Penetapan Kadar Asam Mefenamat dalam Tablet dengan Metode Alkalimetri

Gratis

144
732
42
2 years ago
Preview
Full text

  PENETAPAN KADAR ASAM MEFENAMAT DALAM TABLET DENGAN METODE ALKALIMETRI TUGAS AKHIR OLEH: EKANITHA SAHARA NIM 102410074

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik.

  Pada dasarnya tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. tugas akhir ini disusun berdasarkan apa yang penulis lakukan pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan.

  Selama menyusun tugas akhir ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1.

  Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi USU.

  2. Ibu Marianne S.Si., M.Si., Apt., yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.

  3. Bapak Drs. Saiful Bahri, MS., Apt., selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis selama melaksanakan pendidikan pada Program Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi USU.

  4. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi USU.

  5. Bapak dan Ibu dosen beserta seluruh staf di Fakultas Farmasi USU.

  6. Bapak Drs. Agus Prabowo, M.S., Apt., selaku Kepala BBPOM di Medan yang telah memberi izin pelaksanaan PKL.

7. Ibu Lambok Oktavia SR., M.Kes., Apt., selaku Koordinator Pembimbing

  PKL di BBPOM di Medan.Seluruh staf dan karyawan BBPOM di Medan yang telah membantu selama melaksanakan PKL.

  8. Ayahanda Khairul dan Ibunda Lisnawati, adik Nanda Gunawan Islami serta seluruh keluarga yang tiada henti-hentinya memberikan semangat, nasehat, dan dorongan baik moril maupun materil sehingga Tugas Akhir ini dapat diselesaikan.

  9. Sahabatku Fani, Deges, dan Dini teman sekelompok yang membantu dalam melaksanakan PKL di BBPOM di Medan serta seluruh teman-teman Analis Farmasi dan Makanan stambuk 2010. Dalam menulis tugas akhir ini penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Harapan kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini. Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi kita semua.

  Medan, Juli 2013 Penulis,

  EKANITHA SAHARA NIM 102410074

  

PENETAPAN KADAR ASAM MEFENAMAT DALAM TABLET DENGAN

METODE ALKALIMETRI

ABSTRAK

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintetis dalam dosis atau kadar tertentu dapat berguna untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnose terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan. Senyawa kimia yang digunakan untuk farmasi jika mempunyai takaran obat yang kurang tepat maka akan mendapatkan efek terapi yang tidak menguntungkan bagi pemakai obat. Penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet bertujuan untuk mengetahui apakah kadar asam mefenamat yang terdapat dalam tablet memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV. Penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet dilakukan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan. Penetapan kadar asam mefenamat didalam tablet dilakukan dengan titrasi alkalimetri. Tablet asam mefenamat yang diuji mengandung asam mefenamat, C

15 H

  15 NO 2 dengan kadar 99,75%. Dari hasil yang diperoleh, tablet asam

  mefenamat yang diuji memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat, C

  15 H

  15 NO

  2

  sesuai dengan Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV, yaitu tablet asam mefenamat mengandung asam mefenamat, C H NO tidak kurang dari 95,0%

  15

  15

  2 dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

  Kata kunci: tablet asam mefenamat, titrasi alkalimetri

  

DETERMINATION OF MEFENAMIC ACID CONCENTRATIONS IN

TABLET WITH ALKALIMETRI METHOD

  The drug is active substances derived from plant, animal, natural or synthetic chemical in certain doses or concentrations can be use to preventive (prophylaxis), rehabilitation, therapy, diagnosis of disease condition in humans and animals. A chemical compound is use for the dosage of drugs if have pharmacy which is less precise, it will get an unfavorable therapeutic effects for drug users. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet purpose to determine whether of mefenamic acid concentrations in the tablets be based requirement in the pharmacope of Indonesia suplemen I edisi IV. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet in BBPOM in Medan. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet doing with alkalimetri titration. Mefenamic acid tester concentration mefenamic acid with content is 99,75%. From the resilts retrieved, the mefenamic acid tablet in the test meets the requirement concentrations of mefenamic acid, C H NO to accordance in the

  15

  15

  2

  pharmachope of Indonesia supplement I volume IV, is mefenamic acid tablets have mefenamic acid, C H NO not less than 95,0% and not more than 105,0%

  15

  15

  2 of the amount stamped on the etiquette.

  Keywords: mefenamic acid tablet, titration alkalimetri

  DAFTAR ISI

  2.2. Tablet Asam Mefenamat ....................................................... 5

  2.3.1.2 Larutan Baku ................................................. 15

  2.3.1.1 Titrasi Asam-basa (asidi-alkalimetri) ............ 14

  2.3.1 Titrimetri ..................................................................... 11

  2.3 Penetapan Kadar Asam Mefenamat ...................................... 11

  2.2.3 Persyaratan Kadar ........................................................ 11

  2.2.2 Asam Mefenamat ........................................................ 7

  2.2.1 Tablet ........................................................................... 5

  2.1.2 Bentuk-bentuk Sediaan Obat ....................................... 4

  Halaman Lembar Judul .............................................................................................. i Lembar Pengesahan ................................................................................... ii Kata Pengantar ........................................................................................... iii Abstrak ....................................................................................................... v Daftar isi ..................................................................................................... vi Daftar Lampiran ......................................................................................... viii

  2.1.1 Klasifikasi Obat Menurut Sistem Fisiologis Tubuh .... 4

  2.1 Obat ....................................................................................... 4

  BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 4

  1.3 Manfaat ................................................................................. 3

  1.2 Tujuan ................................................................................... 3

  1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1

  BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1

  2.3.2 Spektrometri Visibel .................................................... 15

  2.3.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ............................... 16

