PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

Gratis

0
2
49
2 years ago
Preview
Full text
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar LampungTahun Pelajaran 2012/2013) Oleh FINA CITHA KASIH Skripsi sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2013 Fina Citha Kasih ABSTRAK PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013) Oleh FINA CITHA KASIH Hasil observasi di kelas X SMA Negeri 12 Bandar Lampung, diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, salah satunya dengan menggunakan model Think Pair Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran TPS terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimental dengan desain pretes postes nonequivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas X1 dan X2 yang dipilih secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil belajar yang diperoleh dari rata-rata nilai pretes, postes dan N-gain yang dianalisis secara statistik menggunakan uji-t dan uji U. Data kualitatif berupa aktivitas belajar siswa, dan tanggapan siswa terhadap penggunaan model TPS yang dianalisis secara deskriptif. ii Fina Citha Kasih Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa rata-rata berkriteria baik. Pada aspek interaksi siswa dengan pasangan (82%); mengerjakan tugas secara mandiri (81,50%); dan kecakapan komunikasi siswa (74,50%). Hasil belajar juga mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai pretes (46,38); postes (68,7); N-gain (40,17). Peningkatan hasil belajar juga terjadi pada indikator aspek kognitif (C4) dengan rata-rata N-gain (40,19). Selain itu, semua siswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model TPS. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model TPS berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Kata kunci : aktivitas belajar, hasil belajar, TPS, pencemaran lingkungan. iii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xvii I. PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. G. Latar Belakang Masalah .................................................................... Rumusan Masalah ............................................................................. Tujuan Penelitian .............................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................ Ruang Lingkup Penelitian ................................................................. Kerangka Pikir ................................................................................... Hipotesis ............................................................................................ 1 4 4 4 5 6 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran TPS .................................................................. B. Hasil Belajar Siswa ............................................................................ C. Aktivitas Belajar Siswa ...................................................................... 9 13 16 III. METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... Populasi dan Sampel ......................................................................... Desain Penelitian ............................................................................... Prosedur penelitian ............................................................................. Jenis dan Teknik Pengambilan Data ................................................. Teknik Analisis Data ......................................................................... 20 20 20 21 26 28 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ................................................................................. B. Pembahasan ....................................................................................... xiii 37 42 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ........................................................................................... B. Saran ................................................................................................. 51 52 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 53 LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Silabus ................................................................................................ Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .................................................. Lembar Kerja Siswa .......................................................................... Soal Pretes dan Postes ....................................................................... Data Hasil Penelitian ......................................................................... Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ...................................... Foto-Foto Penelitian .......................................................................... xiv 56 60 74 93 101 111 118 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan (Trianto, 2009 : 1). Usaha peningkatan mutu pendidikan di Indonesia terus menerus dilaksanakan. Hal tersebut dilaksanakan antara lain melalui penyempurnaan kurikulum yang telah ada. KTSP memiliki kelebihan, yakni guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah dan siswa. Salah satunya adalah dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang dipelajari secara utuh dan benar (Mulyasa, 2008 : 222). Salah satu hal yang terpenting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran. Melihat kenyataan yang terjadi saat ini bahwa proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah belum maksimal. Proses pembelajaran yang belum maksimal bila guru belum dapat menciptakan suasana kelas yang dapat 2 meningkatkan aktivitas dan hasil belajar oleh siswa. Kemungkinan siswa dalam pembelajaran kurang aktif, serta cenderung pasif saat mengikuti kegiatan belajar. Siswa diharapkan dapat menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dengan membangkitkan aktivitas belajar. