Perancangan media permainan tradisional bebentengan melalui media boardgame

Gratis

2
14
74
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  BismillahirrahmanirrahimPuji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, dengan ridho dan izin-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan mata kuliah Tugas Akhir DesainKomunikasi Visual Laporan ini berisi mengenai perancangan Board game yang mengangkat tema permainan tradisional Bebentengan. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demiperbaikan pada masa yang akan datang.

06 April 2013] Nelson Gustav Wisana (2011) Manfaat Board Game di Tengah Era Digital

Tersedia di: http://arulingame.blogspot.com/p/mengapa-board-game.html[30 April 2013]Wira Mahardika Putra (2012) Gaya Gambar Dalam Komik. Tersedia di: http://wimatra.blogspot.com/2012/11/gaya-gambar-dalam-komik.html [30 April2013]

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Permainan tradisional merupakan warisan budaya luhur bangsa Indonesia

  Permainan digital yang menggunakan media seperti playstation dan game online memiliki dampak buruk seperti yang telah dijelaskan pada paparan sebelumnya, seharusnya orang tua lebih bijak memilih permainan salah satunya dengan memberikan alternatif permainan berupa board game yang sarat akan fitursosial, board game yang merupakan salah satu permainan konvensional yang biasa populer di kalangan anak-anak di bulan Ramadhan sebagai sarana untukmenghabiskan waktu menunggu berbuka (ngabuburit). Hilangnya kepedulian, rasa memiliki dan kecintaaan terhadap budaya sendiri akan memicu terjadinya kondisi buruk dimana generasi saat ini akankehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia karena sudah tak mengenal lagi budayanya sendiri, maka dari itu untuk dapat bertahan maka permainanbebentengan perlu beradaptasi untuk dapat bertahan di kondisi masyarakat saat ini oleh karena itu perlu adanya media alternatif yang lebih sesuai dengan kondisimasyarakat yang saat ini.

I. 2 Identifikasi Masalah

Dari uraian di latar belakang masalah didapat beberapa permasalahan diantaranya: I.3 Rumusan masalah Dari identifikasi masalah, penulis merumuskan masalah pada bagaimana membuat media alternatif permainan Bebentengan yang lebih sesuai dengankondisi masyarakat saat ini. I.4 Batasan masalah Pembahasan dalam permasalahan dibatasi pada objek pembahasan berupa permainan tradisional Bebentengan karena permainan ini sudah jarang dimainkandan cenderung memerlukan fasilitas tempat yang luas sehingga sulit dimainkan karena lahan bermain sudah jarang ditemui terutama di daerah perkotaan salahsatunya di daerah Bandung khususnya kecamatan Cibeunying Kidul KelurahanCicadas karena merupakan salah satu dari Tiga wilayah pemukiman terpadat diBandung dan sudah jarang ditemui lahan bermain dengan anak-anak sebagai objek permasalahan. I.5 Tujuan Perancangan

BAB II BEBENTENGAN PERMAINAN TRADISIONAL INDONESIA II.1 Permainan Menurut Ismail (Seperti dikutip Antonius Hawan, 2009) ada 2 jenis

  Permainan tradisional adalah jenis permainan yang mengandung nilai-nilai budaya yang merupakan warisanleluhur seperti bermain petak umpet, lompat tali, dakon, pasaran, dan lain-lain. Menurut Sukirman (2005), permainan tradisional merupakan unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dianggap remeh, karena permainan tradisionalmemberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak dikemudian hari.

II. 2 Permainan Tradisional Bebentengan

  Republik Indonesia tahun 1985 (seperti dikurip Ir BIasworo Adisuyanto, 2012), menyebutkan bahwa terdapat perbedaan nama dari permainan yang serupa dibeberapa daerah di Indonesia Diantaranya : Provinsi Lampung, dikenal dengan nama ; Main Benteng, Gamit Tikam, dan Kecubung Minta Api, Provinsi Jambi Sejak dulu kala permainan tradisional Bebentengan dimainkan secara turun temurun di banyak daerah di Indonesia. Meskipun setiap daerah memilikinama yang berbeda beda namun permainan yang dimainkan serupa, dikatakan serupa karena di beberapa daerah terdapat sedikit perbedaan dari segi carabermain maupun peraturanya seperti di Provinsi Jawa Timur juga terdapat permainan yang mirip namun berbeda nama dan memiliki ciri khas berbeda daridaerah lainnya.

