The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat

 0  15  229  2017-05-18 14:39:58 Report infringing document
STUDI EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI PINTU ATAS DAN PINTU SAMPING DENGAN JENIS UMPAN KANIKIL (Chiton sp.) PADA PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PALABUHAN RATU, JAWA BARAT DIKI PATRA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (Chiton sp.) pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.) di Palabuhanratu, Jawa Barat dalah karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun. Kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, September 2012 Diki Patra C44060067 ABSTRAK DIKI PATRA, C44070067. Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (Chiton sp) pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.) di Palabuhanratu, Jawa Barat. Dibimbing oleh ZULKARNAIN dan M FEDI A SONDITA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bubu lipat modifikasi dan penggunaan umpan kanikil pada penangkapan lobster. Penelitian ini menggunakan metode uji coba penangkapan (experimental fishing), desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu digunakan 3 jenis bubu lipat 2 jenis umpan dengan jumlah ulangan sebanyak 24 trip penangkapan. Faktor jenis bubu lipat terdiri dari bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar (S), bubu lipat modifikasi pintu samping satu pintu (PS), dan bubu lipat modifikasi pintu atas satu pintu (PA). Faktor jenis umpan terdiri dari umpan ikan tembang (Sardinella fimbriata) sebagai umpan standar dan kanikil (chiton sp) sebagai umpan alternatif. Hasil tangkapan terdiri dari hasil tangkapan utama yaitu spiny lobster (Panulirus spp.) dan hasil tangkapan samping (bycatch). Komposisi hasil tangkapan secara total didominasi oleh hasil tangkapan sampingan yaitu sekitar 61,11 %, hasil tangkapan utama sebesar 38,89 %. Hasil tangkapan sampingan adalah krustasea (rajungan) 34 ekor (26,89%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 34 ekor (26,89%), kelompok ikan (kerapu Epinephelus coioides) 2 ekor (1,59%), singreng (Canthigaster sp) 2 ekor (2,4%) kelompok keong (keong macan- Babilonia Spirata) 2 ekor (1,59%). Hasil tangkapan utama adalah lobster yang terdiri terdiri dari 3 spesies yang didominasi oleh lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 47 ekor (37,30%), lobster hijau (Panulirus versicolor) 1 ekor (0.83%) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (0,83%). Perbandingan hasil tangkapan dari kedua jenis umpan memiliki nilai yang tidak berbeda nyata dengan taraf nyata 5 %. Sedangkan dari tiga jenis bubu standar lebih baik dari bubu lipat pintu samping, dan bubu lipat pintu samping sama dengan bubu lipat pintu atas (S > PS = PA). Kata kunci: bubu lipat rajungan, bubu lipat modifikasi, lobster, kanikil. ABSTRACT DIKI PATRA, C44070067. The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat. Mentored by ZULKARNAIN and M. FEDI A SONDITA. The purpose of this research are to find out the effectiveness the modified of collapsible pot and the use of chiton on catching lobsters. This research is used by the experimental fishing method. Design research using the Completely Randomize Design with two factors. The factors is 3 collapsible pot type and 2 type of bait with the number of catching repeats as much as 24 trip. Factors of collapsible pot consists of the swimming crab pots as the standar of collapsible pot (S) and two modified of collapsible pots. The modification is the pot that have one funnel on aside (PS) and the pot that have one funnel on top (PA). The bait factors consists of bait fish Fringescale sardinella (Sardinella fimbriata) as standard bait and worm (Chiton sp) as an alternative bait. The catch is consist of the main target catches is that the spiny lobster (Panulirus spp.) and (by-catch). The totally composition of catches dominated by (by-catch) about 61,11 %, and target catches about 38,89 %. By catch are the swimming crabs about 34 (26,89 %), cuttlefish (Sepia sp.) about 34 (26,89 %), fish about 2 (1,59 %). The main target catches of 3 type is dominated by spiny lobsters (Panulirus homarus) about 40 (37.30 %), one painted rock lobster (Panulirus versicolor) (0.83%), and one ornate rock lobster (Panulirus ornatus) (0.83%). Comparison of two types of catches bait has a value that is not significantly different (α = 5 %). Between three kinds of pots, catches standar collapsible pot better than one funnel aside collapsible pot, and one funnel aside collapsible pot same with one funnel on top collapsible pot (S > PS = PA). Key Words: Swimming crab collapsible pots (Standars), modification pot, lobster, Kanikil. © Hak Cipta IPB, Tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan tersebut hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB. STUDI EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI PINTU ATAS DAN PINTU SAMPING DENGAN JENIS UMPAN KANIKIL (Chiton sp.) PADA PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PALABUHAN RATU, JAWA BARAT DIKI PATRA Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Judul Skripsi : Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (Chiton sp) pada Penangkapan Lobster Panulirus spp. di Palabuhanratu, Jawa Barat Nama : Diki Patra NIM : C44070067 Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Disetujui: Komisi Pembimbing Ketua, Anggota, Dr. Ir. Zulkarnain, M.Si. NIP. 19630519 199203 1 001 Dr. Ir. M.Fedi A Sondita, M.Sc. NIP. 19630315 198703 1003 Diketahui: Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc. NIP. 19621223 198703 1 001 Tanggal ujian: 10 September 2012 Tanggal lulus : PRAKATA Skripsi ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilakukan pada bulan Agustus 2011 ini adalah Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (Chiton sp) pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.) di Palabuhanratu, Jawa Barat Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: 1) Dr. Ir. Zulkarnain, M.Si. dan Dr. Ir. M. Fedi A Sondita, M.Sc. selaku pembimbing yang telah memberikan bantuan, saran dan bimbingannya selama penulisan skripsi ini, Dr. Ir. Moh. Imron, M.Si. selaku ketua komisi pendidikan dan Dr. Roza Yusfiandayani, S.pi, sebagai penguji dalam sidang, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya; 2) Kedua orang tua yang selalu memberikan doa, dukungan, dan memberikan semangat. Kakak-kakak saya Adi Satria, Budi Setiawan, Candra Wijaya yang selalu memberikan dukungan dan arahan. 3) Teman-teman Asrama Sylvapinus IPB angkatan 44, Apriansyori Barus, Eno sumarno, Fandi Ahmad, Sugianto, dan lain-lain. Keluarga Departemen PSP dan IPB yang telah memberikan dukungan 4) Teman-teman PSP 44, Muklish, Baginda, Erul, Sudi, Leo, Harits dan lain-lain. Keluarga Departemen PSP dan IPB yang telah memberikan dukungan dan bantuannya; 5) Bapak Bambang Suparna (Pak MB) dan keluarga, Bapak Wawan (Pak Akew), Ibu RT dan semua warga Sanggrawayang yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian; 6) Pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca. Bogor, September 2012 Diki Patra RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kecamatan Sungai lilin, Muba, Sumatera Selatan pada tanggal 02 September 1988 dari Bapak Amir Hamzah dan Ibu Zanuriah. Penulis merupakan anak ke empat dari enam bersaudara, dengan lima saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Penulis lulus dari SMA Negeri 2 Sekayu pada tahun 2007 dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis memilih Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selama kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis aktif dalam berapa organisasi kemahasiswaan seperti Asrama Sylvasari IPB sebagai kepala Departemen Hubungan Masyarakat pada tahun ajaran 2007/2008, Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (HIMAFARIN) sebagai staf Departemen Informasi dan Komunikasi pada tahun ajaran 2008/2009 dan Forum Komunitas Muslim (FKM-C) sebagai staf Human Resource Development (HRD) pada tahun ajaran 2008/2009 Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan, penulis melakukan penelitian dengan judul “Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (chiton sp) pada Penangkapan Lobster (panulirus spp.) di Palabuhanratu , Jawa Barat DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................... x DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 1.1 Latar belakang ...................................................................................... 1 1.2 Tujuan ................................................................................................... 3 1.3 Manfaat ................................................................................................. 3 2 TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... 4 2.1 Deskripsi Udang Barong (Spiny Lobster) ............................................. 4 2.1.1 Klasifikasi dan morfologi ........................................................... 4 2.1.2 Daur hidup dan habitat spiny lobster ......................................... 7 2.1.3 Tingkah laku dan cara mencari makan....................................... 8 2.2 Unit Penangkapan Bubu ...................................................................... 8 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 Alat tangkap ............................................................................... 9 Nelayan ..................................................................................... 11 Kapal ......................................................................................... 11 Metode pengoperasian .............................................................. 11 2.3 Umpan 2.3.1 Deskripsi ikan tembang (Sardinella fimbriatta) ....................... 12 2.2.2 Deskripsi kanikil (Chiton sp) .................................................... 14 2.4 Rancangan Acak Lengkap .................................................................. 17 3 METODOLOGI ......................................................................................... 19 3.1 Waktu dan tempat ................................................................................ 19 3.2 Alat dan bahan ..................................................................................... 19 3.3 Metode penelitian ................................................................................ 24 3.4 Analisis data ........................................................................................ 28 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ............................................. 34 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi................................................ 34 4.1.1 4.1.2 4.1.3 4.1.4 Nelayan ..................................................................................... 35 Armada penangkapan ................................................................ 35 Alat tangkap .............................................................................. 35 Produksi perikanan .................................................................... 36 4.2 Keadaan Umum PPN Palabuhanratu ................................................... 36 4.2.1 4.2.2 4.2.3 4.2.4 Nelayan ..................................................................................... 37 Armada penangkapan ................................................................ 38 Alat tangkap .............................................................................. 39 Produksi perikanan .................................................................... 39 4.3 Keadaan Umum Lokasi Penelitian ...................................................... 41 5 HASIL ......................................................................................................... 43 5.1 Komposisi hasil tangkapan total selama penelitian ............................. 43 5.1.1 Komposisi hasil tangkapan total jumlah (ekor) per bubu ......... 46 5.1.2 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan desain bubu ............................................................................... 47 5.1.3 Komposisi hasil tangkapan berat (gram) berdasarkan desain bubu ............................................................................... 48 5.1.4 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan jenis umpan ........................................................................................ 49 5.2 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan terhadap hasil tangkapan jumlah (ekor), berat (gram) total hasil tangkapan per trip ................. 51 5.2.1 Proses analisis data .................................................................... 52 5.2.1.1 Uji kenormalan ............................................................ 52 5.2.1.2 Hasil analisis faktorial ................................................. 53 5.2.1.3 Uji lanjut (duncan)....................................................... 54 5.3 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan terhadap hasil tangkapan jumlah (ekor), berat (gram) lobster hasil tangkapan per trip ............. 55 5.3.1 Proses analisis data .................................................................... 56 5.3.1.1 Uji kenormalan ............................................................ 56 5.3.1.2 Hasil analisis faktorial ................................................. 57 5.3.1.3 Uji lanjut (duncan)....................................................... 58 5.4 Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan ..................................... 59 6 PEMBAHASAN ......................................................................................... 61 6.1 Bubu Lipat Modifikasi dan Bubu Lipat Standar ................................. 61 6.2 Umpan Kanikil (Chiton sp) dan Umpan Standar Ikan Tembang (Sardinella fimbriatta) ....................................................................... 62 7 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 64 7.1 Kesimpulan .......................................................................................... 64 7.2 Saran .................................................................................................... 64 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 65 LAMPIRAN .................................................................................................... 68 DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi kimia ikan tembang (Sardinella fimbriata) per 100 g ............... 13 2 Alat dan bahan penelitian utama ............................................................... 20 3 Spesifikasi Alat tangkap bubu penelitian ..................................................... 20 4 Kegunaan bagian alat tangkap bubu penelitian ........................................... 23 5 Rancangan percobaan yang diterapkan dalam penelitian ............................ 25 6 Rancangan percobaan per trip untuk setiap jenis bubu dan umpan ............. 25 7 Urutan dan penempatan Bubu pada Tali Utama .......................................... 26 8 Struktur data ............................................................................................... 29 9 Struktur tabel sidik ragam ............................................................................ 32 10 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Sukabumi tahun 2004- 2008 ................................................................................................... 34 11 Jumlah nelayan perikanan tangkap tahun 2006-2009 di kabupaten Sukabumi ..................................................................................................... 35 12 Jumlah armada penangkapan ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 - 2009 ........................................................................................ 35 13 Alat tangkap yang beroperasi di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 ............ 36 14 Perkembangan volume dan nilai produksi ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 - 2009......................................................................................... 36 15 Jumlah nelayan PPN Pelabuhanratu tahun 2006 - 2010 .............................. 37 16 Jumlah rumah tangga perikanan (nelayan dan buruh) ................................. 38 17 Desa-desa pantai kegiatan penangkapan ikan pada kawasan perikanan tangkap ......................................................................................................... 38 18 Jumlah armada penangkapan ikan PPN Pelabuhanratu tahun 2005 – 2009 ............................................................................................................. 39 19 Perkembangan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 ...... 39 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 .. 40 21 Produksi perikanan tangkap khusus di laut per jenis ikan pada tahun 2008 ............................................................................................................. 40 22 Komposisi hasil Tangkapan Total ............................................................... 44 23 Hasil tangkapan berdasarkan Jumlah bubu ................................................. 46 24 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan desain bubu ................................. 47 25 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan ................................. 48 26 Hasil Tangkapan Total per trip untuk setiap jenis umpan dan jenis bubu .................................................................................................... 49 27 Analisis ragam desain bubu dan umpan terhadap hasil tangkapan total ..... 52 28 Uji lanjut desain bubu ................................................................................. 52 29 Hasil Tangkapan lobster per trip untuk setiap jenis umpan dan jenis bubu .................................................................................................... 54 30 Uji Kruskal-wallis untuk desain bubu dan jenis umpan pada total hasil tangkapan lobster ......................................................................................... 57 31 Pasangan perbandingan ............................................................................... 58 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Morfologi spiny lobster ................................................................................... 2 2 Bagian kepala panulirus homarus dan panulirus versicolor. ........................... 3 3 Konstruksi bubu lipat. ..................................................................................... 7 4 Ikan tembang atau Sardinella fimbriatta. ....................................................... 10 5 Illustrasi morfologi Kanikil (Chiton sp.)........................................................ 11 6 llustrasi morfologi Kanikil (Chiton sp.) ....................................................... 12 7 Langkah perhitungan dengan minitab 14 ..................................................... 14 8 Langkah perhitungan dengan minitab 14 ....................................................... 15 9 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 19 10 Konstruksi bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar ........................... 21 11 Bubu lipat rajungan (bubu standar). ............................................................... 21 12 Bubu lipat pintu samping ............................................................................... 22 13 Bubu lipat pintu atas ...................................................................................... 23 14 Kanikil (Chiton sp.) di lokasi penelitian ........................................................ 24 15 Rangkain bubu saat operasi ............................................................................ 27 16 Pengukuran panjang karapas, lebar karapas hasil tangkapan ......................... 28 17 Komposisi hasil tangkapanTotal (ekor) ......................................................... 44 18 Komposisi hasil tangkapanTotal (gram) ........................................................ 45 19 Hasil Tangkapan lobster berdasarkan Panjang karapas ................................. 45 20 Rata-rata Hasil Tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dan bycatch ........... 47 21 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan.................................... 48 22 Rata-rata hasil tangkapan Jumlah (ekor) antara lobster dan Bycatch ............ 48 23 Rata-rata Jumlah tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan ............................................................................................................ 50 24 Rata-rata berat tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan ............................................................................................................ 51 25 Rata-rata jumlah tangkapan lobster per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan .............................................................................................................. 55 26 Rata-rata berat tangkapan lobster desain bubu lipat dengan jenis umpan .... 56 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Tabel lapang pengambilan data ................................................................. 69 2 Data Sheet hasil tangkapan .......................................................................... 70 3 Hasil tangkapan total per trip berdasarkan desain bubu dan umpan ........... 82 4 Hasil tangkapan lobster per trip berdasarkan desain bubu dan umpan. ....... 84 5 Analisis data................................................................................................. 86 6 Rangkaian bubu saat operasi ..................................................................... 100 7 Dokumentasi kegiatan penelitian ............................................................... 101 8 Foto hasil tangkapanspiny lobster ............................................................. 102 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lobster atau spiny lobster (Panulirus spp.) atau udang barong atau udang karang adalah salah satu jenis hasil laut yang bernilai tinggi dalam perdagangan produk perikanan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Harga lobster (lokal) umumnya sangat tinggi dengan variasi yang sangat ditentukan oleh jenis dan ukuran lobster. Nilai jual lobster yang tinggi biasanya berlaku untuk lobster yang berkualitas tinggi, seperti lobster dalam keadaan hidup dan anggota tubuhnya masih lengkap, belum ada yang putus atau rusak. Tingginya nilai ekonomi lobster inilah yang menjadi pendorong nelayan untuk menangkapnya karena walaupun jumlah yang ditangkap sedikit namun berkualitas maka nelayan mendapatkan penghasilan yang tinggi (Zulkarnain et al. 2011). Kegiatan penangkapan lobster sudah dilakukan sejak dahulu secara tradisional menggunakan teknologi yang sederhana dalam usaha berskala kecil. Jenis alat yang umum digunakan untuk menangkap lobster adalah jaring insang dasar (bottom gillnet) dan krendet, sejenis perangkap yang terbuat dari jaring (hoopnet) serta bubu (traps). Dua jenis alat pertama menangkap lobster dengan metode membelit atau memuntal tubuh atau anggota badan lobster (entangling) sedangkan bubu menangkap lobster dengan metode entrapment dimana seluruh tubuh akan berada di dalam perangkap. Berbagai bentuk bubu dengan bahan yang berbeda dapat dibuat untuk menangkap berbagai jenis ikan dan krustasea (Subani dan Barus, 1989). Cara menangkap lobster dengan membelit atau memuntal memiliki kelemahan, yaitu rusaknya atau hilangnya anggota tubuh lobster sehingga harga lobster menjadi lebih rendah (Zulkarnain et al. 2011). Sebaliknya, cara menangkap lobster dengan bubu memberikan keuntungan karena lobster tertangkap hidup dan keutuhan tubuhnya dapat dijaga sehingga harganya cenderung tinggi karena dianggap lebih berkualitas. Konstruksi bubu umumnya dirancang terdiri atas rangka (frame), badan (body) dan pintu masuk (inlet). Ada bubu yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung tempat menyimpan umpan. Bentuk bubu 2 dapat berbeda di antara nelayan yang berbeda lokasinya atau negara (Martasuganda 2003). Bubu juga ada yang dapat dilipat atau disebut bubu lipat (collapsable trap). Bubu ini lebih disukai nelayan dan cocok untuk dioperasikan pada berbagai tipe dasar perairan dan kedalaman, serta tidak mahal namun kuat. Bubu ini biasanya dioperasikan dengan biaya yang tidak mahal. Selain itu, ikan yang tertangkap bubu ini biasanya dalam keadaan hidup sehingga nelayan mendapat kesempatan untuk memilih, misalnya jika ukurannya terlalu kecil untuk dijual (under sized) maka dapat dilepaskan kembali dalam keadaan hidup (Krouse 1989; Miller 1990). Desa Kertajaya di pesisir pantai sebelah timur teluk Palabuhanratu memiliki karakteristik pantai berupa batu karang besar (rock) dan substrat dasar perairan lumpur dan berkarang. Perairan seperti ini merupakan habitat yang baik untuk lobster. Adanya lobster di habitat seperti ini ditandai oleh adanya aktivitas nelayan yang menangkap lobster di perairan tersebut. Nelayan di daerah ini biasa menangkap lobster secara langsung dengan menyelam atau menggunakan jaring insang dasar (bottom gillnet). Agar lobster tertarik untuk masuk ke dalam bubu, nelayan biasanya menempatkan umpan. Salah satu jenis hewan yang dapat dijadkan umpan lobster adalah kanikil (Chiton), namun nelayan desa Kertajaya belum pernah menggunakannya sebagai umpan ketika menangkap lobster. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi et al. (2010) menyimpulkan bahwa penggunaan kanikil meningkatkan efektivitas jaring krendet yang digunakan untuk menangkap lobster. Selain umpan, pintu masuk bubu (inlet) merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan besarnya hasil tangkap. Bubu lipat diduga akan lebih efektif jika memiliki pintu masuk di samping dan di atas. Bubu tersebut berbeda dari bubu lipat standar yang memiliki pintu jebakan pada mulut bubu berbentuk kisikisi (Zulkarnain et al. 2011). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Thomas, 1973 dalam Zulkarnain (2011) menyimpulkan bahwa bubu lipat dengan satu pintu ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang pada bubu sehingga luas dengan tujuan agar dapat menampung lebih banyak hasil tangkapan. 3 Kedua hal tersebut merupakan alasan untuk melakukan penelitian yang menguji pengaruh umpan dan posisi pintu masuk terhadap hasil tangkapan lobster. Secara khusus, penelitian ini akan menguji efektivitas kanikil (Chiton sp.) untuk menangkap lobster. Penelitian ini dilaksanakan dengan membandingkan kinerja bubu lipat modifikasi terhadap bubu lipat berpintu di samping dan pintu atas membandingkan efektivitas kanikil terhadap ikan tembang sebagai umpan untuk menangkap lobster. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan membandingkan: (1) Efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas terhadap bubu lipat rajungan (bubu standar) dalam penangkapan lobster (Panulirus spp.) (2) Efektivitas umpan kanikil (Chiton sp) terhadap umpan standar ikan tembang (Sardinella fimbriatta) dalam penangkapan lobster (Panulirus spp.) 1.3 Manfaat Penelitian Dari penelitian diperoleh informasi tentang jenis bubu lipat yang paling efektif dan jenis umpan yang paling baik untuk menangkap lobster (Panulirus spp.) 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Udang Barong (Spiny Lobster) 2.1.1 Klasifikasi dan morfologi Klasifikasi udang barong atau spiny lobster menurut Burukovskii (1974) diacu dalam Lesmana (2006) adalah sebagai berikut : Filum : Arthropoda Class : Crustacea Sub Class : Malacostraca Ordo : Decapoda Sub Ordo : Reptantia Seksi : Palinura Famili : Palinuridae Genus : Panulirus Spesies : Panulirus homarus Panulirus penicillatus Panulirus ornatus Panulirus versicolor Panulirus longipes Panulirus polyphagus Menurut Purnomo (1988) diacu dalam Adyanawati (1994), ordo Decapoda terdiri atas empat famili lobster, lobster sejati (true lobster), udang barong (spiny lobster), udang watang (cray fish) dan udang pasir (Spanish lobster). Famili pertama hanya terdapat di perairan subtropis dan perairan dingin sedangkan famili kedua terdapat di perairan subtropis dan tropis, termasuk perairan Indonesia (Subani 1981 diacu dalam Adnyanawati 1994). Di Indonesia, spiny lobster dikenal dengan nama udang barong. Udang barong juga dikenal sebagai udang karang karena hampir sepanjang hidupnya memilih tempat-tempat di karang, baik di peraran berbatu-karang (rock) maupun terumbu karang (coral reefs) yang masih hidup maupun yang mati di perairan pantai (Subani 1981 diacu dalam Adnyanawati 1994). 5 Morfologi spiny lobster sangat berbeda dari true lobster. True lobster memiliki capit besar yang terbentuk dari pertumbuhan sempurna pasangan kaki pertama dari kaki jalannya (periopod). Sementara itu, ujung kaki-kaki jalan spiny lobster tidak bercapit tetapi tumbuh menjadi kuku lancip. Udang barong atau spiny lobster termasuk kelompok jenis udang besar, panjang badannya dapat mencapai 50 cm seperti pada lobster mutiara (Fischer 1978). Panjang badan ini kira-kira sebanding dengan panjang karapas sebesar 24 cm atau lobster dengan panjang badannya 50 cm = panjang karapasnya 24 cm . Morfologi spiny lobster dapat dilihat pada Gambar 1. flagelata Tangkai antena Lempeng antenula antenu duri periopod antena pertama antena kedua karapas pleura (somite) abdomen pale band eksopod telson Sumber : Nontji (1993) diacu dalam Nawangwulan (2001) Gambar 1 Morfologi spiny lobster (Panulirus spp.) 6 Udang barong memiliki dua buah antena. Antena pertama lebih kokoh dan lebih panjang dari antena kedua, serta ditutupi duri. Antena pertama ini berfungsi sebagai alat perlindungan. Hal ini terlihat ketika spiny lobster memberikan reaksi terhadap ancaman, yaitu dengan menyilangkan kedua antena pertama tersebut. Antena yang kedua berukuran lebih pendek, tidak berduri, bercabang dan lebih halus. Antena kedua berfungsi sebagai indera perasa yang cukup peka terhadap rangsangan suara, cahaya dan bau. Apabila spiny lobster merasakan adanya rangsangan, maka antena kedua akan bergerak seperti bergetar (Herrnkind 1980 diacu dalam Prasetyanti 2001). Udang barong dapat diketahui dari pola pewarnaan tubuh, ukuran dan bentuk kepala. Selain itu, pola-pola duri di kepala, dapat juga dijadikan sebagai tanda spesifik dari setiap jenis spiny lobster (Adnyanawati 1994). Gambar 2 menyajikan perbandingan morfologi kepala di antar Panulirus homarus dan Panulirus versicolor. Sumber : Linnaeus (1758) Gambar 2 Bagian Kepala Panulirus homarus (a) dan Panulirus versicolor (b) Pada kepala Panulirus homarus terdapat empat duri yang berukuran sama besar dan terpisah oleh sejumlah spinula kecil yang teratur, sedangkan pada kepala Panulirus versicolor terdapat empat duri dimana dua duri yang di depan berukuran lebih besar dari dua duri yang ada di belakangnya. Perbedaan lain di antara kedua lobster ini adalah ukuran tanduk atau frontal horn. Tanduk pada P. homarus berukuran kecil, tidak tumbuh ke depan melewati mata, sedangkan pada P. versicolor berukuran besar, tumbuh memanjang ke depan melewati mata. 7 Jenis udang barong yang paling banyak di perairan Indonesia menurut Subani (1971) diacu dalam Budiharjo (1981) adalah Panulirus versicolor namun jenis udang barong yang paling banyak di perairan Palabuhanratu adalah P. homarus atau lobster hijau pasir (Pitrianingsih 2002). P. homarus biasanya hidup bergerombol dan menempati perairan dangkal pada kedalaman belasan meter. 2.1.2 Daur hidup dan habitat spiny lobster Daur hidup spiny lobster dapat dibagi menjadi 5 fase utama, yaitu fase dewasa, telur, phyllosoma (tahap larva), puerulus (tahap post- larva) dan juvenil (Rimmer dan Phillips 1979 diacu dalam Prasetyanti 2001). Saat mendekati usia dewasa, banyak spiny lobster yang bermigrasi dari daerah perawatan (nursery ground) menuju habitat batu karang (rock) di perairan yang lebih dalam untuk mencari tempat bereproduksi (Phillips dan Kittaka 2000). Spiny lobster betina akan membawa telur yang telah dibuahi selama kira-kira 20 hari. Telur-telur tersebut kemudian menetas; larva spiny lobster disebut phyllosoma. Larva ini menyukai cahaya dan hidup bergerombol di dekat permukaan air. Setelah itu, larva phyllosoma akan tumbuh dan berubah menjadi puerulus. Lama fase puerulus diperkirakan 10-14 hari dan mencapai ukuran panjang total 5-7 cm. Kemudian puerulus akan tumbuh menyerupai spiny lobster dewasa, yaitu aktif berenang dan terkadang terbawa arus laut menuju daerah pembesaran, seperti padang rumput laut (weed bed) di perairan dangkal. Udang barong atau spiny lobster memiliki habitat yang berbeda di setiap jenisnya. P. homarus hidup di perairan dangkal hingga kedalaman beberapa belas meter dan tinggal dalam lubang bebatuan (rock). Jenis lobster ini banyak ditemukan di perairan selatan dan barat Jawa Barat/Banten, selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, perairan timur Flores, perairan utara Timor, perairan Sulawesi dan pantai barat Sumatera. P. penicillatus atau lobster batu ditemukan di dalam dan luar terumbu karang (coral reefs), yaitu di lokasi yang mengalami hempasan ombak yang keras. Biasanya lobster jenis ini hidup di daerah batu-batuan (rock) di luar perairan karang (George 1974 diacu dalam Cobb dan Philips 1980 diacu dalam Adyanawati 1994). P. ornatus atau lobster mutiara hidup di perairan berarus kuat pada kedalaman 5-20 m (Batia 1974 diacu dalam Adyanawati 1994) 8 dan P. versicolor atau lobster hijau hidup diantara karang (rock) pada kedalaman beberapa meter (Adnynawati,1994). Jenis lobster lain, yaitu P. longipes atau lobster bunga hidup di tempat yang terlindung dan perairannya oseanik, biasanya ditemukan di perairan pada kedalaman 1-16 m hingga lebih dari 130 m. 2.1.3 Tingkah laku dan cara mencari makan Udang barong bergerak dengan cara merangkak. Udang barong yang sedang merangkak, ketika berhadapan dengan predator, akan segera mundur dengan cepat mengandalkan kekuatan otot-otot abdomennya. Udang barong dapat dikatakan tidak pandai untuk berenang walaupun memiliki kaki renang (Subani 1978). Indera penglihatan udang barong secara langsung tidak begitu berperan untuk pergerakannya; bagian tubuh yang paling berperan adalah antenanya (Herrnkind 1980). Udang barong termasuk hewan nokturnal, yaitu keluar dari tempat persembunyiannya untuk aktif mencari makan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Aktivitas hewan nokturnal yang paling tinggi terjadi pada permulaan atau menjelang malam hari. Aktivitas spiny lobster mulai berhenti ketika matahari terbit (Cobb dan Wang 1985). Udang barong dapat memakan hewan-hewan laut lain, baik yang masih hidup maupun sudah mati. Makanannya adalah udang-udang kecil, bulu babi, dan berbagai hewan lunak atau moluska lainnya. Udang barong menggunakan kukunya yang lancip untuk mencengkeram mangsanya sebelum dimakan (Subani 1978). Menurut Cobb dan Wang (1985), bau makanan dapat mudah direspon oleh indera perasa spiny lobster dengan karena arus air yang membawa bau makanan sehingga spiny lobster tertarik untuk bergerak ke arah sumber bau tersebut. Ketika akan memasuki perangkap, tingkah laku lobster diawali dengan mengelilingi permukaan terluar dari sebuah perangkap. Spiny lobster akan menggunakan antena yang kedua untuk merasakan bau dari umpan. Setelah itu spiny lobster akan memutari perangkap, kemudian mencari pintu masuk kedalam perangkap (Anwar 2001). 