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa maka hasil belajar dapat meningkat (Anonim, 2011 : 2). Hasil observasi yang dilakukan di SMA N 12 Bandar Lampung aktivitas belajar siswa masih rendah. Hal ini tampak dari siswa yang mengantuk, menopang dagu, bersandar di meja, berbicara dengan temannya, dan bersikap pasif, tidak berani mengemukakan pendapat maupun mengajukan pertanyaan mengenai segala sesuatu yang belum dimengerti, siswa yang pemalu dan penakut cenderung untuk lebih banyak diam dan berperan sebagai pendengar. Seharusnya menurut Sardiman (2003 : 95) aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja tetapi pendidikan sekarang lebih menitikberatkan pada aktivitas dalam pembelajaran, misalnya menyatakan pendapat, bertanya, menggambar, memecahkan masalah, dapat mengambil keputusan dan lainlain. Rendahnya aktivitas siswa memberikan dampak terhadap hasil belajarnya. Ini ditunjukkan dari nilai rata-rata kelas X IPA SMA N 12 Bandar Lampung untuk materi pencemaran lingkungan yaitu < 65. Hal tersebut menunjukkan bahwa sekitar 60% siswa tidak tuntas karena belum memenuhi standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang ditentukan oleh sekolah pada mata pelajaran biologi yaitu ≥ 68. Ketidaktuntasan belajar siswa tersebut terjadi karena cara penyampaian pembelajaran seperti ceramah dan diskusi yang 3 digunakan guru kurang sesuai dengan materi pencemaran lingkungan yang diajarkan. Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar dan juga dapat meningkatkan solidaritas sosial siswa yang dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan mengemukakan pendapat (Share) (Ibrahim dkk., 2000 : 26). Pramudiyanti (dalam Wulandari, 2009 : 5) menyimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Ariansyah (2009 : 37) bahwa pembelajaran TPS memberikan pengaruh signifikan terhadap penguasaan materi pokok Sistem Reproduksi Manusia. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wulandari (2011 : 48) bahwa model TPS dapat meningkatkan penguasaan konsep dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. 4 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan? 2. Apakah penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan: 1. aktivitas belajar siswa dengan penggunaan model pembelajaran TPS pada materi pencemaran lingkungan kelas X SMA N 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013, dan 2. hasil belajar siswa dengan penggunaan model pembelajaran TPS pada materi pencemaran lingkungan kelas X SMA N 12 Bandar Lampung tahun pelajaran 2012/2013. D. Kegunaan Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1. siswa, yaitu untuk menciptakan suasana baru yang dapat meningkatkan aktivitas siswa pada materi Pencemaran Lingkungan, 5 2. guru, yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan dapat menjadikan salah satu alternatif bagi guru dalam memilih model pembelajaran sebagai upaya meningkatkan hasil belajar Pencemaran Lingkungan, 3. peneliti, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebagai calon guru tentang penggunaan model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam meningkatkan aktivitas siswa, dan 4. sekolah, yaitu memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan pembelajaran biologi di sekolah melalui pemilihan metode pembelajaran biologi yang tepat. E. Ruang lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah: 1. Model TPS merupakan suatu strategi diskusi kooperatif dengan cara memproses informasi dengan mengembangkan cara berfikir dan komunikasi. Adapun langkah model TPS yaitu, (1) Thinking (berpikir) siswa memikirkan jawabannya secara mandiri terhadap permasalahan yang diberikan guru, (2) Pair (berpasangan) jawaban yang telah dipikirkan secara mandiri, kemudian disampaikan kepada pasangannya masingmasing (teman sebangkunya), (3) Share (berbagi) guru membimbing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara bergantian. 2. Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah ranah kognitif yang diperoleh dari hasil pretes, postes dan skor N-gain dan aktivitas belajar 6 siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar yaitu bekerjasama dengan teman, mengungkapkan ide atau gagasan, melakukan kegiatan diskusi, dan mempersentasikan kegiatan kelompok. 3. Materi pada penelitian ini yaitu KD. 4.2 “Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan /pencemaran lingkungan dan pelestarian lingkungan”. 4. Sampel penelitian adalah siswa kelas X1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol di SMA N 12 Bandar Lampung. F. Kerangka Pikir Proses pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar siswa yang mampu mengingat informasi dari suatu sumber, dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran serta dapat mengaitkan pelajaran yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Pembelajaran dengan menggunakan model TPS merupakan salah satu dari model kooperatif yang menggunakan struktur kelompok berpasangan. Meskipun termasuk dalam model kooperatif, struktur ini memberikan kesempatan meningkatkan aktivitas siswa. Model pembelajaran kooperatif TPS berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu model pembelajaran TPS juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir (think), berpasangan (pair), dan berbagi (share) sehingga kemampuan siswa baik secara individu maupun kelompok dapat berkembang. Pada saat think, guru menyediakan waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa dan siswa menjadi lebih 7 aktif dalam berpikir mengenai konsep pada mata pelajaran. Saat pair, siswa dapat belajar dari siswa lain dan lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi. Saat share, setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya dan meningkatkan kemungkinan masing-masing siswa terlibat dengan setiap pertanyaan. Penyajian masalah dalam pembelajaran TPS yang kontekstual melatih siswa secara bertahap dibimbing untuk lebih aktif yang dapat membangkitkan aktivitas siswa, sehingga hasil belajar siswa akan lebih meningkat. Penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan terikat . Variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS sedangkan variabel terikatnya adalah aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa. Y1 X Y2 Gambar 1.Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat Keterangan: X = Model TPS Y1 = Hasil belajar siswa. Y2 = Aktivitas belajar siswa G. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan. 8 2. H0 = Penggunaan model pembelajaran TPS tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan. H1 = Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan. 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran kooperatif tipe TPS TPS adalah suatu struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Profesor Frank Lyman di Universitas Meryland pada tahun 1981 dan diadopsi oleh banyak penulis sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Dalam kegiatan saat think, pair, dan share diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengontruksian pengetahuan secara integratif. Peserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya menurut Agus (dalam Indarwanti, 2010 : 30) Ada empat prinsip kerja dari TPS yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif. Empat prinsip kerja itu adalah sebagai berikut : 1. Saling ketergantungan positif di antara siswa sehingga siswa mampu belajar dari siswa lain. 2. Tanggung jawab individual. Setiap siswa bertanggung jawab pada gagasannya karena akan dipaparkan pada pasangannya dan pada seluruh kelas. 10 3. Partisipasi yang seimbang. Setiap siswa akan mempunyai kesempatan yang sama untuk berbagi (mengemukakan pendapatnya) dengan pasangannya dan pada seluruh kelas. 4. Interaksi bersama Semua siswa akan aktif dalam mengemukakan pendapat dan mendengarkan sehingga menciptakan interaksi. Hal ini akan menciptakan pembelajaran yang aktif jika dibandingkan dengan cara tanya jawab yang sudah biasa dilakukan oleh guru, dan biasanya hanya satu atau dua siswa saja yang aktif (Anonim, 2001 : 1). TPS adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (think), berpasangan (pair), dan mengemukakan pendapat (share) (Ibrahim dkk., 2000 : 26). Model pembelajaran TPS juga dapat meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas. Karena siswa akan berdiskusi dengan pasangannya (pairs) untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, kemudian siswa juga berbagi (share) kepada teman-teman sekelasnya dengan mempresentasikan hasil diskusinya dengan pasangannya. Selain itu dengan penerapan metode ini siswa akan lebih menguasi materi, karena siswa harus berpikir (think) untuk menyelesaikan masalah yang ditugaskan kepadanya. TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa agar tercipta suatu pembelajaran yang koo- 11 peratif yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan siswa. Prosedur pembelajaran yang digunakan dalam TPS ini dapat memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk berfikir, untuk merespon dan saling membantu satu sama lain. TPS memiliki keunggulan dibanding dengan metode tanya jawab, karena TPS mengedepankan aspek berfikir secara mandiri, tanggung jawab terhadap kelompok, kerjasama dengan kelompok kecil, dan dapat menghidupkan suasana kelas (Nurhadi dan Senduk, 2004 : 67). TPS dapat mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Waktu berfikir akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan jawaban. Siswa akan dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lebih berkaitan. Jawaban yang dikemukakan juga telah difikirkan dan didiskusikan. Siswa akan lebih berani mengambil resiko dan mengemukakan jawabannya di depan kelas dan karena mereka telah “mencoba” dengan pasangannya. Proses pelaksanaan TPS akan membatasi munculnya aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran karena siswa harus mengemukakan pendapatnya, minimal pada pasangannya (Lyman, 2002 : 2) Menurut Nurhadi dan Senduk (2004 : 67) tahapan-tahapan dalam TPS dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Thinking (berfikir) Guru mengajukan pertanyaan/permasalahan yang berkaitan dengan materi yang baru dipelajari, kemudian memberi kesempatan kepada seluruh siswa untuk memikirkan jawabannya secara mandiri dalam 1 menit; 12 2. Pairing (berpasangan) Jawaban yang telah difikirkan secara mandiri, kemudian disampaikan kepada pasangannya masing-masing (teman sebangkunya). Pada tahap ini, siswa dapat menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan. Tahap ini berlangsung dalam 4 menit; 3. Sharing (berbagi) Guru membimbing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara bergantian. Sampai sekitar seperempat kelompok menyampaikan pendapat. Pada tahap ini seluruh kelompok dapat mendengarkan pendapat yang akan disampaikan oleh perwakilan tiap kelompok. Kelompok yang menyampaikan pendapatnya harus bertanggung jawab atas jawaban dan pendapat yang disampaikan. Pada akhir diskusi guru memberi tambahan materi yang belum terungkapkan oleh kelompok diskusi. Tahapan pelaksanaan TPS tersebut efektif dalam membatasi aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, serta dapat memunculkan kemampuan dan keterampilan siswa yang positif. Pada akhirnya TPS akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir secara terstruktur dalam diskusi mereka dan memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri ataupun dengan orang lain melalui keterampilan berkomunikasi. Model TPS menye-babkan siswa aktif dalam pembelajarannya, karena siswa belajar ber-komunikasi dengan baik, memiliki tanggung jawab, berinteraksi dengan siswa lain, serta turut berpartisipasi dalam pembelajaran. 