada Gambar 2. Ketua pengurus Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Wakil Sekretaris Wakil Bendahara Ketua Pelaksana Panti Pelaksana Tata Usaha Bendahara Gambar 2 Struktur Organisasi Panti Wreda Salam Sejahtera Bogor Lansia yang akan masuk dan tinggal di PW Salam Sejahtera harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan panti, sekaligus dengan biaya sewa kamar tiap bulannya. Harga sewa kamar disesuaikan dengan luas kamar. Beberapa syarat untuk menjadi penghuni di PW Salam Sejahtera yaitu: 1. Berusia diatas 60 tahun dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. 26    2. Ada anak atau keluarga yang bertanggung jawab atas iuran bulanan atau biaya pengobatan bila diperlukan. 3. Surat keterangan kesehatan dari dokter atau rumah sakit (bila diperlukan). Pengelolaan makanan di PW Salam Sejahtera dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi tidak dilakukan dengan penimbangan khusus, tapi dengan pertimbangan bentuk potongan yang dianggap sama untuk setiap potongannya. Pembagian makanan berupa laukpauk dan sayuran kepada penghuni panti menggunakan tempat yang disediakan pengelola, sehingga dapat diduga semua pembagian dalam porsi yang sama, sedangkan penghuni panti dapat mengambil sendiri porsi nasi yang diinginkan. Karakteristik Contoh Lanjut usia menurut WHO (1997) dikelompokkan menjadi tiga yaitu usia lanjut (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Sebaran usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan contoh pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh Karakteristik contoh Usia: - Usia lanjut (60-74) - Usia tua (75-90) Total Rata-rata (tahun) Jenis Kelamin : - Laki-laki - Perempuan Total Tingkat Pendidikan - Tidak Sekolah - Tidak Tamat SD - SD/Sederajat - SMP/Sederajat - SMA/Sederajat - D3 Total Sukma Raharja n % 27 3 30 90 10 100 Salam Sejahtera n % 9 22 31 67±5 29 71 100 Total n % 36 25 61 59 41 100 71±8 76±7 0 30 30 0 100 100 15 16 31 48,4 51,6 100 15 46 61 24,6 75,4 100 5 11 4 4 5 1 30 16,7 36,7 13,3 13,3 16,7 3,3 100 0 7 4 7 11 2 31 0 22,6 12,9 22,6 35,5 6,5 100 5 18 8 11 16 3 61 8,2 29,5 13,1 18,0 26,2 4,9 100 Usia. Tabel 7 menunjukkan bahwa secara keseluruhan contoh berada pada rentang usia 60-74 tahun yaitu 59%. Akan tetapi, lansia di PW Salam Sejahtera lebih banyak pada kelompok usia tua (75-90 tahun) yaitu sebesar 71%, 27    sedangkan di Sukma Raharja 90% responden termasuk kelompok usia lanjut (60-74 tahun). Usia lansia contoh di Sukma Raharja berada dalam rentang 60-79 tahun dengan rata-rata usia 67±5 tahun, dan lansia contoh di Salam Sejahtera berada dalam rentang usia 60-85 tahun dengan rata-rata usia 76±7 tahun. Jenis Kelamin. Contoh yang berasal dari Sukma Raharja 100% berjenis kelamin perempuan, hal ini dikarenakan populasi pada tersebut semuanya berjenis kelamin perempuan. Pada Salam Sejahtera, contoh tersebar secara merata antara contoh berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, yaitu masingmasing 48,4% dan 54,6%. Tingkat Pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang bisa diperoleh dari pendidikan, terutama pendidikan formal. Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pendidikan lansia contoh sangat beragam. Persentase terbesar terdapat pada kelompok tingkat pendidikan tidak tamat SD yaitu 29,5%. Lansia contoh di Sukma Raharja tingkat pendidikan terbesar adalah tidak tamat SD yaitu sebanyak 36,7% contoh. Hal ini dikarenakan tidak adanya biaya untuk bersekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan lansia contoh di Salam Sejahtera, persentase tingkat pendidikan terbesar adalah SMA/Sederajat yaitu 35,5%. Status Gizi Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Status gizi seseorang dapat ditentukan dengan berbagai jenis teknik penilaian, salah satunya dengan IMT. Status gizi lansia contoh dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 8. Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan status gizi berdasarkan IMT Status Gizi (IMT) Kurus tingkat berat (<17,0) Kurus tingkat ringan (17,0-18,4) Normal(18,5-25,0) Gemuk tingkat ringan (25,1-27,0) Gemuk tingkat berat (>27,0) Total Rata-rata (IMT) Sukma Raharja n % 9 30 4 13,3 13 43,3 2 6,7 2 6,7 30 100 20±5 Salam Sejahtera n % 2 6,5 4 12,9 15 48,4 3 9,7 7 22,6 31 100 24±5 Total n % 11 18,0 8 13,1 28 45,9 5 8,2 9 14,8 61 100 p=0,001 28    Tabel 8 menunjukkan bahwa secara keseluruhan status gizi lansia contoh adalah normal yaitu sebesar 45,9%. Pada kedua lokasi tersebut pun sama, yaitu masing-masing pada Sukma Raharja sebesar 43,3% lansia contoh berstatus gizi normal dan 48,4% lansia contoh di Salam Sejahtera. Akan tetapi, persentase terbesar kedua menunjukkan masih terdapat 30% lansia contoh di Sukma Raharja yang memiliki status gizi kurus tingkat berat dengan IMT terendah 14,1 kg/m2, sedangkan pada lansia contoh di Salam Sejahtera persentase terbesar kedua adalah gemuk tingkat berat dengan IMT tertinggi 39,6 kg/m2. Hal ini menunjukkan adanya masalah gizi ganda pada lansia contoh di kedua lokasi penelitian. Sejalan dengan persentase tersebut, hasil uji beda t juga menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara IMT lansia Sukma Raharja dan IMT lansia Salam Sejahtera. Asupan Energi dan Zat Gizi Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992). Konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi lansia contoh dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 menunjukkan bahwa rata-rata asupan energi lansia dari Sukma Raharja adalah 1717±245 kkal/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 1585±231 kkal/hari dengan konstribusi tertinggi berasal dari nasi. Asupan protein tertinggi pada kedua lokasi berasal dari protein hewani. Rata-rata asupan protein lansia dari Sukma Raharja adalah 49,9±7,5 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 47,7±5,6 gr/hari. Rata-rata asupan lemak lansia dari Sukma Raharja adalah 58,8±12,0 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 63,9±7,4 gr/hari. Asupan lemak tertinggi diperoleh dari bahan pangan minyak dan lemak. Rata-rata asupan karbohidrat lansia dari Sukma Raharja adalah 253,7±39,2 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 208,3±38,3 gr/hari, kontribusi terbesar diperoleh dari nasi. 1    Tabel 9 Konsumsi pangan dan asupan energi serta zat gizi lansia contoh Jenis Pangan Nasi Olahan tepung Singkong Jagung Manis Havermout Protein Hewani - Daging Sapi - Daging Ayam - Daging Babi - Ikan - Telur Ayam - Hati Protein Nabati Sayuran Buah Minyak dan lemak Susu dan olahannya Makanan Jajanan Gula dan kecap Total Berat (g) 385 14 38 13 0 29 0 0 60 22 0 52 216 169 42 10 151 3 E (kkal) 501 48 91 14 0 64 0 0 73 41 0 107 68 120 230 46 302 12 1717 Sukma Raharja P L KH (g) (g) (g) 9,2 0,8 110,1 1,3 0,1 9,8 1,3 0,1 11,7 0,4 0,2 3,3 0,0 0,0 0,0 3,2 0 0 11,1 2,5 0 7,3 3,8 1,5 0,3 2,4 5,6 0,0 49,9 4,7 0 0 4,9 3,2 0 4,5 0,9 0,7 25,4 1,9 11,4 0,0 58,8 0,0 0 0 0,0 0,3 0 5,1 13,8 27,0 0,9 5,0 64,0 2,8 253,7 Serat (g) 1,9 0 1 0,4 0 0 0 0 0 0 0 1 5 4 0,4 0 1 0 13,9 Berat (g) 375 14 28 9 1 26 9 23 0 2 32 28 212 50 39 6 103 7 E (kkal) 488 42 37 10 4 Salam Sejahtera P L KH (g) (g) (g) 9,0 0,8 107,3 1,3 0,3 8,0 0,3 0,1 8,9 0,3 0,1 2,3 0,1 0,1 0,6 69,9 24,8 101,1 0 3,1 50,2 46 92 22 268 21 281 11 1585 6,5 2,3 2,4 0 0,3 7,9 4,4 4,3 0,2 0,0 1,0 5,7 0,5 47,7 4,7 1,7 6,1 0 0,2 1,8 2,0 0,4 0,1 25,7 0,5 16,1 0,0 63,9 0,0 0,0 0,0 0 0,0 0,3 3,4 20,3 5,0 0,0 3,1 34,7 2,3 208,3 Serat (g) 1,7 0,3 0,4 0,3 0,1 0 0,2 0 0 0 0 0,4 4,7 0,6 0,0 0,0 0,4 0,0 9,1 29 30    Asupan Energi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata AKE lansia dari Sukma Raharja adalah 1657±209 kkal/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 1841±338 kkal/hari. Jika dibandingkan dengan asupan energi, maka lansia dari Sukma Raharja sudah memenuhi angka kecukupan energi tetapi berbeda dengan lansia dari Salam Sejahtera yang belum memenuhi angka kecukupan energi yang dianjurkan. Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi lansia disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan energi lansia Energi Asupan Energi (kkal) Angka Kecukupan Energi (kkal/hari) Tingkat Kecukupan Energi (%) Rata-rata ± SD Sukma Raharja Salam Sejahtera 1717±245 1585±231 1657±209 1841±338 104,3±14,4 87,5±13,6 p value 0,021 0,023 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan energi (TKE), rata-rata TKE lansia dari Sukma Raharja sebesar 104,3% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 87,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa lansia Sukma Raharja termasuk dalam kategori normal, sedangkan lansia Salam Sejahtera termasuk dalam kategori defisit tingkat ringan. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan, baik pada asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi Tingkat kecukupan energi (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 0 0 5 16,7 21 70,0 4 13,3 30 100 Salam Sejahtera n % 4 12,9 8 25,8 6 19,4 13 41,9 0 0 31 100 Total n 4 8 11 33 4 61 % 6,6 13,0 18,0 55,7 6,6 100 Secara keseluruhan, terdapat 55,7% lansia contoh telah memiliki tingkat kecukupan energi normal. Demikian halnya dengan tingkat kecukupan energi lansia contoh di Sukma Raharja, sebagian besar (70,0%) termasuk dalam kategori normal. Persentase terbesar kedua (16,7%) yaitu defisit tingkat ringan dengan %AKG terendah 80% AKG. Tingkat kecukupan energi lansia contoh di Salam Sejahtera sebesar 41,9% termasuk dalam kategori normal. Akan tetapi, 31    masih terdapat 12,9% lansia contoh memiliki tingkat kecukupan energi defisit tingkat berat dengan tingkat kecukupan terendah yaitu 34% AKG. Asupan Protein Rata-rata angka kecukupan protein lansia dari Sukma Raharja adalah 42,5±6,0 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 47,7±5,6 gr/hari. Jika dibandingkan dengan asupan protein, maka lansia dari Sukma Raharja sudah memenuhi angka kecukupan protein tetapi berbeda dengan lansia dari Salam Sejahtera yang belum memenuhi angka kecukupan protein yang dianjurkan. Rata-rata asupan angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein lansia disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan protein lansia Protein Asupan Protein (gr) Angka Kecukupan Protein (gr/hari) Tingkat Kecukupan Protein (%) Rata-rata ± SD Sukma Raharja Salam Sejahtera 49,9±7,5 46,8±8,0 42,5±6,0 47,7±5,6 118,4±16,8 103,7±14,8 p value 0,110 0,034 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan protein (TKP), rata-rata TKP lansia dari Sukma Raharja sebesar 118,4% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 103,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kecukupan protein lansia dari kedua panti termasuk dalam kategori normal. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05), sedangkan untuk asupan protein tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Secara rinci, sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi dapat dilihat pada Tabel 13. Lebih dari separuh (59,0%) lansia contoh memiliki tingkat kecukupan protein normal. Begitu juga dengan tingkat kecukupan protein lansia contoh di Sukma Raharja sebagian besar (56,7%) termasuk dalam kategori normal, dan Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan protein Tingkat kecukupan Protein (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 0 0 0 0 17 56,7 13 43,3 30 100 Salam Sejahtera n % 2 6,5 1 3,2 4 12,9 19 61,3 5 16,1 31 100 Total n 2 1 4 36 18 61 % 3,3 1,6 6,6 59,0 29,5 100 32    sisanya (43,3%) memiliki tingkat kecukupan protein lebih. Tingkat kecukupan protein tertinggi mencapai 154% AKG. Berbeda halnya dengan lansia contoh di Sukma Raharja yang tersebar dalam dua kategori, tingkat kecukupan protein di Salam Sejahtera tersebar dalam 5 kategori. Sebagian besar (61,3%) tingkat kecukupan energi lansia contoh di Salam Sejahtera termasuk dalam kategori normal. Akan tetapi masih terdapat 6,5% lansia contoh memiliki asupan defisit tingkat berat dengan tingkat kecukupan protein 53% AKG. Asupan Karbohidrat Menurut Hardinsyah dan Tambunan (2004) secara umum komposisi energi dari karbohidrat adalah sebesar 50-65%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata angka kecukupan karbohidrat lansia Sukma Raharja sebesar 267,7±33,8 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 298,4±55,4 gr. Jika dibandingkan dengan asupan karbohidrat, maka konsumsi kedua kelompok lansia belum memenuhi angka kecukupan karbohidrat yang dianjurkan. Tabel 14 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan karbohidrat lansia Karbohidrat Asupan Karbohidrat (gr) Angka Kecukupan Karbohidrat (gr/hari) Tingkat Kecukupan Karbohidrat (%) Rata-rata ± SD Sukma Salam Raharja Sejahtera 253,7±39,2 208,3±38,3 267,7±33,8 293,2 ± 51,9 95,3±13,5 76,8±12,4 p value 0,000 0,023 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat, rata-rata tingkat kecukupan lansia Sukma Raharja sebesar 95,3% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 76,8%. Hasil ini menunjukkan bahwa lansia Sukma Raharja termasuk dalam kategori normal, sedangkan lansia Salam Sejahtera termasuk dalam kategori defisit tingkat sedang. Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat pada lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda baik secara angka maupun secara statistik. Berdasarkan uji beda t terdapat perbedaan asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat yang signifikan antara kedua kelompok tersebut (p<0,05). Tabel 15 menggambarkan asupan karbohidrat lansia contoh. Secara keseluruhan persentase terbesar yaitu 34,4% lansia contoh termasuk dalam tingkat kecukupan karbohidrat normal. Tingkat kecukupan karbohidrat lansia contoh di Sukma Raharja sebagian besar (60,0%) termasuk dalam kategori normal, namun masih terdapat 13,3% lansia contoh memiliki tingkat kecukupan karbohidrat defisit tingkat sedang dengan persentase tingkat kecukupan terendah 33    Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat Tingkat kecukupan karbohidrat (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 4 13,3 7 23,4 18 60,0 1 3,3 30 100 Salam Sejahtera n % 15 48,4 10 32,3 3 9,7 3 9,7 0 0 31 100 Total n 15 14 10 21 1 61 % 24,6 23,0 16,4 34,4 1,6 100 75% AKG. Berbeda dengan asupan karbohidrat lansia contoh di Salam Sejahtera yang sebagian besar termasuk dalam kategri defisit yaitu 90,4%, yang tersebar pada defisit tingkat ringan (9,7%), diikuti defisit tingkat sedang dan berat masingmasing 32,3% dan 48,4%. Tingkat kecukupan terendah yaitu 32%. Asupan Lemak Menurut Hardinsyah & Tambunan (2004) dalam WNPG (2004), yaitu kontribusi energi dari lemak sebaiknya tidak melebihi dari 25% atau 56 gr/hari. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata asupan lemak lansia pada kedua panti lebih besar dibandingkan dengan rata-rata angka kecukupan yang dianjurkan dan tergolong dalam tingkat kecukupan lebih yaitu masing-masing sebesar 129,0% dan 127,5%. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada angka kecukupan lemak antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Sedangkan untuk asupan lemak dan tingkat kecukupan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan lemak lansia disajikan pada Tabel 16. Tabel 16 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan lemak lansia Lemak Asupan Lemak (gr) Angka Kecukupan Lemak (gr/hari) Tingkat Kecukupan Lemak (%) Rata-rata ± SD Sukma Salam Raharja Sejahtera 58,8±12,0 63,9±7,4 46,0±5,8 51,1±9,4 129,0±26,9 127,5±20,6 p value 0,269 0,023 0,503 Secara keseluruhan tingkat kecukupan lansia dikedua lokasi termasuk dalam kategori lebih (62,3%). Hal tersebut dikarenakan pengolahan makanan dikedua lokasi didominasi dengan digoreng. Selain itu, makanan jajanan yang dikonsumsi lansia contoh juga berupa jajanan gorengan. Sebagian besar (66,7%) asupan lemak lansia contoh di Sukma Raharja termasuk dalam kategori lebih dan hanya 26,7% asupan lemak normal dengan tingkat kecukupan tertinggi yaitu 184% AKG. Sama halnya dengan asupan lemak lansia contoh di Salam 34    Sejahtera yang sebagian besar (58,1%) termasuk dalam kategori lebih, sedangkan asupan lemak normal sebanyak 38,7%. Tingkat kecukupan tertinggi yaitu 173% AKG. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan lemak dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan lemak Tingkat kecukupan lemak (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Rata-rata asupan energi Sukma Raharja n % 1 3,3 0 0 1 3,3 8 26,7 20 66,7 30 100 dan zat Salam Sejahtera n % 1 3,3 0 0 0 0 12 38,7 18 58,1 31 100 gizi Total n 2 0 1 20 38 61 lansia contoh % 3,3 0 1,6 32,8 62,3 100 dapat menggambarkan status gizi lansia contoh saat wawancara. Berdasarkan uji statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan status gizi lansia. Namun, lansia contoh di Sukma Raharja memiliki kecenderungan rata-rata asupan energi dan zat gizi yang semakin meningkat sesuai dengan status gizi lansia. Berbeda dengan ratarata asupan pada lansia contoh di Salam Sejahtera, lansia contoh dengan status gizi gemuk tingkat berat memiliki asupan lebih rendah daripada asupan lansia dengan status gizi normal yaitu masing masing 1519 kkal dan 1623 kkal. Hal tersebut dikarenakan lansia contoh berstatus gizi gemuk sudah mulai mengurangi makannya untuk mengontrol berat badan mereka. Secara rinci, ratarata asupan energi dan zat gizi lansia contoh berdasarkan status gizi dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18 Rata-rata asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak lansia contoh berdasarkan status gizi Status Gizi Rata-rata asupan Sukma Raharja Salam Sejahtera Energi (kkal) Protein (gr) KH (gr) Lemak (gr) Energi (kkal) Protein (gr) KH (gr) Lemak (gr) Kurus Berat 1577 46,7 236,7 52,5 873 30,2 111,3 34,6 Kurus Ringan 1590 45,4 230 57,4 1416 43,9 185,0 56,9 Normal 1756 51,6 259,9 59,5 1623 49 215 64 Gemuk Ringan 1965 51 296 68 1837 54,4 245,1 72,0 Gemuk Berat 2007 59 283 74 1519 45,2 197,6 62,7 35    Asupan Serat Serat adalah zat non-gizi yang termasuk sebagai salah satu jenis kelompok polisakarida atau karbohidrat kompleks. Serat terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu dan membentuk rantai kimia panjang, sehingga sukar dicerna oleh enzim pencernaan (Soelistijani 2002). Asupan serat seseorang dihitung berdasarkan konsumsi semua jenis makanan lansia contoh dalam dua hari yang kemudian dirata-ratakan dan dikonversi ke dalam satuan berat (gram). Rata-rata asupan serat contoh di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masing-masing adalah 13,9±1,4 gr dan 9,1±2,6 gr. Hal tersebut berarti bahwa asupan serat lansia contoh masih sangat kurang. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan serat dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan serat Tingkat kecukupan serat Kurang (<20 g) Cukup (20-30 g) Lebih (>30 g) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 30 100 0 0 0 0 30 100 13,9±1,4 Salam Sejahtera n % 31 100 0 0 0 0 31 100 9,1±2,6 Total n % 61 100 0 0 0 0 61 100 p=0,925 Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa tingkat kecukupan serat contoh 100% masuk dalam kategori kurang, baik lansia contoh di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Rumu (2007) menunjukkan bahwa pola makan lansia dipengaruhi gaya hidup dan faktor budaya, sehingga makanannya menjurus ke arah santapan siap saji yang tinggi kandungan lemak, garam, tapi rendah kandungan serat. Lansia yang hidup bebas bersama keluarganya dan memperoleh gaji pensiun selalu mampu memenuhi kebutuhan pangannya, sedangkan lansia yang hidup di Panti Wreda dengan tidak adanya pendapatan dan keterbatasan dana dari pihak panti berpengaruh pada rendahnya kualitas menu yang berdampak pada penurunan dan penerimaan lansia terhadap makanan yang disajikan. Selain itu, baik lansia contoh di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera masih kurang dalam konsumsi buah dan sayur dengan alasan kurang suka dan faktor fisiologis yaitu gigi yang sudah tidak kuat untuk mengunyah makanan yang bertekstur keras. Berdasarkan uji beda juga diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan serat lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera (p>0,05). 