Feedback

Itsbat Nikah Dan Kaitannya Dengan Status Anak Yang Lahir Sebelum Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas IA Medan)

Informasi dokumen
ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK YANG LAHIR SEBELUM PERKAWINAN DISAHKAN (STUDI PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN) TESIS OLEH SYAFITRI YANTI 087011120/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK YANG LAHIR SEBELUM PERKAWINAN DISAHKAN (STUDI PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN) TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh SYAFITRI YANTI 087011120/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi : : : ITSBAT NIKAH DAN KAITANNYA DENGAN STATUS ANAK YANG LAHIR SEBELUM PERKAWINAN DISAHKAN (STUDI PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN) Syafitri Yanti 087011120 Kenotariatan Menyetujui Komisi Pembimbing, Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D Pembimbing Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA Pembimbing Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA Ketua Program Studi, (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Dekan, (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) Tanggal lulus : 20 Juli 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 20 Juli 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD Anggota : 1. Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA 2. Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah. Pasal 7 ayat (2) KHI menentukan dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan irsbat nikahnya ke Pengadilan Agama. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan yang tidak memiliki bukti pencatatan dapat diajukan itsbat nikah pada pengadilan agama yang disertai dengan persyaratan tertentu. Penulisan bertujuan untuk menjelaskan tata cara pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada Pengadilan Agama Klas IA Medan, proses penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA Medan dan kendala yang dihadapi dan status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis normatif, yang menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisis tentang pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajuan itsbat nikah dilakukan dengan alasan perkawinan yang dilakukan sebelum adanya Undang-undang perkawinan, atau dapat juga dilakukan karena kehilangan akta nikah atau buku nikah, untuk pengurusan perceraian dan guna mengesahkan status anak untuk memperoleh warisan dan beberapa alasan lainnya. Tata cara pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan pengajuan permohonan, pengumuman melalui media masa dan pemeriksaan materi. Proses penetapan istbat nikah dilakukan setelah hakim pengadilan menerima permohonan dan melakukan pemeriksaan dan pertimbangan hakim adalah tujuan dari permohonan untuk memperoleh Akta Nikah dan lengkapnya persyaratan yang disertai dengan keterangan saksi, pernikahan yang dilakukan dapat dibuktikan dengan adanya wali nikah dan saksi, tidak ada larangan kawin serta pernikahan memenuhi rukun nikah. Akibat hukum yang timbul adalah perkawinan yang diajukan pengesahan tersebut menjadi sah dapat dimintakan pencatatan dan Akta Nikah pada Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA). Demikian pula dengan status anak dalam perkawinan menjadi jelas sebagai anak yang sah. Pengesahan nikah dapat juga digabungkan dengan gugatan perceraian atau dapat pula digabungkan dengan gugatan warisan yang cara penyelesaiannya diputus bersama-sama dalam satu putusan. Majelis hakim dalam memenuhi suatu permohonan itsbat nikah hendaknya melakukan penelusuran yang jelas mengenai alat bukti dan saksi yang diajukan pemohon agar terhindar dari kemungkinan dilakukannya penyelundupan hukum oleh pihak yang tidak bertanggung jawab guna melegalkan perkawinan poligami yang dilakukan dibawah tangan Kepada pemohon itsbat nikah agar dapat mengajukan permohonan yang lengkap sesuai dengan persyaratan yang ditentukan guna menghindari keterlambatan proses penetapan pengesahan. Kepada pihak kepaniteraan