  BAB III METODE PENGUJIAN .............................................................. 17

  3.1 Tempat Pengujian ................................................................. 17

  3.2 Alat dan Bahan ...................................................................... 17

  3.3 Prosedur Pengujian ............................................................... 17

  3.3.1 Pembakuan NaOH ....................................................... 17

  3.3.2 Penetapan Kadar Asam Mefenamat ............................ 18

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 19

  4.1 Hasil ...................................................................................... 19

  4.2 Pembahasan .......................................................................... 19

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 21

  5.1 Kesimpulan ........................................................................... 21

  5.2 Saran ..................................................................................... 21 Daftar Pustaka ............................................................................................ 22

DAFTAR LAMPIRAN

  Halaman Lampiran 1. Data Sampel ........................................................................... 24 Lampiran 2. Data Penimbangan dan Perhitungan ...................................... 25 Lampiran 3. Gambar Alat dan Bahan ........................................................ 27

  

DAFTAR GAMBAR

  Halaman Gambar 1. Struktur Bangun Asam Mefenamat ........................................... 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintetis dalam dosis atau kadar tertentu dapat berguna untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnose terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan (Jas, 2004).

  Meskipun obat dapat menyembuhkan penyakit, tetapi masih banyak juga orang yang menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu, dapat dikatakan obat dapat bersifat sebagai obat dan dapat juga bersifat sebagai racun. Obat itu akan bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi apabila obat salah digunakan dalam pengobatan atau dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan keracunan dan bila dosisnya kecil tidak akan memperoleh penyembuhan (Anief, 1991).

  Senyawa kimia yang digunakan untuk farmasi mempunyai persyaratan kemurnian yang lebih berat, karena khusus akan digunakan untuk pengobatan pada manusia atau hewan. Misalnya ketidakmurnian bahan farmasi dapat menimbulkan efek samping dan pemberian takaran obat yang kurang tepat untuk mendapatkan efek terapi yang tidak menguntungkan pemakai obat. oleh karena itu untuk sediaan farmasi, ada uji yang harus dipenuhi agar pemeriksaan dapat memberikan jaminan mengenai efikasi potensi dan keamanan pemakaian (Satiadarma, dkk, 2004).

  Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapeutik yang diharapkan. Salah satu persyaratan mutu adalah kadar yang dikandung harus memenuhi persyaratan kadar seperti yang tercantum Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya (Depkes RI, 2009).

  Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek struktur, kualitatif, dan kuantitatif dari suatu senyawa obat. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolut atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada didalam sampel (Rohman dan Sudjadi, 2007).

  Fungsi analisis adalah untuk mengungkapkan identitas dan kadar senyawa aktif yang terkandung dalam bahan atau sediaan, baik senyawa utama, senyawa tambahan atau senyawa lainnya apapun yang mencemari (Satiadarma, dkk, 2004).

  Titrimetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat kimia yang luas pemakaiannya. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. Pada satu segi cara ini menguntungkan karena pelaksanaanya mudah dan cepat, ketelitian, dan ketepatannya cukup tinggi. Pada segi lain cara ini menguntungkan karena dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat (Rivai, 1995).

  Pada akhirnya harus diambil kesimpulan terhadap sampel yang dianalisis apakah memenuhi persyaratan atau tidak. Kadar yang ditemukan, cara penetapan kadar, dan persyaratan kadar menurut peraturan yang berlaku harus disampaikan apa adanya. Kadar hanya merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi, disamping persyaratan yang lain seperti keseragaman bobot, kekerasan tablet, waktu hancur, warna, dan bentuk tampilan (Sudjadi dan Rohman, 2008).

  Maka tugas akhir ini berjudul “Penetapan Kadar Asam Mefenamat

  

dalam Tablet dengan Metode Alkalimetri“. Adapun pengujian dilakukan

  selama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan.

  Analisis penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet dilakukan secara titrasi asam-basa karena merupakan cara yang terdapat di dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi IV. Selain itu cara ini juga merupakan cara yang sederhana, penyiapan sampelnya mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

  1.2 Tujuan

  Adapun tujuan dari penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet adalah untuk mengetahui apakah kadar asam mefenamat yang terdapat dalam tablet memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi IV.

  1.3 Manfaat

  Manfaat yang diperoleh dari penetapan kadar asam mefenamat di dalam tablet asam mefenamat adalah agar dapat mengetahui bahwa tablet asam mefenamat yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi

  IV sehingga obat tersebut layak dikonsumsi dan dapat mencapai efek farmakologi yang diinginkan.

  

PENETAPAN KADAR ASAM MEFENAMAT DALAM TABLET DENGAN

METODE ALKALIMETRI

ABSTRAK

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintetis dalam dosis atau kadar tertentu dapat berguna untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnose terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan. Senyawa kimia yang digunakan untuk farmasi jika mempunyai takaran obat yang kurang tepat maka akan mendapatkan efek terapi yang tidak menguntungkan bagi pemakai obat. Penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet bertujuan untuk mengetahui apakah kadar asam mefenamat yang terdapat dalam tablet memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV. Penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet dilakukan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan. Penetapan kadar asam mefenamat didalam tablet dilakukan dengan titrasi alkalimetri. Tablet asam mefenamat yang diuji mengandung asam mefenamat, C

15 H

  15 NO 2 dengan kadar 99,75%. Dari hasil yang diperoleh, tablet asam

  mefenamat yang diuji memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat, C

