Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit

Gratis

0
104
125
3 years ago
Preview
Full text

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE DALAM PERJANJIAN KREDIT (Studi pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan) S K R I P S I

  Di dalam skripsi permasalahan yang dibahas adalah akibat musnahnya obyek jaminan yangmengalami force majeure dalam hak tanggungan, perlindungan hukum bagi kreditur terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure,upaya penyelesaian kredit terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure. Selanjutnya perlindungan hukum bagi kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan adanya pencantuman klausula di dalam AktaPemberian Hak Tanggungan (APHT) yang menyebutkan bahwa debitur wajib untuk mengasuransikan obyek jaminan hak tanggungan tersebut sebagai uangganti kerugian bagi kreditur apabila obyek jaminan itu musnah disebabkan karena force majeure.

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

  Di dalam skripsi permasalahan yang dibahas adalah akibat musnahnya obyek jaminan yangmengalami force majeure dalam hak tanggungan, perlindungan hukum bagi kreditur terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure,upaya penyelesaian kredit terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure. Selanjutnya perlindungan hukum bagi kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan adanya pencantuman klausula di dalam AktaPemberian Hak Tanggungan (APHT) yang menyebutkan bahwa debitur wajib untuk mengasuransikan obyek jaminan hak tanggungan tersebut sebagai uangganti kerugian bagi kreditur apabila obyek jaminan itu musnah disebabkan karena force majeure.

KATA PENGANTAR

  Dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YangMaha Esa atas segala kemurahan dan rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaiakanpenulisan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dimana hal tersebut merupakana kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya.

HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK

  Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan sehingga penulis berharap agar semua pihak dapat memeberikan masukan berupa kritik dan saranyang membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik dan lebih sempurna lagi ke depannya. Bank Mandiri (Persero), Tbk cabang Medan khususnya untuk Bapak Arif Budi Agustanto selaku Team Leader dan Ibu Elvianna Khairi selaku Proffesional Staff yang telah banyak membantu penulis dengan memberikan data yang diperlukan dalam penyelesaian skripsi ini.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan Nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang

  Perjanjian yang dibuat tersebut terdiri dariperjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang dan dengan perjanjian tambahan berupa perjanjian pemberian jaminan oleh pihak debitur. Perlindungan dan pemberian kepastian hukum yang seimbang dalamUndang-Undang Hak Tanggungan diberikan kepada Kreditur, Debitur, maupunPemberi Hak Tanggungan dan pihak ketiga yang terkait.

5 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan Buku 1, PT. Citra

  Dalam Pasal 20 ayat 1 UUHT menyebutkan bahwa apabila debitur cidera janji, kreditur pemegang hak tanggungan berhak untuk menjual obyek yangdijadikan jaminan melalui pelelangan umum menurut peraturan yang berlaku dan mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut, dengan hakmendahulu daripada kreditur-kreditur lain yang bukan pemegang hak tanggungan atau kreditur pemegang hak tanggungan dengan peringkat yang lebih rendah. Peristiwa cidera janji atau wanprestasi yang dilakukan oleh debitur menyebabkab obyek jaminan hak tanggungan dapat dilelang untuk melunasiutangnya kepada debitur, akan tetapi bagaimana jika obyek jaminannya tersebut musnah disebabkan oleh peristiwa force majeure yang dapat mengganggujalannya pelunasan utang debitur.

A. Permasalahan

  Untuk mengetahui akibat yang timbul dari musnahnya suatu obyek jaminan hak tanggungan yang disebabkan karena force majeure dalamsebuah perjanjian kredit pada PT. Untuk mengetahui upaya penyelesaian kredit yang dilakukan oleh bank sebagai kreditur terhadap obyek jaminan hak tanggungan yangmengalami force majeure pada PT.

1. Secara Teoritis

2. Secara Praktis

  Secara teoritis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan pengetahuan dan wawasan serta kajian lebih lanjut bagipembaca yang ingin mengetahui dan memperdalam tentang masalah hukum jaminan khususnya mengenai jaminan hak tanggungan. Secara praktis, penulisan skripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi lembagajaminan hak atas tanah yaitu hak tanggungan.

