Feedback

Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium

Informasi dokumen
UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM SKRIPSI JEFFRI VAN HANSEN GURNING 060302024 HPT DEPERTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM SKRIPSI JEFFRI VAN HANSEN GURNING 060302024 HPT Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Di Departemen Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan Disetujui oleh: Komisi pembimbing (Ir. Lahmuddin Lubis, MP) Ketua (Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr) Anggota DEPERTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara 2011 ABSTRACT Jeffri Van Hansen Gurning, "Resistance Test of Some Clones IRR 400 series rubber plant (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) Against Isolates Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) And Cassiicolin Toxin at the Laboratory.", Is under supervised by Ir. Lahmuddin Lubis, MP and Ir.Mukhtar Pinem Iskandar, M. Agr. This research aimed to know the resistance of some clones IRR 400 series rubber plants of spray Corynespora cassiicola spores and cossiicolin toxin in the laboratory. This research was done in the Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang at an altitude of 80 m above sea level and runs from March to April 2011. This reseach use complete randomized design, this research use 18 treatments and 3 replication. The research result showed the highest intensity of the attacks is K3 (IRR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), and K15 (IRR 423) amounting to 10.02%. While the lowest found on the K16 (RRIC 100) and K17 (BPM 1) is 3.60%. The highest is K9 (IRR 412) with 6:32% and the lowest found in K7 (IRR 409) is 3.82%. Based on the classification of these clones there are resistant clones are RRIC 100 BPM 1, which is rather resistant clones is the IRR 409 and PB 260, moderate clones IRR 402, IRR 420, IRR 422, which is rather susceptible clones are IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419 while the susceptible clones are IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 and IRR 423. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Jeffri Van Hansen Gurning, “ Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium” dibawah bimbingan Ir. Lahmuddin Lubis, MP dan Ir. Mukhtar Iskansdar Pinem M. Agr. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi beberapa klon IRR 400 tanaman karet melalui semprot spora Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 80 m diatas permukaan laut dan dilaksanakan mulai Maret sampai April 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap. This research use 18 perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian ini menunjukkan intensitas serangan tertinggi adalah K3 (IR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), dan K15 (IRR 423) sebesar 10.02% sedangkan yang terendah adalah K16 (RRIC 100) dan K17 (BPM 1) sebesar 3.60%. Berdasarkan klasifikasi RRIC 100 dan BPM 1 adalah klon yang resiten, sedangkan IRR 409 dan PB 260 agak resisten, klon yang moderat adalah IRR 402, IRR 420, IRR 422, klon agak rentan adalah IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419. Sedangkan klon yang rentan adalah IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 dan IRR 423. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Jeffri Van Hansen Gurning lahir pada tanggal 6 Juni 1988 di P. Siantar. Anak pertama dari empat bersaudara dari ayahanda T. Gurning dan Ibunda R. br Manurung. Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:  Lulus dari Sekolah Dasar Methodist Berastagi pada tahun 2000  Lulus dari SLTP. Negeri 2 Berastagi Pada Tahun 2003.  Lulus dari SMA Negeri 1 Berastagi Pada Tahun 2006.  Pada tahun 2006 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur SPMP.  Penulis pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan yaitu:  Anggota IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) tahun 2006-2011.  