Feedback

Uji daya hasil galur kedelai (Glycine max (L.) Merr.) hasil iradiasi sinar gamma di tanah masam

Informasi dokumen
i   UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM FITRIA PUSPA JUWITA A24080176 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM Yield Trial of Soybean (Glycine max (L.) Merr) Lines Gamma Ray Irradiation Produced at Acid Soil Fitria Puspa Juwita1, Trikoesoemaningtyas2, Yudiwanti Wahyu E.K.2 Mahasiswa, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 2 Staf Pengajar, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 1 Abstract Soybean ( Glycine max L. ) is one of the main commodity nuts in Indonesia because it is a source of vegetable protein important to diversify food. The objective of the research was to evaluate the yield of fifteen soybean lines gamma ray irradiation produced with two check varieties, namely Argomulyo as progeny and Tanggamus as drought acid tolerant varieties. The evaluation was aimed to gain information on the performance of agronomic characters of the advanced breeding lines of soybean and to select high yielding lines for released high yield variety soybean acid adaptability. The research conduted at folk’s field in Jasinga subdistrict, Bogor regency, in February 2012 – June 2012 as a part of preface trial. The design used was randomized complete block design (RCBD) with 3 replication. The research result showed that flowering time, harvesting time, number of productive node, number of total pod, number of seed/pod, and 100 seed weight were very significantly different among lines evaluated. Plant height, number of productive branch, number of filled pod, and number of total pod had positive correlated to seed/plant weight. Lines that showed of the good performance for the some characters to influenced the yield were M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13. Keyword : yield trial, soybean, acid adaptability ii   RINGKASAN FITRIA PUSPA JUWITA. Uji Daya Hasil Galur Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Tanah Masam. Dibimbing oleh TRIKOESOEMANINGTYAS dan YUDIWANTI WAHYU E. K. Kedelai (Glycine max L.) merupakan salah satu komoditas utama kacangkacangan di Indonesia karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan pertanaman kedelai dapat diarahkan pada tiga agroekosistem utama, yaitu: lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering. Dengan mempertimbangkan produktivitas yang paling tinggi dan resiko kegagalan yang paling kecil, lahan sawah setelah padi dan lahan kering mempunyai potensi paling besar untuk pengembangan tanaman kedelai. Lahan kering di Indonesia umumnya bertanah masam. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kedelai tanah masam adalah berkurangnya hasil produksi yang diperoleh akibat dari lingkungan yang kurang optimal. Cara yang efektif untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan mengembangkan varietas toleran pada tanah masam melalui program pemuliaan kedelai. Penelitian ini merupakan rangkaian dari penelitian kedelai hasil mutasi dengan menggunakan irradiasi sinar gamma yang bertujuan untuk menghasilkan varietas yang mampu beradaptasi baik pada tanah masam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai dengan Juni 2012 di kebun milik masyarakat di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Laboratorium Penelitian Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan tiga ulangan. Galur harapan kedelai yang terdiri dari 15 galur dan 2 varietas pembanding adalah sebagai perlakuan. Varietas pembanding yaitu Argomulyo sebagai varietas asal dan Tanggamus sebagai pembanding toleran lahan kering masam. Galur - galur yang digunakan adalah M100-29A-42-14, M100-33-6-11,     iii   M100-46-44-6, M100-47-52-13, M100-96-53-6, M150-7B-41-10, M150-29-4410, M150-69-47-4, M150-92-46-4, M200-13-47-7, M200-37-71-4, M200-39-694, M200-58-59-3, M200-93-49-6, dan M200-93-49-13. Kondisi tanaman secara umum menunjukkan keragaan yang baik pada dua ulangan, namun pada satu ulangan keragaannya kurang baik. Pada ulangan tersebut tanaman mengalami kekerdilan, klorosis, bercak daun, diameter batang yang sangat kecil, dan tidak mampu membentuk polong. Hasil analisis tanah pada ulangan tersebut menunjukkan bahwa nilai pH sebesar 4.0 dan konsentrasi Al3+ sebesar 5.38. Oleh karena itu, data dari perlakuan pada ulangan tersebut ditiadakan pada hasil penelitian. Galur – galur kedelai yang diuji pada penelitian ini berbeda sangat nyata pada karakter umur berbunga, umur panen, jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong dan bobot 100 biji. Karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan jumlah polong total berkorelasi positif dan sangat nyata terhadap karakter bobot biji per tanaman. Galur yang menunjukkan penampilan baik untuk beberapa karakter komponen hasil adalah M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13.     i   UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor FITRIA PUSPA JUWITA A24080176 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 ii   LEMBAR PENGESAHAN Judul : UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM Nama : FITRIA PUSPA JUWITA NIM : A24080176 Menyetujui Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, MSc Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu E.K., MS NIP. 19620102 199702 2 001 NIP. 19631107 198811 2 001 Mengetahui: Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr NIP. 196111 198703 1 003 Tanggal Lulus :     iii   RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada 16 April 1991 sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dari Bapak Riduwan dan Ibu Mayda Haryati. Penulis adalah adik dari Noli Kusumawanti AMd.Keb dan Angga Dwi Kurniawan AMd, serta kakak dari Ajeng Madyatri Hartanti. Tahun 2002 penulis lulus dari SDN 02 Petang Kalideres Jakarta, kemudian pada tahun 2005 menyelesaikan studi di SMPN 169 Jakarta. Selanjutnya penulis lulus dari SMAN 84 Jakarta pada tahun 2008. Penulis diterima di IPB pada tahun 2008 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sebagai mahasiswa Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Tahun 2009 aktif dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian (DPM A) dan menjabat sebagai staf badan pengawas BEM. Tahun 2010 penulis mengikuti kegiatan ”IPB Go Field” untuk Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Selain itu penulis juga aktif dalam mengikuti beberapa pelatihan, seminar serta panitia dalam kegiatan mahasiswa. Salah satu pelatihan yang diikuti adalah Latihan Dasar Kemiliteran Resimen Mahasiswa Program Pendidikan Pendahuluan Bela Negara di Gunung Bunder, Bogor pada tahun 2009.     iv   KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat beriring salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia kepada ilmu dan kebaikan. Studi yang berjudul ”Uji Daya Hasil Galur Kedelai (Glycine Max (L.) Merr.) Hasil Irradiasi Sinar Gamma di Tanah Masam” ini merupakan bagian penelitian yang didanai oleh Dirjen Dikti Proyek I-MHERE b2c Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, MSc dan Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu E.K., MS selaku pembimbing skripsi yang telah banyak membantu penulis baik selama penelitian maupun penulisan skripsi. 2. Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran selama pelaksanaan sidang skripsi. 3. Dr. Desta Wirnas, SP, MSi selaku pembimbing akademik yang telah memberikan nasihat - nasihat berharga bagi penulis selama studi. 4. Seluruh keluarga besar penulis atas doa dan dukungannya. 5. Gandhi Satya Mahardika, SP yang telah memberikan semangat, motivasi, bantuan tenaga mulai dari sebelum pelaksanaan penelitian hingga selesai. 6. Mba Siti Marwiyah yang telah membantu penulis dalam kegiatan sebelum penelitian sampai menyusun skripsi. Pak Zaenudin dan Mas Eki yang telah membantu pelaksanaan penelitian di lapang. 7. Sahabat - sahabat penulis, Ratih, Wulan, Dinda, Alma, Hesti, teman - teman Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Tuti, Khusnul, Lela, Saroh, dan Rifa. 8. Teman - teman Kost Putri WJ, Dyla, Dilla, Tipa, Tina, Ferra, Erna, Mba Atik, Mba Santi, Uthu dan Rini yang telah berbagi kebersamaan dan keceriaan. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna dan diterima bagi pihak - pihak yang membutuhkan. Bogor, September 2012     v   DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL …………………………………………………… Vi DAFTAR GAMBAR ………………………………………………… Vii DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………… Viii PENDAHULUAN …………………………………………………… 1 Latar Belakang …………………………………………….. Tujuan Penelitian ………………………………………….. Hipotesis …………………………………………………... 1 3 3 TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………... 4 Botani Tanaman Kedelai ………………………………….. Syarat Tumbuh Kedelai ………………………………….... Toleransi Kedelai terhadap Tanah Masam ……………….. Pemuliaan Tanaman Kedelai …………………………….... Uji Daya Hasil Kedelai ……………………………………. 4 8 9 10 12 BAHAN DAN METODE ……………………………………………. 14 Waktu dan Tempat ………………………………………... Bahan dan Alat ……………………………………………. Rancangan Penelitian ……………………………………... Pelaksanaan Penelitian ……………………………………. Pengamatan Penelitian …………………………………….. Analisis Data ……………………………………………… 14 14 14 15 16 17 HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………… 19 Kondisi Umum ……………………………………………. Keragaan Karakter Agronomi …………………………….. Keragaman Genetik Galur Kedelai M7 …………………… Uji Korelasi Beberapa Karakter Tanaman ……………….. Deskripsi Galur – galur Kedelai Putatif Mutan ………….... 19 23 33 34 37 KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………… 41 Kesimpulan ……………………………………………….. Saran ………………………………………………………. 41 41 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………... 42 LAMPIRAN …………………………………………………………. 46     vi   DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Uraian stadia vegetatif tanaman kedelai ……………….………. 6 2. Uraian stadia generatif tanaman kedelai ……………………….. 7 3. Analisis ragam dan komponen pendugaan ragam …….……….. 18 4. Rekapitulasi nilai tengah, simpangan baku, dan kisaran beberapa karakter agronomi galur kedelai putatif mutan ……… 23 5. Rekapitulasi hasil analisis ragam keragaan karakter agronomi genotipe kedelai ……………………………………..…………. 24 6. Keragaan karakter karakter umur berbunga, umur panen, dan periode pengisian polong genotipe kedelai di tanah masam …... 25 7. Keragaan karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah buku produktif, jumlah polong bernas, dan jumlah polong total genotipe kedelai di tanah masam .....……... 28 8. Keragaan karakter persentase polong isi, jumlah biji per polong, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per petak genotipe kedelai di tanah masam …….………..……………….. 30 9. Nilai komponen ragam, heritabilitas, dan koefisien keragaman genetik (KKG) galur kedelai di tanah masam …………………. 33 10. Hasil uji korelasi Pearson antar karakter pada galur kedelai putatif mutan …………………………………………............... 36 11. Karakteristik sifat kuantitatif genotipe - genotipe kedelai yang diuji …………………………………………………………….. 38     vii   DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Kondisi tanaman kedelai 3 MST dan kondisi tanaman menjelang panen ………………………………........................ 19 2. Hama, penyakit dan gulma pada pertanaman kedelai selama 22 penelitian ………………….…………………………………… 3. Keragaan biji genotipe – genotipe kedelai hasil pertanaman di tanah masam ……….     32 viii   DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Hasil analisis ragam karakter umur berbunga ………………. 47 2. Hasil analisis ragam karakter umur panen ………………….. 47 3. Hasil analisis ragam karakter tinggi tanaman saat panen …... 47 4. Hasil analisis ragam karakter jumlah cabang produktif …….. 47 5. Hasil analisis ragam karakter jumlah buku produktif ………. 48 6. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong bernas ……….. 48 7. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong total ………….. 48 8. Hasil analisis ragam karakter jumlah biji per polong ………. 48 9. Hasil analisis ragam karakter persen polong isi …………….. 49 10. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per tanaman ………. 49 11. Hasil analisis ragam karakter bobot 100 biji ……………….. 49 12. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per petak ……….…. 49 13. Data iklim bulanan BMKG 2012 Darmaga Bogor …………. 