Feedback

Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Informasi dokumen
KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT IZNILLAH FADHOLI ARHAM DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ii PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul: KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU KABUPATEN AGAM, SUMETERA BARAT adalah benar merupakan hasil karya saya dengan arahan pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan pada Daftar Pustaka skripsi ini. Bogor, April 2012 IZNILLAH FADHOLI ARHAM A44070054 iii RINGKASAN IZNILLAH FADHOLI ARHAM. Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dibimbing oleh NURHAYATI HS ARIFIN. Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Interaksi masyarakat dengan lanskap alami lingkar Danau Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Faktor pendorongnya yaitu, laju konversi penggunaan lahan, pembangunan fisik yang tidak seimbang, dan penurunan kualitas budaya masyarakat semakin cepat. Hal ini mengakibatkan degradasi kualitas lingkungan (alam dan budaya). Kualitas lingkungan yang menurun ini terkait erat dengan pola aktivitas budaya masyarakat yang berkembang saat ini. Masyarakat di lingkar Danau Maninjau saat ini sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu, contohnya budidaya ikan dengan sistem karamba jala apung. Budidaya dengan sistem karamba jala apung menjadi trend karena komoditasnya menjanjikan secara ekonomis dalam jangka pendek tetapi dapat mengancam dan menyaingi keberlanjutan ekosistem spesies endemik di Danau Maninjau. Permasalahan tersebut sangat mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup dan berpijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutannya. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau ini. Penelitian dilaksanakan selama sembilan minggu, mulai akhir bulan Februari 2011 sampai dengan April 2011, di kawasan nagari lingkar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap berupa inventarisasi data, analisis, dan sintesis (rekomendasi). Inventarisasi data dilakukan dengan metode observasi lapangan, pengamatan, kuisioner, dan wawancara kepada elemen pemerintahan nagari serta tetua atau pemerhati adat budaya setempat. Analisis dilakukan baik secara deskriptif maupun spasial. Analisis spasial bertujuan untuk menghasilkan deskripsi karekteristik lanskap budaya lingkar Danau Maninjau dan mengetahui karakter interaksi manusia dan lanskap alami tersebut dengan unit analisis setiap nagari di dalamnya. Analisis deskriptif dilakukan dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Metode SWOT bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan dan merumuskan strategi pengembangan dan pelestarian lanskap budaya di Lingkar Danau Maninjau tersebut. Wilayah lingkar Danau Maninjau secara administrasi merupakan kesatuan dari Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumetera Barat, mencakup sembilan Nagari, yaitu Maninjau, Bayur, Duo Koto, Paninjauan, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Tanjung Sani, dan Sungai Batang. Aksesibilitas di kawasan Danau Maninjau adalah jalan provinsi kelas-II dan jalan iv kabupaten kelas-III. Kecamatan Tanjung Raya termasuk dalam daerah yang terletak di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata antara 23°C - 31°C, kelembaban nisbi sebesar 95%, kecepatan angin 23 km/jam, dan curah hujan rata-rata mencapai 2.500-3.500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut. Danau Maninjau juga termasuk ke dalam satuan morfologi Gunung Api Strato. Pada morfologi ini bagian puncak dan lereng bagian atas merupakan aliran permukaan atau resapan, sedangkan pada bagian kaki gunung ditafsirkan sebagai daerah akumulasi air tanah. Daerah Danau Maninjau merupakan bagian dari Sistem Patahan Besar Sumatera (The Great Sumatran Fault Sistem). Pada bagian tengah merupakan patahan utama yang aktif. Secara visual, tampak dari atas morfologi landform Gunung Maninjau tidak memperlihatkan bentuk sebuah gunungapi yang lengkap, tetapi berbentuk sebuah kerucut terpancung. Puncak-puncak bukit yang tinggi-tinggi hampir-hampir mengelilingi kaldera Maninjau, terutama di utara dan Selatan dengan ketingian mencapai 1500 m pada Puncak Gunung Rangkian di Utara dan 1252 m pada puncak Gunung Tanjung Balit di selatan. Secara ekosistem, Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Antokan dan juga termasuk Satuan Wilayah Sungai (SWS) Anai Sualang. Fenomena hidrologi rutinan di Danau Maninjau adalah tubo balerang atau racun belerang. Endapan belerang dari dasar danau secara rutin akan naik ke permukaan disebabkan oleh pola angin darat yang juga rutin melewati Danau Maninjau. Penggunaan lahan terbaru dalam dokumen RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 menunjukkan bahwa data penggunaan lahan di lingkar Danau Maninjau tahun 2010 sangat berubah, dengan konversi hutan atau lanskap alami menjadi lahan budidaya intensif, dibanding data tahun 2002 hutan yang masih cukup mendominasi. Pemanfaatan sumber daya alami yang berlebihan ini juga menyebabkan semakin banyaknya endapan dari buangan limbah pemukiman dan tren budidaya perikanan jala apung atau karamba yang semakin tidak terkontrol. Jumlah penduduk Kawasan Danau Maninjau pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 30.961 jiwa atau meningkat sekitar 4,38% dari tahun 2001. Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki dan didominasi oleh kelompok umur kategori pra-produktif yang mencapai 44,4% total penduduk. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perekonomian unggulan di kecamatan ini terletak pada sektor dan sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Sistem lembaga kemasyarakatan di kawasan lingkar Danau Maninjau berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia, dengan sistem Nagari yang secara hierarki administratif berada di bawah Kecamatan. Masyarakat lingkar Danau Maninjau merupakan masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau secara tradisional telah memiliki prinsip filosofis yang mengatur konsepsi hidup dan kehidupan masyarakatnya. Filosofi adat Minang tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru atau filosofi ekologis. Sistem adat yang berlaku di masyarakat lingkar Danau Maninjau adalah Adat Minangkabau. Secara mendasar sistem ini tidak berbeda dengan masyarakat Minangkabau di daerah lainnya, yang membedakan hanya pada tataran metodologis dan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Kebijakan pemerintah berupa RTRW adalah faktor eksternal yang mempengaruhi pola lanskap. Tujuan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 adalah, „Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN, v dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟. Secara umum kebijakan ini sudah cukup baik, tetapi pada spesifik aturan tertentu perlu dikaji ulang terkait dampaknya terhadap keberlanjutan lanskap budaya setempat. Aktivitas wisata yang berkembang dianggap sebagai ancaman bagi pemerhati budaya lokal. Maka perlu ada interaksi dan komunikasi yang terbuka dari berbagai pihak terkait untuk memajukan potensi industri pariwisata Danau Maninjau tanpa harus mengurangi atau merusak nilai-nilai budaya lokal. Secara ekologis, kawasan lingkar Danau Maninjau ini dapat diklasifikasikan melalui pendekatan derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami. Semakin besar pengubahan lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Setelah dihitung luasan masing-masing kelompok pengubahan penggunaan lanskap alami pada setiap nagari, diketahui bahwa Nagari Maninjau, Bayua, dan Duo Koto merupakan nagari-nagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap alami intensif (nilai ekologis rendah); Nagari Tanjung Sani didominasi oleh kelompok lanskap alami transisi (nilai ekologis sedang); dan Nagari Sungai Batang, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, dan Paninjauan merupakan nagarinagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap alami rendah (nilai ekologis tinggi). Indikator dari aspek sosial ekonomi dalam studi ini ditinjau dari segi kepadatan penduduk. Klasifikasi kepadatan penduduk per-nagari di Kecamatan Tanjung Raya dari data sensus tahun 2007 adalah sebagai berikut: Maninjau dan Duo Koto sangat padat; Bayua, Koto Kaciak, Paninjauan cukup padat; Koto Gadang, Tanjung Sani, Sungai Batang, Koto Malintang kurang padat. Hasil penilaian aspek sejarah spiritual budaya menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah satu-satunya nagari yang termasuk dalam kriteria nagari dengan nilai sejarah, spiritual, dan budaya tinggi, dengan jumlah situs sejarah budaya mencapai sembilan titik dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan cukup baik. Nagari yang termasuk dalam kelompok nilai sejarah, spiritual, dan budaya rendah adalah Nagari Koto Gadang dan Koto Malintang dengan jumlah situs sejarah budaya dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan yang terdata kurang dari tiga. Enam nagari lainnya termasuk dalam kelompok nilai sedang. Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), total akumulasi nilai setiap nagari tersebut yaitu Nagari Sungai Batang dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang. Hasil dari analisis keberlanjutan dengan metode SWOT menunjukkan bahwa strategi yang akan disusun seharusnya berorientasi pada strategi pertumbuhan dan pengembangan (growth strategy) yang termasuk pada kuadran I diagram model strategi (Rangkuti, 2009). Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini dapat dicapai melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik disektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. Strategi pertumbuhan dan pengembangan ini dijabarkan dalam rekomendasi strategi keberlanjutan sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya. vi ® Hak Cipta Milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. vii KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT IZNILLAH FADHOLI ARHAM Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 viii LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat Nama Mahasiswa : Iznillah Fadholi Arham NRP : A44070054 Departemen : Arsitektur Lanskap Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Nurhayati HS Arifin, M.Sc NIP. 1962 0121 1986 01 2 001 Mengetahui, Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA NIP. 1948 0912 1974 12 2 001 Tanggal Lulus : ix RIWAYAT HIDUP Penulis, Iznillah Fadholi Arham, dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 November 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari keluarga Bapak Suratmin dan Ibu Dewi Marianti. Penulis memulai pendidikannya pada tahun 1995 di TK An-Nur Pekanbaru dan lulus pada tahun 1996. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 036 Pandau Jaya sampai kelas dua dan melanjutkan di SD Negeri 005 Sail Pekanbaru sampai lulus 2002. Kemudian pada tahun 2002, penulis melanjutkan studi di MTs Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dan menyelesaikannya di tahun 2004. Pada tahun 2007, penulis lulus dari SMA Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut (USMI). Dalam masa pendidikan di Institut Pertanian Bogor penulis juga mengambil bidang ilmu pendukung dari minor Pengelolaan Wisata Alam dan Jasa Lingkungan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Selama menjalankan studi di Institut Pertanian Bogor, penulis juga mengikuti kegiatan-kegiatan di luar akademik, seperti menjadi pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) divisi Pemberdayaan Sumberdaya Manusia pada kepengurusan tahun 2009, Wakil Ketua urusan internal Himpunan Profesi Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) pada kepengurusan tahun 2010, pembentuk dan anggota Komunitas Pecinta Alam HIMASKAP (KOALA) sejak tahun 2010, pembentuk dan anggota Komunitas Fotografi HIMASKAP atau HIMASKAP Photo Club (HPC) sejak tahun 2010, pembentuk dan anggota komunitas Environmental Art (ENVO) HIMASKAP pada tahun 2010, dan menjadi asisten Mata Kuliah Analisis Tapak (ARL-310) pada Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB tahun ajaran 2011-2012. x KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas rahmat dan karunia yang diberikan Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi dengan judul “Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian dengan Mayor Arsitektur Lanskap dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penulisan skripsi ini didasari oleh keinginan untuk ikut dalam upaya pelestarian kawasan dan budaya masyarakat lingkar Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Selain itu, juga untuk meningkatkan rasa kepedulian dan penghargaan diri sendiri dan masyarakat terhadap keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau. Pada kesempatam kali ini penulis menyampaikan apresiasi, penghargaan, dan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dan berkontribusi dalam proses penelitian serta penyelesaian penulisan skripsi ini, yaitu kepada: 1. Dewi Marianti, SPd. dan Suratmin selaku kedua orang tua, serta keluarga besar yang amat dicintai atas doa, dukungan, kepercayaan, semangat, dan bantuan yang diberikan kepada penulis sampai saat ini. 2. Dr. Ir. Nurhayati HS Arifin, MSc. selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, masukan dan arahannya selama penyusunan skripsi ini. 3. Dr. Ir. Setia Hadi, MS. sebagai pembimbing akademik atas arahan dan bimbingan selama penulis menjalani kuliah. 4. Ir. Qodarian Pramukanto, MS. dan Dr. Ir. Tati Budiarti, MS. selaku dosen penguji atas masukan, kritik, dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini. 5. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Agam, Kecamatan Tanjung Raya, dan seluruh Kenagarian (Maninjau, Bayur, Duo Koto, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Tanjung Sani, Sungai Batang, dan Paninjauan) selingkar Danau Maninjau atas bantuannya dalam pengumpulan data selama penelitian. 6. Sahabat seperjuangan Arsitektur Lanskap IPB angkatan persahabatan, bantuan, doa, dukungan, dan motivasinya. 44 atas xi 7. Keluarga besar di Departemen Arsitektur Lanskap IPB angkatan 40, 41, 42, 43, 45, 46,47 dan seluruh civitas akademik atas sukacita bersama dan motivasinya. 8. Seluruh pihak yang telah memberikan motivasi, saran dan nasehat yang membantu penulis selama proses penyusunan laporan penelitian ini. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat lingkar Danau Maninjau, pemerintah setempat, dan seluruh pihak terkait, serta dapat berguna sebagai referensi bagi penelitian lain yang dilaksanakan pada masa yang akan datang. Bogor, April 2012 Penulis xii DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ................................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvi I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1 1.2. Tujuan .......................................................................................................... 3 1.3. Manfaat ........................................................................................................ 3 1.4. Kerangka Pikir ............................................................................................. 3 II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 5 2.1. Lanskap Budaya ........................................................................................... 5 2.2. Lanskap Danau Maninjau ............................................................................ 7 2.3. Sistem Adat Budaya Minangkabau .............................................................. 8 2.4. Keberlanjutan Lanskap Budaya ................................................................... 9 III. METODOLOGI ................................................................................................. 19 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ..................................................................... 19 3.2. Batasan Penelitian ...................................................................................... 20 3.3. Tahapan dan Metode Penelitian ................................................................. 20 3.3.1. Inventarisasi ..................................................................................... 20 3.3.2. Analisis ............................................................................................ 22 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 25 4.1. Aspek Fisik dan Biofisik ............................................................................ 25 4.1.1. Wilayah Administrasi Lingkar Danau Maninjau ............................. 25 4.1.2. Aksesibilitas dan Sirkulasi ............................................................... 25 4.1.3. Iklim ................................................................................................. 27 4.1.4. Geologi, Tanah, dan Topografi ........................................................ 28 4.1.5. Hidrologi .......................................................................................... 32 4.1.6. Penutupan dan Penggunaan Lahan .................................................. 35 4.1.7. Visual ............................................................................................... 39 4.2. Aspek Sosial Budaya ................................................................................. 42 4.2.1. Demografi ........................................................................................ 42 4.2.2. Lembaga Kemasyarakatan ............................................................... 45 xiii 4.2.3. Filosofi dan Nilai-Nilai .................................................................... 48 4.2.4. Sistem Adat dan Budaya .................................................................. 49 4.3. Pengaruh Eksternal .................................................................................... 50 4.3.1. Kebijakan dan Peraturan Pemerintah - RTRW ................................ 50 4.3.2. Aktivitas Wisata ............................................................................... 70 4.4. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............................. 71 4.4.1. Ekologi ............................................................................................. 71 4.4.2. Sosial Ekonomi ................................................................................ 74 4.4.3. Sejarah Spiritual Budaya.................................................................. 75 4.4.4. Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............... 77 4.5. Analisis Keberlanjutan ............................................................................... 78 4.5.1. SWOT ............................................................................................... 78 4.5.2. Rekomendasi Keberlanjutan ............................................................ 83 V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 85 5.1. Simpulan .................................................................................................... 85 5.2. Saran .......................................................................................................... 86 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 87 LAMPIRAN ............................................................................................................. 88 xiv DAFTAR TABEL 1 Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Internal ............................................14 2 Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal .........................................14 3 Formulir Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal...................................15 4 Formulir Matriks IFE ...................................................................................16 5 Formulir Matriks EFE ..................................................................................16 6 Formulir Matriks SWOT..............................................................................18 7 Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi .......................................18 8 Jenis dan Sumber Data .................................................................................21 9 Data Sensus Penduduk Kecamatan Tanjung Raya (BPS, 2007) ..................43 10 Perbedaan Konsepsi Nagari dan Desa .........................................................46 11 Penilaian Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............................77 12 Tingkat Kepentingan Faktor Internal ...........................................................79 13 Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal ........................................................80 14 Pembobotan Faktor Internal .........................................................................80 15 Pembobotan Faktor Eksternal ......................................................................80 16 Skor Pembobotan Faktor Internal ................................................................81 17 Skor Pembobotan Faktor Eksternal .............................................................82 xv DAFTAR GAMBAR 1 Kerangka Pikir Penelitian ........................................................................... 4 2 Sistem Adat Minangkabau ........................................................................... 9 3 Kuadran Strategi ..........................................................................................17 4 Lokasi Penelitian ..........................................................................................19 5 Tahapan Penelitian .......................................................................................20 6 Peta Aksesibilitas .........................................................................................26 7 Peta Iklim Tipe Oldeman .............................................................................28 8 Peta Geologi dan Tanah ...............................................................................30 9 Peta Topografi dan Kemiringan Lahan ........................................................31 10 Peta Daerah Aliran Sungai ...........................................................................34 11 Perubahan Tutupan Lahan ...........................................................................37 12 Peta Penggunaan Lahan tahun 2010 ............................................................38 13 Lanskap Danau Maninjau dari Kelok-44 .....................................................40 14 Lanskap Bagian Utara Danau Maninjau ......................................................40 15 Lanskap Bagian Tenggara Danau Maninjau ................................................41 16 Lanskap Bagian Selatan Danau Maninjau ...................................................42 17 Lanskap Bibir Pantai dan Tebing Danau Maninjau .....................................42 18 Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau .........................................61 19 Persentase Persepsi Masyarakat tentang Aktivitas Wisata ..........................71 20 Klasifikasi Ekologis .....................................................................................72 21 Ilustrasi Penampang Danau ..........................................................................74 22 Klasifikasi Lanskap Budaya ........................................................................77 xvi DAFTAR LAMPIRAN 1 Surat Rekomendasi Permohonan Data Penelitian ..........................................89 2 Surat Rekomendasi Izin Penelitian / Observasi .............................................90 3 Kuisioner Persepsi dan Preferensi Masyarakat ..............................................91 4 Draft Wawancara Sejarah Asal-usul Kampung..............................................92 5 Tabel Data Skoring Parameter Sejarah, Spiritual, dan Budaya ......................93 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Budaya dan lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk keragaman ini tidak hanya dari akar budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari dinamisnya intrusi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa trend budayanya masing-masing. Kekayaan ini menyumbangkan berbagai karakter dari berbagai aspek khususnya nilai karakter lanskap budaya. Suatu kebudayaan dari masyarakat atau komunitas lokal akan semakin sulit diidentifikasi karakternya apabila terjadi penurunan nilai budaya atau sejarah dan juga nilai fisik alami yang terkandung, mengingat interaksi antar beragam kelompok manusia dan lanskap semakin intensif dan beragam bentuknya. Oleh karena hal di atas, penting untuk dilakukan kajian mengenai interaksi manusia dan lanskap, yang selanjutnya disebut sebagai lanskap budaya, sebagai bahan dasar pengembangan berkelanjutan dan upaya pelestarian dari berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Danau Maninjau di Sumatera Barat merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar 99,5 km² atau 9950 Ha, dengan kedalaman rata-rata 157 m, volume air 10.4 km³, dan keliling 66 km. Danau Maninjau berbentuk cekungan yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang tersusun seperti dinding. Kekayaan yang tersimpan di alam Maninjau beserta danaunya membuat hubungan antara manusia dan alam semakin dekat. Lahan subur, iklim yang nyaman, sumber makanan dan air yang berlimpah, serta banyak kekayaan lainnya. Kebutuhan akan sumber daya alam di sini pada awalnya terbentuk hanya atas alasan bertahan hidup, tetapi perkembangan zaman membuat pola hidup terus berkembang dan membentuk beragam alasan lainnya. Hal tersebut membentuk beragam karakter lanskap budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkar Danau Maninjau hingga saat ini. Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau 2 kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Filosofi dasar „Alam takambang jadi guru‟ dipegang dan diaplikasikan dengan baik dalam bertindak. Mereka meninjau cukup lama dari bukit-bukit yang tinggi di batas luar Maninjau, meninjau alam di bawah apakah akan layak dihuni dan tidak membahayakan kehidupannya. Hanya lahan-lahan yang cukup datar dipilih sebagai lahan budidaya. Hutan primer di bukit-bukit terjal yang mengelilingi danau dijaga agar tidak terjadi longsor. Sumber protein dari danau telah cukup melimpah dengan beragam spesies endemik akan meledak populasinya pada waktu-waktu tertentu, sehingga dapat dengan mudah dipanen tanpa perlu budidaya atau interaksi intensif pada danau, sehingga kejernihan danau tetap terjaga. Ekosistem darat dan danau saling mendukung. Pola budaya yang sangat berbeda terasa saat ini. Masyakat di lingkar Danau Maninjau saat ini tampaknya sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu. Intensitas interaksi (derajat pengubahan lanskap alami) oleh masyarakat terhadap lanskap lingkar Danau Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Pemukiman dan lahan-lahan budidaya dikembangkan pada lahan-lahan curam bekas hutan yang menyangga tebing dan pada bibir danau. Interaksi langsung tidak hanya dilakukan di daratan tetapi juga pada danau, dengan budidaya sistem jala apung atau keramba yang semakin intensif dilakukan. Hal ini mengakibatkan akumulasi unsur hara berlebihan pada air danau dan menyaingi populasi spesies endemik Danau Maninjau. Inilah potret lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau saat ini dan keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan. Permasalahan tersebut sangat mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup dan bepijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspekaspek yang mempengaruhi keberlanjutannya. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau ini. Sangat penting untuk mengetahui berbagai karakter dan menilai keberlanjutan lanskap budaya yang terbentuk dan berkembang sebagai dasar pedoman atau rekomendasi pemerintah, masyarakat, dan semua pihak terkait 3 dalam menentukan arah perencanaan dan pengembangan lanskap lingkar Danau Maninjau secara berkelanjutan. 1.2. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi unit lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau, 2. Menganalisis keberlanjutan lanskap budaya tersebut, 3. Menyusun rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan. 1.3. Manfaat Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah: 1. Menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Kabupaten Agam, atau pemerintah setempat, beserta pihak-pihak yang terkait dalam merencanakan, mengembangkan, dan mengelola lanskap Danau Maninjau 2. Sebagai informasi yang melengkapi pengetahuan dan menambah wawasan tentang lanskap badaya Danau Maninjau dan membuka kesadaran untuk menjaga atau memelihara keberlanjutannya. 1.4. Kerangka Pikir Lanskap alami Danau Maninjau, suatu dasar ekologis suatu ekosistem yang akan berkembang didalamnya, tidak akan pernah lepas dari sentuhan-sentuhan manusia dengan aspek-aspek sosial ekonomi dan budaya spiritual yang dibawanya. Aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya merupakan tiga pilar keberlanjutan yang juga dijadikan dasar oleh Global Ecovillage Network (GEN) sebagai acuan dalam metode Penilaian Keberlanjutan Masyarakat yang umumnya dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA). Hasil interaksi antara manusia dan alam ini disebut sebagai lanskap budaya. Lanskap budaya Danau Maninjau seiring perkembangan zaman dan pertumbuhannya akan terus membawa dampak terhadap keberlanjutannya. Dampak yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah penurunan kualitas budaya dan juga kualitas fisik lanskapnya. Hal tersebut akan menjadi dasar kajian pada penelitian ini. Hasil analisis atau kajian ini berupa rekomendasi dasar pertimbangan pengembangan, 4 pelestarian, dan juga pengelolaan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan (Gambar 1). Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lanskap merupakan suatu bentang alam dengan berbagai karakteristik yang terdefinisi secara harmoni menurut seluruh indra manusia (Simonds,2006). Definisi umum ini membuat pengertian lanskap dapat terdiferensiasi menurut skala tertentu, mulai dari skala mikro sebatas taman kantong sampai skala makro dalam tataran regional dan universal. Budaya merupakan kesatuan makna dari hasil cipta, karya, dan karsa, yang dalam hal ini, manusia. Budaya pasti bersifat dinamis karena pada dasarnya kebudayaan merupakan hasil peradaban dari setiap masa. Hal ini tersimpulkan dari tulisan Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (1986) yang isinya sebagai berikut, soal-soal yang paling tinggi nilainya dalam hidup manusia dan yang secara universal ada dalam tiap kebudayaan di dunia paling sedikit menyangkut lima hal, yaitu: 1. hakekat dari hidup manusia 2. hakekat dari karya manusia 3. hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu 4. hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya 5. hakekat dari hubungan manusia dengan sesama manusia. Lanskap budaya sering diartikan sebagai sinonim dari lanskap buatan atau lanskap hasil rancangan, seperti taman, boulevard, kampus, rekayasa tapak, penanaman dan sebagainya. Lanskap budaya, menurut Plantcher dan Rossler (1995), merupakan sebuah model interaksi antara manusia, sistem sosial, dan cara mereka mengorganisasi ruang. Beberapa definisi lain mendefinisikan lanskap budaya sebagai wujud fisik dari setting perkotaan atau kawasan yang diciptakan oleh suatu etnis atau ras tertentu. Menurut Longstreth (2008) ketepatan dasar arti dari konsep lanskap budaya adalah perbedaan atau pembeda dari suatu tempat yang tidak cukup dinilai hanya dari lingkup kecil skala halaman rumah. Thisler (dalam Nurisjah dan Pramukanto, 2001) mendefinisikan lanskap budaya sebagai suatu kawasan geografis yang menampilkan ekspresi lanskap alami oleh suatu pola kebudayaan tertentu. 6 Identitas atau karakter lanskap budaya dapat dijabarkan melalui tiga kelompok komponen, yaitu konteks, organisasi, dan elemen (Melnick, 1983). Penjabaran dari masing-masing kelompok komponen tersebut antara lain sebagai berikut: 1. lanskap budaya dalam kelompok konteks a. sistem organisasi lanskap budaya b. kategori penggunaan lahan secara umum c. aktivitas khusus dari penggunaan lahan 2. lanskap budaya dalam kelompok organisasi a. hubungan bentuk bangunan dangan elemen mayor alami b. sirkulasi jaringan kerja dan polanya c. batas pengendalian elemen d. penataan tapak 3. lanskap budaya dalam kelompok elemen a. hubungan pola vegetasi dengan penggunaan lahan b. tipe bangunan dan fungsinya c. bahan dan teknik konstruksi d. skala kecil dari elemen e. makam atau situs simbolik sejenisnya f. pandangan sejarah dan kualitas persepsi. Lanskap sejarah budaya memiliki nilai yang penting sebagai jatidiri dan kebanggaan suatu bangsa. Menurut Goodchild (1990), lanskap sejarah harus dikonservasi karena : 1. sesuatu yang penting dan merupakan bagian integral dari warisan budaya 2. menyediakan fakta fisik dan arkeologi dari warisan sejarah dan budaya 3. memberi kontribusi untuk kesinambungan perkembangan budaya 4. memberi kontribusi pada keragaman yang ada 5. memberikan kenyamanan bagi masyarakat, beristirahat, bersenang-senang, menyegarkan jiwa, atau menemukan inspirasi 6. mermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kenyamanan masyarakat serta dapat meningkatkan dan mendukung kegiatan wisata. 7 2.2. Lanskap Danau Maninjau Danau merupakan suatu istilah untuk salah satu jenis ekosistem perairan darat. Menurut Suwigno (dalam Ubaidillah dan Maryanto,2003) perairan dikatakan bertipe danau, apabila perairan tersebut dalam dengan tepian curam. Danau cenderung memiliki kejernihan air yang lebih baik dibanding rawa dan sungai. Tumbuhan air pada danau terbatas hanya pada tepian. Pada umumnya danau bercirikan sebagai berikut: memiliki kecuraman tinggi atau terjal, kedalaman lebih dari 100 m, fluktuasi permukaan air + 1-2 m, daerah tangkap hujan sempit, jumlah teluk sedikit, garis pantai pendek, masa simpan air lama, dan pengeluaran (outlet) air dari atas. Ciri-ciri tersebut membedakan kondisi ekologis danau dan sekelilingnya dengan kondisi ekologis perairan tergenang di darat lainnya seperti rawa, situ, dan waduk. Salim (1968) menggambarkan Danau Maninjau sebagai nikmat yang tak ternilai dan tergantikan, karena tak ada tempat lain yang menyamainya. Semburan kilat cahaya matahari berpadu dengan biru lagit tampak pada permukaan danau, refleksi yang membuat seolah-olah daratan dan bukit-bukit di lingkar danau ini melayang. Sebelum memasuki Nagari Maninjau, akses utama yang dilalui adalah kelok 44 dari setiap tikungan atau kelok yang dilalui akan terlihat pemandangan jernihnya air danau yang membiru. Dilihat dari dekat, semakin jelas jernihnya air danau pada dasar yang dangkal terlihat jelas. Bunyi riak air dan angin membentuk buih-buih ombak yang seolah menghibur masyarakat di sekitarnya. Seniman dan para pujangga akan banyak mendapat bahan inspirasi dari pemandangan Danau Maninjau ini, bahkan mungkin akan kehabisan warna untuk melukiskan keindahannya. Berbagai keindahan tersebut disampaikan sebagai gambaran umum kondisi Danau Maninjau pada masa lampau. Kondisi Danau Maninjau akhir-akhir ini, menurut Badjoeri (dalam Setyawan, 2004), telah mengalami berbagai macam degradasi dan gejala-gejala penurunan kualitas alaminya. Hasil analisis Badjoeri menunjukkan bahwa Danau Maninjau telah mengalami eutrofikasi, telah terjadi penumpukan bahan organik dan ketidakseimbangan proses dalam siklus karbon pada dasar danau, dan terjadi perputaran arus atau turbulensi pada sistem perairan yang menyebabkan oksigen terdapat sampai ke dasar perairan atau disebut juga nitrifikasi pada dasar danau. 