Pengadilan Agama Klas IA Medan agar dalam memberikan penjelasan tentang pengajuan itsbat nikah memberikan keterangan yang jelas mengenai persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon agar mempermudah pemeriksaan dan permohonan tidak ditolak. Agar setiap perkawinan yang dilakukan dibawah tangan (tidak dicatat) dapat diajukan itsbat nikah apabila memenuhi rukun dan syarat nikah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan bagi pihak isteri dan anak mengenai statusnya dalam perkawinan. Kata Kunci : Itsbat Nikah, Perkawinan dan Anak i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Article 7 (1) of the Islamic Law Compilation clearly states that a marriage can only be proven through a Marriage Certificate issued by the Marriage Registration Officer. Article 7 (2) determines thai in case the marriage cannot be proven through a Marriage Certificate the application of confirmation of their marriage (itsbat nikahnya) can be submitted to the Religious Court with certain condition. The purpose of this study was to expalin the procedures of submitting the application for marriage confirmation and the decision process of marriage confirmation in the Religious Court Class I A Medan, the constraints faced and status of child(ren) born before the confirmation of marriage obtained. this analytical descriptive study with normative juridical approach explains as wellas analyzes the submission of applicatioin for marriage confirmation in the Religious Court Class I A Medan. The result of this study showed that the application for marriage confirmation can be submitted with the reason that the marriage was conducted before the issuance of Law on Marriage or the couples lost their marriage certificate or to arrange for a divorce, to legalize the status of the couples'child(ren), to obtain a heritage, and so forth. The procedures of submitting the application for marriage confirmation the religious Court Class I A Medan are through mass media and material examination. The decision process of marriage confirmation is taken after the judge receives the application, examines the application. The judge's consideration is that the purpose of this application is to obtain a Marriage Certificate, all requirements needed are met, and testimony of witness (es), the marriage done can be proven through the presence of the bride' guardian and withnesses, there is no restriction of marriage and met all of the basic marriage requirements. Its legal consequence is that the marriage confirmed is legal and can be registered in and the Marriage Certificate can be issued bythe Subdistrict Religious Affairs Office. The status of their children is clear and legal. The marriage legalization can be done together with the claim of divorce or heritage whose settlement is combined in one decision. In granting the application for marriage confirmation, the judges should clearly trace the evidence and witnesses submitted by the applicant to avoid from any attempt to legalize the underhanded polygamy marriage. The marriage confirmation applicant should follow the legal procedures and meet the requirements needed so that the decision process of legalization is not behind the schedule. The management of the Religious Court Class I A Medan should provide clear information about the requirements needed to submit the application for marriage confirmation that the application submitted is not refused. the application for each underhanded (non-registered) marriage confirmation can be submitted if the legal marriage terms and conditions are met. this is intended to protect and legalize the status of wife and child (ren). Keywords: marriage Confirmation, Children ii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan sampaikan kehadirat Allah SWT karena hanya dengan berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan judul “Itsbat Nikah dan Kaitannya Dengan Status Anak yang Lahir Sebelum Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas Ia Medan) . Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D., Bapak Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA dan Bapak Dr. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Kemudian juga, semua pihak yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara iii Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini. 3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku ketua program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini. 4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini. 5. Bapak dan Ibu Dosen Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta ilmu yang sangat bermanfaat selama Penulis mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di bangku kuliah. 6. Seluruh Staf/Pegawai di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bantuan kepada Penulis selama menjalani pendidikan. 7. Rekan-rekan Mahasiswa dan Mahasiswi di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, khususnya angkatan tahun 2008 yang telah banyak memberikan motivasi kepada Penulis dalam menyelesaikan tesis ini. 8. Motivator terbesar dalam hidup Penulis yang selalu memberikan cinta, kasih sayang, dukungan dan doa yang tak putus-putusnya Ayahanda Dr. H. Mazrisyaf Muaz dan Ibunda Hj. Nunung Suheriyanti serta Saudarasaudaraku Bang Eka dan Fedri yang telah memberikan semangat dan doanya. Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami tercinta Harisman Iskandar Sinaga yang selama ini telah menjadi inpirasi dan memberikan semangat sehingga menjadi motivasi warna tersendiri dalam kehidupan iv Universitas Sumatera Utara dan juga dalam penyelesaian tesis pada di Program Studi Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari sepenuhnya tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun besar harapan penulis kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, terutama para pemerhati hukum perdata pada umumnya dan ilmu kenotariaan pada khususnya. Demikian pula atas bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin Medan, Juli 2011 Penulis, Syafitri Yanti v Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. Identitas Pribadi Nama : Syafitri Yanti Tempat/Tanggal lahir : Medan, 18 September 1984 Jenis Kelamin : Perempuan Status : Menikah Agama : Islam Alamat : Jl. Karya Wisata Komp. Citra Wisata Blok V No. 9 Medan II. Keluarga Nama Ayah : Dr. H. Mazrisyaf Muaz Nama Ibu : Hj. Nunung Suheriyanti Nama Suami : Harisman Iskandar Sinaga Nama Abang : Nusa Eka Syahputra Nama Adik : Syafed Rianda III. Pendidikan SD Taman Asuhan P. Siantar Lulus Tahun 1997 SLTP Taman Asuhan P. Siantar Lulus Tahun 2000 SMU Al-Azhar Medan Lulus Tahun 2003 S1 Fakultas Hukum UISU Medan Lulus Tahun 2007 S2 Program Studi Magister Kenotariatan FH-USU Lulus Tahun 2011 vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK . Halaman i ABSTRACT . . ii KATA PENGANTAR . iii RIWAYAT HIDUP . . vi DAFTAR ISI vii . DAFTARTABEL BAB BAB . ix I. PENDAHULUAN A. Latar belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 8 C. Tujuan Penelitian . 9 D. Manfaat Penelitian . 9 E. Keaslian Penelitian . 10 F. Kerangka Teori dan Konsepsi . 10 G. Metode Penelitian . 22 II. TATA CARA PENGAJUAN ITSBAT NIKAH YANG DILAKUKAN PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN A. Perkawinan dan Pengaturannya di Indonesia B. Pencatatan sebagai Syarat Untuk Melahirkan Akibat Hukum Perkawinan . C. Kaitan Perkawinan dan Itsbat Nikah . D. Pengajuan Isbat Nikah yang Dilakukan pada Pengadilan Agama Klas IA Medan 27 41 58 67 BAB III. PROSES PENETAPAN ITSBAT NIKAH PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN DAN KENDALA YANG DIHADAPI A. Prosedur Pengajuan Itsbat Nikah . 77 B. Pertimbangan Hakim dalam Penetapan Itsbat Nikah 86 C. Kendala yang Dihadapi dalam Pengajuan Itsbat Nikah vii Universitas Sumatera Utara Pengadilan Agama Negeri IA Medan . . 91 BAB IV. STATUS YANG LAHIR SEBELUM DILAKUKANNYA ISTBAT NIKAH A. Pengertian Anak dan Keluarga . 97 B. Hubungan Itsbat Nikah dengan Status Anak dalam Perkawinan . 105 C. Status Anak yang Lahir Sebelum dilakukan Itsbat Nikah 110 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . 123 B. Saran . 125 DAFTAR PUSTAKA . 127 LAMPIRAN viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman TABEL 1. TABEL 2. JUMLAH PERMOHONAN YANG MASUK PADA KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA KLAS IA MEDAN . 70 ALASAN PENGAJUAN ITSBAT NIKAH PADA PENGADILAN AGAMA KLAS IA KOTA MEDAN TAHUN 2009 71 ix Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah. Pasal 7 ayat (2) KHI menentukan dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan irsbat nikahnya ke Pengadilan Agama. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan yang tidak memiliki bukti pencatatan dapat diajukan itsbat nikah pada pengadilan agama yang disertai dengan persyaratan tertentu. Penulisan bertujuan untuk menjelaskan tata cara pengajuan itsbat nikah yang dilakukan pada Pengadilan Agama Klas IA Medan, proses penetapan itsbat nikah di Pengadilan Agama Klas IA Medan dan kendala yang dihadapi dan status anak yang lahir sebelum dilakukannya itsbat nikah. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis normatif, yang menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisis tentang pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajuan itsbat nikah dilakukan dengan alasan perkawinan yang dilakukan sebelum adanya Undang-undang perkawinan, atau dapat juga dilakukan karena kehilangan akta nikah atau buku nikah, untuk pengurusan perceraian dan guna mengesahkan status anak untuk memperoleh warisan dan beberapa alasan lainnya. Tata cara pengajuan itsbat nikah pada Pengadilan Agama Klas IA Medan pengajuan permohonan, pengumuman melalui media masa dan pemeriksaan materi. Proses penetapan istbat nikah dilakukan setelah hakim pengadilan menerima permohonan dan melakukan pemeriksaan dan pertimbangan hakim adalah tujuan dari permohonan untuk memperoleh Akta Nikah dan lengkapnya persyaratan yang disertai dengan keterangan saksi, pernikahan yang dilakukan dapat dibuktikan dengan adanya wali nikah dan saksi, tidak ada larangan kawin serta pernikahan memenuhi rukun nikah. Akibat hukum yang timbul adalah perkawinan yang diajukan pengesahan tersebut menjadi sah dapat dimintakan pencatatan dan Akta Nikah pada Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA). Demikian pula dengan status anak dalam perkawinan menjadi jelas sebagai anak yang sah. Pengesahan nikah dapat juga digabungkan dengan gugatan perceraian atau dapat pula digabungkan dengan gugatan warisan yang cara penyelesaiannya diputus bersama-sama dalam satu putusan. Majelis hakim dalam memenuhi suatu permohonan itsbat nikah hendaknya melakukan penelusuran hal. 31. 55 Lihat Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Perkawinan. 56 M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, CV. Zahir, cet. I, Medan 1975, hal. 73.   Universitas Sumatera Utara   61 Akan tetapi di dalam Pasal ini tidak menentukan apa macamnya garis keturunan itu (patrilinealkah, matrilinealkah atau bilateralkah) sehingga jika kepercayaan atau agama yang dianut tidak menentukannya maka masih berlaku garis keturunan menurut adat setempat.57 Khusus dalam hubungan suami atau isteri, seorang suami atau isteri dapat mengajukan pembatalan perkawinan, yang disebabkan karena keadaan-keadaan yang disebut dalam Pasal 27 UU Perkawinan yaitu; dalam perkawinan itu dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum atau apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri, tetapi dengan syarat bahwa dalam jangka waktu enam bulan setelah tidak adanya ancaman lagi atau yang bersalah sangka itu menyadari dirinya, masih tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak mempergunakan haknya, untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya itu gugur.58 Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, ada dua unsur yang mempengaruhi terjadinya fasid atau batalnya perkawinan. Kedua unsur tersebut adalah syarat dan rukun. Syarat perkawinan adalah sesuatu yang harus ada dalam perkawinan. Apabila salah satu dari syarat perkawinan itu tidak terpenuhi maka perkawinan itu tidak sah (batal) demi hukum.59                                                              57 Hazairin, Tinjauan mengenai Undang-undang RI. No. 1 Tahun 1974,: Tintamas Indonesia, Jakarta cet. I, 1975, hal. 25. 