Feedback

Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien

Informasi dokumen
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA DOKTER YANG MELAKUKAN EUTHANASIA TERHADAP PASIEN SKRIPSI Diajukan guna melengkapi Tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh : HERDHENY SARI MANIK NIM : 040200197 DEPARTEMEN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan yang tiada henti-hentinya akan kehadhirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kesempatan penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Shalawat dan salam tak lupa penulis panjatkan kepada junjungan nabi muhammad saw yang telah memberikan jalan dan menuntun umatnya dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang yang disinari oleh nur iman dan Islam. Skripsi ini berjudul: Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien, yang diajukan untuk melengkapi tugas dan syarat menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas Hukum, Bagian Hukum Pidana, Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa di dalam pelaksanaan pendidikan ini banyak mengalami kesulitan-kesulitan dan hambatan, namun berkat bimbingan, arahan, serta petunjuk dari dosen pembimbing, maka penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya suatu masukan serta saran yang bersifat membangun di masa yang akan datang. Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Universitas Sumatera Utara 1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H, Sp. A(K), sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M. Hum sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Hukum USU. 4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Hukum USU. 5. Bapak Muhammad Husni, SH, M. Hum sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Hukum USU. 6. Bapak Abul Khair, SH, M. Hum sebagai Ketua Jurusan Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 7. Ibu Nurmalawaty, SH, M.Hum sebagai Dosen Pembimbing I, terima kasih atas bimbingan dan dukungan bapak ini kepada penulis. 8. Dra.Marlina, SH, M.Hum sebagai Dosen Pembimbing II, terima kasih atas bimbingan dan dukungan bapak ini kepada penulis. 9. Ibu Afnila, SH, M.Hum sebagai Dosen Penasehat Akademik selama penulis menjalani perkuliahan di Fakultas Hukum USU. 10. Seluruh staf Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum USU 11. Seluruh Bapak dan Ibu Staf Pengajar Fakultas Hukum USU 12. Ayahanda Junaidi Sari Manik dan Nurmi Butar-Butar,S.Pd, yang tercinta, sembah sujud ananda haturkan atas curahan dan belaian kasih sayang yang tulus dan dengan susah payah dan segala upaya telah membesarkan dan mendidik ananda hingga ananda dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi, serta Universitas Sumatera Utara seluruh keluarga besar yang memberikan dorongan semangat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan hingga selesai skripsi ini. 13. Adinda Nurwinda Sari Manik, terima kasih atas dukungannya. 14. Buat seseorang yang kusayangi Almh.Yessie Karlina Nst. Yang selalu mendukung disaat perkuliahan dan memberikan motivasi yang besar, Semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya. 15. Buat teman-temanku Dedy Nst cool, Nofan Jablay anak Pak Affan, Ilmi Negro, Sandi, dan juga teman-teman lain yang tidak bisa di sebutkn satu persatu, kalian akan selalu dihatiku. 16. Buat semua pihak yang telah berpartisipasi atas penulisan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Demikianlah yang penulis dapat sampaikan, atas segala kesalahan dan kekurangannya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih. Medan, 14 Maret 2010 Hardheny Sari Manik Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI . ii ABSTRAKSI . iii BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang Masalah . 1 B. Permasalahan . 6 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 7 D. Keaslian Penulisan . 8 E. Tinjaun Pustaka 9 F. Metode Penelitian 14 1. Pendekatan Penelitian 14 2. Alat Pengumpul Data . 14 3. Analisa Data . 14 G. Sistematika Penulisan 16 BAB II TANGGUNG JAWAB DOKTER YANG MELAKUKAN EUTHANASIA . 18 A. Tanggung Jawab Dokter Menurut Profesi Medis 18 B. Tanggung Jawab Dokter Yang Menurut KUHPidana . 24 BAB III PERLINDUNGAN TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN EUTHANASIA . 30 A. Perbuatan euthanasia yang dapat dilindungi . 