NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Gratis

21
118
79
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT MORAL VALUES IN THE NOVEL SANG PENCERAH BY AKMAL NASERY BASRAL AND THEIR IMPLICATION FOR LITERATURE LEARNING IN HIGH SCHOOL By ANDHIKA PATRIA The analysis of moral aspect plays a significant role since it involves a person's personality in society. Moral aspects can be studied in a novel, in this case, in the novel Sang Pencerah. What moral values contained and how they are in the novel Sang Pencerah as well as their implications in literature learning were the problem of this study. The purposes were to describe moral values contained in the novel Sang Pencerah and to investigate their implications on literature learning in high school. The method used in this research was a qualitative descriptive method using intertextual approach. The data source used was a novel entitled Sang Pencerah by Akmal Nasery Basral, while the data were in the forms of excerpts from the novel Sang Pencerah that contained moral values. The results showed that the novel Sang Pencerah contains moral values, namely 1) moral values of the Almighty God shown through faith, piety, tawakal (putting one’s trust in Allah), deep gratitude to God, prayers, and repentance; 2) moral values of oneself reflected through honest attitude and behavior, responsibility, healthy lifestyle, discipline, hard work, self-confidence, entrepreneurial spirit, logical thinking, being critical, creativity, innovation, independence, curiosity, and love of science; 3) moral values of fellow human beings including the understanding of rights and obligations, obedience of social rules, respect for someone else’s works and achievements, politeness, and democracy; 4) moral values to the environment as indicated by helping others who are in need of help; and 5) moral values to the nation shown through nationalist attitude and respect for diversity. The moral values are related to the texts of the Qur'an and Hadith. The implication of this research is in the form of literature learning in high school by reviewing the KTSP (School-based Curriculum) syllabus especially Indonesian Language subject to the eleventh graders in high school. Key words: moral values, novel, inter-textual ABSTRAK NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Oleh ANDHIKA PATRIA Analisis terhadap aspek moral cukup penting karena menyangkut kepribadian seseorang dalam masyarakat. Aspek moral ini bisa dikaji salah satunya dalam sebuah novel, dalam hal ini novel Sang Pencerah. Apa saja dan bagaimana nilai moral dalam novel Sang Pencerah serta implikasinya dalam pembelajaran sastra merupakan suatu permasalahan dalam penelitian ini. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai moral dalam novel Sang Pencerah serta implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan intertekstual. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Sedangkan data dalam penelitian ini adalah kutipan-kutipan dalam novel Sang Pencerah yang mengungkapkan nilai moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Sang Pencerah mengandung nilai moral, yaitu 1) nilai moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang ditunjukkan dengan beriman, bertakwa, bertawakal, bersyukur, berdoa, serta bertobat; 2) nilai moral terhadap diri sendiri yang tercermin dalam sikap dan perilaku jujur, bertanggung jawab,bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirauasaha, berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, ingin tahu, serta cinta ilmu; 3) nilai moral terhadap sesama manusia yang meliputi sikap sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun, serta demokratis; 4) nilai moral terhadap lingkungan yang ditunjukkan dengan sikap peduli dengan orang yang membutuhkan bantuan; dan 5) nilai moral terhadap bangsa yang ditunjukkan dengan sikap nasionalis serta menghargai keberagaman. Nilai-nilai moral tersebut terkait dengan teks Alquran dan Hadis Nabi. Implikasi hasil penelitian ini berupa pembelajaran sastra di SMA dengan meninjau silabus KTSP mata pelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SMA kelas XI. Kata kunci: nilai moral, novel, intertekstual NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Oleh ANDHIKA PATRIA Tesis Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar MAGISTER PENDIDIKAN Pada Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Astraksetra, Tulang Bawang, pada tanggal 18 September 1987. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Jumadi dan Amrina. Penulis dibesarkan oleh kedua orang tua yang juga mengabdi dalam dunia pendidikan. Ayah penulis adalah pegawai negeri di Dinas Pendidikan Tulang Bawang Barat, sedangkan ibu penulis adalah guru di salah satu sekolah dasar negeri setempat. Jenjang pendidikan yang telah penulis tempuh adalah Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Mulya Asri, diselesaikan pada tahun 1999, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Tulang Bawang Tengah, diselesaikan pada tahun 2002, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tumijajar, diselesaikan pada tahun 2005, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Lampung, diselesaikan pada tahun 2010. Selanjutnya, pada tahun 2012, penulis menjadi mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung. Penulis pernah mengajar di SMA Negeri 2 Tulang Bawang Tengah pada tahun pelajaran 2010/2011, dan SMP Muhammadiyah 1 Tulang Bawang Tengah dari tahun 2010 hingga sekarang. Penulis juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mulya Asri, Tulang Bawang Tengah. . MOTO “Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran.” (James Thurber) “Sesuatu yang paling indah yang bisa kita alami adalah hal yang misterius; sumbernya adalah seni, ilmu pengetahuan, dan persahabatan.” (Albert Einstein) PERSEMBAHAN Kepada ayah dan ibu tercinta, istriku (Gheta Narulita), adik-adikku (Panji Taruna, Tiara Putri Damayanti), dan guru-guruku. Terima kasih untuk segalanya. SANWACANA Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah subhanahuwataala yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Nilai Moral dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra di Sekolah Menengah Atas”. Tesis ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung. Selesainya tesis ini tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada 1. Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Univesitas Lampung; 2. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Wakil Dekan FKIP dan pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan, kritik, saran, serta motivasi kepada penulis selama penyusunan tesis ini; 3. Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni dan juga sebagai pembahas atas saran serta kritik yang bersifat positif dan membangun; 4. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd., Selaku Ketua Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung; 5. Dr. Edi Suyanto, M.Pd., selaku Sekretaris Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta sebagai penguji tamu pada ujian tesis penulis atas saran serta kritik yang bersifat positif dan membangun; 6. Dr. Karomani, M.Si., selaku pembimbing II, atas bimbingan, arahan, serta motivasinya selama menyelesaikan tesis; 7. seluruh dosen serta staf Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung; 8. keluarga besar mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unila angkatan 2011, 2012, dan 2013; 9. keluarga besar SMP Muhammadiyah 1 Tulang Bawang Tengah; dan 10. semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Semoga Allah subhanahuwataala membalas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat. Amin. Bandarlampung, Januari 2015 Penulis ANDHIKA PATRIA NPM 1223041001 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ........................................................................................................ i HALAMAN JUDUL ........................................................................................ iii HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iv HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... v LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................. vi RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... vii MOTO ............................................................................................................... viii PERSEMBAHAN ............................................................................................. ix SANWACANA ................................................................................................. x DAFTAR ISI ..................................................................................................... xii I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 6 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 7 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 7 1.5 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8 II. LANDASAN TEORI 2.1 Hakikat Novel ...................................................................................... 9 2.1.1 Unsur Intrinsik Novel ............................................................... 10 2.1.2 Unsur Ekstrinsik Novel .............................................................. 20 2.2 Hakikat Intertekstual ............................................................................ 21 2.3 Hakikat Alquran dan Hadis .................................................................. 27 2.3.1 Hakikat Alquran ......................................................................... 27 2.3.2 Hakikat Hadis ............................................................................. 29 2.4 Nilai Moral dalam Karya Sastra .......................................................... 32 2.4.1 Sastra dan Pembentukan Karakter ............................................. 37 2.4.2 Jenis dan Wujud Pesan Moral .................................................... 39 2.5 Pembelajaran Sastra di Sekolah Menengah Atas ................................. 45 2.6 Biografi Pengarang .............................................................................. 51 III. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian .................................................................................. 53 3.2 Sumber Data dan Data Penelitian ........................................................ 54 3.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 55 3.4 Teknik Analisis Data ............................................................................ 56 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian .................................................................................... 60 4.1.1 Nilai Moral terhadap Tuhan YME ............................................. 60 4.1.2 Nilai Moral terhadap Diri Sendiri ............................................. 62 4.1.3 Nilai Moral terhadap Sesama Manusia ..................................... 66 4.1.4 Nilai Moral terhadap Lingkungan ............................................. 68 4.1.5 Nilai Moral terhadap Bangsa .................................................... 69 4.2 Pembahasan .......................................................................................... 69 4.2.1 Nilai Moral terhadap Tuhan YME ............................................. 69 4.2.2 Nilai Moral terhadap Diri Sendiri ............................................. 85 4.2.3 Nilai Moral terhadap Sesama Manusia ..................................... 122 4.2.4 Nilai Moral terhadap Lingkungan ............................................. 135 4.2.5 Nilai Moral terhadap Bangsa .................................................... 139 4.3 Implikasi pada Pembelajaran Sastra di SMA ....................................... 