36    Asupan Cairan Asupan cairan adalah total konsumsi cairan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh selama dilakukan recall 2x24 jam, serta air metabolik. Recall dilakukan pada hari biasa yang kemudian dihitung konsumsi rata-rata pada kedua hari tersebut. Rata-rata konsumsi cairan lansia contoh Sukma Raharja sebesar 1835±273 ml, sedangkan lansia contoh Salam Sejahtera sebesar 1847±340 ml. Asupan cairan lansia contoh berdasarkan sumbernya dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20 Rata-rata asupan cairan lansia contoh berdasarkan sumbernya Sumber air Minuman Makanan Air metabolik Total Sukma Raharja (ml) 1052±263 560±56 223±32 1835±273 Salam Sejahtera (ml) 1205±298 444±82 198±39 1847±340 Kontribusi asupan cairan lansia contoh terbesar baik dari Sukma Raharja maupun Salam Sejahtera adalah dari minuman yaitu masing-masing 57% dan 65% dari asupan cairan total. Minuman yang sering dikonsumsi adalah air putih, susu, teh, dan kopi. Akan tetapi, tidak semua lansia mengkonsumsi minuman selain air putih, karena contoh tidak menyukai minuman tersebut. Tabel 21 Rata-rata kebutuhan, asupan, dan tingkat pemenuhan cairan lansia Cairan Kebutuhan (ml) Asupan (ml) Tingkat pemenuhan (%) Sukma Raharja 1637±267 1835±273 115±26 Salam Sejahtera 1812±390 1847±340 106±29 p value 0,048 0,878 0,228 Tabel 21 menunjukkan rata-rata kebutuhan, asupan, dan tingkat pemenuhan cairan lansia dikedua lokasi penelitian. Dari tabel diketahui bahwa rata-rata asupan cairan lansia dikedua lokasi penelitian sudah melebihi kebutuhan rata-rata lansia tersebut. Kebutuhan cairan lansia diperoleh dengan menggunakan perhitungan yang dianjurkan WHO (2002), sehingga diperoleh rata-rata kebutuhan cairan lansia di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masing-masing adalah 1637±267 ml dan 1812±390 ml. Persentase rata-rata pemenuhan konsumsi cairan lansia contoh Sukma Raharja 115±26% (minum berlebih) lebih besar daripada Salam Sejahtera yang memiliki persentase ratarata sebesar 106±29% (cukup minum). Hal ini sesuai dengan sebaran lansia contoh di Sukma Raharja yang lebih dari separuh (56,7%) termasuk dalam kategori tingkat pemenuhan lebih, sedangkan di Salam Sejahtera hampir sama antara kategori normal dan lebih yaitu masing-masing 35,5% dan 38,7%. 37    Secara keseluruhan, 47,5% lansia contoh telah mengkonsumsi cairan secara cukup, akan tetapi masih ada yang kurang mengkonsumsi cairan yaitu sebesar 31,1%. Kurangnya konsumsi cairan disebabkan oleh keengganan contoh untuk minum dengan alasan tidak merasa haus. Contoh biasanya hanya minum pada saat setelah makan. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pemenuhan asupan cairan pada lansia contoh dikedua lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pemenuhan asupan cairan Tingkat pemenuhan asupan cairan Kurang (<90%) Cukup (90-110%) Lebih (>110%) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 5 16,7 8 26,7 17 56,7 30 100 1835±273 ml Salam Sejahtera n % 8 25,8 11 35,5 12 38,7 31 100 1847±340 ml Total n % 13 21,3 19 31,1 29 47,5 61 100 p=0,228 Akan tetapi, meskipun terdapat perbedaan persentase rata-rata tingkat pemenuhan konsumsi cairan lansia contoh, hasil uji beda t menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara asupan cairan lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera. Hal ini dikarenakan selisih perbedaan tingkat pemenuhan asupan cairan dikedua lokasi tersebut yang tidak berbeda jauh yaitu hanya selisih 9%. Aktivitas Fisik Menurut Rosmalina dan Permaesih (2008) aktivitas fisik merupakan faktor utama yang membedakan kebutuhan energi, selain itu juga berat badan dan umur. Aktivitas fisik sehari mencakup lama dan jenis aktivitas yang biasa dilakukan akan mempengaruhi jumlah energi yang dikeluarkan. Jenis aktivitas fisik yang dilakukan lansia contoh dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23 menunjukkan alokasi waktu terbesar yang digunakan lansia contoh adalah untuk tidur. Alokasi waktu tidur baik di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera tidak jauh berbeda, yaitu masing-masing 6,4±1,1 dan 7,2±1,6 atau selisih 0,8 jam. Setelah beraktivitas seharian, tubuh memerlukan istirahat yang cukup yang artinya tidak berlebihan dan kekurangan. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang yaitu umumnya 6-8 jam perhari. Menurut penelitian Andriani (2008), seseorang yang tidur kurang dari 5 jam setiap malamnya memiliki risiko lebih tinggi 39% terkena penyakit jantung dibandingkan 38    Tabel 23 Jenis Aktivitas fisik yang yang dilakukan contoh No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Aktivitas Fisik Tidur Berbaring Duduk : - Duduk diam - Duduk sambil ngobrol - Duduk sambil menonton TV - Duduk sambil membaca Berpakaian Kebersihan diri Makan dan Minum Berjalan Mencuci baju/piring Menyapu Mengepel Menjahit Menampi Olahraga Menari Ibadah Alokasi waktu (Jam) Sukma Raharja Salam Sejahtera 6,4±1,1 7,2±1,6 2,0±1,2 2,4±1,3 0,5±0,1 5,5±1,5 0,6±0,3 4,1±2,0 1,5±1,2 3,3±2,3 0,3±1,3 0,7±0,8 0,6±0,2 0,9±0,3 1,5±0,2 1,2±0,5 0,7±0,6 0,2±0,2 0,0±0,2 0,7±1,3 0,0±0,2 0,5±0,3 0,0±0,1 1,1±0,2 0,5±0,0 1,0±0,2 1,5±0,1 1,2±0,6 0,4±0,6 0,1±0,1 0,0±0,1 0,3±0,6 0,0±0,0 0,2±0,4 0,2±0,7 0,3±0,5 dengan yang tidur 8 jam. Seseorang yang tidur kurang dari 6 jam memiliki risiko lebih tinggi 18% terkena sumbatan arteri dan orang yang itdur 9 jam atau lebih, diperkirakan memiliki risiko lebih tinggi 37% terkena penyakit jantung. Selain tidur, alokasi waktu terbesar yang digunakan lansia adalah untuk duduk 5,5±1,5 jam pada lansia contoh di Sukma Raharja dan 4,1±2,0 jam pada lansia contoh di Salam Sejahtera atau selisih 1,4 jam. Kegiatan duduk biasanya dilakukan lansia ketika mengobrol ataupun hanya duduk diam di kamar. Secara keseluruhan, aktivitas fisik yang dilakukan lansia contoh tersebut bukan merupakan kegiatan berat, seperti terlihat pada Tabel 24. Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan aktivitas fisik Aktivitas Fisik (PAL) Sangat ringan (<1,40) Ringan (1,40-1,69) Sedang (1,70-1,99) Berat (2,00-2,39) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 2 6,7 26 86,7 2 6,7 0 0 30 100 1,5±0,1 Salam Sejahtera n % 3 9,7 26 83,9 2 6,5 0 0 31 100 1,5±0,1 Total n % 5 8,2 52 85,2 4 6,6 0 0 61 100 p=0,280 Berdasarkan Tabel 24, diketahui bahwa aktivitas fisik lansia contoh baik di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera tergolong ringan yaitu masing-masing 86,7% dan 85,2%. Tidak ada aktivitas lansia contoh yang tergolong berat. Hal 39    tersebut sesuai dengan pernyataan Arisman (2007) yaitu fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara aktivitas fisik lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera. Keseimbangan Energi Keseimbangan energi diperoleh dengan menghitung selisih antara energi yang didapat dari konsumsi pangan (pemasukan energi) dengan pengeluaran energi, masing-masing dalam satuan kalori. Keseimbangan energi dikatakan positif apabila intake energi lebih besar dari pada pengeluaran energi, dan dikatakan negatif bila intake energi lebih kecil dari pada pengeluaran energi. Pengeluaran energi diperoleh dari energi untuk metabolisme basal (EMB) dan energi dari aktivitas fisik (PAL). Berikut rata-rata asupan energi, pengeluaran energi dan keseimbangan energi lansia disajikan pada Tabel 25. Tabel 25 Rata-rata asupan energi, pengeluaran energi dan keseimbangan energi lansia Variabel Asupan Energi (kkal) Pengeluaran Energi (kkal) Keseimbangan Energi (kkal) Sukma Raharja 1717 1622 94 Salam Sejahtera 1550 1831 -282 Rata-rata asupan energi lansia Sukma Raharja lebih tinggi dibandingkan lansia Salam Sejahtera. Akan tetapi, rata-rata pengeluaran energi lansia Salam Sejahtera lebih tinggi dibandingkan lansia Sukma Raharja, sehingga diketahui bahwa rata-rata keseimbangan energi lansia Sukma Raharja yaitu positif, sedangkan keseimbangan energi lansia Salam Sejahtera negatif. Hal ini dikarenakan perhitungan pengeluaran energi lansia contoh dipengaruhi oleh PAL dan EMB masing-masing lansia contoh, dan EMB dipengaruhi berat badan dan jenis kelamin. Telah diketahui bahwa lansia di Salam Sejahtera 32,3% memiliki status gizi lebih (gemuk tingkat ringan dan berat), sedangkan di Sukma Raharja hanya 13,4%. Selain itu, lansia contoh di Salam Sejahtera terdapat responden berjenis kelamin laki-laki sebesar 48,4%, sedangkan di Sukma Raharja 100% berjenis kelamin perempuan. Meskipun hasil rata-rata keseimbangan energi pada lansia Salam Sejahtera adalah negatif, akan tetapi masih terdapat beberapa lansia yang memiliki keseimbangan energi positif yaitu 22,6%. Berikut sebaran keseimbangan energi lansia dapat dilihat pada Tabel 26. 40    Tabel 26 Sebaran lansia berdasarkan keseimbangan energi Keseimbangan Energi Positif (+) Negatif (-) Total Sukma Raharja n % 21 70 9 30 30 100 Salam Sejahtera n % 7 22,6 24 77,4 31 100 Gejala-gejala Konstipasi Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus (Depkes 2003). Konstipasi didefinisikan sebagai evakuasi feses yang jarang atau sulit dan dapat akut atau kronis. Konstipasi absolut didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses maupun flatus (Grace & Neil 2006). Pada penelitian ini, gejala konstipasi dilihat dari gejala-gejala dasar konstipasi pada masing-masing lansia contoh. Sebaran lansia contoh berdasarkan gejala yang dialami dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan gejala-gejala konstipasi yang dialami No 1 2 3 4 Jenis Pertanyaan dalam Skala Waktu 1 Minggu Terakhir Apakah Anda mengalami tidak BAB selama 2 hari atau lebih? Apakah perut Anda terasa penuh dan tidak nyaman? Apakah saat BAB feses anda lebih keras dari biasanya? Apakah Anda mengalami kesulitan saat BAB, seperti mengejan berlebihan? Sukma Raharja Salam Sejahtera n % n % 11 36,67 8 25,81 5 16,67 3 9,68 5 16,67 5 16,13 7 23,33 6 19,35 Tabel 27 menunjukkan bahwa tidak semua gejala dialami lansia contoh yang konstipasi, masing-masing lansia hanya mengalami 2-3 gejala dasar konstipasi yang ditanyakan. Hal ini didukung dengan teori yang dinyatakan Daldiyono (1990), yaitu sulit BAB dengan tinja yang keras sudah dapat dianggap sebagai konstipasi. Selain itu, seseorang juga bisa dianggap konstipasi apabila tidak dapat buang air besar selama dua hari atau lebih (Bangun 2005). Berdasarkan hal tersebut, terdapat 40% lansia contoh di Sukma Raharja yang mengalami gejala konstipasi, sedangkan di Salam Sejahtera sebanyak 25,8%. Secara keseluruhan sampel yang mengalami gejala konstipasi adalah 32,8%. Hasil uji statistik t-test menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara gejala konstipasi di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera. Sebaran lansia contoh berdasarkan gejala konstipasi dapat dilihat pada Tabel 28. 41    Tabel 28 Sebaran contoh berdasarkan gejala konstipasi Konstipasi Ya Tidak Total Sukma Raharja n % 12 40 18 60 30 100 Salam Sejahtera n % 8 25,8 23 74,2 31 100 Total n 20 41 61 % 32,8 67,2 100 Uji beda : p=0,245 Hubungan Antar Variabel Hubungan antara karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia Tabel 29 menunjukkan hubungan karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik lansia baik umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status gizi dengan gejala konstipasi pada lansia. Hal ini diduga karena gejala konstipasi pada lansia contoh hanya 32,8% dari seluruh responden yang ada. Tabel 29 Hubungan karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia Variabel A. Serat A. Cairan Akt. Fisik Usia 0,949 0,977 0,031 Jenis Kelamin 0,685 0,031 0,307 Pendidikan 0,968 0,174 0,231 Status Gizi 0,031 0,024 0,628 Berdasarkan uji statistik juga diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif (p<0,05) antara usia dengan aktivitas fisik lansia kecenderungan semakin tinggi usia semakin besar nilai PAL lansia. Kemudian juga terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan asupan serat dan cairan, serta antara jenis kelamin dengan asupan cairan. Terdapat korelasi positif antara jenis kelamin dan asupan cairan yaitu kecenderungan lansia laki-laki memiliki asupan cairan lebih tinggi daripada lansia perempuan. Hubungan asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik dengan gejala konstipasi Gejala konstipasi pada lansia diduga bekaitan dengan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik lansia contoh yang rendah. Hasil analisis hubungan secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 30. 42    Tabel 30 Hubungan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi contoh Variabel independen Asupan Serat: Kurang (<20 g) Total Asupan Cairan: Kurang (<90%) Cukup (90-110 %) Lebih (>110 g) Total Aktivitas Fisik: Sangat ringan (<1,40) Ringan (1,40-1,69) Sedang (1,70-1,99) Total Mengalami gejala konstipasi Tidak mengalami gejala konstipasi n % n % 20 20 100 100 41 41 6 12 2 20 38,5 36,8 27,6 100 2 18 0 20 10 90 0 100 Total n % 100 100 61 61 100 100 14 15 12 41 61,5 63,2 72,4 20 27 14 61 35,5 48,4 16,1 100 3 34 4 41 7,3 82,9 9,8 100 5 52 4 61 8,2 85,2 6,6 100 Nilai p p=0,538 r= 0,058 p=0,219 r= 0,160 p=0,245 r=-0,040 Tabel 30 menunjukkan ada tidaknya hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh di kedua loksai penelitian. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat dengan gejala konstipasi pada lansia. Hal ini dikarenakan kategori asupan serat yang homogen, yaitu terkumpul dalam satu kategori kurang. Begitu juga dengan asupan cairan dan aktivitas fisik, hasil uji menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara keduanya dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Meiring & Joubert (1998) pada lansia di National and Pelonomi Hospitals, Bloemfontein, bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat dan cairan dengan konstipasi pada lansia. Terdapat hubungan negatif antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia, berarti semakin tinggi aktivitas fisik maka semakin kecil resiko timbulnya gejala konstipasi pada lansia. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan Arisman (2007), bahwa fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas ini akan mengakibatkan terjadinya kelemahan tonus otot dinding saluran cerna sehingga akan terjadi konstipasi. Akan tetapi, terdapat hubungan positif antara asupan serat dan cairan dengan gejala konstipasi, artinya semakin tinggi konsumsi serat, cairan dan aktivitas fisik, 43    maka semakin tinggi pula resiko timbulnya gejala konstipasi pada lansia. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang dinyatakan Wellman & Kamp (2008) bahwa rendahnya asupan serat dan cairan akan meningkatkan resiko terjadinya konstipasi. Hasil ini diduga karena kejadian konstipasi pada lansia contoh dikedua lokasi tidak begitu tinggi yaitu hanya 32,8%. Selain itu, berdasarkan hasil hasil wawancara pada saat penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa lansia contoh yang mengalami konstipasi ketika mengkonsumsi obat antihipertensi yaitu sebesar 27,3% dari lansia konstipasi di Sukma Raharja dan 87,5% dari lansia konstipasi di Salam sejahtera. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan teori Muhammad (2010), bahwa salah satu penyebab konstipasi adalah konsumsi obat-obatan tertentu (obat golongan narkotika, antasid yang mengandung alumunium dan kalsium, antihipertensi golongan penghambat kalsium, obat anti Parkinson, antispasmodik, antidepresan, suplemen Fe, diuretik, antikonvulsan). Sebaran lansia berdasarkan konsumsi obat dapat dilihat pada Tabel 31. Tabel 31 Sebaran lansia berdasarkan konsumsi obat Jenis Obat Obat DM Obat alergi Obat anti hipertensi (nifedipine, captopril, amlodipin) Multivitamin Tidak ada Sukma Raharja n % 0 0 0 0 5 2 23 16,7 6,7 76,6 Salam Sejahtera n % 2 6,4 1 3,2 18 0 10 58,1 0 32,3 44    KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sebagian besar lansia di Sukma Raharja (90%) berusia antara 60-74 tahun atau usia lanjut, sedangkan lansia Salam Sejahtera (71%) berusia antara 75-90 tahun (usia tua). Seluruh contoh di Sukma Raharja berjenis kelamin perempuan, sedangkan di Salam Sejahtera hanya 51,6%. Pendidikan terakhir lansia di Sukma Raharja, memiliki persentase terbesar pada tingkat tidak tamat Sekolah Dasar (TTSD) (36,7%) dan lansia Salam Sejahtera pada tingkat SMA (35,5%). Sekitar separuh lansia (50,8%) pada kedua Panti termasuk dalam kategori status gizi normal. Ada perbedaan yang signifikan antara asupan energi dan karbohidrat pada lansia Sukma Raharja dengan Salam Sejahtera. Namun, pada asupan protein, lemak, serat, cairan, tingkat aktivitas fisik, dan gejala konstipasi tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok lansia. Berdasarkan uji statistik spearman diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat, asupan cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil tersebut disebabkan ada banyak faktor lain yang berhubungan dengan konstipasi pada lansia, yang dalam penelitian ini salah satunya adalah konsumsi obat-obatan. Saran Terdapat masalah gizi ganda yaitu gizi kurang dan gizi lebih dikedua lokasi penelitian, sehingga diharapkan adanya tindak lanjut dari pihak pengelola panti dengan dibantu petugas gizi dalam mengatasi atau memperbaiki status gizi lanisa tersebut. Asupan serat lansia contoh dikedua lokasi masih sangat kurang, sehingga sebaiknya ditingkatkan asupan konsumsi lansia contoh terutama pangan sumber serat seperti sayuran dan buah. Diharapkan adanya penggunaan peralatan makan yang disediakan khusus dari pihak panti, terutama Sukma Raharja agar pembagian makanan kepada penghuni panti lebih teratur/merata dengan porsi yang sama. Aktivitas lansia sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti membuat keterampilan tangan atau menjahit, karena alokasi penggunaan waktu lansia contoh belum optimal (hanya duduk diam atau berbaring), sedangkan sebagian dari lansia contoh dengan aktivitas ringan memiliki kemampuan fisik yang masih bisa beraktivitas normal. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan 44  45    untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian konstipasi pada lansia menggunakan jumlah contoh yang lebih besar. ASUPAN SERAT DAN CAIRAN, AKTIVITAS FISIK, SERTA GEJALA KONSTIPASI PADA LANJUT USIA TALITHA RAISSA DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i    46    DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Andriani H. 2008. Dampak dan Pengaruh Tidur Bagi Kesehatan. www.andriyaninfokesehatan.Blogspot.com [20 Oktober 2011]. Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC [BPS] Badan Pusat Statistik.2007. Angka Harapan Hidup. www.menegpp.go.id [25 Feb 2011] Bangun. 2005. Vegetarian Pola Sehat Tanpa Daging. Jakarta: Agomedia Pustaka Briawan D, Madanijah S. 2008. Penilaian Status Gizi Cara Antropometri. Diktat Mata Kuliah Departemen Gizi Masyarakat. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia,Institut Pertanian Bogor. Chumlea WC, Roche AF, Mukherjee D. 1984. Nutritional Assessment of the Elderly through Anthropometry. Di dalam Fatmah. 2008. Model Prediksi Tinggi Badan Lansia Etnis Jawa Berdasarkan Tinggi Lutut, Panjang Depa, dan Tinggi Duduk [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Daldiyono et al. 1990. Gastroentorologi Hepatologi. Jakarta: CV.Infomedika Darmojo. 