Dinamika biomassa bakteri dan kadar limbah nitrogen pada budidaya ikan lele (Clarias Gariepinus) intensif sistem heterofik

Gratis

3
29
100
2 years ago
Preview
Full text

DINAMIKA BIOMASSA BAKTERI DAN KADAR LIMBAH NITROGEN

  Adapun perlakuannya adalah perlakuan A (pemberian pakan tanpa bakteri dan molases),perlakuan B (pemberian pakan dengan molases dan tanpa bakteri), perlakuan C(pemberian pakan dengan bakteri dan tanpa molases), perlakuan D (pemberian pakan dengan bakteri dan molases). Hasilpengamatan menunjukkan bahwa perlakuan D (pemberian pakan dengan bakteri dan molasses) yang merupakan sistem heterotrofik dapat menurunkan kadar nitrit,namun kadar amonia, kadar nitrat, dan biomassa bakteri yang terdapat pada system heterotrofik tidak berbeda jauh dengan perlakuan lainnya.

INTENSIF SISTEM HETEROTROFIK

  Adapun perlakuannya adalah perlakuan A (pemberian pakan tanpa bakteri dan molases),perlakuan B (pemberian pakan dengan molases dan tanpa bakteri), perlakuan C(pemberian pakan dengan bakteri dan tanpa molases), perlakuan D (pemberian pakan dengan bakteri dan molases). Hasilpengamatan menunjukkan bahwa perlakuan D (pemberian pakan dengan bakteri dan molasses) yang merupakan sistem heterotrofik dapat menurunkan kadar nitrit,namun kadar amonia, kadar nitrat, dan biomassa bakteri yang terdapat pada system heterotrofik tidak berbeda jauh dengan perlakuan lainnya.

KATA PENGANTAR

  Memang demikian yang penulis rasakan dalam penelitian hingga skripsi ini berhasil diselesaikan, yakni banyak pihak yang mendukung dan membantu, berupa moril danmateril, baik secara langsung maupun tidak langsung hingga penyusunan skripsi dapat dilakukan dengan baik, lancar dan rampung sesuai waktu yang ditentukan. Terima kasih atas segala dukungan moril, dan materilnya,kasih sayang yang selalu tercurahkan, yang selalu memberikan arahan, nasehat, semangat, dan segala sesuatu yang dibutuhkan ananda sampaiterselesaikannya penulisan ini.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Permasalahan utama dalam sistem budidaya intensif dengan pengendalian mikroorganisme dan tanpa pergantian air seperti kolam,tambak, tangki dan akuarium adalah konsentrasi limbah budidaya (ammonia, nitrat, dan nitrit) mengalami peningkatan yang sangat cepat dan berisiko terhadapkematian ikan. 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya perikanan air tawar khususnya ikan lele (Clarias gariepinus) dengan menggunakan sistem heterotrofik yang hemat air dan ramah lingkungan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  Pengertian lainnya sistemheterotrofik adalah sistem budidaya perikanan yang menggunakan bakteri heterotrofik dalam pengendalian limbah nitrogen dengan penambahan sumberkarbon organik tertentu (Gunadi et al., 2009). Teknologi ini didasarkan pada konversi nitrogen anorganik terutama ammonia oleh bakteriheterotrof menjadi biomassa mikroba yang kemudian dapat dikonsumsi oleh organisme budidaya (Ekasari, 2009).

2.2.1 Bakteri Heterotrofik

  Bakteri heterotrofik merupakan golangan bakteri yang mampu memanfaatkan dan mendegradasi senyawa organik kompleks yang mengandungunsur C, H, dan N. Bakteri heterotrof yang ada di perairan biasanya akan memanfaatkan pakan Bakteri heterotrofik mempunyai efisiensi produksi sel yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bakteri autotrofik yakni 25-100 kali daripada bakteri Nitrosomonas sp.

2.2.2 Bakteri Autotrofik

  Bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat autotrofik adalah kelompok bakteri yang terutama berperan dalam proses oksidasi amoniamenjadi nitrit pada siklus nitrogen, juga pada proses peruraian nitrogen dalam sistem pengolahan limbah cair. Bakteri autotrofik yang melakukan proses nitrifikasi membutuhkan senyawa anorganik sebagai sumber energi dan karbondioksida sebagai sumber karbon (Spotte, 1979), sertamengkonsumsi oksigen pada saat oksidasi amonia dengan produk akhirnya nitrat (Moriarty, 1996).

