Peranan Komunikasi Horizontal Terhadap Efektifitas Kerja Pegawai Pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara

 3  43  121  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Asri Martha, orang yang paling sering mempertanyakan kapan skripsi ini akan selesai, orang yang paling setia menemaniku dalam senang maupun susah, danorang yang membuatku lebih bertanggung jawab, thanks a lot hun, you make everythings possible to me 7. Riza, and last but not least AbangdaPardamean Lubis, SE Terima Kasih banyak untuk semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan dari semua pihak, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusiyang cukup berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah komunikasi horizontal yang terjadi pada kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumateraserta untuk mengetahui apakah komunikasi horizontal berperan terhadap efektifitas kerja pegawai di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera. Hasil penelitian tentang peranan komunikasi horizontal dan efektivitas kerja pegawai pada kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara,menunjukkan bahwa Peranan komunikasi horizontal sangat berpengaruh terhadap efektivitas kerja pegawai kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi SumateraUtara.

BAB I PENDAHULUAN I .1. Latar Belakang Masalah Dari semua pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki, pengetahuan dan

  Karena mekanisme yang ada selama ini, biasanya Disini, komunikasi horisontal memiliki fungsi memperlancar aktivitas organisasi dalam melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan tugas-tugasyang harus diselesaikan, menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi bersama, memfasilitasi tercapainya pemahaman bersama atas perbedaan-perbedaan yangmuncul, menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam organisasi, memberikan dukungan dalam hubungan kerja yang produktif. Oleh sebab itu, dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam konteks efektifitas kerja, dibutuhkan model komunikasi yang disesuaikan dengan lingkungankerja, yang dalam hal ini organisasi Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi SumateraUtara yang memiliki visi dan misi dengan pola komunikasi horizontal yang perlu untuk diteliti.

1.3 Pembatasan Masalah

  Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas dan memperjelas masalah yang dibahas dalam penelitan sehingga lebih terarah, makapenulis membatasi masalah sebagai berikut: a. Komunikasi Horizontal dalam organisasi yang akan akan diteliti adalah pertukaran pesan yang berlangsung di antara para pegawai ataupun bagianyang memiliki kedudukan yang setara.

I. 4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 4.1) Tujuan Penelitian

  Untuk mengetahui apakah komunikasi horizontal berperan terhadap efektifitas kerja pegawai di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan yang membutuhkan pengetahuanberkenaan dengan penelitian ini.

I. 5. Kerangka Teori

  Untuk itu perlu disusun kerangkateori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti (Nawawi, 1995 : 40). Menurut Kerlinger, teori merupakan himpunan konstruk (konsep), yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dan menjabarkan relasi diantaravariable untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

I. 5.1) Komunikasi

  Unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi (dalam Ruslan,1998:79) adalah: Message (pesan), merupakan seperangkat lambang bermakna yang - disampaikan oleh komunikator. komunikan komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

I. 5.2) Komunikasi Organisasi

  Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan,maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi dalamorganisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek organisasi.

I. 5.3) Jaringan Komunikasi dalam Organisasi

  Jaringan komunikasi (dalam Golghaber, Gerald, M, 1990:56) Jaringan rantai merupakan suatu pola komunikasi yang ada pada birokrasi dan organisasi lain dimana terdapat suatu rantai formal komando. Bergantung pada ukurannya, organisasi mungkin memiliki beberapa rantai komunikasi yang menghubungkan tingkatan-tingkatan organisasi yang lebih tinggidan lebih bawah.

I. 5.4) Komunikasi Horizontal dalam Organisasi

  Yang dimaksud dengan komunikasi horizontal disini adalah komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan yang sama, posisi yang sama,jabatan se-level, eselon yang sama, dll. Komunikasi horisontal terjadiantara orang-orang yang pada tingkat yang sama atau orang-orang yang pada tingkat yang berhubungan pada divisi yang berbeda dalam suatu organisasi.

I. 6. Model Teoritis

Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model teoritis sabagai berikut: Gambar 1.2 Model Teoritis

KOMUNIKASI EFEKTIVITAS HORIZONTAL KERJA

1.7. Kerangka Konsep

  Efektivitas Kerja efektifitas kerja yaitu penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telahditetapkan, artinya apakah pelaksanaan sesuatu tugas dinilai baik atau tidak sangat tergantung pada bilamana tugas itu diselesaikan, dan tidak terutama menjawabbagaimana cara melaksanakannya dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu. Diukur dengan indikator kecepatan dan ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan, teknik penyelesaian pekerjaan, keterampilan melaksanakan prosespekerjaan, mutu/kualitas pekerjaan yang dihasilkan, kemampuan, menyelesaikan pekerjaan Konseptualisasi Variabel Teoritis Variabel Operasional Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa baik atau seberapa jauh sasaran telahtercapai1.

