Analisis Pembangunan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Sektor Wilayah Kota Medan

Gratis

1
74
204
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Jumlah sampel yang diambil sebanyak 200 orang dibagi atas 50 orang untuk sektor pertanian, 50 orang untuk sektor perindustrian, 50 orang untuk sektor perdagangan dan50 orang untuk sektor keuangan. Penelitian dilakukan di Kota Medan pada bulan Juni 2010 sampai denganNovember 2010 dengan menggunakan metode Random Sampling, untuk mendapatkan 50 orang responden untuk masing-masing sektor pertanian, sektorindustri, sektor perdagangan dan sektor keuangan.

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Latar Belakang

  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini tidak terlepas dari pertumbuhan sektor ekonomi yang mendukungnya terutama dari pertumbuhan sektor pertaniansebesar 3,61%, pertumbuhan sektor industri 3,91%, pertumbuhan sektor perdagangan sebesar 5,6% dan pertumbuhan sektor keuangan sebesar 9,50% padatahun yang sama. Namun tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini mengakibatkan fenomena- fenomena yang terjadi, diantaranya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggibelum diikuti oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi di sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor perdagangan, dan sektor keuangan.

1.9 Tujuan Penelitian

  Untuk menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan,jumlah kesempatan kerja, dan pertumbuhan sektor pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap indeks ketimpangan pembangunan wilayah KotaMedan. Untuk menganalisis tingkat pengaruh langsung, tidak langsung, dan pengaruh total pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor perdagangan,pertumbuhan sektor perindustrian, pertumbuhan sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi terhadap indeks ketimpanganpembangunan wilayah Kota Medan.

1.10 Kegunaan Penelitian

  Kegunaan teoritis yakni diharapkan akan memberikan sumbangan pemikiran dan upaya penajaman konsep tentang pertumbuhan ekonomi dan ketimpanganpembangunan yang terjadi di suatu daerah. Kegunaan praktis, yaitu bagi pemerintah Kota Medan mengambil kebijakan mengenai pengalokasian dana pembangunan kepada masing-masing sektorekonomi sesuai dengan potensi yang ada.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Teori Pembangunan Ekonomi

  Pandangan para penentangnya tersebut menyatakan bahwa ilmu ekonomi pembangunan ituhanyalah merupakan campuran dari berbagai cabang ilmu ekonomi tersebut di Ekonomi pembangunan mempunyai cakupan yang cukup luas, selain mengupas tentang cara-cara alokasi sumber daya produktif langka yang seefisienmungkin serta kesinambungan pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Denganadanya batasan di atas maka pembangunan ekonomi pada umumnya didefenisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapitapenduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan.

2.9 Teori Pengembangan Wilayah

  Wilayah yang dilalui infrastruktur transportasi, inti kota (wilayah maju) yang tidak mampu menampung pesatnya perkembangan pembangunan yangterjadi sehingga mendorong berkembangnya berbagai sektor menimbulkan munculnya kota-kota baru dan kawasan industri hingga berakhir padaberkurangnya wilayah pertanian dan permukiman (El-Khoury R dan Robbins E, 2004). Pembangunan ekonomi wilayah pada hakekatnya melakukan pembahasan mengenai dua hal yaitu berkisar tentang metode dalam menganalisisperekonomian suatu wilayah dan teori-teori yang membahas tentang faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tertentu.

a. Teori Ekonomi Neoklasik

  Strategi pembangunan wilayah yang muncul yang didasarkan pada teori ini adalah penekanan terhadap arti penting bantuan implementasikebijakannya mencakup pengurangan hambatan/batasan terhadap perusahaan- perusahaan yang berorientasi ekspor yang ada dan akan didirikan di wilayahtersebut. Tentu sajabanyak variabel lainnya yang mempengaruhi kualitas atau suitabilitas suatu lokasi misalnya upah tenaga kerja, ketersediaan pemasok, komunikasi,fasilitas-fasilitas pendidikan dan latihan (diklat), kualitas pemerintah wilayah dan tanggung jawabnya, dan sanitasi.

d. Teori tempat Sentral

  Setiap tempat sentral didukung oleh sejumlahtempat yang lebih kecil yang menyediakan sumber daya (industri dan bahan baku). Teori tempat sentral ini bisa diterapkan pada pembangunan ekonomi wilayah, baikdi wilayah perkotaan maupun di pedesaan.

e. Teori Kausasi Kumulatif

  Kondisi wilayah-wilayah sekitar kota yang semakin buruk menunjukkan konsep dasar dari tesis kausasi kumulatif (cumulative causation) ini. Hal ini yang disebut Myrdal (1957) sebagai backwash effects.

2.9.1 Pelaku-Pelaku Pengembangan Wilayah

   Pengelolaan fiskal tepat sasaran  Terbuka  Fasilitas perdagangan domestik dan ekspor  Aliran informasi Aliran tenaga kerja Respon Wilayah Desentralisasi  Fasilitas investasi  Aliran modal  Pa sar terbuka Tantangan Globalisasi Ekonomi Lokal Inisiatif dapat diartikan sebagai suatu gagasan atau prakarsa dari dunia swasta, masyarakat dan pemerintahan. Termasuk juga sebagai tugaspemerintah adalah menciptakan iklim sosial dan politik serta keamanan yang menunjang serta menyediakan kemudahan-kemudahan seperti pemberianpinjaman, hibah, atau rangsangan pajak, bagi pemilik modal/dunia usaha yang berperan serta, bantuan mengembangkan sumberdaya manusia, transportasiserta fasilitas-fasilitas sanitasi, dan berbagai tingkat pengaturan PemerintahPusat dalam penyediaan lahan (pemerintah); 2.

2.9.2 Prinsip-Prinsip Pengembangan Wilayah

  Misi pengembangan wilayahYaitu tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban, usaha-usaha dan tanggung jawab yang akan diemban oleh masing-masing pelaku beserta sektor-sektor/satuankerja-satuan kerja dan unsur-unsurnya baik vertikal maupun horisontal, dalam pelaksanaan pengembangan wilayah untuk mencapai visi yang telahditentukan dan disetujui bersama. Rencana pengembangan wilayah kini umumnya berusaha memusatkan pada beberapa titik pengembangan yang dipilih berdasarkan sifat-sifat geografikdan daerah yang unggul atau tersedianya bahan-bahan baku atau lain-lain kelebihan yang menjanjikan harapan terbaik untuk keberhasilan pembangunan(Mulyanto, 2008).

2.10 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

  Para teoritisi tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dengan pertambahan PDB dan PDRB saja, tetapi jugadiberi bobot yang bersifat immaterial seperti kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan dengan rasa aman dan tenteram yang dirasakan masyarakat luas. Menurut Ardani (1992), pada dasarnya teori-teori yang mengemukakan tentang pertumbuhan suatu wilayah dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompokyaitu pertama inward looking theory, menganalisis pertumbuhan yang diakibatkan oleh intern wilayah itu sendiri misalnya the export base theory dan the sector theory dan yang kedua outward oriented theory yang menekankan pada mekanisme yang mendasari penurunan pertumbuhan ekonomi dari suatu wilayah ke wilayah lain.

