Pengaruh model problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi

 3  38  177  2017-03-01 10:18:28 Report infringing document

Abstrak

  Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus 1 menyatakan adanya perubahan yang signifikan terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi diterima atau disetujui. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus 1 menyatakan adanya perubahan yang signifikan terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi diterima atau disetujui.

LAJU REAKSI

  Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus 1 menyatakan adanya perubahan yang signifikan terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi diterima atau disetujui. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh yangsignifikan terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi.

KATA PENGANTAR

  Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan(S.Pd) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Laporan ini berisi tentang hasil penelitian pendidikan dengan judul Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Pada Konsep Laju Reaksi . Dengan keterbatasan yang dimiliki, penulis menyadari bahwa laporan skripsi ini jauh dari sempurna, meskipun demikian penulis berharap laporan ini dapat bermanfaatdan dapat memberikan tambahan ilmu bagi penulis, dan bagi pembaca pada umumnya, serta mendapatkan Karunia dari Allah SWT.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan idealnya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi

  Menurut Buchori, bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanyamempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari- 1 hari. Penerapan model problem based learning dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar siswa karena melaluipembelajaran ini siswa belajar bagaimana menggunakan konsep dan proses interaksi untuk menilai apa yang mereka ketahui, mengidentifikasi apa yangingin diketahui, mengumpulkan informasi dan mengevaluasi hipotesisnya berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

6 Sudarman, Problem Based learning suatu mode pembelajaran untuk mengembangkan

  Inilah yangmendorong peneliti untuk menerapkan dalam konsep laju reaksi pada model ini, pada konsep ini siswa tidak hanya mengetahui keguanaanya lebih jauh(semisal dalam bidang industri) atau memecahkan masalah secara numerik, tetapi laju reaksi sangatlah dekat dengan konteks dunia nyata. Hal ini cocok jika diterapkan pada materi yang melibatkan banyak faktor, bukan hanya kemampuan kognitifsaja melainkan faktor psikomotorik, dan dapat ditemukan masalahnya dalam kehidupan sehari-hari dan membutuhkan pembuktian dari teori-teori yangdidapat, materi tersebut sesuai dengan pokok bahasan Laju Reaksi.

B. Identifikasi Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang terdapat beberapa pokok masalah yang dapat dikemukakan antara lalin: 1. Rendahnya hasil belajar kimia karena siswa menganggap bahwa kimia merupakan pelajaran yang sulit dan abstrak.

C. Batasan Masalah

  Hasil belajar kimia yang diukur adalah hasil belajar dalam ranah kognitif pada kosep Laju Reaksi. Perumusan Masalah Berdasarkan latar identifikasi dan pembatas masalah diatas, makaRumusan Masalah penelitian sebagai berikut ”Bagaimana pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia pada konsep laju reaksi?

F. Manfaat Penelitian

  Bagi siswa, dapat memberikan motivasi siswa, melatih keterampilan siswa, mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan dapatmeningkatkan hasil belajar kimia siswa. Bagi pembaca, memberikan informasi tentang pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi.

BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR A. Deskripsi Teoritis 1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model

  Menurut Dutch pembelajaran berbasis masalah merupakan pembalajaran yang menantang siswa agar ―belajar untuk belajar‖, bekerja samadengan kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata, masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisissiswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Dari beberapa penjelasan mengenai model berbasis masalah, bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis siswa, sertamenuntut siswa dapat memecahkan masalah dengan mengumpulkan informasi dan menstimulus informasi yang didapat untuk membentuk sebuah solusi darimasalah yang diberikan.

2. Langkah-langkah Model Berbasis Masalah

  Menurut Boud dan Felleti dan Forgaty pembelajaran berbasismasalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat berpikir kritis kepada siswa-siswa dengan masalah-masalah parktis, berbentuk ill- structured (kemampuan berstruktur) atau open-ended (membuka pemikiran) 9 melalui stimulasi belajar. Tahapan Pengajaran Berbasis Masalah biasanya terdiri dan lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengansesuatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

3. Karakteristik dan Tujuan Model Berbasis Masalah

  Keterampilan berpikir dan keterampilan mengatasi masalahPembelajaran berbasis masalah memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir sesuai yang bersifat konkret,tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks. 2)Berpikir adalah sebuah proses reprentasi secara simbolis (melalui bahasa) berbagai objek dan kejadian riil dan menggunakan reprentasisimbolis itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial objek dan 3)Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan inferesi atau judgement yang baik.

4. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah a

  Dapat menantang kemampua siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.3) Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.4) 9)Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. KekuranganDisamping kelebihan pembelajaran berbasis masalah memiliki 18 kekurangan, diantaranya :1) Persiapan pembelajaran yang kompleks2) Sulitnya mencari problem yang relevan3) Sering terjadi miss-konsepsi4) Membutuhkan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.

5. Hakikat Pembelajaran dan Hasil Belajar a

  Sebagaisuatu aktivitas yang terencana, belajar memilik tujuan yang bersifat 25 dalam pengertian belajar menurut Slameto, meliputi:1) Perubahan yang terjadi berlangsung secara sadar, sekurang – kurangnya sadar bahwa pengetahuannya bertambah, sikapnya berubah,kecakapannya berkembang, dan lain – lain.2) Perubahan dalam belajar bersifat berkelanjutan dan fungsional. 3) Fokus materi jelas, terarah dan terencana dengan baik.4) Adanya aktivitas anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.5) Aktor guru yang cermat dan tepat.6) Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan anak didik dalam proporsi masing 8) Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.

