Full text

(1)

ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK PADA

MINYAK IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

SECARA GC-MS

SKRIPSI

OLEH: ANDRE KURNIAWAN

NIM 111524037

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK PADA

MINYAK IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

SECARA GC-MS

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH: ANDRE KURNIAWAN

NIM 111524037

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK PADA

MINYAK IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

SECARA GC-MS

OLEH:

Pembimbing II, Dra. Salbiah, M.Si., Apt. NIP 194810131987012001

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini yang berjudul: Analisa Komponen Asam Lemak pada Minyak Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Secara GCMS. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus tiada terhingga kepada Ayah Syafriadi Sudrajat, S.E., dan ibu Zufridawati, B.Sc., serta kepada Wendra Kurniansyah dan Novemina Angelita atas doa, dorongan, dan semangat baik moril maupun materil kepada penulis selama masa perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Salbiah, M.Si., Apt., dan Bapak. Drs. Fathur Rahman Harun, M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran, tulus, dan ikhlas selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa pendidikan.

(5)

3. Bapak Prof. Dr. rer.nat. Effendy De Lux Putra, S.U., Apt., Bapak Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt., dan Bapak Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt., sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini.

4. Bapak Prof. Dr. rer.nat. Effendy De Lux Putra, S.U., Apt., selaku Kepala Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi dan Ibu Dra. Herla, M.Sc., selaku Kepala Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian yang yang telah memberikan fasilitas dan bantuan selama penelitian.

5. Seluruh Staf Pengajar, Pegawai Tata Usaha, Teman-teman yang telah membantu selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan kritikan dan saran yang dapat menyempurnakan skripsi ini.

Medan, Agustus 2013 Penulis,

(6)

ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK PADA

MINYAK IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

SECARA GC-MS

ABSTRAK

Ikan nila merupakan akuakultur nomor tiga dunia dengan Indonesia sebagai salah satu eksportir fillet terbesar. Profil asam lemak tak jenuh jamak (Poly Unsaturated Fatty Acids, PUFA) yang terdapat didalam ikan menarik perhatian karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar dan komponen asam lemak yang terdapat didalam ikan nila.

Minyak ikan nila diperoleh dengan melakukan ekstraksi menggunakan 750 ml metanol-kloroform (2:1) untuk setiap 500 gram daging ikan. Ekstrak di esterifikasi dengan cara direfluks pada suhu 100°C selama satu jam menggunakan metanol dan katalisator HCl. Metil ester asam lemak dianalisis dengan GCMS Shimadzu QP 2010 menggunakan kolom Rtx 5 pada suhu 60°C dengan kenaikan 8°C permenit sampai suhunya mencapai 300°C selama 35 menit dan fasa gerak helium dengan laju alir 1.03 ml/menit.

Kadar lemak pada daging ikan nila adalah 4,17% dengan komponen asam lemak terdiri dari asam tetradekanoat metil ester, asam 9-heksadesenoat metil ester, asam heksadekanoat metil ester, asam 9,12-oktadekadienoat metil ester, asam 9-oktadesenoat metil ester, asam 9-9-oktadesenoat metil ester, asam oktadekanoat metil ester, asam 5,8,11,14-eikosa tetraenoat metil ester, asam 9,12,15-oktadekatrienoat metil ester, asam 9,12-oktadekadienoat (Z,Z) metil ester, asam 5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester, asam 4,7,10,13,16,19-dokosaheksaenoat metil ester, asam cis-5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester.

(7)

THE ANALYSIS COMPONENT OF FATTY ACID IN TILAPIA (Oreochromis niloticus) OIL FISH with GC-MS

ABSTRACT

The Tilapia is third aquaculture in the world where Indonesia as one of the biggest fillets exporter’s. Lipid fraction show an interesting present of Poly Unsaturated Fatty Acids (PUFAs) profile because it has so many health benefit. The purpose of this study to determine levels and components contained of fatty acid in tilapia.

Tilapia oil obtained by extraction using 750 ml methanol-chloroform (2:1) for each 500 grams meat fish. Extract esterified by refluxing for one hour at 100°C with methanol and HCl as catalyst. Fatty acid methyl esters were analyzed by GCMS Shimadzu QP 2010 with RTX 5 column, initially at 60°C then increased to 300°C, with 8°C/min heating ramp and then kept there for 35 min and helium as mobile phase with flow rate of 1:03 ml/min.

The fat content of tilapia meat was 4.17% with fatty acid component consists of tetradecanoic acid methyl ester, 9-hexadecenoic acid methyl ester, hexadecanoic acid methyl ester, 9,12-octadecadienoic acid methyl ester, 9-octadecenoic acid methyl ester, 9-9-octadecenoic acid methyl ester, octadecanoic acid methyl ester, 5,8,11,14-eicosa tetraenoic acid methyl ester, 9,12,15-octadecatrienoic acid methyl ester, 9,12-octadecadienoic acid (Z, Z) methyl ester , 5,8,11,14,17-eicosapentaenoic acid methyl ester, 4,7,10,13,16,19-docosahexaenoic acid methyl ester, cis-5-eicosapentaenoic ,8,11,14,17 methyl ester.

(8)
(9)

2.2.1 Ekstraksi Minyak ... 6

(10)

3.4.3 Pengolahan sampel ... 16

3.5 Pembuatan Pereaksi ... 17

3.5.1 Pereaksi Asam Klorida 35% ... 17

3.5.2 Pereaksi Asam Klorida 35% dalam metanol ... 17

3.6 Ekstraksi Minyak Ikan ... 17

3.7 Esterifikasi Minyak Ikan ... 17

3.8 Analisa Komponen Asam Lemak Secara GCMS ... 18

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19

4.1 Karakteristik Ikan Nila ... 19

4.2 Ekstraksi Minyak Ikan ... 20

4.3 Analisis dengan GCMS ... 21

4.4 Fragmentasi Hasil Spektrofotometri Massa Komponen Minyak Ikan Nila ... 24

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 30

5.1 Kesimpulan ... 30

5.2 Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA ... 31

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Morfometrik Ikan Nila ... 9

Tabel 3.2. Data Hasil Esktraksi Minyak Ikan dari Daging Ikan

Nila segar ... 11

Tabel 3.3. Komponen Asam Lemak yang Terdapat Pada Minyak

Ikan Nila ... 13

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Data Rendemen Ikan Nila ... 10

