Feedback

Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor

Informasi dokumen
ANALYSIS OF WATER STORAGE CAPACITY AT IPB CAMPUS DRAMAGA, BOGOR SD Rizki, NH Pandjaitan, and Prastowo Departement of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural Univercity, IPB Dramaga Campus, PO BOX 220, Bogor, West Java, Indonesia E-mail: sekardrizki@yahoo.com ABSTRACT Bogor Agricultural University (IPB) stage III physical development is being implemented since 2011. Water balance analysis provided an actual description of water storage capacity and its impact on the environmental carrying capacity. The objectives of the study were (1) to analyze status of environmental carrying capacity based on agroclimate zone and to analyze water supply potential, (2) to analyze water storage capacity and (3) land use planning. The research was started since Febuary until June 2012. The research was conducted using climate data and land cover map that processed with Microsoft Excel, CROPWAT 8.0 and ARCGIS 9.3 software. The ratio of water availability and water demand was 0.9 hence the environmental carrying capacity based on water balance was overshoot. IPB Campus agroclimate zone was A1 based on Oldeman classification. The water footprint was 7,9 x 106 m3/year. The region was divided into 14 catchment area (CA). The biggest storage capacity was 235.78 mm/year on CA 11 and the smallest storage capacity was on CA 9a with only 109.51 mm/year. The objectives of land-use planning was to increase water storage capacity. IPB campus as green campus was recommended to improve groundwater recharge and to reach ratio of ground water recharge and surface run-off of 65:35. According to this result it was to recommended to increase vegetation area on CA 4, CA 7, CA 9a, CA 9b, CA 9c and CA 12. Key words: Catchment area, environmental carrying capacity, land use planning, water balance, water storage capacity ii SEKAR DWI RIZKI. F44080019. Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor. Di bawah bimbingan Nora H. Pandjaitan dan Prastowo. 2012 RINGKASAN Pembangunan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahap III sedang dilaksanakan sejak tahun 2011. Pembangunan ini dilaksanakan karena jumlah civitas akademika IPB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1997 sampai 2010 jumlah mahasiswa meningkat sebesar 200 - 400 orang setiap tahunnya (TPB IPB, 2011). Kondisi ini mengakibatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan semakin bertambah. Sejalan dengan perubahan penggunaan lahan untuk pembangunan struktur dan infrastruktur di wilayah kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung lingkungan (menentukan status daya dukung lingkungan, menentukan zona agroklimat, dan menganalisis potensi suplai air), menganalisis kapasitas simpan air dan merencanakan tata guna lahan. Penelitian dilakukan di Kampus IPB Dramaga sejak bulan Febuari – Juni 2012. Beberapa alat dan bahan yang digunakanan yaitu seperangkat komputer dengan program Microsoft Excel, Arc GIS 9.3 dan Cropwat 8.0, GPS, alat tulis, kamera, dan data-data sekunder yang meliputi: Peta Kampus IPB berupa land-use (tata guna lahan), data iklim meliputi suhu, kelembaban, lama penyinaran matahari, , kecepatan angin dan data curah hujan bulanan. Rasio perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air untuk wilayah kampus IPB Dramaga adalah 0.9. Nilai ini menunjukkan status daya dukung lingkungan untuk wilayah Kampus IPB adalah overshoot (daya dukung lingkungan telah terlampaui) dan nilai water footprint sebesar 7,9 x 106 m3/kap/tahun. Kampus IPB Dramaga termasuk kedalam zona agroklimat A1 klasifikasi Oldeman dan memiliki potensi CHlebih rata-rata sebesar 1604.2 mm/tahun. Berdasarkan analisis kapasitas simpan air maka DTA 11 yang 94% wilayahnya berupa hutan memiliki kapasitas simpan air paling besar sebesar 235.78 mm/tahun, sedangkan DTA 9 yang memiliki 42% wilayahnya berupa hutan memiliki kapasitas simpan air paling kecil sebesar 109.51 mm/tahun. Hasil neraca air menunjukan wilayah DTA 9a memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling kecil yaitu 53:47 dan DTA 11 memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling besar yaitu 79:21. Untuk kampus IPB Dramaga kondisinya dapat dikatakan ideal bila luas hutan minimum 30% dan luas lahan terbangun 40%. Kampus IPB Dramaga sebagai kampus hijau diarahkan untuk meningkatkan simpanan air sehingga komposisi perbandingan simpanan air dan limpasan sebesar 65:35. Untuk itu diperlukan penambahan wilayah vegetasi yaitu pada DTA 4 (0.42 ha), DTA 7 (0.90 ha), DTA 9a (0.16 ha), DTA 9b (0.18 ha), DTA 9c (0.72 ha), dan DTA 12 (0.24 ha). iii I. 