28 Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu

29 Faktor-faktor yang mempengaruhi dibagi menjadi tiga, yaitu faktor dari

  Faktor internal a)Faktor fisiologis Secara umum faktor fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani,dan sebagainya, semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar siswa. 31 Hal ini dapat disimpulkan melalui bagan 2.1, dibawah ini: Intelegensi PsikologisPerhatian Faktor-faktor yang Minat dan bakat belajar mempengaruhiMotif dan motivasi Kognitif dan daya nalar Alam LingkunganEksternal Sosial Kurikulum InstrumentalSarana dan fasilitas Guru Bagan 2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar B.

C. Laju Reaksi

  Maka laju reaksinya dapat dinyatkan dengan persamaan sebagai berikut. A  A    v = - atau v = +  t  t keterangan:v = laju reaksi∆ [A] = perubahan konsentrasi∆ [B] = perubahan konsentrasi zat-zat hasil reaksi Nilai positif laju reaksi dinyatakan dalam konsentrasi zat-zat hasil reaksi menunjukkan bahwa konsentrasi zat tersebut bertambah. Lihat gambar dibawah ini: C + DJumlah molekul Hasil reaksiA + B  C + D A + B PereaksiWaktu/s Untuk reaksi A + B  C + D, maka persamaan laju reaksinya dapat 39 dinyatakan sebagai berikut.m nv = k [A] [B] Keterangan: v = laju reaksik = tetapan laju reaksi[A] = konsentrasi perekasi A[B] = konsentrasi pereaksi B m = orde reaksi terhadap An = orde reaksi terhadap B m + n = orde reaksi total Setiap laju reaksi memiliki nilai k tertentu yang bergantung pada sifat pereaksi.

D. Penelitian Relevan

I Gusti Agung Nyoman Setiawan, dengan judul penelitian PenerapanPengajaran Kontekstual Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Hasil BelajarBiologi Siswa Kelas X

2 SMA Laboratorium Singaraja Jurusan Pendidikan

  Susriyati Mahanal dkk, Judul Penerapan Pembelajaran Masalah denganStrategi Kooperatif Model STAD pada Mata Pelajaran Sains UntukMeningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V MI jenderalSudirman Malang, yang dikaji dalam penelitian ini adalah metode STAD pada pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif untuk 62 meningkatkan berpikir kritis. Berdasarkan data yang didapat model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatifdapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah teori akutansi yang ditunjukkan oleh nilai-nilai pretest sebesar 56 meningkat setelahselesainya pelaksanaan tindakan menjadi rata-rata 82,04.

61 I Gusti Agung Nyoman Setiawan, Penerapan Pengajaran Kontekstual Berbasis

  Orhan Akinoglu dan Özkardes Tandongan, dengan judul penelitian The Effets of Problem Based Active Learning in Science Education on Stdents Academic Acievement, Attiutde and Concept Learning , dapat dismpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah pada ilmu sains meningkatkan prestasi 67 belajar, sikap dan penguasaan konsep. Hyo-Jeong So dan Bosung Kim, dengan judul penelitian Learning About Problem Based Learning: Student Teachers Integrating Technology,64 Ni Made Suci, Penerapan Model Problem Based Learning Untuk MeningkatkanPartisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntansi Mahasiswa , (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Jurusan Ekonomi Undiksha April, 2008), h.

70 Akutansi perpajakan

E. Kerangka Berpikir

  Tiap situasi tertentu akan dihadapi secara utuh oleh individu yang belajar, dan setiappesan yang disampaikan oleh pengajar akan diolah secara berbeda-beda oleh tiap individu yang belajar tersebut, sesuai minat, keinginan, metode, maupun68 Hyo-Jeong So dan Bosung Kim, Learning About Problem Based Learning: Student Teachers Integrating Technology, Pdagogy and Content Knowledge , (Journal of Educational Technology from Nahayang Technological Universitas, 25 Jan 2009), h. Seperti di gambarkan pada bagan 2.2 dibawah ini: Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:H o : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia pada konsep Laju Reaksi.

F. Hipotesis Penelitian

4. Faktor waktu 1

Bagan 2.2 Kerangka Berpikir Hasil Belajar

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian model Problem Based Learning (PBL) dilaksanakan di SMAN I Sukatani Bekasi pada semester ganjil kelas XI IPA tahun ajaran

  Metode Penelitian dan Desain Penelitian 1. Metode PenelitianMetode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen, yaitu penelitian yang mempunyai kelompok-kelompok kontrol, tetapi tidakdapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang 1 mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.

2. Desain Penelitian

  Tabel 3.1 Pretest-posttest Nonequivalent Design K e O 1 O 1 X 2 K k O 2 O 1 X 2 Keterangan : K e = Kelompok eksperimen k K = Kelompok kontrol O 1 = Pretest (hasil sebelum dilaksanakan treatment) O 2 = Posttest (hasil setelah dilaksanakan treatment) X 1 = Treatment Model Problem Based Learning (PBL) X 2 = Menggunakan metode yang sering digunakan (konvensional) C. Ke-lima, menganalisis dan mengevaluasi proses, hasil tersebut dipaparkan dengan teman atau kelompok lain hingga adanya sanggahan atautambahan dari temuan siswa tersebut dan siswapun dapat menyimpulkan hasil Hasil belajar secara konseptual merupakan hasil dari proses belajar mengajar dan berupa Achivment atau penilaian.