Gambar 3.2. Profil kromatogram Ester Asam lemak dari Minyak Ikan Nila ... 12

Gambar 3.3 Data Spektrofotometer Massa Puncak Ke 5 ... 14

Gambar 3.4 Data Spektrofotometer Massa Puncak Ke 6 ... 15

Gambar 3.5 Data Spektrofotometer Massa Puncak Ke 7 ... 16

Gambar 3.6 Data Spektrofotometer Massa Puncak Ke 9 ... 17

Gambar 3.7 Data Spektrofotometer Massa Puncak Ke 14 ... 18

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Sampel yang digunakan dalam penelitian ... 32

Lampiran 2. Alat yang digunakan ... 34

Lampiran 3. Perhitungan Pengukuran Morfometrik dan Rendemen ... 36

Lampiran 4. Hasil Analisa GasCromatography ... 39

Lampiran 5. Data Spektrometer Massa ... 40

Lampiran 6. Fragmentasi Hasil Spektroforometri Massa Komponen Minyak Ikan Nila ... 47

(14)

ANALISIS KOMPONEN ASAM LEMAK PADA

MINYAK IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

SECARA GC-MS

ABSTRAK

Ikan nila merupakan akuakultur nomor tiga dunia dengan Indonesia sebagai salah satu eksportir fillet terbesar. Profil asam lemak tak jenuh jamak (Poly Unsaturated Fatty Acids, PUFA) yang terdapat didalam ikan menarik perhatian karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar dan komponen asam lemak yang terdapat didalam ikan nila.

Minyak ikan nila diperoleh dengan melakukan ekstraksi menggunakan 750 ml metanol-kloroform (2:1) untuk setiap 500 gram daging ikan. Ekstrak di esterifikasi dengan cara direfluks pada suhu 100°C selama satu jam menggunakan metanol dan katalisator HCl. Metil ester asam lemak dianalisis dengan GCMS Shimadzu QP 2010 menggunakan kolom Rtx 5 pada suhu 60°C dengan kenaikan 8°C permenit sampai suhunya mencapai 300°C selama 35 menit dan fasa gerak helium dengan laju alir 1.03 ml/menit.

Kadar lemak pada daging ikan nila adalah 4,17% dengan komponen asam lemak terdiri dari asam tetradekanoat metil ester, asam 9-heksadesenoat metil ester, asam heksadekanoat metil ester, asam 9,12-oktadekadienoat metil ester, asam 9-oktadesenoat metil ester, asam 9-9-oktadesenoat metil ester, asam oktadekanoat metil ester, asam 5,8,11,14-eikosa tetraenoat metil ester, asam 9,12,15-oktadekatrienoat metil ester, asam 9,12-oktadekadienoat (Z,Z) metil ester, asam 5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester, asam 4,7,10,13,16,19-dokosaheksaenoat metil ester, asam cis-5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester.

(15)

THE ANALYSIS COMPONENT OF FATTY ACID IN TILAPIA (Oreochromis niloticus) OIL FISH with GC-MS

ABSTRACT

The Tilapia is third aquaculture in the world where Indonesia as one of the biggest fillets exporter’s. Lipid fraction show an interesting present of Poly Unsaturated Fatty Acids (PUFAs) profile because it has so many health benefit. The purpose of this study to determine levels and components contained of fatty acid in tilapia.

Tilapia oil obtained by extraction using 750 ml methanol-chloroform (2:1) for each 500 grams meat fish. Extract esterified by refluxing for one hour at 100°C with methanol and HCl as catalyst. Fatty acid methyl esters were analyzed by GCMS Shimadzu QP 2010 with RTX 5 column, initially at 60°C then increased to 300°C, with 8°C/min heating ramp and then kept there for 35 min and helium as mobile phase with flow rate of 1:03 ml/min.

The fat content of tilapia meat was 4.17% with fatty acid component consists of tetradecanoic acid methyl ester, 9-hexadecenoic acid methyl ester, hexadecanoic acid methyl ester, 9,12-octadecadienoic acid methyl ester, 9-octadecenoic acid methyl ester, 9-9-octadecenoic acid methyl ester, octadecanoic acid methyl ester, 5,8,11,14-eicosa tetraenoic acid methyl ester, 9,12,15-octadecatrienoic acid methyl ester, 9,12-octadecadienoic acid (Z, Z) methyl ester , 5,8,11,14,17-eicosapentaenoic acid methyl ester, 4,7,10,13,16,19-docosahexaenoic acid methyl ester, cis-5-eicosapentaenoic ,8,11,14,17 methyl ester.

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan banyak terdapat di alam baik di air laut maupun air tawar, dan ada pula yang dibudidayakan. Salah satu ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila. Nila (Oreochromis niloticus) atau tilapia yang merupakan salah satu ikan penting dalam akuakultur atau budi daya perairan dunia. Departemen Perikanan dan Akuakultur FAO (Food and Agriculture Organization) menempatkan nila di urutan ketiga setelah udang dan salmon sebagai contoh sukses akuakultur dunia. PT Aquafarm Nusantara merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi dan mengekspor ikan nila dalam jumlah besar dan kontinu. Perusahaan yang membudidayakan nila di Danau Toba, Sumatera Utara ini mengekspor nila sebanyak 520 ton/bulan atau mencapai 24.000 ton/ tahun ke Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Ekspor nila Indonesia ke AS dalam bentuk fillet dan ikan utuh beku mempunyai harga yang lebih tinggi dari pada fillet beku asal Cina. Pada tahun 2011, produksi nila mencapai 639 ribu ton yang merupakan produksi tertinggi dari lima ikan utama dalam akuakultur air tawar (Ghufran H Kordik, 2013).

(17)

Selain nilai gizi yang terkandung didalamnya, pada fraksi lipid ikan menunjukan profil asam lemak yang menarik dengan adanya poly unsaturated fatty acid ω-3 (PUFA) yang telah dipelajari secara luas memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Perbandingan jumlah asam lemak ω-6/ω-3 pada fosfolipid membran sel dan fosfolipid plasma memainkan peranan penting dalam menentukan fluiditas membran, ekspresi gen, pembentukan sitokin, tingkat lipid dan respon imun, yang semuanya dapat mencegah atau berkontribusi dalam penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, kanker, arthritis, psoriasis, kolitis ulserativa, multiple sclerosis dan gangguan autoimun. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bronner(2002) dikutip pada Kartal, (2003) menunjukkan bahwa konsumsi ikan dalam menu makanan dua atau tiga kali dalam satu minggu dapat memberikan asupan asam lemak ω-3 yang cukup dalam mencegah penyakit jantung (Kartal, dkk., 2003).