50 14. Hasil analisis contoh tanah pertama sebelum tanam kedelai di Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2012 ……………………………………..…….... 51 15. Hasil analisis contoh tanah kedua ………………………...… 52 16. Deskripsi varietas pembanding ……………………………... 53     1   PENDAHULUAN Latar Belakang Kedelai (Glycine max L.) merupakan salah satu komoditas utama kacang kacangan di Indonesia karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Biji kedelai dapat diolah menjadi beberapa produk diantaranya tempe, tahu, susu kedelai, tauco, dan sebagai bahan baku kosmetik. Faktor pertambahan jumlah penduduk, berkembangnya industri pangan dan pakan mengakibatkan kebutuhan kedelai di Indonesia pada 2010 telah mencapai 2.3 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru memenuhi 35 – 40% dari kebutuhan. Pemerintah telah mencanangkan program peningkatan produksi kedelai nasional dan menjadikan tahun 2014 sebagai tahun swasembada kedelai dalam rangka mengurangi ketergantungan impor (Balitbangtan, 2011). Saat ini luas panen kedelai di Indonesia sebesar 622,254 ha dengan hasil panen sebesar 851,286 ton sehingga produktivitas kedelai sebesar 1.368 ton/ha. Kondisi ini lebih kecil dibandingkan luas panen kedelai di Indonesia pada tahun 1993 sebesar 1,468,316 ha dengan hasil panen kedelai sebesar 1,707,126 ton dengan produktivitas hanya sebesar 1.163 ton/ha. Menurut angka ramalan I (ARAM I), diperkirakan luas lahan kedelai berkurang namun terdapat peningkatan produktivitas kedelai. Luas panen yang diperkirakan pada tahun 2012 sebesar 566,693 ha dengan produktivitas sebesar 1.376 ton/ha sehingga produksi kedelai mencapai 779,741 ton (BPS, 2012). Usaha meningkatkan produksi kedelai dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam (Arsyad et al., 2007). Pengembangan pertanaman kedelai dapat diarahkan pada tiga agroekosistem utama, yaitu: lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering. Dengan mempertimbangkan produktivitas yang paling tinggi dan resiko kegagalan yang paling kecil, lahan sawah setelah padi dan lahan kering mempunyai potensi paling besar untuk pengembangan tanaman kedelai (Zaini, 2005).     2   Umumnya lahan kering di Indonesia bertanah masam. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kedelai tanah masam adalah berkurangnya hasil produksi yang diperoleh akibat dari lingkungan yang kurang optimal. Kendala tersebut dapat diatasi dan dikendalikan dengan melakukan pengapuran pada lahan, namun cara tersebut kurang ekonomis dan dapat dan menimbulkan pencemaran tanah. Cara yang lebih efektif adalah dengan mengembangkan varietas toleran pada tanah masam melalui program pemuliaan kedelai. Saat ini terdapat 7 varietas unggul kedelai adaptif lahan kering masam, yaitu varietas Slamet, Sindoro, Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai dan Seulawah. Daya hasil varietas-varietas tersebut 2.2 – 2.5 ton/ha pada lahan kering agak masam (pH 5.5, Al 30 - 35%). Varietas tersebut umumnya berumur sedang (86 93 hari). Enam varietas berukuran biji sedang (10.5 – 12.7g/100 biji) dan satu varietas (Seulawah) berbiji kecil (9.5/100 biji). Tiga varietas yaitu Nanti, Ratai dan Seulawah tahan penyakit karat, sedangkan empat varietas yaitu Tanggamus, Nanti, Ratai dan Seulawah toleran kekeringan (Balitkabi, 2010). Perakitan varietas toleran tanah masam juga dilakukan dengan meradiasi massa sel somatik varietas Wilis, Slamet dan Sindoro dengan sinar gamma 0 dan 400 rad, yang kemudian diseleksi pada pH 4 dan Al dengan taraf 0 – 500 ppm (Mariska et al., 2001). Iswari (2002) melakukan penelitian mengenai produktivitas kedelai pada tanah masam di Jasinga memperoleh kisaran hasil di bawah produktivitas nasional yaitu 0.53-1.18 ton/ha. Pada lokakarya tahun 1976 Lewis telah menemukan empat tingkatan ketepatan penelitian bagi pengungkapan aspek genetik pada masalah cekaman tanah mineral, yaitu (1) penyaringan dan pengujian di lapang, (2) penyaringan di laboratorium disertai studi genetik, (3) studi fisiologi tentang interaksi genotipe dengan cekaman, dan (4) studi pada tingkat sel dan molekuler (Makmur, 2003). Arsyad et al. (2007) menyatakan bahwa upaya peningkatan keragaman genetik kedelai dapat dilakukan melalui introduksi, persilangan, transformasi genetik dan mutasi.     3   Salah satu tujuan program pemuliaan kedelai ini adalah untuk memperoleh varietas yang beradaptasi baik pada kondisi tanah masam. Untuk itu dilakukan penelitian uji daya hasil galur - galur harapan kedelai hasil dari irradiasi sinar gamma di lahan kering bertanah masam dengan tujuan untuk memperoleh keragaan karakter agronomi. Galur yang digunakan pada penelitian ini adalah generasi M7 dari hasil irradiasi Sinar Gamma varietas Argomulyo dengan dosis 50, 100,150 dan 200 Gy. Diperoleh 4 populasi hasil irradiasi yang dikembangkan sampai M4 dengan seleksi pedigree untuk karakter agronomi dan daya hasil tinggi. Pada generasi M5 dilakukan seleksi untuk toleransi terhadap kekeringan di rumah plastik dan terpilih 50 galur. Kelima puluh galur M6 kemudian ditanam di lahan kering bertanah masam di Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan diseleksi 25 galur paling toleran. Pada penelitian ini 15 galur generasi M7 terpilih dievaluasi dalam uji daya hasil lanjutan untuk memperoleh galur kedelai adaptasi tanah masam dengan daya hasil yang tinggi. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah menguji daya hasil galur - galur kedelai hasil irradiasi sinar gamma sebagai bagian uji daya hasil lanjutan. Selain itu, pengujian tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai keragaan karakter agronomi galur - galur hasil irradiasi sinar gamma di tanah masam. Hipotesis Hipotesis yang diajukan untuk penelitian ini adalah : 1. Terdapat perbedaan keragaan karakter agronomi di antara galur - galur yang diuji di tanah masam. 2. Terdapat perbedaan hasil dari galur - galur yang diuji di tanah masam. 3. Terdapat galur kedelai putatif mutan yang memiliki penampilan baik untuk beberapa komponen hasil.     4   TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kedelai Pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta Classis : Dicotyledoneae Ordo : Rosales Familia : Papilionaceae Genus : Glycine Species : Glycine max (L.) Merill Tanaman kedelai yang dibudidayakan merupakan tanaman tegak, bersemak dan berdaun banyak. Apabila tanaman kedelai memiliki ruang tumbuh yang cukup, tanaman akan membentuk cabang yang sedalam–dalamnya (Poehlman, 1959). Adie dan Krisnawati (2007) menambahkan bahwa karakteristik kedelai yang dibudidayakan (Glycine max L. Merril) di Indonesia merupakan tanaman semusim, tanaman tegak dengan tinggi 40 - 90 cm, bercabang, memiliki daun tunggal dan daun bertiga, bulu pada daun dan polong tidak terlalu padat dan umur tanaman antara 72 - 90 hari. Kedelai introduksi umumnya tidak memiliki atau memiliki sangat sedikit percabangan dan sebagian bertrikoma padat baik pada daun maupun polong. Biji berkembang dalam waktu yang lama beberapa hari setelah pembuahan. Perpanjangan dimulai sekitar 5 hari dan panjang maksimum didapatkan setelah 15 – 20 hari. Pembelahan sel pada kotiledon terjadi dua minggu setelah pembuahan. Perkembangan kotiledon yang cepat ditandai dengan akumulasi berat protein dan lemak (Shibels et al., 1975). Biji merupakan komponen morfologi kedelai yang bernilai ekonomis (Adie dan Krisnawati, 2007). Jumlah biji per polong pada kedelai berkisar 1 – 5 biji, umumnya varietas kedelai yang dipasarkan memiliki 2 atau 3 biji per polong. Ukuran biji kedelai     5   sangat bervariasi yang dapat diukur dari bobot 100 biji. Kisaran bobot 100 biji kedelai adalah 5 – 35 g (Poehlman, 1959). Pengelompokan ukuran biji kedelai berbeda antar negara, di Indonesia kedelai dikelompokkan berukuran besar (bobot > 14 g/100 biji), sedang (10 - 14 g/100 biji), dan kecil (< 10 g/100 biji). Biji sebagian besar dilapisi oleh kulit biji (testa). Antara kulit biji dan kotiledon terdapat lapisan endosperm (Adie dan Krisnawati, 2007). Sistem perakaran pada kedelai terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar sekunder yang tersusun dalam empat barisan sepanjang akar tunggang, cabang akar sekunder, dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Bintil akar pertama terlihat 10 hari setelah tanam. Umumnya sistem perakaran terdiri dari akar lateral yang berkembang 10 - 15 cm di atas akar tunggang. Dalam berbagai kondisi, sistem perakaran terletak 15 cm di atas akar tunggang, tetap berfungsi mengapsorpsi dan mendukung kehidupan tanaman (Adie dan Krisnawati, 2007). Akar lateral kedelai muncul 3 – 7 hari setelah berkecambah. Sebulan kemudian akar primer muncul sepanjang 45 – 60 cm (Shibels et al., 1975). Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji masak. Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio, yang berbatasan dengan bagian ujung bawah permulaan akar yang menyusun bagian kecil dari poros bakal akar hipokotil. Bagian atas poros embrio berakhir pada epikotil yang terdiri dari dua daun sederhana, yaitu primordial daun bertiga pertama dan ujung batang. Sistem perakaran di atas hipokotil berasal dari epikotil dan tunas aksilar. Pola percabangan akar dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan, seperti panjang hari, jarak tanam, dan kesuburan tanah (Adie dan Krisnawati, 2007). Daun kedelai terbagi menjadi empat tipe, yaitu kotiledon atau daun biji, dua helai daun primer sederhana, daun bertiga, dan profila. Bentuk daun kedelai adalah lancip, bulat, dan lonjong, serta terdapat perpaduan bentuk daun misalnya antara lonjong dan lancip. Sebagian besar bentuk daun kedelai yang ada di Indonesia adalah berbentuk lonjong dan hanya terdapat satu varietas (Argopuro) berdaun lancip (Adie dan Krisnawati, 2007).     6   Kedelai merupakan tanaman menyerbuk sendiri yang bersifat kleistogami. Polen dari anter jatuh langsung pada stigma bunga yang sama. Bunga membuka pada pagi hari tetapi terlambat membuka pada cuaca yang dingin (Poehlman and Sleper, 1995). Periode berbunga dipengaruhi oleh waktu tanam, berlangsung 3 - 5 minggu. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tidak semua bunga kedelai berhasil membentuk polong, dengan tingkat keguguran 20 - 80%. Umumnya varietas dengan banyak bunga per buku memiliki persentase keguguran bunga yang lebih tinggi daripada yang berbunga sedikit. (Adie dan Krisnawati, 2007). Pertumbuhan tanaman dibagi dalam dua fase (stadia) yakni fase vegetatif dan fase generatif (reproduktif). Fase vegetatif dilambangkan dengan huruf V, sedangkan fase generatif atau reproduktif dengan huruf R. a) Stadia pertumbuhan vegetatif Fase vegetatif (V) diawali pada saat tanaman muncul dari tanah dan kotiledon belum membuka (Ve). Jika kotiledon telah membuka dan diikuti oleh membukanya daun tunggal (unifoliat) maka dikategorikan fase kotiledon (Vc). Penandaan fase vegetatif berikutnya berdasarkan pada membukanya daun bertiga (trifoliat) sekaligus menunjukkan posisi buku yang dihitung dari atas tanaman pada batang utama. (Adie dan Krisnawati, 2007). Tabel 1. Uraian stadia vegetatif tanaman kedelai Stadium Ve Vc V1 V2 Tingkat stadium Stadium pemunculan Stadium kotiledon Stadium buku pertama Stadium buku kedua V3 Stadium buku ketiga Vn Stadium buku ke-n Uraian Kotiledon muncul dari dalam tanah Daun unifoliat berkembang Daun terurai pada buku unifiloat Daun bertiga yang terurai penuh pada buku diatas buku unifoliat Tiga buah buku pada batang utama dengan daun terurai penuh n buku pada batang utama dengan daun terurai penuh Sumber : Hidajat (1985)     7   b) Stadia pertumbuhan reproduktif Stadia pertumbuhan reproduktif (generatif) dihitung sejak tanaman kedelai mulai berbunga sampai pembentukan polong, perkembangan biji, dan pemasakan biji. Tabel 2. Uraian stadia generatif tanaman kedelai Stadium R1 Tingkatan stadium Mulai berbunga R2 Berbunga penuh R3 Mulai berpolong R4 Berpolong penuh R5 Mulai berbiji R6 Berbiji penuh R7 Mulai matang R8 Matang penuh Uraian Bunga terbuka pertama pada buku manapun di batang utama Bunga terbuka pada salah satu dari dua buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh Polong sepanjang 5 mm pada salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Polong sepanjang 2 cm pada salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Biji sebesar 3 mm dalam polong di salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Polong berisi satu biji hijau di salah atu dari 4 buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh Satu polong pada batang utama telah mencapai warna polong matang 95% polong telah mencapai warna polong matang Sumber : Hidajat (1985) Uraian stadia vegetatif dan generatif dapat terlihat pada Tabel 1 dan 2 dimana tanaman kedelai memiliki dua periode tumbuh, yaitu stadia vegetatif dan generatif. Stadia vegetatif tergantung genotipe dan lingkungan, terutama panjang hari dan suhu. Di daerah tropis, stadia vegetatif sebagian besar kultivar berkisar antara 4 - 5 minggu. Periode vegetatif dihitung sejak tanaman muncul dari dalam tanah. Setelah stadia kotiledon, penandaan stadia vegetatif berdasarkan jumlah     8   buku. Stadia generatif dinyatakan sejak waktu berbunga hingga perkembangan polong, perkembangan biji, dan saat matang biji (Hidajat, 1985). Pertumbuhan tanaman kedelai selain dibagi atas dasar lamanya periode vegetatif dan generatif, juga dapat dibedakan berdasarkan batang dan bunga. Maka dari itu tipe pertumbuhan kedelai terdiri dari tipe determinit, indeterminit dan semi-determiniit. Pada tipe determinit, pertumbuhan vegetatif berhenti setelah fase berbunga, buku bagian atas mengeluarkan bunga pertama, batang tanaman teratas cenderung berukuran sama dengan batang bagian tengah sehingga pada kondisi normal batang tidak melilit. Tipe indeterminit, pertumbuhan vegetatif berlanjut setelah fase berbunga, buku bagian bawah mengeluarkan bunga pertama, batang tanaman teratas cenderung berukuran lebih kecil dengan batang bagian tengah sehingga pada kondisi normal batang melilit. Varietas kedelai yang ada di Indonesia umumnya bertipe tumbuh determinit (Adie dan Krisnawati, 2007). Syarat Tumbuh Kedelai Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100 - 400 mm/bulan. Untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100 - 200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki tanaman kedelai antara 21 – 34 oC, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman kedelai 23 – 27 oC. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 oC. Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0.5 - 300 m dpl. Varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300 - 500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl (Prihatman, 2000). Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan usaha produksi kedelai adalah faktor iklim (suhu, sinar matahari, curah dan distribusi hujan), dan kesuburan fisiko-kimia tanah dan biologi tanah (solum, tekstur, pH, ketersediaan hara, kelembaban tanah, bahan organik dalam tanah, drainase dan aerasi tanah, serta mikroba tanah). Rhizobium sp. yang hidup pada akar bersimbiosis dengan     9   tanaman kedelai sangat penting bagi pertumbuhan kedelai. Rhizobium sp. umumnya memiliki persyaratan hidup yang sama dengan persyaratan tumbuh kedelai (Sumarno dan Manshuri, 2007). Bakteri penambat nitrogen dalam tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah seperti tekstur tanah dan kelembaban tanah. Tanah yang tergenang mengurangi bintil akar kedelai sekitar 15% (Norman et al., 1995). Genotipe (varietas) kedelai memiliki persyaratan adaptasi spesifik walaupun pada suatu lingkungan ditentukan oleh interaksi antar genotipe dengan lingkungan. Varietas kedelai dari wilayah subtropik tidak tumbuh atau berproduksi optimal pada lingkungan tumbuh terbaik di Indonesia. Lingkungan tumbuh yang sangat sesuai bukan jaminan mutlak untuk keberhasilan usaha produksi kedelai. Mutu benih, waktu tanam, pengendalian OPT, pengelolaan tanaman yang optimal merupakan hal yang sama penting dengan lingkungan tumbuh yang sesuai (Sumarno dan Manshuri, 2007). Toleransi Kedelai terhadap Tanah Masam Penyebaran tanah kering di Indonesia sekitar 60 % luas lahannya ditempati oleh tanah bereaksi masam (Hairiah et al., 2005). Dengan demikian, jelaslah bahwa potensi tanah masam sangat besar untuk pembangunan pertanian, baik masa kini maupun masa mendatang. Sejak awal tahun 1970, tanah masam di Indonesia telah dimanfaatkan untuk keperluan transmigrasi dan sekaligus untuk pembangunan pertanian, baik untuk tanaman pangan maupun untuk tanaman perkebunan dan kehutanan. Tanah masam dicirikan oleh pH yang rendah (F 20%). Berdasarkan tabel 9, karakter yang termasuk ke dalam KKG sempit adalah umur panen, tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, persentase polong isi, dan bobot 100 biji. Karakter yang termasuk ke dalam KKG sedang adalah umur berbunga, jumlah polong bernas dan bobot biji per tanaman, sedangkan karakter yang termasuk ke dalam kriteria KKG luas adalah jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong, dan bobot biji per petak. Uji Korelasi Beberapa Karakter Tanaman Dalam perakitan varietas unggul perlu diketahui hubungan antar sifat tanaman. Apabila seleksi dilakukan pada suatu sifat, maka perlu diketahui pengaruhnya terhadap sifat lain (Arsyad et al., 2007). Uji korelasi merupakan pengujian untuk mengetahui hubungan keeratan antara dua peubah atau lebih. Koefisien korelasi adalah koefisien yang menggambarkan tingkat keeratan hubungan linier antara dua peubah atau lebih. Koefisien korelasi sering dinotasikan dengan r dan nilainya berkisar antara -1 dan 1 (-1 ≤ r ≤ 1), nilai r yang mendekati 1 atau -1 menunjukkan semakin erat hubungan linier antara kedua peubah tersebut. Sedangkan nilai r yang mendekati nol menggambarkan hubungan kedua peubah tersebut tidak linier (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Nilai korelasi positif maupun negatif berada pada taraf sangat nyata (P < 0.01), taraf nyata (0.01 < P < 0.05) dan taraf tidak nyata (P > 0.05) (Gomez dan Gomez, 1995).     35   Hasil korelasi menunjukkan bahwa karakter - karakter yang diuji memiliki nilai korelasi yang beragam. Karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan jumlah polong total berkorelasi positif dan sangat nyata terhadap karakter bobot biji per tanaman (Tabel 10). Hasil korelasi ini sejalan dengan penelitian Prasetyo (2010) bahwa koefisien korelasi pada karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah buku produktif, jumlah polong bernas dan jumlah polong total menunjukkan korelasi yang positif dan nyata atau sangat nyata terhadap bobot biji per tanaman. Hal ini berarti bahwa perbaikan dan pemilihan kriteria pada karakter tersebut dapat meningkatkan hasil bobot biji per tanaman. Karakter bobot biji per petak berkorelasi positif sangat nyata dan nyata terhadap karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan bobot biji per tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan bobot biji per tanaman akan meningkatkan hasil bobot biji per petak.     36   Tabel 10. Hasil uji korelasi Pearson antar karakter pada galur kedelai putatif mutan UB 0.696** UP (0.000) 0.190 TTSP (0.282) -0.254 JCP (0.147) 0.014 JBP (0.936) -0.007 JPB (0.969) -0.030 JPT (0.868) -0.127 JBPP (0.475) -0.566** % PI (0.000) -0.359* BB/Tan (0.037) -0.708** BSB (0.000) -0.208 BB/Ptk (0.238) UP TTSP JCP 0.116 (0.515) 0.047 (0.790) 0.126 (0.476) 0.161 (0.364) 0.005 (0.978) -0.221 (0.209) -0.746** (0.000) -0.156 (0.378) -0.547** (0.001) -0.203 (0.249) 0.558** (0.001) 0.400* (0.019) 0.759** (0.000) 0.228 (0.194) -0.015 (0.931) 0.251 (0.153) 0.472** (0.005) -0.397* (0.020) 0.457** (0.007) 0.466** (0.005) 0.854** (0.000) 0.278 (0.112) 0.068 (0.704) 0.338* (0.050) 0.860** (0.000) 0.072 (0.688) 0.627** (0.000) JBP 0.454** (0.007) -0.601** (0.000) -0.796** (0.000) 0.129 (0.468) 0.297 (0.088) -0.274 (0.117) 0.307 (0.077) JPB JPT 0.398* (0.020) 0.084 (0.635) 0.167 (0.345) 0.837** (0.000) -0.223 (0.205) 0.576** (0.000) 0.915** (0.000) -0.059 (0.742) 0.464** (0.006) 0.161 (0.364) 0.254 (0.147) JBPP % PI BB/Tan BSB 0.068 (0.702) 0.278 (0.112) 0.323 (0.062) 0.155 (0.381) 0.304 (0.080) 0.337 (0.051) 0.279 (0.110) 0.275 (0.115) 0.753** (0.000) 0.321 (0.064) Keterangan : *) UB = Umur Berbunga, UP = Umur Panen, TTSP = Tinggi Tanaman Saat Panen, JCP = Jumlah Cabang Produktif, Jumlah Buku Produktif, JPB, Jumlah Polong Bernas, JPT = Jumlah Polong Total, JBPP = Jumlah Biji per Polong, % PI = Persentase Polong Isi, BB/Tan = Bobot Biji per Tanaman, BSB = Bobot 100 Biji, BB/Ptk = Bobot Biji per Petak. **) Nilai dalam kurung menunjukkan nilai peluang koefisien korelasi diatasnya; angka yang diikuti dengan ** = berbeda sangat nyata pada α = 1%, * = berbeda nyata pada α = 5%     37   Deskripsi Galur - Galur Kedelai Putatif Mutan Galur - galur yang diuji pada penelitian ini adalah galur hasil irradiasi sinar gamma dosis rendah pada varietas Argomulyo dengan dosis 50 Gy, 100 Gy, 150 Gy, dan 200 Gy generasi M7. Diperoleh 4 populasi hasil irradiasi yang dikembangkan sampai M4 dengan seleksi pedigree untuk karakter agronomi dan daya hasil tinggi. Pada generasi M5 dilakukan seleksi untuk toleransi terhadap kekeringan di rumah plastik dan terpilih 50 galur. Kelima puluh galur M6 kemudian ditanam di lahan kering bertanah masam di Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan diseleksi 25 galur paling toleran. Untuk penelitian ini 15 galur M7 terpilih dievaluasi dalam uji daya hasil lanjutan untuk memperoleh galur kedelai adaptasi tanah masam dengan daya hasil yang tinggi. Galur - galur pada penelitian ini memiliki warna hipokotil ungu. Tipe tumbuh semua galur adalah determinit dengan bentuk percabangan agak tegaktegak hingga agak tegak. Galur - galur tersebut memiliki warna bunga yang sama yaitu ungu dan menghasilkan kecerahan kulit biji yang tidak mengkilap. Namun pada galur M100-33-6-11 memiliki kecerahan kulit biji yang mengkilap. Karakteristik sifat kuantitatif galur - galur yang diuji terdapat pada Tabel 11. Arsyad et al. (2007) menjelaskan bahwa pengembangan varietas - varietas kedelai yang beradaptasi baik pada lahan yang kurang subur (kandungan hara makro rendah), misalnya lahan masam dengan kandungan aluminium dan mangan tinggi, umur sedang, tahan hama dan penyakit utama, sifat agronomis baik, dan mutu biji yang baik. Tipe tanaman ideal (plant-ideotype) yang berdaya hasil tinggi dan dianggap sesuai adalah memiliki umur berbunga 40 - 45 hari, umur masak 90 - 95 hari, tipe tumbuh semi-determinate, tinggi tanaman 80 - 100 cm, percabangan banyak (5 - 6 cabang), daun berukuran sedang dan berwarna hijau, batang kokoh (tidak rebah), polong tidak mudah pecah pada cuaca panas, biji berukuran sedang (12 g/100 biji), bulat, dan berwarna kuning. Seleksi merupakan tindakan yang terpenting dari kegiatan pemuliaan tanaman, karena dari seleksi akan dihasilkan populasi tanaman yang unggul. Seleksi dapat dilaksanakan berdasarkan satu kriteria atau berdasarkan sejumlah kriteria atau karakter. Berdasarkan kriteria seleksi yang digunakan, seleksi dapat dibagi atas seleksi langsung dan tidak langsung. Seleksi langsung adalah seleksi     38   Tabel 11. Karakteristik sifat kuantitatif genotipe - genotipe kedelai yang diuji Galur M100-29A-42-14 M100-33-6-11 M100-46-44-6 M100-47-52-13 M100-96-53-6 M150-7B-41-10 M150-29-44-10 M150-69-47-4 M150-92-46-4 M200-13-47-7 M200-37-71-4 M200-39-69-4 M200-58-59-3 M200-93-49-6 M200-93-49-13 Tanggamus Argomulyo Umur Berbunga (HST) 29.5 27.0 27.0 27.0 28.0 26.0 25.5 26.0 25.5 26.0 28.0 27.0 27.0 26.0 27.0 39.0 32.0 Umur Panen (HST) 75.0 85.0 75.0 76.5 75.0 75.0 78.0 75.0 75.0 75.0 75.0 76.5 75.0 75.0 75.0 94.0 75.0 Karakter Tinggi Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Tanaman Cabang Buku Polong Polong (cm) Produktif Produktif Bernas Total 27.1 2.0 8.0 14.8 15.4 33.4 2.7 8.5 24.7 25.8 28.1 1.6 7.5 15.4 15.7 28.5 2.1 7.9 15.6 16.1 29.3 2.1 8.5 18.6 19.3 26.1 1.3 6.5 10.1 10.4 28.4 2.4 8.1 18.1 18.3 33.0 2.5 8.8 23.1 24.0 26.4 2.1 7.9 14.9 15.5 25.8 1.8 6.6 10.6 11.2 25.2 1.5 7.3 11.9 12.2 24.8 1.8 7.2 13.5 13.8 26.8 1.9 8.2 17.7 17.8 30.1 2.0 8.0 18.6 19.6 28.5 2.0 8.2 17.4 18.3 37.2 1.8 8.8 22.3 25.4 27.7 1.0 5.4 7.0 7.0     Jumlah Biji/ Polong 2.3 2.1 2.4 2.3 2.5 2.2 2.2 2.2 2.4 2.2 2.2 2.1 2.3 2.2 2.4 1.9 2.4 Bobot Biji/ Tanaman (g) 4.82 6.13 5.04 4.77 6.13 2.63 5.50 5.94 4.94 3.49 3.80 4.05 5.30 5.09 6.08 3.64 1.84 Bobot 100 Biji (g) 14.14 13.48 14.13 13.94 14.07 12.71 14.11 12.60 14.03 14.72 14.99 14.58 14.23 12.87 15.27 9.10 12.02 Bobot Biji/ Petak (g) 377.82 327.17 250.37 284.34 348.56 144.77 217.99 219.00 224.95 163.82 226.07 169.63 222.29 223.02 264.33 170.47 117.18 39   yang dilakukan atas karakter yang dituju seperti bobot biji per tanaman atau hasil panen per plot. Seleksi tidak langsung adalah seleksi yang dilakukan