9 2.2 Unit Penangkapan Bubu 2.2.1 Alat tangkap Menurut Subani dan Barus (1989), bubu termasuk ke dalam kelompok perangkap (Traps). Selanjutnya dikatakannya juga bahwa bubu memiliki bentuk yang bervariasi, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lainlain. Secara umum konstruksi bubu terdiri atas rangka, badan dan pintu masuk. Ada bubu yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung umpan sebagai tempat menyimpan umpan. Bentuk bubu tidak ada keseragaman diantara nelayan di suatu daerah dengan daerah lainnya, termasuk bentuk bubu di suatu negara dengan negara lainnya (Martasuganda 2003). Bubu merupakan alat tangkap yang dirancang untuk menangkap berbagai jenis ikan dan krustasea, dengan berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan. Bubu memiliki satu atau lebih bukaan mulut. Bubu biasanya dioperasikan di dasar perairan dengan sistem tunggal maupun rawai. Bubu dilengkapi dengan tali pelampung untuk menghubungkan bubu dengan pelampung (Subani dan Barus 1989). Pelampung berfungsi untuk menunjukkan posisi pemasangan bubu (Nedelec and Prado 1990). Menurut Meenakumari and Rajan (1985) diacu dalam Zulkarnain (2011). Bubu yang terbuat dari bambu memiliki konstruksi yang lemah dan rapuh. Bubu yang terbuat dari bahan kayu cukup berat dan tidak disukai. Bubu yang terbuat dari bahan logam, yaitu batang baja ringan dan mata jaring dari kawat baja yang dilas serta dilindungi secara utuh oleh lapisan plastik telah memberikan kinerja yang efisien dan memiliki daya tahan pakai lebih lama. Desain bubu secara fisik berpengaruh terhadap efektivitas dan selektivitas alat tangkap yang memperhatikan karakteristik target species atau ikan yang akan ditangkap (Zulkarnain et al. 2011). Untuk mengembangkan dan meningkatkan efisiensi usaha penangkapan dengan menggunakan bubu, bubu lipat (collapsible fish pots, Gambar 3) (von Brandt (1984) diacu dalam Purnama (2006). Bubu lipat telah umum digunakan secara komersial oleh nelayan Jepang untuk menangkap 10 gurita dan oleh nelayan Thailand untuk menangkap rajungan (Boutson et al. 2009) diacu dalam Zulkarnain et al.2011). Bubu lipat merupakan alat tangkap yang lebih disukai dan cocok untuk dioperasikan pada berbagai tipe dasar perairan dan variasi selang kedalaman, serta tidak mahal namun kuat, kemudian kualitas bubu lipat sebagai perangkap adalah karena hasil tangkapan dalam keadaaan hidup dengan kualitas yang sangat baik, hasil tangkapan dibawah ukuran ekonomis (under size) dapat dikembailkan di perairan dalam keadaan hidup dan biaya penangkapan rendah (Krouse 1989; Miller 1990). Sumber : Boutson et al.(2009) diacu dalam Zulkarnain et al.(2011) Gambar 3 Konstruksi bubu lipat (Collapsible Pot) untuk menangkap rajungan dan kepiting bentuk kotak. 11 2.2.2 Nelayan Dalam pengoperasian sebuah unit penangkapan, salah satu faktor yang berperan penting adalah nelayan. Jumlah nelayan dalam setiap pengoperasian suatu unit penangkapan bergantung pada ukuran kapal. Pada unit penangkapan bubu, jumlah nelayan disesuaikan dengan sistem pengoperasiannya, yaitu sistem tunggal atau rawai serta jumlah bubu yang ditangani. Pada umumnya pengoperasian bubu memerlukan dua sampai tiga orang (Subani dan Barus, 1989). 2.2.3 Kapal Dalam melakukan operasi penangkapan ikan di laut, disamping adanya alat tangkap itu sendiri diperlukan perahu, baik perahu tanpa motor, perahu bermotor maupun kapal motor. Ukuran kapal/perahu disesuaikan dengan jenis alat penangkapan dan luas jangkauan daerah penangkapan ikan yang dituju orang (Subani dan Barus, 1989). Perahu yang digunakan untuk mengangkut bubu di perairan Palabuhanratu berukuran (LxBxD) 11 m x 2 m x 1,5 m. 2.2.4 Metode pengoperasian Menurut Wudianto et al. (1988), secara umum bubu dasar dapat dioperasikan dengan dua cara, yaitu: (1) Dipasang secara terpisah, satu bubu dengan satu pelampung, dan (2) Dipasang secara bergandengan menggunakan tali utama sebagai penghubung. Cara kedua ini dinamakan pengaturan dengan cara longline trap; beberapa buah bubu dipasang dalam suatu rangkaian dengan jarak tertentu di antaranya. Menurut Wibyasatoto (1994) Bubu lipat memiliki konstruksi yang lebih rumit jika dibandingkan dengan bubu yang tidak bisa dilipat. Walaupun demikian bubu lipat tidak banyak menyulitkan dalam pemasangan (setting). Bubu lipat yang dioperasikan di Perairan Bengkulu dipasang secara bergandengan atau longline traps tujuannya untuk memudahkan pemasangan bubu (setting) dan Pengangkatan bubu (hauling). 2.3 Umpan Umpan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan penangkapan bubu, karena umpan berfungsi untuk merangsang lobster masuk ke 12 dalam bubu. Umpan yang biasa digunakan untuk lobster menurut Everett (1972) diacu dalam Budiharjo (1981), umpan untuk menangkap lobster adalah ikan mati yang dipotong-potong atau belum, yang sudah diproses atau organisme lain yang memiliki bau menyengat yang menarik daya cium lobster. Lobster juga menyukai umpan yang memiliki komposisi protein, lemak dan kitin yang tinggi serta memiliki bau yang menyegat sangat disukai oleh lobster (Moosa dan Aswandy,1984). Salah satu jenis ikan yang dapat digunakan sebagai umpan dalam menangkap lobster dengan bubu adalah ikan tembang (Sardinella fimbriata) sedangkan jenis hewan lunak atau moluska adalah kanikil (Chiton sp.). 2.3.1 Deskripsi ikan tembang (Sardinella fimbriatta) Klasifikasi ikan tembang atau Sardinella fimbriata berdasarkan www.fishbase.org, 2012 adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Actinopterygii Subkelas : Neopterygii Infrakelas : Teleostei Superordo : Clupeomorpha Ordo : Clupeiformes Subordo : Clupeoidei Famili : Clupeidae Subfamili : Clupeinae Genus : Sardinella Spesies : Sardinella fimbriatta (www.fishbase.org,2012) Nama lokal : Tembang, tamban, tamban sisik, tanyang, jewi (Saanin,1984) Sinonim : herengula fimbriatta (Saanin, 1984). 13 Sumber : www. fishbase.org (2012) Gambar 4 Ikan tembang atau Sardinella fimbriatta Menurut Saanin (1984) ikan tembang atau Sardinella fimbriatta mempunyai ciri- ciri bentuk tubuh bagian atas sangat pipih, tajam dan bergerigi (abdominal scute). Mulut lebar dan ukuran rahang sama panjang. Sirip perut terletak di belakang sirip dada. Sirip punggung terletak di tengah-tengah antara sirip ekor dan hidung. Sirip dada keadaannya sempurna. Sisik linea lateralis lebih dari 40 buah . Mempunyai tulang tapis insang lebih dari 50 buah. Ikan tembang sebagai bahan baku umpan memiliki komposisi kimia seperti dicantumkan pada Tabel 1. Tabel 1 Komposisi kimia ikan tembang (Sardinella fimbriata) per 100 gr. Komposisi Energi Air Protein Lemak Kalsium (Ca) Fosfor (P) Besi (Fe) Jumlah 204 Kal 56 gr 16 gr 15 gr 20 mg 200 mg 2 mg Sumber : Hardiansyah dan Briawan (1990). Kanikil atau Chiton sp. (Gambar 3) adalah moluska laut yang termasuk kedalam kelas Polyplacophora yang tidak mengalami perubahan atau evolusi selama lebih dari 300 juta tahun. Di dunia hewan molusca laut jenis ini terdapat kurang lebih 930 genus dan spesies berdasarkan catatan fosil dan perbandingan langsung dengan kehidupan genus dan spesies yang masih ada (Schwabe 2010). 14 2.3.2 Deskripsi Kanikil (Chiton sp) Klasifikasi kanikil atau Chiton sp menurut Schwabe (2007) adalah sebagai berikut: Filum : Mollusca Class : Polyplacophora Ordo : Neoloricata Family : Leptochitnidae Ischnochitonidae Callistoplacidae Cryptoplacidae Acanthocthitonidae Genus : Parachiton Ishnochiton Callistochiton Cryptolax Achanthicitona Spesies : Lepidoplearus acuminatus Ishnochiton baliensis Callistochiton palmulatus Cryptoplax oculata Menurut Schwabe (2010) beberapa ilustrasi spesimen Chiton sp yang terdapat dalam koleksi dari Bavarian State Collection of Zoology (ZSM) dapat dijelaskan berdasarkan bagian yang tersusun secara lengkap dari sebagian besar morfologi tubuh hingga kharakteristik taksonomi yang relevan seperti girdle (gelang). Mofologi tubuh kanikil atau Chiton sp yang diilustrasikan seperti Gambar 5 dan 6 berikut ini : 15 Sumber : Schwabe (2010) Gambar 5 Ilustrasi morfologi kanikil atau Chiton sp Menurut (Schwabe 2010), kanikil memiliki cangkang punggung yang terdiri dari delapan kepingan kapur berbentuk pipih dan tersusun seperti genting dan dikelilingi oleh girdle (gelang) yang tebal. Kepingan atau katup tersebut dihitung dari anterior yang biasanya dicatat dengan menggunakan angka romawi(i-viii); katup pertama (i) disebut sebagai katup atau kepingan kepala, katup terakhir atau posterior(viii) sedangkan katup kedua sampai ke tujuh (ii-vii) disebut katup menengah. Sumber : Schwabe (2010) Gambar 6 Ilustrasi morfologi kanikil atau Chiton sp Tubuh kanikil berbentuk oval tetapi ada beberapa spesies yang berbentuk lebih luas atau memanjang seperti ulat (Gambar 5). Bentuk tubuh lonjong dan pipih dorsoventral, panjang tubuh antara 3 mm sampai 40 cm dan berwarna gelap. Pada bagian dorsal terdapat 8 keping cangkang pipih yang tersusun seperti genting dan dikelilingi mantel tebal (girale). Kepala tersembunyi dibawah anterior girale, tidak mempunyai mata maupun tentrakel, mempunyai radula yang besar dengan deretan gigi banyak sekali, kaki lebar dan datar serta susunan cangkang 16 seperti genting. Diantara kaki dan tepi mantel pada kedua sisi tubuh kanikil terdapat rongga mantel. Di dalam rongga mantel terdapat insang 6 sampai 88 pasang (Suwarni 2008). Menurut Kaas and van Belle (1990) kanikil memiliki habitat yang berbeda di setiap genusnya. Genus Parachiton dengan contoh spesies Lepidoplearus acuminatus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamannya 3050 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis serta perairan dingin atau banyak ditemukan di perairan Sicilia, Portopalo, dan Yugoslovia. Genus Ishnochiton dengan contoh Callochiton herberti hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamannya 9-20 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis atau ditemukan di perairan selatan Australia. Genus Callistochiton dengan contoh spesies Calistochiton carpentrianus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 9-45 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis atau ditemukan di perairan Indonesia dan Banda. Genus Cryptolax dengan contoh Chiton oculatus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 2-3 m. Jenis ini tersebar tropis dan subtropis dikawasan Indo-Pasifik atau ditemukan di perairan Indonesia, Irian Jaya. Terakhir, genus Achanthicitona dengan contoh Chiton fascicularis hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 2-150 m. Jenis ini berdistribusi tropis dan subtropics di kawasan seluruh dunia kecuali di perairan Antartika. Pada umumnya kanikil bersifat dioecius, pembuahan di luar atau di dalam tubuh. Sperma meninggalkan individu jantan bersama aliran air keluar. Pembuahan terjadi di dalam telur dan disimpan dalam rongga mantel, dimana terjadi pembuahan dengan sperma yang masuk bersama aliran masuk. Telur menetas menjadi larva trocophore yang berenang bebas (Suwarni 2008). Kanikil disebut hewan moluska laut karang atau pantai batu-batuan karena hewan ini hidup di permukaan keras, seperti di bawah batu, atau tersembunyi di celahcelah batu. Kanikil memiliki struktur yang sesuai dengan kebiasaan merayap perlahan dan melekat pada batu karang dan menunujukkan perilaku homing, kembali ke 17 tempat yang sama pada siang hari dan berkeliaran di malam hari untuk mencari makan (Suwarni 2008). 2.4 RAL (Rancangan Acak Lengkap) 2.4.1 Uji non parameterik Uji non parametrik yang digunakan adalah Kruskal-Wallis test. Menurut Mattjik dan Sumertajaya, 2006 rancangan percobaan dengan uji ini biasanya digunakan untuk percobaan yang menggunakan RAL. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis Ho : Nilai tengah perlakuan sama H1 : minimal ada satu nilai tengah perlakuan yang tidak sama dengan yang lainnya. Statistik Uji : H= 1 �2 ᴿ2 [∑ � – � �+1 2 4 ] dengan : r = banyaknya ulangan pada perlakuan ke-i N= jumlah pengamatan Ri= jumlah peringkat (ranx) dari perlakuan ke-i dan �2 = 1 �−1 [ ᴿ 2 − � �+1 2 4 ] Rij adalah peringkat dari pengamatan pada perlakuan ke-I ulangan ke-J. Kaidah keputusan uji ini : Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, selainnya terima Ho. Contoh perhitungan dengan Minitab 14 dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8. Gambar 7 Langkah perhitungan dengan minitab 14 18 Gambar 8 Langkah perhitungan dengan minitab 14 Keterangan 1. Masukkan data dari kedua faktor yang akan di hitung 2. Klik Start, Non Parametrik, Kemudian Kruskal Wallis 3. Masukkan data dari faktor yang akan dihitung, kemudian klik ok 2.4.2 Uji parameterik Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) Percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi dari dua faktor atau lebih. Model linier aditif dari rancangan ini secara umum (misal komposisi perlakuan disusun oleh taraf-taraf faktor A dan faktor B) adalah sebagai berikut : Y = µ =αi + βj + (αβ)ij+ εijk dimana: Y nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke k, (µ,αi, βj) merupakan komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B, (αβij) merupakan komponen interaksi dari faktor A dan faktor B sedangkan εijk merupakan pengaruh acak yang menyebar normal (0,� 2 ). Selain asumsi kenormalan dari komponen acak dan model aditif masih terdapat asumsi-asumsi lain yang juga harus diperhatikan yaitu : (i) Untuk model tetap : =1 (ii) =1 i = 0; =1 j = 0; =1 ij = ij = 0 Untuk model Acak : αi ~ N(0,� 2 );βj ~N(0,� 2 β); (αβ)ij ~ N(0, � 2 αβ) 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan sejak tanggal 16 Agustus 2011 hingga 31 September 2011 di Desa Kertajaya, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Gambar 9). Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian 3.2 Alat dan Bahan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu nelayan bercadik, 1 unit bubu lipat sebanyak 18 buah, timbangan (mengukur berat (gram) per ekor hasil tangkapan), penggaris, alat tulis, tabel lapang, thermometer, refraktometer, 2 buah ember dan dokumentasi berupa camera digital. Bahan yang digunakan adalah umpan yang terbuat dari ikan tembang dan kanikil. Peralatan dan bahan serta spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4. 20 Tabel 2 Alat dan bahan penelitian utama No 1 Alat dan Bahan Perahu 2 Alat tangkap bubu lipat penelitian ; (1) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu samping (2) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu atas (3) 6 buah bubu standar Umpan ; (1) Ikan tembang 3 (2) Kanikil Timbangan 4 Spesifikasi 9 m x 1,2 m x 0,8 m (pxlxt) Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt). Frame bubu besi galvanis dia. 6 mm. Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 d/18. Kegunaan Operasional kegiatan experimental fishing Ikan tembang dengan berat 1 kg = 15-17 ekor dan Kanikil dengan jumlah 36 ekor Umpan pada bubu lipat Kapasitas 2 kg Mengukur berat Perolehan data respon hasil experimental fishing Tabel 3 Spesifikasi alat tangkap bubu penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 3.2.1 Bagian alat tangkap Pelampung tanda (floating buoy) Tali pelampung (floating line ) Pemberat (sinker) (2 buah dan 4 buah) Tali pemberat (sinker line ) (2 buah) Tali utama (main line ) (1 set) Tali cabang (branch line ) (18 buah) Bubu lipat modifikasi pintu samping (6 buah) Bubu lipat modifikasi pintu atas (6 buah) Bubu lipat standar (6 buah) Spesifikasi Plastik, diameter 30 cm PE dimeter 10 mm; panjang 25 m Batu ± 30 kg dan Batu ±0,125 kg PE dia 10 mm; panjang 5 mm PE dia 10 mm; panjang 130 mm PE dia 6 mm; panjang 5 mm Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Deskripsi bubu lipat penelitian Dalam penelitian ini menggunakan tiga macam konstruksi bubu lipat yang memiliki fungsi sebagai perolehan data dalam kegiatan operasi penangkapan. Bubu lipat rajungan (bubu standar) adalah bubu yang dijadikan acuan untuk dimodifikasi, dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat rajungan yang biasa dioperasikan di Indonesia (Gambar 10). Ukuran bubu lipat standar yang digunakan nelayan untuk penangkapan rajungan adalah 50 cm x 30 cm x 20 cm (p x l x t). Bubu lipat dan kegunaannya masing-masing dijelaskan pada Gambar 11, Gambar 12 dan Gambar 13 21 Sumber: Zulkarnain, 2012. Gambar 10 Konstruksi bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar. Gambar 11 Bubu lipat rajungan (bubu standar) Bubu lipat rajungan (bubu standar) merupakan bubu lipat yang berbentuk kotak dan biasanya digunakan untuk menangkap rajungan dan kepiting. Bubu lipat standar yang digunakan dalam penelitian ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat standar yang biasa digunakan nelayan. Spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu standar atau kontrol untuk dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi atau bubu yang menjadi perlakuan dalam proses perolehan data hasil tangkapan. 22 Gambar 12 Bubu lipat pintu samping Bubu lipat pintu samping merupakan bubu lipat modifikasi atau bubu lipat pintu samping berbentuk kotak dengan pemicu pintu masuk berbentuk kisi-kisi. Bubu lipat ini merupakan modifikasi dari bubu lipat standar yang ditambahkan funnel (kisi-kisi) atau Pemicu pintu masuk yang ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1,5 mm. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu yang menjadi perlakuan untuk dibandingkan dengan bubu rajungan (bubu standar) dalam proses perolehan data hasil tangkapan. 23 Gambar 13 Bubu lipat pintu atas Bubu lipat pintu atas merupakan bubu lipat modifikasi atau bubu lipat pintu atas berbentuk trapesium dengan pemicu pintu masuk berbentuk kisi-kisi. Pemicu pintu masuk ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1,5 mm. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu yang menjadi perlakuan untuk dibandingkan dengan bubu rajungan (bubu standar) dalam proses perolehan data hasil tangkapan. Tabel 4 Kegunaan bagian alat tangkap bubu penelitian No Bagian alat tangkap Spesifikasi 1 Pelampung tanda (floating buoy) Plastik, diameter 30 cm 2 Tali pelampung (floating line) PE dimeter 10 mm; panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah dan 4 buah) Batu ± 30 kg dan Batu ±0,125 kg 4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; panjang 5 mm 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia 10 mm; panjang 130 mm Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umpan berupa ikan tembang (Sardinella fimbriatta) dan kanikil (Chiton sp). Ikan tembang dapat diperoleh di lokasi penelitian dengan mudah dan merupakan jenis umpan yang 24 biasa digunakan untuk menangkap lobster. Kanikil banyak terdapat di pantai lokasi penelitian dan hidup di celah-celah batuan karang namun belum ada penggunaan kanikil untuk umpan oleh nelayan di lokasi penelitian (Gambar 14). Gambar 14 Kanikil atau Chiton sp di lokasi penelitian 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji coba penangkapan (experimental fishing). Dalam penelitian ini menggunakan tiga macam konstruksi bubu lipat dengan jenis pintu masuk yang berbeda dan pemberian dua jenis umpan yang berbeda pada masing-masing jenis konstruksi bubu lipat tersebut sebanyak 24 kali trip (ulangan). Rancangan percobaan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Jumlah hasil tangkapan dari ketiga konstruksi bubu lipat tersebut dibandingkan untuk mengetahui efektivitas (kemampuan konstruksi bubu lipat) dan jenis umpan dalam memberikan hasil tangkapan lobster. Bubu dioperasikan dengan metode longline yaitu dengan panjang tali utama 154 m, rangkaian bubu dipasang dengan jarak masing-masing 8 m, dengan panjang tali cabang 3 m. Jarak antara bubu pertama dengan ujung-ujung tali utama adalah 5 m, pada kedua ujung tali utama diikatkan jangkar atau pemberat dari batu dan tali pelampung tanda yang disesuaikan dengan kedalaman daerah operasi, dalam hal ini dipersiapkan tali pelampung dengan panjang 20 m dan 50 m (Gambar 15). 25 Tabel 5. Rancangan percobaan yang diterapkan dalam penelitian bubu di desa Kertajaya, Palabuanratu 16 Agustus – 31 September 2011. Bubu standar Ikan tembang Jenis umpan Kanikil xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Jenis bubu Bubu pintu samping xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Bubu pintu atas xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Tabel 6. Rancangan percobaan per trip (ulangan) untuk setiap jenis bubu dan umpan dalam mengetahui hasil tangkapan. Jenis umpan Ikan Tembang Kanikil Trip Jenis bubu S PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 2 … 24 1 2 …. 24 Dari rancangan di atas diketahui bahwa dalam setiap masing-masing bubu (Bubu standar, bubu pintu samping dan bubu pintu atas) diberikan 2 Jenis umpan (Ikan tembang dan Kanikil) yaitu S (Ikan), S (Kanikil), PS (Ikan), PS (Kanikil), PA (Ikan), dan PA (Kanikil) yang dilakukan percobaan atau operasi sebanyak 24 kali trip (ulangan). Penempatan umpan pada jenis bubu ditentukan dengan urutan ganjil dan genap nomor jenis bubu, pada jenis bubu dengan kode bubu ganjil maka digunakan jenis umpan ikan, sedangkan jenis bubu dengan kode angka genap digunakan jenis umpan kanikil. Pemasangan umpan pada bubu dilakukan dengan cara, yaitu pada jenis umpan ikan, badan ikan ditusukkan pada besi yang khusus untuk pemasangan umpan yang berada di tengah-tengah bagian dalam bubu, digunakan sebanyak tiga 26 sampai lima ekor tergantung dengan ukuran ikan dan untuk umpan kanikil relatif sama digunakan sebanyak tiga sampai lima ekor. Urutan penempatan bubu yang dirangkaikan pada tali utama, ditempatkan pada posisinya dengan cara random, (pengundian ) hal ini dilakukan untuk memberikan peluang yang sama pada alat tangkap dalam memberikan hasil tangkapan karena secara umum yang berkaitan dengan posisi penempatan sebuah alat tangkap mempunyai unsur ketidakpastian dalam memperoleh sebuah data . Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) informasi parsial yang diperoleh dari sebuah data mengandung unsur ketidakpastian, untuk mengimbangi ketidakpastian tersebut diperlukan pemahaman pengacakan atau random dalam menjelaskan respon dari perlakuan yang dibangkitkan oleh percobaanya. Kemudian hasil dari pengundian diambil satu persatu dan ditempatkan sesuai urutan angka nomor urut mulai dari nomor 1 hingga 18. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Urutan dan penempatan bubu pada tali utama No. Urut Kode Bubu Jenis Umpan 1 PS6 Kanikil 2 PS5 Ikan 3 PS1 Ikan 4 PA2 Kanikil 5 S2 Kanikil 6 S4 Kanikil 7 PS3 Ikan 8 S6 Kanikil 9 PA6 Kanikil 10 S3 Ikan 11 PS2 Kanikil 12 PS4 Kanikil 13 PA5 Ikan 14 PA4 Kanikil 15 S1 Ikan 16 PA3 Ikan 17 S5 Ikan 18 PA1 Ikan Keterangan: S = Jenis bubu standar; PS = Jenis bubu modifikasi pintu samping; PA = jenis bubu modifikasi pintu atas. 27 Gambar 15 Rangkaian bubu saat operasi 3.3.1 Metode pengumpulan data dan pengoperasian Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data utama dan data tambahan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan observasi langsung dalam pengoperasian bubu lipat standar dan modifikasi. Data sekunder diperoleh dari nelayan, pengumpul lobster, serta pustaka lainnya. Pengoperasian alat tangkap bubu lipat dalam penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, yaitu : 1) Persiapan yang meliputi pemeriksaan perahu penangkapan, kondisi mesin, bahan bakar, alat tangkap, dokumentasi dan alat-alat yang digunakan untuk mengukur dan menyimpan hasil tangkapan. Persiapan mulai dilakukan pada pukul 15.30. 2) Perjalanan ke daerah penangkapan yang dilakukan di perairan pesisir pada kedalaman perairan antara 5-12 meter. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 10 menit. 3) Pengoperasian alat tangkap yang terdiri atas pemasangan umpan pada masing bubu dan penurunan bubu lipat yang dipasang secara longline dilakukan pada sore hari kurang lebih pukul 17.00-18.00 dimulai dari pelampung tanda pertama, tali pemberat, pemberat dan satu-persatu bubu 28 lipat diturunkan dan bagian terakhir pelampung tanda kedua (setting), perendaman bubu lipat selama ± 12 jam, yaitu mulai sore hari hingga keesokan pagi (soaking), pengangkatan alat tangkap bubu lipat penelitian dilakukan pada pagi hari kurang lebih antara pukul 06.00-07.30 dimulai dengan pengangkatan pelampung tanda pertama, alat tangkap satu-persatu hingga pelampung tanda kedua. 4) Penanganan hasi tangkapan dimulai dengan mengeluarkan hasil tangkapan dari alat tangkap bubu lipat, pengukuran hasil tangkapan, yaitu jumlah (ekor) lobster per bubu, berat (gram) lobster per ekor, panjang karapas lobster, dan dilakukan pengukuran yang sama terhadap hasil tangkapan lain (Gambar 14). (b) (a) (c) (d) Gambar 16 Pengukuran (a) panjang karapas, (b) panjang total, (c) panjang mantel, dan (d) lebar karapas hasil tangkapan 3.4 Analisis data Sesuai dengan rancangan percobaan yang diterapkan, metode analisis data dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Sebagai faktor adalah desain bubu dan jenis umpan. Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk tabel dan grafik. Data yang diolah adalah jumlah (ekor). Data berat 29 (gram) dan panjang karapas (mm) dikelompokkan dalam selang kelas panjang karapas (mm) dan selang berat (gram). Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi dari dua faktor atau lebih. Model linier aditif dari rancangan ini secara umum (misal komposisi perlakuan disusun oleh taraf-taraf faktor A dan faktor B) adalah sebagai berikut : Y = µ +αi + βj + (αβ)ij+ εijk dimana: Y nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke k, (µ,αi, βj) merupakan komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B, (αβij) merupakan komponen interaksi dari faktor A dan faktor B sedangkan εijk merupakan pengaruh acak yang menyebar normal (0,� 2 ). Tabel 8 Struktur data dibuat sebagai berikut Ulangan U1 1 Y111 2 Y112 B1 … B2 U2 Y121 … Y1224 Y12. … … Y2224 1 Y311 2 Y312 B3 … .. 24 Y3124 total (Yij) Y31. Total (Y j) Y1 Y1 Y122 …. 24 Y1124 total (Yij) Y11. 1 Y211 2 Y212 … 24 Y2124 total (Yij) Y21. Total (Yi) Y221 Y222 Y2 Y22. Y321 Y3 Y322 … Y3224 Y32. Y2 Y… Keterangan Y1 = pengamatan pada perlakuan ke- 1 ulangan ke-j Yi = pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-1 Yij = pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke- j; dan Y.. = total pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke- j 30 Data hasil tangkapan diuji dengan menggunakan dua metode, yaitu statistik parametrik dan nonparametrik. Metode Parametrik yaitu Uji F pada analisis ragam. Uji F atau ANOVA akan berlaku jika data tersebut menyebar normal atau homogenitasnya (Steel dan Torrie, 1989). Metode nonparametrik yaitu metode selain uji F pada analisis ragam yang dilakukan apabila data tidak menyebar normal (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Uji normalitasnya diuji dengan uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan aplikasi statistik MINITAB dan untuk melihat perbedaan hasil dari perlakuan digunakan aplikasi statistik SAS 9.1 dan MINITAB14. Asumsi pokok dalam analisis ragam tidak terpenuhi maka dapat diatasi melalui transformasi data (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Dalam penelitian ini data hasil tangkapan lobster dalam jumlah (ekor) dari uji normalitas tidak menyebar normal disebabkan banyak data bernilai nol dan telah dilakukan transformasi data namun tetap tidak menyebar normal sehingga tidak dapat dilakukan penarikan asumsi. Oleh karena itu harus menggunakan metode non parametrik, yaitu Uji Kruskal-Wallis. Uji Kruskal-Wallis digunakan karena dalam penelitian ini menggunakan RAL. Dalam uji Kruskal –Wallis, menurut Daniel (1990) penghitungannya diperoleh melalui rumus : H= 1 �2 [∑ dengan : ᴿ2 � – � �+1 2 4 ] ri = banyaknya ulangan pada perlakuan ke-i N= jumlah pengamatan ᴿ = jumlah peringkat (rank) dari perlakuan ke-i dan �2 = 1 �−1 [ 2 − � �+1 2 4 ] Rij adalah peringkat dari pengamatan pada perlakuan ke-I ulangan ke-J. Jika ada ties, statistik uji perlu dikoreksi sehingga Kruskal-Wallis terkoreksi menjadi Hc = �/1 − /(� 2 − �) 31 Dari perhitungan melalui rumus-rumus di atas, kemudian dilakukan kajian hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut: Pengaruh utama faktor a (desain Bubu) ; H0 ; 1 = ……=αa = 0 ( perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster Pengaruh utama faktor b (umpan) ; H0 ; 1 = ……=βa = 0 ( perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster Pengaruh sederhana (interaksi) faktor a (desain bubu) dengan faktor b (umpan) H0 : 11 = 12 = ⋯ = ( )ab = 0 (Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Kaidah keputusan: Jika H > χ2 , � − 1 maka tolak Ho, selainnya terima Ho, nilai χ2 pada table Chi-Square dengan taraf nyata atau nilai α, disini digunakan nilai α = 0,05. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster faktor A (desain bubu), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa perlakuan desain bubu memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Akan tetapi Jika H< X 2 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa bahwa perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster faktor b (umpan), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa perlakuan jenis umpan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Akan tetapi Jika H< X 2 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa bahwa perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster dari interaksi faktor a (bubu lipat) dan faktor b (umpan), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. 32 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa Akan tetapi Jika H< X 2 bahwa Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Data hasil tangkapan total (dalam satuan ekor), yaitu data hasil tangkapan lobster dengan hasil tangkapan samping (by-catch) banyak bernilai nol. Oleh karena itu dari uji normalitas data tidak menyebar normal sehingga dilakukan transformasi data akar kuadrat (Y + ½)1/2, dengan Y adalah nilai yang ditransformasi data. Pada hasil transformasi data dilakukan uji normalitas kembali dan data menyebar normal sehingga dapat dilakukan penarikan asumsi. Dalam analisis data apabila data menyebar normal maka dilakukan analisis ragam atau anova. Sidik ragam yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 9 Tabel 9 Sidik ragam terhadap data yang menyebar normal Sumber Keragaman Faktor A (Desain bubu) Faktor B (Jenis umpan) Interaksi AxB Sisa Total Derajat bebas Jumlah Kuadrat (JK) a-1 JKA b-1 JKB (a-1) (b-1) JKAB ab(r-1) JKS abr-1 JKT (KT) KTA KTB KTAB KTS F hitung KTA/KTS KTB/KTS Keterangan A = perlakuan 1 dan B = perlakuan 2 r = ulangan, SK = sumber keragaman db = derajat bebas, JKT = Jumlah kuadrat total JKS = Jumlah kuadrat sisa JKA = Jumlah kuadrat perlakuan faktor A; JKB = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor B; KTA = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor A; KTB = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor B. Langkah- Langkah Perhitungannya FK = Faktor koreksi adalah FK = �2 � JKT = Jumlah kuadrat total adalah JKT = ∑∑∑ Yijk 2 - FK JKA =Jumlah kuadrat faktor A adalah JKA = ∑ Yi..2/br – FK JKB = Jumlah kuadrat faktor B adalah JKB = ∑ Yj..2/ar – FK 33 JKAB = Jumlah kuadrat interaksi faktor A dan B adalah JKAB = JKP- JKA- JKB Dimana : JKP = ∑∑ Yij. 2/ r – FK JKG = Jumlah kuadrat galat adalah JKG = JKT – JKP Dari perhitungan melalui rumus-rumus diatas, kemudian dilakukan kajian hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut : Pengaruh utama faktor a (desain bubu) ; H0 ; 1 = …= αa = 0 ( perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total Pengaruh utama faktor b (umpan) ; H0 ; 1 = ……= βa = 0 ( perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total Pengaruh sederhana (interaksi) faktor a (desain bubu) dengan faktor b (umpan) H0 : 11 = 12 = ⋯ = ( )ab = 0 (Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total. 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak di antara 6o 57’ - 7o 25’ Lintang Selatan dan 106o 49’ - 107o 00’ Bujur Timur dan mempunyai luas daerah 4.161 km2 atau 11,21 % dari luas Jawa Barat atau 3,01 % dari luas pulau Jawa, dengan batas-batas wilayah: ฀ Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Bogor; ฀ Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudra Indonesia; ฀ Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Samudra Indonesia; ฀ Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Wilayah Kabupaten Sukabumi yang terletak sekitar 160 km dari arah Jakarta meliputi areal seluas 420.000 ha yang terbentang mulai dari ketinggian 0 2.958 mdpl. Pegunungan dan dataran tinggi mendominasi hampir seluruh kabupaten ini. Dataran rendah ada di pesisir selatan, mulai dari Teluk Ciletuh sampai muara sungai Cikaso dan Cimandiri. Wilayah Kabupaten Sukabumi sampai akhir tahun 2009 meliputi 47 kecamatan, 363 desa, 3.010 RW dan 12.565 RT dengan jumlah penduduk sebanyak 2.341.409 jiwa. Saat ini ibukota Kabupaten Sukabumi berada di Kecamatan Pelabuhanratu (BPS Sukabumi, 2010). Jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi tahun 2004 hingga tahun 2008 terus mengalami peningkatan. Rasio jenis kelamin sebesar 101 yang berarti bahwa dalam 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk di Kabupaten sukabumi mencapai 590,45 orang per m2 (Tabel 10). Tabel 10 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Sukabumi tahun 2004 – 2008 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah penduduk (orang) Laki-laki Perempuan Jumlah 1.135.889 1.120.755 2.256.644 1.156.871 1.143.773 2.300.644 1.178.005 1.167.454 2.345.459 1.199.698 1.192.038 2.391.736 1.221. 