Efektivitas Koagulan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Tawas Terhadap Logam Aluminium Pada Air Baku PDAM Tirtanadi Hamparan Perak

 18  351  48  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

  

EFEKTIVITAS KOAGULAN POLY ALUMINIUM CHLORIDE

(PAC) DAN TAWAS TERHADAP LOGAM ALUMINIUM

PADA AIR BAKU PDAM TIRTANADI HAMPARAN PERAK

TUGAS AKHIR

  

OLEH:

RISKA OKTA MULIA NST

NIM: 122410031

  

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

KATA PENGANTAR

  melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Tugas Akhir (TA) dengan judul “Efektivitas Koagulan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Tawas Terhadap Logam Aluminium Pada Air Baku PDAM Tirtanadi Hamparan Perak”.

  Penulisan Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Tugas Akhir ini di susun berdasarkan data-data yang diperoleh di Laboratorium Instalasi Pengolahan Air PDAM Tirtanadi Hamparan Perak.

  Dalam penyusunan Tugas Akhir ini penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan, nasehat serta petunjuk dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak atas bimbingan dan bantuanya, terutama kepada :

  1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. Selaku dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. Selaku wakil dekan 1 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt. Selaku koordinator program DIII Analis Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  4. Bapak Prof. Dr.Urip Harahap, Apt. Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan petunjuk dan saran dalam menyelesaikan laporan ini.

  Bapak Ir. H. Zulham Ali Nasution selaku Kepala Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hamparan Perak yang telah menyediakan tempat untuk melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

  6. Bapak M. Taufik, ST. Selaku Kepala Bagian Pengolahan yang telah banyak membimbing kami selama melakukan Praktek Kerja Lapangan di PDAM Hamparan Perak.

  7. Bapak Rivai Edward Sebayang, ST selaku pembimbing di laboratorium PDAM Tirtanadi Hamparan Perak.

  Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga, terutama kedua orang tua yang selalu memberikan doa, dorongan material dan motivasi dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.

  Akhir kata penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan maupun sebagai bahan perbandingan bagi yang memerlukannya.

  Medan, 18 Mei 2015 Penulis, Riska Okta Mulia Nst.

  NIM: 122410031

  

EFEKTIVITAS KOAGULAN POLY ALUMINIUM CHLORIDE (PAC)

DAN TAWAS TERHADAP LOGAM ALUMINIUM (AL) PADA AIR

BAKU PDAM TIRTANADI HAMPARAN PERAK

Air Sungai Belawan telah mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.

  Air ini digunakan sebagai air baku karena ketersediaannya yang cukup banyak dan dekat dengan Instalasi Pengolahan Air PDAM Hamparan Perak. Masalah utama dalam mengolah air sungai berhubungan dengan karakteristik spesifik yang dimilikinya yakni kualitas dari air tersebut belum memenuhi standar kualitas air untuk dikonsumsi. Peraturan Standart Mutu Instalasi Pengolahan Air PDAM Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa kekeruhan air minum tidak boleh lebih dari 2 NTU.

  Logam aluminium merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam tanah, air, dan udara. Karena aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia dapat menyebabkan penyakit Alzhemeir, penyakit Parkinson.

  Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas koagulan poly aluminium chloride (PAC) dan tawas dalam menurunkan kadar logam aluminium (Al) didalam air baku sungai belawan. Kadar logam aluminium dan kekeruhan harus memenuhi persyaratan yang diperbolehkan agar layak untuk dikonsumsi. Koagulan yang digunakan adalah koagulan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Tawas. Metode yang digunakan dalam proses koagulasi menggunakan Jar Test dengan kecepatan pengadukan 140 RPM selama 5 menit untuk homogenisasi larutan dan pengadukan lambat selama 10 menit.

  Hasil penelitian menunjukkan, pada air baku sungai belawan dengan kekeruhan 63.50 NTU dan kadar logam aluminium 0.32 mg/l setelah ditambahi koagulan PAC dan tawas dengan dosis yang berbeda koagulan PAC lebih efektif dalam menurunkan kekeruhan dimana pada dosis 23 ppm kekeruhan air yang ditambahkan PAC 1.01 NTU (memenuhi syarat air minum) sedangakan pada air yang ditambahkan tawas 6.20 NTU (tidak memenuhi syarat air minum). Dengan dosis optimum kedua koagulan mampu menurunkan kadar logam aluminium akan tetapi koagulan PAC lebih besar dalam menurunkan kadar logam aluminium dibandingkan koagulan tawas, sehingga dapat disimpulkan pada dosis 23 ppm air yang menggunakan koagulan PAC sudah layak dikonsumsi.

  

Kata Kunci: Air Sungai, Logam Aluminium, PAC (Poly Aluminium Chloride),

Tawas (Alum).

  

DAFTAR ISI

  JUDUL ...................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................... ii KATA PENGANTAR .............................................................................. iii ABSTRAK ................................................................................................ v DAFTAR ISI ............................................................................................. vi DAFTAR TABEL ..................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ................................................................................ x DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN .........................................................................

  1 1.1 Latar Belakang ...........................................................................

  1 1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................

  3 1.2.1 Tujuan Penelitian ..............................................................

  3 1.2.2 Manfaat Penelitian ............................................................

  3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

  4 2.1 Pengertian Air ............................................................................

  4 2.2 Sumber-sumber Air ....................................................................

  5 2.3 Penggolongan Air ......................................................................

  8 2.3.1 Menurut Peraturan Presiden No. 2 Tahun1990 .................

  8

  2.3.2 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416 Tahun 1990 .......................................................................