  15 H

  15 NO

  2

  sesuai dengan Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV, yaitu tablet asam mefenamat mengandung asam mefenamat, C H NO tidak kurang dari 95,0%

  15

  15

  2 dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

  Kata kunci: tablet asam mefenamat, titrasi alkalimetri

  

DETERMINATION OF MEFENAMIC ACID CONCENTRATIONS IN

TABLET WITH ALKALIMETRI METHOD

  The drug is active substances derived from plant, animal, natural or synthetic chemical in certain doses or concentrations can be use to preventive (prophylaxis), rehabilitation, therapy, diagnosis of disease condition in humans and animals. A chemical compound is use for the dosage of drugs if have pharmacy which is less precise, it will get an unfavorable therapeutic effects for drug users. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet purpose to determine whether of mefenamic acid concentrations in the tablets be based requirement in the pharmacope of Indonesia suplemen I edisi IV. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet in BBPOM in Medan. Determination of mefenamic acid concentrations in tablet doing with alkalimetri titration. Mefenamic acid tester concentration mefenamic acid with content is 99,75%. From the resilts retrieved, the mefenamic acid tablet in the test meets the requirement concentrations of mefenamic acid, C H NO to accordance in the

  15

  15

  2

  pharmachope of Indonesia supplement I volume IV, is mefenamic acid tablets have mefenamic acid, C H NO not less than 95,0% and not more than 105,0%

  15

  15

  2 of the amount stamped on the etiquette.

  Keywords: mefenamic acid tablet, titration alkalimetri

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintetis dalam dosis atau kadar tertentu dapat berguna untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnose terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan (Jas, 2004).

  Meskipun obat dapat menyembuhkan penyakit, tetapi masih banyak juga orang yang menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu, dapat dikatakan obat dapat bersifat sebagai obat dan dapat juga bersifat sebagai racun. Obat itu akan bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi apabila obat salah digunakan dalam pengobatan atau dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan keracunan dan bila dosisnya kecil tidak akan memperoleh penyembuhan (Anief, 1991).

  Senyawa kimia yang digunakan untuk farmasi mempunyai persyaratan kemurnian yang lebih berat, karena khusus akan digunakan untuk pengobatan pada manusia atau hewan. Misalnya ketidakmurnian bahan farmasi dapat menimbulkan efek samping dan pemberian takaran obat yang kurang tepat untuk mendapatkan efek terapi yang tidak menguntungkan pemakai obat. oleh karena itu untuk sediaan farmasi, ada uji yang harus dipenuhi agar pemeriksaan dapat memberikan jaminan mengenai efikasi potensi dan keamanan pemakaian (Satiadarma, dkk, 2004).

  Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapeutik yang diharapkan. Salah satu persyaratan mutu adalah kadar yang dikandung harus memenuhi persyaratan kadar seperti yang tercantum Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya (Depkes RI, 2009).

  Kimia farmasi analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek struktur, kualitatif, dan kuantitatif dari suatu senyawa obat. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolut atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada didalam sampel (Rohman dan Sudjadi, 2007).

  Fungsi analisis adalah untuk mengungkapkan identitas dan kadar senyawa aktif yang terkandung dalam bahan atau sediaan, baik senyawa utama, senyawa tambahan atau senyawa lainnya apapun yang mencemari (Satiadarma, dkk, 2004).

  Titrimetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat kimia yang luas pemakaiannya. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. Pada satu segi cara ini menguntungkan karena pelaksanaanya mudah dan cepat, ketelitian, dan ketepatannya cukup tinggi. Pada segi lain cara ini menguntungkan karena dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat (Rivai, 1995).

  Pada akhirnya harus diambil kesimpulan terhadap sampel yang dianalisis apakah memenuhi persyaratan atau tidak. Kadar yang ditemukan, cara penetapan kadar, dan persyaratan kadar menurut peraturan yang berlaku harus disampaikan apa adanya. Kadar hanya merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi, disamping persyaratan yang lain seperti keseragaman bobot, kekerasan tablet, waktu hancur, warna, dan bentuk tampilan (Sudjadi dan Rohman, 2008).

  Maka tugas akhir ini berjudul “Penetapan Kadar Asam Mefenamat

  

dalam Tablet dengan Metode Alkalimetri“. Adapun pengujian dilakukan

  selama penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan.

  Analisis penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet dilakukan secara titrasi asam-basa karena merupakan cara yang terdapat di dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi IV. Selain itu cara ini juga merupakan cara yang sederhana, penyiapan sampelnya mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

  1.2 Tujuan

  Adapun tujuan dari penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet adalah untuk mengetahui apakah kadar asam mefenamat yang terdapat dalam tablet memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi IV.

  1.3 Manfaat

  Manfaat yang diperoleh dari penetapan kadar asam mefenamat di dalam tablet asam mefenamat adalah agar dapat mengetahui bahwa tablet asam mefenamat yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Suplemen I Edisi

  IV sehingga obat tersebut layak dikonsumsi dan dapat mencapai efek farmakologi yang diinginkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Obat

  Obat adalah zat aktif berasal dari nabati, hewani, kimiawi alam maupun sintetis dalam dosis atau kadar tertentu dapat berguna untuk preventif (profilaksis), rehabilitasi, terapi, diagnose terhadap suatu keadaan penyakit pada manusia maupun hewan (Jas, 2004).

  2.1.1. Klasifikasi Obat

  Obat dapat diklasifikan berdasarkan sistem fisiologi tubuh yang menjadi terapi obat maupun kesamaan efek farmakologi. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut: 1.