2.11 Distribusi Pendapatan dan Pengukurannya

  Konsep distribusi pendapatan fungsional adalah sumbangan dari para ahli ekonomi klasik yang tertarik pada distribusi pendapatan di antara penduduk, dan Penaksiran yang kedua adalah menilai atau mengukur suatu distribusi pendapatan berdasarkan indikator yang seringkali didekati dengan cara statistikdan cara empiris. Lewat pemahaman yangmendalam akan masalah ketimpangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan dapat memberikan dasar yang baik untuk menganalisis masalah pembangunanyang lebih khusus agar permasalahan pembangunan ini bisa dipecahkan dengan perencanaan pembangunan yang lebih baik (Arsyad, 2004).

2.12 Ketimpangan Distribusi Pendapatan Antar Wilayah

  Lewat pemahaman yang mendalam akan masalah ketidakmerataan dan kemiskinan ini memberikan dasar yang baik untuk menganalisis masalahpembangunan yang lebih khusus seperti: pertumbuhan penduduk, pengangguran, pembangunan perdesaan, pendidikan, perdagangan internasional, dan sebagainya. Menurut Fields dan Jakubson (2001) dalam penelitiannya yang mencoba mencari jawaban dari pembuktian hipotesis Kuznets dengan menunjukkankombinasi data dari 35 negara, bahwa di berbagai negara-negara berkembang tidak terdapat hubungan yang kuat antara tingkat pendapatan perkapita dengantingkat ketimpangan distribusi pendapatan.

2.13 Penelitian Sebelumnya

  Jika pemerintah dapat menata ulang posisi sektor industri makanan, minuman dan tembakau serta sektor perdagangan, restoran dan hotel, maka output sektor-sektorlainnya akan meningkat, yang pada gilirannya akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Simulasi kebijakan di sektor agroindustri dilanjutkan untuk menganalisis distribusi pendapatan Firman dan Herlina (2004) meneliti tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan pada peternak sapi perah di wilayah kerja KUD Sinar Jaya KabupatenBandung.

2.14 Keaslian Penelitian

  Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel yang diteliti yaitu variabel dependen terdiri dari jumlah kesempatan kerja,pertumbuhan ekonomi, dan indeks kesenjangan pendapatan dan variabel independen terdiri dari pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektorindustri, pertumbuhan sektor perdagangan, dan pertumbuhan sektor keuangan. Selanjutnya untuk melihatketimpangan pembangunan yang terjadi, penelitian ini menggunakan hasil perhitungan koefisien Gini masyarakat Kota Medan yang bekerja di sektorpertanian, industri, perdagangan dan keuangan.

BAB II I KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.3 Kerangka Konseptual

  Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya adalah nilai hasil perlakuan yang dilakukan terhadap suatu perencanaan kegiatan (sektor) yang sekarang dibandingkan dengan keadaan sektor tahun yang lalu. Sektor keuangan, pada tatanan perekonomian Kota Medan memberikan kontribusi yang tidak menentu terhadap PDRB Kota Medan dibandingkan dengansektor yang lain.

3.4 Hipotesis Penelitian

  Pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan, pertumbuhan sektor keuangan dan jumlah kesempatankerja berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Kota Medan. Tingkat pengaruh langsung, tidak langsung, dan pengaruh total pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor perdagangan, pertumbuhan sektorperindustrian, pertumbuhan sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi indeks ketimpanganpembangunan wilayah Kota Medan.

BAB IV METODE PENELITIAN

4.10 Desain Penelitian

  Desain penelitian ini terstruktural kepada ketimpangan pembangunan yang dicerminkan oleh ketimpangan pendapatan akibat dari perubahan sektor ekonomiyang bersifat agregat di Kota Medan, dan mendiskripsikan ketimpangan pendapatan tersebut berdasarkan sektor ekonomi di Kota Medan. Untuk mendapatkan data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini dapat diperoleh langsung dari sumbernya melalui publikasi resmi seperti BPS,dinas yang berkaitan dengan sektor ekonomi maupun tidak langsung melalui lembaga lainnya.

4.11 Lokasi Penelitian

  Lainnya 344.634 41,33 Jumlah 833.832 100.00 Sumber : BPS Kota Medan, 2008 4.12 Responden Yang menjadi responden dalam penelitian ini sebagai sumber data primer untuk menjelaskan ketimpangan pendapatan antar sektor adalah masyarakat yangmenekuni pekerjaan utama pada masing-masing sektor yang berdomisili di Kota Medan, seperti terlihat pada Tabel 4.1 di atas. 4.13 Besaran dan Distribusi Sampel Besarnya sampel yang diperlukan untuk menjelaskan ketimpangan pendapatan antar sektor ekonomi dan ketimpangan pendapatan secara agregat diKota Medan dapat ditentukan dengan formula : .

2 B

D = = Derajat ketepatan (bound of error) 5% dengan tingkat 4 kepercayaan 95%. 2 ( , 05 )D = = 0,000625 4 2

2 N D = (489.198) x 0,00065 = 149.571.677

  677 ( 61 , 149 )N D N P P  i i  i   Dibulatkan = 200Untuk menetapkan pada masing-masing sektor, besarnya sampel dibagi rata untuk setiap strata i, formulanya adalah : n ni = 4 Pertimbangan besarnya sampel dibagi rata pada masing-masing strata, hal ini berkaitan dengan formula Gini Ratio, yang memerlukan klasifikasi pendapatan: 20% termiskin, 20% miskin, 20% sedang, 20% tidak miskin dan 20% sangat tidak miskin. Besarnya sampel berdasarkan sektor adalah sebagai berikut : Tabel 4.3.

4.14 Teknik Penentuan Sampel

  Berdasarkan responden atau sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini, maka untuk menentukan orang yang dipilih sebagai sumber data, digunakanmetode non random sampling dengan cara purposive sampling, cara ini dipilih karena : 1. Responden tersebar luas 2.

4.15 Jenis Variabel

  Pertumbuhan ekonomi (Z Berdasarkan kerangka konseptual penelitian dapat diidentifikasi jenis variabel dalam penelitian ini. Berdasarkan kerangka konseptual penelitian, jenisvariabel terdiri dari variabel exogeneous yaitu variabel yang nilainya ditetapkan diluar model dan variabel endogenous yaitu variabel yang nilainya ditentukanpada model estimasi.

4.16 Defenisi Operasional

  Jumlah Jumlah orang berumur dewasa baik yang Ratio kesempatan belum berkeluarga maupun sudah dan baikkerja jenis laki-laki atau perempuan yang mendapatkan pekerjaan pada satu tahuntertentu di Kota Medan. Pertumbuhan Nilai tambah produksi (barang dan jasa) RatioSektor dari kegiatan ekonomi masyarakat yangPertanian terkonsentrasi pada sektor pertanian pada satu tahun tertentu dibandingkan dengantahun sebelumnya di Kota Medan 3.