145 V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan .............................................................................................. 155 5.2 Saran ................................................................................................... 157 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN 1. Sampul Novel Sang Pencerah 2. Sinopsis Novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral 3. Tabel Hasil Analisis Nilai Moral dalam Novel Sang Pencerah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyimpangan sosial di kalangan pelajar, terutama yang berada di jenjang pendidikan setingkat sekolah menengah atas (SMA), semakin memprihatinkan. Misalnya, penyalahgunaan narkoba, tawuran antarpelajar, dan tindak asusila. Berdasarkan data dari BKKBN tahun 2013, anak usia 14 sampai 19 tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas. Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar pun cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 4,7% pelajar dan mahasiswa adalah pengguna narkoba. Penyimpangan yang dilakukan para pelajar tersebut dapat terjadi di antaranya karena pelajar juga adalah makhluk sosial yang senantiasa melakukan interaksi dengan berbagai faktor yang sulit dideteksi secara jelas dan memungkinkan lebih bersifat individual. Psikologi remaja yang masih labil membuat pelajar mudah terpengaruh ke dalam pergaulan yang salah dan mengakibatkan melemahnya nilai-nilai moral pelajar itu sendiri. Sebagai bangsa yang mendambakan kehidupan beradab dan berbudaya, situasi seperti itu sangat merugikan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial. 2 Tomas Lickona mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, yang harus diwaspadai karena dapat menghancurkan suatu bangsa. Berikut adalah sepuluh tanda tersebut. 1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat. 2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku. 3. Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat. 4. Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas. 5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. 6. Menurunnya etos kerja. 7. Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. 8. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok. 9. Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran. 10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama (Gunawan, 2012: 28). Berkaitan dengan hal tersebut, di satu sisi sekolah merupakan wadah pendidikan yang turut andil dalam pembentukkan moral peserta didik. Di sisi lain pada dasarnya sastra dan pendidikan memiliki kaitan yang erat. Antara sastra dan pendidikan memiliki objek yang sama, yaitu manusia dan kemanusian. Pendidikan moral bagi peserta didik diyakini sebagai aspek penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Moral masyarakat yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini melalui pendidikan. Bagi pendidik, khususnya guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia, dapat mengajarkan nilai-nilai moral kepada peserta didik melalui pembelajaran sastra di 3 sekolah. Kehadiran sastra dalam masyarakat sangat diperlukan dan diperhitungkan karena karya sastra merupakan salah satu unsur dalam perubahan sosial (social change). Guru diupayakan bisa mengajak dan menginternalisasikan nilai-nilai moral melalui sastra tersebut. Pembelajaran sastra yang sarat akan nilai moral merupakan pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif. Kegiatan apresiasi sastra pada hakikatnya akan menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, berwawasan luas, dan sebagainya. Melalui karya sastra, pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga berbagai pelajaran tentang tingkah laku, baik secara verbal maupun nonverbal. Hal itu disebabkan pembaca seolah-olah terjun langsung pada situasi kehidupan sosial budaya masyarakat bangsa tertentu sehingga pembaca dapat memperoleh berbagai contoh wujud operasionalisasi konsep budaya dalam sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Karya sastra berupa cerita fiksi sering menampilkan model kehidupan dengan mengangkat tokoh-tokoh cerita sebagai pelaku kehidupan itu. Sebagai seorang manusia, tokoh-tokoh tersebut dibekali sifat, sikap, watak, dan seorang manusia biasa. Kita dapat memahami dan belajar tentang berbagai aspek kehidupan lewat apa yang diperankan tokoh itu. Hubungan yang terbangun antara pembaca dan dunia cerita dalam sastra adalah hubungan personal. Pembaca merasa menjadi bagian dalam pertarungan antartokoh. Lewat sastra, daya imajinasi dan rasa estetis dapat dikembangkan (Nurgiyantoro, 2013: 440). Berdasarkan pengamatan penulis, salah satu bentuk karya sastra yang terkesan dan banyak dinikmati adalah novel. Novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan alur atau plot yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang 4 beragam, dan setting cerita yang beragam pula (Sumarjo dan Saini, 1997: 29). Hal ini membuat novel mampu mengungkapkan aspek-aspek kehidupan tokoh lebih mendalam sehingga pesan-pesan yang terkandung dalam novel lebih kompleks. Novel adalah salah satu prosa fiksi yang biasanya dijadikan sebagai bahan ajar untuk berapresiasi sastra dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Novel merupakan sarana atau media yang menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran pengarang dan tentu ada sesuatu yang ingin disampaikan pengarang melalui novel tersebut. Sesuatu yang disampaikan itu dapat berupa nilai moral. Nilai-nilai moral yang dikemukakan bisa berasal dari orang lain maupun dari pengalamannya sendiri. Novel yang sarat akan nilai moral diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) agar kembali kepada jalan yang benar. Hal ini disebabkan novel menyuguhkan gambaran tokoh-tokoh yang dapat dijadikan contoh dalam berbuat baik. Cerita yang disajikan pun begitu menarik sehingga dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk mengaplikasikan perbuatan menarik itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Novel yang baik untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran di sekolah, selain memiliki nilai estetis, adalah novel yang banyak mengemukakan nilai-nilai pendidikan moral yang positif. Guru, dalam mengajarkan sastra di sekolah, khususnya pada materi mengapresiasi novel, harus dapat memilih novel yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah. Novel yang sarat dengan nilai pendidikan tentunya bisa digunakan sebagai materi pembelajaran asalkan memenuhi kelayakan materi pembelajaran. Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2006 mengidentifikasi materi pembelajaran yang baik untuk menunjang kompetensi dasar harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain, 5 1) potensi peserta didik, 2) relevansi dengan karakteristik daerah, 3) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik, 4) bermanfaat bagi peserta didik, 5) struktur keilmuan, 6) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran, dan 7) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan. Selain itu, pemilihan materi ajar perlu mempertimbangkan unsur dalam materi yang meliputi isi, bahasa serta unsur lainnya meliputi memperhitungkan waktu dan kebutuhan. Novel yang dipilih dalam penelitian ini adalah novel yang berjudul Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. Sang Pencerah merupakan novel best seller. Hal tersebut terbukti dalam kurun waktu satu bulan, cetakan pertama novel ini terjual hingga tiga ribu eksemplar. Karena antusias pencinta novel ini sangat tinggi, PT Mizan Publika, melakukan cetakan kedua sebanyak lima ribu eksemplar. Novel ini menjadikan sejarah sebagai pelajaran pada masa kini tentang toleransi, koeksistensi (bekerja sama dengan yang berbeda keyakinan) dan semangat perubahan yang kurang. Pada tahun 2011, novel Sang Pencerah meraih penghargaan sebagai Novel Fiksi Dewasa Terbaik di IBF (Islamic Book Fair). Novel ini mampu menggugah spiritual pembaca karena begitu banyak pemikiran dan ilmu yang bisa diteladani mengenai makna pendidikan karakter yang sebenarnya. Novel Sang Pencerah merupakan novel yang mengisahkan kehidupan tokoh Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan yang dilukiskan dalam novel ini merupakan sosok pendobrak tradisi agar Islam kembali menjadi rahmat bagi semesta alam. Prinsip, sikap dan tindakannya yang berani sebagai pembaharu didasari oleh ajaran Islam 6 yang tertuang dalam Alquran dan Hadis. Dengan demikian dalam novel tersebut terdapat nilai moral baik yang bisa diteladani dan ditularkan kepada peserta didik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan alternatif pembelajaran sastra di SMA sehingga nantinya proses pembelajaran akan lebih bermakna. Hal tersebut disesuaikan dengan kurikulum yang memuat tujuan pembelajaran sastra pada jenjang SMA, yakni pembelajaran sastra disampaikan untuk mempertajam perasaan, penalaran daya khayal, meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Sebelumnya, Asep Supriadi telah meneliti mengenai Transformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam Dalam Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburahman El Shirazy: Kajian Interteks tahun 2006, Novi Maria Ulfah juga telah meneliti Analisis Wacana Nilai-Nilai Dakwah dalam novel Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi pada tahun 2012. Namun, penelitian-penelitian tersebut tidak ada yang menganalisis nilai moral. Selain itu, penelitian-penelitian tersebut tidak diimplikasikan ke dalam pembelajaran sastra di sekolah, meskipun ada kemiripan, seperti menggunakan teks Alquran dan Hadis sebagai hipogram dalam penelitiannya. Dari penjelasan-penjelasan di atas, penulis tertarik untuk menganalisis dari sisi intertektualitas novel yang mengandung unsur-unsur moral dikaitkan dengan Alquran dan Hadis, serta mendeskripsikan implikasinya ke dalam pembelajaran sastra di sekolah mengah atas. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 7 1. Nilai moral apa saja yang terkandung dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral? 2. Bagaimana kaitannya nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral dengan teks Alquran dan Hadis? 3. Bagaimana implikasi nilai moral dalam novel Sang Pencerah dalam pembelajaran sastra di SMA? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan nilai moral yang terkandung dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. 2. Menemukan kaitan nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel Sang Pencerah dengan teks Alquran dan Hadis. 3. Mendeskripsikan implikasi nilai moral yang terkandung dalam novel Sang Pencerah dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah menengah atas. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoretis dan praktis. 1. Manfaat Teoretis Secara teoretis diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu pembaca dalam memahami nilai moral yang terdapat dalam novel Sang Pencerah. Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu pembaca dalam menemukan hubungan intertekstual antara karya sastra dan hipogramnya. 8 2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai acuan siswa dalam menelaah, mengambil, dan menerapkan nilai-nilai moral dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral. b. Bagi Guru Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan pembelajaran sastra, kaitannya dengan nilai-nilai yang terkandung dalam novel Sang Pencerah. c. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan berguna sebagai bekal dalam penerapan pembelajaran tentang nilai-nilai yang terkandung dalam novel Sang Pencerah. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian mencakup hal-hal berikut ini. 1. Nilai-nilai moral dalam novel Sang Pencerah karya Akmal Nasery Basral yang terdiri atas nilai moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nilai moral terhadap diri sendiri, nilai moral terhadap sesama manusia, nilai moral terhadap lingkungan, dan nilai moral terhadap bangsa. 