Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo

 6  73  100  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN

  Pendapatan nasional yang dihitung dari segi pengeluaran, dapat menaikkan dalam jangka penjang tingkatpertumbuhan ekonomi (long run steady state growth economy) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten karo. Hasil estimasi menunjukan bahwa semua variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 98,45% yaitu pengeluaran pemerintah(X 1 ) pengeluaran konsumsi(X 2 ), investasi(X 3 ) sedangkan 1,55% dapat diljelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model, berdasarkan ini hipotesa yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi, investasiberpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten karo dapat diterima.

KATA PENGANTAR

  Segala puji dan syukur dan penulis ucabkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih setia dan berkat-Nya setiap waktu yang tak berkesudahan, yang selalumenyertai penulis dalam melakukan segala aktivitas penulis hingga sampai pada penyelesaian skripsi ini yang merupakan salah satu syarat untuk memperolehgelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Hasil estimasi menunjukan bahwa semua variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 98,45% yaitu pengeluaran pemerintah(X 1 ) pengeluaran konsumsi(X 2 ), investasi(X 3 ) sedangkan 1,55% dapat diljelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model, berdasarkan ini hipotesa yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi, investasiberpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten karo dapat diterima.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya - sumber daya yang ada danmembantuk suatu pola kemitran antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangankegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut(Arsyad,lincolin:1999) Sebagai sebuah organisasi atau Rumah tangga, pemerintah melakukan banyak sekali pengeluaran untuk membiayai kegiatan pembangunan. Berdasarkan kinerja dalam struktur anggaran daerah pengeluaran daerah dibagi menjadi pengeluaran rutin dan pengeluaranpembangunan, pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah yang konsumtif, sebab pengeluaran ini manfaatnya hanya satu tahun anggaran dan tidak Menurut teori Keynesian, stimulus fiskal dalam bentuk pengeluaran pemerintah baik belanja barang dan jasa, maupun belanja modal atau investasidapat membantu menggerakan sektor rill.

BAB II URAIAN TEORITIS

2. I Pertumbuhan Ekonomi

  Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuksuatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan ekonomi(pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999: Blakely, 1989). Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan dalam PDB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pada tingkat Menurut Rahardja, istilah pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menggambarkan terjadinya kemajuan atau perkembangan ekonomi dalam suatuNegara.

2.1.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi

  Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ditandai dengan 3 ciri pokok, yaitu: Laju pertumbuhan, pendapatan perkapita riil, distribusi angkatankerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkah dan pola persebaran penduduk. Teori Pertumbuhan NeoklasikMenurut Robert Solow, pertumbuhan produk nasional ditentukan oleh pertumbuhan dua jenis input (pertumbuhan modal dan pertumbuhan tenaga kerja),kemajuan teknologi dan peningkatan keahlian serta keterampilan tenaga kerja.

2.2.1 Pengertian Pengeluaran Pemerintah

  Pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah yang Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah, Apabila pemerintah telah menetabkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa,biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Hukum Wagner Wagner mengemukakan suatu teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang semakin besar dalam persentase terhadap GNP yang jugadidasarkan pula pengamatan di Negara-negara Eropa, USA, dan Jepang pada abad Kelemahan hukum wagner adalah karena hukum tersebut tidak didasarkan pada suatu teori mengenai pemilihan barang-barang publik.

2.3 INVESTASI

  Todarao (2004:127), menyatakan sumber daya yang akan digunakan untuk meningkatkan pendapatan dan konsumsi dimasa yang akandatang disebut investasi diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang–barangmodal dan perlengkapan–perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam prekonomian. Dari beberapa pendapat diatas tentang investasi, maka dapat disimpulkan investasi merupakan suatu pengeluaran sejumlah dana dari investor atau pengusaha gunamembiayai kegiatan produksi untuk mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang.

2.3.1 Jenis-Jenis Investasi

  Investasi otonom yakni investasi yang dilakukan oleh pemerintah karena disamping biayanya sangat besar juga investasi ini tidak memberikan keuntungan,dimana besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan baik itu pendapatan daerah ataupun pendapatan pusat atau nasional tetapi dapat berubah karenaadanya perubahan faktor-faktor pendapatan seperti tingkat teknologi, kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan sebagainya. Sedangkan privat investment adalah investasi yang dilakukan oleh swasta, dimana keuntungan yang menjadi prioritas utama berbeda dengan public investment yang diarahkan untuk melayani dan mencibtakan kesejahtraan bagi rakyat banyak.

