PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP KETERMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI POKOK SUHU DAN KALOR DI KELAS X SEMESTER II SMA NEGERI 5 MEDAN T.P. 2015/2016.

21 

Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINSSISWA PADA MATERIPOKOK

SUHU DAN KALOR DI KELAS X SEMESTERII SMA NEGERI 5 MEDANT . P 2015/ 201 6

Oleh : Nita Pani NI M 4123321035

Program Studi Pen didikan Fi sika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

ii

RIWAYAT HIDUP

Nita Pani dilahirkan di Tandun Rokan Hulu, RIAU pada tanggal 02 April

1994. Ayah bernama Karmiden Sijabat dan Ibu bernama Tamauli Situmorang.

Merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Pada tahun 2000, penulis masuk SD

Negeri 001 Tandun Rokan Hulu dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2006,

penulis melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Tandun Rokan Hulu dan lulus pada

tahun 2009. Pada tahun 2009, penulis melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1

Tandun Rokan Hulu dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2012, penulis diterima

di Universitas Negeri Medan Jurusan Fisika Program Studi Pendidikan Fisika,

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama kuliah penulis

mengikuti Organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen Protestan (UKM-KP) dan

Ikatan Keluarga Besar Kristen Fisika (IKBKF) FMIPA Universitas Negeri

(4)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterampilan proses sains siswa menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dengan pembelajaran konvensional pada materi Suhu dan Kalor di kelas X Semester II di SMA Negeri 5 Medan T.P. 2015/2016.

Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Semester II SMA Negeri 5 Medan. Sampel penelitian ini diambil dua kelas yaitu kelas X-1 (sebagai kelas eksperimen) dan kelas X-2 (sebagai kelas kontrol) yang masing-masing berjumlah 32 siswa yang ditentukan dengan teknik Cluster Random Sampling, yaitu teknik pengambilan sample dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Sebelum diberi perlakuan kedua kelas diberikan pretes, Setelah diberikan pretes diperoleh nilai rata-rata pretes kelas eksperimen 46,16 dan nilai rata-rata pretes kelas kontrol 43,34. Setelah memperoleh data hasil pretes siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka dilakukan uji t. Uji t digunakan untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal siswa pada kedua kelas.

Selanjutnya kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda yaitu kelas eksperimen dengan model pembelajaran Inquiry Training dan kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional selama 3 kali pertemuan. Setelah diberi perlakuan diperoleh nilai rata-rata postes pada kelas eksperimen 74,46 dan dan kelas kontrol 52,81. Setelah memperoleh data postes siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka kemudian dilakukan pengujian analisa data melalui uji t. Maka diperoleh thitung = 9,77 sedangkan ttabel = 1,34. Karena thitung > ttabel (9,77 >1,34) maka Ha diterima. Melalui uji t tersebut diperoleh hasil signifikan bahwa ada pengaruh keterampilan proses sains siswa menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dengan pembelajaran konvensional pada materi pokok suhu dan kalor dikelas X semester II SMA Negeri 5 Medan T.P.2015/2016.

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas

segala rahmat dan nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada penulis hingga

penelitian ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Skripsi berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training

Terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Materi Pokok Suhu dan Kalor

Semester II SMA Negeri 5 Medan T.P. 2015 /2016.” Adapun skripsi ini disusun

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan..

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak

Drs.Ratelit Tarigan,M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Beliau telah banyak

memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal penulisan

proposal hingga akhir penulisan skipsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan

kepada Bapak Prof.Dr.Nurdin Bukit,M.Si, Bapak Dr.Makmur Sirait,M.Si dan

Bapak Dr.Nurdin Siregar,M.Si sebagai dosen penguji I, II, III yang telah

memberikan masukan dan saran-saran mulai dari rencana penelitian sampai

penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Dra.Ida

Wahyuni,M.Pd selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan

memotivasi penulis selama perkuliahan. Ucapan terima kasih juga disampaikan

kepada Bapak Dr.Asrin Lubis,M.Pd selaku Dekan FMIPA Unimed.

Ucapan terima kasih kepada Bapak dan Ibu dosen serta Staf Pegawai

Jurusan Fisika yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis

selama perkuliahan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs.

Harris M Simamora selaku kepala sekolah SMA Negeri 5 Medan, Bapak Drs.Edy

Satianto,M.Si selaku PKS 1, dan Ibu Imelda M Sitohang,S.Pd selaku guru bidang

studi Fisika yang telah banyak membantu dan membimbing penulis selama

penelitian dan para guru serta staf administrasi yang telah memberikan

kesempatan dan bantuan kepada penulis selama melakukan penelitian.