II. 2.1 Cara Bermain Bebentengan

Permainan Bebentengan dimainkan oleh dua regu dengan jumlah angota yang sama biasanya 4 sampai 8 orang atau bahkan lebih untuk memainkanpermainan ini diperlukan sebuah lapangan dengan luas kira kira 10x15 m setiap regu wajib memilih sebuah pilar yang akan dijadikan Benteng bisaberupa pohon, pagar, tiang atau apapun yang dianggap cukup kokoh untuk dijadikan tempat menyekap Sandra. Gambar II.1 Ilustrasi permainan Bebentengan Sumber : dokumentasi pribad

II. 2.2 Peraturan Permainan :

  Sumber : ilustrasi pribadi (2013) c)Regu yang memenangkan undian memulai permainan dengan cara keluar dari Benteng untuk memancing lawan. Tawanan yang lebih dari satu orang, semuanya dapat dibebaskan dengan jalan menyentuh salah h)Benteng satu regu dinyatakan terbakar, apabila salah seorang dari regu lawan menginjakkan salah satu kakinya di daerah Benteng lawan tanpaadanya tawanan dalam Benteng tersebut.i) Setelah salah satu regu Benteng terbakar permainan dilanjutkan dengan regu yang berhasil membakar berperan sebagai pemancingj) pemain yang keluar dari arena permainan dianggap tertangakap.

II. 2.3 Cara Memenangkan Permainan

Kemenangan dari permainan ini dapat diraih dengan dua hal, yaitu

a) Menawan seluruh anggota pemain lawan

  Dalam permainan ini biasanya masing-masing pemain mengambil peranan sebagai penyerang, pemancing, mata-mata, pengganggu, penjagaBenteng, dan pengatur strategi, tergantung kemampuan masing-masing, namun posisi ini relatif dapat berubah-ubah, maksudnya jika penyerangtertangkap dan di tawan oleh pihak lawan posisi ini biasanya digantikan oleh pemain lain yang sebelumnya mengambil peran lain. Merebut Benteng lawan akan sulit jika pemain lawan masih lengkap dan belum ada satupun yang menjadi tawanan.

II. 2.4 Nilai-Nilai Positif Dalam Permainan Bebentengan

  b) Mengenal kerja sama Dalam permainan Bebentengan kekuatan sebuah tim ditentukan oleh kekompakan tim itu sendiri, keterlibatan seluruh anggota yang adadalam satu regu akan menentukan seberapa besar kekuatan regu itu sendiri, semua orang dalam regu harus tahu fungsi dan posisinya masingmasing, jika ia tidak disiplin tidak hanya merugikan dirinya sendiri namun juga akan merugikan seluruh anggota tim. Disamping itu permainanBebentengan adalah permainan berkelompok yang tidak bisa dimainkan oleh satu orang, jika ingin memainkannya otomatis anak harus mencariteman untuk diajak bermain, anak akan mendatangi rumah temanya satu- persatu proses pencarian teman ini secara tidak langsung membuat anakmenjadi tahu kondisi temanya apakah sedang sakit atu baik-baik saja.

e) Melatih ketangkasan fisik

Permainan Bebentengan mengandalkan ketangkasan fisik dan kelincahan setiap pemainya sehingga permainan ini mirip seperti olahraga yang melatih aspek motorik anak. Board Game

II. 3 Media

  Usia board game sendiri sudah sangat tua, board game tertua yang pernah diketahui bernama Sennet berasal dari peradaban Mesir kuno yang ditemukan dalam gambaran lukisan batu makam Merknera yang diperkirakan berasal dari abad 3300-2700 SM. Gambar II.4 Sennet board game tertua yang pernah diketahui Sumber : http://blog.cuartodejuegos.es/index.php/el-senet/(20/052013) Board game biasanya dimainkan oleh lebih dari 1 orang di 1 meja yang sama.

II. 3.1 Kategori Boardgame

Berdasarkan jenisnya Boardgame dibagi bagi kedalam beberapa kategori diantaranya:

1. Strategi board game

  Roll and move Tipe permainan ini mengandalkan perputaran dadu atau benda lain yang menghasilkan angka secara acak untuk menentukan langkah yangharus diambil oleh pemain. Word Game Tipe permainan ini sangat erat dengan permainan kata kata, penekananya adalah pengolahan kata yang dijadikan permaianan.