30 B. Perlindungan Hukum 46 Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 53 A. Kesimpulan . 53 B. Saran . 56 DAFTAR PUSTAKA . 58 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Dokter melakukan euthanasia setelah adanya permintaan yang sungguh-sungguh dari pasien atau keluarganya. Memang bisa terjadi seseorang meminta kepada dokter agar dicabut nyawanya, misalnya karena faktor frustasi atau kegagalan hidup yang dialaminya, ataupun karena kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Namun, apabila dokter mengabulkan permintaan tersebut la telah melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia dan juga lafal Sumpah Dokter dan perbuatan tersebut dapat di golongkan kepadanya pembunuhan. Bahwa euthanasia perlindungan oleh hukum karena:Negara diperlukan Indonesia dokter adalah melakukan negara yang berdasarkan atas Hukum (rechtstaat) dan bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat).Sifat dan hakekat dari pada euthanasia tidaklah secara mutlak universal merupakan delik yang harus dihukum. Bahwa pengaturan Pasal 344 KUHPidana mengenai euthanasia mempunyai kelemahan antara lain: Adanya unsur: atas permintaan orang itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati, yang mempersulit pembuktian dan penuntutan.Pasal 344 KUHPidana adalah mengenai euthanasiu aktif, sedangkan mengenai euthanasia pasif tidak ada di atur Undang-undang.Delik euthanasia adalah delik biasa, dan bukan delik aduan, sehingga dituntut keuletan dan ketajaman aparat penyelidik dan penyidik untuk mengungkapkan apakah sesuatu perbuatan euthanasia telah dilakukan. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perputaran zaman dari masa kemasa membawa kehidupan masyarakat selalu berubah, berkembang menurut keadaan, tempat dan waktu. Oleh karena itu timbullah bermacam corak dan aneka ragam perbuatan kehidupan masyarakat, sehingga dapat saja timbul suatu perbuatan Undang-undang Hukum Pidana dilarang, karena dianggap tercela oleh pembentuk undang-undang.1 Dengan demikian semakin majunya zaman maka tentu saja pola fikir manusia juga semakin maju, dengan majunya teknologi yang dimi1iki tentu saja merupakan suatu kemajuan bagi masyarakat untuk mengenal berbagai kemajuan zaman. Dari hasil kemajuan zaman ini masyarakat tidak perlu lagi memikirkan kematian dirinya sendiri. Manusia sudah menempuh kematian tanpa melakukan penyiksaan terhadap dirinya. Apabila seseorang tidak dapat lagi menahan penderitaannya karena sakit maka dengan kemajuan peralatan kedokteran ia dapat meminta kepada dokter untuk menghilangkan jiwanya. 1 Abdoel Djamali, Pengantar Hukurn Indonesia, PT, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 21 Universitas Sumatera Utara Permintaan untuk menghilangkan jiwa tersebut Ilmu Hukum Pidana dikenal dengan perbuatan euthanasia. Di mana euthanasia ini secara jelas di atur Pasal 344 KUHPidana: “Barang siapa merampas nyawa orang lain atas perrnintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. Ketentuan Pasal 344 KUHPidana ini merupakan suatu perbuatan yang menghilangkan jiwa orang lain yang harus dikenakan hukuman, untuk seorang dokter harus lebih berhati-hati untuk melakukan euthanasia tersebut. Adanya permintaan dari pasien untuk menghilangkan jiwanya maka dokter perlu dilindungi demi menjaga nama baik seorang dokter, di mana menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari seorang dokter terikat dengan sumpah jabatan dan kode etik yang digariskan kepadanya. Peneliti berkeyakinan bahwa euthanasia bukan tidak pernah terjadi di Indonesia terutama apabila si pasien tidak mungkin lagi disembuhkan atau pengobatannya diberikan tidak berpotensi lagi. Kasus euthanasia ini dianggap tidak pernah terungkap. Euthanasia sekarang di sebut dengan Mercy Killing (mati otak) KUHPidana di atur Pasal 344. Adanya unsur permintaan orang itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati, mengakibatkan sulitnya pembuktian penuntutan bahwa Universitas Sumatera Utara seorang dokter itu telah melakukan euthanasia, terlebih bila si pasien telah berada dalam keadaan incompetent (tidak mampu berkomunikasi) menyatakan kehendaknya, menolak atau menyetujui jiwanya dihilangkan, serta keadaan In a Persistent Vegetative State (mati tidak hidup pun tidak), bagaimana mungkin untuk membuktikan adanya permintaan orang itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati.2 Apabila kita memandang dari segi pandangan agama kematian itu bukanlah merupakan kehendak manusia akan tetapi dapat dinyatakan bahwa kematian itu sudah merupakan suatu kewajiban bagi orang yang hidup dan semua manusia yang hidup pasti akan menuju kematian. Adapun alasan-alasan dan faktor-faktor yang menyebabkan dokter melakukan euthanasia adalah sebagai berikut: 1. Adanya penyakit yang diderita pasien yang menurut dokter tidak dapat lagi di sembuhkan dan di mana si penderita atau keluarganya harus mengeluarkan biaya pengobatan yang besar dengan sia-sia saja. 2. Adanya rasa frustasi atau kegagalan hidup dari si pasien, sehingga si pasien tidak lagi ingin untuk hidup.3 2 3 Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1987, hal. 19 Ibid. Universitas Sumatera Utara Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat tentang jenis ataupun bentuk euthanasia, seperti halnya: 1. Vrijwillige euthanasia yang maksudnya euthanasia yang dilaksanakan dengan adanya permintaan yang nyata dan sungguhsungguh dari si pasien. 2. Onvrijwillige euthanasia yang maksudnya tidak adanya pennintaan yang nyata dan sungguh-sungguh dari si pasien. 3. Passieve euthanasia yang maksudnya hal ini tidak atau tidak lagi digunakan alat alat ataupun perbuatan yang dapat memperpanjang hidup si pasien. 4. Active euthanasia yang maksudnya itu menggunakan alat-alat ataupun perbuatan yang memperpendek hidup si pasien.4 Dr. H. Akbar mengemukakan, Euthanasia aktif dan euthanasia pasif, penderita gawat dan darurat dirawat di rumah sakit atau dibagian rumah sakit gawat darurat dengan peralatan yang majemuk untuk menolong jantung, pernapasan dan cairan tubuh, sehingga alat-alat tubuh itu dapat berfungsi dengan baik.5 Euthanasia aktif dilakukan dengan menghentikan segala alat-alat pembantu ini, sehingga jantung dan pernafasan tidak dapat bekerja dan akan berhenti berfungsi, atau memberikan obat penenang dengan dosis yang melebihi, yang juga akan menghentikan fungsi jantung. Euthanasia pasif di lakukan bila penderita gawat darurat tidak diberi obat sama sekali. 4 Soerjono Soekanto, “Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 47 5 Ibid. hal., 45 Universitas Sumatera Utara Dari uraian-uraian tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa euthanasia aktif maupun euthanasia pasif adalah merupakan pembunuhan secara langsung. Dr. R. Soeprono membagi euthanasia empat bentuk yaitu: 1. Euthanasia sukarela (Voluntary euthanasia) pasien meminta, membei izin/persetujuan untuk menghentikan atau meniadakan perawatan yang memperpanjang hidup. 2. Euthanasia terpaksa (Invulunturv eulfzunusiu) membiarkan pasien mati tanpa 3. sepengetahuan si pasien sebelumnya dengan cara menghentikan atau meniadakan perawatan yang memperpanjang hidup. 4. Mercy Killing sukarela (Volunturi Mercy Killing) dengan sepengetahuan dan 5. persetujuan pasien diambil tindakan yang menyebabkan kematian. 6. Mercy Killing terpaksa (Involunlari A1ercv Killing) tindakan sengaja di ambil tanpa sepengetahuan si pasien untuk mempercepat kematian. 6 Dengan demikian euthanasia mempunyai pengertian yang luas karena bukan hanya atas permintaan pasien saja, melainkan juga tanpa persetujuan pasien atau keluarga. Di Belanda, perumusan euthanasia dari Koniklijke Nederlanclche Matschuppij Geneeskunst (KNNG) lebih memandang euthanasia tersebut dari kepentingan si pasien: tersebut bersifat aktif (caution). Dari tindakan yang aktif ini seorang pasien akan mati dengan tenang, misalnya dengan memberikan injeksi dengan obat yang menimbulkan kematian, obat penghilang rasa kesadaran dosis yang tinggi dan lain-lain. 6 Djoko Prakoso dan Djaman Andhi Nirwanto, Euthanasia Hak Azasi Manusia dan Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 54 Universitas Sumatera Utara Antara jenis euthanasia yang pertama dengan yang ketiga ini, sama-sama didasarkan atas permintaan pasien atau keluarganya kepada dokter. Hanya saja pada jenis pertama dokter bersifat pasif, sedang pada jenis yang ketiga dokter lebih bersifat aktif bertindak untuk mempercepat terjadinya kematian. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa dokter yang melakukan euthanasia tersebut perlu dilindungi mengingat profesinya sebagai dokter, dan perlindungan tersebut adalah perlindungan yang bersangkut paut dengan hukum. Berdasarkan paparan tersebut di atas penelitian akan di beri judul: "PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA DOKTER YANG MELAKUKAN EUTHANASIA TERHADAP PASIEN". B. Permasalahan Dalam sebuah penelitian diperlukan adanya perumusan masalah yang akan dibahas. Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pertanggungjawaban terhadap dokter yang melakukan Euthanisa ? 2. Bagaimanakah perlindungan terhadap dokter yang melakukan euthanisa ? Universitas Sumatera Utara C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Dalam rangka penyusunan skripsi ini penulis mempunyai tujuan yang hendak dicapai, sehingga penulisan ini akan lebih terarah serta dapat mengenai sasarannya. Tujuan utama daripada penulisan skripsi ini adalah sebagai sarana untuk melengkapi tugas akhir dan syarat untuk memperoleh gelar sarjana “Sarjana Hukum” dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Selain itu, adapun tujuan lain daripada penulisan ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana pertanggungjawaban dokter yang melakukan melakukan euthanasia dan sampai di mana tanggung jawab dokter yang melakukan euthanisa. 2. Untuk mengetahui apakah dokter yang melakukan euthanasia tersebut dapat (perlu dilindungi) dan perlindungan yang bagaimana dapat digunakan. Selain tujuan daripada penulisan skripsi ini, perlu pula diketahui bersama bahwa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Secara teoritis Skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan yang cukup berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara umum, dan ilmu hukum pada khususnya, dan lebih khususnya lagi adalah di bidang hukum pidana. Selain itu, skripsi ini diharapkan juga dapat Universitas Sumatera Utara memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat ketentuan di bidang hukum pidana. 2. Secara praktis Melalui penulisan skripsi ini, diharapkan dapat memberikan masukan dan pemahaman yang lebih mendalam bagi aparat penegak hukum dan masyarakat sehingga akan lebih mengetahui apa saja yang menyebabkan dokter melakukan euthanasia. Serta dapat mengetahui sampai di mana tanggung jawab dokter yang melakukan euthanasia tersebut menurut KUHPidana, serta apakah dokter yang melakukan euthanasia tersebut dapat atau perlu dilindungi. D. Keaslian Penulisan Tulisan yang berjudul Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien merupakan hasil dari penelitian penulis. Penulis telah melakukan penelusuran di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dan tidak ada skripsi mahasiswa yang menulis tentang judul tulisan ini. Karena para mahasiswa belum ada yang menulis, maka tulisan ini asli dari buah pikiran penulis. Jika dikemudian hari telah nyata ada skripsi yang sama dengan skripsi ini, sebelum skripsi ini dibuat, maka saya akan bertanggung jawab sepenuhnya. Universitas Sumatera Utara E. Tinjauan Pustaka Euthanasia secara singkat dapat diartikan mati dengan tenang tanpa suatu penderitaan. 7Menyinggung masalah kematian, menurut cara terjadinya maka ilmu pengetahuan membedakannya tiga jenis kematian, yaitu: a. Orthothunasia, yaitu kematian yang terjadi karena suatu proses alamiah. b. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar. c. Euthanasia, yaitu suatu yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan.8 Kematian yang ketiga yaitu Euthanasia, mulai menarik perhatian dan mendapat sorotan dunia lebih-lebih setelah dilangsungkannya konfrensi hukum sedunia, yang diselenggarakan oleh World Pace Thorough Law Center di Manila (Pilipina) tanggal 22 dan 23 Agustus 1977.9 1. Pengertian Euthanasia Secara Agama Dilihat dari segi agama, baik Islam, Kristen, Katholik dan sebagainya, maka euthanasia merupakan perbuatan yang di larang, sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi perbuatan-perbuatan yang 7 Parlaungan Ritonga, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Bartong Jaya, Medan, 2006. hal. 27 8 Ibid. 9 Ibid. Universitas Sumatera Utara menjurus kepada tindakan penghentian hidup merupakan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, oleh karenanya diangkat kembali. Anggaran dasar mengatur tata cara pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian dewan komisaris, serta dapat juga mengatur tentang pencalonan anggota dewan komisaris. Keputusan RUPS mengenai pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris juga menetapkan saat mulai berlakunya pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian tersebut. Namun, jika RUPS tidak menentukan saat mulai berlakunya pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris, pengangkatan, penggantian dan pemberhentian mulai berlaku sejak ditutupnya RUPS.55 Jika terjadi pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris, direksi wajib memberitahukan perubahan tersebut kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS tersebut. Jika pemberitahuan belum dilakukan, menteri menolak setiap pemberitahuan tentang perubahan susunan dewan komisaris selanjutnya yang disampaikan kepada menteri oleh direksi.56 Pemberhentian dewan komisaris diatur dalam Pasal 119 Undang-Undang No 40 Tahun 2007. Hubungan direksi dan dewan komisaris dengan perseroan bukan merupakan hubungan kepegawaian biasa, karena pengangkatan direksi dan komisaris dilakukan melalui mekanisme RUPS, maka yang berhak 55 Pasal 111 Undang-Undang No 40 Tahun 2007. 56 Ibid, hlm. 88. Universitas Sumatera Utara memberhentikan dewan komisaris adalah RUPS. Pemberhentian dewan komisaris dilakukan dengan menyebutkan alasan pemberhentian dan sesuai dengan prosedur pemberhentian dewan komisaris yang diatur dalam undang-undang. Jika prosedur tersebut tidak diikuti, pemberhentian batal demi hukum. Jika alasan pemberhentian tidak diterima oleh yang bersangkutan, pemberhentian tersebut tetap sah. Dewan komisaris dapat menggugat RUPS atas pemberhentian mereka.57 Tanggung jawab Dewan Komisaris berdasarkan Pasal 114 UUPT adalah bertanggung jawab atas pengawasan perseroan dan setiap anggota Dewan Komisaris wajib dengan iktikad baik, kehati-hatian dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan apabila yang bersangkutan salah atau lalai menjalankan tugasnya. Dalam hal Dewan Komisaris terdiri atas dua anggota Dewan Komisaris atau lebih, tanggung jawab sebagaimana dimaksud berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris. Namun, anggota Dewan Komisaris tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian apabila dapat membuktikan:58 1. Telah melakukan pengawasan dengan iktikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan; 2. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian; dan 57 Pasal 119 Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007. 58 Pasal 114 Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007. Universitas Sumatera Utara 3. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut. Atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat anggota Dewan Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan ke pengadilan negeri. Berdasarkan Pasal 115 UUPT, dalam hal terjadi kepailitan karena kesalahan atau kelalaian Dewan Komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh direksi dan kekayaan perseroan tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban perseroan akibat kepailitan tersebut maka setiap anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan anggota direksi atas kewajiban yang belum dilunasi.59 B. Direksi PerseroanTerbatas Direksi atau disebut juga sebagai pengurus perseroan adalah alat perlengkapan perseroan yang melakukan semua kegiatan perseroan dan mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. dengan demikian, ruang lingkup tugas direksi ialah mengurus perseroan.60 Menurut teori organisme dari Otto von gierke sebagaimana yang dikutip oleh Suyling, pengurus adalah organ atau alat perlengkapan dari badan hukum. Seperti halnya manusia yang mempunyai organ-organ tubuh misalnya, kaki, tangan, dan lain sebagainya itu geraknya diperintah oleh otak manusia, demikian 59 Ibid. hlm. 116. 