Teristimewa penulis ucapkan kepada Ayahanda Karmiden Sijabat dan

(6)

serta kasih sayang yang tak pernah henti kepada penulis dalam menyelesaikan

studi di UNIMED hingga selesainya skripsi ini. Juga teristimewa kepada Abangda

Exa Udi Sijabat dan Kakak Penulis, Kakak Pertama (Lena Sijabat & Maruli

Sinaga), Kakak Kedua (Mery Sijabat & Kardo Sibarani), Kakak Ketiga (Icha

Sijabat & Rizal Sihombing) beserta Ponakan Keyondre Sibarani dan Kathleen

Sihombing. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada yang terkasih Hevrin

Eliazer Sitorus yang telah banyak meluangkan waktu kepada penulis dalam

penulisan skripsi ini, sahabat-sahabat terdekat penulis, terutama Minar Veronika

Sinaga, Royarti Tamba, Rose Verawati Gultom dan Rina Afriana Samosir yang

telah memberikan dorongan dan semangat kepada penulis. Teman – teman

Seperjuangan Fisika Ekstensi B 2012 beseta abang, teman, dan adik stambuk

Fisika (Bg Ridho Affandi Sianturi, Rita Deby Situmorang, Gomgom Nainggolan,

Elfrida Simanjuntak, Lasria Situmorang). Teman satu dosen PS: Irene Sitepu, Siti

Annisa, dan Sobar Novtri Harry Nst. Personil Pondok Putri: Kak Jeni, Kak Cece,

Kak Melinda, Hayati Lyly & Lasma, Yohana, Nadya, Sharon, Elon, Efri. Teman

PPL YP. Dharma Karya Lubuk Pakam 2015 dan yang namanya tidak bisa disebut

satu persatu yang selalu menemani penulis yang selalu memberikan motivasi dan

semangat.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi

ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari

pembaca untuk kesempurnaan skripsi ini. Kiranya skripsi ini bermanfaat bagi

pembaca dan dunia pendidikan.

Medan, Juni 2016 Penulis,

Nita Pani

(7)

vi 2.2.2. Pengertian Model Pembelajaran Inquiry Training 8 2.2.3. Tujuan Model Pembelajaran Inquiry Training 10 2.2.4. Langkah-langkah Pembelajaran Inquiry Training 10

2.2.5. Peran / Tugas Guru 12

2.2.6. Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajran Inquiry Training 12

2.2.7. Keterampilan Proses Sains 13

2.2.8. Pembelajaran Konvensional 15 2.2.9. Materi Pembelajaran Suhu dan Kalor 16

2.3. Peneliti yang relevan 20

2.4. Kerangka Konseptual 23

2.5. Hipotesis 24

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 25

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 25

3.3. Variabel Penelitian 25

3.4. Jenis dan Desain Penelitian 25

(8)

3.6. Teknik Pengumpulan Data 29

3.7. Validitas Tes 30

3.8. Teknik Analisis Data 30

3.8.1. Menghitung mean dari pretes dan postes 30

3.8.2. Uji Normalitas 31

3.8.3. Uji Homogenitas 31

3.8.4. Uji Hipotesis 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian 35

4.1.1. Data Hasil Penelitian 35

4.1.2. Data Nilai Pretes KPS 35

4.1.3. Analisis Data Pretest 36

4.1.4. Data Nilai Postest KPS 37

4.1.5. Analisis Data Postes 38

4.1.6. Perkembangan Psikomotorik di Kelas Eksperimen 41

4.2. Pembahasan 42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 47

5.2. Saran 47

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. : Langkah-langkah Pembelajaran Inquiry Training 10

Tabel 2.2. : Komponen dan Indikator KPS 14

Tabel 2.3. : Penelitian Yang Relevan 20

Tabel 3.1. : Desain Penelitian 26

Tabel 3.2. : Spesifikasi Test KPS siswa 29

Tabel 4.1. : Pretest kelas eksperimen dan kontrol 35

Tabel 4.2. : Data hasil perhitungan uji t pretes KPS 36

Tabel 4.3. : Postest kelas eksperimen dan kontrol 37

Tabel 4.4. : Data Hasil Perhitungan nilai rata-rata 38

Tabel 4.5. : Data hasil uji normalitas postest KPS 39

Tabel 4.6 : Data hasil uji homogenitas postest KPS 39

(10)

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 2.1: Perbandingan skala termometer Celcius, 17