2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Tingkat bunga

  MEC merupakan tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan (Return ofinvestment) Peningkatan aktivitas prekonomian Harapan adanya peningkatan perekonomian di masa yang akan mendatang, merupakan salah satu faktor penentu untuk mengadakan investasi atautidak. Kalau ada perkiraan akan terjadi peningkatan perekonomian di masa yang akan datang, walaupun tingkat bunga lebih besar dari tingkat MEC (sebagaipenentu investasi), investasi mungkin akan tetap dilakukan oleh investor yng instingnya tajam melihat peluang meraih keuntungan yang lebih besar dimasayang akan datang.

2.3.3 Dasar Teori Investasi

  Kenaikan investasi menyebabkan naiknya pendapatan, dan karena pendapatan meningkat, muncul permintaan yang lebih banyak atas barangkonsumsi, pada giliranya menyebabkan kenaikan berikutnya pada pendapatan dan pekerjaan. Penggali(multiplier) ini memperlihatkan hubungan yang tepat, berkat adanya kecenderungan mengkonsumsi tersebut, antara pekerjaan agregat dan pendapatanagregat dengan tingkat investasi.

2.4 Pengertian Konsumsi Rumah Tangga

  Suterusnya, sebagian pengeluaran mereka, sepertimembayar asuransi dan mengirim uang kepada orang tua (atau anak yang sedang bersekolah) tidak digolongkan sebagai konsumsi karena ia tidak merupakanperbelanjaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian. Konsep yang dipakai dalam perhitungan pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah: Pengertian yang kedua adalah pengeluaran konsumsi pemerintah dalam wilayah domestik dengan pembelian langsung oleh rumah tangga penduduk diluarregion, dikurangi dengan pengeluaran rumah tangga bukan penduduk yang dilakukan oleh wilayah tersebut.

2.4.1 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi

a) Faktor-Faktor Ekonomi Pendapatan Rumah Tangga (household Income)

  Kekayaan Rumah Tangga (household wealth) Yang tercakup dalam kekayaan rumah tangga adalah kekayaan rill (misalnya rumah, tanah, dan mobil) dan financial (deposito berjangka, saham dan surat-suratberharga). Tingkat Bunga Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi konsumsi, dengan tingkat bunga yang tinggi, maka biaya ekonomi dari kegiatan konsumsi akan semakin mahal.

b) Faktor- Faktor Non Ekonomi

  Faktor- faktor non ekonomi yang paling berpengaruh terhadap besarnya konsumsi daerah adalah faktor sosial budaya masyarakat. Misalnya berubahnyapola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena keinginan meniru klompok masyarakat lainya yang dianggap lebih hebat.

2.4.2 Teori Pengeluaran Konsumsi

  Pada tingkat income masyarakat sangat rendah pada umumnya pengeluaran rumah tangga lebih tinggi dari pendapatanya, sehingga pengeluarankonsumsi saat ini tidak hanya dibiayai oleh pendapatanya saja tetapi juga menggunakan sumber- sumber lain seperti tabungan dari waktu sebelumnya,menjual harta rumah tangga atau meminjam. Secara matematis ditulis MPC=∆C ∆ Y Kenaikan income pada umumnya diiringi dengan kenaikan konsumsi rumah tangga, namun kecenderungan menunjukan bahwa perubahan konsumsi ≤ MPC ≤ 1 dan terdapat selisih yang positif akan menjadi tabungan ( ∆S).

c. Teori Irving Fisher

  Ketika seseorangmemutuskan berapa banyak pedapatan yang dikonsumsi dan berapa banyak yang akan ditabung, dia akan mempertimbangkan kondisi sekarang dan kondisi yangakan datang. Ketika mereka memutuskan berapa yang akan dikonsumsi saat ini dan berapa di masa depan mereka menghadapi apa yang disebut intemporal budeget constrain.