  Obat yang mempengaruhi sistem syarat otonom 2. Obat yang mempengaruhi sistem syaraf pusat 3. Obat yang bekerja pada sistem kardiovaskuler 4. Obat yang bekerja pada sistem endokrin 5. Analgetik dan antiinflamasi, imunosupresan dan antihistamin 6. Kemoterapeutika (Nugroho, 2012).

  2.1.2. Bentuk-bentuk Sediaan Obat 1.

  Sediaan cair per-oral: solutions, sirupus, susupensi, emulsi, guttae 2. Sediaan padat per-oral: pilulae, tablet, pulveres, pulvis, kapsul 3. Sediaan yang digunakan pada mukosa tubuh:

  • Mata : tetes mata, salep mata, cuci mata, kompres mata
  • Telinga: tetes telinga, pulvis auric,
  • Hidung: Guttae nasals, Nasal spray
  • Mulut dan tenggorokan: Collutorium, Gargarism 4.

  Sediaan obat topical: Pulvis, Pasta, Cream, Jelly, Lotiones 5. Sediaan parental (Injectionem): Solusio, Suspensi, Emulsi (Jas, 2004).

  2.2 Tablet Asam Mefenamat

  2.2.1 Tablet

  Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat tau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pembasah (Anief, 1994).

  Untuk membuat tablet digunakan zat tambahan berupa : 1. Zat pengisi dimasukkan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan saccharum lactis, amylum manihot, calcii phoshas, calcii

  carbonas dan zat lain yang cocok.

  2. Zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat.

  Biasanya yang digunakan adalah mucilage gummi arabici 10-20% (panas), solutio methyl cellulosum 5%.

  3. Zat penghancur, dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya

  yang digunakan adalah amylum manihot kering, gelatium, agar-agar, natrium alginat.

  4. Zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya

  digunakan talcum 5%, Magnesii stearas, Acidum Stearinicum (Anief, 1994).

  Tablet terdiri dari beberapa bentuk, antara lain: Bentuk bulat dan rata (bikonvek), Bentuk cembung (bikonkaf), Bentuk oval (bulat telur), Bentuk

  

triangle (segitiga), segi lima dan seterusnya, Bentuk kapsul disebut kaplet

(Jas, 2004).

  Untuk menjamin mutu sediaan obat, maka tablet harus memenuhi persyaratan, antara lain:

  1. Memenuhi keseragaman ukuran

  1 Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 / 3 tebal tablet.

  2. Memenuhi keseragaman bobot 3.

  Memenuhi waktu hancur Bila tidak dinyatakan lain waktu tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula atau salut selaput.

  4. Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat 5.

  Memenuhi waktu larut (dissolution test) Penyimpanan tablet dilakukan dalam wadah tertutup rapat, ditempat yang sejuk dan terlindung cahaya. Wadah yang digunakan harus diberi etiket. Dalam etiket wadah atau kemasan tablet harus disebutkan: 1.

  Nama tablet atau nama zat berkhasiat 2. Jumlah zat atau zat-zat yang berkhasiat dalam tiap tablet (Anief, 1994).

2.2.2 Asam Mefenamat

  :

  Rumus umum

  COOH NH

CH CH

3 3 Rumus molekul : C

  15 H

  15 NO

  2 Nama Kimia : Asam N-2,3-xililantranilat (61-68-7)

  Berat molekul : 241,29 Pemerian : Serbuk hablur, putih atau hamper putih, melebur pada suhu lebih kurang 230° disertai peruraian Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam kloroform, sukar larut dalam metanol dan etanol, praktis tidak larut dalam air (Depkes RI, 1995).

  Asam mefenamat dan asam flufenamat, serta asam tofenamat merupakan obat kelompok asam fenamat. Obat-obat ini termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non steroidal anti-inflammatory drugs). Obat ini digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit kepala atau menjelang haid. Asam bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgetik, anti-inflamasi dan antipiretik (Rohman, 2012).

  Efek samping dari asam mefenamat dapat berupa diare, memperhebat gejala asma, dan kemungkinan gangguan ginjal dan sumsum tulang (FK USU, 1973).

  Asam mefenamat merupakan turunan dari asam antranilat. Asam antranilat yang disubtitusikan dengan aromatik pada N telah digunakan dalam terapi sebagai anti flogistika dan analgetika bertahun-tahun yang lalu. Turunan ini dapat dianggap sebagai perkembangan lanjut dari turunan anilin yang bekerja analgetika

  ®

  klasik. Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika (Parkemed ), dan

  ® antireumatika (Ponalar ), dengan dosis harian 1500 mg (Mutschler, 1991).

  Asam mefenamat, mempunyai tiga efek farmakologi, yaitu: 1. Anti-inflamasi

  Asam mefenamat adalah salah satu obat yang tergolong kedalam obat anti- inflamasi non steroid (NSAID). Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim siklooksigenase-1 (COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2). Enzim siklooksigenase berperan dalam menghasilkan prostaglandin dan tromboksan dari asam arakidonat. Prostaglandin merupakan mediator pada proses inflamasi (radang) (Nugroho, 2012).

