Pengaruh Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah per 1 Januari 2010 terhadap Pendapatan Petani Padi Sawah

 1  23  103  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

KATA PENGANTAR

  76 12b Biaya Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah per Petani per Musim Tanam Sesudah Kenaikan HPP Gabah (April-Juli 2010) di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin,Kabupaten Deli Serdang (Rp.000) .................................................................. 82 16 Uji Beda Pendapatan Usahatani Padi Sawah per Petani per Musim Tanam Sebelum dan Sesudah Kenaikan HPP Gabah di Desa Sidoarjo IIRamunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang (Rp.000) .................

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah adalah besaran harga terendah yang ditetapkan oleh pemerintah terhadap gabah sesuai dengan kualitas gabah tersebutyang tujuannya untuk melindungi petani dengan adanya jaminan harga yang wajar. Berdasarkan data produksi dan produktivitas padi sawah di Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Beringin merupakan salah satu Kecamatan yang cukupberpotensi dengan luas lahan 2.479 Ha, produksi 25.794 Ton dan produktivitas sebesar 5,20 Ton/Ha.

1 Pertanian 567 85 %

  2 Buruh/ Karyawan 15 2 % 3 Perdagangan 50 7 % 4 PNS 30 4 % 5 Industri 8 1 % Jumlah 670 100 %Sumber : Kantor Kepala Desa Sidoarjo II Ramunia, 2010 Tabel 4 menunjukkan bahwa 85 % kepala keluarga yang ada di Desa Sidoarjo IIRamunia bermatapencaharian sebagai petani dan selanjutnya pola tanam di desa tersebut dapat dilihat pada gambar 1. Pola Tanam Padi Sawah di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang TahunMusim Tanam I Musim Tanam II Bulan Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Padi Sawah Bero Padi Sawah BeroSumber: Kantor Kepala Desa Sidoarjo II Ramunia, 2010 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa pola tanam padi sawah dalam setahun terdiridari dua kali musim tanam padi sawah yaitu musim tanam pertama dimulai dari bulan April-Juli yang meliputi pembukaan lahan sampai panen.

1.2. Identifikasi Masalah

  Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan beberapa identifikasi permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut seberapa besar persentasekenaikan harga penjualan gabah petani dibandingkan dengan persentase kenaikan HPP gabah mulai tahun 2006-2010 di daerah penelitian, apakah ada perbedaanpendapatan usahatani padi sawah petani sebelum dan sesudah kenaikan HPP gabah di daerah penelitian. Tujuan PenelitianSesuai dengan identifikasi masalah maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui seberapa besar persentase kenaikan harga penjualan gabah petanidibandingkan dengan persentase kenaikan HPP gabah mulai tahun 2006-2010 di daerah penelitian, untuk mengetahui perbedaan pendapatan usahatani bagi petanisebelum dan sesudah kenaikan HPP gabah di daerah penelitian.

2.1. Tinjauan Pustaka

  Gabah Kering Panen (GKP), gabah yang mengandung kadar air lebih besar dari 18% tetapi lebih kecil atau sama dengan 25 % (18%<KA<25%),hampa/kotoran lebih besar dari 6 % tetapi lebih kecil atau sama dengan 10 % (6%<HK<10%), butir hijau/mengapur lebih besar dari 7 % tetapi lebih kecilatau sama dengan 10 % (7%<HKp<10%), butir kuning/rusak maksimal 3 % dan butir merah maksimal 3 %. Gabah Kering Simpan (GKS), adalah gabah yang mengandung kadar air lebih besar dari 14 % tetapi lebih kecil atau sama dengan 18 % (14%<KA<18%),kotoran/hampa lebih besar dari 3 % tetapi lebih kecil atau sama dengan 6 % (3%<HK<6%), butir hijau/mengapur lebih besar dari 5% tetapi lebih kecilatau sama dengan 7 % (5%<HKp<7%), butir kuning/rusak maksimal 3 % dan butir merah maksimal 3 %.

2.2. Landasan Teori

  Petani hanyamengingat-ingat cash flow (anggaran arus uang tunai) yang mereka lakukan walaupun sebenarnya ingatan itu tidak terlalu jelek karena mereka masih ingatbila ditanya tentang berapa output yang mereka peroleh dan berapa input yang mereka gunakan (Soekartawi, 1995) Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produk yang diperoleh dengan harga jual. Contohnya biaya untuk sarana produksi, kalau menginginkan produksi yang tinggi maka tenaga kerja perlu ditambah, pupuk juga perlu ditambah dan sebagainyasehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang diinginkan dan ketersediaan modal yang dimiliki petani.