58 Lihat ayat 2 Pasal 26 dan ayat 1,2 dan 3 Pasal 27 Undang-undang Perkawinan. 59 Hasil Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Medan, Juni 2010   Universitas Sumatera Utara   62 UU Perkawinan Pasal 22 menyebutkan bahwa perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan. Namun demikian, ketentuan tersebut tidak memberi pengertian bahwa suatu perkawinan yang telah dilangsungkan dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat-syaratnya.60 Adapun dengan tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut undang-undang ini ada 3 kategori: a. Persyaratan yang ditentukan oleh hukum Islam b. Persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang tetapi tidak ditentukan oleh hukum Islam. c. Persyaratan yang ditentukan oleh hukum Islam dan sekaligus diatur dalam undang-undang, misalnya: - Pasal 8 tentang larangan perkawinan - Pasal 9 tentang masih terikat dengan perkawinan orang lain - Pasal 10 tentang ruju’/kembali setelah talak tiga.61 Ada beberapa bentuk perkawinan tertentu yang menurut Pasal 26 dan Pasal 27 dapat dikategorikan sebagai kasus pembatalan perkawinan, antara lain:                                                              60 R. Badri, Perkawinan Menurut Undang-undang Perkawinan dan KUHP, Surabaya Amin Surabaya, 1985, hal. 70. 61 Hasil Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Medan, Juni 2010   Universitas Sumatera Utara   63 a. Perkawinan yang dilangsungkan di depan pegawai pencatat perkawinan yang tidak berwenang b. Perkawinan yang dilangsungkan dengan wali nikah yang tidak sah c. Perkawinan yang dilangsungkan tanpa dihadiri oleh dua saksi. d. Perkawinan yang dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum Pengertian ancaman melanggar hukum tiada lain dari hakekat yang menghilangkan kehendak bebas dari salah seorang calon mempelai, yaitu segala macam ancaman apapun yang dapat menghilangkan hakekat bebas seseorang calon mempelai. Termasuk ancaman yang bersifat hukum sipil. Sebagai Contoh : seseorang menyerukan syarat, bahwa asal dia mau menikah, hutang orang yang diajak kawin akan dihapus, kalau tidak bersedia dikawini, hutang ini akan digugat dan meminta dilelang semua hartanya.62 Akan tetapi, sesuai dengan Pasal 27 ayat (3) UU Perkawinan, sifat ancaman berhenti apabila telah lewat masa 6 bulan sesudah dilangsungkan perkawinan berdasar ancaman yang melanggar hukum. Yang bersangkutan tidak mempergunakan haknya untuk pembatalan dan masih tetap hidup bersama sebagai suami isteri. Apabila dalam jangka waktu 6 bulan itu telah lewat dengan sendirinya gugurlah haknya untuk minta pembatalan.                                                              62 Ibid   Universitas Sumatera Utara   64 e. Terjadi salah sangka mengenai diri suami dan istri.63 Salah sangka yang dimaksud disini adalah mengenai diri orangnya atau personnya dan bukan mengenai keadaan orangnya yang menyangkut status sosial ekonominya dalam jangka waktunya pun tidak lebih dari 6 bulan. Dalam Pasal 70 Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa perkawinan batal apabila: a. Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang isteri, sekalipun salah satu dari keempat isterinya itu dalam iddah talak raj’i; b. Seseorang menikahi bekas isterinya yang telah dili’annya; c. Seseorang menikahi bekas isterinya yang telah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas isterinya tersebut pernah menikah dengan pria lain yang kemudian bercerai lagi ba’da al-dukhul dari pria tersebut dan telah habis masa iddahnya; d. Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah, semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut Pasal 8 undang-undang No. 1 Tahun 1974, yaitu : 1. Berhubungan darah dalam garis lurus ke bawah atau ke atas;                                                              63 Gatot Supramono, Segi-segi Hukum Hubungan Luar Nikah, Djambatan, Jakarta, 1998, Hal. 35.   