terhadap suatu karakter lain yang berhubungan karakter yang akan diperbaiki seperti seleksi terhadap jumlah polong per tanaman yang dilakukan untuk memperbaiki bobot biji per tanaman. Berdasarkan hasil penelitian Wirnas et al. (2006), bahwa karakter jumlah cabang, jumlah buku total, jumlah polong isi, jumlah polong total, dan persentase polong isi dapat digunakan untuk membentuk indeks seleksi dalam rangka pengembangan kedelai berdaya hasil tinggi. Karakter yang digunakan sebagai kriteria seleksi untuk daya hasil selain berkorelasi positif dengan daya hasil, juga harus memiliki nilai heritabilitas yang tinggi sehingga akan diwariskan pada generasi berikutnya. Dengan demikian perlu dipilih karakter yang mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi. Galur - galur yang terbaik yang direkomendasikan untuk dilakukan uji daya hasil lanjutan berdasarkan karakter agronomi dan karakternya lebih baik dari pembanding dan sesuai untuk tanah masam adalah M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13. Galur tersebut memiliki jumlah buku produktif dan jumlah polong total yang lebih tinggi dari varietas asal yaitu varietas Argomulyo, serta jumlah biji per polong dan bobot 100 biji yang lebih tinggi dari pembanding toleran lahan kering masam yaitu varietas Tanggamus. Galur tersebut memiliki ukuran biji sedang hingga besar. Galur M100-33-6-11 memiliki umur berbunga 27 HST dan umur panen 85 HST. Bobot biji per tanamannya merupakan bobot biji per tanaman tertinggi dibandingkan dengan galur lainnya yaitu 6.13 gram per tanaman. Ukuran biji sedang yaitu 13.48 gram/100 biji. Tinggi tanaman pada galur ini juga mencapai tinggi tanaman tertinggi dibandingkan dengan galur lainnya yaitu 33.4 cm dengan jumlah cabang produktif dan jumlah polong total terbanyak masing-masing sebesar 2.7 dan 25.8. Galur M100-96-53-6 memiliki umur berbunga 28 HST dan umur panen 75 HST. Tinggi tanaman pada galur ini mencapai 29.3 cm. Bobot biji per tanamannya sama dengan galur M100-33-6-11 yaitu sebesar 6.13 gram per tanaman dengan ukuran biji besar yaitu 14.07 gram/100 gram.     40   Galur M200-93-49-13 memiliki umur berbunga 27 HST dan umur panen 75 HST. Tinggi tanaman galur ini mencapai 28.5 cm dengan jumlah buku produktif 8.2 dan jumlah polong total 18.3. Bobot biji per tanaman sebesar 6.08 gram per tanaman dengan ukuran biji paling besar yaitu 15.27 gram/100 biji. Galur – galur kedelai putatif mutan terpilih tersebut memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding. Namun hasil yang didapatkan masih tergolong lebih rendah dari produksi kedelai di lahan subur atau optimum. Maka dari itu, perlu adanya uji daya hasil galur kedelai lanjutan di lahan optimum. Hal ini bertujuan untuk melihat potensi hasil galur – galur tersebut pada kondisi optimum.     41   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan pada penelitian ini yaitu : 1. Galur – galur kedelai putatif mutan menunjukkan perbedaan keragaan terhadap karakter umur berbunga, umur panen, jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong dan bobot 100 biji. Galur tidak berpengaruh nyata terhadap karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, persen polong isi, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per petak. 2. Semua galur kedelai putatif mutan menghasilkan bobot biji per petak yang lebih besar daripada nilai tengah pembanding Argomulyo sebagai varietas asal galur - galur tersebut ataupun Tanggamus sebagai pembanding toleran lahan masam. 3. Galur yang menunjukkan penampilan baik untuk beberapa karakter komponen hasil adalah galur M100-33-6-11, galur M100-96-53-6, dan galur M200-93-49-13. Saran Penelitian kedelai di tanah masam harus menetapkan faktor pembatas dan memperhatikan kondisi tanah yang akan diuji terutama pada pH dan kandungan Al yang terdapat pada lahan. Galur – galur M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13 disarankan diuji lebih lanjut dalam uji multilokasi dan uji kualitas nutrisi yang terkandung serta uji ketahanan penyakit yang selanjutnya akan direkomendasikan sebagai varietas baru kedelai adaptasi lahan masam karena menunjukkan penampilan yang baik. 42   DAFTAR PUSTAKA Abdurachman, A., A. Mulyani, dan Irawan. 2007. Sumber daya lahan untuk kedelai di Indonesia, hal 168 - 184. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Adie, M. M., dan A. Krisnawati. 2007. Biologi tanaman kedelai, hal 45 - 73. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Alnopri. 2004. Variabilitas genetik dan heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan bibit tujuh genotipe kopi robusta-arabica. Jurnal Ilmu - Ilmu Pertanian Indonesia 6(2):91-96. Arief, V. N. 2001. Uji Pendahuluan Genotipe - Genotipe Kedelai Hasil Seleksi In Vitro terhadap Cekaman Aluminium dan pH Rendah. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 59 hal. Arsyad, D. M. dan M. Syam. 2000. Varietas unggul dan strategi pemuliaan kedelai di Indonesia, hal. 39 - 42. Dalam L.W. Gunawan, N. Sunarlim, T. Handayani, B. Soegiarto, W. Adil, B. Priyanto dan Suwarno (Eds). Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Direktorat Teknologi Lingkungan. Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pendidikan, Sains, Riset dan Teknologi Jerman. Arsyad, D. M., M. M. Adie, dan H. Kuswantoro. 2007. Perakitan varietas unggul kedelai spesifik agroekologi, hal 205-228. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Atman. 2006. Pengelolaan tanaman kedelai di lahan kering masam. Jurnal Ilmiah Tambua V(3):281-287. Balitbangtan. 2011. SL-PTT kedelai untuk tingkatkan produksi kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. http://www.litbang.deptan.go.id. [14 Oktober 2011]. Balitkabi. 2010. Varietas unggul kedelai adaptif lahan sawah, lahan kering masam dan lahan rawa pasang surut. Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. http://ftp.pustaka-deptan.go.id/bppi. [18 Oktober 2011].     43   BMKG. 2012. Data Iklim Bogor Tahun 2012. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor. Bogor BPS. 2012. Tabel luas panen produktivitas produksi tanaman kedelai seluruh provinsi. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Jakarta. http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php. [24 Juli 2012]. Gomez, K.A., dan A. A. Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian. Edisi kedua. Penerjemah E. Sjamsudin dan J. E. Baharsjah. Statistical Procedure for Agriculture Research. UI-PRESS. Jakarta. 698 hal. Hairiah, K, Widianto, dan D. Suprayogo. 2005. Dapatkah pengembangan budidaya tanaman pangan pada tanah masam selaras dengan konsep pertanian sehat?, hal 87 – 115. Dalam A. K. Makarim, Suharsono, D. M. Arsyad, T. Adisarwanto, Marwoto, dan N. Saleh (Eds). Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai di Lahan Sub-optimal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Malang. Hermanto, W.H. Adil, D. Sadikin., dan E. Hikmat. 2002. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija 2001-2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman pangan (P3TP). Balitbangtan. 39 hal. Hidajat, O.O. 1985. Morfologi tanaman kedelai. Hal 73 - 86. Dalam S. Somaatmaja, M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O. Manurung dan Yuswadi (Eds.). Kedelai. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. Iswari, R. A. 2002. Studi Pemanfaatan Limbah Mud cake sebagai Substitusi Kapur Pertanian dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 35 hal. Makarim, A.K. 2006. Cekaman Abiotik Utama dalam Peningkatan Produktivitas Tanaman. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Bioteknologi untuk Mengatasi Cekaman Abiotik pada Tanaman. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Hal 1-11. Makmur, A. 2003. Pemuliaan Tanaman Bagi Lingkungan Spesifik. IPB Press. Bogor. 53 hal. Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar - Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta. 182 hal.     44   Mariska, I., S. Hutami, M. Kosmiatin dan W. H. Adil. 2001. Regenerasi massa sel embrionik kedelai setelah diseleksi pada kondisi Al berbeda dan pH rendah. Berita Puslitbangtan 20:1-3. Marwoto dan S. Hardaningsih. 2007. Pengendalian hama terpadu pada tanaman kedelai, hal 296 - 318. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Mattjik, A. A., dan I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. IPB Press. Bogor. 276 hal. Norman, M. J. T., C. J. Pearson,and P. G. E. Searle. 1995. The Ecology of Tropical Food Crops. Cambridge University Press. Cambridge. 430 p. Poehlman, J. and D. A. Sleper. 1996. Field Crops Fourth Edition. Iowa State University Press. USA. 494 p. Poehlman, J. M. 1959. Breeding Soybeans, p 221 - 240. In H. T. Croasdale (Ed). Breeding Field Crops. University of Missouri. New York. Poespodarsono, S. 1988. Dasar – Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Insitut Pertanian Bogor. Bogor. 169 hal. PPVT. 2007. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Kedelai. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta. Prasetyo, D. 2010. Uji Daya Hasil Lanjutan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Toleran Naungan di Bawah Tegakan Karet Rakyat di Provinsi Jambi. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hal. Prihatman, K. 2000. Kedelai (Glycine max L.). Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesaan, Proyek PEMD, BAPPENAS. Sadjad, S. 2006. Benih yang Membawa dan Dibawa Perubahan. IPB Press. Bogor. Shibels, R. M, I. F. Wardlaw and R. A. Fischer. 1975. Soybean, p 151 – 190. In Evan L. T. (Ed). Crop Physiology some case histories. Cambridge University Press. New York. Somaatmadja, S. 1985. Peningkatan produksi kedelai melalui perakitan varietas, hal 243 – 259. Dalam M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O. Manurung, dan Yuswadi, (Eds). Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.     45   Stansfield, W. D. 1983. Theory and Problems of Genetics. Second edition. Mc. Graw-Hill, New York. 417 p. Subadra, I. S. 2004. Pengujian Generasi Ke-enam Nomor - nomor Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Harapan untuk Ketahanan terhadap Tanah Masam. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 70 hal. Sumarno dan Harnoto. 1983. Kedelai dan Cara Bercocok Tanamnya. Buletin Teknik No. 6. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 53 hal. Sumarno dan A. G. Manshuri. 2007. Persyaratan Tumbuh dan Wilayah Produksi Kedelai di Indonesia, hal 74-103. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Sunihardi, Yunastri, dan S. Kurniasih. 1999. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija 1993-1998. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman pangan (P3TP). Balitbangtan. Hal. 28. Wirnas, D., I. Widodo, Sobir, Trikoesoemaningtyas, dan D. Sopandie. 2006. Pemilihan karakter agronomi untuk menyusun indeks seleksi pada 11 populasi kedelai generasi F6. Buletin Agron. 34(1):19-24. Zaini, Z. 2005. Prospek pengembangan kedelai di lahan kering masam, hal 47 54. Dalam A. K. Makarim, Suharsono, D. M. Arsyad, T. Adisarwanto, Marwoto, dan N. Saleh (Eds). Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai di Lahan Sub-optimal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Malang.      46   LAMPIRAN     47   Lampiran 1. Hasil analisis ragam karakter umur berbunga Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 3.46% DB 16 1 16 33 JK 346.76 10.62 14.88 372.26 KT 21.67 10.62 0.93 F-Hit Pr>F 23.30** 11.42** F 4.08** 0.95 0.0038 0.3432 Rataan 77.05 Lampiran 3. Hasil analisis ragam karakter tinggi tanaman saat panen Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 19.35% DB 16 1 16 33 JK 344.22 72.85 490.67 907.74 KT F-Hit 21.51 72.85 30.67 0.70 2.38 Pr>F 0.7569 0.1428 Rataan 28.62 Lampiran 4. Hasil analisis ragam karakter jumlah cabang produktif Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 33.55% DB 16 1 16 33 JK 5.83 0.52 6.58 12.93 KT F-Hit 0.36 0.52 0.41 1.26 0.89     Pr>F 0.2780 0.5936 Rataan 1.91 48   Lampiran 5. Hasil analisis ragam karakter jumlah buku produktif Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 15.77% DB 16 1 16 33 JK 110.93 0.05 21.30 132.28 KT 6.93 0.05 1.33 F-Hit Pr>F 5.21** 0.04 0.0010 0.8492 Rataan 7.31 Lampiran 6. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong bernas Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 34.92% DB 16 1 16 33 JK KT F-Hit 725.69 45.35 0.34 0.34 511.71 31.98 1237.74 1.42 0.01 Pr>F 0.2463 0.92 Rataan 16.19 Lampiran 7. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong total Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 24.29% DB 16 1 16 33 JK KT F-Hit Pr>F 12237.49 764.84 4.01 4.01 428.59 26.79 12670.10 28.55** 0.15 F 26.24** 0.86 F 0.6975 0.6069 Rataan 96.06 Lampiran 10. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per tanaman Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 30.93% DB 16 1 16 33 JK 50.24 0.005 33.24 83.48 KT F-Hit 3.14 0.005 2.07 1.51 0.00 Pr>F 0.2088 0.9608 Rataan 4.66 Lampiran 11. Hasil analisis ragam karakter bobot seratus biji Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 5.59% DB 16 1 16 33 JK 67.49 1.98 9.25 78.72 KT 4.22 1.98 0.58 F-Hit Pr>F 7.29** 3.43 0.0001 0.0826 Rataan 13.58 Lampiran 12. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per petak Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 32.91% DB 16 1 16 33 JK KT 163540.59 10221.29 1.75 18363.32 18363.32 3.14 93653.96 5853.37 275557.87     F-Hit Pr>F 0.1377 0.0956 Rataan 232.45 50   Lampiran 13. Data iklim bulanan BMKG 2012 Darmaga Bogor Bulan Temperatur Rata-Rata (oC) Kelembaban Rata-Rata (%) 25.6 26.1 26.0 26.1 26.2 130 26 26.1 25.6 87 85 86 85 79 422 84.4 87 85 Februari Maret April Mei Juni Jumlah Rataan Maksimum Minimum Hari Hujan (Hari) 12 13 13 9 10 57 11.4 13 9 Curah Hujan (mm) 204 167 362 206 132 1071 214.2 362 167 Keterangan : Curah Hujan dan Hari Hujan ditakar di perkebunan Jasinga Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor Lokasi : Klimatologi Bogor Elevasi : 190 m Lokasi : 06.33 LS 106.45 BT     51   Lampiran 14. Hasil analisis contoh tanah pertama sebelum tanam kedelai di Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2012 52   Lampiran 15. Hasil analisis contoh tanah kedua     53   Lampiran 16. Deskripsi varietas pembanding 1. Argomulyo Nama Varietas : Argo Mulyo Asal : Introduksi dari Thailand, oleh PT Nestle Indonesia pada tahun 1988, dengan nama asal Nakhon Sawan I Warna hipokotil : Ungu Warna bunga : Ungu Warna biji : Kuning Warna hilum biji : Putih terang Warna bulu : Coklat Tipe tumbuh : Determinate Tinggi tanaman : 40 cm Percabangan : 3-4 cabang dari batang utama Umur mulai berbunga : 35 hari Umur saat panen : 80-82 hari Kerebahan : Tahan rebah Kandungan minyak biji : 20,8% Kandungan protein biji : 39,4% Daya hasil : 1,5-2 ton/ha Ketahanan terhadap penyakit : Toleran terhadap penyakit karat Keteranngan : Sesuai untuk bahan baku susu kedelai Pemulia : Rodiah S., C. Ismail, Gatot Sunyoto, dan Sumarno Penyedia Breeder Seed : BPTP Karangploso, Malang Tahun dilepas : 1998 Sumber : Sunihardi, Yunastri, dan S. Kurniasih (1999) 54   2. Tanggamus Nama Varietas : Tanggamus Tahun pelepasan : 2001 SK Mentan : 536/Kpts/TP.240/10/2001 Nomor induk : K3911-66 Warna hipokotil : Ungu Warna epikotil : Hijau Kotiledon : Kuning Asal : Persilangan tunggal (Single cross) antara Kerinci x No. 3911 Umur berbunga : 35 hari Warna bunga : Ungu Warna biji : Kuning Warna hilum biji : Coklat tua Warna polong masak : Coklat Warna bulu : Coklat Tinggi tanaman : 67 cm Tipe tumbuh : Determinate Bentuk daun : Lanceolate Umur panen : 88 hari Hasil Rata - rata : 1,5 ton/ha Bentuk biji : Oval Ukuran biji : Sedang Percabangan : 3 – 4 cabang Jumlah polong/tanaman : 47 Bobot 100 biji : 11,0 gr Ketahanan penyakit : Moderat terhadap penyakit karat daun Kadar lemak : 12,9% Kadar protein :44,5% Kadar air : 6,1% Kerebahan : Tahan     55   Pecah polong : Tahan Wilayah adaptasi : Lahan kering masam Pemulia : Darman M. Arsyad, M. Muchlis Adie, Heru Kuswantoro, Purwantoro Sumber : Hermanto, W.H. Adil, D. Sadikin., E. Hikmat (2002)     UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM Yield Trial of Soybean (Glycine max (L.) Merr) Lines Gamma Ray Irradiation Produced at Acid Soil Fitria Puspa Juwita1, Trikoesoemaningtyas2, Yudiwanti Wahyu E.K.2 Mahasiswa, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 2 Staf Pengajar, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 1 Abstract Soybean ( Glycine max L. ) is one of the main commodity nuts in Indonesia because it is a source of vegetable protein important to diversify food. The objective of the research was to evaluate the yield of fifteen soybean lines gamma ray irradiation produced with two check varieties, namely Argomulyo as progeny and Tanggamus as drought acid tolerant varieties. The evaluation was aimed to gain information on the performance of agronomic characters of the advanced breeding lines of soybean and to select high yielding lines for released high yield variety soybean acid adaptability. The research conduted at folk’s field in Jasinga subdistrict, Bogor regency, in February 2012 – June 2012 as a part of preface trial. The design used was randomized complete block design (RCBD) with 3 replication. The research result showed that flowering time, harvesting time, number of productive node, number of total pod, number of seed/pod, and 100 seed weight were very significantly different among lines evaluated. Plant height, number of productive branch, number of filled pod, and number of total pod had positive correlated to seed/plant weight. Lines that showed of the good performance for the some characters to influenced the yield were M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13. Keyword : yield trial, soybean, acid adaptability ii   RINGKASAN FITRIA PUSPA JUWITA. Uji Daya Hasil Galur Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Tanah Masam. Dibimbing oleh TRIKOESOEMANINGTYAS dan YUDIWANTI WAHYU E. K. Kedelai (Glycine max L.) merupakan salah satu komoditas utama kacangkacangan di Indonesia karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan pertanaman kedelai dapat diarahkan pada tiga agroekosistem utama, yaitu: lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering. Dengan mempertimbangkan produktivitas yang paling tinggi dan resiko kegagalan yang paling kecil, lahan sawah setelah padi dan lahan kering mempunyai potensi paling besar untuk pengembangan tanaman kedelai. Lahan kering di Indonesia umumnya bertanah masam. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kedelai tanah masam adalah berkurangnya hasil produksi yang diperoleh akibat dari lingkungan yang kurang optimal. Cara yang efektif untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan mengembangkan varietas toleran pada tanah masam melalui program pemuliaan kedelai. Penelitian ini merupakan rangkaian dari penelitian kedelai hasil mutasi dengan menggunakan irradiasi sinar gamma yang bertujuan untuk menghasilkan varietas yang mampu beradaptasi baik pada tanah masam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai dengan Juni 2012 di kebun milik masyarakat di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Laboratorium Penelitian Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan tiga ulangan. Galur harapan kedelai yang terdiri dari 15 galur dan 2 varietas pembanding adalah sebagai perlakuan. Varietas pembanding yaitu Argomulyo sebagai varietas asal dan Tanggamus sebagai pembanding toleran lahan kering masam. Galur - galur yang digunakan adalah M100-29A-42-14, M100-33-6-11,     iii   M100-46-44-6, M100-47-52-13, M100-96-53-6, M150-7B-41-10, M150-29-4410, M150-69-47-4, M150-92-46-4, M200-13-47-7, M200-37-71-4, M200-39-694, M200-58-59-3, M200-93-49-6, dan M200-93-49-13. Kondisi tanaman secara umum menunjukkan keragaan yang baik pada dua ulangan, namun pada satu ulangan keragaannya kurang baik. Pada ulangan tersebut tanaman mengalami kekerdilan, klorosis, bercak daun, diameter batang yang sangat kecil, dan tidak mampu membentuk polong. Hasil analisis tanah pada ulangan tersebut menunjukkan bahwa nilai pH sebesar 4.0 dan konsentrasi Al3+ sebesar 5.38. Oleh karena itu, data dari perlakuan pada ulangan tersebut ditiadakan pada hasil penelitian. Galur – galur kedelai yang diuji pada penelitian ini berbeda sangat nyata pada karakter umur berbunga, umur panen, jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong dan bobot 100 biji. Karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan jumlah polong total berkorelasi positif dan sangat nyata terhadap karakter bobot biji per tanaman. Galur yang menunjukkan penampilan baik untuk beberapa karakter komponen hasil adalah M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13.     1   PENDAHULUAN Latar Belakang Kedelai (Glycine max L.) merupakan salah satu komoditas utama kacang kacangan di Indonesia karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Biji kedelai dapat diolah menjadi beberapa produk diantaranya tempe, tahu, susu kedelai, tauco, dan sebagai bahan baku kosmetik. Faktor pertambahan jumlah penduduk, berkembangnya industri pangan dan pakan mengakibatkan kebutuhan kedelai di Indonesia pada 2010 telah mencapai 2.3 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru memenuhi 35 – 40% dari kebutuhan. Pemerintah telah mencanangkan program peningkatan produksi kedelai nasional dan menjadikan tahun 2014 sebagai tahun swasembada kedelai dalam rangka mengurangi ketergantungan impor (Balitbangtan, 2011). Saat ini luas panen kedelai di Indonesia sebesar 622,254 ha dengan hasil panen sebesar 851,286 ton sehingga produktivitas kedelai sebesar 1.368 ton/ha. Kondisi ini lebih kecil dibandingkan luas panen kedelai di Indonesia pada tahun 1993 sebesar 1,468,316 ha dengan hasil panen kedelai sebesar 1,707,126 ton dengan produktivitas hanya sebesar 1.163 ton/ha. Menurut angka ramalan I (ARAM I), diperkirakan luas lahan kedelai berkurang namun terdapat peningkatan produktivitas kedelai. Luas panen yang diperkirakan pada tahun 2012 sebesar 566,693 ha dengan produktivitas sebesar 1.376 ton/ha sehingga produksi kedelai mencapai 779,741 ton (BPS, 2012). Usaha meningkatkan produksi kedelai dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam (Arsyad et al., 2007). Pengembangan pertanaman kedelai dapat diarahkan pada tiga agroekosistem utama, yaitu: lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering. Dengan mempertimbangkan produktivitas yang paling tinggi dan resiko kegagalan yang paling kecil, lahan sawah setelah padi dan lahan kering mempunyai potensi paling besar untuk pengembangan tanaman kedelai (Zaini, 2005).     2   Umumnya lahan kering di Indonesia bertanah masam. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kedelai tanah masam adalah berkurangnya hasil produksi yang diperoleh akibat dari lingkungan yang kurang optimal. Kendala tersebut dapat diatasi dan dikendalikan dengan melakukan pengapuran pada lahan, namun cara tersebut kurang ekonomis dan dapat dan menimbulkan pencemaran tanah. Cara yang lebih efektif adalah dengan mengembangkan varietas toleran pada tanah masam melalui program pemuliaan kedelai. Saat ini terdapat 7 varietas unggul kedelai adaptif lahan kering masam, yaitu varietas Slamet, Sindoro, Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai dan Seulawah. Daya hasil varietas-varietas tersebut 2.2 – 2.5 ton/ha pada lahan kering agak masam (pH 5.5, Al 30 - 35%). Varietas tersebut umumnya berumur sedang (86 93 hari). Enam varietas berukuran biji sedang (10.5 – 12.7g/100 biji) dan satu varietas (Seulawah) berbiji kecil (9.5/100 biji). Tiga varietas yaitu Nanti, Ratai dan Seulawah tahan penyakit karat, sedangkan empat varietas yaitu Tanggamus, Nanti, Ratai dan Seulawah toleran kekeringan (Balitkabi, 2010). Perakitan varietas toleran tanah masam juga dilakukan dengan meradiasi massa sel somatik varietas Wilis, Slamet dan Sindoro dengan sinar gamma 0 dan 400 rad, yang kemudian diseleksi pada pH 4 dan Al dengan taraf 0 – 500 ppm (Mariska et al., 2001). Iswari (2002) melakukan penelitian mengenai produktivitas kedelai pada tanah masam di Jasinga memperoleh kisaran hasil di bawah produktivitas nasional yaitu 0.53-1.18 ton/ha. Pada lokakarya tahun 1976 Lewis telah menemukan empat tingkatan ketepatan penelitian bagi pengungkapan aspek genetik pada masalah cekaman tanah mineral, yaitu (1) penyaringan dan pengujian di lapang, (2) penyaringan di laboratorium disertai studi genetik, (3) studi fisiologi tentang interaksi genotipe dengan cekaman, dan (4) studi pada tingkat sel dan molekuler (Makmur, 2003). Arsyad et al. (2007) menyatakan bahwa upaya peningkatan keragaman genetik kedelai dapat dilakukan melalui introduksi, persilangan, transformasi genetik dan mutasi.     