2 Keterangan:

  Usahatani padi adalah sistem budidaya padi yang dijalankan oleh petani dengan memanfaatkan faktor produksi seoptimal mungkin yang bertujuan untukmenghasilkan produktivitas padi yang tinggi guna mengganti seluruh biaya yang telah dikorbankan mulai lahan diolah hingga padi siap untuk dipanen dan dijual. Usahatani disini dapat diartikan berupa usaha yang dilakukan oleh petani pemilik, penggarap, atau penyewa lahan pada sebidang lahan yang dikuasainya, tempatpetani mengelola input produksi yang tersedia dengan segala pengetahuan dan kemampuannya untuk memperoleh hasil.

1 Januari 200

Produktivitas PenerimaanPendapatan Bersih Sebelum Kenaikan Sesudah Kenaikan HPP HPP Pengaruh(-) Turun (+) Naik(=) Tetap Lingkungan Keterangan: : Berpengaruh LangsungGbr 2. Kerangka Pemikiran

2.4. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis penelitian adalah persentase kenaikan harga penjualan gabah petani dibandingkan dengan persentase kenaikan HPP gabah mulai tahun2006-2010 cukup tinggi di daerah penelitian, ada perbedaan pendapatan usahatani bagi petani sebelum dan sesudah kenaikan HPP gabah di daerah penelitian.

III. METODOLOGI PENELITIAN

  Dari tabel 3 dapat dilihatbahwa desa ini menduduki urutan pertama dari sembilan desa produsen padi sawah dari seluruh desa yang ada di Desa Sidoarjo II Ramunia dengan luas arealtanaman padi 523,28 Ha (21,11 % dari total luas areal padi sawah di Kecamatan Beringin) jumlah produksi 5.924 Ton (22,96 % dari total produksi padi sawah diKecamatan Beringin) dan produktivitas sebesar 5,66 Ton/Ha. Responden yang akan dijadikan sampel adalah para petani yang mengusahakan padi sawah, dimanadidaerah penelitian terdapat 567 KK yang mengusahakan tanaman padi sawah dan jumlah sampel ditetapkan sebanyak 30 KK seperti pada tabel dibawah ini.

3.3. Metode Pengumpulan Data

  Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi dan dinas yangterkait dalam penelitian ini seperti BPS Kabupaten Deli Serdang, Dinas Pertanian Sumatera Utara, dan Kantor Kepala Desa dan Kelompok Tani.

1 Identitas Petani Petani Wawancara

  Wawancara Selanjutnya parameter untuk mengukur persentase kenaikan harga penjualan petani dengan HPP gabah per 1 Januari 2010 dapat dilihat pada tabel 8. Kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik.

3.4. Metode Analisis Data Semua data yang diperoleh dari lapangan ditabulasi sesuai dengan kebutuhan

Tabel 8. Parameter untuk Mengukur Persentase Kenaikan HargaPersentase Kenaikan No Keterangan (%)1 < 15 Rendah

2 Tinggi

≥15Sumber : Data diolah dari Lampiran 17 Untuk masalah apakah ada perbedaan pendapatan usahatani padi sawah petanisebelum dan sesudah kenaikan HPP gabah di daerah penelitian dianalisis dengan metode uji beda rata-rata menggunakan rumus t-hitung dengan uji 2 arah sebelumdan sesudah kenaikan HPP gabah (Paired Sample T-test). Jika: H 0 : µ 1 = µ 2 atau µ 1 - µ 2 = H 1 : µ 1 2 atau µ 1 - µ 2 ≠ µ ≠Keterangan : µ = Pendapatan usahatani sebelum kenaikan HPP gabah 1 µ 2 = Pendapatan usahatani sesudah kenaikan HPP gabah Rumus: Untuk sampel (n)≤ 30.x x 1 − 2 t hitung− = 2 2 n 1 s n 1 s  1  1 − 1 2 − 2 [ ] [ ] + 2 n n 1 2 − 1 2 [ ]    Dengan: 2 2 X X 1 = i 1 − 1 ( )∑n 1 1 − 2 2 X X 2 = i 2 − 2 ( )∑n 1 2 − Hipotesis H diterima≤ t ≤ t-tabelt h < -(t-tabel) atau t h > t-tabel Hipotesis H 1 diterima Keterangan:x = rata-rata nilai variabel I 1x = rata-rata nilai variabel II 1 = rata-rata standar deviasi I S = rata-rata standar deviasi II 2 n 1 = Jumlah sampel variabel I n 2 = Jumlah sampel Variabel II X i1 = Nilai individu ke-i dari sebelum kenaikan HPP gabah X i2 = Nilai individu ke-i dari sesudah kenaikan HPP gabah(Djarwanto, 1996).

