Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Pdrb Antar Provinsi Di Indonesia

 10  134  343  2017-01-18 05:19:22 Laporkan dokumen yang dilanggar

ANALISIS KOMPARASI KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PDRB ANTAR PROVINSI DI INDONESIA SKRIPSI

  OLEH : ANNISA AZZAHRA

  

ANALISIS KOMPARASI KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN

TERHADAP PDRB ANTAR PROVINSI DI INDONESIA

SKRIPSI

OLEH :

ANNISA AZZAHRA

  

110304120

AGRIBISNIS

  Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

  

Disetujui Oleh

Komisi Pembimbing

Ketua Anggota (DR. Ir. Tavi Supriana, M.S.) (Siti Khadijah H.N., S.P., M.Si)

  ABSTRAK ANNISA AZZAHRA (110304120/AGRIBISNIS) dengan judul skripsi ANALISIS KOMPARASI KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN

  TERHADAP PDRB ANTAR PROVINSI DI INDONESIA Penelitian ini

  dibimbing oleh DR. Ir. Tavi Supriana, M.S., dan Siti Khadijah H.N., S.P. M.Si Tujuan penelitian adalah untuk (1) Untuk mengetahui kontribusi Sektor

  Pertanian terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia, (2) Untuk mengidentifikasi apakah Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di setiap provinsi di Indonesia, (3) Untuk menganalisis komparasi kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB antar provinsi di Indonesia.

  Metode penelitian yang digunakan adalah (1) Metode deskriptif yaitu dengan menjelaskan perolehan perhitungan kontribusi Sektor Pertanian, dengan melihat besarnya sub sektor tertinggi dan pertumbuhan di setiap tahunnya, (2) Metode analisis Location Quotion (LQ) dengan kriteria LQ>1, LQ=1, LQ<1, (3) Menggunakan metode analisis tabulasi sederhana digunakan analisis statistik uji beda rata-rata dengan menggunakan Uji T.

  Hasil penelitian diperoleh adalah (1) Sektor Pertanian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia. Walaupun ada sembilan provinsi yang Sektor Pertanian yang tidak berkontribusi paling besar, yaitu: Provinsi Riau, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Banten, Provinsi Bali, Provinsi Papua Barat; (2) Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di Indonesia pada periode 2004-2012. Walaupun ada empat provinsi yang Sektor Pertanian bukan merupakan sektor unggulan, yaitu: Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, dan Provinsi Kalimantan Timur. Namun, rata-rata di setiap provinsi (33 provinsi) sektor unggulannya adalah Sektor Pertanian; (3) Kontribusi sektor pertanian di provinsi-provinsi yang

KATA PENGANTAR

  Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah serta limpahan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan, motivasi, bimbingan, pengarahan, serta kritikan yang membangun yang disampaikan kepada penulis. Untuk itu dalam kesempatan ini dengan setulus hati, penulis mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada :

  1. Ibu DR. Ir. Tavi Supriana, M.S. selaku ketua komisi pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan serta saran dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  2. Ibu Siti Khadijah, S.P., M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan serta saran dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  5. Ayahanda tercinta Sutrisno, SE dan Ibunda tercinta Indra Pratiwi, SH serta adik-adik tercinta Nandra Aulia Azzahra dan M. Zein Arbie yang telah memberikan doa dan begitu banyak perhatian, cinta dan kasih sayang serta dukungan baik moril maupun materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di waktu yang tepat.

  6. Teman-teman seperjuangan Program Studi Agrbisnis 2011, Yuli Hariani Siregar yang selalu bersama dalam segala urusan, Denti Juli Irawati, Risa Januarti, Ade Rezkika Nasution, M. Idris Alfad, Ade Silvana Sari, Maya Anggraini, Dwi Utari, Syari Syafrina, Mutiara Sani, M. Sidik Pramono dan teman teman agribisnis 2011 yang tidak bisa saya ucapkan seluruhnya, yang telah mendukung penulis dalam pengerjaan skripsi ini.

  7. Seluruh keluarga yang telah memberikan doa, dukungan dan semangat kepada saya selama penelitian.

  Akhirnya penulis mendoakan kiranya Allah SWT menerima seluruh amal dan ibadah mereka dengan membalas budi baik mereka dengan pahala berlipat ganda, semoga segala usaha dan niat baik yang telah kita lakukan mendapat ridho Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

  ABSTRAK ANNISA AZZAHRA (110304120/AGRIBISNIS) dengan judul skripsi ANALISIS KOMPARASI KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN

  TERHADAP PDRB ANTAR PROVINSI DI INDONESIA Penelitian ini

  dibimbing oleh DR. Ir. Tavi Supriana, M.S., dan Siti Khadijah H.N., S.P. M.Si Tujuan penelitian adalah untuk (1) Untuk mengetahui kontribusi Sektor

  Pertanian terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia, (2) Untuk mengidentifikasi apakah Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di setiap provinsi di Indonesia, (3) Untuk menganalisis komparasi kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB antar provinsi di Indonesia.

  Metode penelitian yang digunakan adalah (1) Metode deskriptif yaitu dengan menjelaskan perolehan perhitungan kontribusi Sektor Pertanian, dengan melihat besarnya sub sektor tertinggi dan pertumbuhan di setiap tahunnya, (2) Metode analisis Location Quotion (LQ) dengan kriteria LQ>1, LQ=1, LQ<1, (3) Menggunakan metode analisis tabulasi sederhana digunakan analisis statistik uji beda rata-rata dengan menggunakan Uji T.

  Hasil penelitian diperoleh adalah (1) Sektor Pertanian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia. Walaupun ada sembilan provinsi yang Sektor Pertanian yang tidak berkontribusi paling besar, yaitu: Provinsi Riau, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Banten, Provinsi Bali, Provinsi Papua Barat; (2) Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di Indonesia pada periode 2004-2012. Walaupun ada empat provinsi yang Sektor Pertanian bukan merupakan sektor unggulan, yaitu: Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, dan Provinsi Kalimantan Timur. Namun, rata-rata di setiap provinsi (33 provinsi) sektor unggulannya adalah Sektor Pertanian; (3) Kontribusi sektor pertanian di provinsi-provinsi yang

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pertanian merupakan salah satu usaha yang sangat menguntungkan dan dapat dilakukan dengan efisien. Karena, Indonesia mempunyai keunggulan komperatif (comparative advantage) yang tidak dipunyai oleh negara lain. Yaitu adanya tanah yang luas dan subur, air melimpah, musim yang mendukung untuk perkembangan pertanian (Nunung, 2006).

  Pertanian dianggap sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Pada mulanya pertanian di tanah air dilakukan sebagai usaha untuk menghasilkan keperluan sehari-hari petani dari tanah tempatnya berpijak, pertanian seperti itu disebut pertanian gurem dan hidup dalam suatu perekonomian tertutup (Nasoetion, 2005).

  Sektor pertanian menempati posisi penting sebagai penyumbang Produk lebih tangguh menghadapi gejolak perekonomian eksternal, dengan demikian upaya mempertahankan dan meningkatkan peranan sektor pertanian merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan ketahanan ekonomi. Hal ini terbukti dari fakta empiris, disaat Indonesia menghadapi krisis dan secara nasional mengalami laju pertumbuhan ekonomi negatif yaitu berkisar -13,6% menurut perhitungan BPS pada tahun 1998 , hanya sektor pertanian yang tumbuh positif yaitu 5,32% pada triwulan I tahun 1998 (Solahuddin, 2009 dalam Kartika, 2013).

  Sampai era reformasi sekarang, tampaknya sektor pertanian masih dan akan merupakan sektor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagian besar penduduk Indonesia (>60% ) tinggal dipedesaan dan lebih dari separoh penduduk tersebut menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sementara itu, kontribusi utama sektor pertanian terhadap pembangunan nasional selama PJP I telah berhasil secara nyata meningkatkan penyediaan bahan pangan khususnya beras, menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menunjang sektor nonpertanian melalui penyediaan bahan baku untuk industri pengolahan (Daniel, 2004).

  Pembangunan ekonomi di negara berkembang dimana memiliki kekayaan berdasarkan indikator PDB tidak terlalu besar. Dapat dilihat pada Gambar 1.1 dari tahun 2004 hingga tahun 2012 pertumbuhan sektor pertanian semakin meningkat, namun masih di bawah pertumbuhan PDB secara nasional dan jika dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Berikut ini gambar Produk Domestik Bruto Atas Harga Kostan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2004-2012.

  800.000,00 700.000,00 Pertanian 600.000,00 Pertambangan Dan Penggalian Industri 500.000,00 Listrik,gas,air bersih

  400.000,00 Konstruksi 300.000,00 Perdagangan Pengangkutan

  200.000,00 dan Komunikasi

  100.000,00 0,00 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 juga jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan sektor pertanian dan jumlah pendapatan nasional yang berasal dari sektor industri pengolahan jauh lebih besar dari sektor pertanian.

  Walaupun sektor pertanian di Indonesia masih tergolong kurang berkembang, tetapi sektor pertanian memainkan peranan penting dalam proses industrialisasi pembangunan ekonomi Indonesia, sebab sektor pertanian dapat menjadi sektor pendukung maupun penunjang dalam pembangunan sektor industri. Dalam contoh kasus di atas sektor pertanian memiliki keterkaitan dengan sektor industri dan pada kenyataannya dalam perekonomian dapat terjadi hubungan atau keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor-sektor lainnya. Dengan mengetahui sektor mana saja yang memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor pertanian maka pembangunan sektor pertanian dapat diarahkan untuk menciptakan keterpaduan antar sektor pertanian dengan sektor-sektor yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor pertanian tersebut sehingga diharapkan dapat menciptakan sinergitas antara sektor-sektor tersebut dan pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

  Menurut Sukino (2013) ada beberapa alasan pembangunan pertanian tidak b) Pertumbuhan penduduk Indonesia sebagai lahan konsumen yang tinggi pertumbuhan perusahaan-perusahaan asing maupun domestic sangat tinggi, sehingga pemerintah baik pusat maupun daerah banyak berpihak kepada industri dari pada pembangunan pertanian.

  Namun sayangnya, besar kontribusi dalam perekonomian PDB di sektor pertanian kurang diikuti oleh besarnya laju pertumbuhan pertanian. Terihat pada Gambar 1.2, dari tahun 2004 hingga tahun 2008 laju pertumbuhan sektor pertanian terus meningkat tetapi pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 3,98% dan pada tahun 2010 juga mengalami penurunan sebesar 3,01%. Padahal apabila laju pertumbuhan PDB juga terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan kontribusinya maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Berikut ini Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Pertanian (persen).

  4,77 4,20 3,98 3,43

  3,37 2,98 3,01 2,82 2,66 Banyak faktor penyebabnya, di antaranya adalah pola pembangunan sektor pertanian itu sendiri yang selama ini lebih diarahkan kepada tujuannya, yaitu sebagai pemasok makanan sehingga kurang usaha-usaha diversifikasi produksi. Faktor penyebab lainnya adalah pola industrialisasi yang selama pemerintahan orde baru, lebih mengedepankan pembangunan industri-industri yang menghasilkan barang-barang jadi yang bahan baku utamanya bukan dari sektor pertanian (Tambunan, 2003).

  Sektor pertanian terbagi menjadi pertanian secara luas dan pertanian secara sempit (Mubyarto 1989). Kinerja sektor pertanian secara luas ditunjang oleh masing-masing sub-sektor yang terdiri dari sub-sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sedangkan sektor pertanian secara sempit tidak memasukkan sub-sektor kehutanan dan perikanan. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan PDB sub-sektor, dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan sub-sektor tanaman pangan relatif lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sub-sektor lainnya. Dapat dilihat pada Gambar 1.3 pada tahun 2011- 2012 tanaman pangan mengalami penurunan pertumbuhan (2.4 persen), perkebunan dan peternakan mengalami peningkatan (4.8 persen) dan perikanan

  6,8 4,8 4,8 2,4

  5,1 4,3 4,2 3,2

  0,5

  • 0,1 Tanaman Pangan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan 2001-2010 2011-2012

Gambar 1.3 Rata-rata Pertumbuhan PDB Sub-Sektor (persen) Periode 2001-2012

  Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 (diolah) Daerah sentra produksi komoditi pertanian yang cukup menonjol antara lain yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa. Dapat dilihat pada Gambar 1.4 pertumbuhan sektor pertanian di Provinsi Jawa Timur dari tahun 2004 sampai tahun 2007 selalu mengalami peningkatan rata-rata sebesar (17 persen) setiap tahun.

Gambar 1.4 PDRB Provinsi di Sektor Pertanian Atas Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2007 (Miliar Rupiah)

  Sumber: Badan Pusat Statistik Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai menghitung kontribusi dalam pembentukan PDRB di setiap provinsi sekaligus mengidentifikasi apakah sektor pertanian termasuk sektor unggul di setiap provinsi di Indonesia. Dengan memperhatikan kondisi dan potensi yang dimiliki Indonesia, maka pembangunan ekonomi di sektor pertanian akan berjalan optimal.

1.2 Identifikasi Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia?

  2. Apakah Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di setiap provinsi di Indonesia?

  2. Untuk mengidentifikasi apakah Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di setiap provinsi di Indonesia

  3. Untuk menganalisis komparasi kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB antar provinsi di Indonesia

1.4 Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat penelitian ini adalah:

  1. Sebagai bahan informasi mengenai kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia

  2. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  2.1 Gambaran Umum Pertanian

  Menurut Mosher dalam Mubyarto (1989) mendefinisikan pertanian sebagai sejenis proses produksi khas yang didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Pertanian dalam arti sempit diartikan sebagai pertanian rakyat yaitu usaha pertanian keluarga dimana diproduksinya bahan makanan utama seperti beras, palawija (jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian). Sektor pertanian meliputi kegiataan pengusahaan dan pemanfaatan benda-benda biologis/ hidup yang diperoleh dari alam dengan tujuan untuk konsumsi. Berdasarkan definisi ini, sektor pertanian secara sempit dapat dirinci atas beberapa sub-sektor, yaitu:

  1. Sektor tanaman pangan (Food Crop) Mencakup segala jenis makanan yang dihasilkan dan dipergunakan sebagai bahan makanan seperti, padi, jagung, ketela pohon, kentang dan umbi-

  Mencakup kegiatan pemeliharaan ternak besar, ternak kecil, dan unggas yang bersifat komersial dengan tujuan untuk dikembangbiakkan, dipotong dan diambil hasilnya seperti; sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba, ayam, itik, burung, ulat sutra dan sebagainya.

  Pertanian muncul pada saat manusia mulai mengendalikan pertumbuhan tanaman dan hewan, serta mengaturnya sedemikian rupa sehingga menguntungkan. Perbedaan antara pertanian yang ilmiah dan pertanian yang masih primitif terletak pada taraf sampai di mana penguasaan manusia atas pertumbuhan tanaman dan hewan telah terlaksana Pada pertanian yang masih sangat primitif, petani menerima tanah, curah hujan, dan berbagai jenis tanman yang ada sebagaimana adanya. Pada pertanian yang sudah modern, manusia menggunakan kecerdasan otaknya untuk meningkatkan penguasaannya terhadap semua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan (Hanafie, 2010).

  Pertanian dianggap sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Pada mulanya pertanian di tanah air dilakukan sebagai usaha untuk menghasilkan menggunakan peralatan tradisional yang termasuk pula di dalamnya (BPS, 2003 dalam Ramanto, 2008). Bisa juga pertanian disebut sebagai upaya pengolahan tanaman dan lingkungan agar memberikan suatu produk (Mardjuki, 1990).

  Pertanian merupakan suatu proses produksi yang khas didasarkan atas proses-proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Pembangunan pertanian merupakan suatu proses perubahan kondisi yang kurang baik menjadi kondisi yang lebih baik di sektor pertanian. Pembangunan pertanian tidak hanya dipengaruhi oleh unsur-unsur produksi seperti sumberdaya alam, tenaga kerja, dan modal, tetapi juga dipengaruhi aspek-aspek sosial, ekonomi, dan politik (Mosher, 1966 dalam Santoso, 2005).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Kontribusi Sektor Pertanian

  Sektor pertanian merupakan salah satu sektor perekonomian yang mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan nasional terutama di negara- negara sedang berkembang. Hal ini dikarenakan pada umumnya negara-negara berkembang tersebut merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya

  1. Percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian teknologi, institusional, dan insentif harga yang khusus dirancang untuk meningkatkan produktivitas para petani kecil.

  2. Peningkatan permintaan domestik terhadap output pertanian yang dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang berorientasikan pada upaya pembinaan ketenagakerjaan.

  3. Diversifikasi kegiatan pembangunan daerah pedesaan yang bersifat padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara langsung dan tidak langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat pertanian.

  Pertanian di negara sedang berkembang merupakan suatu sektor ekonomi yang sangat potensial kontribusinya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, yaitu sebagai berikut (Kuznets, 1964 dalam Tambunan, 2003).

  1. Ekspansi dari sektor-sektor ekonomi nonpertanian sangat tergantung pada produk-produk dari sektor pertanian, bukan saja untuk kelangsungan pertumbuhan suplai makanan, tetapi juga untuk penyediaan bahan-bahan baku untuk keperluan kegiatan produksi di sektor-sektor nonpertanian tersebut, terutama industri pengolahan, seperti industri-industri makanan dan minuman, baik untuk barang-barang produsen maupun barang-barang konsumen. Kuznets menyebutnya kontribusi pasar.

  3. Karena relatif pentingnya pertanian (dilihat dari sumbangan outputnya terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dan andilnya terhadap penyerapan tenaga kerja) tanpa bisa dihindari menurun dengan pertumbuhan atau semakin tingginya tingkat pembangunan ekonomi, sektor ini dilihat sebagai suatu sumber modal untuk investasi di dalam ekonomi. Jadi, pembangunan ekonomi melibatkan transfer surplus modal dari sektor pertanian ke sektor-sektor nonpertanian. Sama juga, seperti di dalam teori penawaran tenaga kerja tak terbatas dari Arthur Lewis (1954), dalam proses pembangunan ekonomi jangka panjang terjadi perpindahan surplus tenaga kerja dari pertanian (pedesaan) ke industri dan sektor-sektor nonpertanian lainnya (perkotaan).

  Kuznets menyebutnya kontribusi faktor-faktor produksi.

  4. Sektor pertanian mampu berperan sabagai salah satu sumber penting bagi surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran (sumber devisa), baik lewat ekspor hasil-hasil pertanian atau peningkatan produksi komoditi- komoditi pertanian menggantikan impor (substitusi impor). Kuznets mempunyai keunggulan kompetitif yang terbukti mampu menghadapi gangguan dari luar. Keunggulan kompetitifnya didapat dari input yang berbasis sumber daya lokal.

2.2.2 Produk Domestik Regional Bruto

  Produk Domestik Bruto (PDB) sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Apabila diterjemahkan dalam tataran daerah maka PDB disebut dengan PDRB. PDRB adalah total nilai produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu tanpa melihat faktor kepemilikan. Salah satu model yang menunjukkan bagaimana pertumbuhan persediaan modal, pertumbuhan angkatan kerja dan kemajuan teknologi berinteraksi dalam perekonomian serta bagaimana pengaruhnya terhadap output barang dan jasa (PDRB) suatu wilayah secara keseluruhan adalah Model Solow (Mankiw, 2006).

  Salah satu indikator ekonomi makro yang berperan dalam membuat pemerintah, letak geografis serta tersedianya sarana dan prasarana di wilayah tersebut. Terdapat beberapa ukuran pendapatan nasional , diantaranya: Gross

  

National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB), Gross Domestic

Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB), Net National Product (NNP)

  atau Produk Nasional Neto (PNN), dan National Income (NI) atau Pendapatan Nasional (PN).

  Perhitungan PDRB dapat dilakukan dengan dua metode antara lain:

  a. Metode Langsung Dalam menghitung PDRB Dengan metode langsung, perhitungan diserahkan sepenuhnya pada data daerah yang terpisah dari data nasional, sehingga hasil perhitungannya mencakup seluruh produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Dalam metode ini PDRB dapat diukur dengan tiga pendekatan yaitu: 1.

   Pendekatan Produksi

  PDRB merupakan jumlah barang dan jasa terakhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di dalam suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu. Unit-unit produksi dimaksud secara garis besar dipilah-pilah menjadi 11 sektor (dapat juga dibagi menjadi 9 sektor) yaitu: (1) pertanian; (2) pertambangan dan penggalian;

  Balas jasa produksi yang dimaksud meliputi upah dan gaji, sewa tanah, modal, dan keuntungan. Semuanya dihitung sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam hal ini mencakup juga penyusutan dan pajak-pajak tak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatan ini per sektor disebut

  

nilai tambah bruto sektoral. Oleh sebab itu PDRB menurut pendekatan

  pendapatan merupakan penjumlahan dari nilai tambah bruto seluruh sektor atau lapangan usaha.

3. Pendekatan Pengeluaran

  PDRB adalah jumlah seluruh komponen permintaan akhir, meliputi (1) pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari keuntungan; (2) pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok; (3) pengeluaran konsumsi pemerintah; serta (4) ekspor neto (yaitu ekspor dikurang impor) dalam jangka waktu setahun.

b. Metode Tidak Langsung / Alokasi

  Menghitung nilai tambah suatu kelompok kegiatan ekonomi dengan mengalokasikan nilai tambah nasional ke dalam masing-masing kelompok

  Dilihat dari penjelasan di atas PDRB dari suatu daerah/wilayah lebih menunjukkan pada besaran produksi suatu daerah bukan pendapatan yang sebenarnya diterima oleh penduduk sekitar yang bersangkutan. Walaupun demikian, PDRB merupakan data yang paling representatif dalam menunjukkan pendapatan dibandingkan dengan data-data yang lainnya (Dumairy, 1996).

2.2.3 Sektor Unggulan

  Sektor unggulan adalah sektor yang salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan faktor anugerah (endowment factors). Selanjutnya faktor ini berkembang lebih lanjut melalui kegiatan investasi dan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi. Dengan adanya sektor unggulan, maka akan mempermudah pemerintah dalam mengalokasikan dana yang tepat sehingga kemajuan perekonomian akan tercapai.

  Kriteria sektor unggulan sangat bervariasi. Hal ini didasarkan atas seberapa besar peranan sektor tersebut dalam perekonomian daerah, diantaranya :

  

pertama, sektor unggulan tersebut memiliki laju pertumbuhan yang tinggi; kedua, kata lain, sektor unggulan berhubungan langsung dengan permintaan dari luar, sedangkan sektor non unggulan berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui sektor unggulan terlebih dahulu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sektor unggulan merupakan penggerak utama dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah (Glasson, 1997).

2.3 Metode Analisis Sektor Unggulan

  Location Quotient (LQ)

2.3.1 Analisis

  Location Quotient (Kuosien lokasi) atau disingkat LQ adalah

  perbandingan dengan besarnya peranan suatu sektor/industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Analisis LQ memang sangat sederhana sehingga apabila digunakan dalam bentuk one shot

  analysis, manfaatnya juga tidak begitu besar yaitu hanya melihat nilai LQ berada

  di atas 1 atau tidak. Analisis LQ bisa dibuat menarik apabila dilakukan dalam bentuk time-series/trend, artinya dianalisis dalam beberapa kurun waktu tertentu (Tarigan, 2005). pada tingkat provinsi, maka daerah bawahnya adalah provinsi, dan daerah atasnya adalah Indonesia.

2.4. Penelitian Terdahulu

  Kartika (2013) melakukan penelitian dengan judul “Analisi Kontribusi Ekspor Kopi terhadap PDRB Sektor Perkebunan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekspor Kopi Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan ekspor komoditi kopi Sumatera Utara dan mengetahui bagaimana kontribusi ekspor kopi terhadap PDRB sektor perkebunan Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan ekspor kopi terus mengalami peningkatan yang bersifat fluktiatif dari tahun ke tahun dengan trend yang cenderung meningkat dan volume ekspor kopi memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan PDRB sektor perkebunan Sumatera Utara.

