Feedback

Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia

Informasi dokumen
ABSTRACT TALITHA RAISSA. Fiber and Liquid Intake, Physical Activity, and Symptom of Constipation among Elderly. Under Direction of CESILIA METI DWIRIANI. The objective of this study was to analyze differences in fiber and liquid intake, physical activity, and symptom of constipation among elderly people lived in government (Sukma Raharja) and non-government (Salam Sejahtera) Elderly Social Institution. This study using crossecsional study design conducted in August until September 2011. The subjects were 61 elderly consist of 30 people from Sukma Raharja and 30 people from Salam Sejahtera. Almost all of elderly (90%) in Sukma Raharja are 60-74 years old, while in Salam Sejahtera 71% are 74-90 years old. All of elderly in Sukma Raharja are women, while in Salam Sejahtera, 51,6% are women. Education background in Salam Sejahtera is higher than in Sukma Raharja and in both groups most of elderly have normal nutritional status. There was significantly (p=0,001) differences in BMI of elderly in Sukma Raharja and Salam Sejahtera. Level of energy (p=0,000), protein (p=0,000), and carbohydrate (p=0,000) adequacy of elderly in Sukma Raharja are significantly higher than elderly in Salam Sejahtera. There was no difference level of fat adequacy (p=0,503), fiber (p=0,925) and liquid intake (p=0,228), and physical activity (p=0,280) in the elderly in two places. There was no significant correlation between fiber intake (p=0,538), liquid intake (p=0,147), and physical activity (p=0,342) with symptom of constipation of elderly. Keyword : fiber intake, liquid intake, physical activity, constipation ii    1    PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan, terutama di bidang kesehatan, secara tidak langsung telah menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan usia harapan hidup. Hal tersebut juga memicu perkembangan jumlah penduduk Lanjut usia (lansia) yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2005, angka harapan hidup orang Indonesia adalah 70,0 tahun. Tahun 2006 meningkat menjadi 70,2 tahun. Jumlah ini terus meningkat menjadi 70,4 tahun pada tahun 2007 dan di perkirakan pada tahun 2025 angka harapan hidup penduduk indonesia akan menjadi 73 tahun (BPS 2007). Jumlah penduduk lansia Indonesia mencapai 19,32 juta orang atau 8,37% dari total seluruh penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia dimana pada tahun 2005 jumlah penduduk lansia sebesar 16,80 juta orang. Angka ini naik menjadi 18,96 juta orang pada tahun 2007, dan menjadi 19,32 juta orang pada tahun 2009 (Komnas Lansia 2010). Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (KESRA) melaporkan tahun 1980 usia harapan hidup (UHH) 52,2 tahun dan jumlah lansia 7.998.543 orang (5,45%), sedangkan pada tahun 2006 menjadi 19 juta orang (8,90%) dan UHH juga meningkat menjadi 66,2 tahun. Tahun 2010 perkiraan penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77 % dan UHH sekitar 67,4 tahun. Sepuluh tahun kemudian atau pada 2020 perkiraan penduduk lansia di Indonesia mencapai 28,8 juta atau 11,34 % dengan UHH sekitar 71,1 tahun (Depsos 2007). Semakin meningkatnya usia harapan hidup, maka semakin meningkat pula upaya untuk mempertahankan atau menjaga status kesehatan pada lansia. Kondisi kesehatan pada lansia sangat ditentukan oleh asupan makanannya, baik kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan bertambahnya usia dan proses penuaan, timbul masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah fisik, biologik, psikologik, sosial, maupun penyakit degeneratif (Safithri 2005). Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah BAB) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus (Depkes 2003). Sekitar 30–40% orang diatas usia 65 tahun di Inggris mengeluh konstipasi, 30% penduduk diatas usia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Sekitar 20% populasi diatas 65 tahun di Australia, mengeluh menderita konstipasi (Siswono 2003). 1 2    Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai dubur (Soelistijani 2002). Semakin lama tinja tertahan dalam usus, konsistensinya semakin keras, dan akhirnya membatu sehingga susah dikeluarkan. Hal tersebut berpangkal pada kelemahan tonus otot dinding usus akibat penuaan yaitu kegiatan fisik yang mulai berkurang, serta kurangnya asupan serat dan cairan (Arisman 2007). Saat ini masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat, maka terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat-baratan (western style diet). Makanan jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat. Masyarakat umumnya belum tahu atau kurang menyadari bahwa makanan jadi telah kehilangan banyak komponen-komponen essensial makanan, khususnya serat. Asupan serat yang terlampau rendah dalam kurun waktu lama akan mempengaruhi kesehatan (seperti konstipasi), kegemukan, dan serangan penyakit degeneratif (Soelistijani 2002). Para ahli klinis, ahli gizi dan ahli teknologi pangan dalam dasawarsa terakhir ini sepakat bahwa serat merupakan komponen yang sangat dianjurkan dalam pola diet, ini disebabkan oleh banyaknya penyakit yang muncul akibat rendahnya konsumsi serat, terutama di negara-negara maju. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, cukup bukti bahwa berbagai serat dapat membantu mencegah atau mengatasi penyakit seperti sembelit, gangguan usus, obesitas dan penyakit jantung (Bangun 2005). Menurut Kusharto (2006), serat mampu mengatasi konstipasi karena serat dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui saluran pencernaan. Pengaruh nyata yang telah dibuktikan adalah bertambahnya volume feses, melunakkan konsistensi feses, memperpendek waktu transit di usus, dan memproduksi flatus. Selain konsumsi serat yang rendah, konstipasi juga disebabkan oleh kurangnya asupan cairan. Menurut Muhammad (2010), salah satu masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan tubuh. Hal ini terjadi karena adanya berbagai perubahan perubahan yang dialami lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi 3    ginjal untuk memekatkan urin, dan penurunan rasa haus. Penurunan rasa haus pada lansia otomatis akan menurunkan asupan cairan, padahal dalam fungsinya cairan memegang peranan penting terutama untuk mengolah makanan dalam usus, tanpa cairan yang cukup usus tidak dapat bekerja secara maksimal sehingga timbullah sembelit. Berdasarkan beberapa hal yang telah diuraikan mengenai pentingnya peranan aktivitas fisik, asupan serat dan cairan sebagai penyebab konstipasi yang terjadi pada lansia, maka peneliti ingin mengetahui perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui perbedaan asupan serat dan cairan, aktivitas fisik, serta hubungannya dengan gejala konstipasi pada lansia di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik sosial dan status gizi contoh. b. Menganalisis perbedaan asupan energi dan zat gizi (protein, karbohidrat, dan lemak) pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. c. Menganalisis perbedaan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, dan kejadian konstipasi pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. d. Menganalisis hubungan antara asupan serat dan cairan dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. e. Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lansia contoh. Hipotesis 1. Ada perbedaan asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik pada lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera. 2. Ada hubungan antara asupan serat, cairan, dan aktivitas fisik dengan kejadian konstipasi pada lansia contoh. 4    Kegunaan Penelitian Kegunaan bagi Pihak Panti Sebagai informasi dan masukan bagi pengelola panti mengenai konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti. Kegunaan bagi Pihak Pemda Sebagai informasi dan masukan bagi pihak pemda mengenai pelaksanaan dan pengelolaan panti, konsumsi pangan yang meliputi asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik penghuni panti, terutama Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja yang merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan.                                             5    TINJAUAN PUSTAKA Lanjut Usia Manusia usia lanjut merupakan seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial yang nantinya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan. Depkes (2000) dalam Notoatmodjo (2007) mendefinisikan bahwa usia lanjut merupakan orang yang sudah memasuki tahap dewasa akhir dengan usia sekitar 60 tahun ke atas. Menurut Notoatmodjo (2007), usia lanjut adalah kelompok orang yang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, menyatakan bahwa yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Usia lanjut menurut WHO (1997) dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun (Notoatmodjo 2007). Pada seorang usia lanjut mengalami perubahan-perubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang dan mengalami perubahan mental (Wirakusumah 2002). Konstipasi Kebiasaan buang air besar normal mempunyai variasi yang luas pada setiap orang. Perubahan kebiasaan BAB merupakan manifestasi klinis yang umum dari penyakit saluran cerna. Konstipasi didefinisikan sebagai evakuasi feses yang jarang atau sulit dan dapat akut atau kronis. Konstipasi absolut didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses maupun flatus (Grace & Neil 2006). Menurut Bangun (2005), konstipasi merupakan keadaan atau gejala hambatan gerak sisa makanan di saluran pencernaan sehingga buang air besar tidak bisa lancar dan teratur. Pada keadaan normal, setiap 24 jam usus besar (kolon) akan dikosongkan secara periodik. Seseorang dianggap konstipasi apabila tidak dapat buang air besar selama dua hari atau lebih. Penyebab konstipasi menurut The National Digestive Disease Information Clearinghouse (NDDIC) dalam Muhammad (2010), yaitu kurangnya asupan serat 5 6    dalam konsumsi sehari-hari, kurangnya aktifitas terutama di usia lanjut, obatobatan tertentu (obat golongan narkotika, antasid yang mengandung alumunium dan kalsium, antihipertensi golongan penghambat kalsium, obat anti Parkinson, antispasmodik, antidepresan, suplemen Fe, diuretik, antikonvulsan), intoleransi susu, penyakit dan gangguan pada usus besar, kehamilan, usia lanjut, pemakaian pencahar berlebihan, kebiasaan menahan buang air besar, kurang asupan cairan, gangguan fungsional pada usus. Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam hubungannya dengan konstipasi, yaitu dimana konstipasi akut sering mengindikasikan obstruksi usus, dengan gejala utamanya berupa nyeri kolik abdomen, muntah, konstipasi, dan distensi. Apabila yang terjadi adalah konstipasi kronis maka akan beresiko untuk berkembang secara perlahan menjadi obstruksi usus (Bangun 2005). Konstipasi kronis biasa terjadi akibat diet rendah serat. Selain itu, bisa juga karena makan tidak teratur, kurang pergerakan dan olah raga, dan mengabaikan saat terjadi rangsangan untuk buang air besar. Konstipasi yang terjadi pada usia lanjut dengan atau tanpa gambaran sistemik harus diobati secara sungguh-sungguh dengan tidak mengabaikan berat badan yang menurun (Daldiyono et al 1990). Muhammad (2010) mengemukakan gejala-gejala konstipasi pada setiap orang berbeda-beda, tergantung pola makan, hormon, gaya hidup dan bentuk usus besar masing-masing orang. Akan tetapi, gejala umum yang sering ditemui diantaranya adalah perut terasa penuh, nyeri dan mulas; tinja atau feses lebih keras dari biasanya; pada saat BAB feses atau tinja sulit dikeluarkan atau dibuang, tubuh berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang tinja; serta menurunnya frekuensi BAB, dan meningkatnya waktu BAB (BAB menjadi 3 hari sekali atau lebih). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Konsumsi Pangan Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau sekelompok orang (keluarga atau rumahtangga) pada waktu tertentu. Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan 7    zat gizi. Kekurangan dan kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat gizi bergantung pada berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, berat badan, iklim dan aktivitas fisik (Almatsier 2003). Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan kegiatan (internal dan eksternal), aktivitas dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi makanan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi dari kebutuhan normal jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan (Hardinsyah & Martianto 1992). Serat Serat adalah zat non-gizi yang termasuk sebagai salah satu jenis kelompok polisakarida atau karbohidrat kompleks. Serat terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu dan membentuk rantai kimia panjang, sehingga sukar dicerna oleh enzim pencernaan (Soelistijani 2002). Menurut Lubis (2009), serat makanan adalah komponen karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi dapat dicerna oleh mikro bakteri pencernaan. Serat makanan merupakan bahan baku yang baik untuk pertumbuhan mikroflora usus. Serat makanan tidak dicerna di usus halus, akan tetapi dimetabolisme oleh bakteri yang berada dan melalui usus besar. Hal ini dapat menambah volume feses, meningkatkan pengaruh laksatif, melunakkan konsistensi feses, memperpendek transit time di usus, memproduksi flatus, hasil produksi metabolisme bakteri dan keluaran anion organiknya akan mengubah garam empedu dan asam lemak berantai pendek. Serat makanan menurut jenisnya dibedakan menjadi dua, yaitu serat larut dan serat tak larut air. Serat larut berfungsi dalam memperlama waktu pengosongan lambung sehingga seseorang dapat merasa kenyang lebih lama, sedangkan serat tidak larut air dapat menurunkan waktu transit dalam kolon, menghasilkan feses lebih lembek dan lebih banyak (Kusharto 2006). Selanjutnya menurut Almatsier (2003), serat larut air mudah di fermentasi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan bakteri kolon menyebabkan bertambahnya berat feses. Serat tidak larut air, terutama lignin yang terdapat 8    dalam dedak gandum tidak mengalami fermentasi. Serat tidak larut air mampu menyerap air, sehingga mengalami peningkatan berat dan mempunyai pengaruh laksatif paling besar. Serat membantu pengeluaran feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus, sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar, sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan. Konsumsi serat yang kurang akan mengakibatkan seseorang mengalami sembelit atau konstipasi, sehingga sangat dianjurkan seseorang mengkonsumsi serat sebesar 20-30 g per hari untuk orang dewasa. Perbandingan konsumsi serat larut dan serat tak larut sebaiknya 1:3 (Muchtadi 2009). Sumber serat larut yang baik adalah jenis kacang-kacangan, rumput laut, agar-agar, apel, pisang, jeruk, wortel, bekatul, dan buncis, sedangkan sumber serat tak larut seperti polong-polongan, buah berbiji, serta sayuran (Kusharto 2006). Cairan Air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Pada pria dewasa, 55%-60% berat tubuh adalah air dan pada wanita dewasa 50%-60% berat tubuhnya adalah air. Air sebagai salah satu zat gizi mikro yang mempunyai fungsi dalam berbagai proses penting dalam tubuh manusia, seperti metabolisme, pengangkutan dan sirkulasi zat gizi dan non gizi, pengendalian suhu tubuh, kontraksi otot, transmisi impuls saraf, pengaturan keseimbangan elektrolit, dan proses pembuangan zat tak berguna bagi tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang air berdampak buruk terhadap kesehatan atau meningkatkan risiko kejadian berbagai penyakit, seperti sembelit, kram, batu ginjal, infeksi saluran kemih dan lain-lain (Hardinsyah et al 2011). Menurut Driskell (2009), dehidrasi (kurang cairan) kronis akan dapat berakibat terjadinya konstipasi. Almatsier (2003) menyatakan bahwa konsumsi cairan terdiri atas air yang diminum, yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme (air metabolik). Menurut Sawka, Cheuvront, dan Carter (2005), total konsumsi cairan adalah berasal dari air minum (drinking water), air pada minuman (water in beverages), dan air pada makanan. Kebutuhan air tiap orang berbeda dan berfluktuasi tiap waktu. Hal tersbut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin, usia, tingkat aktivitas, serta faktor lingkungan. Sebagian besar lansia mengurangi minum air putih atau 9    minuman lain karena berbagai alasan, misalnya karena timbulnya rasa mual setelah minum susu, keasaman sari buah yang dapat mengganggu lambungnya, serta tidak suka air. Penyebab utama hal tersebut adalah keengganan untuk terlalu sering buang air kecil, karena telah menurunnya kontrol terhadap kandung kemih (Muchtadi 2009). Menurut Hardinsyah et al (2011), asupan air pada usia lanjut yang optimal adalah 1-1,5 liter per hari. Pada keadaan usia lanjut, kepekaan pusat rasa haus berkurang sehingga diperlukan perhatian lebih dari pengasuh usia lanjut untuk mengawasi konsumsi minuman pada kelompok ini. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Penilaian Konsumsi Pangan Penilaian komsumsi pangan adalah kegiatan mempelajari seluk beluk tentang makanan, menelaah jumlah makanan yang dikonsumsi, dan membandingkan dengan baku kecukupan gizi yang dapat dipenuhi. Konsumsi makanan dapat diukur secara kualitatif dan kuantitatif. Penilaian konsumsi makanan secara kualitatif biasanya digunakan untuk menggali informasi mengenai kebiasaan makan dan frekuensi konsumsi menurut jenis pangan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi dan dari informasi ini dapat diketahui dan dihitung konsumsi zat gizi dari makanan tersebut (Suhardjo 1989). Pengukuran makanan secara kuantitatif dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain metode recall 24 jam, metode perkiraan makanan (estimted food records), penimbangan makanan (food weighing), metode food account, metode inventaris (inventary method), pencatatan (household food record) (Supariasa 2002). Besarnya porsi makanan dan estimasi jumlah makanan yang dimakan dan diminum oleh responden, dapat diketahui dengan metode recall 24 jam (Khomsan dkk 2007). Metode ini dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Metode recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang asupan harian individu (Sanjur 1997 dalam Supariasa 2002). 10    Meskipun metode recall 24 jam sudah dapat menggambarkan besar porsi dan estimasi jumlah makanan yang dikonsumsi, namun metode ini memiliki kelemahan berupa ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa. Oleh karena itu, metode penilaian konsumsi makanan pada lansia dilengkapi dengan metode food weighing. Supariasa (2002) mengemukakan penimbangan makanan atau food weighing merupakan salah satu metode pengukuran konsumsi makanan secara kuantitatif pada tingkat perorangan yang digunakan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung asupan zat gizinya. Adapun kelebihan dari metode ini ialah data yang diperoleh lebih akurat/teliti. Kekurangannya yaitu memerlukan waktu yang cukup lama, mahal karena membutuhkan peralatan, ada kemungkinan responden merubah kebiasaan makan mereka jika penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, tenaga pengumpul data harus terlatih dan trampil, serta memerlukan kerjasama yang baik dengan responden. Pada metode penimbangan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan biasanya dilakukan beberapa hari tergantung tujuan, dana, dan tenaga yang tersedia. Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan makanan adalah petugas atau responden menimbang dan mencatat bahan makanan yang dikonsumsi dalam gram. Apabila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga dilakukan penimbangan sisa makanan tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat. Kemudian dari jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari dapat dianalisis menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) atau Daftar Komposisi Gizi Jajanan (DKGJ). Selanjutnya hasil analisis zat gizi dibandingkan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) (Supariasa 2002). Perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan disebut sebagai tingkat kecukupan zat gizi. Klasifikasi tingkat kecukupan menurut Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) adalah: defisit tingkat berat (120%). Penilaian untuk mengetahui 11    tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi zat gizi aktual (nyata) dengan kecukupan zat gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik atau disebut juga aktivitas eksternal adalah kegiatan yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai kegitan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut lamanya intensitas dan kerja otot (FKM-UI 2007). Menurut Hoeger dan Hoeger (2005), aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot skeletal dan membutuhkan pengeluaran energi. Almatsier (2003), menjelaskan bahwa aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot-otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk menghantarkan zat-zat gizi dan oksigen keseluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan. Menurut Rosmalina dan Permaesih (2008), aktivitas fisik merupakan faktor utama yang membedakan kebutuhan energi, selain itu juga berat badan dan umur. Aktivitas fisik sehari mencakup lama dan jenis aktivitas yang biasa dilakukan akan mempengaruhi jumlah energi yang dikeluarkan. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas fisik ini akan mengakibatkan terjadinya kelemahan tonus otot dinding saluran cerna sehingga akan terjadi konstipasi (Arisman 2007). Status Gizi Lansia Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Penilaian status gizi menurut Riyadi (2004) dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya menggunakan pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh), terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara intik energi dan protein. 12    Indikator dari status gizi adalah berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Status gizi diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Salah satu perubahan fisik yang terjadi pada lansia seiring pertambahan usia adalah terjadinya penurunan massa tulang yang dapat merubah struktur tulang. Perubahan struktur tulang akan terjadi pada tulang-tulang punggung (vertebrae), struktur jaringan pengikat dan tulang rawan (invertebrae) yang akan merubah kurvatura tulang punggung menjadi lebih melengkung (kifosis torakalis) dan posisi akan menjadi bungkuk (Darmojo 1999). Tinggi badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang diperlukan untuk pengkajian status gizi. Namun, dalam prakteknya seringkali menemukan kesulitan untuk mendapatkan data TB pada lansia terutama yang sudah tidak dapat berdiri dan mengalami kelainan tulang. Alternatif lain untuk memprediksi TB lansia yaitu pengukuran tinggi lutut (TL). Tinggi lutut dapat digunakan untuk melakukan estimasi TB lansia. Hasil pengukuran TL dikonversikan menjadi TB menggunakan rumus Chumlea (1984) dalam Fatmah (2008): TB pria = 64,19 - (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut daIam cm) TB wanita = 84,88 - (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) Menurut Riyadi (2004) indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) ini sudah divalidasi sebagai indikator lemak tubuh total pada persentil atas dan juga direkomendasikan untuk orang dewasa serta data referensi yang bermutu tinggi juga telah tersedia. Indeks Massa Tubuh merupakan perbandingan BB dalam satuan kilogram dengan TB kuadrat dalam satuan meter. Kategori IMT dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Kategori indeks massa tubuh Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat Sumber : Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 13    KERANGKA PEMIKIRAN Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun keatas. Lansia mengalami beberapa proses perubahan jangka panjang, berupa perubahanperubahan komposisi tubuh, sistem pencernaan, sistem jantung, sistem pernapasan, otak dan sistem saraf, sistem metabolisme dan hormon, sistem ekskresi, massa tulang, dan mengalami perubahan mental penurunan. Perubahan tersebut memicu berbagai masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, salah satunya masalah pencernaan yaitu konstipasi. Konstipasi merupakan kesulitan dalam pengeluaran sisa pencernaan, karena volume feses terlalu kecil sehingga penderita jarang buang air besar. Kondisi ini akan memperlama waktu transit atau perjalanan makanan dari mulut sampai anus. Konstipasi dapat diketahui dari beberapa gejala yang umum terjadi pada penderitanya, meliputi perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih. Konstipasi umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik rendah. Penurunan fungsi gigi-geligi pada lansia berakibat keengganan untuk mengkonsumsi makanan bertekstur keras seperti buah dan sayur yang merupakan sumber serat makanan. Penurunan rasa haus pada lansia juga otomatis akan menurunkan asupan cairan harian. Fisik lansia yang melemah sebagai akibat dari proses penuaan yang terjadi pada seseorang menyebabkan keterbatasan lansia dalam beraktivitas. Penurunan aktivitas ini akan mengakibatkan terjadinya konstipasi. Selain itu, konstipasi pada lansia juga sering disebabkan karena adanya penyakit atau gangguan pada usus besar dan konsumsi obat-obatan. Lansia yang memiliki riwayat penyakit hipertensi terbiasa untuk mengkonsumsi obatobatan anti hipertensi, dimana beberapa jenis obat anti hipertensi dapat menyebabkan konstipasi. Kerangka pemikiran penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 1.     