3.5. Defenisi dan Batasan Operasional

Defenisi dan batasan operasional dibuat untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman dalam menafsirkan penelitian ini. Adapun defenisi dan batasanoperasional yang dibuat adalah:

3.5.1. Defenisi

1. Usahatani padi sawah adalah suatu usaha yang dilakukan di atas media tanam (sebidang tanah sawah) yang diatasnya diusahakan tanaman padi sawah

  Petani sampel adalah petani yang mengusahakan padi sawah sebagai mata pencaharian utama di Desa Sidoarjo II Ramunia Kecamatan BeringinKabupaten Deli Serdang. Sarana produksi adalah input produksi yang meliputi bibit, pupuk, dan obat- obatan yang digunakan dalam usahatani padi sawah.

3.5.2. Batasan Operasional

  Lokasi Penelitian adalah di Desa Sidoarjo II Ramunia Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang 2. Populasi adalah petani yang menanam padi sawah sebagai tanaman utama di lahan usahataninya.

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

  Deskripsi Daerah PenelitianPenelitian dilakukan di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Deli Serdang Tahun 2010Kelompok Umur Jumlah Persentase No (Tahun) (Jiwa) (%) 1 0-14 851 22,542 15-49 2.293 60,73 3 > 50 632 16,73 Total 3.776 100,00 Sumber : Kantor Kepala Desa Sidoarjo II Ramunia, 2011Tabel 9 menunjukkan penduduk kelompok umur usia anak-anak (0-14 tahun) sebanyak 851 jiwa (22,54 %), kelompok umur usia produktif (15-49 tahun)sebanyak 2.293 jiwa (60,73 %) dan kelompok umur usia sebanyak ≥ 50 tahun 632 jiwa (16,73 %).

4.3. Penggunaan Tanah

  Luas Wilayah daerah penelitian adalah 588,28 ha dengan penggunaan tanah seperti terlihat pada tabel 11. Luas dan Jenis Penggunaan Tanah di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010Luas Persentase No.

1 Persawahan 523,28 88,95

  2 Pemukiman 40 6,80 3 Sosial 25 4,25 Jumlah 588,28 100,00Sumber : Kantor Kepala Desa Sidoarjo II Ramunia, 2011 Tabel 11 menunjukkan penggunaan tanah yang paling luas adalah untuk lahan persawahan yaitu sebesar 523,28 ha (88,95 %), untuk pemukiman sebesar 40 ha(6,80 %) dan untuk sosial (jalan raya, kuburan, sekolah, gereja, dll) sebesar 25 ha (4,25 %). Data ini mengindikasikan bahwa daerah penelitian adalah daerahpertanian yang ditanami padi sawah.

4.4. Sarana dan Prasarana

  Sarana dan Prasarana di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010Jumlah No. Irigasi 1 Sumber: Kantor Kepala Desa Sidoarjo II Ramunia, 2011 Tabel 12 menunjukkan sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Sidoarjo IIRamunia baik dalam bidang pertanian, pendidikan, sosial dan agama sudah baik.

4.5. Karakteristik Sampel

  Sampel dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan tanaman padi dalam lahan pertaniannya dan menjadi penghasilan utamanya. Rata-rata luas lahan usahatani pada petani sampel adalah 0,92 ha dengan range antara 0,12-2,3 ha artinya luas lahan yang diusahakan oleh petani sampel cukupluas.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Usahatani Padi Sawah di Daerah Penelitian

  Yangmenjadi komoditas utama adalah padi sawah dan selanjutnya pola tanam di desa tersebut dapat dilihat pada gambar 1. Jumlah Benih yang Digunakan Sebelum dan Sesudah Kenaikan HPP 1 Januari 2010Uraian Sebelum Sesudah Anjuran Kenaikan HPP Kenaikan HPPPer Petani a.

5.1.3. Penanaman

  Jumlah Pupuk yang Digunakan Sebelum dan Sesudah Kenaikan HPP di Daerah PenelitianUraian Sebelum Kenaikan HPP Sesudah Kenaikan HPP Per Petani Per Ha Per Petani Per Haa. Jumlah Obat-obatan yang Digunakan Sebelum dan Sesudah Kenaikan HPP di Daerah PenelitianUraian Sebelum Kenaikan HPP Sesudah Kenaikan HPP Per Petani Per Ha Per Petani Per Haa.

