Alih Kode Penutur Bahasa Pesisir Di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara

 0  18  86  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

ALIH KODE PENUTUR BAHASA PESISIR DI KECAMATAN KUALUH HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA SKRIPSI OLEH: MUSTIKA SARI NIM: 070701001DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  PERNYATAANDengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana pada suatu perguruan tinggi dansepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacuhi dalam naskah inidan disebutkan dalam daftar pustaka. Dari hasil analisis yang dilakukan dapat disimpukan bahwa faktor penyebab terjadinya alih kode terbagimenjadi pembicara atau penutur, penutur atau lawan tutur, perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, perubahan topik pembcara, perubahan dari formalke nformal dan jenis alih kode terbagi atas tingkat tutur ngoko, tingkat tutur krama dan tingkat tutur madya.

1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A Sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Serta Kepada PD I, PD II dan PD III

  Bapak dan Ibu guru SMP N I Kualuh Hilir yang telah memberikan motivasi dan doa pada penulis. Buat temanku Irma Sofiana Sinaga dan Yuningsih yang selalu menghibur, memotivasi, serta dukungan pada punulis dan semuateman-teman di Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya khususnya stambuk 07.

17. Buat seluruh masyarakat kualuh hilir yang selalu mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

  68 DAFTAR PUSTAKA Lampiran ABSTRAKPenelitian ini merupakan kajian tentang alih kode penutur bahasa pesisir di Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Dari hasil analisis yang dilakukan dapat disimpukan bahwa faktor penyebab terjadinya alih kode terbagimenjadi pembicara atau penutur, penutur atau lawan tutur, perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, perubahan topik pembcara, perubahan dari formalke nformal dan jenis alih kode terbagi atas tingkat tutur ngoko, tingkat tutur krama dan tingkat tutur madya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Kode adalah sistem tutur yang peranan bahasanya merupakan ciri khas latar belakang penutur, hubungan penutur dengan lawan bicaranya dari situasi tutur yang ada(Poejosoedarmo, 1982:3) Selanjutnya, bahwa kode tutur adalah sistem tutur yang kebahasaannya mempunyai ciri khas penerapan yang mencerminkan salah satu keadaandari salah satu komponen tutur seperti latar belakang orang pertama dan orang kedua, situasi bicara dan lawan bicara (Poejosoedarmo, 1982:7). Dalam penelitian ini, penulis melihat kebahasaan yang terjadi dalam lingkunganPasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara, yakni penggunaan dua bahasa atau lebih secara bergantian dengan mengalihkan unsur-unsurbahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten yang disebut alih kode.

1.4.1 Tujuan Penelitian

  Pada dasarnya setiap penelitian itu mempunyai tujuan tertentu yang memberikan arah dan pelaksanaan tersebut. Mendeskripsikan jenis alih kode yang terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir.

1.4.2 Manfaat Penelitian

  Memberikan masukan mengenai penyebab faktor terjadinya alih kode dan jenis alih kode dalam masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang alih kode yang terjadi dalam masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir.

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

  Konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588). Sesuai dengan topik dalam tulisan ini digunakan beberapa konsep yaitu alih kode, dan masyarakat Pasar Bilah I A.

2.1.1 Alih Kode

  Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain, jadi apabila seorang penutur mula-mula menggunakan kode A dan kemudian beralihmenggunakan kode B, maka peralihan bahasa seperti inilah yang disebut sebagai alih kode (Suwito dalam Rahardi, 2001: 10). Linguistik merupakan ilmu yang mempelajari atau membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur Dalam kajian sosiolinguistik, terdapat beberapa peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa antara bahasa di antara penuturbahasa, yaitu bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, intergrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa yang terjadi pada masyarakat multilingual.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Sosiolinguistik Kata sosiolinguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik

  Sosiolingustik memendang bahasa sebagai sistem sosial dan sistim komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksuddengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi yang terjadi dalam situasi kongkret (Appel dalam Suwito, 1982:2). Disamping itu, faktor nonlinguistik yangmemengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin,dan lain-lain, sedangkan faktor situasional yang memengaruhi bahasadan pemakaiannya terdiri dari siapa yang berbicara,dengan bahasa apa, kepada siapa,di mana,dan masalah apa (Fishman dalam Suwito,1982:3).

2.2.2 Bilingualisme

  Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksuddengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Apabila penguasaan seseorang terhadap dua bahasa sama, dandapat menggunakan kedua bahasa itu secara bergiliran tanpa menyebabkan dislokasi yang berarti atau kurang berarti secara struktural, walaupun ciri-ciri bahasa pertama kelihatandi celah-celah ucapannya itu, kedwibahasaan ini disebut kedwibahasaan sejajar.

