Perubahan Sistem Ie Dalam Kehidupan Keluarga Petani Di Jepang

Gratis

4
66
34
2 years ago
Preview
Full text

  

PERUBAHAN SISTEM IE DI DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

PETANI

‘’NOUMIN NO KAZOKU DE NO IE NO SEIDOU NO HENKA’’

KERTAS KARYA

  

Dikerjakan

O

L

E

H

  

0922030002

LALA KOMALA SARI

PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG D-III

FAKULTAS ILMU BUDAYA

  

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2012

  

PERUBAHAN SISTEM IE DI DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

PETANI

‘’NOUMIN NO KAZOKU DE NO IE NO SEIDOU NO HENKA’’

KERTAS KARYA

  Kertas karya ini diajukan kepada panitia ujian program pendidikan Non-Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat kelulusan Diploma III dalam bidang Bahasa Jepang.

  Dikerjakan OLEH

  

LALA KOMALA SARI

NIM : 092203002

Pembimbing, Pembaca, Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum Zulnaidi, SS, M.Hum

  

NIP. 19600919 198803 1 001 NIP. 19670807 200401 1 001

PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG D-III

FAKULTAS ILMU BUDAYA

  

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

  PENGESAHAN

  Diterima Oleh Panitia ujian program pendidikan Non – Gelar Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam bidang Studi Bahasa Jepang Pada : Tanggal : Hari : Program Diploma Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Dekan,

  Dr. Syahron Lubis, MA NIP. 19511013 197603 1 001

  Panitia Ujian : No. Nama

  Tanda Tangan 1. ( )

  Zulnaidi, SS. M.Hum 2.

  ( ) Drs. Eman Kusdiyana. M. Hum Disetujui oleh : Program Diploma Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan

  Program Studi DIII Bahasa Jepang Ketua Program Studi

  Zulnaidi, SS, M.Hum NIP. 19670807 200401 1 001

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan penyusunan kertas karya ini. Dimana kertas karya merupakan syarat dalam menyelesaikan pendidikan program studi D-III Bahasa Jepang dengan gelar Ahli Madya pada Universitas Sumatera Utara.

  Kertas karya yang saya susun berjudul ‘‘ Perubahan Sistem Ie Dalam Kehidupan Keluarga Petani Di Jepang ”.

  Dalam panyelesaian tugas akhir ini, saya telah berusaha semaksimal mungkin, namun saya menyadari akan keterbatasan baik dalam pengolahan data maupun dalam penyajiannya yang masih terdapat kekurangan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan kertas karya ini.Dan dalam menyusun kertas karya ini saya telah banyak mendapat bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, saya ucapkan terima kasih kepada : 1.

  Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Zulnaidi,S.S., M.Hum selaku Ketua Jurusan Program Studi DIII Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum selaku dosen pembimbing yang telah bersedia untuk meluangkan waktu dan fikirannya untuk membimbing dan memberikan petunjuk kepada penulis untuk menyelesaikan kertas karya ini.

  5. Bapak dan Ibu Dosen Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama menjadi mahasiswi di jurusan bahasa jepang.

  6. Kedua orang tua tercinta ayahanda M.Supriatna dan ibunda Sri Elyati yang senantiasa memberikan semangat, dukungan moril dan materi juga spiritual untuk meraih cita-cita yang setinggi -tingginya.

  7. Kakak,Adik dan Keponakan tersayang : Kak Cici,Kak Enin, Yoko, Bunga dan Alfira yang senantiasa mengingatkan, memberikan motivasi dan semangat, mendoakan, serta kasih sayang yang senantiasa diberikan. Love You All....

  8. Keluarga besar HINODE, khususnya stambuk 2009 : Momon, Epank, Riri Buu, Guys, Yunche, Nangche, Sai, Saru (arimau), Jejek (kala gondang), Ompong, Andre (lebam) dan semua teman-teman yang tidak mungkin disebutkan satu persatu namanya yang telah berjuang dalam suka maupun duka dan memberi spirit kepada penulis selama di kampus.

  9. Semua rekan-rekan HINODE Stambuk 2010 dan 2011, menyenangkan bisa menganal dan belajar bersama kalian.

  10. Best Friend : Chabem, Inok, King Kong, Bubboy, Bebboy, Boim yang telah memberikan dukungan dan menjadi penyemangat penulis dalam mengerjakan kertas karya ini. Love You yeeaah..

  11. Hanafi Siregar yang selalu mengingatkan dan juga memberikan perhatian juga kasih sayangnya kepada penulis untuk menyelesaikan

  Terima kasih banyak untuk semua bantuan dan dukungan yang telah di berikan, semoga kertas karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

  Medan, Juni 2012 Penulis,

LALA KOMALA SARI NIM.092203002

  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv

  

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

  1.1 Alasan Pemilihan Judul .......................................................................... 1

  1.2 Tujuan Penulisan .................................................................................... 2

  1.3 Batasan Masalah .................................................................................... 2

  1.4 Metode Penulisan ................................................................................... 2

  

BAB II GAMBARAN UMUM MENGENAI KELUARGA IE ........................ 3

  2.1 Konsep Ie .............................................................................................. 3

  2.2 Warisan Dan Hubungan Keluarga ......................................................... 7

  2.3 Hubungan Sosial Kekeluargaan ........................................................... 11

  BAB III PERUBAHAN SISTEM IE DALAM KEHIDUPAN KELUARGA PETANI............................................................................. 14

  3.1 Struktur Ie ............................................................................................ 14

  3.2 Hak Waris ............................................................................................ 15

  3.3 Hubungan Kekeluargaan ...................................................................... 17

  

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 21

  4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 21

  4.2 Saran ..................................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul Keluarga bukan sekedar hubungan antara anak dengan orang tua kandung.

