Analisis Kandungan Metil Paraben Pada Kecap Dan Saus Yang Beredar Di Pasaran Dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

 30  117  101  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

BAB I PENDAHULUAN

  Untuk menguji validitas dari metode ini dilakukan pengujian antara lain uji akurasi dengan parameter % recovery ; uji presisi dengan parameter Koefisien 1.2 Perumusan Masalah Apakah kondisi optimum fase gerak metanol-air dan laju alir yang diperoleh - dapat digunakan pada penetapan kadar metil paraben dalam kecap dan sausyang beredar dipasaran dengan validasi metode yang memenuhi persyaratan? 1.3 Hipotesis 1.4 Tujuan Penelitian Menerapkan metode KCKT serta fase gerak dan laju alir pada penetapan - kadar pengawet metil paraben dalam kecap dan saus yang beredar dipasaranyang memenuhi persyaratan uji validasi metode meliputi Presisi dan Akurasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  Penyedap rasa dan Aroma, penguat rasa (Flavour, Flavour???? V dgn f Enhancer) 2.2 Bahan Pengawet Bahan pengawet adalah bahan tambahan pangan yang dapat mencegah atau menghambat proses fermentasi, pengasaman dan penguraian terhadapmakanan yang disebabkan oleh mikroorganisme. 2.2.2 Jenis – jenis Bahan PengawetBahan pengawet yang diizinkan penggunaannya pada bahan pangan adalah asam benzoat, asam propionat, asam sorbat, sulfur dioksida, etil p-hidroksi Analisis senyawa obat baik dalam bahan ruahan (bulk), dalam sediaan farmasi, maupun dalam cairan biologis dengan metode kromatografi dapat ditilikbalik pada awal tahun 1920-an.

2.1 Deksklorfeniramin maleat

  struktur Deksklorfeniramin maleatNama Kimia : (+) -2-[P-kloro- α-[2-(dimetilamino)etil]benzil]piridina maleat (1:1)Rumus Molekul : C H ClN . C H O 16 19 2 4 4 4 Berat Molekul : 390,87 (Depkes RI, 1995) Pemerian : Serbuk hablur, putih ; tidak berbauKelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam kloroform, sukar larut dalam benzena dan dalam eter.

2.2 Kromatografi

  Kromatografi merupakan suatu proses pemisahan yang mana analit-analit dalam sampel terdistribusi antara 2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fasediam dapat berupa bahan padat atau porus dalam bentuk molekul kecil, atau dalam bentuk cairan yang dilapiskan pada pendukung padat atau dilapiskan padadinding kolom.

2.2.1 Penggunaan Kromatografi

  2.2.2 Profil puncak dan pelebaran puncak Selama pemisahan kromatografi, solut individual akan membentuk profil konsentrasi yang simetris atau dikenal juga dengan profil Gaussian dalam arahaliran fase gerak. Profil dikenal juga dengan puncak atau pita, secara perlahan – lahan akan melebar dan sering juga membentuk profil yang asimetrik karena solut 2.2.3 Puncak asimetris Profil konsentrasi solut yang bermigrasi akan simetris jika rasio distribusi solut (D) konstan selama dikisaran konsentrasi keseluruhan puncak,sebagaimana ditunjukkan oleh isoterm sorpsi yang linear yang merupakan plot konsentrasi solut dalam fase diam (Cs) terhadap konsentrasi solut dalam fasegerak(Cm).

2.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

  Hal ini karena didukung olehkemajuan dalam teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif dan beragam. KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlahbidang antara lain; farmasi, lingkungan dan industri-industri makanan.

2.3.1 Cara Kerja KCKT

  Penggunaan kromatografi cair membutuhkanpenggabungan secara tepat dari berbagai macam kondisi operasional seperti jenis kolom, fase gerak, panjang dan diameter kolom, kecepatan alir fase gerak, suhukolom, dan ukuran sampel (Rohman, 2007). (Rohman, 2007) 2.3.4 Pompa Pompa yang cocok digunakan untuk KCKT adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut yakni : pompa harus inertterhadap fase gerak.

2.3.5 Injektor

  Bermacam-macamdetektor dengan variasi panjang gelombang UV-Vis sekarang menjadi populer karena mereka dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa-senyawa dalam 2.3.8 Pengolahan Data Komponen yang terelusi mengalir ke detektor dan dicatat sebagai puncak- puncak yang secara keseluruhan disebut sebagai kromatogram Guna kromatogram: 1. Terdapat keragaman yang luas dari fase Fase gerak harus:  Murni; tidak ada pencemar/kontaminan  Tidak bereaksi dengan pengemas  Sesuai dengan detektor  Melarutkan cuplikan  Mempunyai viskositas rendah  Mudah rekoveri cuplikan, bila diinginkan  Tersedia diperdagangan dengan harga yang pantasUmumnya, pelarut-pelarut dibuang setelah digunakan karena prosedur pemurnian kembali membosankan dan mahal.

2.4 Validasi

  Batas kuantitasi (limit of quantitation, LOQ) didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisidan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan. Linieritas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil- hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaranyang diberikan (Rohman, 2007).

