Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

Gratis

0
33
173
3 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah serta Karunia-Nya sehingga penulis dapatmenyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara”. Teristimewa ucapan terima kasih ini penulis curahkan kepada Isteri tercinta Marlina dan anakku tersayang Muhammad Nabiel Ghaysan yang penuhpengertian, kesabaran, pengorbanan dan turut memberikan doa serta rasa cinta yang dalam setia menunggu, karena kehilangan banyak waktu bersama dalammasa-masa menempuh pendidikan ini dan banyak sekali memberikan motivasi serta dukungan moril kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini tepatwaktu.

RIWAYAT HIDUP

  Populasi penelitian adalah seluruh rumah tangga yangdijumpai anggota keluarganya menderita Chikungunya dan rumah tangga yang anggota keluarganya tidak menderita Chikungunya dengan sampel sebanyak 68orang terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan variabel lingkungan rumah yaitu kawat kasa pada ventilasi dan variabel perilaku masyarakat yaitu sikap dan tindakanberpengaruh terhadap kejadian Chikungunya, sedangkan kerapatan dinding, langit-langit rumah, TPA dan kelembaban tidak berpengaruh.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Sementara di Kabupaten Pidie Jaya tercatat 128 kasus,di Lhokseumawe 212 kasus dan di Kabupaten Aceh Utara 715 kasus tanpa ada laporan kematian (Dinkes Propinsi Aceh, 2009).sebanyak 20 kasus, dimana prevalens rate 1,68 per 1000 penduduk dan pada tahun2011, di Kabupaten Aceh Utara ditemukan kasus Chikungunya sebanyak 132 kasus dengan prevalens rate 0,27 per 1000 penduduk dan tidak ada yangmeninggal. Selain kegiatanpemberantasan sarang nyamuk, upaya pengendalian vektor dalam mencegah kejadian Chikungunya bisa dilakukan dengan menghindari terjadinya kontak Penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kasusChikungunya pada KLB yang dilakukan oleh Rumatora (2011) di DusunMentubang Desa Harapan Mulia Kabupaten Kayong Utara.

1.5. Manfaat Penelitian

  Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Puskesmas Nisam sebagai bahan masukan dalam meningkatkan penyuluhan komunikasi, informasi danedukasi (KIE) dan juga sebagai bahan referensi dalam penyusunan program pengendalian Chikungunya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tentangManajemen Kesehatan Lingkungan Industri yang berkaitan dengan kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Chikungunya

2.1.1. Definisi Chikungunya

  Chikungunya adalah penyakit mirip demam dengue yang disebabkan oleh virus Chikungunya dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes africanus. Penyakit ini diidentifikasi dengan timbulnya panas yang disertai arthritis (radang sendi) yang terjadi pertama pada pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki dan sendi kecil pada ekstremitas yang berlangsung selama beberapa harisampai bulanan (Sarudji, 2010).

2.1.2. Etiologi dan Patogenesis

  Virus Chikungunya adalah virus yang termasuk dalam genus virus alfa dari family Togaviridae. Virus Chikungunya bersama dengan virus O’nyong-nyong dari genus virus alfa dan virus penyebab penyakit „Demam Nil Barat‟ dari genus virus flavi menyebabkan gejala penyakit mirip dengue.

2.1.3. Gejala Klinis

  Keluhan utama yang dialami penderita adalah artralgiayang merasakan nyeri pada tulang-tulang. Selain itu pembuluh konjungtiva mata penderita tampak nyata dan disertai demam mendadak selama 2 Menurut Widoyono (2008), masa inkubasi Chikungunya adalah 1 – 6 hari.

2.1.4. Cara Penularan

  Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedangmengalami viremia yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembangbiak dalam waktu 8 Diagnosis Chikungunya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Jumlah trombosit dapat Berbagai pemeriksaan laboratorium tersedia untuk membantu menegakkan diagnosis seperti isolasi virus dari darah, tes serologi klasik seperti uji hambatanaglutinasi/HI, complement fixation/CF dan serum netralisasi; tes serologi modern dengan teknik IgM capture ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay); tekniksuper modern dengan pemeriksaan PCR serta teknik yang paling baru denganRT-PCR (2002).

2.1.6. Pengobatan

  Chikungunya pada dasarnya bersifat self limiting disease artinya penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Obat-obatan yang dapatdigunakan adalah obat antipiretik, analgetik (non-aspirin analgetik; non steroid anti inflamasi drug parasetamol, antalgin, natrium diklofenak, piroksikam,ibuprofen, obat anti mual dan muntah adalah dimenhidramin atau metoklopramid).

2.2. Nyamuk Penular Chikungunya

  Aedes aegypti yang paling berperan utama (primary vector) dalam penularan Chikungunya karena nyamuk tersebut hidup di dalam dan sekitar tempat tinggal manusia sehingga banyak kontak dengan manusia. Nyamuk Aedes aegypti bila terbang hampir tidak berbunyi sehingga manusia yang diserang tidak mengetahui kehadirannya,menyerang dari bawah atau dari belakang dan terbang sangat cepat.

2.2.3. Siklus Hidup Nyamuk

  Nyamuk dewasaNyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih padabagian badan dan kaki. Sesaat setelah menjadi dewasa, nyamuk akan segera kawin dan nyamuk betina yang telah dibuahi akan mencari makan dalam waktu24 sampai 36 jam.