2.3 Tingkat Teknologi Budidaya Perikanan Pada sistem akuakultur terdapat tingkat teknologi budidaya perikanan

  Ciri-ciri pemberian pakan pada pemeliharaan ikan secara ekstensif adalah: suplemen pakan yang diberikan tidak optimum, nutrisi pakan biasanya tidaksempurna dan tidak seimbang (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002). Sistem semiintensif juga dapat dilakukan secara terpadu, artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun dengan industri rumah tangga, misalnya usahaternak kambing, itik dan ayam.

2.3.3 Budidaya Perikanan Sistem Intensif

  Sistem budidaya seperti ini akan menghasilkantotal beban limbah pakan yang lebih banyak daripada yang teretensi menjadi daging ikan. Limbah budidaya yang dimaksud merupakan akumulasi dari residuorganik yang berasal dari pakan yang tidak termakan, ekskresi amoniak, feces dan partikel-partikel pakan (Avnimelech et al., 1994).

2.4 Ikan Lele (Clarias gariepinus)

  Ikan lele (Clarias gariepinus) banyak ditemui di perairan rawa, sungai, sawah, dan bahkan perairan yang sedikit payau (Smith,1980), dan juga dalam air limbah (Sumastri dan Djajadiredja, 1982). Ikan lele ( Clarias gariepinus) Sumber : Foto Pribadi Klasifikasi ikan lele (Clarias gariepinus) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:Ikan lele berwarna kehitaman atau keabuan, memiliki bentuk badan yang memanjang pipih ke bawah (depressed), berkepala pipih, tidak bersisik,memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat pernapasan tambahan (arborescent organ) (Astuti, 2003).

2.5 Limbah Nitrogen

  Pada tumbuhan dan hewan, senyawa nitrogen ditemukan sebagai penyusun protein dan klorofil. Nitrogen anorganik Seluruh nitrogen dalam pakan yang diberikan kepada ikan, 25%-nya akan digunakan ikan untuk tumbuh, 60%-nya akan dikeluarkan dalam bentuk NH 3 dan 15%-nya akan dikeluarkan bersama kotoran (Brune et al., 2003).

2.5.1 Amonia

  Ikan tidak dapat bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan dapatmenyebabkan sufokasi (kematian secara perlahan karena lemas) (Effendi, 2003). Namun demikian dengan adanya bahan organik, prosesmikrobial yang berlangsung didominasi oleh bakteri heterotrofik yang lebih cepat menyerap ammonium menjadi biomasa bakteri.

2.5.2 Nitrit

  Nitrit juga dikatakan sebagai hasil dari oksidasi amonia dalam proses nitrifikasi oleh bakteri autotropik Nitrosomonas, yang menggunakanamonia sebagai sumber energi (Boyd,1981). Amonium juga digunakan untuk sintesisasam amino dan protein melalui glutamine dan glutamat (Joklik et al., 1992).

2.5.3 Nitrat

  Efeknitrat pada hewan akuatik hampir sama dengan nitrit yaitu pada transportasi oksigen dan proses osmoregulasi. Kadar nitrat dalam air yang berbahaya bagi ikanmaupun invertrebata berkisar antara 1.000 2.6 Sumber Karbon (Molases) Tetes tebu merupakan hasil samping industri gula yang mengandung senyawa nitrogen, trace element, dan kandungan gula yang cukup tinggi terutamakandungan sukrosa sekitar 34% dan kandungan total karbon sekitar 37% (Suastuti, 1998).

2.7.1 Oksigen Terlarut

  Kadar oksigen terlarut berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantung pada pencampuran dan pergerakan massa air, aktivitas fotosintesis, o respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air. Batas toleransi kadar oksigen terlarut secara umum untuk budidaya tambak adalah 3 Kandungan oksigen terlarut dalam suatu perairan merupakan parameter kualitas air yang paling kritis dalam budidaya ikan, karena dapat mempengaruhikelangsungan hidup ikan yang dipelihara.

2.8 Volatil Suspended Solid (VSS)

  Volatile solid adalah bahan organik yang teroksidasi pada pemanasan dengan suhu, sedangkan non volatile solid adalah fraksi bahan anorganik yang tertinggal sebagai abu pada suhu tersebut (Effendi, 2003). Volatile solid dapatdijadikan sebagai parameter utama dan penting bagi keberadaan bioflok pada sistem budidaya dengan teknologi bioflok (Schryver et al., 2008).