II. 3.2 Manfaat permainan Board Game

  Disamping itu boardgame jugamemiliki beberapa keunggulan lain diantaranya: a) Interaksi Sosial Kebanyakan board game dapat dimainkan oleh lebih dari 3 orang pemain, board game bisa mengajak sesama pemain untukbekerja sama dan mengalahkan permainan itu sendiri seperti Ghost Story & Arkham Horror, bernegosiasi Bohnanza & Monopoly, bermain peran Bang &Werewolf atau tindakan lain yang mengharuskan pemainnya untuk berinteraksi dengan pemainlainnya. Faktor edukasi ini terdapat pada beberapa permainanmodern, namun pengalaman yang didapat menjadi berbeda ketika pemain berhadapan langsung dengan pemain lain dan melihatakibat dari setiap pengambilan keputusan yang terjadi baginya dan orang-orang di sekitarnya.

c) Resiko & Simulasi

  Pemain akan dapat melihat akibat yang ia timbulkan dalam sebuah kelompok sosial (sesama pemain) sebagai bentukdari keputusan yang ia ambil selama permainan. Dengan kata lain, board game merupakan permainan yang melatih kehidupan bermasyarakat dengan memberikan latihan simulasisituasi kepada pemainnya.

d) Jenjang Generasi

  Tidak semua orang dapat menikmati permainan digital, terutama orang tua, karena kebanyakan dari permainan digitalmengandalkan ketangkasan penggunanya dalam teknologi, seperti menggerakkan mouse atau joy pad. Karena itu, beberapa orang tua game merupakan jenis permainan konvensional yang sudah dikenal sejak lama, tidak diperlukan pemahaman khusus untuk bisa memainkannya, sehingga semua orang bisa langsung bermain,dengan begitu para pemain dapat dengan mudah mengajak orang tua mereka untuk bermain, sehingga keharmonisan dalam keluargadapat ditumbuhkan.

II. 4 Analisa Permasalahan

II. 4.1 Bermunculanya Game Modern

  Permainan modern sanggupmenyuguhkan visual grafik luar biasa yang dapat mewakili fantasi anak-anak sehingga keberadaanya langsung digemari anak-anak bahkan tidak jarang Gambar II.14 Anak yang bermain dengan game handphone. Hal ini bisa membingungkan anak bila tak dapat membandingkan antara permainan yang sifatnya fantasidengan realitas kehidupan sekelilingnya.

II. 4.2 Minimnya Lahan Bermain

  Pertumbuhan penduduk yang membludak juga menjadi salah satu faktor yang mengancam keberadaan Permainan ini, karena dengan meningkatnyajumlah penduduk banyak lapangan yang dijadikan pemukiman atau lahan usaha, sementara Permainan Benteng memerlukan tempat yang luas untukmemainkanya. Gambar II.16 Anak-anak di Ciroyom bermain bola di dalam gang sempit Sumber : Dokumentasi Pribadi (2013) Menurut artikel yang ditulis di laman Keluarga Mahasiswa ITB Saat ini Kota Bandung baru memiliki sekitar 1700 hektare Ruang Terbuka Hijau.

II. 4.3 Terjadinya Perubahan gaya hidup masyarakat

  Banyak produk mainan yang ditawarkan oleh penjualmainan ini salah satu contoh produk yang biasa ditawarkan penjual mainan ini diantaranya action figure, mainan plastik dan lain-lain. Gambar II.18 banyaknya pilihan mainan yang ditawarkan penjual mainan.

II. 5 Kesimpulan dan solusi

  oleh karena itu perlu adanya media informasi yang dapat dijadikan alternatif mediaagar permainan Bebentengan dapat tetap dimainkan dalam kondisi yang minim lahan bermain dan praktis sesuai gaya hidup masyarakat saat ini tanpa banyakmereduksi nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya. Maka ditetapkanlah media board game sebagai solusi media alternatif permainan Bebentengan karenamemiliki beberapa keunggulan penting diantaranya adalah praktis dan dapat dimainkan di tempat yang tidak terlalu luas tanpa banyak mengurangi nilai-nilaipositif yang terkandung dalam permainan aslinya.