Komposisi atau jenis asam lemak dan sifat fisika kimia tiap jenis minyak berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sumber, iklim, keadaan tempat tumbuh dan pengolahan (Ketaren, 2008). Sampai saat ini belum ada literatur yang memberikan informasi tentang komponen asam lemak yang terdapat pada minyak ikan nila.

(18)

gas dengan kolom kapiler memiliki sensitifitas dan keterulangan paling tinggi jika dikombinasikan dengan identifikasi spektrofotometri untuk menganalisa asam lemak.

Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti tertarik untuk melakukan pemeriksaan analisa komponen asam lemak yang terdapat pada minyak ikan nila dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS). Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan untuk dapat mengembangkan penelitian tentang bahan alam penghasil minyak ikan yang banyak terdapat di Indonesia dan dapat memberikan informasi komponen asam lemak yang terdapat didalamnya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Berapakah kadar lemak/minyak yang terkandung dalam daging ikan nila? 2. Apa saja komponen asam lemak yang terdapat dalam minyak ikan nila?

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah: 1. Dalam daging ikan nila mengandung lemak/ minyak.

(19)

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam daging ikan nila. 2. Untuk mengetahui komponen asam lemak jenuh dan tak jenuh yang terdapat

pada minyak ikan nila.

1.5 Manfaat Penelitian

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Nila

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang diintroduksi secara resmi oleh pemerintah melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BPPAT). Introduksi pertama dilakukan pada tahun 1969 dengan mendatangkan nila dari Taiwan. Setelah melalui proses adaptasi dan penelitian, barulah ikan ini disebarluaskan ke seluruh petani Indonesia. Klasifikasi ikan nila (Ghufran, 2013) adalah sebagai berikut:

(21)

2.2. Minyak dan Lemak

Minyak dan lemak termasuk salah satu anggota golongan lipid yaitu lipid netral. Lipid diklasifikasikan dalam empat kelas yaitu lipid netral, fosfatida, spingoli dan glikolipid. Minyak dan lemak yang telah dipisahkan dari jaringan asalnya mengandung sejumlah kecil komponen selain trigliserida yaitu lipid kompleks (leshitin, cephalin, fosfatida dan glikolipid), sterol (berada dalam keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak), asam lemak bebas, lilin, pigmen yang larut dalam lemak dan hidrokarbon (Ketaren, 2008).

2.2.1 Ekstraksi Minyak

Pada pengolahan minyak dan lemak, pengerjaan yang dilakukan tergantung pada sifat alami minyak atau lemak tersebut dan juga tergantung dari hasil akhir yang dikehendaki. Ekstraksi adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Adapun cara ekstraksi adalah rendering, teknik pengepresan dan ekstraksi pelarut (Ketaren, 2008).

Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Menurut pengerjaannya rendering dibagi dalam dua cara yaitu wet rendering dan dry rendering. Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan

(22)

dalam ketel terbuka dan dilengkapi dengan steam jacket serta alat pengaduk(agitator) pada suhu 105°C-110°C (Ketaren, 2008).

Teknik pengepresan merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak yang berasal dari biji-bijian. Cara ini dilakukan untuk memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi (30-70 persen). Dua cara yang dilakukan adalah pengepresan hidraulik (dengan tekanan 2000 pound/inch2) dan pengepresan berulir (dengan pemanasan pada suhu 115,5°C) (Ketaren, 2008).

Ekstraksi pelarut adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam pelarut minyak dan lemak. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang rendah yaitu satu persen, dengan mutu minyak kasar karena sebagian fraksi bukan minyak akan ikut terekstraksi. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut menguap seperti petroleum eter, gasoline karbon disulfida, karbon tetraklorida, benzene dan n-heksan (Ketaren, 2008).

2.2.2 Pemurnian Minyak

(23)

2.2.3. Minyak Ikan

Minyak ikan mengandung Asam lemak omega-3 (n-3) Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) yang terdiri dari EPA (eikosapentaenoat) dan DHA

(dokosaheksaenoat). Asam lemak DHA merupakan asam lemak paling banyak yang terdapat dalam otak mamalia. Kadarnya dalam lipida membran sel dipengaruhi oleh jenis dan jumlah asam lemak dalam makanan yang dikonsumsi, tingkat perkembangan tubuh, kadarnya akan tinggi pada masa pertumbuhan dan menurun pada masa penuaan (Muchtadi, 2012).

2.3 Derivatisasi pada Kromatografi Gas

Derivatisasi merupakan proses kimiawi untuk mengubah suatu senyawa menjadi senyawa lain yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai untuk dilakukan analisis menggunakan kromatografi gas. Alasan dilakukannya derivatisasi adalah senyawa tersebut tidak memungkinkan dilakukan analisis dengan kromatografi Gas terkait volatilitas dan stabilitasnya, untuk meningkatkan batas deteksi pada kromatogram, volatilitas, deteksi, stablitis dan batas deteksi pada detector tangkap electron (ECD). Beberapa cara derivatisasi yang dilakukan pada krom,atografi gas yaitu esterfikasi, asilasi, alkilasi, siliasi, kondensasi, dan siklisasi (Gandjar dan Rohman, 2007).

Esterfikasi digunakan untuk membuat derivat gugus karboksil. Pengubahan gugus karboksil menjadi esternya akan meningkatkan volatilitas karena menurunkan ikatan hidrogen. Derivatisasi dengan esterifikasi dapat dilakukan dengan cara esterifikasi Fisher biasa dalam asam kuat, menurut reaksi:

(24)

Ester alifatik yang lebih panjang dibuat dengan tujuan untuk menurunkan volatilitas, meningkatkan respon detector, meningkatkan resolusi dari bahan pengganggu dan senyawa yang memilki rumus molekul yang hampir sama. Bahan yang sering digunakan adalah boron triflorida atau boron triklorida dengan alkohol alifatik (Gandjar dan Rohman, 2007).