2.2.4. Bionomik Vektor

  Untuk Aedes aegypti, tempat yang disenangi untuk bertelur adalahdi Tempat Penampungan Air (TPA) yang jernih dalam rumah dan yang terlindung dari sinar matahari seperti bak di kamar kecil (WC), bak mandi, tandon airminum, ember, tempayan, drum dan sejenisnya. Di dalam ruangan permukaan istirahat yang Kebiasaan hinggap istirahat lebih banyak di dalam rumah yaitu pada benda-benda yang bergantungan, berwarna gelap dan tempat-tempat lain yangterlindung juga di dalam sepatu (Depkes, 2007).

2.2.5. Ekologi Vektor

  Berbagai penelitian penyakit menular membuktikan bahwa kondisi perumahan yang berdesak-desakan dan kumuh mempunyai kemungkinan lebih besarPenelitian Roose (2008), di Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa ada hubungan jarak antar rumah ≤ 5 m memberikankontribusi dampak/risiko dengan kejadian DBD sebesar 1,79 kali dibanding dengan jarak antar rumah > 5 m. Lingkungan biologikLingkungan biologik yang memengaruhi penularan Chikungunya adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan yang mempengaruhipencahayaan dan kelembaban di dalam rumah dan halaman.

2.3.1. Rumah Sehat dan Persyaratannya

  Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagailingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. (3) Mencegah penularan penyakit, rumah yang dibangun harus dapat melindungi penghuni daripenularan penyakit atau berhubungan dengan zat-zat yang membahayakan kesehatan diantaranya adalah rumah tersebut di dalamnya tersedia air bersih yangcukup, ada tempat pembuangan sampah dan tinja yang baik, terlindung dari pengotoran terhadap makanan, tidak menjadi tempat bersarang binatang melataataupun penyebab penyakit lainnya.

18 C dan kelembaban udara 40 – 30 – 70%

  Langit-langit atau pembatas ruangan dinding atas dengan atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus sebagai penghalang masuknyanyamuk dilihat dari ada tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan 2 ataupun kayu/papan yang terdapat lubang lebih dari 1,5 mm akan mempermudah nyamuk masuk ke dalam rumah (Darmadi, 2002). Menurut Machfoed (2008), rumah berdasarkan bahan bangunannya terdiri dari: 1) Rumah Non Permanen yaitu rumah yang terbuat dari bahan bangunankayu, bambu; 2) Rumah Semi Permanen yaitu rumah yang terbuat dari bahan bangunan kayu dan campuran batu, pasir dan semen; 3) Rumah Permanen yaiturumah yang keseluruhan bahan bangunan terbuat dari campuran batu, pasir dan semen.

2.4. Perilaku Kesehatan

Menurut Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2012), perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus yang berkaitandengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan yang diuraikan antara lain: a) Perilaku seseorang terhadap sakit danpenyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun secara aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut;b) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respon seseorang terhadap sistem kesehatan pelayanan kesehatan baik yang modern maupun yangtradisional; c) Perilaku terhadap makanan adalah respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan; d) Perilaku terhadap lingkunganadalah respon terhadap lingkungan sebagai determinan. Perilaku dalam penelitian ini adalah perilaku yang berhubungan dengan domain perilaku yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.

2.4.1. Pengetahuan

  Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Pada sikap positif kecenderungan tindakan adalahsikap yang menunjukkan atau memperlihatkan menerima, menyetujui terhadap norma-norma yang berlaku dimana individu itu berbeda, sedangkan pada sikap Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.

2.5. Pencegahan dan Pengendalian Vektor Chikungunya

  Mengingat vektor penular virus Chikungunya dan virus dengue (DBD) sama, yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus maka upaya pencegahanChikungunya hampir sama dengan pencegahan untuk penyakit DBD. Upaya terpadu perlu diterapkan untuk pengendalian nyamuk penular vektor Chikungunya dengan menggunakan metodeyang tepat, antara lain dengan pengelolaan lingkungan, perlindungan diri, pengendalian biologi, pengendalian kimiawi dan pendekatan pemberantasanterpadu.

2.5.1. Pengelolaan Lingkungan

  Pengelolaan lingkungan meliputi berbagai perubahan yang berkaitan dengan upaya pencegahan, ditujukan untuk mengurangi perkembangbiakan vektorsehingga mengurangi kontak vektor dengan manusia. Metode pengelolaan lingkungan untuk mengendalikan Aedes aegypti dan Aedes albopictus sertamengurangi kontak vektor dengan manusia dengan melakukan kegiatan antara lain: Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,modifikasi tempat perkembangbiakan buatan manusia dan perbaikan desain rumah (Sukamto, 2007).

2.5.2. Perlindungan Diri

  Upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk antara lain seperti: 1) Membersihkan halaman atau kebun di sekitar rumah;2) Membersihkan saluran dan talang air yang tidak lancar atau rusak; 3) Membuka pintu dan jendela rumah setiap pagi hari sampai sore agar udara segar dan sinarmatahari dapat masuk sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Pakaian tersebut cukup tebal atau longgar berlengan panjang dan celana panjang dengan kaos kaki dapat melindungi tangan dan kaki dari tusukannyamuk karena merupakan bagian tubuh yang rawan; 5) Memakai repellent.

2.5.3. Pengendalian Biologi

  Menurut Soegijanto (2006), pengendalian biologi dilakukan dengan menggunakan kelompok hidup baik dari golongan mikroorganisme, hewaninvertebrata atau hewan vertebrata. Beberapa jenis golongan cacing Nematoda seperti Romanomarmis iyengari dan R.culiciforax merupakan parasit pada larva nyamuk.

2.5.4. Pengendalian Kimia

  Pemberantasan Nyamuk DewasaPemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara nyamuk senang hinggap pada benda-benda yang bergantungan makapenyemprotan tidak dilakukan di dinding rumah seperti pada pemberantasan nyamuk penular malaria (Depkes, 2005). Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasipenularan akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentik agar populasi nyamuk dapat ditekan serendah-rendahnya (Suroso, 2003).