1. Tingkat kesukaran

  Daya beda Daya beda digunakan untuk mengetahui kemampuan butir dalam membedakan kelompok-kelompok siswa antara kelompok siswa yang 8 pandai dengan kelompok siswa yang kurang pandai. Validitas dan reabilitas instrumen a)Validitas dan reabilitas butir untuk skor kontinum (soal uraian) Validitas berasal dari kata validity, dapat diartikan tepat atau sahih, yakni sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan 9 fungsi ukurnya.

10 Rumus validasi :

  X i X t pir bis i = St qi Keterangan : r bis i = koefisien biserial antara skor butir soal nomor i dengan skor totalX i = rata-rata skor total responden menjawab benar butir soal nomor iS t = standar deviasi skor total semu responden p i = proporsi jawaban benar untuk butir soal nomor iq i = proporsi jawaban salah untuk butir nomor iRumus reabilitas : k  piqi  2 = varaians skor total H. Pengujian hipotesisBila jumlah anggota sampel n 1 = n 2 dan varians homogen, maka dapat 2 1 + n 2 n dengan dsg =Keterangan: 1 X rata-rata data kelompok eksperimen 2 X rata-rata data kelompok kontrol dsg = nilai deviasi standar gabungann 1 = banyaknya data kelompok eksperimen 2 = banyaknya data kelompok kontrol α = 0.05 dengan rumus sebagai berikut: v 1 = varians data kelompok eksperimen v 2 = varians data kelompok kontrol.

I. Hipotesis Statistik

H o : µ 1 < µ 2 H 1 : µ 1 > µ

2 H o : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model Problem

  H 1 : Terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model ProblemBased Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia pada konsep Laju Reaksi. µ 2 = rata-rata nilai hasil belajar kimia siswa tanpa menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini adalah hasil data pretest dan posttest dari dua kelas

  Sebelum menerapakan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL), kedua kelas masing-masing diberikan pretest . Setelah masing-masing kelas melakukan proses belajar dengan perlakuan yang berbeda, setelah itu pada masing-masing kelasdilakukan posttest yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana peningkatan hasil belajar peserta didik.

A. Hasil penelitian 1. Perbandingan hasil pretest siswa kelas eksperimen dan kontrol

pretest kelas eksperimen dan kontrolData Kelas eksperimen Kelas kontrol Nilai maksimum 38 50 Nilai minimum 12 Tabel 4.1 Perbandingan hasil 21 17,7Modus 17,9 19,1 Rentang kelas (R) 26 47 Interval (I) 4 8 Standar Deviasi (SD) 6,6 11 Berdasarkan tabel 4.1 dari pretest diketahui nilai rata-rata 22,25 untuk kelas eksperimen (XI IPA 4) dan nilai rata-rata 18,5 untuk kelas kontrol (XI Sebelum melakukan penelitian terhadap kelas eksperimen (XI IPA 4) dan kelas kontrol (XI IPA 5) dilakukan pretest untuk mengetahui kemampuanawal siswa. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini: 3 Mean 22,25 18,5Median Distribusi frekuensi biasanya dipakai sebagai data persiapan untuk uji selanjutnya. Adapun data distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel dibawahini: Tabel 4.2 Distribusi frekuensi Nilai pretest siswa kelas eksperimen dan kontrol Interval Frekuensi Interval Frekuensi No kelas Relative kelas RelativeAbsolute Absolute eksperimen kontrol (%) (%) 1 12 – 15 5 15,625 3 – 10 9 28,125 2 16 – 19 8 25 11 – 18 8 25 3 20 – 23 6 18,75 19 – 26 10 31,25 4 24 – 27 7 21,875 27 – 34 2 6,25 5 28 – 31 2 6,25 35 – 42 1 3,125 6 32 – 35 3 9,375 43 – 50 2 6,25 7 36 – 39 1 3,125 - - -Jumlah 32 100 % Jumlah 32 100% Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa kelas eksperimen interval kelas yang banyak diperoleh siswa yaitu pada skor 16

2. Perbandingan hasil posttest siswa kelas eksperimen dan kontrol

  Setelah melakukan penelitian terhadap kelas eksperimen (XI IPA 4) dan kelas kontrol (XI IPA 5) dilakukan posttest untuk mengetahui kemampuansetelah dilakukannya perlakuan dari kedua kelas. Untuk melakukan uji prasyarat sampel maka, data tersebut harusdihitung, normalitas dan homogenitas, setelah keduanya dihitung dapat dilanjutkan pada uji parametrik atau nonparametrik.

B. Pengujian Prasyarat Pengambilan Sampel

  Pretest 32 0,1449 0,1560 Berdistribusi normal Tabel 4.6 Data Uji Normalitas Pretest pada kelas kontrol Keterangan Test N L hit L tab Kesimpulan data Kelompok Pretest 32 0,1285 0,1560 Berdistribusi normaleksperimen Pada tabel 4.6 diketahui L hit = 0,1285 sedangkan L tab = 0,1560 pada taraf signifikan 95% dengan derajat kebebasan 32, dengan ketentuan L hit < L tabatau 0,1285 < 0,1560 maka dapat disimpulkan bahwa kelas tersebut berdistribusi normal. Nilai F= 1,66 dan F tab = 1,77 atau 1,66 < 1,77 pada derajat kebebasan 62 dari n 1 +n 2 1 dan n2 masing-masing 32.