  Hubungan keluarga terjalin meluas dan terbentuk secara selaras menjalin ikatan yang di lembagakan. Keluarga terbentuk menjadi dasar ikatan yang kuat pada masyarakat jepang. Ikatan keluarga mengakar di dalam struktur kehidupan keluarga petani di jepang. Pada awalnya, jalinan keluarga secara tradisional terbentuk pada keluarga petani. Sistem keluarga di Jepang merupakan sistem yang terbentuk secara fungsional. Sistem keluarga petani di Jepang yang terbentuk secara fungsional disebut juga ie.

  Ie adalah kebiasaan yang khas di Jepang dan berbeda dari arti kazoku

  dalam arti budaya pada masyarakat di Jepang. Ie merupakan kelompok yang menjalankan usaha dan kekayaan keluarga, yang dalam hal ini sebagai satuan dalam kehidupan di masyarakat yang ada karena keberadaannya yang sangat mempengaruhi hidup dan mati sebagai sarana untuk melangsungkan kehidupan yang akan datang secara berkesinambungan.

  Pada awalnya sistem ie berjalan dengan sebagaimana mestinya di dalam kehidupan keluarga petani. Tetapi, karena zaman semakin maju dan struktur kekeluargaan berubah, dan sikap-sikap keluarga juga melemah seperti pada kesadaran akan sistem ie. Selain melemahnya sistem ie, warisan dan hubungan kekeluargaan juga ikut melemah. Melemahnya kesadaran akan ie itu sebagian disebabkan oleh berlakunya land reform, yang membongkar dasar-dasar gengsi sekarang land reform tidak terdapat lagi pada generasi muda, sisa kesadaran akan status atau nilai-nilai yang berkaitan dengan tuan tanah,petani pemilik, dan petani penggarap. Melemahnya sistem ie, warisan dan hubungan kekeluargaan dengan tuan tanah, petani pemilik, dan petani penggarap. Anak muda juga tidak lagi dapat menerima pengorbanan semua kepentingan pribadi untuk kepentingan ie.

  Dengan alasan di atas pada kertas karya ini saya menulis perubahan sistem

  

ie dalam kehidupan keluarga petani di Jepang untuk memberikan sebuah

  pengetahuan bagi pembaca agar mengetahui bagaimana sistem kekeluargaan di Jepang.

1.2 Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan dari penulisan kertas karya ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui perubahan sistem ie dalam kehidupan keluarga petani di Jepang.

2. Untuk menambah wawasan mengenai perubahan sistem ie dalam kehidupan keluarga petani di Jepang.

1.3 Batasan Masalah

  Dalam kertas karya ini penulis hanya membahas mengenai perubahan struktur ie, hak warisan dan hubungan kekeluargaan dalam sistem ie. Penulis tidak membahas mengenai pemerintahan dan politik pada perubahan sistem ie dalam kehidupan keluarga petani di Jepang. Pada bab II penulis juga menjelaskan mengenai konsep ie,hak warisan dan hubungan sosial kekeluargaan.

1.4 Metode Penulisan

  Dalam kertas karya ini penulis menggunakan metode kepustakaan yaitu metode pengumpulan data atau informasi dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam kertas karya ini. Selanjutnya data di analisa dan di rangkum untuk kemudian di deskripsikan ke dalam bab dan sub bab dalam kertas karya ini.

  

BAB II

GAMBARAN UMUM MENGENAI KELUARGA IE

2.1 Konsep Ie

  Dalam tradisi masyarakat Jepang hubungan sosial tidak hanya di latar belakangi oleh nilai-nilai yang memperhitungkan untung dan rugi, melainkan diikat oleh sifat shinzoku teki (ikatan kekerabatan semu dalam kehidupan berkelompok). Hubungan ini tidak harus berdasarkan ikatan darah, tetapi lebih didasarkan pada kebersamaan menanggung kehidupan sehari-hari.

  Salah satu kelompok sosial yang mendasar dalam sistem keluarga yang ada di dalam masyarakat tradisional Jepang adalah ie. Sistem ie inilah yang mengatur kehidupan keluarga di Jepang. Ie dapat diartikan sebagai family dalam bahasa inggris, akan tetapi maknanya tidak sama dengan family baik secara budaya, ekonomi, ataupun sosial. Meskipun dalam ie sendiri terdapat bentuk keluarga pada umumnya (ayah, ibu, anak). Ie adalah tempat berkumpulnya anggota keluarga dan tempat mereka melaksanakan kehidupan sosial mereka bersama. Ie ada dalam masyarakat Jepang tradisional merupakan suatu wadah bagi masyarakat Jepang untuk menyelenggarakan kehidupan. Hubungan yang terjadi antara keluarga-keluarga Jepang di dasarkan pada adanya ikatan ie yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keluarga Jepang mempunyai struktur dan fungsi kekerabatan yang tidak bisa disamakan dengan konsep family yang ada di negara barat.

  Ikatan yang telah ada secara turun temurun itu akan diteruskan ke generasi diri setiap individu yang menjadi bagian ikatan ie akan semakin dalam rasa tanggung- jawab dan kesadarannya akan eksistensi ie. Berbeda dengan konsep family yang ada di dalam ie tidak sekedar hubungan darah saja.

  Terdapat dua faktor yang melahirkan sistem ie, yaitu kesatuan keluarga yang bersifat patrilinieal dan kesatuan shinzoku yang berpusat pada suami dan istri.

  

Shinzoku adalah hubungan kekerabatan yang terjadi dalam masyarakat Jepang

  antara ego dengan kerabat lainnya, baik bersifat ketsuzoku (hubungan darah yang sama) dan hubungan inzoku (hubungan darah yang terjadi antara ego dengan kerabat pasangannya).

