Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan Produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 )

 0  20  87  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

RIWAYAT HIDUP

  ASTARI MITA SILVIA Pulungan dilahirkan di Medan pada tanggal 18 Desember 1989, anak kedua dari 3 bersaudara, putri ayahanda Zainul Kharnain Pulungan dan ibunda Khairani Batubara. Dan pada tahun yang sama lulus di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan melaluijalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

KATA PENGANTAR

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan Soil conditioner dapat meningkatkan 2 bobot kering tajuk (g), luas daun (cm ), bobot 1000 butir (g), jumlah malai per sampel (tangkai), produksi per petak ubin (g), produksi per hektar (ton). Anakan ini tetap melekat pada batang utama hingga masa pertumbuhan Biji padi atau gabah terdiri dari dua penyusun utama yaitu 72-82% bagian yang dapat dimakan (kariopsis) dan 18-28% kulit gabah atau sekam.

1. Iklim

  Temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan menggangguproses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Suhu yang terlalu rendah pada waktu pertumbuhan permulaan sangat menghambat Tanaman padi dapat tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 LU– 45 LS dengan cuaca panas dan kelembapan tinggi dengan musim hujan 4 bulan.

2. Tanah Tanah yang dikehendaki tanaman padi adalah tanah dengan pH 4,0–7, 0

  Mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambahtinggi tanaman dan merangsang jumlah anakan, menambah ukuran daun dan besar gabah serta memperbaiki kualitas tanaman dan gabah, menambah kadar proteinberas, menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad- jasad renik) yang bekerja menghancurkan bahan – bahan organik didalam tanah(Departemen Pertanian, 1977). Kondisi yang baik untuk pertumbuhantanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah dan tingkatkeasaman tanah yang netral dan sumber air alam (Suparyono dan Setyono, 1997).

BAHAN DAN METODE

  Benih yang digunakan sebanyak 2 0.125kg benih / m Persiapan areal tanam Seminggu sebelum pengolahan tanah, dilakukan penggenangan air ± 5cm untuk melunakkan tanah sawah, lahan sawah yang digunakan berukuran22.5 m x 26.1 m, areal tanah kemudian digemburkan dengan cara membajak selanjutnya digaru untuk mendapatkan permukaan tanah yang baik. Pembuatan Plot Percobaan Pembuatan plot percobaan yakni dengan membagi lahan menjadi 4 blok dan 28 plot dengan jarak antar plot 50 cm dan jarak antar blok 30 cm dengan 2 22.5 m x 26.1 m atau sama dengan 587.25 m .

1. Penyulaman

  Jumlah Malai per Sampel (tangkai) Jumlah malai pertanaman dapat dihitung pada saat tanaman mengeluarkan malai secara keseluruhan pada anakan, penghitungan malai dilakukan pada saatmalai telah keluar penuh pada saat umur 80 HST dan dihitung pada saat pemanenan. Jumlah Gabah Berisi per Sampel (Butir) Jumlah gabah berisi per sampel dihitung dari seluruh malai yang ada dan pada saat bulir padi telah mengalami pemasakan yang sempurna pada waktupemanenan dari masing-masing sampel.

11. Produksi per Sampel (g)

12. Produksi per Petak Ubin (g)

  Produksi tanaman dihitung dengan menimbang bobot kering, dari masing Produksi tanaman dihitung dengan menimbang keseluruhan dari hasil gabah kering berisi dengan kadar air 14% setelah pemanenan pada masing-masingpetak ubin. Jumlah tanaman per petak ubin 64 tanaman.

13. Produksi per Hektar (ton)

  HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pemberian soil conditioner(pembenah tanah) berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering tajuk (g), luas daun bendera (cm²), jumlah malai per sampel (tangkai), produksi per petakubin (g), bobot seribu butir (g) dan produksi per hektar (ton). Tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman (cm), jumlah anakan per sampel(batang), bobot kering akar (g), jumlah gabah berisi per sampel (butir), persentase gabah berisi (%), indeks panen, dan produksi per sampel (g).