  8

  2.5 Aluminium ................................................................................. 10

  2.6 Koagulan Poly Aluminium Clorida (PAC) dan Tawas .............. 12

  2.6.2 Koagulan Tawas ................................................................ 14

  2.7 Metode Jar Test .......................................................................... 15

  2.8 Spektrofotometri ........................................................................ 16

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 18

  3.1 Tempat dan Waktu ..................................................................... 18

  3.2 Alat ............................................................................................. 18

  3.3 Bahan ......................................................................................... 18

  3.4 Prosedur Pengujian .................................................................... 19

  3.4.1 Penyiapan Sampel Air Baku (Air Sungai) ........................ 19

  3.4.2 Pembuatan Koagulan PAC dan Tawas ............................. 19

  3.4.3 Prosedur Jar test Menentukan Dosis Optimum ................. 19

  3.4.4 Prosedur Penetapam Kadar LogamAluminium ................ 20

  3.4.4.1 Persiapan Sampel Uji ............................................ 20

  3.4.4.2 Prosedur Penetapan Kadar Logam Aluminium Menggunakan Spektrofotometer ........................... 20

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 22

  4.1 Hasil ........................................................................................... 22

  4.2 Pembahasan ................................................................................ 24

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 27

  5.1 Kesimpulan ................................................................................ 27

  DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 29

  

DAFTAR TABEL

  Halaman

Tabel 4.1 Hasil Penelitian Efektivitas Koagulan PAC dan tawas Terhadap Logam Aluminium Dengan Dosis Berbeda .............

  22

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Hasil Penelitian Efektivitas Koagulan PAC Dan Tawas

  Terhadap Logam Aluminium Dengan Dosis yang Berbeda .. 23

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Gambar Sampel Penelitian ................................................... 31 Lampiran 2. Gambar Alat-alat .................................................................. 32 Lampiran 3. Gambar Bahan-bahan ........................................................... 34 Lampiran 4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492

  Tahun 2010 .......................................................................... 35 Lampiran 5. Sasaran Mutu Pengelola Instalasi Air PDAM Tirtandi

  Sumatera Utara ..................................................................... 36

  

EFEKTIVITAS KOAGULAN POLY ALUMINIUM CHLORIDE (PAC)

DAN TAWAS TERHADAP LOGAM ALUMINIUM (AL) PADA AIR

BAKU PDAM TIRTANADI HAMPARAN PERAK

Air Sungai Belawan telah mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.

  Air ini digunakan sebagai air baku karena ketersediaannya yang cukup banyak dan dekat dengan Instalasi Pengolahan Air PDAM Hamparan Perak. Masalah utama dalam mengolah air sungai berhubungan dengan karakteristik spesifik yang dimilikinya yakni kualitas dari air tersebut belum memenuhi standar kualitas air untuk dikonsumsi. Peraturan Standart Mutu Instalasi Pengolahan Air PDAM Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa kekeruhan air minum tidak boleh lebih dari 2 NTU.

  Logam aluminium merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam tanah, air, dan udara. Karena aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia dapat menyebabkan penyakit Alzhemeir, penyakit Parkinson.

  Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas koagulan poly aluminium chloride (PAC) dan tawas dalam menurunkan kadar logam aluminium (Al) didalam air baku sungai belawan. Kadar logam aluminium dan kekeruhan harus memenuhi persyaratan yang diperbolehkan agar layak untuk dikonsumsi. Koagulan yang digunakan adalah koagulan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Tawas. Metode yang digunakan dalam proses koagulasi menggunakan Jar Test dengan kecepatan pengadukan 140 RPM selama 5 menit untuk homogenisasi larutan dan pengadukan lambat selama 10 menit.

  Hasil penelitian menunjukkan, pada air baku sungai belawan dengan kekeruhan 63.50 NTU dan kadar logam aluminium 0.32 mg/l setelah ditambahi koagulan PAC dan tawas dengan dosis yang berbeda koagulan PAC lebih efektif dalam menurunkan kekeruhan dimana pada dosis 23 ppm kekeruhan air yang ditambahkan PAC 1.01 NTU (memenuhi syarat air minum) sedangakan pada air yang ditambahkan tawas 6.20 NTU (tidak memenuhi syarat air minum). Dengan dosis optimum kedua koagulan mampu menurunkan kadar logam aluminium akan tetapi koagulan PAC lebih besar dalam menurunkan kadar logam aluminium dibandingkan koagulan tawas, sehingga dapat disimpulkan pada dosis 23 ppm air yang menggunakan koagulan PAC sudah layak dikonsumsi.

  

Kata Kunci: Air Sungai, Logam Aluminium, PAC (Poly Aluminium Chloride),

Tawas (Alum).

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Air merupakan suatu persenyawaan kimia sangat sederhana yang terdiri dari dua atom hidrogen (H) berikatan dengan satu atom oksigen (O). Secara simbolik air dinyatakan sebagai H

2 O. Air serta bahan-bahan dan energi yang

  dikandung di dalamnya merupakan lingkungan bagi bakteri air. Pengaruhnya terhadap kehidupan biota air, yaitu sifat fisikanya sebagai medium tempat hidup tumbuh-tumbuhan dan hewan begitu juga dengan sifat kimianya sebagai pembawa zat hara yang diperlukan bagi pembentukan bahan-bahan organic oleh tumbuh- tumbuhan dengan produksi primernya (Andi, 2007).

  Air mempunyai sifat yang khusus di antara zat cair, karena molekulnya cenderung membentuk kelompok atau agregasi akibat sifat listriknya dan sifat tersebut bergantung pada suhu. Pada suhu rendah molekul air tersusun dalam bidang empat, yaitu satu molekul berada di tengah – tengah dan empat molekul di sudut suatu bidang empat. Struktur seperti ini terdapat dalam bentuk es. Dalam bentuk cair bidang empat ini rusak dan membentuk agregasi, jika suhu sedikit demi sedikit berubah maka berbentuk bola yang mempunyai susunan yang rapat. Susunan bidang empat mempunyai volume yang terbesar dan berat jenis yang terkecil, sedangkan bentuk bola yang rapat mempunyai berat jenis yang besar (Andi, 2007).

  Aluminium (Al) merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam tanah, dalam air dan udara. Sekitar 8% kerak bumi terdiri dari alamiah terdapat di udara, tanah dan air. Oleh karena itu, eksposur lingkungan terhadap aluminium adalah memungkinkan secara potensial. Perannya tidak bisa dihindari karena senyawa-senyawa aluminium ditambahkan bukan hanya kesuplai air tetapi juga kebanyak makanan dan obat-obatan yang di proses. Karena aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia. Akhir-akhir ini masa dan media telah memperhatikan efek buruk aluminium terhadap kesehatan manusia, termasuk perannya dalam penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan sclerosis lateral amyotropik, juga mengenai risiko potensial terhadap bayi yang minum formula susu mengandung aluminium (Parulian, 2009).

  Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tanggal 19 april tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum, kadar maksimal logam aluminium yang diperbolehkan adalah 0.2 mg/l.

  Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini pada air sungai PDAM TIRTANADI di Hamparan Perak, sehingga penulis memilih judul tentang ”Efektivitas Koagulan PAC dan Tawas Terhadap Logam Aluminium Pada Air Baku PDAM Tirtanadi Hamparan Perak”. Penelitian ini menggunakan metode Jar Test dan Spektrofotometri.

1.2 Tujuan dan Manfaat

  1.2.1 Tujuan Percobaan a.

  Mengetahui kadar logam aluminium sebelum dan sesudah penambahan koagulan poly aluminium chloride (PAC) dan tawas pada air baku sungai Belawan menggunakan metode spektrofotometri dan Jar Test.

  b.

  Mengetahui efektifitas pengaruh koagulan PAC dan tawas terhadap logam aluminium pada air baku PDAM Tirtanadi Hamparan Perak.

  c.

  Mengetahui dosis optimum koagulan PAC dan tawas terhadap penurunan logam aluminium pada air baku sungai Belawan PDAM Tirtanadi Hamparan Perak.

  1.2.2 Manfaat Percobaan

  Manfaat dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui efektivitas koagulan yang paling berpengaruh terhadap penurunan logam aluminium pada air baku sungai Belawan PDAM Tirtanadi Hamparan dan menganalisis kadar aluminium di dalam air baku sungai Belawan dengan menggunakan metode Jar test dan spektrofotometri serta mengetahui batas logam aluminium yang diperbolehkan terdapat didalam air sesuai dengan peraturan Permenkes No.

  492/MENKES/PER/2010 tentang persyaratan kualitas air minum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Air

  Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain (Effendi, 2003).

  Air merupakan kebutuhan dasar manusia, air dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidup. Semakin banyak jumlah penduduk, pemanfaatan sumber daya air semakin meningkat. Eksploitasi sumber-sumber air yang berlebih dengantidak diimbangi dengan perawatan terhadap sumber air akan mengakibatkan kelangkaan air. Ditambah lagi ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, melakukan penebangan pohon tanpa memperdulikan penghijauannya, pembangunan betonisasi yang mengurangi resapan air tanah, pembuangan sampah dan limbah industri ke sungai-sungai, akibatnya dewasa ini sumber air baku air bersih menjadi sangat langka. Penyediaan air bersih selain kuantitas, kualitas juga harus memenuhi syarat bakumutu air. Maka dari itu perusahaan air minum selalu memeriksa kualitas air hasil pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan (Rifai, 2007).

  Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan yang dapat diminum sedangkan KEPMENKES RI No. 17/MENKES/VII/2002, mengartikan air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Standar kualitas air minum yang digunakan diatur oleh Pemerintah melalui

  a. Tidak berbau dan tidak berasa

  b. Kekeruhan tidak lebih dari skala 5 NTU

  c. pH antara 6,5-8,5

  d. Besi sebagai Fe 0,3 mg / lt

  e. Mangan sebagai Mn 0,1 mg / lt

  f. Zat organik sebagai KMnO4 10 mg / lt g. Bebas bakteri indikator penyakit yang disebarkan (Rifai, 2007).

  Demi pemenuhan kebutuhan air bersih, dicari sumber-sumber air untuk diolah. Salah satunya sumber air dari air permukaan (sungai). Sebelum air permukaan dijadikan sumber pengolahan air bersih, terlebih dulu air diperiksa secara fisika dan kimia untuk mengetahui kualitas dan kuantitas air tersebut.

  Selanjutnya dapat ditentukan metode pengolahan dan perencanaan instalasi pengolahan yang tepat (Rivai, 2007).

2.2 Sumber-sumber Air

  Jumlah air di dunia ini relatif tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan siklus hidrologi. Penyinaran matahari menyebabkan air di permukaan bumi menguap dan membentuk uap air. Karena adanya angin, maka uap air akan bersatu dan berada dalam tempat yang tinggi yang kita kenal dengan awan. Angin akan membawa awan ke tempat yang makin tinggi, dimana pada tempat yang semakin tinggi suhu semakin rendah. Apabila awan telah jenuh terbentuklah titik- titik air dan jatuh ke bumi sebagai hujan (Waluyo, 2005). menjumpai lapisan yang rapat air, maka menyebabkan peresapan menjadi berkurang, dan sebagian air akan mengalir di atas lapisan rapat air, jika air keluar pada permukaan bumi, maka air yang demikian dinamakan mata air. Air permukaan yang mengalir di atas permukaan bumi, umumnya berbentuk sungai- sungai dan jika melalui suatu tempat yang rendah (cekung) maka air akan berkumpul membentuk suatu danau atau telaga. Tetapi banyak diantara air yang mengalir ke laut kembali dan kemudian akan mengikuti siklus hidrologi (Waluyo, 2005).

  Sumber-sumber air yang ada pada bumi, dapat berasal dari: a.

  Air Permukaan Air permukaan yang mengalir di permukaan bumi akan membentuk air permukaan. Air ini umumnya mendapat pengotoran selama pengalirannya.

  Pengotoran tersebut misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri, dan lain sebagainya. Dengan adanya pengotoran ini menyebabkan kualitas air permukaan menjadi berbeda-beda. Pengotoran ini dapat secara fisik, kimia dan bakteriologi (biologi). Setelah mengalami pengotoran, pada suatu saat air permukaan akan mengalami pembersihan (Waluyo, 2005).

  b.

  Air Tanah Air tanah secara umum terbagi menjadi: i.

  Air Tanah Dangkal Air tanah dangkal terjadi akibat proses penyerapan air dari permukaan tanah dangkal juga terlihat jernih tetapi banyak mengandung zat-zat kimia

  (garam-garam terlarut) karena melalui lapisan tanah yang memiliki unsur-unsur kimia tertentu untuk masing-masing lapis tanah. Lapisan tanah berfungsi sebagai saringan. Setelah mengalami penyaringan, setelah menemui lapisan kedap air atau rapat air, maka air tanah akan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Air tanah dangkal memiliki kedalaman sampai 15 meter (Waluyo, 2005). ii.