  Ada 3 (tiga) karakteristik utama dalam sistem ie, yaitu : 1.

  Mempunyai harta warisan (kazan) sebagai harta kekayaan (zaisan).

  2. Menekankan pada pemujaan terhadap arwah leluhur yang merupakan pendahulu garis keturunan mereka.

  3. Menekankan eksistensi keturunan langsung dari generasi ke generasi yang memandang penting kemakmuran bersama.

  Sebagai warisan leluhur, ie mempunyai harta warisan (kazan) sebagai harta kekayaan (zaisan) yang harus dipertahankan dan di lestarikan keberadaannya, sebagai tanda hormat kepada para leluhur yang telah mewariskan

ie. Anggota-anggota ie melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur mereka.

  Selain itu, dalam ie juga penting menekankan eksistensi keturunan langsung yang mementingkan kemakmuran bersama, sehingga ie yang telah diwariskan itu dapat terus bertahan keberadaannya dan tercipta kehidupan bersama dalam ie tersebut.

  Sifat sistem ie pada keluarga Jepang tidak hanya didasarkan pada adanya kepercayaan yang terwujud dalam upacara penyembahan leluhur, faktor ekonomi, yaitu pekerjaan yang sama, hukum adat, moral yang didasari oleh ajaran konfusius,dan lain-lain. Ie dilandasi oleh adanya kerja sama dan dipimpin oleh seorang kachou.

  Sepintas sistem ie sama seperti sistem keluarga pada umumnya, terdiri dari orang tua (kakek-nenek), anak, istri serta cucu. Dalam sistem ie terdapat suatu ideologi sesuai pemikiran masyarakat Jepang. Seperti yang telah dijelaskan keluarga Jepang terlihat seperti keluarga pada umumnya, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan dalam hal ideologi keluarga tersebut. Keluarga dapat diartikan lebih dalam lagi.

  Ie dikatakan sebagai sesuatu yang khas yang terlihat sebagai seikatsu shuudan (kehidupan kelompok) atau seikatsu kejou doutai (kehidupan bersama).

  Di dalam ie walaupun bagian yang menjadi dasar penyatuannya adalah suami dan istri, untuk mempertahankan atau melestarikan ie itu orang-orang yang berpartisipasi dalam kehidupan ie. Walaupun tidak ada hubungan darah dengan anggota keluarga ie akan dianggap keluarga, dengan demikian yang menjadi anggota dalam ie tidak hanya orang-orang yang mempunyai ikatan hubungan darah. Syarat utama sebagai anggota ie adalah bekerja sama dengan mengelola usaha ie. Kazoku ishiki atau kesadaran keluarga dalam ie adalah seikatsu shuudan atau kesadaran kehidupan bersama dan kesadaran mempertahankan atau melestarikan ie sebagai kehidupan bersama.

  Ada 4 (empat) prinsip dasar yang sering di pakai untuk mengidentifikasikan dan menggolongkan orang-orang yang di anggap kerabat :

  1. Hubungan kerabat sedarah dihitung secara patrilineal (fukei seido) yang termasuk dalam fukei seido adalah kakek, nenek, anak laki-laki sulung beserta istrinya, cucu laki-laki beserta istrinya, dan lain-lain yang merupakan anggota kerabat langsung.

  2. Hubungan kerabat sedarah (ketsuzoku) kerabat keturunan sedarah beserta keluarganya seperti saudara kandung laki-laki dengan istrinya, kemanakan laki-laki dengan istrinya, dan lain-lain.

  3. Hubungan kerabat karena perkawinan (inzoku). Mereka yang menjadi anggota ie tidak mempunyai hubungan darah baik dari garis keturunan langsung maupun tidak langsung. Mereka ini adalah hokonin, yaitu pembantu atau pekerja yang sudah lama bekerja atau mengabdi pada ie.

  Mereka dapat diangkat menjadi anggota ie beserta dengan keluarganya secara turun temurun.

  4. Hubungan sekerabat fiktif seketurunan yang tidak ada hubungan darah langsung, misalnya mukoyoshi, menantu yang meneruskan nama keluarga istri, beserta keluarga yang diangkat menjadi anggota ie. Dalam sistem ie juga terdapat bentuk kekerabatan yang kompleks, yaitu dengan masuknya mukoyoshi maupun yoshi (anak laki-laki sebagai calon kachou).

  Diangkat dari anak laki-laki yang masih mempunyai hubungan darah dengan kachou ataupun di angkatnya hokonin menjadi anggota ie.

  Ie dapat terbentuk tidak berdasarkan ikatan perkawinan. Tetapi sebagai

  kelompok sosial yang menyelenggarakan kehidupan sosial dan ekonomi bersama

(seikatsu kyoudai) yang di wujudkan dalam kerja sama untuk mengelola usaha ie. mempertahankan ie sebagai kehidupan bersama. Dengan demikian sifat keanggotaan ie bukanlah hanya didasarkan pada ikatan hubungan darah. Syarat untuk menjadi anggota ie adalah kerja sama fungsional dalam berbagai bidang kehidupan ie. Oleh karena itu, kerabat yang tidak memiliki hubungan sedarah seperti pembantu bisa diangkat menjadi anggota ie.

2.2 Warisan Dan Hubungan Keluarga

  Sesuai dengan struktur patrinial keluarga dan garis kekuasaan, warisan adalah masalah pengganti kepala rumah tangga. Pada umumnya, anak tertua menggantikan kepala keluarga, tetapi kalau tidak ada anak laki-laki, maka suami anak perempuan (dikenal dengan nama mukoyooshi) dapat diserahi jabatan itu.