2 Dimana S adalah tabungan, Y pendapatan pertama, C konsumsi pertama

  1 1 C 2 konsumsi kedua, Y 2 pedapatan kedua, r suku bunga. Jika konsumsi pertama lebih kecil dari pedapatan pertama, konsumen akan menabung, sehingga nilai S lebih besar dari nol.

2 Konsumsi

  Pada konsumsi periode 1 sebesar Y 1 dan konsumsi pada periode kedua sebesar Y 2 ,sehingga tidak ada tabungan ataupun pinjaman pada kedua periode pertama dan menabung seluruh pendapatanya. Sepanjang konsumsen rasional, dimana mereka lebih menyukai konsumsi yang banyak dibanding konsumsi yang sedikit Kemiringan ini disebut tingkat konsumsi marjinal atau marginal rate of substitution (MPS).

2. Pada titik optimum, kemiringan kurva indeferen sebesar MRS sedangkan

  Sehingga pada titik 0 dapat disimpulkan konsumen akan memilih kombinasi konsumsi padakedua periode sampai tercapai MRS sama dengan 1 tambah suku bunga rill.(Teddy H, At all.2001:222)d. Dengan demikian konsumen dapatmemperoleh kombinasi konsumsi yang lebih besar pula dengan kenaikan pendapatan.

3.1 Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD)

  Disampingitu anggaran merupakaan alat kontrol atau pengawasan terhadap baik pengeluaran dan pendapatan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, APBD sangat pentingkedudukanya sebagai alat pengukuran yang sah berhasil atau tidaknya pemerintah daerah menggunakan keuangan daerah untuk digunakan untuk menutupi biayapemerintah dan pembangunan daerah.

3.1.1 Kriteria Penyusunan APBD

  Arah kebijakan umum APBD dapat disusun berdasarkan keriteria sebagai berikut:a) Sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran dan kebjakan yang ditetabkan dalam Rencana Strategi Daerah dan dokumen perencanaa lainyaditetabkan oleh daerah. c) Memuat arah yang diinginkan dan kebijakan umum yang disepakati sebagai pedoman penyusunan strategi dan prioritas APBD sertapenyusunan rancangan APBD dalam satu tahun anggaran.

3.1.2 Fungsi APBN

  APBN merupakan alat untuk mengatur pengeluaran dan pendapatanNegara dalam rangka membiayai pelaksanan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai pertumbunha ekonomi, meningkatkan pendapatannasional, mencapai stabilitas perekonomian, dan menentukan arah serta perioritas pembangunan secara umum. Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban Negara dalam satu tahun anggaran harus dimasukkan dalam APBN.

3.1.3 Mekanisme Penyusunan APBD

  Arah dan kebijakan umum APBD pada dasarnya adalah rancangan tahunan yang merupakan bagian dari rencana menengah dan rencanajangka panjang yang dimuat dalam Rencana strategi Daerah atau dokumen perencanan lainya. Pemerintah Daerah dan DPRD dapat melibatkan masyarakat pemerhati atau tenaga ahli untuk penyusunan konsep arah dan kebijakan APBD.

BAB II I METODE PENELITIAN Metode Penelitian merupakan langkah dan prosedur yang akan dilakukan

  3.2 Jenis Data Dan Sumber Data Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk time series yang bersifat kuantitatif yaitu data berbentuk angka-angka, datanya diperoleh melalui laporan BPS Sumatera utara pada kurun waktu1990-2008 (sampel data 19 tahun), BPS kabupaten karo, disamping itu data lainnya yang mendukung penelitian ini diperoleh dari sumber bacaan seperti buku, jurnal, serta website-website yang berkaitan dengan penelitian ini. 3.3 Metode Dan Teknik Pengumpulan Data Dalam penyusunan skripsi ini penulis mengunakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pencatatan langsung terhadap data-data yangberhubungan dengan pengeluaran pemerintah Kabupaten Karo serta pertumbuhan ekonomi kabupaten karo, dan juga dengan cara menelaah berbagai bahan pustakaseperti buku, jurnal, serta sumber-sumber lainnya.