13 B. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hal kompleks yang terjadi sehari-hari dan merupakan suatu proses perubahan bagi siswa dalam menghadapi bahan ajar. Bahan ajar dapat berupa keadaan alam, belajar tumbuhan dan manusia. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang di capai oleh siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang cukup luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psiko-motor sehingga dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan berpikir, sikap dan alam kehidupan sehari-hari (Gunawan, 2010 : 5). Interaksi tindak belajar dan tindak mengajar merupakan suatu hasil dari belajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati dan Mujiono, 2002 : 3). Proses pembelajaran antara guru dan siswa merupakan bukti dari hasil belajar. Hasil belajar yang bisa diperoleh siswa setelah pembelajaran dapat berupa informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa: 1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan. 14 2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret, definisi, dan prinsip. 3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. 4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. 5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut (Gagne dalam Dimyati dan Mujiono, 2002 : 10) Anderson dkk (2000 : 67-68), menyatakan ranah kognitif mempunyai hirarki atau tingkatan. Tingkatan tersebut terdiri dari 6 jenis perilaku yaitu: 1) Remember, mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu meliputi fakta peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, dan metode. 2) Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari. 3) Apply, mencakup kemampuan menerapkam metode dan kaidah untuk meghadapi masalah yang nyata dan baru. 4) Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan kedalam bagian bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurai masalah menjadi bagian yang lebih kecil. 15 5) Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. 6) Create, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok, ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut. Hasil belajar juga dapat dicapai antara lain apabila kegiatan mengajar atau menyampaikan mata pelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa, keefektifan belajar akan semakin tinggi bila kegiatan mengajar sesuai dengan faktor intern (intelegen, kemampuan, motivasi, emosional, kebutuhan, dan gaya belajar), maupun faktor ekstern (lingkungan, dan keluarga) sehingga dapat dikatakan bahwa mengajar yang efektif adalah mengajar yang sesuai bagi setiap siswa. Terciptanya 16 proses belajar yang efektif dan efisien akan menjadikan hasil belajar lebih berarti, lebih bermakna serta berdaya guna pada diri individu yang belajar (Susanto dalam Gunawan, 2010 : 5). C. Aktivitas Belajar Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu perilaku, suatu rumpun ilmu yang mengkaji aktivitas manusia. Lingkup kajian aktivitas manusia sangatlah luas, mencakup aktivitas manusia sebagai individu atau kelompok menurut (Sukmadinata dalam Parlina, 2010 : 26). Aktivitas belajar merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar maka semakin baik proses pembelajaran yang terjadi. Dengan demikian belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis (Holt dalam Wardani, 2007 : 9). Aktivitas fisik adalah suatu kegiatan yang melibatkan fisik peserta didik giat aktif pada anggota badan seperti mata, membuat sesuatu, bermain atau bekerja, peserta didik tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Seluruh peranan dan kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya daya itu tetap aktif untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal sekaligus mengikuti proses pengajaran secara aktif. Siswa mendengarkan, mengamati, menyelidiki, mengingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan satu dengan lainnya dan 17 sebagainya (Rohani, 2004 : 6-7). Menurut Diedrich (dalam Rohani, 2004 : 9) terdapat macam-macam kegiatan peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa sebagai berikut: 1. Visual activities, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya. 2. Oral activities, menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan interview, diskusi, interupsi, dan sebagainya. 3. Listening activities, mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi,musik, pidato dan sebagainya. 4. Writing activities, menulis : cerita, karangan, laporan, tes angket, menyalin dan sebagainya. 5. Drawing activities, menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan sebagainya. 6. Motor activities, melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya. 7. Mental activities, menganggap, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya. 8. Emotional activities, menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani tenang, gugup dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Dalam setiap aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai oleh perasaan tertentu dan pada setiap pelajaran terdapat berbagai aktivitas yang dapat diupayakan. Menurut Hamalik (dalam Parlina, 2010 : 28) upaya untuk meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran dapat dilakukan guru dengan tiga alternatif 18 pemberdayaan, yaitu : 1. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dalam kelas. Asas aktivitas dapat dilakukan dalam setiap kegiatan tatap muka dalam kelas yang terstruktur, baik dalam bentuk komunikasi langsung kegiatan kelompok, kegiatan kelompok kecil, belajar independen. 2. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran sekolah masyarakat. Dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam bentuk membawa kelas ke dalam masyarakat, melalui metode karyawisata, survey, kerja pengalaman, pelayanan masyarakat, berkemah, dan berproyek. Cara lain adalah mengundang narasumber dari luar. 3. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dengan pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif). Pembelajaran dilaksanakan dengan titik berat pada keaktifan siswa dan guru bertindak sebagai fasilitator dan nara sumber yang memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar. Memes (dalam Andra 2007 : 39) menyatakan bahwa, untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa, pedoman yang digunakan sebagai berikut: bila rata-rata nilai 75,6 maka dikategorikan aktif. Bila 59,4 ≤ rata-rata nilai < 75,6 maka dikategorikan cukup aktif. Bila rata-rata nilai < 59,4 maka dikategorikan kurang aktif. Seseorang dikatakan aktif belajar jika dalam pembelajarannya mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tujuan belajar, memberi tanggapan terhadap suatu peristiwa yang terjadi dan mengalami atau turut merasakan sesuatu dalam proses belajarnya. Dengan melakukan banyak aktivitas yang 19 sesuai dengan pembelajaran, maka siswa mampu mengalami, memahami, mengingat dan mengaplikasikan materi yang telah diajarkan. Adanya peningkatan aktivitas belajar maka akan meningkatkan hasil belajar (Hamalik, 2004 : 12). 20 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA N 12 Bandar Lampung pada bulan Mei 2013. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester genap SMA N 12 Bandar Lampung tahun pelajaran 2012/2013. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X2 sebagai kelompok kontrol yang dipilih secara acak dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan, yaitu purposive sampling. C. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes kelompok tak ekuivalen. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran TPS, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode diskusi. Hasil tes awal dan tes akhir pada kedua kelompok subyek lalu dibandingkan. 21 Struktur desainnya adalah sebagai berikut: Kelompok I II Pretes O1 O1 Perlakuan X C Postes O2 O2 Gambar 2 . Desain penelitian tak ekuivalen Keterangan : I= Kelompok eksperimen ; II = Kelompok kontrol, O1 = Pretes O2 = Postes ; X = model pembelajaran TPS ; C = metode diskusi (dimodifikasi dari Riyanto, 2001 : 43) D. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Prapenelitian Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah sebagai berikut : a. Pembuatan surat izin untuk penelitian pendahuluan ke SMA N 12 Bandar Lampung, tempat diadakannya penelitian. b. Observasi ke SMA N 12 Bandar Lampung, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang diteliti. c. Penetapan sampel penelitian d. Pembuatan perangkat pembelajaran yang terdiri atas Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), soal pretes dan postes e. Pembuatan lembar observasi aktivitas belajar siswa 22 f. Pembuatan angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TPS 2. Pelaksanaan Penelitian Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan model TPS untuk kelas eksperimen dan dengan metode diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini dirancang sebanyak dua kali pertemuan. Pretes diberikan sebelum pembelajaran dan postes diberikan setelah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran kelas eksperimen dengan menggunakan model TPS sebagai berikut: a. Kegiatan awal 1) Siswa mengerjakan soal pretes pada pertemuan 1 2) Siswa diberi apersepsi : (Pertemuan I) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan contoh polusi yang disebabkan kendaraan. Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut”? (Pertemuan II) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan contoh orang yang sedang bersepeda dijalan raya. Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah manfaat dari kegiatan tersebut”? 3) Guru memberikan motivasi : (Pertemuan I) : Memberikan motivasi kepada siswa bahwa dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah satu penyebab pencemaran udara yang 23 ditimbulkan dari polusi kendaraan, maka dari itu kita perlu menjaga lingkungan sekitar misalnya dengan menanam pohon. (Pertemuan II) : Memberikan motivasi kepada siswa dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah satu upaya pelestarian lingkungan terutama lingkungan udara. b. Kegiatan Inti  Guru menginformasikan kepada siswa bahwa pada pembelajaran ini mereka berdiskusi berpasangan.  Mejelaskan tahapan pembelajaran dengan menggunakan model TPS.  Guru memberikan uraian materi.  Guru membagikan LKS kepada setiap siswa kemudian meminta siswa untuk berfikir (thinking) selama 2 menit untuk setiap soal.  Guru meminta siswa untuk berpasangan (pairing) dengan teman sebangkunya untuk saling mengutarakan hasil pemikirannya, jawaban, atau gagasan atas pertanyaan yang ada dalam LKS selama 5 menit untuk tiap soal.  Guru menunjuk beberapa pasang siswa untuk mengemukakan (sharing) hasil diskusinya dengan seluruh kelas.  