BAB II I STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL III.1 Strategi Perancangan Permasalahan yang terjadi terkait dengan permainan tradisional Bebentengan

salah satunya adalah karena tidak adanya media alternatif untuk memainkanBebentengan di tengah kondisi masyarakat saat ini, maka dari itu perlu dibuatnya media alternatif yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini agar Bebentengantetap dapat dimainkan oleh generasi sekarang, maka ditetapkanlah board game sebagai media permainan Bebentengan karena board game sebagai media non-digital dapat digunakan dimanapun tanpa terganggu keterbatasan fasilitas, relatif tidak memerlukan tempat yang luas, dan sesuai dengan gaya hidup masyarakatsaat ini. Target Audience

III. 1.1

  Demografis Secara demografis target audience board gameBebentengan ini meliputi kedua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, dengan katagori anak-anak usia 6-12 tahun atau usiasekolah dasar (menurut Kak Seto kategori anak dilihat dari sisi psikologis adalah 12 tahun kebawah), dengan status sosialmenengah kebawah karena karakteristik pola pikir masyarakat menengah kebawah yang rata-rata memiliki tingkat kepedulianyang rendah terhadap pentingnya melestarikan kebudayaan tradisional. Target sekunder Target sekunder dari board game Bebentengan ini adalah orang tua, diutamakan orang tua yang mau membuka wawasanya karenaproduk yang ditawarkan mengandung unsur pelestarian budaya dan pada dasarnya keputusan untuk membeli mainan terletak pada orangtua.

III. 1.2 Pendekatan Komunikasi

  Board game yang dibuat termasuk kedalam kategori roll and move karena akan menggunakan dadu untukmenentukan jumlah langkah yang akan diambil oleh pemain dan strategy board game karena mengandalkan keahlian berstrategi dari masing-masing pemain dalam memenangkan permainan seperti pada permainan aslinya. Bahasa visual yang digunakan berupa ilustrasi dengangaya gambar kartun mengikuti pola pikir anak-anak yang rata- rata menyukai film kartun agar terkesan ceria dan dekat dengankehidupan anak-anak, warna –warna yang digunakan secara keseluruhan di dominasi oleh warna coklat, hijau dan biru agarterkesan atraktif, ceria dan dekat dengan alam dengan mengangkat tema tradisional kesundaan.

III. 1.3 Strategi Kreatif

Strategi kreatif pada perancangan board game Bebentengan ini adalah dengan membuat anak memahami dan memainkan Bebentengan melalui Untuk memancing adanya interaksi antar pemain dimunculkan melalui tata letak permainan yang berhadapan seperti pada permainan catur, konsepkerjasama dimunculkan melalui jumlah avatar yang terdapat 6 buah untuk setiap regu yang dapat dimainkan oleh 1 sampai 3 pemain dalam setiap regu,setiap avatar akan mendapat peran masing-masing seperti penjaga Benteng, pemancing, mata-mata dan penyerang yang saling berkaitan dan masing-masing pemain harus mengerti dan disiplin dengan peran masing-masing untuk dapat memenangkan permainan, konsep kebersamaan dimunculkanmelalui warna kostum yang sama untuk setiap regu dan peraturan permainan yang mengharuskan pemain menyelamatkan anggota regunya yangtertangkap.

III. 1.4 Strategi Media a. Media Primer ( Board game )

Media primer yang digunakan dalam perancangan ini adalah dengan membuat sebuah media permainan berupa board game yang memberikan informasi pemahaman tentang permainan tradisional Bebentengan. Media board game dipilih karena media

b. Media Pendukung (Gimmick)

  demografis target audience yang berupa anak usia 6-12 tahun yang mana merupakan usia Sekolah Dasar, media sampul buku dipilih karena anak akan membawanya ke sekolah dan dilihatoleh teman-temanya dengan harapan akan menggugah rasa penasaran teman-temanya untuk memainkan permainan ini. Papertoy diberikan sebagai hadiah hanya berupa print-out kertas yang akan dirakit sendiri oleh anak bertujuan sebagai pengganti nilai kreatif yang terdapat pada permainanBebentengan.

c. Media Promosi

III. 1.5 Strategi Distribusi

  Untuk proses pendistribusian board game Bebentengan akan ditempatkan di mini market yang keberadaanya sudah dekat dengan masyarakatmenengah kebawah yaitu Alfamart dan Indomaret, peluncuran pertama akan dilakukan pada bulan juli akhir atau 1 minggu menjelang Ramadhan karena board game biasanya populer di bulan Ramadhan sebagai sarana ngabuburit. Strategi peluncuran adalah dengan mengadakan event turnamen Bebentengan yang bekerja sama dengan dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi JawaBarat dengan tujuan agar anak-anak setidaknya mengenal dan mencoba memainkan permainanya terlebih dahulu.