2.3 Beberapa Contoh Alih Kode Antara Bahasa Kualuh Hilir dan Bahasa Indonesia

  Setelah dibicarakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa alih kode antara bahasa Kualuh dan bahasa Indonesia di Kecamatan Kualuh Hilir, ada baiknyadibicarakan pula beberapa contoh pembicaraan yang mereka lakukan yang mengandung peristiwa alih kode antarbahasa dari kedua bahasa tersebut antara lain:Contoh: 1 Alih kode yang terjadi adalah dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam bahasa Indonesia. (Mau hujan nanti malam)Dari peristiwa tutur di atas dapat dilihat bahwa alih kode terjadi karena datangnya Juriah yang beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.

2.4 Tinjauan Pustaka

  Dia menyimpulkan bahwa alih kode yang terjadi di SMA Persiapan Stabat sering terjadimelihat kenyataan besarnya jumlah kedwibahasaan Indonesia-Jawa SMA PersiapanStabat mengakibatkan seringnya ditemui kegiatan alih kode antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Masyarakat Batak Toba di Balige memperoleh bahasa kedua dari situasi Penelitian ini menjelaskan jenis-jenis alih kode dan mengkaji beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya alih kode dalam masyarakat Pasar Bilah I A, KecamatanKualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara.

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.1.1 Lokasi Penelitian

3.1.2 Waktu Penelitian

  Lokasi penelitian adalah Desa Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Penulis melakukan penelitian terhadap alih kode yang terjadi di lingkungan DesaPasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara terhitung mulai bulan April sampai Mei 2011.

3.2 Sumber Data

  Data yang terkumpul haruslahdata lingual yang sahih (valid) dan sekaligus terandal dan terpercaya (reliable), karena dengan kesahihan dan keterandalan itu dimungkinkan dilakukan langkah awal analisisyang diharapkan benar dan tepat (Sudaryanto, 33-34). Dalam hal ini, data didapatkan dari transkripsi penyimakan terhadap peristiwa tuturtentang penyebab terjadinya alih kode bahasa dari bahasa daerah beralih kode ke bahasa Indonesia yang terjadi pada masyarakat Pasar Bilah,Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara, pada saat berlangsungnya peristiwa tutur.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Hal ini dilakukan untuk mengamati bagaimana alih kode penutur bahasa dalam masyarakatPasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Kemudian dilanjutkan dengan teknik rekam yaitu merekam semua bahasa yang dipakai dalammasyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara.

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data

  Metode padan adalah sebuah metode yang alat penentunya di luar, terlepas dan tidak menjadibagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13). Teknik dasar yang digunakan untuk menganalisis data tersebut adalah teknik pilah unsur penentu yang memiliki suatu alat yaitu daya pilah yang bersifat mental yangdimiliki oleh peneliti (Sudaryanto, 1993:21).

BAB IV PEMBAHASAN

  4.1 Faktor – faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Bahasa Pesisir di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara Bahasa pengantar yang dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan NegaraIndonesia adalah bahasa Indonesia. Sehubungan dengan itu, selama masyarakat PasarBilah di Kecamatan Kualuh Hilir masih menggunakan bahasa Kualuh, maka kegiatan alih kode antra bahasa Kualuh Hilir dengan bahasa Indonesia senantiasa akan terusberlangsung.

4.1.1 Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga

  Ada baiknya dibicarakan pula beberapa contoh pembicaraan yang mereka lakukan yangmengandung peristiwa alih kode pada bahasa pesisir di Kecamatan Kualuh Hilir antara lain: Latar Belakang : Halaman RumahPara Pembicara : Riski, Jefri orang yang dapat berbasa Kualuh Hilir, Sedangkan Edo orang yang tidak dapat berbahasa Kualuh Hilir. Dari percakapan di atas dapa dilihat bahwa alih kode yang terjadi disebabkan hadirnya orang ketiga, alih kode tersebut terjadi dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam Latar Belakang : Halaman RumahPara Pembicara : Erni, Peneliti orang yang dapat berbahasa kualuh hilir sedangkan Lena orang yang kurang mengertibahasa kualuh hilir.

c. Peristiwa Bicara III

  Latar Belakang : Teras RumahPara Pembicara : Nurlam, Nanik orang yang mengerti bahasa kualuh hilir sedangkan Idah orang yang kurang mengertibahasa kualuh hilir. Dari percakapn di atas dapat dilihat alih kode yang terjadi disebabkan hadirnya orang ketiga yaitu si Nanik beralih kode ke dalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnyakurang mengerti bahasa Kualuh Hilir.