8 Penurunan kualitas air Danau Maninjau ini juga disebabkan oleh pembuatan bendungan PLTA di Batang Antokan sebagai outlet Danau Maninjau yang menyebabkan pembalikan massa air dari kolom air bagian bawah yang anaerobik dan mengandung gas beracun, pembuatan karamba budidaya ikan, dan peningkatan aktivitas-aktivitas berlimbah domestik disekitar danau, seperti pertokoan, hotel, cafe, rumah makan, rekreasi masal, pasar, dan sebagainya. Penurunan kualitas jasa lingkungan ini merupakan akibat dari semakin intensifnya tekanan aktivitas sosial ekonomi masyarakat saat ini. 2.3. Sistem Adat Budaya Minangkabau Menurut Ismael dalam Rasyid (2008), Minangkabau memiliki hierarki sistem adat yang terdiri dari unsur inti (core element) dan unsur turunan (peripheral element). Masing-masing unsur ini terbagi lagi menjadi dua tingkatan. Unsur inti (core element) adat terbagi menjadi adat nan sabana adat (adat yang benar-benar adat) pada tingkat filosofis dan adat nan diadatkan (adat yang diadatkan) pada tingkat teoritis. Unsur inti (core element) dari adat ini tidak dapat diubah dalam kondisi apapun karena merupakan dasar atau acuan dari sistem adat tersebut. Tataran di bawahnya, elemen adat turunan (peripheral element) terbagi menjadi adat nan teradat (adat yang teradat) pada tingkat metodologis dan adat istiadat (adat yang terlihat) pada tingkat praktis. Elemen turunan ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan aktual masyarakat dan umumnya berfungsi praktis dalam menjaga hubungan antar masyarakat, kekeluargaan internal, momen-momen atau kejadian penting, dan kehidupan sehari-hari. Skema sistem adat ini digambarkan dalam diagram di bawah (Gambar 2). Unsur inti dari piramida sistem adat Minangkabau bersifat tetap dan mutlak. mencakupi tataran filosofis dan metodologis, adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan. Adat nan sabana adat adalah filosofi kepastian alami, acuan terhadap ketentuan-ketentuan alam, yang berlaku sepanjang waktu. Masyarakat Minangkabau dituntut menjadikan alam sebagai guru yang menyiratkan ilmu pengetahuan. Adat nan diadatkan pada tataran teoritis merupakan adat yang disusun dan diwariskan oleh nenek moyang pendahulu Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Bentuk dari adat nan diadatkan ini adalah pola 9 adat dari dua keselarasan induk suku Bodi Caniago dan Koto Piliang yang berupa sistem garis keturunan matrilineal. Gambar 2. Sistem Adat Minangkabau (Ismael dalam Rasyid, 2008) Unsur turunan dari tataran filosofis dan teoritis pada sistem adat Minangkabau ini adalah tataran metodologis dan praktis, adat nan teradat dan adat istiadat. Adat nan teradat adalah peraturan kesepakatan dari para penghulu pemimpin suku atau kaum dari setiap nagari. Bentuk dari adat nan teradat ini adalah kata-kata adat, adat salingka nagari, harato salingka kaum (adat berlaku dalam nagari, harta pusaka berlaku selingkar kaum). Segmen metodologis ini berlaku pada skala nagari, sehingga kesepakatan dari masing-masing internal nagari tidak mutlak sama, disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan hak otonomi setiap nagari. Adat istiadat merupakan kebiasaan dan ciri khusus dalam aspek-aspek praktis kehidupan sehari-hari, kesenian, permainan rakyat, bentuk pakaian, tatacara dalam pembangunan rumah, penggunaan rumah adat, upacaraupacara adat, dan sebagainya. 2.4. Keberlanjutan Lanskap Budaya Suatu keberlanjutan dapat dijelaskan dari sisi kualitatif secara deskriptif yang berwujud kenaikan secara eksponensial dari kehidupan seseorang atau organisme dalam suatu sistem (Wikipedia 2010). Pembangunan berkelanjutan dalam Laporan Burtland tahun 1987 (dalam Basyir, 2008) dijelaskan sebagai 10 pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa harus berkompromi dengan kemampuan generasi masa depan agar tetap terpenuhi kebutuhannya. Menurut Basyir (2008), konsep keberlanjutan berkaitan dengan ekosistem, penggunaan sumber daya lingkungan, serta pertumbuhan populasi. Analisis ekosistem dan penilaian siklus hidup perlu dilakukan dalam upaya pemanfaatan secara lestari sumber daya alam. Kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai pertumbuhan populasi penduduk dan kebutuhannya pun harus mengusung konsep keberlanjutan. Newman dan Jennings (2008) menyebutkan bahwa, keberlanjutan adalah tujuan bersama. Tujuan bersama harus diwujudkan dengan terintegrasi dan jangka panjang. Visi jangka panjang adalah titik awal pemicu perubahan positif ke arah keberlanjutan. Beberapa kata kunci yang harus diperhatikan dan terintegrasi untuk mencapai keberlanjutan antara lain, intergenerasi, sosial, keseimbangan politik, dan setiap individu. Tujuan ini seharusnya mengekpresikan aspirasi bersama dari semua pihak agar dapat dicapai keseimbangan atau keadilan. Akses seimbang untuk setiap sumberdaya baik manusia dan alam, sebaik mungkin berbagi dalam tanggung jawab bersama menjaga nilai-nilai untuk generasi mendatang. Visi keberlanjutan akan memotivasi masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan semua yang memiliki tujuan bersama. Landasan untuk strategi pengembangan, program aksi, dan semua proses untuk mewujudkan tujuan tersebut akan terbentuk dengan sendirinya jika memiliki visi yang sama. Keberlanjutan merupakan istilah sebagai representasi dari suatu roda kehidupan yang terkait dengan dimensi waktu. Keberlanjutan dapat dikaitkan dengan suatu lanskap atau bentang alam (ekologis), sosial-ekonomi, dan spiritual budaya masyarakat. Keberlanjutan dapat dipahami sebagai kata sifat yaitu berkelanjutan. Lanskap yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari masyarakatnya yang juga menjunjung nilai-nilai keberlanjutan. Keberlanjutan lanskap budaya dapat disimpulkan sebagai tingkat atau nilai hasil dari interaksi sosial ekonomi budaya masyarakat dan lanskapnya. Lanskap budaya yang berkelanjutan seharusnya dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dan menuangkan segala potensi terbesarnya di masa ini untuk persiapan masa depan, 11 dengan tetap menjaga kelestarian pendukung kehidupan masa depannya yaitu lanskap sebagai wadah ekosistem. Penilaian keberlanjutan masyarakat telah berkembang di negara-negara yang tergabung dalam jaringan global desa berkelanjutan atau dikenal dengan Global Ecovillage Network (GEN). Penilaian keberlanjutan masyarakat yang dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA) ini merupakan suatu cara atau alat untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan lanskap budaya melalui pendekatan yang dimulai dari penggalian pemahaman masyarakat terhadap masing-masing parameter keberlanjutan dari tiga pilar atau aspek keberlanjutan. Tingkat keberlanjutan masyarakat dilihat dari tiga pilar ecovillage menurut GEN yaitu aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya. Kriteria-kriteria untuk setiap aspek telah ditetapkan oleh GEN sebagai parameter tingkat keberlanjutan masyarakat yang akan diteliti. Berdasarkan GEN, parameter keberlanjutan yang digunakan untuk setiap aspek antara lain sebagai berikut: 1. Aspek Ekologis, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Masyarakat memiliki ikatan mendalam dengan tempat tinggal mereka, batas-batas, kekuatan, kelemahan, dan irama kehidupan yang selaras menjadi bagian dari total ekosistem b. Kehidupan alami beserta proses dan sistemnya dihormati, termasuk margasatwa dan habitat tumbuhan c. Gaya hidup manusia yang lebih meningkatkan integritas lingkungan dan tidak mengurangi atau merusaknya d. Pangan utama diperoleh dari sumber lokal dan kawasan alami, organik, bebas zat pencemar, dan memberi keseimbangan gizi e. Struktur-struktur dirancang dengan memadukan dan untuk melengkapi lingkungan alami, material, bahan, dan metode yang ramah lingkungan, konsep bioregional dan ekologis (dapat diperbaharui dan tidak beracun) f. Konservasi dipraktikan dalam berbagai metode dan sistem transportasi g. Konsumsi dan penghasil limbah diminimalkan h. Tersedia air bersih yang dapat diperbaharui, dengan masyarakat yang menghormati dan waspada dalam memelihara sumbernya 12 i. Limbah manusia dan air limbah didaur ulang untuk manfaat lingkungan j. Sumber energi yang tidak beracun dan dapat diperbaharui dimanfaatkan sebaik mungkin, teknologi inovatif tidak dieksploitasi atau dibiarkan tetapi digunakan untuk kebaikan bersama. 2. Aspek Sosial-Ekonomi, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Terdapat suatu kestabilitasan sosial dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, aman dan bebas dalam mengekspresikan diri untuk kepentingan bersama b. Tersedia ruang dan sistem yang mendukung dan memaksimalkan komunikasi, relasi, dan produktivitas c. Terdapat peluang atau teknologi yang cukup untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas secara tepat d. Bakat, keterampilan, dan sumber daya masyarakat lainnya dipertukarkan secara bebas dan ditawarkan sebagai daya jual dan pelayanan terhadap masyarakat luar e. Keragaman dihormati sebagai sumber kesehatan mental, vitalitas, dan kreativitas di lingkungan alam dan hubungan-hubungan masyarakat f. Penerimaan, kerakyatan, dan keterbukaan sebagai pemahaman terhadap pentingnya keragaman yang memperkaya pengalaman sosial dan lingkungan serta meningkatkan rasa keadilan g. Pertumbuhan individu, pembelajaran, dan kreativitas dihargai dan dipelihara sebagai peluang untuk belajar dan mengajarkan yang luas dan bervariasi h. Pilihan-pilihan untuk memperbaiki, memelihara, dan meningkatkan kesehatan (fisik, mental, emosi, dan spiritual) tersedia dan terjangkau masyarakat i. Aliran sumber daya dalam arti memberi dan menerima modal, barang, atau jasa dapat mengimbangi kebutuhan dan keinginan masyarakat, jika kelebihan hasil saling berbagi. 3. Aspek Spiritual Budaya, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Kekuatan budaya dilestarikan melalui aktivitas seni, seremoni ritual budaya, dan perayaan-perayaan 13 b. Kreativitas dan seni dilihat sebagai ungkapan kesatuan hubungan timbal balik dengan alam semesta c. Menghargai waktu luang d. Terdapat rasa hormat dan dukungan terhadap manifestasi kespiritualan dalam berbagai cara e. Tersedia peluang-peluang untuk pengembangan jati diri f. Gembira dan memiliki ekspresi yang dikembangkan melalui ritual atau perayaan g. Kualitas kebersamaan dalam hati masyarakat memberikan kesatuan dan integritas dalam kehidupannya, hal ini merupakan suatu persetujuan dan visi bersama tentang komitmen saling berbagi h. Adanya kapasitas dan fleksibilitas cepat tanggap dalam menghadapi suatu masalah i. Pemahaman menyeluruh tentang keberadaan dan hubungannya dengan elemen di luar lingkungannya j. Secara sadar masyarakat memilih berperan untuk menciptakan dunia yang damai, penuh cinta, dan lestari. Analisis keberlanjutan dapat dilakukan secara deskriptif dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dan dilakukan untuk mengetahui keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau. Metode SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari segi internal, dan mengidentifikasi peluang dan ancaman dari segi eksternal. Langkah kerja dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: a. Identifikasi Faktor Internal dan Faktor Eksternal, Tahap identifikasi faktor internal digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dengan cara mendaftarkan semua kekuatan dan kelemahan yang sesuai dengan dasar studi. untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi hubungan antara area-area tersebut. Tahap identifikasi faktor eksternal digunakan untuk mengetahui ancaman dan peluang yang dimiliki dengan cara mendaftarkan ancaman dan peluang (David, 2005). 14 Tabel 1. Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Internal Simbol Faktor Internal Tingkat Kepentingan Kekuatan (Strengths) S1 S2 Sn Kelemahan (Weaknesses) W1 W2 Wn Sumber: David (2005) Tabel 2. Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal Simbol Faktor Eksternal Tingkat Kepentingan Peluang (Opportunitiess) O1 O2 On Ancaman (Threats) T1 T2 Tn Sumber: David (2005) b. Penilaian Faktor Internal dan Eksternal, Tahap ini dilakukan pemberian simbol terhadap faktor-faktor yang telah diidentifikasi. Setelah melakukan penentuan tingkat kepentingan selanjutnya adalah penentuan bobot. Menurut David (2005), penentuan bobot setiap variabel menggunakan skala 1-4, yaitu sebagai berikut.  Nilai 1 jika indikator faktor horizontal kurang penting daripada indikator vertikal,  Nilai 2 jika indikator faktor horizontal sama penting dengan indikator faktor vertikal, 15  Nilai 3 jika indikator faktor horizontal lebih penting daripada indikator faktor vertikal,  Nilai 4 jika indikator faktor horizontal sangat penting daripada indikator faktor vertikal. Tabel 3. Formulir Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal Faktor Internal/Eksternal A B C D Total Bobot A x1 α1 B x2 α2 C x3 α3 D x4 α4 Total Sumber: Kinnear dan Taylor (1991) Langkah selanjutnya setelah penentuan bobot adalah menentukan bobot akhir masing-masing variabel dapat ditentukan dengan menggunakan rumus (Kinnear dan Taylor, 1991): αi Dengan: αi = bobot variabel ke-I, i c. = 1, 2, 3,..., n, = xi ∑ni=1 xi xi = nilai variabel ke-I, n = jumlah variabel. Pembuatan Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), Menurut Rangkuti (1997), nilai peringkat pada faktor positif (kekuatan dan peluang) berbanding terbalik dengan faktor negatif (kelemahan dan ancaman). Pada faktor positif, nilai 4 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sangat penting, nilai 3 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang penting, nilai 2 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang cukup penting, dan nilai 1 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tidak penting. Penilaian faktor negatif adalah sebaliknya. Kemudian, peringkat dan bobot dari masing-masing faktor dikalikan untuk memperoleh skor pembobotan (Tabel 4 dan Tabel 5). 16 Tabel 4. Formulir Matriks IFE Simbol Faktor Internal Bobot Peringkat Skor Bobot Peringkat Skor Kekuatan (Strengths) S1 S2 Sn Kelemahan (Weaknesses) W1 W2 Wn Total Sumber: Rangkuti (1997) Tabel 5. Formulir Matriks EFE Simbol Faktor Eksternal Peluang (Opportunities) O1 O2 On Ancaman (Threats) T1 T2 Tn Total Sumber: Rangkuti (1997) Dari total skor yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE dapat diketahui posisi tapak studi pada suatu kuadran yang menyatakan kekuatan dan kelemahannya melalui matriks internal-eksternal (IE) (Gambar 3). Menurut David (2005), matriks IE memiliki sembilan kuadran yang dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut: 1. Grow and build strategy (Kuadran I, II, dan III) Diperlukan strategi yang bersifat intensif dan agresif. Fokus dari strategi ini adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk. 17 2. Hold and maintain strategy (Kuadran IV, V, dan VI) Fokus strategi ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. 3. Harvest and divest strategy (Kuadran VII, VIII, dan IX) Fokus strategi ini adalah perlu dilakukan manajemen biaya yang agresif saat biaya peremajaan bisnis untuk merevitalisasi bisnis tergolong rendah. Total Skor IFE Total Skor EFE 4 tinggi tinggi 3 sedang 2 rendah I II III IV V VI VII VIII IX 1 3 sedang 2 rendah 1 Gambar 3. Kuadran Strategi d. Matriks SWOT Faktor internal dan eksternal yang telah diidentifikasi dapat dimasukkan ke dalam tabel yang sesuai dengan matriks SWOT (Tabel 6). Matriks ini menggambarkan hubungan antara kekuatan dan kelemahan dengan peluang dan ancaman. Menurut David (2005), hasil dari matriks SWOT ini adalah alternatif strategi manajemen lanskap yang dapat meningkatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan ancaman dengan empat alternatif strategi sebagai berikut. 1. Strategi SO (Strengths-Opportunities) Strategi ini memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal 2. Strategi ST (Strengths-Threats) Strategi ini menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal 3. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities) Strategi ini bertujuan memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal 18 4. Strategi WT (Weaknesses-Threats) Strategi ini bertujuan mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Tabel 6. Formulir Matriks SWOT Eksternal Internal Opportunities (Peluang) Threats (Ancaman) Strengths (Kekuatan) SO ST Weaknesses (Kelemahan) WO WT Sumber: David (2005) e. Pembuatan Tabel Peringkat Alternatif Strategi Penentuan prioritas dilakukan kepada beberapa alternatif strategi yang diperoleh dari matriks SWOT. Tahap ini dilakukan dengan cara menjumlahkan skor dari faktor-faktor penyusunnya (Tabel 7). Strategi yang memiliki skor tertinggi merupakan strategi yang menjadi prioritas utama. Tabel 7. Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi Alternatif Strategi Keterkaitan dengan Unsur SWOT SO1 SO2 SOn ST1 ST2 STn WO1 WO2 WOn WT1 WT2 WTn Sumber: Saraswati (2010) Skor Peringkat 19 III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan selama sembilan minggu, mulai akhir bulan Februari 2011 sampai dengan April 2011. Kegiatan penelitian ini dilakukan di kawasan nagari-nagari Lingkar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Secara geografis Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat terletak antara 00°21' sampai dengan 00°29' Lintang Selatan dan 99°52' sampai 100°33' Bujur 'I'imur (Gambar 4). Gambar 4. Lokasi Penelitian 20 3.2. Batasan Penelitian Penelitian ini merupakan kajian lanskap budaya yang merupakan karakteristik lanskap hasil interaksi antara budaya manusia dan lanskap alaminya. Penelitian dilakukan dengan batasan lokasi pada nagari-nagari di wilayah lingkar Danau Maninjau yang termasuk dalam kesatuan Kecamatan Tanjung Raya. Kajian yang dilakukan mencakup karakteristik fisik lanskap alami, aspek sosial-budaya, dan aspek eksternal yang terkait dengan lanskap Danau Maninjau. 3.3. Tahapan dan Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap berupa inventarisasi, analisis, dan sintesis (Gambar 5). Gambar 5. Tahapan Penelitian 3.3.1. Inventarisasi Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data. Data terkait dikelompokkan sesuai jenis dan sumbernya yaitu Fisik dan Biofisik, Sosial-Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat, serta Pengaruh Eksternal yang mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau (Tabel 8). Data awal untuk memulai kajian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari pihak terkait seperti 21 Bappeda Kabupaten Agam dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Agam 2010-2030 dan Pemerintah Kecamatan dan NagariNagari setempat. Selanjutnya dilakukan observasi lapangan dan verivikasi data sekunder yang telah didapatkan dengan kondisi aktual. Tabel 8. Jenis dan Sumber Data Jenis Data 1. Data Fisik dan Biofisik - Wilayah Administrasi Aksesibilitas dan Sirkulasi Iklim Geologi, Tanah, dan Topografi Hidrologi Penutupan dan Penggunaan Lahan Sumber Bappeda Kab. Agam - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan –Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat 2. Sosial - Demografi Lembaga Kemasyarakatan Sistem Adat dan Budaya Sejarah, Filosofi, dan Nilai-nilai Spiritual Budaya 3. Pengaruh Eksternal - Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-Provinsi-Nasional - Pengaruh Kegiatan Pariwisata Camat, Wali Nagari, dan Tetua Adat - BPS Kecamatan, Wali Nagari Wali Nagari + pengamatan Literatur, Tetua Adat, Wali Nagari Tetua Adat, Wali Nagari + pengamatan Bappeda Kab. Agam dan Masyarakat - Dok. RTRW Kab. Agam Survey - Kuisioner Masyarakat Data Sosial-Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat merupakan gabungan dari data primer dan sekunder. Data Demografi (kependudukan) dan Lembaga Kemasyarakatan didapat secara sekunder dari pemerintah kecamatan dan nagari-nagari setempat. Data Sistem Adat dan Budaya dan Sejarah, Filosofi, dan Nilai-nilai Spiritual Budaya didominasi data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dan diskusi kepada tetua serta pemerhati adat budaya setempat, dan data sekunder dari literatur terkait. Data Pengaruh Eksternal mencakup aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau dari luar. Termasuk di dalamnya yaitu Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-ProvinsiNasional, dan Kegiatan Pariwisata. Data Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-Provinsi-Nasional merupakan data sekunder yang didapat dari Bappeda Kabupaten Agam dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah 22 (RTRW) Kabupaten Agam 2010-2030. Data Pengaruh Kegiatan Pariwisata didapat melalui kuisioner pendapat dari 100 orang masyarakat di lingkar Danau Maninjau yang dipilih secara acak. 3.3.2. Analisis Data yang telah dikumpulkan pada tahap inventarisasi yang dijabarkan di atas akan menjadi bahan analisis. Analisis dilakukan dengan dua metode yaitu, spasial dan deskriptif. Analisis spasial bertujuan untuk menghasilkan deskripsi karekteristik lanskap budaya lingkar Danau Maninjau, mengetahui karakter interaksi manusia dan lanskap alami tersebut. Analisis deskriptif dilakukan dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Metode SWOT bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan dan merumuskan strategi pengembangan dan pelestarian lanskap budaya di Lingkar Danau Maninjau tersebut. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya Kawasan lingkar Danau Maninjau ini tersatukan dalam satu Kecamatan Tanjung Raya yang terdiri dari sembilan nagari, oleh karena itu maka unit analisis spasial yang digunakan adalah unit nagari. Unit nagari merupakan satuan batas administrasi yang terukur secara spasial dan juga diakui sebagai satuan unit kontrol sosial budaya masyarakat. Komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya yaitu: ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya. Kriteria yang digunakan dalam aspek ekologi adalah pola penggunaan lahan dan danau. Pola penggunaan lahan dan danau diklasifikasikan menurut nilai intensitas interaksinya (derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami). Intensitas interaksi ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: alami (hutan), transisi (kebun campuran dan semak belukar), intensif (sawah dan pemukiman). Luas dari masing-masing kelompok intensitas interaksi setiap nagari dipersentasikan, kemudian kelompok intensitas interaksi yang mendominasi mewakili nilai ekologisnya, semakin besar pengubahan (gangguan) lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Nilai masing-masing kelompok adalah: 3 23 untuk nagari dengan dominasi kelompok alami (hutan), 2 untuk nagari dengan dominasi kelompok transisi (kebun campuran dan semak belukar), dan 1 untuk nagari dengan dominasi kelompok intensif (sawah dan pemukiman). Aspek sosial ekonomi dianalisis dengan menilai hubungan kriteria kepadatan penduduk per-nagari dengan kecenderungan kebutuhan lahannya. Kepadatan penduduk yang tinggi akan berdampak pada aktivitas ekonomi cenderung tinggi, dan kebutuhan terhadap lahan juga semakin tinggi. Oleh karena itu semakin tinggi kepadatan penduduknya semakin mengancam keberlanjutannya atau nilai keberlanjutannya akan semakin rendah. Menurut Undang-undang no. 56 / PRP / 1960, kepadatan penduduk dapat diklasifikasikan menjadi empat kelas, masing-masing adalah: tidak padat (1-50 jiwa/ km²), kurang padat (51-250 jiwa/ km²), cukup padat (251-400 jiwa/ km²), dan sangat padat (lebih dari 400 jiwa/ km²). Kepadatan penduduk setiap nagari dinilai berdasarkan klasifikasi tersebut dengan kriteria penilaian, 3 untuk nagari dengan kelas tidak padat sampai kurang padat (1-250 jiwa/ km²), 2 untuk nagari dengan kelas cukup padat (251-400 jiwa/ km²), dan 1 untuk nagari dengan kelas sangat padat (lebih dari 400 jiwa/ km²). Kriteria yang menentukan klasifikasi nilai sejarah, spiritual, dan budaya adalah dari nilai sejarah perkembangan dan regenerasi budaya dan nilai pergeseran adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masing-masing nagari. Mengacu dari piramida sistem adat Minangkabau (Ismael dalam Rasyid, 2008) yang terbagi menjadi elemen inti (adat nan sabana adat – filosofis dan adat nan diadatkan – teotiris) dan elemen turunan (adat nan teradat – metodologis dan adat istiadat – praktis), klasifikasi karakteristik budaya dapat dinilai dari signifikansi perubahan adat istiadat pada tataran metodologis dan praktis. Semakin signifikan perubahan tersebut maka semakin rendah nilai budayanya. Hal tersebut mencakup nilai-nilai tata cara kehidupan sehari-hari baik yang terlihat secara fisik (tangible) seperti peninggalan fisik bangunan atau situs yang memiliki muatan sejarah dan budaya dan juga yang tidak terlihat (intangible) seperti peran lembaga adat kemasyarakatan dalam pelestarian nilai-nilai budaya. Parameter yang digunakan dalam analisis ini adalah jumlah situs sejarah budaya dan peran lembaga adat kemasyarakat dalam pelestarian kegiatan adat kemasyarakatan dari setiap nagari yang dijabarkan dalam Lampiran 5. Kedua 24 kelompok parameter tersebut dinilai berdasarkan jumlah masing-masing elemen dari parameter tersebut dengan kelas nilai, 3 (baik) untuk nagari yang memiliki lebih dari lima (>5) elemen, 2 (cukup) untuk nagari yang memiliki tiga sampai lima (3-5) elemen, dan 1 (kurang) untuk nagari yang memiliki kurang dari tiga (4), 2 (sedang) untuk nagari yang memiliki total nilai tiga sampai empat (3-4), dan 1 (rendah) untuk nagari yang memiliki total nilai kurang dari tiga (7), 2 (sedang) untuk nagari yang memiliki total nilai lima sampai tujuh (5-7), dan 1 (rendah) untuk nagari yang memiliki total nilai kurang dari lima (40%. 4.1.5. Hidrologi Sejumlah kecil sungai bermuara ke dalam danau, dan setelah berputar-putar akhirnya mengalir keluar melalui sungai Batang Antokan. Secara ekosistem, Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Antokan dan juga termasuk Satuan Wilayah Sungai (SWS) Anai Sualang. Sungai yang mengalir pada kawasan tersebut adalah Sungai Batang Masang dan Batang Manggau. Air permukaan di kawasan ini sebagian besar akan mengalir melalui pola penyaluran yang telah terbentuk. Berdasarkan data, ditemukan 88 sungai yang bermuara di Danau Maninjau, yang mana 34 sungai berair sepanjang tahun dan sisanya berair pada waktu musim hujan. Wilayah lingkar Danau Maninjau ini merupakan kesatuan Daerah Aliran Sungai Batang Antokan, yang merupakan pintu keluar air atau outlet Danau Maninjau (Gambar 10). Berdasarkan Laporan Penelitian Pencemaran dan Kerusakan Danau Maninjau, 2001, debit sungai diperkirakan mencapai 781 L/dtk. Daerah ini memiliki sarana irigasi yang bersumber pada Batang Anai dan Batang Arau. Berdasarkan morfologi dan litologinya, keterdapatan air tanah di daerah ini merupakan akumulasi air tanah yang potensial. Kecamatan Tanjung Raya memiliki keterbatasan air tanah, karena dari struktur hidrogeologinya terlihat bahwa di beberapa daerah sekeliling danau adalah merupakan daerah 33 dengan ketersediaan air tanah langka. Kondisi sumber air yang justru cukup produktif tersebar di wilayah sekitar punggung luar bukit yang mengelilingi danau Maninjau. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah di balik punggung luar bukit sekeliling danau sekaligus merupakan daerah resapan air, sementara danau yang terletak relatif lebih tinggi tidak atau kurang memiliki sumber air jika dibandingkan dengan wilayah di sekeliling danau. Hal ini juga tidak terlepas dari sejarah pembentukan danau Maninjau. Sumber air bagi danau ini pada dasarnya berasal dari air hujan, aliran perkolasi bawah tanah, dan juga dari berbagai aliran permukaan baik melalui sungai-sungai maupun saluran drainase yang ada di sekelilingnya dan bermuara di danau. Sungai-sungai yang bermuara di danau memiliki perbedaan tipe. Sungaisungai di lingkar Danau Maninjau memiliki dua pola umum yaitu linier dan dendritik. Pola Linier adalah pola sungai yang tidak bercabang, sedangkan pola dendritik adalah pola sungai yang bercabang. Artinya, di daerah yang sungainya berpola linier, keterbatasan air cenderung menjadi persoalan. Sementara di daerah berpola dendritik, pembukaan lahan cenderung lebih cepat terjadi. Sebaran litologi akuifer juga terdapat di pesisir Danau Maninjau, dengan kelulusan dan ketebalan yang cukup. Sebagian sistem akuifer dengan aliran melaui ruang antar butir dan rekahan terdapat di Maninjau dan sekitar Lubuk Basung. Kelulusan sistem akuifer pada batuan gunung api muda seperti ini adalah sedang sampai tinggi (10-1 – 10+1 m/hari) –(Todd, 1980). Berdasarkan fluktuasi tinggi muka air danau, diketahui bahwa pola fluktuasi muka air Danau Maninjau adalah sebanding dengan pola curah hujan. Hal ini mengindikasikan bahwa curah hujan yang jatuh ke danau maupun yang mengalir melalui pola penyaluran memiliki kontribusi yang cukup besar (LIPI, 2001). Fenomena rutin yang terjadi di Danau Maninjau adalah tubo balerang atau racun belerang. Endapan belerang dari dasar danau secara rutin akan naik ke permukaan disebababkan pola angin darat yang juga rutin melewati Danau Maninjau. Fenomena ini secara ekologis merupakan hal yang menguntungkan, karena biasanya terjadi pada masa ledakan populasi satwa endemik danau. Masyarakat setempat memanfaatkan fenomena ini sebagai masa panen masal. Namun akhirakhir ini karena aktivitas budidaya ikan non endemik yang sangat intensif 34 membuat endapan pencemaran danau tidak lagi hanya belerang tetapi juga zat-zat yang terkandung dalam pakan ikan tersebut (eutrofikasi). Hal ini menyebabkan fenomena tubo ini tidak menentu dan merusak pola regenerasi satwa endemik yang teracuni dan mati sebelum masa panen. Hal ini mangancam keberlanjutan ekosistem danau. Gambar 10. Peta Daerah Aliran Sungai (BAPPEDA, 2010) 35 Berdasarkan kedalaman dan komunitas tumbuhan dan hewan yang menghuninya, danau dapat dibagi menjadi 4 daerah, yaitu : 1. Daerah Litoral. Merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari dapat menembus dengan optimal. Komunitas organisme sangat beragam. 2. Daerah Limnetik. Daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Komunitas yang menghuninya adalah golongan ganggang dan sianobakteri. 3. Daerah Profundal. Merupakan daerah dalam yang dihuni oleh komunitas cacing dan mikroba. 4. Daerah Bentik. Sementara berdasarkan produksi materi organiknya, danau dapat digolongkan menjadi : 1. Danau Oligotropik. Danau dalam, kekurangan makanan. Air jernih, dihuni oleh sedikit organisme. 2. Danau Eutropik. Danau dangkal dan kaya kandungan makanan. Berair keruh, di dalamnya terdapat bermacam-macam organisme yang menempatinya. Danau oligotrofik dapat berubah menjadi danau eutropik. Perubahannya dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari limbah dan buangan rumah tangga, pestisida pertanian dan sebagainya, yang memperkaya danau dengan kandungan nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi alga danau (blooming algae), dan akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut. Pengkayaan ini disebut sebagai “eutrofikasi”, dan mengakibatkan air danau tidak dapat digunakan lagi, pendangkalan, dan mengurangi keindahan danau. 4.1.6. Penutupan dan Penggunaan Lahan Danau Maninjau yang terletak di daerah pegunungan memiliki keunikan tersendiri. Pada umumnya, pemanfaatan lahan di pegunungan cukup terbatas. Selain disebabkan oleh kondisi topografi yang cukup beragam, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, juga disebabkan oleh adanya ketentuan perundangan yang melarang atau membatasi pemanfaatan lahan secara intensif. 36 Berdasarkan dokumen RTR Kawasan Danau Maninjau (BAPPEDA Agam, 2003), tinjauan intensitas kegiatan budidaya berdasarkan kepadatan bangunan dapat “didekati” melalui penampakan kawasan terbangun berdasarkan interpretasi citra satelit, dengan anggapan kawasan terbangun tersebut mencakup konsentrasi penduduk dan kegiatannya, serta kegiatan budidaya lainnya yang sifatnya non terbangun, seperti pertanian lahan basah, perkebunan, hutan produksi, dan lainlain. Berdasarkan hal ini maka Kawasan Danau Maninjau dapat dibagi atas 3 sub kawasan, yaitu kawasan budidaya intensitas tinggi, sedang, dan rendah. Kawasan budidaya intensitas tinggi terdapat di sebelah utara Kawasan Danau Maninjau. Pada kawasan ini, budidaya yang dilakukan lebih variatif dibandingkan kawasan lainnya, seperti permukiman, persawahan, hutan dan kebun campuran. Tingginya intensitas di sebelah utara karena kawasan tersebut dilalui oleh jaringan jalan regional yang menghubungkan ibukota kabupaten, Lubuk Basung dengan Bukittinggi. Kedua kota tersebut merupakan simpul koleksi dan distribusi pergerakan barang dan orang, sehingga intensitas pergerakan pada jaringan jalan tersebut relatif tinggi. Sementara di kawasan budidaya intensitas sedang terdapat di persimpangan Pasar Maninjau. Kegiatan budidaya yang ada meliputi perumahan, hutan, persawahan dan kebun campuran. Kawasan intensitas sedang dilalui oleh pintu masuk ke Maninjau (yang berlanjut dengan jaringan jalan regional di sebelah utara). Akibatnya, kawasan tersebut berpotensi untuk mulai berkembang dengan jalan sebagai development trigger. Saat ini ruas jalan yang melayani kawasan intensitas sedang adalah ruas jalan kolektor yang berada di tepian danau. Kawasan budidaya intensitas rendah terletak di sisi selatan dan baratdaya danau, meliputi hutan, sedikit sawah, sedikit lahan terbangun (permukiman) dan semak. Perbedaan antara kawasan budidaya tersebut adalah pada luasan kegiatannya. Selain lebih variatif, luas kegiatan budidaya intensitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan kedua kawasan lainnya. Perubahan penggunaan lahan dari tahun 1981 samapai tahun 2002 terjadi sangat drastis (Gambar 11). Pada bagian blok A dan C, di bagian utara, terlihat adanya perkembangan yang mulai menyebar (Lihat gambar A dan C). Di bagian A (tahun 2002) terlihat mulai adanya endapan di tubuh air sebagai akibat buangan 37 kegiatan di daratan. Pada blok B, di bagian timur, mulai terjadi perkembangan kawasan terbangun dan penggunaan lahan menjadi lebih variatif sehingga hutan mulai berkurang akibat konversi menjadi kebun campuran dan pertanian lahan basah. Titik penyebaran pembukaan dan pemanfaatan lahan terlihat semakin banyak di daerah sebelah utara dan timur danau. Pada tahun 2002, di sebelah baratdaya telah terbentuk semak, sementara berdasarkan tutupan lahan tahun 1981 daerah tersebut merupakan kelompok hutan dan kebun campuran. Pada blok D tahun2002, di bagian barat, mulai berkembang kegiatan budidaya yang menempel langsung di bibir danau. Punggung danau bagian barat ini juga berkembang terkonversi menjadi permukiman. Pada beberapa titik juga terlihat konversi sebagian lahan menjadi semak belukar yang semula merupakan hutan. Hal ini menunjukkan adanya indikasi lahan resapan air yang semakin berkurang. Gambar 11. Perubahan Tutupan Lahan 38 Gambar 12. Peta Penggunaan Lahan tahun 2010 (BAPPEDA, 2010) Penggunaan lahan terbaru dalam dokumen RTRW Kabupaten Agam 20102030 menunjukkan bahwa konversi penggunaan lahan semakin intensif dibanding data tahun 2002 (Gambar 12). Peta tersebut juga menunjukkan pada bagian timur didominasi sawah yang membentang sampai ke bagian utara, kelompok hutan yang pada data tahun 2002 masih cukup tebal mengelilingi batas Kecamatan 39 Tanjung Raya tersisa dengan luasan yang sangat kecil. Hal serupa juga terlihat pada bagian selatan sampai ke bagian barat danau. Luasan konversi hutan massif pada data tahun 2002 telah terkonversi menjadi kebun campuran dan beberapa pemukiman serta budidaya jala apung yang langsung menempel di dinding tebing danau. Hal tersebut menunjukkan suatu kesimpulan bahwa interaksi manusia dan alam semakin intensif seiring waktu yang terus berjalan. Interaksi manusia dan alam ini juga dipengaruhi kondisi fisik dan biofisik lanskapnya. Daerah yang memiliki bentukan lahan yang relatif datar cenderung mendukung interaksi lebih intensif dan pesat, sehingga konversi lahan juga semakin intensif. Tekanan ekonomi juga membuat manusia memanfaatkan danau sebagai common resource secara berlebihan. Indikator pemanfaatan berlebihan ini terlihat dengan semakin banyaknya endapan dari buangan limbah pemukiman dan tren budidaya perikanan jala apung atau karamba yang semakin tidak terkontrol. 4.1.7. Visual Kualitas visual wilayah lingkar Danau Maninjau secara umum sangat tinggi. Hal ini disebabkan morfologi atau bentukan lahan Kecamatan Tanjung Raya yang memiliki topografi dan tutupan lahan yang sangat beragam, sehingga membuat kesatuan lanskap yang lengkap. Bukit-bukit yang mengelilingi danau membentuk dinding hijau raksasa. Susunan dinding bukit ini membentuk kesatuan, unity, latar belakang pemandangan dan juga meninbulkan kesan sangat alami. Intensitas interaksi manusia dengan lanskap semakin intensif seiring perkembangannya, demi memenuhi kebutuhan hidup. Persawahan, kolam-kolam budidaya ikan air tawar atau tabek, perkebunan campuran atau parak, dan pemukiman masyarakat lokal menyebar menjadi kesatuan pemandangan yang unik. Berbagai aktivitas pemanfaatan lahan tersebut tersebar di sekeliling lereng bukit yang melandai ke arah danau. Aneka macam aktivitas dan pemanfaatan lahan tersebut juga membentuk keragaman visual yang tinggi, mulai dari beragam aktifitas produksi sampai wisata. Setiap jenis bentukan lahan di lingkar Danau Maninjau ini memiliki karakter visual masing-masing yang berbeda. 