BAB II I METODE PENELITIAN

  2.2 Alat-alat Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat instrumen KCKT lengkap (agilent LC 1220) dengan pompa, degasser (DGU 20AS), injector Autosampler, kolom Luna Phenomenex C18 (250 mm x 4,60 mm), detektor UV-Vis, wadah fase gerak, vial khusus Autosampler, Sonifikator(Branson 1510), pompa vakum (Gast DOA – P604 – BN), neraca analitik (MettlerToledo), membrane filter PTFE 0,5 µm dan 0,2 µm, cellulose nitrate membran filter 0,45 µm. Brataco), kecap Mi instan Supermi kemasan plastik, kecap ABC kemasan plastik, kecap Bango kemasan plastik,kecap botol Langkat, kecap botol Angsa, kecap Pop Mie Cup Goreng kemasan plastik, saus sachet Del monte, saus sachet Sasa, saus sachet Indofood, dan sausPop Mie Cup Goreng kemasan plastik.

2.5 Prosedur penelitian

2.5.1 Penyiapan Bahan

  2.5.1.1 Pembuatan Fase Gerak Metanol – air Metanol 500 ml di saring dengan menggunakan mebran filter PTFE 0,5µm dan diawaudarakan selama 30 menit. 2.5.1.2 Pembuatan pelarut Larutan metanol dan air di campur dengan perbandingan 40:60 (fase gerak hasil optimasi).

2.5.2 Prosedur Analisis

  2.5.2.1 Penyiapan Alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Masing – masing unit diatur, kolom yang digunakan C18 (250 mm x 4,60 mm), detektor UV-Vis dan dideteksi pada panjang gelombang 254 nm. 2.5.2.2 Penentuan Perbandingan Fase Gerak dan Laju Alir yang Optimum Kondisi kromatografi divariasikan untuk mendapatkan hasil analisis optimum adalah komposisi fae gerak dan laju alir.

2.5.3 Analisis Kualitatif menggunakan KCKT

2.5.3.1 Uji Identifikasi Metil Paraben menggunakan KCKT

2.5.4.1 Pembuatan Larutan Induk Baku Metil Paraben

  Metil paraben BPFI dengan konsentrasi 50 µg/ml dan larutan sampel masing- masing diinjeksikan menggunakan vial autosampler sebanyak 5 µl, dianalisispada kondisi KCKT yang sama dari perbandingan fase gerak metanol-air dan laju alir yang terbalik hasil orientasi, kemudian dicatat masing-masing waktutambatnya. Sampel diinjeksikan sebanyak 5 µl kesisitem KCKT vial autosampler dan dideteksi pada panjang gelombang 254 nm dengan perbandingan fase gerak metanol-air (40:60) dan laju alir 1 ml/menit.

2.5.5 Validasi Metode

  2.5.5.1 Kecermatan Uji akurasi (accuracy) ditentukan dengan menggunakan metode penambahan baku (standart addition method), yakni ke dalam sampelditambahkan larutan baku metil paraben 100% dari rata-rata kadar metil paraben yang terdapat pada sampel, kemudian dianalisis dengan perlakuan yang samaseperti pada penetapan kadar sampel (Epshtein, 2004). Persen perolehan kembali dapat dihitungdengan rumus (Harmita, 2004): F A C C % Perolehan kembali = x 100% CA C F = konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran(µg/g) C = konsentrasi sampel sebenarnya (µg/g) A C* A = konsentrasi analit yang ditambahkan (µg/g) 2.5.5.2 Keseksamaan Menurut Rohman (2009), presisi merupakan ukuran kedekatan antar serangkaian hasil analisis yang diperoleh dari beberapa kali pengukuran padasampel homogen yang sama.

2.5.5.3 Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Keterangan:Sy/x = Simpangan bakuSl = Slope atau derajat kemiringan

2.5.6 Analisis Data Penetapan Kadar Secara Statistik Data perhitungan kadar dianalisis secara statistik menggunakan uji t

  Menurut Harmita (2004), Rumus yang digunakan untuk menghitung StandarDeviasi (SD) adalah :2 ( ) X X  SD  n 1 Kadar dapat dihitung dengan persamaan garis regresi dan untuk menentukan data diterima atau ditolak digunakan rumus: X X  t hitung SD / n Dengan dasar penolakan apabila t hitung≥ t tabel, pada taraf kepercayaan 99% dengan nilai α = 0,01, dk = n – 1. Keterangan :SD = Standard deviation/simpangan baku X = Kadar dalam satu perlakuan X = Kadar rata-rata dalam satu sampel n = Jumlah perlakuanUntuk mencari kadar sebenarnya dapat digunakan rumus (Wibisono, 2005): SD X t x  (1 1 / 2 ) dk   n Keterangan:μ = Kadar sebenarnyaX = Kadar sampel n = Jumlah perlakuant = Harga t sesuai dengan derajat kepercayaan tabel dk= Derajat kebebasan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  3.1 Penentuan Komposisi Fase Gerak untuk mendapatkan Kondisi Kromatografi yang Optimal Pada awal penelitian, dilakukan orientasi terhadap bahan baku metil paraben untuk mencari kondisi kromatografi yang terbaik dengan memvariasikanperbandingan fase gerak metanol-air yaitu (80:20), (60:40), (40:60), (20:80) sedangkan laju alir pada 0,8 ml/menit dan 1 ml/menit, deteksi dilakukan padapanjang gelombang 254 nm. Meskipun perbandingan fase gerak metanol- air 80:20 dan 60:40 memiliki waktu tambat yang lebih cepat dibanding fase gerakmetanol-air 40:60 namun pada waktu tambat ini banyak zat-zat pengotor yang menghalangi keberadaan kromatogram dari sampel yang diperiksa.