2. Implikasi nilai moral dalam novel Sang Pencerah pada pembelajaran sastra di sekolah menengah atas. II. LANDASAN TEORI 2.1 Hakikat Novel Novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama dan lainnya (Tarigan, 1984: 164). Sebutan novel dalam bahasa Inggris yang kemudian masuk ke Indonesia dalam bahasa Itali novella dan dalam bahasa Jerman novella. Secara harfiah, novella berarti “sebuah barang baru yang kecil”, yang kemudian diartikan sebagai “cerita pendek dalam bentuk prosa” (Nurgiyantoro, 2013: 11—12). Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia (dalam jangka yang lebih panjang), di dalamnya terdapat konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara para pelakunya (Esten 1978: 12). Dengan kata lain novel adalah cuplikan dari kehidupan manusia dengan jangka yang lebih panjang dan menampilkan konflik-konflik yang menyebabkan perubahan pada setiap pelaku. Pendapat lain dikemukakan bahwa novel adalah sebagai cipta sastra yang mengandung unsur-unsur kehidupan, pandangan-pandangan atau pemikiran dan renungan tentang keagamaan, filsafat, berbagai masalah kehidupan, media pemaparan yang berupa kebahasaan maupun struktur wacana serta unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan karakteristik cipta sastra sebagai suatu teks 10 (Aminudin, 2002: 38). Secara singkat novel adalah cipta sastra dengan berbagai masalah kehidupan manusia dan kebahasaan sebagai media pemaparnya, sedangkan dalam buku The American College Dictonary dikemukakan bahwa novel adalah suatu cerita prosa fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut (Tarigan, 1984: 164). Jadi, novel adalah cerita prosa fiktif yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan yang dapat mewakili kehiduapan yang sebenarnya dalam suatu alur atau keadaan yang sangat kacau. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa novel merupakan salah satu genre sastra. Novel adalah karangan prosa fiktif dengan panjang tertentu, yang mengisahkan kehidupan manusia sehari-hari beserta watak serta lingkungan tempat tinggal yang disajikan secara tersusun dengan serangkaian yang saling mendukung antara satu sama lainnya sampai pada perubahan nasib para pelakunya. 2.1.1 Unsur Intrinsik Novel Novel merupakan salah satu bentuk fiksi yang perwujudannya sangat ditentukan oleh adanya unsur-unsur cerita yang satu dengan yang lainnya. Adapun unsurunsur yang terdapat di dalamnya adalah tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Berikut ini akan penulis uraikan satu persatu unsur-unsur tersebut. 11 2.1.1.1 Tema Setiap karya fiksi pasti mengandung tema. Tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra (Tarigan, 1984: 125). Jadi, tema adalah pandangan hidup mengenai rangkaian nilai-nilai tertentu yang membangun gagasan utama dari suatu cerita. Tema adalah ide cerita. Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekadar bercerita, akan tetapi mengatakan sesuatu pada pembaca. Sesuatu yang ingin dikatakan itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan atau komentar terhadap kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita semuanya didasari oleh ide pengarang tersebut (Sumardjo dan Saini, 1997: 56). Tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantic dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit (Nurgiyantoro, 2013: 115). Tema selalu berkaiatan dengan pengalaman hidup manusia. Lebih lanjut Burhan Nurgiyantoro (2005: 25) menyatakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, rindu, takut, maut, religius, dan sebagainya. Dalam hal tertentu, tema dapat disinonimkan dengan ide atau tujuan utama cerita. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tema adalah ide, makna dan gagasan yang ditulis oleh pengarang dalam karyanya. 12 Tanpa tema sebuah karya tidak memiliki makna serta tidak ada gunanya karena di dalam tema terdapat pokok permasalahan dari berbagai tokoh. 2.1.1.2 Alur Alur atau plot adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama. Brooks menyatakan istilah lain yang sama artinya dengan alur atau plot ini adalah trap atau dramatik konflik (Tarigan, 1984: 126). Alur ialah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminudin, 2002: 83). Alur atau plot cerita sering juga disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita yang disusun dalam urutan waktu yang menunjukkan hubungan sebab akibat dan memiliki kemungkinan agar pembaca menebak-nebak peristiwa yang akan datang (Waluyo, 2006: 5). Alur sebuah cerita terdiri atas a) Situation (Mulai melukiskan suatu peristiwa), b) Generating circumtances (Peristiwa mulai bergerak), c) Rising action (Keadaan mulai memuncak), d) Climax (Mencapai titik puncak), e) Denouement (Pemecahan soal/penyelesaian suatu peristiwa) (Tarigan, 1984: 128). Alur menggambarkan apa yang terjadi dalam suatu cerita, tetapi yang lebih penting adalah menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dengan adanya kesinambungan, maka suatu cerita akan memiliki awal dan akhir. Selain itu juga alur dapat diartikan rangkain peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks. 2.1.1.3 Penokohan Penokohan adalah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan (Esten, 13 1978: 27). Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat. Tokoh-tokoh cerita dalam novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat dan kebiasaan, dan lain-lain, termasuk bagaimana hubungan antartokoh itu baik dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung. Semuanya itu akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan konkret tentang keadaan para tokoh tersebut. Itulah sebabnya tokoh-tokoh cerita novel dapat lebih mengesankan (Nurgiyantoro, 2013: 16). Tokoh-tokoh cerita dalam teks naratif, tidak akan begitu saja secara serta-merta hadir kepada pembaca. Mereka memerlukan “sarana” yang memungkinkan kehadirannya. Pembaca dapat memahami tokoh dalam cerita melaui pelukisan tokoh yang disajikan oleh pengarang. Ada dua cara pelukisan tokoh dalam karya prosa, yaitu teknik ekspositori dan teknik dramatik. Kedua teknik tersebut dijelaskan sebagai berikut (Nurgiyantoro, 2013: 279—283). 