2.5.5. Pendekatan Pemberantasan Terpadu

  Kegiatan yang dilakukan bila terjadi KLB/wabah, dilakukanpenyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval 1 minggu), PSNChikungunya, larvasida, penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit dan kegiatan penanggulangan, penyelidikan KLB, pengumpulan dan pemeriksaan spesimenserta kegiatan surveilans kasus dan vektor. Pemberantasan vektor dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas dan tenaga lain yang telahdilatih; 2) Lokasi meliputi seluruh daerah yang terjangkit; 3) Sasarannya adalah rumah dan tempat-tempat umum; 4) Insektisida, sesuai dengandosis; 5) Menggunakan alat yaitu mesin fog atau ULV; 6) Cara pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan interval 1 minggu.

2.7. Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian ini mengacu pada faktor risiko kejadianChikungunya dan teori simpul determinan penyakit dapat digambarkan sebagai berikut: NyamukManusia (Bionomik)(Perilaku) LingkunganSuhu, kelembaban Gambar 2.2 Faktor Risiko Kejadian Chikungunya Sumber : Achmadi, 2010 Adapun Teori Simpul dari timbulnya kejadian Chikungunya sebagai berikut: Sumber Media Dampak ManusiaTransmisi Kesehatan Penderita Lingkungan Perilaku Sakit/SehatSimpul 1 Simpul 2 Simpul 3 Simpul 4 Gambar 2.3 Kerangka Teori Sumber : Achmadi, 2010 Simpul-simpul dalam penelitian ini yang berhubungan dengan kejadianChikungunya adalah: a) Simpul 1 yaitu sumber penularan penyakit adalah orang yang menderita Chikungunya; b) Simpul 2 yaitu media transmisi penyakit adalahlingkungan rumah meliputi kerapatan dinding, kawat kasa pada ventilasi, langit- langit rumah, tempat penampungan air, kelembaban dan nyamuk Aedes aegypti;c) Simpul 3 yaitu perilaku meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan; d) Simpul 4 yaitu kejadian penyakit atau gangguan dari hasil hubungan interaktif manusiadengan lingkungan yang memiliki potensi bahaya gangguan kesehatan manusia, yaitu sakit atau sehat (Achmadi, 2010).

2.8. Kerangka Konsep

  Berdasarkan tujuan penelitian dan landasan teori diatas, maka kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Variabel Independen Variabel Dependen I. Kelembaban Kejadian Chikungunya II.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah studi analitik observasional dengan disain case control yaitu untuk mengetahui pengaruh lingkungan rumah (kerapatan dinding, kawat kasa pada ventilasi, langit-langit rumah, tempat penampungan air dan kelembaban) dan perilaku responden terhadap kejadian Chikungunyadi Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara tahun 2013. Adapun alasan menggunakan disain ini, karena studi kasus kontrol merupakan studi observasional yang menilai hubungan paparan penyakit denganmembandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya (Murti, 2003).

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian 1

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara, dengan pertimbangan tingginya kasus Chikungunya di kecamatan tersebutdibandingkan dengan kecamatan lain.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai dari pengusulan judul, penelusuran kepustakaan, konsultasi judul, penyusunan proposal, seminar proposal, penelitian dan analisisdata serta ujian tesis yaitu mulai bulan Oktober 2012 sampai bulan April 2013.

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

  Populasi KasusPopulasi kasus adalah seluruh tatanan rumah tangga dimana di dalam anggota keluarganya dijumpai penderita Chikungunya yang tinggal di desa-desadalam wilayah kerja Puskesmas Nisam dalam 3 bulan terakhir pada tahun 2012 berjumlah 34 KK. Populasi KontrolPopulasi kontrol adalah seluruh tatanan rumah tangga dimana di dalam anggota keluarganya tidak dijumpai penderita Chikungunya dan tinggal di desa-desa dimana populasi kasus tinggal.

3.2.2. Sampel

  Sampel KasusSampel kasus adalah seluruh tatanan rumah tangga dimana di dalam anggota keluarganya dijumpai penderita Chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Nisam Kabupaten Aceh Utara dalam 3 bulan terakhir pada tahun 2012, besar sampel adalah sama dengan populasi. Dalam penelitian ini kontrol diambil sesuai dengan jumlah kasus yaitu 34 KK juga,dimana baik kondisi rumah kasus dan rumah kontrol tidak berubah dalam 3 bulan terakhir.sampel untuk kasus sebanyak 34 KK dan sampel untuk kontrol sebanyak 34 KK.

2. Kriteria Eksklusi

  Adapun objek dalam penelitian ini adalah rumah sebanyak 68 rumah yang terdiri dari 34 rumah kasus (penderita) dan 34 rumah kontrol (non penderita). Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui bagaimana perilaku responden, sedangkan observasi danpengukuran langsung dengan menggunakan lembar observasi yaitu mengamati langsung bagaimana kondisi lingkungan rumah responden di Kecamatan NisamKabupaten Aceh Utara.

3.4.2. Data Sekunder

3.4.3. Uji Validitas dan Reabilitas

  Data sekunder diperoleh dari instansi terkait meliputi laporan DinasKesehatan Kabupaten Aceh Utara, laporan Puskesmas Nisam serta data dari desa di Kecamatan Nisam serta data tentang Kecamatan itu sendiri mengenai situasikependudukan dan data lainnya yang relevan dengan tujuan dan permasalahan penelitian. Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau skor yang menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengancara mengukur korelasi antara variabel atau item dengan skor variabel yang ditunjukan dengan skor variabel yang ditunjukkan dengan skor item correct correlation pada analisis reability statistics dengan ketentuan nilai koefisien korelasi (r) > 0,361.