3 Dari persamaan diatas dapat ditransformasi ke dalam model ekonometrika dengan

model persamaan double log sebagai berikutL Y = α + Lβ 1 X 1 + L β 2 X 2 + L β 3 X 3 + µ …..(2) Intercept α = LX = Pengeluaran Pemerintah (jutaan Rupiah) 1 LX 2 = Pengeluaran konsumsi (jutaan Rupiah) LX 3 = Investasi swasta (jutaan Rupiah) 1 2,3 = Koefisien Regresi β ,β β µ = Term of error (kesalahan pengganggu)

3.6 Uji Akar Unit

  Untuk lebih mempermudah pemahaman dari pengujian akar unit, kita mulai dari persamaan berikut: Yt = ρY t-1 t Dimana adalah white noise error term.t Jika nilai ρ =1, dalam kasus uji akar unit, persamaan di atas menjadi model random walk yang artinya data tidak stasioner. Selanjutnya dalam proses pengujian akar unit, dilakukan manipulasi yaitu dengan mengurangkan masing- Y t – Y t-1 t-1 - – Y t-1 + µ1= ρY Y – Y + µ1t t-1 = (ρ-1)Y t-1 Secara alternatif juga dapat ditulis sebagai berikut: t = t-1 +µ t∆Y Dimana dan tanda ‘ ∆’ menunjukan simbol pembedaan pertama ( first difference).

3.7 Uji Derajat Integrasi

  Apabila data yang telah diamati pada uji akar unit ternyata “tidak stasioner”, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji derajat integrasi. Ujiini dilakukan untuk mengetahui pada derajat integrasi berapakah data yang diamati stasioner.

1 BDX t i B D2X t ………………………………….(.3)

  Σ fi=1 ki D2X = g + g T + g BDX + B D2X …………………………….(1.4) t 1 2 t Σ h 1 t i=1 Dan dapat diperoleh dari persamaan (1.3) dan (1.4) diatas adalah sbb:D2X t = DX t – DX t-1 BDX = DX t-1Dimana : t = Trend waktuX t = Variabel yang diamati pada periode tB = Operasi kelambanan waktu kehulu (t-1) Dari hasil regresi persamaan diatas diperoleh nilai ADF statistik dariBDXt. Jika nilai ADF statistik lebih besar daripada nilai kritis Mackinnon pada derajat kepercayaanberapapun, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut adalah stasioner pada derajat satu atau disebut I(1).

3.7 Test Goodness of Fit (Uji Kesesuaian )

  Pengaruh masing-masing variabel independen yaitu pengeluaran pemerintah, pengeluarankonsumsi dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karo dengan uji t pada tingkat kepercayaan 95 %. Dalam uji ini digunakan hipotesissebagai berikut: Ho : β1 = 0 Ha : β1 ≠ 0 Dengan kariteria:H0 diterima jika t-statistik ≤ t-tabel pada α = 5% Hα diterima jika t-statistik ≥ t-tabel pada α = 5% Artinya variable X (pengeluaran pemerintah, X (pengeluaran Konsumsi), X 1 2 3 (investasi swasta) nyata mempengaruhi Y (PDRB).

c. Uji F-statistik

  Digunakan untuk mengetahui seberapa besar nilai-nilai variable idependen secara bersama-sama mempengaruhi variable dependen. Untuk uji Fdigunakan hipotesis: Ho : β1 = 0 Ha : β1 ≠ 0 Dengan keriteria:Ho diterima jika F-statistika ≤ F-tabel pada tingkat kepercayan α= 5% Hα diterima jika F-statistik ≥ F-tabel pada α=5% Artinya variable X (pengeluaran pemerintah), X (pengeluaran Konsumsi), X 1 2 3 (investasi) nyata mempengaruhi Y pertumbuhan ekonomi (PDRB).

2 R = Koefisien determinasi

K = Jumlah variable independen ditambah intercept dari suatu model persamaann = Jumlah sampel

3.8 Uji Penyimpangan Asumsi Kelasik

a. Uji Multikolineritas

  Uji multikolineriti digunakan untuk mengetahui suatu kodisi, apakah terdapat korelasi variabel independen diantara satu sama lainya. b) Tidak ada satupun t- statistik yang signifikan pada α = 5%, α = 10%, α= 1%.

b. Uji Autokorelasi

  Autokorelasi adalah korelasi (hubungan) antara anggota, digunakan untuk mengetahui apakah didalam model yang digunakan terdapat autokorelasi yangantara variable-variabel yang diamati. Uji Durbin- Watson dirumuskan sebagai berikut: D - hitung = ∑(et- (et-1) ) 2∑ e 2t Bentuk hipotesisnya adalah sebagai berikut:Ho : p = 0, artinya tidak ada autokorelasiHa : p ≠ 0, artinya ada autokorelasi Dengan jumlah sampel tertentu dan jumlah variabel independen tertentu diperoleh nilai kritis dl dan du dalam table distriusi Durbin-Watson untuk nil ai α hipotesis yang digunakan adalah.