  Kepala rumah tangga yang menggantikan itu juga akan mengambil alih milik rumah tangga secara keseluruhan, atau sedikitnya memiliki prioritas dalam menentukan bagiannya. Bagian itu biasanya kecil, tetapi cukup untuk mendirikan cabang keluarga ( bunkee) sedang sisanya juga cukup untuk mempertahankan keluarga besarnya. Apabila anak-anak laki-laki yang lebih muda mendapat pekerjaan diluar pertanian, keluarganya akan memberikan bantuan awal untuk hidup selanjutnya, dan anak-anak perempuan mendapat emas kawin sebagai bagiannya dari milik keluarga, apabila menikah dan ikut dengan keluarga lain.

  Anak-anak perempuan tersebut kadang-kadang masih mendapat bantuan dari orang tuanya bahkan setelah menikah. Tetapi tak seorangpun diberi kekayaan terlalu besar sehingga masa depan keluarga besar ie yang asli akan terancam. Kadang-kadang keluarga besar tidak memberikan bantuan atau harta milik kepada anak-anak yang lebih muda, tetapi malah menerima bantuan dari mereka yang

  Sistem anak sulung sebagai pewaris (sistem primogenitur) sebagai ciri pokok ie dibentuk oleh tatanan sosial feodal. Sistem feodal menurut arti istilah itu secara ketat hanya ada di Eropa dan Jepang, dan sistem feodal di Jepang menumbuhkan sistem warisan yang sangat berlainan dengan di Cina dan India.

  Apabila di Cina dan India pembagian warisan bercirikan pembagian yang sama besar kepada semua keturunan dari garis lelaki, di Jepang sistem warisan primogenitur merata ke bawah dari kelas samurai sampai orang biasa. Pengaruh ini berlanjut sampai akhir zaman feodal, bahkan diperkuat oleh undang-undang warisan yang diberlakukan menjelang akhir abad ke-19. Dalam hal keluarga petani, ada banyak pengecualian dalam sistem warisan primogenitur, bahkan larangan dalam zaman tokugawa dalam pembagian pemilikan tidak dapat menghalangi pembentukan bunkee baru dengan lahan yang diberikan dari kekayaan keluarga besar. Ragam lain tentang pembagian harta ini dapat dilihat misalnya pada wilayah-wilayah dengan produktivitas rendah. Pada wilayah semacam itu, apabila anak laki-laki tertua masih terlalu muda untuk mewarisi kekayaan keluarga, bisa digantikan oleh suami anak perempuan tertua dengan segera untuk memperbanyak tenaga kerja keluarga dan kemudian menyerahkan kepadanya pimpinan rumah tangga, kebiasaan yang ada pada wilayah-wilayah tertentu disebut ane- katoku. Pada daerah lain yang hanya memiliki lahan kecil, dan migrasi ke kota sudah sangat umum, semua anak-anak laki-laki yang lebih tua meninggalkan keluarga, maka anak laki-laki yang termudalah yang menerima warisan, dan praktek ini disebut ultimogenitur. Undang-undang sipil pada abad ke-19 dengan memberikan sanksi hukum terhadap bentuk warisan yang berlaku sebagai patokan pola sistem warisan di seluruh Jepang. Bahkan kemudian hal itu dilembagakan secara lebih ketat di daerah pertanian di mana pemilikan terlalu kecil untuk dibagi-bagi.

  Dalam sistem semacam itu dengan sendirinya anak laki-laki tertua akan menikmati status paling tinggi dalam keluarga. Kedudukan anak-anak dalam keluarga tani dilukiskan dalam pepatah : “ seorang dijual, seorang menjadi pewaris, dan seorang lagi sebagai cadangan ”. Akhirnya karena tidak ada keluarga yang merasa aman dengan satu anak laki-laki saja, satu anak laki-laki lagi diperlukan untuk menjaga apabila anak laki-laki yang lebih tua akan mati muda.

  Anak tertua yang sering di perlakukan berlainan dengan saudara-saudaranya, dan semua orang diberi tahu bahwa ia lebih penting. Kecenderungan ini lebih menonjol di daerah yang kurang maju, terutama di bagian timur laut, dimana anak laki-laki tertua disebut ani dan adik-adik laki-lakinya disebut oji. Di daerah- daerah itu anak-anak yang lebih muda kurang diperhatikan. Di daerah yang lebih maju pun anak laki-laki tertua mungkin disebut oyokata, sedang adik-adiknya disebut hiyameshigui, “ yang makan nasi dingin ”, artinya statusnya yang amat rendah. Perhatian orang tua terhadap anak laki-laki tidak tergantung pada urutan kelahirannya; tetapi merupakan kewajiban mutlak dalam sistem ie bahwa pewaris selalu diberi status lebih tinggi dibanding adik-adiknya. Anak tertua ditakdirkan untuk menjadi pengganti kepala rumah tangga tetapi ia juga akan menerima tanggung jawab untuk merawat orang tuanya kelak.

