Feedback

PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)

Informasi dokumen
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai persyaratan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana (S-1) Oleh: Firdausia Zetira Jaya NIM: 09220262 Dosen Pembimbing: 1. M. Himawan Sutanto, M.Si 2. Widya Yutanti, MA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2014 i ii iii iv KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul, PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas) Secara sederhananya media literasi atau yang juga dikenal dengan melek media adalah kemampuan untuk memilih, menggunakan, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi media massa. Dari definisi sederhana di atas, terlihat bahwa tujuan dari media literasi yaitu, agar para konsumen media dapat melakukan kontrol terhadap isi media, bukan sebaliknya. Media literasi tidak hanya diterapakan oleh publik atau konsumen media saja, tetapi sebagai produsen berita juga perlu untuk menerapkan media literasi ini. Termasuk produsen berita dalam kampus, yakni jurnalis kampus. Di satu sisi, jurnalis kampus adalah produsen media, tapi di sisi lain jurnalis kampus juga menjadi konsumen media saat dirinya mengakses media tertentu. Memiliki dua peran dalam diri jurnalis kampus tersebut bukan suatu hal yang mudah. Sebagai produsen media, jurnalis kampus harus mampu memberikan berita atau informasi yang berkualitas. Akan tetapi saat mengakses media, jurnalis kampus harus mempunyai alat yang membantunya untuk memfilter dirinya dari terpaan media. sehingga berita atau informasi yang diberikan kepada masyarakat v kampusnya mempunyai nilai yang berbobot dan bermanfat.Maka dari itu, peeneliti tertarik untuk menggali pemahaman, sikap, dan perilaku jurnalis kampus UAPKM 10, Koran Bestari, dan UKPM Civitas, tentang media literasi. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari dukkungan dan dorongan dari semua pihak. Melalui kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada : 1. Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini. 2. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan, Bapak L.H.C. Andriansyah dan Ibu Naning Apsana. Serta Adik Fadhilah Azzah Syaharani, dan seluruh keluarga besar atas segala doa, dukungan moral, dan materiil yang diberikan kepada peneliti. 3. Bapak M. Himawan Sutanto, M.Si, selaku pembimbing I, yang senantiasa sabar memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti dalam menyusun skripsi ini. 4. IbuWidya Yutanti, selaku pembimbing II, yang senantiasa memberikan banyak sekali masukan kepada peneliti. 5. Bapak Nurudin, M.Si selaku dosen wali peneliti dan segenap dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat dan selalu menyemangati peneliti. 6. Bagus Pamuji Rahardjo, yang selalu memberikan semangat kepada peneliti untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Serta juga memberikan masukan kepada peneliti tentang skripsi ini. vi 7. Sahabat dan teman baikku, Ekky Primary, Sukeipah, Vinda Yanuarizki, Fitria Ade, Prima Putra Wijaya, Vika Antiyawati, Fatmala Sari, Fendy Setiawan, terima kasih selalu memberikan semangat kepada peneliti. 8. Teman-temanku, Nadlir, Adin, Mega, Vivi, Irin, Sari, Wigyo, Rahma, Hesty, Citra, Heny serta segenap pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu yang telah ikut serta membantu dalam penyusunan skripsi ini. Peneliti menyadari dalam penelitian ini jauh dari kata sempurna, maka saran dan kritik yang membangun diperlukan untuk kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Wassalamualaikum Wr. Wb Malang, 30 April 2014 Firdausia Zetira Jaya vii DAFTAR ISI Lembar Persetujuan Skripsi . ii Lembar Pengesahan . iii Pernyataan Orisinalitas. iv Berita Acara Bimbingan . v Abstrak . vi Abstract . viii Kata Pengantar . x Daftar Isi . xiii Daftar Tabel . xvi Daftar Bagan . xvii BAB I BAB II PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang . 1 1.2. Rumusan Masalah . 6 1.3. Tujuan Penelitian . 6 1.4. Manfaat Penelitian . 6 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Prinsip Media Literasi . 8 2.2. Elemen Media Literasi . 9 2.3. Tujuan Media Literasi . 