3.9 Definisi Oprasional

  Pertumbuhan ekonomi (Pertumbuhan PDRB Harga Konstan) (Y) adalah sebagai peningkatan kemampuan diri suatu perekonomiandalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan pada satu tahun dasartertentu yang besarnya dinyatakan dalam jutan Rupiah. Pengeluaran konsumsi (X 2 ) adalah pengeluaran oleh anggota rumah tangga di suatu daerah atau wilayah yang meliputi semua barang dan jasa (baik barang yang yanga tahan lama maupun yang tak tahanlama) dikurangi hasil netto (penjualan dikurangi pembelian) barang- barang bekas atau tak terpakai yang dilakukan oleh suatu rumahtangga, yang besarnya dinyatakan dalam satuan jutaan Rupiah.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Deskriptif Daerah Penelitian

4.1.1 Gambaran umum Kabupaten Karo

a. Lokasi

  Dengan Luas daerah sekitar 2.127.25Km yang termasuk kedalam daerah administrative wilayah pembangunan II di Sumatera Utara, yang terdiri dari 13 kecamatan, 248 desa, dan 10 kecamatan dan 10 kelurahan. Pendidikan Sektor pendidikan merupakan salah satu pilar yang mendukung program pembangunan daerah disamping sektor pertanian dan kesehatan, pada tingkatpendidikan dasar tahun 2008 ada sebanyak 286 sekolah dan 2.088 kelas serta ada3.130 tenaga pengajar dan 47.034 siswa di tingkat SMP ada 60 sekolah dan 579 e.

f. Potensi Wilayah

  Wilayah Kabupaten Karo memiliki potensi lahan yang sangat luas dan potensial yang dapat dikembangkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar wilayah ini merupakan areal pertanian, oleh karena itu kegiatan terpenting perekonomian masih mengandalkan sektor pertanian, keindahan alamjuga berpotensi menumbuhkan sektor pariwisata di Kabupaten Karo yang sudah tersebar luas di provinsi Sumatera Utara dan dikenal juga di domestik maupun dimancanegara.

a. Pertumbuhan Ekonomi

  Pertumbuhan tersebut merupakan perubahan jumlah produksi yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi secara tidak langsung, hal ini merupakangambaran tingkat perubahan ekonomi yang terjadi di suatu daerah. Nilai PDRB yang besar menunjukan sumber daya yang besar, pendapatan yang memungkiankan yang dapatdinikmati oleh penduduk suatu wilayah.

b. PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto)

  menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun. begitu juga halnya dengan PDRB (ADHK) terusmengalami peningkatan.

e. Pendapatan Per Kapita Universitas Sumatera Utara

  Perhitungan menurut harga berlaku dapat memberi gambaran mengenai kemampuan rata-rata dari penduduk daerah itu berbelanja dan membeli barang-barang dan jasa yangdiperlukan dan perhitungan menurut harga tetap menunjukan perkembangan tingkat kemakmuran di suatu daerah. begitu juga halnya dengan PDRB/ kapita ADHB tarsus mengalami kenaikan dari sbesar 2.821.031 menjadi 8.366.737 Di bawah ini adalah tabel yang menunjukan perkembangan pendap ataan per kapita di Kabupaten Karo.