BAB II I METODOLOGI

  3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Juli 2011. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: ikan lele (Clarias gariepinus) ukuran 50 gram/ekor, pakan ikan lele Pro-vite 781,molases, bakteri komersil minabacto, reagent amonia, reagent nitrit, dan reagent nitrat.

3.3 Disain Penelitian

  Perlakuan C: pemberian pakan dengan bakteri dan tanpa molases 4. Perlakuan D: pemberian pakan dengan bakteri dan molases.

3.4 Cara Kerja

3.4.1 Persiapan

  Kode Perlakuan Corong Kode Perlakuan Perlakuan 1 B1 Tanpa bakteri + molases 2 A1 Tanpa bakteri + tanpa molases 3 C2 Bakteri + tanpa molases 4 D1 Bakteri + Molases 5 C1 Bakteri + tanpa molases 6 B3 Tanpa bakteri + molases 7 D2 Bakteri + Molases 8 A2 Tanpa bakteri + tanpa molases 9 A3 Tanpa bakteri + tanpa molases 10 C3 Bakteri + tanpa molases 11 B2 Tanpa bakteri + molases 12 D3 Bakteri + Molases 250 liter 1 2 3 4 B1 A1 C2 D1 5 6 7 8 C1 B3 D2 A2 9 11 12 10 A3 B2 D3 C3 Gambar 3. Ikan yang layak digunakan adalah ikan yang memiliki organ tubuh yang lengkap, yang aktif (gesit), ukuran seragam dan tidak ternfeksi penyakit.

3.4.2 Pemberian pakan

  Hal ini dilakukan karena pada sepuluh hari terakhir parameter yang 3.4.4.1 Pengukuran Amonia Pengukuran amonia ini dilakukan di laboratorium kimia dengan menggunakan Spektrofotometer U-I500 dan dilakukan pada H0, H2, H4, H6, H8,H10, H13, H16, H19, dan H21. Pengukuran kualitas air pendukung ini dilakukan pada H0, H2, H4, H6, H8, H10,H13, H16, H19, dan H21 pada jam 06.00 WIB sebelum dilakukan pemberian pakan dan molases.

3.4.4.5 Pengukuran Volatile Suspended Solid

  Pengambilan sampel air dari tiap-tiap corong pada jam 6.00 WIB sebelum pemberian pakan dan molases. Hasil timbangan A dan B dihitung dengan menggunakan rumus: VSS (mg/l) = _____A – B_____ V sampel air (ml) Keterangan: A: hasil timbangan filter setelah suhu 103ºC (mg) B: hasil timbangan filter setelah suhu 550ºC (mg)V: volume sampel air yang digunakan (100 ml) (APHA, 2005).

3.5 Analisis Data

  Hasil pengukuran setiap paramater ditampilkan secara grafis untuk melihat dinamika dari setiap parameter. Nilai pengukuran parameter pada akhir penelitiandiuji dengan analysis of variance (ANOVA) satu arah untuk melihat perbedaan antara perlakuan variasi pakan, bakteri, dan molases terhadap kadar amonia, nitrit,nitrat, nilai volatil suspended solid, kadar oksigen terlarut, pH, dan suhu.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  Bakteri yang tumbuh pada Pada perlakuan D yaitu perlakuan dengan pemberian pakan dengan penambahan bakteri dan molases yang merupakan sistem heterotrofik, hasil nilai VSS pada perlakuan D ini sesuai dengan yang diharapkan, bahwa pemberian bakteri heterotrofik komersial dan penambahan molases pada corong dapatmemicu pertumbuhan bakteri heterotrofik dan menurunkan kadar limbah nitrogen. Kadar oksigen terlarut rata-rata pada tiap-tiap perlakuan adalah sebagai berikut : pada perlakuan A yaitu 3,76mg/L, pada perlakuan B yaitu 2,88mg/L, pada perlakuan C yaitu 4,55 mg/L, dan pada perlakuan D yaitu 2,79 mg/L.kadar okseigen terlarut tertinggi yaitu pada perlakuan C sebesar 4,55 mg/L dan yang terendah yaitu pada perlakuan B sebesar 2,88 mg/L.