1.8. Deskripsi Operasional Variabel

  Singarimbun sebagaimana dikutip Ridwan(2004) memberikan pengertian tentang definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberikan petunjuk bagaimana variabel itu diukur.: 1. Variabel Eefektifitas Kerja terdiri dari: efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa baik atau seberapa jauh sasaran (kuantitas, kualitas, waktu) telah tercapai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Komunikasi II.1.1) Pengertian Komunikasi Sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan unsur penting dalam

  Noise, yaitu gangguan yang tidak terencana yang terjadi dalam proses - komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya. Dari banyak pengertian tersebutjika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yangterdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

II. 1.2) Komponen Komunikasi

a. Lingkungan komunikasi

  Sumber-PenerimaKita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasiadalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Kompetensi inimencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya,pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar danlingkungan yang lain).

e. Pesan

  Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikanisyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanyaadalah bentuk umpan balik.

h. Gangguan

  Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Keputusan yang kitaambil dalam hal komunikasi haruslah dipedomani oleh apa yang kita anggap benar di samping juga oleh apa yang kita anggap efektif.

II. 1.3) Tujuan Komunikasi Ada empat tujuan atau motif komunikasi yang perlu dikemukakan di sini

  Motif atau tujuan ini tidak perlu dikemukakan secara sadar, juga tidak perlu mereka yang terlibat menyepakati tujuan komunikasi mereka. teknologi komunikasi berubah dengan cepat dan drastis (kita mengirimkan surat elektronika, bekerja dengankomputer, misalnya) tujuan komunikasi pada dasarnya tetap sama, bagaimanapun hebatnya revolusi elektronika dan revolusi-revolusi lain yang akan datang.

a. Menemukan

  Dariperjumpaan seperti ini kita menyadari, misalnya bahwa perasaan kita ternyata tidak Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Sekarang ini mungkin anda lebih banyak bertindak sebagai konsumen ketimbang sebagai penyampai pesan melaluimedia, tetapi tidak lama lagi barangkali anda-lah yang akan merancang pesan-pesan itu—bekerja di suatu surat kabar, menjadi editor sebuah majalah, atau bekerja padabiro iklan, pemancar televisi, atau berbagai bidang lain yang berkaitan dengan komunikasi.

II. 1.4) Proses Komunikasi

Pada tataran teoritis, paling tidak kita mengenal atau memahami komunikasi dari dua perspektif, yaitu:

1. Perspektif Kognitif. Komunikasi menurut Colin Cherry, yang mewakili

  perspektif kognitif adalah penggunaan lambang-lambang (symbols) untuk mencapai kesamaan makna atau berbagi informasi tentang satu objek ataukejadian. Jika pesan yang disampaikan diterima secara akurat, receiver akan memiliki informasi yang sama seperti yang dimiliki sender, oleh karena itu tindakkomunikasi telah terjadi.

2. Perspektif Perilaku. Menurut BF. Skinner dari perspektif perilaku memandang

  Sekarang kita mencoba memahami proses komunikasi antarmanusia yang disajikan dalam suatu model berikut:Proses komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain, sebagai berikut: 1. Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud kata-kaya, tanda-tandaatau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain.

II. 2. Komunikasi Organisasi

  Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi dalamorganisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek organisasi. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:a) Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakanb) Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahanc) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan d) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.

II. 2.1) Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

  Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti informasi pada dasarnyadibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu organisasi. Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yangdisampaikan.

II. 3. Komunikasi Horizontal

  Hal ini bukan hanya menimbulkan ketidakmengertian orang-orang dari lintas departemen yang kita ajak bicara, Kedua, yang harus diperhatikan dalam komunikasi di level yang sama ini adalah faktor psikologis orang yang kita ajak bicara. Ketiga faktor berkomunikasi secara horizontal ini akan memberikan hasil yang lebih maksimalkepada penuturnya jika dicamkan dan dilaksanakan dengan baik pada saat berkomunikasi dengan pihak manapun yang kita anggap paralel, apakah itu dalam halstatus ekonomi, posisi kerja, pengalaman dan pengetahuan, dll.

b. Grapevine

  Lintas departemen, lintas divisi, lintas projek d. Aktivitas sosial (tim olahraga, program excercise, water cooler, dan kafetaria, pesta akhir minggug.

II. 4. Efektifitas kerja

  Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Menurut Sutarto (1978:95) Efektivitas kerja adalah suatu keadaan dimana Efektivitas kerja merupakan suatu ukuran tentang pencapaian suatu tugas atau tujuan (Schermerhorn, 1998:5) Menurut Handoko (1997:7), Efektivitasmerupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan.