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, dan berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan ke danau atau laut secara alami (DJRLPS, 2009). Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Menurut Dephut (2008) pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistem DAS. Kondisi DAS dipengaruhi oleh cuaca dan hidrogeologi setempat, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan ketersediaan air. Pembangunan yang terjadi menyebabkan adanya perubahan penggunaan lahan, dari lahan yang tertutup tanaman hijau menjadi gedung-gedung. Perubahan penggunaan lahan ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan daya serap tanah terhadap hujan dan air yang seharusnya dapat diserap oleh tanah berubah menjadi limpasan permukaan. Pendayagunaan sumberdaya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, pengembangan dan pengusahaan sumberdaya air secara optimal, berhasil guna dan berdaya guna. Upaya ini ditujukan untuk memanfaatkan sumberdaya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil (Sjarief, 2002). Pemanfaatan sumber-sumber air yang tidak terkendali menyebabkan pasokan air cenderung berkurang akibat interfisiensi pemakaian air baik untuk pertanian, domestik, industri, dan lain-lain (Rustiadi et al, 2010). Neraca air menyatakan keseimbangan antara masukan (inflow) dengan keluaran air (outflow) pada suatu daerah dalam suatu periode tertentu. Hal ini dapat dikatakan bahwa neraca air menjelaskan tentang hubungan antara presipitasi dan limpasan yang akan mempengaruhi cadangan air. Salah satu metode yang digunakan dalam perhitungan neraca air adalah metoda Thornthwaite. Metode ini digunakan untuk mendapatkan besarnya kadar air tanah, kehilangan air, surplus air, dan defisit air. Pembangunan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahap III sedang dilaksanakan sejak tahun 2011. Pembangunan ini dilaksanakan karena jumlah civitas akademika IPB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1997 sampai 2010 jumlah mahasiswa baru meningkat sebesar 200 - 400 orang setiap tahunnya (TPB IPB, 2011). Kondisi ini mengakibatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan semakin bertambah. Sejalan dengan perubahan penggunaan lahan untuk pembangunan struktur dan infrastruktur di wilayah kampus, aktivitas yang sama juga terjadi di daerah sekitar kampus. Akan tetapi pembangunan ini dinilai kurang memperhatikan kaidah lingkungan. Hal ini berdampak pada perubahan lingkungan, termasuk salah satunya adalah perubahan kapasitas simpan air. Analisis neraca air dapat memberikan gambaran aktual terhadap perubahan kapasitas simpan air dan dampaknya pada daya dukung lingkungan. Hasil analisis ini dapat menjadi pertimbangan rekomendasi yang tepat guna memperbaiki kondisi wilayah kampus IPB Dramaga, Bogor. 1.2 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis kapasitas simpan air di wilayah kampus IPB Dramaga, Bogor adalah: 1. Menganalisis status daya dukung lingkungan, zona agroklimat dan potensi suplai air 1 2. 3. Menganalisis kapasitas simpan air Merencanakan tata guna lahan untuk meningkatkan kapasitas simpan air. 2 II. 