60 Agus Budiarto, Op. cit. hlm. 61. Universitas Sumatera Utara pula gerak dari badan organ badan hukum diperintah oleh badan hukum itu sendiri, sehingga pengurus adalah merupakan personifikasi dari badan hukum itu.61 Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat, atau perseroan terbuka wajib mempunyai paling sedikit dua orang anggota direksi. Dalam hal direksi terdiri atas dua anggota direksi atau lebih, pembagian tugas dan wewenang pengurusan diantara anggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS. Namun, bila keputusan RUPS tidak mengaturnya maka pembagian tugas dan wewenang agggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan direksi.62 Pasal 92 ayat (1) undang-undang Perseroan Terbatas mengatakan bahwa Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Ketentuan ini merupakan penyempurnaan rumusan Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 85 ayat (1) undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas. Menurut Pasal 92 ayat (1) jo Pasal 1 ayat (5) undang-undang Perseroan Terbatas dapat diketahui bahwa tugas, wewenang dan tanggung jawab direksi adalah mengurus perseroan (beheer van daden), antara lain pengurusan sehari-hari perseroan. Kata “pengurusan sehari-hari perseroan” ini sejalan dengan pandangan para ahli di bidang hukum bisnis yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan pengurusan atau dalam Bahasa Belanda disebut dengan istilah “beheer 61 Ibid. 62 Handri Raharjo, Op. cit. hlm. 101. Universitas Sumatera Utara van daden” adalah tiap-tiap perbuatan yang perlu atau termasuk golongan perbuatan yang biasa dilakukan untuk mengurus atau memelihara Perserikatan Perdata.63 Berdasarkan Pasal 93 UUPT, yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu lima tahun sebelum pengangkatannya pernah: 64 1. Dinyatakan pailit; 2. Menjadi anggota direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau 3. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan Negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan Ketentuan persyaratan pihak yang dapat diangkat menjadi anggota direksi tersebut diatas tidak mengurangi kemungkinan instansi teknis yang berwenang menetapkan persyaratan tambahan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Misalnya untuk anggota direksi perseroan terbatas yang bergerak dibidang perbankan, secara lebih rinci diatur dalam ketentuan Bank Indonesia, tetapi tidak terbatas pada fit and proper test yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Perseroan wajib menyimpan pemenuhan persyaratan yang telah dipenuhi oleh anggota direksi tersebut secara rinci.65 63 Nindyo Pramono, Tanggung Jawab Dan Kewajiban Pengurusan Pt (Bank) Menurut Uu N0 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, Buletin Hukum Perbankan Dan Kebanksentralan Volume 5 Nomor 3, Desember 2007, hlm. 15. 64 Pasal 93 Undang-Undang Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007. 65 Try Widiyono, Direksi Perseroan Terbatas Keberadaan, Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab,(Jakarta :Ghalia Indonesia, 2008), hlm.73. Universitas Sumatera Utara Pengangkatan anggota direksi yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut di atas batal karena hukum sejak saat anggota direksi lainnya atau dewan komisaris mengetahui tidak terpenuhinya persyaratan tersebut. Dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diketahui, anggota direksi lainnya atau dewan komisaris harus mengumumkan batalnya pengangkatan anggota direksi yang bersangkutan dalam surat kabar dan memberitahukannya kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan.66 Dalam pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota direksi, direksi wajib memberitahukan perubahan anggota direksi kepada menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS tersebut. Jika pemberitahuan belum dilakukan, Menteri menolak setiap permohonan yang diajukan atau pemberitahuan yang disampaikan kepada menteri oleh direksi yang belum tercatat dalam daftar perseroan. Pemberitahuan ini tidak termasuk pemberitahuan yang disampaikan oleh direksi baru atas pengangkatan dirinya sendiri.67 Untuk perbuatan hukum yang telah dilakukan untuk dan atas nama perseroan oleh anggota direksi sebelum Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari uraian materi dan pembahasan masalah yang sudah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan : 1. Dokter muda (dokter koas) adalah calon dokter profesional atau calon tenaga kesehatan profesional yang sedang dididik untuk menjdai seorang dokter profesional yang selama waktu pelatihan di rumah sakit mereka diperbantukan menjadi asisten dokter, harus memegang teguh pedoman tahap profesi dokter yang menjadi koridor tindakan mereka selama pelatihan. Sebagai dokter muda mereka diberikan kewenangan untuk melakukan tindakan medis layaknya dokter namun dengan pengawasan dan kontrol dari dokter pembimbing. Dokter muda bertindak atas perintah dan sepengetahuan dokter