177 1.216.218 2.437.395 Sumber: BPS Kab. Sukabumi 2009. Rasio jenis kelamin 101,35 101,15 100,90 100,64 100,41 Kepadatan penduduk (orang per km2) 546,67 557,33 568,18 579,39 590,45 35 4.1.1 Nelayan Nelayan yang ada di Kabupaten Sukabumi terdiri dari dua tipe nelayan, yaitu tipe nelayan pemilik dan nelayan buruh. Apabila dilihat sejak tahun 2006 hingga 2009, jumlah nelayan yang ada berfluktuatif, namun tidak terlalu jauh berubah. Data perubahan jumlah nelayan tersebut tersaji dalam Tabel 11 berikut. Tabel 11 Jumlah nelayan perikanan tangkap tahun 2006 - 2009 di Kabupaten Sukabumi Nelayan (orang) Nelayan buruh Nelayan Pemilik 10.951 1.350 10.745 1.603 10.761 1.639 10.568 1.743 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jumlah (orang) 12.301 12.348 12.400 12.311 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2009. 4.1.2 Armada penangkapan Armada penangkapan ikan di wilayah Perairan Kabupaten Sukabumi dapat dikelompokkan menjadi perahu tanpa motor, perahu motor tempel, dan kapal motor. Sejalan dengan modernisasi armada penangkapan, sejak tahun 2006 perahu tanpa motor mengalami penurunan jumlah armada, sedangkan perahu motor tempel maupun kapal motor mengalami peningkatan, seperti tersaji pada Tabel 12. Tabel 12 Jumlah armada penangkapan ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Perahu Tanpa Motor 332 278 290 224 Armada (unit) Motor Tempel 785 960 975 975 Kapal Motor 233 365 374 376 Jumlah (unit) 1.350 1.603 1.639 1.575 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2010. 4.1.3 Alat tangkap Secara umum alat tangkap yang ada di Kabupaten Sukabumi meliputi kelompok pukat kantong, pukat tarik, jaring angkat, pancing dan lain-lain. Berdasarkan data statistik Kabupaten Sukabumi tahun 2009, alat tangkap yang 36 beroperasi di wilayah perairan Kabupaten Sukabumi sebanyak 1.951 unit. Secara rinci komposisi alat tangkap di Kabupaten Sukabumi bisa dilihat pada Table 13. Tabel 13 Alat tangkap yang beroperasi di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 No 1 Kelompok Alat Tangkap Pukat Kantong 2 Jaring Insang 3 Jaring Angkat 4 Pancing 5 Lainnya Jenis Alat Tangkap Payang Dogol Jaring Insang Hanyut Jaring Insang Lingkar Jaring Insang Tetap Bagan Perahu/Rakit Bagan Tancap Rawai Tuna Pancing Tonda Pancing Ulur Gau, Tombak, Lain-lain Jumlah Jumlah (unit) 150 24 905 9 106 154 54 350 100 84 15 1.951 Sumber: DKP Kab. Sukabumi 2009. 4.1.4 Produksi perikanan Produksi perikanan tangkap yang di Kabupaten Sukabumi berfluktuatif, mengalami penurunan dan peningkatan tapi nilai produksi penangkapannya terus meningkat semenjak tahun 2007 – 2009, walaupun pada tahun 2006 ke tahun 2007 sempat mengalami penurunan. Perkembangan volume dan nilai produuksi tersebut bisa dilihat pada tabel 14. Tabel 14 Perkembangan volume dan nilai produksi ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 - 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Volume penangkapan ikan (Ton) 10.035,90 8.655,82 7.379,20 7.878,20 Nilai Penangkapan (.1.000) 52.494.782,00 46.442.802,00 47.460.706,00 56.155.022,00 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2009. 4.2 Keadaan Umum PPN Pelabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPN) Pelabuhanratu terletak di Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Secara geografis PPN Pelabuhanratu terletak pada 06º59'47,156" Lintang Selatan dan 37 106º32’61,884" Bujur Timur. Daerah ini merupakan daerah teluk pesisir selatan Kabupaten Sukabumi yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kecamatan Palabuhanratu merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi dengan luas wilayah 10.287,91 ha, dengan batas wilayah sebagai berikut (BPS Kabupaten Sukabumi, 2009): ฀ Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cikidang; ฀ Sebelah Selatan berbatasan denganKecamatan Samudra Hindia; ฀ Sebelah Timurberbatasan denganKecamatan Bantargadung; ฀ Sebelah Barat berbatasan denganKecamatan Cikakak. 4.2.1 Nelayan Sebagian besar nelayan yang ada di PPN Pelabuhanratu merupakan penduduk asli daerah tersebut. Sisanya adalah nelayan pendatang yang berasal dari luar daerah seperti Cirebon, Cilacap, Indramayu dan lain-lain. Berasal dari luar pulau Jawa seperti dari Sumatera dan Sulawesi. Dari lima tahun terakhir 2006 - 2010 jumlah nelayan yang yang ada di PPN Pelabuhanratu terus meningkat, dengan jumlah 3,498 pada tahun 2006 dan 4,474 pada tahun 2010, seperti tersaji pada Tabel 15. Tabel 15 Jumlah nelayan PPN Pelabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Nelayan (orang) 3.498 3.936 4.363 4.453 4.474 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011. Berikut adalah jumlah rumah tangga nelayan dan buruh yang aktif menangkap ikan di teluk Pelabuhan ratu. Nelayan ini berasal dari rumah tangga nelayan yang berada di kecamatan sepanjang teluk Pelabuhanratu. Nelayan lokal yang berada pada PPN Pelabuhanratu berasal dari rumah tangga nelayan dari kcamatan yang berada di sekitar teluk Pelabuhanratu (Tabel 16). Daerah-daerah tersebut juga aktif sebagai darah-daerah pantai perikanan tangkap (Tabel 17). 38 Tabel 16 Jumlah rumah tangga perikanan (nelayan dan buruh) No Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Palabuhanratu Cisolok Cikakak Simpenan Ciemas Ciracap Surade Cibitung Tegalbuleud Jumlah Jumlah RTP/Nelayan/ Buruh (Org) 4.064 2.216 1.49 1.854 2.39 386 87 108 12.595 Perahu Tanpa Motor (Org) 50 35 105 100 87 108 485 Motor Tempel (Org) 458 242 96 186 312 55 1349 Sumber: Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010. Tabel 17 Desa-desa pantai kegiatan penangkapan ikan pada kawasan perikanan tangkap No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Palabuhanratu Cisolok Cikakak Simpenan Ciemas Ciracap Surade Cibitung Tegalbuleud Desa-desa pantai pusat kegiatan Perikanan Tangkap Palabuhanratu Cikahuripan dan Pasirbaru tidak ada Loji, Kertajaya Ciwaru, Mandrajaya Gunungbatu, Pangumbahan Pasir Ipis Cibitung Buni Asih, Tegal Buleud Sumber: Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010 4.2.2 Armada penangkapan Armada penangkapan ikan di wilayah perairan Kabupaten Sukabumi dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu perahu tanpa motor, kapal motor, dan motor temple. Sejalan dengan modernisasi armada penangkapan, sejak tahun 2006 perahu tanpa motor mengalami penurunan jumlah armada dan bahkan ditinggalkan, sedangkan perahu motor tempel maupun kapal motor mengalami peningkatan, seperti tersaji pada Tabel 18. 39 Tabel 18 Jumlah armada penangkapan ikan PPN Pelabuhanratu tahun 2005 2009 Armada (unit) Tahun Motor Tempel 428 511 531 416 364 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah (unit) 676 798 852 646 758 Kapal Motor 248 287 321 230 394 Sumber: Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2010. 4.2.3 Alat tangkap Alat tangkap yang beroperasi di PPN Palabuhanratu cukup beragam. Alat tangkap yang paling dominan digunakan yaitu payang, pancing ulur dan bagan. Hampir semua alat tangkap yang beroperasi mengalami fluktuasi jumlah, namun hal tersebut tidak terjadi pada alat tangkap pancing tonda. Alat tangkap pancing tonda memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan tiap tahunnya. Perkembangan alat tangkap tersebut tersaji pada Tabel 19. Tabel 19 Perkembangan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 PYG 166 159 45 121 54 PU 255 414 254 170 129 PL 25 - PT 20 29 40 65 112 Alat Tangkap (unit) JR TN GN BGN 46 31 94 263 101 33 135 267 35 30 50 200 110 25 38 23 34 22 22 65 RW 7 27 7 2 PS 2 9 3 8 4 LL 34 155 110 33 47 Sumber: Sari, 2011. Keterangan: PYG = Payang, PU = Pancing Ulur, PL = Pancing Layur, PT = Pancing Tonda, JR = Jaring Rampus, TN = Trammelnet, GN = Gillnet, BGN = Bagan, RW = Rawai, PS = Purse seine, LL = Long Line. 4.2.4 Produksi perikanan NilaiProduksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu mengalami penurunan secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 nilai produksi 10.720.734.920,00. Jumlah ini menurun 27,19% menjadi 7.805.769.900,00 pada tahun 2010. Secara rinci data tersebut diperlihatkan pada Tabel 20 berikut. 40 Tabel 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Produksi () 10.720.734.920 11.654.357.704 6.320.706.025 6.963.664.250 7.805.769.900 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011. Jenis komoditas perikanan tangkap yang didaratkan di PPN Pelabuhan ratu sangat lah dominant, mulai dari komuditas dari perairan demersal, pelagis, hingga perairan karang. Komoditas hasil tangkapan tersebut dapat dilihat pada Tabel 21 berikut. Tabel 212 Produksi perikanan tangkap khusus di laut per jenis ikan pada tahun, 2008 No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Nama Jenis Ikan 2 Manyung Cendro Ikan sebelah Pisang-pisang Selar Kuwe Layang Sunglir Tetengek Bawal Hitam Jangilus Kakap putih Golok-golok Selanget Lemuru Japuh Tembang Lamadang Teri Gerot-gerot Layaran Setuhuk hitam Setuhuk loreng Ikan pedang Kapas-kapas Pepetek Bambangan Sawangi/ Mata besat Produksi (Ton) 3 2,23 0,67 5,75 3 38,65 239,79 175,89 3,83 6,92 38,65 239,79 0 0,97 0,68 0,78 0 1.284,87 4,09 158,52 2,25 23,41 40,8 12,99 42,11 0,24 650,5 60,38 50,69 Harga/ Kg 4 5.500.00 5.500.00 10.000.00 10.000.00 2.000.00 15.000.00 6.500.00 7.000.00 7.500.00 16.000.00 21.000.00 20.000.00 5.500.00 6.000.00 1.500.00 1.500.00 1.000.00 6.000.00 20.000.00 4.500.00 11.000.00 15.000.00 15.000.00 11.000.00 7.500.00 1.000.00 15.000.00 8.000.00 Nilai Produksi (000) 5 12.265.00 3.685.00 57.500.00 30.000.00 77.300.00 3.596.850.00 1.143.285.00 26.810.00 51.900.00 618.400.00 5.035.590.00 5.335.00 4.080.00 1.170.00 1.284.870.00 24.540.00 3.170.400.00 10.125.00 257.510.00 612.000.00 194.850.00 463.210.00 1.800.00 650.500.00 905.700.00 405.520.00 41 Tabel 21 (Lanjutan) No. Nama Jenis Ikan 29 Tiga waja 30 Lisong 31 Tongkol krai 32 Tongkol komo 33 Produksi (Ton) Harga/ Kg Nilai Produksi (000) 374,11 5.000.00 1.870.550.00 1.019,99 6.500.00 6.629.935.00 4,58 6.000.00 27.480.00 24,38 6.500.00 158.470.00 Cakalang 1.024,58 6.500.00 6.659.770.00 34 Kembung 92,32 1.000.00 92.320.00 35 Banyar 95,99 5.000.00 479.950.00 36 Tenggiri 5,47 15.000.00 82.050.00 37 Tenggiri papan 0,73 15.000.00 10.950.00 38 Albakor 23,51 7.500.00 176.325.00 39 Madidihang 184,26 7.500.00 1.381.950.00 40 Tuna sirip biru 519,2 7.500.00 3.894.000.00 41 Tuna mata besar 963,36 7.500.00 7.225.200.00 42 Tongkol abu-abu 140,89 6.500.00 915.785.00 43 Kerapu 0,62 12.000.00 7.440.00 44 Baronang 45 Layur 46 33,75 10.000.00 337.500.00 867,08 5.000.00 4.335.400.00 Cucut monyet 62,76 6.000.00 376.560.00 47 Pari 25,39 7.000.00 177.730.00 48 Ikan lainnya 209,55 5.000.00 1.047.750.00 49 Udang jerebun 4,85 25.000.00 121.250.00 50 Udang korosok 0 12.000.00 51 Udang karang 8,07 120.000.00 968.400.00 52 udang lainnya 287,11 15.000.00 4.306.650.00 53 Cumi-cumi 5,78 15.000.00 86.700.00 54 Gurita 4,66 10.000.00 46.600.00 55 Lainnya 6,16 4.500.00 27.720.00 56 Rumput laut Jumlah 10,1 9.087,70 5.200.00 610.200.00 52.520.00 60.142.150.00 - Sumber : Laporan kegiatan perikanan tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010. 4.3 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Sukabumi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Pelabuhanratu. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Lebak di barat. 42 Kecamatan Simpenan adalah salah satu kecamatan dari Kabupaten Sukabumi, terdiri dari enam kelurahan yaitu Cidadap, Cibuntu, Cihaur, Kertajaya, Mekarasih, dan Loji. Dusun Sanggarawayang, Desa Kertajaya dimana tempat diadakannya penelitian, dengan 51 kepala keluarga, mayoritas bekerja sebagai nelayan, letak koordinat 106o30’42,66” BT dan 7o05’24,43” LS. Topografi berbukit dan lembah merupakan ciri khas daerah ini, sampai saat ini jalur laut masih merupakan transfortasi yang paling gampang dan murah untuk mencapai desa tersebut, karena belum adanya akses jalan raya yang menuju ke daerah tersebut, jalan darat hanya bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua dengan jalur menanjak dan turunan yang curam dan berbatu . 5 HASIL 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Total Selama Penelitian Selama operasi penelitian memperoleh hasil tangkapan dalam jumlah (ekor) yang terdiri dari kelompok krustasea sebagai hasil tangkapan utama, yaitu lobster dengan total 49 ekor atau 38,89% dari seluruh hasil tangkapan. Ada 3 spesies lobster yang tertangkap, yaitu lobster hijau pasir (Panulirus homarus), lobster hijau (Panulirus versicolor) dan mutiara (Panulirus ornatus). Jenis lobster pertama adalah yang paling dominan, baik dari segi jumlah ekor maupun berat (Tabel 22). Komposisi hasil tangkapan lain atau hasil tangkapan sampingan (HTS) adalah rajungan 34 ekor (26,98%), sotong (Sepia sp.,34 ekor (26,98%), kerapu (Epinephelus coioides) 2 ekor (1,59%), singreng (Canthigaster sp) 2 ekor (1,59%), keong macan (Babilonia spirata, 2 ekor) (Tabel 19). Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) untuk Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) dengan total 5119,1 gram (60,48%) terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 2009,1 gram (23,74%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 1970 gram (23,27%), kelompok ikan (kerapu - Epinephelus coioides dan Singreng- Canthigaster sp.) 760 (8,98%), kelompok keong (keong macan- Babilonia Spirata) 70 gram (0,83%). Rincian dari hasil tangkapan utama dan sampingan selama penelitian bubu ini dapat dilihat pada Tabel 22, Gambar 17 dan Gambar 18. Hasil tangkapan lobster yang dominan tertangkap adalah pada selang karapas 31-36 mm adalah 13 ekor (lihat gambar 19). Menurut Moosa dan Aswandi (1984) Panjang total lobster betina dewasa lebih kurang 16 cm, lobster jantan kurang lebih 20 cm. Menurut Zulkarnain (2012), ukuran lobster dengan ukuran karapas di bawah 45 mm adalah baby lobster atau lobster muda yang di bawah ukuran ekonomis oleh karena itu lobster yang tertangkap didominasi oleh baby lobster, yang belum selayaknya ditangkap. 44 60 49 (38,89% ) Jumlah (ekor) 50 34 40 1 (Lobster) 34 (26,98 %) 2 (Rajungan) (26,98%) 30 3 (Kepiting) 20 4 (Sotong) 2 10 (1,59%) 5 2 5 (Ikan) (3,97%)(1,59%) 6 (Keong) 0 5 2 31 4 Jenis tangkapan 1 6 Gambar 17 Komposisi Hasil Tangkapan Total (ekor) Tabel 22 Komposisi hasil tangkapan total Jumlah No 1 Hasil Tangkapan Berat (ekor) % (gram) % Lobster hijau pasir ( Panulirus homarus) 47 37.30 3140 37.10 Lobster hijau ( Panulirus versicolor) 1 0.79 80 0.95 Lobster mutiara ( Panulirus homarus) 1 0.79 1.48 Sub- Total Hasil tangkapan Utama 49 38.89 125 3345 39.52 Rajungan ( Portunus pelagicus ) 3 2.38 230 2.72 Rajungan ( Portunus sanguinolentus ) 9 7.14 555 6.56 Rajungan ( Charybdis natator ) 19 15.08 1094 12.93 Rajungan ( Charybdis lucifera ) 3 2.38 130 34 26.98 2009.1 Kepiting (Calappa sp) 2 1.59 310 3.66 Sub-Total 2 1.59 310 3.66 Sotong (Sepia sp) 34 26.98 1970 23.27 Sub-Total 34 26.98 1970 23.27 Kerapu lumpur ( Epinephelus coioides ) 2 1.59 680 8.03 Singreng (Canthigaster sp.) 3 2.38 80 0.95 Sub-Total 5 3.97 760 8.98 Utama a. Krustasea (lobster) 2 Sampingan (By-catch) : a. Krustasea (rajungan) Sub- Total 1.54 23.74 b. Krustasea (Kepiting) c. Molusca (sotong) d. Ikan 45 Tabel 22 (Lanjutan) e. Keong keong macan (Babilonia spirata) 2 1.59 70 0.83 Sub-Total 2 1.59 70 0.83 Sub- Total Hasil tangkapan Sampingan 77 61.11 5119.1 60.48 Total Hasil Tangkapan 126 100 8464.1 100 4000 3345 3500 (39,52%) 1 (Lobster) 3000 1970 2500 2009.1 2000 (23,74%) 2 (Rajungan) (23,3%) 3 (Kepiting) 1500 760 1000 (9%) 310 5 (Ikan) 70 (3,7%) 500 4 (Sotong) 6 (Keong) (0,8%) 0 1 2 3 4 Jenis tangkapan 5 6 Hasil tangkapan lobster (ekor) Gambar 18 Komposisi Hasil Tangkapan Berat (gram) 13 14 11 12 10 7 8 7 7 6 4 2 2 2 0 25-30 31-36 37-42 43-48 49-54 55-60 61-66 Selang kelas panjang karapas(mm) Gambar 19 Hasil tangkapan lobster berdasarkan panjang karapas Berdasarkan pada selang kelas panjang karapas diatas terlihat bahwa hasil tangkapan lobster yang dominan tertangkap adalah pada selang karapas 31-36 mm adalah 13 ekor. Selain itu ukuran panjang karapas lobster yang tertangkap adalah selang 43 - 48 mm sebanyak 11 ekor, 49 – 54 mm sebanyak 7 ekor,37-34 46 sebanyak 7 ekor sisanya ada pada selang 55 – 60 mm sebanyak 7 ekor , 25 – 30 mm dan 61-60 mm masing-masing sebanyak 2 ekor. 5.1.1 Komposisi hasil tangkapan total jumlah (ekor) per bubu. Hasil tangkapan lobster dan by catch (HTS) pertrip berdasarkan jumlah bubu dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23. Hasil tangkapan total berdasarkan jumlah bubu Trip Jumlah (bubu) Lobster Ikan Kepiting Rajungan sotong Kosong 1 18 1 1 0 1 0 15 2 18 0 0 0 3 0 15 3 18 1 0 0 3 0 14 4 18 1 0 1 2 0 14 5 18 1 1 0 5 0 12 6 18 1 0 0 4 0 14 7 18 1 0 0 2 1 15 8 18 2 0 0 1 0 16 9 18 1 0 0 1 0 16 10 18 1 0 0 1 0 16 11 18 2 0 0 0 0 16 12 18 1 0 0 6 0 11 13 18 1 0 0 1 0 16 14 18 1 0 0 0 2 16 15 18 1 0 0 1 4 13 16 18 1 0 0 1 3 13 17 18 2 0 0 0 2 14 18 18 1 0 0 2 4 11 19 18 1 0 0 0 3 14 20 18 2 0 0 0 1 15 21 18 2 0 0 0 0 16 22 18 1 0 0 1 1 15 23 18 1 0 0 0 0 17 24 18 1 0 0 0 0 16 Dalam setiap operasi penangkapan bubu tidak selalu mendapatkan hasil tangkapan. Dari setiap trip penangkapan ternyata banyak bubu yang tidak mendapatkan hasil tangkapan (kosong) 47 5.1.2 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan desain bubu Berdasarkan Penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (PS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (PA) dan bubu lipat standar (S) dengan mengabaikan jenis umpan yang digunakan maka komposisi hasil tangkapan lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU), masing-masing 11 ekor (22%), 31 ekor (63%), dan 7 ekor (14%), sedangkan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) masing-masing 16 ekor (21%), 48 ekor (62%), dan 7 ekor (13%) (Tabel 24) dan Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 20. Tabel 24 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan desain bubu No. 1 (S) Jumlah (ekor) 31 48 79 Utama : lobster Sampingan (By-catch) : Total Hasil Tangkapan Rata-rata Jumlah (ekor) Per trip 2 Hasil Tangkapan % 63 62 63 Jenis bubu lipat (PS) Jumlah (ekor) % 11 22 16 21 27 21 (PA) Jumlah (ekor) 7 13 20 % 14 17 16 2.50 2 2.00 1.50 1.29 Utama : lobster 1.00 Sampingan (By-catch) : 0.67 0.46 0.50 0.54 0.29 0.00 (S) (PS) (PA) Gambar 20. Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dan Bycatch Dari rata-rata di atas terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas mendapatkan hasil tangkapan lobster yang lebih sedikit dibandingkan bubu standar sedangkan bubu standar mendapatkan hasil by-catch yang lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. 48 5.1.3 Komposisi hasil tangkapan berat (gram) berdasarkan desain bubu Berdasarkan Penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (PS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas dan bubu lipat standar (S) dengan mengabaikan jenis umpan yang digunakan maka komposisi hasil tangkapan lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU), masing-masing 715 gram (21%), 2215 gram (66%), dan 415 gram (12%), sedangkan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) masingmasing 949 gram (13%), 5275 gram (72%), dan 1102 gram (15%) (Tabel 25) dan Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 21. Tabel 25 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan desain bubu No. 1 Hasil Tangkapan Utama : lobster Sampingan (By-catch) : Total Hasil Tangkapan 2 (S) Berat (gram) % 2215 5275 7490 66 72 70 Jenis bubu lipat (PS) Berat (gram) % 715 949 1664 21 13 16 (PA) Berat (gram) % 415 1102 1517 12 15 14 6000 Berat (gram) Lobster dan bycatch 5275 5000 4000 3000 Utama : lobster 2215 Sampingan (By-catch) : 2000 949 715 1000 1102 415 0 (S) (PS) (PA) Gambar 21. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dan Bycatch Dari rata-rata di atas terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas mendapatkan hasil tangkapan lobster (gram) yang lebih sedikit dibandingkan bubu standar sedangkan bubu standar mendapatkan hasil by-catch yang lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. 49 5.1.4 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan umpan Berdasarkan Penggunaan umpan kanikil dan umpan ikan tembang (standar) dengan mengabaikan jenis bubu lipat yang digunakan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 26 dan Gambar 22. Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 23. Tabel 26. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan No. Hasil Tangkapan 1 2 Utama : lobster Sampingan (By-catch) : 30 25 24 25 Tembang Jumlah (ekor) 24 52 24 Jenis Umpan Kanikil Jumlah % (ekor) 49 25 68 25 % 51 32 22 20 15 12 10 Jumlah Ikan 10 5 2 2 3 0 Jumlah Kanikil 2 0 0 Lobster Rajungan Kepiting Molusca Ikan Keong Gambar 22. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Rata-rata Jumlah (ekor) per trip 2.5 2.17 2 Lobster 1.5 1 1 Sampingan (Bycatch) : 0.5 0 Gambar 23. Rata-rata Hasil tangkapan Jumlah (ekor) antara lobster dan By-catch 50 5.1.5 Komposisi Hasil Tangkapan Berat (gram) berdasarkan umpan Berdasarkan Penggunaan umpan kanikil dan umpan ikan tembang (standar) dengan mengabaikan jenis bubu lipat yang digunakan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 27 dan Gambar 24. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 25. Tabel 27. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Jenis Umpan Utama : lobster Sampingan (By-catch) : % 49 68 Kanikil Jumlah (ekor) 25 25 % 51 32 1315 655 680 Ikan Tembang 0 80 700 Keong 310 Molusca Rajungan lobster 1800 1680 1600 1665 1464 1400 1200 1000 800 545 600 400 200 0 Kepiting 1 2 Hasil Tangkapan Ikan No. Ikan tembang Jumlah (ekor) 24 52 kanikil Gambar 24. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Rata-rata Jumlah (ekor) per trip 2.5 2.17 2 Lobster 1.5 1 1 Sampingan (Bycatch) : 0.5 0 Gambar 25. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dan By-catch 51 5.2 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Total Hasil tangkapan total per trip berdasarkan jenis bubu dan umpan dapat dilihat pada Lampiran 3. Dari data hasil tangkapan per trip tersebut didapatkan rata-rata per trip desain bubu lipat dengan umpan yang digunakan (jumlah dan Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan total berat). Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 26 dan Gambar 27. 2.50 2.04 2.00 1.50 1.33 Ikan Tembang 1.00 kanikil 0.54 0.50 0.50 0.50 0.29 0.00 S PS PA Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan tota l Gambar 26. Rata-rata Jumlah tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan 180.00 160.00 158.34 140.00 120.00 100.00 80.00 Ikan Tembang 76.88 kanikil 60.00 33.13 28.08 40.00 39.17 15.42 20.00 0.00 S PS PA Gambar 27. Rata-rata Berat tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan 52 Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 2,04 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 1,33. Rata-rata hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 0,50 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 0,54. Rata-rata hasil tangkapan total dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 0,50 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 0,29. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 2,04, S Kanikil = 1,33, PS Kanikil =0,54, PS Ikan=0,50 PA ikan = 0,50, PA kanikil = 0,29. Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 158,34 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 76,88. Rata-rata hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 28,08 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 33,13. Rata-rata hasil tangkapan total dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 39,17 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 15,42. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 158,34 , S Kanikil = 76,88 ,PS Ikan=28,08 PS Kanikil =33,13, PA ikan = 39,17, PA kanikil = 15,42. 5.2.1 Proses analisis data 5.2.1.1 Uji Kenormalan Berdasarkan data hasil tangkapan Total Jumlah (ekor) dan Berat (gram) tersebut maka dilakukan pengujian normalitas. Dari hasil uji kenormalan sebelum transformasi dengan menggunakan perangkat lunak MINITAB14 data yang diolah menyebar tidak normal terlihat pada P-Value 0.108, data dikatakan menyebar normal jika P-Value > 0,150. Data yang akan diolah memiliki sebaran yang tidak normal, oleh karena itu harus dilakukan transformasi agar data menyebar normal atau mendekati sebaran normal, dengan menggunakan metode transformasi kuadrat, yaitu (Y + ½)1/2, dengan Y adalah data awal yang akan dilakukan tranfomasi. Hasil uji kenormalan setelah transformasi ternyata data menjadi normal terlihat pada P-Value > 0.150 yang menyatakan bahwa data tersebut 53 menyebar normal. Grafik hasil pengujian kenormalan sebelum dan setelah transformasi dapat dilihatpada lampiran 3, sehingga analisis data menggunakan anova multi faktor. 5.2.1.2 Hasil analisis faktorial Hasil Analisis ragam untuk mengetahui pengaruh desain bubu dan jenis umpan serta interaksi desain bubu dan jenis umpan terhadap hasil tangkapan total dapat dilihat pada Tabel 28 dan Tabel 29 Tabel 27. Analisis ragam desain bubu dan umpan terhadap jumlah (ekor) hasil tangkapan total Sumber Derajat bebas Type I SS Rata-rata F-hitung Pr > F umpan 1 0.5681 0.5681 3.01 0.0848 bubu 2 6.3564 3.1782 16.87 <.0001 umpan*bubu 2 0.4466 0.2233 1.18 0.3089 Tabel 29. Analisis ragam desain bubu dan umpan terhadap berat (gram) hasil tangkapan total Sumber DF Type I SS Rata-rata F - hitung Pr > F umpan 1 145.3339732 145.3339732 3.71 0. 227 bubu 2 803.0781154 401.5390577 14.68 <.0001 umpan*bubu 2 94.0644251 47.0322126 1.72 0.1830 Dari hasil analisis ragam diatas terlihat bahwa desain bubu berpengaruh nyata atau berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, namun jenis umpan tidak berpengaruh nyata atau tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh nyata terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dilihat dari F hitung =16,87 > FTabel = 3,06 (p-value = 0001< 0.05) pada desain bubu, Dilihat dari F hitung =3,01 < F-Tabel = 3,90 (p-value = 0,08481> 0.05) pada jenis umpan dan Dilihat p-value = 0,3089>0.05) pada interaksi antara umpan dan bubu pada data jumlah (ekor). Demikian juga untuk berat (gram) dlihat dari F hitung =14.68 > F-Tabel = 3,06 (p-value = 0001< 0.05) pada desain bubu, dilihat dari F hitung =3,71 < F- 54 Tabel = 3,90 (p-value = 0,08481> 0.05) pada jenis umpan dan Dilihat p-value = 0,3089>0.05) pada interaksi antara umpan dan bubu. Oleh karena itu dilakukan uji beda nyata (Uji Lanjut) untuk mengetahui perbandingan perbedaan desain bubu terhadap hasil tangkapan lobster. 5.2.1.3 Uji Lanjut (Duncan) Hasil uji lanjut desain bubu dapat dilihat pada Tabel 30 dan Tabel 31. Tabel 30 Hasil uji lanjut desain bubu terhadap jumlah (ekor) hasil tangkapan total Pengelompokan Duncan A B B Nilai tengah 1.36177 0.94231 0.89382 N 48 48 48 Bubu S PS PA Tabel 31 Hasil uji lanjut desain bubu terhadap berat (gram) hasil tangkapan total Pengelompokan Duncan A B B Nilai tengah 8.389 3.547 3.227 N 48 48 48 Bubu S PS PA Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 1,36177 atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 0,94231 dan 0,89382 terhadap jumlah (ekor). Demikian juga dengan berat (gram) terlihat bubu standar memiliki rataan 8,839 lebih besar dibandingkan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 3,547 dan 3,227. Berdasarkan rata-rata terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas dengan jenis umpan yang digunakan memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. 55 5.3 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan terhadap Hasil Tangkapan Lobster (Jumlah dan Berat) Hasil tangkapan lobster per trip berdasarkan jenis bubu dan umpan dapat dilihat pada Lampiran 4. Dari data hasil tangkapan per trip tersebut didapatkan rata-rata per trip desain bubu lipat dengan umpan yang digunakan (jumlah dan 0.75 0.54 S PS 0.17 PA 0.17 0.13 0.29 kanikil Ikan Tembang berat). Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 27 dan Gambar 28. 0.80 0.70 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 49.79 42.50 S 17.50 12.29 PS 7.29 5.83 PA Ikan Tembang kanikil menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 0,54 Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan lobster per trip dengan Gambar 28. Rata-rata Berat lobster per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan Rata-rata berat Lobster (Gram) Gambar 27. Rata-rata Jumlah lobster per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan Rata-rata Jumlah Lobster (Ekor) per trip 56 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 0,75. Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 0,29 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 0,17. Rata-rata hasil tangkapan lobster dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 0,13 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 0,17. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 0,75, S Kanikil = 0,54,PS Ikan=0,29 PS Kanikil =0,17 PA kanikil = 0,17, PA ikan = 0,13. Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 42,50 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 49,79. Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 17,50 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 12,29. Rata-rata hasil tangkapan lobster dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 5,83 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 7,29. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 42,50 , S Kanikil = 49,79,PS Ikan=17,50 PS Kanikil =12,29, PA kanikil = 7,29, PA ikan = 5,83 5.3.1 Proses analisis data 5.3.1.1 Uji Kenormalan Berdasarkan data total hasil tangkapan lobster (Jumlah) tersebut maka dilakukan pengujian normalitas. Dari hasil uji kenormalan sebelum transformasi dengan menggunakan perangkat lunak MINITAB14 data yang diolah menyebar tidak normal terlihat pada P-Value 0.108, data dikatakan menyebar normal jika PValue > 0,150. Data yang akan diolah memiliki sebaran yang tidak normal, oleh karena itu harus dilakukan transformasi agar data menyebar normal atau mendekati sebaran normal, dengan menggunakan metode transformasi kuadrat, yaitu (Y + ½)1/2, dengan Y adalah data awal yang akan dilakukan tranfomasi. Hasil uji kenormalan setelah transformasi ternyata tetap tidak mengalami perubahan signifikan terlihat data yang menyebar tidak normal dilihat pada Pvalue <0,010. Grafik hasil pengujian kenormalan sebelum dan setelah 57 transformasi dapat dilihat pada lampiran 5, sehingga analisis data harus menggunakan analisis non-parametrik. 5.3.1.2 Hasil analisis faktorial Hasil Analisis ragam untuk mengetahui pengaruh desain bubu dan jenis umpan serta interaksi desain bubu dan jenis umpan terhadap total hasil tangkapan lobster menggunakan uji kruskal-wallis dapat dilihat pada Tabel 32 dan Tabel 33. Tabel 32. Uji Kruskal-Wallis untuk desain bubu dan jenis umpan Pada total hasil tangkapan lobster (ekor) Perlakuan Bubu N (Jumlah) Nilai tengah Rataan 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 H = 5.21 DF = 2 P = 0.074 H = 10.66 DF = 2 P = 0.005 (adjusted for ties) Umpan H = 0.02 DF = 1 P = 0.875 H = 0.05 DF = 1 P = 0.821 (adjusted for ties) Interaksi bubu dan Umpan H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 10.93 DF = 5 P = 0.053 (adjusted for ties) Adjusted for teis (menyatakan koreksi untuk angka sama) Tabel 33. Uji Kruskal-Wallis untuk desain bubu dan jenis umpan Pada total hasil tangkapan lobster (gram) Perlakuan Bubu N (Jumlah) Nilai tengah Rataan 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 H = 5.55 DF = 2 P = 0.062 H = 11.30 DF = 2 P = 0.004 (adjusted for ties) Umpan H = 0.02 DF = 1 P = 0.963 H = 0.03 DF = 1 P = 0.948 (adjusted for ties) Interaksi bubu dan Umpan H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 11.03 DF = 5 P = 0.051 (adjusted for ties) Adjusted for teis (menyatakan koreksi untuk angka sama) Tolak H0 jika : H > α2 atau P-Value < αχα2 berdasarkan pada p-1 derajat bebas atau DF (degree of freedom), nilai diambil dari tabel Chisquare (χ2), tabel Chisquare dapat dilihat pada lampiran 3. Nilai α = 0,05, DF (degree of freedom) = 2 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 5,9915 untuk desain bubu dan DF 58 (degree of freedom)=1 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 3,8415 untuk jenis umpan serta DF (degree of freedom) = 5 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 11,0705 untuk interaksi untuk desain bubu dan jenis umpan. Dari hasil analisis ragam diatas terlihat bahwa desain bubu berpengaruh nyata atau berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, namun jenis umpan tidak berpengaruh nyata atau tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh nyata terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dilihat dari H = 10,66 > 5,9915 = χα2 atau p–value = 0.005< 0.05 pada desain bubu, H = 0,05 < 3,8415 = χα2 atau p–value = 0.821>0.05 pada jenis umpan dan H = 10,93 < 11,0705 = χα2 atau p– value = 0.053>0.05 pada interaksi antara umpan dan bubu. Oleh karena itu dilakukan uji beda nyata (Uji Lanjut) untuk mengetahui perbandingan perbedaan desain bubu terhadap hasil tangkapan lobster. 5.3.1.3 Uji Lanjut (Duncan) Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) dalam melakukan perbandingan berganda untuk menyelidiki lebih lanjut perbedaan perlakuan terhadap respon maka diperlukan prosedur perbandingan berganda yang konsisten untuk digunakan dengan uji kruskal-wallis. Prosedur perbandingan berganda dapat dilihat pada lampiran 3. Uji lanjut (dunn) dan pasangan perbandingan untuk desain bubu sebagai berikut : Z  k ( k 1) Z 0.05 k  N ( N 2  1)    t 3  t  6 N ( N  1) 3 144(1442  1)   (1153  153  123 )  (115  15  12)   6(144)(144  1) 3(2) Z 0,0083 3 2985840  1525836 123552  8,246 Pasangan perbandingan : | R pa  R ps |=|65,3-68,6|=3,3 < 8,246 -> terima H0 (tidak beda nyata) | R pa  R s |=|65,3-83,6|=18,3 > 8,246 -> tolak H0 (berbeda nyata) | R ps  R s |=|68,6-83,6|=15 > 8,246 -> tolak H0 (berbeda nyata) 59 Berdasarkan hasil uji lanjut (Duncan) diatas menunjukkan bahwa masingmasing bubu lipat memiliki perbandingan yang nyata dimana terlihat bahwa bubu lipat pintu samping dan pintu atas memiliki perbedaan yang nyata dengan bubu standar dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Pasangan perbandingan dapat dirangkum dan dilihat pada Tabel 31. Tabel 31. Pasangan perbandingan Kelompok A A B Rataan Peringkat 65,3 68,6 83,6 Bubu PA PS S Ket : Huruf yang tidak sama menunjukkan tidak berbeda nyata Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 83,6 atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 68,6 dan 65,3. Sedangkan untuk hasil tangkapan sampingan by-catch (ekor) terlihat pada komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis bubu lipat bahwa bubu modifikasi lebih sedikit dibandingkan dengan bubu standar yang mendapatkan 48 ekor atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang mendapatkan 16 ekor dan 13 ekor. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih efektif dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi dalam penangkapan lobster sedangkan bubu lipat modifikasi lebih efektif dalam mengurangi hasil tangkapan sampingan By-catch. Hasil tangkapan bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. Namun demikian, bubu lipat modifikasi tetap memperoleh hasil tangkapan lobster 5.4 Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan Menurut Moosa dan Aswandy Umpan yang mengandung unsur lemak, protein, dan chitine serta ada baunya yang menyengat merupakan umpan yang sangat baik sebagai bahan atraktor untuk memikat lobster. Berdasarkan hasil analisis kadar protein (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 18,45% dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 25.48 %, 31.32 %, 31.52%, 38.61%, 40.05%, 41.30%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar protein (%) gram bahwa data awal umpan tembang 60 Kadar Protein (%) dalam 100 gram mengandung 11,67% dan terjadi penurunan kadar protein yang diperhitungkan dari data awal yang lebih besar dibandingkan dengan kanikil Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,40%,12,77%,43,44%,45,16%,50,90%,51,76% (Gambar 29). Dengan demikian kanikil (Chiton sp) mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan rata-rata penurunan 34.71% dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% . 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Umpan Kanikil Umpan Tembang 0 1 2 3 6 9 12 LAMA PERENDAMAN (jam) Gambar 29 Perubahan kadar Protein kanikil dan tembang berdasarkan lama perendaman Kadar Lemak (%) dalam 100 gram Berdasarkan hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 1,41% dan terjadi penurunan kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 23,08%, 24,04%,32.69%,37.50%,55.77%,75.96%. (Gambar 30). Dengan demikian, bahwa kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%. 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Umpan Kanikil Umpan Tembang 0 1 2 3 6 9 12 LAMA PERENDAMAN (jam) Gambar 30 Perubahan kadar Lemak kanikil dan tembang 61 61 6 PEMBAHASAN 6.1 Bubu Lipat Modifikasi dan Bubu Lipat Standar Bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping merupakan modifikasi dari bubu lipat standar dengan penambahan pintu jebakan bentuk kisi-kisi. Berdasarkan konstruksinya bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas berbeda pada posisi pintu masuknya. Ukuran pintu masuk bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping memiliki ukuran yang cukup luas yaitu 30 cm x 40cm x 14cm (panjang x tinggi x lebar) dibandingkan dengan bubu lipat standar penelitian . Melalui pengujian di lapangan diharapkan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan bubu lipat standar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping berpengaruh nyata terhadap jumlah (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan total dan hasil tangkapan lobster (p-value = 0001< 0.05) dan (p-value=0,004< 0,05). Hasil pengujian efektivitas bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. Hal ini bisa saja disebabkan oleh pemasangan pintu masuk pemicu bentuk kisi-kisi memberikan dampak sulitnya lobster masuk kedalam bubu. Seperti yang diungkapkan oleh Zulkarnain (2012) bahwa pintu pemicu masuk kisi-kisi pada bubu lipat memberikan peluang bagi lobster untuk masuk kedalam bubu, terutama lobster yang berukuran kecil, namun penggunaan pintu plastik bentuk kisi-kisi dapat saja mengganggu lobster masuk ke dalam bubu. Hasil uji lanjut (Duncan) menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih efektif dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi terhadap hasil tangkapan total dan lobster sedangkan bubu lipat modifikasi lebih efektif dalam mengurangi hasil tangkapan sampingan By-catch. Hasil tangkapan bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. Namun demikian, bubu lipat modifikasi tetap memperoleh hasil tangkapan lobster 62 6.2 Umpan Kanikil (Chiton sp) dan Umpan Standar Ikan Tembang Kanikil merupakan hewan mollusca laut yang berhabitat atau hidup di permukaan keras seperti di karang atau pantai batu-batuan atau tersembunyi di celah-celah batu (Suwarni (2008). Kanikil dapat dijadikan sebagai umpan untuk menangkap lobster. Hasil penelitian wahyudi et al. (2010) menyimpulkan bahwa penggunaan kanikil dapat meningkatkan efektivitas jaring krendet untuk menangkap lobster. Desa Kertajaya di pesisir pantai sebelah timur teluk Palabuhanratu memiliki karakteristik pantai berupa batu karang besar (rock) dan substrat dasar perairan lumpur dan berkarang. Di daerah ini banyak terdapat kanikil namun nelayan di daerah tersebut belum pernah menggunakannya. Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan kanikil merupakan uji-coba yang pertama kali dilakukan. Hal yang berhubungan dengan umpan untuk menangkap lobster adalah ikan mati yang dipotong-potong atau belum, yang sudah diproses atau organisme lain yang memiliki bau menyengat yang menarik daya cium lobster. Lobster juga menyukai umpan yang memiliki komposisi protein, lemak dan kitin yang tinggi serta memiliki bau yang menyegat sangat disukai oleh lobster (Moosa dan Aswandy,1984). Salah satu jenis ikan yang dapat digunakan sebagai umpan dalam menangkap lobster dengan bubu adalah ikan tembang (Sardinella fimbriata) sedangkan jenis hewan lunak atau moluska adalah kanikil (Chiton sp.). Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan kanikil merupakan uji-coba yang pertama kali dilakukan. Melalui pengujian diharapakan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan umpan standar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor umpan (kanikil dan ikan tembang tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan total dan hasil tangkapan lobster (p-value = 0,0848> 0.05) dan (pvalue=0,948> 0,05). Hal ini bisa disebabkan adanya faktor perubahan kadar protein dan lemak umpan. Hasil analisis kadar protein (%) umpan berdasarkan tahap lama perendaman yaitu lama perendaman 1, 2, 3,6,9 dan 12 Jam, dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 63 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 25.48 %, 31.32 %, 31.52%, 38.61%, 40.05%, 41.30%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar protein (%) gram bahwa data awal umpan tembang mengandung 11,67% dan terjadi penurunan kadar protein yang diperhitungkan dari data awal yang lebih besar dibandingkan dengan kanikil Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,40%,12,77%,43,44%,45,16%,50,90%,51,76%. Dengan demikian kanikil (Chiton sp) mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan ratarata penurunan 34.71% dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% . Berdasarkan hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 1,41% dan terjadi penurunan kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yangdiperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 23,08%, 24,04%, 32.69%, 37.50%, 55.77%, 75.96%. Dengan demikian, bahwa kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%. Penurunan kadar protein (%) umpan kanikil yang lebih lambat menunjukkan bahwa kanikil lebih tahan lama dalam waktu perendaman dibandingkan dengan umpan tembang (standar), tetapi perbedaan dari kedua umpan tersebut tidak begitu signifikan dan hal ini menjadi acuan penjelasan bahwa kanikil adalah umpan yang memiliki efektifitas relatif sama dalam penangkapan lobster dengan alat tangkap bubu lipat. Kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan ratarata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%, tetapi perbedaan dari kedua umpan tersebut tidak begitu signifikan dan hal ini menegaskan kembali bahwa umpan kanikil memiliki efektivitas relatif sama dengan umpan ikan tembang. 64 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: (1) Komposisi hasil tangkapan bubu lipat penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas dari bubu lipat dengan jenis yang berbeda. Hasil pengujian Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa jenis bubu lipat memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan lobster (panulirus spp.). Bubu lipat yang paling baik untuk menangkap lobster adalah bubu lipat standar dengan jumlah hasil tangkapan 31 ekor (63%) selanjutnya diikuti oleh bubu lipat modifikasi pintu samping 11 ekor (22%) dan bubu lipat modifikasi pintu atas 7 ekor (14%) . Hasil tangkapan bubu lipat standar memberikan hasil tangkapan lobster (panulirus spp.) yang lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas namun bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan sampingan yang lebih sedikit dibandingkan bubu lipat standar. (2) Komposisi hasil tangkapan berdasarkan umpan menunjukkan tidak adanya perbedaan efektivitas dari jenis umpan yang berbeda. Hasil pengujian Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan lobster. Hasil tangkapan dengan menggunakan umpan kanikil (Chiton sp) berhasil memberikan hasil tangkapan lobster yang relatif sama dengan umpan standar ikan tembang (Sardinella fimbriatta) sehingga efektivitas umpan kanikil (Chiton sp) sama dengan umpan standar. 6.2 Saran Saran yang dapat dikemukakan untuk perbaikan penelitian ini yaitu: 1. Diperlukan adanya penelitian lanjutan mengenai bentuk kisi-kisi berbahan plastik pada bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas. 2. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut di laboratorium cara lobster masuk kedalam bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas 3. Diperlukan adanya penelitian lanjutan dengan melihat langsung bagaimana lobster masuk ke dalam bubu lipat 4. Penelitian mengenai umpan kanikil untuk pengembangan umpan alternatif 65 65 DAFTAR PUSTAKA Adnyanawati, K.P. 1994. Analisis Hasil Tangkapan Lobster (Panulirus spp.) dengan jaring klitik dan bubu di Pantai Swanggaluh, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali. [Skripsi]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Hal 514. Anwar, S.N.2001. Studi pendahuluan letak mulut bubu dan tingkah laku udang karang hijau pasir (Panulirus homarus). Bogor : Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 5-14. Budiharjo, S. 1981. Studi Perbandingan Jenis-jenis Alat Tangkap Lobster Pot dengan Bubu Tradisional. Skripsi (tidak dipublikasikan). Bogor : Institut Pertanian Bogor. Boutson A., Mahasawasde C, Mahasawasde S, and Arimoto T. 2009. Use of Escape Vents to Improve Size and Species Selectivity of Collapsible Pot for Blue swimming Crab Portunus pelagicus in Thailand. Fisheries Science The Japanese Society of Fisheries Science. Japan. Volume 75 : 25-33p. Cobb JS and BF, Phillips. 1980. The Biology and Management of Lobsters. Academic Press. USA. P; 25 - 279. Cobb, J.S dan Wang, D. 1985. Fisheries biology of lobster and crayfishs. (vol.10). New York: Academic Press, USA. pp 167-247. Daniel WW. 1990. Applied Nonparametric Statictic. 2nd Edition. Georgia State University. PWS-KENT Pubishing Company. Boston. 616p Dinas Kelautan dan Perikanan. 2010. Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap. Dinas Kelautan dan Perikanan Pelabuhanratu. Sukabumi. Hardiansyah. 1990. Penilaian dan Perencanan Konsumsi Pangan. [Skripsi]. Program Studi Gizi Masyarakat dan Keluarga. Program Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Holthuis LB. 1991. FAO Species Catalogue. Vol. 13. Marine Lobsters of the World. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 13. FAO Fisheries and Aquaculture Department. Rome. Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Buku Laporan Tahunan Statistika Perikanan Tangkap Tahun 2009. Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Direktorat Jendral Perikanan Tangkap. 66 Kittaka, J. Eds.2000. Spiny lobster : Fisheries and culture Second Edition. United State of America : Fishing news books a divisions of Blackwell science Ltd.679 hal. Krouse JS. 1989. Performance and selectivity of Trap Fisheries for Crustaceans. In Caddy, J.F (Ed), Marine Invertebrate Fisheries: Their Assessment and Management.John Wiley and Sons, New york.307-325p. Lesmana.2006. Uji Coba Dua Macam Krendet Untuk Menangkap Lobster (Panulirus spp.). Bogor : Institut Pertanian Bogor. Mallawa A dan Sudirman. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Reneka Cipta. Jakarta. Martasuganda S. 2003. Bubu (Traps). Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan. Departemen Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.69 hal. Mattjik AA, dan I.M Sumertajaya. 2006. Rancangan Percobaan Dengan Aplikasi SAS Dan MINITAB. Jilid 1. IPB Press. Bogor. 276 hal. Meenakumari B and Rajan KVM.1985. Studies on Materials for Traps for Spiny Lobsters. Fisheries Reseaech. Elsevier B.V All rights reserved. Volume 3 : 309-321p. Miller R.J. 1990. Effectiveness of Crab and Lobster Traps. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science. Ottawa, Cannada. Volume 47, No. 4, April. 1228-1251p. Moosa MK dan I, Aswandy. 1984. Udang Karang (Panulirus sp) dari Perairan Indonesia. Proyek Studi Pengembangan Alam Indonesia, Studi Hayati Potensi Ikan, Lembaga Oseanografi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 41 hlm. Nam Supriatna. 2010. Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap. Dinas Kelautan dan Perikanan Pelabuhanratu. Sukabumi. Nawangwulan, S. 2001. Analisis Sistem Penangkapan Lobster (Panulirus sp.) di Perairan Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. [Skripsi]. (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 47. Nedelec C and Prodo J. 1990. Definitions and Classification of Fishing Gear Categories. Rome :FAO.235p. Prasetyanti.2001. Analisa Pengaruh Fase Bulan Terhadap Pola Penyebaran dan Aktivitas (Panulirus sp) pada Bulan Juli-Agustus di Perairan Selatan Kebumen. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. 67 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 43 hal. Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta. Bogor. 256 hal. Schwabe, E.2010. Illustrated summary of chiton terminology (Mollusca, Polyplacophora). Spixiana 33 (2): 171-194. Steel RED dan JH Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri. Gramedia Pustaka. Jakarta. 772 hal. Subani W. 1978. Perikanan Udang Barong (spiny lobster) dan Prospek Masa Depannya. Prosiding Seminar ke II Perikanan Udang 15-18 Maret 1977. Subani W. 1983. Survey Alat Penangkap Udang Barong di Pantai Selatan Bali. Laporan Penelitian Perikanan Laut No. 25. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. Hal 37 – 52 Subani W dan HR, Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. 245 hal. Suwarni.2008. Optimalisasi Belajar Mengajar Mata Kuliah Avertebrata Air Yang Berbasis Scl (Students Center Learning). Universitas Hasanuddin. 55 hal. Unit Pelaksana Teknis Daerah Tempat Pelelangan Ikan. 2011. Data Statistik Produksi dan Nilai Produksi PP/PPI 2005-2010. Dinas Kelautan dan Perikanan. Sukabumi. Von Brandt A. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing News Book Ltd. Wahyudi I,, N Probosunu, Supardjo S.D., dan Soeparno.2010. Studi Efektivitas Jenis Umpan Krendet Pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.). Jurnal Krustacea Indonesia. September 2010. Jilid 1. No.2: hal.82-89. Wudianto, C. Nasution dan HR. Barus.1988. Uji Coba Bubu Plastik di Perairan Jawa Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 46. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut. Hal 45-53. Zulkarnain, MS. Baskoro, S. Martasuganda, dan DR. Monintja. 2011. Pengembangan Desain Bubu Lobster yang Efektif. Volume XIX No. 2. Bogor. Hal 45 - 47. Zulkarnain. 2012. Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster (Tidak Dipublikasikan). [Disertasi] Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. LAMPIRAN Lampiran 1 Tabel lapang pengambilan data Keterangan: 69 PS: bubu lipat modifikasi pintu samping (satu pintu); Lampiran 2 Data Sheet hasil tangkapan PA: bubu lipat modifikasi pintu atas (satu pintu); S: bubu lipat rajungan sebagai bubu standar. TRIP 1 Set : 16.48 – 17.10/15 Agustus 2011 No Jenis Bubu 1 S 2 PA Umpan Ikan Lobster Jenis Panulirus homarus ekor gram 1 150 Ikan Total 1 Jenis Bubu Umpan 1 S Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus ekor Lobster Total gram ekor S Ikan Portunus pelagicus 1 100.1 2 250.1 Epinephelus coioides 1 600 1 600 Portunus pelagicus 1 50 1 50 3 750.1 4 900.1 By-cath ekor gram 2 70 2 Jenis gram Total 1 bubu 2 bubu PA Ikan 1 bubu S kanikil ekor 3 S Ikan Lobster Total ekor 1 gram Haul: 06.55 – 07.10/18 Agustus 2011 Lobster Jenis Jenis 150 Set: 16.54 – 17.02/17 Agustus 2011 TRIP 2 No Haul : 7.00 – 7.30/16 Agustus 2011 By-cath 1 1 bubu gram Charybdis natator 1 35 3 105 Cantthigaster sp 2 70 2 70 3 105 5 175 Total 3 S kanikil 2 bubu S Ikan 1 bubu 70 Lampiran 2 (Lanjutan) Haul : 07.10 – 07.45/21 Agustus 2011 Set : 16.44 – 17.05/20 Agustus 2011 TRIP 3 Jenis Bubu No Lobster Umpan Jenis Panulirus homarus By-cath ekor gram 1 60 Jenis ekor gram PS Kanikil 2 PS Ikan Babilonia spirata 2 3 S Kanikil Charybdis natator TRIP 4 1 60 Set : 16.48 – 16.56/22 Agustus 2011 Jenis Bubu No Umpan Jenis Panulirus homarus ekor gram 6 550 Jenis 80 PS Ikan 1 bubu 5 210 S Kanikil 2 bubu 80 4 150 2 PS kanikil Charybdis natator 2 PS Ikan Charybdis natator PA Ikan Calappa sp 550 2 2 Kanikil 6 1 bubu 2 S 4 70 70 Lobster Total gram 1 bubu Total PS Kanikil 60 ekor 1 gram 1 1 Total ekor Haul : 07.25 - 07.40/23 Agustus 2011 By-cath Lobster PS Kanikil Total 1 Total Lobster ekor S Kanikil 1 1 bubu gram 1 550 Total 4 230 2 230 1 bubu 1 15 1 15 S Kanikil PS Kanikil 1 110 1 110 PS Ikan 1 bubu 4 355 5 905 PA Ikan 1 bubu 1 bubu 71 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.01 – 17.10/23 Agustus 2011 TRIP 5 Jenis Bubu No 1 2 S Umpan Kanikil PA Ikan Haul : 7.28 – 08.04/24 Agustus 2011 Lobster By-cath Jenis ekor Panulirus homarus 4 Panulirus homarus gram Total Jenis ekor gram S Kanikil ekor 180 1 Lobster 4 180 10 1 10 S Kanikil 3 bubu Charybdis natator 1 20 1 20 1 bubu 1 100 PA Ikan PS Kanikil S Ikan 1 bubu Charybdis lucifera 1 50 1 50 Kanikil Charybdis natator 1 40 1 40 4 S Ikan Portunus pelagicus 1 80 1 80 5 200 10 480 280 Set : 16.50 – 16.55/25 Agustus 2011 Jenis Bubu No Haul : 06.45 – 07.10/26 Agustus 2011 Lobster Umpan Jenis 1 PS Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 110 2 110 6 1 PS TRIP 6 Total Canthigaster sp 100 5 1 bubu gram 3 Total 4 Jenis Lobster PS Kanikil Total ekor gram ekor 1 bubu 2 1 bubu gram Portunus sanguinolentus 1 55 3 165 Portunus sanguinolentus 2 60 2 Charybdis natator 1 70 4 185 5 60 Total PS Kanikil 2 bubu 1 70 S Ikan 3 bubu 6 295 72 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.40 – 18.00/5 September 2011 TRIP 7 1 Lobster Haul : 08.35 - 08.55/06 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 S 2 Ikan PS Panulirus homarus By-cath ekor gram Jenis 2 95 Ikan Total 2 Total ekor gram S Ikan ekor gram Sepia sp. 1 40 3 135 Total Charybdis natator 2 70 2 70 S Ikan Charybdis natator 1 104 1 104 PS Ikan 4 214 6 309 95 1 bubu 3 2 bubu 1 Set : 17.28 – 17.46/6 September 2011 TRIP 8 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 Lobster Haul : 08.09 – 08.50/07 September 2011 S PS Kanikil Kanikil Total Panulirus homarus Panulirus homarus By-cath ekor gram 1 1 75 75 2 150 Jenis Sepia sp. Total ekor gram ekor gram 1 70 2 1 145 75 1 70 3 220 S Kanikil PS Kanikil Total S Kanikil PS Kanikil 2 1 bubu 1 bubu 2 1 bubu 1 bubu 73 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 9 Set : 17.45 – 17.54/7 September 2011 Jenis Bubu No Umpan 1 S Ikan 2 S Kanikil Haul : 06.06 – 06.25/8 September 2011 Lobster Panulirus homarus Total By-cath 2 135 2 135 Lobster Total Sepia sp. 2 S Ikan 95 4 1 60 3 155 1 1 bubu 230 Total 2 1 60 S Ikan 1 bubu 5 290 S Kanikil 1 bubu Set : 16.47 – 16.51/8 September 2011 Lobster TRIP 10 No 1 Haul : 06.53 - 07.01/9 September 2011 Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis ekor gram 1 125 Jenis Total ekor gram S Ikan ekor 1 bubu gram Charybdis natator 1 40 2 165 Total 2 Portunus sanguinolentus 1 60 1 60 S Ikan 2 bubu 3 Sepia sp. 2 150 2 150 PA Ikan 1 bubu Calappa sp 1 200 1 200 5 450 6 575 1 4 S PA Ikan Panulirus ornatus By-cath Ikan Total 1 125 2 74 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.16 - 16.27/9 September 2011 TRIP 11 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 Lobster Haul : 07.10 – 07.45/10 September 2011 S Ikan Panulirus homarus Total By-cath ekor gram 1 160 1 160 Jenis Total ekor Portunus sanguinolentus gram S Ikan ekor 2 2 bubu gram 1 40 2 200 Total 1 40 2 200 S Ikan 2 2 bubu Set : 18.40 – 18.48/11 September 2011 TRIP 12 Jenis Bubu No Umpan Lobster Panulirus homarus By-cath 1 Total 1 S Kanikil 75 2 PA Kanikil Charybdis natator 2 3 PS Ikan Portunus sanguinolentus 4 S Ikan 1 Lobster Haul : 06.40 – 07.03/12 September 2011 S Kanikil 1 75 110 3 165 1 40 1 Charybdis natator 1 70 Portunus sanguinolentus 3 300 Total 1 bubu 7 bubu S Kanikil 1 bubu 40 PA Kanikil 3 bubu 1 70 PS Ikan 1 bubu 3 300 S Ikan 2 bubu 75 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 8.10 – 8.20/13 September 2011 TRIP 13 Lobster 2 Haul : 08.00 - 08.15/14 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 S Ikan 2 PA Ikan Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 80 Jenis Total ekor Charybdis lucifera Total 2 80 gram 1 bubu ekor gram 2 80 Total S Ikan 1 bubu PA Ikan 1 bubu Lobster 1 2 80 2 80 2 80 4 160 2 Set : 7.50 – 8.20/14 September 2011 TRIP 14 Haul : 07.02 – 07.50/15 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 PS Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 Jenis 50 PS Kanikil Total ekor gram ekor 1 bubu gram Sepia sp. 1 45 3 95 Sepia sp. 3 110 3 4 155 6 2 110 Total PS Kanikil 1 bubu 205 S Ikan 1 bubu 76 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.05 – 17.35/15 September 2011 TRIP 15 No Lobster Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 25 Jenis ekor gram Total S Kanikil ekor 1 bubu gram 40 2 65 Total Ikan Epinephelus coioides 1 80 1 80 S Kanikil 2 bubu PS Ikan Sepia sp. 1 110 1 110 S Ikan 1 bubu PS Kanikil Sepia sp. 2 130 1 130 2 bubu 5 360 5 385 PS Ikan PS Kanikil Kanikil 2 S 3 4 Total 1 25 6 1 bubu Set : 16.30 – 16.48/17 September 2011 TRIP 16 Jenis Bubu Umpan 1 PS Ikan 2 S Ikan S Haul : 07.10 – 07.40/18 September 2011 By-cath Lobster Jenis 3 gram 1 S Panulirus homarus ekor 1 Sepia sp. 1 No Haul : 07.15 - 07.25 16 September 2011 By-cath Panulirus homarus ekor gram 2 80 Kanikil Total 2 80 Jenis ekor gram Lobster Total PS Ikan ekor 1 1 bubu gram Sepia sp. 1 45 3 125 Total Charybdys natator 2 110 1 110 PS Ikan 2 bubu Sepia sp. 1 90 1 90 S Ikan 2 bubu Sepia sp. 1 45 1 45 S Kanikil 1 bubu 5 290 6 370 5 77 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.25 – 16.40/18 September 2011 TRIP 17 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 By-cath ekor No gram Jenis PA Kanikil Panulirus homarus 1 60 S Kanikil Panulirus homarus 1 60 PS Ikan Total TRIP 18 Lobster Haul : 06.30 – 06.40/19 September 2011 2 Total ekor gram ekor gram 1 60 Sepia sp. 2 110 3 170 Sepia sp. 1 60 1 60 3 170 5 290 120 2 PA Kanikil 1 bubu S Kanikil 1 bubu Total PA Kanikil 4 1 bubu S Kanikil 2 bubu PS Ikan 1 bubu Lobster 1 Set : 16.20 – 16. 48/21 September 2011 Haul : 7.48 – 8.05/22 September 2011 Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis ekor gram 2 90 Jenis PA Kanikil Total ekor gram ekor 1 50 3 140 Ikan Charybdis natator 1 40 1 PS Ikan Sepia sp. 1 50 4 S Ikan Sepia sp. 2 5 S Kanikil Sepia sp. Charybdis natator PA Kanikil 2 PA 3 Total 2 90 1 bubu gram Sepia sp. 1 Panulirus homarus By-cath 40 Total PA Kanikil 7 2 bubu 1 50 PA Ikan 1 bubu 125 1 125 PS Ikan 1 bubu 1 90 1 90 S Ikan 2 bubu 1 30 1 30 S Kanikil 1 bubu 7 385 8 475 78 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.35 – 16. 50/23 September 2011 TRIP 19 Lobster 1 Haul : 7.05 – 7.25/24 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 PS Ikan 1 PA Ikan 2 S Ikan By-cath ekor Panulirus homarus gram 1 Total 1 Jenis Total ekor 100 gram PS Ikan ekor 1 bubu gram 1 100 1 100 Sepia sp. 1 70 1 70 PS Ikan 1 bubu Sepia sp. 4 270 4 270 PA Ikan 1 bubu 6 440 6 440 S Ikan 2 bubu 100 Total 4 Set : 16.58 – 17.05/24 September 2011 TRIP 20 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 Lobster Haul : 6.25 – 6.48/25 Septembner 2011 By-cath ekor gram Jenis Total ekor gram ekor gram PA Kanikil Panulirus homarus 1 25 1 25 S Ikan Panulirus homarus 1 75 1 75 PS Kanikil Total Sepia sp. 2 100 1 60 1 60 1 60 3 160 2 PA Kanikil 1 bubu S Ikan 1 bubu Total PA Kanikil S Ikan PS Kanikil 3 1 bubu 1 bubu 1 bubu 79 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.20 – 16.55/25 September 2011 Haul : 6.58 – 7. 25/26 September 2011 Lobster 2 bubu TRIP 21 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 PS Ikan By-cath ekor Panulirus homarus Total TRIP 22 No gram Umpan gram 240 Total 2 240 2 240 PS Ikan 1 bubu Lobster 1 2 Haul : 6.55 – 7.14/27 September 2011 By-cath ekor gram 2 140 Jenis Total ekor gram S Ikan 2 PA Ikan Charybdys natator 1 3 PA Kanikil Sepia sp. Total gram 2 1 Panulirus homarus ekor 2 bubu 240 Lobster Jenis ekor PS Ikan 2 Set : 16.15 – 16. 35/26 September2011 Jenis Bubu Jenis Total 2 140 ekor S Ikan 1 bubu gram 2 140 Total 3 bubu 100 1 100 S Ikan 1 bubu 1 70 1 70 1 bubu 2 170 4 310 PA Ikan PA Kanikil 1 bubu 80 82 Lampiran 3. Hasil tangkapan total per trip berdasarkan desain bubu dan umpan Jenis umpan Jenis bubu Trip S Umpan Ikan PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 3 850.1 0 0 1 50 2 2 70 0 0 0 0 3 0 0 2 70 0 0 4 0 0 1 15 1 110 5 1 80 0 0 2 150 6 3 130 0 0 0 0 7 5 205 1 104 0 0 8 0 0 0 0 0 0 9 4 230 0 0 0 0 10 5 375 0 0 1 200 11 2 200 0 0 0 0 12 4 370 1 40 0 0 13 2 80 0 0 2 80 14 3 110 0 0 0 0 15 1 80 1 110 0 0 16 2 200 3 125 0 0 17 0 0 1 60 0 0 18 2 125 1 50 1 40 19 4 270 1 100 1 70 20 1 75 0 0 0 0 21 0 0 0 0 0 0 22 2 140 0 0 1 100 23 0 0 0 0 0 0 24 3 210 0 0 2 140 83 Lampiran 3 (Lanjutan) Kanikil 1 0 0 0 0 0 0 2 3 105 0 0 0 0 3 2 80 1 60 0 0 4 6 550 2 230 0 0 5 6 210 1 40 0 0 6 0 0 3 165 0 0 7 0 0 0 0 0 0 8 2 145 1 75 0 0 9 1 60 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 12 1 75 0 0 3 165 13 0 0 0 0 0 0 14 0 0 3 95 0 0 15 2 65 2 130 0 0 16 1 45 0 0 0 0 17 3 170 0 0 1 60 18 2 120 0 0 1 50 19 0 0 0 0 0 0 20 1 60 0 0 1 25 21 0 0 0 0 0 0 22 0 0 0 0 1 70 23 2 160 0 0 0 0 24 0 0 0 0 0 0 84 Lampiran 4 Hasil Tangkapan Lobster Per Trip Berdasarkan Jenis Bubu Dan Umpan Jenis umpan Jenis bubu Trip S Umpan Ikan PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 1 150 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 1 100 6 0 0 0 0 0 0 7 2 95 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 9 2 135 0 0 0 0 10 1 125 0 0 0 0 11 1 160 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 13 2 80 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 16 0 0 2 80 0 0 17 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 19 0 0 1 100 0 0 20 1 75 0 0 0 0 21 0 0 2 240 0 0 22 2 140 0 0 0 0 23 0 0 2 0 0 0 24 1 60 0 0 2 140 85 Lampiran 4(Lanjutan) Kanikil 1 0 0 0 0 0 0 2 2 70 0 0 0 0 3 0 0 1 60 0 0 4 6 550 0 0 0 0 5 4 180 0 0 0 0 6 0 0 2 110 0 0 7 0 0 0 0 0 0 8 1 75 1 75 0 0 9 0 0 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 12 1 75 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 50 0 0 15 1 25 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 17 1 60 0 0 1 60 18 0 0 0 0 2 90 19 0 0 0 0 0 0 20 0 0 0 0 1 25 21 0 0 0 0 0 0 22 0 0 0 0 0 0 23 2 160 0 0 0 0 24 0 0 0 0 0 0 86 Lampiran 5 Analisis data Kelompokkan data berdasarkan jenis umpan dan bubu umpan bubu ulangan lobsterekor totalekor kanikil ps 1 0 0 kanikil ps 2 0 0 kanikil ps 3 1 1 kanikil ps 4 0 2 kanikil ps 5 0 1 kanikil ps 6 2 3 kanikil ps 7 0 0 kanikil ps 8 1 1 kanikil ps 9 0 0 kanikil ps 10 0 0 kanikil ps 11 0 0 kanikil ps 12 0 0 kanikil ps 13 0 0 kanikil ps 14 2 3 kanikil ps 15 0 2 kanikil ps 16 0 0 kanikil ps 17 0 0 kanikil ps 18 0 0 kanikil ps 19 0 0 kanikil ps 20 0 0 kanikil ps 21 0 0 kanikil ps 22 0 0 kanikil ps 23 0 0 kanikil ps 24 0 0 kanikil s 1 0 0 kanikil s 2 2 3 kanikil s 3 0 2 kanikil s 4 6 6 kanikil s 5 4 6 kanikil s 6 0 0 kanikil s 7 0 0 kanikil s 8 1 2 kanikil s 9 0 1 kanikil s 10 0 0 kanikil s 11 0 0 kanikil s 12 1 1 kanikil s 13 0 0 kanikil s 14 0 0 87 Lampiran 5 (Lanjutan) kanikil ps 15 0 2 kanikil ps 16 0 0 kanikil ps 17 0 0 kanikil ps 18 0 0 kanikil ps 19 0 0 kanikil ps 20 0 0 kanikil ps 21 0 0 kanikil ps 22 0 0 kanikil ps 23 0 0 kanikil ps 24 0 0 kanikil s 1 0 0 kanikil s 2 2 3 kanikil s 3 0 2 kanikil s 4 6 6 kanikil s 5 4 6 kanikil s 6 0 0 kanikil s 7 0 0 kanikil s 8 1 2 kanikil s 9 0 1 kanikil s 10 0 0 kanikil s 11 0 0 kanikil s 12 1 1 kanikil s 13 0 0 kanikil s 14 0 0 kanikil s 15 1 2 kanikil s 16 0 1 kanikil s 17 1 3 kanikil s 18 0 2 kanikil s 19 0 0 kanikil s 20 0 1 kanikil s 21 0 0 kanikil s 22 0 0 kanikil s 23 2 2 kanikil s 24 0 0 88 Lampiran 5 (Lanjutan) kanikil pa 1 0 0 kanikil pa 2 0 0 kanikil pa 3 0 0 kanikil pa 4 0 0 kanikil pa 5 0 0 kanikil pa 6 0 0 kanikil pa 7 0 0 kanikil pa 8 0 0 kanikil pa 9 0 0 kanikil pa 10 0 0 kanikil pa 11 0 0 kanikil pa 12 0 3 kanikil pa 13 0 0 kanikil pa 14 0 0 kanikil pa 15 0 0 kanikil pa 16 0 0 kanikil pa 17 1 1 kanikil pa 18 2 1 kanikil pa 19 0 0 kanikil pa 20 1 1 kanikil pa 21 0 0 kanikil pa 22 0 1 kanikil pa 23 0 0 kanikil pa 24 0 0 ikan ps 1 0 0 ikan ps 2 0 0 ikan ps 3 0 2 ikan ps 4 0 1 ikan ps 5 0 0 ikan ps 6 0 0 ikan ps 7 0 1 ikan ps 8 0 0 ikan ps 9 0 0 ikan ps 10 0 0 ikan ps 11 0 0 ikan ps 12 0 1 ikan ps 13 0 0 ikan ps 14 0 0 89 Lampiran 5 (Lanjutan) ikan ps 15 0 1 ikan ps 16 2 3 ikan ps 17 0 1 ikan ps 18 0 1 ikan ps 19 1 1 ikan ps 20 0 0 ikan ps 21 2 0 ikan ps 22 0 0 ikan ps 23 0 0 ikan ps 24 0 0 ikan s 1 1 3 ikan s 2 0 2 ikan s 3 0 0 ikan s 4 0 0 ikan s 5 0 1 ikan s 6 0 3 ikan s 7 2 5 ikan s 8 0 0 ikan s 9 2 4 ikan s 10 1 5 ikan s 11 1 2 ikan s 12 0 4 ikan s 13 2 2 ikan s 14 0 3 ikan s 15 0 1 ikan s 16 0 2 ikan s 17 0 0 ikan s 18 0 2 ikan s 19 0 4 ikan s 20 1 1 ikan s 21 0 0 ikan s 22 2 2 ikan s 23 0 0 ikan s 24 1 3 90 Lampiran 5 (Lanjutan) ikan pa 1 0 1 ikan pa 2 0 0 ikan pa 3 0 0 ikan pa 4 0 1 ikan pa 5 1 2 ikan pa 6 0 0 ikan pa 7 0 0 ikan pa 8 0 0 ikan pa 9 0 0 ikan pa 10 0 1 ikan pa 11 0 0 ikan pa 12 0 0 ikan pa 13 0 2 ikan pa 14 0 0 ikan pa 15 0 0 ikan pa 16 0 0 ikan pa 17 0 0 ikan pa 18 0 1 ikan pa 19 0 1 ikan pa 20 0 0 ikan pa 21 0 0 ikan pa 22 0 1 ikan pa 23 0 0 ikan pa 24 2 2 91 Lampiran 5 (Lanjutan) Uji kenormalan dengan menggunakan MINITAB4. Hasil tangkapan lobster ekor sebelum transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik Lobster ekor berikut ; Probability Plot of lobsterekor Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 0.3403 0.8292 144 0.067 0.108 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -3 -2 -1 0 1 2 lobsterekor 3 4 5 6 Hasil transformasi kemudian diuji kenormalan maka didapat hasil pada grafik Lobster ekor berikut: Probability Plot of lobsterekor trans Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 0.0 0.5 1.0 1.5 lobsterekor trans 2.0 2.5 0.8565 0.3278 144 0.474 <0.010 92 Lampiran 5 (Lanjutan) Hasil tangkapan total sebelum transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik total ekor berikut ; Probability Plot of total_ekor Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 0.8681 1.313 144 0.134 <0.010 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -4 -2 0 2 total_ekor 4 6 Hasil tangkapan total setelah transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik total ekor berikut ; Probability Plot of total_ekor_1 Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 total_ekor_1 2.0 2.5 1.066 0.4831 144 0.063 >0.150 93 Lampiran 5 (Lanjutan) HASIL ANALISIS RAGAM-RAL totalekor Dependent Variable: totalekor Sumber DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F 5 7.37104770 1.47420954 7.82 <.0001 Galat 138 26.00430914 0.18843702 Total koreksi 143 33.37535685 Model Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F umpan 1 0.56805404 0.56805404 3.01 0.0848 bubu 2 6.35642157 3.17821079 16.87 <.0001 umpan*bubu 2 0.44657209 0.22328604 1.18 0.3089 Setelah dilakukan transformasi dan dilakukan uji keseluruhan dengan ujiF, maka terlihat bahwa untuk semua faktor berpengaruh nyata (p-value = 0001< 0.05) terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dari hasil analisis ragam, terlihat bahwa jenis umpan tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan lobster, namun bubu berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5% Karena p–value = 0.0848> 0.05 pada jenis umpan, p–value = <.0001<0.05 pada jenis bubu, serta p–value = 0.3089>0.05 pada interaksi antara umpan dan bubu karena model berpengaruh terhadap hasil penangkapan lobster, maka dilakukan uji lanjut (uji Duncan), terhadap masing – masing faktor ( Jenis Umpan dan Jenis Bubu) pada masing – masing taraf ( Jenis Umpan : Ikan dan Kanikil ; Jenis Bubu : ps dan s dan pa. 94 Lampiran 5 (Lanjutan) Duncan Grouping Mean N bubu A 1.36177 48 s B 0.94231 48 ps 0.89382 48 pa B B Dari hasil pengujian dengan uji Duncan, terlihat bahwa ketiga jenis bubu berbeda nyata pada taraf nyata 5%. Karena jenis Bubu berbeda satu sama lain, maka dapat dipilih Jenis bubu yang paling baik. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah jenis bubu s, karena memiliki rataan (1.36177) hasil penangkapan lobster yang lebih besar dari rataan (0.94231) Jenis Bubu ps dan pa (0.89382) 95 Lampiran 5 (Lanjutan) Analisis Non-Parametrik Menggunakan MINITAB dengan menggunakan Analisis Non-Parametrik Kruskal Wallis. Masukkan data ke dalam worksheet dengan format sebagai berikut. Umpan bubu Ulangan Lobsterekor Interaksi Kanikil ps 1 0 KanikilPS Kanikil ps 2 0 KanikilPS Kanikil ps 3 0 KanikilPS Kanikil ps 4 0 KanikilPS Kanikil ps 5 0 KanikilPS Kanikil ps 6 1 KanikilPS Kanikil ps 7 1 KanikilPS Kanikil ps 8 1 KanikilPS Kanikil ps 9 0 KanikilPS Kanikil ps 10 0 KanikilPS Kanikil ps 11 0 KanikilPS Kanikil ps 12 0 KanikilPS Kanikil ps 13 0 KanikilPS Kanikil ps 14 0 KanikilPS Kanikil ps 15 1 KanikilPS Kanikil ps 16 0 KanikilPS Kanikil ps 17 0 KanikilPS Kanikil ps 18 1 KanikilPS Kanikil ps 19 0 KanikilPS Kanikil ps 20 1 KanikilPS Kanikil s 1 3 KanikilS Kanikil s 2 0 KanikilS Kanikil s 3 0 KanikilS Kanikil s 4 0 KanikilS Kanikil s 5 1 KanikilS Kanikil s 6 0 KanikilS Kanikil s 7 0 KanikilS Kanikil s 8 1 KanikilS Kanikil s 9 1 KanikilS Kanikil s 10 1 KanikilS Kanikil s 11 2 KanikilS Kanikil s 12 2 KanikilS Kanikil s 13 1 KanikilS Kanikil s 14 1 KanikilS Kanikil s 15 0 KanikilS Kanikil s 16 0 KanikilS 96 Kanikil s 17 0 KanikilS Kanikil s 18 0 KanikilS Kanikil s 19 0 KanikilS Kanikil s 20 3 KanikilS Kanikil pa 1 0 KanikilPA Kanikil pa 2 0 KanikilPA Kanikil pa 3 0 KanikilPA Kanikil pa 4 0 KanikilPA Kanikil pa 5 0 KanikilPA Kanikil pa 6 0 KanikilPA Kanikil pa 7 0 KanikilPA Kanikil pa 8 0 KanikilPA Kanikil pa 9 0 KanikilPA Kanikil pa 10 0 KanikilPA Kanikil pa 11 0 KanikilPA Kanikil pa 12 0 KanikilPA Kanikil pa 13 0 KanikilPA Kanikil pa 14 0 KanikilPA Kanikil pa 15 0 KanikilPA Kanikil pa 16 0 KanikilPA Kanikil pa 17 0 KanikilPA Kanikil pa 18 0 KanikilPA Kanikil pa 19 0 KanikilPA Kanikil pa 20 0 KanikilPA ikan ps 1 0 IkanPS ikan ps 2 0 IkanPS ikan ps 3 0 IkanPS ikan ps 4 0 IkanPS ikan ps 5 0 IkanPS ikan ps 6 0 IkanPS ikan ps 7 0 IkanPS ikan ps 8 0 IkanPS ikan ps 9 1 IkanPS ikan ps 10 0 IkanPS ikan ps 11 0 IkanPS ikan ps 12 0 IkanPS ikan ps 13 0 IkanPS ikan ps 14 0 IkanPS ikan ps 15 0 IkanPS ikan ps 16 1 IkanPS ikan ps 17 1 IkanPS ikan ps 18 0 IkanPS ikan ps 19 0 IkanPS 97 ikan ps 20 0 IkanPS ikan s 1 0 IkanS ikan s 2 1 IkanS ikan s 3 2 IkanS ikan s 4 1 IkanS ikan s 5 0 IkanS ikan s 6 0 IkanS ikan s 7 0 IkanS ikan s 8 0 IkanS ikan s 9 0 IkanS ikan s 10 0 IkanS ikan s 11 0 IkanS ikan s 12 0 IkanS ikan s 13 0 IkanS ikan s 14 0 IkanS ikan s 15 0 IkanS ikan s 16 1 IkanS ikan s 17 0 IkanS ikan s 18 0 IkanS ikan s 19 1 IkanS ikan s 20 0 IkanS ikan pa 1 0 IkanPA ikan pa 2 0 IkanPA ikan pa 3 0 IkanPA ikan pa 4 0 IkanPA ikan pa 5 0 IkanPA ikan pa 6 0 IkanPA ikan pa 7 0 IkanPA ikan pa 8 0 IkanPA ikan pa 9 0 IkanPA ikan pa 10 0 IkanPA ikan pa 11 0 IkanPA ikan pa 12 0 IkanPA ikan pa 13 0 IkanPA ikan pa 14 0 IkanPA ikan pa 15 0 IkanPA ikan pa 16 0 IkanPA ikan pa 17 1 IkanPA ikan pa 18 0 IkanPA ikan pa 19 0 IkanPA ikan pa 20 0 IkanPA 98 Lampiran 5 (Lanjutan) Catatan : interaksi menyatakan interaksi jenis bubu dengan jenis umpan, “IkanPA” berarti interaksi jenis umpan ikan dengan jenis bubu PA. Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus bubu Kruskal-Wallis Test on lobsterekor bubu pa ps s Overall N 48 48 48 144 Median 0.000000000 0.000000000 0.000000000 Ave Rank 65.3 68.6 83.6 72.5 H = 5.21 DF = 2 P = 0.074 H = 10.66 DF = 2 P = 0.005 Z -1.46 -0.79 2.25 (adjusted for ties) Adjusted for ties (menyatakan koreksi untuk aka sama), nilai tersebut yang digunakan untuk menyimpulkan hasil. Tolah H0 jika : H > α2 atau P-Value < α χα2 berdasarkan pada p-1 degrees of freedom, nilai diambil dari table Chisquare (χ2). Nilai α = 0,05, DF (degree of freedom) = 2 maka didapat hasil χα2 dari table χ2 = 5,9915, oleh karena itu H = 10,66 > 5,9915 = χα2 maka tolah H0 = = dari masing masing bubu memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. P-Value = 0,005 < α = 0,05 berarti tolak H0 = dari masing masing bubu memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Terlihat pada rangking rata-rata terbesar hingga paling kecil dari masingmasing jenis bubu yaitu bubu S = 83,6 > PS = 68,6 > PA = 65,3. Dilanjutkan dengan Uji Perbandingan Berganda (Uji z) yang juga menyatakan S > PS > PA. Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus umpan Kruskal-Wallis Test on lobsterekor umpan ikan kanikil Overall H = 0.02 H = 0.05 N 72 72 144 Median 0.000000000 0.000000000 DF = 1 DF = 1 P = 0.875 P = 0.821 Ave Rank 72.0 73.0 72.5 Z -0.16 0.16 (adjusted for ties) ) H = 0,5 < 3,8415 = χα2 dan P-Value = 0,821 > α = 0,05, berarti terima H0 = dari masing masing umpan sangat tidak memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Ranking rata-rata umpan kanikil > umpan ikan (73,0>72,0), karena perbedaan tersebut tidak berbeda nyata jadi dari kedua jenis umpan memiliki kemampuan yang sama dalam penangkapan lobster. 99 Lampiran 5 (Lanjutan) Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus interaksi Kruskal-Wallis Test on lobsterekor interaksi ikanpa ikanps ikans kanikilpa kanikilps kanikils Overall N 24 24 24 24 24 24 144 Median 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 10.93 DF = 5 P = 0.053 Ave Rank 64.0 67.3 84.6 66.7 70.0 82.5 72.5 Z -1.10 -0.68 1.56 -0.75 -0.33 1.29 (adjusted for ties) H = 10,93 < 11,0705 = χα2 dan P-Value = 0,053 > α = 0,05, berarti tolak H0 = bubu dan umpan tidak memiliki interaksi yang berpengaruh nyata dalam hasil tangkapan lobster. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil S Ikan = 84,6, S Kanikil = 82,5, PS Kanikil =70,0 PS Ikan = 67,3, PA kanikil = 66,7, dan PA Ikan = 64,0, Lampiran 5 ( Lanjutan) 100 Lampiran 6 Rangkaian bubu saat operasi Lampiran 7. Dokumentasi Kegiatan Penelitian Pemasangan Umpan Ikan Tembang Sumber : Dokumentasi penelitian Pemasangan Umpan Kanikil Sumber : Dokumentasi penelitian Persiapan Operasi Penelitian (Perahu sebagai sarana angkut dan transportasi) Sumber : Dokumentasi penelitian 101 Lampiran 7 (Lanjutan) Menuju Lokasi Penangkapan (Fishing ground) Pemasangan alat tangkap (setting) Sumber : Dokumentasi penelitian Sumber : Dokumentasi penelitian Pengangkatan alat tangkap (hauling) Sumber : Dokumentasi penelitian Penanganan Hasil Tangkapan Sumber : Dokumentasi penelitian 102 Lampiran 8 Foto Hasil tangkapan Spiny lobster dan Hasil tangkapan sampingan Nama lokal : Udang Barong Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Indonesia : Lobster Mutiara Nama Inggris : Scalloped Spiny Lobster Nama Inggris : Ornate Rock Lobster Nama Latin : Panulirus homarus Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Inggris : Painted Rock Lobster Nama Latin : Panulirus versicolor Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama Latin : Panulirus ornatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama lokal : Rajungan Macan Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Crucifix Crab Nama Latin : Charybdis feriatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian 103 Lampiran 8 (Lanjutan) Nama lokal : Rajungan kacan g Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Inggris : box Creb NamaLatin : Charybdis Lucifera Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Rajungan Batu Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Ridged Swimming Crab Nama Latin : Charybis natator Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Kepiting kepal Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Spotted box Crab Nama Latin : Calappa philargius Nama lokal : Kerapu balong Nama Indonesia: Kerapu lumpur Nama Inggris : Orange-spotted grou Nama Latin : Epinephelus coioides Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama Lokal : Rajungan belang titik tiga Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Blood-spotted swimming crab Nama Latin : Charybdis feriatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama Lokal : Cumi Batok Nama Indonesia : Sotong Nama Inggris : Cuttle fish Nama Latin : Sepia Sp Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.50 – 17.20/27 September 2011 Haul : 09.50 – 10.08/28 September 2011 Lobster 2 bubu TRIP 23 Jenis Bubu No 1 S Umpan Kanikil Lobster No 1 24 gram Jenis Umpan Panulirus homarus 1 80 1 80 Total Panulirus versicolor 1 80 1 80 S Kanikil 2 160 1 160 gram ekor Lobster By-cath Jenis ekor gram Jenis Ikan Panulirus homarus 2 140 S Ikan Panulirus homarus 1 60 3 200 Sepia sp. Lobster Total ekor gram 1 bubu gram Haul : 6.55 – 7.14/29 September 2011 PA Total ekor S Kanikil ekor Set : 16.55 – 17.25/28 September 2011 Jenis Bubu Total Jenis Total TRIP By-cath ekor gram 1 bibi 1 bubu 2 bubu PA Ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu 2 140 Total 2 2 150 2 210 PA Ikan 1 bubu 2 150 4 350 S Ikan 1 bubu 81 ABSTRAK DIKI PATRA, C44070067. Studi Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas dan Pintu Samping dengan Jenis Umpan Kanikil (Chiton sp) pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.) di Palabuhanratu, Jawa Barat. Dibimbing oleh ZULKARNAIN dan M FEDI A SONDITA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bubu lipat modifikasi dan penggunaan umpan kanikil pada penangkapan lobster. Penelitian ini menggunakan metode uji coba penangkapan (experimental fishing), desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu digunakan 3 jenis bubu lipat 2 jenis umpan dengan jumlah ulangan sebanyak 24 trip penangkapan. Faktor jenis bubu lipat terdiri dari bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar (S), bubu lipat modifikasi pintu samping satu pintu (PS), dan bubu lipat modifikasi pintu atas satu pintu (PA). Faktor jenis umpan terdiri dari umpan ikan tembang (Sardinella fimbriata) sebagai umpan standar dan kanikil (chiton sp) sebagai umpan alternatif. Hasil tangkapan terdiri dari hasil tangkapan utama yaitu spiny lobster (Panulirus spp.) dan hasil tangkapan samping (bycatch). Komposisi hasil tangkapan secara total didominasi oleh hasil tangkapan sampingan yaitu sekitar 61,11 %, hasil tangkapan utama sebesar 38,89 %. Hasil tangkapan sampingan adalah krustasea (rajungan) 34 ekor (26,89%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 34 ekor (26,89%), kelompok ikan (kerapu Epinephelus coioides) 2 ekor (1,59%), singreng (Canthigaster sp) 2 ekor (2,4%) kelompok keong (keong macan- Babilonia Spirata) 2 ekor (1,59%). Hasil tangkapan utama adalah lobster yang terdiri terdiri dari 3 spesies yang didominasi oleh lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 47 ekor (37,30%), lobster hijau (Panulirus versicolor) 1 ekor (0.83%) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (0,83%). Perbandingan hasil tangkapan dari kedua jenis umpan memiliki nilai yang tidak berbeda nyata dengan taraf nyata 5 %. Sedangkan dari tiga jenis bubu standar lebih baik dari bubu lipat pintu samping, dan bubu lipat pintu samping sama dengan bubu lipat pintu atas (S > PS = PA). Kata kunci: bubu lipat rajungan, bubu lipat modifikasi, lobster, kanikil. ABSTRACT DIKI PATRA, C44070067. The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat. Mentored by ZULKARNAIN and M. FEDI A SONDITA. The purpose of this research are to find out the effectiveness the modified of collapsible pot and the use of chiton on catching lobsters. This research is used by the experimental fishing method. Design research using the Completely Randomize Design with two factors. The factors is 3 collapsible pot type and 2 type of bait with the number of catching repeats as much as 24 trip. Factors of collapsible pot consists of the swimming crab pots as the standar of collapsible pot (S) and two modified of collapsible pots. The modification is the pot that have one funnel on aside (PS) and the pot that have one funnel on top (PA). The bait factors consists of bait fish Fringescale sardinella (Sardinella fimbriata) as standard bait and worm (Chiton sp) as an alternative bait. The catch is consist of the main target catches is that the spiny lobster (Panulirus spp.) and (by-catch). The totally composition of catches dominated by (by-catch) about 61,11 %, and target catches about 38,89 %. By catch are the swimming crabs about 34 (26,89 %), cuttlefish (Sepia sp.) about 34 (26,89 %), fish about 2 (1,59 %). The main target catches of 3 type is dominated by spiny lobsters (Panulirus homarus) about 40 (37.30 %), one painted rock lobster (Panulirus versicolor) (0.83%), and one ornate rock lobster (Panulirus ornatus) (0.83%). Comparison of two types of catches bait has a value that is not significantly different (α = 5 %). Between three kinds of pots, catches standar collapsible pot better than one funnel aside collapsible pot, and one funnel aside collapsible pot same with one funnel on top collapsible pot (S > PS = PA). Key Words: Swimming crab collapsible pots (Standars), modification pot, lobster, Kanikil. 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lobster atau spiny lobster (Panulirus spp.) atau udang barong atau udang karang adalah salah satu jenis hasil laut yang bernilai tinggi dalam perdagangan produk perikanan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Harga lobster (lokal) umumnya sangat tinggi dengan variasi yang sangat ditentukan oleh jenis dan ukuran lobster. Nilai jual lobster yang tinggi biasanya berlaku untuk lobster yang berkualitas tinggi, seperti lobster dalam keadaan hidup dan anggota tubuhnya masih lengkap, belum ada yang putus atau rusak. Tingginya nilai ekonomi lobster inilah yang menjadi pendorong nelayan untuk menangkapnya karena walaupun jumlah yang ditangkap sedikit namun berkualitas maka nelayan mendapatkan penghasilan yang tinggi (Zulkarnain et al. 2011). Kegiatan penangkapan lobster sudah dilakukan sejak dahulu secara tradisional menggunakan teknologi yang sederhana dalam usaha berskala kecil. Jenis alat yang umum digunakan untuk menangkap lobster adalah jaring insang dasar (bottom gillnet) dan krendet, sejenis perangkap yang terbuat dari jaring (hoopnet) serta bubu (traps). Dua jenis alat pertama menangkap lobster dengan metode membelit atau memuntal tubuh atau anggota badan lobster (entangling) sedangkan bubu menangkap lobster dengan metode entrapment dimana seluruh tubuh akan berada di dalam perangkap. Berbagai bentuk bubu dengan bahan yang berbeda dapat dibuat untuk menangkap berbagai jenis ikan dan krustasea (Subani dan Barus, 1989). Cara menangkap lobster dengan membelit atau memuntal memiliki kelemahan, yaitu rusaknya atau hilangnya anggota tubuh lobster sehingga harga lobster menjadi lebih rendah (Zulkarnain et al. 2011). Sebaliknya, cara menangkap lobster dengan bubu memberikan keuntungan karena lobster tertangkap hidup dan keutuhan tubuhnya dapat dijaga sehingga harganya cenderung tinggi karena dianggap lebih berkualitas. Konstruksi bubu umumnya dirancang terdiri atas rangka (frame), badan (body) dan pintu masuk (inlet). Ada bubu yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung tempat menyimpan umpan. Bentuk bubu 2 dapat berbeda di antara nelayan yang berbeda lokasinya atau negara (Martasuganda 2003). Bubu juga ada yang dapat dilipat atau disebut bubu lipat (collapsable trap). Bubu ini lebih disukai nelayan dan cocok untuk dioperasikan pada berbagai tipe dasar perairan dan kedalaman, serta tidak mahal namun kuat. Bubu ini biasanya dioperasikan dengan biaya yang tidak mahal. Selain itu, ikan yang tertangkap bubu ini biasanya dalam keadaan hidup sehingga nelayan mendapat kesempatan untuk memilih, misalnya jika ukurannya terlalu kecil untuk dijual (under sized) maka dapat dilepaskan kembali dalam keadaan hidup (Krouse 1989; Miller 1990). Desa Kertajaya di pesisir pantai sebelah timur teluk Palabuhanratu memiliki karakteristik pantai berupa batu karang besar (rock) dan substrat dasar perairan lumpur dan berkarang. Perairan seperti ini merupakan habitat yang baik untuk lobster. Adanya lobster di habitat seperti ini ditandai oleh adanya aktivitas nelayan yang menangkap lobster di perairan tersebut. Nelayan di daerah ini biasa menangkap lobster secara langsung dengan menyelam atau menggunakan jaring insang dasar (bottom gillnet). Agar lobster tertarik untuk masuk ke dalam bubu, nelayan biasanya menempatkan umpan. Salah satu jenis hewan yang dapat dijadkan umpan lobster adalah kanikil (Chiton), namun nelayan desa Kertajaya belum pernah menggunakannya sebagai umpan ketika menangkap lobster. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi et al. (2010) menyimpulkan bahwa penggunaan kanikil meningkatkan efektivitas jaring krendet yang digunakan untuk menangkap lobster. Selain umpan, pintu masuk bubu (inlet) merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan besarnya hasil tangkap. Bubu lipat diduga akan lebih efektif jika memiliki pintu masuk di samping dan di atas. Bubu tersebut berbeda dari bubu lipat standar yang memiliki pintu jebakan pada mulut bubu berbentuk kisikisi (Zulkarnain et al. 2011). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Thomas, 1973 dalam Zulkarnain (2011) menyimpulkan bahwa bubu lipat dengan satu pintu ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang pada bubu sehingga luas dengan tujuan agar dapat menampung lebih banyak hasil tangkapan. 3 Kedua hal tersebut merupakan alasan untuk melakukan penelitian yang menguji pengaruh umpan dan posisi pintu masuk terhadap hasil tangkapan lobster. Secara khusus, penelitian ini akan menguji efektivitas kanikil (Chiton sp.) untuk menangkap lobster. Penelitian ini dilaksanakan dengan membandingkan kinerja bubu lipat modifikasi terhadap bubu lipat berpintu di samping dan pintu atas membandingkan efektivitas kanikil terhadap ikan tembang sebagai umpan untuk menangkap lobster. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan membandingkan: (1) Efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas terhadap bubu lipat rajungan (bubu standar) dalam penangkapan lobster (Panulirus spp.) (2) Efektivitas umpan kanikil (Chiton sp) terhadap umpan standar ikan tembang (Sardinella fimbriatta) dalam penangkapan lobster (Panulirus spp.) 1.3 Manfaat Penelitian Dari penelitian diperoleh informasi tentang jenis bubu lipat yang paling efektif dan jenis umpan yang paling baik untuk menangkap lobster (Panulirus spp.) 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Udang Barong (Spiny Lobster) 2.1.1 Klasifikasi dan morfologi Klasifikasi udang barong atau spiny lobster menurut Burukovskii (1974) diacu dalam Lesmana (2006) adalah sebagai berikut : Filum : Arthropoda Class : Crustacea Sub Class : Malacostraca Ordo : Decapoda Sub Ordo : Reptantia Seksi : Palinura Famili : Palinuridae Genus : Panulirus Spesies : Panulirus homarus Panulirus penicillatus Panulirus ornatus Panulirus versicolor Panulirus longipes Panulirus polyphagus Menurut Purnomo (1988) diacu dalam Adyanawati (1994), ordo Decapoda terdiri atas empat famili lobster, lobster sejati (true lobster), udang barong (spiny lobster), udang watang (cray fish) dan udang pasir (Spanish lobster). Famili pertama hanya terdapat di perairan subtropis dan perairan dingin sedangkan famili kedua terdapat di perairan subtropis dan tropis, termasuk perairan Indonesia (Subani 1981 diacu dalam Adnyanawati 1994). Di Indonesia, spiny lobster dikenal dengan nama udang barong. Udang barong juga dikenal sebagai udang karang karena hampir sepanjang hidupnya memilih tempat-tempat di karang, baik di peraran berbatu-karang (rock) maupun terumbu karang (coral reefs) yang masih hidup maupun yang mati di perairan pantai (Subani 1981 diacu dalam Adnyanawati 1994). 5 Morfologi spiny lobster sangat berbeda dari true lobster. True lobster memiliki capit besar yang terbentuk dari pertumbuhan sempurna pasangan kaki pertama dari kaki jalannya (periopod). Sementara itu, ujung kaki-kaki jalan spiny lobster tidak bercapit tetapi tumbuh menjadi kuku lancip. Udang barong atau spiny lobster termasuk kelompok jenis udang besar, panjang badannya dapat mencapai 50 cm seperti pada lobster mutiara (Fischer 1978). Panjang badan ini kira-kira sebanding dengan panjang karapas sebesar 24 cm atau lobster dengan panjang badannya 50 cm = panjang karapasnya 24 cm . Morfologi spiny lobster dapat dilihat pada Gambar 1. flagelata Tangkai antena Lempeng antenula antenu duri periopod antena pertama antena kedua karapas pleura (somite) abdomen pale band eksopod telson Sumber : Nontji (1993) diacu dalam Nawangwulan (2001) Gambar 1 Morfologi spiny lobster (Panulirus spp.) 6 Udang barong memiliki dua buah antena. Antena pertama lebih kokoh dan lebih panjang dari antena kedua, serta ditutupi duri. Antena pertama ini berfungsi sebagai alat perlindungan. Hal ini terlihat ketika spiny lobster memberikan reaksi terhadap ancaman, yaitu dengan menyilangkan kedua antena pertama tersebut. Antena yang kedua berukuran lebih pendek, tidak berduri, bercabang dan lebih halus. Antena kedua berfungsi sebagai indera perasa yang cukup peka terhadap rangsangan suara, cahaya dan bau. Apabila spiny lobster merasakan adanya rangsangan, maka antena kedua akan bergerak seperti bergetar (Herrnkind 1980 diacu dalam Prasetyanti 2001). Udang barong dapat diketahui dari pola pewarnaan tubuh, ukuran dan bentuk kepala. Selain itu, pola-pola duri di kepala, dapat juga dijadikan sebagai tanda spesifik dari setiap jenis spiny lobster (Adnyanawati 1994). Gambar 2 menyajikan perbandingan morfologi kepala di antar Panulirus homarus dan Panulirus versicolor. Sumber : Linnaeus (1758) Gambar 2 Bagian Kepala Panulirus homarus (a) dan Panulirus versicolor (b) Pada kepala Panulirus homarus terdapat empat duri yang berukuran sama besar dan terpisah oleh sejumlah spinula kecil yang teratur, sedangkan pada kepala Panulirus versicolor terdapat empat duri dimana dua duri yang di depan berukuran lebih besar dari dua duri yang ada di belakangnya. Perbedaan lain di antara kedua lobster ini adalah ukuran tanduk atau frontal horn. Tanduk pada P. homarus berukuran kecil, tidak tumbuh ke depan melewati mata, sedangkan pada P. versicolor berukuran besar, tumbuh memanjang ke depan melewati mata. 7 Jenis udang barong yang paling banyak di perairan Indonesia menurut Subani (1971) diacu dalam Budiharjo (1981) adalah Panulirus versicolor namun jenis udang barong yang paling banyak di perairan Palabuhanratu adalah P. homarus atau lobster hijau pasir (Pitrianingsih 2002). P. homarus biasanya hidup bergerombol dan menempati perairan dangkal pada kedalaman belasan meter. 2.1.2 Daur hidup dan habitat spiny lobster Daur hidup spiny lobster dapat dibagi menjadi 5 fase utama, yaitu fase dewasa, telur, phyllosoma (tahap larva), puerulus (tahap post- larva) dan juvenil (Rimmer dan Phillips 1979 diacu dalam Prasetyanti 2001). Saat mendekati usia dewasa, banyak spiny lobster yang bermigrasi dari daerah perawatan (nursery ground) menuju habitat batu karang (rock) di perairan yang lebih dalam untuk mencari tempat bereproduksi (Phillips dan Kittaka 2000). Spiny lobster betina akan membawa telur yang telah dibuahi selama kira-kira 20 hari. Telur-telur tersebut kemudian menetas; larva spiny lobster disebut phyllosoma. Larva ini menyukai cahaya dan hidup bergerombol di dekat permukaan air. Setelah itu, larva phyllosoma akan tumbuh dan berubah menjadi puerulus. Lama fase puerulus diperkirakan 10-14 hari dan mencapai ukuran panjang total 5-7 cm. Kemudian puerulus akan tumbuh menyerupai spiny lobster dewasa, yaitu aktif berenang dan terkadang terbawa arus laut menuju daerah pembesaran, seperti padang rumput laut (weed bed) di perairan dangkal. Udang barong atau spiny lobster memiliki habitat yang berbeda di setiap jenisnya. P. homarus hidup di perairan dangkal hingga kedalaman beberapa belas meter dan tinggal dalam lubang bebatuan (rock). Jenis lobster ini banyak ditemukan di perairan selatan dan barat Jawa Barat/Banten, selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, perairan timur Flores, perairan utara Timor, perairan Sulawesi dan pantai barat Sumatera. P. penicillatus atau lobster batu ditemukan di dalam dan luar terumbu karang (coral reefs), yaitu di lokasi yang mengalami hempasan ombak yang keras. Biasanya lobster jenis ini hidup di daerah batu-batuan (rock) di luar perairan karang (George 1974 diacu dalam Cobb dan Philips 1980 diacu dalam Adyanawati 1994). P. ornatus atau lobster mutiara hidup di perairan berarus kuat pada kedalaman 5-20 m (Batia 1974 diacu dalam Adyanawati 1994) 8 dan P. versicolor atau lobster hijau hidup diantara karang (rock) pada kedalaman beberapa meter (Adnynawati,1994). Jenis lobster lain, yaitu P. longipes atau lobster bunga hidup di tempat yang terlindung dan perairannya oseanik, biasanya ditemukan di perairan pada kedalaman 1-16 m hingga lebih dari 130 m. 2.1.3 Tingkah laku dan cara mencari makan Udang barong bergerak dengan cara merangkak. Udang barong yang sedang merangkak, ketika berhadapan dengan predator, akan segera mundur dengan cepat mengandalkan kekuatan otot-otot abdomennya. Udang barong dapat dikatakan tidak pandai untuk berenang walaupun memiliki kaki renang (Subani 1978). Indera penglihatan udang barong secara langsung tidak begitu berperan untuk pergerakannya; bagian tubuh yang paling berperan adalah antenanya (Herrnkind 1980). Udang barong termasuk hewan nokturnal, yaitu keluar dari tempat persembunyiannya untuk aktif mencari makan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Aktivitas hewan nokturnal yang paling tinggi terjadi pada permulaan atau menjelang malam hari. Aktivitas spiny lobster mulai berhenti ketika matahari terbit (Cobb dan Wang 1985). Udang barong dapat memakan hewan-hewan laut lain, baik yang masih hidup maupun sudah mati. Makanannya adalah udang-udang kecil, bulu babi, dan berbagai hewan lunak atau moluska lainnya. Udang barong menggunakan kukunya yang lancip untuk mencengkeram mangsanya sebelum dimakan (Subani 1978). Menurut Cobb dan Wang (1985), bau makanan dapat mudah direspon oleh indera perasa spiny lobster dengan karena arus air yang membawa bau makanan sehingga spiny lobster tertarik untuk bergerak ke arah sumber bau tersebut. Ketika akan memasuki perangkap, tingkah laku lobster diawali dengan mengelilingi permukaan terluar dari sebuah perangkap. Spiny lobster akan menggunakan antena yang kedua untuk merasakan bau dari umpan. Setelah itu spiny lobster akan memutari perangkap, kemudian mencari pintu masuk kedalam perangkap (Anwar 2001). 9 2.2 Unit Penangkapan Bubu 2.2.1 Alat tangkap Menurut Subani dan Barus (1989), bubu termasuk ke dalam kelompok perangkap (Traps). Selanjutnya dikatakannya juga bahwa bubu memiliki bentuk yang bervariasi, hampir setiap daerah perikanan mempunyai model sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dan lainlain. Secara umum konstruksi bubu terdiri atas rangka, badan dan pintu masuk. Ada bubu yang dilengkapi dengan pintu untuk mengambil hasil tangkapan dan kantung umpan sebagai tempat menyimpan umpan. Bentuk bubu tidak ada keseragaman diantara nelayan di suatu daerah dengan daerah lainnya, termasuk bentuk bubu di suatu negara dengan negara lainnya (Martasuganda 2003). Bubu merupakan alat tangkap yang dirancang untuk menangkap berbagai jenis ikan dan krustasea, dengan berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan. Bubu memiliki satu atau lebih bukaan mulut. Bubu biasanya dioperasikan di dasar perairan dengan sistem tunggal maupun rawai. Bubu dilengkapi dengan tali pelampung untuk menghubungkan bubu dengan pelampung (Subani dan Barus 1989). Pelampung berfungsi untuk menunjukkan posisi pemasangan bubu (Nedelec and Prado 1990). Menurut Meenakumari and Rajan (1985) diacu dalam Zulkarnain (2011). Bubu yang terbuat dari bambu memiliki konstruksi yang lemah dan rapuh. Bubu yang terbuat dari bahan kayu cukup berat dan tidak disukai. Bubu yang terbuat dari bahan logam, yaitu batang baja ringan dan mata jaring dari kawat baja yang dilas serta dilindungi secara utuh oleh lapisan plastik telah memberikan kinerja yang efisien dan memiliki daya tahan pakai lebih lama. Desain bubu secara fisik berpengaruh terhadap efektivitas dan selektivitas alat tangkap yang memperhatikan karakteristik target species atau ikan yang akan ditangkap (Zulkarnain et al. 2011). Untuk mengembangkan dan meningkatkan efisiensi usaha penangkapan dengan menggunakan bubu, bubu lipat (collapsible fish pots, Gambar 3) (von Brandt (1984) diacu dalam Purnama (2006). Bubu lipat telah umum digunakan secara komersial oleh nelayan Jepang untuk menangkap 10 gurita dan oleh nelayan Thailand untuk menangkap rajungan (Boutson et al. 2009) diacu dalam Zulkarnain et al.2011). Bubu lipat merupakan alat tangkap yang lebih disukai dan cocok untuk dioperasikan pada berbagai tipe dasar perairan dan variasi selang kedalaman, serta tidak mahal namun kuat, kemudian kualitas bubu lipat sebagai perangkap adalah karena hasil tangkapan dalam keadaaan hidup dengan kualitas yang sangat baik, hasil tangkapan dibawah ukuran ekonomis (under size) dapat dikembailkan di perairan dalam keadaan hidup dan biaya penangkapan rendah (Krouse 1989; Miller 1990). Sumber : Boutson et al.(2009) diacu dalam Zulkarnain et al.(2011) Gambar 3 Konstruksi bubu lipat (Collapsible Pot) untuk menangkap rajungan dan kepiting bentuk kotak. 11 2.2.2 Nelayan Dalam pengoperasian sebuah unit penangkapan, salah satu faktor yang berperan penting adalah nelayan. Jumlah nelayan dalam setiap pengoperasian suatu unit penangkapan bergantung pada ukuran kapal. Pada unit penangkapan bubu, jumlah nelayan disesuaikan dengan sistem pengoperasiannya, yaitu sistem tunggal atau rawai serta jumlah bubu yang ditangani. Pada umumnya pengoperasian bubu memerlukan dua sampai tiga orang (Subani dan Barus, 1989). 2.2.3 Kapal Dalam melakukan operasi penangkapan ikan di laut, disamping adanya alat tangkap itu sendiri diperlukan perahu, baik perahu tanpa motor, perahu bermotor maupun kapal motor. Ukuran kapal/perahu disesuaikan dengan jenis alat penangkapan dan luas jangkauan daerah penangkapan ikan yang dituju orang (Subani dan Barus, 1989). Perahu yang digunakan untuk mengangkut bubu di perairan Palabuhanratu berukuran (LxBxD) 11 m x 2 m x 1,5 m. 2.2.4 Metode pengoperasian Menurut Wudianto et al. (1988), secara umum bubu dasar dapat dioperasikan dengan dua cara, yaitu: (1) Dipasang secara terpisah, satu bubu dengan satu pelampung, dan (2) Dipasang secara bergandengan menggunakan tali utama sebagai penghubung. Cara kedua ini dinamakan pengaturan dengan cara longline trap; beberapa buah bubu dipasang dalam suatu rangkaian dengan jarak tertentu di antaranya. Menurut Wibyasatoto (1994) Bubu lipat memiliki konstruksi yang lebih rumit jika dibandingkan dengan bubu yang tidak bisa dilipat. Walaupun demikian bubu lipat tidak banyak menyulitkan dalam pemasangan (setting). Bubu lipat yang dioperasikan di Perairan Bengkulu dipasang secara bergandengan atau longline traps tujuannya untuk memudahkan pemasangan bubu (setting) dan Pengangkatan bubu (hauling). 2.3 Umpan Umpan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan penangkapan bubu, karena umpan berfungsi untuk merangsang lobster masuk ke 12 dalam bubu. Umpan yang biasa digunakan untuk lobster menurut Everett (1972) diacu dalam Budiharjo (1981), umpan untuk menangkap lobster adalah ikan mati yang dipotong-potong atau belum, yang sudah diproses atau organisme lain yang memiliki bau menyengat yang menarik daya cium lobster. Lobster juga menyukai umpan yang memiliki komposisi protein, lemak dan kitin yang tinggi serta memiliki bau yang menyegat sangat disukai oleh lobster (Moosa dan Aswandy,1984). Salah satu jenis ikan yang dapat digunakan sebagai umpan dalam menangkap lobster dengan bubu adalah ikan tembang (Sardinella fimbriata) sedangkan jenis hewan lunak atau moluska adalah kanikil (Chiton sp.). 2.3.1 Deskripsi ikan tembang (Sardinella fimbriatta) Klasifikasi ikan tembang atau Sardinella fimbriata berdasarkan www.fishbase.org, 2012 adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Actinopterygii Subkelas : Neopterygii Infrakelas : Teleostei Superordo : Clupeomorpha Ordo : Clupeiformes Subordo : Clupeoidei Famili : Clupeidae Subfamili : Clupeinae Genus : Sardinella Spesies : Sardinella fimbriatta (www.fishbase.org,2012) Nama lokal : Tembang, tamban, tamban sisik, tanyang, jewi (Saanin,1984) Sinonim : herengula fimbriatta (Saanin, 1984). 13 Sumber : www. fishbase.org (2012) Gambar 4 Ikan tembang atau Sardinella fimbriatta Menurut Saanin (1984) ikan tembang atau Sardinella fimbriatta mempunyai ciri- ciri bentuk tubuh bagian atas sangat pipih, tajam dan bergerigi (abdominal scute). Mulut lebar dan ukuran rahang sama panjang. Sirip perut terletak di belakang sirip dada. Sirip punggung terletak di tengah-tengah antara sirip ekor dan hidung. Sirip dada keadaannya sempurna. Sisik linea lateralis lebih dari 40 buah . Mempunyai tulang tapis insang lebih dari 50 buah. Ikan tembang sebagai bahan baku umpan memiliki komposisi kimia seperti dicantumkan pada Tabel 1. Tabel 1 Komposisi kimia ikan tembang (Sardinella fimbriata) per 100 gr. Komposisi Energi Air Protein Lemak Kalsium (Ca) Fosfor (P) Besi (Fe) Jumlah 204 Kal 56 gr 16 gr 15 gr 20 mg 200 mg 2 mg Sumber : Hardiansyah dan Briawan (1990). Kanikil atau Chiton sp. (Gambar 3) adalah moluska laut yang termasuk kedalam kelas Polyplacophora yang tidak mengalami perubahan atau evolusi selama lebih dari 300 juta tahun. Di dunia hewan molusca laut jenis ini terdapat kurang lebih 930 genus dan spesies berdasarkan catatan fosil dan perbandingan langsung dengan kehidupan genus dan spesies yang masih ada (Schwabe 2010). 14 2.3.2 Deskripsi Kanikil (Chiton sp) Klasifikasi kanikil atau Chiton sp menurut Schwabe (2007) adalah sebagai berikut: Filum : Mollusca Class : Polyplacophora Ordo : Neoloricata Family : Leptochitnidae Ischnochitonidae Callistoplacidae Cryptoplacidae Acanthocthitonidae Genus : Parachiton Ishnochiton Callistochiton Cryptolax Achanthicitona Spesies : Lepidoplearus acuminatus Ishnochiton baliensis Callistochiton palmulatus Cryptoplax oculata Menurut Schwabe (2010) beberapa ilustrasi spesimen Chiton sp yang terdapat dalam koleksi dari Bavarian State Collection of Zoology (ZSM) dapat dijelaskan berdasarkan bagian yang tersusun secara lengkap dari sebagian besar morfologi tubuh hingga kharakteristik taksonomi yang relevan seperti girdle (gelang). Mofologi tubuh kanikil atau Chiton sp yang diilustrasikan seperti Gambar 5 dan 6 berikut ini : 15 Sumber : Schwabe (2010) Gambar 5 Ilustrasi morfologi kanikil atau Chiton sp Menurut (Schwabe 2010), kanikil memiliki cangkang punggung yang terdiri dari delapan kepingan kapur berbentuk pipih dan tersusun seperti genting dan dikelilingi oleh girdle (gelang) yang tebal. Kepingan atau katup tersebut dihitung dari anterior yang biasanya dicatat dengan menggunakan angka romawi(i-viii); katup pertama (i) disebut sebagai katup atau kepingan kepala, katup terakhir atau posterior(viii) sedangkan katup kedua sampai ke tujuh (ii-vii) disebut katup menengah. Sumber : Schwabe (2010) Gambar 6 Ilustrasi morfologi kanikil atau Chiton sp Tubuh kanikil berbentuk oval tetapi ada beberapa spesies yang berbentuk lebih luas atau memanjang seperti ulat (Gambar 5). Bentuk tubuh lonjong dan pipih dorsoventral, panjang tubuh antara 3 mm sampai 40 cm dan berwarna gelap. Pada bagian dorsal terdapat 8 keping cangkang pipih yang tersusun seperti genting dan dikelilingi mantel tebal (girale). Kepala tersembunyi dibawah anterior girale, tidak mempunyai mata maupun tentrakel, mempunyai radula yang besar dengan deretan gigi banyak sekali, kaki lebar dan datar serta susunan cangkang 16 seperti genting. Diantara kaki dan tepi mantel pada kedua sisi tubuh kanikil terdapat rongga mantel. Di dalam rongga mantel terdapat insang 6 sampai 88 pasang (Suwarni 2008). Menurut Kaas and van Belle (1990) kanikil memiliki habitat yang berbeda di setiap genusnya. Genus Parachiton dengan contoh spesies Lepidoplearus acuminatus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamannya 3050 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis serta perairan dingin atau banyak ditemukan di perairan Sicilia, Portopalo, dan Yugoslovia. Genus Ishnochiton dengan contoh Callochiton herberti hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamannya 9-20 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis atau ditemukan di perairan selatan Australia. Genus Callistochiton dengan contoh spesies Calistochiton carpentrianus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 9-45 m. Jenis ini tersebar di perairan tropis dan subtropis atau ditemukan di perairan Indonesia dan Banda. Genus Cryptolax dengan contoh Chiton oculatus hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 2-3 m. Jenis ini tersebar tropis dan subtropis dikawasan Indo-Pasifik atau ditemukan di perairan Indonesia, Irian Jaya. Terakhir, genus Achanthicitona dengan contoh Chiton fascicularis hidup di daerah karang atau pantai di perairan yang kedalamnya 2-150 m. Jenis ini berdistribusi tropis dan subtropics di kawasan seluruh dunia kecuali di perairan Antartika. Pada umumnya kanikil bersifat dioecius, pembuahan di luar atau di dalam tubuh. Sperma meninggalkan individu jantan bersama aliran air keluar. Pembuahan terjadi di dalam telur dan disimpan dalam rongga mantel, dimana terjadi pembuahan dengan sperma yang masuk bersama aliran masuk. Telur menetas menjadi larva trocophore yang berenang bebas (Suwarni 2008). Kanikil disebut hewan moluska laut karang atau pantai batu-batuan karena hewan ini hidup di permukaan keras, seperti di bawah batu, atau tersembunyi di celahcelah batu. Kanikil memiliki struktur yang sesuai dengan kebiasaan merayap perlahan dan melekat pada batu karang dan menunujukkan perilaku homing, kembali ke 17 tempat yang sama pada siang hari dan berkeliaran di malam hari untuk mencari makan (Suwarni 2008). 