III. 2.2 Tata Letak ( Layout)

Gambar III.5 layout papan permainan board game Bebentengan Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) Layout yang diterapkan pada kartu permainan Bebentengan ini disesuaikan dengan arah baca masyarakat Indonesia yaitu dari arah kiri ke kanan dengan pola zig-zag, poin pertama yangdisampaikan adalah jenis kartu yang terbagi kedalam 2 bagian yaitu kartu aksi dan strategi, poin selanjutnya adalah istilah bahasa sundadari tehnik yang digunakan seperti berlari, melompat dan sebagainya, point 3 adalah ilustrasi yang menggambarkan tehnikyang dimaksud dan poin terakhir adalah teks yang berisi perintah yang terdapat dalam kartu. Gambar III.6 layout kartu permainan board game Bebentengan Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) Layout yang diterapkan pada buku panduan permainan Bebentengan ini tidak jauh berbeda dengan layout pada kartu permainan , arah baca disesuaikan dari arah kiri ke kanan denganpola zig-zag, poin penyampaian adalah dengan menampilkan penjelasan secara tekstual terlebih dahulu kemudian di ikutipenjelasan secara visual. Gambar III.7 layout buku panduan permainan board game Bebentengan Sumber : Ilustrasi pribadi (2013)

III. 2.3 Tipografi

  “pineapple” font ini dipilih karena karakter hurufnya yang cocok dengan tema permainan yang dekat dengan alam. Gambar III.8 logo board game BebentenganSumber : Ilustrasi pribadi (2013) Huruf untuk body text yang akan digunakan dalam buku panduan yang diperkirakan akan memuat teks yang cukup banyak font yang akan digunakan adalah “sangkuriang” karena karakter hurufnya yang diadaptasi dari aksara Sunda sesuai dengan tema permainan yang mengangkat tema kesundaan , dismping itu huruf inimemiliki unsur keterbacaanya cukup baik.

III. 2.4 Ilustrasi

  Ilustrasi atau Gaya gambar yang digunakan pada board game Bebentengan adalah dengan menggunakan gaya gambar kartun atau gaya gambar lucu. gayaillustrasi ini dipilih karena dekat dengan kehidupan anak-anak dan kebanyakan kartun memang diperuntukan untuk anak-anak.

III. 2.4.1 Studi Karakter

  Karakter-karakter yang akan berperan sebagai avatar dalam board game Bebentengan mengambil tema anak–anak dengan pakaian dan aksesoris tradisional Sunda, untuk itu mengambil bahan studi dari anak- anak komunitas Hong yang tidak lain merupakan komunitas yangmelestarikan permainan tradisional Jawa Barat yang berdomisili diBandung sebagai bahan acuan studi karakter yang akan berperan sebagai token dalam board game Bebentengan. Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) Berikut merupakan hasil penggabungan dari beberapa elemen karakteristik dan aksesoris untuk avatar yang akanmenjadi token dalam board game Bebentengan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

12. Dadang

  Umur : 8 tahunPeran : PemancingNo urut : 6 Gambar III.28 Dadang Pemancing utama balad Asep. Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) Dadang mempunyai kemampuan berlari yang sangat cepat, dan cerdik memanfaatkan situasi sehingga banyak memberikankesempatan bagi penyerang untuk menangkap lawan dan mampu memberikan perlindungan pada penyerangnya.

III. 2.4.2 Seting Tempat

  Seting lokasi yang digunakan adalah sebuah lapangan tanah terdapat rerumputan di bagian pinggir lapangan dengan properti pohon yang digunakan sebagai Bentengoleh setiap regu sesuai dengan permainan aslinya. Sumber : data pribadi (2013) Berikut hasil studi properti lapangan seting tempat bermain Bebentengan.