3.5. Variabel dan Definisi Operasional Variabel 1

  Langit-langit rumah adalah pembatas ruangan dinding bagian atas dengan atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus sebagaipenghalang masuknya vektor Chikungunya ke dalam rumah dilihat dari tidak atau adanya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan rumah. Kontrol adalah bukan penderita Chikungunya yang merupakan tetangga terdekat dalam satu lingkungan dimana baik kondisi rumah kasus dan rumahkontrol tidak berubah dalam 3 bulan terakhir.

3.6.1. Pengukuran Lingkungan Rumah Kerapatan dinding a

  Cara pengukuran dari hasil observasi dan dinilai berdasarkan tidak ada dan ada. Diperoleh dengan pengamatan dan mengisi lembar observasi dengan jumlah pertanyaan 4 item, dengan total skor sebesar 4.

1. Tidak baik, apabila pernyataan dari hasil observasi memperoleh skor ≤ 3

  Cara pengukuran kelembaban dengan menggunakan alat, yaitu Thermo- hygrometer. Skala pengukuran yang digunakan adalah ordinal dibagi menjadi2 kategori yaitu: 1.

2. Memenuhi syarat, apabila kelembaban (40% – 70%)

  Pengetahuan responden dapat diukur dengan menggunakan skala ordinal dengan 2 kategori yaitu kurang dan baik. Berdasarkan total skor jawaban sikap dari 8 pernyataan yang diajukan maka sikap responden diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu (Wawan, 2011): 1.

3.7. Metode Analisis Data Analisis Univariat 1

  Untuk melihat hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji chi-square pada tingkat derajat kepercayaan95% yaitu α = 0,05 dengan ketentuan bila nilai p<0,05 maka ada hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut (Nursalam, 2003). Melakukan analisis semua variabel independen yang masuk dalam pemodelan dengan cara mengeluarkan variabel independen yang memiliki nilai p terbesarsehingga didapatkan model awal dengan variabel faktor penentu yang memiliki nilai p<0,05.

BAB 4 HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

  Kecamatan Nisam merupakan salah satu kecamatan yang berada di Wilayah Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Aceh. Adapun batas-batas Wilayah Kecamatan Nisam adalah sebagai berikut: Sebagian besar penduduk di Kecamatan Nisam pekerjaan sebagai petani sebesar79,67% dan prosentase terkecil dengan pekerjaan karyawan swasta sebesar 1,79%.

4.2. Analisis Univariat

4.2.1. Karakteristik Responden

  Adapun gambaran distribusi karakteristik responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 bahwa kelompok penelitian yaitu kasus dan kontroldimana baik kondisi rumah kasus dan rumah kontrol tidak berubah dalam 3 bulan terakhir. Pada kelompok kasus lebih banyak responden berpenghasilan di bawahUpah Minimum Provinsi (Rp.1.400.000) sebanyak 23 responden (67,6%), sedangkan kelompok kontrol lebih banyak responden berpenghasilan di atas atausama dengan UMP sebanyak 20 responden (58,8%).

4.2.2. Lingkungan Rumah Responden

  Pada kelompok kasus lebih banyak responden dengan kawat kasa pada ventilasi tidak ada sebanyak 29 rumah (85,3%), sedangkan kelompok kontrol jugalebih banyak responden dengan kawat kasa pada ventilasi tidak ada sebanyak 20 rumah (58,8%). Pada kelompok kasus maupun kelompok kontrol dimana responden dengan tempat penampungan air rumahnya kategori baik dan tidak baikjumlahnya sama yaitu masing-masing sebanyak 17 rumah (50,0%), sedangkan kelompok kontrol lebih banyak responden dengan tempat penampungan airrumahnya kategori baik sebanyak 26 rumah (76,5%).

4.2.3. Distribusi Perilaku Responden

a. Pengetahuan RespondenDistribusi frekuensi pengetahuan responden tentang Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara tahun 2013, seperti terlihat pada Tabel 4.3.penelitian dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus variasi pendapat responden tertinggi pada kuesioner nomor 8 tentang “Orang yang dapat menderitaChikungunya ”, pendapat terbanyak yaitu “Laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi, balita, ibu hamil, orang tua“ yaitu sebanyak 97,1% (33 responden), sedangkan kelompok kontrol pendapat responden tertinggi juga sama nomor 8 sebanyak 97,1% (33 responden). Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendapat Responden Berdasarkan Pengetahuan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 No Pengetahuan Kasus Kontrol N % N %

a. Demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi dan terdapat bintik-bintik merah pada kulit

4 Tempat Chikungunya biasa berkembang biak?

  Memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, menggunakan kelambu waktu tidur, memakai obat antinyamuk oles dan bakar. Penyakit yang menular dari orang ke orang.9 26,5 15 44,1 c.

7 Cara pencegahan gigitan Chikungunya?

8 Orang yang dapat menderita Chikungunya?

  Tabel 4.3 (Lanjutan) a. Laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi, balita, ibu hamil, 33 97,133 97,1 orang tua.

b. Balita, ibu hamil. 1 2,9 1 2,9 c. Ibu hamil

  0,0 0,0 d. Tidak tahu.

9 Langkah-langkah pengobatan Chikungunya?

  Penderita di bawa ke Puskesmas dan istirahat yang 24 70,623 67,6 cukup. Penderita di bawa ke Puskesmas.