Asisten Hama Hutan pada tahun 2009  Asisten Dasar Perlindungan Hutan pada tahun 2009-2010.  Asisten Pestisida dan Teknik Aplikasi pada tahun 2011.  Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN 3, Kebun Bangun, Pematang Siantar pada tahun 2010.  Melaksanakan penelitian skripsi Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada bulan Maret sampai April 2011. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan Rahmat Nyalah penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan tepat waktu. Adapun judul dari skripsi saya adalah “UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM.” yang disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Departemen Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Lahmuddin Lubis MP selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikasn saran dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi penelitian ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan, Juni 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT . i ABSTRAK. ii KATA PENGANTAR.iii DAFTAR ISI . iv DAFTAR GAMBAR. v DAFTAR TABEL . vi DAFTAR LAMPIRAN . vii PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Tujuan Penelitian. 3 Hipotesis Penelitian . 3 Kegunaan Penelitian. 3 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit. 4 Gejala Serangan . 6 Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit . 8 Iklim/Cuaca . 8 Ketinggian Tempat. 9 Kesuburan Tanah . 10 Pengendalian Penyakit. 10 Klon Pembanding . 12 BAHAN DAN METODE Tempat Dan Waktu Penelitian . 13 Bahan Dan Alat . 13 Metoda Penelitian. 14 Pelaksanaan Penelitian. 15 Penyiapan Bahan Tanaman . 15 Isolasi Patogen C. cassiicola . 15 Penyiapan Spora Jamur . 16 Pembuatan Media Perbanyakan Toksin. 19 Pembuatan Toksin . 20 Penentuan Konsentrasi Toksin . 21 Pelaksanaan Inokulasi. 22 Universitas Sumatera Utara Uji Semprot Spora. 22 Uji Toksin Cassiicolin . 22 Parameter Pengamatan. 22 I. Uji Semprot Spora . 22 II.Uji Toksin Cassiicolin . 24 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil. 25 Intensitas Serangan C. casiicola pada Uji Semprot Spora. 25 Klasifikasi Penilaian serangan C.cassiicola. 29 Pembahasan. 30 Intensitas Serangan C. casiicola pada Uji Semprot Spora. 30 Uji Toksin Cassiicolin. 31 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 33 Saran . 33 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No Keterrangan 1. Miselium serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei. 2. Gejala serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei yang terserang penyakit 3. Biakan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei. 4. Haemocytometer 5. Histogram Intensitas serangan C. cassiicola (%) 2-8 hsi pada Uji semprot spora Hlm 5 7 16 17 27 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. Keterangan 1. Komposisi Pembuatan Media Perbanyakan Toksin 2. Uji Beda Rataan Serangan C. cassiicola (%) pada Perlakuan Uji Semprot Spora pada Waktu Pengamatan 8 hsi . 3. Uji Beda Rataan pada Uji Toksin Cassiicolin . 4. Klasifikasi Penilaian Intensitas Serangan C.Cassiicola Hlm 19 25 28 29 Universitas Sumatera Utara 2011 ABSTRACT Jeffri Van Hansen Gurning, "Resistance Test of Some Clones IRR 400 series rubber plant (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) Against Isolates Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) And Cassiicolin Toxin at the Laboratory.", Is under supervised by Ir. Lahmuddin Lubis, MP and Ir.Mukhtar Pinem Iskandar, M. Agr. This research aimed to know the resistance of some clones IRR 400 series rubber plants of spray Corynespora cassiicola spores and cossiicolin toxin in the laboratory. This research was done in the Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang at an altitude of 80 m above sea level and runs from March to April 2011. This reseach use complete randomized design, this research use 18 treatments and 3 replication. The research result showed the highest intensity of the attacks is K3 (IRR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), and K15 (IRR 423) amounting to 10.02%. While the lowest found on the K16 (RRIC 100) and K17 (BPM 1) is 3.60%. The highest is K9 (IRR 412) with 6:32% and the lowest found in K7 (IRR 409) is 3.82%. Based on the classification of these clones there are resistant clones are RRIC 100 BPM 1, which is rather resistant clones is the IRR 409 and PB 260, moderate clones IRR 402, IRR 420, IRR 422, which is rather susceptible clones are IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419 while the susceptible clones are IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 and IRR 423. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Jeffri Van Hansen Gurning, “ Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium” dibawah bimbingan Ir. Lahmuddin Lubis, MP dan Ir. Mukhtar Iskansdar Pinem M. Agr. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi beberapa klon IRR 400 tanaman karet melalui semprot spora Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 80 m diatas permukaan laut dan dilaksanakan mulai Maret sampai April 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap. This research use 18 perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian ini menunjukkan intensitas serangan tertinggi adalah K3 (IR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), dan K15 (IRR 423) sebesar 10.02% sedangkan yang terendah adalah K16 (RRIC 100) dan K17 (BPM 1) sebesar 3.60%. Berdasarkan klasifikasi RRIC 100 dan BPM 1 adalah klon yang resiten, sedangkan IRR 409 dan PB 260 agak resisten, klon yang moderat adalah IRR 402, IRR 420, IRR 422, klon agak rentan adalah IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419. Sedangkan klon yang rentan adalah IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 dan IRR 423. Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Sejak berabad-abad lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya, yakni Brasil, Amerika Selatan. Akan tetapi meskipun telah diketahui penggunaanya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan bahkan oleh penjelajah-penjelajah berikutnya pada abad ke-16, sampai saat itu karet masih belum menarik perhatian orang-orang Eropa (Setyamidjaja, 1993). Penyakit Corynespora menyebabkan pengguguran daun yang terus menerus terutama jika patogen menyerang pada periode pembentukan daun muda setelah gugur daun alami. Pembentukan daun baru yang berulang-ulang menyebabkan mati pucuk terutama pada tanaman muda. Pada tanaman dewasa (telah disadap), pembentukan daun muda yang jelek yang disebabkan oleh penyakit gugur daun sering kali menyebabkan stress fisiologi, menyebabkan kehilangan hasil lateks sampai kematian (Achuo et al.,2001). Penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) pada tanaman karet disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei. PGDC merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia dan negara-negara produsen karet alam lainnya (Hadi, 2008). PGDC dapat menyerang tanaman karet pada semua tingkatan umur, baik pada pembibitan, kebun entres maupun kebun produksi. Penyakit ini sangat merugikan karena menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan penurunan produksi. Pada kondisi agroklimat yang lebih basah, penyakit tersebut dapat Universitas Sumatera Utara menimbulkan kerugian yang yang lebih besar, karena dapat menimbulkan kematian pohon (Hadi, 2008). C. cassiicola memproduksi banyak ras dan mampu hidup pada berbagai tumbuhan dan klon karet dan berbagai kondisi lingkungan. Dengan kemampuan tersebut patogen dapat mengakibatkan kerusakan berat atau mematahkan resistensi tanaman. Beberapa laporan menunjukkan bahwa selama 1980-1996, patogen tersebut telah mengakibatkan kerusakan pada 34 klon karet di perkebunan karet dunia termasuk Indonesia. Klon karet resisten yang ditanam sekarang ini diperkirakan akan mengalami kerusakan oleh ras patogen yang timbul di masa yang akan datang. Mengingat bahaya