  Fitriah (2014) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Investasi Swasta dan Tenaga Kerja terhadap PDRB Sektor Pertanian, Sub-Sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, Peternakan”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah tenaga kerja dan nilai realisasi PMDN dan PMA sektor pertanian terhadap Sektor Pertanian terhadap PDRB, penyerapan tenaga kerja, dan laju perrtumbuhan ekonomi di Pemerintah Aceh. Hasil penelitian menunjukkan Sektor Pertanian mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap PDRB Pemerintah Aceh, disamping itu mayoritas penduduk Pemerintah Aceh bekerja di Sektor Pertanian.

  Sektor Pertanian menyumbang rata-rata 20,97 persen per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2000-2007. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan sektor- sektor lain.

  Restiviana (20 08), dalam penelitiannya dengan judul “Perekonomian

  Wilayah Banyuwangi ”. Hasil penelitiannya menyatakan sektor yang berdaya saing rendah pada Kabupaten Banyuwangi adalah Sekor Pertambangan dan

  Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Angkutan dan Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan serta Sektor Jasa-Jasa. Sektor- sektor tersebut di atas berdaya saing kurang baik jika dibandingkan dengan sektor yang sama yang ada di kabupaten lain di Jawa Timur. Sedangkan Sektor Bangunan merupakan sektor-sektor berdaya saing tertinggi di Kabupaten

  Tangerang didominasi oleh sektor primer, yaitu pertanian dan pertambangan, kemudian sektor sekunder, yaitu industri pengolahan, listrik gas dan air bersih. sedangkan sektor tersier mengalami pergeseran ke arah peningkatan, yaitu sektor keuangan, persewaan dan jasa.

2.4 Kerangka Konseptual

  Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah dengan cara bertani atau berkebun sehingga Sektor Pertanian sangat vital bagi Indonesia. Peningkatan produktivitas di Sektor Pertanian akan meningkatkan pendapatan masyarakat menengah ke bawah yang bekerja pada Sektor Pertanian. Peningkatan pendapatan ini akan meningkatkan taraf hidup masyarakat pada Sektor Pertanian yang jumlahnya cukup besar. Semakin banyak masyarakat yang tertarik pada Sektor Pertanian, semakin berkembang Sektor P ertanian, sehingga “range” PDRB perkapita antar daerah yang didominasi oleh Sektor Pertanian dan daerah yang didominasi oleh sektor non pertanian semakin sempit.

  Pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari adanya sektor-sektor ekonomi

  Metode LQ berguna untuk menentukan Sektor Pertanian di setiap provinsi merupakan sektor unggulan atau sektor non unggulan. Selanjutnya, merumuskan untuk memprioritaskan provinsi yang Sektor Pertanian adalah sektor unggulan dan yang sangat potensial untuk dikembangkan sehingga pada akhirnya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut.

  Penelitian ini memfokuskan untuk menganalisis komparasi seberapa besar kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB antar provinsi di Indonesia.

  

Sektor Pertanian

Pendekatan

  Location Quotient

  Sektor Pertanian

  6. Sektor Perdagangan

  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian 7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 3.

  Sektor Industri Pengolahan

  8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

  4. Sektor Listrik, Gas, dan Air minum

  9. Sektor Jasa-jasa

  5. Sektor Bangunan

  

PDRB di 33 Provinsi Periode 2004-2012

9 Sektor Perekonomian Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 1.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB antar Provinsi di Indonesia

  Keterangan : : Menyatakan Kontribusi : Menyatakan Hubungan

2.5 Hipotesis Penelitian

  Berdasarkan uraian identifikasi masalah dan landasan teori, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

  1. Sektor Pertanian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia, dibanding dengan sektor-sektor lainnya.

  2. Sektor Pertanian di setiap provinsi di Indonesia merupakan sektor unggulan

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

  Daerah penelitian ini ditentukan secara purposive (sengaja) yaitu di Indonesia dengan mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam di Indonesia, pertanian merupakan salah satu usaha yang sangat menguntungkan dan dapat dilakukan dengan efisien. Karena, negara kita mempunyai keunggulan komparatif yang tidak dipunyai oleh negara lain dan menurut Nunung (2006), masih ada 30,4 juta hektar hutan cadangan, 6,3 juta ha rawa-rawa, dan 6,1 juta hektar tanah yang belum dimanfaatkan. Sehingga Indonesia mempunyai peranan dan posisi yang strategis sebagai penyumbang PDRB terbesar dalam sektor pertanian, untuk itu dibutuhkan penelitian mengenai sektor pertanian termasuk sektor unggulan.

  3.2 Metode Pengumpulan Data

  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang

3.3 Metode Analisis Data 3.3.1. Analisa Data Identifikasi Masalah 1 (Hipotesis 1)

  Untuk menjawab Identifikasi Masalah 1 yang digunakan adalah dengan metode analisis deskriptif, berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data sekunder yaitu mengenai kontribusi Sektor Pertanian di 33 provinsi di Indonesia.

  Hipotesis 1, diuji dengan melihat besarnya sub sektor pertanian yang unggul digunakan rumus:

  Kss = ...………………………………………… (3.1)

  Dimana:

  Kss = Kontribusi Sub sektor rata-rata di setiap provinsi

  VASS* = Jumlah nilai PDRB sub sektor di setiap provinsi n = Jumlah data

  Sit = PDRB Sektor Pertanian pada tahun ke-t (rupiah) Tt = Total PDRB pada tahun-t (rupiah)

  Kemudian dihitung besarnya pertumbuhan Sektor Pertanian yang dicapai selama jangka waktu tertentu dengan menggunakan rumus :

  Git = . ............................................................. (3.3)

  Dimana : Git = Pertumbuhan Sektor Pertanian pada tahun ke-t (%) Pit = Besarnya PDRB Sektor Pertanian pada tahun ke-t (rupiah) Pit-1 = Besarnya PDRB Sektor Pertanian pada tahun ke-t-1 (rupiah) 3.3.2.

   Analisa Data Identifikasi Masalah 2 (Hipotesis 2)

  Untuk menjawab identifikasi masalah 2 yang digunakan adalah dengan metode analisis LQ. Location Quotion (LQ) yaitu perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan yang sama a. LQ lebih besar dari satu (LQ > 1) Berarti komoditas tersebut merupakan sektor basis, artinya produksi komoditas yang bersangkutan sudah melebihi kebutuhan konsumsi di daerah dimana komoditas tersebut dihasilkan dan kelebihannya dapat dijual ke luar daerah. Dalam hal ini tingkat spesialisasi sektor tertentu pada provinsi i lebih besar dari sektor yang sama pada tingkat nasional.

  b. LQ lebih kecil dari satu (LQ < 1) Produksi komoditas tersebut belum mencukupi kebutuhan konsumsi di daerah yang bersangkutan dan pemenuhannya didatangkan dari daerah lain.

  Dalam hal ini spesialisasi sektor tertentu pada provinsi i lebih kecil dari sektor yang sama pada tingkat nasional.

  c. LQ sama dengan satu (LQ = 1) Produksi komoditas yang bersangkutan hanya cukup untuk kebutuhan daerah setempat. Dalam hal ini tingkat spesialisasi sektor tertentu pada provinsi i sama dengan sektor yang sama pada tingkat nasional.

3.3.3. Analisa Data Identifikasi Masalah 3

  Sehingga metode deskriptif digunakan untuk memaparkan hasil yang menunjukkan kontribusi paling tinggi di Sektor Pertanian.

3.4 Definisi dan Batasan Operasional

  3.4.1. Definisi

  1. Kontribusi Sektor Pertanian adalah sumbangan yang diberikan oleh Sektor Pertanian dengan melihat dalam PDRB provinsi di Indonesia

  2. PDRB menurut lapangan usaha adalah besarnya lapangan usaha pertanian dibandingkan dengan 8 sektor lainnya.

  3.4.2. Batasan Operasional

  1. Data yang diambil adalah data dalam kurun waktu tahun 2004 sampai tahun 2012 meliputi data PDRB sektor-sektor ekonomi menurut lapangan usaha di

  33 Provinsi Indonesia dan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha.

  2. Waktu Penelitian tahun 2015.

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah

4.1.1 Batas dan Topografi Wilayah Indonesia

  Secara astronomis, Indonesia terletak antara 6 08’ Lintang Utara dan

  11 15’ Lintang Selatan dan antara 94 45’ – 141 05’ Bujur Timur dan dilalui oleh garis ekuator atau garis khatulistiwa yang terletak pada garis lintang 0 .

  Berdasarkan posisi geografisnya, negara Indonesia memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Negara Malaysia, Negara Singapura, Negara Filipina, dan Laut Cina Selatan.

  Sebelah Selatan : Negara Australia, dan Samudra Hindia. Sebelah Barat : Samudra Hindia. Sebelah Timur : Negara Papua Nugini, Timor Leste, dan Samudra Pasifik.

  Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi Lampung

  Kepulauan Riau : Kepulauan Riau Kepulauan Bangka Belitung : Kepulauan Bangka Belitung Pulau Jawa : Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa

  Tengah, Provinsi Banten, Provinsi DI Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur

  Kepulauan Nusa Tenggara (Sunda Kecil) : Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur

  Pulau Kalimantan : Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Provinsi Kalimantan Utara

4.1.2 Luas dan Kondisi Gografis

  Berikut ini luas daerah di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2013, yaitu :

Tabel 4.1. Luas Setiap Provinsi di Indonesia Tahun 2013

  

Provinsi Ibu Kota Provinsi Luas

( km 2 )

  Aceh Banda Aceh 57.956,00 Sumatera Utara Medan 72.981,23 Sumatera Barat Padang 42.012,89 Riau Pekanbaru 87.023,66 Jambi Jambi 50.058,16 Sumatera Selatan Palembang 91.592,43 Bengkulu Bengkulu 19.919,33 Lampung Bandar Lampung 34.623,80 Kepulauan Bangka Belitung Pangkal Pinang 16.424,06

  Bali Denpasar 5.780,06 Nusa Tenggara Barat Mataram 18.572,32 Nusa Tenggara Timur Kupang 48.718,10 Kalimantan Barat Pontianak 147.307,00 Kalimantan Tengah Palangka Raya 153.564,50 Kalimantan Selatan Banjarmasin 38.744,23 Kalimantan Timur Samarinda 129.066,64 Kalimantan Utara Bulungan 75.467,70 Sulawesi Utara Manado 13.851,64 Sulawesi Tengah Palu 61.841,29 Sulawesi Selatan Makassar 46.717,48 Sulawesi Tenggara Kendari 38.067,70 Gorontalo Gorontalo 11.257,07 Sulawesi Barat Mamuju 16.787,18 Maluku Ambon 46.914,03 Maluku Utara Ternate 31.982,50 Papua Barat Manokwari 97.024,27 Papua Jayapura 319.036,05

4.2 Keadaan Penduduk

4.2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Penduduk di Indonesia memiliki jenis pekerjaan yang beraneka ragam.

  Berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.2. Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin ( Juta Jiwa ) Tahun 2013 No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase ( Jiwa ) ( % )

  1 Petanian 39,96 35,05

  2 Manufaktur 23,48 20,59 Pertambangan 1,56 1,37 Industri 14,78 12,96 Listrik, gas, dan air 0,25 0,22 Bangunan 6,89 6,04

  3 Jasa-jasa 50,58 44,36

Tabel 4.2. dapat menjelaskan bahwa penduduk Indonesia sebagian besar bekerja di Sektor Jasa-Jasa dengan jumlah 50,58 jiwa dengan persentase 44,36%.

  Sedangkan penduduk yang bekerja di Sektor Pertanian sebanyak 39,96 jiwa dengan persentase 35,05%. Dan penduduk yang bekerja di Sektor Manufaktur dengan jumlah 23,48 jiwa dengan persentase 20,59 %.

4.2.2 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur

  Jumlah penduduk menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3. Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut Golongan Umur Tahun 2013 No Tingkat Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

  1 15 - 19 5.744.811 5,18

  9 55 - 59 5.998.795 5,41 10 60+ 8.705.827 7,86 Jumlah 110.804.041 100

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2013 (diolah)

Tabel 4.3. diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling banyak menurut kelompok umur adalah pada umur 30

  • – 34 tahun yaitu sebanyak 16.875.894 jiwa (15,23%), sedangkan yang paling sedikit adalah kelompok umur 15
  • – 19 tahun yaitu sebanyak 5.744.811 jiwa (5,18%).

4.2.3 Kondisi Penduduk Indonesia

  Penduduk Indonesia pada tahun 2014 berjumlah 253.609.643. Hal ini menjadikan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Dimana pada peringkat pertama masih diduduki oleh China dengan jumlah penduduk sebesar 1,355 miliar jiwa, posisi kedua diduduki oleh India dengan jumlah penduduk sebesar 1,236 miliar jiwa, dan di posisi ketiga diduduki oleh Amerika Serikat dengan jumlah penduduk sebesar 318.892 juta jiwa.

Tabel 4.4. Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2000 dan Tahun 2010

  Penduduk (Jiwa) Provinsi 2000 2010

  Aceh 3.930.905 4.494.410 Sumatera Utara 11.649.655 12.982.204 Sumatera Barat 4.248.931 4.846.909 Riau 4.957.627 5.538.367 Jambi 2.413.846 3.092.265 Sumatera Selatan 6.899.675 7.450.394 Bengkulu 1.567.432 1.715.518 Lampung 6.741.439 7.608.405 Kepulauan Bangka Belitung 900.197 1.223.296

  • Kepulauan Riau

  1.679.163 DKI Jakarta 8.389.443 9.607.787 Jawa Barat 35.729.537 43.053.732 Jawa Tengah 31.228.940 32.382.657 DI Yogyakarta 3.122.268 3.457.491 Kalimantan Timur 2.455.120 3.553.143 Sulawesi Utara 2.012.098 2.270.596 Sulawesi Tengah 2.218.435 2.635.009 Sulawesi Selatan 8.059.627 8.034.776 Sulawesi Tenggara 1.821.284 2.232.586 Gorontalo 835.044 1.040.164 Sulawesi Barat - 1.158.651 Maluku 1.205.539 1.533.506 Maluku Utara 785.059 1.038.087 Papua Barat - 760.422 Papua 2.220.934 2.833.381

  INDONESIA 206.264.595 237.641.326

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2013

Tabel 4.4. memperlihatkan bahwa penduduk Indonesia tahun 2000 dan 2010 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 mengalami peningkatan

  yang cukup besar yaitu sebesar 14,9% dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 15,2%.

  (Milliar Rupiah) (Milliar Rupiah)

  Pertanian 284.827,31

  Pertambangan dan penggalian 176.431,68 108.395,63 Industri Pengolahan

  736.728,68 -560.297,00 Listrik, Gas, dan Air Bersih

  560.297,00 176.431,68 Bangunan

  15.267,97 0,00 Perdagangan, Hotel, dan Restoran

  131.708,32 -116.440,36 Pengangkuta dan Komunikasi

  140.374,40 0,00 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan

  145.104,90 -266.861,79 Jasa-Jasa yang besar terjadi pada Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, yaitu sebesar Rp. 176.431,69 miliar.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Setiap Provinsi Indonesia

  Fluktuasi pertumbuhan ekonomi secara rill dari tahun ke tahun disajikan melalui PDRB atas harga konstan. Perhitungan PDRB di setiap provinsi Indonesia setiap tahun selalu mengalami perbaikan. Pertumbuhan yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian, sebaliknya apabila negatif menunjukkan penurunan.

  Sektor Pertanian merupakan salah satu komponen penyusun PDRB disamping Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta Sektor Jasa-Jasa.

  Dalam Sektor Pertanian terdapat sub sektor yang berperan penting juga dalam peningkatan PDRB yaitu sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor tanaman

  • *

    Kss = Kontribusi sub sektor tertentu terhadap 9 Sektor Ekonomi di

  setiap provinsi

  VASS* = Nilai PDRB sub sektor tertentu di setiap provinsi

  VASS = Nilai PDRB Sektor Pertanian di setiap provinsi Sedangkan untuk melihat kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB dihitung menggunakan rumus perhitungan secara sistematis. Adapun rumusnya :

  pit= ............................................................................ (3.2)

  Dimana:

  pit= Besarnya kontribusi Sektor Pertanian pada tahun ke-t (%) Sit = PDRB Sektor Pertanian pada tahun ke-t (rupiah) Tt = Total PDRB pada tahun-t (rupiah)

5.1.1 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Aceh

  rata Rp. 8.505,22 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Aceh. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Aceh adalah Sektor Pertambangan dan Penggalian yaitu rata-rata sebesar Rp 6.360 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor Jasa-Jasa pada urutan ke empat yaitu rata-rata sebesar Rp. 6.074,44 miliar dan Rp. 5.483,33 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami peningkatan disetiap tahunnya, tetapi pada tahun 2006 sempat terjadi penurunan sebesar 21,36% dan seterusnya mengalami peningkatan. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 1.2.

  Pada Lampiran 1.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektorterhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan peristiwa musibah tsunami pada akhir tahun 2004, sehingga mengakibatkan penurunan yang cukup besar.

  Hal ini dinyatakan oleh Winoto dan Siregar (2008) dalam Fitria (2014) yang menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan di Sektor Pertanian terkait dengan tren pertumbuhan negatif sub sektor non tanaman pangan.

  

5.1.2 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera

Utara

  Daerah Pemerintah Sumatera Utara merupakan daerah yang memfokuskan pembangunannya kepada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar dibandingkan sektor lain. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Sumatera Utara dapat dilihat pada Lampiran 2.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Sumatera Utara. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 25.586 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 2.2.

  Pada Lampiran 2.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 1.037.578 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) berfluktuatif setiap tahunnya. Laju pertumbuhan yang sangat besar terjadi pada tahun 2008 (6,06) dan laju pertumbuhan yang terkecil pada tahun 2006 (2,40). Peningkatan ini disebabkan terjadinya peningkatan produksi komoditas kelapa sawit yang mengalami kenaikan harga (Fitria, 2014).

  

5.1.3 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera

Barat

  Daerah Pemerintah Sumatera Barat merupakan daerah yang kehidupan tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Sumatera Barat. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sumatera Barat adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 6.393,56 miliar per tahun disusul dengan Sektor Jasa-Jasa di urutan ketiga dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 5.841,89 miliar dan Rp. 5.216,44 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 3.2.

  Pada Lampiran 3.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 422.611 miliar per tahun.

5.1.4 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Riau

  Provinsi Riau lebih berpotensi kepada Sektor Industri, sehingga daerah Pemerintah Riau merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak begitu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar kedua setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Riau dapat dilihat pada Lampiran 4.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam pembentukan PDRB Pemerintah Riau. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 15.353 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Pertambangan dan Penggalian penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 46.120,67 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Pertambangan dan Penggalian. Penyumbang terbesar ketiga bagi PDRB Pemerintah Riau adalah Sektor Industri Pengolahan yaitu rata-rata sebesar Rp. 9.869,33 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan perkebunan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Riau. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 610.456 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami penurunan hingga tahun 2009, dan ditahun selanjutnya pertumbuhan berfluktutif. Pada tahun 2010 pertumbuhan sebesar 3,87 di tahun 2011 sebesar 4,32 dan di tahun 2012 sebesar 2,46.

  

5.1.5 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan

Riau

  Provinsi Kepulauan Riau berpotensi kepada Sektor Industri dan Pariwisata sehingga daerah Pemerintah Kepulauan Riau merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak terlalu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar kelima setelah Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan. Sumbangan sektor terbesar pertama pertama di Pemerintahan Kepulauan Riau adalah Sektor Industri Pengolahan dengan penyumbang rata-rata Rp. 19.116,22 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Kepulauan Riau adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 8.417,33 miliar per tahun disusul dengan Sektor Pertambangan dan Penggalian di urutan ketiga dan di urutan keempat dengan Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan penyumbang rata-rata sebesar Rp. 2.127,78 miliar per tahun dan Rp. 1.708.11 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 5.2.

  Pada Lampiran 5.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor perikanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Kepulauan Riau. Besar kontribusi sub sektor perikanan Rp. 120.422 miliar per tahun.

  Daerah Pemerintah Jambi merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Jambi dapat dilihat pada Lampiran 6.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Jambi. Sektor Pertanian penyumbang rata- rata Rp. 4.742,11 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Jambi. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Jambi adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.699,56 miliar per tahun disusul dengan Sektor Industri Pengolahan di urutan ketiga dan Sektor Pertambangan dan Penggalian pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.064,11 miliar dan Rp. 1.941,78 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan Provinsi Jambi. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 221.511 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Pada tahun 2010 terjadi pertumbuhan yang sangat besar, yaitu sebesar 11,33 dan pertumbuhan terkecil terjadi pada tahun 2007 sebesar 4,55.

  

5.1.7 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera

Selatan

  Provinsi Sumatera Selatan merupakan daerah yang memiliki potensi energi batu bara, sehingga daerah Pemerintah Sumatera Selatan merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak begitu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar kedua setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Sumatera Selatan dapat dilihat pada Lampiran 7.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sumatera Selatan adalah Sektor Industri Pengolahan yaitu rata-rata sebesar Rp. 10.133,11 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan keempat sebesar Rp. 8.046,11 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Kontribusi PDRB Sektor Pertanian terbesar pada tahun 2007, yaitu sebesar 20,11%. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 7.2.

  Pada Lampiran 7.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Sumatera Selatan. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 537.233 miliar per tahun. Hal ini dikarenakan kontribusi industri pengolahan kayu cenderung turun dari tahun ke tahun, sehingga sub sektor tanaman perkebunan seperti tembakau dan karet (Ernies, 2008).

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004-

5.1.8 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Bengkulu

  Daerah Pemerintah Bengkulu merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Bengkulu dapat dilihat pada Lampiran 8.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Bengkulu. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 2.915,67 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Bengkulu. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Bengkulu adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 1.512,78 miliar per tahun disusul dengan Sektor Jasa-Jasa di urutan ketiga dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 1.267,56 miliar dan Rp. 631,78 miliar per tahun. Provinsi Bengkulu. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 132.156 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami penurunan disetiap tahunnya. Tetapi pada tahun 2009 dan 2010 terjadi pertumbuhan yang berfluktuatif, yaitu sebesar 5,54 dan 2,46.

  Menurut Supriyati (2010) dalam Fitria (2014) hal ini terkait dengan semakin menurunnya lahan pertanian akibat konversi lahan.

5.1.9 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Lampung

  Daerah Pemerintah Lampung merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Lampung dapat dilihat pada Lampiran 9.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Bengkulu. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 14.139,22 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB Persewaan, dan Jasa Perusahaan pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 4.644,11 miliar dan Rp. 2.930,44 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan disetiap tahunnya. Tetapi pada tahun 2004 dan tahun 2005 sempat mengalami fluktuatif, yaitu sebesar 42,29 dan 42,55. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 8.2.

  Pada Lampiran 8.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Lampung. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 682.944 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 5,51 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 1,07. perekonomian Pemerintahan Kepulauan Bangka Belitung dapat dilihat pada Lampiran 10.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Kepulauan Bangka Belitung. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 2.282,78 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor- Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Kepulauan Bangka Belitung. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Kepulauan Bangka Belitung adalah Sektor Industri Pengolahan yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.194 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor Pertambangan dan Penggalian pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 1.956,56 miliar dan Rp. 1.531,33 miliar per tahun. kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami fluktuatif

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 7,82 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 7,73.

5.1.11 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta

  Daerah Pemerintah DKI Jakarta bukan daerah agraris, sehingga yang kehidupan masyarakatnya sama sekali tidak bergantung pada Sektor Pertanian.

  Hal ini menggambarkan bahwa Provinsi DKI sudah bukan lagi daerah agraris. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terendah di antara sektor lainnya. Sumbangan sektor terbesar pertama yaitu Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan, sedangkan sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan DKI Jakarta pada urutan terakhir. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 11.

  Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah DKI Jakarta adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 77.415,56 miliar per tahun disusul dengan Sektor Industri Pengolahan di urutan ketiga dan di urutan keempat dengan Sektor Jasa-Jasa penyumbang rata-rata sebesar Rp. 56.986,56 miliar per tahun dan Rp. 41.456 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan secara melambat disetiap tahunnya. Pertumbuhannya sangat dibawah rata-rata karena Pemerintahan DKI Jakarta sangat tidak bergantung kepada Sektor Pertanian.

  Hanya pada tahun 2005 yang kontribusi PDRB mencapai 1,00. kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 11.2.

  Pada Lampiran 11.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian di Provinsi DKI Jakarta. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 13.627 miliar per tahun.

5.1.12 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jawa Barat

  Daerah Pemerintah Jawa Barat merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak begitu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar ketiga setelah Sektor Industri Pengolahan, dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Jawa Barat dapat dilihat pada Lampiran 12.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar ketiga setelah Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam pembentukan PDRB Pemerintah Jawa Barat. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 38.262,33 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Industri Pengolahan penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 125.976,33 miliar rupiah sedangkan penyumbang rata-rata terbesar kedua adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu sebesar Rp. 60.923,89 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar ketiga bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Industri Pengolahan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  Penyumbang terbesar keempat bagi PDRB Pemerintah Jawa Barat adalah Sektor

  Pada Lampiran 12.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Jawa Barat. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 2.843.233 miliar per tahun. Hal ini didukung fakta bahwa Jawa Barat merupakan salah satu provinsi terbesar penghasil tanaman pangan dan hortikultura Indonesia (Fitria, 2014).

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) berfluktuatif setiap tahunnya. Walau pada tahun 2011 dan 2012 sempat mengalami penurunan yang negatif (-0,08), (-0,71). Hal ini dinyatakan oleh Winoto dan Siregar (2008) dalam Fitria (2014) yang menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan di Sektor Pertanian terkait dengan tren pertumbuhan negatif sub sektor non tanaman pangan.

5.1.13 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah

  Daerah Pemerintah Jawa Tengah merupakan daerah yang kehidupan Pemerintah Jawa Tengah. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 32.827,33 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 36.337,67 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Penyumbang terbesar ketiga bagi PDRB Pemerintah Jawa Tengah adalah Sektor Industri Pengolahan yaitu rata-rata sebesar Rp. 55.310,44 miliar per tahun disusul dengan Sektor Jasa- Jasa di urutan keempat sebesar Rp. 17.327,69 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 13.2.

  Pada Lampiran 13.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Jawa Tengah. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 2.314.189 miliar per tahun. Hal ini didukung fakta bahwa Jawa Tengah

  

5.1.14 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi DI

Yogyakarta

  Daerah Pemerintah DI Yogyakarta merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak begitu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar kedua setelah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan DI Yogyakarta dapat dilihat pada Lampiran 14.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam pembentukan PDRB Pemerintah DI Yogyakarta. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 3.438,22 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 3.785,44 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Penyumbang terbesar dan ditahun 2008 (18,34). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 14.2.

  Pada Lampiran 14.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi DI Yogyakarta. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 259.578 miliar per tahun. Hal ini didukung fakta bahwa DI Yogyakarta merupakan salah satu provinsi terbesar penghasil tanaman pangan dan hortikultura Indonesia (Fitria, 2014).

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) berfluktuatif setiap tahunnya. Walau pada tahun 2010 dan 2011 sempat mengalami penurunan yang negatif (-0,27), (-2,06). Hal ini dinyatakan oleh Winoto dan Siregar (2008) dalam Fitria (2014) yang menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan di Sektor Pertanian terkait dengan tren pertumbuhan negatif sub sektor non tanaman pangan.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar ketiga setelah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dan Sektor Industri Pengolahan dalam pembentukan PDRB Pemerintah Jawa Timur. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 48.823 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 94.586, miliar rupiah sedangkan penyumbang rata-rata terbesar kedua adalah Sektor Industri Pengolahan yaitu sebesar Rp. 80.947,78 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar ketiga bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dan Sektor Industri Pengolahan. Penyumbang terbesar keempat bagi PDRB Pemerintah Jawa Timur adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu rata-rata sebesar Rp. 26.721,89 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 15.2.

  Pada Lampiran 15.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan tahun 2005 yaitu sebesar 3,99 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,77.

5.1.16 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Banten

  Daerah Pemerintah Banten merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak terlalu bergantung pada Sektor Pertanian. Hal ini dikarenakan Provinsi Banten sebagai pintu gerbang arus pergerakan barang dan jasa antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar keempat setelah Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi.

  Sumbangan sektor terbesar pertama yaitu Sektor Industri Pengolahan, sedangkan sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Banten pada urutan keempat. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 16.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar keempat dalam pembentukan PDRB Pemerintah Banten. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 5.904,89 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB Komunikasi di urutan ketiga dengan rata-rata sebesar Rp. 6.562,89 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuatif pada tahun 2008 (7,33) dan tahun 2009 (7,38). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 16.2.

  Pada Lampiran 16.1 dapat dilihat bahwa kontribusi PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Kepulauan Banten. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 349.267 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Walau pada tahun 2006 mengalami penurunan yang negatif (-0,63). Hal ini dinyatakan oleh Winoto dan Siregar (2008) yang menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan di Sektor Pertanian terkait dengan tren pertumbuhan negatif sub sektor non tanaman pangan. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Bali dapat dilihat pada Lampiran 17.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam pembentukan PDRB Pemerintah Bali. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 5.261,44 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 8.154,22 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Penyumbang terbesar ketiga bagi PDRB Pemerintah Bali adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu rata-rata sebesar Rp. 3.600 miliar per tahun disusul dengan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi di urutan keempat sebesar Rp. 2.804,11 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi penurunan yang fluktuatif ditahun 2008 (20,62) dan ditahun 2009 (20,69). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Provinsi Bali. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 265.022 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) berfluktuatif setiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 9,08 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 1,77.

  

5.1.18 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Nusa

Tenggara Barat

  Selain sebagai daerah yang memiliki banyak sumber daya alam berupa bahan galian juga sebagai tempat tujuan wisata. Daerah Pemerintah Nusa Tenggara Barat merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya juga sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Nusa Tenggara Barat dapat dilihat pada Lampiran 18.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama Tenggara Barat adalah Sektor Pertambangan dan Penggalian yaitu rata-rata sebesar Rp. 4.229,78 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor Jasa-Jasa pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.600,44 miliar dan Rp. 1.788,78 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuatif ditahun 2006 (25,57), 2007 (25,08), dan tahun 2008 (25,74). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 18.2.

  Pada Lampiran 18.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 257.133 miliar per tahun. Menurut Profil Investasi Nusa Tenggara Barat tahun 2012 Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu dari lima provinsi Indonesia yang pernah menyandang sebagai Daerah Stok Pangan Nasional pada tahun 2010 mencapai

5.1.19 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Timur

  Selain sebagai daerah tujuan wisata daerah Pemerintah Nusa Tenggara Timur merupakan daerah Pemerintah Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Nusa Tenggara Timur dapat dilihat pada Lampiran 19.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Nusa Tenggara Timur. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 4.458,56 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain.

  Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Nusa Tenggara Timur. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Nusa penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 19.2.

  Pada Lampiran 19.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB masing-masing sub sektornya. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi Sektor Pertanian secara sempit di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 221.378 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) selalu mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 4,96 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 0,98.

  

5.1.20 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan

Barat

  Daerah Pemerintah Kalimantan Barat merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Kalimantan Barat. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Kalimantan Barat adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp 6.145,78 miliar per tahun disusul dengan Sektor Industri Pengolahan di urutan ketiga dan Sektor Jasa-Jasa pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp 4.916,56 miliar dan Rp. 3.102,56 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan yang fluktuatif disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 20.2.

  Pada Lampiran 20.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB masing-masing sub sektor terhadap Sektor Pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata- rata mendominasi secara sempit di Provinsi Kalimantan Barat. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 277.611 miliar per tahun.

5.1.21 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah

  Kalimantan Tengah memiliki sumber daya lahan yang sangat luas dan sangat berpotensi untuk perkembangan pertanian, sehingga daerah Pemerintah Kalimantan Tengah merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Lampiran 21.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Kalimantan Tengah. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 5.642,44 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain.

  Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Kalimantan Tengah. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Kalimantan Tengah penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 21.2.

  Pada Lampiran 21.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Kalimantan Tengah. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 262.978 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Walau sempat pada tahun 2008 mengalami penurunan yang negatif (-2,04).

  

5.1.22 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan

Selatan

  Daerah Pemerintah Kalimantan Selatan merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Dimana selain memiliki sumber daya alam yang sangat potensial, provinsi ini juga memiliki daerah yang tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Kalimantan Selatan. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Kalimantan Selatan adalah Sektor Pertambangan dan Penggalian yaitu rata-rata sebesar Rp. 6.082 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor Industri Pengolahan pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 4.276,78 miliar dan Rp. 3.134,56 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 terus mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuatif ditahun 2007 (24,09), 2008 (24,15), dan tahun 2009 (24,39). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 22.2.

  Pada Lampiran 22.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi PDRB secara sempit di Provinsi Kalimantan Selatan. Besar kontribusi sub sektor

5.1.23 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Timur

  Daerah Pemerintah Kalimantan Timur merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak terlalu bergantung pada Sektor Pertanian. Hal ini dikarenakan Provinsi Kalimantan Timur lebih berpotensi kepada sumber daya alam dan sumber daya mineral serta potensi lahan galian yang cukup tinggi.

  Sehingga saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar keempat setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Sumbangan sektor terbesar pertama yaitu pertambangan dan penggalian, sedangkan sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Kalimantan Timur pada urutan keempat. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran 23.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar keempat dalam pembentukan PDRB Pemerintah Kalimantan Timur. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 6.970,22 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sementara penyumbang

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami konstan yang fluktuatif disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 23.2.

  Pada Lampiran 23.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor perikanan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Kalimantan Timur. Besar kontribusi sub sektor perikanan Rp. 167.111 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 5,93 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 1,49.

  

5.1.24 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi

Utara

  PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain.

  Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Sulawesi Utara. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sulawesi Utara adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.570,78 miliar per tahun disusul dengan Sektor Bangunan/konstruksi di urutan ketiga dan Sektor Jasa-Jasa pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.562 miliar dan Rp. 2.505,78 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan yang fluktuatif disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 24.2.

  Pada Lampiran 24.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Sulawesi Utara. Besar kontribusi sub sektor tanaman

5.1.25 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tengah

  Daerah Pemerintah Sulawesi Tengah merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Sulawesi Tengah dapat dilihat pada Lampiran 25.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Sulawesi Tengah. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 6.353,33 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain.

  Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Sulawesi Tengah. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sulawesi Tengah adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu rata-rata sebesar Rp. 2.434 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor

  PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Sulawesi Tengah. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 242.155 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2008 dan tahun 2011 yaitu sebesar 6,78 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 4,95.

  

5.1.26 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi

Selatan

  Daerah Pemerintah Sulawesi Selatan merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Lampiran 26.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Sulawesi Selatan. Sektor Pertanian Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 7.407 miliar per tahun disusul dengan Sektor Industri Pengolahan di urutan ketiga dan Sektor Jasa-Jasa pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 6.263,56 miliar dan Rp. 5.021,33 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 selalu mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 26.2.

  Pada Lampiran 26.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor perikanan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Sulawesi Selatan. Besar kontribusi sub sektor perikanan Rp. 321.144 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Walau sempat pada tahun 2005 mengalami penurunan yang negatif (-7,80). Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2008 dan tahun 2011 yaitu sebesar 6,44.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Sulawesi Tenggara. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 3.380,33 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain.

  Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Sulawesi Tenggara. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sulawesi Tenggara adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 1.700 miliar per tahun disusul dengan Sektor Jasa-Jasa di urutan ketiga dan Sektor Bangunan/konstruksi pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 1.303,44 miliar dan Rp. 881,89 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 selalu mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 27.2.

  Pada Lampiran 27.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 6,90 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 1,29.

5.1.28 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Gorontalo

  Daerah Pemerintah Gorontalo merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Gorontalo dapat dilihat pada Lampiran 28.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Gorontalo. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 756,22 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Gorontalo. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Gorontalo adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu menurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 28.2.

  Pada Lampiran 28.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Gorontalo. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 35.711 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 8,10 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 3,49.

  

5.1.29 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi

Barat

  Daerah Pemerintah Sulawesi Barat merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Sulawesi Barat. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Sulawesi Barat adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu rata-rata sebesar Rp. 619,67 miliar per tahun disusul dengan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran di urutan ketiga dan Sektor Industri Pengolahan pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 517,89 miliar dan Rp. 344,22 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuarif ditahun 2009 (46,21), tahun 2010 (47,30), dan tahun 2011 (46,24). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 29.2.

  Pada Lampiran 29.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Sulawesi Barat. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 90.767 miliar per tahun.

  Daerah Pemerintah Maluku merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Maluku dapat dilihat pada Lampiran 30.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Maluku. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 1.232,78 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor-Sektor lain. Dari jumlah sumbangan tersebut terlihat bahwa Sektor Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi di Pemerintahan Maluku. Penyumbang terbesar kedua bagi PDRB Pemerintah Maluku adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yaitu rata-rata sebesar Rp. 988,11 miliar per tahun disusul dengan Sektor Jasa-Jasa di urutan ketiga dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 736,78 miliar dan Rp. 408,44 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut Provinsi Maluku. Besar kontribusi sub sektor perikanan Rp. 57.655 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 5,80 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 2,89.

  

5.1.31 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Maluku

Utara

  Daerah Pemerintah Maluku Utara merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar pertama. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Maluku Utara dapat dilihat pada Lampiran 31.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar pertama dalam pembentukan PDRB Pemerintah Maluku Utara. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 942,44 miliar rupiah per tahun terhadap pembentukan Jasa-Jasa pada urutan keempat yaitu rata-rata sebesar Rp. 360,33 miliar dan Rp. 213,44 miliar per tahun.

  Kontribusi PDRB Sektor Pertanian atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuarif ditahun 2008 (35,91). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 31.2.

  Pada Lampiran 31.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman perkebunan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Maluku Utara. Besar kontribusi sub sektor tanaman perkebunan Rp. 48.144 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) mengalami fluktuatif. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 9,42 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 4,19.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah Sektor Industri Pengolahan dalam pembentukan PDRB Pemerintah Papua Barat. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 1.811,67 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Industri Pengolahan penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 2.172,33 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan sumbangan Sektor Industri Pengolahan. Penyumbang terbesar ketiga bagi PDRB Pemerintah Papua Barat adalah Sektor Jasa-Jasa yaitu rata-rata sebesar Rp. 783,56 miliar per tahun disusul dengan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi di urutan keempat sebesar Rp. 507,56 miliar per tahun.

  Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB atas harga konstan menurut lapangan usaha pada periode tahun 2004 sampai tahun 2012 mengalami penurunan disetiap tahunnya. Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 32.2.

  Pada Lampiran 32.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 6,90 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 1,46.

5.1.33 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Papua

  Daerah Pemerintah Papua merupakan daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak begitu bergantung pada Sektor Pertanian. Saat ini Sektor Pertanian penyumbang terbesar kedua setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian. Sumbangan Sektor Pertanian bagi perekonomian Pemerintahan Papua dapat dilihat pada Lampiran 33.

  Sektor Pertanian merupakan penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam pembentukan PDRB Pemerintah Papua. Sektor Pertanian penyumbang rata-rata Rp. 3.445,67 miliar rupiah per tahun sedangkan Sektor Pertambangan dan Penggalian penyumbang rata-rata terbesar pertama sebesar Rp. 9.520,44 miliar rupiah terhadap pembentukan PDRB daerah selama kurun waktu 2004-2012. Sumbangan Sektor Pertanian merupakan sumbangan terbesar kedua bila dibandingkan dengan penurunan disetiap tahunnya. Namun sempat terjadi fluktuatif ditahun 2005 (13,79). Kontribusi Sektor Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 33.2.

  Pada Lampiran 33.1 dapat dilihat bahwa kontribusi Sektor Pertanian masing-masing sub sektor terhadap PDRB. Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sub sektor tanaman bahan makanan secara rata-rata mendominasi secara sempit di Provinsi Papua. Besar kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan Rp. 150.527 miliar per tahun.

  Laju pertumbuhan Sektor Pertanian selama sembilan tahun terakhir (2004- 2012) berfluktuatif setiap tahunnya. Pertumbuhan Sektor Pertanian tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 5,19 dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 1,36.

  

5.2 Sektor-Sektor Unggulan di Setiap Provinsi Indonesia Periode 2004-

2012 Berdasarkan Pendekatan Location Quotient ( LQ)

  Pendekatan yang digunakan dalam pembahasan ini adalah pendekatan

  

Location Quotient atau biasa disebut LQ. Indikator yang dipakai pada pendekatan

  Indikator suatu sektor dikatakan sektor unggulan atau bukan sektor unggulan ialah ketika memiliki LQ yang lebih besar atau lebih kecil dari satu.

  Apabila nilai LQ lebih besar dari satu maka sektor tersebut adalah sektor unggulan, artinya peranan suatu sektor dalam perekonomian di suatu provinsi lebih besar daripada peranan sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hasil perhitungan nilai LQ untuk seluruh sektor perekonomian menunjukkan bahwa terdapat beberapa sektor ekonomi yang menjadi sektor unggulan.

5.2.1 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Aceh Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Aceh dapat dilihat di Lampiran 35. Sektor unggulan di Provinsi Aceh Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung karena Provinsi Aceh memiliki pertambangan yang terdiri dari pertambangan logam (emas, tembaga, molibdenum) dan pertambangan non logam (batu kapur).

  3. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Aceh lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung dengan berkembanganya Sektor Pertanian dan pariwisata, sehingga dibutuhkan jasa- jasa seperti jasa pengiriman barang, jasa pariwisata, dan lain-lain.

  4. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Aceh lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung dengan adanya potensi sumber energi listrik, sehingga diperlukan pembangunan Geothermal Seulahan Agam yang akan memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Aceh.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Aceh.

  

5.2.2 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), sektor ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat di Lampiran 36. Sektor unggulan di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara lebih besar daripada

  Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang sangat bergantung pada listrik.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi Sumatera Utara tengah mendirikan berbagai properti, sehingga Sektor Bangunan sebagai sektor pendukungnya.

  4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah maupun negara-negara lainnya untuk mengundang investasi agar menanamkan modalnya di Provinsi Sumatera Utara.

  5. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Sumatera Utara.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertambangan dan Penggalian, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sumatera Utara.

  

5.2.3 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Barat Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sumatera Barat yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  2. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Hal ini dikarenakan untuk mempermudah dalam mengkoordinasi dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  3. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang sangat bergantung pada listrik.

  4. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor

  5. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Sumatera Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini didorong dengan adanya banyak tempat wisata untuk kegiatan pariwisata, sehingga akan mendorong kegiatan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertambangan dan Penggalian, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sumatera Barat.

5.2.4 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Riau Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Riau dapat dilihat di Lampiran 38. Sektor unggulan di Provinsi Riau Berdasarkan yang

  2. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Riau lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Riau yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Riau.

  

5.2.5 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kepulauan Riau Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Kepulauan Riau dapat dilihat di Lampiran 39. Sektor unggulan di Provinsi alam yang dimiliki Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku. Sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

  2. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Kepulauan Riau lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sebagai pendukung untuk mengembangkan sektor pariwisata yang dimilikinya.

  Adapun Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kepulauan Riau.

5.2.6 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jambi Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Jambi yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Jambi lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan tersedianya sumber daya alam yang melimpah berupa batu kapur.

  3. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Jambi lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran serta sektor industri yang sangat bergantung pada listrik sebagai bahan pendukung.

  4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Jambi lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh adanya sektor pariwisata, sehingga mendukung mendorong perkembangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, Sektor Bangunan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Jambi.

5.2.7 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan

  Location Quotient (LQ) pendekatan

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat di Lampiran 41. Sektor unggulan di Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertambangan dan Penggalian

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Sumatera Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sumatera Selatan yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Sumatera Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi Sumatera Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah sehingga berpotensi sebagai kawasan industri. Oleh karena itu Sektor Bangunan juga akan ikut terdongkrak.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sumatera Selatan. Bengkulu dapat dilihat di Lampiran 42. Sektor unggulan di Provinsi Bengkulu Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Bengkulu lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Bengkulu yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Bengkulu lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi Bengkulu memiliki potensi pertambangan seperti batu bara, batu mulia, dll.

  3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan di seluruh sektor agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  5. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Bengkulu lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa pariwisata, jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga- lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Bengkulu.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Bengkulu.

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Lampung lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Lampung yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Lampung.

  

5.2.10 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Berdasarkan pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi perekonomian Indonesia. Hal ini didorong dengan terdapatnya kandungan timah baik di darat maupun lautan.

  2. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki banyak kandungan timah sehingga berpotensi sebagai kawasan industri. Oleh karena itu Sektor Bangunan juga akan ikut terdongkrak untuk membangun rumah-rumah industrinya.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

  

5.2.11 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat di Lampiran 45. Sektor unggulan di Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi DKI Jakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dilandasi dengan kegiatan utama di provinsi ini, maka Sektor Bangunan/konstruksi juga akan ikut meningkat.

  3. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi DKI Jakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Sektor ini untuk memenuhi kebutuhan di seluruh sektor-sektor unggulan agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  4. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi DKI Jakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan Provinsi DKI Jakarta sebagi ibukota negara Indonesia sehingga mempunyai daya tarik tersendiri dalam menarik wisatawan lokal sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi DKI Jakarta.

  6. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi DKI Jakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang sangat bergantung pada listrik sebagai keberlangsungan dalam meningkatkan nilai kepuasan.

  Adapun Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, serta Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi DKI Jakarta.

  

5.2.12 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Barat Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Jawa Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Industri Pengolahan yang sangat bergantung pada listrik, sebagai sumber utama energi penggerak mesin-mesin produksinya.

  2. Sektor Industri Pengolahan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Industri Pengolahan dalam perekonomian Provinsi Jawa Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Pesatnya pertumbuhan sektor ini juga didukung oleh melimpahnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku.

  3. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Jawa Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung

  

5.2.13 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat di Lampiran 47. Sektor unggulan di Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  2. Industri Pengolahan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Industri Pengolahan dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah lebih besar

  Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Industri Pengolahan yang sangat bergantung pada listrik, sebagai sumber utama energi penggerak mesin- mesin produksinya.

  4. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Sektor ini sangat didorong dengan terdapatnya tempat wisata untuk kegiatan pariwisata, sehingga akan mendorong kegiatan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  5. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, dilandasi dengan adanya sektor industri pengolahn di provinsi ini, maka Sektor Bangunan/konstruksi juga akan sangat meningkat untuk membangun rumah-rumah industri tersebut.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Jawa Tengah.

  

5.2.14 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi DI Yogyakarta Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi DI Yogyakarta dapat dilihat di Lampiran 48. Sektor unggulan di Provinsi DI Yogyakarta Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi DI Yogyakarta besar daripada

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi DI Yogyakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung dengan adanya kota pelajar sehingga Sektor Bangunan di provinsi ini mengalami peningkat.

  3. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi DI Yogyakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi DI Yogyakarta yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  4. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi DI Yogyakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya sektor ini sangat dipengaruhi

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi DI Yogyakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat didorong dengan terdapatnya tempat wisata seperti Candi Borobudur untuk kegiatan pariwisata, sehingga akan mendorong kegiatan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  6. Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dalam perekonomian Provinsi DI Jogyakarta lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi DI Jogyakarta merupakan salah satu daerah pelajar dan juga memiliki tingkat pariwisata yang cukup terkenal sehingga banyak Sektor-Sektor Bangunan yang kemudian akan berkolerasi dengan sektor keuangan, persewaan, dan perusahaan yang membuat sektor ini termasuk unggul.

  7. Sektor Bagunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor

  

5.2.15 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Timur Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Jawa Timur dapat dilihat di Lampiran 49. Sektor unggulan di Provinsi Jawa Timur Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Jawa Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Industri Pengolahan yang sangat bergantung pada listrik, sebagai sumber utama energi penggerak mesin- mesin produksinya.