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai Menurut Manan (1976) Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat didefinisikan sebagai areal yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya, baik dalam bentuk aliran permukaan, aliran bawah tanah dan aliran bumi ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Menurut Seyhan (1990) faktor utama di dalam DAS yang sangat mempengaruhi kapasitas sumberdaya air adalah : 1. Vegetasi Vegetasi merupakan pelindung bagi permukaan bumi terhadap hempasan air hujan, hembusan angin dan teriknya matahari. Fungsi utama dari vegetasi adalah melindungi tanah. Perlindungan ini berlangsung dengan cara : a. Melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh. b. Melindungi tanah terhadap daya merusak aliran air di atas permukaan tanah. c. Memperbaiki kapasitas infiltrasi dan struktur tanah serta daya absorbsi/daya simpan air. 2. Tanah Tanah selain berfungsi sebagai media tempat tumbuhnya vegetasi juga berfungsi sebagai pengatur tata air. Peranan tanah dalam mengatur tata air tergantung pada tingkat kemampuan tanah untuk meresapkan air yang dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tanah, makin banyak air yang dapat diserap dan masuk ke dalam profil tanah persatuan waktu, sehingga dengan demikian jumlah air yang tersimpan pada DAS menjadi lebih banyak. Menurut Internasional Glossary of Hidrology (1974) dalam Seyhan (1990) hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air bumi, terjadinya peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisikanya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan mahluk-mahluk hidup. Di bumi air tersedia di atmosfer, di lautan, di darat dan di dalam tanah serta molekul air yang berada di batuan kerak bumi, melalui perpindahan dan perubahan dari satu tempat ke tempat lain didorong oleh energi surya. Uap air beredar dari bumi ke udara melalui penguapan dan kemudian kembali ke bumi sebagai presipitasi, proses inilah yang disebut siklus hidrologi (IIT Kharagpur, 2008). Air yang jatuh tidak semua akan mencapai permukaan tanah. Air yang jatuh ke permukaan vegetasi disebut sebagai intersepsi. Sebagian air akan menguap dalam perjalanan di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi dan sebagian pada permukaan tanah. Air yang masuk kedalam tanah akan terinfiltrasi dan membentuk cadangan lengas tanah (soil water storage). Selanjutnya sebagian air mengalami proses perkolasi yaitu air terserap ke lapisan tanah yang lebih dalam akibat gaya gravitasi. Menurut Asdak (2007), paramater hidrologis yang dapat dimanfaatkan untuk menelaah kondisi suatu DAS adalah data klimatologi seperti curah hujan dan suhu, limpasan (run off), debit sungai, sedimentasi, potensi air tanah, koefisien regim sungai, koefisien limpasan, nisbah debit maksimumminimum serta frekuensi dan periode banjir. Kondisi DAS dianggap normal apabila: 1. Koefisien limpasan berfluktuasi secara normal (nilai C dari sungai utama di DAS yang bersangkutan dari tahun ke tahun cenderung kurang lebih sama besarnya) 2. Angka koefisien varians (CV) debit aliran kecil (lebih kecil dari 10%) 3. Angka koefisien regim sungai (nisbah Qmax/Qmin) juga normal (tidak terus naik dari tahun ke tahun) 3 Menurut Falkenmark dan Rockström (2004), kondisi yang biasa terjadi pada faktor curah hujan dan komponennya termasuk limpasan, pengisian air tanah dan evapotranspirasi tergantung pada tipe daerah iklim dan zona penutupan lahan. Pembagian hujan menjadi limpasan, air tanah dan evapotranspirasi menurut daerah dan zona iklim di dunia disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pembagian hujan menjadi limpasan, air tanah dan evapotranspirasi menurut daerah dan zona iklim di dunia. Curah Total Limpasan Air tanah hujan Evapotranspirasi Daerah iklim Zona (mm/tahun) (mm/tahun) (mm/ (mm/tahun) tahun) Subtropical Desert Savanna and tropical (padang rumput 300 18 2 280 (subtopis dan panas) tropis) Dry sub-humid savanna (padang 1000 100 30 870 rumput lembab) Wet savanna 1850 360 240 1200 (padang rumput basah) Subartic Tundra temperate (daerah (Subartik, tanpa pohon) 370 70 40 260 iklim didaerah Taiga kutub) (hutan satu 700 160 140 400 spesies) Mixed Forest Wooded (hutan 750 150 100 500 campuran) Steppes (stepa) 650 90 30 530 Equatorial Wet evergreen (daerah equatorial forest 2000 600 600 800 katulistiwa) (hutan tropis) Sumber : L’vovich dalam Falkenmark dan Rockström (2004) 2.2 Kapasitas Simpan Air 2.2.1 Neraca Air Menurut Seyhan (1990) neraca air merupakan penafsiran kuantitatif dari daur hidrologi yang berupa persamaan yang menggambarkan prinsip bahwa pada selang waktu tertentu, masukkan air total pada suatu ruang tertentu harus sama dengan keluaran total ditambah perubahan bersih dalam cadangan. Perhitungan neraca air pada suatu daerah tangkapan (Thornwaite dan Mather, 1957) dapat