4.1.3 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi dan Investasi Kabupaten Karo

  Apabila pemerintah telah menetabkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untukmelaksanakan kebijakan tersebut. Perkembangan pengeluaran pemerintah yang terbaik adalah bahwa pemerintah senantiasa berusaha untuk memperbesar pengeluaranya di bawah ini adalah perkembangan datapengeluaran pemerintah yang terdiri dari penjumlahan Belanja langsung dan tidak langsung dan pengeluaran pembangunan atau pembentukan dan cadangan di Kabupaten Karo.

b. Pengeluaran Konsumsi Universitas Sumatera Utara

  Hal ini kerena konsumsi agregat yang merupakan penjumlahan daripengeluaran rumah tangga yang ada dalam perekonomian merupakan komponen dari pengeluaran agregat yang terpenting. Jika dilihat dari tahun ketahun pengeluaran konsumsi terusmeningkat sebelum krisis 1997 sebesar 111.969.220.000 sesudah krisis 1999 375.733.47.000 terjadi peningkatan tapi sedikit dibandingkan dengan dari tahun 1997 ke 1998.

c. Investasi

Universitas Sumatera Utara Tabel 4.9 Investasi Kabupaten Karo 1990-2008 (Jutaan Rupiah) Tahun Investasi(I) 1990 3.443.480 1991 14.337.9831992 15.334.000 1993 3.162.1301994 4.659.010 1995 5.314.670 Sumber: karo dalam angkaUniversitas Sumatera Utara

4.2 Hasil Uji Akar Unit (Unit Roots Test) dan Derajat Integrasi

  Variabel pengeluaran konsumsi dapat diperoleh informasi bahwa angka ADF statistik yang cukup tinggi juga yakni sebesar -3.951890 nilai ini melewati nilai kritis pada tingkat signifikansisebesar 1%. Begitu juga pada variabel investasi juga di dapat angka ADF statistik yang cukup tinggi yaitu sebesar -5.155660 angka ini juga melewati nilai kritis pada tingkat signifikansi sebesar 1%.

4.3 Analisis dan Pengumpulan Data

  Dengan melihat pengaruh antara variable bebas (independent variable) yaitu PengeluaranPemerintah (jutaan Rupiah) dan Pengeluaran Konsumsi (jutaan rupiah) dan investasi (jutaan rupiah) Kabupaten Karo terhadap variable terikat (dependent Variabel) yaitu PertumbuhanEkonomi Kabupaten Karo, maka digunakan model ekonometrika dengan metode analisis data yang menggunakan model kuadrat terkecil biasa. Seberapa jauh tingkat pencapaian data yang tersedia dalam pencapaian kebenaran akan dijelaskan dalam perhitungan serta pengujianterhadap masing-masing koefisien regresi yaitu Uji t-statistic, Uji F-hitung, yang diperoleh dengan alat bantu E-viws 5.1.

4.3.1 Interprestasi Model

Berdasarakan hasil regresi liner berganda dengan menggunakanE-views 5.1 diperoleh estimasi sebagai berikut: LY= 6.561861 + 0,548327LX + 0,319392LX + 0,198101LX + µ 1 2

3 Hasil estimasi di atas dapat dijelaskan pengaruh variabel independen yaitu Pengeluaran

  Pemerintah (X ), Pengeluaran Konsumsi (X ), Investasi (X ) terhadap Pertumbuhan Ekonomi 1 2 3 Kabupaten Karo adalah Sebagai Berikut: 1 ) Pengeluaran Pemerintah (X 1 ) mempunyai pengaruh yang Positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo (Y) dengan koefisien sebesar 0.548327 dengan tingkat signifikansi1%, hasil ini sesuai dengan teori bahwa terdapat hubungan positif antar pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi. 2 Pengeluaran Konsumsi ( X 2 ) mempunyai pengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo (Y) dengan koefisien sebesar 0.319392 dengan tingkat signifikansi5%, hasil ini sesuai dengan teori bahwa ada hubungan positif antara pengeluaran konsumsi dengan pertumbuhan ekonomi.

4.3.2 Test Goodness of Fit (Uji Kesesuaian)

2

a. Koefisien Determinasi ( R )

2 R = 0.984550

  Koefisien detreminasi digunakan untuk melihat seberapa besar variasi variabel - variabel independen secara bersama-sama mampu memberi penjelasan mengenai variasi variabeldependen. Dari hasil regresi yang telah diolah tersebut maka diperoleh nilai koefisien sebesar 0.984550 Hal ini menggambarakan bahwa variabel bebas yaitu variabel X 1 (Pengeluaran Pemerintah), X 2 (Pengeluaran Konsumsi), dan X 3 (Investasi) yang secara bersama-sama memberi penjelasan terhadap variabel terikat (Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo) sebesar 98,45% sisanya 1,55% dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model.

b. Uji t-statistik (Partial Test)

  Dengan demikian Ha diterima artinya variabel pengeluaran pemerintah memberi pengaruh signifikansecara statistik terhadap variabel pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karo pada tingkat kepercayaan 99 persen selama kurun waktu 1990-2008. Dengan demikian Ha diterima artinya variabel pengeluaran konsumsi memberi pengaruh signifikansecara statistik terhadap variabel pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karo pada tingkat kepercayaan 95 persen selama kurun waktu 1990-2008.