  Air Tanah Dalam Air tanah dalam terdapat pada lapis rapat air yang pertama.Pengambilan air tanah dalam lebih sulit daripada air tanah dangkal. Suatu lapis rapat air biasanya didapatkan pada kedalaman 100-300 meter. Bila tekanan air tanah dalam besar, maka air dapat menyembur keluar dan dalam keadaan ini dinamakan air artesis. iii.

  Mata Air Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata air yang berasal dari air tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim dan meiliki kualitas yang sama dengan dengan air tanah dalam. Berdasarkan munculnya ke permukaan tanah dibagi menjadi yaitu rembesan dimana air keluar dari lereng-lereng, sedamgkan umbul, dimana air keluar ke permukaan pada suatu daratan (Waluyo, 2005).

  c.

  Air atmosfir dalam keadaan keadaan murni, sangat bersih, tetapi sering terjadi pengotoran karena industri, debu, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena masih banyak mengandung kotoran (Waluyo, 2005).

  d.

  Air Laut Air laut mempunyai sifat asin, karena mengandung berbagai garam, misalnya NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut lebih kurang 3%. Oleh karena itu air laut tanpa diolah terlebih dahulu tidak memenuhi syarat untuk air minum (Waluyo, 2005).

2.3 Penggolongan Air

  2.3.1 Menurut Peraturan Presiden No. 2 tahun 1990 :

  Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu.

  Golongan B : Air yang digunakan sebagai air baku air minum. Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.

  Golongan D : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit tenaga listrik (Rivai, 2007).

  2.3.2 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416 tahun 1990 a.

  Air adalah air minum, air bersih, air kolam renang dan air pemandian umum. b.

  Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

  Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

  d.

  Air kolam renang adalah air didalam kolam renang yang digunakan untuk olahraga renang dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.

  e.

  Air pemandian umum adalah air yang digunakan pada tempat pemandian bagi umum (tidak temasuk pemandian untuk pengobatan tradisional dan kolam renang) yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan (Rivai, 2007).

2.4 Persyaratan Air Minum

  Menjamin suatu sistem penyediaan air minum adalah aman, higenis, dan baik serta dapat diminum tanpa kemungkinan dapat menginfeksi para pemakai air maka haruslah terpenuhi suatu persyaratan kualitasnya (Joko, 2010).

  Air minum selain harus bebas dari zat yang berbahaya bagi kesehatan, juga harus menarik rasa dan baunya. Dalam perencanaan/pelaksanaan fasilitas penyediaan air minum (sumber, waduk, jaringan distribusi) harus bebas dari kemungkinan pengotoran dan kontaminasi. Berdasarkan SK Menkes RI No.

  907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat–syarat dan pengawasan kualitas air minum pada lampiran pertama persyaratan kualitas air minum adalah sebagai berikut : a.

  Persyaratan Fisika Parameter persyaratan fisik untuk air minum tidak boleh bewarna, tidak 25ºC), air harus jernih.

  b.

  Persyaratan Bakteriologis Parameter persyaratan bakteriologis adalah jumlah maksimum E. Coli atau

  Fecal Coli dan total bakteri coliform per 100 ml sampel. Persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh air minum, air yang masuk system distribusi, dan air pada sistem distribusi.

  c.

  Persyaratan Kimiawi Air bersih/minum tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan (Joko, 2010).

2.5 Aluminium

  Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa, bubuknya

  O

  berwarna abu-abu.Ia melebur pada 659

  C. Bila terkena udara, objek-objek aluminium teroksidasi pada permukaannya, tetapi lapisan oksida ini melindungi objek dari oksidasi lebih lanjut. Asam klorida encer dengan mudah melarutkan logam, pelarutan lebih lambat dalam asam sulfat encer atau asam nitrat encer (Vogel, 1979).

  Aluminium ialah unsur kimia. Lambang aluminium ialah Al, dan nomor atomnya 13. Aluminium ialah logam paling berlimpah. Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik, terang dan kuat dan juga konduktor yang baik buat panas. Dapat ditempa menjadi lembaran, ditarik menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan bermacam-macam penampang tahan korosi (Efendi, Aluminium digunakan dalam banyak hal. Kebanyakan darinya digunakan dalam kabel bertegangan tinggi. Juga secara luas digunakan dalam bingkai jendela dan badan pesawat terbang.Ditemukan di rumah sebagai panci. Botol minuman ringan, tutup botol susu dan sebagainya. Aluminium juga digunakan untuk melapisi lampu mobil dan compact disk (Efendi, 2009).

  Aluminium adalah trivalen dalam senyawa-senyawanya. Ion-ion

  3+

  aluminium (Al ) membentuk garam-garam yang tidak berwarna dengan ion-ion yang tidak berwarna. Halida, nitrat, dan sulfatnya larut dalam air, larutan ini memperlihatkan reaksi asam karena hidrolisi. Aluminium sulfida dapat dibuat hanya dalam keadaan padat saja, dalam larutan air ia terhidrolisis dan terbentuk garam-garam rangkap dengan sulfat dari kation-kation monovalen dengan bentuk- bentuk kristal yang menarik, yang disebut tawas (alum, aluin) (Vogel, 1979).

  Di perairan, aluminium (Al) biasanya terserap ke dalam sedimen atau mengalami presipitasi.Aluminium dan bentuk oksida aluminium bersifat tidak larut. Akan tetapi, garam-garam aluminium sangat mudah larut. Sumber utama aluminium adalah mineral aluminosilicate yang terdapat pada batuan dan tanah secara melimpah. Pada proses pelapukan batuan, aluminium berada dalam bentuk residu yang tidak larut, misalnya bauxite. Aluminium banyak digunakan di pabrik kertas, dyes, penyamakan, dan percetakan. Aluminium yang berupa alum

  [Al2(SO4)3.4H2O] digunakan sebagai koagulan pada pengelolahan limbah (Efendi, 2003). biasanya memiliki kandungan aluminium kurang dari 1,0 mg/liter. Perairan asam (asidic) memiliki kadar aluminium yang lebih tinggi (Efendi, 3003).