1. Tinggi Tanaman (cm)

  Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman pada 4, 6, 8 minggu setelah tanam (MST) dapat dilihat dari Lampiran 5-10. Rataan Tinggi Tanaman 4, 6, dan 8 MST pada pemberian soil conditioner Perlakuan Tinggi Tanaman 4 MST 6 MST 8 MST T1 47.69 64.47 79.47 T2 48.15 61.33 73.19 T3 47.96 63.46 75.58 T4 48.39 64.36 74.70 T5 48.65 55.60 71.87 T6 48.31 61.61 74.99 T7 46.45 59.64 72.43Dari Tabel 2 diketahui bahwa parameter tinggi tanaman (cm) 4 MST rataan tertinggi terdapat pada perlakuan T5 (48,65), dan terendah pada T7 (46,45).

2. Jumlah Anakan per Sampel (batang)

  Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari jumlah anakan pada 4, 6, dan 8 Minggu Setelah Tanam (MST) dapat dilihat dari Lampiran 11-16. Rataan Jumlah Anakan 4, 6, 8 MST (batang) pada pemberian soil conditioner Perlakuan Jumlah Anakan 4 MST 6 MST 8 MST T1 10.43 15.68 21.33 T2 10.30 13.65 16.55 T3 10.63 16.10 19.20 T4 12.45 15.60 19.25 T5 12.13 15.18 15.90 T6 11.15 16.48 18.25 T7 8.75 13.28 16.78Dari Tabel 3 diketahui bahwa rataan jumlah anakan (batang) 4 MST tertinggi terdapat pada perlakuan T4 (12,45) dan terendah pada T7 (8,75).

3. Bobot Kering Tajuk (g)

  T1 61.54aT2 26.25bT3 22.63bT4 32.55bT5 26.32bT6 27.89bT7 27.03b Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%. Dari Tabel 4 diketahui bahwa rataan bobot kering tajuk (g) tertinggi terdapat pada perlakuan T1 (61,54) sedangkan yang terendah terdapat padaperlakuan T3 (22,63).

4. Bobot Kering Akar (g)

  Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari bobot kering akar (g) dapat dilihat dari Lampiran 20-21. T1 41.04 T2 24.73 T3 22.63 T4 32.55 T5 24.03 T6 27.89 T7 24.84Dari Tabel 5 diketahui bahwa rataan bobot kering akar (g) tertinggi terdapat pada perlakuan T1 (41.04) sedangkan yang terendah terdapat padaperlakuan T3 (22,63).

5. Luas Daun Bendera (cm )

  Rataan Luas Daun Bendera (cm²) pada pemberian soil conditioner(pembenah tanah) Perlakuan RataanT1 2.71bT2 3.37abT3 3.40aT4 3.15bT5 3.35bT6 4.13aT7 3.42a Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%. 2 Dari Tabel 6 diketahui bahwa rataan luas daun bendera (cm ) tertinggi terdapat pada perlakuan T6 (4.13) sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan T1 (2.71).

6. Jumlah Malai Per Sampel (Tangkai)

  Rataan Jumlah Malai per Sampel (tangkai) pada pemberian soil conditionerPerlakuan Rataan T1 20.80aT2 11.78bT3 11.60bT4 11.18bT5 11.65bT6 12.68bT7 12.25b Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%. Dari tabel 7 diketahui bahwa rataan jumlah malai per sampel (tangkai) tertinggi terdapat pada perlakuan T1 (20,80) sedangkan yang terendah terdapatpada perlakuan T4 (11,18).

7. Jumlah Gabah Berisi (butir )

  Rataan Jumlah Gabah Berisi per Sampel (butir) pada pemberian soil conditioner Perlakuan RataanT1 902.43T2 721.83T3 710.95T4 648.28T5 763.88T6 809.80T7 789.48Dari tabel 8 diketahui bahwa rataan jumlah gabah berisi tertinggi terdapat pada perlakuan T1 (902.43) sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan T4 (648.28). Rataan Persentase Gabah Berisi pada pemberian soil conditioner Perlakuan RataanT1 82.17 T2 81.90 T3 82.15 T4 79.32 T5 81.94 T6 79.70 T7 80.68 Dari Tabel 9 diketahui bahwa rataan persentase gabah berisi per rumpun(%) tertinggi terdapat pada perlakuan T1 (82,17) sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan T4 (79.32).