D. Metode Penelitian

  Untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka harus didukung dengan fakta-fakta/dalil-dalil yang akurat yang diperoleh dari suatu penelitian. Ilmupengetahuan yang merupakan kekuatan pemikiran, pengetahuan manusia senantiasa dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis, akan berkembang terus atasdasar penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pengasuh-pengasuhnya.

8 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003

  terutama disebabkan oleh karena penggunaan ilmu pengetahuan bertujuan agar 9 manusia lebih mengetahui dan mendalami. Metode merupakan suatu penelitian yang dilakukan oleh manusia, merupakan logika dari penelitian ilmiah, studi terhadap prosedur dan teknik 10 penelitian, maupun sistem dari prosedur dan teknik penelitian.

1. Jenis Penelitian

  Bahan Hukum SekunderBahan hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajianterkait jaminan hak tanggungan, seperti hasil kajian seminar- seminar, jurnal-jurnal, buku-buku, makalah-makalah, serta karyatulis ilmiah lainnya maupun tulisan-tulisan yang terdapat pada website yang terpercaya yang mengulas tentang pelaksanaan c. Bahan Hukum TersierBahan hukum tersier yang digunakan didalam penulisan skripsi ini adalah bahan-bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan daribahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, kamus bahasa umum, kamus hukum, ensiklopedia hukum serta bahan-bahan laindiluar bidang hukum yang relevan dan dapat digunakan untuk melengkapi data di dalam penulisan skripsi ini.

3. Alat Pengumpulan Data

  Alat pengumpul data yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah melalui studi dokumen, bahan pustaka, serta penelitian lapangan(field research). Bahan pustaka yang dimaksud terdiri dari bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumendan teori yang berkaitan dengan penelitian ini serta bukti empiris tidak mendalam dengan melakukan wawancara.

4. Analisis Data

  Dalam penulisan skripsi, metode pendekatan yang digunakan yaitu secara deskriptif, dimulai dengan analisis terhadap perjanjiankredit perbankan sesuai dengan masalah yang diteliti. Dengan spesifikasi demikian, diharapkan penulisan skripsi ini dapat mendeskripsikan mengenai perlindungan hukum krediturpemegang jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure dalam perjanjian kredit berdasarkan permasalahan yang diteliti.

E. Keaslian Penulisan

  Menelusuri kepustakaan telah banyak karya ilmiah dan hasil penelitian tentang jaminan hak tanggungan,namun berdasarkan uji bersih yang dilakukan, penelitian dengan judul“Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan berupa Hak Tanggungan yangMengalami Force Majeure dalam Perjanjian Kredit (Studi Pada PT. BankMandiri, Tbk Cabang Medan)” hingga saat ini belum ada. Tinjauan yuridis terhadap penyelesaian wanprestasi debitur atas perjanjian kredit Bank dengan jaminan Hak Tanggungan Studi pada PT.

F. Sistematika Penulisan

Agar materi dalam skripsi ini dapat diikuti dan dimengerti dengan baik, maka skripsi ini tersusun secara sistematis yakni di mana masing-masingbab dibagi atas beberapa bagian sub bab dan berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan, dan Sistematika Penulisan. I TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Tinjauan Umum tentang Perjanjian, Pengaturan Perjanjian Kredit Perbankan pada

BAB II I PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Pengertian dan Konsep Teoritis Hukum Jaminan, Hak Tanggungan atas Hak atas Tanah, dan Force Majeure dan Akibat-Akibat Hukumnya. BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE DALAM PERJANJIAN KREDIT (STUDI PADA PT. MANDIRI, TBK MEDAN) Dalam bab ini akan membahas mengenai Akibat Musnahnya Obyek Jaminan yang Mengalami Force Majeure dalam Hak Tanggungan, Perlindungan Hukum Bagi Kreditur terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure, dan Upaya Penyelesaian Kredit terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Kesimpulan dan Saran yang diperoleh dari penulisan skripsi ini

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian

  Umumnya, dan Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku AntaraDebitur dan Kreditur. Tinjauan Umum tentang Perjanjian meliputiPengertian Umum Perjanjian, Asas-Asas Perjanjian, Syarat Syahnya suatu Perjanjian, Prestasi dan Wanprestasi.