  Aluminium dalam air jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan aluminium didalam bahan makanan. Dalam menjernihkan air, garam Al berfungsi untuk mengendalikan warna dan kekeruhan. Agar kejernihan dan warna air sesuai dengan persyaratan, air minum memiliki standar jumlah garam aluminium tertentu. Aluminium bukan merupakan mikroelemen yang di perlukana oleh tubuh. Walaupun demikian, kehadirannya di dalam makanan/minuman dapat membantu memenuhi kebutuhan aluminium bagi tubuh. Menurut penelitian, ada keterkaitan antara unsur aluminium dan penyakit ketuaan (dimentia) serta penyakit Alzheimer (Sitepoe, 1997).

2.6 Koagulan Poly Aluminium Clorida (PAC) dan Tawas

  Koagulan adalah zat kimia yang digunakan untuk pembentukan flok pada proses pencampuran (koagulasi-flokulasi). Koagulan menyebabkan destabilisasi muatan negatif partikel di dalam suspensi (Rifai, 2007). Secara umum koagulan berfungsi untuk: a.

  Mengurangi kekeruhan akibat adanya partikel koloid anorganik maupun organik.

  b. c.

  Mengurangi rasa dan bau yang diakibatkan oleh partikel koloid di dalam air menurun atau menaikkan pH (Rifai, 2007).

  PAC adalah garam yang dibentuk oleh aluminium-aluminium chlorida khsusu ditentukan guna memberi daya koagulasi dan flokulasi (penggumpalan dan pemadatan penggumpalan) yang lebih besar dibanding garam-garam aluminium dan besi lainnya. Poly Aluminium Chlorida sebenarnya adalah merupakan suatu senyawa kompleks berinti banyak dari ion-ion aquio aluminium yang terpolimerisasi yaitu suatu jenis dari polimer senyawa organik. Berbagai bahan kimia baik senyawa organik maupun anorganik biasanya dibutuhkan sebagai koagulan air (katalisator penggumpalan) tetapi untuk PAC biasanya tidak membutuhkan zat tersebut. Poly Aluminium Chlorida dengan arti vital yang kuat mengumpulkan setiap zat-zat yang tersuspensi atau yang secara koloidal tersuspensi dalam air, membentuk flok-flok (kepingan, gumpulan-gumpalan) yang akan mengendap dengan cepat agar dapat membentuk sludge (lumpur endapan) yang dapat disaring dengan mudah, dimana pH PAC air lebih kecil dari 6 (enam) disebut asam dan jika lebih dari 7 (tujuh) maka disebut basa. Sifat-sifat koloid dapat dibedakan yaitu koloid yang suka air dapat saling bergabung dan membentuk partikel yang lebih besar sehingga menggumpal dan mengendap.

  Koloid yang tidak suka berasal dari logam-logam dari garam-garam dan dapat stabil karena adanya permukaan air yang terikat dan menghalangi terjadinya kontak dari partikel-partikel sekitarnya. Koloid ini dapat dihilangkan dengan menurunkan portensial yaitu dengan menggunakan tebal lapisan. Poly Aluminium

  Chlorida biasanya dapat bekerja netral dengan jangkauan pH. Fungsinya dari Poly Aluminium Chlorida (PAC) adalah untuk menurunkan turbiditas air atau Segi positif penggunaan PAC adalah rentang pH untuk PAC adalah 6 – 9.

  Daya koagulasi PAC lebih baik dan flok yang dihasilkan relatif lebih besar. Konsumsi PAC lebih sedikit sehingga biaya penjernihan air persatuan waktu lebih kecil. Akibat langsung dari proses penjernihan keseluruhan yang lebih singkat adalah kapasitas penjernihan air (dari instalasi yang sudah ada) akan meningkat. Sedangkan segi negatif penggunaan PAC adalah penyimpanan PAC cair memerlukan kondisi temperatur maksimal 40° C. PAC tidak keruh bila pemakaiannya berlebih, sedangkan koagulan utama (seperti alumunium sulfat, besi klorida dan ferro sulfat) bila dosis berlebihan bagi air akan keruh, akibat dari flok yang berlebihan, maka pengunaan PAC dibidang penjernihan air lebih praktis. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa. PAC merupakan kelas dari Aluminium Chloride, yang telah dikenal dalam persenyawaan kimia organik kompleks dengan ion hidroksil ( -OH ) serta ion - ion aluminium bertaraf chlorinasi yang berlainan sebagai bentuk polynuclear. Rumus umum PAC adalah (Al 2 (OH)nC l6 -n )m (Rosariawari, 2013).

2.6.2 Koagulan Tawas

  Tawas (alum) adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al SO .11H O

  2

  4

  2

  atau 14H

  2 O atau 18H

  2 O, umumnya yang digunakan adalah 18H2O. Tawas

  merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan, karena bahan ini paling ekonomis, mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya.

  Bahan ini dapat berfungsi efektif pada pH antara 4-8. Jumlah pemakaina tawas tergantung turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi turbinity air baku maka terlepas dari sifat-sifat kimia yang terkandung oleh air baku tersebut. Semakin banyak dosis tawas yang di tambahkan maka ph akan semakin turun, karena di hasilkan asam sulfat sehingga di perlukan pencarian dosis tawas yang efektif antara pH 5,8-7,4 (Nainggolan, 2011).

  Koagulan yang berbasis aluminium seperti aluminium sulfat digunakan pada pengolahan air minum untuk memperkuat penghilangan materi partikulat, koloidal dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui air, sehingga menimbulkan konsentrasi aluminium yang lebih tinggi dalam air yang diolah dari pada dalam air mentah itu sendiri (Nainggolan, 2011).

  Senyawa tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan. Tawas banyak digunakan dengan alasan paling ekonomis, murah, mudah didapatkan dipasaran, serta mudah didapatkan dipasaran serta mudah penyimpanannya (Waluyo, 2005).

2.7 Jar Test

  Jar Test adalah suatu percobaan yang berfungsi untuk menentukan dosis optimum dari koagulan yang digunakan dalam proses pengolahan air bersih.

  Apabila percobaan dilakukan secara tepat, informasi yang berguna akan dipoleh untuk membantu operator instalasi dalam mengoptimalkan proses-proses koagulasi-flokulasi dan penjernihan (Rifai, 2007).

  Jar Test memberikan data mengenai kondisi optimum untuk parameter- parameter proses seperti : Dosis koagulan dan koagulan pembantu.

  b. pH.

  c.