Universitas Sumatera Utara   65 2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antar saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seoran dengan saudara neneknya; 3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri; 4. Berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan, anak sesusuan, saudara sesusuan dan bibi atau paman sesusuan; e. Isteri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri atau isteri-isterinya. Pasal 71 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa: a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama; b. Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi isteri pria yang mafqud. c. Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami li’an; d. Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 7 UU Perkawinan; e. Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak; f. Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan. Hasil penelitian pada Pengadilan Agama Medan diketahui bahwa pembatalan perkawinan karena suami melakukan poligami tanpa izin terjadi adalah karena faktor suami melakukan poligami tanpa izin isteri atau Pengadilan   Universitas Sumatera Utara   66 Agama dan melakukan manipulasi atau merekayasa statusnya, faktor wanita yang diperistri ternyata masih memiliki status perkawinan dengan orang lain, faktor perkawinan yang dilangsungkan tanpa wali atau wali yang tidak berhak dan perkawinan dilakukan dengan keterpaksaan.64 Hal ini ditunjukkan dari penelaahan pada kasus yang dipilih sebagai sampel diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya tuntutan pembatalan poligami tanpa izin yaitu putusan Pengadilan Agama Klas I-A Medan No. 260/Pdt.G/2004/PA.Medan (lihat Lampiran), di mana dalam hal ini pihak isteri mengajukan tuntutan pembatalan perkawinan adalah perkawinan poligami dilakukan tanpa izin baik izin isteri maupun izin pengadilan dan dalam perkawinan yang dilakukan pada tanggal 4 April 2002 di KUA Kecamatan Binjai Timur tersebut telah mempunyai seorang anak. Dari hasil penelaahan terhadap perkara tersebut kemudian Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas IA Medan, memutuskan membatalkan perkawinan yang dilakukan pada tanggal 4 April 2002 di KUA Kecamatan Binjai Timur karena Tergugat I melakukan pernikahan untuk kedua kalinya tanpa seizin dan sepengetahuannya dan juga pengadilan serta telah merekayasa status pribadinya sebagai jejaka. Hal ini selanjutnya juga diikuti, dengan dibatalkannya Kutipan Akta Nikah Nomor 113/06/IV/2006 Tanggal 4-3-2002 yang dikeluarkan KUA Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara.65                                                              64 65 Hasil Wawancara Hakim Pengadilan Negeri Medan, Juni 2010.   Putusan Pengadilan Agama Klas I-A Medan No. 260/Pdt.G/2004/ PA.Medan     Universitas Sumatera Utara   67 Hafifullah mengatakan bahwa dalam kasus tersebut pihak Tergugat I melakukan tanpa adanya izin dari isteri dan juga izin pengadilan. Bahkan ia telah memanipulasi statusnya yang mengaku jejaka padahal Tergugat I, padahal ia telah terikat perkawinan dengan isterinya (Penggugat) dengan Akta Nikah Nomor 292/1987 yang dikeluarkan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Labuhan Deli. Hal inilah yang menjadi Hukum Dalam Pembangunan, Alumni, Bandung. Lubis, M. Solly, 2007, Ilmu Negara, Mandar Maju, Bandung. Mansyur, Cholil, 1994, Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa, Usaha Nasional, Surabaya. Marzuki, Peter Mahmud, 2008, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta. Mertokusumo, Sudikno, 1998, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberti Yogyakarta. , 2002, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta. Muhammad, Abdulkadir, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung. Nasution, Khairuddin, 2002, Status Wanita di Asia Tenggara : Studi Terhadap Perundang-undangan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, Leiden:INIS, Jakarta. Nazaruddin, Amiur dan Azhari Akmal Tarigan, 2006, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih UU No 1/ 1974 sampai KHI, Kencana, Jakarta. Poerwadarminta, W J.S, 1994, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Rahardjo, Satjipto, 2009, Hukum Progresif Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta. Ramulyo, Mohd.Idris, 1966, Hukum Perkawinan Islam : Suatu Analisis dari Undang-Undang No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam,Bumi Aksara, Jakarta. 