3.2 Analisis Kualitatif

  Meskipun waktu tambat yang ditunjukkan tidak sama persis, namun waktu tambat yang diamati dalam kromatogram sampel dapat diterima sebagai waktu Untuk mempertegas identifikasi, salah satu larutan sampel (kecapSupermie) ditambahkan baku metil paraben (spiking method) pada kondisi KCKT yang sama. Kromatogram hasil penyuntikan larutan kecap Supermie goreng setelah penambahan baku metil paraben (spiking) dengan fase gerak metanol – air (40:60), laju alir 1 ml/menit dan dideteksi pada panjanggelombang 254 nm.

3.3.1 Penentuan Kurva Kalibrasi Metil paraben

  Penentuan kurva kalibrasi metil paraben BPFI yang ditentukan berdasarkan luas area pada rentang konsentrasi 0 sampai 4 µg/ml, dari kurvakalibrasi di peroleh hubungan linier antara luas area dan konsentrasi dengan koefesien korelasi (r) = 0,9998. Data hasil penyuntikan larutan metil paraben BPFIKonsentrasi Luas No(µg/ml) area 0 0 1 0,5 32 2 1 63,33 2 120,4 4 3 178,15 4 237,4 Dari Tabel 2 di atas, diperoleh kurva kalibrasi dengan memplot konsentrasi versus luas area seperti pada Gambar 4 berikut.

3.3.2 Penetapan Kadar Sampel

  Kadar dapat di hitung dengan mensubstitusikan luas area yang di peroleh pada Y dari persamaan regresi. Berdasarkan hasil perhitungan, kadar metilparaben pada sampel kecap Supermie goreng kemasan yang dianalisis memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh PERMENKES RI Nomor722/Menkes/Per/IX/88, batas maksimum penggunaan metil paraben dalam kecap adalah 250 mg/kg.

3.4 Hasil Uji Validasi

  Uji ini meliputi uji akurasi dengan parameterpersen perolehan kembali (% recovery) dan uji presisi dengan parameter Uji akurasi dengan parameter persen perolehan kembali dilakukan dengan membuat konsentrasi sampel dengan rentang spesifik 100% di hitung dari kadarrata-rata metil paraben dari sampel 3 replikasi. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa prosedur analisis yang dikerjakan dalam penelitian ini sahih dan dapat digunakan untuk menganalisis penetapan kadar metil parabendalam kecap dan saus yang beredar dipasaran karena telah memenuhi persyatan uji validasi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Kromatogram hasil penyuntikan 6 kali pengulangan dari larutan Saus Pop MieGoreng Cup dalam kemasan plastik yang dianalisa secara KCKT pada kolom C18(250 mm x 4,60 mm), dengan perbandingan fase gerak metanol – air (40:60), laju alir 1 ml/menit dan di deteksi pada panjang gelombang 254 nm. Kromatogram hasil penyuntikan 6 kali pengulangan dari larutan Saus Pop MieGoreng Cup dalam kemasan plastik yang dianalisa secara KCKT pada kolom C18(250 mm x 4,60 mm), dengan perbandingan fase gerak metanol – air (40:60), laju alir 1 ml/menit dan di deteksi pada panjang gelombang 254 nm.

6 Semua data diterima

  No Nama RT Area Height Plate Tailing factor 1 Metil paraben 5.843 43,08 5,30 11790 1,05603No Nama RT Area Height Plate Tailing factor 1 Metil paraben 5.938 42,90 3,14 9962 0,88393 1 Metil paraben 5.845 42,7 5,26 11599 1,02542 Lampiran 16. Analisis Data Statistik Persen Perolehan Kembali Metil Paraben dari Penyuntikan Larutan Kecap Supermie Goreng Kemasan plastik (PT. Indofood)% Metil paraben 2 ( X - ) ( X - )No X 1 98,80 -0,59 0,34812 99,94 0,55 0,3025 3 99,43 0,04 0,0016 ∑ X = 297,15 2 = 0,6522∑ (X - ) =99,39Maka,2 ( X X )  SD  n 1 , 6522 2=0,5711Koefisien Variasi (KV) SD KV x 100 % X, 5711x 100 %  99 , 39 = 0,5746% Lampiran 17.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Kandungan Metil Paraben Pada Kecap D..

Gratis

Feedback