10 Jenis rumah sehat agar terhindar dari Chikungunya?

  Hasil analisis hubungan kawat kasa pada ventilasi rumah responden dengan kejadian Chikungunya diperoleh bahwa pada kelompok kasus adasebanyak 29 rumah (85,3%) dengan kawat kasa pada ventiasi rumahnya tidak ada, sedangkan kelompok kontrol ada sebanyak 20 rumah (14,7%) dengan kawat kasapada ventilasi rumahnya tidak ada. Hasil uji chi-square diperoleh nilai p<0,05 maka dapatdisimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel kawat kasa pada ventilasi rumah1,261 Hasil analisis hubungan langit-langit rumah responden dengan kejadianChikungunya diperoleh bahwa pada kelompok kasus ada sebanyak 14 rumah(41,2%) dengan langit-langit rumah tidak ada, sedangkan kelompok kontrol ada sebanyak 8 rumah (23,5%) dengan langit-langit rumah tidak ada.

4.4. Analisis Multivariat

  Berdasarkan hasil uji chi-square diketahui bahwa ada 7 (tujuh) variabel yaitu kawat kasa pada ventilasi, langit-langit rumah, tempat penampungan air,kelembaban, pengetahuan, sikap dan tindakan yang dapat dimasukkan sebagai Tabel 4.10 Hasil Analisis Bivariat yang dijadikan Model Analisis Multivariat No Faktor Risiko Kategori OR 95%CI Nilai p 1 Kawat kasa pada ventilasi 1. Hasil analisis regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel kawat kasa pada ventilasi dengan nilai p<0,05, sikap dengan nilai p<0,05 dantindakan dengan nilai p<0,05 berpengaruh terhadap kejadian Chikungunya diKecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.

3 Keterangan:

  P = Probabilitas kejadian Chikungunya= Konstanta α e = Bilangan natural (2,71828)= Koefisisen regresi 1 3 β – β X 1 = Kawat kasa pada ventilasi, koefisien regresi 1,485 X 2 = Sikap, koefisien regresi 1,501 X 3 = Tindakan, koefisien regresi 1,564 X 1 = X 2 = X 3 =1, karena variabel tersebut berisiko untuk terjadinya Chikungunya. 1 P = ) + 1,501(X ) + 1,564(X )] 1 P = 1 + 2,71 1 P = 1 + 2,71 1 P =1,047 P = 0,955 = 95,5% Dengan demikian, rumah tangga yang keluarganya menderitaChikungunya bila kondisi ventilasi rumah tidak memiliki kawat kasa, sikap yang kurang mendukung dan kurang melakukan tindakan pencegahan Chikungunyamaka mempunyai probabilitas kejadian Chikungunya sebesar 95,5%.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Pengaruh Lingkungan Rumah terhadap Kejadian Chikungunya

  terhadap Kejadian Chikungunya Hasil penelitian diketahui bahwa responden pada kelompok kasus yang memiliki dinding rumahnya tidak rapat yaitu sebanyak 24 rumah (70,6%). Demikian juga kelompok kontrol yang dinding rumahnya tidak rapat sebanyak 19 rumah (55,9%), berarti kasus Chikungunya lebih besar terjadi pada rumahtangga yang keluarganya tidak memiliki dinding rumah tidak rapat dibandingkan statistik chi-square menunjukkan nilai p>0,05 maka dapat disimpulkan bahwakerapatan dinding rumah tidak berhubungan dengan kejadian Chikungunya.

5.1.2. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Kawat Kasa pada Ventilasi terhadap Kejadian Chikungunya

  Hasil penelitian diketahui bahwa responden pada kelompok kasus yang tidak mempunyai kawat kasa pada ventilasi yaitu sebanyak 29 rumah (85,3%),sedangkan kelompok kontrol mempunyai kawat kasa pada ventilasi 14 rumah(41,2%), berarti kasus Chikungunya lebih besar terjadi pada rumah tangga yang keluarganya tidak memiliki kawat kasa pada ventilasi rumah dibanding denganrumah tangga yang keluarganya memiliki kawat kasa pada ventilasi rumah. Mengacu pada uji tersebut dapat dijelaskan bahwa rumah tangga yang keluarganya menderita Chikungunya berpeluang 4,4 kali dengan ventilasi rumah Berdasarkan pengamatam di lapangan masih sedikitnya pemasangan kawat kasa pada ventilasi/lubang angin di atas jendela dan pintu.

5.1.3. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Langit-langit Rumah terhadap Kejadian Chikungunya

  Daerah yang disenangi nyamuk adalah daerah yang tersedia tempat beristirahat karena merupakan tempat untuk menunggu waktu bertelur adalahpada baju yang bergantungan yang dibiarkan bergantungan pada pintu dalam kamar dan langit-langit rumah sehingga menjadi tempat peristirahatan yang cocokbagi nyamuk dan tempat gelap, lembab dan sedikit angin. Habitat nyamuk waktu aktivitasnya akan melakukan orientasi terhadap habitatnya untukmemenuhi kebutuhan fisiologis yaitu hinggap istirahat selama 24 jam Depkes (1998), bahwa kondisi rumah dilengkapi dengan langit-langit merupakan pembatas ruangan dinding bagian atas dengan atap yang terbuat darikayu, internit maupun anyaman bambu halus.

5.1.4. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Tempat Penampungan Air terhadap Kejadian Chikungunya

  Berdasarkan hasil pengamatanditemukan tempat penampung air di dalam rumah biasanya berbentuk gentong untuk keperluan minum yang ditutup untuk menghindari kotoran masuk kedalamnya. Sedangkan responden memiliki sumur di dalam rumah disertai dengan bak mandi dengan jenis rumah yang permanen.