2.4 RAL (Rancangan Acak Lengkap) 2.4.1 Uji non parameterik Uji non parametrik yang digunakan adalah Kruskal-Wallis test. Menurut Mattjik dan Sumertajaya, 2006 rancangan percobaan dengan uji ini biasanya digunakan untuk percobaan yang menggunakan RAL. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis Ho : Nilai tengah perlakuan sama H1 : minimal ada satu nilai tengah perlakuan yang tidak sama dengan yang lainnya. Statistik Uji : H= 1 �2 ᴿ2 [∑ � – � �+1 2 4 ] dengan : r = banyaknya ulangan pada perlakuan ke-i N= jumlah pengamatan Ri= jumlah peringkat (ranx) dari perlakuan ke-i dan �2 = 1 �−1 [ ᴿ 2 − � �+1 2 4 ] Rij adalah peringkat dari pengamatan pada perlakuan ke-I ulangan ke-J. Kaidah keputusan uji ini : Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, selainnya terima Ho. Contoh perhitungan dengan Minitab 14 dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8. Gambar 7 Langkah perhitungan dengan minitab 14 18 Gambar 8 Langkah perhitungan dengan minitab 14 Keterangan 1. Masukkan data dari kedua faktor yang akan di hitung 2. Klik Start, Non Parametrik, Kemudian Kruskal Wallis 3. Masukkan data dari faktor yang akan dihitung, kemudian klik ok 2.4.2 Uji parameterik Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) Percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi dari dua faktor atau lebih. Model linier aditif dari rancangan ini secara umum (misal komposisi perlakuan disusun oleh taraf-taraf faktor A dan faktor B) adalah sebagai berikut : Y = µ =αi + βj + (αβ)ij+ εijk dimana: Y nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke k, (µ,αi, βj) merupakan komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B, (αβij) merupakan komponen interaksi dari faktor A dan faktor B sedangkan εijk merupakan pengaruh acak yang menyebar normal (0,� 2 ). Selain asumsi kenormalan dari komponen acak dan model aditif masih terdapat asumsi-asumsi lain yang juga harus diperhatikan yaitu : (i) Untuk model tetap : =1 (ii) =1 i = 0; =1 j = 0; =1 ij = ij = 0 Untuk model Acak : αi ~ N(0,� 2 );βj ~N(0,� 2 β); (αβ)ij ~ N(0, � 2 αβ) 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan sejak tanggal 16 Agustus 2011 hingga 31 September 2011 di Desa Kertajaya, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Gambar 9). Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian 3.2 Alat dan Bahan Penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu nelayan bercadik, 1 unit bubu lipat sebanyak 18 buah, timbangan (mengukur berat (gram) per ekor hasil tangkapan), penggaris, alat tulis, tabel lapang, thermometer, refraktometer, 2 buah ember dan dokumentasi berupa camera digital. Bahan yang digunakan adalah umpan yang terbuat dari ikan tembang dan kanikil. Peralatan dan bahan serta spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4. 20 Tabel 2 Alat dan bahan penelitian utama No 1 Alat dan Bahan Perahu 2 Alat tangkap bubu lipat penelitian ; (1) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu samping (2) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu atas (3) 6 buah bubu standar Umpan ; (1) Ikan tembang 3 (2) Kanikil Timbangan 4 Spesifikasi 9 m x 1,2 m x 0,8 m (pxlxt) Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt). Frame bubu besi galvanis dia. 6 mm. Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 d/18. Kegunaan Operasional kegiatan experimental fishing Ikan tembang dengan berat 1 kg = 15-17 ekor dan Kanikil dengan jumlah 36 ekor Umpan pada bubu lipat Kapasitas 2 kg Mengukur berat Perolehan data respon hasil experimental fishing Tabel 3 Spesifikasi alat tangkap bubu penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 3.2.1 Bagian alat tangkap Pelampung tanda (floating buoy) Tali pelampung (floating line ) Pemberat (sinker) (2 buah dan 4 buah) Tali pemberat (sinker line ) (2 buah) Tali utama (main line ) (1 set) Tali cabang (branch line ) (18 buah) Bubu lipat modifikasi pintu samping (6 buah) Bubu lipat modifikasi pintu atas (6 buah) Bubu lipat standar (6 buah) Spesifikasi Plastik, diameter 30 cm PE dimeter 10 mm; panjang 25 m Batu ± 30 kg dan Batu ±0,125 kg PE dia 10 mm; panjang 5 mm PE dia 10 mm; panjang 130 mm PE dia 6 mm; panjang 5 mm Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Frame besi galvanis dia 6 mm cover net PE ms 1,5 inci 210 D/18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) Deskripsi bubu lipat penelitian Dalam penelitian ini menggunakan tiga macam konstruksi bubu lipat yang memiliki fungsi sebagai perolehan data dalam kegiatan operasi penangkapan. Bubu lipat rajungan (bubu standar) adalah bubu yang dijadikan acuan untuk dimodifikasi, dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat rajungan yang biasa dioperasikan di Indonesia (Gambar 10). Ukuran bubu lipat standar yang digunakan nelayan untuk penangkapan rajungan adalah 50 cm x 30 cm x 20 cm (p x l x t). Bubu lipat dan kegunaannya masing-masing dijelaskan pada Gambar 11, Gambar 12 dan Gambar 13 21 Sumber: Zulkarnain, 2012. Gambar 10 Konstruksi bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar. Gambar 11 Bubu lipat rajungan (bubu standar) Bubu lipat rajungan (bubu standar) merupakan bubu lipat yang berbentuk kotak dan biasanya digunakan untuk menangkap rajungan dan kepiting. Bubu lipat standar yang digunakan dalam penelitian ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat standar yang biasa digunakan nelayan. Spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu standar atau kontrol untuk dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi atau bubu yang menjadi perlakuan dalam proses perolehan data hasil tangkapan. 22 Gambar 12 Bubu lipat pintu samping Bubu lipat pintu samping merupakan bubu lipat modifikasi atau bubu lipat pintu samping berbentuk kotak dengan pemicu pintu masuk berbentuk kisi-kisi. Bubu lipat ini merupakan modifikasi dari bubu lipat standar yang ditambahkan funnel (kisi-kisi) atau Pemicu pintu masuk yang ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1,5 mm. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu yang menjadi perlakuan untuk dibandingkan dengan bubu rajungan (bubu standar) dalam proses perolehan data hasil tangkapan. 23 Gambar 13 Bubu lipat pintu atas Bubu lipat pintu atas merupakan bubu lipat modifikasi atau bubu lipat pintu atas berbentuk trapesium dengan pemicu pintu masuk berbentuk kisi-kisi. Pemicu pintu masuk ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1,5 mm. Dalam operasi penangkapan pada proses perolehan data, bubu lipat ini digunakan sebagai bubu yang menjadi perlakuan untuk dibandingkan dengan bubu rajungan (bubu standar) dalam proses perolehan data hasil tangkapan. Tabel 4 Kegunaan bagian alat tangkap bubu penelitian No Bagian alat tangkap Spesifikasi 1 Pelampung tanda (floating buoy) Plastik, diameter 30 cm 2 Tali pelampung (floating line) PE dimeter 10 mm; panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah dan 4 buah) Batu ± 30 kg dan Batu ±0,125 kg 4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; panjang 5 mm 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia 10 mm; panjang 130 mm Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umpan berupa ikan tembang (Sardinella fimbriatta) dan kanikil (Chiton sp). Ikan tembang dapat diperoleh di lokasi penelitian dengan mudah dan merupakan jenis umpan yang 24 biasa digunakan untuk menangkap lobster. Kanikil banyak terdapat di pantai lokasi penelitian dan hidup di celah-celah batuan karang namun belum ada penggunaan kanikil untuk umpan oleh nelayan di lokasi penelitian (Gambar 14). Gambar 14 Kanikil atau Chiton sp di lokasi penelitian 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji coba penangkapan (experimental fishing). Dalam penelitian ini menggunakan tiga macam konstruksi bubu lipat dengan jenis pintu masuk yang berbeda dan pemberian dua jenis umpan yang berbeda pada masing-masing jenis konstruksi bubu lipat tersebut sebanyak 24 kali trip (ulangan). Rancangan percobaan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Jumlah hasil tangkapan dari ketiga konstruksi bubu lipat tersebut dibandingkan untuk mengetahui efektivitas (kemampuan konstruksi bubu lipat) dan jenis umpan dalam memberikan hasil tangkapan lobster. Bubu dioperasikan dengan metode longline yaitu dengan panjang tali utama 154 m, rangkaian bubu dipasang dengan jarak masing-masing 8 m, dengan panjang tali cabang 3 m. Jarak antara bubu pertama dengan ujung-ujung tali utama adalah 5 m, pada kedua ujung tali utama diikatkan jangkar atau pemberat dari batu dan tali pelampung tanda yang disesuaikan dengan kedalaman daerah operasi, dalam hal ini dipersiapkan tali pelampung dengan panjang 20 m dan 50 m (Gambar 15). 25 Tabel 5. Rancangan percobaan yang diterapkan dalam penelitian bubu di desa Kertajaya, Palabuanratu 16 Agustus – 31 September 2011. Bubu standar Ikan tembang Jenis umpan Kanikil xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Jenis bubu Bubu pintu samping xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Bubu pintu atas xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx Tabel 6. Rancangan percobaan per trip (ulangan) untuk setiap jenis bubu dan umpan dalam mengetahui hasil tangkapan. Jenis umpan Ikan Tembang Kanikil Trip Jenis bubu S PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 2 … 24 1 2 …. 24 Dari rancangan di atas diketahui bahwa dalam setiap masing-masing bubu (Bubu standar, bubu pintu samping dan bubu pintu atas) diberikan 2 Jenis umpan (Ikan tembang dan Kanikil) yaitu S (Ikan), S (Kanikil), PS (Ikan), PS (Kanikil), PA (Ikan), dan PA (Kanikil) yang dilakukan percobaan atau operasi sebanyak 24 kali trip (ulangan). Penempatan umpan pada jenis bubu ditentukan dengan urutan ganjil dan genap nomor jenis bubu, pada jenis bubu dengan kode bubu ganjil maka digunakan jenis umpan ikan, sedangkan jenis bubu dengan kode angka genap digunakan jenis umpan kanikil. Pemasangan umpan pada bubu dilakukan dengan cara, yaitu pada jenis umpan ikan, badan ikan ditusukkan pada besi yang khusus untuk pemasangan umpan yang berada di tengah-tengah bagian dalam bubu, digunakan sebanyak tiga 26 sampai lima ekor tergantung dengan ukuran ikan dan untuk umpan kanikil relatif sama digunakan sebanyak tiga sampai lima ekor. Urutan penempatan bubu yang dirangkaikan pada tali utama, ditempatkan pada posisinya dengan cara random, (pengundian ) hal ini dilakukan untuk memberikan peluang yang sama pada alat tangkap dalam memberikan hasil tangkapan karena secara umum yang berkaitan dengan posisi penempatan sebuah alat tangkap mempunyai unsur ketidakpastian dalam memperoleh sebuah data . Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) informasi parsial yang diperoleh dari sebuah data mengandung unsur ketidakpastian, untuk mengimbangi ketidakpastian tersebut diperlukan pemahaman pengacakan atau random dalam menjelaskan respon dari perlakuan yang dibangkitkan oleh percobaanya. Kemudian hasil dari pengundian diambil satu persatu dan ditempatkan sesuai urutan angka nomor urut mulai dari nomor 1 hingga 18. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Urutan dan penempatan bubu pada tali utama No. Urut Kode Bubu Jenis Umpan 1 PS6 Kanikil 2 PS5 Ikan 3 PS1 Ikan 4 PA2 Kanikil 5 S2 Kanikil 6 S4 Kanikil 7 PS3 Ikan 8 S6 Kanikil 9 PA6 Kanikil 10 S3 Ikan 11 PS2 Kanikil 12 PS4 Kanikil 13 PA5 Ikan 14 PA4 Kanikil 15 S1 Ikan 16 PA3 Ikan 17 S5 Ikan 18 PA1 Ikan Keterangan: S = Jenis bubu standar; PS = Jenis bubu modifikasi pintu samping; PA = jenis bubu modifikasi pintu atas. 27 Gambar 15 Rangkaian bubu saat operasi 3.3.1 Metode pengumpulan data dan pengoperasian Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data utama dan data tambahan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan observasi langsung dalam pengoperasian bubu lipat standar dan modifikasi. Data sekunder diperoleh dari nelayan, pengumpul lobster, serta pustaka lainnya. Pengoperasian alat tangkap bubu lipat dalam penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, yaitu : 1) Persiapan yang meliputi pemeriksaan perahu penangkapan, kondisi mesin, bahan bakar, alat tangkap, dokumentasi dan alat-alat yang digunakan untuk mengukur dan menyimpan hasil tangkapan. Persiapan mulai dilakukan pada pukul 15.30. 2) Perjalanan ke daerah penangkapan yang dilakukan di perairan pesisir pada kedalaman perairan antara 5-12 meter. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 10 menit. 3) Pengoperasian alat tangkap yang terdiri atas pemasangan umpan pada masing bubu dan penurunan bubu lipat yang dipasang secara longline dilakukan pada sore hari kurang lebih pukul 17.00-18.00 dimulai dari pelampung tanda pertama, tali pemberat, pemberat dan satu-persatu bubu 28 lipat diturunkan dan bagian terakhir pelampung tanda kedua (setting), perendaman bubu lipat selama ± 12 jam, yaitu mulai sore hari hingga keesokan pagi (soaking), pengangkatan alat tangkap bubu lipat penelitian dilakukan pada pagi hari kurang lebih antara pukul 06.00-07.30 dimulai dengan pengangkatan pelampung tanda pertama, alat tangkap satu-persatu hingga pelampung tanda kedua. 4) Penanganan hasi tangkapan dimulai dengan mengeluarkan hasil tangkapan dari alat tangkap bubu lipat, pengukuran hasil tangkapan, yaitu jumlah (ekor) lobster per bubu, berat (gram) lobster per ekor, panjang karapas lobster, dan dilakukan pengukuran yang sama terhadap hasil tangkapan lain (Gambar 14). (b) (a) (c) (d) Gambar 16 Pengukuran (a) panjang karapas, (b) panjang total, (c) panjang mantel, dan (d) lebar karapas hasil tangkapan 3.4 Analisis data Sesuai dengan rancangan percobaan yang diterapkan, metode analisis data dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Sebagai faktor adalah desain bubu dan jenis umpan. Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk tabel dan grafik. Data yang diolah adalah jumlah (ekor). Data berat 29 (gram) dan panjang karapas (mm) dikelompokkan dalam selang kelas panjang karapas (mm) dan selang berat (gram). Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi dari dua faktor atau lebih. Model linier aditif dari rancangan ini secara umum (misal komposisi perlakuan disusun oleh taraf-taraf faktor A dan faktor B) adalah sebagai berikut : Y = µ +αi + βj + (αβ)ij+ εijk dimana: Y nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke k, (µ,αi, βj) merupakan komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B, (αβij) merupakan komponen interaksi dari faktor A dan faktor B sedangkan εijk merupakan pengaruh acak yang menyebar normal (0,� 2 ). Tabel 8 Struktur data dibuat sebagai berikut Ulangan U1 1 Y111 2 Y112 B1 … B2 U2 Y121 … Y1224 Y12. … … Y2224 1 Y311 2 Y312 B3 … .. 24 Y3124 total (Yij) Y31. Total (Y j) Y1 Y1 Y122 …. 24 Y1124 total (Yij) Y11. 1 Y211 2 Y212 … 24 Y2124 total (Yij) Y21. Total (Yi) Y221 Y222 Y2 Y22. Y321 Y3 Y322 … Y3224 Y32. Y2 Y… Keterangan Y1 = pengamatan pada perlakuan ke- 1 ulangan ke-j Yi = pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-1 Yij = pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke- j; dan Y.. = total pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke- j 30 Data hasil tangkapan diuji dengan menggunakan dua metode, yaitu statistik parametrik dan nonparametrik. Metode Parametrik yaitu Uji F pada analisis ragam. Uji F atau ANOVA akan berlaku jika data tersebut menyebar normal atau homogenitasnya (Steel dan Torrie, 1989). Metode nonparametrik yaitu metode selain uji F pada analisis ragam yang dilakukan apabila data tidak menyebar normal (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Uji normalitasnya diuji dengan uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan aplikasi statistik MINITAB dan untuk melihat perbedaan hasil dari perlakuan digunakan aplikasi statistik SAS 9.1 dan MINITAB14. Asumsi pokok dalam analisis ragam tidak terpenuhi maka dapat diatasi melalui transformasi data (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Dalam penelitian ini data hasil tangkapan lobster dalam jumlah (ekor) dari uji normalitas tidak menyebar normal disebabkan banyak data bernilai nol dan telah dilakukan transformasi data namun tetap tidak menyebar normal sehingga tidak dapat dilakukan penarikan asumsi. Oleh karena itu harus menggunakan metode non parametrik, yaitu Uji Kruskal-Wallis. Uji Kruskal-Wallis digunakan karena dalam penelitian ini menggunakan RAL. Dalam uji Kruskal –Wallis, menurut Daniel (1990) penghitungannya diperoleh melalui rumus : H= 1 �2 [∑ dengan : ᴿ2 � – � �+1 2 4 ] ri = banyaknya ulangan pada perlakuan ke-i N= jumlah pengamatan ᴿ = jumlah peringkat (rank) dari perlakuan ke-i dan �2 = 1 �−1 [ 2 − � �+1 2 4 ] Rij adalah peringkat dari pengamatan pada perlakuan ke-I ulangan ke-J. Jika ada ties, statistik uji perlu dikoreksi sehingga Kruskal-Wallis terkoreksi menjadi Hc = �/1 − /(� 2 − �) 31 Dari perhitungan melalui rumus-rumus di atas, kemudian dilakukan kajian hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut: Pengaruh utama faktor a (desain Bubu) ; H0 ; 1 = ……=αa = 0 ( perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster Pengaruh utama faktor b (umpan) ; H0 ; 1 = ……=βa = 0 ( perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster Pengaruh sederhana (interaksi) faktor a (desain bubu) dengan faktor b (umpan) H0 : 11 = 12 = ⋯ = ( )ab = 0 (Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Kaidah keputusan: Jika H > χ2 , � − 1 maka tolak Ho, selainnya terima Ho, nilai χ2 pada table Chi-Square dengan taraf nyata atau nilai α, disini digunakan nilai α = 0,05. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster faktor A (desain bubu), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa perlakuan desain bubu memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Akan tetapi Jika H< X 2 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa bahwa perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster faktor b (umpan), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa perlakuan jenis umpan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Akan tetapi Jika H< X 2 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa bahwa perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Untuk jumlah hasil tangkapan spiny lobster dari interaksi faktor a (bubu lipat) dan faktor b (umpan), Jika H> X 2 , � − 1 maka tolak Ho, sehingga disimpulkan bahwa Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. 32 , � − 1 maka terima Ho, sehingga disimpulkan bahwa Akan tetapi Jika H< X 2 bahwa Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan spiny lobster. Data hasil tangkapan total (dalam satuan ekor), yaitu data hasil tangkapan lobster dengan hasil tangkapan samping (by-catch) banyak bernilai nol. Oleh karena itu dari uji normalitas data tidak menyebar normal sehingga dilakukan transformasi data akar kuadrat (Y + ½)1/2, dengan Y adalah nilai yang ditransformasi data. Pada hasil transformasi data dilakukan uji normalitas kembali dan data menyebar normal sehingga dapat dilakukan penarikan asumsi. Dalam analisis data apabila data menyebar normal maka dilakukan analisis ragam atau anova. Sidik ragam yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 9 Tabel 9 Sidik ragam terhadap data yang menyebar normal Sumber Keragaman Faktor A (Desain bubu) Faktor B (Jenis umpan) Interaksi AxB Sisa Total Derajat bebas Jumlah Kuadrat (JK) a-1 JKA b-1 JKB (a-1) (b-1) JKAB ab(r-1) JKS abr-1 JKT (KT) KTA KTB KTAB KTS F hitung KTA/KTS KTB/KTS Keterangan A = perlakuan 1 dan B = perlakuan 2 r = ulangan, SK = sumber keragaman db = derajat bebas, JKT = Jumlah kuadrat total JKS = Jumlah kuadrat sisa JKA = Jumlah kuadrat perlakuan faktor A; JKB = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor B; KTA = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor A; KTB = Jumlah kuadrat tengah perlakuan faktor B. Langkah- Langkah Perhitungannya FK = Faktor koreksi adalah FK = �2 � JKT = Jumlah kuadrat total adalah JKT = ∑∑∑ Yijk 2 - FK JKA =Jumlah kuadrat faktor A adalah JKA = ∑ Yi..2/br – FK JKB = Jumlah kuadrat faktor B adalah JKB = ∑ Yj..2/ar – FK 33 JKAB = Jumlah kuadrat interaksi faktor A dan B adalah JKAB = JKP- JKA- JKB Dimana : JKP = ∑∑ Yij. 2/ r – FK JKG = Jumlah kuadrat galat adalah JKG = JKT – JKP Dari perhitungan melalui rumus-rumus diatas, kemudian dilakukan kajian hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut : Pengaruh utama faktor a (desain bubu) ; H0 ; 1 = …= αa = 0 ( perlakuan desain bubu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total Pengaruh utama faktor b (umpan) ; H0 ; 1 = ……= βa = 0 ( perlakuan jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total Pengaruh sederhana (interaksi) faktor a (desain bubu) dengan faktor b (umpan) H0 : 11 = 12 = ⋯ = ( )ab = 0 (Interaksi perlakuan desain bubu dengan umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan total. 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak di antara 6o 57’ - 7o 25’ Lintang Selatan dan 106o 49’ - 107o 00’ Bujur Timur dan mempunyai luas daerah 4.161 km2 atau 11,21 % dari luas Jawa Barat atau 3,01 % dari luas pulau Jawa, dengan batas-batas wilayah: ฀ Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Bogor; ฀ Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudra Indonesia; ฀ Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Samudra Indonesia; ฀ Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Wilayah Kabupaten Sukabumi yang terletak sekitar 160 km dari arah Jakarta meliputi areal seluas 420.000 ha yang terbentang mulai dari ketinggian 0 2.958 mdpl. Pegunungan dan dataran tinggi mendominasi hampir seluruh kabupaten ini. Dataran rendah ada di pesisir selatan, mulai dari Teluk Ciletuh sampai muara sungai Cikaso dan Cimandiri. Wilayah Kabupaten Sukabumi sampai akhir tahun 2009 meliputi 47 kecamatan, 363 desa, 3.010 RW dan 12.565 RT dengan jumlah penduduk sebanyak 2.341.409 jiwa. Saat ini ibukota Kabupaten Sukabumi berada di Kecamatan Pelabuhanratu (BPS Sukabumi, 2010). Jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi tahun 2004 hingga tahun 2008 terus mengalami peningkatan. Rasio jenis kelamin sebesar 101 yang berarti bahwa dalam 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk di Kabupaten sukabumi mencapai 590,45 orang per m2 (Tabel 10). Tabel 10 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Sukabumi tahun 2004 – 2008 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah penduduk (orang) Laki-laki Perempuan Jumlah 1.135.889 1.120.755 2.256.644 1.156.871 1.143.773 2.300.644 1.178.005 1.167.454 2.345.459 1.199.698 1.192.038 2.391.736 1.221. 177 1.216.218 2.437.395 Sumber: BPS Kab. Sukabumi 2009. Rasio jenis kelamin 101,35 101,15 100,90 100,64 100,41 Kepadatan penduduk (orang per km2) 546,67 557,33 568,18 579,39 590,45 35 4.1.1 Nelayan Nelayan yang ada di Kabupaten Sukabumi terdiri dari dua tipe nelayan, yaitu tipe nelayan pemilik dan nelayan buruh. Apabila dilihat sejak tahun 2006 hingga 2009, jumlah nelayan yang ada berfluktuatif, namun tidak terlalu jauh berubah. Data perubahan jumlah nelayan tersebut tersaji dalam Tabel 11 berikut. Tabel 11 Jumlah nelayan perikanan tangkap tahun 2006 - 2009 di Kabupaten Sukabumi Nelayan (orang) Nelayan buruh Nelayan Pemilik 10.951 1.350 10.745 1.603 10.761 1.639 10.568 1.743 Tahun 2006 2007 2008 2009 Jumlah (orang) 12.301 12.348 12.400 12.311 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2009. 4.1.2 Armada penangkapan Armada penangkapan ikan di wilayah Perairan Kabupaten Sukabumi dapat dikelompokkan menjadi perahu tanpa motor, perahu motor tempel, dan kapal motor. Sejalan dengan modernisasi armada penangkapan, sejak tahun 2006 perahu tanpa motor mengalami penurunan jumlah armada, sedangkan perahu motor tempel maupun kapal motor mengalami peningkatan, seperti tersaji pada Tabel 12. Tabel 12 Jumlah armada penangkapan ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Perahu Tanpa Motor 332 278 290 224 Armada (unit) Motor Tempel 785 960 975 975 Kapal Motor 233 365 374 376 Jumlah (unit) 1.350 1.603 1.639 1.575 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2010. 4.1.3 Alat tangkap Secara umum alat tangkap yang ada di Kabupaten Sukabumi meliputi kelompok pukat kantong, pukat tarik, jaring angkat, pancing dan lain-lain. Berdasarkan data statistik Kabupaten Sukabumi tahun 2009, alat tangkap yang 36 beroperasi di wilayah perairan Kabupaten Sukabumi sebanyak 1.951 unit. Secara rinci komposisi alat tangkap di Kabupaten Sukabumi bisa dilihat pada Table 13. Tabel 13 Alat tangkap yang beroperasi di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 No 1 Kelompok Alat Tangkap Pukat Kantong 2 Jaring Insang 3 Jaring Angkat 4 Pancing 5 Lainnya Jenis Alat Tangkap Payang Dogol Jaring Insang Hanyut Jaring Insang Lingkar Jaring Insang Tetap Bagan Perahu/Rakit Bagan Tancap Rawai Tuna Pancing Tonda Pancing Ulur Gau, Tombak, Lain-lain Jumlah Jumlah (unit) 150 24 905 9 106 154 54 350 100 84 15 1.951 Sumber: DKP Kab. Sukabumi 2009. 4.1.4 Produksi perikanan Produksi perikanan tangkap yang di Kabupaten Sukabumi berfluktuatif, mengalami penurunan dan peningkatan tapi nilai produksi penangkapannya terus meningkat semenjak tahun 2007 – 2009, walaupun pada tahun 2006 ke tahun 2007 sempat mengalami penurunan. Perkembangan volume dan nilai produuksi tersebut bisa dilihat pada tabel 14. Tabel 14 Perkembangan volume dan nilai produksi ikan Kabupaten Sukabumi tahun 2006 - 2009 Tahun 2006 2007 2008 2009 Volume penangkapan ikan (Ton) 10.035,90 8.655,82 7.379,20 7.878,20 Nilai Penangkapan (.1.000) 52.494.782,00 46.442.802,00 47.460.706,00 56.155.022,00 Sumber: Statistik Bidang Perikanan Tangkap Kab. Sukabumi 2009. 4.2 Keadaan Umum PPN Pelabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPN) Pelabuhanratu terletak di Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Secara geografis PPN Pelabuhanratu terletak pada 06º59'47,156" Lintang Selatan dan 37 106º32’61,884" Bujur Timur. Daerah ini merupakan daerah teluk pesisir selatan Kabupaten Sukabumi yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kecamatan Palabuhanratu merupakan ibukota Kabupaten Sukabumi dengan luas wilayah 10.287,91 ha, dengan batas wilayah sebagai berikut (BPS Kabupaten Sukabumi, 2009): ฀ Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cikidang; ฀ Sebelah Selatan berbatasan denganKecamatan Samudra Hindia; ฀ Sebelah Timurberbatasan denganKecamatan Bantargadung; ฀ Sebelah Barat berbatasan denganKecamatan Cikakak. 4.2.1 Nelayan Sebagian besar nelayan yang ada di PPN Pelabuhanratu merupakan penduduk asli daerah tersebut. Sisanya adalah nelayan pendatang yang berasal dari luar daerah seperti Cirebon, Cilacap, Indramayu dan lain-lain. Berasal dari luar pulau Jawa seperti dari Sumatera dan Sulawesi. Dari lima tahun terakhir 2006 - 2010 jumlah nelayan yang yang ada di PPN Pelabuhanratu terus meningkat, dengan jumlah 3,498 pada tahun 2006 dan 4,474 pada tahun 2010, seperti tersaji pada Tabel 15. Tabel 15 Jumlah nelayan PPN Pelabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Nelayan (orang) 3.498 3.936 4.363 4.453 4.474 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011. Berikut adalah jumlah rumah tangga nelayan dan buruh yang aktif menangkap ikan di teluk Pelabuhan ratu. Nelayan ini berasal dari rumah tangga nelayan yang berada di kecamatan sepanjang teluk Pelabuhanratu. Nelayan lokal yang berada pada PPN Pelabuhanratu berasal dari rumah tangga nelayan dari kcamatan yang berada di sekitar teluk Pelabuhanratu (Tabel 16). Daerah-daerah tersebut juga aktif sebagai darah-daerah pantai perikanan tangkap (Tabel 17). 38 Tabel 16 Jumlah rumah tangga perikanan (nelayan dan buruh) No Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Palabuhanratu Cisolok Cikakak Simpenan Ciemas Ciracap Surade Cibitung Tegalbuleud Jumlah Jumlah RTP/Nelayan/ Buruh (Org) 4.064 2.216 1.49 1.854 2.39 386 87 108 12.595 Perahu Tanpa Motor (Org) 50 35 105 100 87 108 485 Motor Tempel (Org) 458 242 96 186 312 55 1349 Sumber: Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010. Tabel 17 Desa-desa pantai kegiatan penangkapan ikan pada kawasan perikanan tangkap No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Palabuhanratu Cisolok Cikakak Simpenan Ciemas Ciracap Surade Cibitung Tegalbuleud Desa-desa pantai pusat kegiatan Perikanan Tangkap Palabuhanratu Cikahuripan dan Pasirbaru tidak ada Loji, Kertajaya Ciwaru, Mandrajaya Gunungbatu, Pangumbahan Pasir Ipis Cibitung Buni Asih, Tegal Buleud Sumber: Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010 4.2.2 Armada penangkapan Armada penangkapan ikan di wilayah perairan Kabupaten Sukabumi dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu perahu tanpa motor, kapal motor, dan motor temple. Sejalan dengan modernisasi armada penangkapan, sejak tahun 2006 perahu tanpa motor mengalami penurunan jumlah armada dan bahkan ditinggalkan, sedangkan perahu motor tempel maupun kapal motor mengalami peningkatan, seperti tersaji pada Tabel 18. 39 Tabel 18 Jumlah armada penangkapan ikan PPN Pelabuhanratu tahun 2005 2009 Armada (unit) Tahun Motor Tempel 428 511 531 416 364 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah (unit) 676 798 852 646 758 Kapal Motor 248 287 321 230 394 Sumber: Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2010. 4.2.3 Alat tangkap Alat tangkap yang beroperasi di PPN Palabuhanratu cukup beragam. Alat tangkap yang paling dominan digunakan yaitu payang, pancing ulur dan bagan. Hampir semua alat tangkap yang beroperasi mengalami fluktuasi jumlah, namun hal tersebut tidak terjadi pada alat tangkap pancing tonda. Alat tangkap pancing tonda memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan tiap tahunnya. Perkembangan alat tangkap tersebut tersaji pada Tabel 19. Tabel 19 Perkembangan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 PYG 166 159 45 121 54 PU 255 414 254 170 129 PL 25 - PT 20 29 40 65 112 Alat Tangkap (unit) JR TN GN BGN 46 31 94 263 101 33 135 267 35 30 50 200 110 25 38 23 34 22 22 65 RW 7 27 7 2 PS 2 9 3 8 4 LL 34 155 110 33 47 Sumber: Sari, 2011. Keterangan: PYG = Payang, PU = Pancing Ulur, PL = Pancing Layur, PT = Pancing Tonda, JR = Jaring Rampus, TN = Trammelnet, GN = Gillnet, BGN = Bagan, RW = Rawai, PS = Purse seine, LL = Long Line. 4.2.4 Produksi perikanan NilaiProduksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu mengalami penurunan secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 nilai produksi 10.720.734.920,00. Jumlah ini menurun 27,19% menjadi 7.805.769.900,00 pada tahun 2010. Secara rinci data tersebut diperlihatkan pada Tabel 20 berikut. 40 Tabel 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006 - 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah Produksi () 10.720.734.920 11.654.357.704 6.320.706.025 6.963.664.250 7.805.769.900 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011. Jenis komoditas perikanan tangkap yang didaratkan di PPN Pelabuhan ratu sangat lah dominant, mulai dari komuditas dari perairan demersal, pelagis, hingga perairan karang. Komoditas hasil tangkapan tersebut dapat dilihat pada Tabel 21 berikut. Tabel 212 Produksi perikanan tangkap khusus di laut per jenis ikan pada tahun, 2008 No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Nama Jenis Ikan 2 Manyung Cendro Ikan sebelah Pisang-pisang Selar Kuwe Layang Sunglir Tetengek Bawal Hitam Jangilus Kakap putih Golok-golok Selanget Lemuru Japuh Tembang Lamadang Teri Gerot-gerot Layaran Setuhuk hitam Setuhuk loreng Ikan pedang Kapas-kapas Pepetek Bambangan Sawangi/ Mata besat Produksi (Ton) 3 2,23 0,67 5,75 3 38,65 239,79 175,89 3,83 6,92 38,65 239,79 0 0,97 0,68 0,78 0 1.284,87 4,09 158,52 2,25 23,41 40,8 12,99 42,11 0,24 650,5 60,38 50,69 Harga/ Kg 4 5.500.00 5.500.00 10.000.00 10.000.00 2.000.00 15.000.00 6.500.00 7.000.00 7.500.00 16.000.00 21.000.00 20.000.00 5.500.00 6.000.00 1.500.00 1.500.00 1.000.00 6.000.00 20.000.00 4.500.00 11.000.00 15.000.00 15.000.00 11.000.00 7.500.00 1.000.00 15.000.00 8.000.00 Nilai Produksi (000) 5 12.265.00 3.685.00 57.500.00 30.000.00 77.300.00 3.596.850.00 1.143.285.00 26.810.00 51.900.00 618.400.00 5.035.590.00 5.335.00 4.080.00 1.170.00 1.284.870.00 24.540.00 3.170.400.00 10.125.00 257.510.00 612.000.00 194.850.00 463.210.00 1.800.00 650.500.00 905.700.00 405.520.00 41 Tabel 21 (Lanjutan) No. Nama Jenis Ikan 29 Tiga waja 30 Lisong 31 Tongkol krai 32 Tongkol komo 33 Produksi (Ton) Harga/ Kg Nilai Produksi (000) 374,11 5.000.00 1.870.550.00 1.019,99 6.500.00 6.629.935.00 4,58 6.000.00 27.480.00 24,38 6.500.00 158.470.00 Cakalang 1.024,58 6.500.00 6.659.770.00 34 Kembung 92,32 1.000.00 92.320.00 35 Banyar 95,99 5.000.00 479.950.00 36 Tenggiri 5,47 15.000.00 82.050.00 37 Tenggiri papan 0,73 15.000.00 10.950.00 38 Albakor 23,51 7.500.00 176.325.00 39 Madidihang 184,26 7.500.00 1.381.950.00 40 Tuna sirip biru 519,2 7.500.00 3.894.000.00 41 Tuna mata besar 963,36 7.500.00 7.225.200.00 42 Tongkol abu-abu 140,89 6.500.00 915.785.00 43 Kerapu 0,62 12.000.00 7.440.00 44 Baronang 45 Layur 46 33,75 10.000.00 337.500.00 867,08 5.000.00 4.335.400.00 Cucut monyet 62,76 6.000.00 376.560.00 47 Pari 25,39 7.000.00 177.730.00 48 Ikan lainnya 209,55 5.000.00 1.047.750.00 49 Udang jerebun 4,85 25.000.00 121.250.00 50 Udang korosok 0 12.000.00 51 Udang karang 8,07 120.000.00 968.400.00 52 udang lainnya 287,11 15.000.00 4.306.650.00 53 Cumi-cumi 5,78 15.000.00 86.700.00 54 Gurita 4,66 10.000.00 46.600.00 55 Lainnya 6,16 4.500.00 27.720.00 56 Rumput laut Jumlah 10,1 9.087,70 5.200.00 610.200.00 52.520.00 60.142.150.00 - Sumber : Laporan kegiatan perikanan tangkap di PPN Pelabuhanratu, 2010. 