  2. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Jawa Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Jawa Timur yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  4. Sektor Industri Pengolahan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Industri Pengolahan dalam perekonomian Provinsi Jawa Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Pesatnya pertumbuhan sektor ini juga didukung oleh melimpahnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Jawa Timur. Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Banten lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, diantaranya Sektor Industri Pengolahan yang sangat bergantung pada listrik, sebagai sumber utama energi penggerak mesin-mesin produksinya.

  2. Sektor Industri Pengolahan Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Industri Pengolahan dalam perekonomian Provinsi Banten lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Pesatnya pertumbuhan sektor ini juga didukung oleh melimpahnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku.

  3. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Banten lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal nilai tambah yang akan menjadi sumber pendapatan bagi perekonomian bagi provinsi Banten Adapun Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor

  Bangunan/konstruksi, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Banten.

5.2.17 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Bali Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Bali dapat dilihat di Lampiran 51. Sektor unggulan di Provinsi Bali Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Bali lebih besar

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Bali lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung karena Provinsi Bali merupakan sektor pariwisata yang maju dan berkembang. Sehingga Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran pertumbuhannya sangat cepat.

  3. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Bali lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Bali yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Bali lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini tempat pariwisata, sehingga terjadinya pertumbuhan yang sangat cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus- kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Bali.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Bangunan/konstruksi, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Bali.

  

5.2.18 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dapat dilihat di Lampiran 52. Sektor unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan yang terunggul adalah :

  2. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi pariwisata, sehingga Sektor Bangunan mengalami peningkatan demi mendukung potensi pariwisatanya.

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini untuk memenuhi kebutuhan Sektor Pertambangan dan Penggalian supaya terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

  

5.2.19 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat dilihat di Lampiran 53. Sektor unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  2. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga- lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur lebih besar

  Tenggara Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor unggulan yang salah satunya yaitu sektor pariwisata, sehingga mendukung mendorong perkembangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

  

5.2.20 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Barat dapat dilihat di Lampiran 54. Sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan Provinsi Kalimantan Barat berpotensi di kawasan industri sehingga Sektor Bangunan otomatis ikut terdongkrak.

  3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor unggulan yang salah satunya yaitu sektor pariwisata, sehingga memicu perkembangan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  4. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa

  Barat besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini untuk memenuhi kebutuhan misalnya Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kalimantan Barat.

  

5.2.21 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilihat di Lampiran 55. Sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga- lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah.

  3. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terdapat bahan-bahan galian di Provinsi Kalimantan Tengah, seperti pertambangan batubara dan pertambangan emas.

  4. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Kalimantan

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini untuk memenuhi kebutuhan di seluruh sektor agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan/konstruksi, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kalimantan Tengah.

  

5.2.22 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Selatan Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat di Lampiran 56. Sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Selatan Berdasarkan yang terunggul adalah :

  2. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh sebagian lahan di manfaatkan untuk keperluan pertanian serta adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  3. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sebagai sarana/wadah yang kebutuhan di seluruh sektor agar dapat mempermudah dalam jalinan kerjasama antar negara berkembang dan daerah-daerah lainnya.

  4. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan lebih perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kalimantan Selatan.

  

5.2.23 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Timur Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Timur dapat dilihat di Lampiran 57. Sektor unggulan di Provinsi Kalimantan Timur Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Timur lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan di Provinsi Kalimantan Timur berpotensi sumberdaya alam dan sumberdaya mineral, serta lahan galian yang cukup tinggi sehingga digunakan sebagai bahan industri.

  Adapun Sektor Pertanian, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan/konstruksi, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Kalimantan Timur.

  

5.2.24 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Utara Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Utara dapat dilihat di lampiran 58. Sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Utara Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstrksi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Utara besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Utara yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  3. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Utara besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa pariwisata, serta jasa-jasa perindustrian agar dapat menarik investor domestik maupun internasional agar berkunjung ke Sulawesi Utara.

  4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Utara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan di Provinsi Sulawesi Utara yang letaknya sangat strategis (berhadapan langsung dengan negara-negara Asia Timur-Pasifik) sehingga sangat membutuhkan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebagai faktor

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sulawesi Utara.

  

5.2.25 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Tengah dapat dilihat di Lampiran 59. Sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Tengah sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Sulawesi Tengah.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan masih terdapat industri besar dan industri sedang yang masih membutuhkan Sektor Bangunan untuk memperluas perusahaan industri tersebut.

  4. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan,

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat di Lampiran 60. Sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor perikanan.

  2. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh Sektor-Sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya.

  3. Sektor Pertambangan dan Penggalian

  Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan.

  5. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah dalam mengkoordinasi dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non Tenggara dapat dilihat di Lampiran 61. Sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Tenggara Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman perkebunan.

  2. Sektor Bangunan/konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan masih terdapat industri besar dan industri sedang yang masih membutuhkan Sektor Bangunan untuk memperluas perusahaan industri tersebut.

  3. Sektor Jasa-Jasa perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara.

  4. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya.

  5. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah dalam mengkoordinasi dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sulawesi Gorontalo dapat dilihat di Lampiran 62. Sektor unggulan di Provinsi Gorontalo Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Gorontalo lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Gorontalo yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor tanaman bahan makanan.

  2. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Gorontalo besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Gorontalo. besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah dalam mengkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Gorontalo.

  

5.2.29 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Barat Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Barat dapat dilihat di Lampiran 63. Sektor unggulan di Provinsi Sulawesi Barat Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Sulawesi Barat.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Sulawesi Barat.

5.2.30 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Maluku Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Maluku oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Maluku yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor perikanan.

  2. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Maluku besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya pertumbuhan yang cepat akibat banyaknya penambahan jasa sosial kemasyarakatan misalnya seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan, dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di provinsi-provinsi termasuk di Provinsi Maluku.

  3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dalam perekonomian Provinsi Maluku lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Sektor ini sangat didorong dengan terdapatnya tempat pariwisata untuk dan Restoran agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Maluku.

  

5.2.31 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Maluku Utara Berdasarkan

pendekatan Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Maluku Utara dapat dilihat di Lampiran 65. Sektor unggulan di Provinsi Maluku Utara Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertanian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertanian dalam perekonomian Provinsi Maluku Utara lebih besar daripada

  Indonesia. Sektor ini sangat didorong dengan terdapatnya tempat pariwisata, sehingga akan mendorong kegiatan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

  3. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dalam perekonomian Provinsi Maluku Utara lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan untuk mempermudah kebutuhan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran agar terkoordinasi info-info dengan baik ke daerah-daerah lainnya.

  Adapun Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Bangunan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Maluku Utara.

  

5.2.32 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Papua Barat Berdasarkan pendekatan Location Quotient (LQ) kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Papua Barat yaitu ditandai dengan peningkatan pada sub sektor perikanan.

  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam perekonomian Provinsi Papua Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Hal ini dikarenakan di Provinsi Papua Barat berpotensi sumberdaya alam dan sumberdaya mineral, serta lahan galian.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Papua Barat lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  4. Sektor Jasa-Jasa Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Jasa-Jasa dalam perekonomian Provinsi Papua Barat besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan terjadinya serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Papua Barat.

5.2.33 Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Papua Berdasarkan pendekatan

  Location Quotient (LQ)

  Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Location Quotient (LQ), Sektor Ekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan di Provinsi Papua dapat dilihat di Lampiran 67. Sektor unggulan di Provinsi Papua Berdasarkan yang terunggul adalah :

  1. Sektor Pertambangan dan Penggalian Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian dalam perekonomian Provinsi Papua lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan di Provinsi Papua berpotensi sumberdaya alam dan sumberdaya mineral, serta lahan galian yang cukup tinggi.

  3. Sektor Bangunan/Konstruksi Selama periode 2004-2012, nilai koefisien LQ > 1, artinya kontribusi Sektor Bangunan/konstruksi dalam perekonomian Provinsi Papua lebih besar daripada kontribusi sektor tersebut dalam perekonomian Indonesia.

  Adapun Sektor Industri Pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta Sektor Jasa-Jasa merupakan sektor-sektor non unggulan di Provinsi Papua.

5.3 Perbandingan Kontribusi Sektor Pertanian yang Termasuk Sektor Unggulan Provinsi Indonesia

  Dalam melihat besarnya kontribusi Sektor Pertanian yang termasuk sektor unggulan provinsi yaitu dengan melihat besarnya rata-rata kontribusi di setiap tahunnya melalui perhitungan Location Quotient (LQ). Besarnya nilai perhitungan

  

Location Quotient (LQ) berkisar antara LQ>1, LQ=1, LQ<1. Dikategorikan sektor

  unggulan apabila nilai LQ>1, sebaliknya jika nilai dari LQ=1 dan LQ<1 maka tidak dikatan sektor unggulan. Untuk melihat provinsi mana yang Sektor

  7 Bengkulu 3,69 >1

  20 Sulawesi Utara 1,70 >1

Tabel 5.1. dapat menjelaskan bahwa kontribusi rata-rata Sektor Pertanian di provinsi-provinsi yang termasuk sektor unggulannya Sektor Pertanian.

  29 Papua 1,45 >1 Sumber : Lampiran 35-67

  28 Papua Barat 2,15 >1

  27 Maluku Utara 2,95 >1

  26 Maluku 2,70 >1

  25 Sulawesi Barat 4,17 >1

  24 Gorontalo 2,51 >1

  23 Sulawesi Tenggara 2,83 >1

  22 Sulawesi Selatan 2,44 >1

  21 Sulawesi Tengah 3,53 >1

  19 Kalimantan Selatan 2,02 >1

  8 Lampung 3,39 >1

  18 Kalimantan Tengah 2,83 >1

  17 Kalimantan Barat 2,13 >1

  16 Nusa Tenggara Timur 3,29 >1

  15 Nusa Tenggara Barat 2,11 >1

  14 Bali 1,73 >1

  13 Jawa Timur 1,34 >1

  12 DI Yogyakarta 1,51 >1

  11 Jawa Tengah 1,64 >1

  10 Jawa Barat 1,11 >1

  9 Kepulauan Bangka Belitung 1,91 >1

  Kontribusi rata-rata yang terbesar berada pada provinsi Sulawesi Barat dengan besar kontibusi 4,17 per tahun dengan nilai LQ>1 yang artinya tingkat spesialisasi Sektor Pertanian pada Provinsi Sulawesi Barat lebih besar dari sektor yang sama

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil pembahasan, maka terdapat beberapa hal yang menjadi kesimpulan yaitu :

  1. Sektor Pertanian memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB di setiap provinsi di Indonesia. Walaupun ada sembilan provinsi yang Sektor Pertanian yang tidak berkontribusi paling besar, yaitu: Provinsi Riau, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Banten, Provinsi Bali, Provinsi Papua Barat

  2. Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di Indonesia pada periode 2004-2012. Walaupun ada empat provinsi yang Sektor Pertanian bukan merupakan sektor unggulan, yaitu: Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, dan Provinsi Kalimantan Timur. Namun, rata-

6.2 Saran

  1. Kepada Pemerintah Diharapkan agar memprioritaskan sektor unggulan yang sangat potensial untuk dikembangkan dengan cara mengalokasikan dana yang tepat kepada sektor- sektor unggulan tersebut sehingga sektor-sektor unggulan tersebut akan meningkatkan kontribusi terhadap PDRB di setiap provinsi.

  2. Kepada Peneliti Selanjutnya Diharapkan kepada penelitian berikutnya, agar dapat menambahkan perhitungan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan shift share dan perhitungan sektor unggulan menggunakan pendekatan Input-Output, sehingga nantinya penelitian ini akan lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

  Badan Pusat Statistik Indonesia. 2014. Laju Pertumbuhan PDB Atas Harga

  Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012. BPS, Jakarta.

  Badan Pusat Statistik Indonesia. 2014. PDB Atas Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011.

  BPS, Jakarta.

  Badan Pusat Statistik Indonesia. 2014. PDRB Atas Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011.

  BPS, Jakarta.

  Badan Pusat Statistik Indonesia. 2013. Statistik Indonesia Tahun 2013. BPS, Jakarta.

  Daniel, Moehar. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta. Dumairy, M.A. 1996. Perekonomian Indonesia. Penerbit Erlangga. Jakarta.

  Hanafie, Rita. 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Andi. Yogyakarta.

  Kartika, Wilda. 2013. Analisis Kontribusi Ekspor Kopi Terhadap PDRB Sektor Perkebunan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekspor Kopi Sumatera Utara.

  Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

  Mankiw. N. Gregory. 2006. Teori Makroekonom. Edisi ke-5. Erlangga. Jakarta.

  Mardjuki, A. 1990. Pertanian dan Masalahnya. Andi Offset. Yogyakarta.

  Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

  Nasoetion, A. H. 2005. Pengantar ke Ilmu-ilmu Pertanian. PT. Pustaka Litera AntarNusa: Jakarta.

  Naufal, Agus. 2010. Peranan Sektor Pertanian Dalam Pertumbuhan Ekonomi Dan Mengurangi Ketimpangan Pendapatan Di Pemerintah Aceh. Skripsi. Departeman Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi Dan Manajamen. IPB. Bogor.

  Santoso, J. 2005. Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Wilayah Kabupaten

  Boyolali [skripsi]. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian: Institut Pertanian Bogor.

  Sukino. 2013. Membangun Pertanian dengan Pemberdayaan Masyarakat Tani.

  Pustaka Baru Press. Yogyakarta.

  Tambunan, Tulus T. H. 2003. Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia : Beberapa Isu Penting. Ghalia Indonesia. Jakarta.

  Tarigan, R. 2005. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi. Bumi Aksara. Jakarta.

  Todaro, M. P. Smith, S. C. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid ke-2. Edisi Ke-8. Munandar dan Puji [penerjemah]. Erlangga. Jakarta.

  Wiyanti, H. 2004. Analisis Sektor Basis Perekonomian Kabupaten Tangerang Serta Impilkasinya terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah dalam Otonomi Daerah. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.

  156

  Lampiran 1. PDRB Provinsi Aceh Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 8.069 7.755 7.873 8.158 8.224 8.434 8.837 9.336 9.861 8.505,22

  Pertambangan dan Penggalian

  12.264 9.490 9.245 7.294 2.981 3.230 3.760 4.341 4.635 6.360,00 Industri Pengolahan

  7.407 5.755 4.997 4.492 4.118 3.795 3.491 3.550 3.594 4.577,67 Listrik, Gas, dan

  Air Bersih

  60

  59

  66

  82 91 104 122 131 141 95,11 Bangunan

  1.514 1.270 1.885 2.147 2.162 2.230 2.347 2.501 2.669 2.080,56 Perdagangan, Hotel, 4.864 5.187 5.571 5.666 5.921 6.214 6.609 7.069 7.569 6.074,44 dan Restoran

  Pengangkutan dan 1.517 1.735 1.926 2.136 2.175 2.281 2.431 2.628 2.848 2.186,33

  Komunikasi Keuangan, Persewaan, 488 442 494 523 545 588 621 661 708 563,33 dan Jasa Perusahaan

  Jasa-Jasa 4.191 4.595 4.798 5.484 5.554 5.776 6.034 6.299 6.619 5.483,33

  PDRB 40.374 36.288 36.854 35.983 34.098 32.219 33.103 34.789 36.600 35.589,78

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 1.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Aceh Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 3.253 3.145 3.179 3.328 3.233 3.353 3.598 3.852 4.093 344.822 Tanaman Perkebunan 1.454 1.530 1.534 1.574 1.638 1.696 1.749 1.830 1.913 165.756 Peternakan 1.414 1.296 1.326 1.342 1.427 1.447 1.499 1.579 1.702 1.448 Kehutanan 621 531 547 568 547 518 518 547 571 552 Perikanan 1.326 1.253 1.287 1.345 1.378 1.419 1.473 1.528 1.582 1.399

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 1.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Aceh Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 8.069 40.374 19,98 2005 7.755 36.288 21,37 -3,89 2006 7.873 36.854 21,36 1,52

  2007 8.158 35.983 22,67 3,62 2008 8.224 34.098 24,12 0,81 2009 8.434 32.219 26,18 2,55 2010 8.837 33.103 26,69 4,78 2011 9.336 34.789 26,84 5,65 2012 9.861 36.600 26,94 5,62

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 2. PDRB Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 21.465 22.191 22.724 23.856 25.301 26.527 28.040 29.391 30.779 25.586,00 Pertambangan dan Penggalian

  1.010 1.075 1.120 1.229 1.304 1.323 1.401 1.495 1.525 1.275,78 Industri Pengolahan

  20.337 21.305 22.471 23.615 24.305 24.977 26.015 26.549 27.513 24.120,78 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 681 716 738 740 773 816 872 944 976 806,22 Bangunan

  4.883 5.516 6.086 6.559 7.091 7.554 8.066 8.755 9.348 7.095,33 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  15.230 15.985 17.095 18.386 19.516 20.575 21.919 23.693 25.407 19.756,22 Pengangkutan dan

  Komunikasi 6.702 7.380 8.259 9.077 9.883 10.630 11.634 12.799 13.857 10.024,56 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  5.077 5.440 5.978 6.721 7.480 7.939 8.795 9.992 11.112 7.614,89 Jasa-Jasa

  7.943 8.289 8.877 9.609 10.520 11.217 11.976 12.970 13.948 10.594,33 PDRB 83.329 87.898 93.347 99.792 106.172 111.559 118.719 126.588 134.464 106.874,22

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

2.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 7.660 7.754 7.564 7.913 8.398 8.753 9.203 9.389 9.599 847.033 Tanaman Perkebunan 8.097 8.575 9.100 9.562 10.236 10.814 11.476 12.335 13.187 1.037.578 Peternakan 2.285 2.328 2.378 2.503 2.616 2.731 2.852 3.007 3.121 264.678 Kehutanan 1.269 1.305 1.337 1.371 1.415 1.460 1.442 1.451 1.504 139.489 Perikanan 2.155 2.230 2.346 2.508 2.636 2.769 3.068 3.208 3.368 269.867

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

2.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 21.465 83.329 25,76 2005 22.191 87.898 25,25 3,38 2006 22.724 93.347 24,34 2,40 2007 23.856 99.792 23,90 4,98 2008 25.301 106.172 23,83 6,06 2009 26.527 111.559 23,78 4,84 2010 28.040 118.719 23,62 5,70 2011 29.391 126.588 23,22 4,82 2012 30.779 134.464 22,89 4,72

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 3. PDRB Provinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 6.937 7.293 7.658 8.039 8.479 8.774 9.132 9.479 9.865 8.406,22

  Pertambangan dan Penggalian 923 952 981 1.029 1.087 1.138 1.204 1.249 1.304 1.096,33

  Industri Pengolahan 3.629 3.808 3.979 4.209 4.510 4.671 4.788 5.011 5.213 4.424,22 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 301 339 369 394 408 431 441 458 481 402,44 Bangunan

  1.376 1.440 1.545 1.627 1.752 1.822 2.071 2.257 2.417 1.811,89 Perdagangan. Hotel. 5.007 5.306 5.663 6.057 6.465 6.708 6.941 7.419 7.976 6.393,56 dan Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi 3.419 3.755 4.141 4.527 4.959 5.256 5.768 8.278 6.845 5.216,44 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.377 1.464 1.579 1.693 1.828 1.902 2.010 2.103 2.236 1.799,11 Jasa-Jasa

  4.608 4.802 5.035 5.339 5.691 5.982 6.507 7.038 7.575 5.841,89 PDRB

  27.578 29.159 30.950 32.913 35.177 36.683 38.862 41.292 43.912 35.169,56 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

3.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 3.519 3.698 3.854 4.030 4.258 4.431 4.569 4.756 4.920 422.611 Tanaman Perkebunan 1.548 1.702 1.862 2.025 2.143 2.177 2.303 2.375 2.487 206.911 Peternakan 583 599 612 631 662 696 734 763 806 67.622 Kehutanan 525 496 490 468 469 479 502 514 534 49.744 Perikanan 762 798 841 885 947 990 1.024 1.071 1.118 93.733

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

3.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 6.937 27.578 25,15 2005 7.293 29.159 25,01 5,13 2006 7.658 30.950 24,74 5,00 2007 8.039 32.913 24,42 4,97

  2008 8.479 35.177 24,10 5,47 2009 8.774 36.683 23,92 3,48 2010 9.132 38.862 23,50 4,08 2011 9.479 41.292 22,96 3,80 2012 9.865 43.912 22,46 4,07

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 4. PDRB Provinsi Riau Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 12.465 13.309 14.103 14.786 15.494 16.071 16.693 17.414 17.842 15.353,00

  Pertambangan dan Penggalian

  42.335 43.907 45.184 45.126 46.897 46.888 47.598 48.798 48.353 46.120,67 Industri Pengolahan 7.549 7.972 8.512 9.247 9.911 10.408 11.104 11.874 12.247 9.869,33 Listrik. Gas. dan Air Bersih 152 165 175 185 198 204 215 230 239 195,89

  Bangunan 2.065 2.213 2.396 2.675 2.973 3.234 3.519 3.969 4.530 3.063,78 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  5.122 5.642 6.279 6.840 7.505 8.171 9.003 9.910 11.497 7.774,33 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1.795 1.983 2.173 2.332 2.575 2.788 3.051 3.344 3.746 2.643,00 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 653 772 893 1.012 1.150 1.267 1.392

  15.25 1.741 986,67 Jasa-Jasa

  3.081 3.325 3.656 4.011 4.382 4.756 5.160 5.603 6.114 4.454,22 PDRB

  75.217 79.288 83.371 86.213 91.085 93.786 97.736 102.666 106.309 90.630,11 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  4.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Riau Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.649 1.689 1.725 1.769 1.809 1.837 1.895 1.986 2.003 1.818 Tanaman Perkebunan 4.370 4.793 5.252 5.622 6.071 6.440 6.920 7.556 7.917 610.456 Peternakan 610 654 700 752 814 867 913 977 1.044 81.455 Kehutanan 4.680 4.920 5.075 5.187 5.232 5.301 5.240 5.038 4.890 506.256 Perikanan 1.156 1.253 1.352 1.457 1.568 1.627 1.726 1.857 1.988 155.378

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  4.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Riau Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 12.465 75.217 16,57 2005 13.309 79.288 16,78 6,77 2006 14.103 83.371 16,91 5,96 2007 14.786 86.213 17,15 4,84 2008 15.494 91.085 17,01 4,79 2009 16.071 93.786 17,13 3,72 2010 16.693 97.736 17,08 3,87 2011 17.414 102.666 16,96 4,32 2012 17.842 106.309 16,78 2,46

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 5. PDRB Provinsi Kepulauan Riau Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Lapangan Usaha TAHUN

  Pertanian 1.388 1.463 1.542 1.639 1.702 1.727 1.800 1.871 1.925 1.673,00

  Pertambangan dan Penggalian

  2.109 2.103 2.139 2.119 2.062 2.085 2.108 2.140 2.285 2.127,78 Industri Pengolahan

  14.999 16.119 17.220 18.225 19.050 19.507 20.876 22.240 23.810 19.116,22 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  66 70 173 183 197 201 218 248 266 180,22 Bangunan 750 792 881 1.137 1.527 1.731 1.931 2.124 2.370 1.471,44

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  6.356 6.781 7.154 7.710 8.309 8.628 9.453 10.115 11.250 8.417,33 Pengangkutan dan Komunikasi

  1.041 1.129 1.266 1.408 1.612 1.719 1.829 2.011 2.180 1.577,22 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.249 1.336 1.444 1.581 1.734 1.830 1.921 2.050 2.228 1.708,11 Jasa-Jasa 550 588 622 711 822 891 940 1.010 1.092 802,89

  PDRB 28.509 30.382 32.441 34.714 37.015 38.319 41.076 43.810 47.406 37.074,67

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

5.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Riau Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan

  77

  79

  82

  84

  88 93 101 115 127

  94 Tanaman Perkebunan

  79

  20

  2004 1.388 28.509 4,87 2005 1.463 30.382 4,81 5,40 2006 1.542 32.441 4,75 5,40 2007 1.639 34.714 4,72 6,29 2008 1.702 37.015 4,60 3,84

  21 Perikanan 992 1.056 1.117 1.197 1.242 1.247 1.296 1.336 1.355 120.422 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  23

  22

  21

  21

  21

  22

  82

  20

  19

  95 98 8.755 Peternakan 222 226 237 254 263 279 292 303 321 26.633 Kehutanan

  90

  87

  87

  86

  84

5.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2009 1.727 38.319 4,51 1,47 2010 1.800 41.076 4,38 4,23 2011 1.871 43.810 4,27 3,94 2012 1.925 47.406 4,06 2,89

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 6. PDRB Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 3.644 3.812 4.244 4.437 4.691 5.003 5.264 5.580 6.004 4.742,11

  Pertambangan dan Penggalian

  1.572 1.588 1.473 1.614 1.851 1.875 2.146 2.644 2.713 1.941,78 Industri Pengolahan

  1.703 1.769 1.848 1.948 2.058 2.137 2.233 2.348 2.533 2.064,11 Listrik. Gas. dan

  93 98 105 110 118 129 146 162 173 126,00 Air Bersih Bangunan 444 535 571 654 721 782 835 888 1.032 718,00

  Perdagangan. Hotel.