tersebut, telah dilakukan berbagai penelitian tentang virulensi ras patogen dan resistensi klon karet terhadap patogen tersebut di Indonesia (Situmorang dkk, 2001). Di Indonesia penyakit gugur daun Corynespora pertama kali ditemukan pada tahun 1980 di kebun percobaan Sembawa, Propinsi Sumatera Selatan (Sinulingga dkk, 1996). C. cassiicola telah membentuk berbagai ras dengan patogenitas yang cukup bervariasi. Ras patogen ini terdiri dari tiga kelompok besar yaitu : 1. ras yang beradaptasi terhadap kondisi geografis, 2. ras yang beradaptasi terhadap tumbuhan inang selain karet dan, 3. ras yang beradaptasi dengan klon karet. Ras kelompok pertama dan ke tiga termasuk ras yang sangat penting dibandingkan dengan ras kelompok kedua yang biasanya tidak menular ke tanaman karet. Ras kelompok ketiga ini dapat digolongkan dalam 2 ras yaitu : a. ras yang menyerang klon yang sebelumnya telah rentan (klon kelompok pertama) dan, b. ras yang telah mulai menyerang klon yang sebelumnya tahan (klon kelompok kedua) (Situmorang dkk, 2009). Universitas Sumatera Utara Cassicolin adalah toksin yang inangnya selektif, dihasilkan oleh jamur C. Cassiicola (strain CCP). Penyebab gugur daun Corynespora, yang merupakan salah satu penyakit yang penting pada tanaman karet (Havea brasiliensis). Bekerja dengan cassiicolin yang telah dimurnikan dan dapat diamati dengan mikroskop elektron (Barthe et al, 2006). Tujuan Penelitian Untuk mengetahui tingkat ketahanan klon IRR seri 400 tanaman karet terhadap isolat Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin. Hipotesa Penelitian Klon tanaman karet yang berbeda mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap isolat Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin. Kegunaan Penelitian 1. Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di departemen hama dan penyakit tumbuhan fakultas pertanian Rata-rata hasil pengamatan 5 hsi (Tabel 3) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bercak (mm/hari) klon RRIM 600 (K29) tidak berbeda nyata dengan IRR 404 (K5) tetapi berbeda nyata dengan klon lainnya. Klon RRIC 100 (K27) tidak berbeda nyata dengan klon IRR 406 (K7), IRR 410 (K11), IRR 414 (K15), IRR 416 (K17), IRR 418 (K19), IRR 420 (K21), IRR 422 (K23), dan PB 260 (K28) tetapi berbeda nyata dengan klon lainnya. Laju pertumbuhan bercak yang paling cepat terdapat pada klon RRIM 600 (K29) sebesar 9.58 mm/hari dan klon yang belum menunjukkan adanya bercak yaitu pada klon RRIC 100 (K27). Rata-rata hasil pengamatan 6 hsi (Tabel 3) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bercak (mm/hari) klon BPM 1 berbeda nyata dengan klon IRR 400 (K1), IRR 406 (K7), IRR 410 (K11), IRR 411 (K12), IRR 412 (K13), IRR 418 (K19), IRR 420 (K21), IRR 422 (K3), RRIC 100 (K27) dan PB 260 (K28) tetapi tidak berbeda nyata dengan klon lainnya. Laju pertumbuhan bercak yang paling cepat terdapat pada IRR 411 (K12) sebesar 6.23 mm dan yang paling lambat terdapat pada RRIC 100 (K27) sebesar 0.07 mm/hari. Rata-rata hasil pengamatan 7 hsi (Tabel 3) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bercak (mm/hari) klon PB 260 (K28) berbeda nyata dengan klon IRR 403 (K4), IRR 409 (K10), IRR 411 (K12), IRR 415 (K16), IRR 424 (K25), dan BPM 1 (K26) tetapi tidak berbeda nyata dengan klon lainnya. Laju pertumbuhan bercak yang paling cepat terajadi pada klon BPM 1 (K26) sebesar 10.97 mm/hari dan yang paling lambat sebesar 1.05 mm/hari pada klon RRIC 100 (K27). Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Di Laboratorium, 2008. USU Repository © 2009 Rata-rata hasil pengamatan 8 hsi (Tabel 3) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bercak (mm/hari) klon RRIM 600 tidak berbeda nyata dengan klon IRR 403 (K4), IRR 404 (K5), IRR 410 (K11), IRR 411 (K12), IRR 416 (K17), IRR 417 (K18), IRR 420 (K21), IRR 421 (K22), BPM 1 (K26) dan RRIC 100 (K27) tetapi berbeda nyata dengan klon lainnya. Laju pertumbuhan bercak yang paling cepat terdapat pada klon IRR 412 (K13) sebesar 8.22 mm/hari dan yang tidak mengalami pertumbuhan bercak yaitu pada klon RRIM 600 (K29). Rata-rata hasil pengamatan 8 hsi (Tabel 3) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bercak (mm/hari) klon PB 260 (K28) tidak berbeda nyata dengan klon IRR 400 (K1), IRR 406 (K7), IRR 410 (K11), IRR 414 (K15), IRR 416 (K17), IRR 418 (K19), IRR 420 (K21), IRR 422 (K23), dan IRR 423 (K24) tetapi berbeda nyata dengan klon lainnya. Laju pertumbuhan bercak yang paling cepat terdapat pada klon PB 260 (K28) sebesar 5.33 mm/hari. Pembahasan Warna koloni dan morfologi jamur C. cassiicola Isolat yang dipakai berasal dari klon GT 1 karena klon ini merupakan klon yang sesuai sebagai tempat tumbuh jamur Corynespora. Hal ini sesuai dengan pernyataan Situmorang dkk. (2001), bahwa klon GT 1 merupakan tempat patogen yang sesuai untuk memproduksi isolat yang tinggi virulensinya terhadap GT 1 sendiri dan klon lainnya. Perubahan warna dari koloni pada setiap pengamatan yaitu dari 7-14 hsi dipengaruhi oleh umur biakan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Darmono Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Di Laboratorium, 2008. USU Repository © 2009 (1996), bahwa perbedaan warna koloni atau miselium tidak berhubungan dengan jenis klon, tetapi bergantung pada umur kultur. Jumlah septa yang diperoleh yaitu 3 sampai 4 dengan bentuk yang berbeda. Keragaman jumlah septa ini juga dikemukakan oleh Rajalakshmy and Kothandaraman (1996), bahwa C. cassiicola dapat menghasilkan konidia multisepta antara 2-14 septa. Jumlah septa yang diperoleh sangat berpengaruh terhadap munculnya penyakit, karena dari setiap septa dapat menghasilkan individu baru. Semakin banyak jumlah septa, maka individu baru yang dihasilkan makin banyak juga. Begitu juga dengan jumlah individu baru atau keturunan yang banyak, akan mempengaruhi penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Abadi (2003a), bahwa banyaknya keturunan yang dihasilkan oleh patogen berpengaruh terhadap timbulnya epidemi atau penyakit. Patogen yang yang mempunyai keturunan lebih banyak akan menghasilkan epidemi yang lebih cepat dibandingkan dengan patogen yang mempunyai keturunan dalam jumlah sedikit. Intensitas serangan (%) C. cassiicola Rata-rata hasil pengamatan dari 2 hsi samapai 9 hsi menunjukkan bahwa intensitas serangan terus meningkat. Dimana rata-rata intensitas yang paling tinggi terdapat pada pengamatan 9 hsi yaitu mencapai 89.57%. Dari uraian hasil tersebut di atas, memberikan indikasi bahwa semua klon dapat diserang oleh patogen C. cassiicola tetapi dalam intensitas yang berbedabeda. Hal ini sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Situmorang dkk. (2001), bahwa semua klon karet mempunyai peluang terserang atau terinfeksi Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Di Laboratorium, 2008. USU Repository © 2009 Corynespora, tetapi tingkat keparahan penyakit yang timbul pada setiap klon berbeda. Klon pembanding (BPM 1 (K26), RRIC 100 (K27), PB 260 (K28), dan RRIM 600 (K29)) ada yang mengalami perubahan sifat ketahanan, yaitu klon BPM 1 (K26) yang dulunya resisten menurut Woelan dkk. (1999), tetapi disini klon tersebut termasuk dalam klon yang moderat. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa katahanan dan kerentanan dapat berubah. Ini diperjelas oleh Semangun (2001), yang menyatakan bahwa tingkatan ketahanan dan kerentanan suatu kultivar bukanlah merupakan suatu hal yang tetap, hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan patogen dan lingkungan. Hasil percobaan di laboratorium menurut Pawirosoemardjo (1999), mengelompokkan klon yang resisten dengan intensitas serangan 0%-20% yaitu klon IRR 410 (K11) dan RRIC 100 (K27). Klon agak resisten dengan intensitas serangan 21%-40% yaitu klon IRR 400 (K1), IRR 406 (K7), IRR 408 (K9), IRR 414 (K15), IRR 416 (K17), IRR 418 (K19), IRR 420 (K21), IRR 422 (K23), IRR 423 (K24), dan PB 260 (K28). Klon moderat dengan intensitas serangan 