  Metode pembubuhan bahan kimia(pada atau dibawah permukaan air, pembubuhan beberapa bahan kimia secara bersamaan atau berurutan, lokasi pembubuhan relatif terhadap peralatan pengadukan).

  d.

  Kecepatan larutan kimia.Waktu dan intensitas pengadukan cepat dan pengadukan lambat (flokulasi).

  e.

  Waktu penjernihan. Jar Test dapat digunakan untuk merancang suatu instalasi pengolahan air, untuk menentukan intensitas pengadukan, periode pengadukan cepat dan lambat, periode sedimentasi, jenis dan jumlah bahan kimia yang akan digunakan. Kebanyakan pada instalasi pengolahan yang ada, Jar Test digunakan untuk menentukan kondisi operasional optimum untuk berbagai kualitas air baku, khususnya dosis bahan kimia yang tepat (Rifai, 2007).

2.8 Spektrofotometri

  Analisis dengan sistem ini cara kerjanya berdasarkan atas pengukuran energi cahaya yang diserap oleh larutan dalan suatu suspensi. Dalam sistem kolorimetri ini, sinar alamiah (putih) digunakan sebagai sumber cahaya dan medianya adalah suatu media berwarna. Larutan standar diukur dan dibandingkan dengan larutan blanko, sedangkan larutan sampel diukur berdasarkan larutan standar menurut besarnya absorben (Khopkar, 1990).

  2400 adalah salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis kandungan nutrien di dalam air. Beberapa petunjuk yang mengatakan bahwa dalam penggunaannya jangan menempatkan botol yang lebih panas dari 100° C (212° F) ke salah satu adapter sel sampel dan jangan dalam kondisi basah, harus dalam kondisi kering (Hach Company, 2004).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2015. Pengujian efektivitas koagulan poly aluminium chloride (PAC) dan tawas (alum) terhadap logam aluminium (Al) pada air baku sungai Belawan dilakukan di laboratorium PDAM Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air Hamparan Perak yang berlokasi di desa Klambir V Hamparan Perak, Kab. Deli Serdang.

  3.2 Alat

  Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Batang pengaduk, Beaker gelas 1000 ml, Erlenmeyer 500 ml, Gelas ukur, Jerigen 20 L, Kuvet 10 ml dan 25 ml, Pipet volum 10 ml, Turbidimeter, Seperangkat alat Jar Test dan Spektrophotometer DR/2400.

  3.3 Bahan

  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Sampel air baku, Akuades, ECR masking reagent 0,1%, ECR reagent powder pillow, Hexamethylenetetramine buffer, Kristal koagulan tawas, Serbuk koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride), dan Tissu.

3.4 Prosedur Pengujian

  3.4.1 Penyiapan Sampel air baku (air sungai)

  dimasukkan air baku ke dalam beaker gelas bervolume 1000 ml. Air baku siap di lakukan penelitian.

  3.4.2 Pembuatan Koagulan PAC dan Tawas

  Koagulan PAC yang digunakan dalam penelitian ini adalah PAC 1%. 10 mg serbuk PAC dilarutkan dengan akuades, dilarutkan menggunakan magnetik stirer selama ±5 menit pada suhu kamar. Sedangkan koagulan tawas yang digunakan dalam penelitian ini adalah tawas 1%, 10 mg kristal tawas dilarutkan dengan akuades, dilarutkan menggunakan magnetik stirer selama ±5 menit pada suhu kamar.

  3.4.3 Prosedur Metode Jar Test untuk menentukan dosis optimum koagulan

  PAC dan Tawas

  Diambil sampel air baku. Disiapkan 3 beaker gelas 1000 ml lalu dimasukkan air baku kedalam beaker gelas 1000 ml. Masing-masing beaker gelas yang berisi air baku 1000 ml dipastikan tidak basah (kondisi luar kering). Dimasukkan koagulan PAC dan Tawas sebanyak 1.9 ml, 2.1 ml, dan 2.3 ml kemasing-masing beaker gelas. Dimasukkan ke dalam alat Jar Test. Dihidupkan alat Jar Test dan lampu Jar Test agar tampak jelas flog-flog yang terbentuk. Diturunkan alat mixer pada Jar Test tepat di posisi tengah beaker gelas. Diatur kecepatan mixer dengan kekuatan 140 rpm dan tekan tombol kecepatan waktu selama 5 menit untuk proses koagulasi, setelah itu atur kembali kecepatan mixer kecepatan mixer ke posisi nol terlebih dahulu kemudian diatur waktu selama 20 menit untuk proses sedimentasi. Dilihat flog yang terbentuk, kemudian air dapat

3.4.4 Prosedur Penetapan Kadar LogamAluminium

3.4.4.1 Persiapan Sampel Uji Masing-masing beaker gelas yang berisi air baku setelah di Jar Test.

  Dimasukkan kedalam kuvet sebanyak 20 ml, kuvet berisi sediaan 20 ml siap dilakukan pengujian terhadap kadar logam besi menggunakan spektrofotometer DR/2400.

  

3.4.4.2 Prosedur Pengujian Logam Aluminum (Al) Menggunakan

Spektrofotometer DR/2400

  Ditekan power pada alat spektrofotometer DR/2400, ditekan Hach Program pilih program 9 Aluminium ECR, lalu ditekan start, layar akan menunjukkan mg/L Al. Diisi 20 ml benda uji kedalam sampel call 25 ml tepatkan sampai tanda batas. Ditambahkan 1 kandungan ECR reagent powder pillow aduk hingga larut. Tekan tanda waktu, reaksi berlangsung selama 30 detik. Setelah 30 detik, dimasukkan reagent Hexamethylenetetramine buffer, aduk sampai merata. Dimasukkan satu tetes ECR masking reagent kedalam sampel call 10 ml. Dimasukkan sampel air kedalam botol sampel pertama yang telah diisi ECR masking reagent sebanyak 10 ml (sebagai blanko). Dimasukkan sampel air kedalam botol sampel kedua sebagai sampel yang akan di ukur sebanyak 10 ml ( sebagai contoh uji ). Setelah itu ditekan tanda waktu pada layar spektrofotometer, maka reaksi berlangsung selama 5 menit. Setelah waktu 5 menit berakhir, tutup, tekan tanda “zero” di layar akan menunjukkan 0,000 mg/L Al. Dimasukkan botol sampel yang ke 2 sebagai sampel kedalam call holder, lalu tutup. Tekan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