d. Peristiwa Pembicara IV

  Latar Belakang : Lapangan BolaPembicara : Padli, Ipen orang yang mengerti bahasa kualuh hilir sedangkan si Edo orang yang kurangmengerti bahasa kualuh. Sebab Alih Kode : Hadirnya si Edo dalam peristiwa Bicara.

e. Peristiwa Bicara V

  Latar Belakang : Halaman RumahPembicara : Puja, Riski orang yang mengertia bahasa kualu hilir sedangkan A’an orang yang kurang mengertibahasa kualuh hilir. Dari percakapan di atas dapat dilihat alih kode yang terjadi karena kehadiran orang ketiga dalam peristiwa bicara, si Riski beralih kode ke dalam bahasa Indonesiakarena mitra tuturnya tidak mengerti Bahasa Kualuh.

4.1.2 Perubahan Topik Pembicara

  Setelah diterangkan faktor perubahan topik pembicara, ada baiknya dibicarakan pula beberapa contoh percakapan yang mereka lakukan yang mengandung peristiwa alihkode pada bahasa pesisir di Kecamatan Kualuh Hilir antara lain Latar Belakang : Halaman RumahPembicara : Muklis dan Ari sama-sama orang yang mengerti bahasa kualuh hilir. Dari percakapan diatas dapat dilihat bahwa alih kode yang terjadi disebabkan beralihnya topik pembicaraan, yang semulanya menggunakan bahasa Daerah Kualuh Hilir, tetapi ketika membahas topik lain maka kode bahasa pun beralih kedalam bahasa Indonesia.

b. Peristiwa Bicara II Latar Belakang : Teras Rumah

  Pembicara : Puja dan Riski orang yang sama-sama mengerti bahasa kualuh hilir. Dari peristiwa di atas dapat dilihat alih kode yang terjadi disebabkan beralihya topik pembicaraan antara Puja dan Riski, yang semulanya menggunakan bahasa Kualuh Hilir, tetapi ketika membahas topik lain mereka beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.

c. Peristiwa Bicara III Latar Belakang : Teras Rumah

  Pembicara : Erni dan Uli orang yang mengerti bahasa kualuh hilir. Uli :” Belum di kasih uangnya, sikitnya padinya cuma Kualuh Hilir, tapi ketika meraka membahas topik lain mereka beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.

d. Peristiwa Bicara IV

  Latar Belakang : Pekaranga RumahPembicara : Enon dan Nanik orang yang sama-sama mengerti bahasa kualuh hilir. Dari peristiwa diatas dapat dilihat alih kode yang terjadi disebabkan beralihnya topik pembicaraan antara Enon dan Nanik, yang semulanya menggunakan bahasa Kualuh Hilir, tapi ketika membahas topik lain mereka beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.

e. Peristwa Bicara V

  Latar Belakang : Teras RumahPembicara : Eti dan Inong orang yang mengrti bahasa kualuh hilir. Iteng :” Sudah baya, tongah ado ini duit, di boli lah kini, yang mahal-mahalan hargo nyo,di tompatAswani ku boli”.(“Sudah, lagi ada uang ini,di beli lah sekarang, yang mahal-mahalan harganya, di tempat Aswani ku beli”).

4.1.3 Pembicara / Penutur

  Dengan maksud mengubah situasi yaitu dari situasi resmi ke situasi tidak resmi, seorang penutur kadang-kadang dengan sengaja beralih kode. Bahkan sering terjadi pula alih kode seperti ini terselubungmaksud –maksud tertentu, misalnya seorang bawahan pada suatu Instansi dengan sengaja beralih kode dari situasi yang resmi kepada situasi yang tidak resmi dengan atasannyadengan menggunakan bahasa daerah ( bila kebetulan mereka berasal dari daerah yang sama) dengan harapan masalah-masalah yang dihadapi atau dibicarakan oleh penuturakan lebih mudah diatasi.

a. Peristiwa Bicara I Latar Belakang : Kantor Camat

  Pembicara : Peneliti, Dian orang yang mengerti bahasa kualuh hilir sedangkan pak camat kurang mengerti bahasakualuh hilir. Dari peristiwa di atas dapat dilihat bahwa alih kode terjadi karena beralihnya situasi resmi menjadi tidak resmi, peneliti semulanya dalam situasi resmi tetapi setelahbertemu dengan Dian peneliti langsung beralih dalam situasi tidak resmi,agar tujuan cepat selesai.

b. Peristiwa Bicara II Latar Belakang : Di sekolah

  Pembicara : Peneliti dan Guru sekolah sama-sama mengerti bahasa kualuh hilir. Dari peristiwa di atas dapat dilihat alih kode yang terjadi antara penelit dan Guru disebabkan kerana beralihnya situasi pembicaran, yang semulanya peneliti dan Gurudalam situasi resmi,tiba-tiba beralih pada situasi tidak resmi.