3   Salah satu tujuan program pemuliaan kedelai ini adalah untuk memperoleh varietas yang beradaptasi baik pada kondisi tanah masam. Untuk itu dilakukan penelitian uji daya hasil galur - galur harapan kedelai hasil dari irradiasi sinar gamma di lahan kering bertanah masam dengan tujuan untuk memperoleh keragaan karakter agronomi. Galur yang digunakan pada penelitian ini adalah generasi M7 dari hasil irradiasi Sinar Gamma varietas Argomulyo dengan dosis 50, 100,150 dan 200 Gy. Diperoleh 4 populasi hasil irradiasi yang dikembangkan sampai M4 dengan seleksi pedigree untuk karakter agronomi dan daya hasil tinggi. Pada generasi M5 dilakukan seleksi untuk toleransi terhadap kekeringan di rumah plastik dan terpilih 50 galur. Kelima puluh galur M6 kemudian ditanam di lahan kering bertanah masam di Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan diseleksi 25 galur paling toleran. Pada penelitian ini 15 galur generasi M7 terpilih dievaluasi dalam uji daya hasil lanjutan untuk memperoleh galur kedelai adaptasi tanah masam dengan daya hasil yang tinggi. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah menguji daya hasil galur - galur kedelai hasil irradiasi sinar gamma sebagai bagian uji daya hasil lanjutan. Selain itu, pengujian tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai keragaan karakter agronomi galur - galur hasil irradiasi sinar gamma di tanah masam. Hipotesis Hipotesis yang diajukan untuk penelitian ini adalah : 1. Terdapat perbedaan keragaan karakter agronomi di antara galur - galur yang diuji di tanah masam. 2. Terdapat perbedaan hasil dari galur - galur yang diuji di tanah masam. 3. Terdapat galur kedelai putatif mutan yang memiliki penampilan baik untuk beberapa komponen hasil.     4   TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kedelai Pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta Classis : Dicotyledoneae Ordo : Rosales Familia : Papilionaceae Genus : Glycine Species : Glycine max (L.) Merill Tanaman kedelai yang dibudidayakan merupakan tanaman tegak, bersemak dan berdaun banyak. Apabila tanaman kedelai memiliki ruang tumbuh yang cukup, tanaman akan membentuk cabang yang sedalam–dalamnya (Poehlman, 1959). Adie dan Krisnawati (2007) menambahkan bahwa karakteristik kedelai yang dibudidayakan (Glycine max L. Merril) di Indonesia merupakan tanaman semusim, tanaman tegak dengan tinggi 40 - 90 cm, bercabang, memiliki daun tunggal dan daun bertiga, bulu pada daun dan polong tidak terlalu padat dan umur tanaman antara 72 - 90 hari. Kedelai introduksi umumnya tidak memiliki atau memiliki sangat sedikit percabangan dan sebagian bertrikoma padat baik pada daun maupun polong. Biji berkembang dalam waktu yang lama beberapa hari setelah pembuahan. Perpanjangan dimulai sekitar 5 hari dan panjang maksimum didapatkan setelah 15 – 20 hari. Pembelahan sel pada kotiledon terjadi dua minggu setelah pembuahan. Perkembangan kotiledon yang cepat ditandai dengan akumulasi berat protein dan lemak (Shibels et al., 1975). Biji merupakan komponen morfologi kedelai yang bernilai ekonomis (Adie dan Krisnawati, 2007). Jumlah biji per polong pada kedelai berkisar 1 – 5 biji, umumnya varietas kedelai yang dipasarkan memiliki 2 atau 3 biji per polong. Ukuran biji kedelai     5   sangat bervariasi yang dapat diukur dari bobot 100 biji. Kisaran bobot 100 biji kedelai adalah 5 – 35 g (Poehlman, 1959). Pengelompokan ukuran biji kedelai berbeda antar negara, di Indonesia kedelai dikelompokkan berukuran besar (bobot > 14 g/100 biji), sedang (10 - 14 g/100 biji), dan kecil (< 10 g/100 biji). Biji sebagian besar dilapisi oleh kulit biji (testa). Antara kulit biji dan kotiledon terdapat lapisan endosperm (Adie dan Krisnawati, 2007). Sistem perakaran pada kedelai terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar sekunder yang tersusun dalam empat barisan sepanjang akar tunggang, cabang akar sekunder, dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Bintil akar pertama terlihat 10 hari setelah tanam. Umumnya sistem perakaran terdiri dari akar lateral yang berkembang 10 - 15 cm di atas akar tunggang. Dalam berbagai kondisi, sistem perakaran terletak 15 cm di atas akar tunggang, tetap berfungsi mengapsorpsi dan mendukung kehidupan tanaman (Adie dan Krisnawati, 2007). Akar lateral kedelai muncul 3 – 7 hari setelah berkecambah. Sebulan kemudian akar primer muncul sepanjang 45 – 60 cm (Shibels et al., 1975). Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji masak. Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio, yang berbatasan dengan bagian ujung bawah permulaan akar yang menyusun bagian kecil dari poros bakal akar hipokotil. Bagian atas poros embrio berakhir pada epikotil yang terdiri dari dua daun sederhana, yaitu primordial daun bertiga pertama dan ujung batang. Sistem perakaran di atas hipokotil berasal dari epikotil dan tunas aksilar. Pola percabangan akar dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan, seperti panjang hari, jarak tanam, dan kesuburan tanah (Adie dan Krisnawati, 2007). Daun kedelai terbagi menjadi empat tipe, yaitu kotiledon atau daun biji, dua helai daun primer sederhana, daun bertiga, dan profila. Bentuk daun kedelai adalah lancip, bulat, dan lonjong, serta terdapat perpaduan bentuk daun misalnya antara lonjong dan lancip. Sebagian besar bentuk daun kedelai yang ada di Indonesia adalah berbentuk lonjong dan hanya terdapat satu varietas (Argopuro) berdaun lancip (Adie dan Krisnawati, 2007).     6   Kedelai merupakan tanaman menyerbuk sendiri yang bersifat kleistogami. Polen dari anter jatuh langsung pada stigma bunga yang sama. Bunga membuka pada pagi hari tetapi terlambat membuka pada cuaca yang dingin (Poehlman and Sleper, 1995). Periode berbunga dipengaruhi oleh waktu tanam, berlangsung 3 - 5 minggu. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tidak semua bunga kedelai berhasil membentuk polong, dengan tingkat keguguran 20 - 80%. Umumnya varietas dengan banyak bunga per buku memiliki persentase keguguran bunga yang lebih tinggi daripada yang berbunga sedikit. (Adie dan Krisnawati, 2007). Pertumbuhan tanaman dibagi dalam dua fase (stadia) yakni fase vegetatif dan fase generatif (reproduktif). Fase vegetatif dilambangkan dengan huruf V, sedangkan fase generatif atau reproduktif dengan huruf R. a) Stadia pertumbuhan vegetatif Fase vegetatif (V) diawali pada saat tanaman muncul dari tanah dan kotiledon belum membuka (Ve). Jika kotiledon telah membuka dan diikuti oleh membukanya daun tunggal (unifoliat) maka dikategorikan fase kotiledon (Vc). Penandaan fase vegetatif berikutnya berdasarkan pada membukanya daun bertiga (trifoliat) sekaligus menunjukkan posisi buku yang dihitung dari atas tanaman pada batang utama. (Adie dan Krisnawati, 2007). Tabel 1. Uraian stadia vegetatif tanaman kedelai Stadium Ve Vc V1 V2 Tingkat stadium Stadium pemunculan Stadium kotiledon Stadium buku pertama Stadium buku kedua V3 Stadium buku ketiga Vn Stadium buku ke-n Uraian Kotiledon muncul dari dalam tanah Daun unifoliat berkembang Daun terurai pada buku unifiloat Daun bertiga yang terurai penuh pada buku diatas buku unifoliat Tiga buah buku pada batang utama dengan daun terurai penuh n buku pada batang utama dengan daun terurai penuh Sumber : Hidajat (1985)     7   b) Stadia pertumbuhan reproduktif Stadia pertumbuhan reproduktif (generatif) dihitung sejak tanaman kedelai mulai berbunga sampai pembentukan polong, perkembangan biji, dan pemasakan biji. Tabel 2. Uraian stadia generatif tanaman kedelai Stadium R1 Tingkatan stadium Mulai berbunga R2 Berbunga penuh R3 Mulai berpolong R4 Berpolong penuh R5 Mulai berbiji R6 Berbiji penuh R7 Mulai matang R8 Matang penuh Uraian Bunga terbuka pertama pada buku manapun di batang utama Bunga terbuka pada salah satu dari dua buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh Polong sepanjang 5 mm pada salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Polong sepanjang 2 cm pada salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Biji sebesar 3 mm dalam polong di salah satu dari 4 buku teratas batang utama dengan daun terbuka penuh Polong berisi satu biji hijau di salah atu dari 4 buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh Satu polong pada batang utama telah mencapai warna polong matang 95% polong telah mencapai warna polong matang Sumber : Hidajat (1985) Uraian stadia vegetatif dan generatif dapat terlihat pada Tabel 1 dan 2 dimana tanaman kedelai memiliki dua periode tumbuh, yaitu stadia vegetatif dan generatif. Stadia vegetatif tergantung genotipe dan lingkungan, terutama panjang hari dan suhu. Di daerah tropis, stadia vegetatif sebagian besar kultivar berkisar antara 4 - 5 minggu. Periode vegetatif dihitung sejak tanaman muncul dari dalam tanah. Setelah stadia kotiledon, penandaan stadia vegetatif berdasarkan jumlah     8   buku. Stadia generatif dinyatakan sejak waktu berbunga hingga perkembangan polong, perkembangan biji, dan saat matang biji (Hidajat, 1985). Pertumbuhan tanaman kedelai selain dibagi atas dasar lamanya periode vegetatif dan generatif, juga dapat dibedakan berdasarkan batang dan bunga. Maka dari itu tipe pertumbuhan kedelai terdiri dari tipe determinit, indeterminit dan semi-determiniit. Pada tipe determinit, pertumbuhan vegetatif berhenti setelah fase berbunga, buku bagian atas mengeluarkan bunga pertama, batang tanaman teratas cenderung berukuran sama dengan batang bagian tengah sehingga pada kondisi normal batang tidak melilit. Tipe indeterminit, pertumbuhan vegetatif berlanjut setelah fase berbunga, buku bagian bawah mengeluarkan bunga pertama, batang tanaman teratas cenderung berukuran lebih kecil dengan batang bagian tengah sehingga pada kondisi normal batang melilit. Varietas kedelai yang ada di Indonesia umumnya bertipe tumbuh determinit (Adie dan Krisnawati, 2007). Syarat Tumbuh Kedelai Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100 - 400 mm/bulan. Untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100 - 200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki tanaman kedelai antara 21 – 34 oC, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman kedelai 23 – 27 oC. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 oC. Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0.5 - 300 m dpl. Varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300 - 500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl (Prihatman, 2000). Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan usaha produksi kedelai adalah faktor iklim (suhu, sinar matahari, curah dan distribusi hujan), dan kesuburan fisiko-kimia tanah dan biologi tanah (solum, tekstur, pH, ketersediaan hara, kelembaban tanah, bahan organik dalam tanah, drainase dan aerasi tanah, serta mikroba tanah). Rhizobium sp. yang hidup pada akar bersimbiosis dengan     9   tanaman kedelai sangat penting bagi pertumbuhan kedelai. Rhizobium sp. umumnya memiliki persyaratan hidup yang sama dengan persyaratan tumbuh kedelai (Sumarno dan Manshuri, 2007). Bakteri penambat nitrogen dalam tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah seperti tekstur tanah dan kelembaban tanah. Tanah yang tergenang mengurangi bintil akar kedelai sekitar 15% (Norman et al., 1995). Genotipe (varietas) kedelai memiliki persyaratan adaptasi spesifik walaupun pada suatu lingkungan ditentukan oleh interaksi antar genotipe dengan lingkungan. Varietas kedelai dari wilayah subtropik tidak tumbuh atau berproduksi optimal pada lingkungan tumbuh terbaik di Indonesia. Lingkungan tumbuh yang sangat sesuai bukan jaminan mutlak untuk keberhasilan usaha produksi kedelai. Mutu benih, waktu tanam, pengendalian OPT, pengelolaan tanaman yang optimal merupakan hal yang sama penting dengan lingkungan tumbuh yang sesuai (Sumarno dan Manshuri, 2007). Toleransi Kedelai terhadap Tanah Masam Penyebaran tanah kering di Indonesia sekitar 60 % luas lahannya ditempati oleh tanah bereaksi masam (Hairiah et al., 2005). Dengan demikian, jelaslah bahwa potensi tanah masam sangat besar untuk pembangunan pertanian, baik masa kini maupun masa mendatang. Sejak awal tahun 1970, tanah masam di Indonesia telah dimanfaatkan untuk keperluan transmigrasi dan sekaligus untuk pembangunan pertanian, baik untuk tanaman pangan maupun untuk tanaman perkebunan dan kehutanan. Tanah masam dicirikan oleh pH yang rendah (F 20%). Berdasarkan tabel 9, karakter yang termasuk ke dalam KKG sempit adalah umur panen, tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, persentase polong isi, dan bobot 100 biji. Karakter yang termasuk ke dalam KKG sedang adalah umur berbunga, jumlah polong bernas dan bobot biji per tanaman, sedangkan karakter yang termasuk ke dalam kriteria KKG luas adalah jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong, dan bobot biji per petak. Uji Korelasi Beberapa Karakter Tanaman Dalam perakitan varietas unggul perlu diketahui hubungan antar sifat tanaman. Apabila seleksi dilakukan pada suatu sifat, maka perlu diketahui pengaruhnya terhadap sifat lain (Arsyad et al., 2007). Uji korelasi merupakan pengujian untuk mengetahui hubungan keeratan antara dua peubah atau lebih. Koefisien korelasi adalah koefisien yang menggambarkan tingkat keeratan hubungan linier antara dua peubah atau lebih. Koefisien korelasi sering dinotasikan dengan r dan nilainya berkisar antara -1 dan 1 (-1 ≤ r ≤ 1), nilai r yang mendekati 1 atau -1 menunjukkan semakin erat hubungan linier antara kedua peubah tersebut. Sedangkan nilai r yang mendekati nol menggambarkan hubungan kedua peubah tersebut tidak linier (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Nilai korelasi positif maupun negatif berada pada taraf sangat nyata (P < 0.01), taraf nyata (0.01 < P < 0.05) dan taraf tidak nyata (P > 0.05) (Gomez dan Gomez, 1995).     