40 Karakter visual yang terlihat dari jalur utama gerbang Kecamatan Tanjung Raya, Kelok-44, adalah suatu atraksi lanskap jalan yang berliku-liku menurun kearah danau yang sekaligus menunjukkan perbatasan administrasi Kecamatan Tanjung Raya dan Matur (Gambar 13). Pemandangan dari Kelok-44 ini merupakan pandangan dari bagian timur danau kearah barat. Komposisi pemandangan ke arah danau akan terlihat sangat unik didukung dinamisnya elevasi dan ketinggian, serta pergerakan di jalur tersebut. Gambar 13. Lanskap Danau Maninjau dari Kelok-44 Bentukan lahan di bagian utara danau maninjau yang lebih datar memberikan kualitas visual dengan jarak dan sudut pandang yang sangat lebar dan luas. Penggunaan lahan sebagai pusat produksi membuat komposisi lanskap pertanian di sekitarnya sangat menyatu dengan lanskap alami. Persawahan pada bagian utara ini cukup luas, dan sebagian besar berada pada bibir danau. Komposisi dataran yang luas ini menjadi ciri tersendiri pada elemen visual wilayah bagian utara Danau Maninjau (Gambar 14). Gambar 14. Lanskap Bagian Utara Danau Maninjau 41 Lanskap pertanian juga terdapat pada bagian tenggara danau. Lahan datar yang tidak terlalu luas membuat sudut pandang pada daerah ini lebih sempit. Keunikan pada daerah ini adalah pemandangan bibir danau yang langsung bersentuhan dengan persawahan, dan bukit terjal di sisi belakang yang sangat dekat. Pada beberapa titik, kebun campuran atau Parak menambah komposisi elemen visual bagian tenggara danau ini (Gambar 15). Kumpulan kalong (Pteropus vampyrus) pada daerah ini sering terlihat pada sore hari, dan hal ini juga merupakan atraksi visual yang unik pada bagian ini. Gambar 15. Lanskap Bagian Tenggara Danau Maninjau Pada wilayah bagian selatan Danau Maninjau karakter visual lanskapnya didominasi oleh susunan tebing curam dan beberapa kebun campuran atau Parak. Wilayah ini adalah area paling rawan bencana longsor dan banjir bandang disertai lumpur dan bebatuan lepas dari bukit, masyarakat setempat menyebut bencana ini dengan istilah galodo. Hal tersebut menyebabkan dibeberapa titik aliran air banyak terkumpul bebatuan lepas dari bukit akibat galodo tersebut (Gambar 16). Interaksi manusia langsung dengan danau berupa budidaya ikan pada jala apung atau karamba menyebar hampir di sekeliling bibir danau. Secara visual yang terlihat dari akses utama jalan lingkar Danau Maninjau terdapat pada bagian timur perbatasan antara Nagari Sungai Batang dan Tanjung Sani, dan pada bagian barat danau yang berdekatan dengan pintu keluar ait atau outlet Danau Maninjau. Hal ini jua membentuk suatu karakter visual lanskap yang unik (Gambar 17). 42 Gambar 16. Lanskap Bagian Selatan Danau Maninjau Gambar 17. Lanskap Bibir Pantai dan Tebing Danau Maninjau 4.2. Aspek Sosial Budaya 4.2.1. Demografi Di Kecamatan Tanjung Raya, jumlah penduduk pada tahun 2001 mencapai 29.663 jiwa, atau sekitar 7,08 % dari total jumlah penduduk di Kabupaten Agam. Berdasarkan data 1997-2001 maka dapat dikatakan bahwa perkembangan penduduk di Kabupaten Agam mengalami kondisi naik dan turun. Pada periode 43 1997-1999, perkembangan penduduk cenderung meningkat (0,32%), sedangkan pada kurun 1999-2000, perkembangan penduduk menurun drastis (-4,39%). Pada tahun 2001, jumlah penduduk di Kabupaten Agam menunjukkan peningkatan kembali. Penduduk Kabupaten Agam diperkirakan mencapai 437.293 jiwa pada tahun 2013. Dengan anggapan proporsi sebaran penduduk di tiap kecamatan adalah sama pada saat ini, maka dapat diketahui jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Raya. Proporsi jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Raya terhadap jumlah penduduk Kabupaten Agam adalah 7,08%. Dengan demikian, jumlah penduduk Kawasan Danau Maninjau pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 30.961 jiwa atau meningkat sekitar 4,38% dari tahun 2001. Tabel 9. Data Sensus Penduduk Kecamatan Tanjung Raya Kelompok Laki-laki Perempuan Jumlah Umur (jiwa) (jiwa) (jiwa) (tahun) 0-4 1.566 1.596 3.162 5-9 1.588 1.627 3.215 6.320 6.607 12.927 10 - 14 1.681 1.707 3.388 15 - 19 1.485 1.677 3.162 20 - 24 894 1.063 1.957 25 - 29 838 1.022 1.860 3.364 4.034 7.398 30 - 34 794 939 1.733 35 - 39 838 1.010 1.848 40 - 44 806 929 1.735 45 - 49 720 830 1.550 2.470 2.929 5.399 50 - 54 518 599 1.117 55 - 59 426 571 997 60 - 64 446 613 1.059 65 - 69 337 508 845 1.325 2.063 3.388 70 - 74 297 471 768 75 + 245 471 716 Jumlah 13.479 15.633 29.112 Sumber: BPS, 2007 Kategori Praproduktif Produktif Aktif Produktif Pasif Pascaproduktif Kecamatan Tanjung Raya, tempat Danau Maninjau berada, memiliki 29.112 jiwa penduduk (BPS, 2007). Dengan lahan seluas 244,03 Km2, Kecamatan Tanjung Raya memiliki kepadatan penduduk yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan sepuluh kecamatan lain yang ada di Kabupaten Agam. 44 Kepadatan penduduk Kecamatan Tanjung Raya hanya 119,29 jiwa/Km2. Perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa, jumlah penduduk laki-laki adalah 13.479 jiwa atau 46,3% dan jumlah penduduk perempuan adalah 15.633 jiwa atau 53,7% (Tabel 9). Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Kategori atau kelas produktivitas dapat ditentukan berdasarkan kelompok umur. Penduduk dengan kelompok umur 0 sampai 19 tahun atau yang seharusnya dalam usia wajib pendidikan formal dikategorikan sebagai Pra-produktif, 20 sampai 39 tahun dikategorikan sebagai Produktif Aktif, 40 sampai 59 tahun dikategorikan sebagai Produktif Pasif, dan kelompok umur yang lebih dari 60 tahun dikategorikan sebagai Pasca-produktif (Tabel 3). Jumlah dan perbandingan jumlah penduduk berdasarkan kategori produktivitas menunjukkan bahwa, jumlah penduduk pada Kategori Pra-produktif adalah 12.927 jiwa atau 44,4%, jumlah penduduk pada Kategori Produktif Aktif adalah 7.398 jiwa atau 25,4%, jumlah penduduk pada Kategori Produktif Pasif adalah 5.399 jiwa atau 18,5%, jumlah penduduk pada Kategori Pasca-produktif adalah 3.388 jiwa atau 11,6%. Data lapangan Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Kecamatan Tanjung Raya menyebutkan dari 8.051 rumah tangga yang terdata, terdapat 8.213 kepala keluarga. Hal ini menunjjukan bahwa dalam satu rumah terdapat lebih dari satu keluarga. Jumlah dan perbandingan kepala keluarga berdasarkan status pekerjaannya menyebutkan bahwa di Kecamatan Tanjung Raya terdapat, 6.804 atau 82,8% kepala keluarga memiliki pekerjaan dan sisanya 1.409 atau 17,2% kepala keluarga tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran. Jumlah kepala keluarga yang berstatus pengangguran ini cukup besar dan menjadi indikator bahwa setiap anggota keluarganya hidup dibawah garis kesejahteraan. Berdasarkan klasifikasi Tahap Keluarga Sejahtera oleh BPS, jumlah dan perbandingannya menunjukkan bahwa Kecamatan Tanjung Raya terdapat, 158 atau 1,9% Keluarga Pra Sejahtera, 2.177 atau 26,5% Keluarga Sejahtera-I, 3.970 atau 48,3% Keluarga Sejahtera-II, 1.486 atau 18% Keluarga Sejahtera-III, dan 422 atau 5,1% Keluarga Sejahtera-III Plus. Jumlah dan perbandingan kepala keluarga berdasarkan status pendidikannya menunjukan bahwa, 1.467 kepala keluarga atau 17,9% tidak lulus SD, 4.262 45 kepala keluarga atau 51,9% lulus SD dan SLTP, 2.047 kepala keluarga atau 24,9% lulus SLTA, dan sisanya 437 kepala keluarga atau 5,3% lulus Perguruan Tinggi atau yang setara. Angka persentase status tingkat pendidikan kepala keluarga ini berpengaruh pada kualitas kehidupan dan daya saingnya. Hasil wawancara dengan seorang pemerhati budaya di Maninjau, Bahaluddin DT. Tanameh, menyebutkan bahwa pendidikan formal saat ini telah bergeser esensinya. Banyak elemen pendidikan dasar yang bermuatan budaya yang seharusnya menjadi dasar identitas tidak lagi didapat siswa sejak sistem pendidikan formal hasil kolonialisme diterapkan. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perokonomian unggulan di kecamatan ini terletak pada sektor dan sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Kegiatan pertanian tanaman pangan di Kawasan Danau Maninjau memberikan kontribusi pada produksi komoditi padi sawah, cabe, tomat, pisang, dan jeruk. Kontribusi yang cukup signifikan, dalam skala kabupaten, adalah pada komoditi padi sawah (8,25%) dan cabe (4,16%), sedangkan untuk komoditi lainnya masih di bawah 1%, seperti tomat (0,73%), pisang (0,97%), dan jeruk (0,24%). Kegiatan perkebunan yang menonjol berdasarkan produksinya di Kawasan Danau Maninjau adalah perkebunan komoditi kulit manis, yang mana produksinya mencakup 3,61 % dari total produksi di Kabupaten Agam. Selain itu, kontribusi produksi komoditi kelapa dalam juga cukup baik, yaitu sekitar 2,04 %. Kegiatan perikanan yang dominan di Kawasan Danau Maninjau adalah perikanan budidaya, terutama budidaya keramba. Produksi budidaya perikanan di Kawasan Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya) merupakan yang terbesar di Kabupaten Agam (sekitar 74,2%). Di kawasan ini pula diterapkan kebijakan budidaya ikan nila pola intensif yang terdiri dari 27.761 KAT (7,86%) dan 44.600 KRB (7,74%). 4.2.2. Lembaga Kemasyarakatan Wilayah lingkar Danau Maninjau ini secara administratif merupakan satuan wilayah Kecamatan Tanjung Raya. Tidak berbeda dengan umumnya struktur 46 hierakhi pemerintahan di Indonesia, Kecamatan Tanjung Raya berada di bawah wilayah pemerinyahan Kabupaten Agam, dan Kabupaten Agam dibawah pemerintahan Provinsi Sumatera Barat. Sistem hubungan lembaga kemasyarakatan yang berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia adalah sistem Nagari yang secara administratif berada di bawah Kecamatan. Dalam historis ketatanegaraan, „Nagari‟ merupakan sebutan bagi desa di jaman dahulu. Namun sebenarnya, dari sisi sistem dan filosofinya, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda. Nagari menurut Mochtar Naim (dalam BAPPEDA, 2003), merupakan lambang mikrokosmik dari sebuah tatanan makrokosmik yang lebih luas. Di dalam konsep nagari tersebut terkandung makna sebuah negara dalam artian miniatur. Tabel 10. Perbedaan Konsepsi Nagari dan Desa NAGARI DESA Sifat: Self-contained, otonom, dan mampu Tidak otonom, merupakan unit membenahi diri sendiri. pemerintahan terendah dari sebuah sistem birokrasi. Perangkat: Desa (tidak ada perangkat otonom tertentu) Eksekutif Legislatif Yudikatif Hubungan dengan pihak lain: vertikal dengan unit Ikatan daerah dan kekerabatan adat Hubungan pemerintahan yang lebih tinggi (primordial-konsanguinal) struktural-fungsional dalam artian sentralistis, hirarkis vertikal teritorial-pemerintahan yang efektif. Hubungan vertikal (ke Luhak dan ke Alam) Hubungan horizontal (ke samping antara sesama nagari), terutama adalah kaitan emosional tetapi tidak struktural-fungsional. Sumber: Mochtar Naim (dalam BAPPEDA, 2003) Nagari bersifat self-contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri. Perangkat pemerintahan nagari juga mencakup unsur legislatif, eksekutif, dan yudikatif seperti layaknya sebuah negara, dimana unsur tersebut merupakan kesatuan holistik bagi berbagai perangkat tatanan sosial budaya lainnya. Mochtar Naim juga menyebutkan bahwa desa memperlihatkan gambaran yang sebaliknya, 47 desa merupakan perangkat terendah dari suatu sistem birokrasi yang sentralistis, hirarkis-vertikal, dan sentripetal, dimana pusatnya berada di luar budayanya sendiri (Tabel 10). Konsep Nagari dapat menjadi dasar pemanfaatan dan pengelolaan lahan, terutama yang terkait dengan hak kepemilikan tanah ulayat. Tanah ulayat di sini didasari pada prinsip kepemilikan komunal yang penggunaan dan pendistribusiannya tunduk kepada hukum adat. Disini Nagari akan berperan untuk mengatur penggunaan dan pendistribusian tersebut. Semua keputusan menyangkut penggunaan dan pendistribusian lahan didasari pada persetujuan Kerapatan Adat Nagari. Secara umum, lembaga dan instrumen pemerintahan suatu nagari terdiri dari : 1. KAN (Kerapatan Adat Nagari), merupakan Lembaga Pengusul dan Pensosialisasi Kebijakan. Lembaga ini beranggotakan Niniak Mamak dari setiap suku. Niniak Mamak merupakan orang yang dianggap sebagai pimpinan dalam sukunya masing-masing atau dalam bahasa umum disebut sebagai tetua adat. Sebagai pemimpin terdepan dalam suatu suku, Niniak Mamak mempunyai peran untuk mewakili dan menggali aspirasi anak kamenakan dan mensosialisasikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan dari tingkat Nagari, 2. BPN (Badan Pengawas Nagari), merupakan Lembaga pengawas kebijakan. Lembaga Legislatif ini terdiri dari unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, wakil-wakil masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan atau diusulkan dalam Nagari diawasi dan dikontrol oleh lembaga ini. 3. MTTS (Musyawarah Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan), Merupakan media atau instrumen dalam Nagari berbentuk majelis atau musyawarah. Musyawarah ini mempertimbangkan, menilai, dan menjadi penasehat kebijakan Nagari sebelum disahkan. Musyawarah ini terdiri dari unsur Niniak Mamak (tetua adat), Alim Ulama (pemuka agama), dan Cadiak Pandai (orang-orang berpendidikan, akademisi, profesional, dan sejenisnya). Lembaga MTTS mempunyai peran untuk menilai dan 48 mempertimbangkan kebijakan/ ketentuan yang akan diterapkan dalam masyarakat, 4. PEMERINTAHAN NAGARI. Merupakan lembaga pelaksana pemerintahan. Melaksanakan semua kebijakan atau ketentuan yang telah disepakati oleh lembaga-lembaga dan instrumen yang ada dalam Nagari. Pemerintahan Nagari ini juga merupakan Lembaga yang mengurusi administrasi Nagari. Dimensi lain dari sistem pemerintahan Nagari adalah perlunya alokasi ruang untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pemerintahan Nagari. Berdasarkan Perda Kabupaten Agam No. 31 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari pasal 6 ayat 2 disebutkan bahwa dalam pemekaran Nagari harus memenuhi syarat-syarat adanya: 1. babalai bamusajik (memiliki balai adat dan mesjid) 2. balabuah batapian (memiliki jalan dan sempadannya) 3. basawah baladang (memiliki sawah dan ladang) 4. babanda buatan (memiliki sistem irigasi dan drainase) 5. batanaman nan bapucuak (bercocok tanam yang berpucuk) 6. mamaliaro nan banyao (memelihara yang bernyawa) 7. basuku basako (memiliki suku dan kelompok) 8. niniak mamak nan ampek suku (tetua adat dari empat suku) 9. baadat balimbago (memiliki adat dan lembaga) 10. bapandam pakuburan (memiliki tempat pemakaman) 11. bapamedanan (memiliki „medan‟ atau ruang terbuka sosial) 12. kantua nagari (memiliki kantor nagari). 4.2.3. Filosofi dan Nilai-Nilai Masyarakat lingkar Danau Maninjau merupakan masyarakat Minangkabau. Sesuai dengan penjelasan pada tinjauan pustaka, masyarakat Minangkabau secara tradisional telah memiliki prinsip filosofis yang mengatur konsepsi hidup dan kehidupan masyarakatnya. Filosofi adat Minang tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru atau filosofi ekologis. Masyarakat Minang telah memasukkan alam sebagai bagian dari kehidupan mereka secara integral untuk berpikir secara logis. 49 Mereka belajar dari alam untuk kemudian menjadikannya sebagai inspirasi bagi prinsip hidup dan kehidupannya. Tergambarkan juga sebagai suatu citra umum bagaimana masyarakat Minangkabau tumbuh dan berkembang secara dinamis, dengan memahami sepenuhnya prinsip hubungan sebab akibat dalam fenomena alam, dikenal dengan filosofi bakarano bakajadian. Pemahaman mereka akan substansi alamiah seperti air, udara, tanah dan api sebagai unsur bebas di alam dibarengi dengan pemahaman yang cukup mengenai bagaimana unsur-unsur bebas tersebut dapat bersatu dan membentuk sebuah kesatuan universal, yaitu dunia. Mereka memahami bagaimana justru perbedaan yang memungkinkan dunia ini berkembang secara dinamis dan saling melengkapi satu sama lain. Pemahaman filosofis seperti ini diyakini telah melekat pada pribadi orang Minang, melalui konsepsi keberadaan seseorang dan umat manusia secara umum. 4.2.4. Sistem Adat dan Budaya Sistem adat yang berlaku di masyarakat lingkar Danau Maninjau adalah adat Minangkabau. Secara mendasar tidak ada perbedaan khusus dari masyarakat Minangkabau di daerah lainnya. Hal ini karena sejarah asal-usul masyarakatnya adalah masyarakat Minangkabau perantau atau pendatang yang akhirnya menetap. Sudah umum di Minangkabau ini bahwa adanya Tambo yaitu „Di dalam Sejarah ada Dongeng, dan di dalam Dongeng ada Sejarah.‟ Maka konon katanya seluruh masyarakat Minangkabau yang tersebar luas di banyak daerah berasal dari puncak Gunung Marapi, terpecah menjadi tiga luhak, lalu turun secara bertahap hidup nomaden, lalu akhirnya membuat Koto dan Nagari, dan inilah yang diterima secara umum oleh masyarakat Minangkabau. Begitu pula sama halnya dengan asal mula masyarakat selingkar Danau Maninjau. Mereka turun dari Gunung Marapi membentuk Luhak Agam, lalu ke Sungai Puar, terus ke bawah, sebagian masuk ke lawang (cikal bakal masyarakat Bayur dan Tigo Koto), sebagian lagi ke puncak bukit Maninjau dan mereka „meninjau‟ lama dari bukit Maninjau ke arah danau karena kahwatir bahwa danau akan meluap dan mengancam kehidupan mereka (inilah cikal bakal toponimi Maninjau dan sekitarnya), begitu pula dengan masyarakat di bagian barat danau (Tanjung Sani dsk) pendatang berasal dari 50 daerah pesisir Pariaman. Bahasa atau aksen masyarakat Tanjung Sani cenderung berbeda dengan masyarakat bagian timur danau. Maka secara kesejarahan, adat budaya yang terdapat di lingkar Danau Maninjau saat ini adalah adat budaya bawaan yang tetap berakar pada adat budaya Minangkabau. Minangkabau memiliki hierakhi sistem adat yang terdiri dari unsur inti (core element) dan unsur turunan (peripheral element). Masing-masing unsur ini terbagi lagi menjadi dua tingkatan. Unsur inti (core element) adat terbagi menjadi adat nan sabana adat (adat yang benar-benar adat) pada tingkat filosofis dan adat nan diadatkan (adat yang diadatkan) pada tingkat teoritis. Unsur inti (core element) dari adat ini tidak dapat diubah dalam kondisi apapun karena merupakan dasar atau acuan dari sistem adat tersebut. Tataran di bawahnya, elemen adat turunan (peripheral element) terbagi menjadi adat nan teradat (adat yang teradat) pada tingkat metodologis dan adat istiadat (adat yang terlihat) pada tingkat praktis. Elemen turunan ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan aktual masyarakat dan umumnya berfungsi praktis dalam menjaga hubungan antar masyarakat, kekeluargaan internal, momen-momen atau kejadian penting, dan kehidupan sehari-hari. 4.3. Pengaruh Eksternal 4.3.1. Kebijakan dan Peraturan Pemerintah - RTRW Kebijakan pemerintah adalah faktor eksternal yang mempengaruhi pola lanskap. Kebijakan ini terangkum dalam dokumen Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah. Dalam hal ini, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRW) Agam dirancang oleh pemerintah daerah Kabupaten Agam. Tujuan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 adalah, „Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN, dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟. Tujuan umum ini dijabarkan lebih teknis dalam Kebijakan dan Strategi, Rencana Struktur Ruang Wilayah, Rencana Pola Ruang Wilayah, Penetapan Kawasan Strategis, Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah, Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Hak dan Kewajiban Serta Peran Masyarakat, Ketentuan Peralihan, dan Ketentuan Penutup. 51 Kebijakan dan Strategi Dalam mewujudkan tujuan RTRW Kabupaten Agam, pemerintah telah menetapkan beberapa kebijakan dan strategi yang secara umum merupakan peluang atau opportunities menuju keberlanjutan. Beberapa kebijakan dan strategi tersebut antara lain: 1. Pelaksanaan pembangunan yang berbasis mitigasi bencana serta konservasi dalam rangka pengurangan resiko bencana, dengan strategi: a. membangun pemahaman masyarakat tentang kebencanaan dan konservasi; b. mewujudkan struktur dan pola ruang yang berbasis mitigasi bencana dan konservasi; c. meningkatkan kualitas bangunan publik dan hunian yang ramah bencana; d. mengembangan kegiatan-kegiatan yang mendukung konservasi yang bernilai terhadap pelestarian lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi; e. menyusun program dan pembangunan berbagai perangkat keras dan lunak dalam upaya mitigasi berbagai bencana alam, seperti tsunami, gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan dan ancaman bencana lainnya; dan f. memantapkan tata batas kawasan lindung untuk seluruh wilayah Kabupaten Agam. 2. Pengembangan sektor ekonomi sekunder dan tersier berbasis agro, pariwisata dan kelautan sesuai keunggulan kawasan yang bernilai ekonomi tinggi yang dikelola secara berhasil guna, terpadu dan ramah lingkungan, dengan strategi: a. menetapan komoditas unggulan sesuai dengan potensi lingkungan dan kondisi sosial budaya setempat; b. mengembangkan industri pengolahan hasil produksi agro dan kelautan sesuai komoditas unggulan kawasan dan kebutuhan pasar (agroindustri dan agribisnis, agro wisata, perikanan tangkap dan perikanan budidaya); 52 c. meningkatkan produksi pertanian hortikultura dan peternakan melalui pendekatan Agropolitan; d. mengembangkan ekonomi perikanan dan kelautan melalui pendekatan minapolitan; e. mengembangkan sistem pertanian organik dalam rangka meningkatkan daya saing produk dan penyelamatan lingkungan; dan f. melakukan revitalisasi dan pembangunan prasarana dan sarana produksi agro dan kelautan secara terpadu. 3. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan serta pembangunan prasarana dan sarana wilayah yang mampu mendukung pengembangan wilayah secara merata, dengan strategi: a. mengurangi kesenjangan ekonomi dan infrastruktur antara Agam bagian Timur dan Agam bagian Barat; b. mengembangkan kawasan perkotaan dan perdesaan yang berbasiskan mitigasi bencana dan konservasi, sebagai kawasan permukiman yang layak huni; c. meningkatkan penyediaan infrastruktur sosial ekonomi wilayah secara proporsional dan memadai sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap pusat permukiman (kawasan); dan d. mengembangkan dan membangun prasarana dan sarana transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan dan berimbang. 4. Peningkatan produktivitas wilayah melalui intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian serta pengelolaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, dengan strategi: a. meningkatkan produktivitas hasil pertanian, perkebunan dan peternakan melalui penerapan teknologi pertanian, intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian; b. mendorong pemakaian bibit unggul dalam usaha perkebunan, perikanan, peternakan untuk mendapatkan produksi dengan kualitas yang lebih baik dan bernilai ekonomi tinggi; 53 c. meningkatkan pemanfaatan lahan non produktif secara lebih bermakna (kegiatan produksi) bagi peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat; dan d. meningkatkan sistem pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan. 5. Peningkatan dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang meliputi, hutan suaka alam, hutan lindung, mempertahankan kawasan lindung > 30% dari luas daerah administrasi serta fungsi lindung lainnya, dengan strategi: a. memfasilitasi penetapan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi; b. mensinergikan program pelestarian lingkungan dalam rangka mendukung Kebijakan Sumatera Barat sebagai Provinsi Konservasi; c. meningkatkan pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan, terutama pemulihan fungsi hutan lindung yang berbasis masyarakat dengan pendekatan hutan lestari masyarakat sejahtera; d. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati; dan e. meningkatkan kerjasama regional, nasional dan internasional dalam rangka pemulihan fungsi kawasan lindung terutama hutan lindung dan hutan cagar alam. 6. Pengembangan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang berbasis konservasi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan strategi: a. meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam untuk sumber energi terbarukan yaitu tenaga air, tenaga surya, gelombang laut, dan lainlain; b. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber energi yang terbarukan (renewable energy); dan 54 c. mengembangan kegiatan konservasi yang bernilai lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi, yaitu hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat. 7. Pengembangan kawasan dan objek wisata yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal, dengan strategi: a. menyusun skenario pengembangan kepariwisataan secara terpadu yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal; b. menetapkan kawasan-kawasan wisata di seluruh Kabupaten Agam; c. mengembangkan berbagai potensi wisata sesuai dengan potensi kawasan yang dimiliki (alam, budaya, kreasi) secara arif dan ramah lingkungan; d. meningkatkan kegiatan pariwisata melalui pembangunan prasarana dan sarana pendukung, pengelolaan objek wisata yang lebih profesional serta pemasaran yang lebih agresif dan efektif; e. mengembangkan kapasitas SDM pengelola kepariwisataan; dan f. meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan. Rencana Struktur Ruang Wilayah Dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang RTRW, pemerintah juga menetapkan Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Agam yang meliputi: Sistem Perkotaan, Sistem Jaringan Transportasi, Sistem Jaringan Energi, Sistem Jaringan Telekomunikasi, Sistem Jaringan Sumber Daya Air, dan Sistem Prasarana Lingkungan. Kebijakan tentang Sistem Perkotaan di Kecamatan Tanjung Raya diarahkan di Nagari Maninjau sebagai ibukota kecamatan dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1. pusat pelayanan pemerintahan kecamatan; 2. pusat pelayanan kegiatan sosial skala kecamatan; 3. pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa dari wilayah; 4. sebagai pendorong pengembangan industri pariwisata; 55 5. sebagai kawasan strategis Propinsi Sumatera Barat dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup; 6. sebagai pusat pengembangan kawasan perikanan darat (Sentra Minapolitan di Danau Maninjau); 7. pendukung pengembangan Kota Lubuk Basung; dan 8. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). Kebijakan tentang Sistem Jaringan Transportasi yang terkait dengan pengembangan sistem transportasi danau ditujukan untuk keperluan pariwisata Danau Maninjau serta penunjang budidaya perikanan air tawar. Mengembangkan angkutan danau yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata yang ada di Danau Maninjau berupa pembangunan dermaga untuk mendukung pariwisata di Muko-Muko, Linggai dan Sungai Batang dan pembangunan dermaga untuk pengumpul produksi perikanan yang lokasinya disesuaikan dengan dengan Master Plan Minapolitan. Rencana pengembangan prasarana pembangkit energi sebagaimana dimaksud pada kebijakan Sistem Jaringan Energi yang terkait dengan Danau Maninjau, dilakukan melalui: 1. mengoptimalkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Danau Maninjau dengan kapasitas terpasang sebesar 68 MW, dengan upaya pelestarian kawasan resapan air pada catchment area. 2. merencanakan pengembangan energi geothermal (panas bumi) di Kecamatan Tanjung Raya. Kebijakan menganai Sistem Jaringan Sumber Daya Air meliputi: Sistem Wilayah Sungai (SWS), Daerah Aliran Sungai (DAS), Danau dan Embung; Sistem Jaringan Irigasi; Sistem Air Baku untuk Air Bersih; Jaringan Air Bersih untuk Kelompok Pengguna; dan Sistem Pengendalian Banjir di Wilayah Kabupaten. Kebijakan Sistem Wilayah Sungai diarahkan dan direncanakan sebagai berikut: 1. rencana penataan daerah aliran sungai melalui upaya pelestarian kawasan lindung dan kawasan konservasi untuk menjaga tata air; 56 2. kawasan bermasalah seperti banjir dan tanah longsor dilakukan penanganan khusus berupa pembangunan insfrastruktur pengendalian banjir dan pelaksanaan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pemulihan lahan kritis dan penanaman hutan kembali (reboisasi); Kebijakan Sistem Jaringan Irigasi diarahkan dan direncanakan sebagai berikut: 1. peningkatan daya guna irigasi dengan pembangunan embung, waduk, bendung, bangunan bagi, pintu air, dan saluran; 2. peningkatan pemeliharaan dan peningkatan sarana prasarana irigasi termasuk saluran-saluran irigasi; 3. peningkatan peran irigasi sebagai penyedia air bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan maupun perikanan; 4. pemanfaatan air permukaan seperti sungai dan danau yang ada dalam upaya penyediaan air kebutuhan irigasi; dan 5. Pelestarikan wilayah hulu sungai sebagai daerah resapan air dalam menjaga debit mata air, sungai dan danau tetap stabil. 6. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan, pemeliharan maupun pemanfaatan daerah irigasi sebagai basis dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Kebijakan Sistem Air Baku untuk Air Bersih diarahkan dan direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan kelompok masyarakat dengan memanfaatkan sumber air baku yang tersedia pada pada masing-masing daerah dan diupayakan terlebih dahulu melalui pengeolahan (water treatment plant) sebelum didistribusikan ke rumah-rumah. Kebijakan Sistem Air Bersih untuk Kelompok Pengguna dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Agam dengan menggunakan sistem perpipaan. Konsep penanganan air bersih sebagai berikut: 1. mengoptimalkan pemanfaatan sumber air bersih yang ada saat ini ; 2. peningkatan kapasitas produksi dan distribusi dengan memperbesar diameter pipa, penambahan jaringan pipa transmisi, distribusi dan tersier (SR) ; 57 3. memperbaiki jaringan distribusi yang rusak dan pemeliharaan jaringan guna meminimalisasi kebocoran selama distribusi ; 4. peyediaan pompa-pompa cadangan pada tiap-tiap unit PDAM sehingga jika terjadi kerusakan, produksi dan distribusi air bersih tidak terganggu ; 5. pada daerah perbukitan diarahkan penggunaan sumur bor dengan pengelolaan pada masing-masing nagari ; 6. penyediaan air bersih diutamakan untuk daerah-daerah padat penduduk seperti ibukota kecamatan dan pusat-pusat permukiman. 7. pengembangan jaringan jalan dapat dimanfaatkan sebagai akses penunjang dalam pemanfaatan jaringan-jaringan baru. Kebijakan Sistem Pengendalian Banjir ditujukan untuk menjamin lancarnya pengaliran air pada badan sungai sehingga tidak terjadi genangan atau banjir. Konsep penanganan banjir di kabupaten agam melalui program : 1. Rehabilitasi dan Reboisasi kawasan hulu dan DAS 2. Pembangunan bangunan pengendali daya rusak air (banjir) seperti normalisasi sungai alur sungai dan perkuatan tebing sungai. 3. Menetapkan sebagian dari kawasan banjir sebagai kawasan lindung karena merupakan bagian dari eksostim rawa/tanah basah (wet land). Rencana Pola Ruang Wilayah Rencana pola ruang wilayah di Kabupaten Agam terdiri dari Pola Ruang Kawasan Lindung dan Pola Ruang Kawasan Budidaya. Kebijakan Pola ruang untuk kawasan lindung yang terkait dengan Danau Maninjau meliputi: 1. kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi: hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air. Luas kawasan hutan lindung yang direncanakan di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 adalah seluas 28.060 Ha. Kawasan hutan lindung yang direncanakan di Kecamatan Tanjung Raya seluas ± 5.450 ha. Sedangkan Sebaran kawasan resapan air Kabupaten Agam menyebar di lokasi Kawasan Hutan Lindung dan catchment area Kawasan Danau Maninjau yang ada di Kecamatan Tanjung Raya; 58 2. kawasan perlindungan setempat meliputi: sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air. Kawasan sempadan sekitar danau /waduk sebagaimana yang dimaksud diatas adalah kawasan Danau Maninjau dan Waduk Batang Agam dengan kriteria sempadan ditetapkan sebagai berikut : a. daratan dengan jarak 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi air danau/waduk; atau b. daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik tepian danau/waduk. Kawasan sempadan mata air sebagaimana yang dimaksud diatas meliputi daratan dengan jarak 50-100 meter mengelilingi mata air, dan secara fisik berupa jalur hijau yang ditanami pohon atau tanaman laut yang memiliki fungsi konservasi; 3. kawasan suaka alam dan pelestarian alam meliputi: Suaka Alam Maninjau Utara dan Selatan yang berada di Kecamatan Matur, Tanjung Raya, IV Koto, Palembayan dengan luas kurang lebih 17.910 Ha; 4. kawasan rawan bencana meliputi: a. kawasan rawan tanah longsor, tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Berdasar jenis gerakan tanah, tipe jatuhan terdapat di Kecamatan Tanjung Raya, b. kawasan rawan banjir, berada pada sepanjang aliran sungai. Pada Kecamatan Tanjung Raya terletak di Nagari Koto Kaciak dan Nagari Koto Gadang; 5. kawasan lindung geologi meliputi kaldera maninjau akibat letusan gunung api purba pada Kecamatan Tanjung Raya, kebijakan pemerintah khususnya untuk sekitar Nagari Tanjung Sani tepatnya Jorong Batu Nanggai, Galapung, Muko jalan yang secara geologi tidak direkomendasikan untuk dijadikan pemukiman penduduk; Kebijakan Pola ruang untuk kawasan Budidaya yang terkait dengan Danau Maninjau meliputi: 1. rencana kawasan pertanian meliputi kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan lahan basah dan kawasan peternakan. Peruntukan 59 kawasan peternakan sebagaimana dimaksud diatas adalah sebagai pengembangan ternak besar dengan core bisnis sapi potong yang dikembangkan di Kecamatan Tanjung Raya dan Malalak dengan komoditas Sapi PO dan Brahman; 2. rencana kawasan perkebunan meliputi: a. Rencana pengembangan kawasan perkebunan cengkeh akan diprioritaskan pada Kecamatan Tanjung Raya, Matur serta Malalak; b. Rencana pengembangan kawasan perkebunan casiavera akan diprioritaskan pada Kecamatan Malalak, Matur serta Tanjung Raya; c. Rencana pengembangan kawasan perkebunan pala akan diprioritaskan pada Kecamatan Tanjung Raya; 3. rencana kawasan perikanan meliputi kawasan perikanan budidaya. Rencana pengembangan perikanan budidaya Kabupaten Agam termasuk dalam pengembangan kawasan Minapolitan dengan pusat di kawasan Maninjau. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di kawasan Danau Maninjau meliputi: a. sentra Budidaya Ikan Air tawar: nila, patin dan majalaya serta Pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar kawasan Danau Maninjau; b. sentra Budidaya Ikan Patin dan Pengolahan Lele di Kecamatan Tanjung Raya; 4. rencana kawasan pariwisata di Kecamatan Tanjung Raya terdiri atas: a. Kawasan pariwisata alam yaitu: Danau Maninjau, Sarasah Gasang, Pantai Gasang, Agrowisata Kelok 44, Aia Badarun, Mata Air Panas, Asai, Muko-muko, Air Terjun Simpang Dingin, Potensi Wisata Perikanan Linggai, Pemandian Putri, Potensi Wisata Agro Durian, Wisata Burung Tanjung Ujung, Air Terjun Gadih, Air Tigo Raso, Rizal Beach, Bukit Pelatungan, Area Take Off Peralayang, Potensi Bentang Alam, Persawahan, dan Mesjid Bayur; b. Kawasan pariwisata budaya yaitu: Wisata Dakwah dan Qoryah Thoyyibah, Mesjid Raya Paninjauan, Surau Gadang Usang, Mesjid Syekh Amarullah, Makam Syekh Amarullah, Makam Syekh Dr. H. 60 Abdul Karim Amarullah (Inyiak Rasul), Perpustakaan H. Abdulkarim Amarullah (Inyiak Rasul), Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA, Surau Buya HAMKA, Makam Haji Oedin Rahmani, Benteng Jepang Muko – muko, Rumah Tuanku Lareh Koto Kaciak, Rumah Orang Tua Tuanku Lareh Kaciak, Rumah R. Rasuna Said; c. Kawasan pariwisata buatan dan minat khusus yaitu: Paralayang dan arum jeram di Sungai Antokan; 5. rencana kawasan permukiman, meliputi : kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan. Pengembangan kawasan pemukiman perkotaan akan dikembangkan pada ibukota kabupaten, ibukota kecamatan dan kawasan strategis perbatasan sebagai antisipasi pertumbuhan penduduk akibat pertumbuh secara alamiah maupun akibat urbanisasi dan berbagai fasilittas pendukungnya. Sedangkan pengembangan kawasan pemukiman perdesaan akan dikembangkan diseluruh kabupaten Agam sebagai antisipasi pertumbuhan penduduk akibat pertumbuh analamiah dan fasilitas pendukungnya; Penetapan Kawasan Strategis Tujuan penetapan Kawasan Strategis adalah menetapkan kawasan-kawasan yang menurut perkiraan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap tata ruang di wilayah sekitarnya, kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kawasan strategis ditetapkan dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yaitu kawasan Danau Maninjau yang berdasarkan RTRWP tahun 2008-2028 juga ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi. Kecamatan Tanjung Raya dengan Danau Maninjau yang berada di dalamnya ditetapkan sebagai kawasan strategis dalam berbagai skala, mulai dari skala nasional sampai tingkat kecamatan. Dalam konsep pengembangan pariwisata nasional, Kawasan Danau Maninjau termasuk ke dalam wilayah pengembangan A, yang merupakan wilayah dengan jumlah wisatawan terbesar kedua setelah Jawa dan Bali dengan produk andalan berupa alam pegunungan dan budaya Melayu. Selain itu kawasan Danau Maninjau juga ditetapkan sebagai 61 Kawasan Pengembangan Pariwisata dalam Kawasan Andalan Agam-Bukittinggi dan juga Sebagai Kawasan Pengembangan Sumber Energi dan Jaringan Kelistrikan pada PP No. 47 Tahun 1997 Tentang RTRWN. Gambar 18. Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau (BAPPEDA, 2010) 62 Pada skala provinsi, kawasan Danau Maninjau ditetapkan sebagai pusatpusat pendukung pertumbuhan yang diarahkan di Lubuk Basung dan Bukittinggi, dengan potensi ekonomi wilayah belakang adalah pertanian dan pariwisata dalam RTRW Propinsi Sumatera Barat (dalam review RTRW Kab. Agam, 1995-2005). Pengembangan wilayah prioritas yang dimaksud pada kebijakan ini adalah kawasan pariwisata, kawasan pertanian tanaman pangan, dan penanganan lahan kritis (Gambar 18). Beberapa kebijakan yang terangkum dari beberapa dokumen diantaranya adalah, Keppres RI No. 32 Tahun 1990, PP No. 47 Tahun 1997, dan Review RTRW Kab. Agam (1995-2005), menyebutkan bahwa kawasan Danau Maninjau harus dijadikan Kawasan perlindungan lingkungan setempat, sempadan danau dan sekitar mata air. Kebijakan ini terkait keberlanjutan daya dukung lingkungan yang potensi dampaknya mencakup skala regional Kabupaten Agam. Berdasarkan booklet yang diterbitkan oleh Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat, Kawasan Danau Maninjau yang termasuk dalam Kecamatan Tanjung Raya ditetapkan sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan Nila. Penerapan budidaya perikanan dilakukan melalui beberapa media, baik kolam jaring apung, keramba, kolam air deras, bahkan sawah. Kawasan Danau Maninjau, yang terkait dengan Lubuk Basung mendukung peran kota tersebut sebagai kota orde II. Lebih lanjut, Kecamatan Tanjung Raya, sebagai bentuk administratif Kawasan Danau Maninjau, dalam Review RTRW Kabupaten Agam ditetapkan bahwa fungsi pusat kegiatan di Kecamatan Tanjung Raya untuk wilayah perkotaan merupakan fungsi kegiatan khusus, dengan urutan orde ke IV. Adapun selengkapnya mengenai fungsi perkotaan Maninjau (Tanjung Raya) seperti tercantum dalam Review RTRW Kabupaten Agam adalah sebagai berikut: 1. sebagai pusat pelayanan jasa skala kecamatan 2. sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan 3. sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan 4. sebagai pusat koleksi distribusi barang dan jasa skala kabupaten 5. sebagai pendorong pengembangan industri pariwisata 6. sebagai pusat koleksi dan distribusi barang skala kecamatan (pelayanan pedesaan) 63 Adapun arahan pengembangan kota dalam kaitannya dengan wilayah yang lebih luas maka fungsi kota diarahkan sebagai: 1. pusat pengembangan kawasan permukiman (SKP) atau sebagai pusat kegiatan lainnya. 2. sebagai pendorong pengembangan kawasan pariwisata dan pendorong kawasan strategis lainnya. 3. sebagai pendorong pengembangan kawasan perikanan jala apung di Danau Maninjau. Prioritas pengembangan kota diarahkan pada peningkatan struktur fungsi kawasan perkotaan dan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan, selain juga meningkatkan pelayanan sarana transportasi terhadap kawasan pedesaan untuk mendorong sektor-sektor produksi di kawasan pedesaan dan meningkatkan penataan kawasan permukiman yang mampu mendorong kawasan wisata. Arahan Pemanfaatan ruang wilayah Arahan Pemanfaatan ruang wilayah mengacu pada: rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan rencana kawasan strategis kabupaten. Arahan pemanfaatan ruang meliputi indikasi program utama, indikasi lokasi, indikasi sumber pendanaan, indikasi pelaksana kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Indikasi program utama pemanfaatan ruang meliputi: indikasi program utama perwujudan struktur ruang, indikasi program utama perwujudan pola ruang, dan indikasi program utama perwujudan kawasan strategis. Indikasi sumber pendanaan terdiri dari dana APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten. Indikasi pelaksana kegiatan sebagaimana dimaksud terdiri dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, BUMN, swasta, dan masyarakat. Indikasi waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud terdiri dari 4 (empat) tahapan jangka lima tahunan, yaitu: 1. tahap pertama, lima tahun pertama (2010 – 2014) yang terbagi atas program tahunan; 2. tahap kedua, lima tahun kedua (2015 – 2019); 3. tahap ketiga, lima tahun ketiga (2020 – 2024); dan 4. tahap keempat, lima tahun keempat (2025 – 2030). 64 Indikasi-indikasi dari kebijakan arahan pemanfaatan ruang di atas merupakan suatu peluang sekaligus ancaman. Secara umum hal-hal tersebut adalah peluang, dan ancaman dapat terjadi apabila pada prakteknya yang menjadi indikasi pelaksana di luar pemerintah seperti BUMN, swasta, dan masyarakat memiliki pemahaman yang kurang terhadap RTRW ini sebagai acuan mereka dalam pemanfaatan ruang wilayah. Arahan Pengendalian Pemanfaatan ruang Arahan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud meliputi: ketentuan umum peraturan zonasi, perizinan, pemberian intensif dan disinsentif, dan arahan sanksi. Ketentuan umum peraturan zonasi menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi oleh pemerintah kabupaten. Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud diatas meliputi ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang dan ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang meliputi ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana wilayah dan prasarana lainnya. Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang meliputi ketentuan umum peraturan zonasi untuk ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya. Perizinan yang terkait dengan izin pemanfaatan ruang, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan, harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang. Jenis-jenis perizinan yang termasuk kedalam kategogari izin pemanfaatan ruang meliputi : 1. izin prinsip, merupakan izin yang diberikan pemerintah yang menyatakan kegiatan yang dimohonkan secara prinsip diperkenankan untuk diselenggarakan dan belum dapat dijadikan dasar untuk pelaksanaan kegiatan; 2. izin lokasi, merupakan izin yang diberikan pemerintah kepada pemohon untuk memanfaakan ruang lebih besar 1 Ha bagi kegiatan non pertanian dan > 25 bagi kegiatan pertanian; 3. izin Mendirikan Bangunan, merupakan izin yang diberikan pemerintah kepada pemohon sebagai tanda bukti bahwa permohonan yang 65 bersangkutan sudah sesuai dengan peruntukan tata ruang, aturan zonasi, serta aturan teknis keselamatan bangunan; 4. izin lainnya berdasarkan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku, merupakan izin yang diberikan pemerintah dalam hal ini izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan masing-masing instansi atau sektor yang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Insentif merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini. Ketentuan insentif berlaku untuk kawasan yang didorong pertumbuhannya, yaitu: 1. pemberian insentif pada kawasan perkotaan seperti pembangunan prasarana dan sarana perkotaan secara memadai; 2. pemberian insentif pada kawasan pertanian dapat berupa pembangunan irigasi teknis/desa, pembangunan jalan produksi, perbaikan perumahan petani, dan lain-lain, sedangkan pada kawasan sentra pertanian penting untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar sentra tersebut dapat berfungsi optimal; 3. pemberian insentif pada kawasan perkebunan dapat berupa pemba- ngunan dan peningkatan jalan produksi, penyediaan lahan, gudang penyimpanan, fasilitas pengolahan (pabrik), pengemasan dan lain-lain ; 4. pemberian insentif pada kawasan pesisir berupa pemberian kemudahan untuk berinvestasi, membangun fasilitas penunjang pelabuhan seperti dermaga, tempat pelelangan ikan, bantuan alat tangkap, industri pengolahan hasil perikanan dan lain-lain; 5. pemberian insentif pada kawasan wisata adalah pembangunan prasarana dan sarana perhubungan, penataan lingkungan dan bangunan, penyediaan berbagai fasilitas penunjang pariwisata, promosi dan pemasaran ; 6. pemberian insentif pada kawasan pusat agropolitan adalah memberikan kemudahan investasi, perencanaan ruang secara detil sehingga tercipta kepastian pemanfaatan ruang, pembangunan kelengkapan fasiltas pusat agropolitan, dan lain-lain ; dan 66 7. pemberian insentif pada kawasan stategis berupa pembangunan prasarana dan sarana pehubungan, kemudahan dalam investasi, sarana produksi dan pengolahan pasca panen dan lain-lain. Disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. Kawasan yang perlu dikendalikan dan dibatasi perkembangnnya diberikan ketentuan disinsentif, yang mungkin diterapkan pada kawasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. pemberian disinsentif pada kawasan rawan bencana; dapat dikenakan kepada masyarakat yang melakukan pembangunan pada kawasan rawan bencana ; 2. pemberian disinsentif pada kawasan pertanian dan perkebunan dengan tidak dilakukannya pembinaan pada petani kebun yang mempunyai kegiatan perkebunan pada kawasan lindung ; dan 3. pemberian disinsentif pada kawasan pertambangan; dimana batasan dalam pengembangan kegiatan pertambangan adalah selama kegiatan penambangan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan yang penting dan dalam plekasanaan kegiatan pertambangan tersebut harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pengenaan sanksi merupakan arahan ketentuan pengenaan sanksi administratif kepada pelanggar pemanfaatan ruang yang akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah kabupaten. Pengenaan sanksi administratif dilakukan secara berjenjang dalam bentuk: 1. peringatan tertulis, 2. penghentian sementara kegiatan, 3. penghentian sementara pelayanan umum, 4. penutupan lokasi, 5. pencabutan izin, 6. pembatalan izin, 7. pembongkaran bangunan, dan 8. pemulihan fungsi ruang. 67 Tindakan pidana adalah tindakan yang menimbulkan kerugian secara perdata, sanksi ini diterapkan akibat pelanggaran yang ada menimbulkan masalah pada perorangan atau masyarakat secara umum. Sanksi perdata terkait dengan pemanfaatan ruang diterapkan sesuai peraturan perundangan berlaku. Ketentuan lebih lanjut terkait pengenaan sanksi pidana dan sanksi perdata mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak dan Kewajiban Serta Peran Masyarakat Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk: 1. mengetahui rencana tata ruang wilayah dan rencana rinci di daerah; 2. menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang; 3. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang; 4. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya; 5. mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang; dan 6. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian. Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib: 1. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan; 2. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang; 3. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; dan 4. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. Untuk mengetahui rencana tata ruang, selain dari Lembaran Daerah masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengumuman atau penyebarluasan oleh Pemerintah Daerah. Kewajiban untuk 68 menyediakan media pengumuman atau penyebarluasan sebagaimana dimaksud dilakukan melalui penempelan atau pemasangan peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan juga pada media massa, serta melalui pembangunan sistem informasi tata ruang. Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan RTRW Daerah diselenggarakan dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Daerah, masyarakat wajib berperan dalam memelihara kualitas ruang dan mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam pemanfaatan ruang di daerah, peran masyarakat dapat berbentuk: 1. pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan, agama, adat, atau kebiasaan yang berlaku; 2. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang mencakup lebih dari satu wilayah daerah/kota di daerah; 3. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan RTRW dan rencana tata ruang kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah; 4. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW daerah yang telah ditetapkan; 5. bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang dan/atau kegiatan menjaga, memelihara, serta meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Tata cara peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang di daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan peran masyarakat sebagaimana dimaksud dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah. Dalam pengendalian pemanfaatan ruang, peran masyarakat dapat berbentuk: pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah daerah/kota di daerah, termasuk pemberian informasi atau 69 laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud; dan bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. Peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud di atas disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Bupati dan pejabat yang ditunjuk. Ketentuan Peralihan Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan peraturan daerah ini. Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, maka semua rencana terkait pemanfaatan ruang dan sektoral yang berkaitan dengan penataan ruang Daerah tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan RTRW. Pada saat peraturan ini berlaku, sambil menunggu penetapan kawasan hutan yang baru disyahkan, peta pola ruang yang diacu adalah pola ruang yang disusun berdasarkan Kepmen Hutbun 422 Tahun 1999, dan secara otomatis berlaku Pola Tata Ruang yang baru jika usulan perubahan kawasan hutan secara resmi ditetapkan. Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, maka seluruh pemanfaatan ruang yang tidak sesuai rencana tata ruang ini, masih tetap berlaku sampai pemerintah daerah dapat menyediakan ganti rugi. Pelaksanaan Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Ketentuan Penutup Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 09 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Agam dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Agam. 70 4.3.2. Aktivitas Wisata Berdasarkan studi dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Danau Maninjau diketahui bahwa pengembangan kegiatan pariwisata dibagi ke dalam 5 kawasan dengan fungsi utama yang berbeda-beda, yaitu: 1. Kawasan Wisata A, dengan fungsi utama kawasan pusat wisata utama 2. Kawasan Wisata B, dengan fungsi utama kawasan pertanian dan budidaya perikanan/wisata hidro 3. Kawasan Wisata C, dengan fungsi utama kawasan kawasan wisata sekunder (wisata alam terbuka dan budidaya perikanan/wisata hidro) 4. Kawasan Wisata D, dengan fungsi utama kawasan PLTA (wisata ilmiah) 5. Kawasan Wisata E, dengan fungsi utama kawasan taman wisata (taman burung dan areal pemancingan) Dengan mempertimbangkan kontribusi Kawasan Danau Maninjau terhadap perekonomian Kabupaten Agam serta peran kawasan tersebut berdasarkan kebijakan-kebijakan terkait yang menaunginya, maka secara kebijakan perkembangan Kawasan Danau Maninjau di masa mendatang diarahkan pada pengembangan sektor pariwisata, pertanian tanaman pangan, perikanan, dan perkebunan. Hal ini didukung pula oleh informasi dan hasil observasi lapangan. Di luar kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah terkait pariwisata tersebut, pariwisata memang merupakan potensi besar yang dapat menjadi andalan kawasan lingkar Danau Maninjau ini. Pariwisata di lingkar Danau Maninjau sudah dikenal hingga wisatawan mancanegara. Keindahan Danau Maninjau telah diakui banyak orang. Presiden Soekarno menggambarkan keindahan Maninjau dengan pantun "Jangan dimakan arai pinang kalau tidak dengan sirih yang hijau. Jangan datang ke Tanah Minang kalau tak mampir ke Maninjau." Pendapat lain datang dari mantan Menteri Muda Malaysia asal Sumatera Barat, A Samad Idris yang pernah datang ke Maninjau berupa puisi "Naik bendi ke Sungai Tanang dihela dengan dua pedati. Banyak danau di Ranah Minang, Danau Maninjau pilihan hati. Akan tetapi, pengelolaaan wisata dan penerimaan masyarakat terhadap wisatawan belum dapat mencapai titik ideal. Hasil survey dari 100 orang responden acak di lingkar danau maninjau tentang pendapat mereka terhadap „pengaruh wisatawan atau perantau yang hadir 71 di lingkungan mereka‟ adalah, 82% menjawab baik, 15% menjawab buruk, dan sisanya 3% tidak menjawab atau abstein. Selanjutnya pertanyaan mengenai respon mereka terhadap wisatawan yang datang adalah, 6% menolak dengan keras; 74% menerima dengan memberi pengetahuan budaya, adat-istiadat, dan aturan setempat; 19% menerima apa adanya; dan 1% tidak menjawab (Gambar 19). Gambar 19. Persentase Persepsi Masyarakat tentang Aktivitas Wisata Dari hasil survey kuisioner tersebut persepsi masyarakat terhadap pariwisata cukup baik, hanya saja beberapa golongan yang berpengaruh seperti tetua adat cukup khawatir terhadap pengaruh aktivitas pariwisata terhadap budaya lokal. Hal tersebut mempengaruhi tumbuhnya industri pariwisata yang sehat. Hal ini dianggap sebagai ancaman bagi pemerhati budaya lokal. Maka perlu ada interaksi dan komunikasi yang terbuka dari berbagai pihak terkait untuk memajukan potensi pariwisata Danau Maninjau tanpa harus mengurangi atau merusak nilainilai budaya lokal. 4.4. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya 4.4.1. Ekologi Secara ekologis, kawasan lingkar Danau Maninjau ini dapat diklasifikasikan melalui pendekatan tingkat intensitas interaksinya (derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami). Semakin besar pengubahan lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Mengacu pada pola penggunaan lahan eksisting, tingkat intensitas interaksi di Kecamatan Tanjung Raya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu alami (hutan) seluas 64,4 km², transisi (kebun 72 campuran dan semak belukar) seluas 36,5 km², intensif (sawah dan pemukiman) seluas 49,9 km², dan klasifikasi sangat intensif (karamba) untuk non lahan daratan atau interaksi langsung pada danau seluas 2,8 km² (Gambar 20). Gambar 20. Klasifikasi Ekologis Kelompok ekosistem alami (hutan) rata-rata tersebar pada ketinggian di atas 900 m dpl dan pada kemiringan lahan yang curam sampai sangat curam (berbukit atau bergunung). Kelompok ekosistem dengan interaksi intensif (pemukiman dan 73 sawah) umumnya tersebar pada ketinggian 500 – 900 m dpl dan pada kemiringan lahan yang datar sampai landai. Diantara kelompok ekosistem alami dan interaksi intensif masih terdapat kelompok interaksi transisi (kebun campuran dan semak belukar), kebun campuran juga merupakan lahan produksi bagi masyarakat, tetapi secara pemanfaatan mereka menganut sistem parak yaitu kearifan lokal sejenis agroforestry, sehingga strata vertikal vegetasi tetap terjaga. Sistem parak ini perlu dipertahankan dan semak belukar disekitarnya yang merupakan lahan tidur dapat dioptimalkan fungsinya menjadi parak. Kelompok transisi ini tersebar pada kemiringan landai hingga curam. Karamba jala apung merupakan suatu kelompok interaksi yang sangat intensif. Sangat intensif dan mengancam karena keberadaanya langsung di atas danau yang merupakan ekosistem rapuh. Berbagai spesies endemik hidup mengembangbiakkan di spesies dalam danau intoduksi dari dan luar kegiatan yang budidaya dapat ini merusak keseimbangan ekosistem asli danau yang diikuti dampak turunannnya seperti eutrofikasi, pendangkalan, dan sejenisnya (Gambar 21). Persentase luasan kelompok ekologis daratan pada setiap nagari adalah sebagai berikut:  Bayua : 93% intensif, 4% transisi, 3% alami;  Maninjau : 90% intensif, 10% transisi, 0% alami;  Duo Koto : 70% intensif, 12% transisi, 18% alami;  Tj. Sani : 10% intensif, 52 transisi, 38% alami;  S. Batang : 33% intensif, 17% transisi, 50% alami;  Kt. Kaciak : 45% intensif, 3 transisi, 52% alami;  Kt. Gadang : 42% intensif, 5 transisi, 53% alami;  Kt. Malintang : 10% intensif, 17 transisi, 73% alami;  Paninjauan : 23% intensif, 0 transisi, 77% alami. Nagari Maninjau, Bayua, dan Duo Koto merupakan nagari-nagari yang didominasi oleh kelompok interaksi (pengubahan lanskap alami) intensif. Nagari Tanjung Sani didominasi oleh kelompok interaksi transisi. Nagari Sungai Batang, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, dan Paninjauan merupakan nagarinagari yang didominasi oleh kelompok intensitas interaksi yang rendah atau masih 74 cukup alami. Hal ini berhubungan dengan kepadatan penduduk pada aspek sosial ekonomi dari setiap nagari. Gambar 21. Ilustrasi Penampang Danau (BAPPEDA, 2010) 4.4.2. Sosial Ekonomi Pertumbuhan penduduk pada Kecamatan Tanjung Raya selama 12 tahun sangat rendah, hanya mencapai 4,38%. Indikator dari aspek sosial ekonomi yang sangat mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya secara spasial adalah kepadatan penduduk. Klasifikasi kepadatan penduduk per-nagari di Kecamatan Tanjung Raya dari data sensus tahun 2007 adalah sebagai berikut:  Maninjau : 2.579 jiwa dengan luas 3,4 km² (759 jiwa/ km²) sangat padat;  Duo Koto : 2.775 jiwa dengan luas 6,6 km² (420 jiwa/ km²) sangat padat;  Bayua : 4.679 jiwa dengan luas 13,6 km² (344 jiwa/ km²) cukup padat; 75  Kt. Kaciak : 4.012 jiwa dengan luas 12,3 km² (326 jiwa/ km²) cukup padat;  Paninjauan : 1.767 jiwa dengan luas 6,3 km² (280 jiwa/ km²) cukup padat;  Kt. Gadang : 1.799 jiwa dengan luas 7,3 km² (246 jiwa/ km²) kurang padat;  Tj. Sani : 5.606 jiwa dengan luas 40,2 km² (139 jiwa/ km²) kurang padat;  S. Batang : 3.385 jiwa dengan luas 25 km² (135 jiwa/ km²) kurang padat;  Kt. Malintang : 2.509 jiwa dengan luas 21,8 km² (115 jiwa/ km²) kurang padat. 4.4.3. Sejarah Spiritual Budaya Karakter budaya dari masing-masing nagari ini pada dasarnya memiliki kesamaan akar budaya, tetapi perkembangannya berjalan masing-masing dengan pengaruh dan ketahanan yang berbeda-beda. Hasil analisis, dari data jumlah titiktitik situs sejarah budaya dan peran lembaga adat kemasyarakatan dalam mengorganisir dan melestarikan kegiatan-kegiatan adat kemasyarakatan (Lampiran 5), menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah satu-satunya nagari yang termasuk dalam kriteria nagari dengan nilai sejarah, spiritual, dan budaya tinggi, dengan jumlah situs sejarah budaya mencapai sembilan titik dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan cukup baik. Nagari yang termasuk dalam kelompok nilai sejarah, spiritual, dan budaya rendah adalah Nagari Koto Gadang dan Koto Malintang dengan jumlah situs sejarah budaya dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan yang terdata kurang dari tiga. Enam nagari lainnya termasuk dalam kelompok nilai sedang. 76 Gambar 22. Klasifikasi Lanskap Budaya 77 4.4.4. Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), dihasilkan total akumulasi nilai setiap nagari tersebut (Tabel 11). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah nagari dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang. Tabel 11. Penilaian Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya NAGARI MANINJAU BAYUA SUNGAI BATANG PANINJAUAN KOTO KACIAK KOTO GADANG KOTO MALINTANG DUO KOTO TANJUNG SANI ASPEK SEJARAH, SOSIAL SPIRITUAL EKONOMI BUDAYA 2 1 2 2 3 3 2 2 2 2 1 3 1 3 2 1 2 3 TOTAL EKOLOGI 1 1 3 3 3 3 3 1 2 4 5 9 7 7 7 7 4 7 RENDAH SEDANG TINGGI SEDANG SEDANG SEDANG SEDANG RENDAH SEDANG Sungai Batang merupakan nagari madani atau sentra budaya religi yang juga dikenal secara nasional karena di nagari ini banyak lahir tokoh-tokoh Islam yang cukup berpengaruh secara nasional. Peran kontrol dari wali nagari dan elemen lembaga adat setempat cukup berpengaruh terhadap perkembangan pada aspekaspek yang mempengaruhinya. Maninjau adalah pusat, gerbang utama, dan ibukota kecamatan, seharusnya nagari ini adalah nagari paling terurbanisasi tetapi dengan fungsi kota tersebut Maninjau tetap menjaga orientasi pengembangannya sebagai pusat wisata yang harus berkelanjutan. Duo Koto merupakan nagari yang cukup berkembang sebagai salah satu nagari produsen padi sawah dan palawija karena dilalui jalur primer jalan provinsi yang menghubungkan Kota Bukittinggi, Lubuk Basung, dan Kabupaten Padang Pariaman, tetapi ternyata masih terdapat cukup banyak situs sejarah budaya di nagari ini. . Orientasi perkembangan budaya masyarakat pada 78 kelompok nagari ini adalah ekonomis praktis. Hal ini menyebabkan eksploitasi berlebihan dalam berbagai aktivitas pertanian dan perikanan. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebihan pada lahan produksi pertanian, pemberian pakan ikan yang berlebihan juga dilakukan pada lahan produksi perikanan. Hal tersebut adalah sebagian indikator bahwa masyarakat telah meninggalkan nilainilai budaya dalam memanfaatkan alam. Bayua adalah wilayah yang didominasi oleh lahan budidaya pertanian tetapi tetap memiliki perkampungan tradisional dan beberapa situs bersejarah budaya yang dijaga dan dilestarikan. Nagari Paninjauan, Koto Kaciak, memiliki kesamaan karakter budaya dari aktivitas masyarakat dalam pola penggunaan lahannya. Sebagai nagari berkembang, peran lembaga adat dan kemasyarakatan dua nagari ini cukup baik dalam upaya melestarikan dan menjaga kegiatan-kegiatan adat kemasyarakatan. Tetapi pada nagari ini tidak terdapat bangunan-bangunan atau situs sejarah budaya yang cukup serius dijaga atau dilestarikan. pengaruh urbanisasi juga terlihat dengan jelas pada pemukiman masyarakat, hampir seluruh bangunan-bangunan pemukiman terpengaruh gaya modernisasi urban. Koto Gadang dan Koto Malintang merupakan pusat lahan produksi pertanian. Perputaran ekonomi juga cukup tinggi nagari ini karena jalur sirkulasi primer melewatinya. Nagari Tanjung Sani cukup tertinggal pengaruh perkembangan, karena aksesibilitas dan letaknya cukup terisolir, karakter budaya pada nagari ini cukup besar dipengaruhi aspek fisik dan biofosik daerahnya, wilayah datar yang sangat sempit dan terbatas membuat masyarakat lebih dekat dengan danau, ancaman longsor membuat masyarakat lebih waspada, cukup kompak dan peduli terhadap alam sekitarnya, hubungan historis perkembangan nagari ini dengan salah satu daerah di nagari Sungai Batang membuat karakter visual lanskap budayanya memiliki kesamaan. 4.5. Analisis Keberlanjutan 4.5.1. SWOT Analisis keberlanjutan dijabarkan secara deskriptif dengan metode analisis SWOT untuk merumuskan strategi-strategi menuju keberlanjutan. Faktor yang diidentifikasi adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal 79 bersumber pada aspek fisik dan biofisik lanskap serta aspek sosial-ekonomi, dan budaya-spiritual masyarakat setempat. Faktor eksternal bersumber pada aspek kebijakan dan peraturan pemerintah di atas tingkat kecamatan dan aktivitas wisata dari luar kawasan Danau Maninjau. Penjabaran lebih spesifik dari identifikasi faktor internal dan eksternal terdapat pada Tabel 12 dan 13. Tabel 12. Tingkat Kepentingan Faktor Internal Faktor Kekuatan (Strength) S1 Secara administratif wilayah tersatukan dalam satu kecamatan sehingga mempermudah pengelolaan dan sistem otonomi nagari dan kelembagaan adat masih dipertahankan mendukung kontrol adat budaya S2 Kondisi fisik geologi, tanah, dan topografi memiliki sejarah khusus dan keragaman bentukan lahan yang unik S3 Memiliki spesies endemik (ikan danau) yang merupakan sumberdaya protein dengan pola hidup mendukung untuk dipanen S4 Kepentingan Kuat (3) Sedang (2) Sangat kuat (4) Kepadatan penduduk yang rendah dengan pola penggunaan lahan masih cukup beragam dan kontribusi produktif skala kabupaten cukup signifikan pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan S5 Tingkat Masyarakat lokal pernah memiliki kearifan lokal sistem pemanfaatan lahan (parak) yang sejenis dengan agroforestry Faktor Kelemahan (Weakness) W1 Memiliki jenis tanah yang rawan erosi dan longsor pada beberapa titik dengan topografi sangat terjal W2 Fenomena tubo balerang (racun belerang) yang semakin sering terjadi dengan akumulasi pencemar lainnya (eutrofikasi) akibat aktivitas budidaya intensif ikan nila (introduksi) semakin banyak pada danau W3 Orientasi masyarakat dalam pemanfaatan lahan ke arah ekonomis praktis jangka pendek kurang memperhatikan keberlanjutan karena tingkat pendidikan petani dan nelayan relatif rendah W4 Sistem inti budaya matrilineal mempengaruhi regenerasi budaya internal menjadi lemah karena kecenderungan merantau meninggalkan kampung halaman tinggi Kuat (3) Kuat (3) Tingkat Kepentingan Lemah (3) Lemah (3) Sangat lemah (4) Sangat lemah (4) 80 Tabel 13. Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal Tingkat Kepentingan Faktor Peluang (Opportunity) O1 O2 Dilalui akses utama jalur provinsi (Bukittinggi-Lb Basung-Padang) membuka peluang ekonomi dan pariwisata Kebijakan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 dengan tujuan „Mewujudkan Agam sebagai Kabupaten Industri Agro, Kelautan, dan Pariwisata, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟ cukup ideal secara legal karena memperhatikan aspek-aspek daya dukung lingkungan T2 Sangat tinggi (4) Tingkat Kepentingan Faktor Ancaman (Threats) T1 Tinggi (3) Dilalui akses utama jalur provinsi dikhawatirkan sebagian masyarakat lokal mengancam ketahanan budaya lokal dengan pengaruh kejutan budaya dan modernisasi Kebijakan yang menetapkan Kawasan Danau Maninjau sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan nila intensif (spesies introduksi) mengancam keseimbangan ekosistem danau dan mendorong petani berubah profesi menjadi nelayan karena lebih instan dan cukup menjanjikan Sangat besar (4) Sangat besar (4) Setelah melakukan penentuan tingkat kepentingan, tahap selanjutnya adalah penentuan bobot (Tabel 14 dan 15). Tabel 14. Pembobotan Faktor Internal Simbol S1 S2 S3 S4 S5 1 3 2 2 S1 3 4 3 3 S2 1 1 1 1 S3 2 1 3 2 S4 2 1 3 2 S5 2 1 3 2 2 W1 2 1 3 2 2 W2 1 1 2 1 1 W3 1 1 2 1 1 W4 W1 W2 W3 W4 2 2 3 3 3 3 4 4 1 1 2 2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 1 1 2 1 1 2 Tabel 15. Pembobotan Faktor Eksternal Simbol O1 O2 T1 3 3 O1 1 2 O2 1 2 T1 1 2 2 T2 Total T2 3 2 2 Total 18 27 10 18 18 18 18 10 10 147 Total 9 5 5 5 24 Bobot 0,12 0,18 0,07 0,12 0,12 0,12 0,12 0,07 0,07 1,00 Bobot 0,38 0,21 0,21 0,21 1,00 81 Kemudian, peringkat dan bobot dari masing-masing faktor dikalikan untuk memperoleh skor pembobotan (Tabel 16 dan Tabel 17) guna menentukan kuadran strategi. Total skor yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE dapat diketahui posisi tapak studi pada suatu kuadran yang menyatakan kekuatan dan kelemahannya melalui matriks internal-eksternal (IE) (Gambar 3). Tabel 16. Skor Pembobotan Faktor Internal S S1 S2 S3 S4 S5 Faktor Kekuatan (Strength) Secara administratif wilayah tersatukan dalam satu kecamatan sehingga mempermudah pengelolaan dan sistem otonomi nagari dan kelembagaan adat masih dipertahankan mendukung kontrol adat budaya Kondisi fisik geologi, tanah, dan topografi memiliki sejarah khusus dan keragaman bentukan lahan yang unik Memiliki spesies endemik (ikan danau) yang merupakan sumberdaya protein dengan pola hidup mendukung untuk dipanen Kepadatan penduduk yang rendah dengan pola penggunaan lahan masih cukup beragam dan kontribusi produktif skala kabupaten cukup signifikan pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan Masyarakat lokal memiliki kearifan lokal sistem pemanfaatan lahan parak yang sejenis dengan agroforestry W Faktor Kelemahan (Weakness) W1 Memiliki jenis tanah yang rawan erosi dan longsor pada beberapa titik dengan topografi sangat terjal W2 Fenomena tubo balerang (racun belerang) yang semakin sering terjadi dengan akumulasi pencemar lainnya (eutrofikasi) semakin banyak pada danau W3 Orientasi masyarakat dalam pemanfaatan lahan ke arah ekonomis praktis jangka pendek kurang memperhatikan keberlanjutan karena tingkat pendidikan petani dan nelayan relatif rendah W4 Sistem inti budaya matrilineal mempengaruhi regenerasi budaya internal menjadi lemah karena kecenderungan merantau meninggalkan kampung halaman tinggi. Bobot Rt Skor 0,12 3 0,37 0,18 2 0,37 0,07 4 0,27 0,12 3 0,37 0,12 3 0,37 bobot Rt Skor 0,12 3 0,37 0,12 3 0,37 0,07 4 0,27 0,07 4 0,27 Total 3,02 82 Tabel 17. Skor Pembobotan Faktor Eksternal O Faktor Peluang (Opportunity) O1 Dilalui akses utama jalur provinsi (Bukittinggi-Lb BasungPadang) membuka peluang pariwisata O2 Kebijakan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 dengan tujuan „Mewujudkan Agam sebagai Kabupaten Industri Agro, Kelautan, dan Pariwisata, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟ cukup ideal secara legal karena memperhatikan aspek-aspek daya dukung lingkungan. Bobot Rt Skor T T1 Bobot Rt Skor T2 Faktor Ancaman (Threats) Dilalui akses utama jalur provinsi dikhawatirkan sebagian masyarakat lokal mengancam ketahanan budaya lokal dengan pengaruh kejutan budaya dan urbanisasi Kebijakan yang menetapkan Kawasan Danau Maninjau sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan nila intensif (spesies introduksi) mengancam keseimbangan ekosistem danau dan mendorong petani berubah profesi menjadi nelayan karena lebih instan dan cukup menjanjikan. 0,38 3 1,13 0,21 4 0,83 0,21 4 0,83 0,21 4 0,83 Total 3,63 Pembobotan dari setiap faktor internal menghasilkan jumlah skor atau nilai yang cukup tinggi (3,02). Hasil pembobotan dari faktor eksternal juga menghasilkan nilai yang tinggi (3,63). Jumlah nilai dari masing-masing faktor tersebut menunjukkan bahwa strategi yang akan disusun seharusnya berorientasi pada strategi pertumbuhan dan pengembangan (growth strategy) yang termasuk pada kuadran I diagram model strategi (Rangkuti, 2009). Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini dapat dicapai melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik di sektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. 83 4.5.2. Rekomendasi Keberlanjutan Hasil dari analisis di atas adalah rumusan strategi atau rekomendasi keberlanjutan, sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya sebagai berikut: 1. Memperkuat dan mengembangkan berbagai kebijakan, peraturan, kontrol aspek legal, dan program solutif dan aplikatif yang lebih spesifik untuk mendukung keberlanjutan lanskap budaya; 2. Meningkatkan kualitas generasi budaya dengan pendidikan budaya sejak dini pada generasi muda, membuka peluang dan memberi insentif pada perantau untuk berinvestasi di kampung halaman, guna meningkatkan kualitas ketahanan budaya yang otomatis mengembangkan sektor pariwisata; 3. Meningkatkan pemahaman dan kualitas sumber daya manusia harus dengan berbagai pendidikan terkait dan sosialisasi ulang mengenai kekayaan alam dan kearifan lokal yang dimiliki, agar terjadi optimalisasi produktifitas (efektif+efisien) pada sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan yang ramah pariwisata, dan tidak mudah terbawa arus modernisasi yang menyebabkan degradasi lanskap budaya; 4. Mengurangi intensitas pencemaran dengan mengurangi budidaya ikan nila (introduksi) intensif di atas danau, karena terdapat subtitusi spesies endemik yang lebih bernilai dan berkelanjutan; 5. Melestarikan spesies endemik danau agar dapat dikembangkan menjadi fokus komoditas budidaya unggulan dan bernilai jual tinggi yang mendukung pariwisata dan keberlanjutan ekosistem danau; 6. Mengoptimalkan kekuatan atau potensi fisik dan biofisik alami melalui peningkatan kualitas pengelolaan lahan dengan sosialisasi ulang sistem pemanfaatan lahan (parak) yang berbasis kearifan lokal adat budaya setempat, guna meningkatkan nilai-nilai lokal dan daya jual wisata minat khusus yang mendukung aktivitas pariwisata berkelanjutan; 7. Melakukan program pengendalian atau mitigasi bencana bersama masyarakat setempat berbasis budaya atau kearifan lokal guna meningkatkan karakter khusus yang mendukung aktivitas pariwisata berkelanjutan; 84 8. Mengembangkan, mempertahankan, dan mengelola kualitas layanan dari objek-objek wisatanya masing-masing berbasis pada adat-budaya nagari dan kearifan lokal untuk mengoptimalkan profit dari pariwisata. 