5.1.8. Panen

  Setelah dirontokkan dilakukan pembersihan gabah dengan menggunakan mesin kipas padi untuk memisahkangabah dengan sisa batang padi atau jerami dan kotoran lain. Pemanenan dilakukan dengan sistem borong dengan upah 12:1 artinya jika hasil panen sebanyak 13 kg maka 12 kg menjadi milik petani dan 1 kg menjadi upahpemanen.

5.1.9. Pascapanen

  Analisis Ekonomi Usahatani Padi Sawah Sebelum Dan Sesudah Kenaikan Hpp GabahBiaya produksi usahatani adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam melakukan usahanya dalam satu musim tanam yang terdiri dari biayasarana produksi (bibit, pupuk, dan obat-obatan), biaya tenaga kerja dan biaya lainnya seperti PBB. Adapunbiaya produksi usahatani didaerah penelitian terdiri dari biaya sarana produksi (bibit, pupuk, dan obat-obatan), biaya tenaga kerja dan biaya lainnya seperti PBB,transportasi, sewa lahan, iuran irigasi dan penyusutan akan diuraikan secara terperinci pada tabel 17.

2 Sarana Produksi (Rp)

a. Bibit

  13. Pupuk UreaSP36 PhonskaZA Totalc.

9 Total Biaya

12 Penerimaan (Rp/MT) 19.958.970 21.708.483 23.119.333 25.093.517

  Dari tabel 17 dapat dikemukakan bahwa rata-rata biaya untuk bibit yang dikeluarkan oleh petani sebelum kenaikan HPP gabah adalahRp 230.490 per petani atau Rp 264.160 per hektar lebih rendah dibandingkan dengan sesudah kenaikan HPP gabah yaitu sebesar Rp 262.610 per petani dan Rp299.080 per hektar. Ada sebagian petani membeli sarana produksi tersebut dibawah atau diatas harga yang tertera diatasnamun perbedaannya tidak begitu nyata sementara untuk tenaga kerja rata-rata total penggunaan biaya tenaga kerja sebelum kenaikan HPP gabah adalahRp 3.428.340 per petani atau Rp 3.764.610 per hektar lebih kecil dari total penggunaan biaya tenaga kerja setelah kenaikan HPP gabah sebesar Rp 3.790.870per petani atau Rp 4.164.070 per hektar.

5.3 Analisis Persentase Kenaikan Harga Penjualan Gabah Petani per

1 Januari 200 dibanding dengan Rata-rata Persentase Kenaikan HPP Gabah Mulai Tahun 2006-200

  Untuk mengetahui seberapa besar persentase kenaikan harga penjualan gabah petani per 1 januari 2010 dibanding dengan rata-rata persentase kenaikan HPPgabah mulai tahun 2006-2010 di daerah penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan melihat persentase kenaikan hargapenjualan petani per 1 Januari 2010 dibanding dengan rata-rata persentase kenaikan HPP mulai tahun 2006-2010 (Tabel 8). Meskipun para petani menjual ketempat penggilingan,harga penjualan antara petani yang satu dengan yang lain berbeda.

1 Luas Lahan (ha) 0,92 0,2-2,30

  Dari 30 petani sampel ternyata terdapat 27 KK (90 %) yang menjual gabahnya≥ 15 % dari rata –rata persentase kenaikan HPP GKG mulai tahun 2006-2010, 3 KK (10 %) yang menjual gabahnya <15 % dari rata –rata persentase kenaikan HPP GKG mulai tahun 2006-2010. Frekwensi Petani Berdasarkan Persentase Kenaikan Harga Penjualan Gabah dari rata-rata kenaikan HPP GKG mulai tahun 2006-2010No Uraian Kategori Jumlah Rendah Tinggi 1 Jumlah Petani (KK) 3 27 30 2 Persentase (%) 10 90 100 Sumber: Data diolah dari Lampiran 15Jadi, hipotesis yang menyatakan persentase kenaikan harga penjualan gabah petani dibandingkan dengan persentase kenaikan HPP gabah mulai tahun2006-2010 cukup tinggi di daerah penelitian dapat diterima.