Guru mempersilahkan kepada siswa yang lain untuk menanggapi hasil diskusi. 24  Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan menambahkan materi yang belum diungkapkan siswa, serta mengarahkan diskusi untuk mengambil kesimpulan.  Guru bertanya kepada siswa tentang pemahaman materi yang telah disampaikan.  Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran. c. Penutup 1) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran. 2) Guru memberikan postes pertemuan akhir. 3) Guru menugaskan siswa untuk mengulangi materi pelajaran. 4) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam. Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol dengan menggunakan metode diskusi sebagai berikut: a. Kegiatan awal 1) Siswa mengerjakan soal pretes pada pertemuan 1 2) Siswa diberi apersepsi : (Pertemuan I) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan contoh polusi yang disebabkan kendaraan. Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut”? (Pertemuan II) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan contoh orang yang sedang bersepeda di jalan 25 raya. Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah manfaat dari kegiatan tersebut”? 3) Guru memberikan motivasi : (Pertemuan I) : Memberikan motivasi kepada siswa bahwa dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah satu penyebab pencemaran udara yang ditimbulkan dari polusi kendaraan, maka dari itu kita perlu menjaga lingkungan sekitar misalnya dengan menanam pohon. (Pertemuan II) : Memberikan motivasi kepada siswa dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah satu upaya pelestarian lingkungan terutama lingkungan udara. b. Kegiatan Inti 1) Guru menjelaskan materi pokok pencemaran lingkungan. Pertemuan pertama membahas mengenai keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah kerusakan/pencemaran lingkungan. Pertemuan kedua membahas keterkaitan antara kegiatan manusia dalam upaya pelestarian lingkungan. 2) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. 3) Guru mengadakan penguatan dengan menjelaskan materi yang belum dipahami oleh siswa. 26 c. Penutup 1. Guru bersama siswa mengulas materi yang telah dipelajari. 2. Guru bersama siswa menarik kesimpulan setiap pertemuan. 3. Guru mengadakan postes untuk pertemuan terakhir. 4. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dibahas pertemuan selanjutnya. E. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data 1. Jenis Data Jenis data pada penelitian ini adalah : 1. Jenis Data a. Data Kuantitatif Data kuantitatif yaitu berupa data hasil belajar yang diperoleh dari nilai pretes dan postes pada materi pokok pencemaran lingkungan. Kemudian dihitung selisih antara nilai pretes dengan postes. Nilai selisih tersebut disebut sebagai skor N-gain, lalu dianalisis secara statistik. b. Data Kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas siswa yang relevan pada model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TPS. 27 2. Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah: a. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa Lembar observasi aktivitas belajar siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Aspek yang diamati yaitu: bekerjasama dengan teman, mengungkapkan ide atau gagasan, melakukan kegiatan diskusi, dan mempersentasikan kegiatan kelompok. b. Pretes dan Postes Data hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran pada pertemuan kedua setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol dengan bentuk dan jumlah soal yang sama. Soal tes berbentuk uraian Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu : Keterangan : S = nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008 : 112). c. Angket Tanggapan Siswa Angket ini berisi pendapat siswa tentang model pembelajaran kooperatif tipe TPS yang telah dilaksanakan. Angket ini berupa 10 pernyataan, terdiri dari 6 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif. 28 Setiap siswa memilih jawaban yang menurut mereka sesuai dengan pendapat mereka pada lembar angket yang telah diberikan. Angket tanggapan siswa ini memiliki 2 pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak setuju. F. Teknik Analisis Data a) Data Kualitatif 1. Pengolahan Data Aktivitas belajar siswa Data aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu: 1) Menghitung persentase aktivitas menggunakan rumus: X xi n x100 % Ket: X Xi n = Rata-rata skor aktivitas siswa = Jumlah skor aktivitas yang diperoleh = Jumlah skor aktivitas maksimum (Sudjana, 2002 : 69). Tabel 1. Lembar observasi aktivitas belajar siswa No Nama 1 A 2 Aspek yang diamati B 3 1 2 3 1 C 2 3 1 2 3 dst Jumlah (Xi) Skor maks (n) Rata-rata ( ) Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai (dimodifikasi dari Arikunto, 2009 : 183) 29 Keterangan kriteria penilaian aktivitas siswa: A. Mengerjakan tugas pada tahap Thinking 1. Tidak menyelesaikan tugas secara mandiri dan mengganggu teman sebangkunya. 2. Menyelesaikan tugas secara mandiri tetapi mengganggu teman sebangkunya. 3. Menyelesaikan tugas secara mandiri dan tidak mengganggu teman sebangkunya. B. Interaksi siswa dengan pasangannya pada tahap Pairing 1. Tidak menuangkan idenya, tidak menambahkan gagasan, dan tidak berbagi jawaban dengan pasangannya. 2. Menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan tetapi tidak mengarah pada permasalahan pada materi pokok Pencemaran Lingkungan. 3. Menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan dan sesuai dengan permasalahan pada materi pokok Pencemaran Lingkungan. C. Kecakapan komunikasi siswa pada tahap Sharing 1. Tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampain pendapat atau pertanyaan tidak sesuai dengan materi dan tidak mampu mempertahankan pendapat. 