85 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Karakteristik lanskap alami Danau Maninjau adalah danau yang terbentuk dari kawah atau kaldera gunung purba. Bentukan lahan ini membuat rona lanskap lingkar Danau Maninjau memiliki keunikan tersendiri. Barisan bukit-bukit terjal yang mengelilingi batas terluar kecamatan ini menjadi pembatas atau penyangga fisik alami yang masih cukup ditumbuhi hutan primer. Ketinggian (elevasi) lahan yang mengarah semakin turun ke bawah dan terpusat ketengah (danau) membuat semua aliran juga mengarah terpusat ke danau. Nilai kemiringan lahan di lingkar Danau Maninjau yang beragam menjadikan pemanfaatannya juga beragam dan ini cukup mempengaruhi ekosistem alami danau. Salah satu aspek indikator ekosistem alami danau terpengaruhi adalah jumlah populasi spesies endemik ikan rinuak dan bada yang semakin menurun. Karakteristik lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau sesuai dengan unit sistem yang berlaku, yaitu sistem nagari. Nagari secara admnistratif terbentuk dari upaya penjagaan nilai filosofi budaya Minangkabau pada aspek fisik dan biofisik. Oleh karena hal tersebut, nagari merupakan unit budaya yang diformalkan dan menjadi satuan unit batas pemerintahan administratif di bawah tingkat kecamatan. Terdapat delapan nagari yang mengelillingi dan bersentuhan langsung dengan danau, dan satu nagari hasil pemekaran yang tidak bersentuhan dengan danau. Sembilan nagari ini disatukan oleh wilayah administrasi Kecamatan Tanjung Raya, dengan Nagari Maninjau sebagai pusat atau ibu kota kecamatan. Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), dihasilkan total akumulasi nilai setiap nagari yang menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah nagari dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya yanitu Bayua, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Paninjauan, dan Tanjung Sani dengan nilai sedang. Rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar Danau Maninjau harus berorientasi pada keberlanjutan. Analisis keberlanjutan dengan metode SWOT menghasilkan strategi pertumbuhan (growth strategy) dengan 86 konsentrasi melalui integrasi vertikal. Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik disektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. 5.2. Saran Masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak terkait sebaiknya saling bekerja sama untuk menjaga keberlanjutan lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau. Pemerintah dapat memperkuat dan mengembangkan berbagai kebijakan, peraturan, kontrol aspek legal, dan program solutif dan aplikatif yang lebih spesifik untuk mendukung keberlanjutan lanskap budaya. Masyarakat sebaiknya meningkatkan kualitasnya sehingga dapat membangun pertumbuhan lanskap budaya yang berkelanjutan melalui berbagai aspek yang terintegrasi. Rekomendasi keberlanjutan hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam mengambil tindakan untuk menjaga keberlanjutan lanskap budaya wilayah lingkar Danau Maninjau ini secara khusus dan lanskap budaya lainnya secara umum. 87 DAFTAR PUSTAKA Badjoeri, M. 2004. Kajian pendahuluan profil vertikal kelimpahan bakteri pada kolom air dan sedimen di Danau Maninjau, Sumatera Barat. Dalam: W. B. Setyawan, P. Purwati, S. Sunanisari, D. Widarto, R. Nasution, dan O. Atijah (eds.), Interaksi daratan dan lautan: pengaruhnya terhadap sumber daya dan lingkungan. Prosiding Simposium Interaksi Daratan dan Lautan, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarata, Indonesia, 353-368. [BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Agam. 2010. Lubuk Basung: RTRW Kabupaten Agam 2010-2030. Basyir, D. A. 2008. Evaluasi Keberlanjutan Masyarakat Desa di Daerah Aliran Sungai Cisadane Menuju Ecovillage. [skripsi]. Bogor: Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. [BPS] Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Agam. 2007. Lubuk Basung: Kecamatan Tanjung Raya Dalam Angka 2007. David F. 2005. Strategic Management. Di dalam; Dewi NK, editor. Nature of Strategy Analysis and Choice. [terhubung berkala]: http://akusukamenulis.wordpress.com/. [7 Jan 2012]. [G E N] Global Ecovillage Network. 2011. Community Sustainability Assessment. [terhubung berkala]. http://gen.ecovillage.org [19 Februari 2011]. Longstreth, R. 2008. Urban Landscapes. London: University of Minnesota Press. Newman,P dan Jennings,I. 2008. Cities as Sustainable Ecosystem. Washington DC: Island Press. Nurisjah, S. dan Q. Pramukanto. 2001. Perencanaan Kawasan Untuk Pelestarian Lanskap dan Taman Sejarah. Program Studi Arsitektur Pertamanan, Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB (tidak dipublikasikan). Bogor. Rankuti, F. 2009. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi. Rasyid, F. 2008. Karakteristik dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lanskap Budaya Nagari Kamang Mudik di Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Suwigno, P. 2003. Ekosistem Perairan Pedalaman, Tipologi dan Permasalahannya. [laporan riset]. Bogor: Pusat Penelitian Biologi LIPI 88 LAMPIRAN 89 Lampiran 1. Surat Rekomendasi Permohonan Data Penelitian 90 Lampiran 2. Surat Rekomendasi Izin Penelitian / Observasi 91 Lampiran 3. Kuisioner Persepsi dan Preferensi Masyarakat 92 Lampiran 4. Draft Wawancara Sejarah Asal-usul Kampung DRAFT WAWANCARA SEJARAH ASAL-USUL KAMPUNG Nama Kampung : ……………………………………………… Tanggal Wawancara : ……………………………………………… Nama : ……………………………………………… Umur : ……………………………………………… Pekerjaan : ……………………………………………… Nara Sumber Bagaimana asal-usul terbentuknya Kampung ini? ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... Sejak kapan Kampung ini mulai dihuni ? ................................................................ Siapa yang pertama kali tinggal di sini? Dari mana mereka berasal? (kampung lain/desa lain/dari luar) ………………………………………………… Sejak kapan daerah ini mulai berkembang menjadi kampung? ............................................................................................................. Bagaimana kira-kira kondisi Kampung ini sebelum dihuni? (hutan/semak-belukar/perkebunan/sawah/tegalan/dll) ………………………………………………… Dari mana Bapak/Ibu tahu mengenai hal-hal di atas? ............................................. Lampiran 5. Data Skoring Parameter Sejarah, Spiritual, dan Budaya 93 94 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Budaya dan lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk keragaman ini tidak hanya dari akar budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari dinamisnya intrusi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa trend budayanya masing-masing. Kekayaan ini menyumbangkan berbagai karakter dari berbagai aspek khususnya nilai karakter lanskap budaya. Suatu kebudayaan dari masyarakat atau komunitas lokal akan semakin sulit diidentifikasi karakternya apabila terjadi penurunan nilai budaya atau sejarah dan juga nilai fisik alami yang terkandung, mengingat interaksi antar beragam kelompok manusia dan lanskap semakin intensif dan beragam bentuknya. Oleh karena hal di atas, penting untuk dilakukan kajian mengenai interaksi manusia dan lanskap, yang selanjutnya disebut sebagai lanskap budaya, sebagai bahan dasar pengembangan berkelanjutan dan upaya pelestarian dari berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Danau Maninjau di Sumatera Barat merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar 99,5 km² atau 9950 Ha, dengan kedalaman rata-rata 157 m, volume air 10.4 km³, dan keliling 66 km. Danau Maninjau berbentuk cekungan yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang tersusun seperti dinding. Kekayaan yang tersimpan di alam Maninjau beserta danaunya membuat hubungan antara manusia dan alam semakin dekat. Lahan subur, iklim yang nyaman, sumber makanan dan air yang berlimpah, serta banyak kekayaan lainnya. Kebutuhan akan sumber daya alam di sini pada awalnya terbentuk hanya atas alasan bertahan hidup, tetapi perkembangan zaman membuat pola hidup terus berkembang dan membentuk beragam alasan lainnya. Hal tersebut membentuk beragam karakter lanskap budaya yang tumbuh dan berkembang di lingkar Danau Maninjau hingga saat ini. Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau 2 kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Filosofi dasar „Alam takambang jadi guru‟ dipegang dan diaplikasikan dengan baik dalam bertindak. Mereka meninjau cukup lama dari bukit-bukit yang tinggi di batas luar Maninjau, meninjau alam di bawah apakah akan layak dihuni dan tidak membahayakan kehidupannya. Hanya lahan-lahan yang cukup datar dipilih sebagai lahan budidaya. Hutan primer di bukit-bukit terjal yang mengelilingi danau dijaga agar tidak terjadi longsor. Sumber protein dari danau telah cukup melimpah dengan beragam spesies endemik akan meledak populasinya pada waktu-waktu tertentu, sehingga dapat dengan mudah dipanen tanpa perlu budidaya atau interaksi intensif pada danau, sehingga kejernihan danau tetap terjaga. Ekosistem darat dan danau saling mendukung. Pola budaya yang sangat berbeda terasa saat ini. Masyakat di lingkar Danau Maninjau saat ini tampaknya sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu. Intensitas interaksi (derajat pengubahan lanskap alami) oleh masyarakat terhadap lanskap lingkar Danau Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Pemukiman dan lahan-lahan budidaya dikembangkan pada lahan-lahan curam bekas hutan yang menyangga tebing dan pada bibir danau. Interaksi langsung tidak hanya dilakukan di daratan tetapi juga pada danau, dengan budidaya sistem jala apung atau keramba yang semakin intensif dilakukan. Hal ini mengakibatkan akumulasi unsur hara berlebihan pada air danau dan menyaingi populasi spesies endemik Danau Maninjau. Inilah potret lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau saat ini dan keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan. Permasalahan tersebut sangat mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup dan bepijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspekaspek yang mempengaruhi keberlanjutannya. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau ini. Sangat penting untuk mengetahui berbagai karakter dan menilai keberlanjutan lanskap budaya yang terbentuk dan berkembang sebagai dasar pedoman atau rekomendasi pemerintah, masyarakat, dan semua pihak terkait 3 dalam menentukan arah perencanaan dan pengembangan lanskap lingkar Danau Maninjau secara berkelanjutan. 1.2. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi unit lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau, 2. Menganalisis keberlanjutan lanskap budaya tersebut, 3. Menyusun rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan. 1.3. Manfaat Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah: 1. Menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Kabupaten Agam, atau pemerintah setempat, beserta pihak-pihak yang terkait dalam merencanakan, mengembangkan, dan mengelola lanskap Danau Maninjau 2. Sebagai informasi yang melengkapi pengetahuan dan menambah wawasan tentang lanskap badaya Danau Maninjau dan membuka kesadaran untuk menjaga atau memelihara keberlanjutannya. 1.4. Kerangka Pikir Lanskap alami Danau Maninjau, suatu dasar ekologis suatu ekosistem yang akan berkembang didalamnya, tidak akan pernah lepas dari sentuhan-sentuhan manusia dengan aspek-aspek sosial ekonomi dan budaya spiritual yang dibawanya. Aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya merupakan tiga pilar keberlanjutan yang juga dijadikan dasar oleh Global Ecovillage Network (GEN) sebagai acuan dalam metode Penilaian Keberlanjutan Masyarakat yang umumnya dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA). Hasil interaksi antara manusia dan alam ini disebut sebagai lanskap budaya. Lanskap budaya Danau Maninjau seiring perkembangan zaman dan pertumbuhannya akan terus membawa dampak terhadap keberlanjutannya. Dampak yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah penurunan kualitas budaya dan juga kualitas fisik lanskapnya. Hal tersebut akan menjadi dasar kajian pada penelitian ini. Hasil analisis atau kajian ini berupa rekomendasi dasar pertimbangan pengembangan, 4 pelestarian, dan juga pengelolaan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau yang berkelanjutan (Gambar 1). Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lanskap merupakan suatu bentang alam dengan berbagai karakteristik yang terdefinisi secara harmoni menurut seluruh indra manusia (Simonds,2006). Definisi umum ini membuat pengertian lanskap dapat terdiferensiasi menurut skala tertentu, mulai dari skala mikro sebatas taman kantong sampai skala makro dalam tataran regional dan universal. Budaya merupakan kesatuan makna dari hasil cipta, karya, dan karsa, yang dalam hal ini, manusia. Budaya pasti bersifat dinamis karena pada dasarnya kebudayaan merupakan hasil peradaban dari setiap masa. Hal ini tersimpulkan dari tulisan Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (1986) yang isinya sebagai berikut, soal-soal yang paling tinggi nilainya dalam hidup manusia dan yang secara universal ada dalam tiap kebudayaan di dunia paling sedikit menyangkut lima hal, yaitu: 1. hakekat dari hidup manusia 2. hakekat dari karya manusia 3. hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu 4. hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya 5. hakekat dari hubungan manusia dengan sesama manusia. Lanskap budaya sering diartikan sebagai sinonim dari lanskap buatan atau lanskap hasil rancangan, seperti taman, boulevard, kampus, rekayasa tapak, penanaman dan sebagainya. Lanskap budaya, menurut Plantcher dan Rossler (1995), merupakan sebuah model interaksi antara manusia, sistem sosial, dan cara mereka mengorganisasi ruang. Beberapa definisi lain mendefinisikan lanskap budaya sebagai wujud fisik dari setting perkotaan atau kawasan yang diciptakan oleh suatu etnis atau ras tertentu. Menurut Longstreth (2008) ketepatan dasar arti dari konsep lanskap budaya adalah perbedaan atau pembeda dari suatu tempat yang tidak cukup dinilai hanya dari lingkup kecil skala halaman rumah. Thisler (dalam Nurisjah dan Pramukanto, 2001) mendefinisikan lanskap budaya sebagai suatu kawasan geografis yang menampilkan ekspresi lanskap alami oleh suatu pola kebudayaan tertentu. 6 Identitas atau karakter lanskap budaya dapat dijabarkan melalui tiga kelompok komponen, yaitu konteks, organisasi, dan elemen (Melnick, 1983). Penjabaran dari masing-masing kelompok komponen tersebut antara lain sebagai berikut: 1. lanskap budaya dalam kelompok konteks a. sistem organisasi lanskap budaya b. kategori penggunaan lahan secara umum c. aktivitas khusus dari penggunaan lahan 2. lanskap budaya dalam kelompok organisasi a. hubungan bentuk bangunan dangan elemen mayor alami b. sirkulasi jaringan kerja dan polanya c. batas pengendalian elemen d. penataan tapak 3. lanskap budaya dalam kelompok elemen a. hubungan pola vegetasi dengan penggunaan lahan b. tipe bangunan dan fungsinya c. bahan dan teknik konstruksi d. skala kecil dari elemen e. makam atau situs simbolik sejenisnya f. pandangan sejarah dan kualitas persepsi. Lanskap sejarah budaya memiliki nilai yang penting sebagai jatidiri dan kebanggaan suatu bangsa. Menurut Goodchild (1990), lanskap sejarah harus dikonservasi karena : 1. sesuatu yang penting dan merupakan bagian integral dari warisan budaya 2. menyediakan fakta fisik dan arkeologi dari warisan sejarah dan budaya 3. memberi kontribusi untuk kesinambungan perkembangan budaya 4. memberi kontribusi pada keragaman yang ada 5. memberikan kenyamanan bagi masyarakat, beristirahat, bersenang-senang, menyegarkan jiwa, atau menemukan inspirasi 6. mermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kenyamanan masyarakat serta dapat meningkatkan dan mendukung kegiatan wisata. 7 2.2. Lanskap Danau Maninjau Danau merupakan suatu istilah untuk salah satu jenis ekosistem perairan darat. Menurut Suwigno (dalam Ubaidillah dan Maryanto,2003) perairan dikatakan bertipe danau, apabila perairan tersebut dalam dengan tepian curam. Danau cenderung memiliki kejernihan air yang lebih baik dibanding rawa dan sungai. Tumbuhan air pada danau terbatas hanya pada tepian. Pada umumnya danau bercirikan sebagai berikut: memiliki kecuraman tinggi atau terjal, kedalaman lebih dari 100 m, fluktuasi permukaan air + 1-2 m, daerah tangkap hujan sempit, jumlah teluk sedikit, garis pantai pendek, masa simpan air lama, dan pengeluaran (outlet) air dari atas. Ciri-ciri tersebut membedakan kondisi ekologis danau dan sekelilingnya dengan kondisi ekologis perairan tergenang di darat lainnya seperti rawa, situ, dan waduk. Salim (1968) menggambarkan Danau Maninjau sebagai nikmat yang tak ternilai dan tergantikan, karena tak ada tempat lain yang menyamainya. Semburan kilat cahaya matahari berpadu dengan biru lagit tampak pada permukaan danau, refleksi yang membuat seolah-olah daratan dan bukit-bukit di lingkar danau ini melayang. Sebelum memasuki Nagari Maninjau, akses utama yang dilalui adalah kelok 44 dari setiap tikungan atau kelok yang dilalui akan terlihat pemandangan jernihnya air danau yang membiru. Dilihat dari dekat, semakin jelas jernihnya air danau pada dasar yang dangkal terlihat jelas. Bunyi riak air dan angin membentuk buih-buih ombak yang seolah menghibur masyarakat di sekitarnya. Seniman dan para pujangga akan banyak mendapat bahan inspirasi dari pemandangan Danau Maninjau ini, bahkan mungkin akan kehabisan warna untuk melukiskan keindahannya. Berbagai keindahan tersebut disampaikan sebagai gambaran umum kondisi Danau Maninjau pada masa lampau. Kondisi Danau Maninjau akhir-akhir ini, menurut Badjoeri (dalam Setyawan, 2004), telah mengalami berbagai macam degradasi dan gejala-gejala penurunan kualitas alaminya. Hasil analisis Badjoeri menunjukkan bahwa Danau Maninjau telah mengalami eutrofikasi, telah terjadi penumpukan bahan organik dan ketidakseimbangan proses dalam siklus karbon pada dasar danau, dan terjadi perputaran arus atau turbulensi pada sistem perairan yang menyebabkan oksigen terdapat sampai ke dasar perairan atau disebut juga nitrifikasi pada dasar danau. 8 Penurunan kualitas air Danau Maninjau ini juga disebabkan oleh pembuatan bendungan PLTA di Batang Antokan sebagai outlet Danau Maninjau yang menyebabkan pembalikan massa air dari kolom air bagian bawah yang anaerobik dan mengandung gas beracun, pembuatan karamba budidaya ikan, dan peningkatan aktivitas-aktivitas berlimbah domestik disekitar danau, seperti pertokoan, hotel, cafe, rumah makan, rekreasi masal, pasar, dan sebagainya. Penurunan kualitas jasa lingkungan ini merupakan akibat dari semakin intensifnya tekanan aktivitas sosial ekonomi masyarakat saat ini. 2.3. Sistem Adat Budaya Minangkabau Menurut Ismael dalam Rasyid (2008), Minangkabau memiliki hierarki sistem adat yang terdiri dari unsur inti (core element) dan unsur turunan (peripheral element). Masing-masing unsur ini terbagi lagi menjadi dua tingkatan. Unsur inti (core element) adat terbagi menjadi adat nan sabana adat (adat yang benar-benar adat) pada tingkat filosofis dan adat nan diadatkan (adat yang diadatkan) pada tingkat teoritis. Unsur inti (core element) dari adat ini tidak dapat diubah dalam kondisi apapun karena merupakan dasar atau acuan dari sistem adat tersebut. Tataran di bawahnya, elemen adat turunan (peripheral element) terbagi menjadi adat nan teradat (adat yang teradat) pada tingkat metodologis dan adat istiadat (adat yang terlihat) pada tingkat praktis. Elemen turunan ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan aktual masyarakat dan umumnya berfungsi praktis dalam menjaga hubungan antar masyarakat, kekeluargaan internal, momen-momen atau kejadian penting, dan kehidupan sehari-hari. Skema sistem adat ini digambarkan dalam diagram di bawah (Gambar 2). Unsur inti dari piramida sistem adat Minangkabau bersifat tetap dan mutlak. mencakupi tataran filosofis dan metodologis, adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan. Adat nan sabana adat adalah filosofi kepastian alami, acuan terhadap ketentuan-ketentuan alam, yang berlaku sepanjang waktu. Masyarakat Minangkabau dituntut menjadikan alam sebagai guru yang menyiratkan ilmu pengetahuan. Adat nan diadatkan pada tataran teoritis merupakan adat yang disusun dan diwariskan oleh nenek moyang pendahulu Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Bentuk dari adat nan diadatkan ini adalah pola 9 adat dari dua keselarasan induk suku Bodi Caniago dan Koto Piliang yang berupa sistem garis keturunan matrilineal. Gambar 2. Sistem Adat Minangkabau (Ismael dalam Rasyid, 2008) Unsur turunan dari tataran filosofis dan teoritis pada sistem adat Minangkabau ini adalah tataran metodologis dan praktis, adat nan teradat dan adat istiadat. Adat nan teradat adalah peraturan kesepakatan dari para penghulu pemimpin suku atau kaum dari setiap nagari. Bentuk dari adat nan teradat ini adalah kata-kata adat, adat salingka nagari, harato salingka kaum (adat berlaku dalam nagari, harta pusaka berlaku selingkar kaum). Segmen metodologis ini berlaku pada skala nagari, sehingga kesepakatan dari masing-masing internal nagari tidak mutlak sama, disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan hak otonomi setiap nagari. Adat istiadat merupakan kebiasaan dan ciri khusus dalam aspek-aspek praktis kehidupan sehari-hari, kesenian, permainan rakyat, bentuk pakaian, tatacara dalam pembangunan rumah, penggunaan rumah adat, upacaraupacara adat, dan sebagainya. 2.4. Keberlanjutan Lanskap Budaya Suatu keberlanjutan dapat dijelaskan dari sisi kualitatif secara deskriptif yang berwujud kenaikan secara eksponensial dari kehidupan seseorang atau organisme dalam suatu sistem (Wikipedia 2010). Pembangunan berkelanjutan dalam Laporan Burtland tahun 1987 (dalam Basyir, 2008) dijelaskan sebagai 10 pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa harus berkompromi dengan kemampuan generasi masa depan agar tetap terpenuhi kebutuhannya. Menurut Basyir (2008), konsep keberlanjutan berkaitan dengan ekosistem, penggunaan sumber daya lingkungan, serta pertumbuhan populasi. Analisis ekosistem dan penilaian siklus hidup perlu dilakukan dalam upaya pemanfaatan secara lestari sumber daya alam. Kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai pertumbuhan populasi penduduk dan kebutuhannya pun harus mengusung konsep keberlanjutan. Newman dan Jennings (2008) menyebutkan bahwa, keberlanjutan adalah tujuan bersama. Tujuan bersama harus diwujudkan dengan terintegrasi dan jangka panjang. Visi jangka panjang adalah titik awal pemicu perubahan positif ke arah keberlanjutan. Beberapa kata kunci yang harus diperhatikan dan terintegrasi untuk mencapai keberlanjutan antara lain, intergenerasi, sosial, keseimbangan politik, dan setiap individu. Tujuan ini seharusnya mengekpresikan aspirasi bersama dari semua pihak agar dapat dicapai keseimbangan atau keadilan. Akses seimbang untuk setiap sumberdaya baik manusia dan alam, sebaik mungkin berbagi dalam tanggung jawab bersama menjaga nilai-nilai untuk generasi mendatang. Visi keberlanjutan akan memotivasi masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan semua yang memiliki tujuan bersama. Landasan untuk strategi pengembangan, program aksi, dan semua proses untuk mewujudkan tujuan tersebut akan terbentuk dengan sendirinya jika memiliki visi yang sama. Keberlanjutan merupakan istilah sebagai representasi dari suatu roda kehidupan yang terkait dengan dimensi waktu. Keberlanjutan dapat dikaitkan dengan suatu lanskap atau bentang alam (ekologis), sosial-ekonomi, dan spiritual budaya masyarakat. Keberlanjutan dapat dipahami sebagai kata sifat yaitu berkelanjutan. Lanskap yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari masyarakatnya yang juga menjunjung nilai-nilai keberlanjutan. Keberlanjutan lanskap budaya dapat disimpulkan sebagai tingkat atau nilai hasil dari interaksi sosial ekonomi budaya masyarakat dan lanskapnya. Lanskap budaya yang berkelanjutan seharusnya dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dan menuangkan segala potensi terbesarnya di masa ini untuk persiapan masa depan, 11 dengan tetap menjaga kelestarian pendukung kehidupan masa depannya yaitu lanskap sebagai wadah ekosistem. Penilaian keberlanjutan masyarakat telah berkembang di negara-negara yang tergabung dalam jaringan global desa berkelanjutan atau dikenal dengan Global Ecovillage Network (GEN). Penilaian keberlanjutan masyarakat yang dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA) ini merupakan suatu cara atau alat untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan lanskap budaya melalui pendekatan yang dimulai dari penggalian pemahaman masyarakat terhadap masing-masing parameter keberlanjutan dari tiga pilar atau aspek keberlanjutan. Tingkat keberlanjutan masyarakat dilihat dari tiga pilar ecovillage menurut GEN yaitu aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya. Kriteria-kriteria untuk setiap aspek telah ditetapkan oleh GEN sebagai parameter tingkat keberlanjutan masyarakat yang akan diteliti. Berdasarkan GEN, parameter keberlanjutan yang digunakan untuk setiap aspek antara lain sebagai berikut: 1. Aspek Ekologis, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Masyarakat memiliki ikatan mendalam dengan tempat tinggal mereka, batas-batas, kekuatan, kelemahan, dan irama kehidupan yang selaras menjadi bagian dari total ekosistem b. Kehidupan alami beserta proses dan sistemnya dihormati, termasuk margasatwa dan habitat tumbuhan c. Gaya hidup manusia yang lebih meningkatkan integritas lingkungan dan tidak mengurangi atau merusaknya d. Pangan utama diperoleh dari sumber lokal dan kawasan alami, organik, bebas zat pencemar, dan memberi keseimbangan gizi e. Struktur-struktur dirancang dengan memadukan dan untuk melengkapi lingkungan alami, material, bahan, dan metode yang ramah lingkungan, konsep bioregional dan ekologis (dapat diperbaharui dan tidak beracun) f. Konservasi dipraktikan dalam berbagai metode dan sistem transportasi g. Konsumsi dan penghasil limbah diminimalkan h. Tersedia air bersih yang dapat diperbaharui, dengan masyarakat yang menghormati dan waspada dalam memelihara sumbernya 12 i. Limbah manusia dan air limbah didaur ulang untuk manfaat lingkungan j. Sumber energi yang tidak beracun dan dapat diperbaharui dimanfaatkan sebaik mungkin, teknologi inovatif tidak dieksploitasi atau dibiarkan tetapi digunakan untuk kebaikan bersama. 2. Aspek Sosial-Ekonomi, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Terdapat suatu kestabilitasan sosial dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, aman dan bebas dalam mengekspresikan diri untuk kepentingan bersama b. Tersedia ruang dan sistem yang mendukung dan memaksimalkan komunikasi, relasi, dan produktivitas c. Terdapat peluang atau teknologi yang cukup untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas secara tepat d. Bakat, keterampilan, dan sumber daya masyarakat lainnya dipertukarkan secara bebas dan ditawarkan sebagai daya jual dan pelayanan terhadap masyarakat luar e. Keragaman dihormati sebagai sumber kesehatan mental, vitalitas, dan kreativitas di lingkungan alam dan hubungan-hubungan masyarakat f. Penerimaan, kerakyatan, dan keterbukaan sebagai pemahaman terhadap pentingnya keragaman yang memperkaya pengalaman sosial dan lingkungan serta meningkatkan rasa keadilan g. Pertumbuhan individu, pembelajaran, dan kreativitas dihargai dan dipelihara sebagai peluang untuk belajar dan mengajarkan yang luas dan bervariasi h. Pilihan-pilihan untuk memperbaiki, memelihara, dan meningkatkan kesehatan (fisik, mental, emosi, dan spiritual) tersedia dan terjangkau masyarakat i. Aliran sumber daya dalam arti memberi dan menerima modal, barang, atau jasa dapat mengimbangi kebutuhan dan keinginan masyarakat, jika kelebihan hasil saling berbagi. 3. Aspek Spiritual Budaya, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika: a. Kekuatan budaya dilestarikan melalui aktivitas seni, seremoni ritual budaya, dan perayaan-perayaan 13 b. Kreativitas dan seni dilihat sebagai ungkapan kesatuan hubungan timbal balik dengan alam semesta c. Menghargai waktu luang d. Terdapat rasa hormat dan dukungan terhadap manifestasi kespiritualan dalam berbagai cara e. Tersedia peluang-peluang untuk pengembangan jati diri f. Gembira dan memiliki ekspresi yang dikembangkan melalui ritual atau perayaan g. Kualitas kebersamaan dalam hati masyarakat memberikan kesatuan dan integritas dalam kehidupannya, hal ini merupakan suatu persetujuan dan visi bersama tentang komitmen saling berbagi h. Adanya kapasitas dan fleksibilitas cepat tanggap dalam menghadapi suatu masalah i. Pemahaman menyeluruh tentang keberadaan dan hubungannya dengan elemen di luar lingkungannya j. Secara sadar masyarakat memilih berperan untuk menciptakan dunia yang damai, penuh cinta, dan lestari. Analisis keberlanjutan dapat dilakukan secara deskriptif dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dan dilakukan untuk mengetahui keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau. Metode SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari segi internal, dan mengidentifikasi peluang dan ancaman dari segi eksternal. Langkah kerja dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: a. Identifikasi Faktor Internal dan Faktor Eksternal, Tahap identifikasi faktor internal digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dengan cara mendaftarkan semua kekuatan dan kelemahan yang sesuai dengan dasar studi. untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi hubungan antara area-area tersebut. Tahap identifikasi faktor eksternal digunakan untuk mengetahui ancaman dan peluang yang dimiliki dengan cara mendaftarkan ancaman dan peluang (David, 2005). 14 Tabel 1. Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Internal Simbol Faktor Internal Tingkat Kepentingan Kekuatan (Strengths) S1 S2 Sn Kelemahan (Weaknesses) W1 W2 Wn Sumber: David (2005) Tabel 2. Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal Simbol Faktor Eksternal Tingkat Kepentingan Peluang (Opportunitiess) O1 O2 On Ancaman (Threats) T1 T2 Tn Sumber: David (2005) b. Penilaian Faktor Internal dan Eksternal, Tahap ini dilakukan pemberian simbol terhadap faktor-faktor yang telah diidentifikasi. Setelah melakukan penentuan tingkat kepentingan selanjutnya adalah penentuan bobot. Menurut David (2005), penentuan bobot setiap variabel menggunakan skala 1-4, yaitu sebagai berikut.  Nilai 1 jika indikator faktor horizontal kurang penting daripada indikator vertikal,  Nilai 2 jika indikator faktor horizontal sama penting dengan indikator faktor vertikal, 15  Nilai 3 jika indikator faktor horizontal lebih penting daripada indikator faktor vertikal,  Nilai 4 jika indikator faktor horizontal sangat penting daripada indikator faktor vertikal. Tabel 3. Formulir Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal Faktor Internal/Eksternal A B C D Total Bobot A x1 α1 B x2 α2 C x3 α3 D x4 α4 Total Sumber: Kinnear dan Taylor (1991) Langkah selanjutnya setelah penentuan bobot adalah menentukan bobot akhir masing-masing variabel dapat ditentukan dengan menggunakan rumus (Kinnear dan Taylor, 1991): αi Dengan: αi = bobot variabel ke-I, i c. = 1, 2, 3,..., n, = xi ∑ni=1 xi xi = nilai variabel ke-I, n = jumlah variabel. Pembuatan Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), Menurut Rangkuti (1997), nilai peringkat pada faktor positif (kekuatan dan peluang) berbanding terbalik dengan faktor negatif (kelemahan dan ancaman). Pada faktor positif, nilai 4 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sangat penting, nilai 3 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang penting, nilai 2 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang cukup penting, dan nilai 1 berarti faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tidak penting. Penilaian faktor negatif adalah sebaliknya. Kemudian, peringkat dan bobot dari masing-masing faktor dikalikan untuk memperoleh skor pembobotan (Tabel 4 dan Tabel 5). 16 Tabel 4. Formulir Matriks IFE Simbol Faktor Internal Bobot Peringkat Skor Bobot Peringkat Skor Kekuatan (Strengths) S1 S2 Sn Kelemahan (Weaknesses) W1 W2 Wn Total Sumber: Rangkuti (1997) Tabel 5. Formulir Matriks EFE Simbol Faktor Eksternal Peluang (Opportunities) O1 O2 On Ancaman (Threats) T1 T2 Tn Total Sumber: Rangkuti (1997) Dari total skor yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE dapat diketahui posisi tapak studi pada suatu kuadran yang menyatakan kekuatan dan kelemahannya melalui matriks internal-eksternal (IE) (Gambar 3). Menurut David (2005), matriks IE memiliki sembilan kuadran yang dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut: 1. Grow and build strategy (Kuadran I, II, dan III) Diperlukan strategi yang bersifat intensif dan agresif. Fokus dari strategi ini adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk. 17 2. Hold and maintain strategy (Kuadran IV, V, dan VI) Fokus strategi ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. 3. Harvest and divest strategy (Kuadran VII, VIII, dan IX) Fokus strategi ini adalah perlu dilakukan manajemen biaya yang agresif saat biaya peremajaan bisnis untuk merevitalisasi bisnis tergolong rendah. Total Skor IFE Total Skor EFE 4 tinggi tinggi 3 sedang 2 rendah I II III IV V VI VII VIII IX 1 3 sedang 2 rendah 1 Gambar 3. Kuadran Strategi d. Matriks SWOT Faktor internal dan eksternal yang telah diidentifikasi dapat dimasukkan ke dalam tabel yang sesuai dengan matriks SWOT (Tabel 6). Matriks ini menggambarkan hubungan antara kekuatan dan kelemahan dengan peluang dan ancaman. Menurut David (2005), hasil dari matriks SWOT ini adalah alternatif strategi manajemen lanskap yang dapat meningkatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan ancaman dengan empat alternatif strategi sebagai berikut. 1. Strategi SO (Strengths-Opportunities) Strategi ini memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal 2. Strategi ST (Strengths-Threats) Strategi ini menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal 3. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities) Strategi ini bertujuan memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal 18 4. Strategi WT (Weaknesses-Threats) Strategi ini bertujuan mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Tabel 6. Formulir Matriks SWOT Eksternal Internal Opportunities (Peluang) Threats (Ancaman) Strengths (Kekuatan) SO ST Weaknesses (Kelemahan) WO WT Sumber: David (2005) e. Pembuatan Tabel Peringkat Alternatif Strategi Penentuan prioritas dilakukan kepada beberapa alternatif strategi yang diperoleh dari matriks SWOT. Tahap ini dilakukan dengan cara menjumlahkan skor dari faktor-faktor penyusunnya (Tabel 7). Strategi yang memiliki skor tertinggi merupakan strategi yang menjadi prioritas utama. Tabel 7. Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi Alternatif Strategi Keterkaitan dengan Unsur SWOT SO1 SO2 SOn ST1 ST2 STn WO1 WO2 WOn WT1 WT2 WTn Sumber: Saraswati (2010) Skor Peringkat 19 III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan selama sembilan minggu, mulai akhir bulan Februari 2011 sampai dengan April 2011. Kegiatan penelitian ini dilakukan di kawasan nagari-nagari Lingkar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Secara geografis Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat terletak antara 00°21' sampai dengan 00°29' Lintang Selatan dan 99°52' sampai 100°33' Bujur 'I'imur (Gambar 4). Gambar 4. Lokasi Penelitian 20 3.2. Batasan Penelitian Penelitian ini merupakan kajian lanskap budaya yang merupakan karakteristik lanskap hasil interaksi antara budaya manusia dan lanskap alaminya. Penelitian dilakukan dengan batasan lokasi pada nagari-nagari di wilayah lingkar Danau Maninjau yang termasuk dalam kesatuan Kecamatan Tanjung Raya. Kajian yang dilakukan mencakup karakteristik fisik lanskap alami, aspek sosial-budaya, dan aspek eksternal yang terkait dengan lanskap Danau Maninjau. 