1. Pengertian Umum Perjanjian

  H., yang dimaksud dengan “Perikatan” adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan manapihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang 12 lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Dalam hal ini jika dengan hukum perikatan, termasuk baik perikatan yang terbit dari undang-undangmaupun perikatan yang terbit karena undang-undang, maka dengan hukum perjanjian, yang dimaksudkan hanya terhadap perikatan-perikatan yang terbit dariperjanjian saja.

12 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2001, hlm. 1

  dikatakan bahwa dua perkataan (perjanjian dan persetujuan) itu adalah sama 14 artinya. Pihak-pihak yang ada dalam suatu perjanjian disebut sebagai subyek perjanjian yang terdiri dari manusia dan badan hukum.

2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian

  Syarat SubyektifAdalah suatu syarat yang menyangkut pada subyek perjanjian apabila yang menyangkut pada subyek ini tidak dipenuhi, maka salah satu pihakdapat meminta supaya perjanjian tersebut dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yangmemberiksan sepakatnya (perizinannya) secara tidak bebas.

2. Syarat Obyektif

  Sedangkan dalam Pasal 1335 KUH Perdata menyebutkan bahwa suatu persetujuan tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatusebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Berkaitan dengan hal ini, maka akibat yang timbul dari perjanjian yang berisi sebab yang tidak halal adalah batal demi hukum.

3. Asas-Asas Perjanjian

  (b)Iktikad Baik Mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dengan dibuat ukuran yang obyektif untuk menilaikeadaan atau membuat penilaian yang tidak memihak menurut norma-norma yang obyektif. Asas Kepribadian (Personalitas)Asas Kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan membuat kontrak hanya untuk kepentingan Pasal 1315 menyebutkan bahwa pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinyasendiri.

3. Prestasi dan wanprestasi

  Suatu perjanjian dapat menimbulkan prestasi dan kontra prestasi bagi para pihak dari perjanjian tersebut. Prestasi (performance) dari suatu perjanjian adalah 19 janjinya.

1. Memberikan sesuatu; 2

  Yangdimaksudkan adalah tidak dilaksanakannya suatu prestasi atau kewajiban sebagaimana mestinya yang telah disepakati bersama, seperti yang tersebut dalam 20 kontrak yang bersangkutan. Subekti, wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur dapat berupa 21 : a.tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya; b.melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;c.melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat; d.melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

1. Debitur mengajukan alasan adanya keadaan memaksa (force

  Debitur mengajukan alasan bahwa pihak kreditur juga telah lalai melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian, misalnya kreditur terlambatmencairkan kredit. Debitur mengajukan alasan bahwa pihak kreditur telah menetapkan aturan kredit yang tidak wajar misalnya menetapkan bunga dan dendayang terlalu tinggi atau menetapkan syarat agunan yang terlalu ketat.

B. Pengaturan Perjanjian Kredit Perbankan pada Umumnya

Yang dimaksud dengan perkreditan adalah suatu penyediaan uang atau yang dipersamakan dengannya, yang didasari atas perjanjian pinjam-meminjamantara pihak kreditur (bank, perusahaan atau perorangan) dengan pihak debitur(peminjam), yang mewajibkan pihak debitur untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu, di mana sebagai imbalan jasanya, kepada pihak kreditur(pemberi pinjaman) diberikan hak untuk mendapatkan bunga, imbalan atau 24 pembagian hasil keuntungan selama masa kredit tersebut berlangsung. Istilah kredit dapat didefinisikan dalam beberapa golongan, yaitu : 1.Berdasarkan Etimologis

24 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, Op.Cit.

  Kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu “credere” yang berarti kepercayaan (trust atau faith). Apabila orang mengatakan membeli secara kredit maka hal itu berarti si pembeli 25 tidak harus membayarnya pada saat itu juga.

2. Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan a

  Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuanatau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangkawaktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Pasal 1 butir 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuanatau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunsai utangnya setelahjangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

25 H. Budi Untung, Kredit Perbankan di Indonesia, Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2005, hlm.1

  Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum (disebut PBI 7/2005)menyebutkan bahwa penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatanpinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentudengan pemberian bunga, termasuk : Berdasarkan Pendapat AhliRaymond P. Kent dalam bukunya Money and Banking mengatakan bahwa kredit adalah hak untuk menerima pembayaran atas kewajibanuntuk melakukan pembayaran pada waktu yang diminta atau pada waktu yang akan datang karena penyerahan barang-barang sekarang.