2 O /g N. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa oksigen pada perlakuan

  A dan C lebih tinggi dari pada perlakuan B dan D karena hanya sedikit oksigen yang digunakan oleh bakteri autotrofik dalam pertumbuhannya dan dalam prosesnitrifikasi, sedangkan bakteri heterotrofik pada perlakuan B dan D menggunakan lebih banyak oksigen sehingga kadar oksigen pada kedua perlakuan tersebut lebihrendah. Nilai pH rata-rata pada tiap-tiap perlakuan adalah sebagai berikut : pada perlakuan A yaitu 7, pada perlakuan B yaitu 7.21, pada perlakuanC yaitu 6.74 dan pada perlakuan D yaitu 7.04.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Kadar amonia yang didapatkan tidak berbeda nyata pada sistem heterotrofik, sedangkan untuk kadar nitrit dan nitrat terdapat perbedaan yang nyata pada sistem heterotrofik. Keterangan : F table = 4.07Kesimpulan : F hitung < F table = tidak berbeda nyata pada taraf 5% tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada nilai VSSterhadap perlakuan variasi pakan, bakteri, dan molases.

4 D 3 ,19533 Sig

  Nitrat Dependent Variable: nitrat Ty pe I II SumSource of Squares df Mean Square F Sig.a Corrected Model 482,054 3 160,685 6,210 ,017 Intercept2593,080 1 2593,080 100,215 ,000 v ariasi 482,054 3 160,685 6,210 ,017 Error207,001 8 25,875 Total 3282,135 12 Corrected Total 689,055 11 Keterangan : F table = 4.07 Kesimpulan : F hitung > F table = berbeda nyata pada taraf 5% terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada kadarnitrat terhadap perlakuan variasi pakan, bakteri, dan molases. Derajat Keasaman (pH) Dependent Variable: pH Ty pe I II SumSource of Squares df Mean Square F Sig.a Corrected Model ,349 3 ,116 1,776 ,229 Intercept588,980 1 588,980 8996,646 ,000 Variasi ,349 3 ,116 1,776 ,229 Error,524 8 ,065 Total 589,853 12 Corrected Total ,872 11 Keterangan : F table = 4.07 Kesimpulan : F hitung < F table = berbeda nyata pada taraf 5% tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada nilaipH terhadap perlakuan variasi pakan, bakteri, dan molases.

Dokumen baru

Download (100 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Isolasi dan uji kemampuan bakteri endofit diazotrof yang memfiksasi nitrogen bebas pada akar kelapa sawit (Elaeis guineensis Jaqc.).
7
90
50
Analisis pendapatan dan efisiensi usahatani budidaya ikan koi di Desa Sumberingin Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar tahun 2004
1
30
72
Analisis produksi budidaya tambak udang windu semi intensif masa tebar Oktober 2001-Maret 2002 di kecamatan Warureja kabupaten Tegal
0
8
58
Kelangsungan hidup ikan lele pada budidaya intensif sistem heterotropik
3
12
85
Dinamika biomassa bakteri dan kadar limbah nitrogen pada budidaya ikan lele (Clarias Gariepinus) intensif sistem heterofik
3
29
100
Aplikasi effective microorganism 10 (em10) untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (clarias gariepinus var. sangkuriang) di kolam budidaya lele Jombang, Tangerang
1
10
80
Efektifitas Kombinasi ABR-AF terhadap penurunan kadar COD pada limbah cair PT XXX
1
8
108
Dinamika fosfat dan klorofil dengan penebaran ikan nila ( oreochromis nilotocus) padas kolam budidaya ikan lele (clarias gariepinus) sistem heterotrofik
3
19
70
Efektifitas Kombinasi ABR-AF terhadap penurunan kadar COD pada limbah cair PT XXX Tahun 2014
0
23
108
Analisis pendapatan usaha pembesaran ikan lele sangkuriang (clarias gariepinus) di Bojong Farm Kabupaten Bogor
4
33
100
Aplikasi effective microorganism 10 (em10) untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (clarias gariepinus var. sangkuriang) di kolam budidaya lele jombang, Tangerang
0
31
9
Pengurangan kadar n dan p pada limbah cair laboratorium secara fitoremediasi menggunakan enceng gondok (eichornia crassipes)
0
15
6
Sistem pakar mendiagnosis penyakit ikan lele dan cara pembudidyaan untuk meningkatkan produktifitas ikan lele berbasis mobile
2
71
92
Sistem informasi geografis untuk menentukan wilayah budidaya ikan air tawar di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang
2
5
59
Masyarakat Iktiologi Indonesia Pembekuan semen lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell 1822) sebagai model kriopreservasi semen ikan
0
0
7
Show more