  Sebaiknya, anak-anak laki-laki yang lebih muda – kecuali keluarga yang cukup kaya untuk menyekolahkan mereka ke sekolah menengah – diharapkan keluarga memiliki lahan cukup luas. Pekerjaan ini merukan semacam membayar kembali hutang kepada orang tua. Lalu, apabila mereka telah selesai menjalani dinas militer, biasanya mereka berusaha untuk berdiri sendiri. Pada keluarga tani miskin dengan tanah kecil yang tidak cukup menampung tenaga kerja anak-anak yang ada, anak-anak itu langsung pergi mencari pekerjaan sebagai pembantu di toko atau pekerja di pabrik atau belajar menukang, dengan harapan bahwa mereka tidak saja akan berdiri sendiri, tetapi juga dapat menyumbang orang tuanya. Pada keluarga tani dari kelas atas di daerah yang kurang maju dengan lahan yang luas, seorang dari anak laki-laki yang tinggal dan bekerja untuk kelurga besar sekalipun telah menikah. Adik laki-lakinya yang telah menikah dan masih bekerja dengan orang tuanya sering disebut “malayani” rumah keluarga yang akan diwarisi kakak laki-lakinya. Adik laki-laki itu dalam kedudukan sama seperti pegawai yang bekerja untuk keluarga yang digaji tahunan. Sebaliknya, di banyak daerah yang kurang maju, pegawai sering diangkat menjadi kepala cabang keluarga seperti adik laki-laki. Hubungan antara kepala rumah tangga atau pewaris dengan semua anggota keluarga lainnya adalah hirarkis, suatu ciri umum pada zaman feodal.

  Fakta bahwa anak laki-laki yang lebih muda adalah hubungan antara oyakata dan kokata atau antara oyabun dan kobun.

  Kata oyako berarti lebih luas daripada arti harfiahnya “ orang tua dan anak ”. oya sering diartikan sama dengan keluarga pokok, dan pada umumnya petani dengan lahan amat sempit yang hidupnya tidak menentu, mengharapkan jaminan hidupnya bukan kepada “ orang tua ” dalam struktur kekerabatan, tetapi pada oya dalam kelompok doozoku. Jadi keluarga-keluarga dianggap melayani keluarga besar menerangkan banyak tentang aspek keluarga Jepang yang pada dasarnya tidak berubah sejak zaman Tokugawa.

  Di lain pihak, anak-anak perempuan tidak diminta untuk mempertahankan

  ie, dan karena banyak biaya yang diperlukan untuk mempersiapkan

  perkawinannya, anak perempuan dianggap beban. Anak sulung perempuan dianggap beruntung karena memang anak perempuan tentu akan lahir, dan kelak akan dapat membantu pekerjaan rumah tangga dan membantu adik-adiknya. Status anak perempuan pada umunya rendah, mereka adalah calon “ dijual ”, yaitu untuk menikah dan pergi. Lewat umur dan perkawinannya mereka disebut “sisa”.

  Dalam sistem dimana laki-laki adalah penting, bila anak perempuan menikah ia harus diberi mas kawin secukupnya, bahkan setelah menikah, orang tuanya masih harus memberikan sekadar uang saku dan pakaian untuk menaikkan posisi anak tersebut dalam keluarga suaminya; dari keadaan inilah maka ada pepatah yang mengingat bahwa apabila tiga anak perempuan lahir akan menjadi keruntuhan keluarga tersebut. Di antara para petani yang paling miskin anak perempuannya tidak mengharapkan pembiayaan apapun baginya. Untuk keluarga semacam itu anak perempuannya adalah pekerja yang mungkin dapat menghasilkan upah yang rendah sabagai pekerja pabrik atau pembantu rumah tangga. Bila keadaan buruk menjadi lebih buruk, mereka betul-betul dijual untuk pelacuran demi orang tuanya.

2.3 Hubungan Sosial Kekeluargaan

  Pada masyarakat desa masa sebelum perang, kepentingan ie berada jauh diatas kepentingan perorangan anggota-anggotanya, dan unit kelurga menjadi merupakan perluasan ie. Kata yang secara singkat menggambarkan hakikat

  

doozoku adalah kekeluargaan, dan kekeluargaan Jepang sangat khas sifatnya

  karena didasarkan atas dua hal, yaitu solidaritas antara orang tua dan anak, dan hubungan antara atasan dan bawahan.

  Kekeluargaan Jepang dapat juga disebut kekeluargaan feodal seperti terwujud secara khas dalam kelompok-kelompok doozoku. Hubungan sosial corak

  

doozoku merupakan bagian hidup pada setiap desa pertanian, meskipun terdapat

  berbagai tingkat kekuatannya pada berbagai daerah. Dari semua hubungan sosial yang terpenting tani mencari hubungan oyakata atau oyabun meskipun tidak ada hubungan darah –atau kalau ada, sering untuk memperkuat –dan dengan demikian terciptalah hubungan orang tua-anak secara fiktif. Oyakonari itu ada berbagai ragam, seperti misalnya nazuke –oya, atau godfather oya, atau eboshi-oya, o-

  

baguro oya -,atau nakoodo –oya yang memimpin upacara-upacara melangkah

  dewasa, pertunangan, perkawinan untuk anak-anak muda. Sekali hubungan semacam itu terbentuk, oya memberikan perlindungannya kepada orang-orang muda itu seakan-akan mereka itu anak bungsu, dan kobun ini melayani oyakata seperti kalau melayani orang tua sendiri, bahkan sampai setelah mereka meninggal. Oyaka biasanya adalah pemilik tanah yang berkuasa atau kepala keluarga pokok. Kobun adalah anggota cabang keluarga kerabat atau bukan kerabat, tetapi dapat juga berhasal dari garis keturunan yang tidak ada kaitannya. Apabila “anak” datang dari keluarga cabang, maka hubungan oyakata –kokata tumpang tindih dengan hubungan antara keluarga pokok dan keluarga cabang.