2006. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi 3. Jakarta: FKUI [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2003. Pedoman Tata Laksana Gizi Usia Lanjut untuk Tenaga Kesehatan. www.lenteraimpian.wordpress.com [18 Maret 2011] [Depkes] Departemen kesehatan RI. 2005. Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani. Jakarta: Depkes RI [Depsos] Departemen Sosial. 2007. Penduduk Lanjut Usia Di Indonesia Dan Masalah Kesejahteraannya. www.depsos.go.id [16 Maret 2011] Driskell JA. 2009. Nutrition and Exercise Concerns of Middle Age. New York: CRC Press FAO/WHO/UNU. 2001. Energy requirements of Adults. www.fao.org  [20 September 2011] [FKM-UI] Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Grace & Neil R. 2006. Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: Erlangga Medical Series Hardinsyah et al. 2011. Air Bagi Kesehatan. Centra Communications & Martianto D. 1992. Gizi Terapan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. &Tambunan. 2004. Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak Dan Serat Makanan. Didalam Hardinsyah, editor. Angka Kecukupan Gizi dan Acuan Label Gizi. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII 2004. Jakarta: Direktorat Standarisasi Produk Pangan. Hoeger WWK & Hoeger SA. 2005. Lifetime Physical Fitness and Wellness, a Personalized Program. Ed ke-5. USA: Thomson Wadsworth. 46  47    Komisi Nasional Lanjut Usia. 2010. Profil Penduduk Lanjut usia 2009. Jakarta. Khomsan A, Anwar F, Sukandar D, Riyadi H, Mudjajanto ES. 2007. Studi Implementasi Program Gizi; Pemanfaatan, Cakupan, Keefektifan, dan Dampak terhadap Status Gizi. Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB Kusharto CM. 2006. Serat Makanan dan Peranannya Bagi Kesehatan. Jurnal Gizi dan Pangan 1(2): 45-54. Lubis Z. 2009. Hidup Sehat dengan Makanan Kaya Serat. Bogor: IPB Press Mahmud et al. 2009. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Elex Media Komputindo Meiring PJ, Joubert G. 1998. Constipation in Elderly Patients Attending a Polyclinic. South Africa Medical Journal Vol 88, No.7: 888-890. www.samj.org.za [17 Desember 2011] Muhammad N. 2010. Tanya Jawab Kesehatan Harian untuk Lansia. Yogyakarta: Tunas Publishing. Muchtadi D, Nurheni S, Astawan M. 1993. Metabolisme Zat Gizi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Muchtadi D. 2009. Gizi Anti Penuaan Dini. Bandung: Alfabeta Notoatmodjo S. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni. Jakarta: PT Rineka Cipta. Riyadi H. 2004. Penilaian Status Gizi. Di dalam Baliwati YF, Khomsan A, Dwiriani CM, editor. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya. Rosmalina Y, Permaesih D. 2008. Aktivitas Fisik dan Penggunaan Energi Pekerja Laki-Laki Dengan Jenis Pekerjaan Berbeda. Majalah Gizi Indonesia.31(2): 98-106. Rumu S. 2007. Perbedaan Tingkat Konsumsi Lemak, Natrium, Serat, Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Perumahan “Kusumawardani” dan Panti Wredha Pucang Gading Semarang [Skripsi]. Semarang: Universitas Diponegoro Safithri F. 2005. Proses Menua di Otak dan Demensia Tipe Alzheimer. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran. Saintika Medika Volume. 2 No.2. Sawka MN, Cheuvront SN, dan Carter R. 2005. Human Water Needs. International Life Science Institute Singarimbun M & Effendi S. 2006. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. Siswono. 2003. Mengatasi Konstipasi pada usia lanjut. www.gizinet.com [24 Maret 2011] Soelistijani DA. 2002. Sehat dengan Menu Berserat. Jakarta: Trubus Agriwidya. Suhardjo. 1989. Sosio Budaya Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 48    Wellman NS & Kamp BJ. 2008. Nutrition in Aging. Di dalam Mahan LK, Stump, editor Krause’s Food, Nutrition and Diet Therapy, Ed 12. USA: Else [WHO] World Health Organization. 2002. Keep Fit for Life. Meeting The Nutritional Needs of Older Persons. Tufts University. School of Nutrition Science and Policy.www.who.int [01 November 2011] Wirakusumah, S. 2002. Tetap Bugar di Usia Lanjut. Jakarta: Trubus Agriwidya Anggota IKAPI. ASUPAN SERAT DAN CAIRAN, AKTIVITAS FISIK, SERTA GEJALA KONSTIPASI PADA LANJUT USIA TALITHA RAISSA DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i    ABSTRACT TALITHA RAISSA. Fiber and Liquid Intake, Physical Activity, and Symptom of Constipation among Elderly. Under Direction of CESILIA METI DWIRIANI. The objective of this study was to analyze differences in fiber and liquid intake, physical activity, and symptom of constipation among elderly people lived in government (Sukma Raharja) and non-government (Salam Sejahtera) Elderly Social Institution. This study using crossecsional study design conducted in August until September 2011. The subjects were 61 elderly consist of 30 people from Sukma Raharja and 30 people from Salam Sejahtera. Almost all of elderly (90%) in Sukma Raharja are 60-74 years old, while in Salam Sejahtera 71% are 74-90 years old. All of elderly in Sukma Raharja are women, while in Salam Sejahtera, 51,6% are women. Education background in Salam Sejahtera is higher than in Sukma Raharja and in both groups most of elderly have normal nutritional status. There was significantly (p=0,001) differences in BMI of elderly in Sukma Raharja and Salam Sejahtera. Level of energy (p=0,000), protein (p=0,000), and carbohydrate (p=0,000) adequacy of elderly in Sukma Raharja are significantly higher than elderly in Salam Sejahtera. There was no difference level of fat adequacy (p=0,503), fiber (p=0,925) and liquid intake (p=0,228), and physical activity (p=0,280) in the elderly in two places. There was no significant correlation between fiber intake (p=0,538), liquid intake (p=0,147), and physical activity (p=0,342) with symptom of constipation of elderly. Keyword : fiber intake, liquid intake, physical activity, constipation ii    RINGKASAN TALITHA RAISSA. Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia. Dibimbing oleh CESILIA METI DWIRIANI. Keberhasilan pembangunan, terutama di bidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan usia harapan hidup. Hal tersebut memicu perkembangan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia adalah konstipasi, yang umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik rendah. Secara umum penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta hubungannya dengan kejadian konstipasi pada lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Werdha (RPSTW) Sukma Raharja yang dikelola Pemda Bogor dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. Secara khusus bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi karakteristik sosial dan status gizi lansia, (2) Menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi (protein, karbohidrat, dan lemak) pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera, (3) Menganalisis perbedaan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera, (4) Menganalisis hubungan antara asupan serat dan cairan dengan gejala konstipasi pada lansia contoh, (5) Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossecsional study, dilakukan di dua panti wreda di Bogor yaitu RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. Pengumpulan data dilakukan pada Agustus sampai September 2011. Jumlah contoh ditentukan secara Proporsional Stratified Random Sampling dengan kriteria: tidak pikun, masih bisa berkomunikasi dengan baik, serta bersedia diwawancarai dan dijadikan contoh penelitian. Jumlah contoh dari masing-masing panti yaitu 30 dan 31 orang. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, dan pendidikan), antropometri (berat badan, tinggi badan dan tinggi lutut); konsumsi makanan dan minuman; aktivitas fisik selama dua hari; serta gejala-gejala konstipasi pada lansia contoh. Pengolahan data dilakukan menggunakan program Microsoft Excel, Nutrisurvey dan statistic software. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial, serta dilakukan uji-t Independent sample dan uji korelasi Rank Spearman. Sebagian besar lansia di Sukma Raharja (90%) berusia antara 60-74 tahun atau usia lanjut, sedangkan lansia Salam Sejahtera (71%) berusia antara 75-90 tahun (usia tua). Seluruh lansia Sukma Raharja berjenis kelamin wanita, sedangkan lansia perempuan di Salam Sejahtera hanya 51,6%. Pendidikan terakhir lansia Salam sejahtera lebih tinggi dibandingkan lansia Sukma Raharja. Pendidikan terakhir lansia di Sukma Raharja, memiliki persentase terbesar pada tingkat tidak tamat Sekolah Dasar (TTSD) (36,7%) dan lansia Salam Sejahtera pada tingkat SMA (35,5%). Sekitar separuh lansia (50,8%) pada kedua Panti termasuk dalam kategori status gizi normal. Rata-rata asupan energi lansia Sukma Raharja sebesar 1717±245 kkal dan lansia Salam Sejahtera sebesar 1585±231 kkal. Tingkat kecukupan untuk energi masing-masing sebesar 104,3% (normal) dan 87,5% (defisit tingkat ringan) serta terdapat perbedaan yang signifikan, baik pada asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi antara lansia Sukma Raharja dan iii    Salam Sejahtera (p<0,05). Rata-rata asupan protein lansia Sukma Raharja sebesar 49,9±7,5 gr dan lansia dari Salam Sejahtera sebesar 47,7±5,6 gr. Tingkat kecukupan untuk protein masing-masing sebesar 118,4% (normal) dan 103,7% (normal). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk asupan protein (p>0,05), namun angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda signifikan (p<0,05). Rata-rata asupan karbohidrat lansia Sukma Raharja sebesar 253,7±39,2 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 298,4±55,4 gr. Tingkat kecukupan untuk karbohidrat masingmasing sebesar 95,3% (normal) dan 76,8% (defisit tingkat berat) serta terdapat perbedaan yang signifikan, baik asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Rata-rata asupan lemak lansia Sukma Raharja sebesar 58,8±12,0 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 63,9±7,4 gr. Tingkat kecukupan untuk lemak masingmasing sebesar 129,0% (lebih) dan 127,5% (lebih). Tidak terdapat perbedaan signifikan asupan lemak (p>0,05), sedangkan angka kecukupan dan tingkat kecukupan lemak lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda signifikan (p<0,05). Asupan serat contoh 100% di kedua panti termasuk dalam kategori kurang. Rata-rata asupan serat di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masingmasing adalah 13,9±1,4 gr dan 9,1±2,6 gr. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p>0,05) konsumsi serat lansia contoh di kedua panti. Rata-rata konsumsi cairan contoh Sukma Raharja sebesar 1835±273 ml, sedangkan di Salam Sejahtera sebesar 1847±340 ml. Sekitar separuh (56,7%) lansia contoh di Sukma Raharja mempunyai konsumsi cairan kategori tingkat pemenuhan lebih, sedangkan di Salam Sejahtera konsumsi cairan hampir sama, yaitu antara kategori normal dan lebih, masing-masing 35,5% dan 38,7%. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) asupan cairan contoh di kedua panti. Aktivitas fisik lansia contoh baik di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera tergolong ringan yaitu masing-masing 86,7% dan 85,2%. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) aktivitas fisik lansia di kedua panti. Terdapat 40% lansia contoh di Sukma Raharja yang mengalami gejala konstipasi, sedangkan di Salam Sejahtera hanya sebanyak 25,8%, dimana secara keseluruhan sampel yang mengalami gejala konstipasi 32,8%. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan jumlah contoh yang mengalami gejala konstipasi di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera. Tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat, asupan cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil tersebut diduga disebabkan ada banyak faktor lain yang berhubungan dengan konstipasi pada lansia, salah satunya konsumsi obat-obatan, yang tidak diteliti pada penelitian ini. Penelitian ini menyarankan pihak pengelola panti dibantu petugas gizi puskesmas dalam upaya mengatasi atau memperbaiki status gizi lansia yang kurang dan lebih. Asupan serat lansia contoh dikedua lokasi masih sangat kurang, sehingga sebaiknya ditingkatkan asupan konsumsi lansia contoh terutama pangan sumber serat seperti sayuran dan buah. Peralatan makan sebaiknya disediakan khusus dari pihak panti, terutama Sukma Raharja agar pembagian makanan kepada penghuni panti lebih teratur/merata. Aktivitas lansia sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti membuat keterampilan tangan atau menjahit, karena alokasi penggunaan waktu lansia contoh belum optimal (hanya duduk diam atau berbaring), sedangkan sebagian dari lansia contoh dengan aktivitas ringan memiliki kemampuan fisik yang masih bisa beraktivitas normal. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian konstipasi pada lansia menggunakan jumlah contoh yang lebih besar. iv    ASUPAN SERAT DAN CAIRAN, AKTIVITAS FISIK, SERTA GEJALA KONSTIPASI PADA LANJUT USIA TALITHA RAISSA Skripsi Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUASIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 v    Judul Nama NIM : Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia : Talitha Raissa : I14096002 Menyetujui : Dosen Pembimbing Dr. Ir. Cesilia Meti Dwiriani, M.Sc NIP. 19660527 199203 2 003 Mengetahui, Ketua Departemen Gizi Masyarakat Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001 Tanggal Lulus : vi    PRAKATA Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga skripsi dengan judul “Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia” dapat diselesaikan. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Ir. Cesilia Meti Dwiriani, M.Sc selaku dosen pembimbing akademik dan skripsi yang telah senantiasa sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi. 2. Leily Amalia, S.TP, M.Si selaku pemandu seminar dan penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan dalam perbaikan skripsi. 3. Ketua dan staf pegawai Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja dan Panti Wreda Salam Sejahtera yang telah memberikan izin dan bimbingan kepada peneliti dalam melakukan penelitian di lokasi. 4. Ayah, Ibu, kakak, adik, dan seluruh keluarga besar yang senantiasa memberikan doa, dukungan, motivasi, dan semangat dengan penuh kasih saying. 5. Sahabat-sahabat terbaik yang selalu menyemangati dan memotivasi dari proses penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini. 6. Teman-teman alih jenis Gizi Masyarakat (GM) angkatan ke-3. 7. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala bantuan dan dukungan selama penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum mencapai taraf sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Penulis juga berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua. Bogor, Maret 2012 Penulis vii    RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Talitha Raissa lahir di Muntok, Bangka, 09 Januari 1989. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Firdaus dan Ibu Eniyati. Penulis menamatkan sekolah dasar di SDN 1 Kenten Palembang, kemudian melanjutkan ke SLTPN 41 Palembang dan lulus di tahun 2003. Tahun 2003 penulis meneruskan sekolah di SMAN 14 Palembang hingga tahun 2006. Setelah itu penulis kuliah Diploma III di Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Gizi. Penulis melakukan praktek kerja lapang (PKL) di beberapa tempat yaitu PKL Manajemen Intervensi Gizi di Desa Penyandingan Kecamatan Indralaya selama 1,5 bulan (Desember 2008 dan Juni 2009), PKL Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Manajeman Asuhan Gizi Klinik di Rumah Sakit M.Yunus Bengkulu selama 2 bulan (April-Juni 2009). Penulis mendapatkan gelar Ahli Madya Gizi (AMG) pada tahun 2009 setelah dinyatakan lulus dengan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi dan Pola Makan dengan Asupan Zat Gizi pada Siswa SDN 181 Palembang”. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Program Penyelenggaraan Khusus Alih Jenis S1 Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor sejak tahun 2009. viii    DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................................. x DAFTAR GAMBAR............................................................................................. xi DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xiii PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................................. Tujuan Penelitian .......................................................................................... Hipotesis ...................................................................................................... Kegunaan Penelitian .................................................................................... 1 3 3 4 TINJAUAN PUSTAKA Lanjut Usia ................................................................................................... 5 Konstipasi ..................................................................................................... 5 Faktor-faktor yang mempengaruhi konstipasi .............................................. 6 Konsumsi Pangan ............................................................................... 6 Serat .................................................................................................... 7 Cairan .................................................................................................. 8 Penilaian Konsumsi Pangan ............................................................... 9 Aktivitas Fisik ...................................................................................... 11 Status Gizi Lansia ........................................................................................ 11 KERANGKA PEMIKIRAN................................................................................... 13 METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian ........................................................ 15 Jumlah dan Cara Pengambilan contoh ........................................................ 15 Jenis dan Cara Pengambilan Data ............................................................... 15 Pengolahan dan Analisis Data ..................................................................... 17 Definisi Operasional ..................................................................................... 22 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................................. 23 Karakteristik Contoh ..................................................................................... 26 Status Gizi .................................................................................................... 27 Asupan Energi dan Zat Gizi.......................................................................... 28 Asupan Serat ................................................................................................ 35 Asupan Cairan .............................................................................................. 36 Aktivitas Fisik ................................................................................................ 37 Gejala-gejala Konstipasi ............................................................................... 38 Hubungan Antar Variabel ............................................................................. 41 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ................................................................................................... 44 Saran ............................................................................................................ 