2.4Kromatografi Gas

(25)

2.4.1 Gas Pembawa

Gas pembawa harus memenuhi persyaratan antara lain tidak reaktif, murni/kering dan dapat disimpan dalam tangki tekanan tinggi. Gas pembawa biasanya mengandung gas Helium, nitrogen, hydrogen atau campuran argon dan metana. Pemilihan gas pembawa tergantung pada penggunaan spesifik dan jenis detektor yang digunakan. Untuk setiap pemisahan, kecepatan optimum gas pembawa tergantung pada diameter kolom dan jenis gas (Gandjar dan Rohman, 2007).

2.4.2 Sistem Injeksi

Cuplikan dimasukkan ke dalam ruang suntik melalui gerbang suntik (injection port), biasanya berupa lubang yang ditutupi dengan septum atau pemisah karet (rubber septum). Ruang suntik harus dipanaskan tersendiri, terpisah dari kolom, dan biasanya pada suhu 10-15oC lebih tinggi dari suhu kolom. Jadi seluruh cuplikan diuapkan segera setelah disuntikkan dan dibawa ke kolom (Gritter, dkk., 1985).

2.4.3 Kolom

(26)

gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan alumunium. Panjang kolom 1-5 meter dengan diameter 1-4 mm (Gandjar dan Rohman, 2007).

Kolom kapiler berbeda dengan kolom kemas karena memiliki rongga pada bagian dalam kolom yang menyerupai pipa (tube) disebut juga Open Tubular

Fase diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi polar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil polisiklosan (HP-1; DB-1; SE-30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiklosan 95% (HP-5; DB-5; SE-32; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah fenil 50%-metilpolisiklosan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diam yang polar seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX; Carbowax-20M). Jenis fase diam akan menentukan urutan elusi komponen-komponen dalam campuran (Rohman, 2009).

2.4.5 Suhu

Tekanan uap sangat tergantung pada suhu, maka suhu merupakan faktor utama dalam GC. Pada GC-MS terdapat tiga pengendali suhu yang berbeda, yaitu: suhu injektor, suhu kolom dan suhu detektor.

(27)

Suhu pada injektor harus cukup panas untuk menguapkan cuplikan sedemikian cepat. Tapi sebaliknya, suhu harus cukup rendah untuk mencegah peruraian atau penata ulang kimiawi (rearrangement) akibat panas (McNair dan Bonelli, 1988).

b. Suhu Kolom

Pemisahan dapat dilakukan pada suhu tetap (isothermal) atau pada suhu yang berubah secara terkendali (suhu deprogram, temperature programming). GC isothermal paling baik dilakukan pada analisis rutin atau jika kita mengetahui agak banyak mengenai sifat sampel yang akan dipisahkan. Pilihan awal yang baik adalah suhu berapa derajat dibawah titik didih komponen utama sampel. Pada GC suhu diprogram, suhu dinaikkan mulai dari suhu tertentu sampai suhu tertentu yang lain dengan laju yang diketahui dan terkendali dalam waktu tertentu. Penaikan suhu dapat secara linear dengan laju yang kita tentukan, bertahap, isothermal yang diikuti dengan peningkatan secara linear, linear diikuti dengan isothermal, atau multilinear (laju berbeda saat berlainan) (Gritter, dkk., 1985).

c. Suhu Detektor

Detektor harus cukup panas sehingga cuplikan dan air atau hasil samping yang terbentuk pada proses pengionan tidak mengembun (McNair dan Bonelli, 1988).

2.4.6 Detektor

(28)

tergantung susunan gas yang mengelilinginya. Jadi setiap gas mempunyai daya hantar panas yang kecepatannya merupakan fungsi dari laju pergerakan molekul gas yang pada suhu tertentu merupakan fungsi dari berat molekul gas. Gas yang mempunyai berat molekul rendah mempunyai daya hantar lebih tinggi. Jika ada komponen/ senyawa yang dibawa fase gerak masuk kedalam detektor, karena berat molekul senyawa biasanya tinggi maka daya hantar menjadi turun (Gandjar dan Rohman, 2007).

Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector, FID). Pada detektor ini, hidrogen dan udara digunakan untuk menghasilkan nyala. Suatu elektroda pengumpul yang bertegangan arus searah ditempatkan diatas nyala dan mengukur hantaran nyala. Dengan hidrogen murni, hantaran sangat rendah, tetapi ketika senyawa organik dibakar, hantaran naik dan arus yang mengalir dapat diperkuat ke perekam (McNair dan Bonelli, 1988).

Jenis detektor yang lain adalah Flame Photometric Detector (FPD) yang digunakan untuk indikasi selektif dari fosfor dan sulfur. Nitrogen Phosphorus Detector (NPD) yang digunakan untuk senyawa-senyawa yang mengandung

(29)

2.5 Spektrometer Massa (MS)

Pada spektrometer massa EI-MS molekul senyawa organik (sampel) ditembak dengan berkas elektron dan menghasilkan ion bermuatan positif yang mempunyai energi yang tinggi karena lepasnya elektron dari molekul yang dapat pecah menjadi ion positif yang lebih kecil (ion fragmen). Spektrum massa merupakan grafik antara limpahan relatif lawan perbandingan massa/muatan (m/z, m/e) (Sastrohamidjojo, 1985).

Keuntungan utama spektrometri massa sebagai metode analisis yaitu metode ini lebih sensitif dan spesifik untuk identifikasi senyawa yang tidak diketahui atau untuk menetapkan keberadaan senyawa tertentu. Hal ini disebabkan adanya pola fragmentasi yang khas sehingga dapat memberikan informasi mengenai bobot molekul dan rumus molekul. Puncak ion molekul penting dikenali karena memberikan bobot molekul senyawa yang diperiksa. Puncak paling kuat (tertinggi) pada spektrum, disebut puncak dasar (base peak), dinyatakan dengan nilai 100% dan kekuatan puncak lain, termasuk puncak ion molekulnya dinyatakan sebagai persentase puncak dasar tersebut (Silverstein, dkk., 1986).

2.6. Parameter Penting dalam Kromatografi

2.6.1 Tinggi dan Luas Puncak

(30)

kondisi kromatografi, kecuali laju alir. Sementara itu, tinggi puncak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti misalnya faktor tambat, suhu kolom serta cara injeksi sampel (Ornaf dan Dong, 2005).