3. Pengujian hipotesis sampel

  Setelah dilakukan prasyarat analisis sampel pada data pretest, diketahui bahwa hasil pretest berdistribusi normal dan homogen. Sehingga pengujiandata pretetst kedua kelas dilanjutkan pada uji hipotesis sampel berikutnya, yaitu uji-t dengan kriteria:H o : µ 1 < µ 2 Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor pretest kelas eksperimen dengan kelas kontrolH 1 : µ 1 > µ 2 Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor pretets kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

C. Pengujian Prasyarat Analisis

  Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normalatau tidak, dengan ketentuan data berdistribusi normal bila L hit < L tab dengan derajat kebebasan masing-masing 32 untuk kelas eksperimen dan kontrolpada taraf signifikan 95%. Pada tabel 4.10 diketahui L hit = 0,1217 sedangkan L tab = 0,1560 pada taraf signifikan 95% dengan derajat kebebasan 32, dengan ketentuan L hit < L tabatau 0,1217 < 0,1560 maka dapat disimpulkan bahwa kelas tersebut berdistribusi normal.

3. Uji hipotesis

  Untuk hasil posttest menggunakan uji-t dengan kriteria:H o : µ 1 < µ 2 H o : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan modelProblem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia pada konsep laju reaksi. H 1 : µ 1 > µ 2 H 1 : Terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia pada konsep laju reaksi.

D. Pembahasan

  Pada penelitian inipun model Problem Based Learning menuntut siswa belajar mandiri (student centered) dengan memberikanmasalah Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kelas eksperimen dan kontrol sebelum dilakukan perlakuan pada kelas tersebut, maka peneliti harusmengambil data pretest untuk mengetahui kecocokan kelas tersebut untuk dijadikan sampel penelitian. Setelah itu memberikan masalah pada siswadengan membagikan Lembar Kerja Siswa pada tiap kelompok, agar dapat didiskusikan dengan yang lain, barulah masalah yang ada pada LKS tersebutdapat dikemukakan jawabannya baik secara lisan, tulisan maupun praktikum sehingga timbulah pertanyaan, saran dan solusi dari kelompok lainya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat

  Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji hipotesis melalui uji-t pada taraf signifikan 95%, didapat hasil t hit > t tab atau 5,8 > 1,38 data tersebut dapat disimpulkan bahwa H ditolakdan menerima H 1 atau adanya pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar kimia siswa melalui model Problem Based Learning (PBL) pada konsep laju reaksi. Dari hasil tersebut membuktikan bahwa hasil belajar kimia siswadengan menggunakan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi dari siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan dan pembahasan sebelumnya, berikut ini beberapa saran yang diharapkan dapat membantu penelitian selanjutnya: 1. Guru diharapkan mempunyai kemampuan dalam memilih model–model sesuai dengan materi yang diajarkan terutama pendekatan yang melibatkansituasi lingkungan kelas sehingga tujuan dapat tercapai.

2. Model Problem Based Learning (PBL) dapat diterapkan pada pembelajaran kimia khususnya IPA

  3. Model Probem Based Learning (PBL) disarankan dapat dikembangkan pada cabang ilmu lainya selain IPA, agar perkembangan model tersebut lebihvariatif.

DAFTAR PUSTAKA

  Lampiran 1RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) KIMIA SEMESTER 1 KELAS XI Kelas EksperimenNama Sekolah : SMAN 1 Sukatani Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X1.1/1 Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Pertemuan : ke-1 Standar Kompetensi : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor- faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

Bab IV Kinetika Kimia Sub Bab: - Definisi Laju Reaksi Orde Reaksi

  Karena jumlah zat-zat yang terlibat dalam suatu reaksi kimia biasanya dinyatakan dalam konsentrasinya, maka laju reaksi juga didefinisikan sebagai ukuran yang menyatakanperubahan konsentrasi zat-zat pereaksi atau zat-zat hasil reaksi tiap satuan waktu. v = - atau v = + keterangan: v = laju reaksi∆ [A] = perubahan konsentrasi ∆ [B] = perubahan konsentrasi zat-zat hasil reaksiLaju reaksi untuk reaksi yang dinyatakan dengan menggunakan persamaan kimia di atas dapat ditentukan sebagai berikut.

2. Lalu bagaimana untuk b. Belum tahu bu

  reaksi? Menjelaskan tujuan dari pembelajaran kita hari ini adalah;  Meminta setiap kelompok untuk memberi pertanyaan, tambahan, atau sanggahan. Menambahkan jawaban yang diberikan oleh tiap kelompoknya dan menjelaskan kembali hal yang kurang difahami oleh siswa. Pd Diyah Rauhillah Hasni 1985 1004 200902 2 002 106016200595 RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)KIMIA SEMESTER 1 KELAS XI Kelas Eksperimen Nama Sekolah : SMAN 1 Sukatani Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X1.1/1 Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Pertemuan : ke-2 Standar Kompetensi : Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor- faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bab IV Kinetika Kimia Sub Bab: - Persamaan Laju Reaksi dan Teori Tubukan Ringkasan Materi: a. Order Reaksi Dalam hal ini, orde reaksi didefinisikan sebagai bilangan pangkat (eksponen) yang

  Dalam suatu percobaan untuk mengamati reksi A (g) + B (g)  C (g) diperoleh data sebagai berikut: No [A] M [B] M V (M/s) 1 0,1 0,1 2 2 0,1 0,28 3 0,2 0,2 16 Orde reaksi terhdap A v = k [A] [B]m n v 2 = k 2 [A 2 ] [B 2 ] m n v 3 = k 2 [A 3 ] [B 3 ] m n 2 8 = k [0,1] [0,2] m n 16 = k 2 [0,2] [0,2] 8 = [0,1] 16 = [0,2]1 = 1 4 2n = 2 jadi orde pada A adalah 2b.  Meminta setiap jawaban yang  Mengambil kartu jawaban yang Mengembangkan dan sudah di dapat, agar di samakan sudah didapat dan menaruhnya menyajikan hasil karya dengan kartu yang sudah di di no soal pada papan tulis.20 menit tentukan dan menaruhnya di no soal. Meminta setiap kelompok yang  menjelaskan didepan kelas hasil sudah menjawab agar dapat diskusi kelmpok.