26 Thomas Suyatno, dkk, Dasar-Dasar Perkreditan, Gramedia Pustaka Umum, Jakarta, 2007

  adalah prestasi uang, maka transaksi kredit menyangkut uang sebagai alat kredit yang menjadi pembahasan. 27 Kredit berfungsi kooperatif antara si pemberi kredit dan si penerima kredit atau antara kreditur dan debitur.

28 Peraturan tentang perkreditan atau regulasi perkreditan di sektor

29 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-

  Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan di dalam Pasal 8 ayat (2) secara tegas meyebutkan bahwa Bank Umum wajib memiliki dan menerapkan PedomanPerkreditan dan Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 27/162/KTP/DIR tanggal 31 Maret 1995 kepada setiap bank diwajibkan untuk memiliki kebijakan perkreditan secara tertulis, yang sekurang-kurangnya memuat atau mengatur prinsip kehati-hatian dalam perkreditan, organisasi dan manajemen perkreditan, kebijakan persetujuan kredit, dokumentasidan administrasi kredit, pengawasan, dan penyelesaian kredit bermasalah.

30 Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, Elex Media Komputindo

  Kepercayaan tersebut timbul karenadipenuhinya segala ketentuan dan persyaratan untuk memperoleh kredit bank oleh debitur, antara lain : jelasnya tujuan peruntukan kredit, adanya benda jaminan atau 32 agunan, dan lain-lain. Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnyaperjanjian lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan barang jaminan; 2.

3. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit

Dalam prakteknya saat ini, secara umum ada 2 (dua) jenis kredit yang 35 diberikan oleh bank kepada para nasabahnya, yaitu : 1. Kredit ditinjau dari segi tujuan penggunaannya, berupa :

a. Kredit Produktif

  Kredit produktif, yaitu kredit yang diberikan kepada usaha-usaha yang menghasilkan barang dan jasa sebagai kontribusi dari usahanya. Untukkredit jenis ini terdapat 2 (dua) kemungkinan, yaitu : Kredit modal kerja, yaitu kredit yang diberikan untuk membiayai S.

b. Kredit Konsumtif

Kredit konsumtif, yaitu kredit yang diberikan kepada orang perorangan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif masyarakat umumnya (sumberpengembaliannya dari fixed income debitur).

2. Kredit ditinjau dari segi jangka waktunya, berupa :

  Kredit Jangka Pendek Kredit jangka pendek, yaitu kredit yang diberikan dengan tidak melebihi jangka waktu 1 (satu) tahun. Kredit Jangka Menengah Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang diberikan dengan jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) tahun.

C. Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku Antara Debitur dan Kreditur

  Pemberian kredit dari Bank kepada Debitur, selain harus didasari oleh adanya unsur kepercayaan, juga harus didasari oleh adanya sebuah kontrakperjanjian kredit yang bersifat tertulis dan pada umumnya perjanjian kredit tersebut diikat dengan sebuah akta notaris agar kepastian hukumnya lebih 37 terjamin. Hubungan antara dua orang tersebut adalah suatu hubungan hukum di mana 39 hak dan kewajiban di antara para pihak tersebut dijamin oleh hukum.

1. Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Pokok

  Perjanjian kredit adalah perjanjian pokok yang bersifat riil, yan diikuti dengan perjanjian jaminan sebagai perjanjian tambahan (accessoir). Dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa klausula baku adalahsetiap aturan atau ketentuan dan syarat yang telah dipersiapkan atau ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkandalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi konsumen.