Fahrenheit, Kelvin, dan Reaumur

Gambar 2.2: Diagram perubahan wujud zat 19

Gambar 3.1: Skema Rancangan Penelitian 28

Gambar 4.1: Nilai Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 36

Gambar 4.2: Nilai Postest Kelas Ekserimen dan kontrol 38

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. : Langkah-langkah Pembelajaran Inquiry Training 10

Tabel 2.2. : Komponen dan Indikator KPS 14

Tabel 2.3. : Penelitian Yang Relevan 20

Tabel 3.1. : Desain Penelitian 26

Tabel 3.2. : Spesifikasi Test KPS siswa 29

Tabel 4.1. : Pretest kelas eksperimen dan kontrol 35

Tabel 4.2. : Data hasil perhitungan uji t pretes KPS 36

Tabel 4.3. : Postest kelas eksperimen dan kontrol 37

Tabel 4.4. : Data Hasil Perhitungan nilai rata-rata 38

Tabel 4.5. : Data hasil uji normalitas postest KPS 39

Tabel 4.6 : Data hasil uji homogenitas postest KPS 39

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 51

Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 64

Lampiran 3 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 3 76

Lampiran 4 : LKS I 88

Lampiran 5 : LKS II 91

Lampiran 6 : LKS III 94

Lampiran 7 : Instrumen penelitian 96

Lampiran 8 : Kisi kisi Tes Postes 106

Lampiran 9 : Kunci Jawaban 110

Lampiran 10 : Rekapitulasi Jawaban Pretes kelas eksperimen 113

Lampiran 11 : Rekapitulasi Jawaban Pretes kelas kontrol 115

Lampiran 12 : Rekapitulasi Jawaban Postes kelas eksperimen 117

Lampiran 13 : Rekapitulasi hasil jawaban pretes kelas kontrol 119

Lampiran 14 : Perhitungan Rata-rata 121

Lampiran 15 : Uji Normalitas 124

Lampiran 16 : Uji Homogenitas 127

Lampiran 17 : Uji Hipotesis 130

Lampiran 18 : Data pretest dan postes kelas eksperimen 135

Lampiran 19 : Data Pretest dan Postest kelas kontrol 136

Lampiran 20 : Lembar Penilaian psikomotorik kelas eksperimen 137

Lampiran 21 : Nilai postes kelas eksperimen 139

Lampiran 22 : Daftar Nilai Kritis Untuk Uji Lilliefors 141

Lampiran 23 : Daftar nilai persentil untuk distribusi t 142

Lampiran 24 : Tabel Wilayah Luas Di bawah kurva normal 143

(13)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada pembelajaran di sekolah, fisika sebagai salah satu pelajaran yang

penting untuk dipelajari. Bidang studi fisika merupakan objek mata pelajaran

yang menarik dan lebih banyak memerlukan pemahaman dari pada penghafalan.

Pada kenyataaannya di sekolah, proses pembelajaran kurang didorong

untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas

diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak

dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk

memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan

kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2011). Peristiwa belajar akan berlangsung lebih

efektif jika siswa berhubungan langsung dengan objek yang sedang dipelajari dan

ada di lingkungan sekitar. Pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa jika guru

bisa memberikan keterampilan-keterampilan tertentu dalam kegiatan

pembelajaran fisika. Salah satu keterampilan dalam pembelajaran fisika adalah

keterampilan proses sains.

Berdasarkan pengalaman penulis saat melakukan Program Pengalaman

Lapangan (PPL) beberapa guru fisika mengatakan bahwa keaktifan siswa

cenderung pasif, hasil belajar yang dicapai siswa kurang maksimal dikarenakan

minat belajar siswa terhadap fisika masih rendah, jarangnya guru menggunakan

laboratorium karena dalam kegiatan pembelajaran aktifitas percobaan

(eksperimen) dilaksanakan hanya pada tiap kenaikan kelas terutama untuk

keperluan nilai praktek dan itu hanya untuk siswa kelas XII sehingga

keterampilan sains siswa tidak terlihat, tidak ada persiapan siswa sebelum materi

fisika diajarkan, dan siswa juga jarang mengingat materi yang telah diajarkan.

Hal ini juga diperkuat dari hasil observasi yang dilakukan penulis dengan

memberikan angket kepada siswa kelas X SMA Negeri 5 Medan dimana hanya 14

(14)

dan menarik, 6 siswa yang terlebih dahulu mempelajari materi fisika di rumah

sebelum diajarkan di kelas, dan 23 siswa menganggap guru yang mengajar fisika

hanya mencatat dan memberi contoh soal. Dengan kata lain proses pembelajaran

fisika masih cenderung berbasis hafalan teori, konsep-konsep dan rumus serta

tidak didasarkan pada pengalaman siswa yang menyebabkan rendahnya

keterampilan proses sains (KPS) siswa. Sedangkan KPS siswa tidak dapat

diajarkan hanya dengan menggunakan metode ceramah. Tetapi guru masih

menggunakan metode ceramah karena metode ini mudah untuk dilaksanakan baik

dari segi persiapan, waktu dan peralatan.