41%60% yaitu IRR 401 (K2), IRR 402 (K3), IRR 403 (K4), IRR 404 (K5), IRR 405 (K6), IRR 407 (K8), IRR 409 (K10), IRR 411 (K12), IRR 412 (K13), IRR 413 (K14), IRR 415 (K16), IRR 417 (K18), IRR 419 (K20), IRR 421 (K22), IRR 424 (K25), dan BPM 1 (K26) dan klon yang agak rentan dengan intesitas serangan 61%-80% yaitu RRIM 600 (K29). Intensitas serangan (%) C. cassiicola selama pengamatan 2-9 hsi dalam bentuk histogram untuk setiap klonnya dapat dilihat pada Gambar 4. Pada Gambar Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Di Laboratorium, 2008. USU Repository © 2009 Histogram dapat dilihat bahwa semua klon mendapat serangan Corynespora dalam intensitas yang berebda-beda. Rata-rata intensitas serangan yang paling tinggi terdapat pada pengamatan 9 hsi yaitu klon IRR 401 (K2), IRR 403 (K4), IRR 405 (K6), IRR 407 (K8), IRR 409 (K10), IRR 412 (K13), IRR 415 (K16), IRR 419 (K20), IRR 421 (K22), IRR 423 (K24), IRR 424 (K25), IRR 411 (K12), IRR 404 (K5), IRR 417 (K18), BPM 1 (K26), dan RRIM 600 (K29) mencapai 100 %. Sedangkan rata-rata intensitas serangan yang terendah terdapat pada pengamatan 2 hsi, dimana klon IRR 401 (K2), IRR 402 (K3), IRR 406 (K7), IRR 410 (K11), IRR 414 (K15), IRR 415 (K16), IRR 416 (K17), IRR 420 (K21), IRR 422 (K23), IRR 423 (K24), BPM 1 (K26), RRIC 100 (K27), PB 260 (K28, dan RRIM 600 (K29) belum menunjukkan adanya gejala serangan Corynespora. Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Di Laboratorium, 2008. USU Repository © 2009 Laju pertumbuhan bercak (mm/hari) C. Cassiicola Rata-rata laju pertumbuhan bercak pengamatan 2-9 hsi yang paling besar terdapat pada pengamatan 7 hsi yaitu sebesar 5.34 mm/hari dan yang paling rendah pada pengamatan 2 hsi sebesar 0.03 mm/hari. Perbedaan laju pertumbuahan bercak yang muncul dari masing-masing klon bisa dipengaruhi oleh adanya perebedaan ketahanan yang ada pada setiap klon. Salah satu yang mempengaruhi perbedaan tingkat ketahanan yaitu adanya perbedaan gen yang terkandung pada masing-masing klon. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abadi (2003a), bahwa variasi kerentanan terhadap patogen diantara varietas tanaman disebabkan oleh adanya gen ketahanan yang berbeda, dan mungkin pula karena adanya jumlah gen ketahanan yang berbeda dalam setiap varietas tanaman. Perbedaan gen ini terjadi karena setiap klon mempunyai induk yang berbeda, yang Derhana Siregar : Uji Resistensi Klon Irr Seri 400 Terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora cassicola (Berk. & Curt.)Wei. Physiology and Survival of Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei. Corynespora leaf disease Universitas Sumatera Utara of Hevea brasiliensis stretegis for management. Rubber Research Institute of India, Kottayam, Kerala, India, 26 32. Kothandaraman, R dan V. K. Rajalakshmy, 1996. Perkembangan Penyakit Gugur Daun Corynespora di India, Timbulnya Penyakit dan Pengelolaannya. Lokakarya Penyakit Gugur Daun Corynespora pada Tanaman Karet. Medan, 16 17 Desember 1996, Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih, 37 43. Riyaldi. 2004. Alih Teknologi dan Kebijakan Pengendalian Penyakit di Perkebunan Karet di Indonesia. Prosiding Pertemuan Teknis Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Industri Perkaretan Indonesia tahun 2020. Palembang, 6 7 Oktober 2004, Pusat Penelitian Karet, Sembawa, 1 10. Semangun, H. 1999. Penyakit Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 90 98. Siagian, N. 2007. Pembibitan dan Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih, 6 17. Sinaga, M. S. 2004. Strategi Pengelolaan Penyakit Penting Tanaman Karet di Indonesia pada Masa Mendatang. Prosiding Pertemuan Teknis Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Industri Perkaretan Indonesia tahun 2020. Palembang, 6 7 Oktober 2004, Pusat Penelitian Karet, Sembawa, 11 20. Sinulingga, W., Suwarto dan H. Soepena. 