5.1.5. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Kelembaban terhadap Kejadian Chikungunya

  Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Pengaruh SanitasiLingkungan Pemukiman terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (Yuniati,2012) kelembaban yang tinggi akan memudahkan nyamuk Aedes aegypti untuk Sesuai penelitian Santoso (2011), menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kelembaban dalam ruangan rumah dengan kejadian Chikungunyadi wilayah kerja Puskesmas Gunungpati Kota Semarang (p = 0,479 > 0,05). Pengaruh Perilaku Responden terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Pengukuran perilaku responden meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan dalam mencegah terjadinya Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten AcehUtara.

5.2.1. Pengaruh Perilaku Responden Berdasarkan Pengetahuan terhadap Kejadian Chikungunya

  Hasil penelitian diketahui bahwa responden pada kelompok kasus yang mempunyai pengetahuan kurang tentang Chikungunya sebesar 70,6%, sedangkankelompok kontrol pengetahuan baik tentang Chikungunya sebesar sebesar 55,9%, berarti kasus Chikungunya lebih besar terjadi pada rumah tangga yangkeluarganya memiliki pengetahuan kurang dibanding dengan rumah tangga yang keluarganya memiliki pengetahuan baik. Chikungunya Hasil penelitian diketahui bahwa responden pada kelompok kasus yang memiliki sikap yang kurang tentang Chikungunya sebesar 85,3%, sedangkankelompok kontrol yang mempunyai sikap baik sebesar 52,9%, berarti kasusChikungunya lebih besar terjadi pada rumah tangga yang keluarganya memiliki sikap kurang mendukung terhadap Chikungunya dibandingkan dengan rumahtanggga yang keluarganya memiliki sikap yang baik.

5.2.3. Pengaruh Perilaku Responden Berdasarkan Tindakan Pencegahan terhadap Kejadian Chikungunya

  Hasil penelitian diketahui bahwa responden pada kelompok kasus yang mempunyai tindakan kurang tentang pencegahan Chikungunya sebesar 79,4%,sedangkan kelompok kontrol yang mempunyai tindakan baik sebesar 61,8%, berarti kasus Chikungunya lebih besar terjadi pada rumah tangga yangkeluarganya memiliki tindakan kurang untuk mencegah Chikungunya dibanding dengan rumah tangga yang keluarganya memiliki tindakan baik. Sikap yang mencapai tahapmenghargai dan bertanggung jawab sehingga dapat benar-benar paham dan mau melaksanakan upaya pemutusan rantai kehidupan nyamuk sebagai penyebab Bagi Kecamatan untuk lebih mengoptimalkan Pembentukan KaderJumantik di tiap-tiap desa supaya dapat meningkatkan kinerjanya yang lebih baik terhadap kesehatan masyarakat dengan adanya masyarakat mengalamiChikungunya.

5.3. Keterbatasan Penelitian

  Penelitian ini menggunakan disain case control, yang meneliti suatu penyakit setelah terjadi sakit kemudian dicari pengaruh terhadap lingkungan rumah dan 2. Tidak dilakukan uji laboratorium terlebih dahulu dalam penelitian ini antara lain isolasi virus dari darah, tes serologi klasik dan tes serologi modern untukmemastikan kelompok kasus atau penderita positif menderita Chikungunya.

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  Variabel perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kejadianChikungunya adalah sikap dengan nilai p = 0,022 (p<0,05) dan tindakan p = 0,011 (p<0,05), sedangkan yang tidak berpengaruh adalah pengetahuan dengan nilai p = 0,050 (p>0,05). Dari seluruh variabel yang di teliti, variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Chikungunya adalah variabel perilaku masyarakat yaitutindakan dengan nilai koefisien Exp (B) 4,779.

6.2. Saran

  Bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas, sebaiknya perlu mempersiapkan kualitas sumber daya manusia bagi petugas kesehatan dalam melakukanprogram pemberdayaan masyarakat, tetap melakukan penyuluhan yang lebih intensif tentang Chikungunya sehingga dapat menggugah minat masyarakatdalam upaya partisipasi aktif dan peran serta masyarakat dalam mencegah terjadinya Chikungunya. Bagi Masyarakat, perlu meningkatkan perilaku pencegahan Chikungunya antara lain: kegiatan 3M, menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukangotong-royong dan memperbaiki lingkungan dalam rumah dengan memasang kawat kasa nyamuk pada ventilasi rumah.

DAFTAR PUSTAKA

  Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Lingkungan Sekitar Rumah serta Praktik Pencegahan dengan Kejadian Malaria di Desa Buaran Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara, Semarang: FKM UNDIP. Hubungan Pengetahuan, Sikap, Sarana dan Prasarana serta Dukungan Petugas Kesehatan dengan Pencegahan Penyakit ChikungunyaMenggunakan Metode Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) olehKepala Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Nurussalam Kabupaten Aceh Timur, Tesis S2, Medan: Universitas Sumatera Utara.

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

  Setelah mendapatkan penjelasan tentang penelitian ini maka saya menyatakan bersedia berpartisipasi menjadi subjek dalam penelitian yang akandilakukan oleh saudara Imran mengenai “Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara”. 3 Setiap ventilasi pintu dan jendela serta lubang di dinding rumah perlu dipasangkawat kasa untuk menghindari masuknya nyamuk ke dalam rumah.

c. Tindakan No Pertanyaan Ya Tidak

  5 Tindakan terbaik yang dapat bapak/ibu lakukan untuk memberantas nyamuk dewasa adalahmelakukan 3M. Dinding rumah tidak terdapat lubang ≤ 1,5 mm 2 Kawat kasa pada ventilasi a.