  Obat antiinflamasi utama adalah non steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) dan glukokortikoid. NSAIDs merupakan obat antiinflamasi yang paling banyak digunakan. Obat NSAIDs mempunyai tiga tipe efek farmakologi yaitu antiinflamasi, analgetik, dan antipiretik. Obat ini bereaksi dengan menghambat enzim siklooksigenase, selanjutnya terjadi penghambatan pada produksi prostaglandin dan trombosan. Obat NSAIDs generasi awal menghambat baik pada COX-1 dan COX-2, bahkan lebih dominan menghambat COX-1. Ini mempunyai konsekuensi menghasilkan efek samping iritasi lambung. Perkembangan berikutnya diarahkan NSAIDs yang bekerja lebih selektif terhadap COX-2, yang hanya terekspresi pada sel inflamasi (Nugroho, 2012).

  Efek antiinflamasi berkaitan dengan penghambatan pada manifestasi inflamasi yaitu vasodilatasi, edema dan nyeri. Manifestasi inflamasi tersebut diperantarai oleh mediator-mediator yang merupakan produk dari aksi COX-2. NSAIDs beraksi menghambat COX menurunkan produksi vasodilator prostaglandin (PGE

  2 dan PGI 2 ), sehingga menurunkan vasidilatasi, kemudian

  menurunkan edema yang terjadi. Lebih lanjut, akumulasi sel inflamasi akan berkurang (Nugroho, 2012).

2. Analgesik (analgetik)

  Analgesik (analgetik) merupakan obat mengurangi rasa nyeri. Nyeri yang bersifat akut juga dinamakan dengan nosisepsi. Nyeri sendiri merupakan perasaan dan pengalaman emosional yg tidak menyenangkan yg berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan. Nyeri merupakan gejala suatu penyakit atau adanya kerusakan jaringan dalam tubuh. Nyeri disebabkan karena stimulasi mekanik, kimia, panas, listrik yang menyebabkan kerusakan sel yang kemudian melepaskan mediator nyeri. Bila rangsangan tersebut melampaui ambangan nyeri maka penderita akan merasakan nyeri. Nyeri bersifat subjektif, artinya kualitas dan tingkatan nyeri tiap indivindu berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan nilai ambang nyeri tiap indivindu. Analgesik merupakan obat yang berfungsi meningkatkan ambang nyeri penderita sehingga memungkinkan penderita untuk tidak merasakan nyeri. Namun, sebenarnya nyeri merupakan sinyal bagi tubuh atau otak bahwa telah terjadi kerusakan jaringan (Nugroho, 2012).

  Asam mefenamat yang tergolong dalam NSAIDs termasuk analgesik karena menghambat salah satu manifestasi yaitu nyeri. Pada reaksi inflamasi, prostaglandin mensensitisasi nosiseptor (reseptor nyeri) terhadap mediator nyeri yaitu bradikinin atau 5-hidroksitriptamin. Secara klinik NSAIDs digunakan untuk kasus nyeri ringan hingga moderat seperti arthritis, sakit gigi, pusing, dismenorea (haid) (Sudjadi dan Rohman, 2012).

3. Antipiretik

  Suhu tubuh diatur oleh pusat keseimbangan panas di hipotalamus. Pusat keseimbangan tersebut ibarat suatu thermostat. Kondisi demam (panas) diakibatkan terjadinya gangguan pengaturan keseimbangan panas di hipotalamus tersebut mengakibatkan kenaikan suhu tubuh. Pada reaksi inflamasi, bakteri endotoksin menyebabkan pelepasan pirogen yaitu IL-1 dan makrofag, yang menyebabkan produksi PGE yang dapat mengubah pengaturan suhu menjadi meningkat. Berkaitan dengan produksi PGE tersebut, COX-2 dan COX-3 berperan dalam patofisiologis demam. NSAIDs berperan menurunkan panas dengan menghambat produksi PGE tersebut, namun, pada kondisi normal NSAIDs tersebut tidak menurunkan suhu tubuh. Artinya, NSAIDs berperan dalam mengatur kembali keseimbangan panas pada demam (Sudjadi dan Rohman, 2012).

2.2.3. Persyaratan kadar

  Tablet asam mefenamat mengandung asam mefenamat, C

  15 H

  15 NO 2 tidak

  kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket (DepKes RI, 2009).

2.3 Penetapan kadar asam mefenamat

2.3.1 Titrimetri

  Titrimetri atau analisis volumetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat kimia yang luas pemakaiannya. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan.

  Pada satu segi cara ini menguntungkan karena pelaksanaanya mudah dan cepat, ketelitian, dan ketepatannya cukup tinggi. Pada segi lain cara ini menguntungkan karena dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat yang mempunyai sifat yang berbeda-beda (Rivai, 1995).

  Pada dasarnya cara titrimetri ini terdiri dari pengukuran volume larutan pereaksi yang dibutuhkan untuk bereaksi secara stoikiometri dengan zat yang akan ditentukan. Larutan pereaksi itu biasanya diketahui kepekatannya dengan pasti, dan disebut pentiter atau larutan baku. Sedangkan proses penambahan pentiter dengan kedalam larutan zat yang akan ditentukan disebut titrasi. Dalam proses satu bagian demi bagian pentiter ditambahkan kedalam larutan zat yang akan ditentukan dengan bantuan alat yang disebut biuret sampai tercapai titik kesetaraan. Titik kesetaraan adalah titik pada saat pereaksi dan zat yang ditentukan bereaksi sempurna secara stoikiometri. Titrasi harus dihentikan pada atau dekat titik kesetaraan ini. Jumlah volume pentiter yang dipakai untuk mencapai titik kesetaraan disebut volume kesetaraan. Dengan mengetahui volume kesetaraan, kadar pentiter dan stoikiometri, maka jumlah zat yang ditentukan dapat dihitung dengan mudah (Rivai, 1995).