Bab IV Kinetika Kimia Sub Bab: Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Rangkuman Materi

  Zat padat yang berbentuk serbuk mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan zat padat dalam bentuk batangan atau kepinganuntuk massa zat padat yang sama.2) SuhuPerubahan suhu akan mempengaruhi laju suatu reaksi kimia. Hal ini terjadi semakin besar tekanan gas, maka volume gas semakin kecil, sehingga jarak antara partikel-partikelnyamenjadi lebih rapat dan partikel-prtikel tersebut lebih mudah bertumbukan.5) KatalisKatalis merupakan zat yang meningkatkan laju suatu reaksi kimia tanpa mengalami perubahan apapun.

4. Langkah-langkah KBM No Tahapan dan waktu Aktifitas Guru Siswa Tahapan awal

   Meminta agar didiskusikan LKS yang sudah diberikan dan memcahkan soal yang ada. Meminta agar mengumpulkan informasi yang sudah diketahui oleh siswa. Pd Diyah Rauhillah Hasni 1985 1004 200902 2 002 106016200595 RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) KIMIA SEMESTER 1 KELAS XI Kelas Eksperimen Nama Sekolah : SMAN 1 Sukatani Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X1.1/1 Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Pertemuan : ke-4Standar Kompetensi : Memahami teori tumbukan untuk menjelaskan faktor-faktor penentu laju dan orde reaksi, dan terapannya dalamkehidupan sehari-hari.

1. Model, Pendekatan dan Metode

  : Problem Based Learning (PBL)Model b. : Ceramah bermakna, Tanya Jawab, Kerja kelompok dan Talking StikMetode 2.

Bab IV Kinetika Kimia Sub Bab : - Laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari Diambil dari LKS yang sudah disediakan

White board, Makker, kartu dan Buku ajar 4. Langkah-langkah KBM Aktifitas No Tahapan dan waktu Guru Siswa Tahapan awal Berdo’a  Berdo’a Fase 1 Mengkondisikan kelas Orientasi siswa terhadap masalah Memberikan beberapa pertanyaan  Menjawab pertanyaa, jawaban 5 menit berkenaan laju reaksi: yang diharapkan:

1. Apakah kalian tahu laju reaksi Sudah bu, salah satunya d

2. Apakah kalian sudah tahu gula pasir dengan gula batu

  Manfaat laju reaksi dalam Tahapan inti  Disini ibu memiliki 8 amplop yang  Menyimak penjelasan dari guru.brkenaan dengan laju reaksi dan Fase 2 beberapa pertanyaan yang harus Mengorganisisr siswa untuk kalian pecahkan.belajar  Guru mengelompokkan siswa.  Menjawab pertanyaan yang Menanyakan kefahaman siswa dengan pertanyaan melalui diberikan oleh guru dengan Fase 5 menerima stik yang diberikan pemberian stik dari tiap kelompok Menganalisis dan dari tiap kelompok.mengevaluasi proses 10 menit Tahapan akhir5 menit  Meminta siswa untuk menyimpulkan pembelajaran hari ini. Melengkapi kesimpulan yang sudah dibuat oleh siswa. Berdo’a.

Bab IV Laju Reaksi Sub Bab: - Definisi Laju Reaksi Orde Reaksi

  Karena jumlah zat-zat yang terlibat dalam suatu reaksi kimia biasanya dinyatakandalam konsentrasinya, maka laju reaksi juga didefinisikan sebagai ukuran yang menyatakan perubahan konsentrasi zat-zat pereaksi atau zat-zat hasil reaksi tiap satuan waktu. v = - atau v = + keterangan: v = laju reaksi∆ [A] = perubahan konsentrasi ∆ [B] = perubahan konsentrasi zat-zat hasil reaksiLaju reaksi untuk reaksi yang dinyatakan dengan menggunakan persamaan kimia di atas dapat ditentukan sebagai berikut.

Bab IV Laju Reaksi Sub Bab: - Persamaan Laju Reaksi dan Teori Tubukan Ringkasan Materi: a. Order Reaksi Dalam hal ini, orde reaksi didefinisikan sebagai bilangan pangkat (eksponen) yang

  m v = k [A] = k 5)Orde reaksi Satu Jika orde reaksi suatu zat sama degan satu, berarti penambahan konsentrasi akan berbanding lurus (linier) dengan kenaikan laju reaksi.1 v = k [A] = k [A] 6)Orde reaksi dua Jika orde reaksi zat sama dengan dua, berarti penambahan konsentrasi akan meningkatkan reaksi, dimana laju reaksi sebanding dengan kuadrat konsentrasi zattersebut. Dalam suatu percobaan untuk mengamati reksi A (g) + B (g)  C (g) diperoleh data sebagai berikut: No [A] M [B] M V (M/s) 1 0,1 0,1 2 2 0,1 0,28 3 0,2 0,2 16 Orde reaksi terhdap A v = k [A] [B]m n v 2 = k 2 [A 2 ] [B 2 ] m n v 3 = k 2 [A 3 ] [B 3 ] m n 2 8 = k [0,1] [0,2] m n 16 = k 2 [0,2] [0,2] 8 = [0,1] 16 = [0,2]1 = 1 4 2n = 2 jadi orde pada A adalah 2c.