4.17 Teknik Pengumpulan Data

  Untuk menjelaskan permasalahan penelitian atau membuktikan hipotesis penelitian diperlukan data primer dan data sekunder. Tahapan wawancara sebagaipedoman bagi enumerator telah dipersiapkan; dan enumerator sebelum ke Data sekunder dapat dperoleh langsung dari publikasi resmi seperti BPS, dinas terkait, dalam bentuk publikasi resmi atau laporan tahunan dengan teknikmencatat langsung.

4.18 Analisis

Untuk membuktikan hipotesis pertama, dilakukan dengan persamaan struktural 1 sebagai berikut : Z = PZ X + PZX + PZ X + PZ X + e 1 1 1 1 2 1 3 1 4 Keterangan : Z : Jumlah kesempatan kerja X 1 : Pertumbuhan sektor pertanian X 2 : Pertumbuhan sektor industri tanpa migas X : Pertumbuhan sektor keuangan

3 X : Pertumbuhan sektor perdagangan

4 e : Error of TermUntuk membuktikan hipotesis kedua, dilakukan dengan persamaan struktural 2 sebagai berikut : Z = PZ X + PZ X + PZ X + PZ X + PZ Z + e 2 2 1 2 2 2 3 2 4 2 1 Keterangan Z 2 : Pertumbuhan ekonomi P : JalurX : Pertumbuhan sektor pertanian 1 X 2 : Pertumbuhan sektor industri tanpa migas X 3 : Pertumbuhan sektor keuangan X 4 : Pertumbuhan sektor perdagangan Z : Jumlah kesempatan kerja 1 e : Error of Term Z = PZ X + PZ X + PZX + PZ X + PZ Z + PZ Z + e 3 3 1 3 2 3 3 3 4 3 1 3 2 Keterangan Z : Tingkat ketimpangan pendapatan X 1 : Pertumbuhan sektor pertanian X : Pertumbuhan sektor industri tanpa migas 2 X 3 : Pertumbuhan sektor keuangan X : Pertumbuhan sektor perdagangan 4 Z 1 : Jumlah kesempatan kerja Z 2 : Pertumbuhan ekonomi e : Error term Untuk menjawab hipotesis keempat dan kelima yaitu: pengaruh langsung, tidak langsung dan secara total variabel pertumbuhan sektor pertanian, industri,perdagangan, keuangan, jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat ketimpangan pendapatan, adalah dengan menggunakan analisisjalur sebagai berikut: X

1 Keterangan :

= Direct Effec= Indirect Effect= Total Effect Gambar 4.1. Pengaruh Langsung, Tidak Langsung dan Pengaruh Total Variabel Pertumbuhan Sektor Pertanian, Industri, Perdagangan, Keuangan, Jumlah Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Ketimpangan Pendapatan Bentuk persamaan strukturalalnya sebagai berikut: Z 1 PZ X1 PZ X1 PZ X1123 PZ X22 PZ X23 PZ X21 PZ Z2 PZ Z132 PZ X31 PZ X3 PZ X332 PZ X4 PZ X412 PZ X43 3 Z 2 Z 4 Z X 2 X3 1 X 2 X 3 = PZ 1 X 1 + PZ 1 X 2 + PZ 1 X 3 X 3 X = PZ 1 3 Z 3 X 4 + PZ 2 Z 1 = PZ 1 X 3 X = PZ 1 1 Z 3 Pengaruh langsung (direct effect): 2 + e 3 Z 1 + PZ 2 Z X 4 Z 1 = PZ 3 X 4 Z Z = PZ Z 1 3 3 2 Z 3 = PZ 3 Z 2 Pengaruh tidak langsung (indirect effect): X Z Z Z = (PZ X )(PZ Z )(PZ Z ) 1 1 2 3 1 1 2 1 3 2 X 2 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )(PZ 3 Z 2 ) 1 X 2 )(PZ X Z Z Z = (PZ X )(PZ Z )(PZ Z ) 3 1 2 3 1 3 2 1 3 2 X 4 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )(PZ 3 Z 2 ) 1 X 4 )(PZ Pengaruh total (total effect): X Z Z Z = (PZ X )+(PZ Z )+(PZ Z ) 1 1 2 3 1 1 2 1 3 2 X 2 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )+(PZ 3 Z 2 ) 1 X 2 )+(PZ X Z Z Z = (PZ X )+(PZ Z )+(PZ Z ) 3 1 2 3 1 3 2 1 3 2 X 4 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )+(PZ 3 Z 2 ) 1 X 4 )+(PZ Untuk menjelaskan hipotesis keenam yaitu: ketimpangan pendapatan antar sektor ekonomi digunakan index gini dengan formula :nKG = 1 - ( Xi X ) ( Yi Y ) i 1 i1    i1  atau nKG = 1 - ( fi ( Yi Y )1  i  i1 KeteranganKG : Indeks Koefisien GiniXi : Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i fi : Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i BAB V GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN

5.2 Sejarah Kota Medan

  Kedua sungaitersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung “Medan Putri” yang merupakan cikalbakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting. Perkembangan Kota Medan tidak terlepas dari dimensi historis, ekonomi dan karakteristik Kota Medan sendiri, yang berfungsi : 1.

5.2.1 Geografis Kota Medan

  Secara geografis, wilayah Kota Medan berada antara 3”30’–3”43’ LU dan98”35’–98”44’ BT dengan luas wilayah 265,10 km dengan batas wilayah sebagai berikut : 2 Topografi Kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut. Medan mempunyai iklim tropisdengan suhu minimum berkisar antara 23,2°C-24,3°C dan suhu maksimum berkisar antara 30,8°C-33,2°C.

5.2.2 Kota Medan Secara Demografis

  Dengandemikian di Kota Medan secara relatilf tersedia tenaga kerja yang cukup yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan baik jasa, perdagangan maupunindustri. Laju pertumbuhan penduduk Kota Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan, dimana tingkat pertumbuhan penduduk padatahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004.

5.2.2.1 Kota Medan Secara Kultural

  Oleh karenanya, budaya masyarakat yang ada juga sangat pluralis yang berdampak beragamnyanilai-nilai budaya yang dikenal. Oleh karenanya, tujuan, sasaran, strategi pembangunan Kota Medan dirumuskan dalam visi dan misi kebudayaan yang harus dipeliharan secara harmonis (Ramli,2007).

5.2.3 Luas Wilayah Kota Medan

  K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang pendefinitipan 7 Kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medanberdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1992 tentang Pembentukan beberapa Kecamatan di Kotamadya Daerah Tingkat IIMedan, secara administrasi Kota Medan dimekarkan kembali, dibagi atas 21Kecamatan yang mencakup 151 Kelurahan. Luas wilayah Kota Medan dapat dijelaskan melalui Tabel 5.1 di bawah ini.