C. Uji F – Statistik ( Overall Test)

  Uji F-statistik ini berguna untuk pengujian signifikansi pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap nilai variabel dependen. Uji ini melihat seberapa besar pengaruh variabel X 1 (Pengeluaran Pemerintah), X 2 (Pengeluaran Konsumsi ), dan X 3 (Investasi) secara bersama- sama terhadap variabel Y (Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo) kurun waktu 1990-2008.

1 Ha : β ≠0

b) α = 1% ; n = 19 ; k=3 ; df (k,n-k-1) =3;15 maka, c) F-tabel =5,420 d) Statistik pengujian : 2 2 Universitas Sumatera Utara f) KesimpulanTerima Ha, kerena F-statistik > F-tabel (276,14 >5,420) dengan demikian Ha diterima artinya semua variabel bebas yakni pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi, investasi secarabersama-sama mampu memberi penjelasan terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten karo pada tingkat kepercayaan 99 persen selama kurun waktu 1990-2008 Ho diterima Ha diterima 5,420 276,14 Gambar 4.4 F- Statistik Universitas Sumatera Utara

4.3.3 Uji Penyimpangan Asumsi Kelasik a.Multikollinearity

Dalam penelitian ini tidak terdapat multikollinerity diantara variabel-variabel independent. Hal ini dapat terlihat dari setiap koefisien masing-masing variabel sesuai denganhipotesis yang dilakukan dari fungsi persamaan: Y = f ( X X , X ) 1, 2

3 Pertumbuhan Ekonomi=f(Pengeluaran Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi, Investasi)

Model analisis : L 1 LX 1 2 LX 2 3 LX 3 + µ...............................(1) Y= α + β +β +β Maka dilakukan pengujian diantara masing-masing variabel independen, hal ini untuk melihat apakah ada hubungan antara masing-masing variabel independen.

1. Pengeluaran Pemerintah = f(Pengeluaran Konsumsi, Investasi) 2) LX

1 2 3 LX 3 + µ....................................( = α +β +β Dari hasi estimasi yang didapat 0.93 dengan demikian pengaruh variabel X 1 terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 93%. Dari hasil R-square persamaan 2 dapat disimpulkan tidak ada multikolneritas diantara variabel-variabel independen karena R-square persaman 2lebih kecil dari R-square persamaan 1 (lampiran 3).

2. Pengeluaran Konsumsi = f (Pengeluaran Pemerintah , Investasi) L

  Dengan demikian pengaruh variabel pengeluaran konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 91%. Investasi = f (Pengeluaran Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi LX 3 = α + β 1 LX 1 + β 2 LX 2 + µ...........................(4) Dari hasil estimsi yang didapat R-square 0,62.

b. Autocorrelation Autocorrelation terjadi apabila term of error (µ) dari periode waktu yang berbeda

Adapun salah satu cara untuk menguji keberadan autokorelasi adalah dengan D-w Test. Uji Durbin Watson digunakan untuk menguji apakah suatu model regresi mengadung korelasi serial (autokorelasi) di antara variabel penggangu (disturbance term) dengan langkah-langkah sebagi berikut: 1) Hipotesis:Ho :b = 0Ha :b ≠ 0 2) α=5% K=3 dan n= 19 3) Statistik pengujian DW hitung sebesar=2,080 sedangkan pada tingkat signifikansi (α =5%),k=1 dan n=19 diperoleh nilai di=0,859 dan du=1,848 Dw table >D-hitung = tidak ada aotokorelasiHo diterima apabila : du < dw < 4-du Universitas Sumatera Utara ≤dw≥du (4-du) ≤ dw≤( 4-dl) 4) Kesimpulan inconclusiveAutokorelasi Autokorelasi(positif) Ho diterima (negatif) (no autocorrel ation) 0 0,859 1,848 2 4-1,848 4-0,859 4 Gambar 4.5 Uji Durbin- Watson