  1.971 2.150 2.320 2.465 2.563 2.765 3.047 3.341 3.674 2.699,56 dan Restoran Pengangkutan dan 954 1.022 1.082 1.159 1.199 1.268 1.320 1.373 1.473 1.205,56

  Komunikasi Keuangan. Persewaan.

  446 484 512 609 755 890 997 1.088 1.173 772,67 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa

  1.126 1.162 1.210 1.278 1.341 1.425 1.438 1.539 1.599 1.346,44 PDRB

  11.954 12.620 13.364 14.275 15.298 16.275 17.472 18.964 20.374 15.621,78 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  6.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.394 1.472 1.553 1.619 1.732 1.844 1.916 2.009 2.163 174.467 Tanaman Perkebunan 1.517 1.589 1.989 2.072 2.197 2.368 2.532 2.723 2.949 221.511 Peternakan 287 299 293 299 306 326 345 371 390 324 Kehutanan 272 266 271 275 271 264 259 257 272 26.744 Perikanan 174 186 138 172 185 201 212 221 231 19.111

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  6.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jambi Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 3.644 11.954 30,48 2005 3.812 12.620 30,21 4,61 2006 4.244 13.364 31,76 11,33 2007 4.437 14.275 31,08 4,55 2008 4.691 15.298 30,66 5,72 2009 5.003 16.275 30,74 6,65 2010 5.264 17.472 30,13 5,22 2011 5.580 18.964 29,42 6,00 2012 6.004 20.374 29,47 7,60

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

Lampiran 7. PDRB Provinsi Sumatera Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Lapangan Usaha TAHUN

  Pertanian 9.262 9.806 10.437 11.114 11.568 11.927 12.483 13.141 13.843 11.509,00

  Pertambangan dan Penggalian

  13.274 13.330 13.378 13.412 13.617 13.837 14.223 14.592 14.654 13.813,00 Industri Pengolahan

  8.408 8.807 9.274 9.802 10.137 10.353 10.826 11.455 12.136 10.133,11 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 217 231 249 267 281 295 314 339 368 284,56 Bangunan

  3.332 3.586 3.846 4.158 4.413 4.737 5.151 5.815 6.334 4.596,89 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  5.968 6.430 6.940 7.567 8.087 8.340 8.918 9.628 10.537 8.046,11 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1.797 2.005 2.217 2.534 2.887 3.284 3.702 4.166 4.632 3.024,89 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.732 1.860 2.013 2.197 2.387 2.550 2.739 2.966 3.233 2.408,56 Jasa-Jasa

  3.354 3.579 3.862 4.212 4.689 5.128 5.502 5.907 6.356 4.732,11 PDRB

  47.344 49.634 52.215 55.262 58.065 60.453 63.859 68.008 72.094 58.548,22 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

7.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.220 2.323 2.446 2.632 2.770 2.894 2.993 3.067 3.144 2.721 Tanaman Perkebunan 4.119 4.442 4.831 5.183 5.423 5.574 5.866 6.243 6.670 537.233

  Peternakan 697 727 769 816 858 907 962 1.030 1.105 87.455 Kehutanan 874 907 931 935 922 895 884 886 889 90.255 Perikanan 1.352 1.406 1.459 1.547 1.594 1.657 1.779 1.916 2.035 163.833

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

7.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 9.262 47.344 19,56 2005 9.806 49.634 19,76 5,87 2006 10.437 52.215 19,99 6,43 2007 11.114 55.262 20,11 6,49 2008 11.568 58.065 19,92 4,08 2009 11.927 60.453 19,73 3,10

  2010 12.483 63.859 19,55 4,66 2011 13.141 68.008 19,32 5,27 2012 13.843 72.094 19,20 5,34

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 8. PDRB Provinsi Bengkulu Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 TAHUN RATA-RATA Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  Pertanian 2.345 2.481 2.624 2.772 2.925 3.087 3.163 3.331 3.513 2.915,67

  Pertambangan dan 185 198 212 224 259 288 320 317 339 260,22 Penggalian

  Industri Pengolahan 252 256 270 286 307 325 353 390 418 317,44

  Listrik. Gas. dan

  25

  27

  29

  31

  33

  38

  44

  44 47 35,33 Air Bersih

  Bangunan 172 181 191 206 223 239 261 276 301 227,78 Perdagangan. Hotel. dan

  1.201 1.254 1.340 1.433 1.513 1.582 1.660 1.756 1.876 1.512,78 Restoran

  Pengangkutan dan 507 540 565 594 609 636 694 754 787 631,78 Komunikasi Keuangan. Persewaan.

  273 295 310 325 343 366 396 435 479 358,00 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa 937 1.007 1.070 1.138 1.229 1.301 1.449 1.573 1.704 1.267,56

  PDRB 5.896 6.239 6.611 7.009 7.442 7.860 8.340 8.878 9.464 7.526,56

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  8.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Bengkulu Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.068 1.128 1.180 1.252 1.318 1.410 1.443 1.518 1.577 132.156 Tanaman Perkebunan 733 781 834 896 973 1.038 1.072 1.152 1.246 96.944 Peternakan 174 183 195 202 212 226 239 250 267 21.644 Kehutanan 104 110 115 110 103 105 105 106 107 10.722 Perikanan 265 281 300 312 319 307 303 304 316 30.078

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  8.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Bengkulu Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN

  (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 2.345 5.896 39,77 2005 2.481 6.239 39,76 5,80 2006 2.624 6.611 39,69 5,76 2007 2.772 7.009 39,55 5,64 2008 2.925 7.442 39,30 5,51 2009 3.087 7.860 39,27 5,54 2010 3.163 8.340 37,92 2,46 2011 3.331 8.878 37,52 5,31 2012 3.513 9.464 37,12 5,46

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 9. PDRB Provinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

  RATA-RATA

  2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  Pertanian 11.952 12.510 13.185 13.912 14.318 14.694 14.851 15.588 16.243 14.139,22

  Pertambangan dan Penggalian

  1.023 896 851 825 813 738 713 809 828 832,89 Industri Pengolahan

  3.740 3.895 4.070 4.328 4.608 4.879 5.178 5.430 5.669 4.644,11 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 99 104 108 119 126 129 143 157 173 128,67 Bangunan

  1.434 1.476 1.529 1.610 1.685 1.768 1.833 1.976 2.090 1.711,22 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  4.381 4.617 4.852 5.068 5.423 5.835 6.114 6.451 6.811 5.505,78 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1.657 1.751 1.855 2.002 2.179 2.429 2.803 3.167 3.599 2.382,44 Keuangan. Persewaan.

  1.722 1.841 2.055 2.364 2.692 3.039 3.856 4.145 4.660 2.930,44 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa

  2.254 2.307 2.358 2.466 2.599 2.745 2.898 3.137 3.433 2.688,56 PDRB

  28.262 29.397 30.861 32.695 34.443 36.256 38.390 40.859 43.506 34.963,22 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

9.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Lampung Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 6.025 6.255 6.414 6.693 6.904 6.917 7.061 7.486 7.710 682.944 Tanaman Perkebunan 2.872 2.986 3.114 3.234 3.496 3.702 3.685 3.708 3.921 341.311 Peternakan 1.409 1.421 1.442 1.458 1.484 1.622 1.649 1.875 2.007 159.633

  Kehutanan 122 131 148 161 153 153 156 155 165 14.933 Perikanan 1.523 1.718 2.066 2.366 2.280 2.301 2.301 2.363 2..440 187.978

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

9.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Lampung Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 11.952 28.262 42,29 2005 12.510 29.397 42,55 4,69 2006 13.185 30.861 42,72 5,39 2007 13.912 32.695 42,55 5,51 2008 14.318 34.443 41,57 2,92 2009 14.694 36.256 40,53 2,63 2010 14.851 38.390 38,68 1,07

  2011 15.588 40.859 38,15 4,96 2012 16.243 43.506 37,33 4,20 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 10. PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 TAHUN RATA-RATA Lapangan Usaha

PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 1.884 1.973 2.082 2.145 2.232 2.314 2.493 2.609 2.813 2.282,78

  Pertambangan dan 1.570 1.508 1.504 1.501 1.489 1.511 1.523 1.579 1.597 1.531,33

  Penggalian Industri Pengolahan

  1.840 1.951 2.037 2.151 2.213 2.275 2.360 2.433 2.486 2.194,00 Listrik. Gas. dan

  45

  47

  47

  49

  52

  56

  61

  69 74 55,56 Air Bersih Bangunan 443 471 503 544 616 672 736 835 926 638,44

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1.607 1.663 1.711 1.823 1.945 1.985 2.119 2.309 2.447 1.956,56 Pengangkutan dan

  Komunikasi 261 278 298 318 350 367 396 433 474 352,78 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 288 296 308 320 333 363 397 433 480 357,56

  Jasa-Jasa 478 520 563 614 668 727 800 887 954 690,11 PDRB

  8.415 8.707 9.054 9.465 9.900 10.270 10.885 11.588 12.251 10.059,44 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

10.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Atas Dasar Harga Konstan 2000

(Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

  Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 220 228 234 266 261 274 295 324 348 27.222 Tanaman Perkebunan 948 1.001 1.070 1.111 1.134 1.171 1.283 1.327 1.439 116.489 Peternakan

  65

  66

  67

  69

  69

  79

  85 92 100 7.689 Kehutanan

  54

  53

  53

  52

  52

  52

  52

  54 57 5.322 Perikanan 596 624 657 647 715 737 779 812 869 71.511

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

10.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 1.884 8.415 22,39

  2005 1.973 8.707 22,66 4,72 2006 2.082 9.054 22,99 5,52 2007 2.145 9.465 22,66 3,02 2008 2.232 9.900 22,54 4,05 2009 2.314 10.270 22,53 3,67 2010 2.493 10.885 22,90 7,73 2011 2.609 11.588 22,51 4,65 2012 2.813 12.251 22,96 7,82

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 11. PDRB Provinsi DKI Jakarta Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 288 291 294 298 301 302 304 307 309 299,33 Pertambangan dan Penggalian 987 916 933 937 938 936 950 991 982 952,22

  Industri Pengolahan 48.707 51.178 53.722 56.195 58.367 58.448 60.556 62.101 63.605 56.986,56

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  1.849 1.977 2.076 2.184 2.344 2.451 2.557 2.677 2.797 2.323,56 Bangunan

  27.476 29.095 31.166 33.601 36.179 38.422 41.143 44.104 47.125 36.479,00 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  58.849 63.493 67.598 72.250 77.064 80.154 85.981 92.345 99.006 77.415,56 Pengangkutan dan

  Komunikasi 20.560 23.291 26.636 30.697 35.259 40.770 46.777 53.233 59.509 37.414,67 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  87.294 90.870 94.342 98.558 102.708 106.788 111.313 117.190 123.461 103.613,78 Jasa-Jasa 32.515 34.160 36.059 38.250 40.564 43.199 46.042 49.289 53.026 41.456,00 PDRB 278.525 295.271 312.827 332.971 353.723 371.469 395.622 422.237 449.821 356.940,67

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

11.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi DKI Jakarta Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 139 138 135 134 133 130 129 128 128 13.267 Tanaman Perkebunan

  40

  41

  43

  45

  47

  49

  51

  51 52 4.655 Peternakan

  19

  19

  20

  20

  20

  20

  20

  20 20 1.978 Kehutanan Perikanan

  89

  92 96 100 100 103 105 107 109 10.011 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

11.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 288 278.525 0,10 2005 291 295.271 1,00 1,04 2006 294 312.827 0,09 1,03 2007 298 332.971 0,09 1,36 2008 301 353.723 0,08 1,01 2009 302 371.469 0,08 0,33 2010 304 395.622 0,08 0,66 2011 307 422.237 0,07 0,99 2012 309 449.821 0,07

  0.65 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 12. PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 34.458 34.492 34.822 35.687 37.140 41.722 42.137 42.101 41.802 38.262,33

  Pertambangan dan Penggalian

  7.705 7.143 6.982 6.677 6.850 7.424 7.465 7.085 6.576 7.100,78 Industri Pengolahan

  96.978 105.334 114.300 122.703 133.757 131.433 135.595 144.010 149.677 125.976,33 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 5.338 5.650 5.428 5.751 5.986 6.839 7.316 7.426 8.009 6.415,89

  Bangunan 6.602 7.781 8.233 8.928 9.731 10.299 11.810 13.483 15.318 10.242,78 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  45.529 47.260 50.719 54.790 56.938 62.702 70.083 75.770 84.524 60.923,89 Pengangkutan dan

  Komunikasi 10.309 10.329 11.143 12.271 12.234 13.209 15.353 17.645 19.763 13.584,00 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  7.247 7.624 7.672 8.646 9.076 9.619 10.565 11.985 13.210 9.516,00 Jasa-Jasa

  15.837 16.821 18.200 18.728 19.495 20.158 21.900 23.606 25.527 20.030,22 PDRB

  230.003 242.884 257.499 274.180 291.206 303.405 322.224 343.111 364.405 292.101,89 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

12.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012

Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 24.851 25.490 25.283 26.264 27.508 31.608 31.947 31.764 31.176 2.843.233 Tanaman Perkebunan 1.950 1.898 1.927 1.902 2.082 2.259 2.163 2.255 2.360 208.844 Peternakan 5.121 5.276 5.411 5.356 5.327 5.458 5.556 5.533 5.608 540.411 Kehutanan 766 458 483 449 426 360 378 365 360 44.944 Perikanan 1.770 1.820 1.718 1.716 1.797 2.038 2.094 2.184 2.298 193.722

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

12.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 34.458 230.003 14,98 2005 34.492 242.884 14,20 0,10 2006 34.822 257.499 13,52 0,96 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 13. PDRB Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

  2007 35.687 274.180 13,01 2,48 2008 37.140 291.206 12,75 4,07 2009 41.722 303.405 13,75 12,34 2010 42.137 322.224 13,08 0,99 2011 42.101 343.111 12,27 -0,08 2012 41.802 364.405 11,47 -0,71

   Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN

  

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 28.606 29.925 31.002 31.863 32.881 34.101 34.956 35.400 36.712 32.827,33

  Pertambangan dan Penggalian

  1.331 1.454 1.678 1.783 1.851 1.953 2.091 2.194 2.356 1.854,56 Industri Pengolahan

  43.996 46.106 48.189 50.871 55.349 57.444 61.388 65.439 69.012 55.310,44 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 1.065 1.180 1.256 1.341 1.409 1.490 1.615 1.711 1.820 1.431,89

  Bangunan 7.449 7.961 8.447 9.056 9.648 10.301 11.015 11.753 12.574 9.800,44 Perdagangan. Hotel.

  28.343 30.057 31.816 33.898 35.226 37.766 40.055 43.159 46.719 36.337,67 dan Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi 6.510 5.988 7.452 8.053 8.582 9.193 9.806 10.645 11.486 8.635,00 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  4.827 5.068 5.400 5.767 6.218 6.702 7.038 7.504 8.206 6.303,33 Jasa-Jasa

  13.663 14.313 15.442 16.479 16.872 17.724 19.030 20.464 21.962 17.327,67 PDRB

  135.790 143.051 150.683 159.110 168.034 176.673 186.993 198.270 210.848 169.939,11 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

13.2 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012

Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 20.680 21.507 22.121 22.336 23.150 23.912 24.587 24.556 25.428 2.314.189 Tanaman Perkebunan 2.634 2.747 2.854 3.042 3.061 3.252 3.147 3.276 3.411 304.711 Peternakan 3.077 3.292 3.603 4.034 4.156 4.409 4.665 4.906 5.107 413.878 Kehutanan 468 694 580 582 556 579 631 653 646 59.878 Perikanan 1.747 1.684 1.843 1.869 1.958 1.950 1.926 2.006 2.120 190.033

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

13.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 28.606 135.790 21,07 2005 29.925 143.051 20,92 4,61 2006 31.002 150.683 20,57 3,60 2007 31.863 159.110 20,02 2,78

  2008 32.881 168.034 19,57 3,19 2009 34.101 176.673 19,30 3,71 2010 34.956 186.993 18,69 2,51 2011 35.400 198.270 17,85 1,27 2012 36.712 210.848 17,41 3,70

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 14. PDRB Provinsi DI Yogyakarta Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 3.053 3.186 3.307 3.333 3.524 3.643 3.633 3.558 3.707 3.438,22

  Pertambangan dan Penggalian 120 122 126 138 138 139 140 157 160 137,78 Industri Pengolahan 2.401 2.463 2.481 2.528 2.563 2.611 2.794 2.983 2.916 2.637,78

  Listrik. Gas. dan Air Bersih 145 153 153 166 175 186 193 201 216 176,44 Bangunan

  1.284 1.395 1.580 1.733 1.838 1.924 2.040 2.188 2.318 1.584,44 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  3.279 1.445 3.570 3.750 3.948 4.162 4.384 4.611 4.920 3.785,44 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1.582 1.673 1.762 1.875 2.009 2.129 2.251 2.431 2.582 2.032,67 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.501 1.623 1.592 1.695 1.794 1.903 2.024 2.185 2.403 1.857,78 Jasa-Jasa

  2.781 2.850 2.965 3.072 3.224 3.369 3.586 3.818 4.088 3.305,89 PDRB

  16.146 16.911 17.536 18.292 19.212 20.064 21.044 22.132 23.309 19.405,11 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

14.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi D.I Yogjakarta Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.292 2.418 2.529 2.492 2.673 2.773 2.757 2.654 2.774 259.578 Tanaman Perkebunan

  72

  77

  81

  87

  89

  93

  96

  97 99 8.789 Peternakan 452 453 452 484 484 493 493 518 537 48.511 Kehutanan 180 166 174 186 190 190 190 191 192 18.433 Perikanan

  57

  71

  70

  84

  87

  93

  97 97 106 8.467 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

14.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi DI Yogyakarta Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 3.053 16.146 18,91 2005 3.186 16.911 18,84 4,36 2006 3.307 17.536 18,86 3,80 2007 3.333 18.292 18,22 0,79 2008 3.524 19.212 18,34 5,73 2009 3.643 20.064 18,16 3,38 2010 3.633 21.044 17,26 -0,27 2011 3.558 22.132 16,08 -2,06 2012 3.707 23.309 15,90 4,19

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 15. PDRB Provinsi Jawa Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

  

TAHUN

RATA-RATA Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  Pertanian 43.331 44.701 46.486 47.943 48.315 50.209 51.330 52.628 54.464 48.823,00

  Pertambangan dan 4.596 5.024 5.455 6.025 6.645 7.105 7.757 8.229 8.401 6.581,89

  Penggalian Industri Pengolahan

  67.520 70.636 72.787 76.164 81.034 83.300 86.901 92.171 98.017 80.947,78 Listrik. Gas. dan

  4.172 4.430 4.610 5.155 4.246 4.362 4.642 4.932 5.238 4.643,00 Air Bersih

  Bangunan 8.604 8.903 9.030 9.140 9.887 10.308 10.993 11.995 12.841 10.189,00 Perdagangan. Hotel.

  68.296 74.547 81.716 88.571 90.911 95.984 106.229 116.645 128.375 94.586,00 dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi

  13.830 14.522 15.505 16.710 20.164 22.782 25.076 27.945 30.641 20.797,22 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  11.783 `12.666 13.611 14.764 16.519 17.395 18.659 20.186 21.802 14.968,78 Jasa-Jasa

  20.095 20.946 22.048 23.344 27.816 29.417 30.693 32.252 33.886 26.721,89 PDRB

  242.229 256.375 271.249 287.814 305.539 320.861 342.281 366.983 393.666 309.666,33 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

15.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Jawa Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 25.205 25.427 25.946 26.371 26.779 27.776 28.232 28.774 29.603 2.712.367 Tanaman Perkebunan 7.139 7.812 8.195 8.456 6.860 7.171 7.237 7.456 7.633 7.551

  Peternakan 6.705 6.982 7.421 7.872 8.038 8.366 8.648 9.010 9.342 804.267 Kehutanan 501 472 477 490 648 639 728 773 976 63.378 Perikanan 3.782 4.053 4.447 4.755 5.990 6.257 6.485 6.616 6.911 547.733

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

15.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Timur Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 43.331 242.229 17,89 2005 44.701 256.375 17,43 3,16 2006 46.486 271.249 17,14 3,99 2007 47.943 287.814 16,66 3,13 2008 48.315 305.539 15,81 0,77 2009 50.209 320.861 15,65 3,92 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 16. PDRB Provinsi Banten Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

  2010 51.330 342.281 14,99 2,23 2011 52.628 366.983 14,34 2,52 2012 54.464 393.666 13,83 3,49

   Tahun 2004-2012

TAHUN

  RATA-RATA Lapangan Usaha

PER TAHUN

  

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 4.930 5.062 5.030 5.242 5.846 6.161 6.716 6.921 7.236 5.904,89

  Pertambangan dan

  57

  59

  62

  69

  79

  90 95 101 108 80,00 Penggalian

  Industri Pengolahan 27.749 28.976 30.549 31.497 42.494 43.432 44.911 47.034 38.518 37.240,00

  Listrik. Gas. dan 2.417 2.567 2.511 2.630 2.806 2.923 3.295 3.442 3.661 2.916,89

  Air Bersih Bangunan

  1.443 1.580 1.662 1.880 2.010 2.204 2.382 2.591 2.821 2.063,67 9.830 10.699 11.478 12.801 14.203 15.144 16.484 18.051 20.088 14.308,67 Perdagangan. Hotel. dan Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi 4.541 4.911 5.417 5.781 6.201 6.827 7.603 8.454 9.331 6.562,89 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.558 1.744 1.888 2.138 2.682 3.041 3.256 3.489 3.762 2.617,56 Jasa-Jasa

  2.356 2.508 2.745 3.009 3.379 3.633 3.805 4.123 4.475 3.337,00 PDRB

  54.880 58.107 61.342 65.047 79.701 83.454 88.552 94.207 100.000 76.143,33 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

16.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Banten Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 3.199 3.288 3.141 3.280 3.350 3.484 3.793 3.865 4.034 349.267 Tanaman Perkebunan 366 369 422 375 510 530 562 579 601 47.933 Peternakan 923 948 962 1.001 1.353 1.431 1.598 1.666 1.738 129.111 Kehutanan

  30

  30

  30

  36

  39

  36

  37

  39 41 3.533 Perikanan 413 426 474 549 594 679 762 772 821 610

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

16.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Banten Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 4.930 54.880 8,98 2005 5.062 58.107 8,71 2,68 2006 5.030 61.342 8,20 -0,63

  2007 5.242 65.047 8,06 4,21 2008 5.846 79.701 7,33 11,52 2009 6.161 83.454 7,38 5,39 2010 6.716 88.552 7,58 9,01 2011 6.921 94.207 7,35 3,05 2012 7.236 100.000 7,24 4,55

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 17. PDRB Provinsi Bali Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 4.406 4.591 4.779 4.898 5.343 5.646 5.746 5.873 6.071 5.261,44