11 2.4. Model Media Literasi . 16 2.4.1. Struktur-struktur Pengetahuan . 18 2.4.2. Lokus Pribadi . 19 2.4.3. Kompetensi dan Keterampilan . 20 2.4.4. Tugas Pengolahan-Informasi . 22 2.5. Pers Kampus . 24 2.6. Peran Pers Kampus . 25 2.7. Hegemoni Media. 27 2.8. Teori Normatif Media . 29 2.9. Definisi Konseptual . 32 viii BAB III BAB IV BAB V 2.9.1. Pengertian Penerapan . 32 2.9.2. Unsur-unsur . 33 2.9.3. Pengertian Media Literasi . 33 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian . 38 3.2. Fokus Penelitian. 39 3.3. Waktu dan Lokasi Penelitian . 40 3.4. Informan Penelitian. 40 3.5. Jenis dan Sumber data. 41 3.6. Prosedur Pengumpulan data . 42 3.6.1. Observasi . 42 3.6.2. Wawancara . 42 3.6.3. Dokumentasi . 43 3.7. Instrumen Penelitian . 44 3.8. Analisis Data . 45 3.9. Teknik Keabsahan data . 49 GAMBARAN OBYEK PENELITIAN 4.1. Profil UAPKM Kavling 10 UB . 50 4.1.1. Struktur Organisasi . 54 4.2. Profil Koran Bestari UMM . 55 4.2.1. Struktur Organisasi . 56 4.3. Profil UKPM Civitas UNMER . 57 4.4.1. Struktur Organisasi . 58 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 5.1. Penyajian Data . 60 5.2. Pembahasan . 62 A. Pemahaman Media Literasi . 65 B. Sikap. 69 1. Penyampai Informasi . 70 2. Berpikir Kritis . 75 3. Jurnalis Publikasi . 80 ix BAB VI C. Perilaku . 84 1. Komparasi Media . 85 2. Penerapan Media Literasi . 88 PENUTUP 6.1. Kesimpulan . 93 A. Pemahaman Media Literasi . 93 B. Sikap . 94 C. Perilaku . 96 6.2. Saran . 97 6.2.1. Akademis . 97 6.2.2. Praktis . 97 DAFTAR PUSTAKA . 99 DAFTAR LAMPIRAN . 103 Draft Wawancara . 103 Transkrip Wawancara . 104 x DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tujuan media literasi . 12 Tabel 2.2 Pertanyaan mendasar dalam konsep media literasi . 37 Tabel 3.1 Informan Penelitian . 41 Tabel 3.2. Instrumen Penelitian . 44 xi DAFTAR BAGAN Bagan 2.1.1 The Cognitive Model of Media Literacy . 17 Bagan 2.1.2 The Seven Skills of Media Literacy . 21 Bagan 2.1.3 Summary of Three Tasks of Information Processing . 23 Bagan 3.1.1 Analisis Data dalamPenelitianKualitatif . 48 xii DAFTAR LAMPIRAN Draft Wawancara . 103 Transkrip Wawancara . 104 xiii DAFTAR PUSTAKA A. Buku Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: PT Rineka Cipta. Baran, Stanley J. 2011. Pengantar Komunikasi Massa, Literasi Media dan Budaya. Jakarta: Salemba Humanika Bungin, Burhan. 2010. Analisis Data PenelitianKualitatif. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada Creswall, John W. 2012. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Hamidi. 2004. MetodePenelitianKualitatif.Malang: UMM Press Iriantara, Yosal. 2009. Literasi Media: Apa, Mengapa, dan Bagaimana. Bandung: SimbiosaRekatama Media Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). 2011. Panduan Sosialisasi Literasi Media Televisi. Jakarta Machmud. Muslimin. 2011. Komunikasi Tradisional: Pesan Kearifan Lokal Masyarakat Sulawesi Selatan Melalui Berbagai Media Warisan. Yogjakarta: Buku liter xiv McQuil. 2011. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika Moleong, L. J. 2009. MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya Patria, Nezar dan Andi Arief. 2003. Antonio Gramsci, Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Potter, W. James. 2005. Media Literacy, Third Edition. United States of Amerika: SagePublications Prajarto, Nunung. 2006. Media Komunikasi; Siapa Mengorbankan Siapa. Yogyakarta: Penerbit Fisipol UGM Syahputra, Iswandi. 2013. Rezim Media. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Wazis, Kun. 2012. Media Massa dan Konstruksi Berita. Yogyakarta dan Malang: Aditya Media Publishing B. Jurnal Satrio Arismunandar, Sejarah Fenomena Pers Mahasiswa, diakses 6 November 2013 (21:08) melalui http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/32227002/Acade mia__Sejarah___Fenomena_Pers_Mahasiswa__juni_2012.pdf?AWSAcce ssKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1383750480&Sign ature=gAQKFpkPdbME2nqPHu7OjJuJ7M4%3D xv Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PERS MAHASISWA (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Persepsi Mahasiswa Terhadap Eksistensi Pers Mahasiswa di Universitas Sebelas Maret Surakarta), diakses 6 November 2013 (20:51) melaui http://jurnal- kommas.com/docs/Jurnal%20Online%20Resha%20zuhriya.pdf Muhammad Tutang Untung Firmansyah, Penerapan E-government Melalui www.bandungbaratkab.go.id dalam Memberikan Informasi Berita Di Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat 2009, diakses 13 Mei 2014 (11.00) melalui http://elib.unikom.