  Disekitar titik kesetaraan, sebagai akibat dari interaksi antara zat yang ditentukkan dan pentiter, sifat-sifat sistem berubah dengan tajam. Sifat-sifat yang berubah itu dapat berupa sifat optik, sifat kimia atau sifat elektrokimia. Perubahan sifat-sifat itu dapat digunakan untuk menetapkan letak titik kesetaraan tersebut.

  Dalam praktik titik kesetaraan itu ditentukan dengan berbagai cara, tergantung pada sifat reaksinya. Biasanya, titik kesetaraan tidak disertai oleh perubahan sifat yang daapat dilihat. Karena itu diperlukan zat tambahan yang dapat menunjukkan perubahan yang dapat dilihat pada atau dekat titik kesetaran. Zat tambahan itu disebut indikator. Indikator ini berubah warnanya disekitar titik kesetaraan (Rivai, 1995).

  Karena biasanya indikator adalah senyawa yang sangat jelas warnanya, maka ia harus ditambahkan dalam bentuk larutan yang sangat encer. Dengan demikian kehadiran indikator dalam sistem tidak atau hanya sedikit berpengaruh pada volume kesetaraan titrasi. Saat terjadi perubahan wana indikator dalam proses titrasi disebut titik akhir titrasi. Pada saat titik akhir ini tercapai, titrasi harus dihentikan. Biasanya titik akhir titrasi tidak tepat sama dengan titik kesetaraan. Maka kecil perbedaan antara titik akhir titrasi dan titik kesetaraan, makin kecil kesalahan titrasi (Rivai, 1995).

  Dalam pemeriksaan kimia secara titrimetri, dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:

  1. Titrasi asam-basa didasarkan pada reaksi perpindahan proton antar senyawa yang mempunyai sifat-sifat asam atau basa (protolisis) (Rivai, 1995).

  Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa- senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa (Rohman, 2007).

  Untuk titrasi basa digunakan baku asam kuat, misalnya HCl, H

  2 SO 4 , HClO 4 ,

  sedangkan asam dititrasi dengan larutan baku basa kuat, misalnya NaOH, KOH, tetra-alkilamonium hidroksida. Dengan cara titrasi asam-basa, berbagai senyawa organik dan senyawa anorganik dapat ditentukan dengan mudah.

  Penentuan senyawa-senyawa tersebut biasanya dilakukan dalam larutan berair, tetapi larutan nirair dapat juga digunakan, terutama untuk analisis senyawa-senyawa organik. Titik akhir titrasi ditetapkan dengan bantuan indikator asam-basa yang sesuai.

  2. Titrasi kompleksometri didasarkan pada reaksi zat-zat pengompleks organik tertentu dengan ion-ion logam, menghasilkan senyawa kompleks yang mantab. Zat pengompleks yang paling sering digunakan adalah asam etilendiaminatetra-asetat (EDTA), yang membentuk senyawa kompleks yang mantab dengan beberapa ion logam.

  3. Titrasi pengendapan didasarkan pada pembentukan endapan yang sukar larut.

  Misalnya, ion-ion halida (kecuali fluorida) sering digunakan dengan cara titrasi dengan larutan perak nitrat.

  4. Titrasi oksidasi-reduksi didasarkan pada proses perpindahan elektron antara zat pengoksidasi dengan zat pereduksi. Zat Na

  2 S

  2 O 3 , asam askorbat.

  Sebaliknya, zat pereduksi dititrasi dengan larutan baku zat pengoksidasi kuat, misalnya KMnO

  4 , KBrO 3 , K

  2 Cr

  2 O 7 (Rivai, 1995).

2.3.1.1 Titrasi Asam-basa (Asidi-alkalimetri)

  a. Titrasi asam kuat/basa kuat

  Pada titrasi asam kuat dengan basa kuat pH tetap rendah sampai tetap sebelum titik ekuivalen, ketika pH meningkat dengan cepat kenilai yang tinggi.

  Pada banyak titrasi, suatu indikator bewarna. Digunakan, meskipun metode elektrokimia untuk mendeteksi titik akhir juga digunakan. Suatu indikator merupakan asam lemah atau basa lemah yang berubah warna diantara bentuk terionisasi dan bentuk tak terionisasi, rentang yang berguna sebagai suatu indikator adalah 1 pH pada kedua sisi nilai pKa-nya. Sebagai contoh fenolftalein pKa 9,4 (warnanya berubah antara pH 8,4 dan pH 10,4) mengalami pengaturan ulang struktur karena satu proton dihilangkan dari saalah satu gugus fenolnya seiring dengan meningkatnya pH dan hal ini menyebabkan perubahan warna.

  Jingga metal pKa 3,7 (berubah antara pH 2,7 dan pH 4,7) mengalami perubahan struktur tergantung pH yang sama (Watson, 2010).

  b. Titrasi asam lemah/basa kuat dan basa lemah/basa kuat

  Pada penambahan asam kuat atau basa kuat bervolume kecil kelarutan basa lemah atau asam lemah, pH meningkat atau menurun secara cepat sekitar 1 unit pH dibawah atau diatas nilai pKa asam atau basa. Pelarut organik campur-air seperti etanol sering digunakan untuk melarutkan analit sebelum penambahan titran berair (Watson, 2010).

  Beberapa asam dan basa dapat menyumbangkan atau menerima lebih dari satu proton, contohnya 1 mol analit setara dengan lebih dari 1 mol titran. Jika nilai pKa semua gugus asam atau basa berbeda lebih dari sekitar 4, senyawa tersebut akan memiliki lebih dari satu infleksi dalam kurva titrasinya (Watson, 2010).