  Pertambangan dan Penggalian 129 134 138 142 150 158 189 208 240 165,33 Industri Pengolahan 1.912 2.010 2.098 2.290 2.626 2.768 2.936 3.028 3.211 2.542,11

  Listrik. Gas. dan Air Bersih 294 310 330 356 392 410 439 471 514 390,67

  Bangunan 778 820 857 909 1.058 1.067 1.146 1.236 1.467 1.037,56 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 6.115 6.498 6.830 7.348 8.148 8.656 9.209 10.009 10.575 8.154,22

  Pengangkutan dan Komunikasi

  2.052 2.190 2.323 2.576 2.870 3.017 3.191 3.381 3.637 2.804,11 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.462 1.568 1.674 1.734 1.851 1.899 2.041 2.168 2.367 1.862,67 Jasa-Jasa

  2.816 2.950 3.155 3.244 3.474 3.669 3.986 4.383 4.723 3.600,00 PDRB

  19.963 21.072 22.185 23.497 25.910 27.291 28.882 30.758 32.804 25.818,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

17.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Bali Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.328 2.426 2.497 2.560 2.738 2.781 2.752 2.871 2.899 265.022 Tanaman Perkebunan 211 218 228 237 236 265 274 273 281 247 Peternakan 1.045 1.067 1.128 1.145 1.195 1.357 1.479 1.492 1.645 128.367 Kehutanan

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  3 3 178 Perikanan 821 879 925 955 1.171 1.241 1.238 1.235 1.243 107.867

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

17.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Bali Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 4.406 19.963 22,07 2005 4.591 21.072 21,79 4,20 2006 4.779 22.185 21,54 4,09 2007 4.898 23.497 20,84 2,49 2008 5.343 25.910 20,62 9,08 2009 5.646 27.291 20,69 5,67 2010 5.746 28.882 19,89 1,77 2011 5.873 30.758 19,09 2,21 2012 6.071 32.804 18,51 3,37

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

Lampiran 18. PDRB Provinsi Nusa Tenggara Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012 TAHUN

  RATA-RATA Lapangan Usaha

PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 3.841 3.878 3.990 4.106 4.333 4.486 4.545 4.731 4.947 4.317.44

  Pertambangan dan 4.368 4.201 4.080 4.192 3.812 4.906 5.500 4.051 2.958 4.229.78

  Penggalian Industri Pengolahan 635 681 700 770 837 910 944 974 1.012 829.22

  Listrik. Gas. dan

  43

  45

  50

  56

  61

  67

  72

  78

  83

  61.67 Air Bersih Bangunan 952 1.003 1.067 1.148 1.249 1.458 1.532 1.622 1.700 1.303.44 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1.930 2.050 2.209 2.386 2.543 2.750 2.939 3.152 3.445 2.600.44 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1.033 1.108 1.191 1.276 1.333 1.410 1.508 1.627 1.731 1.357.44 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 654 691 745 813 896 973 1.026 1.120 1.217 903.89

  Jasa-Jasa 1.474 1.527 1.571 1.623 1.769 1.915 2.005 2.086 2.129 1.788.78

  PDRB 14.928 15.184 15.604 16.369 16.832 18.874 20.073 19.440 19.221 17.391.67

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

18.3 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Nusa Tenggara Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.290 2.282 2.381 2.417 2.598 2.674 2.696 2.833 2.971 257.133 Tanaman Perkebunan 494 516 479 490 513 524 514 521 538 50.989 Peternakan 543 559 569 604 617 663 685 706 744 63.222 Kehutanan

  29

  12

  13

  13

  13

  13

  13

  13 14 1.478 Perikanan 486 509 548 581 591 612 637 658 681 58.922

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

18.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 3.841 14.928 25,73 2005 3.878 15.184 25,54 0.96 2006 3.990 15.604 25,57

  2.89

  2007 4.106 16.369 25,08

  2.91 2008 4.333 16.832 25,74 5.53 2009 4.486 18.874 23,77 3.53 2010 4.545 20.073 22,64 1.31 2011 4.731 19.440 24,34 4.09 2012 4.947 19.221 25,74

  4.56 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

Lampiran 19. PDRB Provinsi Nusa Tenggara Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha

  TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 3.994 4.033 4.233 4.349 4.515 4.618 4.712 4.761 4.912 4.458,56 Pertambangan dan Penggalian 131 135 138 143 149 154 170 176 188 153,78

  Industri Pengolahan 154 159 166 172 172 179 183 189 198 174,67 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  38

  40

  41

  43

  44

  48

  53

  59 63 47,67 Bangunan 659 677 684 704 725 751 778 827 889 743,78

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1.524 1.596 1.695 1.780 1.875 1.973 2.134 2.316 2.482 1.930,56 Pengangkutan dan

  Komunikasi 628 670 719 778 825 877 934 995 1.051 830,78 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 281 306 315 391 414 436 472 515 555 409,44

  Jasa-Jasa 2.128 2.251 2.378 2.544 2.710 2.884 3.111 3.415 3.635 2.784,00

  PDRB 9.537 9.867 10.369 10.902 11.430 11.921 12.547 13.253 13.972 11.533,11

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

19.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Nusa Tenggara Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.091 2.035 2.122 2.167 2.262 2.296 2.324 2.305 2.322 221.378 Tanaman Perkebunan 411 455 473 495 515 532 538 547 571 50.411 Peternakan 1.106 1.148 1.213 1.243 1.277 1.310 1.356 1.399 1.476 128.089 Kehutanan

  25

  25

  27

  28

  29

  30

  31

  32

  34

  29 Perikanan 361 369 392 416 431 451 464 477 508 42.989 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

19.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 3.994 9.537 41,88 2005 4.033 9.867 40,87 0,98 2006 4.233 10.369 40,82 4,96 2007 4.349 10.902 39,89 2,74 2008 4.515 11.430 39,50 3,82 2009 4.618 11.921 38,74 2,28 2010 4.712 12.547 37,55 2,03 2011 4.761 13.253 35,92 1,04 2012 4.912 13.972 35,16 3,17 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 20. PDRB Provinsi Kalimantan Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 TAHUN RATA-RATA Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  Pertanian 5.716 5.982 6.313 6.621 6.989 7.268 7.576 7.921 8.262 6.960,89

  Pertambangan dan 274 285 296 351 453 494 538 576 606 430,33 Penggalian

  Industri Pengolahan 4.521 4.574 4.684 4.820 4.947 4.987 5.098 5.228 5.390 4.916,56

  Listrik. Gas. dan 101 106 108 113 118 124 132 138 144 120,44

  Air Bersih Bangunan

  1.729 1.847 1.956 2.063 2.196 2.362 2.556 2.798 3.071 2.286,44 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 5.314 5.593 5.866 6.183 5.831 6.058 6.396 6.811 7.260 6.145,78

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1.509 1.602 1.722 1.887 2.253 2.552 2.813 3.113 2.217 2.185,33 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  1.091 1.143 1.216 1.283 1.522 1.598 1.703 1.808 1.928 1.476,89 Jasa-Jasa

  2.229 2.406 2.607 2.940 3.130 3.315 3.516 3.746 4.034 3.102,56 PDRB

  22.483 23.538 24.768 26.261 27.439 28.757 30.329 32.138 34.014 27.747,44 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

20.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000

  (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.211 2.343 2.551 2.700 2.854 2.909 3.045 3.141 3.231 277.611 Tanaman Perkebunan 1.993 2.097 2.172 2.257 2.395 2.573 2.682 2.871 3.078 246.756 Peternakan 612 653 682 722 756 787 821 859 879 75.233 Kehutanan 435 388 378 373 367 366 364 362 364 37.744 Perikanan 465 501 531 568 616 632 664 688 710 59.722

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

20.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 5.716 22.483 25,42 2005 5.982 23.538 25,41 4,65 2006 6.313 24.768 25,49

  5.53 2007 6.621 26.261 25,21 4,88 2008 6.989 27.439 25,47 5,56 2009 7.268 28.757 25,27 3,99 2010 7.576 30.329 24,98 4,24 2011 7.921 32.138 24,65 4,55 2012 8.262 34.014 24,29 4,30

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 21. PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  76

  Komunikasi 1.016 1.063 1.149 1.227 1.435 1.451 1.537 1.582 1.689 1.349,89

  2.389 2.468 2.590 2.706 2.993 3.219 3.483 3.731 4.055 3.070,44 Pengangkutan dan

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  91 99 78,11 Bangunan 602 647 697 787 903 989 1.054 1.149 1.245 897,00

  84

  79

  Lapangan Usaha TAHUN

  Pertanian 5.241 5.297 5.475 5.587 5.473 5.650 5.814 6.001 6.244 5.642,44

  69

  68

  64

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  Industri Pengolahan 1.227 1.245 1.214 1.287 1.352 1.407 1.481 1.503 1.535 1.361,22

  Pertambangan dan Penggalian 518 905 1.213 1.357 1.460 1.627 1.819 2.119 2.303 1.480,11

  73 Keuangan. Persewaan.

  550 614 670 777 857 964 1.137 1.283 1.445 921,89 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa

  1.646 1.728 1.775 1.955 2.177 2.273 2.397 2.619 2.805 2.152,78 PDRB

  13.253 14.035 14.854 15.755 16.726 17.658 18.806 20.078 21.420 16.953,89 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

21.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 998 942 952 992 896 930 938 884 959 94.344 Tanaman Perkebunan 2.044 2.310 2.509 2.601 2.555 2.652 2.881 3.017 3.099 262.978

  Peternakan 496 537 574 615 607 627 620 659 711 60.511 Kehutanan 899 709 646 526 438 377 349 342 330 51.289 Perikanan 803 798 794 851 977 1.054 1.025 1.099 1.145 94.955

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

21.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 5.241 13.253 39,55 2005 5.297 14.035 37,74 1,07 2006 5.475 14.854 36,86

  3.36 2007 5.587 15.755 35,46 2.04 2008 5.473 16.726 32,72 -2,04

  2009 5.650 17.658 32,00 3,23

  2010 5.814 18.806 30,92 2,90 2011 6.001 20.078 29,89 3,22 2012 6.244 21.420 29,15 4,05

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 22. PDRB Provinsi Kalimantan Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 5.367 5.641 5.906 6.244 6.664 7.087 7.237 7.534 7.805 6.609,44

  Pertambangan dan Penggalian

  4.656 5.033 5.409 5.682 6.111 6.332 6.811 7.256 7.448 6.082,00 Industri Pengolahan 3.021 2.961 2.911 2.996 3.080 3.157 3.248 3.351 3.486 3.134,56 Listrik. Gas. dan Air Bersih 118 122 126 131 138 144 156 166 178 142,11 Bangunan

  1.157 1.253 1.341 1.433 1.513 1.603 1.707 1.839 2.020 1.540,67 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 3.322 3.477 3.670 3.897 4.181 4.427 4.756 5.130 5.631 4.276,78

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1.806 1.944 2.061 2.231 2.380 2.522 2.685 2.873 3.075 2.397,44 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 853 865 893 1.030 1.092 1.176 1.260 1.343 1.453 1.107,22

  Jasa-Jasa 1.873 1.998 2.136 2.278 2.434 2.603 2.816 3.061 3.323 2.502,44

  PDRB 22.171 23.293 24.452 25.922 27.593 29.052 30.675 32.553 34.419 27.792,22

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  22.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 2.420 2.552 2.663 2.793 3.072 3.308 3.249 3.368 3.419 298.267 Tanaman Perkebunan 1.320 1.389 1.478 1.601 1.674 1.776 1.905 1.997 2.123 169.589 Peternakan 305 350 384 417 447 477 503 527 556 44.067 Kehutanan 318 317 316 322 331 334 336 339 339 328 Perikanan 1.004 1.034 1.066 1.109 1.140 1.190 1.244 1.304 1.368 116.211

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  22.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 5.367 22.171 24,21 2005 5.641 23.293 24,22 5,10 2006 5.906 24.452 24,15 4,70 2007 6.244 25.922 24,09 5,72 2008 6.664 27.593 24,15 6,73 2009 7.087 29.052 24,39 6,35 2010 7.237 30.675 23,59 2,12 2011 7.534 32.553 23,14 4,10 2012 7.805 34.419 22,68 3,60

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 23. PDRB Provinsi Kalimantan Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah)

   Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN

  

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 6.153 6.310 6.535 6.674 6.845 6.947 7.355 7.791 8.122 6.970,22

  Pertambangan dan Penggalian

  34.247 35.824 37.291 38.047 40.527 42.447 45.972 48.953 51.680 41.665,33 Industri Pengolahan

  34.275 34.082 33.230 31.942 32.976 31.666 30.780 29.021 27.257 31.692,11 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 244 272 288 302 320 338 364 405 438 330,11 Bangunan

  2.606 2.749 2.967 3.340 3.618 3.978 4.338 4.812 5.416 3.758,22 Perdagangan. Hotel. dan

  6.121 6.580 7.471 7.800 8.420 8.910 9.862 10.864 11.753 8.642,33 Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi 3.719 4.208 4.647 5.076 5.450 5.851 6.393 7.055 7.891 5.587,78 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  2.026 2.168 2.369 2.723 3.008 3.278 3.579 4.024 4.694 3.096,56 Jasa-Jasa

  1.659 1.744 1.814 1.898 2.043 2.151 2.311 2.551 2.816 2.109,67 PDRB

  91.060 93.938 96.613 97.803 103.207 105.565 110.953 115.476 120.067 103.853,56 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

23.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Timur Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.120 1.150 1.240 1.264 1.407 1.387 1.451 1.394 1.459 131.911 Tanaman Perkebunan 709 799 928 1.027 1.028 1.165 1.280 1.469 1.648 1.117 Peternakan 643 676 703 750 787 810 850 893 926 782 Kehutanan 2.416 2.358 2.310 2.239 2.072 1.899 1.844 1.813 1.778 2.081 Perikanan 1.265 1.327 1.354 1.394 1.551 1.687 1.930 2.222 2.310 167.111

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

23.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 6.153 91.060 6,76 2005 6.310 93.938 6,72 2,55 2006 6.535 96.613 6,76 3,56

  2007 6.674 97.803 6,82 2,13 2008 6.845 103.207 6,63 2,56 2009 6.947 105.565 6,58 1,49 2010 7.355 110.953 6,63 5,87 2011 7.791 115.476 6,75 5,93 2012 8.122 120.067 6,76 4,25

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 24. PDRB Provinsi Sulawesi Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 2.617 2.778 2.849 3.065 3.243 3.311 3.592 3.559 3.780 3.199,33 Pertambangan dan Penggalian 668 663 695 756 852 899 927 994 1.053 834,11

  Industri Pengolahan 955 977 1.067 1.134 1.242 1.329 1.459 1.547 1.626 1.259,56 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  85 97 102 108 120 137 145 153 166 123,67 Bangunan

  1.888 1.983 2.123 2.284 2.607 2.766 2.808 3.138 3.461 2.562,00 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 1.730 1.858 1.989 2.145 2.452 2.754 3.026 3.442 3.741 2.570,78

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1.412 1.494 1.573 1.667 1.907 2.229 2.429 2.584 2.753 2.005,33 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 769 812 897 948 1.049 1.128 1.223 1.329 1.464 1.068,78

  Jasa-Jasa 2.026 2.083 2.178 2.237 2.431 2.597 2.768 2.990 3.242 2.505,78

  PDRB 12.150 12.745 13.473 14.344 15.902 17.150 18.377 19.735 21.287 16.129,22

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

24.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 772 860 855 907 1.016 1.014 1.070 1.125 1.175 97.711 Tanaman Perkebunan 978 998 1.062 1.176 1.161 1.160 1.322 1.181 1.283 114.678 Peternakan 243 267 275 297 325 347 369 380 417 32.444 Kehutanan

  50

  42

  46

  47

  49

  50

  49

  47

  49

  47.67 Perikanan 573 611 612 638 692 740 783 826 857 70.355 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

24.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 2.617 12.150 21,54 2005 2.778 12.745 21,80 6,15 2006 2.849 13.473 21,15 2,55 2007 3.065 14.344 21,37 7,58 2008 3.243 15.902 20,39 5,81 2009 3.311 17.150 19,31 2,10 2010 3.592 18.377 19,55 8,49 2011 3.559 19.735 18,03 -0,92 2012 3.780 21.287 17,76 6,21 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 25. PDRB Provinsi Sulawesi Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 TAHUN RATA-RATA Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  Pertanian 4.972 5.292 5.580 5.856 6.253 6.653 7.051 7.529 7.994 6.353,33

  Pertambangan dan 195 244 328 452 549 596 796 1.096 1.392 627,56 Penggalian

  Industri Pengolahan 758 787 819 887 962 1.044 1.108 1.161 1.222 972,00 Listrik. Gas. dan

  84

  90 93 103 107 119 126 135 146 111,44 Air Bersih Bangunan 688 755 820 902 1.003 1.088 1.189 1.373 1.623 1.049,00

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1.376 1.494 1.641 1.773 1.923 2.080 2.287 2.465 2.701 1.971,11 Pengangkutan dan

  Komunikasi 718 783 889 978 1.113 1.225 1.333 1.440 1.564 1.115,89 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 489 530 571 624 705 767 848 927 997 717,56

  Jasa-Jasa 1.646 1.778 1.926 2.110 2.431 2.637 2.886 3.112 3.380 2.434,00

  PDRB 10.925 11.752 12.672 13.684 15.047 16.208 17.624 19.237 21.019 15.352,00

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

25.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000

  (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.596 1.683 1.735 1.808 2.002 2.106 2.187 2.301 2.405 198.033 Tanaman Perkebunan 1.838 1.983 2.158 2.274 2.358 2.506 2.694 2.897 3.086 242.155 Peternakan 298 307 319 332 358 386 410 440 466 36.844 Kehutanan 493 505 526 544 596 642 671 712 766 60.611 Perikanan 747 812 841 897 939 1.013 1.090 1.179 1.271 97.655

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

25.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 4.972 10.925 45,51 2005 5.292 11.752 45,03 6,44 2006 5.580 12.672 44,03 5,44 2007 5.856 13.684 42,79 4,95 2008 6.253 15.047 41,56 6,78 2009 6.653 16.208 41,05 6,40 2010 7.051 17.624 40,01 5,98 2011 7.529 19.237 39,14 6,78 2012 7.994 21.019 38,03 6,18

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 26. PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Lapangan Usaha TAHUN

  Pertanian 12.297 11.338 11.803 12.182 12.923 13.529 13.845 14.737 15.494 13.127,56

  Pertambangan dan Penggalian

  3.498 3.649 3.891 4.157 4.035 3.853 4.459 4.153 4.252 3.994,11 Industri Pengolahan

  4.981 5.112 5.482 5.741 6.241 6.469 6.869 7.394 8.083 6.263,56 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 331 342 368 401 451 490 530 575 648 459,56 Bangunan

  1.684 1.712 1.788 1.942 2.328 2.657 2.900 3.251 3.639 2.433,44 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 5.420 5.386 5.771 6.322 7.035 7.792 8.699 9.632 10.606 7.407,00

  Pengangkutan dan Komunikasi

  2.636 2.758 2.946 3.245 3.651 4.024 4.620 5.179 5.950 3.889,89 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  2.198 2.153 2.340 2.610 2.881 3.204 3.742 4.297 4.979 3.156,00 Jasa-Jasa

  4.222 3.971 4.479 4.732 5.004 5.309 5.536 5.880 6.059 5.021,33 PDRB

  37.268 36.422 38.868 41.332 44.550 47.326 51.200 55.099 59.709 45.752,67 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

26.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 5.629 5.329 5.440 5.809 6.287 6.675 6.757 7.116 7.487 6.281 Tanaman Perkebunan 3.459 2.837 2.961 2.843 2.858 2.947 2.942 3.107 3.094 300.533

  Peternakan 511 462 482 511 544 576 616 673 742 56.855 Kehutanan

  86

  57

  57

  57

  57

  57

  58

  60 61 6.111 Perikanan 2.612 2.652 2.862 2.961 3.178 3.273 3.473 3.781 4.111 321.144

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

26.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 12.297 37.268 33,00 2005 11.338 36.422 31,13 -7,80 2006 11.803 38.868 30,37 4,10 2007 12.182 41.332 29,47 3,21 2008 12.923 44.550 29,01 6,08 2009 13.529 47.326 28,59 4,69

  2010 13.845 51.200 27,04 2,33 2011 14.737 55.099 26,75 6,44 2012 15.494 59.709 25,95 5,14

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 27. PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 2.798 2.991 3.128 3.303 3.470 3.565 3.611 3.703 3.854 3.380,33

  Pertambangan dan Penggalian 423 459 433 537 519 551 677 915 1.309 647,00 Industri Pengolahan 562 579 757 835 887 863 1.025 1.091 1.117 857,33 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  48

  56

  61

  64

  70

  80

  88 97 117 75,67 Bangunan 576 617 672 733 816 919 1.061 1.196 1.347 881,89

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1.145 1.247 1.306 1.427 1.577 1.808 2.023 2.249 2.518 1.700,00 Pengangkutan dan

  Komunikasi 550 601 656 694 790 944 1.029 1.129 1.239 848,00 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 363 395 479 517 576 618 700 826 916 598,89

  Jasa-Jasa 1.017 1.080 1.151 1.220 1.306 1.421 1.441 1.492 1.603 1.303,44

  PDRB 7.480 8.027 8.643 9.332 10.011 10.769 11.654 12.698 14.020 10.292,67 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  27.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 595 612 615 662 667 655 671 711 759 66.078 Tanaman Perkebunan 968 1.037 1.097 1.147 1.184 1.140 1.096 1.070 1.133 109.689 Peternakan 408 439 454 468 503 547 567 600 631 513 Kehutanan 95 101 102 106 113 121 125 132 138 11.478 Perikanan 733 803 860 920 1.002 1.101 1.152 1.191 1.192 99.489

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  27.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 2.798 7.480 37,41 2005 2.991 8.027 37,26 6,90 2006 3.128 8.643 36,19 4,58 2007 3.303 9.332 35,39 5,59 2008 3.470 10.011 34,66 5,06 2009 3.565 10.769 33,10 2,74 2010 3.611 11.654 30,99 1,29 2011 3.703 12.698 29,16 2,55 2012 3.854 14.020 27,49 4,08

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 28. PDRB Provinsi Gorontalo Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 TAHUN RATA-RATA Lapangan Usaha

PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 575 618 667 716 774 801 834 885 936 756,22 Pertambangan dan

  17

  19

  21

  24

  26

  30

  33

  35 38 27,00 Penggalian

  Industri Pengolahan 184 193 181 191 202 209 227 245 268 211,11 Listrik. Gas. dan

  12

  12

  13

  14

  14

  15

  17

  18 19 14,89 Air Bersih Bangunan 142 149 168 184 203 233 260 285 312 215,11 Perdagangan. Hotel. dan Restoran 269 282 301 322 344 374 412 462 513 364,33

  Pengangkutan dan Komunikasi 187 205 225 241 259 282 310 338 368 268,33

  Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 179 172 185 201 215 235 256 278 340 229,00

  Jasa-Jasa 326 377 414 446 483 532 569 595 626 485,33 PDRB

  1.892 2.028 2.176 2.339 2.521 2.711 2.917 3.141 3.384 2.567,67 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

28.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Gorontalo Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata

  Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 260 284 310 339 376 374 398 424 449 35.711 Tanaman Perkebunan 134 139 147 151 153 160 147 151 153 14.833 Peternakan

  83

  90 95 101 109 120 131 142 154 11.389 Kehutanan

  18

  19

  22

  24

  25

  26

  29

  31 32 2.511 Perikanan

  80

  86 93 101 110 121 129 138 148 11.178 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

28.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Gorontalo Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 575 1.892 30,39 2005 618 2.028 30,47 7,48 2006 667 2.176 30,65 7,93

  2007 716 2.339 30,61 7,35 2008 774 2.521 30,70 8,10 2009 801 2.711 29,55 3,49 2010 834 2.917 28,59 4,12 2011 885 3.141 28,18 6,11 2012 936 3.384 27,66 5,76

