Karakterisasi Dan Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms)

Gratis

20
115
72
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Terhadap serbuk simplisia daun eceng gondok dilakukan karakterisasi dan skrining fitokimia, selanjutnya dimaserasi dengan pelarut n-heksan selama 24 jamsambil sesekali diaduk dan ampas dimaserasi kembali sampai diperoleh maserat yang memberikan hasil negatif terhadap Liebermann-Bouchard (LB). Hasil karakterisasi serbuk simplisia diperoleh kadar air 6,64%; kadar sari larut dalam air 12,52%; kadar sari larut dalam etanol 16,86%; kadar abu total19,62% dan kadar abu tidak larut asam 0,68%.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Disamping itu daun eceng gondok telah di teliti dapat digunakan sebagai obat antibakteri (Jayanthi, 2013), antikoagulan (Rafiqua, 2012), antiinflamasi(Jayanthi, 2013), antijamur, antioksidan, dan antikanker (Ahmed, 2011). Apakah senyawa steroid/triterpenoid dari ekstrak n-heksan daun eceng gondok dapat diisolasi dengan KLT preparatif?

1.4 Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Mengisolasi senyawa steroid/triterpenoid yang terdapat dalam ekstrak 2.n-heksan daun eceng gondok.

3. Mengidentifikasi senyawa steroid/triterpenoid hasil isolasi secara spektrofotometri UV dan spektrofotometri IR

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaatpenelitianiniadalahuntukmenambahinformasitentang karakteristik simplisia, golongan senyawa steroid/triterpenoid (isolat) hasil isolasidari ekstrakn-heksan daun eceng gondok.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

  2.1.1 Morfologi tumbuhan Eceng gondok (Eichhornia crassipes(Mart.) Solms) merupakan tanaman yang hidup terapung pada air yang memiliki aliran tenang, termasuk terna airdengan tinggi 30 – 50 cm,memiliki bunga berwarna biru-lembayung muda dengan lapisan berwarna kuning di bagian atas daun mahkota (Heyne, 1995; Putera,2012). 2.1.4 Kandungan kimia Kandungan kimia eceng gondok terdiri atas 60% selulosa, 8% hemiselulosa dan 17% lignin (Ahmed, dkk., 2012), juga senyawa alkaloid,antrakuinon, flavonoid, flobatanin, glikosida jantung, saponin, steroid, terpenoid, kuinon, tanin dan polifenol (Lata dan Dubey, 2010; Widyaningrum, 2011) 2.1.5 Khasiat Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) berkhasiat untuk mengobati bengkak, biduran, tenggorokan panas dan pencahar air seni.

2.2 Uraian Kandungan Kimia Tumbuhan

2.2.1 Alkaloida

  Dapat dilihat pada Gambar 2.72122 berikut ini:111213181720162423252627211019 C9814 D15 B3 A4567 Gambar 2.7 Struktur dasar steroid dan sistem penomorannya Senyawa steroid dahulu dianggap sebagai senyawa yang hanya terdapat pada hewan tetapi sekarang ini makin banyak senyawa steroid yang ditemukandalam tumbuhan (fitosterol). Senyawa golongan steroid memiliki sifat fisiologis dan bioaktif yang penting, misalnya berperan dalam pembentukan struktur membran, pembentukanhormon kelamin dan hormon pertumbuhan serta pembentukan vitamin D, sebagai penolak dan penarik serangga dan sebagai antimikroba (Robinson, 1995).

2.3 Metode Ekstraksi

  Penyarian zat aktif dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai pada temperatur kamar, tertutup dengan wadahyang gelap dan terlindung dari cahaya. SokletasiSokletasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut yang selalu baru, dilakukan dengan menggunakan alat soklet sehingga menjadiekstraksi kontinu dengan pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

2.4 Kromatografi

  Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan perbedaan perpindahan dari komponen-komponen senyawa diantara dua fase yaitu fase diam(dapat berupa gas atau zat cair) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat cair). Fase gerak membawa zat terlarut melalui fase diam sehingga terpisah dari zat terlarut lainnya yang terelusi lebih awal atau paling akhir karena perbedaanafinitas antara masing-masing zat terlarut dengan fase diam (Sundari, 2010).