a. Total orde reaksi b

  Apa yang dimaksud dengan teori tumbukan? Meminta siswa untuk menuliskan jawaban. Meminta siswa lain untuk mengkoreksi jawaban yang diberikan oleh temannya. Menanyakan kefahaman siswa kembali. Kompetensi Dasar : Memahami Teori Tumbukan untuk menjeaskan faktor-faktor penentu laju reaksi, orde reaksi dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bab IV Laju Reaksi Sub Bab: - faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Rangkuman Materi

  Zat padat yang berbentuk serbuk mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan zat padat dalam bentuk batangan atau kepinganuntuk massa zat padat yang sama.7) SuhuPerubahan suhu akan mempengaruhi laju suatu reaksi kimia. Jika suhu naik, maka partikel-partikel zat-zat yangterlibat dalam reaksi akan menyerap kalor (energi), sehingga energi kinetetik partikel- Keterangan:V = laju reaksi pada suhu tertentu v = laju reaksi mula-mulaΔT = kenaikan suhu8) KonsentrasiPada reaksi-reaksi yang melibatkan larutan, konsentrasi larutan mempengaruhi laju reaksi suatu zat dengan larutan tersebut.

4. Langkah-langkah KBM Aktifitas No Tahapan dan waktu Guru Siswa Tahapan awal

   Jawaban yang diharapkan Menanyakan kefahaman siswa ―faham‖ Tahapan akhir Meminta siswa untuk  Menyimpulkan materi yang 15 menit menyimpulkan pembelajaran hari sudah diberikan dan hasil ini. Pd Diyah Rauhillah Hasni 1985 1004 200902 2 002 106016200595 RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) KIMIA SEMESTER 1 KELAS XI Kelas Kontrol Nama Sekolah : SMAN 1 Sukatani Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X1.2/1 Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Pertemuan : ke-4 Standar Kompetensi : Memahami teori tumbukan untuk menjelaskan faktor-faktor penentu laju dan orrde reaksi, dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bab IV Laju Reaksi Sub Bab : - Laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari Diambil dari artikel yang sudah disediakan

  White board, Makker , Artikel dan Buku ajar 4. Langkah-langkah KBM Aktifitas No Tahapan dan waktu Guru Siswa Tahapan awal Berdo’a  Berdo’a Mengkondisikan kelas Apersepsi Memotivasi Apakah kalian tahu laju reaksi 3.

4. Apakah alian sudah tahu gula pasir dengan gula batu

  kehidupan sehari-hari dengan manfaat yang lebih bsar atau  Menjelaskan tujuan dari Menyimak penjelasan guru pembelajaran kita hari ini adalah; mengenai tujuan dari Mampu mengetahu manfaat dari laju reaksi. Memotivasi siswa dengan  Termotivasi pada pembelajaran memberikan contoh laju reaksi laju reaksi.pada kehidupan sehar-hari. Manfaat laju reaksi dalam  Mengelompokkan siswa Siswa berkelompok sesuai dengan kelompoknya.

2. Manfaat laju rekasi dalam

  25 menit Tahapan akhir  Meminta siswa untuk  Menyimpulkan materi yang 10 menit menyimpulkan pembelajaran hari sudah diberikan.ini. Melengkapi kesimpulan yang  Menyimak kesimpulan yang sudah dibuat oleh siswa. Lihatlah grafik jumlah moleku terhadap waktu dibawah ini dari reaksi A + B  C + D: A)Reaktan B) Prodak Jumlah molekul Jumlah molekulC + D A + BWaktu Waktu B)Reaktan  prodak C + D Jumlah molekul Hasil reaksi A + B  C +D A + B Pereaksi Waktu/s Orde Reaksi Pangkat perubahan konsentrasi terhadap perubahan laju disebut orde reaksi.

4 V

  Perhitungan Laju Reaksi Untuk reaksiA + B CRumusan laju reaksi adalah : m n V = k [A] [B]Dimana : k = tetapan laju reaksi m = orde reaksi untuk A Orde reakasi total = m + n n = orde reaksi untuk B Rumusan laju reaksi tersebut diperoleh dari percobaan. Misalkan diperoleh data percobaan untuk reaksi : NO(g) + Cl 2 (g) NOCl 2 (g) Diperoleh data sebagai berikut : Perc [NO] M [Cl2 ] M V M/s 1 0,1 0,1 4 2 0,1 0,2 16 3 0,2 0,1 8 4 0,3 0,3 108 Rumusan laju reaksi untuk reaksi tersebut adalah :Hitunglah jumlah orde!

2 Harga ―k‖ diperoleh dengan memasukan salah satu data percobaan

  Suatu zat padat yang berbentuk serbuk mempunyai permukaan yang lebih luas, jikadibandingkan dengan zat tersebut dalam bentuk kepingan yang besar. Akibatnya,reaksi zat dalam bentuk serbuk akan lebih cepat bereaksi dari reaksi zat dalam bentuk kepingan, sebab molekul-molekul dibagian dalam kepingan harus ―menunggu‖ sebelum bagian luar habis bereaksi, sedangkan molekul-molekul dari serbuk banyak yang bertabrakan dalam waktu yangbersamaan.

3. Diskusikanlah mengapa konsentrasi mampu mempercepat laju reaksi!

  Untuk kenaikan n 10 maka: Dik:V = kecepatanA = kenaikan = perubahan waktuΔtX = setiapa kenaikan suhu 10 C Jika reaksi berlangsung dalam waktu awal t 1 dan berakhir pada suhu akhir t 2 , maka:Jawablah pertanyaan dibawah ini ! 2 KClO 3 (g) MnO 2 KCl (s) + 3 O 2 (g)H 2 (g) + Cl 2 (g) (g) ——–arang 2 HClAda dua macam katalis, yaitu katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi, dan katalis negatif (inhibitor) yang berfungsi memperlambat laju reaksi.