  Dalam hal lain, meskipun ko berasal dari doozoku lain, ia akan menjadi tergantung

  Hubungan oyako terutama melibatkan individu-individu tertentu. Ini bukan merupakan hubungan antara keluarga pokok dan keluarga cabang, juga bukan tercipta ketika keluarga baru menjadi anggota cabang doozokudan bawahan terhadap keluarga pokok. Di pihak lain, meskipun secara teori hubungan oyakata-

  

kokata terbentuk antara dua individu, dalam prakteknya dua individu tadi tidak

  pernah dianggap terpisah dari keluarganya, sehingga hubungan tersebut pada tingkat dasarnya menjadi hubungan antar ie. Biasanya seseorang memilih oyakata dari ie yang sama seperti dilakukan ayahnya, sehingga membuat hubungan tersebut pada umumnya secara praktis bersifat turun-temurun. Dalam beberapa hal tertentu, apabila oyakata ayahnya dan anaknya berasal dari ie yang berlainan, maka hubungan oyako jelas menjadi tidak sejajar dengan hubungan pokok- cabang. Alasannya biasa praktis. Tidak berarti bahwa kokata dengan sengaja berganti dalam memilih keluarga dari mana ia memilih oyakata, tetapi calon

  

oyakata itu menolak karena alasan kurang kemampuan ekonominya untuk

  memelihara hubungan semacam itu, atau ia terlalu muda untuk memiliki tanggung jawab seperti itu.

  Hubungan oyakata-kokata ini paling kuat tercipta di daerah pedesaan di pegunungan prefektur Yamanashi. Di daerah itu kedudukan oyakata sebagai patron berlebihan sehingga kokata dipaksa dalam kedudukan tunduk secara total. Kalau seseorang menjadi nakoodo-oya, berarti menjadi oyakata, ia bertanggung jawab untuk kokata tidak hanya pada peristiwa tertentu saja seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian tetapi mengurusi semua hal dalam hidup sehari-hari.

  

Kokata wajib memberi upeti pada musim panas dan Tahun Baru, dan melayani terima. Karena alasan ini, kokata merasa berhutang budi kepada oyakata karena baik hatinya, dan menaati segala keinginannya. Daerah dimana hubungan kuat semacam itu masih ada tentunya terbatas jumlahnya. Tetapi hubungan oyakata- kokata dalam suatu bentuk tertentu adalah umum di semua pedesaan.

BAB III PERUBAHAN SISTEM IE DALAM KEHIDUPAN KELUARGA PETANI

3.1 Struktur Ie

  Dozoku adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan shinzoku (ikatan

  hubungan darah atau hubungan karena pernikahan) dan perluasan ie yang sudah ada. Karena dibentuk berdasarkan shinzoku dan berlandaskan kepada fukei (garis keturunan ayah) maka anggota dozoku memiliki sosen (leluhur) yang sama. Adanya kesadaran bahwa setiap anggota memiliki leluhur yang sama melatarbelakangi terbentuknya dozoku.

  Di dalam dozoku selalu ada honke (keluarga utama) dan bunke (keluarga cabang). Dalam sosiologi pedesaan Jepang disebutkan bahwa dozoku yang ada dalam desa pertanian di Jepang dapat dikelompokan ke dalam dua model, yaitu model Tohoku dan model Seinan. Pada model Tohoku pengawasan honke kepada

  

bunke lebih kuat sedangkan di dalam model Seinan honke dan bunke memiliki

kedudukan yang sama dan tidak ada hubungan bawahan.

  Cikal bakal dozoku di dalam masyarakat Jepang disebutkan telah mulai muncul sejak masa awal bercocok tanam (Kodai) sebagai bagian dari shizoku ‘氏 族 ’ (klan). Shizoku adalah perkumpulan yang berdasarkan kepada ketsuen shuudan (perkumpulan yang anggotanya memiliki hubungan darah).

  Karena dozoku pada dasarnya dibentuk dari perluasan ie yang telah ada, maka ketika pada masa setelah perang sistem ie dibubarkan dozoku juga ikut bubar.

  Dozoku di Jepang jika dibandingkan dengan souzoku di Cina memiliki dasarnya mulai goyah. Dihapuskannya sistem ie juga turut merubah struktur keluarga Jepang menjadi kaku kazoku (keluarga batih).

  Prinsip-prinsip yang dianut di dalam keluarga batih adalah: 1. Berpusat kepada nilai-nilai individual.

  2. Dibatasi kepada satu generasi suami-istri.

  3. Tidak memiliki konsep sosen. Saat ini rata-rata orang Jepang mulai tidak terlalu mempedulikan siapa leluhur mereka. Apakah leluhur mereka merupakan shizoku ‘士族’ (bekas samurai) ataukah heimin (rakyat biasa) tidak terlalu diperhatikan.

  Secara umum dapat disimpulkan bahwa akibat dari industrialisasi struktur masyarakat mengalami perubahan, dimana ada proses integrasi masyarakat dari yang berdasarkan kepada nilai shinzoku (shinzokuteki kachi) menuju kepada masyarakat yang tidak lagi berdasarkan nilai shinzoku.

  Hal yang penting dan dapat disimpulkan adalah pembubaran ie maupun

  dozoku disebabkan karena berubahnya masyarakat Jepang menjadi masyarakat yang modern.

3.2 Hak Waris

  Setelah Perang Dunia II, berhubungan dengan reformasi pasca perang, sistem keluarga dihapuskan dan sistem waris kepada anak laki-laki pertama (chousi souzoku sei) diubah menjadi sistem waris sama rata (kinbun souzoku sei). Pada saat itu penduduk yang bekerja sebagai petani sehingga perubahan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena sistem yang baru mengharuskan lahan masyarakatnya. Dengan demikian, pembagian lahan pertanian semacam itu belum terjadi. Pada prakteknya masalah ini tidak lagi menjadi masalah besar ketika Jepang memasuki masa pertumbuhan ekonomi tinggi (koudou keizai seichou) di mana jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani mulai menurun. Sejak saat itu, keluarga petani berusaha menghapuskan hubungan anak lelaki dengan usaha pertanian milik keluarga.