13  14    Lansia Karakteristik Contoh ‐ Umur ‐ Jenis Kelamin ‐ Tingkat Pendidikan ‐ Status Gizi Asupan Energi, Protein, Karbohidrat, dan Lemak ‐ Penyakit dan gangguan pada usus besar ‐ Gangguan fungsional pada usus Konsumsi obat-obatan Penurunan fungsi fisik Kurangnya aktifitas fisik  - Asupan serat - Asupan cairan Konstipasi Keterangan : = Variabel yang tidak diteliti = Variabel yang diteliti Gambar 1 Kerangka pemikiran hubungan antara asupan serat dan cairan, serta aktivitas fisik dengan gejala konstipasi pada lanjut usia. 15    METODOLOGI PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain crossecsional study, semua data yang dibutuhkan dikumpulkan dalam satu waktu (Singarimbun & Effendi 2006). Penelitian dilakukan di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja dan Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-September 2011. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling berdasarkan pertimbangan bahwa RPSTW Sukma Raharja merupakan satu-satunya panti yang dikelola Pemda Kota Bogor, sedangkan PW Salam Sejahtera yang dikelola pihak swasta dipilih dengan pertimbangan jumlah lansia yang dirawat relatif lebih banyak dibandingkan dengan panti-panti swasta lainnya. Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Keseluruhan lansia di RPSTW Sukma Raharja dan PW Salam Sejahtera masing-masing berjumlah 60 dan 62 orang. Penentuan jumlah contoh dilakukan dengan cara proporsional stratified random sampling. Jumlah contoh diperoleh dengan menentukan jumlah contoh minimal terlebih dahulu, yaitu 30 untuk masing-masing panti. Perhitungan jumlah contoh dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Perhitungan jumlah contoh Panti RPSTW Sukma Raharja PW Salam Sejahtera Total Jumlah lansia P L 59 1 31 31 Total Ukuran Contoh 60 62 122 60/122 x 60 = 30 62/122 x 60 = 31 61 Berdasarkan perhitungan, diperoleh jumlah contoh 61 orang dengan masing-masing 30 lansia dari RPSTW Sukma Raharja dan 31 lansia PW Salam Sejahtera. Penentuan lansia yang menjadi contoh penelitian ialah dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : 1. Tidak pikun 2. Masih bisa berkomunikasi dengan baik 3. Bersedia diwawancarai dan dilakukan penimbangan terhadap makanan yang dikonsumsi. Jenis dan Cara Pengambilan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Adapun data primer yang dikumpulkan meliputi data karakteristik 15  16    lansia (nama, umur, jenis kelamin, dan pendidikan), konsumsi pangan dan cairan, aktivitas fisik, status gizi, dan data kejadian konstipasi contoh. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi jumlah lansia yang berada di Panti, menu yang diberikan dari pihak panti, dan gambaran umum panti. Jenis dan cara pengumpulan data primer dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jenis dan Cara Pengumpulan Data No 1 Variabel Karakteristik Contoh Data Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan 2 Data asupan Konsumsi makanan dan minuman 3 Aktivitas Fisik 4 Status Gizi Jenis dan alokasi waktu untuk aktivitas fisik dan olah raga Berat badan dan tinggi badan 5 Kejadian Konstipasi Lokasi penelitian 6 Gejala-gejala konstipasi Gambaran umum Panti Cara Pengumpulan Data Wawancara menggunakan kuesioner. Penimbangan makanan (food weighing) yang disediakan panti dan recall makanan jajanan selama 2 hari berturut-turut, dengan mencatat jenis dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi mulai dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Wawancara menggunakan kuesioner dan recall 2x 24 jam. Pengukuran langsung menggunakan timbangan bath room merk Camry dengan ketelitian 0,1 kg dan kapasitas 120 kg. Pengukuran tinggi badan menggunakan Microtoise merk Design dengan ketelitian 0,1 cm dan kapasitas 200 cm. Wawancara langsung menggunakan kuesioner. Data profil panti Data konsumsi makanan dari kedua panti diperoleh dengan cara yang berbeda. Pada RPSTW Sukma Raharja, konsumsi nasi dan sayuran lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Berat atau jumlah pangan yang diambil diketahui dengan terlebih dahulu menimbang berat pangan yang diambil setiap per satuan alat (sendok sayur) yang dipakai oleh pihak panti saat memberikan makanan kepada penghuni panti. Hal tersebut karena petugas dapur RPSTW Sukma Raharja membagikan makanan secara prasmanan dan tidak disediakan tempat/wadah khusus. Lansia membawa piring/mangkuk milik sendiri sebagai tempat/wadah makanan mereka, sehingga porsi yang diterima penghuni panti cenderung berbeda, sedangkan makanan yang berupa potongan seperti pangan hewani dan nabati dilakukan penimbangan dengan cara mengambil 3 potong dari 17    jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Pada PW Salam Sejahtera, total konsumsi nasi lansia per kali makan diperoleh dengan menanyakan dan mengamati langsung banyaknya nasi yang diambil dan dihabiskan lansia. Penimbangan dilakukan untuk lauk pauk dan sayuran, yaitu dengan cara mengambil 3 potong dari jenis pangan yang sama dan dianggap dapat mewakili porsi yang diberikan terhadap semua penghuni panti. Recall 2x24 jam dilakukan pada kedua panti untuk makanan yang dikonsumsi lansia contoh diluar dari yang diberikan oleh pengelola panti, serta makanan yang dikonsumsi penghuni panti pada saat malam hari, karena peneliti hanya melakukan penelitian dari pagi hingga sore. Data konsumsi dan aktivitas fisik juga diperoleh dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap masing-masing lansia contoh. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi bias dari lansia contoh yang telah mengalami penurunan daya ingat. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh kemudian diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, cleaning data, tabulasi dan analisis data. Pengolahan dan analisis data menggunakan program Microsoft Excel dan Software Statistik. Data karakteristik. Data karakteristik contoh yang meliputi umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan, data asupan /asupan makanan dan minuman, data aktivitas fisik, dan data status gizi. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Data umur contoh yang diperoleh dikelompokkan menjadi tiga kelompok menurut WHO (1997) yaitu lanjut usia (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Data tingkat pendidikan contoh diolah dengan mengelompokkannya menjadi enam kategori yaitu tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat Perguruan Tinggi/D3. Data konsumsi. Data konsumsi yang diperoleh dikonversi dalam satuan gram kemudian dihitung kandungan energi, protein, karbohidrat, lemak, dan serat dengan menggunakan program nutrisurvey kemudian hasil akhirnya diperoleh rata-rata untuk 2 hari. Asupan energi dan protein. Angka kecukupan gizi contoh dihitung berdasarkan status gizi contoh. Apabila status gizi normal maka menggunakan Angka Kecukupan Gizi (2004) yang telah dikoreksi dengan berat badan aktual 18    contoh sehingga didapatkan angka kecukupan energi dan protein koreksi. Status gizi kurang tingkat berat dan lebih tingkat berat menggunakan berat badan ideal dalam menghitung angka kecukupan zat gizi contoh. Rumus yang digunakan dalam mengkoreksi angka kecukupan zat gizi adalah sebagai berikut (Hardinsyah & Tambunan 2004): AKG Koreksi= berat badan aktual (kg) x AKG berat badan standar dalam daftar AKG Angka kecukupan gizi kemudian digunakan untuk menghitung tingkat kecukupan zat gizi. Tingkat kecukupan zat gizi contoh diperoleh dengan menggunakan rumus (Hardinsyah & Tambunan 2004): Tingkat kecukupan zat gizi = asupan zat gizi aktual x 100% angka kecukupan gizi Penggolongan tingkat kecukupan dilakukan berdasarkan Depkes (1996) dalam Supariasa (2002) yaitu defisit tingkat berat ( 30 g) (Muchtadi 2009). Asupan cairan. Data asupan cairan dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan sumbernya, yaitu air yang berasal dari makanan, minuman, dan air metabolik. Asupan air dari makanan dihitung berdasarkan kandungan air dari rata-rata konsumsi pangan selama 2 hari. Kandungan air pangan diperoleh dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia dalam Mahmud et al (2009) dengan rumus: Kgij= {(Bj/100) x Gij x (BDDj/100)} Keterangan: Kgij = Kandungan zat-zat gizi-i dalam bahan makanan-j Bj = Berat makanan-j yang dikonsumsi (g) Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 g BDD bahan makanan-j BDDj = Bagian bahan makanan-j yang dapat dimakan Air metabolik merupakan air hasil metabolisme zat gizi pangan (karbohidrat, protein, lemak). Jumlah air yang dihasilkan dari proses metabolisme zat gizi dapat dilihat pada Tabel 4. Asupan cairan dihitung dari rata-rata konsumsi cairan dalam 2 hari penelitian baik dari makanan, minuman, maupun 19    air metabolik dibandingkan dengan kebutuhan cairan perhari dikali 100%. Kebutuhan cairan lansia dihitung dengan rumus 30ml/kg BB (untuk lansia dengan status gizi kurang/kurus 100ml/10 kg pertama, 30 ml/10 kg kedua, dan 15 ml/kg sisanya) (WHO 2002). Kemudian dilakukan penggolongan tingkat konsumsi cairan yang dianalogikan sama dengan pemenuhan zat gizi, yaitu kurang minum (110%) (Depkes 2005). Tabel 4 Air metabolik Zat Gizi Karbohidrat Protein Lemak Air Hasil Metabolisme (ml/100 g zat gizi) 55 41 107 Sumber : Muchtadi et al (1993) Aktivitas fisik. Data aktivitas fisik didapatkan dengan metode recall 2x24 jam dan pengeluaran energi aktivitas fisik dihitung berdasarkan jenis kegiatan dengan menggunakan faktor kelipatan dan EMB untuk tiap jenis kegiatan. Menurut FAO/WHO/UNU (2001) besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang dalam 24 jam dinyatakan dlam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut: PAL= ∑(PAR ×alokasi waktu tiap aktivitas) 24 jam Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) PAR= Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu) Tingkat aktivitas fisik kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu ringan (1,40≤ PAL≤1,69), sedang (1,70≤PAL≤1,99), dan berat (2,00≤PAL≤2,39) (FAO/WHO/UNU 2001). Jenis aktivitas fisik yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada FAO/WHO/UNU (2001) dengan nilai PAR yang berbeda dalam setiap jenis kegiatan kkal per menitnya antara laki-laki dan perempuan. Nilai PAR yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Keseimbangan energi diperoleh dengan menghitung selisih antara energi yang didapat dari konsumsi pangan (asupan energi) dan pengeluaran energi dari aktivitas fisik, masing-masing dalam satuan kalori. Keseimbangan energi dikatakan positif apabila asupan energi lebih besar dari pengeluaran energi, dan dikatakan negatif bila asupan energi lebih kecil dari pengeluaran energi. 20    Perhitungan pengeluaran energi aktivitas fisik dapat dilihat dengan rumus sebagai berikut: Pengeluaran Energi = PAL x EMB Keterangan: PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik) EMB = Energi Metabolisme Basal Penentuan nilai EMB didasarkan pada umur dan BB disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Rumus FAO/WHO/UNU untuk menentukan EMB Kelompok Umur 0–3 3 – 10 10 – 18 18 – 30 30 – 60 ≥ 60 Sumber: Almatsier S (2004) EMB (kkal/hari) Laki-laki Perempuan 60,9 BB - 54 61,0 BB – 51 22,7 BB + 495 22,5 BB + 499 17,5 BB + 651 12,2 BB + 746 15,3 BB + 679 14,7 BB + 496 11,6 BB + 879 8,7 BB + 829 13,5 BB + 487 10,5 BB + 596 Status gizi. Status gizi contoh diukur berdasarkan indeks massa tubuh yang terdiri dari 5 kategori menurut Depkes (1994) dalam Supariasa et al (2002) yang dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Kategori status gizi berdasarkan IMT Kurus Normal Gemuk Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat ringan Kelebihan berat badan tingkat berat IMT : < 17,0 kg/m2 : 17,0 – 18,49 kg/m2 : 18,5 – 24,9 kg/m2 : 25,0 – 27,0 kg/m2 : >27,0 kg/m2 Data IMT diperoleh dengan terlebih dahulu mengetahui tinggi dan berat badan lansia. Tinggi dan berat badan lansia diperoleh dengan pengukuran langsung terhadap lansia contoh. Akan tetapi, ada beberapa lansia contoh dikedua panti yangmengalami kelainan tulang yaitu 4 orang di RPSTW Sukma Raharja dan 10 orang di PW Salam Sejahtera, sehingga digunakan pengukuran TL yang dikonversi ke dalam TB dengan menggunakan rumus Chumlea (1984). Konstipasi. Data konstipasi diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner mengenai gejala-gejala dasar konstipasi seperti perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB, dan tidak BAB selama 2 hari atau lebih dengan jawaban ya atau tidak. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi, rata-rata dan standard deviasi. Data 21    yang dianalisis secara deskriptif adalah data karakteristik contoh, asupan zat gizi, aktivitas fisik, status gizi dan kejadian konstipasi contoh. Untuk mengetahui perbedaan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, serat, cairan, aktivitas fisik, dan status gizi pada lansia di Panti Wreda Sukma Raharja yang dikelola pihak Pemda dan Panti Wreda Salam sejahtera yang dikelola pihak swasta dianalisis dengan independent sample t-test. Sedangakan analisis data yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel adalah uji korelasi Rank Spearman. 22    Definisi Operasional Contoh adalah lansia di Sukma Raharja dan Salam Sejahtera laki-laki dan perempuan berusia ≥ 60 tahun. Asupan serat adalah asupan serat yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan dan minuman dalam satuan gram sehari. Asupan cairan adalah asupan cairan yang dikonsumsi oleh contoh dari makanan, minuman, dan air metabolik dalam satuan liter sehari. Aktivitas fisik adalah data recall semua aktivitas fisik yang dilakukan contoh selama 24 jam atau 1 hari penuh. Gejala-gejala konstipasi adalah tanda-tanda konstipasi yang dialami contoh berupa gangguan buang air besar dengan gejala tidak BAB selama 2 hari atau lebih, perut terasa penuh, konsistensi feses lebih keras dari biasanya, feses susah dikeluarkan pada saat BAB atau mengejan secara berlebihan saat BAB. Karakteristik sosial adalah karakterisitk lansia contoh yang meliputi umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Tingkat Pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang pernah diperoleh oleh contoh. Status gizi contoh adalah keadaan gizi contoh yang diukur dari BB dan TB yang dikonversikan dan dikategorikan berdasarkan IMT contoh. Asupan energi adalah jumlah rata-rata energi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan kkal dalam sehari. Asupan protein adalah jumlah rata-rata protein dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan karbohidrat adalah jumlah rata-rata karbohidrat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. Asupan lemak adalah jumlah rata-rata lemak dari makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh dalam satuan gram dalam sehari. 23    HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Kota Bogor adalah salah satu panti dibawah lembaga atau satuan kerja yang berfungsi untuk memberikan pelayanan sosial bagi penyandang masalah sosial Lanjut Usia terlantar. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda (RPSTW) Sukma Raharja Bogor terbentuk sejak tahun 1957 diatas sebidang tanah seluas 1810 m2. Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wreda Sukma Raharja Kota Bogor merupakan pelaksana dari UPTD Balai Perlindungan Sosial Tresna Wreda Ciparay Bandung dan Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan yang berfungsi memberikan pelayanan sosial bagi para lansia terlantar dan tidak mampu berdasarkan profesi pekerjaan sosial. Kedudukan RPSTW Sukma Raharja Bogor sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 38 Tahun 1997 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja RPSTW Sosial di Lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan keputusan Gubernur Jawa Barat No. 29 tahun 2003 tentang Pembentukan Instalasi Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Sosial provinsi Jawa Barat. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat No. 113 Tahun 2009 tentang Pembentukan Sub Unit Pelaksanaan Teknis Dinas pada Dinas sosial Provinsi Jawa Barat, yaitu RPSTW Bogor diubah menjadi Sub Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki RPSTW Sukma Raharja saat ini berupa bangunan yaitu 1 unit kantor, 4 unit asrama, 1 unit aula, 1 unit gazebo, 1 unit Mushola, 3 unit kamar mandi, 3 unit kamar emergency, 1 unit dapur, dan 1 unit rumah dinas Kepala Panti. Jumlah penghuni yang dilayani di RPSTW Sukma Raharja Bogor sebanyak 60 orang, terdiri dari 59 Lansia wanita dan 1 orang Lansia laki-laki. Jumlah pegawai sebanyak 16 orang termasuk 10 tenaga TKK yaitu 6 orang Pegawai Negeri Sipil, 3 orang perawat, 1 orang pramu wisma, 1 orang pramu Wreda, 2 orang petugas keamanan, dan 2 orang petugas dapur. 23 24    Beberapa persyaratan untuk bisa diterima di RPSTW Sukma Raharja Bogor yaitu: 1. Wanita berusia minimal 60 tahun keatas 2. Bukan Pensiun PNS/Polri/TNI 3. Membawa surat keterangan sehat dari dokter 4. Mengisi formulir permohonan 5. Menyerahkan surat keterangan tidak mampu dari Desa/ Kelurahan setempat 6. Membawa surat rujukan dari Dinas Sosial Kabupaten/ Kota 7. Menyerahkan KTP, fotcopy KK, foto terbaru ukuran 3x4 2 lembar. Adapun pembiayaan dibebankan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat/APBD Tk. I yang menyantuni sebanyak 60 orang Lansia. Pegelolaan makanan di RPSTW Sukma Raharja dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi dilakukan untuk pangan sumber protein hewani dan nabati, seperti ayam, ikan, tahu, dan tempe. Nasi diambil sendiri oleh penghuni panti, sedangkan sayuran diberikan secara langsung oleh petugas dapur pada saat pembagian makanan. Penghuni panti menggunakan tempat/piring/mangkuk masing-masing untuk mengambil makanan yang diberikan oleh pengelola. Panti Wreda Salam Sejahtera Awal tahun 1996 diadakan pertemuan dengan diberi nama “Ikatan Kekerabatan/Kekeluargaan Tio Chiu”. Pertemuan ini menghasilkan gagasangagasan, salah satunya muncul gagasan mulia dengan tujuan untuk mengadakan bentuk kegiatan yang lebih berarti, bukan untuk kalangan terbatas tetapi untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Gagasan ini yaitu dengan membangun dan membentuk sebuah panti yang diberi nama Panti Wreda (PW) Salam Sejahtera dibawah naungan Yayasan Kasih Mulia Sejahtera Panti Wreda dan resmi berdiri pada tanggal 12 Desember 1996. Lokasi PW Salam Sejahtera Kota Bogor cukup strategis baik untuk hubungan dengan masyarakat lingkungan sekitarnya, pusat perbelanjaan dan Pemerintahan Kota Bogor, sehingga penghuni panti tidak merasa diasingkan dan dapat menikmati hari tuannya dengan diliputi rasa ketentraman lahir batin. PW Salam Sejahtera Kota Bogor terletak di Jalan Padjajaran belakang Gedung Olympic, diapit oleh dua gedung pertokoan yang dibelakangnya terdapat perumahan masyarakat. 