3. Jelaskanlah hasil praktikum kalian, bagaimana pengaruh katalis terhadap laju reaksi!

  Menyebutkan manfaat laju reaksi dalam kehidupan sehari- hari. Sebutkan manfaat pengaruh suhu terhadap laju reaksi pada kehidupan sehari-hari!

KISI-KISI INSTRUMEN DAN PEDOMANA PENILAIAN

  4 Laju secara fisika hanya berdasarkan Laju secara kimia diliht dari jumlah C2 Jika laju reaksi A  B (Vb = + ΔM/s) 1 bertambah? Konsentrasi yang bertambah adalah 4 prodak/hasil reaksi, karena laju tersebutmerupakan laju pembentukkan.

20 C samapi 100

  Karena katalis mahal 1 Katalis membutuhkan peralatan yang mahal 4 C6 Salah satu cara untuk dapat mempercepat jalannya suatu reaksiadalah melalui penggunaan katalis, maka hal apa sajakah yang dapatmembuat anda lebih memilih reaksi tanpa katalis, seandainya pada prosesreaksi dengan menggunakan katalis dapat membentuk dampak tertentuyang tidak dihasilkan oleh reaksi tanpa 3 Yang mempercepat laju adalah katalis, karena dalam hati terdapat enzim. Dengan reaksi: A + B  C + D No M [A] M [B] V (M/s) = 12000 6 = k [0,1]2 [0,05]6 = k [0,01] [0,05]6 = k 5 10-4 K = 6 / 5 10 -4 3 V1 = k [NO]2 [Br2 ] 24 = k [0,2] [0,05] ¼ = ½Orde n n = 2 n = 4 maka n = 2 Total orde [NO] + [Br2 ] = 2+1 = 3 (katalis yang relatif murah) memiliki dampak tertentu, seperti: proses 1fase dengan reaktan sehingga dalam hasil reaksi/prodact mengandungkatalis.

A. Data Statistik pretest Kelas Eksperimen

  2 + C Modus = L 2 + C = 15,5 + 4= 15, 5 + 4 = 15, 5 + 4 (1,375) = 15, 5 + 5,5 = 21 8. Tabel distribusi K = 1 + 3, 3 log 32= 1 + (3, 3 X 1, 5)= 1 + 4, 95 = 5, 95 ≈ 6 4.

6. Mean/rata-rata (X) =

B. Data statistik pretest Kelas Kontrol

  Standar deviasi (Sd) =Sd = = = = = 6, 6 3 7 7 7 10 10 10 10 10 12 12 13 13 13 17 17 18 20 20 22 22 23 23 23 23 25 25 30 33 42 47 50 27 Jumlah (∑) 32 159 5333,5 592 14792 93 4324,5 43 6 35 5 61 1860,5 4 = 3 2. 2 + C 18,5 + 8= Median = L = 18, 5 + 8 = 18, 5 + 8 (- 0,1) = 18,5 2 + C Modus = L= 18, 5 + 8 = 18, 5 + (8 x 0,2) = 18,5 + 1,6 = 19,1 9.

PERSIAPAN UJI NORMALITAS

  Kolom xi adalah nilai pretest yang didapat. Kolom Zi, di dapat :Zi = xi Kolom Zt adalah Zi yang dilihat pada table distribusi 0-z.

PERHITUNGAN UJI NORMALITASPRETEST KELAS EKSPERIMENT

  1 1 29 1,47 0,4292 0,9292 0,906 0,0388 9 27 3 26 0,72 0,2642 0,7642 0,812 0,0478 10 28 2 28 0,87 0,3078 0,8078 0,875 0,0672 11 32 12 25 33 2 31 1,62 0,4474 0,9474 0,968 0,0206 13 38 1 32 2,38 0,4913 0,9913 1 0,0087 Jumlah (∑) 32 - - - - - - Dari uji normalitas dengan uji Lilifors menunjukkan bahwa L hit < L tab , (0,1449 < 0,1560). L tab di dapat dari (0,886/ ) dengan derajat signifikan 95%.

PERHITUNGAN UJI NORMALITASPRETEST KELAS KONTROL

  1 33 10 3 4 25 0,41 0,1591 0,6591 0,781 0,1219 11 25 2 27 0,59 0,2224 0,7224 0,844 0,1216 12 1 28 1,04 0,3508 0,8508 0,875 0,0242 13 1 29 1,32 0,4066 0,9066 0,906 0,0006 22 14 42 1 30 2,14 0,4838 0,9838 0,934 0,0498 15 47 1 31 2,59 0,4952 0,9952 0,967 0,0282 16 50 1 32 2,86 0,4979 0,9979 1 0,0021 Ju mlah (∑) 32 - - - - - -Dari uji normalitas dengan uji Lilifors menunjukkan bahwa L hit < L tab , (0,1285 < 0,1560). 2 21 0,32 0,1255 0,6255 0,656 0,0305 9 3 2 11 -0,59 0,2224 0,2776 0,344 0,0664 1 1 -1, 41 0,4207 0,0793 0,032 0,0473 2 7 3 4 -1,04 0,3508 0,1492 0,125 0,0242 3 10 5 9 -0,77 0,2794 0,2206 0,281 0,0604 4 12 5 No Xi f Zn Zi Zt Fz Sz Fz – Sz 13 3 14 -0,50 0,1915 0,38085 0,437 0,1285 6 17 2 16 -0,14 0,0557 0,4443 0,50 0,0557 7 18 1 17 -0,04 0,0160 0,4840 0,531 0,0470 8 20 2 19 0,14 0,0557 0,5557 0,593 0,0373 Lampiran 12 PRETEST 1.