44 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 46 LAMPIRAN ........................................................................................................ 49 ix    DAFTAR TABEL Halaman 1. Kategori indeks massa tubuh menurut Depkes (1990) .............................. 12 2. Perhitungan ukuran contoh ........................................................................ 15 3. Jenis dan cara pengumpulan data ............................................................. 16 4. Air Metabolik ............................................................................................... 19 5. Rumus FAO/WHO/UNU untuk menentukan EMB ...................................... 20 6. Kategori status gizi berdasarkan IMT ......................................................... 20 7. Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh ..................................... 26 8. Sebaran contoh berdasarkan status gizi berdasarkan IMT ........................ 27 9. Konsumsi pangan dan asupan energi serta zat gizi lansia contoh ............. 29 10. Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan energi lansia .......................................................................................................... 30 11. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi ............................ 30 12. Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan protein lansia .......................................................................................................... 31 13. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan protein ........................... 31 14. Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan karbohidrat lansia ....................................................................................... 32 15. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat .................... 33 16. Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan lemak lansia .......................................................................................................... 33 17. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan lemak ............................. 34 18. Rata-rata asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak lansia contoh berdasarkan status gizi ................................................................... 34 19. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan serat .............................. 35 20. Rata-rata asupan cairan lansia contoh berdasarkan sumbernya ............... 36 21. Rata-rata kebutuhan, asupan, dan tingkat pemenuhan cairan lansia ........ 36 22. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pemenuhan asupan cairan .............. 37 23. Jenis Aktivitas fisik yang yang dilakukan contoh ........................................ 38 24. Sebaran contoh berdasarkan aktivitas fisik ................................................ 38 25. Rata-rata asupan energi, pengeluaran energi dan keseimbangan energi lansia ............................................................................................... 39 26. Sebaran lansia berdasarkan keseimbangan energi ................................... 40 27. Sebaran contoh berdasarkan gejala-gejala konstipasi yang dialami .......... 40 28. Sebaran contoh berdasarkan gejala konstipasi .......................................... 41 x    29. Hubungan karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia ............................. 41 30. Hubungan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi contoh ......................................................................................................... 42 31. Sebaran lansia berdasarkan konsumsi obat .............................................. 43 xi    DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka pemikiran penelitian hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan kejadian konstipasi pada lanjut usia.. ................. 14 2. Struktur organisasi Panti Wreda Salam Sejahtera Bogor ............................ 25                                     xii    DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Nilai PAR aktivitas fisik ................................................................................ 49               xiii    1    PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan, terutama di bidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan usia harapan hidup. Hal tersebut juga memicu perkembangan jumlah penduduk Lanjut usia (lansia) yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2005, angka harapan hidup orang Indonesia adalah 70,0 tahun. Tahun 2006 meningkat menjadi 70,2 tahun. Jumlah ini terus meningkat menjadi 70,4 tahun pada tahun 2007 dan di perkirakan pada tahun 2025 angka harapan hidup penduduk indonesia akan menjadi 73 tahun (BPS 2007). Jumlah penduduk lansia Indonesia mencapai 19,32 juta orang atau 8,37% dari total seluruh penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia dimana pada tahun 2005 jumlah penduduk lansia sebesar 16,80 juta orang. Angka ini naik menjadi 18,96 juta orang pada tahun 2007, dan menjadi 19,32 juta orang pada tahun 2009 (Komnas Lansia 2010). Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%), sedangkan pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat menjadi 66,2 tahun. Tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun (Depsos 2007). Semakin meningkatnya usia harapan hidup, maka semakin meningkat pula upaya untuk mempertahankan atau menjaga status kesehatan pada lansia. Kondisi kesehatan pada lansia sangat ditentukan oleh asupan makanannya, baik kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan bertambahnya usia dan proses penuaan, timbul masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah fisik, biologik, psikologik, sosial, maupun penyakit degeneratif (Safithri 2005). Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus (Depkes 2003). Sekitar 30–40% orang diatas usia 65 tahun di Inggris mengeluh konstipasi, 30% penduduk diatas usia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Sekitar 20% populasi diatas 65 tahun di Australia, mengeluh menderita konstipasi (Siswono 2003). 1 2    Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai dubur (Soelistijani 2002). Semakin lama tinja tertahan dalam usus, konsistensinya semakin keras, dan akhirnya membatu sehingga susah dikeluarkan. Hal tersebut berpangkal pada kelemahan tonus otot dinding usus akibat penuaan yaitu kegiatan fisik yang mulai berkurang, serta kurangnya asupan serat dan cairan (Arisman 2007). Saat ini masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat, maka terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat-baratan (western style diet). Makanan jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat. Masyarakat umumnya belum tahu atau kurang menyadari bahwa makanan jadi telah kehilangan banyak komponen-komponen essensial makanan, khususnya serat. Asupan serat yang terlampau rendah dalam kurun waktu lama akan mempengaruhi kesehatan (seperti konstipasi), kegemukan, dan serangan penyakit degeneratif (Soelistijani 2002). Para ahli klinis, ahli gizi dan ahli teknologi pangan dalam dasawarsa terakhir ini sepakat bahwa serat merupakan komponen yang sangat dianjurkan dalam pola diet, ini disebabkan oleh banyaknya penyakit yang muncul akibat rendahnya konsumsi serat, terutama di negara-negara maju. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, cukup bukti bahwa berbagai serat dapat membantu mencegah atau mengatasi penyakit seperti sembelit, gangguan usus, obesitas dan penyakit jantung (Bangun 2005). Menurut Kusharto (2006), serat mampu mengatasi konstipasi karena serat dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui saluran pencernaan. Pengaruh nyata yang telah dibuktikan adalah bertambahnya volume feses, melunakkan konsistensi feses, memperpendek waktu transit di usus, dan memproduksi flatus. Selain konsumsi serat yang rendah, konstipasi juga disebabkan oleh kurangnya asupan cairan. Menurut Muhammad (2010), salah satu masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan tubuh. Hal ini terjadi karena adanya berbagai perubahan perubahan yang dialami lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi 3    ginjal untuk memekatkan urin, dan penurunan rasa haus. Penurunan rasa haus pada lansia otomatis akan menurunkan asupan cairan, padahal dalam fungsinya cairan memegang peranan penting terutama untuk mengolah makanan dalam usus, tanpa cairan yang cukup usus tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga timbullah sembelit. Berdasarkan beberapa hal yang telah diuraikan mengenai pentingnya peranan aktivitas fisik, asupan serat dan cairan sebagai penyebab konstipasi yang terjadi pada lansia, maka peneliti ingin mengetahui perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui perbedaan asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik sosial dan status gizi contoh. b. Menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi (protein, karbohidrat, dan lemak) pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. c. Menganalisis perbedaan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, dan kejadian konstipasi pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. d. Menganalisis hubungan antara asupan serat dan cairan dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. e. Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh. Hipotesis 1. Ada perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. 2. Ada hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. 4    Kegunaan Penelitian Kegunaan bagi Pihak Panti Sebagai informasi dan masukan bagi pengelola panti mengenai konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti. Kegunaan bagi Pihak Pemda Sebagai informasi dan masukan bagi pihak pemda mengenai pelaksanaan dan pengelolaan panti, konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti, terutama Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja yang merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan.                                             5    TINJAUAN PUSTAKA Lanjut Usia Manusia usia lanjut merupakan seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial yang nantinya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan. Depkes (2000) dalam Notoatmodjo (2007) mendefinisikan bahwa usia lanjut merupakan orang yang sudah memasuki tahap dewasa akhir dengan usia sekitar 60 tahun ke atas. Menurut Notoatmodjo (2007), usia lanjut adalah kelompok orang yang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, menyatakan bahwa yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Usia lanjut menurut WHO (1997) dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun (Notoatmodjo 2007). Pada seorang usia lanjut mengalami perubahan-perubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang dan mengalami perubahan mental (Wirakusumah 2002). Konstipasi Kebiasaan buang air besar normal mempunyai variasi yang luas pada setiap orang. Perubahan kebiasaan BAB merupakan manifestasi klinis yang umum dari penyakit saluran cerna. Konstipasi didefinisikan sebagai evakuasi feses yang jarang atau sulit dan dapat akut atau kronis. Konstipasi absolut didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses maupun flatus (Grace & Neil 2006). Menurut Bangun (2005), konstipasi merupakan keadaan atau gejala hambatan gerak sisa makanan di saluran pencernaan sehingga buang air besar tidak bisa lancar dan teratur. Pada keadaan normal, setiap 24 jam usus besar (kolon) akan dikosongkan secara periodik. Seseorang dianggap konstipasi apabila tidak dapat buang air besar selama dua hari atau lebih. Penyebab konstipasi menurut The National Digestive Disease Information Clearinghouse (NDDIC) dalam Muhammad (2010), yaitu kurangnya asupan serat 5 6    dalam konsumsi sehari-hari, kurangnya aktifitas terutama di usia lanjut, obatobatan tertentu (obat golongan narkotika, antasid yang mengandung alumunium dan kalsium, antihipertensi golongan penghambat kalsium, obat anti Parkinson, antispasmodik, antidepresan, suplemen Fe, diuretik, antikonvulsan), intoleransi susu, penyakit dan gangguan pada usus besar, kehamilan, usia lanjut, pemakaian pencahar berlebihan, kebiasaan menahan buang air besar, kurang asupan cairan, gangguan fungsional pada usus. Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam hubungannya dengan konstipasi, yaitu dimana konstipasi akut sering mengindikasikan obstruksi usus, dengan gejala utamanya berupa nyeri kolik abdomen, muntah, konstipasi, dan distensi. Apabila yang terjadi adalah konstipasi kronis maka akan beresiko untuk berkembang secara perlahan menjadi obstruksi usus (Bangun 2005). Konstipasi kronis biasa terjadi akibat diet rendah serat. Selain itu, bisa juga karena makan tidak teratur, kurang pergerakan dan olah raga, dan mengabaikan saat terjadi rangsangan untuk buang air besar. Konstipasi yang terjadi pada usia lanjut dengan atau tanpa gambaran sistemik harus diobati secara sungguh-sungguh dengan tidak mengabaikan berat badan yang menurun (Daldiyono et al 1990). Muhammad (2010) mengemukakan gejala-gejala konstipasi pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pola makan, hormon, gaya hidup dan bentuk usus besar masing-masing orang. Akan tetapi, gejala umum yang sering ditemui diantaranya adalah perut terasa penuh, nyeri dan mulas; tinja atau feses lebih keras dari biasanya; pada saat BAB feses atau tinja sulit dikeluarkan atau dibuang, tubuh berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang tinja; serta menurunnya frekuensi BAB, dan meningkatnya waktu BAB (BAB menjadi 3 hari sekali atau lebih). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Konsumsi Pangan Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau sekelompok orang (keluarga atau rumahtangga) pada waktu tertentu. Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan 7    zat gizi. Kekurangan dan kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat gizi bergantung pada berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, berat badan, iklim dan aktivitas fisik (Almatsier 2003). Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992). Serat Serat adalah zat non-gizi yang termasuk sebagai salah satu jenis kelompok polisakarida atau karbohidrat kompleks. Serat terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu dan membentuk rantai kimia panjang, sehingga sukar dicerna oleh enzim pencernaan (Soelistijani 2002). Menurut Lubis (2009), serat makanan adalah komponen karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi dapat dicerna oleh mikro bakteri pencernaan. Serat makanan merupakan bahan baku yang baik untuk pertumbuhan mikroflora usus. Serat makanan tidak dicerna di usus halus, akan tetapi dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui usus besar. Hal ini dapat menambah volume feses, meningkatkan pengaruh laksatif, melunakkan konsistensi feses, memperpendek transit time di usus, memproduksi flatus, hasil produksi metabolisme bakteri dan keluaran anion organiknya akan mengubah garam empedu dan asam lemak berantai pendek. Serat makanan menurut jenisnya dibedakan menjadi dua, yaitu serat larut dan serat tak larut air. Serat larut berfungsi dalam memperlama waktu pengosongan lambung sehingga seseorang dapat merasa kenyang lebih lama, sedangkan serat tidak larut air dapat menurunkan waktu transit dalam kolon, menghasilkan feses lebih lembek dan lebih banyak (Kusharto 2006). Selanjutnya menurut Almatsier (2003), serat larut air mudah di fermentasi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan bakteri kolon menyebabkan bertambahnya berat feses. Serat tidak larut air, terutama lignin yang terdapat 8    dalam dedak gandum tidak mengalami fermentasi. Serat tidak larut air mampu menyerap air, sehingga mengalami peningkatan berat dan mempunyai pengaruh laksatif paling besar. Serat membantu pengeluaran feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus, sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar, sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan. Konsumsi serat yang kurang akan mengakibatkan seseorang mengalami sembelit atau konstipasi, sehingga sangat dianjurkan seseorang mengkonsumsi serat sebesar 20-30 g per hari untuk orang dewasa. Perbandingan konsumsi serat larut dan serat tak larut sebaiknya 1:3 (Muchtadi 2009). Sumber serat larut yang baik adalah jenis kacang-kacangan, rumput laut, agar-agar, apel, pisang, jeruk, wortel, bekatul, dan buncis, sedangkan sumber serat tak larut seperti polong-polongan, buah berbiji, serta sayuran (Kusharto 2006). Cairan Air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Pada pria dewasa, 55%-60% berat tubuh adalah air dan pada wanita dewasa 50%-60% berat tubuhnya adalah air. Air sebagai salah satu zat gizi mikro yang mempunyai fungsi dalam berbagai proses penting dalam tubuh manusia, seperti metabolisme, pengangkutan dan sirkulasi zat gizi dan non gizi, pengendalian suhu tubuh, kontraksi otot, transmisi impuls saraf, pengaturan keseimbangan elektrolit, dan proses pembuangan zat tak berguna bagi tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang air berdampak buruk terhadap kesehatan atau meningkatkan risiko kejadian berbagai penyakit, seperti sembelit, kram, batu ginjal, infeksi saluran kemih dan lain-lain (Hardinsyah et al 2011). Menurut Driskell (2009), dehidrasi (kurang cairan) kronis akan dapat berakibat terjadinya konstipasi. Almatsier (2003) menyatakan bahwa konsumsi cairan terdiri atas air yang diminum, yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme (air metabolik). Menurut Sawka, Cheuvront, dan Carter (2005), total konsumsi cairan adalah berasal dari air minum (drinking water), air pada minuman (water in beverages), dan air pada makanan. Kebutuhan air tiap orang berbeda dan berfluktuasi tiap waktu. Hal tersbut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin, usia, tingkat aktivitas, serta faktor lingkungan. Sebagian besar lansia mengurangi minum air putih atau 9    minuman lain karena berbagai alasan, misalnya karena timbulnya rasa mual setelah minum susu, keasaman sari buah yang dapat mengganggu lambungnya, serta tidak suka air. Penyebab utama hal tersebut adalah keengganan untuk terlalu sering buang air kecil, karena telah menurunnya kontrol terhadap kandung kemih (Muchtadi 2009). Menurut Hardinsyah et al (2011), asupan air pada usia lanjut yang optimal adalah 1-1,5 liter per hari. Pada keadaan usia lanjut, kepekaan pusat rasa haus berkurang sehingga diperlukan perhatian lebih dari pengasuh usia lanjut untuk mengawasi konsumsi minuman pada kelompok ini. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Penilaian Konsumsi Pangan Penilaian komsumsi pangan adalah kegiatan mempelajari seluk beluk tentang makanan, menelaah jumlah makanan yang dikonsumsi, dan membandingkan dengan baku kecukupan gizi yang dapat dipenuhi. Konsumsi makanan dapat diukur secara kualitatif dan kuantitatif. Penilaian konsumsi makanan secara kualitatif biasanya digunakan untuk menggali informasi mengenai kebiasaan makan dan frekuensi konsumsi menurut jenis pangan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi dan dari informasi ini dapat diketahui dan dihitung konsumsi zat gizi dari makanan tersebut (Suhardjo 1989). Pengukuran makanan secara kuantitatif dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain metode recall 24 jam, metode perkiraan makanan (estimted food records), penimbangan makanan (food weighing), metode food account, metode inventaris (inventary method), pencatatan (household food record) (Supariasa 2002). Besarnya porsi makanan dan estimasi jumlah makanan yang dimakan dan diminum oleh responden, dapat diketahui dengan metode recall 24 jam (Khomsan dkk 2007). Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Metode recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang asupan harian individu (Sanjur 1997 dalam Supariasa 2002). 10    Meskipun metode recall 24 jam sudah dapat menggambarkan besar porsi dan estimasi jumlah makanan yang dikonsumsi, namun metode ini memiliki kelemahan berupa ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa. Oleh karena itu, metode penilaian konsumsi makanan pada lansia dilengkapi dengan metode food weighing. Supariasa (2002) mengemukakan penimbangan makanan atau food weighing merupakan salah satu metode pengukuran konsumsi makanan secara kuantitatif pada tingkat perorangan yang digunakan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung asupan zat gizinya. Adapun kelebihan dari metode ini ialah data yang diperoleh lebih akurat/teliti. Kekurangannya yaitu memerlukan waktu yang cukup lama, mahal karena membutuhkan peralatan, ada kemungkinan responden merubah kebiasaan makan mereka jika penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, tenaga pengumpul data harus terlatih dan trampil, serta memerlukan kerjasama yang baik dengan responden. Pada metode penimbangan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan biasanya dilakukan beberapa hari tergantung tujuan, dana, dan tenaga yang tersedia. Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan makanan adalah petugas atau responden menimbang dan mencatat bahan makanan yang dikonsumsi dalam gram. Apabila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga dilakukan penimbangan sisa makanan tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat. Kemudian dari jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari dapat dianalisis menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) atau Daftar Komposisi Gizi Jajanan (DKGJ). Selanjutnya hasil analisis zat gizi dibandingkan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) (Supariasa 2002). Perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan disebut sebagai tingkat kecukupan zat gizi. Klasifikasi tingkat kecukupan menurut Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) adalah: defisit tingkat berat (<70%), defisit tingkat sedang (70-79%), defisit tingkat ringan (8089%), normal (90-119%), dan kelebihan (>120%). Penilaian untuk mengetahui 11    tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi zat gizi aktual (nyata) dengan kecukupan zat gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik atau disebut juga aktivitas eksternal adalah kegiatan yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai kegitan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut lamanya intensitas dan kerja otot (FKM-UI 2007). Menurut Hoeger dan Hoeger (2005), aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot skeletal dan membutuhkan pengeluaran energi. Almatsier (2003), menjelaskan bahwa aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot-otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk menghantarkan zat-zat gizi dan oksigen keseluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan. Menurut Rosmalina dan Permaesih (2008), aktivitas fisik merupakan faktor utama yang membedakan kebutuhan energi, selain itu juga berat badan dan umur. Aktivitas fisik sehari mencakup lama dan jenis aktivitas yang biasa dilakukan akan mempengaruhi jumlah energi yang dikeluarkan. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas fisik ini akan mengakibatkan terjadinya kelemahan tonus otot dinding saluran cerna sehingga akan terjadi konstipasi (Arisman 2007). Status Gizi Lansia Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Penilaian status gizi menurut Riyadi (2004) dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya menggunakan pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh), terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara intik energi dan protein. 12    Indikator dari status gizi adalah berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Status gizi diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Salah satu perubahan fisik yang terjadi pada lansia seiring pertambahan usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang dapat merubah struktur tulang. Perubahan struktur tulang akan terjadi pada tulang-tulang punggung (vertebrae), struktur jaringan pengikat dan tulang rawan (invertebrae) yang akan merubah kurvatura tulang punggung menjadi lebih melengkung (kifosis torakalis) dan posisi akan menjadi bungkuk (Darmojo 1999). Tinggi badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang diperlukan untuk pengkajian status gizi. Namun, dalam prakteknya seringkali menemukan kesulitan untuk mendapatkan data TB pada lansia terutama yang sudah tidak dapat berdiri dan mengalami kelainan tulang. Alternatif lain untuk memprediksi TB lansia yaitu pengukuran tinggi lutut (TL). Tinggi lutut dapat digunakan untuk melakukan estimasi TB lansia. Hasil pengukuran TL dikonversikan menjadi TB menggunakan rumus Chumlea (1984) dalam Fatmah (2008): TB pria = 64,19 - (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut daIam cm) TB wanita = 84,88 - (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) Menurut Riyadi (2004) indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) ini sudah divalidasi sebagai indikator lemak tubuh total pada persentil atas dan juga direkomendasikan untuk orang dewasa serta data referensi yang bermutu tinggi juga telah tersedia. Indeks Massa Tubuh merupakan perbandingan BB dalam satuan kilogram dengan TB kuadrat dalam satuan meter. Kategori IMT dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Kategori indeks massa tubuh Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat Sumber : Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 13    KERANGKA PEMIKIRAN Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun keatas. Lansia mengalami beberapa proses perubahan jangka panjang, berupa perubahanperubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang, dan mengalami perubahan mental penurunan. Perubahan tersebut memicu berbagai masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, salah satunya masalah pencernaan yaitu konstipasi. Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai anus. Konstipasi dapat diketahui dari beberapa gejala yang umum terjadi pada penderitanya, meliputi perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih. Konstipasi umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik rendah. Penurunan fungsi gigi-geligi pada lansia berakibat keengganan untuk mengkonsumsi makanan bertekstur keras seperti buah dan sayur yang merupakan sumber serat makanan. Penurunan rasa haus pada lansia juga otomatis akan menurunkan asupan cairan harian. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas ini akan mengakibatkan terjadinya konstipasi. Selain itu, konstipasi pada lansia juga sering disebabkan karena adanya penyakit atau gangguan pada usus besar dan konsumsi obat-obatan. Lansia yang memiliki riwayat penyakit hipertensi terbiasa untuk mengkonsumsi obatobatan anti hipertensi, dimana beberapa jenis obat anti hipertensi dapat menyebabkan konstipasi. Kerangka pemikiran penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 1.     13  14    Lansia Karakteristik Contoh ‐ Umur ‐ Jenis Kelamin ‐ Tingkat Pendidikan ‐ Status Gizi Asupan Energi, Protein, Karbohidrat, dan Lemak ‐ Penyakit dan gangguan pada usus besar ‐ Gangguan fungsional pada usus Konsumsi obat-obatan Penurunan fungsi fisik Kurangnya aktifitas fisik  - Asupan serat - Asupan cairan Konstipasi Keterangan : = Variabel yang tidak diteliti = Variabel yang diteliti Gambar 1 Kerangka pemikiran hubungan antara asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lanjut usia. 15    METODOLOGI PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain crossecsional study, semua data yang dibutuhkan dikumpulkan dalam satu waktu (Singarimbun & Effendi 2006). Penelitian dilakukan di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2011. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling berdasarkan pertimbangan bahwa RPSTW Sukma Raharja merupakan satu-satunya panti yang dikelola Pemda Kota Bogor, sedangkan PW Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta dipilih dengan pertimbangan jumlah lansia yang dirawat relatif lebih banyak dibandingkan dengan panti-panti swasta lainnya. Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Keseluruhan lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera masing-masing berjumlah 60 dan 62 orang. Penentuan jumlah contoh dilakukan dengan cara proporsional stratified random sampling. Jumlah contoh diperoleh dengan menentukan jumlah contoh minimal terlebih dahulu, yaitu 30 untuk masing-masing panti. Perhitungan jumlah contoh dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Perhitungan jumlah contoh Panti RPSTW Sukma Raharja PW Salam Sejahtera Total Jumlah lansia P L 59 1 31 31 Total Ukuran Contoh 60 62 122 60/122 x 60 = 30 62/122 x 60 = 31 61 Berdasarkan perhitungan, diperoleh jumlah contoh 61 orang dengan masing-masing 30 lansia dari RPSTW Sukma Raharja dan 31 lansia PW Salam Sejahtera. Penentuan lansia yang menjadi contoh penelitian ialah dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Tidak pikun 2. Masih bisa berkomunikasi dengan baik 3. Bersedia diwawancarai dan dilakukan penimbangan terhadap makanan yang dikonsumsi. Jenis dan Cara Pengambilan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Adapun data primer yang dikumpulkan meliputi data karakteristik 15  16    lansia (nama, umur, jenis kelamin, dan pendidikan), konsumsi pangan dan cairan, aktivitas fisik, status gizi, dan data kejadian konstipasi contoh. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi jumlah lansia yang berada di Panti, menu yang diberikan dari pihak panti, dan gambaran umum panti. Jenis dan cara pengumpulan data primer dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jenis dan Cara Pengumpulan Data No 1 Variabel Karakteristik Contoh Data Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan 2 Data asupan Konsumsi makanan dan minuman 3 Aktivitas Fisik 4 Status Gizi Jenis dan alokasi waktu untuk aktivitas fisik dan olah raga Berat badan dan tinggi badan 5 Kejadian Konstipasi Lokasi penelitian 6 Gejala-gejala konstipasi Gambaran umum Panti Cara Pengumpulan Data Wawancara menggunakan kuesioner. Penimbangan makanan (food weighing) yang disediakan panti dan recall makanan jajanan selama 2 hari berturut-turut, dengan mencatat jenis dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi mulai dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Wawancara menggunakan kuesioner dan recall 2x 24 jam. Pengukuran langsung menggunakan timbangan bath room merk Camry dengan ketelitian 0,1 kg dan kapasitas 120 kg. Pengukuran tinggi badan menggunakan Microtoise merk Design dengan ketelitian 0,1 cm dan kapasitas 200 cm. Wawancara langsung menggunakan kuesioner. Data profil panti Data konsumsi makanan dari kedua panti diperoleh dengan cara yang berbeda. Pada RPSTW Sukma Raharja, konsumsi nasi dan sayuran lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Berat atau jumlah pangan yang diambil diketahui dengan terlebih dahulu menimbang berat pangan yang diambil setiap per satuan alat (sendok sayur) yang dipakai oleh pihak panti saat memberikan makanan kepada penghuni panti. Hal tersebut karena petugas dapur RPSTW Sukma Raharja membagikan makanan secara prasmanan dan tidak disediakan tempat/wadah khusus. Lansia membawa piring/mangkuk milik sendiri sebagai tempat/wadah makanan mereka, sehingga porsi yang diterima penghuni panti cenderung berbeda, sedangkan makanan yang berupa potongan seperti pangan hewani dan nabati dilakukan penimbangan dengan cara mengambil 3 potong dari 17    jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Pada PW Salam Sejahtera, total konsumsi nasi lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Penimbangan dilakukan untuk lauk pauk dan sayuran, yaitu dengan cara mengambil 3 potong dari jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Recall 2x24 jam dilakukan pada kedua panti untuk makanan yang dikonsumsi lansia contoh diluar dari yang diberikan oleh pengelola panti, serta makanan yang dikonsumsi penghuni panti pada saat malam hari, karena peneliti hanya melakukan penelitian dari pagi hingga sore. Data konsumsi dan aktivitas fisik juga diperoleh dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap masing-masing lansia contoh. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi bias dari lansia contoh yang telah mengalami penurunan daya ingat. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh kemudian diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, cleaning data, tabulasi dan analisis data. Pengolahan dan analisis data menggunakan program Microsoft Excel dan Software Statistik. Data karakteristik. Data karakteristik contoh yang meliputi umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan, data asupan /asupan makanan dan minuman, data aktivitas fisik, dan data status gizi. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Data umur contoh yang diperoleh dikelompokkan menjadi tiga kelompok menurut WHO (1997) yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Data tingkat pendidikan contoh diolah dengan mengelompokkannya menjadi enam kategori yaitu tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat Perguruan Tinggi/D3. Data konsumsi. Data konsumsi yang diperoleh dikonversi dalam satuan gram kemudian dihitung kandungan energi, protein, karbohidrat, lemak, dan serat dengan menggunakan program nutrisurvey kemudian hasil akhirnya diperoleh rata-rata untuk 2 hari. Asupan energi dan protein. Angka kecukupan gizi contoh dihitung berdasarkan status gizi contoh. Apabila status gizi normal maka menggunakan Angka Kecukupan Gizi (2004) yang telah dikoreksi dengan berat badan aktual 18    contoh sehingga didapatkan angka kecukupan energi dan protein koreksi. Status gizi kurang tingkat berat dan lebih tingkat berat menggunakan berat badan ideal dalam menghitung angka kecukupan zat gizi contoh. Rumus yang digunakan dalam mengkoreksi angka kecukupan zat gizi adalah sebagai berikut (Hardinsyah & Tambunan 2004): AKG Koreksi= berat badan aktual (kg) x AKG berat badan standar dalam daftar AKG Angka kecukupan gizi kemudian digunakan untuk menghitung tingkat kecukupan zat gizi. Tingkat kecukupan zat gizi contoh diperoleh dengan menggunakan rumus (Hardinsyah & Tambunan 2004): Tingkat kecukupan zat gizi = asupan zat gizi aktual x 100% angka kecukupan gizi Penggolongan tingkat kecukupan dilakukan berdasarkan Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) yaitu defisit tingkat berat (<70% AKG), defisit tingkat sedang (70-79% AKG), defisit tingkat ringan (80-89% AKG), normal (90-119% AKG), dan kelebihan (≥120% AKG). Asupan serat. Data asupan serat contoh dibandingkan dengan kebutuhan serat orang dewasa dan dilakukan penggolongan tingkat konsumsi serat berdasarkan anjuran asupan serat per hari yaitu 20-30 g dengan kategori kurang (< 20 g), cukup (20-30 g), dan lebih (> 30 g) (Muchtadi 2009). Asupan cairan. Data asupan cairan dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan sumbernya, yaitu air yang berasal dari makanan, minuman, dan air metabolik. Asupan air dari makanan dihitung berdasarkan kandungan air dari rata-rata konsumsi pangan selama 2 hari. Kandungan air pangan diperoleh dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia dalam Mahmud et al (2009) dengan rumus: Kgij= {(Bj/100) x Gij x (BDDj/100)} Keterangan: Kgij = Kandungan zat-zat gizi-i dalam bahan makanan-j Bj = Berat makanan-j yang dikonsumsi (g) Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 g BDD bahan makanan-j BDDj = Bagian bahan makanan-j yang dapat dimakan Air metabolik merupakan air hasil metabolisme zat gizi pangan (karbohidrat, protein, lemak). Jumlah air yang dihasilkan dari proses metabolisme zat gizi dapat dilihat pada Tabel 4. Asupan cairan dihitung dari rata-rata konsumsi cairan dalam 2 hari penelitian baik dari makanan, minuman, maupun 19    air metabolik dibandingkan dengan kebutuhan cairan perhari dikali 100%. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Kemudian dilakukan penggolongan tingkat konsumsi cairan yang dianalogikan sama dengan pemenuhan zat gizi, yaitu kurang minum (<90%), cukup minum (90-110%), dan minum berlebih (>110%) (Depkes 2005). Tabel 4 Air metabolik Zat Gizi Karbohidrat Protein Lemak Air Hasil Metabolisme (ml/100 g zat gizi) 55 41 107 Sumber : Muchtadi et al (1993) Aktivitas fisik. Data aktivitas fisik didapatkan dengan metode recall 2x24 jam dan pengeluaran energi aktivitas fisik dihitung berdasarkan jenis kegiatan dengan menggunakan faktor kelipatan dan EMB untuk tiap jenis kegiatan. Menurut FAO/WHO/UNU (2001) besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang dalam 24 jam dinyatakan dlam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut: PAL= ∑(PAR ×alokasi waktu tiap aktivitas) 24 jam Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) PAR= Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu) Tingkat aktivitas fisik kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu ringan (1,40≤ PAL≤1,69), sedang (1,70≤PAL≤1,99), dan berat (2,00≤PAL≤2,39) (FAO/WHO/UNU 2001). Jenis aktivitas fisik yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada FAO/WHO/UNU (2001) dengan nilai PAR yang berbeda dalam setiap jenis kegiatan kkal per menitnya antara laki-laki dan perempuan. Nilai PAR yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Keseimbangan energi diperoleh dengan menghitung selisih antara energi yang didapat dari konsumsi pangan (asupan energi) dan pengeluaran energi dari aktivitas fisik, masing-masing dalam satuan kalori. Keseimbangan energi dikatakan positif apabila asupan energi lebih besar dari pengeluaran energi, dan dikatakan negatif bila asupan energi lebih kecil dari pengeluaran energi. 20    Perhitungan pengeluaran energi aktivitas fisik dapat dilihat dengan rumus sebagai berikut: Pengeluaran Energi = PAL x EMB Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) EMB = Energi Metabolisme Basal Penentuan nilai EMB didasarkan pada umur dan BB disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Rumus FAO/WHO/UNU untuk menentukan EMB Kelompok Umur 0–3 3 – 10 10 – 18 18 – 30 30 – 60 ≥ 60 Sumber: Almatsier S (2004) EMB (kkal/hari) Laki-laki Perempuan 60,9 BB - 54 61,0 BB – 51 22,7 BB + 495 22,5 BB + 499 17,5 BB + 651 12,2 BB + 746 15,3 BB + 679 14,7 BB + 496 11,6 BB + 879 8,7 BB + 829 13,5 BB + 487 10,5 BB + 596 Status gizi. Status gizi contoh diukur berdasarkan indeks massa tubuh yang terdiri dari 5 kategori menurut Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) yang dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Kategori status gizi berdasarkan IMT Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 Data IMT diperoleh dengan terlebih dahulu mengetahui tinggi dan berat badan lansia. Tinggi dan berat badan lansia diperoleh dengan pengukuran langsung terhadap lansia contoh. Akan tetapi, ada beberapa lansia contoh dikedua panti yangmengalami kelainan tulang yaitu 4 orang di RPSTW Sukma Raharja dan 10 orang di PW Salam Sejahtera, sehingga digunakan pengukuran TL yang dikonversi ke dalam TB dengan menggunakan rumus Chumlea (1984). Konstipasi. Data konstipasi diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner mengenai gejala-gejala dasar konstipasi seperti perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih dengan jawaban ya atau tidak. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi, rata-rata dan standard deviasi. Data 21    yang dianalisis secara deskriptif adalah data karakteristik contoh, asupan zat gizi, aktivitas fisik, status gizi dan kejadian konstipasi contoh. Untuk mengetahui perbedaan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, serat, cairan, aktivitas fisik, dan status gizi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam sejahtera yang dikelola pihak swasta dianalisis dengan independent sample t-test. Sedangakan analisis data yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel adalah uji korelasi Rank Spearman. 22    Definisi Operasional Contoh adalah lansia di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera laki-laki dan perempuan berusia ≥ 60 tahun. Asupan serat adalah asupan serat yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan dan minuman dalam satuan gram sehari. Asupan cairan adalah asupan cairan yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan, minuman, dan air metabolik dalam satuan liter sehari. Aktivitas fisik adalah data recall semua aktivitas fisik yang dilakukan contoh selama 24 jam atau 1 hari penuh. Gejala-gejala konstipasi adalah tanda-tanda konstipasi yang dialami contoh berupa gangguan buang air besar dengan gejala tidak BAB selama 2 hari atau lebih, perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB. Karakteristik sosial adalah karakterisitk lansia contoh yang meliputi umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Tingkat Pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang pernah diperoleh oleh contoh. Status gizi contoh adalah keadaan gizi contoh yang diukur dari BB dan TB yang dikonversikan dan dikategorikan berdasarkan IMT contoh. Asupan energi adalah jumlah rata-rata energi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan kkal dalam sehari. Asupan protein adalah jumlah rata-rata protein dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan karbohidrat adalah jumlah rata-rata karbohidrat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan lemak adalah jumlah rata-rata lemak dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. 23    HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Kota Bogor adalah salah satu panti dibawah lembaga atau satuan kerja yang berfungsi untuk memberikan pelayanan sosial bagi penyandang masalah sosial Lanjut Usia terlantar. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Bogor terbentuk sejak tahun 1957 diatas sebidang tanah seluas 1810 m2. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Kota Bogor merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan yang berfungsi memberikan pelayanan sosial bagi para lansia terlantar dan tidak mampu berdasarkan profesi pekerjaan sosial. Kedudukan RPSTW Sukma Raharja Bogor sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 38 Tahun 1997 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja RPSTW Sosial di Lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan keputusan Gubernur Jawa Barat No. 29 tahun 2003 tentang Pembentukan Instalasi Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Sosial provinsi Jawa Barat. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No. 113 Tahun 2009 tentang Pembentukan Sub Unit Pelaksanaan Teknis Dinas pada Dinas sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu RPSTW Bogor diubah menjadi Sub Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki RPSTW Sukma Raharja saat ini berupa bangunan yaitu 1 unit kantor, 4 unit asrama, 1 unit aula, 1 unit gazebo, 1 unit Mushola, 3 unit kamar mandi, 3 unit kamar emergency, 1 unit dapur, dan 1 unit rumah dinas Kepala Panti. Jumlah penghuni yang dilayani di RPSTW Sukma Raharja Bogor sebanyak 60 orang, terdiri dari 59 Lansia wanita dan 1 orang Lansia laki-laki. Jumlah pegawai sebanyak 16 orang termasuk 10 tenaga TKK yaitu 6 orang Pegawai Negeri Sipil, 3 orang perawat, 1 orang pramu wisma, 1 orang pramu Wreda, 2 orang petugas keamanan, dan 2 orang petugas dapur. 23 24    Beberapa persyaratan untuk bisa diterima di RPSTW Sukma Raharja Bogor yaitu: 1. Wanita berusia minimal 60 tahun keatas 2. Bukan Pensiun PNS/Polri/TNI 3. Membawa surat keterangan sehat dari dokter 4. Mengisi formulir permohonan 5. Menyerahkan surat keterangan tidak mampu dari Desa/ Kelurahan setempat 6. Membawa surat rujukan dari Dinas Sosial Kabupaten/ Kota 7. Menyerahkan KTP, fotcopy KK, foto terbaru ukuran 3x4 2 lembar. Adapun pembiayaan dibebankan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat/APBD Tk. I yang menyantuni sebanyak 60 orang Lansia. Pegelolaan makanan di RPSTW Sukma Raharja dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi dilakukan untuk pangan sumber protein hewani dan nabati, seperti ayam, ikan, tahu, dan tempe. Nasi diambil sendiri oleh penghuni panti, sedangkan sayuran diberikan secara langsung oleh petugas dapur pada saat pembagian makanan. Penghuni panti menggunakan tempat/piring/mangkuk masing-masing untuk mengambil makanan yang diberikan oleh pengelola. Panti Wreda Salam Sejahtera Awal tahun 1996 diadakan pertemuan dengan diberi nama “Ikatan Kekerabatan/Kekeluargaan Tio Chiu”. Pertemuan ini menghasilkan gagasangagasan, salah satunya muncul gagasan mulia dengan tujuan untuk mengadakan bentuk kegiatan yang lebih berarti, bukan untuk kalangan terbatas tetapi untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Gagasan ini yaitu dengan membangun dan membentuk sebuah panti yang diberi nama Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera dibawah naungan Yayasan Kasih Mulia Sejahtera Panti Wreda dan resmi berdiri pada tanggal 12 Desember 1996. Lokasi PW Salam Sejahtera Kota Bogor cukup strategis baik untuk hubungan dengan masyarakat lingkungan sekitarnya, pusat perbelanjaan dan Pemerintahan Kota Bogor, sehingga penghuni panti tidak merasa diasingkan dan dapat menikmati hari tuannya dengan diliputi rasa ketentraman lahir batin. PW Salam Sejahtera Kota Bogor terletak di Jalan Padjajaran belakang Gedung Olympic, diapit oleh dua gedung pertokoan yang dibelakangnya terdapat perumahan masyarakat. 25    Panti Wreda Salam Sejahtera dibangun diatas sebidang tanah seluas ± 3.642 m2 yang didirikan oleh 10 orang yaitu salah satunya Bapak Eddy Mulianto sebagai ketua. Adapun bangunan tersebut terdiri dari ruang sekretariat, ruang tamu, ruang perawat, balai pengobatan/poliklinik, ruang pertemuan yang biasanya dipakai sebagai tempat ibadah, kamar berjumlah 60 unit yang dibagi menjadi 3 wisma yaitu wisma A dengan 25 unit kamar, wisma B 8 unit kamar, dan wisma C 27 unit kamar yang dikhususkan untuk lansia laki-laki. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi dan WC tersendiri. Ruang makan yang dilengkapi meja dan kursi serta perlengkapan lainnya, dapur dan ruang cuci dengan ukuran 6,5x6 m2 dan ruang penyimpanan bahan makanan 5x5 m2. Jumlah karyawan di PW Salam Sejahtera yaitu 24 orang yang terdiri dari 5 orang bagian pengelola makanan, 6 orang suster, 2 orang Ahli Madya Fisioterapi, 4 orang satpam, 2 orang bagian administrasi, 3 orang bagian kebersihan, 1 orang tukang cuci dan 1 orang driver. Adapun struktur organisasi di PW Salam Sejahtera dapat dilihat pada Gambar 2. Ketua pengurus Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Wakil Sekretaris Wakil Bendahara Ketua Pelaksana Panti Pelaksana Tata Usaha Bendahara Gambar 2 Struktur Organisasi Panti Wreda Salam Sejahtera Bogor Lansia yang akan masuk dan tinggal di PW Salam Sejahtera harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan panti, sekaligus dengan biaya sewa kamar tiap bulannya. Harga sewa kamar disesuaikan dengan luas kamar. Beberapa syarat untuk menjadi penghuni di PW Salam Sejahtera yaitu: 1. Berusia diatas 60 tahun dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. 26    2. Ada anak atau keluarga yang bertanggung jawab atas iuran bulanan atau biaya pengobatan bila diperlukan. 3. Surat keterangan kesehatan dari dokter atau rumah sakit (bila diperlukan). Pengelolaan makanan di PW Salam Sejahtera dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi tidak dilakukan dengan penimbangan khusus, tapi dengan pertimbangan bentuk potongan yang dianggap sama untuk setiap potongannya. Pembagian makanan berupa laukpauk dan sayuran kepada penghuni panti menggunakan tempat yang disediakan pengelola, sehingga dapat diduga semua pembagian dalam porsi yang sama, sedangkan penghuni panti dapat mengambil sendiri porsi nasi yang diinginkan. Karakteristik Contoh Lanjut usia menurut WHO (1997) dikelompokkan menjadi tiga yaitu usia lanjut (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Sebaran usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan contoh pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh Karakteristik contoh Usia: - Usia lanjut (60-74) - Usia tua (75-90) Total Rata-rata (tahun) Jenis Kelamin : - Laki-laki - Perempuan Total Tingkat Pendidikan - Tidak Sekolah - Tidak Tamat SD - SD/Sederajat - SMP/Sederajat - SMA/Sederajat - D3 Total Sukma Raharja n % 27 3 30 90 10 100 Salam Sejahtera n % 9 22 31 67±5 29 71 100 Total n % 36 25 61 59 41 100 71±8 76±7 0 30 30 0 100 100 15 16 31 48,4 51,6 100 15 46 61 24,6 75,4 100 5 11 4 4 5 1 30 16,7 36,7 13,3 13,3 16,7 3,3 100 0 7 4 7 11 2 31 0 22,6 12,9 22,6 35,5 6,5 100 5 18 8 11 16 3 61 8,2 29,5 13,1 18,0 26,2 4,9 100 Usia. Tabel 7 menunjukkan bahwa secara keseluruhan contoh berada pada rentang usia 60-74 tahun yaitu 59%. Akan tetapi, lansia di PW Salam Sejahtera lebih banyak pada kelompok usia tua (75-90 tahun) yaitu sebesar 71%, 27    sedangkan di Sukma Raharja 90% responden termasuk kelompok usia lanjut (60-74 tahun). Usia lansia contoh di Sukma Raharja berada dalam rentang 60-79 tahun dengan rata-rata usia 67±5 tahun, dan lansia contoh di Salam Sejahtera berada dalam rentang usia 60-85 tahun dengan rata-rata usia 76±7 tahun. Jenis Kelamin. Contoh yang berasal dari Sukma Raharja 100% berjenis kelamin perempuan, hal ini dikarenakan populasi pada tersebut semuanya berjenis kelamin perempuan. Pada Salam Sejahtera, contoh tersebar secara merata antara contoh berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, yaitu masingmasing 48,4% dan 54,6%. Tingkat Pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang bisa diperoleh dari pendidikan, terutama pendidikan formal. Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pendidikan lansia contoh sangat beragam. Persentase terbesar terdapat pada kelompok tingkat pendidikan tidak tamat SD yaitu 29,5%. Lansia contoh di Sukma Raharja tingkat pendidikan terbesar adalah tidak tamat SD yaitu sebanyak 36,7% contoh. Hal ini dikarenakan tidak adanya biaya untuk bersekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan lansia contoh di Salam Sejahtera, persentase tingkat pendidikan terbesar adalah SMA/Sederajat yaitu 35,5%. Status Gizi Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Status gizi seseorang dapat ditentukan dengan berbagai jenis teknik penilaian, salah satunya dengan IMT. Status gizi lansia contoh dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 8. Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan status gizi berdasarkan IMT Status Gizi (IMT) Kurus tingkat berat (<17,0) Kurus tingkat ringan (17,0-18,4) Normal(18,5-25,0) Gemuk tingkat ringan (25,1-27,0) Gemuk tingkat berat (>27,0) Total Rata-rata (IMT) Sukma Raharja n % 9 30 4 13,3 13 43,3 2 6,7 2 6,7 30 100 20±5 Salam Sejahtera n % 2 6,5 4 12,9 15 48,4 3 9,7 7 22,6 31 100 24±5 Total n % 11 18,0 8 13,1 28 45,9 5 8,2 9 14,8 61 100 p=0,001 28    Tabel 8 menunjukkan bahwa secara keseluruhan status gizi lansia contoh adalah normal yaitu sebesar 45,9%. Pada kedua lokasi tersebut pun sama, yaitu masing-masing pada Sukma Raharja sebesar 43,3% lansia contoh berstatus gizi normal dan 48,4% lansia contoh di Salam Sejahtera. Akan tetapi, persentase terbesar kedua menunjukkan masih terdapat 30% lansia contoh di Sukma Raharja yang memiliki status gizi kurus tingkat berat dengan IMT terendah 14,1 kg/m2, sedangkan pada lansia contoh di Salam Sejahtera persentase terbesar kedua adalah gemuk tingkat berat dengan IMT tertinggi 39,6 kg/m2. Hal ini menunjukkan adanya masalah gizi ganda pada lansia contoh di kedua lokasi penelitian. Sejalan dengan persentase tersebut, hasil uji beda t juga menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara IMT lansia Sukma Raharja dan IMT lansia Salam Sejahtera. Asupan Energi dan Zat Gizi Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992). Konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi lansia contoh dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 menunjukkan bahwa rata-rata asupan energi lansia dari Sukma Raharja adalah 1717±245 kkal/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 1585±231 kkal/hari dengan konstribusi tertinggi berasal dari nasi. Asupan protein tertinggi pada kedua lokasi berasal dari protein hewani. Rata-rata asupan protein lansia dari Sukma Raharja adalah 49,9±7,5 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 47,7±5,6 gr/hari. Rata-rata asupan lemak lansia dari Sukma Raharja adalah 58,8±12,0 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 63,9±7,4 gr/hari. Asupan lemak tertinggi diperoleh dari bahan pangan minyak dan lemak. Rata-rata asupan karbohidrat lansia dari Sukma Raharja adalah 253,7±39,2 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 208,3±38,3 gr/hari, kontribusi terbesar diperoleh dari nasi. 1    Tabel 9 Konsumsi pangan dan asupan energi serta zat gizi lansia contoh Jenis Pangan Nasi Olahan tepung Singkong Jagung Manis Havermout Protein Hewani - Daging Sapi - Daging Ayam - Daging Babi - Ikan - Telur Ayam - Hati Protein Nabati Sayuran Buah Minyak dan lemak Susu dan olahannya Makanan Jajanan Gula dan kecap Total Berat (g) 385 14 38 13 0 29 0 0 60 22 0 52 216 169 42 10 151 3 E (kkal) 501 48 91 14 0 64 0 0 73 41 0 107 68 120 230 46 302 12 1717 Sukma Raharja P L KH (g) (g) (g) 9,2 0,8 110,1 1,3 0,1 9,8 1,3 0,1 11,7 0,4 0,2 3,3 0,0 0,0 0,0 3,2 0 0 11,1 2,5 0 7,3 3,8 1,5 0,3 2,4 5,6 0,0 49,9 4,7 0 0 4,9 3,2 0 4,5 0,9 0,7 25,4 1,9 11,4 0,0 58,8 0,0 0 0 0,0 0,3 0 5,1 13,8 27,0 0,9 5,0 64,0 2,8 253,7 Serat (g) 1,9 0 1 0,4 0 0 0 0 0 0 0 1 5 4 0,4 0 1 0 13,9 Berat (g) 375 14 28 9 1 26 9 23 0 2 32 28 212 50 39 6 103 7 E (kkal) 488 42 37 10 4 Salam Sejahtera P L KH (g) (g) (g) 9,0 0,8 107,3 1,3 0,3 8,0 0,3 0,1 8,9 0,3 0,1 2,3 0,1 0,1 0,6 69,9 24,8 101,1 0 3,1 50,2 46 92 22 268 21 281 11 1585 6,5 2,3 2,4 0 0,3 7,9 4,4 4,3 0,2 0,0 1,0 5,7 0,5 47,7 4,7 1,7 6,1 0 0,2 1,8 2,0 0,4 0,1 25,7 0,5 16,1 0,0 63,9 0,0 0,0 0,0 0 0,0 0,3 3,4 20,3 5,0 0,0 3,1 34,7 2,3 208,3 Serat (g) 1,7 0,3 0,4 0,3 0,1 0 0,2 0 0 0 0 0,4 4,7 0,6 0,0 0,0 0,4 0,0 9,1 29 30    Asupan Energi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata AKE lansia dari Sukma Raharja adalah 1657±209 kkal/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 1841±338 kkal/hari. Jika dibandingkan dengan asupan energi, maka lansia dari Sukma Raharja sudah memenuhi angka kecukupan energi tetapi berbeda dengan lansia dari Salam Sejahtera yang belum memenuhi angka kecukupan energi yang dianjurkan. Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi lansia disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan energi lansia Energi Asupan Energi (kkal) Angka Kecukupan Energi (kkal/hari) Tingkat Kecukupan Energi (%) Rata-rata ± SD Sukma Raharja Salam Sejahtera 1717±245 1585±231 1657±209 1841±338 104,3±14,4 87,5±13,6 p value 0,021 0,023 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan energi (TKE), rata-rata TKE lansia dari Sukma Raharja sebesar 104,3% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 87,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa lansia Sukma Raharja termasuk dalam kategori normal, sedangkan lansia Salam Sejahtera termasuk dalam kategori defisit tingkat ringan. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan, baik pada asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi Tingkat kecukupan energi (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 0 0 5 16,7 21 70,0 4 13,3 30 100 Salam Sejahtera n % 4 12,9 8 25,8 6 19,4 13 41,9 0 0 31 100 Total n 4 8 11 33 4 61 % 6,6 13,0 18,0 55,7 6,6 100 Secara keseluruhan, terdapat 55,7% lansia contoh telah memiliki tingkat kecukupan energi normal. Demikian halnya dengan tingkat kecukupan energi lansia contoh di Sukma Raharja, sebagian besar (70,0%) termasuk dalam kategori normal. Persentase terbesar kedua (16,7%) yaitu defisit tingkat ringan dengan %AKG terendah 80% AKG. Tingkat kecukupan energi lansia contoh di Salam Sejahtera sebesar 41,9% termasuk dalam kategori normal. Akan tetapi, 31    masih terdapat 12,9% lansia contoh memiliki tingkat kecukupan energi defisit tingkat berat dengan tingkat kecukupan terendah yaitu 34% AKG. Asupan Protein Rata-rata angka kecukupan protein lansia dari Sukma Raharja adalah 42,5±6,0 gr/hari dan lansia dari Salam Sejahtera 47,7±5,6 gr/hari. Jika dibandingkan dengan asupan protein, maka lansia dari Sukma Raharja sudah memenuhi angka kecukupan protein tetapi berbeda dengan lansia dari Salam Sejahtera yang belum memenuhi angka kecukupan protein yang dianjurkan. Rata-rata asupan angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein lansia disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan protein lansia Protein Asupan Protein (gr) Angka Kecukupan Protein (gr/hari) Tingkat Kecukupan Protein (%) Rata-rata ± SD Sukma Raharja Salam Sejahtera 49,9±7,5 46,8±8,0 42,5±6,0 47,7±5,6 118,4±16,8 103,7±14,8 p value 0,110 0,034 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan protein (TKP), rata-rata TKP lansia dari Sukma Raharja sebesar 118,4% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 103,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kecukupan protein lansia dari kedua panti termasuk dalam kategori normal. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05), sedangkan untuk asupan protein tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Secara rinci, sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi dapat dilihat pada Tabel 13. Lebih dari separuh (59,0%) lansia contoh memiliki tingkat kecukupan protein normal. Begitu juga dengan tingkat kecukupan protein lansia contoh di Sukma Raharja sebagian besar (56,7%) termasuk dalam kategori normal, dan Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan protein Tingkat kecukupan Protein (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 0 0 0 0 17 56,7 13 43,3 30 100 Salam Sejahtera n % 2 6,5 1 3,2 4 12,9 19 61,3 5 16,1 31 100 Total n 2 1 4 36 18 61 % 3,3 1,6 6,6 59,0 29,5 100 32    sisanya (43,3%) memiliki tingkat kecukupan protein lebih. Tingkat kecukupan protein tertinggi mencapai 154% AKG. Berbeda halnya dengan lansia contoh di Sukma Raharja yang tersebar dalam dua kategori, tingkat kecukupan protein di Salam Sejahtera tersebar dalam 5 kategori. Sebagian besar (61,3%) tingkat kecukupan energi lansia contoh di Salam Sejahtera termasuk dalam kategori normal. Akan tetapi masih terdapat 6,5% lansia contoh memiliki asupan defisit tingkat berat dengan tingkat kecukupan protein 53% AKG. Asupan Karbohidrat Menurut Hardinsyah dan Tambunan (2004) secara umum komposisi energi dari karbohidrat adalah sebesar 50-65%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata angka kecukupan karbohidrat lansia Sukma Raharja sebesar 267,7±33,8 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 298,4±55,4 gr. Jika dibandingkan dengan asupan karbohidrat, maka konsumsi kedua kelompok lansia belum memenuhi angka kecukupan karbohidrat yang dianjurkan. Tabel 14 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan karbohidrat lansia Karbohidrat Asupan Karbohidrat (gr) Angka Kecukupan Karbohidrat (gr/hari) Tingkat Kecukupan Karbohidrat (%) Rata-rata ± SD Sukma Salam Raharja Sejahtera 253,7±39,2 208,3±38,3 267,7±33,8 293,2 ± 51,9 95,3±13,5 76,8±12,4 p value 0,000 0,023 0,000 Berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat, rata-rata tingkat kecukupan lansia Sukma Raharja sebesar 95,3% dan lansia Salam Sejahtera sebesar 76,8%. Hasil ini menunjukkan bahwa lansia Sukma Raharja termasuk dalam kategori normal, sedangkan lansia Salam Sejahtera termasuk dalam kategori defisit tingkat sedang. Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat pada lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda baik secara angka maupun secara statistik. Berdasarkan uji beda t terdapat perbedaan asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat yang signifikan antara kedua kelompok tersebut (p<0,05). Tabel 15 menggambarkan asupan karbohidrat lansia contoh. Secara keseluruhan persentase terbesar yaitu 34,4% lansia contoh termasuk dalam tingkat kecukupan karbohidrat normal. Tingkat kecukupan karbohidrat lansia contoh di Sukma Raharja sebagian besar (60,0%) termasuk dalam kategori normal, namun masih terdapat 13,3% lansia contoh memiliki tingkat kecukupan karbohidrat defisit tingkat sedang dengan persentase tingkat kecukupan terendah 33    Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat Tingkat kecukupan karbohidrat (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Sukma Raharja n % 0 0 4 13,3 7 23,4 18 60,0 1 3,3 30 100 Salam Sejahtera n % 15 48,4 10 32,3 3 9,7 3 9,7 0 0 31 100 Total n 15 14 10 21 1 61 % 24,6 23,0 16,4 34,4 1,6 100 75% AKG. Berbeda dengan asupan karbohidrat lansia contoh di Salam Sejahtera yang sebagian besar termasuk dalam kategri defisit yaitu 90,4%, yang tersebar pada defisit tingkat ringan (9,7%), diikuti defisit tingkat sedang dan berat masingmasing 32,3% dan 48,4%. Tingkat kecukupan terendah yaitu 32%. Asupan Lemak Menurut Hardinsyah & Tambunan (2004) dalam WNPG (2004), yaitu kontribusi energi dari lemak sebaiknya tidak melebihi dari 25% atau 56 gr/hari. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata asupan lemak lansia pada kedua panti lebih besar dibandingkan dengan rata-rata angka kecukupan yang dianjurkan dan tergolong dalam tingkat kecukupan lebih yaitu masing-masing sebesar 129,0% dan 127,5%. Hasil uji beda t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada angka kecukupan lemak antara lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Sedangkan untuk asupan lemak dan tingkat kecukupan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Rata-rata asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan lemak lansia disajikan pada Tabel 16. Tabel 16 Rata-rata asupan, angka kecukupan, dan tingkat kecukupan lemak lansia Lemak Asupan Lemak (gr) Angka Kecukupan Lemak (gr/hari) Tingkat Kecukupan Lemak (%) Rata-rata ± SD Sukma Salam Raharja Sejahtera 58,8±12,0 63,9±7,4 46,0±5,8 51,1±9,4 129,0±26,9 127,5±20,6 p value 0,269 0,023 0,503 Secara keseluruhan tingkat kecukupan lansia dikedua lokasi termasuk dalam kategori lebih (62,3%). Hal tersebut dikarenakan pengolahan makanan dikedua lokasi didominasi dengan digoreng. Selain itu, makanan jajanan yang dikonsumsi lansia contoh juga berupa jajanan gorengan. Sebagian besar (66,7%) asupan lemak lansia contoh di Sukma Raharja termasuk dalam kategori lebih dan hanya 26,7% asupan lemak normal dengan tingkat kecukupan tertinggi yaitu 184% AKG. Sama halnya dengan asupan lemak lansia contoh di Salam 34    Sejahtera yang sebagian besar (58,1%) termasuk dalam kategori lebih, sedangkan asupan lemak normal sebanyak 38,7%. Tingkat kecukupan tertinggi yaitu 173% AKG. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan lemak dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan lemak Tingkat kecukupan lemak (%AKG) Defisit tingkat berat (<70%) Defisit tingkat sedang (70-79%) Defisit tingkat ringan (80-89%) Normal (90-119%) Kelebihan (≥120%) Total Rata-rata asupan energi Sukma Raharja n % 1 3,3 0 0 1 3,3 8 26,7 20 66,7 30 100 dan zat Salam Sejahtera n % 1 3,3 0 0 0 0 12 38,7 18 58,1 31 100 gizi Total n 2 0 1 20 38 61 lansia contoh % 3,3 0 1,6 32,8 62,3 100 dapat menggambarkan status gizi lansia contoh saat wawancara. Berdasarkan uji statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan status gizi lansia. Namun, lansia contoh di Sukma Raharja memiliki kecenderungan rata-rata asupan energi dan zat gizi yang semakin meningkat sesuai dengan status gizi lansia. Berbeda dengan ratarata asupan pada lansia contoh di Salam Sejahtera, lansia contoh dengan status gizi gemuk tingkat berat memiliki asupan lebih rendah daripada asupan lansia dengan status gizi normal yaitu masing masing 1519 kkal dan 1623 kkal. Hal tersebut dikarenakan lansia contoh berstatus gizi gemuk sudah mulai mengurangi makannya untuk mengontrol berat badan mereka. Secara rinci, ratarata asupan energi dan zat gizi lansia contoh berdasarkan status gizi dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18 Rata-rata asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak lansia contoh berdasarkan status gizi Status Gizi Rata-rata asupan Sukma Raharja Salam Sejahtera Energi (kkal) Protein (gr) KH (gr) Lemak (gr) Energi (kkal) Protein (gr) KH (gr) Lemak (gr) Kurus Berat 1577 46,7 236,7 52,5 873 30,2 111,3 34,6 Kurus Ringan 1590 45,4 230 57,4 1416 43,9 185,0 56,9 Normal 1756 51,6 259,9 59,5 1623 49 215 64 Gemuk Ringan 1965 51 296 68 1837 54,4 245,1 72,0 Gemuk Berat 2007 59 283 74 1519 45,2 197,6 62,7 35    Asupan Serat Serat adalah zat non-gizi yang termasuk sebagai salah satu jenis kelompok polisakarida atau karbohidrat kompleks. Serat terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu dan membentuk rantai kimia panjang, sehingga sukar dicerna oleh enzim pencernaan (Soelistijani 2002). Asupan serat seseorang dihitung berdasarkan konsumsi semua jenis makanan lansia contoh dalam dua hari yang kemudian dirata-ratakan dan dikonversi ke dalam satuan berat (gram). Rata-rata asupan serat contoh di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masing-masing adalah 13,9±1,4 gr dan 9,1±2,6 gr. Hal tersebut berarti bahwa asupan serat lansia contoh masih sangat kurang. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan serat dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan serat Tingkat kecukupan serat Kurang (<20 g) Cukup (20-30 g) Lebih (>30 g) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 30 100 0 0 0 0 30 100 13,9±1,4 Salam Sejahtera n % 31 100 0 0 0 0 31 100 9,1±2,6 Total n % 61 100 0 0 0 0 61 100 p=0,925 Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa tingkat kecukupan serat contoh 100% masuk dalam kategori kurang, baik lansia contoh di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Rumu (2007) menunjukkan bahwa pola makan lansia dipengaruhi gaya hidup dan faktor budaya, sehingga makanannya menjurus ke arah santapan siap saji yang tinggi kandungan lemak, garam, tapi rendah kandungan serat. Lansia yang hidup bebas bersama keluarganya dan memperoleh gaji pensiun selalu mampu memenuhi kebutuhan pangannya, sedangkan lansia yang hidup di Panti Wreda dengan tidak adanya pendapatan dan keterbatasan dana dari pihak panti berpengaruh pada rendahnya kualitas menu yang berdampak pada penurunan dan penerimaan lansia terhadap makanan yang disajikan. Selain itu, baik lansia contoh di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera masih kurang dalam konsumsi buah dan sayur dengan alasan kurang suka dan faktor fisiologis yaitu gigi yang sudah tidak kuat untuk mengunyah makanan yang bertekstur keras. Berdasarkan uji beda juga diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan serat lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera (p>0,05). 36    Asupan Cairan Asupan cairan adalah total konsumsi cairan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh selama dilakukan recall 2x24 jam, serta air metabolik. Recall dilakukan pada hari biasa yang kemudian dihitung konsumsi rata-rata pada kedua hari tersebut. Rata-rata konsumsi cairan lansia contoh Sukma Raharja sebesar 1835±273 ml, sedangkan lansia contoh Salam Sejahtera sebesar 1847±340 ml. Asupan cairan lansia contoh berdasarkan sumbernya dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20 Rata-rata asupan cairan lansia contoh berdasarkan sumbernya Sumber air Minuman Makanan Air metabolik Total Sukma Raharja (ml) 1052±263 560±56 223±32 1835±273 Salam Sejahtera (ml) 1205±298 444±82 198±39 1847±340 Kontribusi asupan cairan lansia contoh terbesar baik dari Sukma Raharja maupun Salam Sejahtera adalah dari minuman yaitu masing-masing 57% dan 65% dari asupan cairan total. Minuman yang sering dikonsumsi adalah air putih, susu, teh, dan kopi. Akan tetapi, tidak semua lansia mengkonsumsi minuman selain air putih, karena contoh tidak menyukai minuman tersebut. Tabel 21 Rata-rata kebutuhan, asupan, dan tingkat pemenuhan cairan lansia Cairan Kebutuhan (ml) Asupan (ml) Tingkat pemenuhan (%) Sukma Raharja 1637±267 1835±273 115±26 Salam Sejahtera 1812±390 1847±340 106±29 p value 0,048 0,878 0,228 Tabel 21 menunjukkan rata-rata kebutuhan, asupan, dan tingkat pemenuhan cairan lansia dikedua lokasi penelitian. Dari tabel diketahui bahwa rata-rata asupan cairan lansia dikedua lokasi penelitian sudah melebihi kebutuhan rata-rata lansia tersebut. Kebutuhan cairan lansia diperoleh dengan menggunakan perhitungan yang dianjurkan WHO (2002), sehingga diperoleh rata-rata kebutuhan cairan lansia di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masing-masing adalah 1637±267 ml dan 1812±390 ml. Persentase rata-rata pemenuhan konsumsi cairan lansia contoh Sukma Raharja 115±26% (minum berlebih) lebih besar daripada Salam Sejahtera yang memiliki persentase ratarata sebesar 106±29% (cukup minum). Hal ini sesuai dengan sebaran lansia contoh di Sukma Raharja yang lebih dari separuh (56,7%) termasuk dalam kategori tingkat pemenuhan lebih, sedangkan di Salam Sejahtera hampir sama antara kategori normal dan lebih yaitu masing-masing 35,5% dan 38,7%. 37    Secara keseluruhan, 47,5% lansia contoh telah mengkonsumsi cairan secara cukup, akan tetapi masih ada yang kurang mengkonsumsi cairan yaitu sebesar 31,1%. Kurangnya konsumsi cairan disebabkan oleh keengganan contoh untuk minum dengan alasan tidak merasa haus. Contoh biasanya hanya minum pada saat setelah makan. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pemenuhan asupan cairan pada lansia contoh dikedua lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pemenuhan asupan cairan Tingkat pemenuhan asupan cairan Kurang (<90%) Cukup (90-110%) Lebih (>110%) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 5 16,7 8 26,7 17 56,7 30 100 1835±273 ml Salam Sejahtera n % 8 25,8 11 35,5 12 38,7 31 100 1847±340 ml Total n % 13 21,3 19 31,1 29 47,5 61 100 p=0,228 Akan tetapi, meskipun terdapat perbedaan persentase rata-rata tingkat pemenuhan konsumsi cairan lansia contoh, hasil uji beda t menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara asupan cairan lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera. Hal ini dikarenakan selisih perbedaan tingkat pemenuhan asupan cairan dikedua lokasi tersebut yang tidak berbeda jauh yaitu hanya selisih 9%. Aktivitas Fisik Menurut Rosmalina dan Permaesih (2008) aktivitas fisik merupakan faktor utama yang membedakan kebutuhan energi, selain itu juga berat badan dan umur. Aktivitas fisik sehari mencakup lama dan jenis aktivitas yang biasa dilakukan akan mempengaruhi jumlah energi yang dikeluarkan. Jenis aktivitas fisik yang dilakukan lansia contoh dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23 menunjukkan alokasi waktu terbesar yang digunakan lansia contoh adalah untuk tidur. Alokasi waktu tidur baik di Sukma Raharja maupun di Salam Sejahtera tidak jauh berbeda, yaitu masing-masing 6,4±1,1 dan 7,2±1,6 atau selisih 0,8 jam. Setelah beraktivitas seharian, tubuh memerlukan istirahat yang cukup yang artinya tidak berlebihan dan kekurangan. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang yaitu umumnya 6-8 jam perhari. Menurut penelitian Andriani (2008), seseorang yang tidur kurang dari 5 jam setiap malamnya memiliki risiko lebih tinggi 39% terkena penyakit jantung dibandingkan 38    Tabel 23 Jenis Aktivitas fisik yang yang dilakukan contoh No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Aktivitas Fisik Tidur Berbaring Duduk : - Duduk diam - Duduk sambil ngobrol - Duduk sambil menonton TV - Duduk sambil membaca Berpakaian Kebersihan diri Makan dan Minum Berjalan Mencuci baju/piring Menyapu Mengepel Menjahit Menampi Olahraga Menari Ibadah Alokasi waktu (Jam) Sukma Raharja Salam Sejahtera 6,4±1,1 7,2±1,6 2,0±1,2 2,4±1,3 0,5±0,1 5,5±1,5 0,6±0,3 4,1±2,0 1,5±1,2 3,3±2,3 0,3±1,3 0,7±0,8 0,6±0,2 0,9±0,3 1,5±0,2 1,2±0,5 0,7±0,6 0,2±0,2 0,0±0,2 0,7±1,3 0,0±0,2 0,5±0,3 0,0±0,1 1,1±0,2 0,5±0,0 1,0±0,2 1,5±0,1 1,2±0,6 0,4±0,6 0,1±0,1 0,0±0,1 0,3±0,6 0,0±0,0 0,2±0,4 0,2±0,7 0,3±0,5 dengan yang tidur 8 jam. Seseorang yang tidur kurang dari 6 jam memiliki risiko lebih tinggi 18% terkena sumbatan arteri dan orang yang itdur 9 jam atau lebih, diperkirakan memiliki risiko lebih tinggi 37% terkena penyakit jantung. Selain tidur, alokasi waktu terbesar yang digunakan lansia adalah untuk duduk 5,5±1,5 jam pada lansia contoh di Sukma Raharja dan 4,1±2,0 jam pada lansia contoh di Salam Sejahtera atau selisih 1,4 jam. Kegiatan duduk biasanya dilakukan lansia ketika mengobrol ataupun hanya duduk diam di kamar. Secara keseluruhan, aktivitas fisik yang dilakukan lansia contoh tersebut bukan merupakan kegiatan berat, seperti terlihat pada Tabel 24. Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan aktivitas fisik Aktivitas Fisik (PAL) Sangat ringan (<1,40) Ringan (1,40-1,69) Sedang (1,70-1,99) Berat (2,00-2,39) Total Rata-rata Sukma Raharja n % 2 6,7 26 86,7 2 6,7 0 0 30 100 1,5±0,1 Salam Sejahtera n % 3 9,7 26 83,9 2 6,5 0 0 31 100 1,5±0,1 Total n % 5 8,2 52 85,2 4 6,6 0 0 61 100 p=0,280 Berdasarkan Tabel 24, diketahui bahwa aktivitas fisik lansia contoh baik di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera tergolong ringan yaitu masing-masing 86,7% dan 85,2%. Tidak ada aktivitas lansia contoh yang tergolong berat. Hal 39    tersebut sesuai dengan pernyataan Arisman (2007) yaitu fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara aktivitas fisik lansia contoh di Sukma Raharja dengan lansia contoh di Salam Sejahtera. Keseimbangan Energi Keseimbangan energi diperoleh dengan menghitung selisih antara energi yang didapat dari konsumsi pangan (pemasukan energi) dengan pengeluaran energi, masing-masing dalam satuan kalori. Keseimbangan energi dikatakan positif apabila intake energi lebih besar dari pada pengeluaran energi, dan dikatakan negatif bila intake energi lebih kecil dari pada pengeluaran energi. Pengeluaran energi diperoleh dari energi untuk metabolisme basal (EMB) dan energi dari aktivitas fisik (PAL). Berikut rata-rata asupan energi, pengeluaran energi dan keseimbangan energi lansia disajikan pada Tabel 25. Tabel 25 Rata-rata asupan energi, pengeluaran energi dan keseimbangan energi lansia Variabel Asupan Energi (kkal) Pengeluaran Energi (kkal) Keseimbangan Energi (kkal) Sukma Raharja 1717 1622 94 Salam Sejahtera 1550 1831 -282 Rata-rata asupan energi lansia Sukma Raharja lebih tinggi dibandingkan lansia Salam Sejahtera. Akan tetapi, rata-rata pengeluaran energi lansia Salam Sejahtera lebih tinggi dibandingkan lansia Sukma Raharja, sehingga diketahui bahwa rata-rata keseimbangan energi lansia Sukma Raharja yaitu positif, sedangkan keseimbangan energi lansia Salam Sejahtera negatif. Hal ini dikarenakan perhitungan pengeluaran energi lansia contoh dipengaruhi oleh PAL dan EMB masing-masing lansia contoh, dan EMB dipengaruhi berat badan dan jenis kelamin. Telah diketahui bahwa lansia di Salam Sejahtera 32,3% memiliki status gizi lebih (gemuk tingkat ringan dan berat), sedangkan di Sukma Raharja hanya 13,4%. Selain itu, lansia contoh di Salam Sejahtera terdapat responden berjenis kelamin laki-laki sebesar 48,4%, sedangkan di Sukma Raharja 100% berjenis kelamin perempuan. Meskipun hasil rata-rata keseimbangan energi pada lansia Salam Sejahtera adalah negatif, akan tetapi masih terdapat beberapa lansia yang memiliki keseimbangan energi positif yaitu 22,6%. Berikut sebaran keseimbangan energi lansia dapat dilihat pada Tabel 26. 40    Tabel 26 Sebaran lansia berdasarkan keseimbangan energi Keseimbangan Energi Positif (+) Negatif (-) Total Sukma Raharja n % 21 70 9 30 30 100 Salam Sejahtera n % 7 22,6 24 77,4 31 100 Gejala-gejala Konstipasi Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus (Depkes 2003). Konstipasi didefinisikan sebagai evakuasi feses yang jarang atau sulit dan dapat akut atau kronis. Konstipasi absolut didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses maupun flatus (Grace & Neil 2006). Pada penelitian ini, gejala konstipasi dilihat dari gejala-gejala dasar konstipasi pada masing-masing lansia contoh. Sebaran lansia contoh berdasarkan gejala yang dialami dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan gejala-gejala konstipasi yang dialami No 1 2 3 4 Jenis Pertanyaan dalam Skala Waktu 1 Minggu Terakhir Apakah Anda mengalami tidak BAB selama 2 hari atau lebih? Apakah perut Anda terasa penuh dan tidak nyaman? Apakah saat BAB feses anda lebih keras dari biasanya? Apakah Anda mengalami kesulitan saat BAB, seperti mengejan berlebihan? Sukma Raharja Salam Sejahtera n % n % 11 36,67 8 25,81 5 16,67 3 9,68 5 16,67 5 16,13 7 23,33 6 19,35 Tabel 27 menunjukkan bahwa tidak semua gejala dialami lansia contoh yang konstipasi, masing-masing lansia hanya mengalami 2-3 gejala dasar konstipasi yang ditanyakan. Hal ini didukung dengan teori yang dinyatakan Daldiyono (1990), yaitu sulit BAB dengan tinja yang keras sudah dapat dianggap sebagai konstipasi. Selain itu, seseorang juga bisa dianggap konstipasi apabila tidak dapat buang air besar selama dua hari atau lebih (Bangun 2005). Berdasarkan hal tersebut, terdapat 40% lansia contoh di Sukma Raharja yang mengalami gejala konstipasi, sedangkan di Salam Sejahtera sebanyak 25,8%. Secara keseluruhan sampel yang mengalami gejala konstipasi adalah 32,8%. Hasil uji statistik t-test menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara gejala konstipasi di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera. Sebaran lansia contoh berdasarkan gejala konstipasi dapat dilihat pada Tabel 28. 41    Tabel 28 Sebaran contoh berdasarkan gejala konstipasi Konstipasi Ya Tidak Total Sukma Raharja n % 12 40 18 60 30 100 Salam Sejahtera n % 8 25,8 23 74,2 31 100 Total n 20 41 61 % 32,8 67,2 100 Uji beda : p=0,245 Hubungan Antar Variabel Hubungan antara karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia Tabel 29 menunjukkan hubungan karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik lansia baik umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status gizi dengan gejala konstipasi pada lansia. Hal ini diduga karena gejala konstipasi pada lansia contoh hanya 32,8% dari seluruh responden yang ada. Tabel 29 Hubungan karakteristik sosial dan status gizi dengan asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia Variabel A. Serat A. Cairan Akt. Fisik Usia 0,949 0,977 0,031 Jenis Kelamin 0,685 0,031 0,307 Pendidikan 0,968 0,174 0,231 Status Gizi 0,031 0,024 0,628 Berdasarkan uji statistik juga diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif (p<0,05) antara usia dengan aktivitas fisik lansia kecenderungan semakin tinggi usia semakin besar nilai PAL lansia. Kemudian juga terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan asupan serat dan cairan, serta antara jenis kelamin dengan asupan cairan. Terdapat korelasi positif antara jenis kelamin dan asupan cairan yaitu kecenderungan lansia laki-laki memiliki asupan cairan lebih tinggi daripada lansia perempuan. Hubungan asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik dengan gejala konstipasi Gejala konstipasi pada lansia diduga bekaitan dengan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik lansia contoh yang rendah. Hasil analisis hubungan secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 30. 