40 Iswi Hariyani, Op.Cit., hlm. 15

  Pada tahap ini, kedudukan calon nasabah debitursangat lemah, sehingga menerima saja syarat-syarat yang diajukan dan ditetapkan oleh pihak kreditur, karena jika tidak demikian, maka calon 44 nasabah debitur tidak akan mendapatkan kredit yang dimaksud. Rumusan perjanjian baku dalam perjanjian kredit harus memenuhi beberapa syarat, yaitu 46 : 1.tidak ada unsur kecurangan; 2.tidak ada unsur pemaksaan akibat ketidakseimbangan kekuatan para pihak; 3.tidak ada syarat perjanjian yang hanya menguntungkan secara sepihak; 4.tidak ada risiko yang hanya dibebankan secara sepihak; 5.tidak ada pembatasan hak untuk menggunakan upaya hukum.

2. Perjanjian Jaminan sebagai Perjanjian Tambahan

  Perjanjian jaminan digolongkan sebagai perjanjian accessoir karena perjanjian tersebut bersifat perjanjian tambahan atau ikutan yangpemberlakuannya mengikuti perjanjian pokok yang mendasarinya. Perjanjian jaminan berkaitan dengan pengikatan jaminan atau agunan kredit yangumumnya diikat dengan akta notaris yang bersifat baku dan bersifat 48 eksekutorial.

BAB II I PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN A. Pengertian dan Konsep Teoritis Hukum Jaminan Salah satu kegiatan usaha perbankan adalah berupa pemberian kredit. Pemberian kredit merupakan pemberian pinjaman uang oleh bank kepada anggota

  Jaminan kredit yang diterima bank dari debitur termasuk sebagai salah satu obyek yang berkaitan dengan kepentingan bank. Jaminan kredit tersebut harus dapat diyakini sebagai jaminan yang baik dan berharga sehingga akan dapat memenuhi fungsi-fungsinya, antara lain dengan 51 memperhatikan aspek hukum yang terkait termasuk aspek hukum jaminan.

52 Sri Soedewi Masjhoen Sofwan, mengemukakan bahwa hukum jaminan

  Adanya lembaga jaminan dan lembaga demikian, kiranya harus dibarengi dengan adanya lembaga kredit dengan jumlah, besar, denganjangka waktu yang lama dan bunga yang relatif rendah”. Ruang lingkup hukum jaminan di Indonesia mencakup berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur hal-hal yang berkaitan denganpenjamin utang yang terdapat dalam hukum positif di Indonesia.

56 M. Bahsan, Op.Cit., hlm. 8

1. Kedudukan Harta Pihak Peminjam

  Pasal 1131 KUH Perdata menetapkan bahwa semua harta pihak peminjam, baik yang berupa harta bergerak maupun yang tidak bergerak,baik yang sudah ada maupun yang akan ada di kemudian hari merupakan jaminan atas perikatan utang pihak peminjam. Klausula perjanjian yang tergolong sebagai isi yang naturalia merupakan klausula fakultatif, artinya bila dicantumkan sebagaiisi perjanjian akan lebih baik, tetapi bila tidak dicantumkan, tidak menjadi masalah kecacatan perjanjian karena hal (klausula) yang seperti demikiansudah diatur oleh ketentuan hukum yang berlaku.

2. Kedudukan Pihak Pemberi Pinjaman

  Berdasarkan ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa kedudukan pihak pemberi pinjaman dapat dibedakan atas 2 (dua)golongan, yaitu :(a) yang mempunyai kedudukan berimbang sesuai dengan piutangmasing-masing; (b) yang mempunyai kedudukan didahulukan dari pihak pemberi pinjamanyang lain berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan. Pasal 1132 KUH Perdata menetapkan bahwa harta pihak peminjam menjadi jaminan bersama bagi semua pihak pemberi pinjaman, hasilpenjualan harta tersebut dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara pihakpemberi pinjaman itu mempunyai alasan yang sah untuk didahulukan.

3. Larangan memperjanjikan pemilikan objek jaminan utang oleh pihak pemberi pinjaman

  Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai peraturan perundang- undangan yang mengatur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagailiteratur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagai literatur tentang 58 jaminan, sebagaimana dipaparkan berikut ini :(a) Asas publicitet, yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia dan hipotek harus didaftarkan. Di dalam Buku II KUH Perdata, ketentuan-ketentuan hukum yang erat kaitannya dengan hukum jaminan, yang masih berlaku dalam KUHPerdata adalah gadai (Pasal 1150 KUH Perdata sampai dengan Pasal 1161 KUH Perdata) dan Hipotek (Pasal 1162 KUH Perdata sampaidengan Pasal 1232 KUH Perdata.