  Hasil penelitian perbandingan efektivitas koagulan PAC dan tawas dalam menurunkan kadar logam aluminium pada air baku sungai Belawan menggunakan alat Jar Test dengan volume sampel 1000 ml dan konsentrasi koagulan PAC dan tawas 0.5%. Kadar logam aluminium sebelum penambahan koagulan adalah 0.32 mg/l dengan kekeruhan 63.50 NTU. Penelitian dilakukan pada tanggal 12 Februari 2015 pukul 09.00 WIB ditunjukkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil penelitian efektivitas koagulan PAC dan tawas terhadap logam

  aluminium dengan dosis yang berbeda

  Volume Turbidity (NTU) Kadar No. Dosis Koagulan LogamAluminium PAC Tawas PAC Tawas

  1 19 ppm 1.9 ml

  18.60 20.30 0.053 mg/L 0.067 mg/L 2 21 ppm 2.1 ml 2.31 11.40 0.020 mg/L 0.034 mg/L 3 23 ppm 2.3 ml 1.01 6.20 0.005 mg/L 0.018 mg/L Hasil penelitian perbandingan koagulan PAC dan tawas dalam menurunkan kadar logam aluminium dalam air baku sungai Belawan dengan

Gambar 4.1 Hasil penelitian efektivitas koagulan PAC dan tawas terhadap logam

  aluminium dengan dosis yang berbeda Dapat dilihat pada gambar grafik diatas bahwa koagulan poly aluminium chloride (PAC) lebih efektif dalam penurunan kadar logam aluminium pada air baku sungai Belawan.

  0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08

  18

  19

  20

  21

  

22

  23

  24

  25 K ad ar L o g am A l Dosis

  Tawas PAC

4.2 Pembahasan

  Air merupakan kebutuhan dasar manusia, air dibutuhkan manusia untuk daya air semakin meningkat. Eksploitasi sumber-sumber air yang berlebih dengan tidak diimbangi dengan perawatan terhadap sumber air akan mengakibatkan kelangkaan air. Ditambah lagi ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, melakukan penebangan pohon tanpa memperdulikan penghijauannya, pembangunan betonisasi yang mengurangi resapan air tanah, pembuangan sampah dan limbah industri kesungai-sungai, akibatnya sumber air baku air bersih menjadi sangat langka. Penyediaan air bersih selain kuantitas, kualitas juga harus memenuhi syarat baku mutu air. Maka dari itu perusahaan air minum selalu memeriksa kualitas air hasil pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan (Rifai, 2007).

  Aluminium (Al) merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam tanah, dalam air dan udara. Sekitar 8% kerak bumi terdiri dari aluminium. Elemen ini adalah logam yang paling berlimpah yang secara alamiah terdapat di udara, tanah dan air. Karena aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia. Akhir-akhir ini masa dan media telah memperhatikan efek buruk yang mungkin dari aluminium terhadap kesehatan manusia, termasuk perannya dalam penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan Sclerosis lateral amyotropik, juga mengenai resiko potensial terhadap bayi yang minum formula susu mengandung aluminium (Parulian, 2009). Menurut sasaran mutu air minum yang digunakan Instalasi Pengolahan Air PDAM Tirtanadi syarat maksimal kekeruhan adalah 2 NTU sedangkan menurut Sedangkan kadar maksimal logam aluminium yang diperbolehkan dalam air minum menurut Peraturan Menteri Kesehetan RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 adalah 0.2 mg/L. Pada Tabel 4.1 dapat ditentukan dosis optimum yang akan digunakan dalam penentuan dosis koagulan PAC dan tawas yang efektif terhadap penurunan logam aluminium yaitu dengan dosis 23 ppm menggunakan koagulan PAC, karena pada dosis 23 ppm kekeruhannya di bawah 2 NTU sedangkan pada koagulan tawas kekeruhannya di atas 2 NTU sehingga masih menyimpang syarat sasaran mutu PDAM Tirtanadi Hamparan Perak. Oleh karena itu yang menjadi penentuan dosis yang digunakan diambil dari dosis rata-rata koagulan PAC yang memenuhi syarat sasaran mutu PDAM Tirtanadi Hamparan Perak yaitu di dosis 23 ppm. Dengan dosis yang optimum koagulan PAC dan tawas sama-sama memberikan pengaruh terhadap logam aluminium yaitu mengalami penurunan.

  Kemampuan koagulan tawas dalam menurunkan logam aluminium pada air tidak terlalu baik dibandingkan koagulan PAC. Hal ini tampak jelas pada hasil penelitian dengan dosis yang berbeda koagulan tawas memliki kadar logam aluminium yaitu pada dosis 19 ppm: 0.067 mg/l, dosis 21 ppm: 0.034 mg/l dan dosis 23 ppm: 0.018 mg/l sedangkan pada koagulan PAC kadar logam aluminiumnya yaitu pada dosis 19 ppm: 0.053 mg/l, dosis 21 ppm: 0.020 mg/l dan dosis 23 ppm: 0.005 mg/l dimana kadar logam aluminium sebelum penambahan koagulan PAC dan tawas adalah 0.32 mg/l dengan kekeruhan 63.50 NTU. Penurunan logam aluminium menggunakan koagulan PAC lebih besar dari mudah dibandingkan tawas. Pembentukan flok dengan PAC termasuk cepat dan lumpur yang muncul lebih padat dengan volume yang lebih kecil dibandingkan dengan tawas. Oleh karenanya koagulan PAC merupakan pengganti tawas padat yang efektif dan berguna karena dapat menghasilkan koagulasi air dengan kekeruhan yang lebih rendah sehingga memenuhi syarat sasaran mutu PDAM Tirtanadi Hamparan Perak dan meninggalkan lebih sedikit residu aluminium pada air yang diolah. Sehingga dapat di simpulkan bahwa koagulan PAC lebih efektif dalam penurunan kadar logam aluminium di bandingkan koagulan tawas, dan air dengan menggunakan koagulan PAC pada dosis 23 ppm sudah layak untuk digunakan sebagai air minum.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: a. Kadar aluminium pada air baku sungai Belawan sebelum penambahan koagulan PAC dan tawas menggunakan metode spektrofotometri adalah 0.32 mg/l dengan kekeruhan air 63.50 NTU, setelah penambahan koagulan dengan konsentrasi 0.5% menggunakan metode Jar Test dan spektrofotometri dengan dosis yang berbeda yaitu kadar aluminium pada air menggunakan koagulan PAC pada dosis 19 ppm: 0.053 mg/l, dosis 21 ppm: 0.020 mg/l dan dosis 23 ppm: 0.005 mg/l sedangkan kadar aluminium pada air menggunakan koagulan tawas pada dosis 19 ppm: 0.067 mg/l, dosis 21 ppm: 0.034 mg/l dan dosis 23 ppm: 0.018 mg/l sehingga dapat diketahui kedua koagulan mampu menurunkan kadar aluminium, akan tetapi penurunan logam aluminium dengan koagulan PAC lebih besar dibandingkan tawas.