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 29. PDRB Provinsi Sulawesi Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 1.651 1.704 1.779 1.842 1.900 1.959 2.244 2.420 2.588 2.009,67 Pertambangan dan Penggalian

  16

  13

  83 93 106 122 134 163 183 194 128,33 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 135 144 154 191 275 313 330 341 362 249,44

  77

  Komunikasi

  Restoran 355 403 430 469 501 529 602 662 710 517,89 Pengangkutan dan

  81 92 103 122 206 227 221 244 265 173,44 Perdagangan. Hotel. dan

  25 29 17,11 Bangunan

  22

  18

  16

  11

  17

  10

  10

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  49 55 33,56 Industri Pengolahan 216 243 260 279 333 361 417 481 508 344,22

  44

  43

  38

  22

  18

  Jasa-Jasa 382 412 474 523 609 654 702 828 993 619,67

  PDRB 2.922 3.107 3.321 3.568 3.999 4.239 4.744 5.233 5.704 4.093,00

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

29.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 625 615 641 661 726 715 838 851 892 72.933 Tanaman Perkebunan 767 815 845 863 791 839 965 1.093 1.191 90.767 Peternakan

  73

  79

  82

  88

  91 93 107 115 120 9.422 Kehutanan

  26

  29

  29

  29

  31

  32

  31

  33 22 2.911 Perikanan 159 165 181 201 261 280 302 328 352 24.767

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

29.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 1.651 2.922 56,50 2005 1.704 3.107 54,84 3,21 2006 1.779 3.321 53,57 4,40 2007 1.842 3.568 51,63 3,54 2008 1.900 3.999 47,51 3,15 2009 1.959 4.239 46,21 3,10 2010 2.244 4.744 47,30 14,55 2011 2.420 5.233 46,24 7,84 2012 2.588 5.704 45,37 6,94

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 30. PDRB Provinsi Maluku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertambangan dan Penggalian

  17

  22 23 19,89

  20

  17

  21

  21

  20

  18

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  26

  Pertanian 1.058 1.097 1.129 1.176 1.210 1.259 1.330 1.378 1.458 1.232,78

  31

  28

  27

  26

  28

  27

  35 38 29,56 Industri Pengolahan 147 152 160 180 188 202 202 217 234 186,89 Bangunan

  39

  42

  44

  48

  50

  53

  78

  87 93 59,33 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 757 802 863 922 972 1.030 1.095 1.169 1.283 988,11 Pengangkutan dan

  Komunikasi 288 319 354 389 408 436 465 490 527 408,44 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 175 181 191 201 210 219 224 232 243 208,44

  Jasa-Jasa 594 621 650 671 702 748 805 879 961 736,78 PDRB

  3.102 3.259 3.440 3.633 3.787 3.993 4.251 4.509 4.861 3.870,56 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

30.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Maluku Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

  Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 272 280 288 299 300 306 317 326 342 30.333 Tanaman Perkebunan 218 226 234 248 257 271 273 286 289 25.578 Peternakan

  38

  39

  39

  41

  42

  43

  45

  48

  52

  43 Kehutanan

  57

  58

  59

  55

  55

  55

  49

  51 52 5.455 Perikanan 474 495 509 534 556 584 646 667 724 57.655

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

30.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Maluku Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 1.058 3.102 34,11

  2005 1.097 3.259 33,66 3,69 2006 1.129 3.440 32,82 2,92 2007 1.176 3.633 32,37 4,16 2008 1.210 3.787 31,95 2,89 2009 1.259 3.993 31,53 4,05 2010 1.330 4.251 31,29 5,64 2011 1.378 4.509 30,56 3,61 2012 1.458 4.861 29,99 5,80

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 31. PDRB Provinsi Maluku Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

  RATA-RATA

  2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 PER TAHUN

  37

  78

  74

  70

  Komunikasi 147 158 169 186 209 229 247 261 280 209,56 Keuangan. Persewaan.

  Restoran 506 541 579 619 668 733 824 909 1.013 710,22 Pengangkutan dan

  60 69 47,33 Perdagangan. Hotel. dan

  54

  51

  47

  41

  34

  Pertanian 759 793 830 870 952 996 1.049 1.093 1.140 942,44 Pertambangan dan

  33

  15 16 13,00 Bangunan

  14

  13

  13

  13

  12

  11

  10

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  Penggalian 104 107 109 123 127 117 126 129 132 119,33 Industri Pengolahan 331 343 358 370 339 353 372 384 393 360,33

  84 92 102 109 119 127 95,00 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa 168 177 186 195 203 218 240 259 275 213,44

  PDRB 2.128 2.237 2.359 2.501 2.651 2.812 3.036 3.230 3.445 2.711,00

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

31.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Maluku Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 201 208 215 221 263 270 278 283 294 24.811 Tanaman Perkebunan 374 394 416 440 478 508 543 575 605 48.144 Peternakan

  32

  32

  33

  34

  35

  35

  37

  39 40 3.522 Kehutanan

  51

  53

  57

  58

  53

  56

  57

  57 59 5.567 Perikanan 102 105 109 118 122 127 135 139 142 12.211

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

31.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Maluku Utara Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 759 2.128 35,67 2005 793 2.237 35,45 4,48 2006 830 2.359 35,18 4,66 2007 870 2.501 34,79 4,82 2008 952 2.651 35,91 9,42 2009 996 2.812 35,42 4,62 2010 1.049 3.036 34,55 5,32

  2011 1.093 3.230 33,84 4,19 2012 1.140 3.445 33,09 4,30 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 32. PDRB Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Lapangan Usaha TAHUN

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 1.541 1.573 1.624 1.709 1.827 1.897 2.012 2.046 2.076 1.811,67

  Pertambangan dan Penggalian

  1.045 1.101 1.082 1.082 1.087 1.101 1.099 1.090 1.156 1.093,67 Industri Pengolahan 690 748 752 814 876 1.368 3.011 4.958 6.334 2.172,33 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  20

  22

  25

  27

  29

  32

  34

  37 40 29,56 Bangunan 347 390 441 498 579 655 718 806 906 593,33

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran 467 508 562 616 672 715 744 834 917 670,56

  Pengangkutan dan Komunikasi 307 346 397 440 474 552 609 682 761 507,56

  Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  90

  96 95 118 150 186 198 221 233 154,11 Jasa-Jasa 462 523 572 625 691 783 944 1.157 1.295 783,56

  PDRB 4.969 5.307 5.549 5.934 6.400 7.287 9.361 11.896 13.781 7.831,56 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  32.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 254 264 271 286 325 346 372 362 380 31.778 Tanaman Perkebunan 140 148 162 170 180 190 201 221 230 18.244 Peternakan

  77

  83

  91 98 105 114 122 128 137 10.611 Kehutanan 514 487 480 492 519 518 534 534 536 51.267 Perikanan 556 590 622 663 698 728 783 794 792 69.178

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  32.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2012

  Tahun JUMLAH PDRB (Miliar Rupiah) TOTAL PDRB (Miliar Rupiah) KONTRIBUSI (Miliar Rupiah) PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah)

  2004 1.541 4.969 31,01 2005 1.573 5.307 29,64 2,08 2006 1.624 5.549 29,27 3,24 2007 1.709 5.934 28,80 5,23 2008 1.827 6.400 28,55 6,90 2009 1.897 7.287 26,03 3,83 2010 2.012 9.361 21,49 6,06 2011 2.046 11.896 17,20 1,69 2012 2.076 13.781 15,06 1,46

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  

Lampiran 33. PDRB Provinsi Papua Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012

RATA-RATA PER TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Lapangan Usaha TAHUN

  Pertanian 2.922 3.063 3.222 3.266 3.419 3.563 3.700 3.850 4.006 3.445,67

  Pertambangan dan Penggalian

  8.872 14.349 9.847 9.903 8.574 11.496 9.475 7.089 6.079 9.520,44 Industri Pengolahan 436 452 483 477 486 516 559 589 602 511,11

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  36

  38

  42

  44

  46

  49

  52

  54 58 46,56 Bangunan 869 935 1.049 1.217 1.452 1.668 2.041 2.378 2.799 1.600,89

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran 943 1.021 1.119 1.228 1.361 1.518 1.677 1.841 2.031 1.415,44

  Pengangkutan dan Komunikasi 783 891 1.014 1.171 1.344 1.537 1.747 1.910 2.092 1.387,67 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan 224 241 302 442 516 745 793 858 915 559,56

  Jasa-Jasa 1.198 1.220 1.326 1.453 1.734 2.047 2.355 2.638 2.853 1.869,33

  PDRB 16.283 22.209 18.402 19.200 18.932 23.138 22.400 21.208 21.436 20.356,44

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

33.1 Kontribusi Sub-Sektor Pertanian Terhadap PDRB Provinsi Papua Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Tahun 2004-2012 Sub-Sektor Pertanian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Rata-rata Per tahun

  Tanaman Bahan Makanan 1.372 1.438 1.511 1.590 1.701 1.770 1.806 1.880 1.916 150.527

  Tanaman Perkebunan 113 122 132 146 161 172 182 197 216 16.011 Peternakan 173 182 190 205 225 245 260 282 303 22.944 Kehutanan 499 493 503 483 468 481 510 511 507 495 Perikanan 764 828 887 841 864 896 942 980 1.064 89.622

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

33.2 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Papua Tahun 2004-2012 Tahun JUMLAH PDRB TOTAL PDRB KONTRIBUSI PERTUMBUHAN (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah) (Miliar Rupiah)

  2004 2.922 16.283 17,95 2005 3.063 22.209 13,79 4,82 2006 3.222 18.402 17,51 5,19 2007 3.266 19.200 17,01 1,36 2008 3.419 18.932 18,06 4,68

  2009 3.563 23.138 15,40 4,21 2010 3.700 22.400 16,52 3,84 2011 3.850 21.208 18,15 4,05 2012 4.006 21.436 18,69 4,05

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

  Lampiran 34. Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (milliar rupiah) Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  247.163,60 253.881,70 262.402,80 271.401,20 284.619,10 295.883,80 304.777,10 315.036,80 328.279,70

  Pertambangan dan penggalian

  160.100,50 165.222,60 168.031,70 171.422,10 172.496,30 180.200,50 187.152,50 190.143,20 193.115,70

  Industri Pengolahan

  469.952,40 491.561,40 514.100,30 538.084,60 557.764,40 570.102,50 597.134,90 633.781,90 670.190,60

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  10.897,60 11.584,10 12.251,10 13.517,10 14.994,40 17.136,80 18.050,20 18.899,70 20.080,70

  Bangunan

  96.334,40 103.598,40 112.233,60 121.901,00 131.009,60 140.267,80 150.022,40 159.122,90 170.884,80 Perdagangan.

  Hotel. dan

  271.142,20 293.654,00 312.518,70 338.807,20 691.487,50 368.463,00 400.474,90 437.472,90 473.110,60 Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi

  85.458,40 109.261,50 124.808,90 142.327,20 312.190,20 192.198,80 217.980,40 241.303,00 265.383,70 Keuangan.

  Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  140.374,40 161.252,20 170.074,30 183.659,30 368.129,70 209.163,00 221.024,20 236.146,60 253.022,70

  Jasa-Jasa

  145.104,90 160.799,30 170.705,40 181.972,10 481.848,30 205.434,20 217.842,20 232.659,10 244.869,90

  PDB

  1.656.516,80 1.750.815,20 1.847.126,70 1.964.327,30 4.948.688,40 2.178.850,40 2.314.458,80 2.464.566,10 2.618.938,40

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

35. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Aceh

  

Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA

  2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (miliar rupiah)

  Pertanian

  1,34 1,47 1,50 1,64 4,19 1,93 2,03 2,10 2,15 2,04

  Pertambangan dan Penggalian

  3,14 2,77 2,76 2,32 2,51 1,21 1,40 1,62 1,72 2,16

  Industri Pengolahan 0,65 0,56 0,49 0,46 1,07 0,45 0,41 0,40 0,38 0,54

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,23 0,25 0,27 0,33 0,88 0,41 0,47 0,49 0,50 0,43 Bangunan

  0,64 0,59 0,84 0,96 2,40 1,08 1,09 1,11 1,12 1,09

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,74 0,85 0,89 0,91 1,24 1,14 1,15 1,14 1,14 1,02

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,73 0,77 0,77 0,82 1,01 0,80 0,78 0,77 0,77 0,80 Keuangan. Persewaan. 0,14 0,13 0,15 0,16 0,21 0,19 0,20 0,20 0,20 0,18 dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa

  1,19 1,38 1,41 1,65 1,67 1,90 1,94 1,92 1,93 1,66

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

36. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sumatera Utara Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 1,73 1,74 1,71 1,73 4,14 1,75 1,79 1,82 1,83 2,03 Pertambangan dan Penggalian

  0,13 0,13 0,13 0,14 0,35 0,14 0,15 0,15 0,15 0,16 Industri Pengolahan

  0,86 0,86 0,86 0,86 2,03 0,86 0,85 0,82 0,80 0,98 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  1,24 1,23 1,19 1,08 2,40 0,93 0,94 0,97 0,95 1,22

  Bangunan

  1,01 1,06 1,07 1,06 2,52 1,05 1,05 1,07 1,07 1,22

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,12 1,08 1,08 1,07 1,32 1,09 1,07 1,05 1,05 1,10

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,56 1,35 1,31 1,26 1,48 1,08 1,04 1,03 1,02 1,24 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,72 0,67 0,70 0,72 0,95 0,74 0,78 0,82 0,86 0,77

  Jasa-Jasa

  1,09 1,03 1,03 1,04 1,02 1,07 1,07 1,09 1,11 1,06 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

37. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sumatera Barat Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,69 1,72 1,74 1,77 4,19 1,76 1,78 1,80 1,79 2,03

  Pertambangan dan 0,35 0,35 0,35 0,36 0,89 0,38 0,38 0,39 0,40 0,43

  Penggalian Industri Pengolahan

  0,46 0,47 0,46 0,47 1,14 0,49 0,48 0,47 0,46 0,54 Listrik, Gas, dan

  Air Bersih

  1,66 1,76 1,80 1,74 3,83 1,49 1,46 1,45 1,43 1,85

  Bangunan 0,86 0,83 0,82 0,80 1,88 0,77 0,82 0,85 0,84 0,94

  Perdagangan, Hotel, dan Restoran

  1,11 1,08 1,08 1,07 1,32 1,08 1,03 1,01 1,01 1,09

  Pengangkutan dan Komunikasi

  2,40 2,06 1,98 1,90 2,23 1,62 1,58 2,05 1,54 1,93

  Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 0,59 0,55 0,55 0,55 0,70 0,54 0,54 0,53 0,53 0,56

  Jasa-Jasa

  1,91 1,79 1,76 1,75 1,66 1,73 1,78 1,81 1,84 1,78

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

38. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Riau Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,11 1,16 1,19 1,24 2,96 1,26 1,30 1,33 1,34 1,43

  Pertambangan dan Penggalian

  5,82 5,87 5,96 6,00 14,77 6,04 6,02 6,16 6,17 6,98

  Industri Pengolahan 0,35 0,36 0,37 0,39 0,97 0,42 0,44 0,45 0,45 0,47

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,31 0,31 0,32 0,31 0,72 0,28 0,28 0,29 0,29 0,35 Bangunan

  0,47 0,47 0,47 0,50 1,23 0,54 0,56 0,60 0,65 0,61 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 0,42 0,42 0,45 0,46 0,59 0,52 0,53 0,54 0,60 0,50

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,46 0,40 0,39 0,37 0,45 0,34 0,33 0,33 0,35 0,38 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,10 0,11 0,12 0,13 0,17 0,14 0,15 1,55 0,17 0,29 Jasa-Jasa

  0,47 0,46 0,47 0,50 0,49 0,54 0,56 0,58 0,62 0,52 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

39. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 0,33 0,33 0,33 0,34 0,80 0,33 0,33 0,33 0,32 0,38

  Pertambangan dan Penggalian

  0,77 0,73 0,72 0,70 1,60 0,66 0,63 0,63 0,65 0,79 Industri Pengolahan

  1,85 1,89 1,91 1,92 4,57 1,95 1,97 1,97 1,96 2,22

  Listrik, Gas, dan 0,35 0,35 0,80 0,77 1,76 0,67 0,68 0,74 0,73 0,76

  Air Bersih Bangunan

  0,45 0,44 0,45 0,53 1,56 0,70 0,73 0,75 0,77 0,71 Perdagangan, Hotel, dan

  Restoran

  1,36 1,33 1,30 1,29 1,61 1,33 1,33 1,30 1,31 1,35

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,71 0,60 0,58 0,56 0,69 0,51 0,47 0,47 0,45 0,56 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan

  0,52 0,48 0,48 0,49 0,63 0,50 0,49 0,49 0,49 0,51 Jasa-Jasa

  0,22 0,21 0,21 0,22 0,23 0,25 0,24 0,24 0,25 0,23 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

40. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Jambi Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,04 2,08 2,24 2,25 5,33 2,26 2,29 2,30 2,35 2,57

  Pertambangan dan Penggalian

  1,36 1,33 1,21 1,30 3,47 1,39 1,52 1,81 1,81 1,69

  Industri Pengolahan 0,50 0,50 0,50 0,50 1,19 0,50 0,50 0,48 0,49 0,57

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  1,18 1,17 1,18 1,12 2,55 1,01 1,07 1,11 1,11 1,28

  Bangunan 0,64 0,72 0,70 0,74 1,78 0,75 0,74 0,73 0,78 0,84 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,01 1,02 1,03 1,00 1,20 1,00 1,01 0,99 1,00 1,03

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,55 1,30 1,20 1,12 1,24 0,88 0,80 0,74 0,71 1,06 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,44 0,42 0,42 0,46 0,66 0,57 0,60 0,60 0,60 0,53

  Jasa-Jasa 1,08 1,00 0,98 0,97 0,90 0,93 0,87 0,86 0,84 0,94

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

41. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,31 1,36 1,41 1,46 3,46 1,45 1,48 1,51 1,53 1,66

  Pertambangan dan Penggalian

  2,90 2,85 2,82 2,78 6,73 2,77 2,75 2,78 2,76 3,24

  Industri Pengolahan 0,63 0,63 0,64 0,65 1,55 0,65 0,66 0,65 0,66 0,75

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,70 0,70 0,72 0,70 1,60 0,62 0,63 0,65 0,67 0,78 Bangunan

  1,21 1,22 1,21 1,21 2,87 1,22 1,24 1,32 1,35 1,43

  Perdagangan. Hotel. dan 0,77 0,77 0,79 0,79 1,00 0,82 0,81 0,80 0,81 0,82

  Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi 0,74 0,65 0,63 0,63 0,79 0,62 0,62 0,63 0,63 0,66 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,43 0,41 0,42 0,43 0,55 0,44 0,45 0,46 0,46 0,45 Jasa-Jasa

  0,81 0,79 0,80 0,82 0,83 0,90 0,92 0,92 0,94 0,86 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

42. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Bengkulu

  Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,67 2,74 2,79 2,86 6,83 2,89 2,88 2,94 2,96 3,29

  Pertambangan dan Penggalian

  0,32 0,34 0,35 0,37 1,00 0,44 0,47 0,46 0,49 0,47 Industri Pengolahan

  0,15 0,15 0,15 0,15 0,37 0,16 0,16 0,17 0,17 0,18 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,64 0,65 0,66 0,64 1,46 0,61 0,68 0,65 0,65 0,74

  Bangunan 0,50 0,49 0,48 0,47 1,13 0,47 0,48 0,48 0,49 0,56

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,24 1,20 1,20 1,19 1,45 1,19 1,15 1,11 1,10 1,20

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,67 1,39 1,26 1,17 1,30 0,92 0,88 0,87 0,82 1,14 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,55 0,51 0,51 0,50 0,62 0,49 0,50 0,51 0,52 0,52 Jasa-Jasa

  1,81 1,76 1,75 1,75 1,70 1,76 1,85 1,88 1,93 1,80

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

43. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Lampung Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,85 2,95 3,00 3,01 7,05 2,85 2,90 2,92 2,98 3,39

  Pertambangan dan Penggalian

  0,32 0,29 0,28 0,27 0,58 0,22 0,24 0,25 0,26 0,30 Industri Pengolahan

  0,47 0,47 0,48 0,49 1,19 0,52 0,52 0,51 0,51 0,57 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,54 0,53 0,55 0,53 1,17 0,47 0,49 0,52 0,52 0,59

  Bangunan 0,86 0,84 0,81 0,79 1,84 0,74 0,75 0,74 0,74 0,90

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,96 0,94 0,92 0,91 1,15 0,94 0,91 0,88 0,87 0,94 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1,15 0,96 0,91 0,87 1,06 0,83 0,82 0,84 0,82 0,92 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,74 0,72 0,79 0,84 1,13 1,05 1,06 1,12 1,11 0,95 Jasa-Jasa 0,90 0,83 0,82 0,81 0,78 0,80 0,82 0,84 0,84 0,83

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

44. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,50 1,56 1,62 1,64 3,92 1,66 1,74 1,76 1,83 1,91 Pertambangan dan Penggalian

  1,93 1,84 1,83 1,82 4,31 1,78 1,73 1,77 1,77 2,09

  Industri Pengolahan 0,77 0,80 0,81 0,83 1,98 0,85 0,84 0,82 0,79 0,94

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,81 0,82 0,78 0,75 1,73 0,69 0,72 0,78 0,79 0,87 Bangunan

  0,91 0,91 0,91 0,93 2,35 1,02 1,04 1,12 1,16 1,15

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,17 1,14 1,12 1,12 1,41 1,14 1,13 1,12 1,11 1,16

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,60 0,51 0,49 0,46 0,56 0,41 0,39 0,38 0,38 0,46 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,40 0,37 0,37 0,36 0,45 0,37 0,38 0,39 0,41 0,39 Jasa-Jasa

  0,65 0,65 0,67 0,70 0,69 0,75 0,78 0,81 0,83 0,73 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

45. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi DKI Jakarta Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01

  Pertambangan dan Penggalian

  0,04 0,03 0,03 0,03 0,08 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04 Industri Pengolahan 0,62 0,62 0,62 0,62 1,46 0,60 0,59 0,57 0,55 0,69 Listrik. Gas. dan Air Bersih

  1,01 1,01 1,00 0,95 2,19 0,84 0,83 0,83 0,81 1,05

  Bangunan

  1,70 1,67 1,64 1,63 3,86 1,61 1,60 1,62 1,61 1,88

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,29 1,28 1,28 1,26 1,56 1,28 1,26 1,23 1,22 1,29

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,43 1,26 1,26 1,27 1,58 1,24 1,26 1,29 1,31 1,32 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan

  3,70 3,34 3,28 3,17 3,90 2,99 2,95 2,90 2,84 3,23

  Jasa-Jasa

  1,33 1,26 1,25 1,24 1,18 1,23 1,24 1,24 1,26 1,25

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

46. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Jawa Barat Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,00 0,98 0,95 0,94 2,22 1,01 0,99 0,96 0,92 1,11

  Pertambangan dan Penggalian

  0,35 0,31 0,30 0,28 0,67 0,30 0,29 0,27 0,24 0,33 Industri Pengolahan

  1,49 1,54 1,59 1,63 4,08 1,66 1,63 1,63 1,61 1,87

  Listrik. Gas. dan 3,53 3,52 3,18 3,05 6,78 2,87 2,91 2,82 2,87 3,50

  Air Bersih Bangunan

  0,49 0,54 0,53 0,52 1,26 0,53 0,57 0,61 0,64 0,63 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran

  1,21 1,16 1,16 1,16 1,40 1,22 1,26 1,24 1,28 1,23

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,87 0,68 0,64 0,62 0,67 0,49 0,51 0,53 0,54 0,61 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,37 0,34 0,32 0,34 0,42 0,33 0,34 0,36 0,38 0,36 Jasa-Jasa

  0,79 0,75 0,76 0,74 0,69 0,70 0,72 0,73 0,75 0,74 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

47. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Jawa Tengah Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,41 1,44 1,45 1,45 3,40 1,42 1,42 1,40 1,39 1,64