III. 2.5 Warna

  Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) Warna yang dominan digunakan adalah coklat sebagai perwakilan warna tanah, hijau sebagai perwakilan warna rerumputan dan birusebagai perwakilan warna air dan langit, sementara konsep warna untuk karakter digunakan warna hitam dan putih sebagai pembedaantara kelompok 1 dan kelompok 2 yang didasari pada warna khas busana orang sunda khususnya suku baduy yang dalamkeseharianya hanya menggunakan pakaian warna putih atau hitam. Gambar III.32 palet warna yang digunakan dalam board game Bebentengan Sumber : Ilustrasi pribadi (2013) III.3 Perlengkapan Permainan III.3.1 Buku Panduan Buku panduan ini akan memuat informasi tentang instruksi dan peraturan- peraturan yang harus ditaati dan dipahami oleh setiap pemain yang mana jikaterjadi perselisihan ditengah permainan maka digunakan buku panduan sebagai Gambar III.33 buku panduan board game Bebentengan.

III. 3.2 Kartu

  Kartu yang terdapat pada board game Bebentengan ini terbagi atas dua jenis kartu, yaitu kartu aksi dan kartu strategi kartu digunakan untuk menambah nilaistrategi permainan ini agar tidak hanya bergantung pada keberuntungan angka dadu saja. Untuk memudahkan pengamatan pada kartu permainan makailustrasi dalam kartu permainan ini dibagi kedalam 3 karakter dengan warna berbeda yang merupakan simbol yang menunjukan efek dan jenis kartubersangkutan.

III. 3.3 Dadu

  Dadu digunakan sebagai undian untuk menentukan jumlah langkah yang diambil pion dalam papan permainan. Gambar III.35 dadu perlengkapan board game Bebentengan.

III. 3.4 Kemasan

  Konsep kemasan untuk board game Bebentengan ini adalah menggunakan cepuk kayu seperti pada permainan catur, konsep ini dipilih karena selain awet,juga praktis karena bagian dalam cepuk dapat dimanfaatkan untuk menyimpan properti permainan yang relatif cukup memakan tempat, dengan konsep seperti iniproperti permainan aman karena berada di dalam cepuk dan awet karena material yang digunakan adalah kayu. Gambar III.36 Konsep kemasan board game Bebentengan.

III. 4 Alur Permainan Dan Penyesuaiam

  Pemain yang paling terakhir keluar dari bentengberhak menjadi penangkap. Cara menangkap lawan Cukup dengan menyentuh bagian tubuh lawan Ketika token dan token berada dalam 1 petak yang sama.

BAB IV TEKNIS PRODUKSI MEDIA IV.1 Media Utama IV.1.1 Kemasan dan Papan Permainan Konsep kemasan untuk boardgame Bebentengan ini adalah papan praktis

  yang dapat dilipat seperti koper dan menyatu dengan papan permainanya, didalamnya terdapat fasilitas penyimpanan properti permainan seperti padakemasan permainan catur, hanya saja dengan penambahan kaki meja sebagai fitur tambahan agar papan permainan dalam posisi rendah atautinggi, pada bagian pinggir papan dilengkapi visual yang yang berkaitan dengan isi dan identitas dalam board game. Visual yang di terapkan dibagian pinggir dan papan permainan menggunakan media stiker yang ditempelkan di papan kemasan.

IV. 1 Visual pada kemasan board game Bebentengan

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 43 x 32 cm. Bahan material : stiker cromo, laminasi doff.

IV. 2 papan permainan board game Bebentengan

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 42 x 31 cm. Bahan material : stiker cromo, laminasi dingin doff.

IV. 3 Kemasan board game Bebentengan

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 43 x 32 cm Bahan material : kayu albasia. IV.2 Properti Permainan IV.2.1 Dadu Dalam permainan ini dadu menjadi penggerak permainan karena setiap lemparan dadu dapat menghasilkan efek yang berbeda tergantung darijumlah nominal yang dikeluarkanya, oleh karena itu dominasi faktor keberuntungan menjadi lebih besar dalam permainan ini agar permainanlebih berimbang maka digunakanlah kartu sebagai penangkal efek yang dikeluarkan Dadu yang di dapat jika pemain berdiri diatas kolom aksi ataukolom strategi.

IV. 3 Dadu board game Bebentengan

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 43 x 32 cm Bahan material : kayu albasia. Teknis : wood cutting.

IV. 2.2 Kartu Permainan

  kartu terdiri dari 40 buah yang terbagi dalam 15 kartu aksi dan 25 kartu strategi yang berisi tentang berbagai kemungkinan yang terjadi di lapanganketika bermain bebentengan IV.4 kartu permainan. Sumber : data pribadi (2013) Ukuran : 5.5 x 8 cm Bahan material : art paper tebal 2 muka.