II. 4.1) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja

  Pekerja merupakan modal utama di dalam organisasi yang akan berpengaruh besar terhadap efektivitas, karena walaupun tehnologi yang digunakan merupakantehnologi yang canggih dan didukung oleh adanya struktur yang baik, namun tanpa adanya pekerja maka semua itu tidak ada gunanya. Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target(kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

  Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaansubjek/objek penelitian seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya(Nawawi,1993:63). Deskriptif berarti bahwa penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara tepat suatu keadaan dalam hal ini kebijakan yang tertuang dalam bentuk aktifitaskomunikasi horizontal di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara yang membentuk efektivitas kerja.

III. 2. Tempat dan Waktu Penelitian

  Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel III.3.1) Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untukdipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Pesisir dan pulau-pulau kecilBidang pengawasan dan pengendalian sumber dayaKelautan dan Perikanan 7 7 7 7 720,020,020,020,020,0 JUMLAH 35 100,0 Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa responden dibagi dalam lima bagian sesuai dengan bidang-bidang yang ada pada Dinas Kelautan dan Perikanan ProvinsiSumatera Utara.

III. 4. Instrumen (Alat Pengumpul Data)

III. 5. Teknik Pengumpulan Data

  Kuesioner, dimaksudkan untuk mendapatkan informasi dan data yang relevan dari responden melalui daftar pertanyaaan tertutup dan terbuka yang diajukan, dengan menyajikan beberapa alternatif jawaban yang sudah ditentukan. Sedangkan data sekunder, dilakukan dengan teknik dokumentasi, yaitu data yang diperoleh telah diolah baik dalam bentuk angka maupun berupa uraian sesuatuhal yang berhubungan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan bahan informasi yang diperoleh dari instansi yang terkait dalam komunikasi horizontal dan efektivitas kerjaorganisasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara .

III. 6. Teknik Analisa Data

  Metode kualitatif ini merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yakni apa yang dinyatakan oleh narasumber secaratertulis atau lisan dan perilaku nyata data primer yang diproleh melalui wawancara akan diperiksa kembali kejelasan dan keseragaman datanya, jadi dalam tahap awaldata mentah perlu diolah terlebih dahulu sehingga kesalahan-kesalahan dapat diperbaiki dan tidak ada keragu-raguan. Pelaksanaan tugas Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara sensntiasa berupaya untuk menyelenggarakan Pemerintahan yang bersih danberwibawa (Good Governance) sesuai dengan cita-cita dan harapan seluruh masyarakat yang sesuai dengan TAP MPR RI Nomor : XI/MPR/1999 dan Undang –Undang Nomor: 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraanan Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.

IV. 1.1) Tugas Pokok dan Fungsi

  Berdasarkan Peraturan Daerah nomor 3 Tahun 2001 tentang Tugas, fungsi danTata Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan serta Organisasi dan Tata Kerja UPT DinasKelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara dan Surat Keputusan GubernurSumatera Utara Nomor: 061-455. Dinas Kelautan dan Perikanan adalah unsur Pelaksana Pemerintah Provinsi di bidang kelautan dan perikanan, dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yangberada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah.

IV. 1.2) Struktur Organisasi

  Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara nomor 3 tahun 2001 tentangLembaga Teknis daerah Provinsi Sumatera Utara, menetapkan bahwa Dinas Kelautan Struktural Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara berdasarkanPP Nomor 41 Tahun 2007 yang telah dilaksanakan di Dinas Kelautan dan Perikanan pada tahun 2010 adalah sebagai berikut : 1. Seksi Sumberdaya KelautanJumlah pegawai yang ada pada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara sampai akhir Desember 2010 adalah 188 orang yang terddiri dari : Jumlah 188 orang Komposisi sumberdaya manusia yang ada berdasarkan strata pendidikan, jabatan, dan golongan sebagai berikut : Jumlah : 188 orang Jumlah : 188 orang Menurut Jenis Kelamin sebagai berikut : Jumlah : 188 orang IV.2.

IV. 2.1) Visi

  Perumusan visi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara mencerminkan apa yang ingin dicapai, yang dapat memberikan arah dan fokus sertastrategi yang jelas, maupun menjadi perekat komponen yang ada. Dinas Kelautan danPerikanan Provinsi Sumatera Utara memiliki visi dengan orientasi masa depan, dan mampu menumbuhkan komitmen seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Dinas Visi Dinas Kelautan dan Perikanan adalah : ”Terwujudnya usaha perikanan yang berbudaya bisnis dan berwawasan lingkungan untuk kesejahteraan rakyat”.