2 Marelan dengan luas 71,47 km , sedangkan kecamatan dengan luas wilayah yang

  Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan No Kecamatan Luas (Km 14 Medan Barat 4,42 1,38 METROPOLITAN YANG MODERN, MADANI DAN RELIGIUS" Visi Pemerintah Kota Medan merupakan integrasi dari harapan dan keinginan yang diyakini akan mampu menjadi akselerator dalam pelaksaan tugas fungsiyang diemban Pemerintahan Kota Medan. Memasuki abad millenium ketiga,Pemerintah Kota Medan merumuskan visi : "MEDAN KOTA Visi Pemerintahan Kota Medan lahir sebagai visi bersama seluruh jajaranPemerintah Kota, Masyarakat, para pakar pihak swasta, maupun media massa dalam konteks keinginan membangun kemampuan baru yang bernilai mesa depan.

5.2.4 Visi dan Misi Pembangunan Kota

a. Visi Kota Medan

  Kota Madani yang akan diwujudkan adalah kota yang beradab dan agamis sebagaimana tercermin dalam cara berfikir, sikap dan perilaku yang berbudaya,mandiri, menghargai ilmu pengetahuan, kemajemukan, adil, terbuka, serta demokratis. Kota Religius yang akan diwujudkan adalah kota dengan masyarakat yang dinamis, menjunjung tinggi nilai, ajaran agama sehingga menjadikan agamasebagai landasan etika dan moral.

b. Misi Pembangunan Kota

  Mewujudkan percepatan pembangunan daerah pinggiran, dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan usaha kecil,menengah dan koperasi untuk koma juan dan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan birokrasi yang lebih efisien, efektif, kreatif inovatif dan responsif.

5.2.5 Kebijakan Pembangunan Kota Medan

  Sistem yang demikian sangat sentralistik sehingga peranPemerintah Kota Medan tidak optimal dengan diberlakukannya UU Nomor 32Tahun 2004 dan UU Nomor 33 Tahun 2004, mendapat substansi yang mengisyaratkan terjadinya transformasi kebijakan pembangunan dari pemerintahpusat (sentralistik) ke pemerintahan kota (desentralistik). Mewujudkan percepatan pembangunan daerah pinggiran dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan usaha kecil,menengah dan koperasi untuk kemajuan dan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat kota.

5.1.6 Mata Pencaharian Penduduk

  Penduduk yang bekerja terdata berdasarkan komposisi mata pencahariannya yang meliputi pegawai negeri sipil, pegawai swasta, pegawaiTNI/Polri, petani, nelayan, pedagang, pensiunan serta komposisi lainnya yang digabung menjadi satu, secara keseluruhan berada di setiap kecamatan di KotaMedan. Banyaknya penduduk yang bekerja berdasarkan komposisi mata pencaharian penduduk di Kota Medan dalam kurun waktu 5 tahun (2004-2008)dapat dilihat pada tabel berikut.

5.1.7 Lapangan Kerja

  Lapangan kerja dalam hal ini merupakan banyaknya lapangan usaha/ perusahaan yang didata keberadaannya di dalam bangunan tempat usaha tersendiridan lokasi tetap, maupun yang keberadaannya di luar bangunan (dengan lokasi tetap ataupun tidak tetap) dan di dalam bangunan tetapi bukan bangunan tempatusaha. Kategori lapangan usaha/perusahaan antara lain meliputi industri pengolahan; perdagangan besar dan eceran; penyediaan akomodasi dan makanan;transportasi ; pergudangan dan komunikasi; perantara keuangan; jasa kesehatan dan kegiatan sosial ; jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan lainnya; jasaperorangan yang melayani rumah tangga.

5.1.8 Prasarana Pendidikan

  Banyaknya Prasarana Pendidikan di Kota Medan (Unit) Dari Tahun 2004-2008 Tahun No Tingkat Pendidikan 2004 2005 2006 2007 2008 1 TK 74 64 76 359 391 2 SD 1.576 1.597 1.627 803 796 3 SLTP 462 469 475 360 358 4 SLTA 289 299 415 313 312Sumber : BPS Kota Medan, Tahun 2009 5.1.9 Prasarana Perdagangan Prasarana perdagangan meliputi jumlah pasar, kelompok pertokoan dan swalayan/mini market yang ada di setiap kecamatan di Kota Medan. 5.1.10 Perusahaan Industri Perusahaan industri di kelompokkan menjadi 3 yaitu kelompok industri besar/sedang, industri kecil dan industri rumah tangga yang secara keseluruhanberada di setiap kecamatan di Kota Medan.

5.1.11 Lembaga Keuangan

  Lembaga keuangan meliputi bank, koperasi dan pegadaian yang ada di setiap kecamatan di Kota Medan. Banyaknya lembaga keuangan menurutkecamatan dalam kurun waktu 5 tahun (2004-2008) dapat dilihat pada tabel berikut.

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Identitas Responden

  Di sektor industri pendidikan responden yang terbanyak adalah tingkatSLTA yaitu 33 orang (66%) dan perguruan tinggi sebesar 8 orang (16%) dan ini wajar saja karena sektor ini memerlukan sedikit pengetahuan dan keterampilan,hanya 9 orang responden (18%) yang berpendidikan SLTP. Sedangkan di sektor perdagangan (pedagang informal) pendidikan tertinggi mereka yang terbanyak adalah SLTA dan SLTP yaitu 37 responden (74%), 8 orang responden (16%) berpendidikan D-III dan 3 orang responden (6%) yang berpendidikan S-1 (Sarjana).

c. Status Rumah Responden

  Status Rumah Responden Status Rumah No Sektor Milik Jlh % Sewa % Menumpang % Sendiri 1 Sektor Pertanian 49 98 1 2 0 50 2 Sektor Industri 27 54 23 46 0 50 3 Sektor Keuangan 16 32 25 50 9 18 50 4 Sektor Perdagangan 26 52 22 44 2 4 50 Jumlah 118 71 11 200 Sumber : Hasil Penelitian 2010Tabel di atas memperlihatkan bahwa status rumah sektor pertanian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden yaitu 49 responden (98%)memiliki rumah sendiri. Hal ini disebabkan mereka tinggal di pinggiran kota yang mempunyai/memiliki tanah yang relatif sedikit luas dan bangunan yang sangatsederhana untuk tempat tinggal mereka.

d. Jumlah Tanggungan Responden

  Karena yang menjadi responden adalah kepala keluarga, maka yang dimaksud dengan tanggungan disini adalah banyaknya setiap kepala keluarga(responden) yang membiayai/menanggung anggota keluarganya. Sektor-sektor inimemungkinkan mempunyai banyak tanggungan karena dalam kegiatan usahanya sektor ini responden dapat melibatkan anggota keluarga yang menjaditanggungan.