4.1.4 Faktor Penutur / Lawan Tutur

  Setiap penutur pada umumnya ingin membagi bahasa yang dipergunakanoleh lawan tuturnya untuk maksud-maksud tertentu tetapi begitupun dalam hal ini seseorang penutur harus memperhatikan latar belakang lawan tuturnya yaitu: 1. Menghadapilawan tutur pada nomor satu alih kode mungkin berujud alih varian (baik varian rasional, maupun sosial, alih ragam, alih gaya, atau alih register), berhadapan dengan lawan tuturpada nomor dua alih kode mungkin terjadi dari satu bahasa ke bahasa lain, misalnya dari bahasa daerah ke bahasa daerah lain atau kebahasa asing dan lain-lain.

a. Peristiwa Bicara I Latar Belakang : Emperan Warung

  Dari percakapn di atas dapat dilihat bahwa alih kode yang terjadi disebabkan karena varasi bahasa yang terjadi pada percakapan Ijul dan Padli, yang semulanya Padliberbahasa kualuh hilir tiba-tiba beralih variasi bahasa lain seperti kata “tak lalu” kata ini dalam bahasa sehari-hari pada masyarakat kualuh hilir jarang digunakan. Sebab Alih Kode : Beralihnya kebahasaan yang berbeda dengan penutur.

4.1.5 Faktor Perubahan dari Formal ke Informal

  Salah satu faktor yang dominan menentukan terjadinya alih kode adalah pokok pembicaraan dengan memahami pokok pembicaraan dapat diketahui ragam bahasa yangakan dipilih seseorang dalam satu pembicaraan. Seorang penutur yang berbicara tentang hal-hal yang formal kemudian beralih kode kepada hal-hal yang informal biasanya ditandai dengan peralihan kode dari bahsa baku kebahasa tidak baku, demikian pula sebaliknya dari hal-hal yang informal beralih kepada hal-hal yang formal.

a. Peristiwa Bicara I Latar Belakang : Kantor Camat

  Pembicara : Peneliti, Pak Basrin mengerti bahasa Kualuh Hilir Pak Camat orang yang kurang mengerti bahasa Kualuh Hilir. Latar Belakang : Ruangan SekolahPembicara : Buk Yuni, Buk Diana mengerti bahasa Kualuh Hilir Sedangkan Pak Hilal kurang mengerti bahasa Kualuh Hilir.

4.2 Jenis Alih Kode yang Terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara

  Salah satu jenis alih kode yang ada dalam suatu masyarakat tutur khususnya masyarakat tuturbilingual, Jenis yang dimaksud adalah sistem tingkat tutur.secara garis besar dapat dikatakan bahwa kode atau varian bahasa dapat dibedakan menjadi tiga yakni,dialek, Unda usuk, atau tingkat tutur dan ragam. Tingkat tutur dapat dibedakan menjadi tingkat tutur hormat, sedangkan ragam dapat dibedakan menjadi ragam suasana, ragamkomunikasi dan ragam register.

4.2.1 Bentuk Tingkat Tutur

  Pada umumnya didalam sebuah bahasa terdapat cara-cara tertentu untuk menentukan perbedaan sikap hubungan antara penutur dengan mitra tutur dalam bertutur. Setiap hubungan itu biasanya bervariasi dan sangat ditentukan oleh anggapan tentang tingkatan sosial para peserta tutur itu, terdapat anggota golongan masyarakat tertentuyang sangat perlu untuk dihormati dalam bertutur, tetapi terdapat juga anggota golongan masyarakat tertentu yang tidak perlu mendapatkan penghormatan yang khusus.

4.2.1.1 Tingkat Tutur Ngoko (Rendah)

  Tingkat tutur ngoko memiliki makna rasa yang tak berjarak antara orang pertama atau penutur dengan orang kedua atau mitra tutur.dengan perkataan lain hubungan antarakeduanya tidak dibatasi oleh semacam rasa segan, oleh karena tidak ada rasa yang demikian, maka tingkat tutur ngoko dipakai didalam bertutur. Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa antara peneliti dengan soerang guru, tingkat tutur yang terjadi karena stidak dibatasinya oleh semacam rasa segan antara keduapenutur.

c. Peristiwa Bicara III Latar Belakang : Emperan Kedai

  Pembicara : Erni dan pak Amri. Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa antara Erni dan pak Amri tingkat tutur antara keduanya tidak dibatasinya oleh semacam rasa segan antara kedua penutur.