3 Langit-langit rumah

  (1-sided)a sided) Pearson Chi-Square 11.103b 1 .001 Continuity Correction 9.461 1 .002 Likelihood Ratio 11.6091 .001 Fisher's Exact Test .002 .001 Linear-by-Linear Association 10.9401 .001 N of Valid Cases 68 a. (1-sided)a sided) Pearson Chi-Square 11.900b 1 .001 Continuity Correction 10.261 1 .001 Likelihood Ratio 12.3311 .000 Fisher's Exact Test .001 .001 Linear-by-Linear Association 11.7251 .001 N of Valid Cases 68 a.

a, If weight is in effect, see classification table for the total number of cases

Dependent Variable EncodingOriginal Value Internal Value dimension0 Kasus Kontrol Lampiran 8

1 Block 0: Beginning Block

Step 0 Kejadian_Chikungunya Kasus 34 ,0 Kontrol34 100,0 Overall Percentage a, Constant is included in the model, b, The cut value is ,500Variables in the Equation B S,E, Wald df Sig, Exp(B) Step 0 Constant ,000 ,243 ,0001 1,000 1,000 Variables not in the EquationScore Df Sig, Step 0 Variables Kawat_kasa 5,916 1 ,015 Langit_rumah 2,4191 ,120 TPA 5,1241 ,024 Kelembaban 2,5501 ,110 Pengetahuan 4,8701 ,027 Sikap 11,1031 ,001 Tindakan 11,9001 ,001 Overall Statistics 22,4947 ,002 Predicted Kejadian_ChikungunyaPercentage Correct Kasus Kontrol Classification Tablea,bObserved 50,0 Percentage Correct Kasus KontrolStep 1 Kejadian_Chikungunya Kasus 73,5 24 10 70,6 Kontrol8 26 76,5 Overall Percentage 8 26 76,5 Overall Percentage75,0 Step 5 Kejadian_Chikungunya Kasus 75,0 Step 4 Kejadian_Chikungunya Kasus25 9 73,5 Kontrol 25 9 73,5 Kontrol8 26 76,5 Overall Percentage 8 26 76,5 Overall Percentage76,5 Step 3 Kejadian_Chikungunya Kasus 76,5 Step 2 Kejadian_Chikungunya Kasus26 8 76,5 Kontrol 26 8 76,5 Kontrol8 26 76,5 Overall Percentage ObservedPredicted Kejadian_Chikungunya Block 1: Method = Backward Stepwise (Wald) Omnibus Tests of Model CoefficientsChi-square Df Sig, Step 1 Step 25,968 a, Estimation terminated at iteration number 5 because parameter estimates changed by less than ,001,Classification Table a ,317 ,423 2 68,422a ,316 ,422 3 68,555a ,315 ,420 4 68,779a ,313 ,417 5 70,498a ,295 ,393 Step a, A negative Chi-squares value indicates that the Chi-squares value has decreased from the previous step,Model Summary 3 ,000 Model 23,7703 ,000 4 ,000 Model 25,4894 ,000 Step 5a Step -1,719 1 ,190 Block 23,770 5 ,000 Model 25,7135 ,000 Step 4a Step -,224 1 ,636 Block 25,489 6 ,000 Model 25,8466 ,000 Step 3a Step -,132 1 ,716 Block 25,713 7 ,001 Block 25,9687 ,001 Model 25,9687 ,001 Step 2a Step -,122 1 ,727 Block 25,846

a, The cut value is ,500

Variables in the EquationB S,E, Wald Df Sig, Exp(B) 95% C,I,for EXP(B) Lower Upper Step 1a Kawat_kasa 1,247 ,774 2,598 1 ,107 3,479 ,764 15,848 Langit_rumah ,905 ,760 1,4171 ,234 2,473 ,557 10,977 TPA ,347 ,743 ,2181 ,641 1,415 ,330 6,068 Kelembaban -,331 ,803 ,1701 ,681 ,718 ,149 3,469 Pengetahuan -,299 ,860 ,1211 ,728 ,742 ,137 4,001 Sikap 1,732 ,824 4,4181 ,036 5,652 1,124 28,422 Tindakan 1,694 ,673 6,3401 ,012 5,439 1,455 20,327 Constant -2,026 ,737 7,5471 ,006 ,132 Step 2a Kawat_kasa 1,239 ,776 2,553 1 ,110 3,454 ,755 15,794 Langit_rumah ,967 ,734 1,734 1 ,188 2,629 ,624 11,079 TPA ,252 ,692 ,1331 ,716 1,287 ,331 5,000 Kelembaban -,404 ,769 ,2761 ,599 ,667 ,148 3,016 Sikap 1,576 ,687 5,2641 ,022 4,835 1,258 18,576 Tindakan 1,682 ,671 6,2811 ,012 5,376 1,443 20,030 Constant -2,021 ,733 7,6031 ,006 ,133 Step 3a Kawat_kasa 1,318 ,745 3,125 1 ,077 3,734 ,867 16,092 Langit_rumah ,996 ,730 1,861 1 ,172 2,707 ,647 11,316 Kelembaban -,355 ,753 ,2221 ,637 ,701 ,160 3,067 Sikap 1,576 ,686 5,2761 ,022 4,834 1,260 18,546 Tindakan 1,737 ,655 7,0351 ,008 5,682 1,574 20,512 Constant -1,955 ,707 7,6521 ,006 ,142 Step 4a Kawat_kasa 1,238 ,712 3,023 1 ,082 3,448 ,854 13,914 Langit_rumah ,877 ,685 1,641 1 ,200 2,403 ,628 9,194 Sikap 1,506 ,669 5,0671 ,024 4,509 1,215 16,732 Tindakan 1,698 ,644 6,9471 ,008 5,462 1,545 19,303 Constant -2,075 ,673 9,5131 ,002 ,126 Step 5a Kawat_kasa 1,485 ,679 4,782 1 ,029 4,413 1,166 16,696 Sikap 1,501 ,655 5,240 1 ,022 4,484 1,241 16,204 Tindakan 1,564 ,614 6,4901 ,011 4,779 1,434 15,923 Constant -1,497 ,459 10,6431 ,001 ,224

a, Variable(s) entered on step 1: Kawat_kas Langit_rumah, TPA, Kelembaban, Pengetahuan, Sikap, Tindakan