42    Tabel 30 Hubungan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi contoh Variabel independen Asupan Serat: Kurang (<20 g) Total Asupan Cairan: Kurang (<90%) Cukup (90-110 %) Lebih (>110 g) Total Aktivitas Fisik: Sangat ringan (<1,40) Ringan (1,40-1,69) Sedang (1,70-1,99) Total Mengalami gejala konstipasi Tidak mengalami gejala konstipasi n % n % 20 20 100 100 41 41 6 12 2 20 38,5 36,8 27,6 100 2 18 0 20 10 90 0 100 Total n % 100 100 61 61 100 100 14 15 12 41 61,5 63,2 72,4 20 27 14 61 35,5 48,4 16,1 100 3 34 4 41 7,3 82,9 9,8 100 5 52 4 61 8,2 85,2 6,6 100 Nilai p p=0,538 r= 0,058 p=0,219 r= 0,160 p=0,245 r=-0,040 Tabel 30 menunjukkan ada tidaknya hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh di kedua loksai penelitian. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat dengan gejala konstipasi pada lansia. Hal ini dikarenakan kategori asupan serat yang homogen, yaitu terkumpul dalam satu kategori kurang. Begitu juga dengan asupan cairan dan aktivitas fisik, hasil uji menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara keduanya dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Meiring & Joubert (1998) pada lansia di National and Pelonomi Hospitals, Bloemfontein, bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat dan cairan dengan konstipasi pada lansia. Terdapat hubungan negatif antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia, berarti semakin tinggi aktivitas fisik maka semakin kecil resiko timbulnya gejala konstipasi pada lansia. Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan Arisman (2007), bahwa fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas ini akan mengakibatkan terjadinya kelemahan tonus otot dinding saluran cerna sehingga akan terjadi konstipasi. Akan tetapi, terdapat hubungan positif antara asupan serat dan cairan dengan gejala konstipasi, artinya semakin tinggi konsumsi serat, cairan dan aktivitas fisik, 43    maka semakin tinggi pula resiko timbulnya gejala konstipasi pada lansia. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang dinyatakan Wellman & Kamp (2008) bahwa rendahnya asupan serat dan cairan akan meningkatkan resiko terjadinya konstipasi. Hasil ini diduga karena kejadian konstipasi pada lansia contoh dikedua lokasi tidak begitu tinggi yaitu hanya 32,8%. Selain itu, berdasarkan hasil hasil wawancara pada saat penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa lansia contoh yang mengalami konstipasi ketika mengkonsumsi obat antihipertensi yaitu sebesar 27,3% dari lansia konstipasi di Sukma Raharja dan 87,5% dari lansia konstipasi di Salam sejahtera. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan teori Muhammad (2010), bahwa salah satu penyebab konstipasi adalah konsumsi obat-obatan tertentu (obat golongan narkotika, antasid yang mengandung alumunium dan kalsium, antihipertensi golongan penghambat kalsium, obat anti Parkinson, antispasmodik, antidepresan, suplemen Fe, diuretik, antikonvulsan). Sebaran lansia berdasarkan konsumsi obat dapat dilihat pada Tabel 31. Tabel 31 Sebaran lansia berdasarkan konsumsi obat Jenis Obat Obat DM Obat alergi Obat anti hipertensi (nifedipine, captopril, amlodipin) Multivitamin Tidak ada Sukma Raharja n % 0 0 0 0 5 2 23 16,7 6,7 76,6 Salam Sejahtera n % 2 6,4 1 3,2 18 0 10 58,1 0 32,3 44    KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sebagian besar lansia di Sukma Raharja (90%) berusia antara 60-74 tahun atau usia lanjut, sedangkan lansia Salam Sejahtera (71%) berusia antara 75-90 tahun (usia tua). Seluruh contoh di Sukma Raharja berjenis kelamin perempuan, sedangkan di Salam Sejahtera hanya 51,6%. Pendidikan terakhir lansia di Sukma Raharja, memiliki persentase terbesar pada tingkat tidak tamat Sekolah Dasar (TTSD) (36,7%) dan lansia Salam Sejahtera pada tingkat SMA (35,5%). Sekitar separuh lansia (50,8%) pada kedua Panti termasuk dalam kategori status gizi normal. Ada perbedaan yang signifikan antara asupan energi dan karbohidrat pada lansia Sukma Raharja dengan Salam Sejahtera. Namun, pada asupan protein, lemak, serat, cairan, tingkat aktivitas fisik, dan gejala konstipasi tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok lansia. Berdasarkan uji statistik spearman diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat, asupan cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil tersebut disebabkan ada banyak faktor lain yang berhubungan dengan konstipasi pada lansia, yang dalam penelitian ini salah satunya adalah konsumsi obat-obatan. Saran Terdapat masalah gizi ganda yaitu gizi kurang dan gizi lebih dikedua lokasi penelitian, sehingga diharapkan adanya tindak lanjut dari pihak pengelola panti dengan dibantu petugas gizi dalam mengatasi atau memperbaiki status gizi lanisa tersebut. Asupan serat lansia contoh dikedua lokasi masih sangat kurang, sehingga sebaiknya ditingkatkan asupan konsumsi lansia contoh terutama pangan sumber serat seperti sayuran dan buah. Diharapkan adanya penggunaan peralatan makan yang disediakan khusus dari pihak panti, terutama Sukma Raharja agar pembagian makanan kepada penghuni panti lebih teratur/merata dengan porsi yang sama. Aktivitas lansia sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti membuat keterampilan tangan atau menjahit, karena alokasi penggunaan waktu lansia contoh belum optimal (hanya duduk diam atau berbaring), sedangkan sebagian dari lansia contoh dengan aktivitas ringan memiliki kemampuan fisik yang masih bisa beraktivitas normal. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan 44  45    untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian konstipasi pada lansia menggunakan jumlah contoh yang lebih besar. 46    DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Andriani H. 2008. Dampak dan Pengaruh Tidur Bagi Kesehatan. www.andriyaninfokesehatan.Blogspot.com [20 Oktober 2011]. Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC [BPS] Badan Pusat Statistik.2007. Angka Harapan Hidup. www.menegpp.go.id [25 Feb 2011] Bangun. 2005. Vegetarian Pola Sehat Tanpa Daging. Jakarta: Agomedia Pustaka Briawan D, Madanijah S. 2008. Penilaian Status Gizi Cara Antropometri. Diktat Mata Kuliah Departemen Gizi Masyarakat. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia,Institut Pertanian Bogor. Chumlea WC, Roche AF, Mukherjee D. 1984. Nutritional Assessment of the Elderly through Anthropometry. Di dalam Fatmah. 2008. Model Prediksi Tinggi Badan Lansia Etnis Jawa Berdasarkan Tinggi Lutut, Panjang Depa, dan Tinggi Duduk [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Daldiyono et al. 1990. Gastroentorologi Hepatologi. Jakarta: CV.Infomedika Darmojo. 2006. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi 3. Jakarta: FKUI [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2003. Pedoman Tata Laksana Gizi Usia Lanjut untuk Tenaga Kesehatan. www.lenteraimpian.wordpress.com [18 Maret 2011] [Depkes] Departemen kesehatan RI. 2005. Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani. Jakarta: Depkes RI [Depsos] Departemen Sosial. 2007. Penduduk Lanjut Usia Di Indonesia Dan Masalah Kesejahteraannya. www.depsos.go.id [16 Maret 2011] Driskell JA. 2009. Nutrition and Exercise Concerns of Middle Age. New York: CRC Press FAO/WHO/UNU. 2001. Energy requirements of Adults. www.fao.org  [20 September 2011] [FKM-UI] Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Grace & Neil R. 2006. Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: Erlangga Medical Series Hardinsyah et al. 2011. Air Bagi Kesehatan. Centra Communications & Martianto D. 1992. Gizi Terapan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. &Tambunan. 2004. Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak Dan Serat Makanan. Didalam Hardinsyah, editor. Angka Kecukupan Gizi dan Acuan Label Gizi. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII 2004. Jakarta: Direktorat Standarisasi Produk Pangan. Hoeger WWK & Hoeger SA. 2005. Lifetime Physical Fitness and Wellness, a Personalized Program. Ed ke-5. USA: Thomson Wadsworth. 46  47    Komisi Nasional Lanjut Usia. 2010. Profil Penduduk Lanjut usia 2009. Jakarta. Khomsan A, Anwar F, Sukandar D, Riyadi H, Mudjajanto ES. 2007. Studi Implementasi Program Gizi; Pemanfaatan, Cakupan, Keefektifan, dan Dampak terhadap Status Gizi. Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB Kusharto CM. 2006. Serat Makanan dan Peranannya Bagi Kesehatan. Jurnal Gizi dan Pangan 1(2): 45-54. Lubis Z. 2009. Hidup Sehat dengan Makanan Kaya Serat. Bogor: IPB Press Mahmud et al. 2009. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Elex Media Komputindo Meiring PJ, Joubert G. 1998. Constipation in Elderly Patients Attending a Polyclinic. South Africa Medical Journal Vol 88, No.7: 888-890. www.samj.org.za [17 Desember 2011] Muhammad N. 2010. Tanya Jawab Kesehatan Harian untuk Lansia. Yogyakarta: Tunas Publishing. Muchtadi D, Nurheni S, Astawan M. 1993. Metabolisme Zat Gizi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Muchtadi D. 2009. Gizi Anti Penuaan Dini. Bandung: Alfabeta Notoatmodjo S. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni. Jakarta: PT Rineka Cipta. Riyadi H. 2004. Penilaian Status Gizi. Di dalam Baliwati YF, Khomsan A, Dwiriani CM, editor. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya. Rosmalina Y, Permaesih D. 2008. Aktivitas Fisik dan Penggunaan Energi Pekerja Laki-Laki Dengan Jenis Pekerjaan Berbeda. Majalah Gizi Indonesia.31(2): 98-106. Rumu S. 2007. Perbedaan Tingkat Konsumsi Lemak, Natrium, Serat, Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Perumahan “Kusumawardani” dan Panti Wredha Pucang Gading Semarang [Skripsi]. Semarang: Universitas Diponegoro Safithri F. 2005. Proses Menua di Otak dan Demensia Tipe Alzheimer. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran. Saintika Medika Volume. 2 No.2. Sawka MN, Cheuvront SN, dan Carter R. 2005. Human Water Needs. International Life Science Institute Singarimbun M & Effendi S. 2006. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES. Siswono. 2003. Mengatasi Konstipasi pada usia lanjut. www.gizinet.com [24 Maret 2011] Soelistijani DA. 2002. Sehat dengan Menu Berserat. Jakarta: Trubus Agriwidya. Suhardjo. 1989. Sosio Budaya Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 48    Wellman NS & Kamp BJ. 2008. Nutrition in Aging. Di dalam Mahan LK, Stump, editor Krause’s Food, Nutrition and Diet Therapy, Ed 12. USA: Else [WHO] World Health Organization. 2002. Keep Fit for Life. Meeting The Nutritional Needs of Older Persons. Tufts University. School of Nutrition Science and Policy.www.who.int [01 November 2011] Wirakusumah, S. 2002. Tetap Bugar di Usia Lanjut. Jakarta: Trubus Agriwidya Anggota IKAPI. 49    Lampiran 1 Nilai PAR aktivitas fisik No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis aktivitas Tidur Berbaring Duduk diam Duduk sambil ngobrol Nonton TV Membaca Berpakaian Kebersihan diri makan dan minum Berjalan Mencuci Baju/piring Menyapu Mengepel menjahit Menampi Olah raga Menari Ibadah Sumber : FAO/WHO/UNU (2001) Nilai PAR L 1 1,2 1,2 1,22 1,64 1,22 2,4 2,3 1,4 2,1 1,6 2,9 3,51 5 1,5 P 1 1,2 1,2 1,25 1,72 1,25 3,3 2,3 1,6 2,5 2,8 2,3 4,4 1,5 2,7 4,24 5,09 1,5 49    Lampiran 1 Nilai PAR aktivitas fisik No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis aktivitas Tidur Berbaring Duduk diam Duduk sambil ngobrol Nonton TV Membaca Berpakaian Kebersihan diri makan dan minum Berjalan Mencuci Baju/piring Menyapu Mengepel menjahit Menampi Olah raga Menari Ibadah Sumber : FAO/WHO/UNU (2001) Nilai PAR L 1 1,2 1,2 1,22 1,64 1,22 2,4 2,3 1,4 2,1 1,6 2,9 3,51 5 1,5 P 1 1,2 1,2 1,25 1,72 1,25 3,3 2,3 1,6 2,5 2,8 2,3 4,4 1,5 2,7 4,24 5,09 1,5 RINGKASAN TALITHA RAISSA. Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia. Dibimbing oleh CESILIA METI DWIRIANI. Keberhasilan pembangunan, terutama di bidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan usia harapan hidup. Hal tersebut memicu perkembangan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia adalah konstipasi, yang umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik rendah. Secara umum penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta hubungannya dengan kejadian konstipasi pada lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Werdha (RPSTW) Sukma Raharja yang dikelola Pemda Bogor dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. Secara khusus bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi karakteristik sosial dan status gizi lansia, (2) Menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi (protein, karbohidrat, dan lemak) pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera, (3) Menganalisis perbedaan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, dan gejala konstipasi pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera, (4) Menganalisis hubungan antara asupan serat dan cairan dengan gejala konstipasi pada lansia contoh, (5) Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossecsional study, dilakukan di dua panti wreda di Bogor yaitu RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. Pengumpulan data dilakukan pada Agustus sampai September 2011. Jumlah contoh ditentukan secara Proporsional Stratified Random Sampling dengan kriteria: tidak pikun, masih bisa berkomunikasi dengan baik, serta bersedia diwawancarai dan dijadikan contoh penelitian. Jumlah contoh dari masing-masing panti yaitu 30 dan 31 orang. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, dan pendidikan), antropometri (berat badan, tinggi badan dan tinggi lutut); konsumsi makanan dan minuman; aktivitas fisik selama dua hari; serta gejala-gejala konstipasi pada lansia contoh. Pengolahan data dilakukan menggunakan program Microsoft Excel, Nutrisurvey dan statistic software. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial, serta dilakukan uji-t Independent sample dan uji korelasi Rank Spearman. Sebagian besar lansia di Sukma Raharja (90%) berusia antara 60-74 tahun atau usia lanjut, sedangkan lansia Salam Sejahtera (71%) berusia antara 75-90 tahun (usia tua). Seluruh lansia Sukma Raharja berjenis kelamin wanita, sedangkan lansia perempuan di Salam Sejahtera hanya 51,6%. Pendidikan terakhir lansia Salam sejahtera lebih tinggi dibandingkan lansia Sukma Raharja. Pendidikan terakhir lansia di Sukma Raharja, memiliki persentase terbesar pada tingkat tidak tamat Sekolah Dasar (TTSD) (36,7%) dan lansia Salam Sejahtera pada tingkat SMA (35,5%). Sekitar separuh lansia (50,8%) pada kedua Panti termasuk dalam kategori status gizi normal. Rata-rata asupan energi lansia Sukma Raharja sebesar 1717±245 kkal dan lansia Salam Sejahtera sebesar 1585±231 kkal. Tingkat kecukupan untuk energi masing-masing sebesar 104,3% (normal) dan 87,5% (defisit tingkat ringan) serta terdapat perbedaan yang signifikan, baik pada asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan energi antara lansia Sukma Raharja dan iii    Salam Sejahtera (p<0,05). Rata-rata asupan protein lansia Sukma Raharja sebesar 49,9±7,5 gr dan lansia dari Salam Sejahtera sebesar 47,7±5,6 gr. Tingkat kecukupan untuk protein masing-masing sebesar 118,4% (normal) dan 103,7% (normal). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk asupan protein (p>0,05), namun angka kecukupan dan tingkat kecukupan protein lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda signifikan (p<0,05). Rata-rata asupan karbohidrat lansia Sukma Raharja sebesar 253,7±39,2 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 298,4±55,4 gr. Tingkat kecukupan untuk karbohidrat masingmasing sebesar 95,3% (normal) dan 76,8% (defisit tingkat berat) serta terdapat perbedaan yang signifikan, baik asupan, angka kecukupan dan tingkat kecukupan karbohidrat lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera (p<0,05). Rata-rata asupan lemak lansia Sukma Raharja sebesar 58,8±12,0 gr dan lansia Salam Sejahtera sebesar 63,9±7,4 gr. Tingkat kecukupan untuk lemak masingmasing sebesar 129,0% (lebih) dan 127,5% (lebih). Tidak terdapat perbedaan signifikan asupan lemak (p>0,05), sedangkan angka kecukupan dan tingkat kecukupan lemak lansia Sukma Raharja dan Salam Sejahtera berbeda signifikan (p<0,05). Asupan serat contoh 100% di kedua panti termasuk dalam kategori kurang. Rata-rata asupan serat di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera masingmasing adalah 13,9±1,4 gr dan 9,1±2,6 gr. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p>0,05) konsumsi serat lansia contoh di kedua panti. Rata-rata konsumsi cairan contoh Sukma Raharja sebesar 1835±273 ml, sedangkan di Salam Sejahtera sebesar 1847±340 ml. Sekitar separuh (56,7%) lansia contoh di Sukma Raharja mempunyai konsumsi cairan kategori tingkat pemenuhan lebih, sedangkan di Salam Sejahtera konsumsi cairan hampir sama, yaitu antara kategori normal dan lebih, masing-masing 35,5% dan 38,7%. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) asupan cairan contoh di kedua panti. Aktivitas fisik lansia contoh baik di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera tergolong ringan yaitu masing-masing 86,7% dan 85,2%. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) aktivitas fisik lansia di kedua panti. Terdapat 40% lansia contoh di Sukma Raharja yang mengalami gejala konstipasi, sedangkan di Salam Sejahtera hanya sebanyak 25,8%, dimana secara keseluruhan sampel yang mengalami gejala konstipasi 32,8%. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan jumlah contoh yang mengalami gejala konstipasi di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera. Tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0,05) antara asupan serat, asupan cairan, dan aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia. Hasil tersebut diduga disebabkan ada banyak faktor lain yang berhubungan dengan konstipasi pada lansia, salah satunya konsumsi obat-obatan, yang tidak diteliti pada penelitian ini. Penelitian ini menyarankan pihak pengelola panti dibantu petugas gizi puskesmas dalam upaya mengatasi atau memperbaiki status gizi lansia yang kurang dan lebih. Asupan serat lansia contoh dikedua lokasi masih sangat kurang, sehingga sebaiknya ditingkatkan asupan konsumsi lansia contoh terutama pangan sumber serat seperti sayuran dan buah. Peralatan makan sebaiknya disediakan khusus dari pihak panti, terutama Sukma Raharja agar pembagian makanan kepada penghuni panti lebih teratur/merata. Aktivitas lansia sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti membuat keterampilan tangan atau menjahit, karena alokasi penggunaan waktu lansia contoh belum optimal (hanya duduk diam atau berbaring), sedangkan sebagian dari lansia contoh dengan aktivitas ringan memiliki kemampuan fisik yang masih bisa beraktivitas normal. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian konstipasi pada lansia menggunakan jumlah contoh yang lebih besar. iv   
Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, ser..

Gratis

Feedback