2. Di luar Buku II KUH Perdata, ketentuan-ketentuan hukum itu meliputi:

  Hartono Hadisoeprapto berpendapat bahwa jaminan adalah :“Sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uangyang timbul dari suatu perikatan”. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, mengemukakan pengertian jaminan imateriil (kebendaan) dan jaminan perseorangan adalah 61 :“Jaminan materiil ialah jaminan berupa hak mutlak atas sesuatu benda, yang mempunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas bendatertentu dari debitur, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya (droit de suite) dan dapat dialihkan.

61 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Op.Cit., hlm. 47

  Yangdimaksud dengan jaminan kebendaan yang khusus ini adalah penentuan/penunjukan atas benda tertentu milik debitur atau milik pihak ketiga,untuk menjadi jaminan utangnya kepada kreditur, di mana jika debitur wanprestasi atas pembayaran utangnya, hasil dari penjualan objek jaminantersebut harus terlebih dahulu (preferens) dibayar kepada kreditur yang bersangkutan untuk melunasi pembayaran utangnya. Hak kebendaan adalah hak yang bersifat atas suatukebendaan, yang memberikan kepada pemiliknya kekuasaan secara langsung atas kebendaan tersebut yang bersifat mutlak, yang dapat dipertahankan terhadapsiapapun juga.

67 Megarita, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Saham yang Digadaikan, USU Press

  Yang tergolong ke dalam hak jaminan kebendaan yang berlaku saat ini 68 adalah sebagai berikut :(a) Hipotek, dengan dasar hukumnya adalah Kitab Undang-Undang HukumPerdata (buku kedua), saat ini berlaku hanya untuk hipotek kapal laut(berdasarkan KUH Perdata). (e)Fidusia, dengan dasar hukumnya adalah Undang-Undang Fidusia, dengan objeknya adalah benda bergerak (berwujud maupun tidak berwujud) danbenda tidak bergerak khususnya yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan.

A. Hak Tanggungan atas Hak atas Tanah

  Pada tanggal 9 April 1996 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentangHak Tanggungan Atas Tanah beserta Benda-Benda Yang Berkaitan dengan Tanah(UUHT) diundangkan sebagai realisasi dari Pasal 51 Undang-Undang Pokok 69 Agraria Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA). Karena pada waktu itu hakatas tanah merupakan objek hukum dalam jaminan hipotek.

70 Tanggungan

  Oleh karena itu, ketentuan Hypotheek dan Credietverband tersebut jelas tidak sesuai dengan asas-asas Hukum Tanah Nasional dan dalamkenyataanya tidak dapat menampung perkembangan yang terjadi dalam bidang perkreditan dan hak jaminan sebagai akibat dari kemajuan pembangunan 73 Hak Tanggungan di dalam UUHT tidaklah dibangun dari suatu yang belum ada. Jadi, Hak Tanggungan itu merupakan lembaga hak jaminan kebendaan atas hak atas tanah beserta benda-benda berkaitan dengan tanah yang merupakansatu kesatuan dengan tanah untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu kepada kreditur pemegangHak Tanggungan terhadap kreditur-kreditur lain.

79 Hukum Agraria itu sendiri

  AsasHak Tanggungan bertingkat ini dapat ditarik dari ketentuan dalam Pasal 5 ayat (2) UUHT, yang mengatur mengenai peringkat pemegang Hak Tanggungan, bahwa Hak Tanggungan yang telah dibebankan pada suatu benda yang menjadi objek Hak Tanggungan mempunyaiperingkat diantara satu dengan yang lainnya, sehingga akan terdapat 5. Dengan terpenuhinya asas spesialitas dari Hak Tanggungan, maka dapat diketahui secara spesifik uraian-uraian yang berkaitan dengan subjek Hak Tanggungan, utang yang dijamin dengan Hak Tanggungan, nilai tanggungan maupun objek HakTanggungan, sehingga dapat diketahui secara spesifik dan uraian yang jelas mengenai subjek Hak Tanggungan, utang yang dijamin denganHak Tanggungan, nilai Tanggungan dan objek Tanggungan.