2 R = 84,1% n = 9 t-tabel = 1,980

F Ratio = 114,740 F-tabel = 2,460α = 5% Sumber : Lampiran 4

5.3.1 Pembuktian Hipotesis 1

  Dari persamaan struktural 1 di atas terlihat bahwa secara parsial yang dapat mempengaruhi variabel Z 1 (jumlah kesempatan kerja) secara linier adalah variabel X 2 (pertumbuhan sektor industri), variabel X 3 (pertumbuhan sektor perdagangan) dan variabel X (pertumbuhan sektor keuangan) secara signifikan 4 untuk 1 (pertumbuhan sektor α = 5% (t-hitung > t-tabel) sedangkan variabel X pertanian) tidak berpengaruh secara signifikan untukα = 5% (t-hitung < t-tabel). Secara simultan (bersama-sama) variabel X 1 (pertumbuhan sektor pertanian), variabel X 2 (pertumbuhan sektor industri), variabel X 3 (pertumbuhan sektor perdagangan) dan variabel X (pertumbuhan sektor keuangan) mampu 4 2 mempengaruhi variabel Z 1 (jumlah kesempatan kerja) sebesar 84,1% (R = 84,1%, secara sangat signifikan (F-ratio > F-tabel) untukα=5%, 15,9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel prediksi.

2 R = 96,8% n = 9 t-tabel = 1,980

F-ratio = 517.534 F-tabel = 2,300α = 5% Sumber : Lampiran 4

5.4.1. Pembuktian Hipotesis 2

  Dari persamaan di atas terlihat bahwa secara parsial yang dapat mempengaruhi variabel Z 2 (pertumbuhan ekonomi Kota Medan) secara linier adalah variabel X (pertumbuhan sektor industri), variabel X (pertumbuhan 2 3 sektor perdagangan), variabel X 4 (pertumbuhan sektor keuangan), dan variabel Z 1 (jumlah kesempatan kerja) berpengaruh secara signifikan (t-hitung > t-tabel). Pengaruh Pertumbuhan Sektor Pertanian, Sektor Industri, Sektor Perdagangan, Sektor Keuangan, Jumlah Kesempatan Kerja danPertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Distribusi Pendapatan Wilayah Kota Medan Pengaruh variabel pertumbuhan sektor pertanian (X ), sektor industri 1 (X 2 ), sektor perdagangan (X 3 ), sektor keuangan (X 4 ), jumlah kesempatan kerja (Z 1 ) dan pertumbuhan ekonomi (Z 2 ) terhadap indeks distribusi pendapatan (Z 3 ) dapat dijelaskan dari persamaan struktural berikut.

2 R = 88% n = 9 t-tabel = 1,980

F-ratio = 103,508 F-hitung= 2,190α = 5% Sumber : Lampiran 4

5.5.1 Pembuktian Hipotesis

3 Dari persamaan di atas dapat dilihat secara parsial yang dapat

mempengaruhi variabel Z 3 (indeks distribusi pendapatan) secara linier adalah variabel X (pertumbuhan sektor pertanian), variabel X (pertumbuhan sektor 1 4 keuangan), variabel Z 1 (jumlah kesempatan kerja) dan variabel Z 2 (pertumbuhan ekonomi) berpengaruh secara signifikan (t-hitung > t-tabel) sedangkan variabel X 2 (pertumbuhan sektor perindustrian) dan variabel X 3 (pertumbuhan sektor Secara simultan (bersama-sama) variabel X 1 (pertumbuhan sektor pertanian), variabel X 2 (pertumbuhan sektor industri), variabel X 3 (pertumbuhan sektor perdagangan), variabel X (pertumbuhan sektor keuangan), variabel Z 4 1 (jumlah kesempatan kerja) dan variabel Z 2 (pertumbuhan ekonomi) mampu 2 mempengaruhi variabel Z (indeks distribusi pendapatan) sebesar 88% (R =88%) 3 secara sangat signifikan (F-ratio > F-tabel) untukα=5%. Hanya 12% yang dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk variabel prediksi. 5.6 Pengaruh Langsung, Tidak Langsung dan Pengaruh Total Variabel Pertumbuhan Sektor Pertanian, Industri, Perdagangan, Keuangan,Jumlah Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Ketimpangan Pendapatan Wilayah Kota Medan

5.6.1 Persamaan Struktural

Z = 0,130X + 0,088X + 0,046X + 1,318X + 0,215Z – 0,825Z 3 1 2 3 4 1 2 t-hitung (2,810) (0,506) (0,871) (12,545) (2,017) (-3,930) 92 t-tabel = 1,980F-ratio = 103,508 F-tabel = 2,190 α = 5%Sumber : Lampiran 4 Model diagram jalur dari persamaan di atas adalah sebagai berikut : X 1 X 2 Z Z 1 2 Z 3 X3 X 4 Keterangan : = Direct Effec= Indirect Effect= Total Effect Gambar 5.1. Direct Effect, Indirect Effect, dan Total Effect Model Diagram Jalur

5.6.1.1. Direct Effect

Besarnya pengaruh langsung (direct effect) variabel pertumbuhan sektor pertanian (X 1 ), pertumbuhan sektor industri (X 2 ), pertumbuhan sektor perdagangan (X ) dan pertumbuhan sektor keuangan (X ), jumlah kesempatan 3 4 kerja (Z 1 ) dan pertumbuhan ekonomi (Z 2 ) terhadap indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) Kota Medan, adalah : X Z = 0.130 1

3 X

2 Z 3 = 0.088 3 Z 3 = 0.046 X Z = 1,318 4 1 Z 3 = 0.215 Z 2 Z 3 = -0.825

5.6.1.2. Interpretasi Model Persamaan Secara Direct Effect

  Hal ini berarti bahwa bila terjadi kenaikan pada pertumbuhan sektor pertanian (X 1 ) sebesar 10%, ceteris paribus, maka akan menyebabkan kenaikan pada indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) sebesar 1,3%. Hal ini berarti bahwa bila terjadi kenaikan pada pertumbuhan sektor keuangan (X ) sebesar 10%, ceteris paribus, maka akan menyebabkan 4 kenaikan pada indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) sebesar 13,18%.