1996. Perkembangan Penyakit Gugur Daun Corynespora di Indonesia. Lokakarya Penyakit Gugur Daun Corynespora pada Tanaman Karet. Medan, 16 17 Desember 1996, Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih, 29 36. Situmorang, A. 1985. Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit Gugur Daun Corynespora Pada Tanaman Karet. Kumpulan makalah, artikel dan catatan Penyakit Gugur Daun Pada Karet Corynespora cassiicola. Balai Penelitian Perkebunan, Bogor, 1 12. Situmorang, A., A. Budiman dan S. Pawirosoemardjo. 1996. Epidemi Penyakit Gugur Daun Corynespora dan Pencegahannya pada Tanaman Karet. Lokakarya Penyakit Gugur Daun Corynespora pada Tanaman Karet. Medan, 16 17 Desember 1996, Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih, 111 132. Situmorang, A., M. S. Sinaga, H. Suryaningthyas dan M. Lasminingsih. 2001. Perkembangan Penyakit Gugur Daun Corynespora, Genetika Resistensi Klon Karet Anjuran dan Pencegahan Timbulnya Ledakan Universitas Sumatera Utara Serangan. Lokakarya Nasional Pemuliaan Karet. Palembang, 5 6 November 2001, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 215 226. Situmorang, A., M. S. Sinaga, R. Suseno, S. H. Hidayat, Siswanto, dan A. Darussamin. 2004. Status dan Manajemen Pengendalian Penyakit Gugur Daun Corynespora di Perkebunan Karet. Prosiding Pertemuan Teknis Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Industri Perkaretan Indonesia tahun 2020. Palembang, 6 7 Oktober 2004, Pusat Penelitian Karet, Sembawa, 97 117. Soekirman, P. 2003. Pengendalian Penyakit Karet. Kumpulan materi Workshop Penanggulangan KAS dan Penyakit Penting Pada Tanaman Karet. Sungei Putih, 28 30 Agustus 2003, Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih,12 25. Soekirman, P. 2004. Manajemen Pengendalian Penyakit Penting Dalam Upaya Mengamankan Target Produksi Karet Nasional Tahun 2020. Prosiding Pertemuan Teknis Strategi Pengelolaan Penyakit Tanaman Karet untuk Mempertahankan Potensi Produksi Mendukung Industri Perkaretan Indonesia tahun 2020. Palembang, 6 7 Oktober 2004, Pusat Penelitian Karet, Sembawa, 21 45. Soepena, H., Suwarto dan W. Sinulingga. 1996. Pengendalian Penyakit Gugur Daun Corynespora secara Kimiawi. Lokakarya Penyakit Gugur Daun Corynespora pada Tanaman Karet. Medan, 16 17 Desember 1996, Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih, 215 223. Umayah, A. 1999. Aksi Filtrat Corynespora cassiicola pada Daun Karet. Pros. Kongres Nasional XV dan Seminar Ilmiah PFI. Purwokerto, 16 18 September 1999. 260 262. Unterstenhover, G. 1963. The basic principles of crop protection field trial. Pflanzenschulz Nachrichten Bayer AG, Laverkusen. Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Foto Lahan Penelitian di Kebun Entres Gambar 14. Foto Tanaman yang disungkup dengan plastic transparan Sumber : Foto Langsung Gambar 15. Foto Lahan Penelitian Sumber : Foto Langsung Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Foto Gejala Serangan Corynespora cassiicola Gambar 16. Daun Karet yang Terserang C. cassiicola (Berk. & Curt.) Wei. Sumber : Foto Langsung Universitas Sumatera Utara Lampiran 7. Perhitungan kerapatan konidia jamur Corynespora cassiicola Jumlah konidia C. cassiicola dapat dihitung dengan menggunakan alat hitung haemocytometer. Kotak A, B, C, D adalah contoh kotak yang akan dihitung jumlah konidianya. Adapun cara kerjanya sebagai berikut : 1. Bersihkan permukaan kamar hitung dengan air mengalir dan kemudian dikeringkan dengan tissue atau kain yang lembut. 2. Tempatkan gelas penutup di atas slide, kemudian dijepit dengan penjepit yang ada di sebelah kanan kiri. 3. Siapkan suspensi sel yang akan dihitung, usahakan sel yang tersuspensi dalam cairan menyebar merata. Universitas Sumatera Utara 4. Ambil sedikit suspensi sel dengan dropping pipet dan teteskan sebanyak 2 tetes di tepi gelas penutup. Suspensi akan masuk ke kamar hitung dan mengisi seluruh ruangan yang ada pada bilik tersebut. Suspensi yang berlebih akan terbuang ke dalam parit pembuangan. 5. Biarkan selama 1 2 menit, agar sel yang ada dalam bilik stabil. 