dihitung dengan persamaan (1). P = ET + ΔSt ........................................................................................................................................ (1) dengan: P : presipitasi (mm/bulan) ET : evapotranspirasi (mm/bulan) ΔSt : perubahan cadangan air (mm/bulan) 4 2.2.2 Presipitasi Presipitasi terjadi apabila uap air atmosfer memiliki kelembaban yang tinggi. Air yang mencapai bumi dari atmosfer berbentuk hujan, hujan salju, hujan es, atau embun. Setelah mencapai permukaan bumi, air hujan tersebut dapat menjadi air limpasan permukaan, permukaan penyimpanan air, es glacial, air untuk tanaman, air tanah, atau mungkin menguap kembali ke atmosfer. Penguapan laut adalah sumber terbesar (sekitar 90%) presipitasi (IIT, 2008). Presipitasi dalam segala bentuk (seperti salju, hujan batu es, dan hujan), jatuh ke atas vegetasi, batuan, permukaan tanah, permukaan air, dan saluran-saluran sungai (Seyhan, 1990). Untuk mempelajari keadaan suatu daerah tangkapan sehubungan dengan curah hujannya. Analisis curah hujan dengan peluang tertentu dapat menggunakan persamaan Weibull. Metode Weibull merupakan suatu metode dalam memperkirakan nilai probalitas berdasarkan data yang ada. ...................................................................................................................................... (2) dengan: P m n 2.2.3 : peluang : urutan kejadian berdasarkan besarnya : jumlah tahun data pengukuran Evapotranspirasi Evapotranspirasi adalah proses yang mengembalikan air ke atmosfer sehingga melengkapi siklus hidrologi (IIT, 2008) Evapotranspirasi merupakan gabungan dari dua proses, yaitu evaporasi dan transpirasi. Evaporasi merupakan proses kembalinya uap air ke atmosfer, dimana dalam proses ini air yang ada di permukaan bumi baik di tanah, sungai, atau laut akan kembali ke atmosfer apabila disinar matahari hingga titik dimana berubah menjadi uap air atau gas. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tanaman. Evapotranspirasi yang digunakan ada dua macam, yaitu evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial adalah kemungkinan jumlah air yang dapat menguap dalam kondisi optimal diantara persediaan air. Sedangkan evapotranspirasi aktual merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Pendugaan nilai evapotranspirasi potensial dilakukan dengan menggunakan data iklim. Beberapa contoh pendugaan yang telah dikembangkan adalah metode Blaney Cridle, metode Thonthwaite, dan metode Penman. Pendugaan nilai evapotranspirasi menggunakan software CROPWAT 8.0 yang pada tahun 1990 oleh FAO dimodifikasi dan dikembangkan menjadi rumus FAO Penman-Monteith (Alen et al,1998). Rumus FAO Penman-Monteith diuraikan dalam persamaan (3). ET0 = ............................................................................. (3) dengan : ET0 : evapotransirasi acuan (mm/hari) Rn : lama penyinaran matahari setara dengan evaporasi (MJ m-2 hari-1) G : kerapatan flux panas tanah (MJ m-2 hari-1) T : temperatur harian rata-rata pada ketinggian 2 m (oC) u2 : kecepatan angin pada ketinggian 2 m (m det-1) es : tekanan uap air jenuh (kPa) ea : tekanan uap air actual (kPa) es - ea : perbedaan antara tekanan jenuh dan aktual rata-rata (kPa) 5 : kemiringan kurva tekanan uap air (kPa oC-1) : konstanta psikrometrik (kPa oC-1) Perhitungan nilai ETP dapat dilihat pada persamaan (4). ETP = Kc ET0 ........................................................................................................................... (4) dengan : ETP : evapotranspirasi potensial (mm/hari) Kc : koefisien tanaman Nilai evapotranspirasi potensial (ETP atau ET crop) tergantung pada nilai evapotranspirasi acuan (ET 0) dan koefisien tanaman. Tabel 2. Koefisien tanaman (Kc) Keterangan Kc Kebun campuran 0.80 Tegalan/ladang 0.90 Pemukiman 0 Sawah Irigasi 1.15 Semak belukar 0.80 Sawah tadah hujan 0.80 Rumput 0.80 Sumber : Doorenbos and Pruitt (1977) 2.2.4 Simpanan Air Simpanan atau cadangan air merupakan besaran yang menunjukkan jumlah air tersedia di dalam suatu batasan ruang tertentu, yang merupakan hasil interaksi antara aliran masuk dan aliran keluar pada ruang tersebut. Menurut Thornthwaite dan Mather (1957), kapasitas cadangan lengas tanah bergantung pada dua faktor yaitu jenis dan struktur tanah serta jenis tanaman yang terdapat pada permukaan tanah tersebut. Menurut Zelfi dalam Parapat (1997), besarnya cadangan lengas tanah pada suatu daerah perakaran dapat berubah-ubah dan dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi serta daya menahan air oleh tanah. Perubahan ini diidentifikasikan dengan adanya perubahan kelembaban pada zona perakaran. Menurut Thonthwaite dan Mather (1957), kapasitas simpanan air tanah (STo) dihitung dengan persamaan (5) STo = (KLfc – KLwp)x dZ ……………………………………………………………………........ (5) dengan : KLfc : kadar lengas tanah kapasitas lapang (mm) KLwp : kadar lengas tanah titik layu permanen (mm) dZ : kedalaman jeluk tanah (mm) Analisa perubahan cadangan lengas tanah pada suatu daerah, dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan (6): ΔST = STi – ST(i-1) .......................................................................................................................... (6) dengan: ΔST : perubahan cadangan lengas tanah STi : cadangan lengas tanah pada bulan ke-i (mm/bulan) Thornthwaite dan Mather (1957) telah memberikan pedoman untuk menentukan nilai kapasitas cadangan lengas tanah di daerah seperti terlihat pada Tabel 3. 6 Tabel 3. Nilai kapasitas cadangan lengas tanah berdasarkan tekstur tanah dan kelompok tanaman Klasifikasi tanaman Tanaman berakar dangkal Tekstur tanah Pasir halus Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman berakar Pasir halus sedang Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman berakar Pasir halus dalam Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman buahPasir halus buahan Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman hutan Pasir halus Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Sumber : Thornthwaite dan Mather, 1957 2.2.5 Air tersedia (mm/ m) 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 Daerah perakaran (m) 0.50 0.50 0.62 0.40 0.25 0.75 1.00 1.00 0.80 0.50 1.00 1.00 1.25 1.00 0.67 1.50 1.67 1.50 1.00 0.67 2.50 2.00 2.00 1.60 1.17 Cadangan lengas tanah (mm) 50 75 100 100 75 75 150 200 200 150 100 150 250 250 200 150 250 300 250 200 250 300 400 400 350 Limpasan Limpasan merupakan bagian dari presipitasi (juga kontribusi-kontribusi permukaan dan bawah permukaan) yang terdiri dari gerakan gravitasi air dan Nampak pada saluran permukaan dari bentuk permanen maupun terputus-putus (Seyhan, 1990). Jika evapotranspirasi potensial lebih kecil dibandingkan dengan evapotranspirasi aktual, maka akan terjadi defisit air. Hal ini ditunjukan dalam persamaan (7): D = ETP – ETa .............................................................................................................................. (7) dengan: D : defisit (mm/bulan) ETa : evapotranspirasi aktual (mm/bulan) Setelah simpan air telah mencapai kapasitas cadangan lengas tanah (water holding capacity), kelebihan curah hujan akan dihitung sebagai CHlebih. Air ini merupakan kelebihan setelah air tanah terisi kembali. Dengan demikian CHlebih dihitung sebagai nilai curah hujan dikurangi dengan nilai evapotranspirasi. Selanjutnya, CHlebih akan menjadi limpasan dan pengisian air tanah. CHlebih ditentukan dengan persamaan: S = P – ETP - ΔST .............................................................................................................................. (8) dengan: S : CHlebih (mm/bulan) 7 Curah hujan lebih kemudian akan diturunkan dalam bentuk limpasan dan pengisian air tanah. Besarnya limpasan sebanding dengan proporsi koefisien limpasan pada wilayah tersebut. Sedangkan besarnya pengisian air tanah merupakan sisa nilai curah hujan lebih yang tidak menjadi limpasan. Total limpasan dan pengisian air tanah dapat dikelola dan dijadikan suplai air. Untuk menduga besaran limpasan yang terjadi di suatu wilayah, perlu diketahui nilai koefisien aliran permukaan. Schwab et al (1981) menyatakan bahwa koefisien aliran permukaan (C) didefinisikan sebagai nisbah laju puncak aliran permukaan terhadap intensitas hujan. Faktor utama yang mempengaruhi C adalah laju infiltrasi tanah, tanaman penutup dan intensitas hujan. Nilai C untuk DAS pertanian bagi tanah kelompok hidrologi B tertera pada Tabel 4. Frekuensi