6. Hak Tanggungan wajib didaftarkan (asas publisitas), artinya pemberian

  Hak Tanggungan harus atau wajib diumumkan atau didaftarkan, sehingga pemberian Hak Tanggungan tersebut dapat diketahui secaraterbuka oleh pihak ketiga dan terdapat kemungkinan mengikat pula terhadap pihak ketiga dan memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Subekti mengatakan bahwa sistem adalah suatu susunan atau catatan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitansatu sama lain tersusun menurut suatu rencana atau pola hasil dari suatu pemikiran untuk mencapai suatu tujuan.

84 Mariam Darus Badrulzaman, Op.Cit., hlm.11

  (f)Asas mudah dan pasti pelaksanaan eksekusi (Penjelasan Umum angka 3 d UUHT)Kemudahan dan kepastian pelaksanaan eksekusi terjadi dengan adanya sifat hak melakukan eksekusi dari pemegang Hak Tanggungan dengan (g)Asas accessoir Hak Tanggungan adalah perjanjian ikutan (accessoir) dan tidak merupakan hak yang berdiri sendiri (zelfstandigrecht). Biasanya dalam praktik pemberi HakTanggungan disebut dengan debitur, yaitu orang yang meminjamkan uang di lembaga perbankan, sedangkan penerima Hak Tanggungan disebut dengankreditur, yaitu orang atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak berpiutang.

85 Persyaratan Pemberi dan Penerima Hak Tanggungan adalah sebagai

berikut 86 : a.Pemberi Hak Tanggungan (1)Persyaratannya

85 Salim HS, Op.Cit., hlm. 104

  Sudah barang tentu menerima jaminan tanah dalam keadaan belum terdaftar, lebih-lebih kalau diperoleh pemberi Hak Tanggungan melalui Alat Bukti KewenanganAlat bukti apa yang digunakan oleh PPAT dan wajib diserahkan kemudian kepada PPAT dan wajib diserahkannya kemudian kepada Kantor BadanPertanahan untuk keperluan pendaftaran Hak Tanggungan yang bersangkutan yang terdapat dalam Peraturan Menteri NegaraAgraria/Kepala BPN No. Yaitu, bahwa denganbertambah meningkatnya pembangunan nasional dibutuhkan penjelasan dana yang sebagian besar diperoleh melalui kegiatan perkreditan diperlukan adanyalembaga jaminan hak yang kuat dan mampu memberi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan maka dana yang diperoleh dari luar negeripun harus dipergunakan bagi pembangunan nasional.

88 Undang Pokok Agraria

  Pasal 4 ayat (4) UUHT menyebukan bahwa: Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yangtelah ada atau akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengantegas d inyatakan di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan”. Pemberian Hak Tanggungan dalam Pasal 10 ayat (1) UUHT dimulai dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasanhutang tertentu yang dituangkan dengan akte yang dibuat oleh Pejabat PembuatAkte Tanah (PPAT) dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian utang piutang atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut danselanjutnya harus didaftarkan di Kantor Badan Pertanahan.

B. Force Majeure dan Akibat-Akibat Hukumnya

  Yang dimaksud dengan force majeure dalam hukum perjanjian adalah suatu keadaan di mana seseorang yang berkewajiban (debitur) terhalang untukmelaksanakann prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tidak terduga pada saat dibuatnya perjanjian tersebut, dan keadaan atau peristiwa tersebut secarahukum tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur yang bersangkutan, 109 sedangkan debitur tersebut tidak dalam keadaan beriktikad buruk. Pasal 1244 Jika ada alasan untuk itu, si berhutang harus dihukum mengganti biaya, rugi dan bunga apabila ia tidak dapat membuktikan, bahwa haltidak atau tidak pada waktu yang tepat dilaksanakannya perikatan itu, disebabkan karena sesuatu hal yang tidak terduga, pun tidak dapatdipertanggungjawabkan padanya.

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE DALAM PERJANJIAN KREDIT

  Force majeure yang merupakan suatu keadaan yangmenyebabkan debitur terhalang untuk melaksanakan prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tidak terduga pada saat dibuatnya perjanjian tersebut dankeadaan atau peristiwa tersebut secara hukum tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur yang bersangkutan, sedangkan debitur tersebut tidak dalamkeadaan beriktikad buruk. Hal ini dikuatkan dengan ketentuan yang terdapat di dalam Pasal 1131 KUH Perdatamenyebutkan bahwa segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru ada dikemudian hari,menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.