6. Tempatkan haemocytometer pada meja mikroskop dan hitung jumlah sel yang ada dengan rumus sebagai berikut : Jumlah sel/ml = (A+B+C+D) x 2500 Hasil perhitungan konidia jamur C. cassiicola 1. Isolat Sumut A : 4 konidia B : 7 konidia Total : 17 konidia C : 5 konidia D : 1 konidia Jumlah konidia = (A+B+C+D) x 2500 = 17 x 2500 = 4,25.104 konidia/ml Maka untuk membuat kerapatan 4.104 konidia/ml maka digunakan rumus pengenceran sebagai berikut : V1N1 = V2N2 200 x 4,25.104 = V2 x 4.104 V2 = 212,5 ml Maka penambahan aquadest sebagai pengencer untuk menghasilkan kerapatan konidia 4.104 adalah 212,5 ml 200 ml = 12,5 ml. Universitas Sumatera Utara 2. Isolat Riau A : 6 konidia B : 4 konidia Total : 18 konidia C : 5 konidia D : 3 konidia Jumlah konidia = (A+B+C+D) x 2500 = 18 x 2500 = 4,50.104 konidia/ml Maka untuk membuat kerapatan 4.104 konidia/ml maka digunakan rumus pengenceran sebagai berikut : V1N1 = V2N2 250 x 4,50.104 = V2 x 4.104 V2 = 281,25 ml Maka penambahan aquadest sebagai pengencer untuk menghasilkan kerapatan konidia 4.104 adalah 281,25 ml 250 ml = 31,25 ml. 3. Isolat Aceh A : 5 konidia B : 5 konidia Total : 22 konidia C : 9 konidia D : 3 konidia Jumlah konidia = (A+B+C+D) x 2500 = 22 x 2500 = 5,5.104 konidia/ml Universitas Sumatera Utara Maka untuk membuat kerapatan 4.104 konidia/ml maka digunakan rumus pengenceran sebagai berikut : V1N1 = V2N2 300 x 5,5.104 = V2 x 4.104 V2 = 412,5 ml Maka penambahan aquadest sebagai pengencer untuk menghasilkan kerapatan konidia 4.104 adalah 412,5 ml 300 ml = 112,5 ml. (Anonimus, 2008). Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Data Curah Hujan Bulan Juli s/d September 2008 Bulan Juli 2008 Tanggal 01-07-2008 02-07-2008 03-07-2008 04-07-2008 05-07-2008 06-07-2008 07-07-2008 08-07-2008 09-07-2008 10-07-2008 11-07-2008 12-07-2008 13-07-2008 14-07-2008 15-07-2008 16-07-2008 17-07-2008 18-07-2008 19-07-2008 20-07-2008 21-07-2008 22-07-2008 23-07-2008 24-07-2008 25-07-2008 26-07-2008 27-07-2008 28-07-2008 29-07-2008 30-07-2008 31-07-2008 Curah Hujan (mm) 100 8 43 35 30 19 Angin (km/jam) 340 - Suhu rata - rata ( 0C ) 28 28 27,5 27,5 27,5 27,5 28 28 28 28 28 28 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 28 28 28 27,5 Kelembaban rata - rata (%) 77 77 80 80 80 80 77 77 77 77 77 77 80 80 81 80 80 80 80 77 77 77 77 77 Universitas Sumatera Utara Bulan Agustus 2008 Tanggal Curah Hujan (mm) 01-08-2008 02-08-2008 03-08-2008 04-08-2008 05-08-2008 06-08-2008 07-08-2008 08-08-2008 09-08-2008 10-08-2008 11-08-2008 12-08-2008 13-08-2008 14-08-2008 15-08-2008 16-08-2008 17-08-2008 18-08-2008 19-08-2008 20-08-2008 21-08-2008 22-08-2008 23-08-2008 24-08-2008 25-08-2008 26-08-2008 27-08-2008 28-08-2008 29-08-2008 30-08-2008 31-08-2008 15 10 10 49 51 78 - Suhu Angin rata rata (km/jam) ( 0C ) - 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 - Kelembaban rata - rata (%) 80 80 80 80 80 81 - Universitas Sumatera Utara Bulan September 2008 Tanggal 01-09-2008 02-09-2008 03-09-2008 04-09-2008 05-09-2008 06-09-2008 07-09-2008 08-09-2008 09-09-2008 10-09-2008 11-09-2008 12-09-2008 13-09-2008 14-09-2008 15-09-2008 16-09-2008 17-09-2008 18-09-2008 19-09-2008 20-09-2008 21-09-2008 22-09-2008 23-09-2008 24-09-2008 25-09-2008 26-09-2008 27-09-2008 28-09-2008 29-09-2008 30-09-2008 Curah Hujan (mm) 11 19 100 80 50 9 5 37 25 - Suhu Angin rata rata (km/jam) ( 0C ) 320 27,5 27,5 300 27,5 340 27,5 320 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 27,5 - Kelembaban rata - rata (%) 80 80 80 83 81 80 80 80 80 79 81 80 80 80 80 - Universitas Sumatera Utara
Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium Daftar Sidik Penyakit Tanaman Karet dan Pengendalianya. Pusat Penelitian Karet, Sumbawa, 42-45. Daftar Sidik Ragam Penyakit Tanaman Karet dan Pengendalianya. Pusat Penelitian Karet, Sumbawa, 42-45. Rataan Penyakit Tanaman Karet dan Pengendalianya. Pusat Penelitian Karet, Sumbawa, 42-45.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium

Gratis