IV. 2.2) Misi

  Misi Dinas kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara merupakan arah bagi tujuan dan sasaran yang ingin diwujudkan sehingga dapat memberikan programkegiatan yang dilaksanakan. IV.2.4) Sasaran Setelah ditetapkan tujuan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi SumateraUtara, maka ditetapkan sasaran yang akan dicapai pada tahun 2011 melalui prioritas program, kegiatan dan alokasi sumber daya organisasi/instansi yang ada serta dapatdiukur secara kualitatif maupun kwantitatif.

IV. 2.5) Strategi

  Upaya yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan untuk menccapai tujuan dan sasaran dengan menerapkan beberapa strategi dan kebijakan yangmerupakan pedoman dalam melaksanakan kegiatan operasional antara lain : 1. Meningkatkan peran UPT Dinas dalam rangka pembinaan dan penyuluhan perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pengolahan hasil perikanan.

IV. 2.6) Kebijakan

  Dinas Kelautan dan perikanan Provinsi Sumatera Utara menetapkan beberapa kebijakan untuk mencapai tujuan dan sasaran dari tahun 2009 – 2013, kebijakan yangditetapkan sebagai pedoman dalam operasionalnya adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan dengan program yang berpihak kepada masyarakat pesisir dan nelayan melalui pengembanganAgropolitan dataran tinggi Bukit Barisan dan Agromarinepolitan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di 16 kabupaten/kota se Sumatera Utara.

IV. 3. Pelaksanaan dan Pengumpulan Data

  Penyajian dan analisis data Untuk memperoleh data primer dan melengkapi data-data yang terkumpul sebagai data sekunder, telah disebarkan sejumlah angket yang digunakan sebagaiacuan perolehan data dengan sistem kuisioner kepada responden, dalam hal ini penulis mencoba untuk menuangkannya ke bentuk tabel frekwensi. Staf adalah pelaksana teknis yang secara langsung melaksanakan pekerjaan, pelaksana adalah pejabat eselon iv yang mendudukieselonisasi sedangkan pengambil keputusan adalah pejabat eselon iii yang melaksanakan surat keputusan sesuai dengan pendelegasian yang dibebankan olehpimpinan atau kepala dinas.

5 Lebih dari 20 Thn

  Sedangkan mereka yang bekerja lebih dari 11 tahun hanya mencapai 22,9 persen, sementara mereka yang lamanya bekerja 16 – 20 tahun tidak ada sama sekali. Hal inikemungkinan mereka sejak diangkat menjadi PNS tetap pada instansinya yang sekarang, dan kebanyakan dari mereka adalah para pelaksana dan staf.

IV. 4.2) Variabel Penelitian

  Salah satu konsep dari komunikasi horizontal adalah untuk mengkordinasikan penugasan kerja, artinya komunikasi divisualisasikan dalam bentuk saling koordinasiantara staf atau pegawai yang satu level dari bidang yang berbeda untuk mendiskusikan hal-hal yang dibutuhkan dari tugas yang diberikan pimpinan. Untuk Menumbuhkan Dukungan Antar Persona Komunikasi horizontal dalam bentuk arus komunikasi untuk menumbuhkan dukungan antar persona biasa dilakukan karena sebahagian besar dari waktu kerjakaryawan adalah berinteraksi dengan temannya, maka mereka perlu memperoleh Berikut ini akan dilihat bagaimana komunikasi horizontal yang bertujuan untuk menumbuhkan dukungan antar persona dan pengaruhnya terhadap efektivitaskerja di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara.

V. 1. Kesimpulan

  Komunikasi horizontal yang dimaksudkan disini adalah bentuk komunikasi horizontal yang bertujuan untuk :a) Untuk mengkordinasikan penugasan kerja b) Berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan c) Untuk memecahkan masalah d) Untuk memperoleh pemahaman bersama e) Untuk mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan f) Untuk menumbuhkan dukungan antar persona 3. Peranan komunikasi horizontal dalam bentuk untuk mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan sangat berpengaruh terhadap efektivitas kerja pegawai kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara.

V. 2. Saran-saran

  Peningkatan pemahaman pegawai/aparatur tentang komunikasi organisasi, budaya organisasi yang berorientasi pada kepentingan dan tuntutan masyarakat ataupengguna jasa publik. Penerapan kebijakan yang implementatif dalam arti yang sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat di Sumatera Utara.

DAFTAR PUSTAKA

  Deborah Tannen, 1996, Seni komunikasi Efektif: membangun relasi dengan membina gaya percakapan, (alih bahasa dra. Amitya Komara), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Effendi, Onong Uchyana , 1993, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, CV.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Peranan Komunikasi Horizontal Terhadap Efekti..

Gratis

Feedback