pembimbing, karena secara perdata dokter muda berposisi sebagai bawahan dokter pembimbing. Sehingga menurut pasal 1367 KUHPerdata, jika terjadi wanprestasi ataupun onrechtsmatigdaad dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter muda maka yang bertanggung jawab untuk itu adalah dokter pembimbing selama dapat dibuktikan bahwa dokter muda melakukan segala tindakan medis dalam pengawasan, atas perintah dan sepengetahuan dari dokter pembimbing. Universitas Sumatera Utara 2. Rumah sakit dengan salah satu fungsi nya sebagai tempat pelatihan tenaga medis/paramedis bertanggung jawab atas keseluruhan mutu pelayanan kesehatan rumah sakit yang tetap harus melayani hak-hak pasien secara maksimal. Keberadaan dokter muda di rumah sakit tidak menjadi alasan menurunnya kualitas pelayanan kesehatan. Keberadaan dokter muda di rumah sakit adalah buah kerja sama antara rumah sakit dengan FK Universitas tempat dokter muda menjalani perkualiahan. Karena dalam buku pedoman tahap profesi dokter juga menentapkan bahwa dokter muda juga harus tunduk pada aturan rumah sakit, maka sekalipun hubungan hukum antara rumah sakit dengan dokter muda bukan hubungan yang berdasarkan hubungan kerja yang mendapat upah layaknya dokter profesional, hubungan hukum karena kerja sama dengan universitas juga mengakibatkan rumah sakit bertanggung jawab secara koorporasi terhadap tindakan medis yang dilakukan oleh dokter muda. Dokter pembimbing bagi dokter muda, yang melakukan praktek di rumah sakit pun turut bertanggung jawab atas tindakan medis yang dilakukan oleh dokter muda. Semua nya demi terjaganya hak-hak pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. B. Saran Adapun saran yang ingin disampaikan adalah : 1. Menyadari bahwa dokter muda adalah calon tenaga kesehatan atau lebih spesifik calon tenaga medis yang masih dalam tahp belajar, maka pengawasan terhadap tindakan medis yang dilakukan Universitas Sumatera Utara harusnya menjadi hal yang sangat penting untuk dikerjakan dengan serius. Undang-undang Kesehatan mempunyai mimpi untuk memelihara dan meningkatakan derajat kesehatan rakyat Indonseia setinggi-tingginya dan salah satu upaya yang terus dikerjakan adalah melaksnakan pengadaan adan pelatihan tenaga kesehatan. Dokter muda adalah potensi yang harus serius diperhatikan. Penegakkan disiplin pelaksnaan kode etik kedokteran menjadi poin yang harus terus ditinggkatkan dalam upaya pelayanan kesehatan yang lebih baik. Profesi dokter bukan lah ladang bisnis yang memerah pasien. Teladan yang tidak benar bagi dokter muda akan diregenarasikan pada dokter muda itu sendiri, sementara mimpi untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih baik digantungkan sangat tinggi. 2. Rumah sakit yang mengerjakan pelatihan bagi dokter muda harusnya menyadari bahwa dokter muda bukanlah dokter yang sudah profesional maka pengawasan terhadap dokter pembimbing oleh rumah sakit menjadi poin penting yang juga harus dikerjakan. Keberadaan dokter muda di rumah sakit jangan sampai menurunkan kualitas rumah sakit dalam pelayanan kesehatan. Mungkin perlu peraturan yang lebih tegas dari rumah sakit untuk mendisiplinkan dokter yang tidak mengerjakan bagiannya dengan benar. Karena kualitas pelayanan keseluruhan rumah sakit menjadi tanggung jawab rumah skit itu. Universitas Sumatera Utara 3. Khusus bagi masyarakat yang pada umumnya masih sangat awam dengan hukum dan kesehatan, perlu diadakan sosialisasi tentang Undang-undang Kesehatan Nomor 36 tahu 2009 untuk mereka bisa mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban nya sebagai konsumen kesehatan, sehingga jika terjadi pelanggaran atas hak mereka, ada upaya hukum yang dapat dilakukan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU Achadiat, Chrisdiono. 1996. Pernik-Pernik Hukum Kedokteran, Melindungi Pasien dan Dokter. Jakarta : Widya Medika. Achadiat, Chrisdiono. 2004. Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran dalam Tantangan Zaman. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Agustina, Rosa. 2012. Hukum Perikatan (Law of Obligation). Denpasar : Pustaka Larasan. Amir, Amri. 1997. Bunga Rampai Hukum Kesehatan. Jakarta : Widya Medika. Kansil, CST. 1991. Pengantar Hukum Kesehatan. Jakarta : PT. Melton Puta. Kerbala, Husein. 1993. Segi–Segi Etik dan Yuridis Informed Consent. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Koeswaji, Hermien Hadiati. 1983. Hukum dan Masalah Medik. Surabaya : Airlangga University Press. Koeswadji, Hermien Hadiati. 1998. Hukum Kedokteran (study tentang hubungan hukum dalam mana dokter sebagai salah satu pihak). Bandung : PT.Citra Aditya Bakti. Komalawati, Veronica. 1989. Hukum dan Etika dalam Praktek Dokter. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Universitas Sumatera Utara Leibo, Jef. 1986. Bunga Rampai Hukum dan Profesi Kedokteran dalam Masyarakat Indonesia. Yogyakarta : Liberty. Miru, Ahmadi. 2008. Hukum Perikatan, Penjelasan Makna Pasal 1233-1456 BW. Jakarta : Rajawali Pers. Mertokusumo, Sudikno. 2005. Mengenal Hukum suatu Pengantar. Yogyakarta : Liberty. Nasution, Bahder Johan. 2005. Hukum Kesehatan, Pertanggungjawaban Dokter. Jakarta : Rineke Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Ohoiwutun, Y. A. Triana. 2007. Bunga Rampai Hukum Kedokteran. Malang : Bayumedia Publishing. Praptianingsih, Sri. 2006. Kedudukan Hukum Perawat dan Upaya Pelayanan Medis. Jakarta : Rajawali Pers. Sidabalok, Janus. 2006. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Soekanto, Soerjono. 1983. Aspek Hukum dan Etika Kedokteran di Indonesia. Jakarta : Grafiti Pers. Soekanto, Soerjono. 2010. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta : Rajawali Pers. Universitas Sumatera Utara Soeparto, Pitono. 2001. Hukum di bidang Kesehatan. Surabaya : Airlangga University Press. Soebekti. 1995. Aneka Perjanjian. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti. Supriadi, Wila Chandawila. 2001. Hukum Kedokteran. Bandung : Mandar Maju. Tutik, Titik Triwulan. 2010. Perlindungan Hukum bagi Pasien. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher. Wiradharma, Danny.1996. hukum Kedokteran. Jakarta Barat : Bina Rupa Aksara. Buku Pedoman Tahap Profesi Dokter, Badan Koordinasi (BAKORDIK) Fakultas Kedokteran UNS-RSUD DR. Moerwardi 2013 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 585/Men.Kes/Per.IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik Nomor : Universitas Sumatera Utara Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medis Nomor : HK.00.06.6.5.1866 tentang Pedoman Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent) Kode Etik Kedokteran Indonesia 1983 INTERNET Muhammad Danial Donahue Prasko, Defenisi/ Pengertian Dokter, Hak dan Kewajiban Dokter, http://danialprasko.blogspot.com/2011/04/definisi- dokter.html, diakses pada tanggal 19 April 2013 Ryan Maulana, Pengertian Dokter http://yanbaud.blogspot.com/2012/09/pengertian-dokter.html, diakses pada tgl 19 April 2013 Nadya Meprista, Fenomena Berobat Gratis dan Dokter Koas http://nadyameprista.blogspot.com/2012/11/fenomena-berobat-gratis-dan-dokter- koas.html,diakses pada tgl 3 Juni 2013 Harian Sumut Pos, Dokter Hanya sekali selanjutnya Dokter Koas http://www.hariansumutpos.com/2012/06/36696/dokter-hanya-sekali-selanjutnya- dokter-koas#ixzz2V7f3ax58 diakses pada 18 Juni 2013 Radio Unisi, Dokter Muda Harus Jalani Koas secara Profesional, http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2455192_4262.html, diakses pada 8 Juli 2013 Universitas Sumatera Utara Harian Sumut Pos, Dirawat Koas Bayi Meninggal,http://www.hariansumutpos.com/2013/05/59377/dirawat-koas-bayimeninggal#axzz2YZgSkEVq, diakses pada 9 Juli 2013 http://id.wikipedia.org/wiki/Pasien, diakses pada tgl 6 Juni 2013 http://www.kamusbesar.com/6239/calon, diakses pada 5 Juli 2013 Drs. Amir Hamzah Pane ., Analisa Teoritis Kemungkinan Penerapan Daubert Standart Sebagai syarat Admisibilitas Keterangan Ahl Dalam Perkara Dugaan MALpraktek di Indonmesiai.,http://www.hukor.depkes.go.id/?art=52, diakses pada tgl 28 Juni 2013 Universitas Sumatera Utara
Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien Alat Pengumpul Data Analisa Data Keaslian Penulisan Sistematika Penulisan Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Pengertian Euthanasia Tinjauan Pustaka Perbuatan euthanasia PERLINDUNGAN TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN Perlindungan Hukum PERLINDUNGAN TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN Permasalahan Tujuan dan Manfaat Penulisan Tanggung Jawab Dokter Menurut Profesi Medis. Tanggung Jawab Dokter Yang Menurut KUHPidana
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien

Gratis