10. Bobot 1000 butir (g)

  Rataan Produksi per Sampel (g) pada pemberian soil conditioner Perlakuan RataanT1 26.88 T2 27.16 T3 32.99 T4 26.40 T5 31.39 T6 30.37 T7 28.61 Dari tabel 12 diketahui bahwa rataan produksi per sampel tertinggi terdapat pada perlakuan T3 (32.99) sedangkan yang terendah terdapat padaperlakuan T4 (26.40). Rataan Produksi per Petak Ubin (g) pada pemberian soil conditonerPerlakuan Rataan T1 926.89aT2 773.81bcT3 948.29aT4 874.88aT5 739.61cT6 941.38aT7 806.44ab Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

13. Produksi Per Hektar (ton)

  Hal ini sesuai dengan pernyataan Soemartono, Samad dan Harjono(1982) bahwa unsur hara N mempunyai fungsi untuk mempergiat pembentukan klorofil, memperbanyak anakan, mempercepat pertumbuhan dan menambah lebar Rataan jumlah anakan yang tertinggi 10 MST dari hasil sidik ragam diperoleh pada perlakuan T1 (21,33) dan terendah terdapat pada perlakuan T5(15,90) dimana rataan tertinggi parameter jumlah anakan juga sesuai dengan rataan tertinggi parameter tinggi tanaman yaitu pada perlakuan T1. Pada perlakuan T3 (62,5kg/plot) digunakan dosis pupuk Urea yang lebih tinggi dari perlakuan T4 (125 kg/plot), dan pada perlakuan T3 dengan T6 ada perbedaan pada pemberiankonsentrasi soil conditioner saat aplikasi benih, ini berarti pemberian soil conditioner 250 ml dilapang memberikan efek yang sama pada perlakuanwalaupun perlakuan tersebut menggunakan dosis Urea yang berbeda.

KESIMPULAN DAN SARAN

  Dari seluruh perlakuan, perlakuan T3 (2,5ml soil conditioner aplikasi benih, 250 ml soil conditioner dan 62,5 kg Urea dua kali aplikasi dilapang)adalah yang paling baik untuk produksi padi per hektarnya (ton) karena mendapatkan hasil yang lebih dari perlakuan lain yaitu sebesar 9.49ton/ha. Perlakuan yang paling tinggi menghasilkan produksi terdapat pada perlakuan T3 dan berbeda tidak nyata terhadap perlakuan T1, T4 dan T6.

DAFTAR PUSTAKA

  Pengusul : Balai Besar Penelitian Tanaman PadiDilepas tahun : 2008 Lampiran 2 Bagan Percobaan T3 T6 T1 T6 T4 T3 T1 T5 T7 T6 T7 T2 T2 T5 T2 T6 T3 T7 T5 T4 T5 T4 T4 T7 T1 T2 T3 T1 Jarak Tanam : 20 x 10 cmJumlah Plot : 28 Jarak antar plot : 50 cmJarak antar Blok : 30 cmUkuran Plot : 5 m x 4 m Lampiran 3 Bagan Sistem Tanam LegowoX = padiJarak Tanam 20 cm x 10 cm 40Cm 10Cm 20Cm Lampiran 4. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST (cm) 64.60 58.60 68.50 253.85 PerlakuanUlangan Total Rata-rata I II III IV T1 70.03 67.80 51.70 68.35 257.88 64.47 T2 59.10 62.20 60.15 63.85 245.30 61.33 T3 62.15 63.46 T4 62.90 FK 64353.7 KK 0.067821 61.25 63.65 69.65 257.45 64.36 T5 62.30 59.15 67.25 33.70 222.40 55.60 T6 58.85 66.60 55.55 65.45 246.45 61.61 T7 61.30 56.95 60.10 60.20 238.55 59.64 Total 436.63 438.55 417.00 429.70 1721.88Rataan 62.38 62.65 59.57 61.39 Lampiran 7.

Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan Produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 ) Bobot Kering Akar g Luas Daun Benderacm Jumlah Malai per Sampel tangkai Jumlah Gabah Berisi per Sampel Butir Persentase gabah berisi per rumpun Bobot 1000 butir g Produksi per Sampel g Produksi per Petak Ubin g Bobot Kering Tajuk g Luas Daun Bendera cm Iklim Tanah Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan Produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 ) Pemupukan Pengendalian Hama dan Penyakit Penyiangan Pemanenan Tinggi Tanaman cm Jumlah Anakan per Sampel batang anakan Indeks Panen Bobot Kering Tajuk g Persentase Gabah Berisi Indeks Panen Bobot 1000 butir g Produksi per Sampel g Produksi per Hektar ton Jumlah Anakan per Sampel batang Produksi per Petak Ubin g 15 40 39 36 70 45 60 37 31 61
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Per..

Gratis

Feedback