5.6.1.3. Indirect Effect (Tidak Langsung)

Pengaruh variabel pertumbuhan sektor pertanian (X 1 ), sektor industri (X ), sektor perdagangan (X ) dan sektor keuangan (X ), melalui Z (jumlah 2 3 4 1 kesempatan kerja) dan Z 2 (pertumbuhan ekonomi) terhadap Z 3 (indeks distribusi pendapatan masyarakat), secara indirect effect dapat dijelaskan melalui gambar berikut: X 1 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )(PZ 3 Z 2 ) 1 X 1 )(PZ = (-0.052)( 0.215)(-0.825)= 0.010 2 Z 1 Z 2 Z 3 = (PZ 2 Z 1 )(PZ 3 Z 2 ) 1 X 2 )(PZ = (1,143)( 0.215)(-0.825)= -0,202 X Z Z Z = (PZ X )(PZ Z )(PZ Z ) 3 1 2 3 1 3 2 1 3 2 = (0,115)( 0.215)(-0.825)= -0,020 X Z Z Z = (PZ X ) (PZ Z )(PZ Z ) 4 1 2 3 1 4 2 1 3 2 = (-0,279)( 0.215)(-0.825)= 0.049 X 1 Z 1 Z 2 Z 3 = 0.010 X Z Z Z = -0.202 2 1 2 3 X 3 Z 1 Z 2 Z 3 = -0.020 X 4 Z 1 Z 2 Z 3 = 0.049

5.6.2 Interpretasi Model Persamaan Secara Indirect Effect

  Hasil estimasi di atas dapat dijelaskan pengaruh variabel independen sektor pertanian (X 1 ), sektor industri (X 2 ), sektor perdagangan (X 3 ) dan sektor keuangan (X 4 ), melalui Z 1 (jumlah kesempatan kerja) dan Z 2 (pertumbuhan ekonomi) terhadap Z (indeks distribusi pendapatan masyarakat) Kota Medan 3 adalah sebagai berikut: 1. Pertumbuhan sektor perdagangan (X ) 3 Pertumbuhan sektor perdagangan (X 3 ) melalui variabel jumlah kesempatan kerja (Z 1 ) dan variabel pertumbuhan ekonomi (Z 2 ) tidak berpengaruh terhadap indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) pada α=5%.

4 Pertumbuhan sektor keuangan (X ) melalui variabel jumlah kesempatan kerja

  4 (Z 1 ) dan variabel pertumbuhan ekonomi (Z 2 ) memiliki pengaruh positif secaraindirect effect terhadap indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) dengan koefisien sebesar 0,049. Total effect pengaruh variabel independen pertumbuhan sektor pertanian(X 1 ), sektor industri (X 2 ), sektor perdagangan (X 3 ) dan sektor keuangan (X 4 ), melalui Z 1 (jumlah kesempatan kerja) dan Z 2 (pertumbuhan ekonomi) terhadap indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z 3 ) Kota Medan.

5.6.2.2 Interpretasi Persamaan Struktural Secara Total Effect

  Indirect Effect (Tidak Langsung) Pengaruh variabel pertumbuhan sektor pertanian (X 1 ), sektor industri (X ), sektor perdagangan (X ) dan sektor keuangan (X ), melalui Z (jumlah 2 3 4 1 kesempatan kerja) dan Z 2 (pertumbuhan ekonomi) terhadap Z 3 (indeks distribusi pendapatan masyarakat) secara indirect effect, dapat dijelaskan melalui penjelasan berikut. Hal ini berarti bahwa bila terjadi kenaikan pada pertumbuhan sektor keuangan (X 4 ) sebesar 10%, ceteris paribus, maka secaraindirect effect melalui kesempatan kerja (Z 1 ) dan pertumbuhan ekonomi (Z 2 ) akan menyebabkan kenaikan pada indeks distribusi pendapatan masyarakat (Z ) 3 sebesar 0,54%.

5.7. Tingkat Kemajuan Pendapatan Masyarakat Sektor Pertanian, Sektor Industri, Sektor Perdagangan, Sektor Keuangan, Kesempatan Kerja, Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan

  Hasil perhitungangini-ratio untuk sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan dan sektor keuangan masyarakat Kota Medan dapat dijelaskan melalui tabel berikut. Gini Ratio Masyarakat yang Bekerja di Sektor Pertanian, Industri, Perdagangan dan Keuangan di Kota Medan No Sektor Gini Ratio 1 Pertanian 0,14 2 Industri 0,25 3 Perdagangan 0,28 4 Keuangan 0,20 5 Semua Sektor 0,29Sumber : Lampiran 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa pendapatan yang paling merata adalah pendapatan masyarakat dari sektor pertanian dan diikuti oleh sektor industri dankeuangan.

BAB VI PEMBAHASAN Dalam bab pembahasan dilakukan kajian untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan berdasarkan koefisien jalur (standardized regression). Selanjutnya berdasarkan hasil uji signifikansi akan dibahas apakah hipotesis yang

  Rantai transaksi ini akan terus berlanjut dan apabila tidak mengalami kebocoran maka ekonomi wilayah itu akan meningkat pesat,yang pada gilirannya akan mengatasi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan sektor-sektor ekonomi dalam sebuah wilayah akanmempengaruhi terhadap jumlah kesempatan kerja dan ini akan merupakan suatu rangkaian multiflier effect yang terjadi di daerah tersebut. Nilai Investasi di Sektor Industri Pengolahan di Kota Medan Dari Tahun 2006-2009 (Milyar Rupiah) Tahun Jumlah Industri Pertumbuhan (%) Sumber : BPS Kota Medan, 2010 Tabel di atas dapat menjelaskan bahwa dari tahun 2006-2008 nilai investasi di sektor ini terus menurun, mungkin ini disebabkan oleh pengaruhekonomi global yang terjadi pada tahun 2007-2008.

6.1.7 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Perdagangan Terhadap Jumlah Kesempatan Kerja

  Menurut McQuire (2008), setiap kota yang berkembang dengan konsep The Media of City (Kota dengan konsep IT) yaitu kota dengan yang segala aktivitasnya menggunakan teknologi informasi untuk mempermudah dan Medan merupakan Kota Metropolitan sehingga sebagian aspek aktivitas perkotaan telah menggunakan teknologi dan informasi (IT) dalam menunjangpengelolaan bisnis terutama dalam sektor jasa keuangan. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimanapemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swastauntuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut (Arsyad, 2004).

6.2.1 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Pertanian Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan

  Berdasarkan kondisi faktual ini dapat dijelaskan bahwa sektor pertanian tidak akan dapat mengerakkan pertumbuhan ekonomi Kota Medan, hal ini Menyempitnya lahan pertanian yang ada di Kota Medan akibat dari ekspansi wilayah terbangun untuk aktivitas perdagangan dan jasa yang setiap tahunmeningkat dan membutuhkan lahan produktif. Denganterbatasnya lahan pertanian yang ada di Kota Medan maka berimplikasi terhadap produktivitas di sektor pertanian yang semakin menurun yang mengakibatkankontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Kota Medan semakin kecil sehingga sektor pertanian tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomiKota Medan.

6.2.2 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan

  Kebijakan pembangunan Kota Medan pada sektor industri diarahkan untuk mengembangkan perindustrian secara terpadu untuk mewujudkan Medan KotaMetropolitan dengan meningkatkan produk industri yang berorientasi ekspor dan berdaya saing sehingga mampu memasuki pasar regional dan internasional. Pertumbuhan Sektor Industri Kota Medan dari Tahun 2006-2009 Tahun Pertumbuhan (%) 2006 5,89 2007 10,30 a 2009 0,46Sumber : BPS Kota Medan, 2010 Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor industri memberi kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Medan.