201 Ritonga, Iskandar, 1999, Hak-hak Wanita dalam Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, Nuansa Madani, Jakarta. Rodliyah, Nunung, 2013, Pencatatan Pernikahan dan Akta Nikah Sebagai Legalitas Pernikahan Menurut Kompilasi Hukum Islam, Pranata Hukum, Bandar Lampung. Samudra, Teguh, 1992, Hukum Pembuktian Dalam Acara Perdata, Alumni, Bandung. Sasangka, Hari, 2005, Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata untuk Mahasiswa dan Praktisi, Mandar Maju, Bandung. Shihab, M.Quraish, 2004, Tafsir al-Misbah, Lentera Hati, Jakarta. , 1996, Wawasan Al-Quran, Mizan, Bandung. Sopyan, Yayan, 2012, Islam Negara Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum Nasional, RMBooks, Jakarta. Subekti, 1997, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta. Syarifuddin, Amir, 2008, Hukum Kewarisan Islam, Kencana Prenada Media, Jakarta. , 2007, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Kencana, Jakarta. Syarin, Pipin, 1999, Pengantar Ilmu Hukum, CV Pustaka Setia, Bandung. Thalib, Sayuti, 1986, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Vita, Naurina, 2010, Analisis Data, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta. Yunus, Mahmud, 1973, Kamus Arab Indonesia, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Pentafsiran Al-Qur’an, Jakarta. Zein, Satria Effendi M., 2004, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer (Analisis Yurisprudensi dengan pendekatan Ushuliyah), Prenada Media, Jakarta. 202 B. Jurnal Abdullah, A. Ghani (1995) “Tinjauan Hukum Terhadap Perkawinan di Bawah Tangan”,Mimbar Hukum Nomor 23. Alam, Andi Samsu, (2009) “Beberapa permasalahan Hukum di Lingkungan Uldilag”, Jurnal Mahkamah Agung RI, h.7. Basith, Abdil Baril, Pihak-Pihak dalam Permohonan Pengesahan Nikah, Pengadilan Agama Muara Labuh. Hasan, Damsyi, (2006), “Permasalah Isbat Nikah (Kajian terhadap pasal 2 UU. No. 1 tahun 1974 dan pasal 7 KHI)”, Artikel dalam Mimbar Hukum Edisi 31. Hassan, Muhammad Kamal, (1987) Muslim Intelectual Responses to“New Order” Modernization in Indonesia, diterjemahkan oleh Ahmadie Thaha, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim , Lingkaran Studi Indonesia Jakarta. Hendra Umar, (2012), “Akta Nikah Sebagai Alat Bukti Peristiwa Nikah(Tinjauan Hukum Pembuktian)”, Artikel Penghulu KUA Kecamatan Banggai Khaerudin, (2013), Itsbat Nikah dan Akibat Hukumnya, Jurnal Pengadilan Agama Kelas I-A Medan. Muhammad, Rosmawardi, (2012), “Itsbat Nikah di Pengadilan Agama”, Makalah Capita Selecta Hukum Islam, Medan. Muchsin, (2008), “Problematika Perkawinan Tidak Tercatat Dalam Pandangan Hukum Islam dan Hukum Positif”, Materi Rakernas Perdata Agama Mahkamah Agung RI, Jakarta. Nasrudin, Enas, (1997), Ihwal Isbat Nikah, Jurnal Yayasan Al-Hikmah Jakarta. Setiyowati,Wahyuni, (1997), “Hukum Perdata I (Hukum Keluarga)”, Jurnal F.H. Universitas 17 Agustus (UNTAG), Semarang, h.28. C. Internet Aam Hamidah, Menakar Yuriditas Sidang Itsbat di Luar Negeri, www.badilag.net. (diakses tanggal 5 Januari 2015). Abdullah Gofar, Itsbath Nikah Upaya Pencatatan Perkawinan Melalui Pengadilan Agama, http://eprints.unsri.ac.id/3791/, (diakses tanggal 28 Maret 2015). 203 Artikel Dinamika Konsep Negara Kesejahteraan Indonesia Dalam UndangUndang Dasar 1945, Muhammad Tavip, hukum.ub.ac.id/wpcontent/uploads/2013/04/Jurnal-Tavip.docx, (diakses tanggal 3 Desember 2014). Artikel Urgensi Pencatatan Perkawinan Dalam Prespektif Filsafat Hukum, http://badilag.net/data/ARTIKEL/URGENSI%20PENCATATAN%20PER KAWINAN%20DALAM%20PERSPEKTIF%20FILSAFAT%20HUKUM .pdf (diakses tanggal 23 Desember 2014). Banyak Sebab Perkawinan Tidak Dicatatkan, www.hukumonline.com.htm (diakses tanggal 24 Januari 2015). Buku II Mahkamah Agung Tentang Pedoman Pelaksana Tugas dan Administrasi Peradilan Agama, http://www.academia.edu/6250319/Buku_II_Bindalmin (diakses tanggal 29 Maret 2015). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17940/5/Abstract.pdf (diakses tanggal 27 Oktober 2014). Itsbat Nikah Masih Menjadi Masalah, http://www. hukumonline.com / berita /baca/ hol17737/itsbat-nikah-masih-jadi-masalah, (diakses tanggal 23 Desember 2014). Itsbat Nikah Merupakan Salah Satu Kewenangan Pengadilan Agama http://library.upnvj.ac.id/pdf/s1hukum08/204711001/bab4.pdf (diakses tanggal 29 Maret 2015). Kapan dan bagaimana hakim melakukan penemuan hukum, http: //www.hukumonline.com/ klinik/ detail/ lt4f0aa8449485b /kapan –dan – bagaiman -hakim melakukan-penemuan-hukum? (diakses tanggal 7 Februari 2015). Mahar dan Adab Pernikahan dalam Islam,http://www.indonesianschool.org, (diakses tanggal 22 Februari 2015). Masrum M.Noor, Itsbat Nikah Bagi Warga Negara Indonesia di Luar Negeri,http://www.pa-magelang.go.id, (diakses tanggal 5 Maret 2015). Masrum M. Noor, Penetapan Pengesahan Perkawinan, http://www.pa- jakartapusat.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=389: penetapan-pengesahan -perkawinan-itsbat-nikah-bagi-warga-negara- indonesia-di-luar-negeri&catid=1:arsip-berita&Itemid=1 (diakses tanggal 29 Maret 2015). 204 Mengapa Perkawinan Harus Dicatat, http://kuajalaksana.net/index.php/arsipberita/49-kepenghuluan/18-kenapa pernikahan -harus-dicatat (diakses tanggal 29 Maret 2015). Pencatatan Perkawinan Dalam Hukum Nasional dan Pergulatannya, http://www.nasihudin.com/pencatatan-perkawinan-dalam-sistem-hukumnasional-dan-pergulatannya/43 ( diakses tanggal 29 Maret 2015). Pengertian dan Definisi Makhluk Sosial Menurut Para Ahli http://carapedia.com/pengertian_definisi_mahluk_sosial_menurut_para_ah li_inf0html (diakses tanggal 4 Desember 2014). Penjelasan atas Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, http://www.lbh-apik.or.id/uu-perk_penjelasan.htm (diakses tanggal 7 Februari 2015). Perkawinan Tidak Dicatatkan dan Dampaknya Bagi Anak http://www.kpai.go.id/tinjauan/perkawinan-tidak-dicatatkan-dampaknyabagi-anak/ (diakses tanggal 2 Maret 2015). Prosedur Berperkara, http://www.pa-medan.net/ (diakses tanggal 29 Maret 2015). Prosedur Pengesahan Pernikahan Sirri, http://irmadevita.com/2013/prosedurpengesahan-pernikahan-siri/ (diakses tanggal 23 Desember 2014). StudiKepustakaan,http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33144/3/Chapt er%20II.pdf (diakses tanggal 14 Januari 2015). Thamrin Dahlan, m.kompasiana.com/post/read/467933/3/sila-pertama-pancasilasebagai-fondamen-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara.html(diakses tanggal 3 Desember 2014). Wahyu Ernaningsih, Pentingnya Pencatatan Perkawinan Menurut UndangUndang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, http://eprints.unsri.ac.id/2175/, (diakses tanggal 29 Maret 2015). Yusna Zaidah, Itsbat Nikah dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam Hubungannya dengan Kewenangan Peradilan Agama, http://download.portalgaruda.org/article.php?article=183235&val=6345&t itle=ISBAT%20NIKAH%20DALAM%20PERSPEKTIF%20KOMPILAS I%20HUKUM%20ISLAM%20HUBUNGANNYA%20DENGAN%20KE WENANGAN%20PERADILAN%20AGAMA (diakses tanggal 15 Maret 2015). 205 D.Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 j.o Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 j.o Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 j.o.Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 j.o. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelayanan dan Pemeriksaan Perkara Voluntair Itsbat Nikah Dalam Pelayanan Terpadu. Kompilasi Hukum Islam.
Itsbat Nikah Dan Kaitannya Dengan Status Anak Yang Lahir Sebelum Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas IA Medan)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Itsbat Nikah Dan Kaitannya Dengan Status Anak Yang Lahir Sebelum Perkawinan Disahkan (Studi Pada Pengadilan Agama Klas IA Medan)

Gratis