3.3. Tahapan dan Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap berupa inventarisasi, analisis, dan sintesis (Gambar 5). Gambar 5. Tahapan Penelitian 3.3.1. Inventarisasi Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data. Data terkait dikelompokkan sesuai jenis dan sumbernya yaitu Fisik dan Biofisik, Sosial-Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat, serta Pengaruh Eksternal yang mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau (Tabel 8). Data awal untuk memulai kajian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari pihak terkait seperti 21 Bappeda Kabupaten Agam dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Agam 2010-2030 dan Pemerintah Kecamatan dan NagariNagari setempat. Selanjutnya dilakukan observasi lapangan dan verivikasi data sekunder yang telah didapatkan dengan kondisi aktual. Tabel 8. Jenis dan Sumber Data Jenis Data 1. Data Fisik dan Biofisik - Wilayah Administrasi Aksesibilitas dan Sirkulasi Iklim Geologi, Tanah, dan Topografi Hidrologi Penutupan dan Penggunaan Lahan Sumber Bappeda Kab. Agam - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan - Dok. RTRW Kab. Agam + pengamatan –Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat 2. Sosial - Demografi Lembaga Kemasyarakatan Sistem Adat dan Budaya Sejarah, Filosofi, dan Nilai-nilai Spiritual Budaya 3. Pengaruh Eksternal - Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-Provinsi-Nasional - Pengaruh Kegiatan Pariwisata Camat, Wali Nagari, dan Tetua Adat - BPS Kecamatan, Wali Nagari Wali Nagari + pengamatan Literatur, Tetua Adat, Wali Nagari Tetua Adat, Wali Nagari + pengamatan Bappeda Kab. Agam dan Masyarakat - Dok. RTRW Kab. Agam Survey - Kuisioner Masyarakat Data Sosial-Ekonomi dan Spiritual Budaya Masyarakat merupakan gabungan dari data primer dan sekunder. Data Demografi (kependudukan) dan Lembaga Kemasyarakatan didapat secara sekunder dari pemerintah kecamatan dan nagari-nagari setempat. Data Sistem Adat dan Budaya dan Sejarah, Filosofi, dan Nilai-nilai Spiritual Budaya didominasi data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dan diskusi kepada tetua serta pemerhati adat budaya setempat, dan data sekunder dari literatur terkait. Data Pengaruh Eksternal mencakup aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau dari luar. Termasuk di dalamnya yaitu Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-ProvinsiNasional, dan Kegiatan Pariwisata. Data Kebijakan dan Peraturan Pemerintah Kabupaten-Provinsi-Nasional merupakan data sekunder yang didapat dari Bappeda Kabupaten Agam dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah 22 (RTRW) Kabupaten Agam 2010-2030. Data Pengaruh Kegiatan Pariwisata didapat melalui kuisioner pendapat dari 100 orang masyarakat di lingkar Danau Maninjau yang dipilih secara acak. 3.3.2. Analisis Data yang telah dikumpulkan pada tahap inventarisasi yang dijabarkan di atas akan menjadi bahan analisis. Analisis dilakukan dengan dua metode yaitu, spasial dan deskriptif. Analisis spasial bertujuan untuk menghasilkan deskripsi karekteristik lanskap budaya lingkar Danau Maninjau, mengetahui karakter interaksi manusia dan lanskap alami tersebut. Analisis deskriptif dilakukan dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Metode SWOT bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan dan merumuskan strategi pengembangan dan pelestarian lanskap budaya di Lingkar Danau Maninjau tersebut. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya Kawasan lingkar Danau Maninjau ini tersatukan dalam satu Kecamatan Tanjung Raya yang terdiri dari sembilan nagari, oleh karena itu maka unit analisis spasial yang digunakan adalah unit nagari. Unit nagari merupakan satuan batas administrasi yang terukur secara spasial dan juga diakui sebagai satuan unit kontrol sosial budaya masyarakat. Komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya yaitu: ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya. Kriteria yang digunakan dalam aspek ekologi adalah pola penggunaan lahan dan danau. Pola penggunaan lahan dan danau diklasifikasikan menurut nilai intensitas interaksinya (derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami). Intensitas interaksi ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: alami (hutan), transisi (kebun campuran dan semak belukar), intensif (sawah dan pemukiman). Luas dari masing-masing kelompok intensitas interaksi setiap nagari dipersentasikan, kemudian kelompok intensitas interaksi yang mendominasi mewakili nilai ekologisnya, semakin besar pengubahan (gangguan) lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Nilai masing-masing kelompok adalah: 3 23 untuk nagari dengan dominasi kelompok alami (hutan), 2 untuk nagari dengan dominasi kelompok transisi (kebun campuran dan semak belukar), dan 1 untuk nagari dengan dominasi kelompok intensif (sawah dan pemukiman). Aspek sosial ekonomi dianalisis dengan menilai hubungan kriteria kepadatan penduduk per-nagari dengan kecenderungan kebutuhan lahannya. Kepadatan penduduk yang tinggi akan berdampak pada aktivitas ekonomi cenderung tinggi, dan kebutuhan terhadap lahan juga semakin tinggi. Oleh karena itu semakin tinggi kepadatan penduduknya semakin mengancam keberlanjutannya atau nilai keberlanjutannya akan semakin rendah. Menurut Undang-undang no. 56 / PRP / 1960, kepadatan penduduk dapat diklasifikasikan menjadi empat kelas, masing-masing adalah: tidak padat (1-50 jiwa/ km²), kurang padat (51-250 jiwa/ km²), cukup padat (251-400 jiwa/ km²), dan sangat padat (lebih dari 400 jiwa/ km²). Kepadatan penduduk setiap nagari dinilai berdasarkan klasifikasi tersebut dengan kriteria penilaian, 3 untuk nagari dengan kelas tidak padat sampai kurang padat (1-250 jiwa/ km²), 2 untuk nagari dengan kelas cukup padat (251-400 jiwa/ km²), dan 1 untuk nagari dengan kelas sangat padat (lebih dari 400 jiwa/ km²). Kriteria yang menentukan klasifikasi nilai sejarah, spiritual, dan budaya adalah dari nilai sejarah perkembangan dan regenerasi budaya dan nilai pergeseran adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masing-masing nagari. Mengacu dari piramida sistem adat Minangkabau (Ismael dalam Rasyid, 2008) yang terbagi menjadi elemen inti (adat nan sabana adat – filosofis dan adat nan diadatkan – teotiris) dan elemen turunan (adat nan teradat – metodologis dan adat istiadat – praktis), klasifikasi karakteristik budaya dapat dinilai dari signifikansi perubahan adat istiadat pada tataran metodologis dan praktis. Semakin signifikan perubahan tersebut maka semakin rendah nilai budayanya. Hal tersebut mencakup nilai-nilai tata cara kehidupan sehari-hari baik yang terlihat secara fisik (tangible) seperti peninggalan fisik bangunan atau situs yang memiliki muatan sejarah dan budaya dan juga yang tidak terlihat (intangible) seperti peran lembaga adat kemasyarakatan dalam pelestarian nilai-nilai budaya. Parameter yang digunakan dalam analisis ini adalah jumlah situs sejarah budaya dan peran lembaga adat kemasyarakat dalam pelestarian kegiatan adat kemasyarakatan dari setiap nagari yang dijabarkan dalam Lampiran 5. Kedua 24 kelompok parameter tersebut dinilai berdasarkan jumlah masing-masing elemen dari parameter tersebut dengan kelas nilai, 3 (baik) untuk nagari yang memiliki lebih dari lima (>5) elemen, 2 (cukup) untuk nagari yang memiliki tiga sampai lima (3-5) elemen, dan 1 (kurang) untuk nagari yang memiliki kurang dari tiga (4), 2 (sedang) untuk nagari yang memiliki total nilai tiga sampai empat (3-4), dan 1 (rendah) untuk nagari yang memiliki total nilai kurang dari tiga (7), 2 (sedang) untuk nagari yang memiliki total nilai lima sampai tujuh (5-7), dan 1 (rendah) untuk nagari yang memiliki total nilai kurang dari lima (40%. 4.1.5. Hidrologi Sejumlah kecil sungai bermuara ke dalam danau, dan setelah berputar-putar akhirnya mengalir keluar melalui sungai Batang Antokan. Secara ekosistem, Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Antokan dan juga termasuk Satuan Wilayah Sungai (SWS) Anai Sualang. Sungai yang mengalir pada kawasan tersebut adalah Sungai Batang Masang dan Batang Manggau. Air permukaan di kawasan ini sebagian besar akan mengalir melalui pola penyaluran yang telah terbentuk. Berdasarkan data, ditemukan 88 sungai yang bermuara di Danau Maninjau, yang mana 34 sungai berair sepanjang tahun dan sisanya berair pada waktu musim hujan. Wilayah lingkar Danau Maninjau ini merupakan kesatuan Daerah Aliran Sungai Batang Antokan, yang merupakan pintu keluar air atau outlet Danau Maninjau (Gambar 10). Berdasarkan Laporan Penelitian Pencemaran dan Kerusakan Danau Maninjau, 2001, debit sungai diperkirakan mencapai 781 L/dtk. Daerah ini memiliki sarana irigasi yang bersumber pada Batang Anai dan Batang Arau. Berdasarkan morfologi dan litologinya, keterdapatan air tanah di daerah ini merupakan akumulasi air tanah yang potensial. Kecamatan Tanjung Raya memiliki keterbatasan air tanah, karena dari struktur hidrogeologinya terlihat bahwa di beberapa daerah sekeliling danau adalah merupakan daerah 33 dengan ketersediaan air tanah langka. Kondisi sumber air yang justru cukup produktif tersebar di wilayah sekitar punggung luar bukit yang mengelilingi danau Maninjau. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah di balik punggung luar bukit sekeliling danau sekaligus merupakan daerah resapan air, sementara danau yang terletak relatif lebih tinggi tidak atau kurang memiliki sumber air jika dibandingkan dengan wilayah di sekeliling danau. Hal ini juga tidak terlepas dari sejarah pembentukan danau Maninjau. Sumber air bagi danau ini pada dasarnya berasal dari air hujan, aliran perkolasi bawah tanah, dan juga dari berbagai aliran permukaan baik melalui sungai-sungai maupun saluran drainase yang ada di sekelilingnya dan bermuara di danau. Sungai-sungai yang bermuara di danau memiliki perbedaan tipe. Sungaisungai di lingkar Danau Maninjau memiliki dua pola umum yaitu linier dan dendritik. Pola Linier adalah pola sungai yang tidak bercabang, sedangkan pola dendritik adalah pola sungai yang bercabang. Artinya, di daerah yang sungainya berpola linier, keterbatasan air cenderung menjadi persoalan. Sementara di daerah berpola dendritik, pembukaan lahan cenderung lebih cepat terjadi. Sebaran litologi akuifer juga terdapat di pesisir Danau Maninjau, dengan kelulusan dan ketebalan yang cukup. Sebagian sistem akuifer dengan aliran melaui ruang antar butir dan rekahan terdapat di Maninjau dan sekitar Lubuk Basung. Kelulusan sistem akuifer pada batuan gunung api muda seperti ini adalah sedang sampai tinggi (10-1 – 10+1 m/hari) –(Todd, 1980). Berdasarkan fluktuasi tinggi muka air danau, diketahui bahwa pola fluktuasi muka air Danau Maninjau adalah sebanding dengan pola curah hujan. Hal ini mengindikasikan bahwa curah hujan yang jatuh ke danau maupun yang mengalir melalui pola penyaluran memiliki kontribusi yang cukup besar (LIPI, 2001). Fenomena rutin yang terjadi di Danau Maninjau adalah tubo balerang atau racun belerang. Endapan belerang dari dasar danau secara rutin akan naik ke permukaan disebababkan pola angin darat yang juga rutin melewati Danau Maninjau. Fenomena ini secara ekologis merupakan hal yang menguntungkan, karena biasanya terjadi pada masa ledakan populasi satwa endemik danau. Masyarakat setempat memanfaatkan fenomena ini sebagai masa panen masal. Namun akhirakhir ini karena aktivitas budidaya ikan non endemik yang sangat intensif 34 membuat endapan pencemaran danau tidak lagi hanya belerang tetapi juga zat-zat yang terkandung dalam pakan ikan tersebut (eutrofikasi). Hal ini menyebabkan fenomena tubo ini tidak menentu dan merusak pola regenerasi satwa endemik yang teracuni dan mati sebelum masa panen. Hal ini mangancam keberlanjutan ekosistem danau. Gambar 10. Peta Daerah Aliran Sungai (BAPPEDA, 2010) 35 Berdasarkan kedalaman dan komunitas tumbuhan dan hewan yang menghuninya, danau dapat dibagi menjadi 4 daerah, yaitu : 1. Daerah Litoral. Merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari dapat menembus dengan optimal. Komunitas organisme sangat beragam. 2. Daerah Limnetik. Daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Komunitas yang menghuninya adalah golongan ganggang dan sianobakteri. 3. Daerah Profundal. Merupakan daerah dalam yang dihuni oleh komunitas cacing dan mikroba. 4. Daerah Bentik. Sementara berdasarkan produksi materi organiknya, danau dapat digolongkan menjadi : 1. Danau Oligotropik. Danau dalam, kekurangan makanan. Air jernih, dihuni oleh sedikit organisme. 2. Danau Eutropik. Danau dangkal dan kaya kandungan makanan. Berair keruh, di dalamnya terdapat bermacam-macam organisme yang menempatinya. Danau oligotrofik dapat berubah menjadi danau eutropik. Perubahannya dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari limbah dan buangan rumah tangga, pestisida pertanian dan sebagainya, yang memperkaya danau dengan kandungan nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi alga danau (blooming algae), dan akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut. Pengkayaan ini disebut sebagai “eutrofikasi”, dan mengakibatkan air danau tidak dapat digunakan lagi, pendangkalan, dan mengurangi keindahan danau. 4.1.6. Penutupan dan Penggunaan Lahan Danau Maninjau yang terletak di daerah pegunungan memiliki keunikan tersendiri. Pada umumnya, pemanfaatan lahan di pegunungan cukup terbatas. Selain disebabkan oleh kondisi topografi yang cukup beragam, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, juga disebabkan oleh adanya ketentuan perundangan yang melarang atau membatasi pemanfaatan lahan secara intensif. 36 Berdasarkan dokumen RTR Kawasan Danau Maninjau (BAPPEDA Agam, 2003), tinjauan intensitas kegiatan budidaya berdasarkan kepadatan bangunan dapat “didekati” melalui penampakan kawasan terbangun berdasarkan interpretasi citra satelit, dengan anggapan kawasan terbangun tersebut mencakup konsentrasi penduduk dan kegiatannya, serta kegiatan budidaya lainnya yang sifatnya non terbangun, seperti pertanian lahan basah, perkebunan, hutan produksi, dan lainlain. Berdasarkan hal ini maka Kawasan Danau Maninjau dapat dibagi atas 3 sub kawasan, yaitu kawasan budidaya intensitas tinggi, sedang, dan rendah. Kawasan budidaya intensitas tinggi terdapat di sebelah utara Kawasan Danau Maninjau. Pada kawasan ini, budidaya yang dilakukan lebih variatif dibandingkan kawasan lainnya, seperti permukiman, persawahan, hutan dan kebun campuran. Tingginya intensitas di sebelah utara karena kawasan tersebut dilalui oleh jaringan jalan regional yang menghubungkan ibukota kabupaten, Lubuk Basung dengan Bukittinggi. Kedua kota tersebut merupakan simpul koleksi dan distribusi pergerakan barang dan orang, sehingga intensitas pergerakan pada jaringan jalan tersebut relatif tinggi. Sementara di kawasan budidaya intensitas sedang terdapat di persimpangan Pasar Maninjau. Kegiatan budidaya yang ada meliputi perumahan, hutan, persawahan dan kebun campuran. Kawasan intensitas sedang dilalui oleh pintu masuk ke Maninjau (yang berlanjut dengan jaringan jalan regional di sebelah utara). Akibatnya, kawasan tersebut berpotensi untuk mulai berkembang dengan jalan sebagai development trigger. Saat ini ruas jalan yang melayani kawasan intensitas sedang adalah ruas jalan kolektor yang berada di tepian danau. Kawasan budidaya intensitas rendah terletak di sisi selatan dan baratdaya danau, meliputi hutan, sedikit sawah, sedikit lahan terbangun (permukiman) dan semak. Perbedaan antara kawasan budidaya tersebut adalah pada luasan kegiatannya. Selain lebih variatif, luas kegiatan budidaya intensitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan kedua kawasan lainnya. Perubahan penggunaan lahan dari tahun 1981 samapai tahun 2002 terjadi sangat drastis (Gambar 11). Pada bagian blok A dan C, di bagian utara, terlihat adanya perkembangan yang mulai menyebar (Lihat gambar A dan C). Di bagian A (tahun 2002) terlihat mulai adanya endapan di tubuh air sebagai akibat buangan 37 kegiatan di daratan. Pada blok B, di bagian timur, mulai terjadi perkembangan kawasan terbangun dan penggunaan lahan menjadi lebih variatif sehingga hutan mulai berkurang akibat konversi menjadi kebun campuran dan pertanian lahan basah. Titik penyebaran pembukaan dan pemanfaatan lahan terlihat semakin banyak di daerah sebelah utara dan timur danau. Pada tahun 2002, di sebelah baratdaya telah terbentuk semak, sementara berdasarkan tutupan lahan tahun 1981 daerah tersebut merupakan kelompok hutan dan kebun campuran. Pada blok D tahun2002, di bagian barat, mulai berkembang kegiatan budidaya yang menempel langsung di bibir danau. Punggung danau bagian barat ini juga berkembang terkonversi menjadi permukiman. Pada beberapa titik juga terlihat konversi sebagian lahan menjadi semak belukar yang semula merupakan hutan. Hal ini menunjukkan adanya indikasi lahan resapan air yang semakin berkurang. Gambar 11. Perubahan Tutupan Lahan 38 Gambar 12. Peta Penggunaan Lahan tahun 2010 (BAPPEDA, 2010) Penggunaan lahan terbaru dalam dokumen RTRW Kabupaten Agam 20102030 menunjukkan bahwa konversi penggunaan lahan semakin intensif dibanding data tahun 2002 (Gambar 12). Peta tersebut juga menunjukkan pada bagian timur didominasi sawah yang membentang sampai ke bagian utara, kelompok hutan yang pada data tahun 2002 masih cukup tebal mengelilingi batas Kecamatan 39 Tanjung Raya tersisa dengan luasan yang sangat kecil. Hal serupa juga terlihat pada bagian selatan sampai ke bagian barat danau. Luasan konversi hutan massif pada data tahun 2002 telah terkonversi menjadi kebun campuran dan beberapa pemukiman serta budidaya jala apung yang langsung menempel di dinding tebing danau. Hal tersebut menunjukkan suatu kesimpulan bahwa interaksi manusia dan alam semakin intensif seiring waktu yang terus berjalan. Interaksi manusia dan alam ini juga dipengaruhi kondisi fisik dan biofisik lanskapnya. Daerah yang memiliki bentukan lahan yang relatif datar cenderung mendukung interaksi lebih intensif dan pesat, sehingga konversi lahan juga semakin intensif. Tekanan ekonomi juga membuat manusia memanfaatkan danau sebagai common resource secara berlebihan. Indikator pemanfaatan berlebihan ini terlihat dengan semakin banyaknya endapan dari buangan limbah pemukiman dan tren budidaya perikanan jala apung atau karamba yang semakin tidak terkontrol. 4.1.7. Visual Kualitas visual wilayah lingkar Danau Maninjau secara umum sangat tinggi. Hal ini disebabkan morfologi atau bentukan lahan Kecamatan Tanjung Raya yang memiliki topografi dan tutupan lahan yang sangat beragam, sehingga membuat kesatuan lanskap yang lengkap. Bukit-bukit yang mengelilingi danau membentuk dinding hijau raksasa. Susunan dinding bukit ini membentuk kesatuan, unity, latar belakang pemandangan dan juga meninbulkan kesan sangat alami. Intensitas interaksi manusia dengan lanskap semakin intensif seiring perkembangannya, demi memenuhi kebutuhan hidup. Persawahan, kolam-kolam budidaya ikan air tawar atau tabek, perkebunan campuran atau parak, dan pemukiman masyarakat lokal menyebar menjadi kesatuan pemandangan yang unik. Berbagai aktivitas pemanfaatan lahan tersebut tersebar di sekeliling lereng bukit yang melandai ke arah danau. Aneka macam aktivitas dan pemanfaatan lahan tersebut juga membentuk keragaman visual yang tinggi, mulai dari beragam aktifitas produksi sampai wisata. Setiap jenis bentukan lahan di lingkar Danau Maninjau ini memiliki karakter visual masing-masing yang berbeda. 40 Karakter visual yang terlihat dari jalur utama gerbang Kecamatan Tanjung Raya, Kelok-44, adalah suatu atraksi lanskap jalan yang berliku-liku menurun kearah danau yang sekaligus menunjukkan perbatasan administrasi Kecamatan Tanjung Raya dan Matur (Gambar 13). Pemandangan dari Kelok-44 ini merupakan pandangan dari bagian timur danau kearah barat. Komposisi pemandangan ke arah danau akan terlihat sangat unik didukung dinamisnya elevasi dan ketinggian, serta pergerakan di jalur tersebut. Gambar 13. Lanskap Danau Maninjau dari Kelok-44 Bentukan lahan di bagian utara danau maninjau yang lebih datar memberikan kualitas visual dengan jarak dan sudut pandang yang sangat lebar dan luas. Penggunaan lahan sebagai pusat produksi membuat komposisi lanskap pertanian di sekitarnya sangat menyatu dengan lanskap alami. Persawahan pada bagian utara ini cukup luas, dan sebagian besar berada pada bibir danau. Komposisi dataran yang luas ini menjadi ciri tersendiri pada elemen visual wilayah bagian utara Danau Maninjau (Gambar 14). Gambar 14. Lanskap Bagian Utara Danau Maninjau 41 Lanskap pertanian juga terdapat pada bagian tenggara danau. Lahan datar yang tidak terlalu luas membuat sudut pandang pada daerah ini lebih sempit. Keunikan pada daerah ini adalah pemandangan bibir danau yang langsung bersentuhan dengan persawahan, dan bukit terjal di sisi belakang yang sangat dekat. Pada beberapa titik, kebun campuran atau Parak menambah komposisi elemen visual bagian tenggara danau ini (Gambar 15). Kumpulan kalong (Pteropus vampyrus) pada daerah ini sering terlihat pada sore hari, dan hal ini juga merupakan atraksi visual yang unik pada bagian ini. Gambar 15. Lanskap Bagian Tenggara Danau Maninjau Pada wilayah bagian selatan Danau Maninjau karakter visual lanskapnya didominasi oleh susunan tebing curam dan beberapa kebun campuran atau Parak. Wilayah ini adalah area paling rawan bencana longsor dan banjir bandang disertai lumpur dan bebatuan lepas dari bukit, masyarakat setempat menyebut bencana ini dengan istilah galodo. Hal tersebut menyebabkan dibeberapa titik aliran air banyak terkumpul bebatuan lepas dari bukit akibat galodo tersebut (Gambar 16). Interaksi manusia langsung dengan danau berupa budidaya ikan pada jala apung atau karamba menyebar hampir di sekeliling bibir danau. Secara visual yang terlihat dari akses utama jalan lingkar Danau Maninjau terdapat pada bagian timur perbatasan antara Nagari Sungai Batang dan Tanjung Sani, dan pada bagian barat danau yang berdekatan dengan pintu keluar ait atau outlet Danau Maninjau. Hal ini jua membentuk suatu karakter visual lanskap yang unik (Gambar 17). 42 Gambar 16. Lanskap Bagian Selatan Danau Maninjau Gambar 17. Lanskap Bibir Pantai dan Tebing Danau Maninjau 4.2. Aspek Sosial Budaya 4.2.1. Demografi Di Kecamatan Tanjung Raya, jumlah penduduk pada tahun 2001 mencapai 29.663 jiwa, atau sekitar 7,08 % dari total jumlah penduduk di Kabupaten Agam. Berdasarkan data 1997-2001 maka dapat dikatakan bahwa perkembangan penduduk di Kabupaten Agam mengalami kondisi naik dan turun. Pada periode 43 1997-1999, perkembangan penduduk cenderung meningkat (0,32%), sedangkan pada kurun 1999-2000, perkembangan penduduk menurun drastis (-4,39%). Pada tahun 2001, jumlah penduduk di Kabupaten Agam menunjukkan peningkatan kembali. Penduduk Kabupaten Agam diperkirakan mencapai 437.293 jiwa pada tahun 2013. Dengan anggapan proporsi sebaran penduduk di tiap kecamatan adalah sama pada saat ini, maka dapat diketahui jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Raya. Proporsi jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Raya terhadap jumlah penduduk Kabupaten Agam adalah 7,08%. Dengan demikian, jumlah penduduk Kawasan Danau Maninjau pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 30.961 jiwa atau meningkat sekitar 4,38% dari tahun 2001. Tabel 9. Data Sensus Penduduk Kecamatan Tanjung Raya Kelompok Laki-laki Perempuan Jumlah Umur (jiwa) (jiwa) (jiwa) (tahun) 0-4 1.566 1.596 3.162 5-9 1.588 1.627 3.215 6.320 6.607 12.927 10 - 14 1.681 1.707 3.388 15 - 19 1.485 1.677 3.162 20 - 24 894 1.063 1.957 25 - 29 838 1.022 1.860 3.364 4.034 7.398 30 - 34 794 939 1.733 35 - 39 838 1.010 1.848 40 - 44 806 929 1.735 45 - 49 720 830 1.550 2.470 2.929 5.399 50 - 54 518 599 1.117 55 - 59 426 571 997 60 - 64 446 613 1.059 65 - 69 337 508 845 1.325 2.063 3.388 70 - 74 297 471 768 75 + 245 471 716 Jumlah 13.479 15.633 29.112 Sumber: BPS, 2007 Kategori Praproduktif Produktif Aktif Produktif Pasif Pascaproduktif Kecamatan Tanjung Raya, tempat Danau Maninjau berada, memiliki 29.112 jiwa penduduk (BPS, 2007). Dengan lahan seluas 244,03 Km2, Kecamatan Tanjung Raya memiliki kepadatan penduduk yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan sepuluh kecamatan lain yang ada di Kabupaten Agam. 44 Kepadatan penduduk Kecamatan Tanjung Raya hanya 119,29 jiwa/Km2. Perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa, jumlah penduduk laki-laki adalah 13.479 jiwa atau 46,3% dan jumlah penduduk perempuan adalah 15.633 jiwa atau 53,7% (Tabel 9). Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Kategori atau kelas produktivitas dapat ditentukan berdasarkan kelompok umur. Penduduk dengan kelompok umur 0 sampai 19 tahun atau yang seharusnya dalam usia wajib pendidikan formal dikategorikan sebagai Pra-produktif, 20 sampai 39 tahun dikategorikan sebagai Produktif Aktif, 40 sampai 59 tahun dikategorikan sebagai Produktif Pasif, dan kelompok umur yang lebih dari 60 tahun dikategorikan sebagai Pasca-produktif (Tabel 3). Jumlah dan perbandingan jumlah penduduk berdasarkan kategori produktivitas menunjukkan bahwa, jumlah penduduk pada Kategori Pra-produktif adalah 12.927 jiwa atau 44,4%, jumlah penduduk pada Kategori Produktif Aktif adalah 7.398 jiwa atau 25,4%, jumlah penduduk pada Kategori Produktif Pasif adalah 5.399 jiwa atau 18,5%, jumlah penduduk pada Kategori Pasca-produktif adalah 3.388 jiwa atau 11,6%. Data lapangan Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Kecamatan Tanjung Raya menyebutkan dari 8.051 rumah tangga yang terdata, terdapat 8.213 kepala keluarga. Hal ini menunjjukan bahwa dalam satu rumah terdapat lebih dari satu keluarga. Jumlah dan perbandingan kepala keluarga berdasarkan status pekerjaannya menyebutkan bahwa di Kecamatan Tanjung Raya terdapat, 6.804 atau 82,8% kepala keluarga memiliki pekerjaan dan sisanya 1.409 atau 17,2% kepala keluarga tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran. Jumlah kepala keluarga yang berstatus pengangguran ini cukup besar dan menjadi indikator bahwa setiap anggota keluarganya hidup dibawah garis kesejahteraan. Berdasarkan klasifikasi Tahap Keluarga Sejahtera oleh BPS, jumlah dan perbandingannya menunjukkan bahwa Kecamatan Tanjung Raya terdapat, 158 atau 1,9% Keluarga Pra Sejahtera, 2.177 atau 26,5% Keluarga Sejahtera-I, 3.970 atau 48,3% Keluarga Sejahtera-II, 1.486 atau 18% Keluarga Sejahtera-III, dan 422 atau 5,1% Keluarga Sejahtera-III Plus. Jumlah dan perbandingan kepala keluarga berdasarkan status pendidikannya menunjukan bahwa, 1.467 kepala keluarga atau 17,9% tidak lulus SD, 4.262 45 kepala keluarga atau 51,9% lulus SD dan SLTP, 2.047 kepala keluarga atau 24,9% lulus SLTA, dan sisanya 437 kepala keluarga atau 5,3% lulus Perguruan Tinggi atau yang setara. Angka persentase status tingkat pendidikan kepala keluarga ini berpengaruh pada kualitas kehidupan dan daya saingnya. Hasil wawancara dengan seorang pemerhati budaya di Maninjau, Bahaluddin DT. Tanameh, menyebutkan bahwa pendidikan formal saat ini telah bergeser esensinya. Banyak elemen pendidikan dasar yang bermuatan budaya yang seharusnya menjadi dasar identitas tidak lagi didapat siswa sejak sistem pendidikan formal hasil kolonialisme diterapkan. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perokonomian unggulan di kecamatan ini terletak pada sektor dan sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Kegiatan pertanian tanaman pangan di Kawasan Danau Maninjau memberikan kontribusi pada produksi komoditi padi sawah, cabe, tomat, pisang, dan jeruk. Kontribusi yang cukup signifikan, dalam skala kabupaten, adalah pada komoditi padi sawah (8,25%) dan cabe (4,16%), sedangkan untuk komoditi lainnya masih di bawah 1%, seperti tomat (0,73%), pisang (0,97%), dan jeruk (0,24%). Kegiatan perkebunan yang menonjol berdasarkan produksinya di Kawasan Danau Maninjau adalah perkebunan komoditi kulit manis, yang mana produksinya mencakup 3,61 % dari total produksi di Kabupaten Agam. Selain itu, kontribusi produksi komoditi kelapa dalam juga cukup baik, yaitu sekitar 2,04 %. Kegiatan perikanan yang dominan di Kawasan Danau Maninjau adalah perikanan budidaya, terutama budidaya keramba. Produksi budidaya perikanan di Kawasan Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya) merupakan yang terbesar di Kabupaten Agam (sekitar 74,2%). Di kawasan ini pula diterapkan kebijakan budidaya ikan nila pola intensif yang terdiri dari 27.761 KAT (7,86%) dan 44.600 KRB (7,74%). 4.2.2. Lembaga Kemasyarakatan Wilayah lingkar Danau Maninjau ini secara administratif merupakan satuan wilayah Kecamatan Tanjung Raya. Tidak berbeda dengan umumnya struktur 46 hierakhi pemerintahan di Indonesia, Kecamatan Tanjung Raya berada di bawah wilayah pemerinyahan Kabupaten Agam, dan Kabupaten Agam dibawah pemerintahan Provinsi Sumatera Barat. Sistem hubungan lembaga kemasyarakatan yang berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia adalah sistem Nagari yang secara administratif berada di bawah Kecamatan. Dalam historis ketatanegaraan, „Nagari‟ merupakan sebutan bagi desa di jaman dahulu. Namun sebenarnya, dari sisi sistem dan filosofinya, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda. Nagari menurut Mochtar Naim (dalam BAPPEDA, 2003), merupakan lambang mikrokosmik dari sebuah tatanan makrokosmik yang lebih luas. Di dalam konsep nagari tersebut terkandung makna sebuah negara dalam artian miniatur. Tabel 10. Perbedaan Konsepsi Nagari dan Desa NAGARI DESA Sifat: Self-contained, otonom, dan mampu Tidak otonom, merupakan unit membenahi diri sendiri. pemerintahan terendah dari sebuah sistem birokrasi. Perangkat: Desa (tidak ada perangkat otonom tertentu) Eksekutif Legislatif Yudikatif Hubungan dengan pihak lain: vertikal dengan unit Ikatan daerah dan kekerabatan adat Hubungan pemerintahan yang lebih tinggi (primordial-konsanguinal) struktural-fungsional dalam artian sentralistis, hirarkis vertikal teritorial-pemerintahan yang efektif. Hubungan vertikal (ke Luhak dan ke Alam) Hubungan horizontal (ke samping antara sesama nagari), terutama adalah kaitan emosional tetapi tidak struktural-fungsional. Sumber: Mochtar Naim (dalam BAPPEDA, 2003) Nagari bersifat self-contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri. Perangkat pemerintahan nagari juga mencakup unsur legislatif, eksekutif, dan yudikatif seperti layaknya sebuah negara, dimana unsur tersebut merupakan kesatuan holistik bagi berbagai perangkat tatanan sosial budaya lainnya. Mochtar Naim juga menyebutkan bahwa desa memperlihatkan gambaran yang sebaliknya, 47 desa merupakan perangkat terendah dari suatu sistem birokrasi yang sentralistis, hirarkis-vertikal, dan sentripetal, dimana pusatnya berada di luar budayanya sendiri (Tabel 10). Konsep Nagari dapat menjadi dasar pemanfaatan dan pengelolaan lahan, terutama yang terkait dengan hak kepemilikan tanah ulayat. Tanah ulayat di sini didasari pada prinsip kepemilikan komunal yang penggunaan dan pendistribusiannya tunduk kepada hukum adat. Disini Nagari akan berperan untuk mengatur penggunaan dan pendistribusian tersebut. Semua keputusan menyangkut penggunaan dan pendistribusian lahan didasari pada persetujuan Kerapatan Adat Nagari. Secara umum, lembaga dan instrumen pemerintahan suatu nagari terdiri dari : 1. KAN (Kerapatan Adat Nagari), merupakan Lembaga Pengusul dan Pensosialisasi Kebijakan. Lembaga ini beranggotakan Niniak Mamak dari setiap suku. Niniak Mamak merupakan orang yang dianggap sebagai pimpinan dalam sukunya masing-masing atau dalam bahasa umum disebut sebagai tetua adat. Sebagai pemimpin terdepan dalam suatu suku, Niniak Mamak mempunyai peran untuk mewakili dan menggali aspirasi anak kamenakan dan mensosialisasikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan dari tingkat Nagari, 2. BPN (Badan Pengawas Nagari), merupakan Lembaga pengawas kebijakan. Lembaga Legislatif ini terdiri dari unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, wakil-wakil masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan atau diusulkan dalam Nagari diawasi dan dikontrol oleh lembaga ini. 3. MTTS (Musyawarah Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan), Merupakan media atau instrumen dalam Nagari berbentuk majelis atau musyawarah. Musyawarah ini mempertimbangkan, menilai, dan menjadi penasehat kebijakan Nagari sebelum disahkan. Musyawarah ini terdiri dari unsur Niniak Mamak (tetua adat), Alim Ulama (pemuka agama), dan Cadiak Pandai (orang-orang berpendidikan, akademisi, profesional, dan sejenisnya). Lembaga MTTS mempunyai peran untuk menilai dan 48 mempertimbangkan kebijakan/ ketentuan yang akan diterapkan dalam masyarakat, 4. PEMERINTAHAN NAGARI. Merupakan lembaga pelaksana pemerintahan. Melaksanakan semua kebijakan atau ketentuan yang telah disepakati oleh lembaga-lembaga dan instrumen yang ada dalam Nagari. Pemerintahan Nagari ini juga merupakan Lembaga yang mengurusi administrasi Nagari. Dimensi lain dari sistem pemerintahan Nagari adalah perlunya alokasi ruang untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pemerintahan Nagari. Berdasarkan Perda Kabupaten Agam No. 31 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Nagari pasal 6 ayat 2 disebutkan bahwa dalam pemekaran Nagari harus memenuhi syarat-syarat adanya: 1. babalai bamusajik (memiliki balai adat dan mesjid) 2. balabuah batapian (memiliki jalan dan sempadannya) 3. basawah baladang (memiliki sawah dan ladang) 4. babanda buatan (memiliki sistem irigasi dan drainase) 5. batanaman nan bapucuak (bercocok tanam yang berpucuk) 6. mamaliaro nan banyao (memelihara yang bernyawa) 7. basuku basako (memiliki suku dan kelompok) 8. niniak mamak nan ampek suku (tetua adat dari empat suku) 9. baadat balimbago (memiliki adat dan lembaga) 10. bapandam pakuburan (memiliki tempat pemakaman) 11. bapamedanan (memiliki „medan‟ atau ruang terbuka sosial) 12. kantua nagari (memiliki kantor nagari). 4.2.3. Filosofi dan Nilai-Nilai Masyarakat lingkar Danau Maninjau merupakan masyarakat Minangkabau. Sesuai dengan penjelasan pada tinjauan pustaka, masyarakat Minangkabau secara tradisional telah memiliki prinsip filosofis yang mengatur konsepsi hidup dan kehidupan masyarakatnya. Filosofi adat Minang tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru atau filosofi ekologis. Masyarakat Minang telah memasukkan alam sebagai bagian dari kehidupan mereka secara integral untuk berpikir secara logis. 49 Mereka belajar dari alam untuk kemudian menjadikannya sebagai inspirasi bagi prinsip hidup dan kehidupannya. Tergambarkan juga sebagai suatu citra umum bagaimana masyarakat Minangkabau tumbuh dan berkembang secara dinamis, dengan memahami sepenuhnya prinsip hubungan sebab akibat dalam fenomena alam, dikenal dengan filosofi bakarano bakajadian. Pemahaman mereka akan substansi alamiah seperti air, udara, tanah dan api sebagai unsur bebas di alam dibarengi dengan pemahaman yang cukup mengenai bagaimana unsur-unsur bebas tersebut dapat bersatu dan membentuk sebuah kesatuan universal, yaitu dunia. Mereka memahami bagaimana justru perbedaan yang memungkinkan dunia ini berkembang secara dinamis dan saling melengkapi satu sama lain. Pemahaman filosofis seperti ini diyakini telah melekat pada pribadi orang Minang, melalui konsepsi keberadaan seseorang dan umat manusia secara umum. 4.2.4. Sistem Adat dan Budaya Sistem adat yang berlaku di masyarakat lingkar Danau Maninjau adalah adat Minangkabau. Secara mendasar tidak ada perbedaan khusus dari masyarakat Minangkabau di daerah lainnya. Hal ini karena sejarah asal-usul masyarakatnya adalah masyarakat Minangkabau perantau atau pendatang yang akhirnya menetap. Sudah umum di Minangkabau ini bahwa adanya Tambo yaitu „Di dalam Sejarah ada Dongeng, dan di dalam Dongeng ada Sejarah.