Keterpaparan Pemulung Sampah Dapat Menimbulkan Penyakit Kulit Akibat Kerja di TPA Terjun Kota Medan

 5  58  92  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DAFTAR LAMPIRAN

  Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 61 orang dan yang mengikuti tes tempel 10 orang yang mengalami penyakit dermatitis kontak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memiliki hubungan yangbermakna dengan penyakit kulit akibat kerja adalah mencuci tangan setelah bekerja(p=0.000), memakai pelindung tangan saat bekerja (p=0.003), memakai sepatu pelindung (p=0.002), dan memakai krim pelindung wajah saat bekerja (p=0.001).

1.1. Latar Belakang

  Untuk mengetahui hubungan personal hygiene (mencuci tangan dengan sabun setelah bekerja, membersihkan diri dan mandi setelah bekerja) dan alatpelindung diri (memakai pelindung tangan saat bekerja, memakai pelindung pakaian saat bekerja, memakai sepatu pelindung saat bekerja, menggunakankrim pelindung saat bekerja) terhadap penyakit kulit akibat kerja. Ada hubungan personal hygiene (mencuci tangan dengan sabun setelah bekerja, membersihkan diri dan mandi setelah bekerja) dan alat pelindung diri(memakai pelindung tangan saat bekerja, memakai pelindung pakaian saat bekerja, memakai sepatu pelindung saat bekerja, menggunakan krimpelindung saat bekerja) terhadap penyakit kulit akibat kerja.

1.5. Manfaat Penelitian

  Memberikan masukan pada masyarakat khususnya para pemulung yang beroperasi di TPA Terjun terhadap risiko penyakit kulit akibat kerja. Untuk mencari solusi pencegahan dan perlindungan terhadap pekerja yang berhubungan dengan sampah.

2.1. Sampah

2.1.1. Pengertian Sampah

  Sampah adalah suatu limbah yang bersifat padat terdiri dari sampah organik, sampah anorganik dan sampah bahan berbahayaberacun (B3) yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Dep. Tumpukan sampah yang menggunung dapat menimbulkan kondisi lingkungan fisik dan kimia yang tidak sesuai dengan dengan kondisi lingkungan normal.

2.1.2. Klasifikasi Sampah

  Pemulung adalah orang yang kegiatannya mengambil dan mengumpulkan barang bekas yang masih memiliki nilai jual yang kemudian akan dijual kepadajuragan barang bekas (Saratri, 2005). Para pemulung ini dijumpai paling banyak di TPA-TPA kota besar disamping para pemulung yang bergerak antara TPS yang satu ke TPS yang lain.

2.2. Penyakit Kulit Akibat Kerja

2.2.1. Struktur dan Fungsi dari Kulit

  Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat 2 dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,5-1,75 m , rata-rata tebal kulit 1-2 mm. Salah satu lingkunganyang perlu diperhatikan adalah lingkungan kerja, yang bila tidak dijaga dengan baik dapat menjadi sumber munculnya berbagai penyakit kulit (Rofiq, 2007).

2.2.2. Epidemiologi Penyakit Kulit Akibat Kerja

  Di Amerika Serikat pada tahun 2003 dilaporkan dari 4,4 juta pekerjaan berisiko kecelakaan dan penyakit diperkirakan 6,2% (269.500 kasus) disebabkan olehpenyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (Taylor, 2008). Secara umum, tampaknya hingga kini kelengkapan data PKAK masih menjadi salah satu tantangan, karenaPKAK seringkali tidak teramati atau tidak teridentifikasi dengan baik akibat banyaknya faktor yang harus dikaji dalam memastikan jenis penyakit (Rofiq, 2007).

2.2.3. Bentuk Penyakit Kulit Akibat Kerja

  Pengertian dermatitis adalah peradangan kulit yang ditandai oleh rasa gatal, dapat berupa penebalan/bintil kemerahan, multipel mengelompok atau tersebar, kadang Bahan-bahan kimia yang berpengaruh untuk terjadinya Dermatitis adalah Arsen, Merkuri, Garam kromium, Resin venil dan akrilik, Dikromat, Heksaklorofen, Parafenildiamin, Cobalt dan Nickel (Suhariyanto, 2007). Sekitar 90.000 jenis bahan sudah diketahui dapat menimbulkan Dermatitis kontak alergi Dermatitis kontak alergi (DKA) merupakan reaksi inflamasi kulit yang berhubungan dengan proses imunologik pada kulit yang terpapar dengan bahanalergen.