A. Uji Data Posttest Kelas Eksperimen

  = 97 22 37 40 44 45 46 48 48 50 55 56 56 58 62 62 62 62 64 65 65 67 68 68 68 68 70 72 74 74 76 86 97 5 2 + C= 57,5+ 12 = 57,5 + 12 (0,6) = 64,7 Median = L = = 61,25 7. K = 1 + 3, 3 log 32= 1 + (3, 3 X 1, 5)= 1 + 4, 95 = 5, 95 ≈ 6 4.

B. Posttest Kelas Kontrol

  Banyak kelas (K) = 1 + 3, 3 log N K = 1 + 3, 3 log 32= 1 + (3, 3 X 1, 5)= 1 + 4, 95 = 5, 95 ≈ 6 4. Panjang kelas (interval) = R/K I = 40 /6 = 6, 7 ≈ 7 5 10 Sd = == = = 2 + C= 26, 5 + 7 = 26, 5 + 7 x 0,5 = 26,5 + 3,5 = 30 Modus = L 7.

PERSIAPAN UJI NORMALITASPOSTTEST KELAS KONTROL

  Kolom xi adalah nilai pretest yang didapat. Kolom Zi, di dapat :Zi = xi Kolom Zt adalah Zi yang dilihat pada table distribusi 0-z.

PERHITUNGAN UJI NORMALITASPOSTTEST KELAS EKSPERIMEN

  1 72 1 18 0,05 0,0754 0,5754 0,5625 0,0129 14 65 2 20 0,19 0,1026 0,6026 0,6250 0,0224 15 67 1 21 0,26 0,1517 0,6517 0,6562 0,0045 16 68 4 25 0,39 0,1772 0,6772 0,7812 0,1040 17 70 1 26 0,46 0,2291 0,7291 0,8125 0,0834 18 1 37 0,61 0,2704 0,7704 0,8437 0,0733 13 1 31 1,72 0,4573 0,9573 0,9687 0,0675 L tab di dapat dari (0,886/ ) dengan derajat signifikan 95%. 32 - - - - - - Dari uji normalitas dengan uji Lilifors menunjukkan bahwa L hit < L tab , (0,1040 < 0,1560).

PERHITUNGAN UJI NORMALITASPOSTTEST KELAS KONTROL

  16 3 21 0,38 0,1480 0,6480 0,656 0,0008 12 42 1 22 0,58 0,2190 0,7190 0,687 0,0320 13 43 3 25 0,68 0,2518 0,7518 0,781 0,0292 14 45 1 26 0,88 0,3106 0,8106 0,812 0,0014 15 47 2 28 1,08 0,3599 0,8599 0,875 0,0151 48 11 1 29 1,18 0,3810 0,8810 0,906 0,0250 17 52 1 30 1,58 0,4429 0,9429 0,937 0,0059 18 55 1 31 1,88 0,699 0,9699 0,968 0,0019 19 60 1 32 2,38 0,4913 0,9913 1 0,0087 Jumlah (∑) 32 L tab di dapat dari (0,886/ ) dengan derajat signifikan 95%. Varians Kelas Eksperimen 2 V4 = S 2 = 14,4 2.

UJI REFERENSI

  BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR No Referensi Pembimbing 1 Pembimbing 2 Ni Made Suci, Penerapan Model 1 Problem Based Learning Untuk Hasil Belajar Teori Akuntansi Mahasiswa, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Jurusan Ekonomi Undiksha April, 2008. BAB IV PEMBAHASAN No Referensi Pembimbing 1 Pembimbing 2 Sudirman, Problem Based learningsuatu model pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan 1 kemampuan memecahkan masalah, Jurnal pendidikan UniversitasMuawarman samarinda Vol.

Informasi dokumen
Pengaruh model problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi Data Statistik pretest Kelas Eksperimen Data statistik pretest Kelas Kontrol Hakikat Pembelajaran dan Hasil Belajar Hipotesis Penelitian DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR Ilmu Kimia DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR Karakteristik dan Tujuan Model Berbasis Masalah Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah Kerangka Berpikir DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR Kinetika Kimia Sub Bab: - Definisi Laju Reaksi Kinetika Kimia Sub Bab: Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Kinetika Kimia Sub Bab : - Laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari Kinetika Kimia Sub Bab: - Persamaan Laju Reaksi dan Teori Tubukan Laju Reaksi DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR Laju Reaksi Sub Bab: - Definisi Laju Reaksi Laju Reaksi Sub Bab: - Persamaan Laju Reaksi dan Teori Tubukan Langkah-langkah Model Berbasis Masalah Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN METODOLOGI PENELITIAN Pengaruh model problem based learning (PBL) terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pembahasan HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Relevan DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA PIKIR Pengujian hipotesis sampel Pengujian Prasyarat Pengambilan Sampel Perbandingan hasil posttest siswa kelas eksperimen dan kontrol Perbandingan hasil pretest siswa kelas eksperimen dan kontrol Uji Data Posttest Kelas Eksperimen Uji hipotesis Pengujian Prasyarat Analisis Uji Homogenitas Pengujian Prasyarat Analisis Uji Normalitas Pengujian Prasyarat Analisis Uji Normalitas Pengujian Prasyarat Pengambilan Sampel
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Pengaruh model problem based learning (PBL) t..

Gratis

Feedback