35   Hasil korelasi menunjukkan bahwa karakter - karakter yang diuji memiliki nilai korelasi yang beragam. Karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan jumlah polong total berkorelasi positif dan sangat nyata terhadap karakter bobot biji per tanaman (Tabel 10). Hasil korelasi ini sejalan dengan penelitian Prasetyo (2010) bahwa koefisien korelasi pada karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah buku produktif, jumlah polong bernas dan jumlah polong total menunjukkan korelasi yang positif dan nyata atau sangat nyata terhadap bobot biji per tanaman. Hal ini berarti bahwa perbaikan dan pemilihan kriteria pada karakter tersebut dapat meningkatkan hasil bobot biji per tanaman. Karakter bobot biji per petak berkorelasi positif sangat nyata dan nyata terhadap karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, dan bobot biji per tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan bobot biji per tanaman akan meningkatkan hasil bobot biji per petak.     36   Tabel 10. Hasil uji korelasi Pearson antar karakter pada galur kedelai putatif mutan UB 0.696** UP (0.000) 0.190 TTSP (0.282) -0.254 JCP (0.147) 0.014 JBP (0.936) -0.007 JPB (0.969) -0.030 JPT (0.868) -0.127 JBPP (0.475) -0.566** % PI (0.000) -0.359* BB/Tan (0.037) -0.708** BSB (0.000) -0.208 BB/Ptk (0.238) UP TTSP JCP 0.116 (0.515) 0.047 (0.790) 0.126 (0.476) 0.161 (0.364) 0.005 (0.978) -0.221 (0.209) -0.746** (0.000) -0.156 (0.378) -0.547** (0.001) -0.203 (0.249) 0.558** (0.001) 0.400* (0.019) 0.759** (0.000) 0.228 (0.194) -0.015 (0.931) 0.251 (0.153) 0.472** (0.005) -0.397* (0.020) 0.457** (0.007) 0.466** (0.005) 0.854** (0.000) 0.278 (0.112) 0.068 (0.704) 0.338* (0.050) 0.860** (0.000) 0.072 (0.688) 0.627** (0.000) JBP 0.454** (0.007) -0.601** (0.000) -0.796** (0.000) 0.129 (0.468) 0.297 (0.088) -0.274 (0.117) 0.307 (0.077) JPB JPT 0.398* (0.020) 0.084 (0.635) 0.167 (0.345) 0.837** (0.000) -0.223 (0.205) 0.576** (0.000) 0.915** (0.000) -0.059 (0.742) 0.464** (0.006) 0.161 (0.364) 0.254 (0.147) JBPP % PI BB/Tan BSB 0.068 (0.702) 0.278 (0.112) 0.323 (0.062) 0.155 (0.381) 0.304 (0.080) 0.337 (0.051) 0.279 (0.110) 0.275 (0.115) 0.753** (0.000) 0.321 (0.064) Keterangan : *) UB = Umur Berbunga, UP = Umur Panen, TTSP = Tinggi Tanaman Saat Panen, JCP = Jumlah Cabang Produktif, Jumlah Buku Produktif, JPB, Jumlah Polong Bernas, JPT = Jumlah Polong Total, JBPP = Jumlah Biji per Polong, % PI = Persentase Polong Isi, BB/Tan = Bobot Biji per Tanaman, BSB = Bobot 100 Biji, BB/Ptk = Bobot Biji per Petak. **) Nilai dalam kurung menunjukkan nilai peluang koefisien korelasi diatasnya; angka yang diikuti dengan ** = berbeda sangat nyata pada α = 1%, * = berbeda nyata pada α = 5%     37   Deskripsi Galur - Galur Kedelai Putatif Mutan Galur - galur yang diuji pada penelitian ini adalah galur hasil irradiasi sinar gamma dosis rendah pada varietas Argomulyo dengan dosis 50 Gy, 100 Gy, 150 Gy, dan 200 Gy generasi M7. Diperoleh 4 populasi hasil irradiasi yang dikembangkan sampai M4 dengan seleksi pedigree untuk karakter agronomi dan daya hasil tinggi. Pada generasi M5 dilakukan seleksi untuk toleransi terhadap kekeringan di rumah plastik dan terpilih 50 galur. Kelima puluh galur M6 kemudian ditanam di lahan kering bertanah masam di Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan diseleksi 25 galur paling toleran. Untuk penelitian ini 15 galur M7 terpilih dievaluasi dalam uji daya hasil lanjutan untuk memperoleh galur kedelai adaptasi tanah masam dengan daya hasil yang tinggi. Galur - galur pada penelitian ini memiliki warna hipokotil ungu. Tipe tumbuh semua galur adalah determinit dengan bentuk percabangan agak tegaktegak hingga agak tegak. Galur - galur tersebut memiliki warna bunga yang sama yaitu ungu dan menghasilkan kecerahan kulit biji yang tidak mengkilap. Namun pada galur M100-33-6-11 memiliki kecerahan kulit biji yang mengkilap. Karakteristik sifat kuantitatif galur - galur yang diuji terdapat pada Tabel 11. Arsyad et al. (2007) menjelaskan bahwa pengembangan varietas - varietas kedelai yang beradaptasi baik pada lahan yang kurang subur (kandungan hara makro rendah), misalnya lahan masam dengan kandungan aluminium dan mangan tinggi, umur sedang, tahan hama dan penyakit utama, sifat agronomis baik, dan mutu biji yang baik. Tipe tanaman ideal (plant-ideotype) yang berdaya hasil tinggi dan dianggap sesuai adalah memiliki umur berbunga 40 - 45 hari, umur masak 90 - 95 hari, tipe tumbuh semi-determinate, tinggi tanaman 80 - 100 cm, percabangan banyak (5 - 6 cabang), daun berukuran sedang dan berwarna hijau, batang kokoh (tidak rebah), polong tidak mudah pecah pada cuaca panas, biji berukuran sedang (12 g/100 biji), bulat, dan berwarna kuning. Seleksi merupakan tindakan yang terpenting dari kegiatan pemuliaan tanaman, karena dari seleksi akan dihasilkan populasi tanaman yang unggul. Seleksi dapat dilaksanakan berdasarkan satu kriteria atau berdasarkan sejumlah kriteria atau karakter. Berdasarkan kriteria seleksi yang digunakan, seleksi dapat dibagi atas seleksi langsung dan tidak langsung. Seleksi langsung adalah seleksi     38   Tabel 11. Karakteristik sifat kuantitatif genotipe - genotipe kedelai yang diuji Galur M100-29A-42-14 M100-33-6-11 M100-46-44-6 M100-47-52-13 M100-96-53-6 M150-7B-41-10 M150-29-44-10 M150-69-47-4 M150-92-46-4 M200-13-47-7 M200-37-71-4 M200-39-69-4 M200-58-59-3 M200-93-49-6 M200-93-49-13 Tanggamus Argomulyo Umur Berbunga (HST) 29.5 27.0 27.0 27.0 28.0 26.0 25.5 26.0 25.5 26.0 28.0 27.0 27.0 26.0 27.0 39.0 32.0 Umur Panen (HST) 75.0 85.0 75.0 76.5 75.0 75.0 78.0 75.0 75.0 75.0 75.0 76.5 75.0 75.0 75.0 94.0 75.0 Karakter Tinggi Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Tanaman Cabang Buku Polong Polong (cm) Produktif Produktif Bernas Total 27.1 2.0 8.0 14.8 15.4 33.4 2.7 8.5 24.7 25.8 28.1 1.6 7.5 15.4 15.7 28.5 2.1 7.9 15.6 16.1 29.3 2.1 8.5 18.6 19.3 26.1 1.3 6.5 10.1 10.4 28.4 2.4 8.1 18.1 18.3 33.0 2.5 8.8 23.1 24.0 26.4 2.1 7.9 14.9 15.5 25.8 1.8 6.6 10.6 11.2 25.2 1.5 7.3 11.9 12.2 24.8 1.8 7.2 13.5 13.8 26.8 1.9 8.2 17.7 17.8 30.1 2.0 8.0 18.6 19.6 28.5 2.0 8.2 17.4 18.3 37.2 1.8 8.8 22.3 25.4 27.7 1.0 5.4 7.0 7.0     Jumlah Biji/ Polong 2.3 2.1 2.4 2.3 2.5 2.2 2.2 2.2 2.4 2.2 2.2 2.1 2.3 2.2 2.4 1.9 2.4 Bobot Biji/ Tanaman (g) 4.82 6.13 5.04 4.77 6.13 2.63 5.50 5.94 4.94 3.49 3.80 4.05 5.30 5.09 6.08 3.64 1.84 Bobot 100 Biji (g) 14.14 13.48 14.13 13.94 14.07 12.71 14.11 12.60 14.03 14.72 14.99 14.58 14.23 12.87 15.27 9.10 12.02 Bobot Biji/ Petak (g) 377.82 327.17 250.37 284.34 348.56 144.77 217.99 219.00 224.95 163.82 226.07 169.63 222.29 223.02 264.33 170.47 117.18 39   yang dilakukan atas karakter yang dituju seperti bobot biji per tanaman atau hasil panen per plot. Seleksi tidak langsung adalah seleksi yang dilakukan terhadap suatu karakter lain yang berhubungan karakter yang akan diperbaiki seperti seleksi terhadap jumlah polong per tanaman yang dilakukan untuk memperbaiki bobot biji per tanaman. Berdasarkan hasil penelitian Wirnas et al. (2006), bahwa karakter jumlah cabang, jumlah buku total, jumlah polong isi, jumlah polong total, dan persentase polong isi dapat digunakan untuk membentuk indeks seleksi dalam rangka pengembangan kedelai berdaya hasil tinggi. Karakter yang digunakan sebagai kriteria seleksi untuk daya hasil selain berkorelasi positif dengan daya hasil, juga harus memiliki nilai heritabilitas yang tinggi sehingga akan diwariskan pada generasi berikutnya. Dengan demikian perlu dipilih karakter yang mempunyai nilai heritabilitas yang tinggi. Galur - galur yang terbaik yang direkomendasikan untuk dilakukan uji daya hasil lanjutan berdasarkan karakter agronomi dan karakternya lebih baik dari pembanding dan sesuai untuk tanah masam adalah M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13. Galur tersebut memiliki jumlah buku produktif dan jumlah polong total yang lebih tinggi dari varietas asal yaitu varietas Argomulyo, serta jumlah biji per polong dan bobot 100 biji yang lebih tinggi dari pembanding toleran lahan kering masam yaitu varietas Tanggamus. Galur tersebut memiliki ukuran biji sedang hingga besar. Galur M100-33-6-11 memiliki umur berbunga 27 HST dan umur panen 85 HST. Bobot biji per tanamannya merupakan bobot biji per tanaman tertinggi dibandingkan dengan galur lainnya yaitu 6.13 gram per tanaman. Ukuran biji sedang yaitu 13.48 gram/100 biji. Tinggi tanaman pada galur ini juga mencapai tinggi tanaman tertinggi dibandingkan dengan galur lainnya yaitu 33.4 cm dengan jumlah cabang produktif dan jumlah polong total terbanyak masing-masing sebesar 2.7 dan 25.8. Galur M100-96-53-6 memiliki umur berbunga 28 HST dan umur panen 75 HST. Tinggi tanaman pada galur ini mencapai 29.3 cm. Bobot biji per tanamannya sama dengan galur M100-33-6-11 yaitu sebesar 6.13 gram per tanaman dengan ukuran biji besar yaitu 14.07 gram/100 gram.     40   Galur M200-93-49-13 memiliki umur berbunga 27 HST dan umur panen 75 HST. Tinggi tanaman galur ini mencapai 28.5 cm dengan jumlah buku produktif 8.2 dan jumlah polong total 18.3. Bobot biji per tanaman sebesar 6.08 gram per tanaman dengan ukuran biji paling besar yaitu 15.27 gram/100 biji. Galur – galur kedelai putatif mutan terpilih tersebut memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding. Namun hasil yang didapatkan masih tergolong lebih rendah dari produksi kedelai di lahan subur atau optimum. Maka dari itu, perlu adanya uji daya hasil galur kedelai lanjutan di lahan optimum. Hal ini bertujuan untuk melihat potensi hasil galur – galur tersebut pada kondisi optimum.     41   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan pada penelitian ini yaitu : 1. Galur – galur kedelai putatif mutan menunjukkan perbedaan keragaan terhadap karakter umur berbunga, umur panen, jumlah buku produktif, jumlah polong total, jumlah biji per polong dan bobot 100 biji. Galur tidak berpengaruh nyata terhadap karakter tinggi tanaman saat panen, jumlah cabang produktif, jumlah polong bernas, persen polong isi, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per petak. 2. Semua galur kedelai putatif mutan menghasilkan bobot biji per petak yang lebih besar daripada nilai tengah pembanding Argomulyo sebagai varietas asal galur - galur tersebut ataupun Tanggamus sebagai pembanding toleran lahan masam. 3. Galur yang menunjukkan penampilan baik untuk beberapa karakter komponen hasil adalah galur M100-33-6-11, galur M100-96-53-6, dan galur M200-93-49-13. Saran Penelitian kedelai di tanah masam harus menetapkan faktor pembatas dan memperhatikan kondisi tanah yang akan diuji terutama pada pH dan kandungan Al yang terdapat pada lahan. Galur – galur M100-33-6-11, M100-96-53-6, dan M200-93-49-13 disarankan diuji lebih lanjut dalam uji multilokasi dan uji kualitas nutrisi yang terkandung serta uji ketahanan penyakit yang selanjutnya akan direkomendasikan sebagai varietas baru kedelai adaptasi lahan masam karena menunjukkan penampilan yang baik. i   UJI DAYA HASIL GALUR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM FITRIA PUSPA JUWITA A24080176 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 42   DAFTAR PUSTAKA Abdurachman, A., A. Mulyani, dan Irawan. 