‟ Maka konon katanya seluruh masyarakat Minangkabau yang tersebar luas di banyak daerah berasal dari puncak Gunung Marapi, terpecah menjadi tiga luhak, lalu turun secara bertahap hidup nomaden, lalu akhirnya membuat Koto dan Nagari, dan inilah yang diterima secara umum oleh masyarakat Minangkabau. Begitu pula sama halnya dengan asal mula masyarakat selingkar Danau Maninjau. Mereka turun dari Gunung Marapi membentuk Luhak Agam, lalu ke Sungai Puar, terus ke bawah, sebagian masuk ke lawang (cikal bakal masyarakat Bayur dan Tigo Koto), sebagian lagi ke puncak bukit Maninjau dan mereka „meninjau‟ lama dari bukit Maninjau ke arah danau karena kahwatir bahwa danau akan meluap dan mengancam kehidupan mereka (inilah cikal bakal toponimi Maninjau dan sekitarnya), begitu pula dengan masyarakat di bagian barat danau (Tanjung Sani dsk) pendatang berasal dari 50 daerah pesisir Pariaman. Bahasa atau aksen masyarakat Tanjung Sani cenderung berbeda dengan masyarakat bagian timur danau. Maka secara kesejarahan, adat budaya yang terdapat di lingkar Danau Maninjau saat ini adalah adat budaya bawaan yang tetap berakar pada adat budaya Minangkabau. Minangkabau memiliki hierakhi sistem adat yang terdiri dari unsur inti (core element) dan unsur turunan (peripheral element). Masing-masing unsur ini terbagi lagi menjadi dua tingkatan. Unsur inti (core element) adat terbagi menjadi adat nan sabana adat (adat yang benar-benar adat) pada tingkat filosofis dan adat nan diadatkan (adat yang diadatkan) pada tingkat teoritis. Unsur inti (core element) dari adat ini tidak dapat diubah dalam kondisi apapun karena merupakan dasar atau acuan dari sistem adat tersebut. Tataran di bawahnya, elemen adat turunan (peripheral element) terbagi menjadi adat nan teradat (adat yang teradat) pada tingkat metodologis dan adat istiadat (adat yang terlihat) pada tingkat praktis. Elemen turunan ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan aktual masyarakat dan umumnya berfungsi praktis dalam menjaga hubungan antar masyarakat, kekeluargaan internal, momen-momen atau kejadian penting, dan kehidupan sehari-hari. 4.3. Pengaruh Eksternal 4.3.1. Kebijakan dan Peraturan Pemerintah - RTRW Kebijakan pemerintah adalah faktor eksternal yang mempengaruhi pola lanskap. Kebijakan ini terangkum dalam dokumen Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah. Dalam hal ini, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRW) Agam dirancang oleh pemerintah daerah Kabupaten Agam. Tujuan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 adalah, „Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN, dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟. Tujuan umum ini dijabarkan lebih teknis dalam Kebijakan dan Strategi, Rencana Struktur Ruang Wilayah, Rencana Pola Ruang Wilayah, Penetapan Kawasan Strategis, Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah, Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Hak dan Kewajiban Serta Peran Masyarakat, Ketentuan Peralihan, dan Ketentuan Penutup. 51 Kebijakan dan Strategi Dalam mewujudkan tujuan RTRW Kabupaten Agam, pemerintah telah menetapkan beberapa kebijakan dan strategi yang secara umum merupakan peluang atau opportunities menuju keberlanjutan. Beberapa kebijakan dan strategi tersebut antara lain: 1. Pelaksanaan pembangunan yang berbasis mitigasi bencana serta konservasi dalam rangka pengurangan resiko bencana, dengan strategi: a. membangun pemahaman masyarakat tentang kebencanaan dan konservasi; b. mewujudkan struktur dan pola ruang yang berbasis mitigasi bencana dan konservasi; c. meningkatkan kualitas bangunan publik dan hunian yang ramah bencana; d. mengembangan kegiatan-kegiatan yang mendukung konservasi yang bernilai terhadap pelestarian lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi; e. menyusun program dan pembangunan berbagai perangkat keras dan lunak dalam upaya mitigasi berbagai bencana alam, seperti tsunami, gempa, longsor, banjir, kebakaran hutan dan ancaman bencana lainnya; dan f. memantapkan tata batas kawasan lindung untuk seluruh wilayah Kabupaten Agam. 2. Pengembangan sektor ekonomi sekunder dan tersier berbasis agro, pariwisata dan kelautan sesuai keunggulan kawasan yang bernilai ekonomi tinggi yang dikelola secara berhasil guna, terpadu dan ramah lingkungan, dengan strategi: a. menetapan komoditas unggulan sesuai dengan potensi lingkungan dan kondisi sosial budaya setempat; b. mengembangkan industri pengolahan hasil produksi agro dan kelautan sesuai komoditas unggulan kawasan dan kebutuhan pasar (agroindustri dan agribisnis, agro wisata, perikanan tangkap dan perikanan budidaya); 52 c. meningkatkan produksi pertanian hortikultura dan peternakan melalui pendekatan Agropolitan; d. mengembangkan ekonomi perikanan dan kelautan melalui pendekatan minapolitan; e. mengembangkan sistem pertanian organik dalam rangka meningkatkan daya saing produk dan penyelamatan lingkungan; dan f. melakukan revitalisasi dan pembangunan prasarana dan sarana produksi agro dan kelautan secara terpadu. 3. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan serta pembangunan prasarana dan sarana wilayah yang mampu mendukung pengembangan wilayah secara merata, dengan strategi: a. mengurangi kesenjangan ekonomi dan infrastruktur antara Agam bagian Timur dan Agam bagian Barat; b. mengembangkan kawasan perkotaan dan perdesaan yang berbasiskan mitigasi bencana dan konservasi, sebagai kawasan permukiman yang layak huni; c. meningkatkan penyediaan infrastruktur sosial ekonomi wilayah secara proporsional dan memadai sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap pusat permukiman (kawasan); dan d. mengembangkan dan membangun prasarana dan sarana transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan dan berimbang. 4. Peningkatan produktivitas wilayah melalui intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian serta pengelolaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, dengan strategi: a. meningkatkan produktivitas hasil pertanian, perkebunan dan peternakan melalui penerapan teknologi pertanian, intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian; b. mendorong pemakaian bibit unggul dalam usaha perkebunan, perikanan, peternakan untuk mendapatkan produksi dengan kualitas yang lebih baik dan bernilai ekonomi tinggi; 53 c. meningkatkan pemanfaatan lahan non produktif secara lebih bermakna (kegiatan produksi) bagi peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat; dan d. meningkatkan sistem pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan. 5. Peningkatan dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang meliputi, hutan suaka alam, hutan lindung, mempertahankan kawasan lindung > 30% dari luas daerah administrasi serta fungsi lindung lainnya, dengan strategi: a. memfasilitasi penetapan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi; b. mensinergikan program pelestarian lingkungan dalam rangka mendukung Kebijakan Sumatera Barat sebagai Provinsi Konservasi; c. meningkatkan pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan, terutama pemulihan fungsi hutan lindung yang berbasis masyarakat dengan pendekatan hutan lestari masyarakat sejahtera; d. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati; dan e. meningkatkan kerjasama regional, nasional dan internasional dalam rangka pemulihan fungsi kawasan lindung terutama hutan lindung dan hutan cagar alam. 6. Pengembangan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang berbasis konservasi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan strategi: a. meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam untuk sumber energi terbarukan yaitu tenaga air, tenaga surya, gelombang laut, dan lainlain; b. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber energi yang terbarukan (renewable energy); dan 54 c. mengembangan kegiatan konservasi yang bernilai lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi, yaitu hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat. 7. Pengembangan kawasan dan objek wisata yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal, dengan strategi: a. menyusun skenario pengembangan kepariwisataan secara terpadu yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal; b. menetapkan kawasan-kawasan wisata di seluruh Kabupaten Agam; c. mengembangkan berbagai potensi wisata sesuai dengan potensi kawasan yang dimiliki (alam, budaya, kreasi) secara arif dan ramah lingkungan; d. meningkatkan kegiatan pariwisata melalui pembangunan prasarana dan sarana pendukung, pengelolaan objek wisata yang lebih profesional serta pemasaran yang lebih agresif dan efektif; e. mengembangkan kapasitas SDM pengelola kepariwisataan; dan f. meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pengembangan sektor kepariwisataan. Rencana Struktur Ruang Wilayah Dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang RTRW, pemerintah juga menetapkan Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Agam yang meliputi: Sistem Perkotaan, Sistem Jaringan Transportasi, Sistem Jaringan Energi, Sistem Jaringan Telekomunikasi, Sistem Jaringan Sumber Daya Air, dan Sistem Prasarana Lingkungan. Kebijakan tentang Sistem Perkotaan di Kecamatan Tanjung Raya diarahkan di Nagari Maninjau sebagai ibukota kecamatan dengan fungsi perkotaan sebagai berikut: 1. pusat pelayanan pemerintahan kecamatan; 2. pusat pelayanan kegiatan sosial skala kecamatan; 3. pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa dari wilayah; 4. sebagai pendorong pengembangan industri pariwisata; 55 5. sebagai kawasan strategis Propinsi Sumatera Barat dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup; 6. sebagai pusat pengembangan kawasan perikanan darat (Sentra Minapolitan di Danau Maninjau); 7. pendukung pengembangan Kota Lubuk Basung; dan 8. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL). Kebijakan tentang Sistem Jaringan Transportasi yang terkait dengan pengembangan sistem transportasi danau ditujukan untuk keperluan pariwisata Danau Maninjau serta penunjang budidaya perikanan air tawar. Mengembangkan angkutan danau yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata yang ada di Danau Maninjau berupa pembangunan dermaga untuk mendukung pariwisata di Muko-Muko, Linggai dan Sungai Batang dan pembangunan dermaga untuk pengumpul produksi perikanan yang lokasinya disesuaikan dengan dengan Master Plan Minapolitan. Rencana pengembangan prasarana pembangkit energi sebagaimana dimaksud pada kebijakan Sistem Jaringan Energi yang terkait dengan Danau Maninjau, dilakukan melalui: 1. mengoptimalkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Danau Maninjau dengan kapasitas terpasang sebesar 68 MW, dengan upaya pelestarian kawasan resapan air pada catchment area. 2. merencanakan pengembangan energi geothermal (panas bumi) di Kecamatan Tanjung Raya. Kebijakan menganai Sistem Jaringan Sumber Daya Air meliputi: Sistem Wilayah Sungai (SWS), Daerah Aliran Sungai (DAS), Danau dan Embung; Sistem Jaringan Irigasi; Sistem Air Baku untuk Air Bersih; Jaringan Air Bersih untuk Kelompok Pengguna; dan Sistem Pengendalian Banjir di Wilayah Kabupaten. Kebijakan Sistem Wilayah Sungai diarahkan dan direncanakan sebagai berikut: 1. rencana penataan daerah aliran sungai melalui upaya pelestarian kawasan lindung dan kawasan konservasi untuk menjaga tata air; 56 2. kawasan bermasalah seperti banjir dan tanah longsor dilakukan penanganan khusus berupa pembangunan insfrastruktur pengendalian banjir dan pelaksanaan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pemulihan lahan kritis dan penanaman hutan kembali (reboisasi); Kebijakan Sistem Jaringan Irigasi diarahkan dan direncanakan sebagai berikut: 1. peningkatan daya guna irigasi dengan pembangunan embung, waduk, bendung, bangunan bagi, pintu air, dan saluran; 2. peningkatan pemeliharaan dan peningkatan sarana prasarana irigasi termasuk saluran-saluran irigasi; 3. peningkatan peran irigasi sebagai penyedia air bagi lahan-lahan pertanian dan perkebunan maupun perikanan; 4. pemanfaatan air permukaan seperti sungai dan danau yang ada dalam upaya penyediaan air kebutuhan irigasi; dan 5. Pelestarikan wilayah hulu sungai sebagai daerah resapan air dalam menjaga debit mata air, sungai dan danau tetap stabil. 6. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan, pemeliharan maupun pemanfaatan daerah irigasi sebagai basis dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Kebijakan Sistem Air Baku untuk Air Bersih diarahkan dan direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan kelompok masyarakat dengan memanfaatkan sumber air baku yang tersedia pada pada masing-masing daerah dan diupayakan terlebih dahulu melalui pengeolahan (water treatment plant) sebelum didistribusikan ke rumah-rumah. Kebijakan Sistem Air Bersih untuk Kelompok Pengguna dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Agam dengan menggunakan sistem perpipaan. Konsep penanganan air bersih sebagai berikut: 1. mengoptimalkan pemanfaatan sumber air bersih yang ada saat ini ; 2. peningkatan kapasitas produksi dan distribusi dengan memperbesar diameter pipa, penambahan jaringan pipa transmisi, distribusi dan tersier (SR) ; 57 3. memperbaiki jaringan distribusi yang rusak dan pemeliharaan jaringan guna meminimalisasi kebocoran selama distribusi ; 4. peyediaan pompa-pompa cadangan pada tiap-tiap unit PDAM sehingga jika terjadi kerusakan, produksi dan distribusi air bersih tidak terganggu ; 5. pada daerah perbukitan diarahkan penggunaan sumur bor dengan pengelolaan pada masing-masing nagari ; 6. penyediaan air bersih diutamakan untuk daerah-daerah padat penduduk seperti ibukota kecamatan dan pusat-pusat permukiman. 7. pengembangan jaringan jalan dapat dimanfaatkan sebagai akses penunjang dalam pemanfaatan jaringan-jaringan baru. Kebijakan Sistem Pengendalian Banjir ditujukan untuk menjamin lancarnya pengaliran air pada badan sungai sehingga tidak terjadi genangan atau banjir. Konsep penanganan banjir di kabupaten agam melalui program : 1. Rehabilitasi dan Reboisasi kawasan hulu dan DAS 2. Pembangunan bangunan pengendali daya rusak air (banjir) seperti normalisasi sungai alur sungai dan perkuatan tebing sungai. 3. Menetapkan sebagian dari kawasan banjir sebagai kawasan lindung karena merupakan bagian dari eksostim rawa/tanah basah (wet land). Rencana Pola Ruang Wilayah Rencana pola ruang wilayah di Kabupaten Agam terdiri dari Pola Ruang Kawasan Lindung dan Pola Ruang Kawasan Budidaya. Kebijakan Pola ruang untuk kawasan lindung yang terkait dengan Danau Maninjau meliputi: 1. kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi: hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air. Luas kawasan hutan lindung yang direncanakan di Kabupaten Agam hingga tahun 2030 adalah seluas 28.060 Ha. Kawasan hutan lindung yang direncanakan di Kecamatan Tanjung Raya seluas ± 5.450 ha. Sedangkan Sebaran kawasan resapan air Kabupaten Agam menyebar di lokasi Kawasan Hutan Lindung dan catchment area Kawasan Danau Maninjau yang ada di Kecamatan Tanjung Raya; 58 2. kawasan perlindungan setempat meliputi: sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air. Kawasan sempadan sekitar danau /waduk sebagaimana yang dimaksud diatas adalah kawasan Danau Maninjau dan Waduk Batang Agam dengan kriteria sempadan ditetapkan sebagai berikut : a. daratan dengan jarak 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi air danau/waduk; atau b. daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik tepian danau/waduk. Kawasan sempadan mata air sebagaimana yang dimaksud diatas meliputi daratan dengan jarak 50-100 meter mengelilingi mata air, dan secara fisik berupa jalur hijau yang ditanami pohon atau tanaman laut yang memiliki fungsi konservasi; 3. kawasan suaka alam dan pelestarian alam meliputi: Suaka Alam Maninjau Utara dan Selatan yang berada di Kecamatan Matur, Tanjung Raya, IV Koto, Palembayan dengan luas kurang lebih 17.910 Ha; 4. kawasan rawan bencana meliputi: a. kawasan rawan tanah longsor, tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Berdasar jenis gerakan tanah, tipe jatuhan terdapat di Kecamatan Tanjung Raya, b. kawasan rawan banjir, berada pada sepanjang aliran sungai. Pada Kecamatan Tanjung Raya terletak di Nagari Koto Kaciak dan Nagari Koto Gadang; 5. kawasan lindung geologi meliputi kaldera maninjau akibat letusan gunung api purba pada Kecamatan Tanjung Raya, kebijakan pemerintah khususnya untuk sekitar Nagari Tanjung Sani tepatnya Jorong Batu Nanggai, Galapung, Muko jalan yang secara geologi tidak direkomendasikan untuk dijadikan pemukiman penduduk; Kebijakan Pola ruang untuk kawasan Budidaya yang terkait dengan Danau Maninjau meliputi: 1. rencana kawasan pertanian meliputi kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan lahan basah dan kawasan peternakan. Peruntukan 59 kawasan peternakan sebagaimana dimaksud diatas adalah sebagai pengembangan ternak besar dengan core bisnis sapi potong yang dikembangkan di Kecamatan Tanjung Raya dan Malalak dengan komoditas Sapi PO dan Brahman; 2. rencana kawasan perkebunan meliputi: a. Rencana pengembangan kawasan perkebunan cengkeh akan diprioritaskan pada Kecamatan Tanjung Raya, Matur serta Malalak; b. Rencana pengembangan kawasan perkebunan casiavera akan diprioritaskan pada Kecamatan Malalak, Matur serta Tanjung Raya; c. Rencana pengembangan kawasan perkebunan pala akan diprioritaskan pada Kecamatan Tanjung Raya; 3. rencana kawasan perikanan meliputi kawasan perikanan budidaya. Rencana pengembangan perikanan budidaya Kabupaten Agam termasuk dalam pengembangan kawasan Minapolitan dengan pusat di kawasan Maninjau. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di kawasan Danau Maninjau meliputi: a. sentra Budidaya Ikan Air tawar: nila, patin dan majalaya serta Pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar kawasan Danau Maninjau; b. sentra Budidaya Ikan Patin dan Pengolahan Lele di Kecamatan Tanjung Raya; 4. rencana kawasan pariwisata di Kecamatan Tanjung Raya terdiri atas: a. Kawasan pariwisata alam yaitu: Danau Maninjau, Sarasah Gasang, Pantai Gasang, Agrowisata Kelok 44, Aia Badarun, Mata Air Panas, Asai, Muko-muko, Air Terjun Simpang Dingin, Potensi Wisata Perikanan Linggai, Pemandian Putri, Potensi Wisata Agro Durian, Wisata Burung Tanjung Ujung, Air Terjun Gadih, Air Tigo Raso, Rizal Beach, Bukit Pelatungan, Area Take Off Peralayang, Potensi Bentang Alam, Persawahan, dan Mesjid Bayur; b. Kawasan pariwisata budaya yaitu: Wisata Dakwah dan Qoryah Thoyyibah, Mesjid Raya Paninjauan, Surau Gadang Usang, Mesjid Syekh Amarullah, Makam Syekh Amarullah, Makam Syekh Dr. H. 60 Abdul Karim Amarullah (Inyiak Rasul), Perpustakaan H. Abdulkarim Amarullah (Inyiak Rasul), Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA, Surau Buya HAMKA, Makam Haji Oedin Rahmani, Benteng Jepang Muko – muko, Rumah Tuanku Lareh Koto Kaciak, Rumah Orang Tua Tuanku Lareh Kaciak, Rumah R. Rasuna Said; c. Kawasan pariwisata buatan dan minat khusus yaitu: Paralayang dan arum jeram di Sungai Antokan; 5. rencana kawasan permukiman, meliputi : kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan. Pengembangan kawasan pemukiman perkotaan akan dikembangkan pada ibukota kabupaten, ibukota kecamatan dan kawasan strategis perbatasan sebagai antisipasi pertumbuhan penduduk akibat pertumbuh secara alamiah maupun akibat urbanisasi dan berbagai fasilittas pendukungnya. Sedangkan pengembangan kawasan pemukiman perdesaan akan dikembangkan diseluruh kabupaten Agam sebagai antisipasi pertumbuhan penduduk akibat pertumbuh analamiah dan fasilitas pendukungnya; Penetapan Kawasan Strategis Tujuan penetapan Kawasan Strategis adalah menetapkan kawasan-kawasan yang menurut perkiraan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap tata ruang di wilayah sekitarnya, kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kawasan strategis ditetapkan dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yaitu kawasan Danau Maninjau yang berdasarkan RTRWP tahun 2008-2028 juga ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi. Kecamatan Tanjung Raya dengan Danau Maninjau yang berada di dalamnya ditetapkan sebagai kawasan strategis dalam berbagai skala, mulai dari skala nasional sampai tingkat kecamatan. Dalam konsep pengembangan pariwisata nasional, Kawasan Danau Maninjau termasuk ke dalam wilayah pengembangan A, yang merupakan wilayah dengan jumlah wisatawan terbesar kedua setelah Jawa dan Bali dengan produk andalan berupa alam pegunungan dan budaya Melayu. Selain itu kawasan Danau Maninjau juga ditetapkan sebagai 61 Kawasan Pengembangan Pariwisata dalam Kawasan Andalan Agam-Bukittinggi dan juga Sebagai Kawasan Pengembangan Sumber Energi dan Jaringan Kelistrikan pada PP No. 47 Tahun 1997 Tentang RTRWN. Gambar 18. Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau (BAPPEDA, 2010) 62 Pada skala provinsi, kawasan Danau Maninjau ditetapkan sebagai pusatpusat pendukung pertumbuhan yang diarahkan di Lubuk Basung dan Bukittinggi, dengan potensi ekonomi wilayah belakang adalah pertanian dan pariwisata dalam RTRW Propinsi Sumatera Barat (dalam review RTRW Kab. Agam, 1995-2005). Pengembangan wilayah prioritas yang dimaksud pada kebijakan ini adalah kawasan pariwisata, kawasan pertanian tanaman pangan, dan penanganan lahan kritis (Gambar 18). Beberapa kebijakan yang terangkum dari beberapa dokumen diantaranya adalah, Keppres RI No. 32 Tahun 1990, PP No. 47 Tahun 1997, dan Review RTRW Kab. Agam (1995-2005), menyebutkan bahwa kawasan Danau Maninjau harus dijadikan Kawasan perlindungan lingkungan setempat, sempadan danau dan sekitar mata air. Kebijakan ini terkait keberlanjutan daya dukung lingkungan yang potensi dampaknya mencakup skala regional Kabupaten Agam. Berdasarkan booklet yang diterbitkan oleh Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat, Kawasan Danau Maninjau yang termasuk dalam Kecamatan Tanjung Raya ditetapkan sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan Nila. Penerapan budidaya perikanan dilakukan melalui beberapa media, baik kolam jaring apung, keramba, kolam air deras, bahkan sawah. Kawasan Danau Maninjau, yang terkait dengan Lubuk Basung mendukung peran kota tersebut sebagai kota orde II. Lebih lanjut, Kecamatan Tanjung Raya, sebagai bentuk administratif Kawasan Danau Maninjau, dalam Review RTRW Kabupaten Agam ditetapkan bahwa fungsi pusat kegiatan di Kecamatan Tanjung Raya untuk wilayah perkotaan merupakan fungsi kegiatan khusus, dengan urutan orde ke IV. Adapun selengkapnya mengenai fungsi perkotaan Maninjau (Tanjung Raya) seperti tercantum dalam Review RTRW Kabupaten Agam adalah sebagai berikut: 1. sebagai pusat pelayanan jasa skala kecamatan 2. sebagai pusat pelayanan pemerintahan skala kecamatan 3. sebagai pusat pelayanan sosial skala kecamatan 4. sebagai pusat koleksi distribusi barang dan jasa skala kabupaten 5. sebagai pendorong pengembangan industri pariwisata 6. sebagai pusat koleksi dan distribusi barang skala kecamatan (pelayanan pedesaan) 63 Adapun arahan pengembangan kota dalam kaitannya dengan wilayah yang lebih luas maka fungsi kota diarahkan sebagai: 1. pusat pengembangan kawasan permukiman (SKP) atau sebagai pusat kegiatan lainnya. 2. sebagai pendorong pengembangan kawasan pariwisata dan pendorong kawasan strategis lainnya. 3. sebagai pendorong pengembangan kawasan perikanan jala apung di Danau Maninjau. Prioritas pengembangan kota diarahkan pada peningkatan struktur fungsi kawasan perkotaan dan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan, selain juga meningkatkan pelayanan sarana transportasi terhadap kawasan pedesaan untuk mendorong sektor-sektor produksi di kawasan pedesaan dan meningkatkan penataan kawasan permukiman yang mampu mendorong kawasan wisata. Arahan Pemanfaatan ruang wilayah Arahan Pemanfaatan ruang wilayah mengacu pada: rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan rencana kawasan strategis kabupaten. Arahan pemanfaatan ruang meliputi indikasi program utama, indikasi lokasi, indikasi sumber pendanaan, indikasi pelaksana kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Indikasi program utama pemanfaatan ruang meliputi: indikasi program utama perwujudan struktur ruang, indikasi program utama perwujudan pola ruang, dan indikasi program utama perwujudan kawasan strategis. Indikasi sumber pendanaan terdiri dari dana APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten. Indikasi pelaksana kegiatan sebagaimana dimaksud terdiri dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, BUMN, swasta, dan masyarakat. Indikasi waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud terdiri dari 4 (empat) tahapan jangka lima tahunan, yaitu: 1. tahap pertama, lima tahun pertama (2010 – 2014) yang terbagi atas program tahunan; 2. tahap kedua, lima tahun kedua (2015 – 2019); 3. tahap ketiga, lima tahun ketiga (2020 – 2024); dan 4. tahap keempat, lima tahun keempat (2025 – 2030). 64 Indikasi-indikasi dari kebijakan arahan pemanfaatan ruang di atas merupakan suatu peluang sekaligus ancaman. Secara umum hal-hal tersebut adalah peluang, dan ancaman dapat terjadi apabila pada prakteknya yang menjadi indikasi pelaksana di luar pemerintah seperti BUMN, swasta, dan masyarakat memiliki pemahaman yang kurang terhadap RTRW ini sebagai acuan mereka dalam pemanfaatan ruang wilayah. Arahan Pengendalian Pemanfaatan ruang Arahan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud meliputi: ketentuan umum peraturan zonasi, perizinan, pemberian intensif dan disinsentif, dan arahan sanksi. Ketentuan umum peraturan zonasi menjadi pedoman bagi penyusunan peraturan zonasi oleh pemerintah kabupaten. Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud diatas meliputi ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang dan ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang. Ketentuan umum peraturan zonasi struktur ruang meliputi ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana wilayah dan prasarana lainnya. Ketentuan umum peraturan zonasi pola ruang meliputi ketentuan umum peraturan zonasi untuk ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya. Perizinan yang terkait dengan izin pemanfaatan ruang, menurut ketentuan peraturan perundang-undangan, harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang. Jenis-jenis perizinan yang termasuk kedalam kategogari izin pemanfaatan ruang meliputi : 1. izin prinsip, merupakan izin yang diberikan pemerintah yang menyatakan kegiatan yang dimohonkan secara prinsip diperkenankan untuk diselenggarakan dan belum dapat dijadikan dasar untuk pelaksanaan kegiatan; 2. izin lokasi, merupakan izin yang diberikan pemerintah kepada pemohon untuk memanfaakan ruang lebih besar 1 Ha bagi kegiatan non pertanian dan > 25 bagi kegiatan pertanian; 3. izin Mendirikan Bangunan, merupakan izin yang diberikan pemerintah kepada pemohon sebagai tanda bukti bahwa permohonan yang 65 bersangkutan sudah sesuai dengan peruntukan tata ruang, aturan zonasi, serta aturan teknis keselamatan bangunan; 4. izin lainnya berdasarkan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku, merupakan izin yang diberikan pemerintah dalam hal ini izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan masing-masing instansi atau sektor yang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Insentif merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi yang diatur dalam Peraturan Daerah ini. Ketentuan insentif berlaku untuk kawasan yang didorong pertumbuhannya, yaitu: 1. pemberian insentif pada kawasan perkotaan seperti pembangunan prasarana dan sarana perkotaan secara memadai; 2. pemberian insentif pada kawasan pertanian dapat berupa pembangunan irigasi teknis/desa, pembangunan jalan produksi, perbaikan perumahan petani, dan lain-lain, sedangkan pada kawasan sentra pertanian penting untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar sentra tersebut dapat berfungsi optimal; 3. pemberian insentif pada kawasan perkebunan dapat berupa pemba- ngunan dan peningkatan jalan produksi, penyediaan lahan, gudang penyimpanan, fasilitas pengolahan (pabrik), pengemasan dan lain-lain ; 4. pemberian insentif pada kawasan pesisir berupa pemberian kemudahan untuk berinvestasi, membangun fasilitas penunjang pelabuhan seperti dermaga, tempat pelelangan ikan, bantuan alat tangkap, industri pengolahan hasil perikanan dan lain-lain; 5. pemberian insentif pada kawasan wisata adalah pembangunan prasarana dan sarana perhubungan, penataan lingkungan dan bangunan, penyediaan berbagai fasilitas penunjang pariwisata, promosi dan pemasaran ; 6. pemberian insentif pada kawasan pusat agropolitan adalah memberikan kemudahan investasi, perencanaan ruang secara detil sehingga tercipta kepastian pemanfaatan ruang, pembangunan kelengkapan fasiltas pusat agropolitan, dan lain-lain ; dan 66 7. pemberian insentif pada kawasan stategis berupa pembangunan prasarana dan sarana pehubungan, kemudahan dalam investasi, sarana produksi dan pengolahan pasca panen dan lain-lain. Disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. Kawasan yang perlu dikendalikan dan dibatasi perkembangnnya diberikan ketentuan disinsentif, yang mungkin diterapkan pada kawasan tersebut adalah sebagai berikut: 1. pemberian disinsentif pada kawasan rawan bencana; dapat dikenakan kepada masyarakat yang melakukan pembangunan pada kawasan rawan bencana ; 2. pemberian disinsentif pada kawasan pertanian dan perkebunan dengan tidak dilakukannya pembinaan pada petani kebun yang mempunyai kegiatan perkebunan pada kawasan lindung ; dan 3. pemberian disinsentif pada kawasan pertambangan; dimana batasan dalam pengembangan kegiatan pertambangan adalah selama kegiatan penambangan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan yang penting dan dalam plekasanaan kegiatan pertambangan tersebut harus mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pengenaan sanksi merupakan arahan ketentuan pengenaan sanksi administratif kepada pelanggar pemanfaatan ruang yang akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah kabupaten. Pengenaan sanksi administratif dilakukan secara berjenjang dalam bentuk: 1. peringatan tertulis, 2. penghentian sementara kegiatan, 3. penghentian sementara pelayanan umum, 4. penutupan lokasi, 5. pencabutan izin, 6. pembatalan izin, 7. pembongkaran bangunan, dan 8. pemulihan fungsi ruang. 67 Tindakan pidana adalah tindakan yang menimbulkan kerugian secara perdata, sanksi ini diterapkan akibat pelanggaran yang ada menimbulkan masalah pada perorangan atau masyarakat secara umum. Sanksi perdata terkait dengan pemanfaatan ruang diterapkan sesuai peraturan perundangan berlaku. Ketentuan lebih lanjut terkait pengenaan sanksi pidana dan sanksi perdata mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak dan Kewajiban Serta Peran Masyarakat Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk: 1. mengetahui rencana tata ruang wilayah dan rencana rinci di daerah; 2. menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang; 3. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang; 4. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya; 5. mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang; dan 6. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian. Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib: 1. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan; 2. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang; 3. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; dan 4. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. Untuk mengetahui rencana tata ruang, selain dari Lembaran Daerah masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengumuman atau penyebarluasan oleh Pemerintah Daerah. Kewajiban untuk 68 menyediakan media pengumuman atau penyebarluasan sebagaimana dimaksud dilakukan melalui penempelan atau pemasangan peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan juga pada media massa, serta melalui pembangunan sistem informasi tata ruang. Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan RTRW Daerah diselenggarakan dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Daerah, masyarakat wajib berperan dalam memelihara kualitas ruang dan mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam pemanfaatan ruang di daerah, peran masyarakat dapat berbentuk: 1. pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan, agama, adat, atau kebiasaan yang berlaku; 2. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang mencakup lebih dari satu wilayah daerah/kota di daerah; 3. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan RTRW dan rencana tata ruang kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah; 4. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW daerah yang telah ditetapkan; 5. bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang dan/atau kegiatan menjaga, memelihara, serta meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Tata cara peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang di daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan peran masyarakat sebagaimana dimaksud dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah. Dalam pengendalian pemanfaatan ruang, peran masyarakat dapat berbentuk: pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah daerah/kota di daerah, termasuk pemberian informasi atau 69 laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud; dan bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. Peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud di atas disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Bupati dan pejabat yang ditunjuk. Ketentuan Peralihan Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan peraturan daerah ini. Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, maka semua rencana terkait pemanfaatan ruang dan sektoral yang berkaitan dengan penataan ruang Daerah tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan RTRW. Pada saat peraturan ini berlaku, sambil menunggu penetapan kawasan hutan yang baru disyahkan, peta pola ruang yang diacu adalah pola ruang yang disusun berdasarkan Kepmen Hutbun 422 Tahun 1999, dan secara otomatis berlaku Pola Tata Ruang yang baru jika usulan perubahan kawasan hutan secara resmi ditetapkan. Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, maka seluruh pemanfaatan ruang yang tidak sesuai rencana tata ruang ini, masih tetap berlaku sampai pemerintah daerah dapat menyediakan ganti rugi. Pelaksanaan Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Ketentuan Penutup Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 09 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Agam dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Agam. 70 4.3.2. Aktivitas Wisata Berdasarkan studi dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Danau Maninjau diketahui bahwa pengembangan kegiatan pariwisata dibagi ke dalam 5 kawasan dengan fungsi utama yang berbeda-beda, yaitu: 1. Kawasan Wisata A, dengan fungsi utama kawasan pusat wisata utama 2. Kawasan Wisata B, dengan fungsi utama kawasan pertanian dan budidaya perikanan/wisata hidro 3. Kawasan Wisata C, dengan fungsi utama kawasan kawasan wisata sekunder (wisata alam terbuka dan budidaya perikanan/wisata hidro) 4. Kawasan Wisata D, dengan fungsi utama kawasan PLTA (wisata ilmiah) 5. Kawasan Wisata E, dengan fungsi utama kawasan taman wisata (taman burung dan areal pemancingan) Dengan mempertimbangkan kontribusi Kawasan Danau Maninjau terhadap perekonomian Kabupaten Agam serta peran kawasan tersebut berdasarkan kebijakan-kebijakan terkait yang menaunginya, maka secara kebijakan perkembangan Kawasan Danau Maninjau di masa mendatang diarahkan pada pengembangan sektor pariwisata, pertanian tanaman pangan, perikanan, dan perkebunan. Hal ini didukung pula oleh informasi dan hasil observasi lapangan. Di luar kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah terkait pariwisata tersebut, pariwisata memang merupakan potensi besar yang dapat menjadi andalan kawasan lingkar Danau Maninjau ini. Pariwisata di lingkar Danau Maninjau sudah dikenal hingga wisatawan mancanegara. Keindahan Danau Maninjau telah diakui banyak orang. Presiden Soekarno menggambarkan keindahan Maninjau dengan pantun "Jangan dimakan arai pinang kalau tidak dengan sirih yang hijau. Jangan datang ke Tanah Minang kalau tak mampir ke Maninjau." Pendapat lain datang dari mantan Menteri Muda Malaysia asal Sumatera Barat, A Samad Idris yang pernah datang ke Maninjau berupa puisi "Naik bendi ke Sungai Tanang dihela dengan dua pedati. Banyak danau di Ranah Minang, Danau Maninjau pilihan hati. Akan tetapi, pengelolaaan wisata dan penerimaan masyarakat terhadap wisatawan belum dapat mencapai titik ideal. Hasil survey dari 100 orang responden acak di lingkar danau maninjau tentang pendapat mereka terhadap „pengaruh wisatawan atau perantau yang hadir 71 di lingkungan mereka‟ adalah, 82% menjawab baik, 15% menjawab buruk, dan sisanya 3% tidak menjawab atau abstein. Selanjutnya pertanyaan mengenai respon mereka terhadap wisatawan yang datang adalah, 6% menolak dengan keras; 74% menerima dengan memberi pengetahuan budaya, adat-istiadat, dan aturan setempat; 19% menerima apa adanya; dan 1% tidak menjawab (Gambar 19). Gambar 19. Persentase Persepsi Masyarakat tentang Aktivitas Wisata Dari hasil survey kuisioner tersebut persepsi masyarakat terhadap pariwisata cukup baik, hanya saja beberapa golongan yang berpengaruh seperti tetua adat cukup khawatir terhadap pengaruh aktivitas pariwisata terhadap budaya lokal. Hal tersebut mempengaruhi tumbuhnya industri pariwisata yang sehat. Hal ini dianggap sebagai ancaman bagi pemerhati budaya lokal. Maka perlu ada interaksi dan komunikasi yang terbuka dari berbagai pihak terkait untuk memajukan potensi pariwisata Danau Maninjau tanpa harus mengurangi atau merusak nilainilai budaya lokal. 