25    Panti Wreda Salam Sejahtera dibangun diatas sebidang tanah seluas ± 3.642 m2 yang didirikan oleh 10 orang yaitu salah satunya Bapak Eddy Mulianto sebagai ketua. Adapun bangunan tersebut terdiri dari ruang sekretariat, ruang tamu, ruang perawat, balai pengobatan/poliklinik, ruang pertemuan yang biasanya dipakai sebagai tempat ibadah, kamar berjumlah 60 unit yang dibagi menjadi 3 wisma yaitu wisma A dengan 25 unit kamar, wisma B 8 unit kamar, dan wisma C 27 unit kamar yang dikhususkan untuk lansia laki-laki. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi dan WC tersendiri. Ruang makan yang dilengkapi meja dan kursi serta perlengkapan lainnya, dapur dan ruang cuci dengan ukuran 6,5x6 m2 dan ruang penyimpanan bahan makanan 5x5 m2. Jumlah karyawan di PW Salam Sejahtera yaitu 24 orang yang terdiri dari 5 orang bagian pengelola makanan, 6 orang suster, 2 orang Ahli Madya Fisioterapi, 4 orang satpam, 2 orang bagian administrasi, 3 orang bagian kebersihan, 1 orang tukang cuci dan 1 orang driver. Adapun struktur organisasi di PW Salam Sejahtera dapat dilihat pada Gambar 2. Ketua pengurus Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Wakil Sekretaris Wakil Bendahara Ketua Pelaksana Panti Pelaksana Tata Usaha Bendahara Gambar 2 Struktur Organisasi Panti Wreda Salam Sejahtera Bogor Lansia yang akan masuk dan tinggal di PW Salam Sejahtera harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan panti, sekaligus dengan biaya sewa kamar tiap bulannya. Harga sewa kamar disesuaikan dengan luas kamar. Beberapa syarat untuk menjadi penghuni di PW Salam Sejahtera yaitu: 1. Berusia diatas 60 tahun dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. 26    2. Ada anak atau keluarga yang bertanggung jawab atas iuran bulanan atau biaya pengobatan bila diperlukan. 3. Surat keterangan kesehatan dari dokter atau rumah sakit (bila diperlukan). Pengelolaan makanan di PW Salam Sejahtera dilakukan dengan menggunakan siklus menu 1 minggu. Pembagian porsi tidak dilakukan dengan penimbangan khusus, tapi dengan pertimbangan bentuk potongan yang dianggap sama untuk setiap potongannya. Pembagian makanan berupa laukpauk dan sayuran kepada penghuni panti menggunakan tempat yang disediakan pengelola, sehingga dapat diduga semua pembagian dalam porsi yang sama, sedangkan penghuni panti dapat mengambil sendiri porsi nasi yang diinginkan. Karakteristik Contoh Lanjut usia menurut WHO (1997) dikelompokkan menjadi tiga yaitu usia lanjut (elderly): 60-74 tahun, usia tua (old): 75-90 tahun, dan sangat tua (very old): >90 tahun. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, pasal 1 ayat 2, yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Sebaran usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan contoh pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh Karakteristik contoh Usia: - Usia lanjut (60-74) - Usia tua (75-90) Total Rata-rata (tahun) Jenis Kelamin : - Laki-laki - Perempuan Total Tingkat Pendidikan - Tidak Sekolah - Tidak Tamat SD - SD/Sederajat - SMP/Sederajat - SMA/Sederajat - D3 Total Sukma Raharja n % 27 3 30 90 10 100 Salam Sejahtera n % 9 22 31 67±5 29 71 100 Total n % 36 25 61 59 41 100 71±8 76±7 0 30 30 0 100 100 15 16 31 48,4 51,6 100 15 46 61 24,6 75,4 100 5 11 4 4 5 1 30 16,7 36,7 13,3 13,3 16,7 3,3 100 0 7 4 7 11 2 31 0 22,6 12,9 22,6 35,5 6,5 100 5 18 8 11 16 3 61 8,2 29,5 13,1 18,0 26,2 4,9 100 Usia. Tabel 7 menunjukkan bahwa secara keseluruhan contoh berada pada rentang usia 60-74 tahun yaitu 59%. Akan tetapi, lansia di PW Salam Sejahtera lebih banyak pada kelompok usia tua (75-90 tahun) yaitu sebesar 71%, 27    sedangkan di Sukma Raharja 90% responden termasuk kelompok usia lanjut (60-74 tahun). Usia lansia contoh di Sukma Raharja berada dalam rentang 60-79 tahun dengan rata-rata usia 67±5 tahun, dan lansia contoh di Salam Sejahtera berada dalam rentang usia 60-85 tahun dengan rata-rata usia 76±7 tahun. Jenis Kelamin. Contoh yang berasal dari Sukma Raharja 100% berjenis kelamin perempuan, hal ini dikarenakan populasi pada tersebut semuanya berjenis kelamin perempuan. Pada Salam Sejahtera, contoh tersebar secara merata antara contoh berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, yaitu masingmasing 48,4% dan 54,6%. Tingkat Pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang bisa diperoleh dari pendidikan, terutama pendidikan formal. Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pendidikan lansia contoh sangat beragam. Persentase terbesar terdapat pada kelompok tingkat pendidikan tidak tamat SD yaitu 29,5%. Lansia contoh di Sukma Raharja tingkat pendidikan terbesar adalah tidak tamat SD yaitu sebanyak 36,7% contoh. Hal ini dikarenakan tidak adanya biaya untuk bersekolah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan lansia contoh di Salam Sejahtera, persentase tingkat pendidikan terbesar adalah SMA/Sederajat yaitu 35,5%. Status Gizi Menurut Briawan dan Madanijah (2008), status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (asupan) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) untuk berbagai fungsi biologis. Status gizi seseorang dapat ditentukan dengan berbagai jenis teknik penilaian, salah satunya dengan IMT. Status gizi lansia contoh dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 8. Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan status gizi berdasarkan IMT Status Gizi (IMT) Kurus tingkat berat (27,0) Total Rata-rata (IMT) Sukma Raharja n % 9 30 4 13,3 13 43,3 2 6,7 2 6,7 30 100 20±5 Salam Sejahtera n % 2 6,5 4 12,9 15 48,4 3 9,7 7 22,6 31 100 24±5 Total n % 11 18,0 8 13,1 28 45,9 5 8,2 9 14,8 61 100 p=0,001 28    Tabel 8 menunjukkan bahwa secara keseluruhan status gizi lansia contoh adalah normal yaitu sebesar 45,9%. Pada kedua lokasi tersebut pun sama, yaitu masing-masing pada Sukma Raharja sebesar 43,3% lansia contoh berstatus gizi normal dan 48,4% lansia contoh di Salam Sejahtera. Akan tetapi, persentase terbesar kedua menunjukkan masih terdapat 30% lansia contoh di Sukma Raharja yang memiliki status gizi kurus tingkat berat dengan IMT terendah 14,1 kg/m2, sedangkan pada lansia contoh di Salam Sejahtera persentase terbesar kedua adalah gemuk tingkat berat dengan IMT tertinggi 39,6 kg/m2. Hal ini menunjukkan adanya masalah gizi ganda pada lansia contoh di kedua lokasi penelitian. Sejalan dengan persentase tersebut, hasil uji beda t juga menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p
Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Asupan Serat dan Cairan, Aktivitas Fisik, serta Gejala Konstipasi pada Lanjut Usia

Gratis