B. Upaya Penyelesaian Kredit terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure

  Obyek jaminan berupa tanah sepanjang tidak berubah bentuknya maka jaminan debitur tetap apabila berubah bentuknya maka harus diganti jaminantersebut dengan obyek jaminan yang baru dan limit kredit harus dikurangi, sedangkan jaminan berupa bangunan yang diasuransikan dan telah dicantumkan 122 bahwa bank sebagai banker’s clause akan mendapatkan ganti rugi. Debitur wajib untuk mengasuransikan obyek jaminan yang baru tersebut dan terhadap obyek jaminan yang baru tersebut diikat dengan APHT yang baru.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam Bab IV, maka

  Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dapat hapus secara otomatis apabila obyek jaminan yang dijaminkan di dalam APHT tersebutmusnah, tetapi hapusnya APHT ini tidak menyebabkan hapusnya utang debitur karena APHT merupakan perjanjian yang bersifat accessoir(perjanjian tambahan) yang mengikuti perjanjian pokok, yaitu perjanjian kredit tersebut. Kreditur juga terlindungi dengan diasuransikannya obyek jaminan hak tanggungan tersebut, sehingga apabila obyek jaminan musnah dikarenakan force majeure, maka Bank sebagai banker’s clause berhak untuk mendapatkan uang asuransi dari obyek jaminan asuransi karena dalam polis secara tegas dinyatakan bahwa pihak Bank sebagai penerima gantirugi atas peristiwa yang terjadi atas obyek pertanggungan sebagaimana disebutkan dalam perjanjian asuransi (polis).

B. Saran

  Akibat musnahnya obyek jaminan menyebabkan Bank akan menurunkan nilai kredit sehingga debitur tidak bisa mendapatkan kredit sesuai denganyang dibutuhkannya hendaknya Bank tidak menurunkan nilai kredit dan debitur diharapkan memiliki itikad baik. Untuk memberikan perlindungan hukum kepada kreditur maka hendaknya debitur dengan segera mengganti obyek jaminan yang telah musnahdengan obyek jaminan yang baru yang telah diasuransikan dan diikat dengan Hak Tanggungan yang baru sehingga ada kepastian hukum bagiBank sebagai kreditur.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku Adjie, Habib. 2000. Hak Tanggungan Sebagai Lembaga Jaminan Atas Tanah

  4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan dalam Kaitannya dengan Pemberian Kredit oleh Perbankan. Hak Tanggungan Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok dan Masalah yang Dihadapi oleh Perbankan (Suatu Kajian mengenai Undang-Undang Hak Tanggungan).

B. Peraturan Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)

  Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang PerbankanUndang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
2
83
133
Tinjauan Yuridis Hak Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Pertama Dalam Pelelangan Boedel Kepailitan
1
48
126
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Dalam Eksekusi Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan
5
95
91
Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan Dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan
5
56
124
Perlindungan Pemegang Hak Guna Bangunan Di Atas Hak Pengelolaan PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) (Studi Penelitian Di Kabupaten Aceh Utara)
0
73
119
Pelaksanaan Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan Sebagai Upaya Penyelesaian Sengketa Debitur Yang Wanpretasi Pada Bank Sumut
1
40
148
Parate eksekusi hak tanggunggan sebagai perlindungan hukum terhadap kreditur (analisis putusan mahkamah agung nomor 1993K/Pdt/2012)
0
27
110
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN
1
11
115
Kedudukan Kreditur Covernote Dalam Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan.
0
1
2
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KREDITUR BARU DALAM PELAKSANAAN PENGAMBILALIHAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN.
0
0
13
View of PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KREDITUR ATAS WANPRESTASI DEBITUR PADA PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN
0
0
16
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
12
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian 1. Pengertian Umum Perjanjian - Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
25
i KATA PENGANTAR - Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
19
JURNAL ILMIAH PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN (STUDI DI BANK NTB CABANG LOTIM)
0
0
19
Show more