Menurut Haryono keterampilan proses sains (KPS) merupakan

keterampilan yang harus dikembangkan pada siswa. Penerapan pembelajaran

berbasis keterampilan proses sains secara nyata mampu meningkatkan pencapaian

hasil belajar sains siswa, terutama dalam hal penguasaan keterampilan proses

sains. Melalui proses pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses

sains dalam suatu rangkaian proses pembelajaran memungkinkan siswa

memperoleh pengalaman belajar yang beragam dan relatif lebih bermakna (Dian,

dkk, 2014).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meyelesaikan permasalahan

diatas adalah dengan menerapkan model pembelajaran Inquiry Training dalam

pengajaran fisika. Menurut Joyce (2009), model pembelajaran Inquiry Training

dirancang untuk membawa siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah melalui

latihan-latihan yang dapat memadatkan proses ilmiah tersebut ke dalam periode

waktu yang singkat. Tujuannya adalah membantu siswa mengembangkan displin

dan mengembangkan keterampilan intelektual yang diperlukan untuk mengajukan

pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa ingin tahunya.

Dari hasil penelitian sebelumnya Ratni Sirait dan Erlina Dewi Gita

menunjukkan bahwa: hasil belajar siswa dengan menggunakan model

pembelajaran Inquiry Training memiliki pengaruh signifikan. Kelemahan dari

penelitian sebelumnya bahwa peneliti tidak mengukur keterampilan. Salah satu

(15)

3

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis akan melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training

Terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa pada Materi Pokok Suhu dan Kalor di Kelas X semester II SMA Negeri 5 Medan T.P. 2015/2016.“.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi identifikasi

masalah adalah:

1. Proses pembelajaran fisika masih cenderung berbasis hafalan teori,

konsep-konsep dan rumus serta tidak didasarkan pada pengalaman siswa

yang menyebabkan rendahnya keterampilan proses sains (KPS) siswa.

2. Guru masih menggunakan metode ceramah.

3. Siswa masih menganggap fisika sulit.

4. Minat belajar fisika siswa masih rendah.

5. Penggunaan laboratorium di sekolah masih belum efektif.

1.3. Batasan Masalah

Karena luasnya permasalahan dan keterbatasan kemampuan, waktu, dan

biaya maka penulis perlu membuat batasan masalah dalam penelitian ini. Adapun

yang menjadikan batasan masalah dalam penelitian di kelas X SMA Negeri 5

Medan semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran

Inquiry Training terhadap keterampilan proses sains siswa.

2. Materi yang akan di berikan adalah materi pokok Suhu dan Kalor.

(16)

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka rumusan masalah penelitian di

kelas X SMA Negeri 5 Medan semester II Tahun pelajaran 2015/2016 materi suhu

dan kalor ini adalah:

1. Bagaimana keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan

model pembelajaran Inquiry Training?

2. Bagaimana keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan

model pembelajaran Konvensional?

3. Apakah ada pengaruh keterampilan proses sains siswa menggunakan

model pembelajaran Inquiry Training dengan model pembelajaran

konvensional?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian di kelas X SMA Negeri 5

Medan semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 materi suhu dan kalor ini adalah:

1. Untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa dengan

menggunakan model pembelajaran Inquiry Training

2. Untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa dengan

menggunakan model pembelajaran Konvensional

3. Untuk mengetahui pengaruh keterampilan proses sains siswa

menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dengan model

pembelajaran konvensional.

1.6. Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini selesai dilaksanakan maka manfaat yang diharapkan

dari penelitian ini adalah:

Manfaat Praktis :

1. Bagi siswa, dengan penggunaan model pembelajaran Inquiry Training ini

siswa terlibat untuk meningkatkan pertanyaan-pertayaan dan pencarian

(17)

5

2. Bagi guru dan sekolah agar lebih membuka wawasan guru akan

keberagaman model pembelajaran yang dapat dipilih dan dimanfaatkan

dalam proses pembelajaran.

Manfaat Teoritis :

1. Bagi peneliti, memotivasi dan menambah wawasan untuk

mengembangkan penelitian dalam pembelajaran fisika.

2. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dimanfaatkan

sebagai bahan perbandingan ataupun referensi bagi penelitian yang

relevan.

1.7. Defenisi Operasional

Untuk memperjelas istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka

dibuat suatu defenisi operasional sebagai berikut:

1. Model pembelajaran Inquiry Training adalah upaya pengembangan para

pembelajar yang mandiri, metodenya mensyaratkan partisipasi aktif siswa

dalam penelitian ilmiah. Siswa sebenarnya memiliki rasa ingin tahu dan

hasrat yang besar untuk tumbuh berkembang. Model pembelajaran Inquiry

Training memanfaatkan eksplorasi kegairahan alami siswa, memberikan siswa arahan-arahan khusus sehingga siswa dapat mengeksplorasi

bidang-bidang baru secara efektif (Joyce, 2009).

2. Keterampilan proses sains adalah keterampilan fisik dan mental terkait

dengan kemampuan- kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai

dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan

berhasil menemukan sesuatu yang baru (Harlen W, 1993). Keterampilan

proses sains meliputi; 1) mengamati (observasi), 2) merumuskan hipotesis,

3) memprediksi, 4) menemukan pola dan hubungan, 5) berkomunikasi

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan uji statistik serta pembahasan maka

disimpulkan bahwa Keterampilan proses sains siswa pada materi pokok suhu dan

kalor di kelas X semester II SMA Negeri 5 Medan sebagai berikut:

1. Keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan model pembelajaran

Inquiry Training tergolong tuntas, yaitu 23 orang yang tuntas dari 32 siswa. Dimana sebelum diberikan perlakuan rata-rata pretes sebesar 46.16 dan

setelah diberikan perlakuan rata-rata postes sebesar 74.46.

2. Keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan pembelajaran

konvensional hanya 2 siswa yang tuntas dari 32 siswa. Dimana sebelum

diberikan perlakuan rata-rata pretes sebesar 43.34 dan setelah diberikan

perlakuan rata-rata postes sebesar 52.81.

3. Ada pengaruh keterampilan proses sains siswa setelah menerapkan model

Inquiry Training dengan pembelajaran konvesional.

5.2.Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka sebagai tindak

lanjut dari penelitian ini disarankan beberapa hal sebagai berikut :

1. Bagi siswa hendaknya lebih aktif lagi dalam pembelajaran Inquiry Training

sehingga dapat mengikuti proses belajar yang diberikan dengan baik.

2. Bagi guru Hendaknya melakukan simulasi sebelum mencobakan model ini

terhadap siswa agar siswa lebih memahami dan terlatih dengan cara kerja

model pembelajaran ini ketika melakukan penelitian,sehingga model

pembelajaran Inquiry Training ini bisa diselesaikan tepat waktu.

3. Bagi sekolah sebaiknya melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung

proses belajar mengajar disekolah.

4. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menguasai semua sintaks dalam

(19)

48

semua sintaks tersebut dengan tepat waktu dan siswa tersebut tidak merasa

(20)

Dimyati dan Mujdiono. 2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : Rineka Cipta.

Hamid, Abdul. 2011. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Medan.

Hannum, Fatima.2014. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Tekanan Kelas VIII Semester II SMP Swasta Muhammadiyah-06 Belawan T.A 2013/2014. Skripsi FMIPA Unimed

Harahap, F dan Sinuraya, J. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Suhu Dan Pengukuran Kelas VII Semester I MTs N 2 Medan.1(1),34-40.Jurnal INPAFI

Harlen, W., Elsgeest,J. (1992). ENESCO Sourcebook for Science in the Primary School. France. Imprimerie de ls Manutention

Hayati, dan Dwi, RS. 2013. Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Berbasis MultimediaDan Motivasi Terhadap Hasil belajar Fisika Siswa. Jurnal Online Pendidikan Fisika.

Joyce,B.; Weil,M. & Calhoun, E. (2009),Model-Model Pembelajaran, Edisi Delapan, Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Kangenan,Marten. 2014. Fisika Kelas X. Jakarta : Erlangga

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta : Pustaka Belajar

Sagala, S. 2003. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfa Beta

Sirait Ratni. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Usaha Dan Energi kelas VIII MTs N 3 Medan. 1(1),21-26.Jurnal Pendidikan Fisika

Sudjana. 2005.Metode Statistika.Bandung : Tarsito

(21)

50

Trianto. 2009.Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Gambar

Gambar 2.1: Perbandingan skala termometer Celcius,
Gambar 2 1 Perbandingan skala termometer Celcius . View in document p.10

Referensi

Memperbarui...

Download now (21 pages)