  Peningkatan keluarga inti dan penurunan rumah tangga tiga generasi (san-

  

sedai setai) secara singkat adalah rumah tangga sendiri (tandoku setai) dan rumah

  tangga dengan keluarga ini (kaku-kazoku setai) meningkat. Rumah tangga tiga generasi (san-sedai setai) berkurang. Jumlah orang lanjut usia semakin meningkat, tetapi keluarga inti (kaku-kazoku) bertambah. Ini berarti perubahan struktur yang sebenarnya lebih besar. Selain itu, pertambahan yang patut diperhatikan adalah pertambahan tandoku setai sejak akhir pertengahan tahun 1960-an. Ini bisa menjadi indikasi adanya perubahan di dalam masyarakat ie.

  Akibat industrialisasi, ruang lingkup keluarga dengan usaha sendiri yang mengalami penyesuaian secara fungsional dalam sistem keluarga tradisional mulai berkurang. Dengan kata lain, keluarga buruh dan keluarga kelas menengah di kota tidak memiliki aset keluarga dan anggotanya harus bekerja sebagai buruh atau pekerja. Bagi keluarga semacam ini, keluarga dengan struktur yang lebih sederhana di mana anggota intinya bergabung karena memiliki perasaan cinta atau kasih sayang satu sama lain, mungkin akan lebih sesuai secara fungsional.

  Seiring dengan majunya modernisasi, tuntutan yang lebih demokratis di dalam kesadaran warga negara semakin menguat dan bentuk kontrol tiran di yang dulu, pasangan suami-istri muda yang telah menikah dilarang untuk hidup bebas. Mereka berharap bisa melepaskan diri dari ketaatan terhadap kepala keluarga dan memiliki rumah tangga yang bebas.

  Modernisasi memicu kebebasan wanita. Kalau wewenang wanita muda semakin kuat, subordinasi oleh ayah atau ibu mertua yang ada di dalam sistem keluarga tradisional akan mulai menghilang. Khususnya dalam hal pengelolaan keuangan di dalam rumah tangga pasangan muda yang sering dicampuri oleh ayah atau ibu mertua. Keluarga inti sesuai untuk memenuhi tuntutan ini.

  Sistem keluarga tradisional merupakan sistem yang berfokus pada kelompok, bukan pada individu. Dulu, keinginan pribadi dikorbankan demi eksistensi keluarga. Bahkan kepala keluarga pun lebih memikirkan keberlangsungan keturunannya daripada dirinya sendiri. Di dalam sistem seperti ini, semua anggota keluarga harus melayani demi eksistensi dan keberlangsungan keluarga mereka.

  Sukar bagi ayah dan anak laki-lakinya untuk tinggal bersama karena banyak tuntutan fungsional di dalam masyarakat industri modern yang melibatkan seringnya berpindah tempat kerja. Apabila dibandingkan dengan hal ini, keluarga inti yang hanya membutuhkan satu orang pencari nafkah (dalam hal ini, tidak mempertimbangkan perempuan yang bekerja) ternyata lebih sesuai dengan tuntutan fungsional masyarakat industri yang modern.

3.3 Hubungan Kekeluargaan

  Kekeluargaan di Jepang dapat di sebut juga kekeluargaan feodal secara bagian hidup pada setiap desa pertanian, meskipun terdapat berbagai tingkat kekuatannya pada berbagai daerah. Dari semua hubungan sosial yang terpenting adalah hubungan antara oyakata-kokata.

  Oyaka biasanya adalah pemilik tanah yang berkuasa atau kepala keluarga

  pokok. Kobun adalah anggota cabang keluarga kerabat atau bukan kerabat, tetapi dapat juga berhasal dari garis keturunan yang tidak ada kaitannya. Apabila “anak” datang dari keluarga cabang, maka hubungan oyakata –kokata tumpang tindih dengan hubungan antara keluarga pokok dan keluarga cabang. Dalam hal lain, meskipun ko berasal dari doozoku lain, ia akan menjadi tergantung pada doozoku milik oya.

  Hubungan oyako terutama melibatkan individu-individu tertentu. Ini bukan merupakan hubungan antara keluarga pokok dan keluarga cabang, juga bukan tercipta ketika keluarga baru menjadi anggota cabang doozokudan bawahan terhadap keluarga pokok. Di pihak lain, meskipun secara teori hubungan oyakata-

  

kokata terbentuk antara dua individu, dalam prakteknya dua individu tadi tidak

  pernah dianggap terpisah dari keluarganya, sehingga hubungan tersebut pada tingkat dasarnya menjadi hubungan antar ie. Biasanya seseorang memilih oyakata dari ie yang sama seperti dilakukan ayahnya, sehingga membuat hubungan tersebut pada umumnya secara praktis bersifat turun-temurun. Dalam beberapa hal tertentu, apabila oyakata ayahnya dan anaknya berasal dari ie yang berlainan, maka hubungan oyako jelas menjadi tidak sejajar dengan hubungan pokok- cabang. Alasannya biasa praktis. Tidak berarti bahwa kokata dengan sengaja berganti dalam memilih keluarga dari mana ia memilih oyakata, tetapi calon memelihara hubungan semacam itu, atau ia terlalu muda untuk memiliki tanggung jawab seperti itu.

  Hubungan oyakata-kokata paling kuat tercipta di daerah pedesaan pegunungan. Di daerah pegunungan itu kedudukan oyakata lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan kokata,sehingga kokata di paksa untuk tunduk dalam segala hal.