6.2.3 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Perdagangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan

  Sektor perdagangan diKota Medan bersifat konglomerasi dan lebih cendrung monopolistik karena sebahagian besar pusat perdagangan yang berada di Kota Medan di kuasai olehkelompok usaha dagang yang berada di Jakarta atau di luar negeri. Perkembangan Prasarana Perdagangan Swalayan/ Supermarket di Kota Medan dari Tahun 2004-2008 Jumlah Swalayan/Supermarket Tahun (Unit) 2004 6 2005 172006 16 2007 1052008 131 Sumber : BPS Kota Medan, 2009Selanjutnya menurut ilmu Perencanaan wilayah aktifitas perekonomian yang dilakukan di sebuah wilayah dan marginnya di bawa keluar wilayah tersebutmaka wilayah tersebut tidak diuntungkan secara ekonomis dan kurang berkontribusi terhadap sumber pertumbuhan ekonomi kota tersebut (Greed, 1993).

6.2.4 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Keuangan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan

  Peningkatan terutama pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu pada tahun 2008 ke 2009 mengalami 6.2.5 Pengaruh Jumlah kesempatan kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kota Medan Jumlah kesempatan kerja yang ada di Kota Medan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Banyak sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja menjadi bukti bahwa perekonomian di Kota Medan dalamkeadaan baik hal ini banyak dipengaruhi oleh sektor ekonomi yaitu banyaknya pembukaan usaha-usaha kecil dan menengah yang merupakan wadah yang baikdalam hal peningkatan pertumbuhan ekonomi karena daoat menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi pada pendapatan daerah.

6.3.1 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Pertanian Terhadap Indeks Distribusi Pendapatan Wilayah Kota Medan Sektor pertanian sangat berperan dalam pembangunan ekonomi nasional

  Paling tidak ada lima peran penting yaitu: berperan secara langsung dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat, berperan dalam pembentukanPendapatan Domestik Bruto (PDB), menyerap tenaga kerja di Kota Medan, berperan dalam menghasilkan devisa dan atau penghematan devisa dan berfungsidalam pengendalian inflasi. Walaupun dalam sumbangannya terhadap PDB mengalami penurunan, namun sektor pertanian masih akan tetapmemegang peran yang sangat penting dalam perekonomian secara keseluruhan, karena mempunyai keterkaitan yang luas dengan sektor ekonomi lainnya.

6.3.2 Pengaruh Pertumbuhan Sektor Industri Terhadap Indeks Distribusi Pendapatan Masyarakat Wilayah Kota Medan

  Dalam pembangunan yang dilakukan oleh suatu negara, pembangunan sektor industri bukan hanya sekedar pembangunan asal jadi saja, yang tidak adakaitannya dengan sektor lainnya, tetapi merupakan suatu sektor pemimpin(leading sector) karena dengan berkembangnya sektor industri tersebut dapat merangsang dan mendorong investasi di sektor lainnya. Akan tetapi, keadaanindustri di Kota Medan yang masih terfokus pada satu kawasan saja sehingga investasi terjadi masih pada beberapa kelompok wilayah sehingga sektor industrijuga belum mampu untuk memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat Kota Medan sehingga akan mempengaruhi distribusi pendapatan yang ada.

6.3.5 Pengaruh Jumlah Kesempatan Kerja Terhadap Indeks Distribusi Pendapatan Masyarakat Wilayah Kota Medan

  Jumlah kesempatan kerja yang ada selama ini mencari orang-orang yang telah memiliki pendidikan serta pengalaman kerja yang tinggi sehingga hanyasebahagian kecil orang yang mampu untuk mengisi jumlah kesempatan kerja yang ada, seperti yang terlihat pada tabel berikut : Tabel 6.12. Bukan Angkatan 540.142 602.648 573.562 593.726Kerja Sumber: BPS Kota Medan, 2009 a Keterangan: ) Angka SementaraJika dilihat dari tahun 2006 sampai 2009, jumlah penduduk Kota Medan yang bekerja terus mengalami peningkatan, pada tahun 2006 penduduk yangbekerja sebesar 755.882 jiwa, dan pada tahun 2009 menjadi 824.250 jiwa.

6.4.1 Secara langsung

  Artinya pada saat sekarang secara tidak langsung dengan meningkatnya kegiatan sektor keuangan Pemerintahan Kota Medan melaluikesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi sudah dapat mengatasi ketimpangan pendapatan masyarakat yang terjadi, karena akan membuka lapangan-lapangankerja baru yang diakibatkan oleh berkembangnya sektor-sektor ekonomi yang pada akhirnya akan terjadi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di KotaMedan. Model Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa dengan dikembangkannya sektor keuangan, maka akan membuka jumlah kesempatan kerja bagi masyarakat karenaberkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi di semua sektor yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

6.6. Tingkat Kemajuan Pendapatan Masyarakat Antar Sektor Pertanian

  Sektor Perindustrian, Sektor Perdagangan, dan Sektor Keuangan Wilayah Kota Medan Untuk menggambarkan tingkat kemajuan pendapatan masyarakat antar sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor perdagangan, dan sektor keuanganwilayah Kota Medan adalah dengan melihat Gini Ratio dari masing-masing sektor seperti yang terlihat pada tabel berikut. Gini Ratio Masyarakat yang Bekerja di Sektor Pertanian, Industri, Perdagangan dan Keuangan di Kota Medan No Sektor Gini Ratio 1 Pertanian 0,14 2 Industri0,25 3 Perdagangan 0,28 4 Keuangan 0,20 5 Semua Sektor 0,29Sumber : Lampiran 4 Dari tabel di atas terlihat bahwa pendapatan yang paling merata distribusinya adalah pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian (GiniRatio = 0,14) walaupun sektor lain masih berada pada kriteria ketimpangan rendah, yaitu Gini Ratio <0,30.

6.6.1 Sektor Pertanian

  Artinya di sektor pertanian, pendapatanantara petani yang mempunyai pendapatan tinggi dengan petani yang mempunyai pendapatan rendah tidak terlalu jauh perbedaannya, yaitu seperti yang terlihatpada tabel berikut. Selanjutnya kalau rata-rata pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian 40% terendah adalah Rp.1.055.000,-/bulan/kepala keluarga, makapendapatan ini digolongkan kepada masyarakat miskin.

6.6.2 Sektor Industri

  Artinya pendapatan antara yangberpenghasilan rendah dengan yang berpenghasilan/pendapatan tinggi mempunyai sedikit perbedaan yaitu seperti yang diperlihatkan pada tabel berikut. Selanjutnya kalau rata-rata pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor industri40% terendah adalah Rp.2.120.000,-/bulan/kepala keluarga, maka pendapatan ini digolongkan kepada masyarakat tidak miskin.

6.6.3 Sektor Perdagangan

  Gini ratio di sektor perdagangan adalah 0,28 dibandingkan dengan gini- ratio sektor pertanian dan industri, maka sektor ini agak lebih tidak merata. Hal inidisebabkan oleh masyarakat yang bekerja di sektor ini menjual berbagai macam jenis barang, seperti ada yang berjualan kue, ada yang berjualan mainan anak-anak, jualan pakaian dan jualan makanan dan minuman.