2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampain pendapat atau pertanyaan tidak sesuai dengan materi dan tidak mampu mempertahankan pendapat. 3. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampaian pendapat atau pertanyaan sesuai dengan materi dan mampu mempertahankan pendapat. Cara mengukurnya : Guru dan observer mengukur aktivitas belajar siswa dalam lembar observasi aktivitas belajar siswa sesuai indikator. 2) Menafsirkan atau menentukan kategori Persentase Aktivitas Siswa sesuai kriteria pada tabel 2. Tabel 2. Kriteria aktivitas siswa Kriteria Persentase (%) 87,50 – 100 Sangat baik 75,00 – 87,49 Baik 50,00 – 74,99 Cukup 0 – 49,99 Kurang Sumber: Dimodifikasi dari Hidayati (2011 : 17) 30 2. Pengolahan Data Angket Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Data tanggapan siswa terhadap pembelajaran dikumpulkan melalui penyebaran angket. Angket tanggapan berisi 10 pernyataan yang terdiri dari 6 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif. 1. Item pernyataan Tabel 3. Pernyataan angket tanggapan siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pilihan S TS Pernyataan Saya senang mempelajari materi pokok ekosistem melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru (think, pair,share) Saya lebih mudah memahami materi yang dipelajari melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Saya bingung dalam menyelesaikan masalah melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Saya lebih mudah mengerjakan soal-soal setelah belajar dengan model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Saya merasa bosan dalam proses belajar melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran yang diberikan kepada saya dapat meningkatkan semangat/motivasi belajar saya . Saya belajar menggunakan kemampuan sendiri melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru. Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Saya merasa sulit mengerjakan soal-soal di LKS melalui model pembelajaran diberikan oleh guru. Saya dapat berinteraksi dengan teman dalam proses pembelajaran melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru. 2. Skor angket Tabel 4. Skor tiap pernyataan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TPS No. Item Soal Sifat Pernyataan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Positif Positif Negatif Positif Negatif Positif Positif Negatif Negatif Positif Skor 1 S S TS S TS S S TS TS S 0 TS TS S S TS TS TS S S TS S = setuju; TS = tidak setuju (dimodifikasi dari Rahayu, 2010 : 29). 31 3. Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut: X in S S maks 100% Keterangan: X in = Persentase jawaban siswa; S = Jumlah skor jawaban; Smaks = Skor maksimum yang diharapkan (Sudjana, 2002 : 69). 4. Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket. Tabel 5. Tabulasi angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TPS No. Pertanyaan Angket Pilihan Jawaban Nomor Responden (Siswa) 1 2 3 4 5 dst. Persentase S TS S 2 TS S 3 TS S 4 TS S 5 TS S dst. TS Sumber: dimodifikasi dari Rahayu (2010 : 31) 1 5. Menafsirkan persentase angket untuk mengetahui tanggapan siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. 32 Tabel 6. Kriteria persentase angket tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS Persentase Kriteria (%) 100 Semuanya 76 – 99 Sebagian besar 51 – 75 Pada umumnya 50 Setengahnya 26 – 49 Hampir setengahnya 1 – 25 Sebagian kecil 0 Tidak ada Sumber: Hendro dalam (Hastriani, 2006 : 43) b) Data Kuantitatif Data penelitian kuantitatif berupa nilai pretes, postes, dan skor N-gain. Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Hake (1999 : 1) yaitu: Keterangan: Spost = skor postes; Spre = skor pretes; Smax = skor maksimum Sedangkan untuk mengukur persen (%) peningkatan hasil belajar siswa digunakan rumus sebagai berikut. % Peningkatan = Skor akhir – Skor awal x 100% Skor maksimum – Skor awal Nilai pretes, postes, dan skor N-gain pada kelompok kontrol dan eksperimen dianalisis menggunakan uji t dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa: 33 1. Uji normalitas data Uji normalitas data dihitung menggunakan uji Lilliefors dengan menggunakan softwere SPSS versi 17. a. Rumusan hipotesis H0 = data berdistribusi normal H1 = data tidak berdistribusi normal b. Kriteria pengujian Terima H0 jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak H0 untuk harga yang lainnya (Pratisto, 2004:5). 2. Uji Kesamaan Dua Varians Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan dengan menggunakan program SPSS versi 17. a. Hipotesis Ho : Kedua sampel mempunyai varians sama H1 : Kedua sampel mempunyai varians berbeda b. Kriteria Uji - Jika F hitung < F tabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima - Jika F hitung> F tabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:13). 3. Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan program SPSS versi 17, 34 namun untuk data yang tidak berdistribusi normal pengujian hipotesis di lakukan dengan uji Mann-Whitney U. 1) Uji Kesamaan Dua Rata-rata a. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama b. Kriteria Uji - Jika –t tabel< t hitung< t tabel, maka Ho diterima - Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004 : 13). 2) Uji Perbedaan Dua Rata-rata a. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan kelompok kontrol. H1 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol. b. Kriteria Uji : - Jika –t tabel < t hitung< t tabel, maka Ho diterima - Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel, maka Ho ditolak (Pratisto, 2004 : 10). 