2.2.4. Bentuk Lain dari Kelainan Kulit yang Diinduksi Lingkungan Dermatitis kontak fototoksik dan fotoalergik

  Tidak seperti dermatitis Penyebab terjadinya urtikaria kontak meliputi bahan makanan seperti daging, telur, seafood dan sayuran, bulu dan sekresi dari hewan seperti ulat dan artropodayang lainnya, tumbuhan dan bumbu-bumbu seperti rumput laut, thyme dan cabai rawit, parfum dan bahan penyedap seperti balsam dari Peru dan minyak kayu manis,beberapa jenis obat-obatan seperti antibiotik, logam, bahan pengawet seperti formalin dan asam benzoat, dan karet lateks sarung tangan (Kaplan, 2008). Ini meliputi biaya langsung atas pengobatan, kompensasi kecacatan dan biaya tidaklangsung yang meliputi kehilangan hari kerja dan produktivitas, biaya pelatihan ulang serta biaya yang menyangkut efek terhadap kualitas hidup (Rofiq, 2007).

2.3. Landasan Teori

  Pada pemulung yang selalu berkontak dengan sampah yang mengandungbahan-bahan kontaktan seperti rubber, kertas, beberapa bahan kayu, dan kaca sangat berisiko untuk menderita Penyakit Kulit Akibat Kerja (Suryani, 2008). Studi kasus, merupakan sebuah metode yang mengacu pada penelitian yangmempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalammengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya (Yin, 2008).

7. Alat bantu yang dipakai adalah: a

  Kaca pembesarBerikut adalah daftar alergen yang diujicobakan pada tes tempel: Tabel 1. Pembacaan hasil yang positif diberi skor sesuai dengan derajat reaksi yang terlihat.

3.6. Variabel Penelitian

  Jenis kelamin 3. Alat pelindung diri 5.

1. Penyakit kulit akibat kerja

3.7. Definisi Operasional

  Personal hygiene: kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk melindungi diri dari penyakit kulit akibat kerja seperti mencuci tangan dengan sabun danmembersihkan diri dan mandi. Penyakit kulit akibat kerja: segala kelainan pada kulit yang diakibatkan pekerjaan dan lingkungan kerja seperti dermatitis kontak, dermatitisfotokontak, dermatitis fotoalergi, urtikaria kontak dan infeksi kulit.

3.8. Jalannya Penelitian

  Analisis UnivariatAnalisis ini dilakukan untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik dari variabel yang diteliti, ukuran yang digunakan adalah distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, baik variabel pengaruh maupun variabel tergantung. Gambaran Sampah di Kota Medan Pengelolaan kebersihan di Kota Medan dilakukan oleh Dinas KebersihanKota Medan yang meliputi penyapuan jalan-jalan protokol dan kolektor, pengumpulan sampah dari sumber ke TPS, pengangkutan sampah dari TPS ke TPA,pemusnahan sampah dan pengelolaan TPA, penyedotan septitank dan retribusi kebersihan.

2 Perempuan

  No Kelompok Umur Jumlah %1 < 30 tahun 12 19,4 2 30-40 tahun 21 34,4 3 41-50 tahun 12 19,7 4 > 50 tahun 16 26,2Total 61 100,0 Untuk tahun terkena penyakit yang terbanyak adalah kurang dari 5 tahun(77%) dan lebih dari 5 tahun (23%). Distribusi Tahun Terkena Penyakit pada Responden No Tahun Terkena Penyakit Jumlah % 1 Kurang dari 5 tahun 47 77,0 2 Lebih dari 5 tahun 14 23,0Total 61 100,0 Untuk lama bekerja sehari yang terbanyak adalah < 8 jam (60,7%) dan > 8 jam (39,3).

4.3.1. Jenis Penyakit Kulit Akibat Kerja

  Berdasarkan jenis penyakit kulit akibat kerja yang didapat adalah terbanyak dermatitis kontak alergi yaitu (26,2%), lain-lain (24,6%), tinea pedis (19,7%), tineakruris (14,8%), skabies (9,8%), tinea korporis (3,3%) dan dermatitis kontak iritan (1,6%), daftar tersebut dapat dilihat pada Tabel 7. Distribusi Jenis Penyakit Kulit Akibat Kerja pada Responden No Jenis Penyakit Kulit Akibat Kerja Jumlah % 1 Dermatitis Kontak Iritan 1 1,6 2 Dermatitis Kontak Alergi 16 26,2 3 Tinea Kruris 9 14,8 4 Tinea Pedis 12 19,7 5 Skabies 6 9,8 6 Tinea Korporis 2 3,3 7 Lain-lain 15 24,6 Total 61 100,0 Tabel 8.