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptuni kompp-gdl-muhammadtu-21147 C. Internet Gramsci, Antino.Gramscianism on Communications Matters, diakses 23 juli 2013 (20:04) melalui http://www.theory.org.uk/ctr- gram.htm#hege TeoriHegemoni Media, diakses 23 Juli 2013 (20:46) melaluihttp://ebookbrowse.com/teori-hegemoni-media-docd189830501 Profil Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kavling 10 UB, di akses 5 September 2013 (09:56) melalaui http://kavling10.com/tentang-kami/ Profil Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Civitas, di akses 5 September 2013 (09:58) melalui melalui http://ukpmcivitas.blogspot.com/?m=1 xvi Profil Koran Bestari UMM, di akses 5 September 2013 (10:00) melalui http://bestari.umm.ac.id/index.php/tentang-bestari xvii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara sederhananya media literasi atau yang juga dikenal dengan melek media adalah kemampuan untuk memilih, menggunakan, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi media massa. Pada dasarnya media literasi merupakan upaya pembelajaran bagi khalayak media, sehingga menjadi khalayak yang berdaya hidup di tengah dunia yang disebut sesak media (Iriantara, 2009:31). Namun menurut W. James Potter (2005:22), media literasi adalah sebuah perspektif yang aktif kita gunakan ketika mengekspos diri kita sendiri pada media yang kita hadapi. Dari definisi sederhana di atas, terlihat bahwa tujuan dari media literasi yaitu, agar para konsumen media dapat melakukan kontrol terhadap isi media, bukan sebaliknya. Saat ini berbagai pihak, seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), perguruan tinggi, hingga masyarakat luas melakukan kajian tentang media literasi. Kemampuan bermelek media tersebut tidak hanya diterapkan pada publik atau konsumen media saja. Akan tetapi sebagai pelaku media yakni jurnalis, seharusnya turut memahami dan mempunyai kemampuan melek media tersebut. Objek penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah jurnalis. Namun, jurnalis yang menjadi sasaran peneliti adalah jurnalis yang 1 berada di lingkungan kampus. Jurnalis kampus adalah sebutan mahasiswamahasiswa yang tergabung dalam kegiatan pers kampus. Jurnalis kampus mempunyai dua status. Status pertama sebagai produsen media di kampusnya, dan status keduanya adalah menjadi konsumen media saat mengakses informasi atau berita dari media massa tertentu. Sehingga, peneliti mengatakan bahwa kemampuan bermelek media juga harus di miliki oleh jurnalis kampus. Seorang jurnalis kampus tentu tidak akan hanya bermodalkan pengetahuan tentang tulis menulis saja. Tetapi, menjadi seorang jurnalis kampus juga harus mempunyai pengetahuan tentang pengelolaan media. Meski sudah menjadi jurnalis di lingkup universitas, para jurnalis kampus tersebut merupakan bagian dari masyarakat umum yang juga mengonsumsi media massa, baik media cetak, elektronik, maupun internet. Pengetahuan tentang media dapat meliputi bagaimana pengorganisasian dalam media massa, mengolah sebuah berita, sampai bagaimana media massa dapat mengkonstruksi isu tertentu dan mempengaruhi pemikiran khalayak. Namun pada kenyataannya, banyak pula jurnalis kampus yang tidak mengerti bagaimana media massa mengolah pesan. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, bahwa teman-teman peneliti yang menjadi jurnalis kampus, terkadang menelan mentah-mentah informasi dari media massa, tanpa adanya filter pada diri mereka. Bahkan, penlitipun yang juga seorang jurnalis kampus, terkadang langsung percaya terhadap beberapa pemberitaan di media massa. 2 Ketika jurnalis kampus tersebut tidak mempunyai alat untuk memfilter dirinya dari serangan informasi di media massa, pengetahuan mereka akan informasi yang kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)

Gratis