5.4. Analisis Perbedaan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Sebelum dan Sesudah Kenaikan HPP Gabah

  Hal ini disebabkan harga jual gabah petani sebelum dan sesudah kenaikan HPP gabah per 1 Januari2010 berada diatas HPP gabah yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Faktor lain yang menyebabkan kenaikan pendapatan ini adalah naiknya produktivitas padi petani setelah kenaikan HPP per 1 Januari 2010Sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase peningkatan harga jual gabah petani sebelum kenaikan HPP gabah per 1 Januari 2009 (17,44 %) lebih rendah dibandingkan dengan sesudah kenaikan HPP gabah per 1 Januari 2010 (19,39 %).

5.5. Masalah-masalah yang dihadapi petani padi sawah di daerah penelitian

  Ada beberapa masalah yang dihadapi petani padi sawah di daerah penelitian dalam menjalankan kegiatan usahataninya yaitu 1. Hal ini juga yang menyebabkan petani di daerah penelitian tidak membeli benih yang berlabel dari toko yang menjadidistributor karena harganya mahal berkisar Rp.

2. Serangan hama ulat penggulung daun, keong mas dan sundep menyebabkan produksi menurun

  Harga jual gabah pada saat panen rendah Pada saat panen raya biasanya terjadi kelebihan produksi sementara padakondisi yang sama permintaan konsumen atas beras adalah tetap yang Dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi maka upaya-upaya yang dilakukan petani adalah 1. Harga jual pada saat panen yang rendah maka upaya yang dilakukan petani hanya menjual gabahnya dengan jumlah tertentu cukup untuk membayarpengeluaran usahatani yang mendesak seperti membayar sewa lahan atau iuran irigasi dan lain-lain.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

  Persentase kenaikan harga penjualan gabah petani dibandingkan dengan persentase kenaikan HPP gabah mulai tahun 2006-2010 di daerah penelitiantergolong tinggi yaitu sebesar 19,39 %. SaranDisarankan kepada petani agar selalu mencari informasi tentang HPP gabah sehingga ketika petani menjual gabahnya dapat membandingkan hargayang ditetapkan dipenggilingan dengan HPP gabah dan supaya menggunakan benih bersertifikat supaya produktivitas bisa lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

  Distribusi Biaya Penggunaan Sarana Produksi Benih, Pupuk, dan Pestisida per Petani per Musim Tanam Sebelum Kenaikan HPP Gabah (April-Juli 2009) di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang (Rp.000) No. Distribusi Biaya Penggunaan Sarana Produksi Benih, Pupuk, dan Pestisida per Hektar per Musim Tanam Sebelum Kenaikan HPP Gabah (April-Juli 2009) di Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang (Rp.000) No.

1 Januari (Berlaku 22

1 Januari Januari 2010) 2006) April 2008) 2009) Gabah Kering Panen (GKP)Di Petani (Rp) 0.00 2,200.00 2,400.00 2,640.00 Persentase Kenaikan (%) 0.00 0.00 9.09 10.00 Di Penggilingan (Rp) 1,730.00 2,240.00 2,440.00 2,685.00 Persentase Kenaikan (%) 0.00 29.48 8.93 10.04 Gabah Kering Giling(GKG)Di Penggilingan (Rp) 2,280.00 2,800.00 3,000.00 3,300.00 Persentase Kenaikan (%) 0.00 22.81 7.14 10.00 Di Gudang Bulog (Rp) 2,250.00 2,840.00 3,040.00 3,345.00 Persentase Kenaikan (%) 0.00 26.22 7.04 10.03 Beras (Rp) Di Gudang Bulog (Rp) 3,550.00 4,300.00 4,600.00 5,060.00Persentase Kenaikan (%) 0.00 21.13 6.98 10.00
Pengaruh Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah per 1 Januari 2010 terhadap Pendapatan Petani Padi Sawah 101.25 21.22 Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN 85.00 67.00 120.00 Rataan 94.00 7.23 0.47 2.73 0.43 0.47 KESIMPULAN DAN SARAN Analisis Ekonomi Usahatani Padi Sawah Sebelum Dan Sesudah Kenaikan Hpp Gabah Deskripsi Daerah Penelitian Keadaan Penduduk Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN Landasan Teori TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Masalah-masalah yang dihadapi petani padi sawah di daerah penelitian Metode Analisis Data METODOLOGI PENELITIAN Metode Penentuan Daerah Penelitian Metode Penentuan Sampel Metode Pengumpulan Data Pengairan Pemupukan Penyiangan Pemberantasan Hama dan Penyakit Penggunaan Tanah Sarana dan Prasarana Karakteristik Sampel Pengolahan Lahan Persemaian Usahatani Padi Sawah di Daerah Penelitian Tinjauan Pustaka TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pengaruh Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah..

Gratis

Feedback