4.2.1.2 Tingkat Tutur Krama (Tinggi)

  Tingkat tutur krama adalah tingkat yang memancarkan arti penuh sopan santun antara sang penutur dengann mitra tutur. Barangkali sang mitra tutur adalah orang yang berpangkat tinggi dalam masyarakat.

a. Peristiwa Bicara I Latar Belakang : Di sekolah

  Peristiwa Tutur Guru : “ Tika, di ruangan mano nampak kau pak kapala”. (“Aduh, segan aku sama bapak itu”) Dari peristiwa di atas dapat dilihat antara penutur masih ada rasa segan yang tinggi dengan lawan tuturnya.

b. Peristiwa Bicara II Latar Belakang : Di rumah

  Buk Atin : “Eti, hpnyo samo bapak kau, mintakkan dulu samo bapak kau hpnyo, itu di mukak dio”. Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa antara penutur dengan mitra tuturnya terdapat tingkat tutur yang memiliki rasa segan yang sangat tinggi.

c. Peristiwa Bicara III Latar Belakang : Di teras rumah

  Pembicara : Kak Nanik dan Lela. Dari peristiwa di atas dapat dilihat bahwa tingkat tutur yang terjadi adalah tingkat tutur yang memiliki rasa segan yang tinggi antara penutur dengan mitra tutur.

4.2.1.3 Tingkat Tutur Madya (Sedang)

  Sudah disinggung dibagian depan bahwa tingkat tutur madya adalah tng kat tutur menengah yang berada diantara tingkat tutur krama dan tingkat tutur ngoko. Banyak orang menyebut bahwa tingkat tutur madya ini memiliki ciri setengah sopan dan setangah tidak sopan, orang-orang desa biasanya berbicara dengan tingkat tutur ini terhadap orang yang mereka anggap perlu untuk disegani.

a. Peristiwa Bicara I Latar Belakang : Di depan rumah

  Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa tingkat tutur antara Erni dan Lena adalah tingkat tutur rasa hormat yang sedang-sedang saja. Dari peristiwa di atas dapat dilihat bahwa tingkat tutur madya yang terjadi antara penutur dengan mitra tutur yang memiliki rasa sopan santun yang sedang-sedang saja.

c. Peristiwa Bicara III Latar Belakang : Teras rumah

  Perubahan Situasi Dengan Hadirnya Orang KetigaDitandai dengan dua orang yang berasal dari kelompok etnik yang sama, pada umumnya berinteraksi dengan bahasa kelompok etniknya. Tingkat Tutur MadyaYaitu tingkat tutur menengah yang berada di antara tingkat tutur krama dan tingkat tutur ngoko, tingkat tuturnya menunjukkan perasaantingkat kesopanan yang sedang-sedang saja.

5.2 SARAN

  Nama : Erni Usia : 22 tahunPekerjaan : Wiraswasta 16. Nama : Ijul Usia :25 tahunPekerjaan :_ 24 Nama : Anum Usia : 40 tahunPekerjaan : Pedagang 25.

BAB IV ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA ALIH KODE DAN ANALISIS JENIS ALIH KODE DALAM MASYARAKAT KUALUH HILIR

4.1 Sebab – sebab terjadinya Alih Kode dalam masyarakat Kualuh Hilir

4.1.1 Pembicara dan Penutur 4.1.2 Penutur dan Lawan Tutur 4.1.3 Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga 4.1.4 Perubahan Topik Pembicara 4.1.5 Perubahan dari Formal ke Informal

4.2 Jenis Alih Kode

  4.2.1 Bentuk tingkat Tutur 4.2.1 Tingkat Tutur Ngoko 4.2.2 Tingkat Tutur Krama 4.2.3 Tingkat Tutur Madya 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN Lampiran D DATA AWAL PENELITIANData yang telah terkumpul terelevasi, selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metode padan dan teknik pilah unsur penentu (PUP) yaitu denganmemilah setiap data yang telah terkumpul, Sehingga pada akhirnya tampak jelas alih kode yang terjadi antara masyarakat Kualuh Hilir. Analisis data dengan menggunakan metode padan, ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses terjadinya alih kode dan jenis alih kode yang dipakai olehmasyarakat tutur bilingual dalam percakapan pada masyarakat Kualuh Hilir.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Alih Kode Penutur Bahasa Pesisir Di Kecamatan..

Gratis

Feedback