  Pertambangan dan Penggalian

  0,10 0,11 0,12 0,13 0,32 0,13 0,14 0,14 0,15 0,15 Industri Pengolahan

  1,14 1,15 1,15 1,17 2,92 1,24 1,27 1,28 1,28 1,40

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  1,19 1,25 1,26 1,22 2,77 1,07 1,11 1,13 1,13 1,35

  Bangunan 0,94 0,94 0,92 0,92 2,17 0,91 0,91 0,92 0,91 1,06 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,28 1,25 1,25 1,24 1,50 1,26 1,24 1,23 1,23 1,27

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,93 0,67 0,73 0,70 0,81 0,59 0,56 0,55 0,54 0,67 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,42 0,38 0,39 0,39 0,50 0,40 0,39 0,39 0,40 0,41 Jasa-Jasa

  1,15 1,09 1,11 1,12 1,03 1,06 1,08 1,09 1,11 1,09

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

48. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi DI Yogyakarta Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,27 1,30 1,33 1,32 3,19 1,34 1,31 1,26 1,27 1,51

  Pertambangan dan Penggalian

  0,08 0,08 0,08 0,09 0,21 0,08 0,08 0,09 0,09 0,10 Industri Pengolahan

  0,52 0,52 0,51 0,50 1,18 0,50 0,51 0,52 0,49 0,58 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  1,37 1,37 1,32 1,32 3,01 1,18 1,18 1,18 1,21 1,46

  Bangunan

  1,37 1,39 1,48 1,53 3,61 1,49 1,50 1,53 1,52 1,71

  Perdagangan. Hotel. dan

  1,24 0,51 1,20 1,19 1,47 1,23 1,20 1,17 1,17 1,15 Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,90 1,59 1,49 1,41 1,66 1,20 1,14 1,12 1,09 1,40 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan

  1,10 1,04 0,99 0,99 1,26 0,99 1,01 1,03 1,07 1,05

  Jasa-Jasa

  1,97 1,83 1,83 1,81 1,72 1,78 1,81 1,83 1,88 1,83

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

49. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Jawa Timur

  Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,20 1,20 1,21 1,21 2,75 1,15 1,14 1,12 1,10 1,34

  Pertambangan dan Penggalian

  0,20 0,21 0,22 0,24 0,62 0,27 0,28 0,29 0,29 0,29 Industri Pengolahan

  0,98 0,98 0,96 0,97 2,35 0,99 0,98 0,98 0,97 1,13

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  2,62 2,61 2,56 2,60 4,59 1,73 1,74 1,75 1,74 2,44

  Bangunan 0,61 0,59 0,55 0,51 1,22 0,50 0,50 0,51 0,50 0,61

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,72 1,73 1,78 1,78 2,13 1,77 1,79 1,79 1,81 1,81

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,11 0,91 0,85 0,80 1,05 0,80 0,78 0,78 0,77 0,87 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,57 0,54 0,54 0,55 0,73 0,56 0,57 0,57 0,57 0,58 Jasa-Jasa

  0,95 0,89 0,88 0,88 0,93 0,97 0,95 0,93 0,92 0,92 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

50. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Banten Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 0,60 0,60 0,58 0,58 1,28 0,54 0,58 0,57 0,58 0,66

  Pertambangan dan Penggalian

  0,01 0,01 0,01 0,01 0,03 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 Industri Pengolahan

  1,78 1,78 1,79 1,77 4,73 1,99 1,97 1,94 1,51 2,14

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  6,69 6,68 6,17 5,88 11,62 4,45 4,77 4,76 4,77 6,20

  Bangunan 0,45 0,46 0,45 0,47 0,95 0,41 0,41 0,43 0,43 0,50

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,09 1,10 1,11 1,14 1,28 1,07 1,08 1,08 1,11 1,12

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,60 1,35 1,31 1,23 1,23 0,93 0,91 0,92 0,92 1,16 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,34 0,33 0,33 0,35 0,45 0,38 0,39 0,39 0,39 0,37

  Jasa-Jasa 0,49 0,47 0,48 0,50 0,44 0,46 0,46 0,46 0,48 0,47

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

51. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Bali Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,48 1,50 1,52 1,51 3,59 1,52 1,51 1,49 1,48 1,73 Pertambangan dan Penggalian

  0,07 0,07 0,07 0,07 0,17 0,07 0,08 0,09 0,10 0,09 Industri Pengolahan

  0,34 0,34 0,34 0,36 0,90 0,39 0,39 0,38 0,38 0,42 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  2,24 2,22 2,24 2,20 4,99 1,91 1,95 2,00 2,04 2,42

  Bangunan 0,67 0,66 0,64 0,62 1,54 0,61 0,61 0,62 0,69 0,74

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,87 1,84 1,82 1,81 2,25 1,88 1,84 1,83 1,78 1,88

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,99 1,67 1,55 1,51 1,76 1,25 1,17 1,12 1,09 1,46 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,86 0,81 0,82 0,79 0,96 0,72 0,74 0,74 0,75 0,80

  Jasa-Jasa

  1,61 1,52 1,54 1,49 1,38 1,43 1,47 1,51 1,54 1,50

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

52. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,72 1,76 1,80 1,82 4,48 1,75 1,72 1,90 2,05 2,11

  Pertambangan dan Penggalian

  3,03 2,93 2,87 2,93 6,50 3,14 3,39 2,70 2,09 3,29

  Industri Pengolahan 0,15 0,16 0,16 0,17 0,44 0,18 0,18 0,19 0,21 0,21

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,44 0,45 0,48 0,50 1,20 0,45 0,46 0,52 0,56 0,56 Bangunan

  1,10 1,12 1,13 1,13 2,80 1,20 1,18 1,29 1,36 1,37

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,79 0,80 0,84 0,85 1,08 0,86 0,85 0,91 0,99 0,89 Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,34 1,17 1,13 1,08 1,26 0,85 0,80 0,85 0,89 1,04 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,52 0,49 0,52 0,53 0,72 0,54 0,54 0,60 0,66 0,57

  Jasa-Jasa

  1,13 1,09 1,09 1,07 1,08 1,08 1,06 1,14 1,18 1,10

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

53. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,81 2,82 2,87 2,89 6,87 2,85 2,85 2,81 2,80 3,29

  Pertambangan dan Penggalian

  0,14 0,14 0,15 0,15 0,37 0,16 0,17 0,17 0,18 0,18 Industri Pengolahan

  0,06 0,06 0,06 0,06 0,13 0,06 0,06 0,06 0,06 0,07 Listrik. Gas. dan 0,61 0,61 0,60 0,57 1,27 0,51 0,54 0,58 0,59 0,65 Air Bersih Bangunan

  1,19 1,16 1,09 1,04 2,40 0,98 0,96 0,97 0,98 1,19

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,98 0,96 0,97 0,95 1,17 0,98 0,98 0,98 0,98 1,00

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,28 1,09 1,03 0,98 1,14 0,83 0,79 0,77 0,74 0,96 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,35 0,34 0,33 0,38 0,49 0,38 0,39 0,41 0,41 0,39 Jasa-Jasa

  2,55 2,48 2,48 2,52 2,44 2,57 2,63 2,73 2,78 2,58

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

54. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kalimantan Barat Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,70 1,75 1,79 1,82 4,43 1,86 1,90 1,93 1,94 2,13

  Pertambangan dan Penggalian

  0,13 0,13 0,13 0,15 0,47 0,21 0,22 0,23 0,24 0,21 Industri Pengolahan

  0,71 0,69 0,68 0,67 1,60 0,66 0,65 0,63 0,62 0,77 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,68 0,68 0,66 0,63 1,42 0,55 0,56 0,56 0,55 0,70

  Bangunan 1,32 1,33 1,30 1,27 3,02 1,28 1,30 1,35 1,38 1,51 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,44 1,42 1,40 1,37 1,52 1,25 1,22 1,19 1,18 1,33

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,30 1,09 1,03 0,99 1,30 1,01 0,98 0,99 0,64 1,04 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,57 0,53 0,53 0,52 0,75 0,58 0,59 0,59 0,59 0,58

  Jasa-Jasa

  1,13 1,11 1,14 1,21 1,17 1,22 1,23 1,23 1,27 1,19

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

55. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,65 2,60 2,59 2,57 5,69 2,36 2,35 2,34 2,33 2,83

  Pertambangan dan Penggalian

  0,40 0,68 0,90 0,99 2,50 1,11 1,20 1,37 1,46 1,18

  Industri Pengolahan 0,33 0,32 0,29 0,30 0,72 0,30 0,31 0,29 0,28 0,35

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,73 0,73 0,70 0,67 1,50 0,57 0,57 0,59 0,60 0,74 Bangunan

  0,78 0,78 0,77 0,80 2,04 0,87 0,86 0,89 0,89 0,97 Perdagangan. Hotel. dan

  1,10 1,05 1,03 1,00 1,28 1,08 1,07 1,05 1,05 1,08 Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,49 1,21 1,14 1,07 1,36 0,93 0,87 0,80 0,78 1,07 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,49 0,47 0,49 0,53 0,69 0,57 0,63 0,67 0,70 0,58

  Jasa-Jasa

  1,42 1,34 1,29 1,34 1,34 1,37 1,35 1,38 1,40 1,36

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

56. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan

  Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,62 1,67 1,70 1,74 4,20 1,80 1,79 1,81 1,81 2,02

  Pertambangan dan Penggalian

  2,17 2,29 2,43 2,51 6,35 2,64 2,75 2,89 2,93 3,00

  Industri Pengolahan 0,48 0,45 0,43 0,42 0,99 0,42 0,41 0,40 0,40 0,49

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,81 0,79 0,78 0,73 1,65 0,63 0,65 0,66 0,67 0,82 Bangunan

  0,90 0,91 0,90 0,89 2,07 0,86 0,86 0,87 0,90 1,02

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,92 0,89 0,89 0,87 1,08 0,90 0,90 0,89 0,91 0,92 Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,58 1,34 1,25 1,19 1,37 0,98 0,93 0,90 0,88 1,16 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,45 0,40 0,40 0,42 0,53 0,42 0,43 0,43 0,44 0,44 Jasa-Jasa

  0,96 0,93 0,95 0,95 0,91 0,95 0,98 1,00 1,03 0,96 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

57. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Kalimantan Timur Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 0,45 0,46 0,48 0,49 1,15 0,48 0,50 0,53 0,54 0,57

  Pertambangan dan Penggalian

  3,89 4,04 4,24 4,46 11,27 4,86 5,12 5,49 5,84 5,47

  Industri Pengolahan

  1,33 1,29 1,24 1,19 2,83 1,15 1,08 0,98 0,89 1,33

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,41 0,44 0,45 0,45 1,02 0,41 0,42 0,46 0,48 0,50 Bangunan

  0,49 0,49 0,51 0,55 1,32 0,59 0,60 0,65 0,69 0,65 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 0,41 0,42 0,46 0,46 0,58 0,50 0,51 0,53 0,54 0,49

  Pengangkutan dan Komunikasi

  0,79 0,72 0,71 0,72 0,84 0,63 0,61 0,62 0,65 0,70 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,26 0,25 0,27 0,30 0,39 0,32 0,34 0,36 0,40 0,32 Jasa-Jasa 0,21 0,20 0,20 0,21 0,20 0,22 0,22 0,23 0,25 0,22

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

58. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,44 1,50 1,49 1,55 3,55 1,42 1,48 1,41 1,42 1,70 Pertambangan dan Penggalian

  0,57 0,55 0,57 0,60 1,54 0,63 0,62 0,65 0,67 0,71 Industri Pengolahan

  0,28 0,27 0,28 0,29 0,69 0,30 0,31 0,30 0,30 0,34 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  1,06 1,15 1,14 1,09 2,49 1,02 1,01 1,01 1,02 1,22

  Bangunan

  2,67 2,63 2,59 2,57 6,19 2,51 2,36 2,46 2,49 2,94

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,87 0,87 0,87 0,87 1,10 0,95 0,95 0,98 0,97 0,94 Pengangkutan dan

  Komunikasi

  2,25 1,88 1,73 1,60 1,90 1,47 1,40 1,34 1,28 1,65 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,75 0,69 0,72 0,71 0,89 0,69 0,70 0,70 0,71 0,73

  Jasa-Jasa

  1,90 1,78 1,75 1,68 1,57 1,61 1,60 1,60 1,63 1,68

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

59. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  3,05 3,11 3,10 3,10 7,23 3,02 3,04 3,06 3,03 3,53

  Pertambangan dan Penggalian

  0,18 0,22 0,28 0,38 1,05 0,44 0,56 0,74 0,90 0,53 Industri Pengolahan 0,24 0,24 0,23 0,24 0,57 0,25 0,24 0,23 0,23 0,27 Listrik. Gas. dan Air Bersih

  1,17 1,16 1,11 1,09 2,35 0,93 0,92 0,92 0,91 1,17

  Bangunan

  1,08 1,09 1,06 1,06 2,52 1,04 1,04 1,11 1,18 1,24

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,77 0,76 0,77 0,75 0,91 0,76 0,75 0,72 0,71 0,77 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1,27 1,07 1,04 0,99 1,17 0,86 0,80 0,76 0,73 0,97 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,53 0,49 0,49 0,49 0,63 0,49 0,50 0,50 0,49 0,51 Jasa-Jasa

  1,72 1,65 1,64 1,66 1,66 1,73 1,74 1,71 1,72 1,69

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

60. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,21 2,15 2,14 2,13 5,04 2,11 2,05 2,09 2,07 2,44

  Pertambangan dan Penggalian

  0,97 1,06 1,10 1,15 2,60 0,98 1,08 0,98 0,97 1,21

  Industri Pengolahan 0,47 0,50 0,51 0,51 1,24 0,52 0,52 0,52 0,53 0,59

  Listrik. Gas. dan 1,35 1,42 1,43 1,41 3,34 1,32 1,33 1,36 1,42 1,60

  Air Bersih Bangunan

  0,78 0,79 0,76 0,76 1,97 0,87 0,87 0,91 0,93 0,96 Perdagangan. Hotel. dan

  Restoran 0,89 0,88 0,88 0,89 1,13 0,97 0,98 0,98 0,98 0,95

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,37 1,21 1,12 1,08 1,30 0,96 0,96 0,96 0,98 1,11 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,70 0,64 0,65 0,68 0,87 0,71 0,77 0,81 0,86 0,74

  Jasa-Jasa

  1,29 1,19 1,25 1,24 1,15 1,19 1,15 1,13 1,09 1,19

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

61. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,51 2,57 2,55 2,56 6,03 2,44 2,35 2,28 2,19 2,83

  Pertambangan dan Penggalian

  0,59 0,61 0,55 0,66 1,49 0,62 0,72 0,93 1,27 0,83 Industri Pengolahan

  0,26 0,26 0,31 0,33 0,79 0,31 0,34 0,33 0,31 0,36 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih

  0,98 1,05 1,06 1,00 2,31 0,94 0,97 1,00 1,09 1,16

  Bangunan 1,32 1,30 1,28 1,27 3,08 1,33 1,40 1,46 1,47 1,55 Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,94 0,93 0,89 0,89 1,13 0,99 1,00 1,00 0,99 0,97 Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,43 1,20 1,12 1,03 1,25 0,99 0,94 0,91 0,87 1,08 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,57 0,53 0,60 0,59 0,77 0,60 0,63 0,68 0,68 0,63

  Jasa-Jasa

  1,55 1,46 1,44 1,41 1,34 1,40 1,31 1,24 1,22 1,38

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

62. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Gorontalo Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,04 2,10 2,16 2,22 5,34 2,18 2,17 2,20 2,21 2,51

  Pertambangan dan Penggalian

  0,09 0,10 0,11 0,12 0,30 0,13 0,14 0,14 0,15 0,14 Industri Pengolahan

  0,34 0,34 0,30 0,30 0,71 0,29 0,30 0,30 0,31 0,36 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,96 0,89 0,90 0,87 1,83 0,70 0,75 0,75 0,73 0,93

  Bangunan

  1,29 1,24 1,27 1,27 3,04 1,34 1,38 1,41 1,41 1,52

  Perdagangan. Hotel. dan 0,87 0,83 0,82 0,80 0,98 0,82 0,82 0,83 0,84 0,84

  Restoran Pengangkutan dan

  Komunikasi

  1,92 1,62 1,53 1,42 1,63 1,18 1,13 1,10 1,07 1,40 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 1,12 0,92 0,92 0,92 1,15 0,90 0,92 0,92 1,04 0,98

  Jasa-Jasa

  1,97 2,02 2,06 2,06 1,97 2,08 2,07 2,01 1,98 2,02

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

63. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Barat

  Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  3,79 3,78 3,77 3,74 8,26 3,40 3,59 3,62 3,62 4,17

  Pertambangan dan Penggalian

  0,06 0,06 0,06 0,07 0,27 0,12 0,11 0,12 0,13 0,11 Industri Pengolahan

  0,26 0,28 0,28 0,29 0,74 0,33 0,34 0,36 0,35 0,36 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,52 0,49 0,50 0,53 1,32 0,54 0,59 0,62 0,66 0,64

  Bangunan 0,48 0,50 0,51 0,55 1,95 0,83 0,72 0,72 0,71 0,77

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,74 0,77 0,77 0,76 0,90 0,74 0,73 0,71 0,69 0,76 Pengangkutan dan

  Komunikasi 0,51 0,43 0,41 0,41 0,48 0,36 0,36 0,36 0,34 0,41 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,55 0,50 0,50 0,57 0,92 0,77 0,73 0,68 0,66 0,65 Jasa-Jasa

  1,49 1,44 1,54 1,58 1,56 1,64 1,57 1,68 1,86 1,60

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

64. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Maluku Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian 2,29 2,32 2,31 2,34 5,56 2,32 2,38 2,39 2,39 2,70

  Pertambangan dan Penggalian

  0,09 0,09 0,09 0,08 0,20 0,08 0,09 0,10 0,11 0,10 Industri Pengolahan

  0,17 0,17 0,17 0,18 0,44 0,19 0,18 0,19 0,19 0,21 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,83 0,83 0,88 0,84 1,83 0,54 0,60 0,64 0,62 0,85

  Bangunan 0,22 0,22 0,21 0,21 0,50 0,21 0,28 0,30 0,29 0,27

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,49 1,47 1,48 1,47 1,84 1,53 1,49 1,46 1,46 1,52

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,80 1,57 1,52 1,48 1,71 1,24 1,16 1,11 1,07 1,41 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,67 0,60 0,60 0,59 0,75 0,57 0,55 0,54 0,52 0,60

  Jasa-Jasa

  2,19 2,07 2,04 1,99 1,90 1,99 2,01 2,07 2,11 2,04

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

65. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Maluku Utara Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,39 2,44 2,48 2,52 6,24 2,61 2,62 2,65 2,64 2,95 Pertambangan dan Penggalian

  0,51 0,51 0,51 0,56 1,37 0,50 0,51 0,52 0,52 0,61 Industri Pengolahan

  0,55 0,55 0,55 0,54 1,13 0,48 0,47 0,46 0,45 0,58 Listrik. Gas. dan

  Air Bersih 0,71 0,74 0,77 0,76 1,62 0,59 0,59 0,61 0,61 0,78

  Bangunan 0,27 0,26 0,26 0,26 0,67 0,28 0,27 0,29 0,31 0,32

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  1,45 1,44 1,45 1,43 1,80 1,54 1,57 1,59 1,63 1,55

  Pengangkutan dan Komunikasi

  1,34 1,13 1,06 1,03 1,25 0,92 0,86 0,83 0,80 1,02 Keuangan. Persewaan.

  dan Jasa Perusahaan 0,39 0,36 0,36 0,36 0,47 0,38 0,38 0,38 0,38 0,38

  Jasa-Jasa 0,90 0,86 0,85 0,84 0,79 0,82 0,84 0,85 0,85 0,85

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

66. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Papua Barat Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  2,08 2,04 2,06 2,08 4,96 1,92 1,63 1,35 1,20 2,15

  Pertambangan dan Penggalian

  2,18 2,20 2,14 2,09 4,87 1,83 1,45 1,19 1,14 2,12

  Industri Pengolahan 0,49 0,50 0,49 0,50 1,21 0,72 1,25 1,62 1,80 0,95

  Listrik. Gas. dan Air Bersih

  0,61 0,63 0,68 0,66 1,50 0,56 0,47 0,41 0,38 0,65 Bangunan

  1,20 1,24 1,31 1,35 3,42 1,40 1,18 1,05 1,01 1,46

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,57 0,57 0,60 0,60 0,75 0,58 0,46 0,39 0,37 0,54 Pengangkutan dan

  Komunikasi 1,20 1,04 1,06 1,02 1,17 0,86 0,69 0,59 0,54 0,91 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,21 0,20 0,19 0,21 0,32 0,27 0,22 0,19 0,18 0,22 Jasa-Jasa

  1,06 1,07 1,12 1,14 1,11 1,14 1,07 1,03 1,01 1,08

  Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

67. Nilai LQ Sektor Perekonomian Provinsi Papua Lapangan Usaha Location Quotient (LQ) RATA-RATA (miliar rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  Pertanian

  1,20 0,95 1,23 1,23 3,14 1,13 1,25 1,42 1,49 1,45

  Pertambangan dan Penggalian

  5,64 6,85 5,88 5,91 12,99 6,01 5,23 4,33 3,85 6,30

  Industri Pengolahan 0,09 0,07 0,09 0,09 0,23 0,09 0,10 0,11 0,11 0,11

  Listrik. Gas. dan 0,34 0,26 0,34 0,33 0,80 0,27 0,30 0,33 0,35 0,37

  Air Bersih Bangunan

  0,92 0,71 0,94 1,02 2,90 1,12 1,41 1,74 2,00 1,42

  Perdagangan. Hotel. dan Restoran

  0,35 0,27 0,36 0,37 0,51 0,39 0,43 0,49 0,52 0,41 Pengangkutan dan

  Komunikasi 0,93 0,64 0,82 0,84 1,13 0,75 0,83 0,92 0,96 0,87 Keuangan. Persewaan. dan Jasa Perusahaan

  0,16 0,12 0,18 0,25 0,37 0,34 0,37 0,42 0,44 0,29 Jasa-Jasa

  0,84 0,60 0,78 0,82 0,94 0,94 1,12 1,32 1,42 0,97 Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

Informasi dokumen
Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Pdrb Antar Provinsi Di Indonesia Analisa Data Identifikasi Masalah 1 Hipotesis 1 Analisa Data Identifikasi Masalah 2 Hipotesis 2 Hipotesis Penelitian Metode Penentuan Daerah Penelitian Metode Pengumpulan Data Perekonomian Indonesia Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Gambaran Umum Pertanian Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Kondisi Penduduk Indonesia Kerangka Konseptual Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Pdrb Antar Provinsi Di Indonesia Kesimpulan Saran Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Pdrb Antar Provinsi Di Indonesia Kontribusi Sektor Pertanian Landasan Teori Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Aceh Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Bali Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Bali Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Banten Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Banten Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Bengkulu Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Bengkulu Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi DI Yogyakarta Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi DI Yogyakarta Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Gorontalo Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Gorontalo Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jambi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jambi Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jawa Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Jawa Timur Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Jawa Timur Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Selatan Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Timur Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Riau Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Lampung Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Lampung Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Maluku Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Maluku Utara Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Maluku Utara Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Timur Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Papua Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Papua Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Papua Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Riau Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Riau Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Maluku Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tengah Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tenggara Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Utara Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Barat Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Selatan Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004-2012 Kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2012 Latar Belakang Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Pdrb Antar Provinsi Di Indonesia Metode Analisis Sektor Unggulan .1 Analisis Penelitian Terdahulu Perbandingan Kontribusi Sektor Pertanian yang Termasuk Sektor Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Aceh Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Bali Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Banten Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Bengkulu Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi DI Yogyakarta Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Gorontalo Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jambi Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Jawa Timur Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Selatan Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kalimantan Timur Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Utara Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Lampung Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Maluku Utara Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Papua Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Riau Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Kepulauan Riau Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Maluku Berdasarkan pendekatan Location Quotient LQ Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sulawesi Tenggara Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Barat Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan pendekatan Sektor-Sektor Unggulan Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan pendekatan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Komparasi Kontribusi Sektor Pertania..

Gratis

Feedback