4.3.2. Personal Hygiene dan Alat Pelindung Diri

  Personal hygiene dan alat pelindung diri meliputi: melakukan upaya mencuci tangan dengan sabun setelah bekerja, memakai pelindung tangan saat bekerja,memakai sepatu pelindung saat bekerja, memakai pelindung pakaian saat bekerja, Berdasarkan studi di lapangan didapatkan bahwa responden yang melakukan upaya mencuci tangan dengan sabun setelah bekerja sebesar 34,4% dan yang tidakmelakukan sebesar 65,6%. Distribusi Melakukan Upaya Mencuci Tangan dengan Sabun Setelah Bekerja pada RespondenNo Mencuci Tangan Jumlah % dengan Sabun Setelah Bekerja 1 Ya 21 34,4 2 Tidak 40 65,6 Total 61 100,0 Responden yang memakai pelindung tangan saat bekerja sebesar 45,9% dan yang tidak memakai sebesar 54,1%.

4.3.3. Riwayat Alergi

  Data Riwayat Alergi yang diperoleh menunjukkan responden dan keluarganya sering mengalami pilek, sesak dan eksema/biduran sebesar 29,5% dan yang tidaksebesar 70,5%. No Sering Jumlah % Pilek/Sesak/Eksema 1 Ya 18 29,5 2 Tidak 43 70,5 Total 61 100,0 Responden yang pernah mengobati penyakit alergi sebesar 82% dan yang tidak pernah mengobati sebesar 18%.

4.3.4. Analisis Bivariat

  Data disajikan dalam bentuk tabeldistribusi frekuensi dan narasi dengan menggunakan analisis statistik bivariat serta menghitung nilai p yang mendukung terjadinya penyakit kulit akibat kerja padapemulung di TPA Terjun. Hasil Analisis Identitas Diri dengan Penyakit Kulit Akibat Kerja pada RespondenNo Variabel Signifikansi P 1 Jenis Kelamin 0,170 2 Lama bekerja dalam sehari 0,759 3 Kelompok umur 0,680 Hasil analisis bivariat antara personal hygiene dan alat pelindung diri menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan sabun setelah bekerja memilikihubungan yang bermakna dengan penyakit kulit akibat kerja dengan nilai p= 0,000.

4.3.5. Hasil Tes Tempel

  Jenis-jenis alergen yang digunakan pada tes tempel dipilih berdasarkan hasil analisa kualitas air tanah/sumur bulan oktober tahun 2010 dari Badan LingkunganHidup Provinsi Sumatera Utara yang menunjukkan bahwa ada bahan-bahan B3 yang terkandung didalam air tanah/sumur yaitu Cu (cuprum), Cd (cadmiun) dan Pb(plumbum). Hasil analisa laboratorium pada bulan Oktober 2010 terdapat 1 (satu) titik lokasi yang berada di atas baku mutu yaitu parameter Pb (Plumbum) yang terdapat padaair Sumur pantau TPA Terjun (Badan Lingkungan Hidup, 2010).

4.4. Pembahasan

  Rendahnya kesadaraan pemulungmenggunakan pelindung untuk tangan sehingga tidak terproteksinya diri pemulung dari bahan-bahan berbahaya yang terkandung di dalam sampah menyebabkanmunculnya PKAK yang banyak dijumpai Memakai pelindung pakaian tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan penyakit kulit akibat kerja dengan nilai p= 0,648. Pemakaian krimpelindung wajah sangat membantu pemulung untuk mencegah penyakit kulit pada wajah karena dapat digunakan sebagai pertahanan terhadap sinar matahari yang bisamembuat sel- sel kulit rusak sehingga kulit mudah terserang penyakit Membersihkan diri dan mandi setelah bekerja tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan terjadinya PKAK dengan nilai p= 0,998.

2. Pakaian harus sering diganti dan dibersihkan

  Meskipun hasil penelitian tidak menunjukkan semua cara diatas memiliki hubungan yang bermakna dengan PKAK, namun upaya seperti mencuci tangan dengan sabunsetelah bekerja merupakan suatu upaya yang memiliki hubungan yang bermakna pada Tes tempel dilakukan pada responden yang terindikasi dermatitis kontak. Hal ini dapat dilihat dari pembagian sampah berdasarkan tipenya, kedua zat tersebut merupakan sampah industri yaitusampah yang berasal dari kegiatan industri, sampah industri ada yang beracun bila mengandung logam berat (Peavy dkk, 1985).

5.1. Kesimpulan

  Membersihkan diri dan mandi setelah bekerja tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan terjadinya penyakit kulit akibat kerja (p=0,998). Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kebersihan bersama-sama meninjau kembali jenis-jenis sampah yang dibuang di TPA Terjun, karenaditemukannya zat-zat berbahaya yang berasal dari limbah industri.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Keterpaparan Pemulung Sampah Dapat Menimbulka..

Gratis

Feedback