1. Fase gerak zat cair - fase diam padat (kromatografi serapan):

Kromatografi lapis tipis Fase gerak gas -fase diam padatKromatografi gas - padat Fase gerak zat cair -fase diam zat cair (kromatografi partisi)Kromatografi kertas Fase gerak gas-fase diam cair Kromatografi gas - cair

2.4.1 Kromatografi lapis tipis

  Fase diam atau penyerap yang bisa digunakan 2 2 3 sebagai pelapis plat adalah silika gel (SiO ), selulosa dan alumina (Al O ) kebanyakan penyerap yang digunakan adalah silika gel (Sundari, 2010). Beberapa senyawa organik bersinar atau berfluorosensi jika disinari dengan sinar ultraviolet gelombangpendek (254 nm) atau gelombang panjang (366 nm), jika dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yangmembuat bercak tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan, kemudian bila perlu dengan pemanasan (Gritter, dkk., 1991).

2.4.2 Kromatografi lapis tipis preparatif

  Pelarut yang digunakan adalah berupa pelarut campuran dari pelarut organik dengan tujuan untuk memperolehpemisahan yang lebih baik. Pita ditampakkan dengan cara yang tidakmerusak maka senyawa yang tidak berwarna dengan penyerap dikerok dari plat kaca.

2.4.3 Kromatografi lapis tipis dua arah

  KLT dua arah atau KLT dua dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimiayang hampir sama, karena nilai Rf juga hampir sama, selain itu dua sistem fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campurantertentu sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang hampir sama (Rohman, 2009). Lempeng kromatografi selanjutnya dipindahkan dari chamber yang menggunakan eluen kedua sehingga pengembangan dapat terjadi pada arah keduayang tegak lurus dengan arah pengembangan yang pertama.

2.5 Spektrofotometri

2.5.1 Spektrofotometri ultraviolet

  Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan antara panjang gelombang atau frekuensi serapan terhadap intensitas serapan(transmitansi atau adsorbansi). Spektrum ulraviolet biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan.

2.5.2 Spektrofotometri sinar inframerah

  Spektra inframerah mengandung banyak serapan yang dihubungkan dengan sistem vibrasi yang berinteraksi dalam molekul dan karena mempunyaikarakteristik yang unik untuk setiap molekul maka dalam spektrum memberikan pita-pita serapan yang karakteristik juga (Sastrohamidjojo, 1991). Spektrofotometer inframerah pada umumnya digunakan untuk menentukan gugus fungsi yang tedapat dalam suatu senyawa organik dan untuk mengetahuiinformasi tentang struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya.

BAB II I METODE PENELITIAN Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental meliputi

  pengumpulan dan pengolahan sampel, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, analisis fraksi n-heksan yang dilanjutkan dengan isolasisenyawa steroid/triterpenoid mengunakanKLT preparatif. Isolat yang diperoleh diuji kemurniannya dengan KLT satu arah dan dua arah, karakterisasi isolatdengan spektrofotometri UV dan IR.

3.1. Alat-alat dan Bahan

3.1.1 Alat-alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: alat-alat gelas (IwakiPyrex), blender (Philips),chamber, eksikator, hair dryer (Maspion), mikroskop(Olympus), neraca analitik (Vibra AJ), neraca kasar (Homeline),oven listrik(Memmert), penangas air (Yenaco), penguap vakum putar (Stuart), rotary evaporator (Boeci 461), seperangkat alat kromatografi lapis tipis, seperangkat alatpenentu kadar air (Pyrex), spektrofotometer inframerah (Shimadzu), spektrofotometer ultraviolet (Shimadzu) dan tanur (Nabertherm). 3.1.2 Bahan-bahan Sampel yang digunakan adalah daun eceng gondok (Eichhornia crassipes(Mart.) Solms) dan Bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas proanalisa yaitu: amil alkohol, ammonia pekat, asam asetat anhidrida, asam klorida, asam nitrat, asam sulfat,benzena,besi (III)klorida,bismuth (III)nitrat,etanol,etilasetat,iodium,kaliumiodida,kloroform,

3.2 Pembuatan Larutan Pereaksi

  3.2.3 Pereaksi Bouchardat Sebanyak 4 g kalium iodida dilarutkan dalam air suling dan sebanyak 2 g iodium dilarutkan dalam larutan kalium iodida dan dicukupkan dengan air sulinghingga 100 ml(Depkes RI, 1995). Pada wadah lain sebanyak 5 gkalium iodida dilarutkan dalam 10 ml airsuling,kemudian keduanya campur dan ditambahkan air suling hingga 100 ml(Depkes RI, 1995).

3.3 Pengambilan dan Pengolahan Sampel

  3.3.1 Pengambilan sampel Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan dalampenelitian ini adalah daun eceng gondok yang masih segar, yang diambil dariJalan Jamin Ginting pasar 2 Padang Bulan, Kelurahan Titi rante, Kecamatan Medan baru, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara.