1. Teknik Ekspositori Pelukisan tokoh cerita dalam teknik ekspositori, yang disebut juga teknik analitis, dilakukan dengan memberi deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca dengan cara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya. 14 2. Teknik Dramatik Penampilan tokoh cerita dalam teknik dramatik dilakukan secara tidak langsung. Pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku para tokoh. Pengarang membiarkan (baca: menyiasati) para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi. Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penokohan adalah penggambaran fisik dan jiwa para tokoh baik melalui tingkah laku maupun gagasannya dalam menjalankan roda kehidupan sebuah cerita. Penokohan dapat menyuguhkan sosok para pelaku yang dapat menghidupkan kejadian-kejadian dalam suatu cerita. 2.1.1.4 Latar (Setting) Latar atau Setting adalah tempat kejadian cerita. Tempat kejadian cerita dapat berkaitan dengan dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Setting juga dapat dikaitkan dengan tempat dan waktu (Waluyo, 2006: 10). Abrams berpendapat bahwa latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, sejarah, dan lingkungan sosial tempat kejadiannya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2013: 302). Latar bukan hanya menonjolkan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah cerpen atau novel memang harus terjadi di suatu tempat dan waktu (Sumardjo dan Saini, 1997: 75). Pendapat tersebut diperkuat bahwa latar adalah latar peristiwa 15 dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologi (Aminudin, 2002: 67). Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal tersebut penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sunguh-sungguh ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa difasilitasi dan dipermudah untuk “mengoperasikan” daya imajinasinya, di samping deimungkinkan untuk berperan secara kritis, sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab. Pembaca seolah-olah merasa menemukan sesuatu dalam cerita itu yang sebenarnya menjadi bagian dirinya. Hal ini akan terjajadi jika latar mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan karakteristiknya yang khas ke dalam cerita (Nurgiyantoro, 2013: 303). Unsur latar dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling memengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 2013: 314). Ketiga unsur tersebut dijelaskan sebagai berikut. 1. Latar Tempat Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempattempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Penggunaan latar dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan atau 16 paling tidak, tidak bertentangan dengan sifat atau keadaan geografis tempat yang bersangkutan. Masing-masing tempat tentu saja memiliki karakteristiknya sendiri yang membedakan dengan tempat lain. Penggunaan banyak atau sedikitnya latar tempat tidak berhubungan dengan kadar kelitereran karya yang bersangkutan. Keberhasilan latar tempat lebih ditentukan oleh ketepatan deskripsi, fungsi, dan keterpaduannya dengan unsur latar lain sehingga semuanya bersifat saling mengisi. Keberhasilan penampilan unsur latar itu sendiri antara lain dilihat dari segi koherensinya dengan unsur fiksi lain dan dengan tuntutan cerita secara keseluruhan. 2. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-petistiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Pengetahuan dan persepsi pembaca terhadap waktu sejarah itu kemudian digunakan untuk mencoba masuk dalam suasana cerita. Latar waktu dalam fiksi dapat menjadi dominan dan fungsional jika digarap secara teliti, terutama jika dihubungkan dengan waktu sejarah. Pengangkatan unsur sejarah dalam karya fiksi akan menyebabkan waktu yang diceritakan menjadi bersifat khas, tipikal, dan dapat menjadi sangat fungsional sehingga tidak dapat diganti dengan waktu yang lain tanpa memengaruhi perkembangan cerita. Latar waktu menjadi amat koheren dengan unsur cerita yang lain. 17 3. Latar Sosial Latar sosial berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Tata cara tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan sebagainya. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau kaya. Latar sosial berperan menentukan sebuah latar, khususnya latar tempat, akan menjadi khas dan tipikal atau hanya bersifat netral. Dengan kata lain, untuk menjadi tipikal dan lebih fungsional, deskripsi latar tempat harus sekaligus disertai deskripsi latar sosial, tingkah laku kehidupan sosial masyarakat di tempat yang bersangkutan. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa latar adalah waktu dan tempat terjadinya peristiwa dalam karya fiksi yang memiliki fungsi fisikal dan psikologi, serta suasana yang dapat mengekspresikan suatu cerita dan pada akhirnya dapat menunjang nilai-nilai karya sastra tersebut. Latar (setting) dapat diartikan juga tempat terjadinya peristiwa yang berhubungan dengan waktu, ruang, dan suasana dalam karya sastra. 2.1.1.5 Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang adalah hubungan yang terdapat antara sang pengarang dengan alam fiktif ceritanya, ataupun antara sang pengarang dengan pikiran dan perasaan para pembacanya (Tarigan, 1984: 140). Sudut pandang menunjuk pada 18 cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang, yang antara lain berupa pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan (Nurgiyantoro, 2013: 338) Sudut pandang dibagi menjadi empat bagian sebagai berikut (Sumardjo dan Saini, 1997: 83). 