2.6.2 Waktu tambat

Periode waktu antara penyuntikan sampel dan puncak maksimum yang terekam oleh detector disebut sebagai waktu tambat/retention time (tR). Waktu

tambat dari suatu komponen yang tidak ditahan/dihambat oleh fase diam disebut sebagai waktu hampa/void time (t0). Waktu tambat merupakan fungsi dari laju alir

fase gerak dan panjang kolom. Jika fase gerak mengalir lebih lambat atau kolom semakin panjang, waktu hampa dan waktu tambat akan semakin besar, dan sebaliknya bila fase gerak mengalir lebih cepat atau kolom semakin pendek, maka waktu hampa dan waktu tambat akan semakin kecil (Meyer, 2010).

2.6.3 Faktor Kapasitas

Waktu tambat dipengaruhi oleh laju alir, ukuran kolom dan parameter yang lain. Oleh karena itu, diperlukan suatu ukuran derajat tambatan dari analit yang

lebih independen yaitu faktor kapasitas (k’). Faktor kapasitas dihitung dengan

membagi waktu tambat bersih (t’R) dengan waktu hampa (t0) seperti yang dapat

(31)

Faktor kapasitas dipengaruhi oleh perbandingan komposisi fase gerak yang digunakan sehingga akan dihasilkan resolusi dan waktu retensi dari puncak-puncak kromatogram yang berbeda pada setiap perbandingan komposisi fase gerak (Snyder, dkk., 2010).

2.7. Penetapan Kuantitatif

Penambahan suatu standar internal dalam analisis kuantitatif dengan kromatografi gas pada dasarnya dianjurkan. Ini berhubungan dengan suatu zat yang dalam semua larutan sampel berada dalam konsentrasi yang sama. Sebaiknya larutan standar internal dibuat terlebih dahulu dan larutan ini digunakan sebagai pelarut murni pada preparasi sampel. Kemudian larutan standar internal ini dalam jumlah tertentu ditambah kedalam larutan sampel yang akan dianalisis (Putra, 2012).

Tujuan utama dari standar interal adalah untuk mengkoreksi kesalahan dosis (takaran) yang terjadi pada sampel yang diinjeksikan. Karena standar internal terdapat dalam konsentrasi yang sama dalam semua larutan, maka lebar puncak zat yang akan dianalisis dihubungkan dengan lebar puncak dari standar internal. Internal standar harus memiliki sifat:

1. Puncaknya harus terletak pada satu waktu retensi yang padanya tidak terdapat zat-zat lainnya dan sedapat mungkin terletak dekat dengan puncak zat yang akan dianalisis

2. Sebaiknya sifat kimianya sama/mirip dengan zat yang akan dianalisis

(32)

4. Faktor koreksi sedapat mungkin sama besar dengan zat yang akan dianalisis

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah eksperimental yang meliputi penyiapan sampel, ektraksi, pemisahan, esterifikasi dan analisis komponen-komponen minyak ikan secara GC-MS dari ikan nila.

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi USU Medan, pada bulan Februari sampai Juli 2013.

3.2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan adalah Rotary evaporator, Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) model Shimadzu QP 2010, neraca listrik (Mettler Toledo), neraca kasar (Ohaus), lemari pendingin, kertas Whattman no.42, spatula dan alat-alat gelas laboratorium.

3.3.Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah pro analisis keluaran E.Merck kecuali disebutkan lain yaitu, Kloroform, Metanol, Toluena, N-heksan dan akuades.

3.4 Penyiapan Sampel

(34)

3.4.1 Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive yaitu didasarkan pada pertimbangan peneliti (Sudjana, 2002). Sampel dibeli di Desa Kampung Kolam, Kecamatan Pancurbatu Kabupaten Deli Serdang yang merupakan tempat distribusi ikan nila yang dibudidayakan oleh PT.Aquafarm, Danau toba Sumatera Utara.

3.4.2 Pengukuran morfometrik dan Peritungan Rendemen

Sebanyak 5 ekor ikan diukur morfometriknya, meliputi panjang baku (kepala hingga ekor), lebar (jarak dari ujung sisi terluar sirip hingga sisi terluar sirip yang lain), dan tebal (jarak dari bagian doral hingga ventral). Kemudian berat rata-rata ikan diukur, meliputi berat utuh, berat badan, berat kepala, berat jeroan, dan berat sisik. Rendemen ikan dihitung dengan rumus:

Daging ikan di pisahkan kemudian di cincang dan dilakukan analisis selanjutnya (Nurzakiah, 2011).

3.4.3 Pengolahan Sampel

(35)

3.5. Pembuatan Pereaksi

3.5.1. Pereaksi Asam Klorida 35%

Diambil 9,175 ml HCl 37% di adkan dengan akuades sampai 9,7ml.

3.5.2. Pereaksi Asam Klorida 35% dalam Metanol

Diambil 9,7 ml HCl 35% (w/w) dilarutkan dalam 41,5 ml metanol lalu disimpan dalam pendingin. (Ichihara, 2010).

3.6. Ekstraksi Minyak Ikan

Daging ikan dihancurkan dengan menggunakan blender lalu ditimbang. Disoklet dengan menggunakan larutan metanol-kloroform (1:2) sebanyak 750 ml untuk 500 gram daging. Kemudian diambil hasil ekstraksi (filtrat). Diambil lapisan kloroform lalu dirotary evaporator dengan kecepatan skala 4 pada suhu 55°C (Kartal, dkk., 2003).

3.7. Esterifikasi Minyak Ikan

(36)

3.8. Analisis Komponen Eser Asam Lemak Secara GC-MS

Penentuan komponen ester asam lemak yang diperoleh dari daging ikan nila dilakukan di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi USU dengan menggunakan seperangkat alat Gas Cromatography-Mass Spectrometer (GC-MS) Shimadzu QP 2010. Kondisi analisis menggunakan kolom kapiler Rtx-5 MS, panjang 30 m, diameter 0,25 mm, suhu injektor 280°C, gas pembawa Helium dengan laju alir 1,03 ml/menit. Suhu kolom terprogram (temperature programming) dengan suhu awal 60oC selama 5 menit, lalu dinaikkan perlahan-lahan dengan laju kenaikan 8,0oC/menit sampai suhu akhir 300oC yang dipertahankan selama 35 menit.

(37)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Ikan Nila

Ikan nila yang digunakan dalam penelitian ini memiliki ciri berukuran lonjong, berwarna hitam dan putih kemerahan pada bagian abdomen dan memiliki sisik yang tebal. Organ dalam ikan nila terdiri dari organ pencernaan dan pernafasan. Bentuk morfologi ikan nila dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 36.