  b.

  Efektivitas koagulan PAC dan tawas terhadap logam aluminium dapat disimpulkan koagulan PAC lebih baik dalam penurunan logam aluminium pada air baku karena penurunan logam aluminium dengan koagulan PAC lebih besar dibandingkan tawas dan telah memenuhi persyaratan sasaran mutu PDAM Tirtanadi Hamparan Perak maupun PERMENKES No.492/MENKES/PER/IV/2010. c.

  Dosis optimum pada air yang sudah layak di gunakan yaitu dosis 23 ppm menggunakan koagulan PAC, karena dilihat dari hasil parameter kekeruhan, Tirtanadi Hamparan Perak, sedangkan pada koagulan PAC pada dosis 23 ppm sudah memenuhi persyaratan. Sehingga air menggunakan koagulan PAC pada dosis 23 ppm sudah layak digunakan untuk air minum.

5.2 Saran

  Penelitian ini sebaiknya : a. Pada pembuatan larutan, baik PAC maupun tawas dimulai dari penimbangan sampai penambahan pengencer dilakukan sangat hati-hati supaya mendapatkan hasil yang lebih akurat.

  b.

  Penambahan volume koagulan dilakukan benar-benar dimulai dari menghitung sampai menambahkan pada sampel.

  c.

  Diberikan arahan dan penjelasan kepada masyarakat dan pengelola pabrik di sekitar Hamparan Perak tentang bahayanya membuang sampah dan limbah kesungai.

  

DAFTAR PUSTAKA

Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. Halaman.168-169.

  Efendi, E. (2009). Penentuan Kadar Al Secara Spektrofotometri Pada Water Treatment (WTP) Di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Unit Medan.

  Universitas Sumatera Utara. Tanggal 04 September 2009.

  Joko, T. (2010). Unit Produksi Dalam Sistem Pengelolaan Air Minum.

  Yogyakarta: Graha Ilmu. Halaman 12-13. Khopkar, S.M. (1990). Elementary Consept Of Analytic Chemistry.

  Diterjemahkan oleh Saptoharjo, A. Konsep Dasar Kimia Analitik. (2007). Jakarta: UI Press. Halaman 215-216.

  Kordi, K.G., Andi, B.T. (2007). Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Jakarta: Rineka Cipta. Halaman 2-3. Nainggolan, H. (2011). Pengolahan Limbah Cair Industri Perkebunan dan Air

Gambut Menjadi Air Bersih. Medan : USU Press. Halaman 50-57.

Parulian, A. (2009). Monitoring dan Analisis Kadar Aluminium (Al) dan Besi (Fe)

  Pada Pengolahan Air Minum PDAM Tirtanadi Sunggal. Medan: Universitas Sumatera Utara.

   Patimah. (2009). Pengaruh Penambahan PAC Terhadap Nilai Turbiditas Air

  Sebagai Bahan Baku Produk Minuman di PT. Coca-Cola Indonesia Bottling Medan. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

   Rifai, J. 2007. Pemeriksaan Kualitas Air Bersih dengan Koagulan Alum dan PAC di IPA Jurug PDAM kota Surakarta. Universitas Sebelas Maret.

  

   Tanggal: 15 Agustus 2007. Rosariawari, F., Mirwan, M. (2013). Efektifitas PAC dan Tawas Untuk

  Menurunkan Kekeruhan Pada Air Permukaan. Universitas Pembangunan

  Nasional Tanggal: 09 Desember 2013. Sitepoe, M. (1997). Air Untuk Kehidupan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Halaman 27-28. Vogel. (1979). Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Waluyo, L. (2005). Mikrobiologi Lingkungan. Malang: UMM Press. Halaman 115-118, 162.

  Lampiran 1: Gambar Sampel

  Lampiran 2: Gambar Alat-alat Turbidimeter Gambar 1.

  Gambar 2. Alat Jar test Gambar 3. Spektrophotometer DR/2400

  

Lampiran 3 : Gambar Bahan-bahan

Gambar 4. Sampel di Jar Test Gambar 5. Serbuk Tawas

Gambar 6. Serbuk PAC Gambar 7. Larutan PAC dan Tawas

  Lampiran 3: Gambar Bahan-bahan (Lanjutan)

Gambar 8. ECR Masking Reagent 0,1 % Gambar 9. SerbukHexamine

Gambar 10. Serbuk ECR Reagent Powder Pillow

  Lampiran 4 : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492 tahun

  2010

  Lampiran 5: Sasaran Mutu Pengelola Instalasi Air PDAM Tirtanadi Sumatera

  Utara

Efektivitas Koagulan Poly Aluminium Chloride (PAC) dan Tawas Terhadap Logam Aluminium Pada Air Baku PDAM Tirtanadi Hamparan Perak Hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Jar Test Spektrofotometri TINJAUAN PUSTAKA Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416 tahun 1990 Pembahasan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Air TINJAUAN PUSTAKA Persyaratan Air Minum Aluminium Poly Aluminium Chlorida PAC Sumber-sumber Air TINJAUAN PUSTAKA Tujuan Percobaan Manfaat Percobaan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Efektivitas Koagulan Poly Aluminium Chloride..

Gratis

Feedback