IV. 2.3 Buku Panduan

IV. 5 Buku Panduan

  Buku panduan ini akan memuat informasi tentang peraturan-peraturan yang harus ditaati dan dipahami oleh setiap pemain yang mana jika terjadiperselisihan ditengah permainan maka digunakan buku panduan sebagai acuan penengah dalam perselisihan tersebut. Buku panduan ini juga akanberisi informasi tentang permainan Bebentengan yang sebenarnya, bagaimana memainkanya dan bagaimana peraturanya.

IV. 2.4 Token

IV. 6 Token avatar permainan board game Bebentengan

  token berisikan 12 karakter yang terbagi kedalam 2 kelompok sebagai avatar anak ketika bermain di dalam board game. Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 3 x 5 cm Bahan material : stiker cromo, laminasi doff, kayu albasia.

IV. 3 Media Pendukung

  Papertoy IV.3.1 Papertoy diberikan sebagai hadiah hanya berupa print-out kertas yang akan dirakit sendiri oleh anak. Sumber : data pribadi (2013) Ukuran : 7 x 15 cm Bahan material : kertas tik paper.

IV. 3.2 Stiker

IV. 8 Media pendukung stiker

  Stiker diberikan bertujuan untuk menambah media promosi karena biasanya stiker ditempelkan di benda favorit anak dengan maksud agar di lihat olehteman sebayanya. Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 8.5 x 4.5 cm Bahan material : stiker cromo laminasi doff.

IV. 3.3 pop up box

Pop up box dipilih juga bertujuan untuk menambah media promosi karena mainan kertas ini sifatnya mudah dibawa kemana-mana sehingga diharapkan 1 box ups dapat dilihat beberapa anak dalam komunitasnya.

IV. 9 media pendukung pop-up box

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 4.5 x 4.5. Bahan material : art paper tebal, laminasi dingin doff.

IV. 3.4 Gantungan kunci

IV. 10 media pendukung gantungan resleting tas

  gantungan kunci diberikan sebagai gimmick, media gantungan kunci dipilih karena anak akan biasanya menggantungkanya pada resleting tasdan membawanya ke sekolah untuk dilihat oleh teman-temanya dengan harapan akan menggugah rasa penasaran teman-temanya untuk memainkanpermainan ini. Sumber : data pribadi (2013) Bahan material : stiker cromo, laminasi dingin doff.

IV. 3.5 Sampul Buku

IV. 11 Media pendukung sampul buku

  Sampul buku diberikan sebagai gimmick, media sampul buku dipilih karena anak akan membawanya ke sekolah dan dilihat oleh teman-temanyadengan harapan akan menggugah rasa penasaran teman-temanya untuk memainkan permainan ini. Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 16 x 20.5 cm Bahan material : art paper tipis.

IV. 3.6 Double Slide Card

IV. 12 Media pendukung double slide card

  Media ini digunakan sebagai pengganti Flyer dibagikan untuk mempromosikan kehadiran board game Bebentengan dan dimana bisamendapatkanya. Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 7 x 11.5 cm.

IV. 3.7 Penghapus

IV. 13 Media pendukung Penghapus

  Media penghapus dipilih karena di pelajaran tingkat sekolah dasar terdapat pelajaran menggambar, dalam pelajaran ini anak lebih banyak berinteraksidengan teman-temanya dan ketika pelajaran menggambar berlangsung biasanya penghapus banyak berkeliling di antara anak-anak karena sering dipinjam. Sumber : data pribadi (2013) Bahan material : penghapus & stiker chromo laminasi dingin doff.

IV. 3.8 Poster

  Untuk memperkenalkan board game Bebentengan pada khalayak umum khususnya anak-anak strategi yang digunakan adalah dengan mengadakansebuah event turnamen board game Bebentengan bertujuan untuk memancing anak agar setidaknya mempunyai pengalaman mencobamemainkanya. Media yang digunakan untuk acara ini adalah poster yang akan memuat informasi tentang petunjuk teknis untuk mengikuti turnamen board game Bebentengan.

IV. 14 Media promosi Poster

  Sumber : data pribadi (2013) Spesifikasi : Ukuran : 29,7 cm x 42 cm. Bahan material : art paper tipis.

Dokumen baru