4.3.4 Interprestasi Model Secara Ekonomi

  Dari hasi estimasi menunjukan koefisien pengeluaran pemerintah sebesar 0.548327 ini berarti bahwa akan terjadi peningkatan pada pertumbuhan ekonomi di kabupaten karo sebesar0,548% bila terjadi kenaikan pada nilai pengeluaran pemerintah sebesar 1%,cateris paribus. Pengeluaran Konsumsi Dari hasil estimasi menunjukan koefisien pengeluaran konsumsi sebesar 0.319392 ini berarti bahwa akan terjadi peningkatan pada pertumbuhan ekonomi di kabupaten karo sebesar0,319% bila terjadi kenaikan pada nilai pengeluaran konsumsi 1%, cateris paribus.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Pada hasil estimasi model regresi linear berganda yang sebelumnya diubah menjadi 2 log-natural yang dilakukan diperoleh hasil R sebesar 0,9845 artinya pengeluaran pemerintah,pengeluaran konsumsi, investasi mempunyai pengaruh yang cukup besaryaitu 98,45% terhadap pertumbuhan ekonomi sisanya 1,55% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model. Dari hasil estimasi diperoleh variabel pengeluaran pemerintah (X 1 ),berpengaruh positif dan signifikan, pengeluaran konsumsi (X ) berpengaruh positif dan signifikan, 2 investasi (X 3 ) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (Y) Kabupaten Karo.

5.2 Saran

  Bagi pemerintah, perlu lebih mempertimbangkan lagi pengeluaran – pengeluaran yang akan dilakukan, khususnya pengeluaran pemerintah dan pengluaran konsumsiagar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masa- masa yang akan datang. Pemerintah Kabupaten Karo sebaiknya melakukan efisiensi terhadap penggunaan anggaran yang sesuai dengan penerimaan yang diperoleh dan lebih menekan padapengeluaran untuk pembanguan infrastruktur daerah untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

DAFTAR PUSTAKA

  Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. of regression 0.356420 Akaike info criterion 0.933373Sum squared resid 1.778495 Schwarz criterion 1.080410 Log likelihood -4.933667 F-statistic 109.4839Durbin-Watson stat 1.658328 Prob(F-statistic) 0.000000 Universitas Sumatera Utara Uji multikolinearitas (LX 2 )Dependent Variable: LX2 Method: Least SquaresDate: 03/15/10 Time: 16:51 Sample: 1990 2008Included observations: 17 Variable Coefficient Std.

Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo Dasar Teori Investasi INVESTASI Dasar Teori Pengeluaran Pemerintah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi a Faktor-Faktor Ekonomi Teori Pengeluaran Konsumsi Gambaran umum Kabupaten Karo a. Lokasi Interprestasi Model Secara Ekonomi 1.Pengeluaran Pemerintah Interprestasi Model Test Goodness of Fit Uji Kesesuaian a. Koefisien Determinasi R Keuangan Daerah HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Penyusunan APBD Fungsi APBN L PDRB Pendapatan Domestik Regional Bruto Letak Geografis Penduduk Pendidikan Ketenagakerjaan Pertumbuhan Ekonomi Lokasi Penelitan Dan Ruang Lingkup Penelitian Jenis Data Dan Sumber Data Metode Dan Teknik Pengumpulan Data Pengolahan Data Metode Analisis Data Mekanisme Penyusunan APBD Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah APBD Pengeluaran Konsumsi Investasi HASIL DAN PEMBAHASAN Pengeluaran Pemerintah HASIL DAN PEMBAHASAN Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Teori Irving Fisher URAIAN TEORITIS Test Goodness of Fit Uji Kesesuaian a. Koefisien Determinasi R-Square Uji t-Statistik Uji F-statistik Uji Akar Unit Uji Derajat Integrasi Uji Penyimpangan Asumsi Kelasik a. Uji Multikolineritas Definisi Oprasional Uji t-statistik Partial Test Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terh..

Gratis

Feedback