4.4. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya 4.4.1. Ekologi Secara ekologis, kawasan lingkar Danau Maninjau ini dapat diklasifikasikan melalui pendekatan tingkat intensitas interaksinya (derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami). Semakin besar pengubahan lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Mengacu pada pola penggunaan lahan eksisting, tingkat intensitas interaksi di Kecamatan Tanjung Raya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu alami (hutan) seluas 64,4 km², transisi (kebun 72 campuran dan semak belukar) seluas 36,5 km², intensif (sawah dan pemukiman) seluas 49,9 km², dan klasifikasi sangat intensif (karamba) untuk non lahan daratan atau interaksi langsung pada danau seluas 2,8 km² (Gambar 20). Gambar 20. Klasifikasi Ekologis Kelompok ekosistem alami (hutan) rata-rata tersebar pada ketinggian di atas 900 m dpl dan pada kemiringan lahan yang curam sampai sangat curam (berbukit atau bergunung). Kelompok ekosistem dengan interaksi intensif (pemukiman dan 73 sawah) umumnya tersebar pada ketinggian 500 – 900 m dpl dan pada kemiringan lahan yang datar sampai landai. Diantara kelompok ekosistem alami dan interaksi intensif masih terdapat kelompok interaksi transisi (kebun campuran dan semak belukar), kebun campuran juga merupakan lahan produksi bagi masyarakat, tetapi secara pemanfaatan mereka menganut sistem parak yaitu kearifan lokal sejenis agroforestry, sehingga strata vertikal vegetasi tetap terjaga. Sistem parak ini perlu dipertahankan dan semak belukar disekitarnya yang merupakan lahan tidur dapat dioptimalkan fungsinya menjadi parak. Kelompok transisi ini tersebar pada kemiringan landai hingga curam. Karamba jala apung merupakan suatu kelompok interaksi yang sangat intensif. Sangat intensif dan mengancam karena keberadaanya langsung di atas danau yang merupakan ekosistem rapuh. Berbagai spesies endemik hidup mengembangbiakkan di spesies dalam danau intoduksi dari dan luar kegiatan yang budidaya dapat ini merusak keseimbangan ekosistem asli danau yang diikuti dampak turunannnya seperti eutrofikasi, pendangkalan, dan sejenisnya (Gambar 21). Persentase luasan kelompok ekologis daratan pada setiap nagari adalah sebagai berikut:  Bayua : 93% intensif, 4% transisi, 3% alami;  Maninjau : 90% intensif, 10% transisi, 0% alami;  Duo Koto : 70% intensif, 12% transisi, 18% alami;  Tj. Sani : 10% intensif, 52 transisi, 38% alami;  S. Batang : 33% intensif, 17% transisi, 50% alami;  Kt. Kaciak : 45% intensif, 3 transisi, 52% alami;  Kt. Gadang : 42% intensif, 5 transisi, 53% alami;  Kt. Malintang : 10% intensif, 17 transisi, 73% alami;  Paninjauan : 23% intensif, 0 transisi, 77% alami. Nagari Maninjau, Bayua, dan Duo Koto merupakan nagari-nagari yang didominasi oleh kelompok interaksi (pengubahan lanskap alami) intensif. Nagari Tanjung Sani didominasi oleh kelompok interaksi transisi. Nagari Sungai Batang, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, dan Paninjauan merupakan nagarinagari yang didominasi oleh kelompok intensitas interaksi yang rendah atau masih 74 cukup alami. Hal ini berhubungan dengan kepadatan penduduk pada aspek sosial ekonomi dari setiap nagari. Gambar 21. Ilustrasi Penampang Danau (BAPPEDA, 2010) 4.4.2. Sosial Ekonomi Pertumbuhan penduduk pada Kecamatan Tanjung Raya selama 12 tahun sangat rendah, hanya mencapai 4,38%. Indikator dari aspek sosial ekonomi yang sangat mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya secara spasial adalah kepadatan penduduk. Klasifikasi kepadatan penduduk per-nagari di Kecamatan Tanjung Raya dari data sensus tahun 2007 adalah sebagai berikut:  Maninjau : 2.579 jiwa dengan luas 3,4 km² (759 jiwa/ km²) sangat padat;  Duo Koto : 2.775 jiwa dengan luas 6,6 km² (420 jiwa/ km²) sangat padat;  Bayua : 4.679 jiwa dengan luas 13,6 km² (344 jiwa/ km²) cukup padat; 75  Kt. Kaciak : 4.012 jiwa dengan luas 12,3 km² (326 jiwa/ km²) cukup padat;  Paninjauan : 1.767 jiwa dengan luas 6,3 km² (280 jiwa/ km²) cukup padat;  Kt. Gadang : 1.799 jiwa dengan luas 7,3 km² (246 jiwa/ km²) kurang padat;  Tj. Sani : 5.606 jiwa dengan luas 40,2 km² (139 jiwa/ km²) kurang padat;  S. Batang : 3.385 jiwa dengan luas 25 km² (135 jiwa/ km²) kurang padat;  Kt. Malintang : 2.509 jiwa dengan luas 21,8 km² (115 jiwa/ km²) kurang padat. 4.4.3. Sejarah Spiritual Budaya Karakter budaya dari masing-masing nagari ini pada dasarnya memiliki kesamaan akar budaya, tetapi perkembangannya berjalan masing-masing dengan pengaruh dan ketahanan yang berbeda-beda. Hasil analisis, dari data jumlah titiktitik situs sejarah budaya dan peran lembaga adat kemasyarakatan dalam mengorganisir dan melestarikan kegiatan-kegiatan adat kemasyarakatan (Lampiran 5), menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah satu-satunya nagari yang termasuk dalam kriteria nagari dengan nilai sejarah, spiritual, dan budaya tinggi, dengan jumlah situs sejarah budaya mencapai sembilan titik dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan cukup baik. Nagari yang termasuk dalam kelompok nilai sejarah, spiritual, dan budaya rendah adalah Nagari Koto Gadang dan Koto Malintang dengan jumlah situs sejarah budaya dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan yang terdata kurang dari tiga. Enam nagari lainnya termasuk dalam kelompok nilai sedang. 76 Gambar 22. Klasifikasi Lanskap Budaya 77 4.4.4. Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), dihasilkan total akumulasi nilai setiap nagari tersebut (Tabel 11). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah nagari dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang. Tabel 11. Penilaian Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya NAGARI MANINJAU BAYUA SUNGAI BATANG PANINJAUAN KOTO KACIAK KOTO GADANG KOTO MALINTANG DUO KOTO TANJUNG SANI ASPEK SEJARAH, SOSIAL SPIRITUAL EKONOMI BUDAYA 2 1 2 2 3 3 2 2 2 2 1 3 1 3 2 1 2 3 TOTAL EKOLOGI 1 1 3 3 3 3 3 1 2 4 5 9 7 7 7 7 4 7 RENDAH SEDANG TINGGI SEDANG SEDANG SEDANG SEDANG RENDAH SEDANG Sungai Batang merupakan nagari madani atau sentra budaya religi yang juga dikenal secara nasional karena di nagari ini banyak lahir tokoh-tokoh Islam yang cukup berpengaruh secara nasional. Peran kontrol dari wali nagari dan elemen lembaga adat setempat cukup berpengaruh terhadap perkembangan pada aspekaspek yang mempengaruhinya. Maninjau adalah pusat, gerbang utama, dan ibukota kecamatan, seharusnya nagari ini adalah nagari paling terurbanisasi tetapi dengan fungsi kota tersebut Maninjau tetap menjaga orientasi pengembangannya sebagai pusat wisata yang harus berkelanjutan. Duo Koto merupakan nagari yang cukup berkembang sebagai salah satu nagari produsen padi sawah dan palawija karena dilalui jalur primer jalan provinsi yang menghubungkan Kota Bukittinggi, Lubuk Basung, dan Kabupaten Padang Pariaman, tetapi ternyata masih terdapat cukup banyak situs sejarah budaya di nagari ini. . Orientasi perkembangan budaya masyarakat pada 78 kelompok nagari ini adalah ekonomis praktis. Hal ini menyebabkan eksploitasi berlebihan dalam berbagai aktivitas pertanian dan perikanan. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebihan pada lahan produksi pertanian, pemberian pakan ikan yang berlebihan juga dilakukan pada lahan produksi perikanan. Hal tersebut adalah sebagian indikator bahwa masyarakat telah meninggalkan nilainilai budaya dalam memanfaatkan alam. Bayua adalah wilayah yang didominasi oleh lahan budidaya pertanian tetapi tetap memiliki perkampungan tradisional dan beberapa situs bersejarah budaya yang dijaga dan dilestarikan. Nagari Paninjauan, Koto Kaciak, memiliki kesamaan karakter budaya dari aktivitas masyarakat dalam pola penggunaan lahannya. Sebagai nagari berkembang, peran lembaga adat dan kemasyarakatan dua nagari ini cukup baik dalam upaya melestarikan dan menjaga kegiatan-kegiatan adat kemasyarakatan. Tetapi pada nagari ini tidak terdapat bangunan-bangunan atau situs sejarah budaya yang cukup serius dijaga atau dilestarikan. pengaruh urbanisasi juga terlihat dengan jelas pada pemukiman masyarakat, hampir seluruh bangunan-bangunan pemukiman terpengaruh gaya modernisasi urban. Koto Gadang dan Koto Malintang merupakan pusat lahan produksi pertanian. Perputaran ekonomi juga cukup tinggi nagari ini karena jalur sirkulasi primer melewatinya. Nagari Tanjung Sani cukup tertinggal pengaruh perkembangan, karena aksesibilitas dan letaknya cukup terisolir, karakter budaya pada nagari ini cukup besar dipengaruhi aspek fisik dan biofosik daerahnya, wilayah datar yang sangat sempit dan terbatas membuat masyarakat lebih dekat dengan danau, ancaman longsor membuat masyarakat lebih waspada, cukup kompak dan peduli terhadap alam sekitarnya, hubungan historis perkembangan nagari ini dengan salah satu daerah di nagari Sungai Batang membuat karakter visual lanskap budayanya memiliki kesamaan. 4.5. Analisis Keberlanjutan 4.5.1. SWOT Analisis keberlanjutan dijabarkan secara deskriptif dengan metode analisis SWOT untuk merumuskan strategi-strategi menuju keberlanjutan. Faktor yang diidentifikasi adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal 79 bersumber pada aspek fisik dan biofisik lanskap serta aspek sosial-ekonomi, dan budaya-spiritual masyarakat setempat. Faktor eksternal bersumber pada aspek kebijakan dan peraturan pemerintah di atas tingkat kecamatan dan aktivitas wisata dari luar kawasan Danau Maninjau. Penjabaran lebih spesifik dari identifikasi faktor internal dan eksternal terdapat pada Tabel 12 dan 13. Tabel 12. Tingkat Kepentingan Faktor Internal Faktor Kekuatan (Strength) S1 Secara administratif wilayah tersatukan dalam satu kecamatan sehingga mempermudah pengelolaan dan sistem otonomi nagari dan kelembagaan adat masih dipertahankan mendukung kontrol adat budaya S2 Kondisi fisik geologi, tanah, dan topografi memiliki sejarah khusus dan keragaman bentukan lahan yang unik S3 Memiliki spesies endemik (ikan danau) yang merupakan sumberdaya protein dengan pola hidup mendukung untuk dipanen S4 Kepentingan Kuat (3) Sedang (2) Sangat kuat (4) Kepadatan penduduk yang rendah dengan pola penggunaan lahan masih cukup beragam dan kontribusi produktif skala kabupaten cukup signifikan pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan S5 Tingkat Masyarakat lokal pernah memiliki kearifan lokal sistem pemanfaatan lahan (parak) yang sejenis dengan agroforestry Faktor Kelemahan (Weakness) W1 Memiliki jenis tanah yang rawan erosi dan longsor pada beberapa titik dengan topografi sangat terjal W2 Fenomena tubo balerang (racun belerang) yang semakin sering terjadi dengan akumulasi pencemar lainnya (eutrofikasi) akibat aktivitas budidaya intensif ikan nila (introduksi) semakin banyak pada danau W3 Orientasi masyarakat dalam pemanfaatan lahan ke arah ekonomis praktis jangka pendek kurang memperhatikan keberlanjutan karena tingkat pendidikan petani dan nelayan relatif rendah W4 Sistem inti budaya matrilineal mempengaruhi regenerasi budaya internal menjadi lemah karena kecenderungan merantau meninggalkan kampung halaman tinggi Kuat (3) Kuat (3) Tingkat Kepentingan Lemah (3) Lemah (3) Sangat lemah (4) Sangat lemah (4) 80 Tabel 13. Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal Tingkat Kepentingan Faktor Peluang (Opportunity) O1 O2 Dilalui akses utama jalur provinsi (Bukittinggi-Lb Basung-Padang) membuka peluang ekonomi dan pariwisata Kebijakan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 dengan tujuan „Mewujudkan Agam sebagai Kabupaten Industri Agro, Kelautan, dan Pariwisata, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟ cukup ideal secara legal karena memperhatikan aspek-aspek daya dukung lingkungan T2 Sangat tinggi (4) Tingkat Kepentingan Faktor Ancaman (Threats) T1 Tinggi (3) Dilalui akses utama jalur provinsi dikhawatirkan sebagian masyarakat lokal mengancam ketahanan budaya lokal dengan pengaruh kejutan budaya dan modernisasi Kebijakan yang menetapkan Kawasan Danau Maninjau sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan nila intensif (spesies introduksi) mengancam keseimbangan ekosistem danau dan mendorong petani berubah profesi menjadi nelayan karena lebih instan dan cukup menjanjikan Sangat besar (4) Sangat besar (4) Setelah melakukan penentuan tingkat kepentingan, tahap selanjutnya adalah penentuan bobot (Tabel 14 dan 15). Tabel 14. Pembobotan Faktor Internal Simbol S1 S2 S3 S4 S5 1 3 2 2 S1 3 4 3 3 S2 1 1 1 1 S3 2 1 3 2 S4 2 1 3 2 S5 2 1 3 2 2 W1 2 1 3 2 2 W2 1 1 2 1 1 W3 1 1 2 1 1 W4 W1 W2 W3 W4 2 2 3 3 3 3 4 4 1 1 2 2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 1 1 2 1 1 2 Tabel 15. Pembobotan Faktor Eksternal Simbol O1 O2 T1 3 3 O1 1 2 O2 1 2 T1 1 2 2 T2 Total T2 3 2 2 Total 18 27 10 18 18 18 18 10 10 147 Total 9 5 5 5 24 Bobot 0,12 0,18 0,07 0,12 0,12 0,12 0,12 0,07 0,07 1,00 Bobot 0,38 0,21 0,21 0,21 1,00 81 Kemudian, peringkat dan bobot dari masing-masing faktor dikalikan untuk memperoleh skor pembobotan (Tabel 16 dan Tabel 17) guna menentukan kuadran strategi. Total skor yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE dapat diketahui posisi tapak studi pada suatu kuadran yang menyatakan kekuatan dan kelemahannya melalui matriks internal-eksternal (IE) (Gambar 3). Tabel 16. Skor Pembobotan Faktor Internal S S1 S2 S3 S4 S5 Faktor Kekuatan (Strength) Secara administratif wilayah tersatukan dalam satu kecamatan sehingga mempermudah pengelolaan dan sistem otonomi nagari dan kelembagaan adat masih dipertahankan mendukung kontrol adat budaya Kondisi fisik geologi, tanah, dan topografi memiliki sejarah khusus dan keragaman bentukan lahan yang unik Memiliki spesies endemik (ikan danau) yang merupakan sumberdaya protein dengan pola hidup mendukung untuk dipanen Kepadatan penduduk yang rendah dengan pola penggunaan lahan masih cukup beragam dan kontribusi produktif skala kabupaten cukup signifikan pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan Masyarakat lokal memiliki kearifan lokal sistem pemanfaatan lahan parak yang sejenis dengan agroforestry W Faktor Kelemahan (Weakness) W1 Memiliki jenis tanah yang rawan erosi dan longsor pada beberapa titik dengan topografi sangat terjal W2 Fenomena tubo balerang (racun belerang) yang semakin sering terjadi dengan akumulasi pencemar lainnya (eutrofikasi) semakin banyak pada danau W3 Orientasi masyarakat dalam pemanfaatan lahan ke arah ekonomis praktis jangka pendek kurang memperhatikan keberlanjutan karena tingkat pendidikan petani dan nelayan relatif rendah W4 Sistem inti budaya matrilineal mempengaruhi regenerasi budaya internal menjadi lemah karena kecenderungan merantau meninggalkan kampung halaman tinggi. Bobot Rt Skor 0,12 3 0,37 0,18 2 0,37 0,07 4 0,27 0,12 3 0,37 0,12 3 0,37 bobot Rt Skor 0,12 3 0,37 0,12 3 0,37 0,07 4 0,27 0,07 4 0,27 Total 3,02 82 Tabel 17. Skor Pembobotan Faktor Eksternal O Faktor Peluang (Opportunity) O1 Dilalui akses utama jalur provinsi (Bukittinggi-Lb BasungPadang) membuka peluang pariwisata O2 Kebijakan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 dengan tujuan „Mewujudkan Agam sebagai Kabupaten Industri Agro, Kelautan, dan Pariwisata, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟ cukup ideal secara legal karena memperhatikan aspek-aspek daya dukung lingkungan. Bobot Rt Skor T T1 Bobot Rt Skor T2 Faktor Ancaman (Threats) Dilalui akses utama jalur provinsi dikhawatirkan sebagian masyarakat lokal mengancam ketahanan budaya lokal dengan pengaruh kejutan budaya dan urbanisasi Kebijakan yang menetapkan Kawasan Danau Maninjau sebagai salah satu daerah sentra budidaya ikan nila intensif (spesies introduksi) mengancam keseimbangan ekosistem danau dan mendorong petani berubah profesi menjadi nelayan karena lebih instan dan cukup menjanjikan. 0,38 3 1,13 0,21 4 0,83 0,21 4 0,83 0,21 4 0,83 Total 3,63 Pembobotan dari setiap faktor internal menghasilkan jumlah skor atau nilai yang cukup tinggi (3,02). Hasil pembobotan dari faktor eksternal juga menghasilkan nilai yang tinggi (3,63). Jumlah nilai dari masing-masing faktor tersebut menunjukkan bahwa strategi yang akan disusun seharusnya berorientasi pada strategi pertumbuhan dan pengembangan (growth strategy) yang termasuk pada kuadran I diagram model strategi (Rangkuti, 2009). Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini dapat dicapai melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik di sektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. 83 4.5.2. Rekomendasi Keberlanjutan Hasil dari analisis di atas adalah rumusan strategi atau rekomendasi keberlanjutan, sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya sebagai berikut: 1. Memperkuat dan mengembangkan berbagai kebijakan, peraturan, kontrol aspek legal, dan program solutif dan aplikatif yang lebih spesifik untuk mendukung keberlanjutan lanskap budaya; 2. Meningkatkan kualitas generasi budaya dengan pendidikan budaya sejak dini pada generasi muda, membuka peluang dan memberi insentif pada perantau untuk berinvestasi di kampung halaman, guna meningkatkan kualitas ketahanan budaya yang otomatis mengembangkan sektor pariwisata; 3. Meningkatkan pemahaman dan kualitas sumber daya manusia harus dengan berbagai pendidikan terkait dan sosialisasi ulang mengenai kekayaan alam dan kearifan lokal yang dimiliki, agar terjadi optimalisasi produktifitas (efektif+efisien) pada sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan yang ramah pariwisata, dan tidak mudah terbawa arus modernisasi yang menyebabkan degradasi lanskap budaya; 4. Mengurangi intensitas pencemaran dengan mengurangi budidaya ikan nila (introduksi) intensif di atas danau, karena terdapat subtitusi spesies endemik yang lebih bernilai dan berkelanjutan; 5. Melestarikan spesies endemik danau agar dapat dikembangkan menjadi fokus komoditas budidaya unggulan dan bernilai jual tinggi yang mendukung pariwisata dan keberlanjutan ekosistem danau; 6. Mengoptimalkan kekuatan atau potensi fisik dan biofisik alami melalui peningkatan kualitas pengelolaan lahan dengan sosialisasi ulang sistem pemanfaatan lahan (parak) yang berbasis kearifan lokal adat budaya setempat, guna meningkatkan nilai-nilai lokal dan daya jual wisata minat khusus yang mendukung aktivitas pariwisata berkelanjutan; 7. Melakukan program pengendalian atau mitigasi bencana bersama masyarakat setempat berbasis budaya atau kearifan lokal guna meningkatkan karakter khusus yang mendukung aktivitas pariwisata berkelanjutan; 84 8. Mengembangkan, mempertahankan, dan mengelola kualitas layanan dari objek-objek wisatanya masing-masing berbasis pada adat-budaya nagari dan kearifan lokal untuk mengoptimalkan profit dari pariwisata. 85 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Karakteristik lanskap alami Danau Maninjau adalah danau yang terbentuk dari kawah atau kaldera gunung purba. Bentukan lahan ini membuat rona lanskap lingkar Danau Maninjau memiliki keunikan tersendiri. Barisan bukit-bukit terjal yang mengelilingi batas terluar kecamatan ini menjadi pembatas atau penyangga fisik alami yang masih cukup ditumbuhi hutan primer. Ketinggian (elevasi) lahan yang mengarah semakin turun ke bawah dan terpusat ketengah (danau) membuat semua aliran juga mengarah terpusat ke danau. Nilai kemiringan lahan di lingkar Danau Maninjau yang beragam menjadikan pemanfaatannya juga beragam dan ini cukup mempengaruhi ekosistem alami danau. Salah satu aspek indikator ekosistem alami danau terpengaruhi adalah jumlah populasi spesies endemik ikan rinuak dan bada yang semakin menurun. Karakteristik lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau sesuai dengan unit sistem yang berlaku, yaitu sistem nagari. Nagari secara admnistratif terbentuk dari upaya penjagaan nilai filosofi budaya Minangkabau pada aspek fisik dan biofisik. Oleh karena hal tersebut, nagari merupakan unit budaya yang diformalkan dan menjadi satuan unit batas pemerintahan administratif di bawah tingkat kecamatan. Terdapat delapan nagari yang mengelillingi dan bersentuhan langsung dengan danau, dan satu nagari hasil pemekaran yang tidak bersentuhan dengan danau. Sembilan nagari ini disatukan oleh wilayah administrasi Kecamatan Tanjung Raya, dengan Nagari Maninjau sebagai pusat atau ibu kota kecamatan. Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), dihasilkan total akumulasi nilai setiap nagari yang menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah nagari dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya yanitu Bayua, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Paninjauan, dan Tanjung Sani dengan nilai sedang. Rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar Danau Maninjau harus berorientasi pada keberlanjutan. Analisis keberlanjutan dengan metode SWOT menghasilkan strategi pertumbuhan (growth strategy) dengan 86 konsentrasi melalui integrasi vertikal. Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik disektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. 5.2. Saran Masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak terkait sebaiknya saling bekerja sama untuk menjaga keberlanjutan lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau. Pemerintah dapat memperkuat dan mengembangkan berbagai kebijakan, peraturan, kontrol aspek legal, dan program solutif dan aplikatif yang lebih spesifik untuk mendukung keberlanjutan lanskap budaya. Masyarakat sebaiknya meningkatkan kualitasnya sehingga dapat membangun pertumbuhan lanskap budaya yang berkelanjutan melalui berbagai aspek yang terintegrasi. Rekomendasi keberlanjutan hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam mengambil tindakan untuk menjaga keberlanjutan lanskap budaya wilayah lingkar Danau Maninjau ini secara khusus dan lanskap budaya lainnya secara umum. KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT IZNILLAH FADHOLI ARHAM DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 87 DAFTAR PUSTAKA Badjoeri, M. 2004. Kajian pendahuluan profil vertikal kelimpahan bakteri pada kolom air dan sedimen di Danau Maninjau, Sumatera Barat. Dalam: W. B. Setyawan, P. Purwati, S. Sunanisari, D. Widarto, R. Nasution, dan O. Atijah (eds.), Interaksi daratan dan lautan: pengaruhnya terhadap sumber daya dan lingkungan. Prosiding Simposium Interaksi Daratan dan Lautan, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarata, Indonesia, 353-368. [BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Agam. 2010. Lubuk Basung: RTRW Kabupaten Agam 2010-2030. Basyir, D. A. 2008. Evaluasi Keberlanjutan Masyarakat Desa di Daerah Aliran Sungai Cisadane Menuju Ecovillage. [skripsi]. Bogor: Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. [BPS] Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Agam. 2007. Lubuk Basung: Kecamatan Tanjung Raya Dalam Angka 2007. David F. 2005. Strategic Management. Di dalam; Dewi NK, editor. Nature of Strategy Analysis and Choice. [terhubung berkala]: http://akusukamenulis.wordpress.com/. [7 Jan 2012]. [G E N] Global Ecovillage Network. 2011. Community Sustainability Assessment. [terhubung berkala]. http://gen.ecovillage.org [19 Februari 2011]. Longstreth, R. 2008. Urban Landscapes. London: University of Minnesota Press. Newman,P dan Jennings,I. 2008. Cities as Sustainable Ecosystem. Washington DC: Island Press. Nurisjah, S. dan Q. Pramukanto. 2001. Perencanaan Kawasan Untuk Pelestarian Lanskap dan Taman Sejarah. Program Studi Arsitektur Pertamanan, Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB (tidak dipublikasikan). Bogor. Rankuti, F. 2009. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi. Rasyid, F. 2008. Karakteristik dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lanskap Budaya Nagari Kamang Mudik di Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Suwigno, P. 2003. Ekosistem Perairan Pedalaman, Tipologi dan Permasalahannya. [laporan riset]. Bogor: Pusat Penelitian Biologi LIPI 88 LAMPIRAN 89 Lampiran 1. Surat Rekomendasi Permohonan Data Penelitian 90 Lampiran 2. Surat Rekomendasi Izin Penelitian / Observasi 91 Lampiran 3. Kuisioner Persepsi dan Preferensi Masyarakat 92 Lampiran 4. Draft Wawancara Sejarah Asal-usul Kampung DRAFT WAWANCARA SEJARAH ASAL-USUL KAMPUNG Nama Kampung : ……………………………………………… Tanggal Wawancara : ……………………………………………… Nama : ……………………………………………… Umur : ……………………………………………… Pekerjaan : ……………………………………………… Nara Sumber Bagaimana asal-usul terbentuknya Kampung ini? ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... ................................................................................................................... Sejak kapan Kampung ini mulai dihuni ? ................................................................ Siapa yang pertama kali tinggal di sini? Dari mana mereka berasal? (kampung lain/desa lain/dari luar) ………………………………………………… Sejak kapan daerah ini mulai berkembang menjadi kampung? ............................................................................................................. Bagaimana kira-kira kondisi Kampung ini sebelum dihuni? (hutan/semak-belukar/perkebunan/sawah/tegalan/dll) ………………………………………………… Dari mana Bapak/Ibu tahu mengenai hal-hal di atas? ............................................. Lampiran 5. Data Skoring Parameter Sejarah, Spiritual, dan Budaya 93 94 iii RINGKASAN IZNILLAH FADHOLI ARHAM. Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dibimbing oleh NURHAYATI HS ARIFIN. Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Interaksi masyarakat dengan lanskap alami lingkar Danau Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Faktor pendorongnya yaitu, laju konversi penggunaan lahan, pembangunan fisik yang tidak seimbang, dan penurunan kualitas budaya masyarakat semakin cepat. Hal ini mengakibatkan degradasi kualitas lingkungan (alam dan budaya). Kualitas lingkungan yang menurun ini terkait erat dengan pola aktivitas budaya masyarakat yang berkembang saat ini. Masyarakat di lingkar Danau Maninjau saat ini sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu, contohnya budidaya ikan dengan sistem karamba jala apung. Budidaya dengan sistem karamba jala apung menjadi trend karena komoditasnya menjanjikan secara ekonomis dalam jangka pendek tetapi dapat mengancam dan menyaingi keberlanjutan ekosistem spesies endemik di Danau Maninjau. Permasalahan tersebut sangat mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup dan berpijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutannya. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau ini. Penelitian dilaksanakan selama sembilan minggu, mulai akhir bulan Februari 2011 sampai dengan April 2011, di kawasan nagari lingkar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap berupa inventarisasi data, analisis, dan sintesis (rekomendasi). Inventarisasi data dilakukan dengan metode observasi lapangan, pengamatan, kuisioner, dan wawancara kepada elemen pemerintahan nagari serta tetua atau pemerhati adat budaya setempat. Analisis dilakukan baik secara deskriptif maupun spasial. Analisis spasial bertujuan untuk menghasilkan deskripsi karekteristik lanskap budaya lingkar Danau Maninjau dan mengetahui karakter interaksi manusia dan lanskap alami tersebut dengan unit analisis setiap nagari di dalamnya. Analisis deskriptif dilakukan dengan metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Metode SWOT bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan dan merumuskan strategi pengembangan dan pelestarian lanskap budaya di Lingkar Danau Maninjau tersebut. Wilayah lingkar Danau Maninjau secara administrasi merupakan kesatuan dari Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumetera Barat, mencakup sembilan Nagari, yaitu Maninjau, Bayur, Duo Koto, Paninjauan, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Tanjung Sani, dan Sungai Batang. Aksesibilitas di kawasan Danau Maninjau adalah jalan provinsi kelas-II dan jalan iv kabupaten kelas-III. Kecamatan Tanjung Raya termasuk dalam daerah yang terletak di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata antara 23°C - 31°C, kelembaban nisbi sebesar 95%, kecepatan angin 23 km/jam, dan curah hujan rata-rata mencapai 2.500-3.500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut. Danau Maninjau juga termasuk ke dalam satuan morfologi Gunung Api Strato. Pada morfologi ini bagian puncak dan lereng bagian atas merupakan aliran permukaan atau resapan, sedangkan pada bagian kaki gunung ditafsirkan sebagai daerah akumulasi air tanah. Daerah Danau Maninjau merupakan bagian dari Sistem Patahan Besar Sumatera (The Great Sumatran Fault Sistem). Pada bagian tengah merupakan patahan utama yang aktif. Secara visual, tampak dari atas morfologi landform Gunung Maninjau tidak memperlihatkan bentuk sebuah gunungapi yang lengkap, tetapi berbentuk sebuah kerucut terpancung. Puncak-puncak bukit yang tinggi-tinggi hampir-hampir mengelilingi kaldera Maninjau, terutama di utara dan Selatan dengan ketingian mencapai 1500 m pada Puncak Gunung Rangkian di Utara dan 1252 m pada puncak Gunung Tanjung Balit di selatan. Secara ekosistem, Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Antokan dan juga termasuk Satuan Wilayah Sungai (SWS) Anai Sualang. Fenomena hidrologi rutinan di Danau Maninjau adalah tubo balerang atau racun belerang. Endapan belerang dari dasar danau secara rutin akan naik ke permukaan disebabkan oleh pola angin darat yang juga rutin melewati Danau Maninjau. Penggunaan lahan terbaru dalam dokumen RTRW Kabupaten Agam 2010-2030 menunjukkan bahwa data penggunaan lahan di lingkar Danau Maninjau tahun 2010 sangat berubah, dengan konversi hutan atau lanskap alami menjadi lahan budidaya intensif, dibanding data tahun 2002 hutan yang masih cukup mendominasi. Pemanfaatan sumber daya alami yang berlebihan ini juga menyebabkan semakin banyaknya endapan dari buangan limbah pemukiman dan tren budidaya perikanan jala apung atau karamba yang semakin tidak terkontrol. Jumlah penduduk Kawasan Danau Maninjau pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 30.961 jiwa atau meningkat sekitar 4,38% dari tahun 2001. Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki dan didominasi oleh kelompok umur kategori pra-produktif yang mencapai 44,4% total penduduk. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perekonomian unggulan di kecamatan ini terletak pada sektor dan sub sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Sistem lembaga kemasyarakatan di kawasan lingkar Danau Maninjau berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia, dengan sistem Nagari yang secara hierarki administratif berada di bawah Kecamatan. Masyarakat lingkar Danau Maninjau merupakan masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau secara tradisional telah memiliki prinsip filosofis yang mengatur konsepsi hidup dan kehidupan masyarakatnya. Filosofi adat Minang tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru atau filosofi ekologis. Sistem adat yang berlaku di masyarakat lingkar Danau Maninjau adalah Adat Minangkabau. Secara mendasar sistem ini tidak berbeda dengan masyarakat Minangkabau di daerah lainnya, yang membedakan hanya pada tataran metodologis dan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Kebijakan pemerintah berupa RTRW adalah faktor eksternal yang mempengaruhi pola lanskap. Tujuan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030 adalah, „Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN, v dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟. Secara umum kebijakan ini sudah cukup baik, tetapi pada spesifik aturan tertentu perlu dikaji ulang terkait dampaknya terhadap keberlanjutan lanskap budaya setempat. Aktivitas wisata yang berkembang dianggap sebagai ancaman bagi pemerhati budaya lokal. Maka perlu ada interaksi dan komunikasi yang terbuka dari berbagai pihak terkait untuk memajukan potensi industri pariwisata Danau Maninjau tanpa harus mengurangi atau merusak nilai-nilai budaya lokal. Secara ekologis, kawasan lingkar Danau Maninjau ini dapat diklasifikasikan melalui pendekatan derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami. Semakin besar pengubahan lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya. Setelah dihitung luasan masing-masing kelompok pengubahan penggunaan lanskap alami pada setiap nagari, diketahui bahwa Nagari Maninjau, Bayua, dan Duo Koto merupakan nagari-nagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap alami intensif (nilai ekologis rendah); Nagari Tanjung Sani didominasi oleh kelompok lanskap alami transisi (nilai ekologis sedang); dan Nagari Sungai Batang, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, dan Paninjauan merupakan nagarinagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap alami rendah (nilai ekologis tinggi). Indikator dari aspek sosial ekonomi dalam studi ini ditinjau dari segi kepadatan penduduk. Klasifikasi kepadatan penduduk per-nagari di Kecamatan Tanjung Raya dari data sensus tahun 2007 adalah sebagai berikut: Maninjau dan Duo Koto sangat padat; Bayua, Koto Kaciak, Paninjauan cukup padat; Koto Gadang, Tanjung Sani, Sungai Batang, Koto Malintang kurang padat. Hasil penilaian aspek sejarah spiritual budaya menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang adalah satu-satunya nagari yang termasuk dalam kriteria nagari dengan nilai sejarah, spiritual, dan budaya tinggi, dengan jumlah situs sejarah budaya mencapai sembilan titik dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan cukup baik. Nagari yang termasuk dalam kelompok nilai sejarah, spiritual, dan budaya rendah adalah Nagari Koto Gadang dan Koto Malintang dengan jumlah situs sejarah budaya dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan yang terdata kurang dari tiga. Enam nagari lainnya termasuk dalam kelompok nilai sedang. Setelah menilai setiap komponen aspek analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan sejarah spiritual budaya), total akumulasi nilai setiap nagari tersebut yaitu Nagari Sungai Batang dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang. Hasil dari analisis keberlanjutan dengan metode SWOT menunjukkan bahwa strategi yang akan disusun seharusnya berorientasi pada strategi pertumbuhan dan pengembangan (growth strategy) yang termasuk pada kuadran I diagram model strategi (Rangkuti, 2009). Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan. Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk (lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol. Konsentrasi strategi ini dapat dicapai melalui integrasi vertikal agar terjadi hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan pengembangan yang baik disektor produksi dan membangun jaringan pasar yang luas. Strategi pertumbuhan dan pengembangan ini dijabarkan dalam rekomendasi strategi keberlanjutan sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya.
Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat Aktivitas Wisata Pengaruh Eksternal 1. Kebijakan dan Peraturan Pemerintah - RTRW Analisis Tahapan dan Metode Penelitian Batasan Penelitian METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Filosofi dan Nilai-Nilai Aspek Sosial Budaya 1. Demografi Filosofi dan Nilai-Nilai Sistem Adat dan Budaya Inventarisasi Tahapan dan Metode Penelitian Keberlanjutan Lanskap Budaya TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lanskap Danau Maninjau TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lembaga Kemasyarakatan Aspek Sosial Budaya 1. Demografi PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat Rekomendasi Keberlanjutan Analisis Keberlanjutan 1. Sistem Adat Budaya Minangkabau Sistem Adat dan Budaya Sosial Ekonomi Sejarah Spiritual Budaya Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya Tujuan Manfaat Kerangka Pikir
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Gratis