3.3.3 Pengolahan sampel

Eceng gondok disortir dan dipisahkan antara tangkai dan daunnya, dibersihkan dari pengotoran, dicuci bersih dengan air mengalir,ditiriskan,dipotong kecil-kecil, dan dikeringkan di lemari pengering pada suhu 50ËšC sampel dinyatakan kering bila diremas akan hancur, kemudiansampeldihaluskan atau diserbukmenggunakan blender dan ditimbang,selanjutnya disimpan dalam wadah bersih.

3.4 Karakterisasi Simplisia

Karakterisasi simplisia meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar sari yang larut dalam air,penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapankadarabu total, dan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam.

3.4.1 Penetapan kadar air

  Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan 3.4.2 Penetapan kadar sari yang larut dalam air Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam air sampai 1 liter) menggunakan labubersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan diudara(Depkes RI, 1995) 3.4.4 Penetapan kadar abu Sebanyak 2 g serbuk simplisia yang telah digerus ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam krus porselen yang telah terlebih dahulu dipijar dan ditara,kemudian diratakan.

3.4.5 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam

  Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asamdikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas. Kadar abu yangtidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara(Depkes RI,1995).

3.5 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia serbuk simplisia meliputi pemeriksaan senyawa alkaloida,flavonoida,glikosida, antrakinonglikosida, saponin, tanin, dansteroid/triterpenoid.

3.5.1 Pemeriksaan glikosida

  Larutan ini digunakan untuk percobaan berikut: larutan sisa dimasukkan ke dalam tabung reaksi,diuapkan di atas penangas air, sisanya ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi 3.5.2 Pemeriksaan alkaloida Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditimbang, kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2menit, didinginkan dan disaring. 3.5.5 Pemeriksaan flavonoida Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambahkan 10 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 ml filtratditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah.

3.6 Pembuatan Ekstrak n-heksan

  Cara kerja:Ekstrak n-heksana daun eceng gondok ditotolkan pada plat pra lapis silikal gel F 254 yang sebelumnya telah diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalamchamber yang telah jenuh dengan uap pengembang dan ditutup rapat. F berukuran 20 x 20 cm yang telah diaktifkan, selanjutnya plat dimasukkan ke 254 dalam bejana kromatografi yang telah jenuh dengan uap fase gerak, pengembang dibiarkan naik membawa komponen yang ada.

3.9 Uji Kemurnian Isolat

3.9.1 Uji kemurnian isolat dengan KLT satu arah

  Terhadap isolat dilakukan uji kemurnian dengan KLT satu arah menggunakanfase diam plat pra lapis silika gel 60 F 254 dan dua fase gerak denganpelarut dan perbandingan yang berbeda n-heksan-etilasetat (75:25) dan toluen- etilasetat (90:10) dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi LB. Cara kerja:Isolat ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F 254 yang sebelumnya telah diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang telah jenuhdengan uap pengembang dan ditutup rapat.

3.9.2 Uji kemurnian isolat dengan KLT dua arah

  Terhadap isolat dilakukan uji kemurnian dengan KLT dua arah menggunakan fase diam plat pra lapis silika gel 60 F 254 , fase gerak pertama n-heksan-etilasetat (75:25), fase gerak kedua toluen-etilasetat (90:10), dan sebagai penampak bercak digunakan pereaksi LB. Cara kerja:Isolat ditotolkan pada plat pra lapis silika gel 60 F yang sebelumnya telah 254 diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang telah jenuh uap pengembang pertama dan ditutup rapat.

3.10 Karakterisasi Isolat

Karakterisasi senyawa steroid/triterpenoid hasil isolasi dilakukan dengan spektrofotometri ultraviolet (UV) dan spektrofotometri inframerah (IR).

3.10.1 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultraviolet

3.10.2 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri inframerah

Karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultraviolet dilakukan dengan cara melarutkan senyawa hasil isolasi dengan metanol kemudian diukurabsorbansinya pada panjang gelombang 200-400 nm. Karakterisasi isolat dengan spektrofotometi inframerah dilakukan dengan cara mencampur isolat dengan kalium bromida menggunakan alat mixturevibrator, kemudian dicetak menjadi pelet dan dimasukkan kedalam alat spektrofotometer inframerah lalu diukur spektrum inframerah pada bilangan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  Hasil penelitian terhadap penetapankarakterisasi dari simplisia daun eceng gondok dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 56 . Penetapan kadar sari yang larut dalam air dilakukan untuk mengetahui zat- zatyang tersari dalam pelarut air misalnya glikosida, gula, gom, enzim, zat warna,dan asam organik.