2.3.1.2 Larutan Baku

  Baku primer dalah senyawa-senyawa kimia stabil yang tersedia dalam kemurnian tinggi dan yang dapat digunakan untuk membakukan larutan baku yang digunakan dalam titrasi. Titran seperti natrium hidroksida atau asam klorida tidak dapat dianggap sebagai baku primer karena kemurniannya cukup bervariasi.

  Jadi contohnya larutan baku natrium hidroksida dapat dibakukan terhadap kalium hidrogen ftalat, yang memiliki kemurnian yang tinggi. Larutan natrium hidroksida yang telah dibakukan (baku sekunder) kemudian dapat digunakan untuk membakukan larutan baku asam klorida (Watson, 2010).

2.3.2 Spektrometri Visibel

  Metode spektrofotometri yang sederhana, selektif dan sensitif telah sukses digunakan untuk analisis asam enfenamat dan asam mefenamat dalam bahan ruah dan dalam sediaan farmasetik. Metode ini didasarkan pada reaksi antara asam- asam ini dengan p-N,N-dimetilfenilendiamin (DMPD) dengan adanya persulfat atau kromium (IV) membentuk warna yang intens yang ddapat diukur pada panjang gelombang 740 nm (asam mefenamat). Metode yang dikembangkan ini dapat mendeterminasi 0,25-4,0 µg asam mefenamat (Sastry, 1989).

2.3.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

  Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) fase terbalik sukses digunakan untuk analisis asam mefenamat. Kolom yang digunakan adalah µBondapak (300x3,9;10 µm). Fase gerak yang digunakan adalah metanol-asam asetat glasial- air (85:2:15v/v/v) dan dihantarkan secara isokratik dengan kecepatan alir 1 mL/menit. Detector UV diatur pada panjang gelombang 278 nm (Rohman, 2012).

  Rouini, dkk (2004) menggunakan KCKT untuk analisis asam mefenamat dalam serum menggunakan natrium diklofenak sebagai standar internal. Analit dieluasi dengan fase gerak asetonitril-air (50:50 v/v) yang pH-nya diatur 3 dengan asam fosfat. Proses kromatografi dilakukan secara isokratik menggunakan kolom C Techsphere (150 mm x 4,6 mm; 3 µm) pada kecepatan alir fase gerak 1

  8

  mL/menit. Pada suhu kamar. Analit dideteksi dengan detector UV pada panjang gelombang 280 nm) (Rohman, 2012).

BAB III METODE PENGUJIAN

  3.1 Tempat Pengujian

  Pengujian penetapan kadar asam mefenamat pada tablet dilakukan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan yang berada di Jalan Willem Iskandar Pasar V Barat I No. 2 Medan.

  3.2. Alat dan Bahan

  Alat yang digunakan adalah buret 250 ml, erlenmeyer, beaker glass 250 ml, labu tentukur 100 ml, corong penyaring, gelas ukur, pipet tetes, neraca analitik, penangas ultrasonik.

  Bahan yang digunakan adalah kalium bifthalat, indikator merah fenol, natrium hidroksida 0,1N, etanol mutlak p.

  3.3. Prosedur Pengujian

3.3.1 Pembakuan NaOH

  Ditimbang kalium bifthalat yang sebelumnya dihaluskan dan dikeringkan pada suhu 120°C selama 2 jam dan dilarutkan dalam 75 ml air bebas CO

  2 ,

  kemudian ditambahkan 2 tetes fenol LP dan dititrasi dengan larutan NaOH hingga warna merah muda.

3.3.2.Penetapan Kadar Asam Mefenamat

  Prosedur yang digunakan adalah prosedur yang diterapkan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Medan, yaitu: ditimbang dan diserbukan tidak kurang dari 20 tablet. Ditimbang seksama sejumlah serbuk tablet yang setara dengan lebih kurang 0,5 gram asam mefenamat, kemudian dilarutkan dalam lebih kurang 50 ml etanol mutlak P yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol P, lakukan pemanasan atau sonikasi untuk membantu pelarutan. Didinginkan, tambahkan etanol mutlak P yang telah dinetralkan secukupnya hingga 100 ml, campur dan dititrasi dengan Natrium Hidroksida 0,1 M menggunakan larutan merah fenol P sebagai indikator.

  1 ml natrium hidroksida 0,1 M setara dengan 24,13 mg C

  15 H

  15 NO 2. 24,13 � ��

  Kadar : Vt = x x x 100%

  0,1 �� ��

  Keterangan: Vt : Volume pentiter yang terpakai pada saat titrasi N : Normalitas pentiter (NaOH) BM : Bobot rata-rata sampel Bu : Bobot setara Kc : Kandungan asam mefenamat tiap tablet

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.1 Hasil

  Pada percobaan penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet secara titrasi alkalimetri diketahui bahwa tablet yang diuji mengandung asam mefenamat dengan kadar 99,75%. Contoh perhitungan hasil pengujian dapat dilihat pada Lampiran 2.

  4.2 Pembahasan

  Tablet yang diuji memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat, karena menurut Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV persyaratan kadar asam mefenamat pada tablet asam mefenamat yaitu tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

  Senyawa kimia yang digunakan untuk farmasi mempunyai persyaratan kemurnian yang lebih berat, karena digunakan untuk pengobatan pada manusia atau hewan. Misalnya ketidakmurnian bahan farmasi dapat menimbulkan efek samping dan pemberian takaran obat yang kurang tepat dapat memberikan efek terapi yang tidak menguntungkan bagi pemakai obat. Oleh karena itu untuk sediaan farmasi, ada uji yang harus dipenuhi agar pemeriksaan dapat memberikan jaminan mengenai efikasi, potensi, dan keamanan pemakaian (Satiadarma, dkk, 2004).