4.3 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Sukabumi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Pelabuhanratu. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Lebak di barat. 42 Kecamatan Simpenan adalah salah satu kecamatan dari Kabupaten Sukabumi, terdiri dari enam kelurahan yaitu Cidadap, Cibuntu, Cihaur, Kertajaya, Mekarasih, dan Loji. Dusun Sanggarawayang, Desa Kertajaya dimana tempat diadakannya penelitian, dengan 51 kepala keluarga, mayoritas bekerja sebagai nelayan, letak koordinat 106o30’42,66” BT dan 7o05’24,43” LS. Topografi berbukit dan lembah merupakan ciri khas daerah ini, sampai saat ini jalur laut masih merupakan transfortasi yang paling gampang dan murah untuk mencapai desa tersebut, karena belum adanya akses jalan raya yang menuju ke daerah tersebut, jalan darat hanya bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua dengan jalur menanjak dan turunan yang curam dan berbatu . 5 HASIL 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Total Selama Penelitian Selama operasi penelitian memperoleh hasil tangkapan dalam jumlah (ekor) yang terdiri dari kelompok krustasea sebagai hasil tangkapan utama, yaitu lobster dengan total 49 ekor atau 38,89% dari seluruh hasil tangkapan. Ada 3 spesies lobster yang tertangkap, yaitu lobster hijau pasir (Panulirus homarus), lobster hijau (Panulirus versicolor) dan mutiara (Panulirus ornatus). Jenis lobster pertama adalah yang paling dominan, baik dari segi jumlah ekor maupun berat (Tabel 22). Komposisi hasil tangkapan lain atau hasil tangkapan sampingan (HTS) adalah rajungan 34 ekor (26,98%), sotong (Sepia sp.,34 ekor (26,98%), kerapu (Epinephelus coioides) 2 ekor (1,59%), singreng (Canthigaster sp) 2 ekor (1,59%), keong macan (Babilonia spirata, 2 ekor) (Tabel 19). Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) untuk Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) dengan total 5119,1 gram (60,48%) terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 2009,1 gram (23,74%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 1970 gram (23,27%), kelompok ikan (kerapu - Epinephelus coioides dan Singreng- Canthigaster sp.) 760 (8,98%), kelompok keong (keong macan- Babilonia Spirata) 70 gram (0,83%). Rincian dari hasil tangkapan utama dan sampingan selama penelitian bubu ini dapat dilihat pada Tabel 22, Gambar 17 dan Gambar 18. Hasil tangkapan lobster yang dominan tertangkap adalah pada selang karapas 31-36 mm adalah 13 ekor (lihat gambar 19). Menurut Moosa dan Aswandi (1984) Panjang total lobster betina dewasa lebih kurang 16 cm, lobster jantan kurang lebih 20 cm. Menurut Zulkarnain (2012), ukuran lobster dengan ukuran karapas di bawah 45 mm adalah baby lobster atau lobster muda yang di bawah ukuran ekonomis oleh karena itu lobster yang tertangkap didominasi oleh baby lobster, yang belum selayaknya ditangkap. 44 60 49 (38,89% ) Jumlah (ekor) 50 34 40 1 (Lobster) 34 (26,98 %) 2 (Rajungan) (26,98%) 30 3 (Kepiting) 20 4 (Sotong) 2 10 (1,59%) 5 2 5 (Ikan) (3,97%)(1,59%) 6 (Keong) 0 5 2 31 4 Jenis tangkapan 1 6 Gambar 17 Komposisi Hasil Tangkapan Total (ekor) Tabel 22 Komposisi hasil tangkapan total Jumlah No 1 Hasil Tangkapan Berat (ekor) % (gram) % Lobster hijau pasir ( Panulirus homarus) 47 37.30 3140 37.10 Lobster hijau ( Panulirus versicolor) 1 0.79 80 0.95 Lobster mutiara ( Panulirus homarus) 1 0.79 1.48 Sub- Total Hasil tangkapan Utama 49 38.89 125 3345 39.52 Rajungan ( Portunus pelagicus ) 3 2.38 230 2.72 Rajungan ( Portunus sanguinolentus ) 9 7.14 555 6.56 Rajungan ( Charybdis natator ) 19 15.08 1094 12.93 Rajungan ( Charybdis lucifera ) 3 2.38 130 34 26.98 2009.1 Kepiting (Calappa sp) 2 1.59 310 3.66 Sub-Total 2 1.59 310 3.66 Sotong (Sepia sp) 34 26.98 1970 23.27 Sub-Total 34 26.98 1970 23.27 Kerapu lumpur ( Epinephelus coioides ) 2 1.59 680 8.03 Singreng (Canthigaster sp.) 3 2.38 80 0.95 Sub-Total 5 3.97 760 8.98 Utama a. Krustasea (lobster) 2 Sampingan (By-catch) : a. Krustasea (rajungan) Sub- Total 1.54 23.74 b. Krustasea (Kepiting) c. Molusca (sotong) d. Ikan 45 Tabel 22 (Lanjutan) e. Keong keong macan (Babilonia spirata) 2 1.59 70 0.83 Sub-Total 2 1.59 70 0.83 Sub- Total Hasil tangkapan Sampingan 77 61.11 5119.1 60.48 Total Hasil Tangkapan 126 100 8464.1 100 4000 3345 3500 (39,52%) 1 (Lobster) 3000 1970 2500 2009.1 2000 (23,74%) 2 (Rajungan) (23,3%) 3 (Kepiting) 1500 760 1000 (9%) 310 5 (Ikan) 70 (3,7%) 500 4 (Sotong) 6 (Keong) (0,8%) 0 1 2 3 4 Jenis tangkapan 5 6 Hasil tangkapan lobster (ekor) Gambar 18 Komposisi Hasil Tangkapan Berat (gram) 13 14 11 12 10 7 8 7 7 6 4 2 2 2 0 25-30 31-36 37-42 43-48 49-54 55-60 61-66 Selang kelas panjang karapas(mm) Gambar 19 Hasil tangkapan lobster berdasarkan panjang karapas Berdasarkan pada selang kelas panjang karapas diatas terlihat bahwa hasil tangkapan lobster yang dominan tertangkap adalah pada selang karapas 31-36 mm adalah 13 ekor. Selain itu ukuran panjang karapas lobster yang tertangkap adalah selang 43 - 48 mm sebanyak 11 ekor, 49 – 54 mm sebanyak 7 ekor,37-34 46 sebanyak 7 ekor sisanya ada pada selang 55 – 60 mm sebanyak 7 ekor , 25 – 30 mm dan 61-60 mm masing-masing sebanyak 2 ekor. 5.1.1 Komposisi hasil tangkapan total jumlah (ekor) per bubu. Hasil tangkapan lobster dan by catch (HTS) pertrip berdasarkan jumlah bubu dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23. Hasil tangkapan total berdasarkan jumlah bubu Trip Jumlah (bubu) Lobster Ikan Kepiting Rajungan sotong Kosong 1 18 1 1 0 1 0 15 2 18 0 0 0 3 0 15 3 18 1 0 0 3 0 14 4 18 1 0 1 2 0 14 5 18 1 1 0 5 0 12 6 18 1 0 0 4 0 14 7 18 1 0 0 2 1 15 8 18 2 0 0 1 0 16 9 18 1 0 0 1 0 16 10 18 1 0 0 1 0 16 11 18 2 0 0 0 0 16 12 18 1 0 0 6 0 11 13 18 1 0 0 1 0 16 14 18 1 0 0 0 2 16 15 18 1 0 0 1 4 13 16 18 1 0 0 1 3 13 17 18 2 0 0 0 2 14 18 18 1 0 0 2 4 11 19 18 1 0 0 0 3 14 20 18 2 0 0 0 1 15 21 18 2 0 0 0 0 16 22 18 1 0 0 1 1 15 23 18 1 0 0 0 0 17 24 18 1 0 0 0 0 16 Dalam setiap operasi penangkapan bubu tidak selalu mendapatkan hasil tangkapan. Dari setiap trip penangkapan ternyata banyak bubu yang tidak mendapatkan hasil tangkapan (kosong) 47 5.1.2 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan desain bubu Berdasarkan Penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (PS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (PA) dan bubu lipat standar (S) dengan mengabaikan jenis umpan yang digunakan maka komposisi hasil tangkapan lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU), masing-masing 11 ekor (22%), 31 ekor (63%), dan 7 ekor (14%), sedangkan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) masing-masing 16 ekor (21%), 48 ekor (62%), dan 7 ekor (13%) (Tabel 24) dan Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 20. Tabel 24 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan desain bubu No. 1 (S) Jumlah (ekor) 31 48 79 Utama : lobster Sampingan (By-catch) : Total Hasil Tangkapan Rata-rata Jumlah (ekor) Per trip 2 Hasil Tangkapan % 63 62 63 Jenis bubu lipat (PS) Jumlah (ekor) % 11 22 16 21 27 21 (PA) Jumlah (ekor) 7 13 20 % 14 17 16 2.50 2 2.00 1.50 1.29 Utama : lobster 1.00 Sampingan (By-catch) : 0.67 0.46 0.50 0.54 0.29 0.00 (S) (PS) (PA) Gambar 20. Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dan Bycatch Dari rata-rata di atas terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas mendapatkan hasil tangkapan lobster yang lebih sedikit dibandingkan bubu standar sedangkan bubu standar mendapatkan hasil by-catch yang lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. 48 5.1.3 Komposisi hasil tangkapan berat (gram) berdasarkan desain bubu Berdasarkan Penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (PS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas dan bubu lipat standar (S) dengan mengabaikan jenis umpan yang digunakan maka komposisi hasil tangkapan lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU), masing-masing 715 gram (21%), 2215 gram (66%), dan 415 gram (12%), sedangkan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) masingmasing 949 gram (13%), 5275 gram (72%), dan 1102 gram (15%) (Tabel 25) dan Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 21. Tabel 25 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan desain bubu No. 1 Hasil Tangkapan Utama : lobster Sampingan (By-catch) : Total Hasil Tangkapan 2 (S) Berat (gram) % 2215 5275 7490 66 72 70 Jenis bubu lipat (PS) Berat (gram) % 715 949 1664 21 13 16 (PA) Berat (gram) % 415 1102 1517 12 15 14 6000 Berat (gram) Lobster dan bycatch 5275 5000 4000 3000 Utama : lobster 2215 Sampingan (By-catch) : 2000 949 715 1000 1102 415 0 (S) (PS) (PA) Gambar 21. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dan Bycatch Dari rata-rata di atas terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas mendapatkan hasil tangkapan lobster (gram) yang lebih sedikit dibandingkan bubu standar sedangkan bubu standar mendapatkan hasil by-catch yang lebih banyak dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. 49 5.1.4 Komposisi hasil tangkapan jumlah (ekor) berdasarkan umpan Berdasarkan Penggunaan umpan kanikil dan umpan ikan tembang (standar) dengan mengabaikan jenis bubu lipat yang digunakan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 26 dan Gambar 22. Rata-rata hasil tangkapan jumlah (ekor) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 23. Tabel 26. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan No. Hasil Tangkapan 1 2 Utama : lobster Sampingan (By-catch) : 30 25 24 25 Tembang Jumlah (ekor) 24 52 24 Jenis Umpan Kanikil Jumlah % (ekor) 49 25 68 25 % 51 32 22 20 15 12 10 Jumlah Ikan 10 5 2 2 3 0 Jumlah Kanikil 2 0 0 Lobster Rajungan Kepiting Molusca Ikan Keong Gambar 22. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Rata-rata Jumlah (ekor) per trip 2.5 2.17 2 Lobster 1.5 1 1 Sampingan (Bycatch) : 0.5 0 Gambar 23. Rata-rata Hasil tangkapan Jumlah (ekor) antara lobster dan By-catch 50 5.1.5 Komposisi Hasil Tangkapan Berat (gram) berdasarkan umpan Berdasarkan Penggunaan umpan kanikil dan umpan ikan tembang (standar) dengan mengabaikan jenis bubu lipat yang digunakan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 27 dan Gambar 24. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dengan by catch dapat dilihat pada Gambar 25. Tabel 27. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Jenis Umpan Utama : lobster Sampingan (By-catch) : % 49 68 Kanikil Jumlah (ekor) 25 25 % 51 32 1315 655 680 Ikan Tembang 0 80 700 Keong 310 Molusca Rajungan lobster 1800 1680 1600 1665 1464 1400 1200 1000 800 545 600 400 200 0 Kepiting 1 2 Hasil Tangkapan Ikan No. Ikan tembang Jumlah (ekor) 24 52 kanikil Gambar 24. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Rata-rata Jumlah (ekor) per trip 2.5 2.17 2 Lobster 1.5 1 1 Sampingan (Bycatch) : 0.5 0 Gambar 25. Rata-rata hasil tangkapan berat (gram) antara lobster dan By-catch 51 5.2 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Total Hasil tangkapan total per trip berdasarkan jenis bubu dan umpan dapat dilihat pada Lampiran 3. Dari data hasil tangkapan per trip tersebut didapatkan rata-rata per trip desain bubu lipat dengan umpan yang digunakan (jumlah dan Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan total berat). Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 26 dan Gambar 27. 2.50 2.04 2.00 1.50 1.33 Ikan Tembang 1.00 kanikil 0.54 0.50 0.50 0.50 0.29 0.00 S PS PA Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan tota l Gambar 26. Rata-rata Jumlah tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan 180.00 160.00 158.34 140.00 120.00 100.00 80.00 Ikan Tembang 76.88 kanikil 60.00 33.13 28.08 40.00 39.17 15.42 20.00 0.00 S PS PA Gambar 27. Rata-rata Berat tangkapan total per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan 52 Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 2,04 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 1,33. Rata-rata hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 0,50 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 0,54. Rata-rata hasil tangkapan total dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 0,50 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 0,29. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 2,04, S Kanikil = 1,33, PS Kanikil =0,54, PS Ikan=0,50 PA ikan = 0,50, PA kanikil = 0,29. Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 158,34 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 76,88. Rata-rata hasil tangkapan total per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 28,08 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 33,13. Rata-rata hasil tangkapan total dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 39,17 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 15,42. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 158,34 , S Kanikil = 76,88 ,PS Ikan=28,08 PS Kanikil =33,13, PA ikan = 39,17, PA kanikil = 15,42. 5.2.1 Proses analisis data 5.2.1.1 Uji Kenormalan Berdasarkan data hasil tangkapan Total Jumlah (ekor) dan Berat (gram) tersebut maka dilakukan pengujian normalitas. Dari hasil uji kenormalan sebelum transformasi dengan menggunakan perangkat lunak MINITAB14 data yang diolah menyebar tidak normal terlihat pada P-Value 0.108, data dikatakan menyebar normal jika P-Value > 0,150. Data yang akan diolah memiliki sebaran yang tidak normal, oleh karena itu harus dilakukan transformasi agar data menyebar normal atau mendekati sebaran normal, dengan menggunakan metode transformasi kuadrat, yaitu (Y + ½)1/2, dengan Y adalah data awal yang akan dilakukan tranfomasi. Hasil uji kenormalan setelah transformasi ternyata data menjadi normal terlihat pada P-Value > 0.150 yang menyatakan bahwa data tersebut 53 menyebar normal. Grafik hasil pengujian kenormalan sebelum dan setelah transformasi dapat dilihatpada lampiran 3, sehingga analisis data menggunakan anova multi faktor. 5.2.1.2 Hasil analisis faktorial Hasil Analisis ragam untuk mengetahui pengaruh desain bubu dan jenis umpan serta interaksi desain bubu dan jenis umpan terhadap hasil tangkapan total dapat dilihat pada Tabel 28 dan Tabel 29 Tabel 27. Analisis ragam desain bubu dan umpan terhadap jumlah (ekor) hasil tangkapan total Sumber Derajat bebas Type I SS Rata-rata F-hitung Pr > F umpan 1 0.5681 0.5681 3.01 0.0848 bubu 2 6.3564 3.1782 16.87 <.0001 umpan*bubu 2 0.4466 0.2233 1.18 0.3089 Tabel 29. Analisis ragam desain bubu dan umpan terhadap berat (gram) hasil tangkapan total Sumber DF Type I SS Rata-rata F - hitung Pr > F umpan 1 145.3339732 145.3339732 3.71 0. 227 bubu 2 803.0781154 401.5390577 14.68 <.0001 umpan*bubu 2 94.0644251 47.0322126 1.72 0.1830 Dari hasil analisis ragam diatas terlihat bahwa desain bubu berpengaruh nyata atau berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, namun jenis umpan tidak berpengaruh nyata atau tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh nyata terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dilihat dari F hitung =16,87 > FTabel = 3,06 (p-value = 0001< 0.05) pada desain bubu, Dilihat dari F hitung =3,01 < F-Tabel = 3,90 (p-value = 0,08481> 0.05) pada jenis umpan dan Dilihat p-value = 0,3089>0.05) pada interaksi antara umpan dan bubu pada data jumlah (ekor). Demikian juga untuk berat (gram) dlihat dari F hitung =14.68 > F-Tabel = 3,06 (p-value = 0001< 0.05) pada desain bubu, dilihat dari F hitung =3,71 < F- 54 Tabel = 3,90 (p-value = 0,08481> 0.05) pada jenis umpan dan Dilihat p-value = 0,3089>0.05) pada interaksi antara umpan dan bubu. Oleh karena itu dilakukan uji beda nyata (Uji Lanjut) untuk mengetahui perbandingan perbedaan desain bubu terhadap hasil tangkapan lobster. 5.2.1.3 Uji Lanjut (Duncan) Hasil uji lanjut desain bubu dapat dilihat pada Tabel 30 dan Tabel 31. Tabel 30 Hasil uji lanjut desain bubu terhadap jumlah (ekor) hasil tangkapan total Pengelompokan Duncan A B B Nilai tengah 1.36177 0.94231 0.89382 N 48 48 48 Bubu S PS PA Tabel 31 Hasil uji lanjut desain bubu terhadap berat (gram) hasil tangkapan total Pengelompokan Duncan A B B Nilai tengah 8.389 3.547 3.227 N 48 48 48 Bubu S PS PA Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 1,36177 atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 0,94231 dan 0,89382 terhadap jumlah (ekor). Demikian juga dengan berat (gram) terlihat bubu standar memiliki rataan 8,839 lebih besar dibandingkan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 3,547 dan 3,227. Berdasarkan rata-rata terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas dengan jenis umpan yang digunakan memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. 55 5.3 Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan terhadap Hasil Tangkapan Lobster (Jumlah dan Berat) Hasil tangkapan lobster per trip berdasarkan jenis bubu dan umpan dapat dilihat pada Lampiran 4. Dari data hasil tangkapan per trip tersebut didapatkan rata-rata per trip desain bubu lipat dengan umpan yang digunakan (jumlah dan 0.75 0.54 S PS 0.17 PA 0.17 0.13 0.29 kanikil Ikan Tembang berat). Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 27 dan Gambar 28. 0.80 0.70 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 49.79 42.50 S 17.50 12.29 PS 7.29 5.83 PA Ikan Tembang kanikil menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 0,54 Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan lobster per trip dengan Gambar 28. Rata-rata Berat lobster per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan Rata-rata berat Lobster (Gram) Gambar 27. Rata-rata Jumlah lobster per trip desain bubu lipat dengan jenis umpan Rata-rata Jumlah Lobster (Ekor) per trip 56 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 0,75. Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 0,29 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 0,17. Rata-rata hasil tangkapan lobster dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 0,13 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 0,17. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 0,75, S Kanikil = 0,54,PS Ikan=0,29 PS Kanikil =0,17 PA kanikil = 0,17, PA ikan = 0,13. Rata-rata berat (gram) hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat standar (S) dengan umpan ikan tembang adalah 42,50 sedangkan bubu lipat standar (S) dengan umpan kanikil adalah 49,79. Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip dengan menggunakan bubu lipat pintu samping (PS) dengan umpan ikan tembang adalah 17,50 sedangkan bubu lipat pintu samping dengan umpan kanikil adalah 12,29. Rata-rata hasil tangkapan lobster dengan bubu lipat pintu atas dengan umpan ikan adalah 5,83 sedangkan bubu lipat pintu atas dengan umpan kanikil adalah 7,29. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil adalah S Ikan = 42,50 , S Kanikil = 49,79,PS Ikan=17,50 PS Kanikil =12,29, PA kanikil = 7,29, PA ikan = 5,83 5.3.1 Proses analisis data 5.3.1.1 Uji Kenormalan Berdasarkan data total hasil tangkapan lobster (Jumlah) tersebut maka dilakukan pengujian normalitas. Dari hasil uji kenormalan sebelum transformasi dengan menggunakan perangkat lunak MINITAB14 data yang diolah menyebar tidak normal terlihat pada P-Value 0.108, data dikatakan menyebar normal jika PValue > 0,150. Data yang akan diolah memiliki sebaran yang tidak normal, oleh karena itu harus dilakukan transformasi agar data menyebar normal atau mendekati sebaran normal, dengan menggunakan metode transformasi kuadrat, yaitu (Y + ½)1/2, dengan Y adalah data awal yang akan dilakukan tranfomasi. Hasil uji kenormalan setelah transformasi ternyata tetap tidak mengalami perubahan signifikan terlihat data yang menyebar tidak normal dilihat pada Pvalue <0,010. Grafik hasil pengujian kenormalan sebelum dan setelah 57 transformasi dapat dilihat pada lampiran 5, sehingga analisis data harus menggunakan analisis non-parametrik. 5.3.1.2 Hasil analisis faktorial Hasil Analisis ragam untuk mengetahui pengaruh desain bubu dan jenis umpan serta interaksi desain bubu dan jenis umpan terhadap total hasil tangkapan lobster menggunakan uji kruskal-wallis dapat dilihat pada Tabel 32 dan Tabel 33. Tabel 32. Uji Kruskal-Wallis untuk desain bubu dan jenis umpan Pada total hasil tangkapan lobster (ekor) Perlakuan Bubu N (Jumlah) Nilai tengah Rataan 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 H = 5.21 DF = 2 P = 0.074 H = 10.66 DF = 2 P = 0.005 (adjusted for ties) Umpan H = 0.02 DF = 1 P = 0.875 H = 0.05 DF = 1 P = 0.821 (adjusted for ties) Interaksi bubu dan Umpan H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 10.93 DF = 5 P = 0.053 (adjusted for ties) Adjusted for teis (menyatakan koreksi untuk angka sama) Tabel 33. Uji Kruskal-Wallis untuk desain bubu dan jenis umpan Pada total hasil tangkapan lobster (gram) Perlakuan Bubu N (Jumlah) Nilai tengah Rataan 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 144 0,00 72,5 H = 5.55 DF = 2 P = 0.062 H = 11.30 DF = 2 P = 0.004 (adjusted for ties) Umpan H = 0.02 DF = 1 P = 0.963 H = 0.03 DF = 1 P = 0.948 (adjusted for ties) Interaksi bubu dan Umpan H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 11.03 DF = 5 P = 0.051 (adjusted for ties) Adjusted for teis (menyatakan koreksi untuk angka sama) Tolak H0 jika : H > α2 atau P-Value < αχα2 berdasarkan pada p-1 derajat bebas atau DF (degree of freedom), nilai diambil dari tabel Chisquare (χ2), tabel Chisquare dapat dilihat pada lampiran 3. Nilai α = 0,05, DF (degree of freedom) = 2 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 5,9915 untuk desain bubu dan DF 58 (degree of freedom)=1 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 3,8415 untuk jenis umpan serta DF (degree of freedom) = 5 maka didapat hasil χα2 dari tabel χ2 = 11,0705 untuk interaksi untuk desain bubu dan jenis umpan. Dari hasil analisis ragam diatas terlihat bahwa desain bubu berpengaruh nyata atau berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, namun jenis umpan tidak berpengaruh nyata atau tidak berbeda nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh nyata terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dilihat dari H = 10,66 > 5,9915 = χα2 atau p–value = 0.005< 0.05 pada desain bubu, H = 0,05 < 3,8415 = χα2 atau p–value = 0.821>0.05 pada jenis umpan dan H = 10,93 < 11,0705 = χα2 atau p– value = 0.053>0.05 pada interaksi antara umpan dan bubu. Oleh karena itu dilakukan uji beda nyata (Uji Lanjut) untuk mengetahui perbandingan perbedaan desain bubu terhadap hasil tangkapan lobster. 5.3.1.3 Uji Lanjut (Duncan) Menurut (Mattjik dan Sumertajaya, 2006) dalam melakukan perbandingan berganda untuk menyelidiki lebih lanjut perbedaan perlakuan terhadap respon maka diperlukan prosedur perbandingan berganda yang konsisten untuk digunakan dengan uji kruskal-wallis. Prosedur perbandingan berganda dapat dilihat pada lampiran 3. Uji lanjut (dunn) dan pasangan perbandingan untuk desain bubu sebagai berikut : Z  k ( k 1) Z 0.05 k  N ( N 2  1)    t 3  t  6 N ( N  1) 3 144(1442  1)   (1153  153  123 )  (115  15  12)   6(144)(144  1) 3(2) Z 0,0083 3 2985840  1525836 123552  8,246 Pasangan perbandingan : | R pa  R ps |=|65,3-68,6|=3,3 < 8,246 -> terima H0 (tidak beda nyata) | R pa  R s |=|65,3-83,6|=18,3 > 8,246 -> tolak H0 (berbeda nyata) | R ps  R s |=|68,6-83,6|=15 > 8,246 -> tolak H0 (berbeda nyata) 59 Berdasarkan hasil uji lanjut (Duncan) diatas menunjukkan bahwa masingmasing bubu lipat memiliki perbandingan yang nyata dimana terlihat bahwa bubu lipat pintu samping dan pintu atas memiliki perbedaan yang nyata dengan bubu standar dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Pasangan perbandingan dapat dirangkum dan dilihat pada Tabel 31. Tabel 31. Pasangan perbandingan Kelompok A A B Rataan Peringkat 65,3 68,6 83,6 Bubu PA PS S Ket : Huruf yang tidak sama menunjukkan tidak berbeda nyata Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 83,6 atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang memiliki rataan 68,6 dan 65,3. Sedangkan untuk hasil tangkapan sampingan by-catch (ekor) terlihat pada komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis bubu lipat bahwa bubu modifikasi lebih sedikit dibandingkan dengan bubu standar yang mendapatkan 48 ekor atau lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat pintu samping dan pintu atas yang mendapatkan 16 ekor dan 13 ekor. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih efektif dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi dalam penangkapan lobster sedangkan bubu lipat modifikasi lebih efektif dalam mengurangi hasil tangkapan sampingan By-catch. Hasil tangkapan bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. Namun demikian, bubu lipat modifikasi tetap memperoleh hasil tangkapan lobster 5.4 Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan Menurut Moosa dan Aswandy Umpan yang mengandung unsur lemak, protein, dan chitine serta ada baunya yang menyengat merupakan umpan yang sangat baik sebagai bahan atraktor untuk memikat lobster. Berdasarkan hasil analisis kadar protein (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 18,45% dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 25.48 %, 31.32 %, 31.52%, 38.61%, 40.05%, 41.30%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar protein (%) gram bahwa data awal umpan tembang 60 Kadar Protein (%) dalam 100 gram mengandung 11,67% dan terjadi penurunan kadar protein yang diperhitungkan dari data awal yang lebih besar dibandingkan dengan kanikil Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,40%,12,77%,43,44%,45,16%,50,90%,51,76% (Gambar 29). Dengan demikian kanikil (Chiton sp) mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan rata-rata penurunan 34.71% dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% . 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Umpan Kanikil Umpan Tembang 0 1 2 3 6 9 12 LAMA PERENDAMAN (jam) Gambar 29 Perubahan kadar Protein kanikil dan tembang berdasarkan lama perendaman Kadar Lemak (%) dalam 100 gram Berdasarkan hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 1,41% dan terjadi penurunan kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 23,08%, 24,04%,32.69%,37.50%,55.77%,75.96%. (Gambar 30). Dengan demikian, bahwa kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%. 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Umpan Kanikil Umpan Tembang 0 1 2 3 6 9 12 LAMA PERENDAMAN (jam) Gambar 30 Perubahan kadar Lemak kanikil dan tembang 61 61 6 PEMBAHASAN 6.1 Bubu Lipat Modifikasi dan Bubu Lipat Standar Bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping merupakan modifikasi dari bubu lipat standar dengan penambahan pintu jebakan bentuk kisi-kisi. Berdasarkan konstruksinya bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas berbeda pada posisi pintu masuknya. Ukuran pintu masuk bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping memiliki ukuran yang cukup luas yaitu 30 cm x 40cm x 14cm (panjang x tinggi x lebar) dibandingkan dengan bubu lipat standar penelitian . Melalui pengujian di lapangan diharapkan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan bubu lipat standar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping berpengaruh nyata terhadap jumlah (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan total dan hasil tangkapan lobster (p-value = 0001< 0.05) dan (p-value=0,004< 0,05). Hasil pengujian efektivitas bubu lipat modifikasi pintu atas dan pintu samping menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. Hal ini bisa saja disebabkan oleh pemasangan pintu masuk pemicu bentuk kisi-kisi memberikan dampak sulitnya lobster masuk kedalam bubu. Seperti yang diungkapkan oleh Zulkarnain (2012) bahwa pintu pemicu masuk kisi-kisi pada bubu lipat memberikan peluang bagi lobster untuk masuk kedalam bubu, terutama lobster yang berukuran kecil, namun penggunaan pintu plastik bentuk kisi-kisi dapat saja mengganggu lobster masuk ke dalam bubu. Hasil uji lanjut (Duncan) menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih efektif dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi terhadap hasil tangkapan total dan lobster sedangkan bubu lipat modifikasi lebih efektif dalam mengurangi hasil tangkapan sampingan By-catch. Hasil tangkapan bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. Namun demikian, bubu lipat modifikasi tetap memperoleh hasil tangkapan lobster 62 6.2 Umpan Kanikil (Chiton sp) dan Umpan Standar Ikan Tembang Kanikil merupakan hewan mollusca laut yang berhabitat atau hidup di permukaan keras seperti di karang atau pantai batu-batuan atau tersembunyi di celah-celah batu (Suwarni (2008). Kanikil dapat dijadikan sebagai umpan untuk menangkap lobster. Hasil penelitian wahyudi et al. (2010) menyimpulkan bahwa penggunaan kanikil dapat meningkatkan efektivitas jaring krendet untuk menangkap lobster. Desa Kertajaya di pesisir pantai sebelah timur teluk Palabuhanratu memiliki karakteristik pantai berupa batu karang besar (rock) dan substrat dasar perairan lumpur dan berkarang. Di daerah ini banyak terdapat kanikil namun nelayan di daerah tersebut belum pernah menggunakannya. Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan kanikil merupakan uji-coba yang pertama kali dilakukan. Hal yang berhubungan dengan umpan untuk menangkap lobster adalah ikan mati yang dipotong-potong atau belum, yang sudah diproses atau organisme lain yang memiliki bau menyengat yang menarik daya cium lobster. Lobster juga menyukai umpan yang memiliki komposisi protein, lemak dan kitin yang tinggi serta memiliki bau yang menyegat sangat disukai oleh lobster (Moosa dan Aswandy,1984). Salah satu jenis ikan yang dapat digunakan sebagai umpan dalam menangkap lobster dengan bubu adalah ikan tembang (Sardinella fimbriata) sedangkan jenis hewan lunak atau moluska adalah kanikil (Chiton sp.). Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan kanikil merupakan uji-coba yang pertama kali dilakukan. Melalui pengujian diharapakan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan umpan standar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor umpan (kanikil dan ikan tembang tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah (ekor) dan berat (gram) hasil tangkapan total dan hasil tangkapan lobster (p-value = 0,0848> 0.05) dan (pvalue=0,948> 0,05). Hal ini bisa disebabkan adanya faktor perubahan kadar protein dan lemak umpan. Hasil analisis kadar protein (%) umpan berdasarkan tahap lama perendaman yaitu lama perendaman 1, 2, 3,6,9 dan 12 Jam, dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 63 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 25.48 %, 31.32 %, 31.52%, 38.61%, 40.05%, 41.30%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar protein (%) gram bahwa data awal umpan tembang mengandung 11,67% dan terjadi penurunan kadar protein yang diperhitungkan dari data awal yang lebih besar dibandingkan dengan kanikil Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,40%,12,77%,43,44%,45,16%,50,90%,51,76%. Dengan demikian kanikil (Chiton sp) mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan ratarata penurunan 34.71% dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% . Berdasarkan hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal kanikil mengandung 1,41% dan terjadi penurunan kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yangdiperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 Jam, 3 Jam, 6 Jam, 9 Jam dan 12 Jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 23,08%, 24,04%, 32.69%, 37.50%, 55.77%, 75.96%. Dengan demikian, bahwa kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%. Penurunan kadar protein (%) umpan kanikil yang lebih lambat menunjukkan bahwa kanikil lebih tahan lama dalam waktu perendaman dibandingkan dengan umpan tembang (standar), tetapi perbedaan dari kedua umpan tersebut tidak begitu signifikan dan hal ini menjadi acuan penjelasan bahwa kanikil adalah umpan yang memiliki efektifitas relatif sama dalam penangkapan lobster dengan alat tangkap bubu lipat. Kanikil mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan ratarata penurunan 44.21% dibandingkan dengan ikan tembang 41,51%, tetapi perbedaan dari kedua umpan tersebut tidak begitu signifikan dan hal ini menegaskan kembali bahwa umpan kanikil memiliki efektivitas relatif sama dengan umpan ikan tembang. 64 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: (1) Komposisi hasil tangkapan bubu lipat penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas dari bubu lipat dengan jenis yang berbeda. Hasil pengujian Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa jenis bubu lipat memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan lobster (panulirus spp.). Bubu lipat yang paling baik untuk menangkap lobster adalah bubu lipat standar dengan jumlah hasil tangkapan 31 ekor (63%) selanjutnya diikuti oleh bubu lipat modifikasi pintu samping 11 ekor (22%) dan bubu lipat modifikasi pintu atas 7 ekor (14%) . Hasil tangkapan bubu lipat standar memberikan hasil tangkapan lobster (panulirus spp.) yang lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas namun bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan sampingan yang lebih sedikit dibandingkan bubu lipat standar. (2) Komposisi hasil tangkapan berdasarkan umpan menunjukkan tidak adanya perbedaan efektivitas dari jenis umpan yang berbeda. Hasil pengujian Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa jenis umpan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan lobster. Hasil tangkapan dengan menggunakan umpan kanikil (Chiton sp) berhasil memberikan hasil tangkapan lobster yang relatif sama dengan umpan standar ikan tembang (Sardinella fimbriatta) sehingga efektivitas umpan kanikil (Chiton sp) sama dengan umpan standar. 6.2 Saran Saran yang dapat dikemukakan untuk perbaikan penelitian ini yaitu: 1. Diperlukan adanya penelitian lanjutan mengenai bentuk kisi-kisi berbahan plastik pada bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas. 2. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut di laboratorium cara lobster masuk kedalam bubu lipat modifikasi pintu samping dan pintu atas 3. Diperlukan adanya penelitian lanjutan dengan melihat langsung bagaimana lobster masuk ke dalam bubu lipat 4. Penelitian mengenai umpan kanikil untuk pengembangan umpan alternatif 65 65 DAFTAR PUSTAKA Adnyanawati, K.P. 1994. Analisis Hasil Tangkapan Lobster (Panulirus spp.) dengan jaring klitik dan bubu di Pantai Swanggaluh, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali. [Skripsi]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Hal 514. Anwar, S.N.2001. Studi pendahuluan letak mulut bubu dan tingkah laku udang karang hijau pasir (Panulirus homarus). Bogor : Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 5-14. Budiharjo, S. 1981. Studi Perbandingan Jenis-jenis Alat Tangkap Lobster Pot dengan Bubu Tradisional. Skripsi (tidak dipublikasikan). Bogor : Institut Pertanian Bogor. Boutson A., Mahasawasde C, Mahasawasde S, and Arimoto T. 2009. Use of Escape Vents to Improve Size and Species Selectivity of Collapsible Pot for Blue swimming Crab Portunus pelagicus in Thailand. Fisheries Science The Japanese Society of Fisheries Science. Japan. Volume 75 : 25-33p. Cobb JS and BF, Phillips. 1980. The Biology and Management of Lobsters. Academic Press. USA. P; 25 - 279. Cobb, J.S dan Wang, D. 1985. Fisheries biology of lobster and crayfishs. (vol.10). New York: Academic Press, USA. pp 167-247. Daniel WW. 1990. Applied Nonparametric Statictic. 2nd Edition. Georgia State University. PWS-KENT Pubishing Company. Boston. 616p Dinas Kelautan dan Perikanan. 2010. Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap. Dinas Kelautan dan Perikanan Pelabuhanratu. Sukabumi. Hardiansyah. 1990. Penilaian dan Perencanan Konsumsi Pangan. [Skripsi]. Program Studi Gizi Masyarakat dan Keluarga. Program Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Holthuis LB. 1991. FAO Species Catalogue. Vol. 13. Marine Lobsters of the World. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 13. FAO Fisheries and Aquaculture Department. Rome. Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Buku Laporan Tahunan Statistika Perikanan Tangkap Tahun 2009. Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Direktorat Jendral Perikanan Tangkap. 66 Kittaka, J. Eds.2000. Spiny lobster : Fisheries and culture Second Edition. United State of America : Fishing news books a divisions of Blackwell science Ltd.679 hal. Krouse JS. 1989. Performance and selectivity of Trap Fisheries for Crustaceans. In Caddy, J.F (Ed), Marine Invertebrate Fisheries: Their Assessment and Management.John Wiley and Sons, New york.307-325p. Lesmana.2006. Uji Coba Dua Macam Krendet Untuk Menangkap Lobster (Panulirus spp.). Bogor : Institut Pertanian Bogor. Mallawa A dan Sudirman. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Reneka Cipta. Jakarta. Martasuganda S. 2003. Bubu (Traps). Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan. Departemen Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.69 hal. Mattjik AA, dan I.M Sumertajaya. 2006. Rancangan Percobaan Dengan Aplikasi SAS Dan MINITAB. Jilid 1. IPB Press. Bogor. 276 hal. Meenakumari B and Rajan KVM.1985. Studies on Materials for Traps for Spiny Lobsters. Fisheries Reseaech. Elsevier B.V All rights reserved. Volume 3 : 309-321p. Miller R.J. 1990. Effectiveness of Crab and Lobster Traps. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science. Ottawa, Cannada. Volume 47, No. 4, April. 1228-1251p. Moosa MK dan I, Aswandy. 1984. Udang Karang (Panulirus sp) dari Perairan Indonesia. Proyek Studi Pengembangan Alam Indonesia, Studi Hayati Potensi Ikan, Lembaga Oseanografi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 41 hlm. Nam Supriatna. 2010. Laporan Kegiatan Perikanan Tangkap. Dinas Kelautan dan Perikanan Pelabuhanratu. Sukabumi. Nawangwulan, S. 2001. Analisis Sistem Penangkapan Lobster (Panulirus sp.) di Perairan Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. [Skripsi]. (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hal 47. Nedelec C and Prodo J. 1990. Definitions and Classification of Fishing Gear Categories. Rome :FAO.235p. Prasetyanti.2001. Analisa Pengaruh Fase Bulan Terhadap Pola Penyebaran dan Aktivitas (Panulirus sp) pada Bulan Juli-Agustus di Perairan Selatan Kebumen. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. 67 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 43 hal. Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta. Bogor. 256 hal. Schwabe, E.2010. Illustrated summary of chiton terminology (Mollusca, Polyplacophora). Spixiana 33 (2): 171-194. Steel RED dan JH Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri. Gramedia Pustaka. Jakarta. 772 hal. Subani W. 1978. Perikanan Udang Barong (spiny lobster) dan Prospek Masa Depannya. Prosiding Seminar ke II Perikanan Udang 15-18 Maret 1977. Subani W. 1983. Survey Alat Penangkap Udang Barong di Pantai Selatan Bali. Laporan Penelitian Perikanan Laut No. 25. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. Hal 37 – 52 Subani W dan HR, Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. 245 hal. Suwarni.2008. Optimalisasi Belajar Mengajar Mata Kuliah Avertebrata Air Yang Berbasis Scl (Students Center Learning). Universitas Hasanuddin. 55 hal. Unit Pelaksana Teknis Daerah Tempat Pelelangan Ikan. 2011. Data Statistik Produksi dan Nilai Produksi PP/PPI 2005-2010. Dinas Kelautan dan Perikanan. Sukabumi. Von Brandt A. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing News Book Ltd. Wahyudi I,, N Probosunu, Supardjo S.D., dan Soeparno.2010. Studi Efektivitas Jenis Umpan Krendet Pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.). Jurnal Krustacea Indonesia. September 2010. Jilid 1. No.2: hal.82-89. Wudianto, C. Nasution dan HR. Barus.1988. Uji Coba Bubu Plastik di Perairan Jawa Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 46. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut. Hal 45-53. Zulkarnain, MS. Baskoro, S. Martasuganda, dan DR. Monintja. 2011. Pengembangan Desain Bubu Lobster yang Efektif. Volume XIX No. 2. Bogor. Hal 45 - 47. Zulkarnain. 2012. Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster (Tidak Dipublikasikan). [Disertasi] Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. LAMPIRAN Lampiran 1 Tabel lapang pengambilan data Keterangan: 69 PS: bubu lipat modifikasi pintu samping (satu pintu); Lampiran 2 Data Sheet hasil tangkapan PA: bubu lipat modifikasi pintu atas (satu pintu); S: bubu lipat rajungan sebagai bubu standar. TRIP 1 Set : 16.48 – 17.10/15 Agustus 2011 No Jenis Bubu 1 S 2 PA Umpan Ikan Lobster Jenis Panulirus homarus ekor gram 1 150 Ikan Total 1 Jenis Bubu Umpan 1 S Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus ekor Lobster Total gram ekor S Ikan Portunus pelagicus 1 100.1 2 250.1 Epinephelus coioides 1 600 1 600 Portunus pelagicus 1 50 1 50 3 750.1 4 900.1 By-cath ekor gram 2 70 2 Jenis gram Total 1 bubu 2 bubu PA Ikan 1 bubu S kanikil ekor 3 S Ikan Lobster Total ekor 1 gram Haul: 06.55 – 07.10/18 Agustus 2011 Lobster Jenis Jenis 150 Set: 16.54 – 17.02/17 Agustus 2011 TRIP 2 No Haul : 7.00 – 7.30/16 Agustus 2011 By-cath 1 1 bubu gram Charybdis natator 1 35 3 105 Cantthigaster sp 2 70 2 70 3 105 5 175 Total 3 S kanikil 2 bubu S Ikan 1 bubu 70 Lampiran 2 (Lanjutan) Haul : 07.10 – 07.45/21 Agustus 2011 Set : 16.44 – 17.05/20 Agustus 2011 TRIP 3 Jenis Bubu No Lobster Umpan Jenis Panulirus homarus By-cath ekor gram 1 60 Jenis ekor gram PS Kanikil 2 PS Ikan Babilonia spirata 2 3 S Kanikil Charybdis natator TRIP 4 1 60 Set : 16.48 – 16.56/22 Agustus 2011 Jenis Bubu No Umpan Jenis Panulirus homarus ekor gram 6 550 Jenis 80 PS Ikan 1 bubu 5 210 S Kanikil 2 bubu 80 4 150 2 PS kanikil Charybdis natator 2 PS Ikan Charybdis natator PA Ikan Calappa sp 550 2 2 Kanikil 6 1 bubu 2 S 4 70 70 Lobster Total gram 1 bubu Total PS Kanikil 60 ekor 1 gram 1 1 Total ekor Haul : 07.25 - 07.40/23 Agustus 2011 By-cath Lobster PS Kanikil Total 1 Total Lobster ekor S Kanikil 1 1 bubu gram 1 550 Total 4 230 2 230 1 bubu 1 15 1 15 S Kanikil PS Kanikil 1 110 1 110 PS Ikan 1 bubu 4 355 5 905 PA Ikan 1 bubu 1 bubu 71 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.01 – 17.10/23 Agustus 2011 TRIP 5 Jenis Bubu No 1 2 S Umpan Kanikil PA Ikan Haul : 7.28 – 08.04/24 Agustus 2011 Lobster By-cath Jenis ekor Panulirus homarus 4 Panulirus homarus gram Total Jenis ekor gram S Kanikil ekor 180 1 Lobster 4 180 10 1 10 S Kanikil 3 bubu Charybdis natator 1 20 1 20 1 bubu 1 100 PA Ikan PS Kanikil S Ikan 1 bubu Charybdis lucifera 1 50 1 50 Kanikil Charybdis natator 1 40 1 40 4 S Ikan Portunus pelagicus 1 80 1 80 5 200 10 480 280 Set : 16.50 – 16.55/25 Agustus 2011 Jenis Bubu No Haul : 06.45 – 07.10/26 Agustus 2011 Lobster Umpan Jenis 1 PS Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 110 2 110 6 1 PS TRIP 6 Total Canthigaster sp 100 5 1 bubu gram 3 Total 4 Jenis Lobster PS Kanikil Total ekor gram ekor 1 bubu 2 1 bubu gram Portunus sanguinolentus 1 55 3 165 Portunus sanguinolentus 2 60 2 Charybdis natator 1 70 4 185 5 60 Total PS Kanikil 2 bubu 1 70 S Ikan 3 bubu 6 295 72 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.40 – 18.00/5 September 2011 TRIP 7 1 Lobster Haul : 08.35 - 08.55/06 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 S 2 Ikan PS Panulirus homarus By-cath ekor gram Jenis 2 95 Ikan Total 2 Total ekor gram S Ikan ekor gram Sepia sp. 1 40 3 135 Total Charybdis natator 2 70 2 70 S Ikan Charybdis natator 1 104 1 104 PS Ikan 4 214 6 309 95 1 bubu 3 2 bubu 1 Set : 17.28 – 17.46/6 September 2011 TRIP 8 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 Lobster Haul : 08.09 – 08.50/07 September 2011 S PS Kanikil Kanikil Total Panulirus homarus Panulirus homarus By-cath ekor gram 1 1 75 75 2 150 Jenis Sepia sp. Total ekor gram ekor gram 1 70 2 1 145 75 1 70 3 220 S Kanikil PS Kanikil Total S Kanikil PS Kanikil 2 1 bubu 1 bubu 2 1 bubu 1 bubu 73 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 9 Set : 17.45 – 17.54/7 September 2011 Jenis Bubu No Umpan 1 S Ikan 2 S Kanikil Haul : 06.06 – 06.25/8 September 2011 Lobster Panulirus homarus Total By-cath 2 135 2 135 Lobster Total Sepia sp. 2 S Ikan 95 4 1 60 3 155 1 1 bubu 230 Total 2 1 60 S Ikan 1 bubu 5 290 S Kanikil 1 bubu Set : 16.47 – 16.51/8 September 2011 Lobster TRIP 10 No 1 Haul : 06.53 - 07.01/9 September 2011 Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis ekor gram 1 125 Jenis Total ekor gram S Ikan ekor 1 bubu gram Charybdis natator 1 40 2 165 Total 2 Portunus sanguinolentus 1 60 1 60 S Ikan 2 bubu 3 Sepia sp. 2 150 2 150 PA Ikan 1 bubu Calappa sp 1 200 1 200 5 450 6 575 1 4 S PA Ikan Panulirus ornatus By-cath Ikan Total 1 125 2 74 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.16 - 16.27/9 September 2011 TRIP 11 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 Lobster Haul : 07.10 – 07.45/10 September 2011 S Ikan Panulirus homarus Total By-cath ekor gram 1 160 1 160 Jenis Total ekor Portunus sanguinolentus gram S Ikan ekor 2 2 bubu gram 1 40 2 200 Total 1 40 2 200 S Ikan 2 2 bubu Set : 18.40 – 18.48/11 September 2011 TRIP 12 Jenis Bubu No Umpan Lobster Panulirus homarus By-cath 1 Total 1 S Kanikil 75 2 PA Kanikil Charybdis natator 2 3 PS Ikan Portunus sanguinolentus 4 S Ikan 1 Lobster Haul : 06.40 – 07.03/12 September 2011 S Kanikil 1 75 110 3 165 1 40 1 Charybdis natator 1 70 Portunus sanguinolentus 3 300 Total 1 bubu 7 bubu S Kanikil 1 bubu 40 PA Kanikil 3 bubu 1 70 PS Ikan 1 bubu 3 300 S Ikan 2 bubu 75 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 8.10 – 8.20/13 September 2011 TRIP 13 Lobster 2 Haul : 08.00 - 08.15/14 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 S Ikan 2 PA Ikan Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 80 Jenis Total ekor Charybdis lucifera Total 2 80 gram 1 bubu ekor gram 2 80 Total S Ikan 1 bubu PA Ikan 1 bubu Lobster 1 2 80 2 80 2 80 4 160 2 Set : 7.50 – 8.20/14 September 2011 TRIP 14 Haul : 07.02 – 07.50/15 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 PS Kanikil 2 S Ikan Total Panulirus homarus By-cath ekor gram 2 Jenis 50 PS Kanikil Total ekor gram ekor 1 bubu gram Sepia sp. 1 45 3 95 Sepia sp. 3 110 3 4 155 6 2 110 Total PS Kanikil 1 bubu 205 S Ikan 1 bubu 76 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 17.05 – 17.35/15 September 2011 TRIP 15 No Lobster Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 25 Jenis ekor gram Total S Kanikil ekor 1 bubu gram 40 2 65 Total Ikan Epinephelus coioides 1 80 1 80 S Kanikil 2 bubu PS Ikan Sepia sp. 1 110 1 110 S Ikan 1 bubu PS Kanikil Sepia sp. 2 130 1 130 2 bubu 5 360 5 385 PS Ikan PS Kanikil Kanikil 2 S 3 4 Total 1 25 6 1 bubu Set : 16.30 – 16.48/17 September 2011 TRIP 16 Jenis Bubu Umpan 1 PS Ikan 2 S Ikan S Haul : 07.10 – 07.40/18 September 2011 By-cath Lobster Jenis 3 gram 1 S Panulirus homarus ekor 1 Sepia sp. 1 No Haul : 07.15 - 07.25 16 September 2011 By-cath Panulirus homarus ekor gram 2 80 Kanikil Total 2 80 Jenis ekor gram Lobster Total PS Ikan ekor 1 1 bubu gram Sepia sp. 1 45 3 125 Total Charybdys natator 2 110 1 110 PS Ikan 2 bubu Sepia sp. 1 90 1 90 S Ikan 2 bubu Sepia sp. 1 45 1 45 S Kanikil 1 bubu 5 290 6 370 5 77 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.25 – 16.40/18 September 2011 TRIP 17 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 By-cath ekor No gram Jenis PA Kanikil Panulirus homarus 1 60 S Kanikil Panulirus homarus 1 60 PS Ikan Total TRIP 18 Lobster Haul : 06.30 – 06.40/19 September 2011 2 Total ekor gram ekor gram 1 60 Sepia sp. 2 110 3 170 Sepia sp. 1 60 1 60 3 170 5 290 120 2 PA Kanikil 1 bubu S Kanikil 1 bubu Total PA Kanikil 4 1 bubu S Kanikil 2 bubu PS Ikan 1 bubu Lobster 1 Set : 16.20 – 16. 48/21 September 2011 Haul : 7.48 – 8.05/22 September 2011 Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis ekor gram 2 90 Jenis PA Kanikil Total ekor gram ekor 1 50 3 140 Ikan Charybdis natator 1 40 1 PS Ikan Sepia sp. 1 50 4 S Ikan Sepia sp. 2 5 S Kanikil Sepia sp. Charybdis natator PA Kanikil 2 PA 3 Total 2 90 1 bubu gram Sepia sp. 1 Panulirus homarus By-cath 40 Total PA Kanikil 7 2 bubu 1 50 PA Ikan 1 bubu 125 1 125 PS Ikan 1 bubu 1 90 1 90 S Ikan 2 bubu 1 30 1 30 S Kanikil 1 bubu 7 385 8 475 78 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.35 – 16. 50/23 September 2011 TRIP 19 Lobster 1 Haul : 7.05 – 7.25/24 September 2011 Jenis Bubu No Umpan Lobster Jenis 1 PS Ikan 1 PA Ikan 2 S Ikan By-cath ekor Panulirus homarus gram 1 Total 1 Jenis Total ekor 100 gram PS Ikan ekor 1 bubu gram 1 100 1 100 Sepia sp. 1 70 1 70 PS Ikan 1 bubu Sepia sp. 4 270 4 270 PA Ikan 1 bubu 6 440 6 440 S Ikan 2 bubu 100 Total 4 Set : 16.58 – 17.05/24 September 2011 TRIP 20 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 2 Lobster Haul : 6.25 – 6.48/25 Septembner 2011 By-cath ekor gram Jenis Total ekor gram ekor gram PA Kanikil Panulirus homarus 1 25 1 25 S Ikan Panulirus homarus 1 75 1 75 PS Kanikil Total Sepia sp. 2 100 1 60 1 60 1 60 3 160 2 PA Kanikil 1 bubu S Ikan 1 bubu Total PA Kanikil S Ikan PS Kanikil 3 1 bubu 1 bubu 1 bubu 79 Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.20 – 16.55/25 September 2011 Haul : 6.58 – 7. 25/26 September 2011 Lobster 2 bubu TRIP 21 No Jenis Bubu Umpan Lobster Jenis 1 PS Ikan By-cath ekor Panulirus homarus Total TRIP 22 No gram Umpan gram 240 Total 2 240 2 240 PS Ikan 1 bubu Lobster 1 2 Haul : 6.55 – 7.14/27 September 2011 By-cath ekor gram 2 140 Jenis Total ekor gram S Ikan 2 PA Ikan Charybdys natator 1 3 PA Kanikil Sepia sp. Total gram 2 1 Panulirus homarus ekor 2 bubu 240 Lobster Jenis ekor PS Ikan 2 Set : 16.15 – 16. 35/26 September2011 Jenis Bubu Jenis Total 2 140 ekor S Ikan 1 bubu gram 2 140 Total 3 bubu 100 1 100 S Ikan 1 bubu 1 70 1 70 1 bubu 2 170 4 310 PA Ikan PA Kanikil 1 bubu 80 82 Lampiran 3. Hasil tangkapan total per trip berdasarkan desain bubu dan umpan Jenis umpan Jenis bubu Trip S Umpan Ikan PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 3 850.1 0 0 1 50 2 2 70 0 0 0 0 3 0 0 2 70 0 0 4 0 0 1 15 1 110 5 1 80 0 0 2 150 6 3 130 0 0 0 0 7 5 205 1 104 0 0 8 0 0 0 0 0 0 9 4 230 0 0 0 0 10 5 375 0 0 1 200 11 2 200 0 0 0 0 12 4 370 1 40 0 0 13 2 80 0 0 2 80 14 3 110 0 0 0 0 15 1 80 1 110 0 0 16 2 200 3 125 0 0 17 0 0 1 60 0 0 18 2 125 1 50 1 40 19 4 270 1 100 1 70 20 1 75 0 0 0 0 21 0 0 0 0 0 0 22 2 140 0 0 1 100 23 0 0 0 0 0 0 24 3 210 0 0 2 140 83 Lampiran 3 (Lanjutan) Kanikil 1 0 0 0 0 0 0 2 3 105 0 0 0 0 3 2 80 1 60 0 0 4 6 550 2 230 0 0 5 6 210 1 40 0 0 6 0 0 3 165 0 0 7 0 0 0 0 0 0 8 2 145 1 75 0 0 9 1 60 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 12 1 75 0 0 3 165 13 0 0 0 0 0 0 14 0 0 3 95 0 0 15 2 65 2 130 0 0 16 1 45 0 0 0 0 17 3 170 0 0 1 60 18 2 120 0 0 1 50 19 0 0 0 0 0 0 20 1 60 0 0 1 25 21 0 0 0 0 0 0 22 0 0 0 0 1 70 23 2 160 0 0 0 0 24 0 0 0 0 0 0 84 Lampiran 4 Hasil Tangkapan Lobster Per Trip Berdasarkan Jenis Bubu Dan Umpan Jenis umpan Jenis bubu Trip S Umpan Ikan PS PA Ekor Gram Ekor Gram Ekor Gram 1 1 150 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 1 100 6 0 0 0 0 0 0 7 2 95 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 9 2 135 0 0 0 0 10 1 125 0 0 0 0 11 1 160 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 13 2 80 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 16 0 0 2 80 0 0 17 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 19 0 0 1 100 0 0 20 1 75 0 0 0 0 21 0 0 2 240 0 0 22 2 140 0 0 0 0 23 0 0 2 0 0 0 24 1 60 0 0 2 140 85 Lampiran 4(Lanjutan) Kanikil 1 0 0 0 0 0 0 2 2 70 0 0 0 0 3 0 0 1 60 0 0 4 6 550 0 0 0 0 5 4 180 0 0 0 0 6 0 0 2 110 0 0 7 0 0 0 0 0 0 8 1 75 1 75 0 0 9 0 0 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 12 1 75 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 50 0 0 15 1 25 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 17 1 60 0 0 1 60 18 0 0 0 0 2 90 19 0 0 0 0 0 0 20 0 0 0 0 1 25 21 0 0 0 0 0 0 22 0 0 0 0 0 0 23 2 160 0 0 0 0 24 0 0 0 0 0 0 86 Lampiran 5 Analisis data Kelompokkan data berdasarkan jenis umpan dan bubu umpan bubu ulangan lobsterekor totalekor kanikil ps 1 0 0 kanikil ps 2 0 0 kanikil ps 3 1 1 kanikil ps 4 0 2 kanikil ps 5 0 1 kanikil ps 6 2 3 kanikil ps 7 0 0 kanikil ps 8 1 1 kanikil ps 9 0 0 kanikil ps 10 0 0 kanikil ps 11 0 0 kanikil ps 12 0 0 kanikil ps 13 0 0 kanikil ps 14 2 3 kanikil ps 15 0 2 kanikil ps 16 0 0 kanikil ps 17 0 0 kanikil ps 18 0 0 kanikil ps 19 0 0 kanikil ps 20 0 0 kanikil ps 21 0 0 kanikil ps 22 0 0 kanikil ps 23 0 0 kanikil ps 24 0 0 kanikil s 1 0 0 kanikil s 2 2 3 kanikil s 3 0 2 kanikil s 4 6 6 kanikil s 5 4 6 kanikil s 6 0 0 kanikil s 7 0 0 kanikil s 8 1 2 kanikil s 9 0 1 kanikil s 10 0 0 kanikil s 11 0 0 kanikil s 12 1 1 kanikil s 13 0 0 kanikil s 14 0 0 87 Lampiran 5 (Lanjutan) kanikil ps 15 0 2 kanikil ps 16 0 0 kanikil ps 17 0 0 kanikil ps 18 0 0 kanikil ps 19 0 0 kanikil ps 20 0 0 kanikil ps 21 0 0 kanikil ps 22 0 0 kanikil ps 23 0 0 kanikil ps 24 0 0 kanikil s 1 0 0 kanikil s 2 2 3 kanikil s 3 0 2 kanikil s 4 6 6 kanikil s 5 4 6 kanikil s 6 0 0 kanikil s 7 0 0 kanikil s 8 1 2 kanikil s 9 0 1 kanikil s 10 0 0 kanikil s 11 0 0 kanikil s 12 1 1 kanikil s 13 0 0 kanikil s 14 0 0 kanikil s 15 1 2 kanikil s 16 0 1 kanikil s 17 1 3 kanikil s 18 0 2 kanikil s 19 0 0 kanikil s 20 0 1 kanikil s 21 0 0 kanikil s 22 0 0 kanikil s 23 2 2 kanikil s 24 0 0 88 Lampiran 5 (Lanjutan) kanikil pa 1 0 0 kanikil pa 2 0 0 kanikil pa 3 0 0 kanikil pa 4 0 0 kanikil pa 5 0 0 kanikil pa 6 0 0 kanikil pa 7 0 0 kanikil pa 8 0 0 kanikil pa 9 0 0 kanikil pa 10 0 0 kanikil pa 11 0 0 kanikil pa 12 0 3 kanikil pa 13 0 0 kanikil pa 14 0 0 kanikil pa 15 0 0 kanikil pa 16 0 0 kanikil pa 17 1 1 kanikil pa 18 2 1 kanikil pa 19 0 0 kanikil pa 20 1 1 kanikil pa 21 0 0 kanikil pa 22 0 1 kanikil pa 23 0 0 kanikil pa 24 0 0 ikan ps 1 0 0 ikan ps 2 0 0 ikan ps 3 0 2 ikan ps 4 0 1 ikan ps 5 0 0 ikan ps 6 0 0 ikan ps 7 0 1 ikan ps 8 0 0 ikan ps 9 0 0 ikan ps 10 0 0 ikan ps 11 0 0 ikan ps 12 0 1 ikan ps 13 0 0 ikan ps 14 0 0 89 Lampiran 5 (Lanjutan) ikan ps 15 0 1 ikan ps 16 2 3 ikan ps 17 0 1 ikan ps 18 0 1 ikan ps 19 1 1 ikan ps 20 0 0 ikan ps 21 2 0 ikan ps 22 0 0 ikan ps 23 0 0 ikan ps 24 0 0 ikan s 1 1 3 ikan s 2 0 2 ikan s 3 0 0 ikan s 4 0 0 ikan s 5 0 1 ikan s 6 0 3 ikan s 7 2 5 ikan s 8 0 0 ikan s 9 2 4 ikan s 10 1 5 ikan s 11 1 2 ikan s 12 0 4 ikan s 13 2 2 ikan s 14 0 3 ikan s 15 0 1 ikan s 16 0 2 ikan s 17 0 0 ikan s 18 0 2 ikan s 19 0 4 ikan s 20 1 1 ikan s 21 0 0 ikan s 22 2 2 ikan s 23 0 0 ikan s 24 1 3 90 Lampiran 5 (Lanjutan) ikan pa 1 0 1 ikan pa 2 0 0 ikan pa 3 0 0 ikan pa 4 0 1 ikan pa 5 1 2 ikan pa 6 0 0 ikan pa 7 0 0 ikan pa 8 0 0 ikan pa 9 0 0 ikan pa 10 0 1 ikan pa 11 0 0 ikan pa 12 0 0 ikan pa 13 0 2 ikan pa 14 0 0 ikan pa 15 0 0 ikan pa 16 0 0 ikan pa 17 0 0 ikan pa 18 0 1 ikan pa 19 0 1 ikan pa 20 0 0 ikan pa 21 0 0 ikan pa 22 0 1 ikan pa 23 0 0 ikan pa 24 2 2 91 Lampiran 5 (Lanjutan) Uji kenormalan dengan menggunakan MINITAB4. Hasil tangkapan lobster ekor sebelum transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik Lobster ekor berikut ; Probability Plot of lobsterekor Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 0.3403 0.8292 144 0.067 0.108 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -3 -2 -1 0 1 2 lobsterekor 3 4 5 6 Hasil transformasi kemudian diuji kenormalan maka didapat hasil pada grafik Lobster ekor berikut: Probability Plot of lobsterekor trans Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 0.0 0.5 1.0 1.5 lobsterekor trans 2.0 2.5 0.8565 0.3278 144 0.474 <0.010 92 Lampiran 5 (Lanjutan) Hasil tangkapan total sebelum transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik total ekor berikut ; Probability Plot of total_ekor Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 0.8681 1.313 144 0.134 <0.010 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -4 -2 0 2 total_ekor 4 6 Hasil tangkapan total setelah transformasi di uji kenormalan maka didapat hasil pada grafik total ekor berikut ; Probability Plot of total_ekor_1 Normal 99.9 Mean StDev N KS P-Value 99 Percent 95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 0.1 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 total_ekor_1 2.0 2.5 1.066 0.4831 144 0.063 >0.150 93 Lampiran 5 (Lanjutan) HASIL ANALISIS RAGAM-RAL totalekor Dependent Variable: totalekor Sumber DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F 5 7.37104770 1.47420954 7.82 <.0001 Galat 138 26.00430914 0.18843702 Total koreksi 143 33.37535685 Model Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F umpan 1 0.56805404 0.56805404 3.01 0.0848 bubu 2 6.35642157 3.17821079 16.87 <.0001 umpan*bubu 2 0.44657209 0.22328604 1.18 0.3089 Setelah dilakukan transformasi dan dilakukan uji keseluruhan dengan ujiF, maka terlihat bahwa untuk semua faktor berpengaruh nyata (p-value = 0001< 0.05) terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5%. Dari hasil analisis ragam, terlihat bahwa jenis umpan tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan lobster, namun bubu berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster, dan interaksi antara umpan dan bubu tidak berpengaruh terhadap hasil penangkapan lobster pada taraf nyata 5% Karena p–value = 0.0848> 0.05 pada jenis umpan, p–value = <.0001<0.05 pada jenis bubu, serta p–value = 0.3089>0.05 pada interaksi antara umpan dan bubu karena model berpengaruh terhadap hasil penangkapan lobster, maka dilakukan uji lanjut (uji Duncan), terhadap masing – masing faktor ( Jenis Umpan dan Jenis Bubu) pada masing – masing taraf ( Jenis Umpan : Ikan dan Kanikil ; Jenis Bubu : ps dan s dan pa. 94 Lampiran 5 (Lanjutan) Duncan Grouping Mean N bubu A 1.36177 48 s B 0.94231 48 ps 0.89382 48 pa B B Dari hasil pengujian dengan uji Duncan, terlihat bahwa ketiga jenis bubu berbeda nyata pada taraf nyata 5%. Karena jenis Bubu berbeda satu sama lain, maka dapat dipilih Jenis bubu yang paling baik. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah jenis bubu s, karena memiliki rataan (1.36177) hasil penangkapan lobster yang lebih besar dari rataan (0.94231) Jenis Bubu ps dan pa (0.89382) 95 Lampiran 5 (Lanjutan) Analisis Non-Parametrik Menggunakan MINITAB dengan menggunakan Analisis Non-Parametrik Kruskal Wallis. Masukkan data ke dalam worksheet dengan format sebagai berikut. Umpan bubu Ulangan Lobsterekor Interaksi Kanikil ps 1 0 KanikilPS Kanikil ps 2 0 KanikilPS Kanikil ps 3 0 KanikilPS Kanikil ps 4 0 KanikilPS Kanikil ps 5 0 KanikilPS Kanikil ps 6 1 KanikilPS Kanikil ps 7 1 KanikilPS Kanikil ps 8 1 KanikilPS Kanikil ps 9 0 KanikilPS Kanikil ps 10 0 KanikilPS Kanikil ps 11 0 KanikilPS Kanikil ps 12 0 KanikilPS Kanikil ps 13 0 KanikilPS Kanikil ps 14 0 KanikilPS Kanikil ps 15 1 KanikilPS Kanikil ps 16 0 KanikilPS Kanikil ps 17 0 KanikilPS Kanikil ps 18 1 KanikilPS Kanikil ps 19 0 KanikilPS Kanikil ps 20 1 KanikilPS Kanikil s 1 3 KanikilS Kanikil s 2 0 KanikilS Kanikil s 3 0 KanikilS Kanikil s 4 0 KanikilS Kanikil s 5 1 KanikilS Kanikil s 6 0 KanikilS Kanikil s 7 0 KanikilS Kanikil s 8 1 KanikilS Kanikil s 9 1 KanikilS Kanikil s 10 1 KanikilS Kanikil s 11 2 KanikilS Kanikil s 12 2 KanikilS Kanikil s 13 1 KanikilS Kanikil s 14 1 KanikilS Kanikil s 15 0 KanikilS Kanikil s 16 0 KanikilS 96 Kanikil s 17 0 KanikilS Kanikil s 18 0 KanikilS Kanikil s 19 0 KanikilS Kanikil s 20 3 KanikilS Kanikil pa 1 0 KanikilPA Kanikil pa 2 0 KanikilPA Kanikil pa 3 0 KanikilPA Kanikil pa 4 0 KanikilPA Kanikil pa 5 0 KanikilPA Kanikil pa 6 0 KanikilPA Kanikil pa 7 0 KanikilPA Kanikil pa 8 0 KanikilPA Kanikil pa 9 0 KanikilPA Kanikil pa 10 0 KanikilPA Kanikil pa 11 0 KanikilPA Kanikil pa 12 0 KanikilPA Kanikil pa 13 0 KanikilPA Kanikil pa 14 0 KanikilPA Kanikil pa 15 0 KanikilPA Kanikil pa 16 0 KanikilPA Kanikil pa 17 0 KanikilPA Kanikil pa 18 0 KanikilPA Kanikil pa 19 0 KanikilPA Kanikil pa 20 0 KanikilPA ikan ps 1 0 IkanPS ikan ps 2 0 IkanPS ikan ps 3 0 IkanPS ikan ps 4 0 IkanPS ikan ps 5 0 IkanPS ikan ps 6 0 IkanPS ikan ps 7 0 IkanPS ikan ps 8 0 IkanPS ikan ps 9 1 IkanPS ikan ps 10 0 IkanPS ikan ps 11 0 IkanPS ikan ps 12 0 IkanPS ikan ps 13 0 IkanPS ikan ps 14 0 IkanPS ikan ps 15 0 IkanPS ikan ps 16 1 IkanPS ikan ps 17 1 IkanPS ikan ps 18 0 IkanPS ikan ps 19 0 IkanPS 97 ikan ps 20 0 IkanPS ikan s 1 0 IkanS ikan s 2 1 IkanS ikan s 3 2 IkanS ikan s 4 1 IkanS ikan s 5 0 IkanS ikan s 6 0 IkanS ikan s 7 0 IkanS ikan s 8 0 IkanS ikan s 9 0 IkanS ikan s 10 0 IkanS ikan s 11 0 IkanS ikan s 12 0 IkanS ikan s 13 0 IkanS ikan s 14 0 IkanS ikan s 15 0 IkanS ikan s 16 1 IkanS ikan s 17 0 IkanS ikan s 18 0 IkanS ikan s 19 1 IkanS ikan s 20 0 IkanS ikan pa 1 0 IkanPA ikan pa 2 0 IkanPA ikan pa 3 0 IkanPA ikan pa 4 0 IkanPA ikan pa 5 0 IkanPA ikan pa 6 0 IkanPA ikan pa 7 0 IkanPA ikan pa 8 0 IkanPA ikan pa 9 0 IkanPA ikan pa 10 0 IkanPA ikan pa 11 0 IkanPA ikan pa 12 0 IkanPA ikan pa 13 0 IkanPA ikan pa 14 0 IkanPA ikan pa 15 0 IkanPA ikan pa 16 0 IkanPA ikan pa 17 1 IkanPA ikan pa 18 0 IkanPA ikan pa 19 0 IkanPA ikan pa 20 0 IkanPA 98 Lampiran 5 (Lanjutan) Catatan : interaksi menyatakan interaksi jenis bubu dengan jenis umpan, “IkanPA” berarti interaksi jenis umpan ikan dengan jenis bubu PA. Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus bubu Kruskal-Wallis Test on lobsterekor bubu pa ps s Overall N 48 48 48 144 Median 0.000000000 0.000000000 0.000000000 Ave Rank 65.3 68.6 83.6 72.5 H = 5.21 DF = 2 P = 0.074 H = 10.66 DF = 2 P = 0.005 Z -1.46 -0.79 2.25 (adjusted for ties) Adjusted for ties (menyatakan koreksi untuk aka sama), nilai tersebut yang digunakan untuk menyimpulkan hasil. Tolah H0 jika : H > α2 atau P-Value < α χα2 berdasarkan pada p-1 degrees of freedom, nilai diambil dari table Chisquare (χ2). Nilai α = 0,05, DF (degree of freedom) = 2 maka didapat hasil χα2 dari table χ2 = 5,9915, oleh karena itu H = 10,66 > 5,9915 = χα2 maka tolah H0 = = dari masing masing bubu memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. P-Value = 0,005 < α = 0,05 berarti tolak H0 = dari masing masing bubu memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Terlihat pada rangking rata-rata terbesar hingga paling kecil dari masingmasing jenis bubu yaitu bubu S = 83,6 > PS = 68,6 > PA = 65,3. Dilanjutkan dengan Uji Perbandingan Berganda (Uji z) yang juga menyatakan S > PS > PA. Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus umpan Kruskal-Wallis Test on lobsterekor umpan ikan kanikil Overall H = 0.02 H = 0.05 N 72 72 144 Median 0.000000000 0.000000000 DF = 1 DF = 1 P = 0.875 P = 0.821 Ave Rank 72.0 73.0 72.5 Z -0.16 0.16 (adjusted for ties) ) H = 0,5 < 3,8415 = χα2 dan P-Value = 0,821 > α = 0,05, berarti terima H0 = dari masing masing umpan sangat tidak memiliki perbedaan yang nyata dalam jumlah hasil tangkapan lobster. Ranking rata-rata umpan kanikil > umpan ikan (73,0>72,0), karena perbedaan tersebut tidak berbeda nyata jadi dari kedua jenis umpan memiliki kemampuan yang sama dalam penangkapan lobster. 99 Lampiran 5 (Lanjutan) Kruskal-Wallis Test: lobsterekor versus interaksi Kruskal-Wallis Test on lobsterekor interaksi ikanpa ikanps ikans kanikilpa kanikilps kanikils Overall N 24 24 24 24 24 24 144 Median 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 0.000000000 H = 5.34 DF = 5 P = 0.375 H = 10.93 DF = 5 P = 0.053 Ave Rank 64.0 67.3 84.6 66.7 70.0 82.5 72.5 Z -1.10 -0.68 1.56 -0.75 -0.33 1.29 (adjusted for ties) H = 10,93 < 11,0705 = χα2 dan P-Value = 0,053 > α = 0,05, berarti tolak H0 = bubu dan umpan tidak memiliki interaksi yang berpengaruh nyata dalam hasil tangkapan lobster. Rangking rata-rata dari yang terbesar hingga paling kecil S Ikan = 84,6, S Kanikil = 82,5, PS Kanikil =70,0 PS Ikan = 67,3, PA kanikil = 66,7, dan PA Ikan = 64,0, Lampiran 5 ( Lanjutan) 100 Lampiran 6 Rangkaian bubu saat operasi Lampiran 7. Dokumentasi Kegiatan Penelitian Pemasangan Umpan Ikan Tembang Sumber : Dokumentasi penelitian Pemasangan Umpan Kanikil Sumber : Dokumentasi penelitian Persiapan Operasi Penelitian (Perahu sebagai sarana angkut dan transportasi) Sumber : Dokumentasi penelitian 101 Lampiran 7 (Lanjutan) Menuju Lokasi Penangkapan (Fishing ground) Pemasangan alat tangkap (setting) Sumber : Dokumentasi penelitian Sumber : Dokumentasi penelitian Pengangkatan alat tangkap (hauling) Sumber : Dokumentasi penelitian Penanganan Hasil Tangkapan Sumber : Dokumentasi penelitian 102 Lampiran 8 Foto Hasil tangkapan Spiny lobster dan Hasil tangkapan sampingan Nama lokal : Udang Barong Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Indonesia : Lobster Mutiara Nama Inggris : Scalloped Spiny Lobster Nama Inggris : Ornate Rock Lobster Nama Latin : Panulirus homarus Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Inggris : Painted Rock Lobster Nama Latin : Panulirus versicolor Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama Latin : Panulirus ornatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama lokal : Rajungan Macan Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Crucifix Crab Nama Latin : Charybdis feriatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian 103 Lampiran 8 (Lanjutan) Nama lokal : Rajungan kacan g Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Inggris : box Creb NamaLatin : Charybdis Lucifera Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Rajungan Batu Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Ridged Swimming Crab Nama Latin : Charybis natator Sumber Foto : Dokumentasi penelitian Nama lokal : Kepiting kepal Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Spotted box Crab Nama Latin : Calappa philargius Nama lokal : Kerapu balong Nama Indonesia: Kerapu lumpur Nama Inggris : Orange-spotted grou Nama Latin : Epinephelus coioides Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama Lokal : Rajungan belang titik tiga Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Blood-spotted swimming crab Nama Latin : Charybdis feriatus Sumber Foto : Dokumentasi Penelitian Nama Lokal : Cumi Batok Nama Indonesia : Sotong Nama Inggris : Cuttle fish Nama Latin : Sepia Sp Lampiran 2 (Lanjutan) Set : 16.50 – 17.20/27 September 2011 Haul : 09.50 – 10.08/28 September 2011 Lobster 2 bubu TRIP 23 Jenis Bubu No 1 S Umpan Kanikil Lobster No 1 24 gram Jenis Umpan Panulirus homarus 1 80 1 80 Total Panulirus versicolor 1 80 1 80 S Kanikil 2 160 1 160 gram ekor Lobster By-cath Jenis ekor gram Jenis Ikan Panulirus homarus 2 140 S Ikan Panulirus homarus 1 60 3 200 Sepia sp. Lobster Total ekor gram 1 bubu gram Haul : 6.55 – 7.14/29 September 2011 PA Total ekor S Kanikil ekor Set : 16.55 – 17.25/28 September 2011 Jenis Bubu Total Jenis Total TRIP By-cath ekor gram 1 bibi 1 bubu 2 bubu PA Ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu 2 140 Total 2 2 150 2 210 PA Ikan 1 bubu 2 150 4 350 S Ikan 1 bubu 81
Informasi dokumen
The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat Alat tangkap Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi Alat tangkap Keadaan Umum PPN Pelabuhanratu Armada penangkapan Keadaan Umum PPN Pelabuhanratu Bubu Lipat Modifikasi dan Bubu Lipat Standar Daur hidup dan habitat spiny lobster Deskripsi bubu lipat penelitian Deskripsi ikan tembang Sardinella fimbriatta Deskripsi Kanikil Chiton sp Hasil analisis faktorial Proses analisis data .1 Uji Kenormalan Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Sukabumi Kesimpulan The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat Klasifikasi dan morfologi Deskripsi Udang Barong Spiny Lobster Komposisi hasil tangkapan berat gram berdasarkan desain bubu Komposisi Hasil Tangkapan Berat gram berdasarkan umpan Komposisi hasil tangkapan jumlah ekor berdasarkan desain bubu Komposisi hasil tangkapan berat gram berdasarkan desain bubu Komposisi hasil tangkapan jumlah ekor berdasarkan umpan Komposisi hasil tangkapan total jumlah ekor per bubu. Komposisi hasil tangkapan total jumlah ekor per bubu. Komposisi hasil tangkapan jumlah ekor berdasarkan desain bubu Komposisi Hasil Tangkapan Total Selama Penelitian Latar Belakang The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat Manfaat Penelitian The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat Metode pengumpulan data dan pengoperasian Nelayan Armada penangkapan Alat tangkap Nelayan Keadaan Umum PPN Pelabuhanratu Pengaruh Desain Bubu dan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Total Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan Tingkah laku dan cara mencari makan Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian The Study Effectiveness of Modification one funnel on top collapsible pot and one funnel aside collapsible pot with Type Kanikil (Chiton sp) Bite on Lobsters (Panulirus spp.) Catches in Palabuhanratu, , Jawa Barat Uji Lanjut Duncan Proses analisis data .1 Uji Kenormalan Uji parameterik RAL Rancangan Acak Lengkap Umpan Kanikil Chiton sp dan Umpan Standar Ikan Tembang Waktu dan Tempat Analisis data
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

The Study Effectiveness of Modification one f..

Gratis

Feedback