4.4 Hasil Skrining Fitokimia

  Penentuan golongan senyawa kimia terhadap simplisia daun eceng gondok dilakukan untuk mendapatkan informasi golongan senyawametabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. Golongan senyawa Simplisia 2 Glikosida + 4 Saponin 5 Flavonoid 6 Tanin Serbuk simplisia daun eceng gondok ditambah dengan pereaksiDragendorff memberikan endapan warna jingga kecoklatan, dengan pereaksiBouchardat memberikan endapan warna kuning kecoklatan dan dengan pereaksiMayer terbentuk endapan putih dan kekeruhan, ini menunjukkan adanya alkaloid(Depkes RI, 1995).

4.5 Hasil Analisis Ekstrak n-heksan Secara KLT

  4.6 Hasil Uji Kemurnian Isolat Hasil uji kemurnian isolat dengan KLT menggunakan fase gerak n-heksan- etilasetat dengan perbandingan (75:25) dan toluen : etilasetat (90:10) yangdisemprotkan dengan LB, memberikan bercak tunggal berwarna merah ungu hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 51 dan harga Rf dapat dilihatpada Tabel 4.4. Perbandingan fase gerak HargaRf Penampak noda LB 1 n-heksan : etilasetat 75: 25 0,79 Merah unguPemeriksaan uji kemurnian KLT dua arah dengan fase gerak pertama n- heksan-etilasetat (75:25), dan fase gerak kedua toluen-etilasetat (90:10) denganpenampak bercak pereaksi LB, hasilnya tetap memberikan satu bercak warna merah ungu dengan harga Rf 0,79.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Hasil karakterisasi simplisia daun eceng gondok diperoleh kadar air6,64%, kadar sari yang larut dalam air 12,52%, kadar sari yang larut dalam etanol 16,86%, kadar abu total 19,62% dan kadar abu yang tidak larutasam 0,86%. (Lanjutan) Serbuk SimplisiaDimaserasi dengan pelarut n-heksana dalam wadah gelap sampai terendamselama 2 hari sambil sesekali diadukDisaring AmpasMaserat I Dimaserasi dengan n-heksana dan dibiarkan selama 2 hariDisaring AmpasMaserat II Dimasearsi dengan n-heksana dan selama 2 hariDisaring Maserat IIIAmpas DikumpulkanDiuapkan dengan rotary evaporatordengan suhu ± 40ºC Ekstrak kental n-heksanaBagan pembuatan ekstrak n-heksana simplisia daun eceng gondok Lampiran 4.

e. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Dalam Asam

  Berat sempel Berat abu 1 2,0127 g 0,017 g2 2,0383 g 0,019 g 3 2,023 g 0,015 g berat abu= Kadar abu tidak larut dalam asam x 100% berat sempel0,017 1. Kadar abu tidak larut asam = 100% = 0,93% x2,0383 0,015 = x 3.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Fraksi N-Heksana Daun Gaharu (Aquilaria Malaccensis Lam.)
5
71
99
Karakterisasi Dan Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms)
20
115
72
Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Ekstrak N-Heksan Rumput Laut Turbinaria Ornata (Turner) J. Agardh
10
87
78
Pembuatan dan Karakterisasi Kertas Dari Daun Nanas dan Eceng Gondok
36
269
66
Isolasi Dan Karakterisasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Akar Tanaman Ekor Naga (Rhaphidophora Pinnata Schott)
9
88
67
Isolasi Dan Karakterisasi Senyawa Triterpenoid Dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus)
14
88
74
Isolasi Dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid Dari Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus)
8
79
77
Karakterisasi Simplisia Dan Isolasi Senyawa Triterpenoida/Steroida Dari Herba Suruhan (Peperomiae pellucidae herba)
6
58
78
Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Sponge Suberites diversicolor Becking & Lim
18
224
84
Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Fraksi N-Heksana Daun Gaharu (Aquilaria Malaccensis Lam.)
0
0
26
Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Fraksi N-Heksana Daun Gaharu (Aquilaria Malaccensis Lam.)
0
0
23
KATA PENGANTAR - Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Fraksi N-Heksana Daun Gaharu (Aquilaria Malaccensis Lam.)
0
0
15
Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Ekstrak N-Heksan Rumput Laut Turbinaria Ornata (Turner) J. Agardh
0
1
22
Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi Senyawa Steroid/Triterpenoid Dari Ekstrak N-Heksan Rumput Laut Turbinaria Ornata (Turner) J. Agardh
1
1
14
Pembuatan dan Karakterisasi Kertas Dari Daun Nanas dan Eceng Gondok
2
4
11
Show more