Pengamatan dilanjutkan dengan pengukuran morfometrik. Pengukuran ini terdiri dari pengukuran panjang, lebar, tebal dan berat ikan nila untuk menentukan rendemen. Hasil rata-rata pengukuran morfometrik dari sampel ikan nila dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

(38)

Pengamatan terhadap karakteristik ikan nila bertujuan untuk menentukan sifat bahan baku yang akan digunakan dalam penelitian. Sifat bahan baku meliputi sifat fisik dan kimia. Sifat fisik yang diamati adalah morfologi, morfometrik dan pengukuran rendemen. Sedangkan sifat kimia yang diamati adalah komponen asam lemak.

4.2 Ektraksi Minyak ikan

Daging ikan diekstraksi dengan larutan metanol-kloroform (1:2) sebanyak 750 ml untuk 500 gram daging. Kemudian diambil lapisan kloroform lalu dimasukkan kedalam alat rotary evaporator untuk memisahkan minyak ikan dari kloroform. Minyak ikan yang diperoleh masih berupa lemak kasar karena bagian yang tertarik bersama dengan kloroform berupa fraksi lipid. Kemudian ekstrak ditimbang dan diukur volumenya. Data hasil ekstraksi minyak ikan dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.

kepala

jeroan

daging

dan lain-lain

(39)

Tabel 4.2. Data hasil ekstraksi minyak ikan dari daging ikan nila segar

Fraksi lipid dalam bahan pangan biasanya dipisahkan dari persenyawaan lain yang terdapat dalam bahan pangan dengan ekstraksi menggunakan pelarut seperti petroleum eter, etil, eter, kloroform atau benzene. Fraksi yang larut disebut lemak kasar. Fraksi tersebut mengandung tidak hanya lemak (true fat) tetapi juga lilin, lipid kompleks misalnya fosfolipid, turunan lipid misalnya sterol, hormon dan minyak menguap. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang rendah yaitu sekitar satu persen atau lebih rendah (ketaren, 2008). Sehingga cara ini dinilai lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan metoda lain. Jumlah rata-rata crude lemak yang diperoleh adalah 4,17%.

4.3 Analisis dengan GC-MS

(40)

Minyak ikan dilarutkan dengan toluen dan metanol lalu diesterifikasi menjadi senyawa metil ester asam lemak. Proses ini dilakukan dengan pemanasan dalam sejumlah besar metanol anhidrat dengan adanya HCl 35% (w/w) dalam metanol sebagai katalisator. Meti ester aam lemak yang larut dalam n-hexan kemudian dianalisis dengan menggunkanan kromatografi gas menggunakan kolom kapiler Rtx-5 yang mengandung fasa diam fenil 5% metil polisiklosan. Hasil analisis dengan GC-MS dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut :

(41)

Tabel 4.3. Komponen Asam Lemak yang Terdapat pada Minyak Ikan Nila 1 16.339 Asam tetradekanoat metil ester

(15:0)

C15H30O2 242 1.48

2 18.699 Asam 9-heksadesenoat metil ester

(17:1, ω-7)

C17H32O2 268 2.79

3 18.953 Asam heksadekanoat metil ester (17:0)

C17H34O2 270 22.30

4 20.999 Asam 9,12-oktadekadienoat asam

(Z,Z) metil ester (19:2, ω-6)

C19H34O2 294 20.87

5 21.059 Asam 9-Oktadesenoat metil ester

(19:1, ω-9)

C19H36O2 296 23.71

6 21.114 Asam 9-Oktadesenoat (Z) metil

ester (19:1, ω-9)

C19H36O2 296 3.05

7 21.329 Asam Oktadekanoat metil ester (19:0)

C19H38O2 298 7.23

8 22.854 Asam 5,8,11,14-eikosa tetraenoat metil ester (21:4, ω-6)

C21H34O2 318 3.21

9 23.036 Asam 9,12,15-oktadekatrienoat

metil ester (19:3, ω-3)

C19H32O2 292 0.69

10 23.227 Asam 9,12-oktadekadienoat (Z,Z)

metil ester (19:2, ω-6) Penggunaan katalisator sangat mempengaruhi terjadinya reaksi kimia. Menurut kartal, Boron triflorida/BF3 14% dalam metanol merupakan katalisator yang

(42)

pengukuran dengan GCMS menunjukan bahwa reaksi esterifikasi yang dilakukan dengan katalisator ini menunjukan hasil yang baik.

4.4 Fragmentasi Hasil Spektrometri Massa Komponen Minyak Ikan Nila

Dari 13 komponen asam lemak, dipilih lima puncak utama untuk fragmentasi hasil spektrometri. Lima puncak utama tersebut adalah:

1. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 18,953 menit

Puncak dengan waktu tambat 18,953 menit mempunyai M+ 270 diikuti fragmen m/z 255, 239, 227, 213, 199, 185, 171, 157, 143, 129, 115, 101, 87, 74, 57, 41, 27. Berdasarkan perbandingan antara spektrum MS unknown dengan data library, maka senyawa ini disimpulkan sebagai Asam hexadecanoat metil ester dengan tingkat kemiripan (similarity index) = 96% dan rumus molekul C17H34O2, dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut:

Gambar 4.3. Data Spektrometri Massa Puncak ke-5

[C17H34O2]+

(43)

Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 270 yang merupakan berat molekul dari C17H34O2. Pelepasan CH4 dan CH3 dari

puncak ion molekul [C17H34O2]+ menghasilkan fragmen [C15H27O2]+ dengan

m/z 239. Pelepasan C menghasilkan fragmen [C14H27O2]+ dengan m/z 227.

Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C13H25O2]+ dengan m/z 213. Pola

fragmentasi dapat dilihat pada Lampiran 6, halaman 48.

2. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 20,999 menit

Puncak dengan waktu tambat 20,999 menit mempunyai M+ 294 diikuti fragmen m/z 263, 164, 150, 136, 123, 109, 95, 81, 67, 55, 41, 29. Berdasarkan perbandingan antara spektrum MS unknown dengan data library, maka senyawa ini disimpulkan sebagai Asam 9,12-octadecadienoat (Z,Z) metil ester dengan tingkat kemiripan (similarity index) = 96% dan rumus molekul C19H34O2, dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut:

Gambar 4.4. Data Spektrometri Massa Puncak ke-6

(44)

Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 294 yang merupakan berat molekul dari C19H34O2. Pelepasan OCH3 dari puncak ion

molekul [C19H34O2]+ menghasilkan fragmen [C18H31O]+ dengan m/z 263.