  Oyakata bertanggung jawab kepada kokata tidak hanya pada peristiwa

  seperti kelahiran,perkawinan dan kematian tetapi juga mengurusi semua hal di dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, kokata wajib memberi upeti kepada

  

oyakata karena merasa berhutang budi kepada oyakata karena sudah baik hati dan

  sudah mengurusi segala hal dalam kehidupan sehari-hari. Di daerah pedesaan,dimana hubungan semacam itu masih kuat dan jumlahnya juga terbatas.

  Tetapi hubungan oyakata-kokata dalam suatu bentuk tertentu adalah umum di semua pedesaan.

  Tidak dapat dihindari bahwa hubungan oyakata-kokata itu secara perlahan-lahan melemah. Satu oyakata mungkin mempunyai banyak kokata, dan di antara kokata yang kuat mungkin mempunyai kokata-nya sendiri. Bahkan di daerah di mana hubungan oyakata-kokata merupakan suatu bentuk kontrol atas hubungan- hubungan sosial di desa, hubungan semacam itu ternyata kehilangan kekuatannya yang semula. Pada waktunya, pengaruh rasionalisme dari sistem ekonomi uang kapitalisme menembus desa-desa itu. Tuan tanah oya mulai menanam modal diluar daerahnya sendiri, dengan akibat mengurangi luasnya lahan yang ditanami langsung dan makin lama makin menjadi parasit dan lambat laun juga tidak lagi

  

kokata yang menjadi buruhnya. Di pihak kokata juga terjadi melemahnya

  hubungan karena penyebaran pendidikan membuat mereka tidak lagi bergantung kepada tuan tanah untuk membacakan dan menuliskan surat atau dokumen; dan karena keadaan ekonomi membaik, ia tidak terpaksa meminjam pakaian atau peralatan makan untuk keperluan-keperluan penting. Tetapi meskipun tingkat ketergantungan berkurang, hubungan oayakata-kokata masih terus ada. Meskipun dalam bentuknya, hubungan ini terjadi antara dua individu, hubungan tersebut tidak terbatas pada satu generasi saja, dan sering menunjukkan ciri turun-temurun dan hubungan semacam itu tidak dapat diharapkan hilang semuanya.

  Di daerah yang tidak mempunyai kebiasaan mencari oyakata, penggarap sering mengunjungi tuan tanah, membawa beras sebagai sewa dan membantu berbagai tugas rumah dan tugas-tugas pertanian. Rumah yang sering dikunjungi itu (deiri) kebetulan juga rumah keluarga pokok dalam pola hubungan pokok- cabang, dan biasanya hubungan oyakata-kokata makin dipentingkan. Lingkup hubungan deiri, kecuali dalam hal tuan tanah besar, hanya terbatas di daerah kecil dan hanya beberapa keluarga saja; hubungan-hubungan itu juga jelas termasuk tipe hubungan oyakata-kokata. Karena tuan tanah menjadi lebih bersifat parasit dinegerinya, hubungan deiri itu juga makin hilang. Dengan perlahan-lahan segi majikan-pelayan dalam hubungan itu juga berubah dan hanya berlaku bagi keluarga-keluarga yang peranannya menjadi pengawas dan pengumpul sewa.

  Sesudah pelaksanaan land reform setelah Perang Dunia Kedua, semua jenis hubungan itu –keluarga pokok-cabang, oyakata-kokata, serta deiri mulai buyar, tetapi semua itu dulu merupakan inti struktur sosial kekeluargaan di tetapi hubungan sosial yang terjadi dalam hubungan tuan tanah-pelayan tetap menjadi dasar masyarakat Jepang sampai sistem tuan tanah itu sendiri dihapus.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan 1.

   Karena adanya perubahan masyarakat Jepang dari masyarakat petani

  menjadi masyarakat industri dapat merubah pola atau struktur ie, yakni dari struktur ie ketsuen shuudan (perkumpulan yang anggotanya memiliki hubungan darah ) menjadi kelurga batih ( kaku kazoku ).

  2. Setelah Perang Dunia II berhungan dengan reformasi pasca perang, sistem

  keluarga ie berubah sehingga hal ini juga merubah pola sistem waris kepada anak laki-laki pertama menjadi sistem waris yang sama rata.

  3. Kekeluargaan di Jepang dapat disebut juga kekeluargaan yang feodal

  secara khas dalam kelompok-kelompok dozoku. Hubungan dozoku merupakan bagian hidup pada setiap desa pertanian. Dari semua hubungan sosial yang terpenting adalah hubungan antara oyakata – kokata. Tetapi dalam hubungan oyakata – kokata itu memiliki tingkat kekuatan dan kekuasaan. Oyakata dalam hubungan ini mempunyai peran yang paling tinggi tingkatannya di banding kokata. Sehingga kokata dipaksa untuk tunduk kepada oyakata dalam segala hal. Sesudah Perang Dunia II dan adanya land reform, hubungan oyakata – kokata mulai hilang. Mulai hilangnya hubungan itu ketika sistem tuan tanah berubah, tetapi hubungan sosial yang terjadi dalam hubungan tuan tanah – pelayan tetap menjadi dasar masyarakat Jepang.

4.2 Saran 1.

   Dengan adanya kertas karya ini, mahasiswa dapat meneliti kembali sehingga menjadi acuan dalam menyusun skripsi.

2. Pembaca dapat mengetahui pranata yang bersifat budaya dan adat istiadat dalam keluarga Jepang.

  

DAFTAR PUSTAKA

Fukutate, Tadashi. 1989. Masyarakat Pedesaan di Jepang. Jakarta : PT. Gramedia.

  Tominaga, Kenichi. 1990. Nihon Kindaika to Shakai Hendou. Tokyo: Kodansha.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (34 Halaman)
Gratis