  Meskipun obat dapat menyembuhkan penyakit, tetapi masih banyak juga orang yang menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu, dapat dikatakan obat dapat bersifat sebagai obat dan dapat juga bersifat sebagai racun. Obat itu akan bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi apabila obat salah digunakan dalam pengobatan atau dengan dosis yang berlebih akan menimbulkan keracunan dan bila dosisnya kecil tidak akan memperoleh penyembuhan (Anief, 1991).

  Pada pembuatan obat, pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin kualitas sediaan obat. Sediaan obat yang berkualitas baik akan menunjang tercapainya efek terapeutik yang diharapkan. Salah satu persyaratan mutu adalah kadar yang dikandung harus memenuhi persyaratan kadar seperti yang tercantum Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya (Depkes RI, 2009).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Kesimpulan

  Dari hasil percobaan penetapan kadar asam mefenamat dalam tablet secara alkalimetri, diketahui bahwa asam mefenamat tablet yang diuji mengandung asam mefenamat dengan kadar 99,75%. Tablet yang diuji memenuhi persyaratan kadar asam mefenamat karena menurut Farmakope Indonesia Suplemen Edisi IV persyaratan kadar asam mefenamat pada tablet yaitu tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

   5.2 Saran

  Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penetapan kadar asam mefenamat pada tablet tidak hanya dilakukan dengan metote konvensional (volumetri/titrimetri), tetapi juga secara metode instrumental (spektrometri dan kromatografi), agar kadar yang diperoleh lebih tepat dan akurat lagi sehingga tablet yang telah diuji dapat memenuhi efek farmakologi yang diinginkan jika digunakan oleh konsumen.

  

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (1994). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Hal. 107-108, 112-114. Anief, M. (1991). Apa Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Obat Cetakan.2 Yogyakarta: GadjaMada University Press. Hal. 2.

  Anonim. Buku Farmakologi I. Medan: Penerbit FK USU. Hal. 17. DepKes RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI. Hal. 43. DepKes RI.2009. Farmakope Indonesia Suplemen 1 Edisi IV.Jakarta:DepKes RI.

  Hal. 1318 Jas, A. (2004). Perihal Obat Dengan Berbagai Bentuk Sediaannya. Medan: USU Press. Hal. 2, 13-15.

  Mulyono. (2006). Membuat Reagen.Kimia di Laboratorium. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal. 124. Mutschler, E. (1991). Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi Edisi 5.

  Bandung: ITB. Hal. 178. Nugroho, A.,E. (2012). Farmakologi Obat-obat Penting dalam Pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Rivai, H. (1995). Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal. 49-52. Rohman, A., dan Sudjadi. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 141. Sastri, C.S.P. (1989). Spectrofhotometric Analysis of Some Anthranilic Acid

  Derivatives and Their Pharmaceutical Preparations Microchemical Journal. Vol (No). 277. Satiadarma, K. (2004). Asas Pengembangan Prosedur Analisis Edisi Pertama.

  Surabaya: Airlangga University Press. Hal. 19-20, 68-70. Sudjadi, dan Rohman, A. (2012). Analisis Farmasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sudjadi, Rohman, A. (2008). Analisis Kuantitatif. Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 3.

  Watson, D.G. (2010). Analisis Farmasi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: Hal. 71-73, 75.

  Wulandari, N. (2007). Validasi Metode Spektrometri Derivative Ultraviolet untuk Penentuan Reserpin dalam Tablet Obat. Skripsi Departemen Kimia FMIPA IPB. Bogor.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penetapan Kadar Bromazepam dalam Tablet secara Spektrofotometri Ultraviolet
0
63
35
Penetapan Kadar Air dalam Biskuit Crackers dengan Metode Pengeringan
3
130
27
Penetapan Kadar Asam Mefenamat dalam Tablet dengan Metode Alkalimetri
144
732
42
Penetapan Kadar Klopidogrel dalam Sediaan Tablet secara Spektrofotometri Sinar Tampak
2
45
71
Penetapan Kadar Famotidin dalam Tablet Magard FA dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
3
57
41
Penetapan Kadar Asam Mefenamat dalam Sediaan Kaplet Secara Titrasi Alkalimetri
63
343
38
Penetapan Kadar Asam Lemak Bebas Pada CPO Dengan Metode Alkalimetri Di Pt Perkebunan Nusantara IV (PERSERO) Unit Usaha Adolina
2
38
43
Penetapan Kadar Pirazinamida Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet dalam Sediaan Tablet
1
48
79
Penetapan Kadar Tablet Parasetamol
5
78
31
Penetapan Kadar Asam Mefenamat Dalam Kaplet Omestan Secara Spektrofotometri Ultraviolet Di PT. Mutifa Industri Farmasi Medan
13
138
24
Penetapan Kadar Rifampisin dan Isoniazid dalam Sediaan Tablet Secara Multikomponen dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet
41
268
123
Penetapan Kadar Pirantel Pamoat dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
11
120
76
Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Pada Penetapan Kadar Nifedipin Dalam Sediaan Tablet
4
47
67
Analisis Kadar Siprofloksasin dalam Sediaan Tablet dengan Metode Spektroskopi Near-Infrared dan Kemometrik
1
79
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tablet - Penetapan Kadar Asam Mefenamat dalam Sediaan Kaplet Secara Titrasi Alkalimetri
1
1
13
Show more