6.6.4 Sektor Keuangan

  Gini ratio di sektor keuangan adalah 0,20 sama dengan gini ratio di sektor industri dan ini agak sedikit timpang jika dibandingkan dengan gini-ratio di sektorpertanian, yaitu 0,14. Hal ini terjadi karena masyarakat yang menjadi responden dari sektor ini rata-rata bekerja pada instansi perbankan dan sektor keuangan nonbank lainnya, seperti asuransi dan pegawai pegadaian.

6.6.5 Semua Sektor

  Gini ratio untuk masyarakat Kota Medan yang diwakili oleh sektor pertanian, industri, perdagangan dan keuangan adalah 0,29, yaitu jauh lebih tidakmerata jika dibandingkan dengan gini ratio sektor pertanian yaitu 0,14. Sektor industri sebesar 0,25, sektor perdagangan sebesar 0,28 dan sektor keuangansebesar 0,20 dan ini juga terlihat dari distribusi pendapatan yang terlihat pada tabel berikut.

BAB VI I KESIMPULAN DAN SARAN

7.3 Kesimpulan 1

Secara parsial pertumbuhan sektor industri dan sektor keuangan yang dapat mempengaruhi jumlah kesempatan kerja wilayah Kota Medan.

2. Secara parsial hanya pertumbuhan sektor industri, sektor perdagangan

  Secara parsial pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor perdagangan, pertumbuhan sektor keuangan, pertumbuhan jumlahkesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi indeks distribusi pendapatan masyarakat wilayah Kota Medan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sektor pertanian yang paling merata walaupun dikategorikan masyarakat miskin dan diikuti olehsektor keuangan, sektor industri, dan sektor perdagangan agak merata jika dibandingkan dengan gini ratio untuk keempat sektor yang diteliti.

7.4 Saran

  Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas pertumbuhan sektor keuangan dapat mempengaruhi jumlah kesempatan kerja wilayah Kota Medan danmempunyai pengaruh negatif terhadap indeks distribusi pendapatan masyarakat, maka pembangunan wilayah Kota Medan saat inimemerlukan investasi di sektor keuangan supaya bisa membuka jumlah kesempatan kerja dan mengurangi ketimpangan pendapatan. Penelitian ini mempunyai keterbatasan karena hanya meneliti masyarakat yang bekerja di sektor pertanian (khusus petani padi sawah), sektorperdagangan (pedagang kaki lima – pedagang informal), sektor industri(industri rumah tangga) dan sektor keuangan (pegawai bank dan non bank).

DAFTAR PUSTAKA

  Bonar dan Alim 2003, Keterkaitan Sektor Ekonomi dan Distribusi Pendapatan di Jawa: Pendekatan Social Accounting Matrix. Kuncoro, Mudrajad, dan Aswandi, H., 2002, Evaluasi Penetapan KawasanAndalan : Studi Empiris di Kalimantan Selatan 1993 - 1999, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.

D. Pengeluaran Konsumsi

  Pengeluaran biaya pendidikan(Biaya pendidikan anak, istri, suami dan keluarga Rp.…………..…/bulan a. Pengeluaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp.…………..…/bulan 14.

SEKTOR INDUSTRI (C) SEKTOR PERTANIAN (D)NO PENDAPATAN PENGELUARAN NO PENDAPATAN PENGELUARAN

  Regresi untuk Z 1, Z 2, dan Z 1 R R Square AdjustedR Square Std. Casewise Diagnostics a X1 X3 1 X4 X3 X2 CorrelationsCovariances Model X4 X1 X3 X2 X4 X1 Coefficient Correlations a1.000 -.009 -.413 -.870 ANOVA b.030 4 .008 131.055 .000a 1 B Std.

X4 X1X3 X2

1 Correlations

X4 1.000 -.009 -.413 -.870 X1 X2 X4 1.009E-06 -3.83E-09 -2.03E-07 -6.93E-07

X1 -3.83E-09 1.914E-07 -9.94E-08 -3.59E-08

  91 Regression ResidualTotal Model .494 86 .006 15.359 Regression Variables Entered/Removed bZ1, X3, X1, X4, X2a 1 R R Square AdjustedR Square Std. Lower Bound Upper Bound 95% Confidence Interval for B .968 .966 .0758 .792 Model Model Summary b.984a Dependent Variable: Z2 b.

X3 X1X4 X2

  .026 .003 8.799 .000 .020 .031 .001 .000 .130 2.810 .006 .000 .002.001 .002 .088 .506 .614 -.002 .004 .000 .000 .046 .871 .386 -.001 .001.015 .001 1.318 12.545 .000 .012 .017 .006 .003 .215 2.017 .047 .000 .012 Coefficientsa Predictors: (Constant), Z2, X3, X1, Z1, X4, X2 a. 91 Regression ResidualTotal Model .004 85 .000 .035 Regression Variables Entered/Removed bZ2, X3, X1, Z1, X4, X2a 1 R R Square AdjustedR Square Std.

X3 X1 Z1X4 X2

  1 Correlations Z2 1.000 .283 -.083 -.463 -.541 -.643X3 .283 1.000 -.477 -.315 -.516 .094X1 -.083 -.477 1.000 .133 .065 -.059 Z1 X4 X1 X2 Dependent Variable: Z3a Residuals Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation N Predicted Value 92 Residual 92 Std.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (204 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Pengaruh Disparitas Pembangunan Antar Kabupaten Kota Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kepulauan Nias
2
39
119
Analisis Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Di Provinsi Sumatera Utara
13
85
142
Analisis Pembangunan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Sektor Wilayah Kota Medan
1
74
204
Analisis Perencanaan Dan Pembangunan Wilayah Terhadap Pendapatan Masyarakat Di Kota Medan
3
50
473
Analisis Ketimpangan Pembangunan Antar Kabupaten Tapanuli Utara Dengan Kabupaten Deli Serdang
3
26
100
Analisis Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara
0
30
149
Pengaruh Sektor Industri Terhadap Pembangunan Ekonomi
0
21
94
Identifikasi Sektor Ekonomi Potensial Dalam Perencanaan Pembangunan Kota Medan
0
20
3
Analisis Pertumbuhan Ekonomi Dan Ketimpangan Antar Wilayah Pembangunan Di Sumatera Utara
0
24
3
Analisis Pengaruh Ketimpangan Pendapatan Antar Wilayah dan Kemiskinan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Jember
1
15
4
Analisis Pengaruh Dana Perimbangan Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah Di Provinsi Lampung
4
29
70
Analisis Ketimpangan Wilayah Antar Kabupaten Kota Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta)
0
0
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi - Analisis Daya Saing Sektor Pariwisata Kota Medan
0
0
30
Pengaruh Disparitas Pembangunan Antar Kabupaten Kota Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kepulauan Nias
0
0
28
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu - Pengaruh Disparitas Pembangunan Antar Kabupaten Kota Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kepulauan Nias
0
0
24
Show more