Pelepasan C6H12O menghasilkan fragmen [C12H19]+ dengan m/z 164. Pelepasan

CH2 menghasilkan fragmen [C11H17]+ dengan m/z 150. Pola fragmentasi dapat

dilihat pada Lampiran 6, halaman 51.

3. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 21,059 menit

Puncak dengan waktu tambat 21,059 menit mempunyai M+ 296 diikuti fragmen m/z 264, 222, 180, 166, 152, 137, 123, 97, 83, 69, 55, 41. Berdasarkan perbandingan antara spektrum MS unknown dengan data library, maka senyawa ini disimpulkan sebagai Asam 9-Octadecenoic metil ester dengan tingkat kemiripan (similarity index) = 95% dan rumus molekul C19H36O2, dapat

dilihat pada Gambar 4.5 berikut:

Gambar 4.5. Data Spektrometri Massa Puncak ke-7

(45)

Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 296 yang merupakan berat molekul dari C19H36O2. Pelepasan CH4Odari puncak ion

molekul [C19H36O2]+ menghasilkan fragmen [C18H32O]+ dengan m/z 264.

Pelepasan C2H2O menghasilkan fragmen [C16H30]+ dengan m/z 222. Pelepasan

C3H6 menghasilkan fragmen [C13H24]+ dengan m/z 180. Pola fragmentasi dapat

dilihat pada Lampiran 6, halaman 54.

4. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 21,329 menit

Puncak dengan waktu tambat 21,329 menit mempunyai M+ 298 diikuti fragmen m/z 267, 255, 241, 213, 199, 185, 171, 157, 143, 129, 115, 101, 87, 74, 57, 43 dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut:

Gambar 4.6. Data Spektrometri Massa Puncak ke-9

[C19H38O2]+

(46)

Berdasarkan perbandingan antara spektrum MS unknown dengan data library, maka senyawa ini disimpulkan sebagai Asam octadecanoat metil ester dengan tingkat kemiripan (similarity index) = 95% dan rumus molekul C19H38O2,

Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+ 298 yang merupakan berat molekul dari C19H38O2. Pelepasan C2H7 dari puncak ion

molekul [C19H38O2]+ menghasilkan fragmen [C17H31O2]+ dengan m/z 267.

Pelepasan C menghasilkan fragmen [C16H31O2]+ dengan m/z 255. Pelepasan

CH2 menghasilkan fragmen [C15H29O2]+ dengan m/z 241. Pola fragmentasi

dapat dilihat pada Lampiran 6, halaman 57.

5. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 24,876 menit

(47)

Gambar 4.7. Data Spektrometri Massa Puncak ke-14

Spektrum massa unknown memberikan puncak ion molekul M+

342 yang merupakan berat molekul dari C23H34O2. Pelepasan C10H17O2

dari puncak ion molekul [C23H34O2]+menghasilkan fragmen [C13H17]+ dengan

m/z 173. Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C12H15]+ dengan m/z 159.

Pelepasan CH2 menghasilkan fragmen [C11H13]+ dengan m/z 145. Pola

fragmentasi dapat dilihat pada Lampiran 6, halaman 61. [C13H17]

+

(48)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Kadar lemak yang terkandung dalam daging ikan nila adalah 4,17 %. b. Komponen asam lemak yang terdapat dalam minyak ikan nila terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh terdiri dari Asam tetradekanoat metil ester (15:0), Asam heksadekanoat metil ester (17:0), Asam oktadekanoat metil ester (19:0). Asam lemak tak jenuh terdiri dari Asam

9,12,15-oktadekatrienoat metil ester (19:3,ω-3), Asam

5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester (21:5,ω-3), Asam

4,7,10,13,16,19-dokosaheksaenoat metil ester (23:6,ω-3), Asam

cis-5,8,11,14,17-eikosapentaenoat metil ester (21:5,ω-3), Asam 5,8,11,14-eikosa

tetraenoat metil ester (21:4,ω-6), Asam 9,12-oktadekadienoat metil

ester (19:2,ω-6), Asam 9,12-oktadekadienoat (Z,Z) metil ester

(19:2,ω-6), Asam 9-oktadesenoat metil ester (19:1,ω-9), Asam

9-oktadesenoat (Z) metil ester (19:1,ω-9) dan Asam 9-heksadesenoat

metil ester (17:1,ω-7).

5.2 Saran

(49)

DAFTAR PUSTAKA Chromatography. Penerjemah: K. Padmawinata. (1991). Pengantar Kromatografi. Edisi III. Bandung: Penerbit ITB. Hal 36-39

Hiltunen, R. (2002). Review: Analysis Fatty Acid by Gas Chromatography, and Its Relevance to Research on Health and Nutrition. Analytical Chimica Acta. 465 : 39-62.

Ichihara K. (2010). Analysis Fatty Acid. J Lipid Res, 51: 635.

Kartal, M., Kurucu, S., Aslan, S., Ozbay,O., Cehyan, T., Sayar, E., Jakarta: Penerbit UI Press. Hal. 1, 45-47, 61-67.

McNair, H., dan Bonelli, E.J. (1988). Basic Gas Chromatography. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. Dasar Kromatografi Gas. Edisi V. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 7-14.

Muchtadi, D. (2012). Pangan Fungsional dan Senyawa Bioaktif. Bandung: Alfabeta. Hal 2.

Nurzakiah. (2011). Komposisi Asam Lemak dan Kolesterol Sotong (Sepia recurvirosta). Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Rohman, A. (2009). Kromatografi Untuk Analisis Obat. Yogyakarta: Graha

Ilmu. Hal.184, 187.