2007. Sumber daya lahan untuk kedelai di Indonesia, hal 168 - 184. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Adie, M. M., dan A. Krisnawati. 2007. Biologi tanaman kedelai, hal 45 - 73. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Alnopri. 2004. Variabilitas genetik dan heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan bibit tujuh genotipe kopi robusta-arabica. Jurnal Ilmu - Ilmu Pertanian Indonesia 6(2):91-96. Arief, V. N. 2001. Uji Pendahuluan Genotipe - Genotipe Kedelai Hasil Seleksi In Vitro terhadap Cekaman Aluminium dan pH Rendah. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 59 hal. Arsyad, D. M. dan M. Syam. 2000. Varietas unggul dan strategi pemuliaan kedelai di Indonesia, hal. 39 - 42. Dalam L.W. Gunawan, N. Sunarlim, T. Handayani, B. Soegiarto, W. Adil, B. Priyanto dan Suwarno (Eds). Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Direktorat Teknologi Lingkungan. Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pendidikan, Sains, Riset dan Teknologi Jerman. Arsyad, D. M., M. M. Adie, dan H. Kuswantoro. 2007. Perakitan varietas unggul kedelai spesifik agroekologi, hal 205-228. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Atman. 2006. Pengelolaan tanaman kedelai di lahan kering masam. Jurnal Ilmiah Tambua V(3):281-287. Balitbangtan. 2011. SL-PTT kedelai untuk tingkatkan produksi kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. http://www.litbang.deptan.go.id. [14 Oktober 2011]. Balitkabi. 2010. Varietas unggul kedelai adaptif lahan sawah, lahan kering masam dan lahan rawa pasang surut. Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. http://ftp.pustaka-deptan.go.id/bppi. [18 Oktober 2011].     43   BMKG. 2012. Data Iklim Bogor Tahun 2012. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor. Bogor BPS. 2012. Tabel luas panen produktivitas produksi tanaman kedelai seluruh provinsi. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Jakarta. http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php. [24 Juli 2012]. Gomez, K.A., dan A. A. Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian. Edisi kedua. Penerjemah E. Sjamsudin dan J. E. Baharsjah. Statistical Procedure for Agriculture Research. UI-PRESS. Jakarta. 698 hal. Hairiah, K, Widianto, dan D. Suprayogo. 2005. Dapatkah pengembangan budidaya tanaman pangan pada tanah masam selaras dengan konsep pertanian sehat?, hal 87 – 115. Dalam A. K. Makarim, Suharsono, D. M. Arsyad, T. Adisarwanto, Marwoto, dan N. Saleh (Eds). Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai di Lahan Sub-optimal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Malang. Hermanto, W.H. Adil, D. Sadikin., dan E. Hikmat. 2002. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija 2001-2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman pangan (P3TP). Balitbangtan. 39 hal. Hidajat, O.O. 1985. Morfologi tanaman kedelai. Hal 73 - 86. Dalam S. Somaatmaja, M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O. Manurung dan Yuswadi (Eds.). Kedelai. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. Iswari, R. A. 2002. Studi Pemanfaatan Limbah Mud cake sebagai Substitusi Kapur Pertanian dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 35 hal. Makarim, A.K. 2006. Cekaman Abiotik Utama dalam Peningkatan Produktivitas Tanaman. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Bioteknologi untuk Mengatasi Cekaman Abiotik pada Tanaman. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Hal 1-11. Makmur, A. 2003. Pemuliaan Tanaman Bagi Lingkungan Spesifik. IPB Press. Bogor. 53 hal. Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar - Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta. 182 hal.     44   Mariska, I., S. Hutami, M. Kosmiatin dan W. H. Adil. 2001. Regenerasi massa sel embrionik kedelai setelah diseleksi pada kondisi Al berbeda dan pH rendah. Berita Puslitbangtan 20:1-3. Marwoto dan S. Hardaningsih. 2007. Pengendalian hama terpadu pada tanaman kedelai, hal 296 - 318. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Mattjik, A. A., dan I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. IPB Press. Bogor. 276 hal. Norman, M. J. T., C. J. Pearson,and P. G. E. Searle. 1995. The Ecology of Tropical Food Crops. Cambridge University Press. Cambridge. 430 p. Poehlman, J. and D. A. Sleper. 1996. Field Crops Fourth Edition. Iowa State University Press. USA. 494 p. Poehlman, J. M. 1959. Breeding Soybeans, p 221 - 240. In H. T. Croasdale (Ed). Breeding Field Crops. University of Missouri. New York. Poespodarsono, S. 1988. Dasar – Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Insitut Pertanian Bogor. Bogor. 169 hal. PPVT. 2007. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Kedelai. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta. Prasetyo, D. 2010. Uji Daya Hasil Lanjutan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Toleran Naungan di Bawah Tegakan Karet Rakyat di Provinsi Jambi. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hal. Prihatman, K. 2000. Kedelai (Glycine max L.). Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesaan, Proyek PEMD, BAPPENAS. Sadjad, S. 2006. Benih yang Membawa dan Dibawa Perubahan. IPB Press. Bogor. Shibels, R. M, I. F. Wardlaw and R. A. Fischer. 1975. Soybean, p 151 – 190. In Evan L. T. (Ed). Crop Physiology some case histories. Cambridge University Press. New York. Somaatmadja, S. 1985. Peningkatan produksi kedelai melalui perakitan varietas, hal 243 – 259. Dalam M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S. O. Manurung, dan Yuswadi, (Eds). Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.     45   Stansfield, W. D. 1983. Theory and Problems of Genetics. Second edition. Mc. Graw-Hill, New York. 417 p. Subadra, I. S. 2004. Pengujian Generasi Ke-enam Nomor - nomor Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Harapan untuk Ketahanan terhadap Tanah Masam. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 70 hal. Sumarno dan Harnoto. 1983. Kedelai dan Cara Bercocok Tanamnya. Buletin Teknik No. 6. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 53 hal. Sumarno dan A. G. Manshuri. 2007. Persyaratan Tumbuh dan Wilayah Produksi Kedelai di Indonesia, hal 74-103. Dalam Sumarno, Suyamto, A. Widjono. Hermanto, H. Kasim (Eds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Sunihardi, Yunastri, dan S. Kurniasih. 1999. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija 1993-1998. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman pangan (P3TP). Balitbangtan. Hal. 28. Wirnas, D., I. Widodo, Sobir, Trikoesoemaningtyas, dan D. Sopandie. 2006. Pemilihan karakter agronomi untuk menyusun indeks seleksi pada 11 populasi kedelai generasi F6. Buletin Agron. 34(1):19-24. Zaini, Z. 2005. Prospek pengembangan kedelai di lahan kering masam, hal 47 54. Dalam A. K. Makarim, Suharsono, D. M. Arsyad, T. Adisarwanto, Marwoto, dan N. Saleh (Eds). Prosiding Lokakarya Pengembangan Kedelai di Lahan Sub-optimal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Malang.      46   LAMPIRAN     47   Lampiran 1. Hasil analisis ragam karakter umur berbunga Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 3.46% DB 16 1 16 33 JK 346.76 10.62 14.88 372.26 KT 21.67 10.62 0.93 F-Hit Pr>F 23.30** 11.42** F 4.08** 0.95 0.0038 0.3432 Rataan 77.05 Lampiran 3. Hasil analisis ragam karakter tinggi tanaman saat panen Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 19.35% DB 16 1 16 33 JK 344.22 72.85 490.67 907.74 KT F-Hit 21.51 72.85 30.67 0.70 2.38 Pr>F 0.7569 0.1428 Rataan 28.62 Lampiran 4. Hasil analisis ragam karakter jumlah cabang produktif Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 33.55% DB 16 1 16 33 JK 5.83 0.52 6.58 12.93 KT F-Hit 0.36 0.52 0.41 1.26 0.89     Pr>F 0.2780 0.5936 Rataan 1.91 48   Lampiran 5. Hasil analisis ragam karakter jumlah buku produktif Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 15.77% DB 16 1 16 33 JK 110.93 0.05 21.30 132.28 KT 6.93 0.05 1.33 F-Hit Pr>F 5.21** 0.04 0.0010 0.8492 Rataan 7.31 Lampiran 6. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong bernas Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 34.92% DB 16 1 16 33 JK KT F-Hit 725.69 45.35 0.34 0.34 511.71 31.98 1237.74 1.42 0.01 Pr>F 0.2463 0.92 Rataan 16.19 Lampiran 7. Hasil analisis ragam karakter jumlah polong total Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 24.29% DB 16 1 16 33 JK KT F-Hit Pr>F 12237.49 764.84 4.01 4.01 428.59 26.79 12670.10 28.55** 0.15 F 26.24** 0.86 F 0.6975 0.6069 Rataan 96.06 Lampiran 10. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per tanaman Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 30.93% DB 16 1 16 33 JK 50.24 0.005 33.24 83.48 KT F-Hit 3.14 0.005 2.07 1.51 0.00 Pr>F 0.2088 0.9608 Rataan 4.66 Lampiran 11. Hasil analisis ragam karakter bobot seratus biji Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 5.59% DB 16 1 16 33 JK 67.49 1.98 9.25 78.72 KT 4.22 1.98 0.58 F-Hit Pr>F 7.29** 3.43 0.0001 0.0826 Rataan 13.58 Lampiran 12. Hasil analisis ragam karakter bobot biji per petak Sumber Keragaman Galur Ulangan Galat Umum KK : 32.91% DB 16 1 16 33 JK KT 163540.59 10221.29 1.75 18363.32 18363.32 3.14 93653.96 5853.37 275557.87     F-Hit Pr>F 0.1377 0.0956 Rataan 232.45 50   Lampiran 13. Data iklim bulanan BMKG 2012 Darmaga Bogor Bulan Temperatur Rata-Rata (oC) Kelembaban Rata-Rata (%) 25.6 26.1 26.0 26.1 26.2 130 26 26.1 25.6 87 85 86 85 79 422 84.4 87 85 Februari Maret April Mei Juni Jumlah Rataan Maksimum Minimum Hari Hujan (Hari) 12 13 13 9 10 57 11.4 13 9 Curah Hujan (mm) 204 167 362 206 132 1071 214.2 362 167 Keterangan : Curah Hujan dan Hari Hujan ditakar di perkebunan Jasinga Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor Lokasi : Klimatologi Bogor Elevasi : 190 m Lokasi : 06.33 LS 106.45 BT     51   Lampiran 14. Hasil analisis contoh tanah pertama sebelum tanam kedelai di Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2012 52   Lampiran 15. Hasil analisis contoh tanah kedua     53   Lampiran 16. Deskripsi varietas pembanding 1. Argomulyo Nama Varietas : Argo Mulyo Asal : Introduksi dari Thailand, oleh PT Nestle Indonesia pada tahun 1988, dengan nama asal Nakhon Sawan I Warna hipokotil : Ungu Warna bunga : Ungu Warna biji : Kuning Warna hilum biji : Putih terang Warna bulu : Coklat Tipe tumbuh : Determinate Tinggi tanaman : 40 cm Percabangan : 3-4 cabang dari batang utama Umur mulai berbunga : 35 hari Umur saat panen : 80-82 hari Kerebahan : Tahan rebah Kandungan minyak biji : 20,8% Kandungan protein biji : 39,4% Daya hasil : 1,5-2 ton/ha Ketahanan terhadap penyakit : Toleran terhadap penyakit karat Keteranngan : Sesuai untuk bahan baku susu kedelai Pemulia : Rodiah S., C. Ismail, Gatot Sunyoto, dan Sumarno Penyedia Breeder Seed : BPTP Karangploso, Malang Tahun dilepas : 1998 Sumber : Sunihardi, Yunastri, dan S. Kurniasih (1999) 54   2. Tanggamus Nama Varietas : Tanggamus Tahun pelepasan : 2001 SK Mentan : 536/Kpts/TP.240/10/2001 Nomor induk : K3911-66 Warna hipokotil : Ungu Warna epikotil : Hijau Kotiledon : Kuning Asal : Persilangan tunggal (Single cross) antara Kerinci x No. 3911 Umur berbunga : 35 hari Warna bunga : Ungu Warna biji : Kuning Warna hilum biji : Coklat tua Warna polong masak : Coklat Warna bulu : Coklat Tinggi tanaman : 67 cm Tipe tumbuh : Determinate Bentuk daun : Lanceolate Umur panen : 88 hari Hasil Rata - rata : 1,5 ton/ha Bentuk biji : Oval Ukuran biji : Sedang Percabangan : 3 – 4 cabang Jumlah polong/tanaman : 47 Bobot 100 biji : 11,0 gr Ketahanan penyakit : Moderat terhadap penyakit karat daun Kadar lemak : 12,9% Kadar protein :44,5% Kadar air : 6,1% Kerebahan : Tahan     55   Pecah polong : Tahan Wilayah adaptasi : Lahan kering masam Pemulia : Darman M. Arsyad, M. Muchlis Adie, Heru Kuswantoro, Purwantoro Sumber : Hermanto, W.H. Adil, D. Sadikin., E. Hikmat (2002)    
Uji daya hasil galur kedelai (Glycine max (L.) Merr.) hasil iradiasi sinar gamma di tanah masam 1.9 9.10 3.64 170.47 Merr. HASIL IRRADIASI SINAR GAMMA DI TANAH MASAM
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Uji daya hasil galur kedelai (Glycine max (L.) Merr.) hasil iradiasi sinar gamma di tanah masam

Gratis