1. Omniscient Point of View (Sudut Penglihatan yang Berkuasa) Pengarang bertindak sebagai pencipta tahu segalanya. Ia biasa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkan. 2. Objective Point of View Pengarang bekerja seperti dalam teknik omniscient, hanya saja pengarang sama sekali tidak memberi komentar apa pun. 3. Point of view Orang Pertama Gaya ini bercerita tentang sudut pandang “Aku”. Jadi, seperti orang menceritakan pengalamannya sendiri. 4. Point of View Peninjau Pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang. Pendapat lain menerangkan bahwa sudut pandang yang umum digunakan pengarang dibagi menjadi empat jenis, yaitu (1) sudut pandang first-personcentral atau akuan-sertaan (tokoh sentral cerita adalah pengarang yang secara 19 langsung terlibat dalam cerita); (2) sudut pandang first-person-peripheral atau akuan-taksertan (tokoh “aku” pengarang biasanya hanya menjadi pembantu atau pangantar tokoh lain yang lebih penting); (3) sudut pandang third-personomniscient atau diaan-mahatahu (pengarang berada di luar cerita, biasanya pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang mahatahu dan bahkan mampu berdialog langsung dengan pembaca); dan (4) sudut pandang third-person-limited atau diaan-terbatas (pengarang menggunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya) (Sayuti,1997: 101). Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sudut pandang (point of view) adalah kedudukan pengarang dalam cerita yang dikarangnya ataupun sang pengarang dengan pikiran dan perasaan pembacanya. Sudut pandang dapat pula diartikan sebagai pusat pengisahan. Berdasarkan pandangan pengarang ini pulalah pembaca mengikuti jalannya cerita dan memahami temanya. 2.1.1.6 Amanat Amanat merupakan gambaran jiwa pengarang. Pengarang mengolah dan merekareka hasil ciptaannya yang mengandung pikiran dan perenungan si pengarang di dalamnya. Dari hasil perenungan itu diharapkan pembaca dapat memahami dan mengambil manfaatnya. Amanat yang baik tidak cenderung untuk mengikuti polapola dan norma-norma umum, tetapi menciptakan pola-pola baru berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan (Esten,1978: 23). Amanat merupakan pesan atau aliran moral yang disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat pada sebuah karya sastra tidak disampaikan secara nyata,walaupun ada pula yang amanat yang benar-benar disampaikan secara langsung. Jika amanat itu 0 disampaikan oleh pengarang secara tersirat, akan dibutuhkan ketelitian dalam menelaah karya sastra agar dapat memahami pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang tersebut. Amanat itu biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan sifat karya sastra, selain dapat menyenangkan, juga dapat memberi manfaat. 2.1.2 Unsur Ekstinsik Novel Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom (berdiri sendiri), tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri dan untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain. Tidaklah jelas pengertiannya apabila dikatakan bahwa sastra mencerminkan atau mengekspresikan kehidupan. Akan tetapi, jelaslah lebih keliru bila dianggap sebagai mengekspresikan kehidupan selengkap-lengkapnya dan pemahaman itu memberi kemungkinan bagi usaha mengungkapkan apa yang menjadi bahan karya sastra tersebut. Dengan kata lain, usaha itu merupakan "cara" untuk mencoba menghubungkan karya sastra dengan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Melalui cara itu, karya sastra dijelaskan maknanya, amanatnya, sikap pengarangnya, atau nilai estetiknya secara keseluruhan. Caranya sendiri dapat berupa penjelasan mengenai fakta historis, sosiologis, psikilogis atau filosofis, ✁1 sebagaimana yang menjadi "isi" yang terkandung dalam karya yang diteliti (Damono, 1978: 10—11). 2.2 Hakikat Intertekstual Pengertian, paham, atau prinsip intertekstualitas berasal dari Perancis dan bersumber pada aliran dalam strukturalisme Perancis yang dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Perancis, Jaques Derrida dan dikembangkan oleh Julia Kristeva (Jabrohim, 2012: 172). Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Lebih dari itu, teks itu sendiri secara etimologis (tekstus, bahasa latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi, dan transformasi (Ratna, 2013: 172). Penelitian dilakukan dengan cara mencari hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai interteks tidak terbatas sebagai persamaan genre, interteks memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hypogram. Interteks dapat dilakukan antara novel dengan novel, novel dengan puisi, novel dengan film. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi. (Ratna, 2013: 172—173). Kajian intertekstual berawal dari asumsi bahwa kapan pun karya ditulis, ia tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi yang ada di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus adalah berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya. Ketika seorang pengarang ✂✂ menulis teks kesastraan, di masyarakat tempat pengarang itu tinggal, pasti sudah ada tradisi, konvensi, folklore, folktales, atau bahkan teks-teks tertentu yang mungkin juga berupa teks kesastraan yang kemudian dijadikan semacam pijakan dalam penulisannya. Berbagai hal yang dijadikan dasar “pijakan” tersebut dapat dikenali atau ditemukan dalam teks yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2013: 77). Setiap teks sastra dibaca dan harus dengan latar belakang teks-teks lain. Tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka. Tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dulu, tetapi dalam arti bahwa penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting. Pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki ataupun dan pemakaian teks baru memerlukan latar pengetahuan tentang teks-teks yang mendahuluinya (Jabrohim, 2013: 172). Teks-teks kesastraan yang dijadikan dasar penulisan bagi teks-teks yang ditulis kemudian disebut dengan hipogram. Wujud hipogram dapat berupa konvensi, suatu yang telah berekstensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks-teks sebelumnya (Nurgiyantoro, 2013: 78). Karya yang diciptakan berdasarkan hipogram itu disebut sebagai karya transformasi karena mentransformasikan teks-teks yang menjadi hipogramnya. Karya sastra yang menjadi hipogram diserap dan ditranformasikan dalam teks sastra sesudahnya yang menunjukkan adanya persamaan. Dengan menjajarkan sebuah teks yang menjadi hipogramnya, makna teks tersebut menjadi jelas, baik teks itu mengikuti maupun menentang hipogramnya. Begitu juga situasi yang ✄☎ dilukiskan, menjadi lebih terang hingga dapat diberikan makna sepenuhnya (Pradopo, 2002: 55). Hipogram ada dua macam, yakni hipogram potensial dan hipogram aktual. Hipogram potensial tidak eksplisit dalam teks, tetapi dapat diabstraksikan dari teks. Hipogram potensial merupakan potensi sistem tanda pada sebuah teks sehingga makna teks dapat dipahami pada karya itu sendiri, tanpa mengacu pada teks yang sudah ada sebelumnya. Hipogram potensial itu adalah matrik yang merupakan inti dari teks atau kata kunci, yang dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat sederhana (Pradopo, 2001: 13). Hipogram aktual adalah teks nyata, yang dapat berupa kata, frasa, kalimat, peribahasa, atau seluruh teks, yang menjadi latar penciptaan teks baru sehingga signifikasi teks harus ditemukan dengan mengacu pada teks lain atau teks yang sudah ada sebelumnya. Teks dalam pengertian umum bukan hanya teks tertulis atau teks lisan, tetapi juga adat-istiadat, kebudayaan, agama dan bahkan alam semesta (dunia) ini adalah teks (Pradopo 2003: 132). Oleh sebab itu, hipogram yang menjadi latar penciptaan teks baru itu, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan, tetapi juga dapat berupa adat-istiadat, kebudayaan, agama, bahkan dunia ini. Hipogram tersebut direspons atau ditanggapi oleh teks baru. Tanggapan tersebut dapat berupa penerusan atau penentangan tradisi atau konvensi. Adanya tanggapan itu menunjukkan bahwa keberadaan suatu teks sastra adalah dalam rangka fungsi yang ditujukan kepada pembaca (Jabrohim 2003: 147). Sesuai dengan kebutuhan, hipogram potensial tidak akan digunakan dalam penelitian ini. Akan tetapi, dalam penelitian ini digunakan hipogram aktual. Novel ✆✝ Sang Pencerah tercipta karena adanya resepsi pengarang terhadap teks-teks lain, yaitu teks Alquran dan Hadis. Dengan demikian, novel Sang Pencerah merupakan teks transformasi, sedangkan teks Alquran dan Hadis merupakan teks hipogram. Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa, mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan ataupun pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubunganya dengan karya sezaman, sebelum, atau sesudahnya (Pradopo 2008: 167). Julia Kristeva mengemukakan bahwa tiap teks merupakan sebuah mosaik kutipankutipan. Tiap teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain. Hal itu berarti bahwa tiap teks yang lebih kemudian mengambil unsur-unsur tertentu yang dipandang baik dari teks-teks sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan. Dengan demikian, walau sebuah teks berupa dan mengandung unsur ambilan dari berbagai teks lain, karena telah diolah dengan pandangan dan kreativitas sendiri, dengan konsep estetika dan pikiran-pikirannya, teks yang dihasilkan tetap mengandung dan mencerminkan sifat kepribadian penulisnya (Nurgiyantoro, 2013: 80). Seorang pengarang mungkin menyadari adanya hubungan intertekstual dalam k

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM KH. AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL “SANG PENCERAH” KARYA AKMAL NASERY BASRAL
0
2
21
ASPEK RELIGIUSITAS NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Aspek Religiusitas Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral: Kajian Antropologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMP.
1
5
13
PENDAHULUAN Aspek Religiusitas Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral: Kajian Antropologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMP.
0
2
7
ANALISIS GAYA BAHASA PADA NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL ANALISIS GAYA BAHASA PADA NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL.
0
1
13
PENDAHULUAN ANALISIS GAYA BAHASA PADA NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL.
1
7
5
TINDAK TUTUR PERLOKUSI PADA NOVEL Tindak Tutur Perlokusi pada Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral.
0
1
10
PENDAHULUAN Tindak Tutur Perlokusi pada Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral.
0
1
6
MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM KH. AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL ”SANG PENCERAH” MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM KH. AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL ”SANG PENCERAH” KARYA AKMAL NASERY BASRAL.
0
2
13
PENDAHULUAN MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM KH. AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL ”SANG PENCERAH” KARYA AKMAL NASERY BASRAL.
0
1
19
DIMENSI SOSIALNOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Dimensi Sosialnovel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral: Tinjauan Sosiologi Sastra.
0
0
12
PENDAHULUAN Dimensi Sosialnovel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral: Tinjauan Sosiologi Sastra.
1
5
28
DIMENSI SOSIALNOVEL SANG PENCERAHKARYA AKMAL NASERY BASRAL: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Dimensi Sosialnovel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral: Tinjauan Sosiologi Sastra.
0
0
14
NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASREY BASRAL
1
3
12
1 PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM K.H AHMAD DAHLAN DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL
0
1
16
PERBANDINGAN RELIGIUSITAS TOKOH UTAMA ANTARA NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DENGAN NOVEL JEJAK SANG PENCERAH KARYA DIDIK L. HARIRI - repository perpustakaan
0
0
11
Show more