3) Uji Mann-Whitney U 1) Hipotesis Ho = Tidak terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol H1 = Terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol 35 2) Kriteria Uji : Ho ditolak jika sig < 0,05 Dalam hal lainnya Ho diterima Hasil belajar merupakan kemampuan menyerap arti dari materi suatu bahan yang dipelajari. Penguasaan materi bukan hanya sekedar mengingat mengenai apa yang dipelajari tetapi menguasai lebih lebih dari itu, yakni melibatkan bebagai proses kegiatan mental sehingga lebih bersifat dinamis (Arikunto, 2003 : 131). Hasil belajar siswa dapat digambarkan melalui indikator C4 dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Memberi skor sesuai rubrik pada lembar penilaian hasil belajar kemudian dimasukkan pada tabel berikut. Tabel 7. Lembar penilaian hasil belajar No Nama Skor pada aspek hasil belajar C4 No soal No soal 1 2 3 4 5 dts. R N S Kriteria Keterangan : C4 = Analyze (sumber: modifikasi dari Anderson, 2000 : 67-68) 2. Menjumlahkan skor (R) setiap siswa. 36 3. Menentukan nilai (S) pada setiap indikator hasil belajar (penguasaan materi) dengan menggunakan rumus: R S= N x 100 Keterangan: S = Nilai penguasaan materi yang diharapkan (dicari); R = Jumlah skor penguasaan materi yang diperoleh; N = Jumlah skor penguasaan materi maksimum (dimodifikasi dari Purwanto, 2008 : 112). 51 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan. 2. Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis menyampaikan saran sebagai berikut: 1. Bagi guru atau peneliti yang akan menerapkan model pembelajaran TPS hendaknya meminta siswa agar mengumpulkan lembar jawaban masingmasing siswa pada saat tahapan Thinking untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum siswa melakukan tahapan Pairing. 2. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga guru hendaknya sebelum melaksanakan proses pembelajaran 52 sebaiknya terlebih dahulu merancang kesesuaian waktu dengan materi pokok agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. 53 DAFTAR PUSTAKA Anderson, L. W., D. R. Krathwohl, K. A. Cruikshank, P. R. Pintrich, J. Raths, dan M. C. Wittrock. 2000. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing, (A Revision of Bloom Taxonomy of Educational Objectives, Abridged Edition). Longman.Newyork. Andra, D. 2007. Penerapan Mastery Learning Melalui discovery untuk Meningkatkan Aktivitas dan Pencapaian Kompetensi Belajar Siswa Materi Gerak (PTK pada Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2006/2007. Unila. Bandar Lampung Anonim. 2001. Think Pair Share. Google.Networked Learning Community. http://www.eazhul.org.uk/nlc/think,pair,share.htm.13 desember 2012. Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup. Bandung: Alfabeta. Arikunto, S. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta Ariansyah. 2009. Penguasaan Materi Pokok Sistem Reproduksi Manusia oleh Siswa pada Penggunaan Animasi Multimedia Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS). FKIP Universitas Lampung. Bandar Lampung. Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Gunawan, I. 2010. Metode Kooperatif Model Think Pair Share. http://masimamgun.blogspot.com/2010/06/metode-kooperatif-model-thinkpair.html. (29 Desember 2012) Hake, R.R. 1999. Analizing Change/Gain Scores. Indiana University. USA. http://physics. Indiana.edu/~sdi/AnalizingChange_Gain.pdf (21 Desember 2012; 09:05 WIB). Hamalik, O. 2004. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi Aksara. Jakarta. Hastriani, A. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. 54 Hidayati, A. N., N. Rustaman, S. Redjeki, dan Munandar. 2011. Training o

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (49 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KECAKAPAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/20
0
7
54
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 12 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
6
60
PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI POKOK KEANEKARAGAMAN HAYATI (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kotagajah Semester Genap
0
6
57
PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PENCERNAAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Neg
0
19
70
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN PENGUASAAN MATERI BIOLOGI PADA MATERI POKOK KINGDOM PLANTAE (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Semester Genap Tah
4
55
52
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajar
1
10
49
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 1 Kalirejo Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 Pada Materi Pokok Pengelolaan Lingkun
0
8
46
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
2
49
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
5
38
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think Pair Share (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM ( Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
1
6
48
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DANPENGUASAAN MATERI SISWA (Kuasi Eksperimen PadaSiswa Kelas VII SMP Negeri Natar Lampung Selatan Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
6
47
PEGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Muhammadiyah 3 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
20
203
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATERI EKOSISTEM (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 23 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2
0
3
120
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 14 Bandar Lampung T.P 2014/2015)
0
4
59
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
19
44
Show more