Sastrohamidjojo, H. (1985). Spektroskopi. Yogyakarta : Liberty. Hal.161. Silverstein, R.M., Bassler, G.C., dan Morril, T.C. (1986). Laboratory

(50)

Lampiran 1. Sampel yang digunakan dalam penelitian

(51)

Lampiran 2. Alat yang digunakan

Rotary evaporator

(52)
(53)

Lampiran 3. Perhitungan pengukuran morfometrik dan rendemen

(54)
(55)

= 11,93 %

= 11,93%

= 46,93 %

Ikan 5

Berat utuh : 915 gram

= 12,02 %

= 10,38%

= 46,99 %

Perhitungan rendemen rata-rata pada ikan nila

= 12.32 %

= 10.70%

(56)
(57)

Lampiran 5. Data Spektrometer Massa

1. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 16,339 menit

(58)

3. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 18,953 menit

(59)

5. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 21,059 menit

(60)

7. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 21,329 menit

(61)

9. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 23,036 menit

(62)

11.Puncak dengan waktu tambat (Rt) 24,789 menit

(63)

13.Puncak dengan waktu tambat (Rt) 25,007 menit

(64)

Lampiran 6

Fragmentasi Hasil Spektrometri Massa Komponen Minyak Ikan Nila

1. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 18,953 menit

(65)
(66)
(67)

2. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 20,999 menit

Tabel Fragmentasi 9,12-octadecadienoic acid (Z,Z) methyl ester (C19H34O2) M+ = 294

No M+ Komponen Perhitungan Pelepasan Hasil 1 294 [C19H34O2]+ 294 - 263 = 31 OCH3 [C18H31O]+

2 263 [C18H31O]+ 263 – 164 = 99 C6H12O [C12H19]+

3 164 [C12H19]+ 164 – 150 = 14 CH2 [C11H17]+

4 150 [C11H17]+ 150 – 136 = 14 CH2 [C10H15]+

5 136 [C10H15]+ 136 – 123 = 13 CH [C9H14]+

6 123 [C9H14]+ 123 – 109 = 14 CH2 [C8H12]+

7 109 [C8H12]+ 109 – 95 = 14 CH2 [C7H10]+

8 95 [C7H10]+ 95 – 81 = 14 CH2 [C6H8]+

9 81 [C6H8]+ 81 – 67 = 14 CH2 [C5H6]+

10 67 [C5H6]+ 67 – 55 = 12 C [C4H6]+

11 55 [C4H6]+ 55 – 41 = 14 CH2 [C3H4]+

(68)
(69)
(70)

3. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 21,059 menit

Tabel Fragmentasi 9-Octadecenoic acid methyl ester (C19H36O2) M+ = 296

No M+ Komponen Perhitungan Pelepasan Hasil 1 296 [C19H36O2]+ 296 - 264 = 32 OCH4 [C18H32O]+

2 264 [C18H32O]+ 264 – 222 = 42 C2H2O [C16H30]+

3 222 [C16H30]+ 222 – 180 = 42 C3H6 [C13H24]+

4 180 [C13H24]+ 180 – 166 = 14 CH2 [C12H22]+

5 166 [C12H22]+ 166 – 152 = 14 CH2 [C11H20]+

6 152 [C11H20]+ 152 – 137 = 15 CH3 [C10H17]+

7 137 [C10H17]+ 137 – 123 = 14 CH2 [C9H15]+

8 123 [C9H15]+ 123 – 97 = 26 C2H2 [C7H13]+

9 97 [C7H13]+ 97 – 83 = 14 CH2 [C6H11]+

10 83 [C6H11]+ 83 – 69 = 14 CH2 [C5H9]+

11 69 [C5H9]+ 69 – 55 = 14 CH2 [C4H7]+

(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)

5. Puncak dengan waktu tambat (Rt) 24,876 menit

Tabel Fragmentasi 4,7,10,13,16,19-Docosahexaenoic acid methyl ester (C23H34O2) M+ = 342

No M+ Komponen Perhitungan Pelepasan Hasil 1 342 [C23H34O2]+ 342 - 173 = 169 C10H17O2 [C13H17]+

2 173 [C13H17]+ 173 – 159 = 14 CH2 [C12H15]+

3 159 [C12H15]+ 159 – 145 = 14 CH2 [C11H13]+

4 145 [C11H13]+ 145 – 131 = 14 CH2 [C10H11]+

5 131 [C10H11]+ 131 – 119 = 12 C [C9H11]+

6 119 [C9H11]+ 119 – 105 = 14 CH2 [C8H9]+

7 105 [C8H9]+ 105 – 91 = 14 CH2 [C7H7]+

8 91 [C7H7]+ 91 – 79 = 12 C [C6H7]+

9 79 [C6H7]+ 79 – 67 = 12 C [C5H7]+

10 67 [C5H7]+ 67 – 55 = 12 C [C4H7]+

(78)

Gambar

Gambar 4.2. Profil kromatogram ester asam lemak dari minyak ikan nila
Gambar 4 2 Profil kromatogram ester asam lemak dari minyak ikan nila . View in document p.40
Tabel 4.3. Komponen Asam Lemak yang Terdapat pada Minyak Ikan Nila
Tabel 4 3 Komponen Asam Lemak yang Terdapat pada Minyak Ikan Nila . View in document p.41
Gambar 4.3. Data Spektrometri Massa Puncak ke-5
Gambar 4 3 Data Spektrometri Massa Puncak ke 5 . View in document p.42
Gambar 4.4. Data Spektrometri Massa Puncak ke-6
Gambar 4 4 Data Spektrometri Massa Puncak ke 6 . View in document p.43
Gambar 4.5. Data Spektrometri Massa Puncak ke-7
Gambar 4 5 Data Spektrometri Massa Puncak ke 7 . View in document p.44
Gambar 4.6. Data Spektrometri Massa Puncak ke-9
Gambar 4 6 Data Spektrometri Massa Puncak ke 9 . View in document p.45
Gambar 4.7. Data Spektrometri Massa Puncak ke-14
Gambar 4 7 Data Spektrometri Massa Puncak ke 14 . View in document p.47
Tabel Fragmentasi hexadecanoic acid methyl ester (C17H34O2), M+ = 270
Tabel Fragmentasi hexadecanoic acid methyl ester C17H34O2 M 270 . View in document p.64
Tabel Fragmentasi 9,12-octadecadienoic acid (Z,Z) methyl ester
Tabel Fragmentasi 9 12 octadecadienoic acid Z Z methyl ester . View in document p.67
Tabel Fragmentasi 4,7,10,13,16,19-Docosahexaenoic acid methyl ester
Tabel Fragmentasi 4 7 10 13 16 19 Docosahexaenoic acid methyl ester . View in document p.77

Referensi

Memperbarui...

Download now (78 pages)