Variables not in the EquationScore df Sig, Step 2a Variables Pengetahuan ,121 1 ,728 Overall Statistics ,121 1 ,728 Step 3b Variables TPA ,133 1 ,715 Pengetahuan ,0371 ,847 Overall Statistics ,2572 ,880 Step 4c Variables TPA ,077 1 ,781 Kelembaban ,223 1 ,637 Pengetahuan ,1121 ,738 Overall Statistics ,4733 ,925 Step 5d Variables Langit_rumah 1,687 1 ,194 TPA ,267 1 ,605 Kelembaban ,0011 ,976 Pengetahuan ,2111 ,646 Overall Statistics 2,1494 ,708 a, Variable(s) removed on step 2: Pengetahuan, b, Variable(s) removed on step 3: TPA, c, Variable(s) removed on step 4: Kelembaban, d, Variable(s) removed on step 5: Langit_rumah, Lampiran 9 PENGETAHUAN Reliability Scale: ALL VARIABLES Case Processing SummaryN % Cases Valida 30 100,0 Excluded ,0 Total 30 100,0 a, Listwise deletion based on all variables in the procedure,Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,833 10 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Item Corrected Item-Total Cronbach's Alpha ifDeleted Deleted Correlation Item Deleted p1 7,8000 7,821 ,499 ,820p2 7,6667 7,747 ,447 ,826 p3 7,2000 7,683 ,656 ,809p4 7,2333 7,633 ,626 ,810 p5 7,2667 7,720 ,544 ,816p6 7,6333 7,757 ,432 ,827 p7 7,6333 7,964 ,393 ,825p8 7,2000 7,614 ,692 ,806 p9 7,2000 7,752 ,621 ,812p10 5,4667 6,257 ,607 ,819 SIKAP Reliability Scale: ALL VARIABLES Case Processing SummaryN % Valid 30 100,0Cases a Excluded ,0 Total30 100,0 a, Listwise deletion based on all variables in the procedure, Reliability StatisticsCronbach's Alpha N of Items ,838 8 Item-Total Statistics Scale Mean if ItemDeleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-TotalCorrelation Cronbach's Alpha if Item Deleted s1 4,6000 5,421 ,494 ,828s2 4,8000 5,062 ,628 ,811 s3 4,6333 4,930 ,728 ,797s4 4,5000 5,569 ,493 ,828 s5 4,5667 5,289 ,582 ,817s6 4,6000 5,145 ,634 ,810 s7 4,5333 5,706 ,394 ,830s8 4,6333 5,206 ,585 ,817 TINDAKAN Reliability Scale: ALL VARIABLES Case Processing SummaryN % Cases Valid 30 100,0 Excludeda ,0 Total30 100,0

a, Listwise deletion based on all variables in the procedure

Reliability StatisticsCronbach's Alpha N of Items ,821 8 Item-Total Statistics Scale Mean if ItemDeleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-TotalCorrelation Cronbach's Alpha if Item Deleted t1 5,4000 3,214 ,481 ,814t2 5,3333 3,195 ,543 ,802 t3 5,2667 3,237 ,594 ,793t4 5,2667 3,030 ,760 ,767 t5 5,1333 3,637 ,589 ,802t6 5,1667 3,454 ,638 ,792 t7 5,1333 3,637 ,589 ,802t8 5,7667 3,426 ,384 ,818

DOKUMENTASI PENELITIAN PENELITI SEDANG MELAKUKAN WAWANCARA DENGAN

RUMAH RESPONDEN YANG MEMASANG KAWAT KASA RUMAH RESPONDEN YANG TIDAK ADA LANGIT-LANGIT RUMAH

RUMAH RESPONDEN YANG ADA LANGIT-LANGIT TPA RUMAH RESPONDEN

RESPONDEN DINDING RUMAH RESPONDEN TIDAK RAPATLampiran 13 THERMO-HYGROMETER

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Faktor-faktor Pelaksanaan Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013
2
105
60
Pengaruh Tataguna Lahan dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pengendalian Banjir di Kabupaten Aceh Utara
5
105
353
Hubungan Karakteristik dan Perilaku Mengenai Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Laguboti Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa Tahun 2013
3
44
122
Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014
4
117
119
Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Kejadian Mikrofilaria Positif dan Filariasis di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dan Kabupaten Asahan Tahun 2013
7
71
180
Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara
0
33
173
Hubungan Sanitasi Lingkungan Perumahan Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan Tahun 2012
1
56
140
Hubungan Sanitasi Lingkungan Perumahan dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Penyakit Filariasis di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2005
0
35
181
Hubungan Karakteristik Masyarakat Petani Dengan Upaya Pencegahan Penyakit Filariasis Di Desa Peunayan Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara
0
30
98
Pengaruh Gaya Hidup terhadap Kepuasan Konsumen Blackberry di Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara
0
0
7
Pengaruh Tataguna Lahan dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pengendalian Banjir di Kabupaten Aceh Utara
0
0
10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Promosi Kesehatan - Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014
0
0
33
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014
0
0
8
Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara
0
0
44
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chikungunya 2.1.1. Definisi Chikungunya - Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara
0
0
37
Show more