terjadinya hujan mempengaruhi debit air dalam DAS. Tabel 4. Koefisien limpasan (C) untuk daerah tangkapan air lahan pertanian (kelompok tanah B) Koefisien C untuk Laju Hujan Tanaman Penutup Tanah dan No Kondisi Hidrologi 25 mm/jam 100 mm/jam 200 mm/ jam 1 Tanaman dalam baris, buruk 0.63 0.65 0.66 2 Tanaman dalam baris, baik 0.47 0.56 0.62 3 Padian, buruk 0.38 0.38 0.38 4 Padian, baik 0.18 0.21 0.22 5 Padang rumput potong, pergiliran 0.29 0.36 0.39 tanaman, baik 6 Padang rumput potong, 0.02 0.17 0.23 penggembalaan tetap, baik 7 Hutan dewasa, baik 0.02 0.10 0.15 Sumber : Schwab, et al, (1981) 2.3 Daya Dukung Lingkungan Daya dukung lingkungan berbasis neraca air suatu wilayah dapat diketahui dengan menghitung kapasitas ketersediaan air pada wilayah tersebut. Kapasitas ketersediaan air ini sangat tergantung pada kemampuan menjaga dan mempertahankan dinamika siklus hidrologi pada daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dinamika mempertahankan siklus hidrologi buatan sangat ditentukan oleh kemampuan meningkatkan kapasitas simpan air, baik penyimpanan secara “alami” dengan upaya melakukan rehabilitasi dan konservasi pada wilayah hulu DAS, ataupun secara “struktur buatan” seperti waduk (Rustiadi et al, 2010). Analisis daya dukung lingkungan berbasis neraca air menunjukan perbandingan kondisi suplai air pada suatu wilayah dengan kebutuhan yang ada, dari perbandingan keduanya akan diperoleh status kondisi ketersediaan air pada wilayah tersebut. 2.3.1 Penetapan Status Daya Dukung Lingkungan Konsep ini membandingkan antara ketersediaan air hujan (nilai CH andalan) dengan water footprint untuk menilai status daya dukung lingkungan berbasis neraca air (Prastowo, 2010). Water footprint merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang, komunitas, ataupun kegiatan produksi (Bulsink et al, 2009). Ketersediaan air yang dinyatakan sebagai CHandalan dihitung dengan peluang kejadian hujan ≥ 50% dengan metode perhitungan yang lazim digunakan, seperti metode Hazen, metode Gumbel, atau metode lainnya. perhitungan kebutuhan air dapat dihitung dari hasil konversi terhadap kebutuhan hidup layak, dengan menggunakan rumus sebagai berikut : DA = N x KHLA ...................................................................................................................................(9) dengan : 8 DA N KHLA : total kebutuhan air (m3/tahun) : jumlah penduduk (jiwa) : Kebutuhan air untuk hidup layak (1600 m3 air/kapita/tahun) 2 x 800 m3 air/kapita/tahun, 800 m3 air/kapita/tahun adalah kebutuhan air untuk keperluan domestik dan untuk menghasilkan pangan 2,0 adalah faktor koreksi untuk memperhitungkan kebutuhan hidup layak yang mencakup kebutuhan pangan, domestik dan lainnya. Kebutuhan air untuk wilayah Kampus IPB Dramaga dihitung berdasarkan jumlah mahasiswa dan staf, serta jenis gedung yang terdapat di dalam kampus. Menurut Noerbambang dan Morimura (2000) kebutuhan air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (10). Qd = (1.20) × Np × Pemakaian air rata-rata sehari ......................................................................... (10) dengan: Qd : pemakaian air sehari Np : jumlah pemakai T : jangka waktu pemakaian air rata-rata sehari Konstanta pemakaian air rata-rata sehari disajikan pada Lampiran 1, sedangkan 1.20 merupakan konstanta 20% penambahan untuk mengatasi kebocoran pancuran air, tambahan air untuk pemanas atau mesin pendingin gedung, penyiraman tanaman. Kebutuhan air Kriteria status daya dukung lingkungan berbasis neraca air tidak cukup dinyatakan dengan “surplus-defisit” saja namun untuk menunjukkan besaran relatif, perlu juga dinyatakan dengan nilai “supply/demand”. Kriteria penetapan status daya dukung lingkungan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Kriteria penetapan status DDL-Air Kriteria Rasio supply/demand > 2 Rasio supply/demand 1-2 Rasio supply/demand ETp), maka ETa = Etp e) Untuk bulan kering (PEp, dengan persamaan neraca air Thornthwaite and Mather (8). 10) Membuat kurva neraca air Menyusun perencanaan tata guna lahan sebagai upaya peningkatan simpanan air. 1) Mengidentifikasi lahan dan kesesuaian lahan. Hasil neraca air sebagai dasar penentuan wilayah yang perlu dilakukan konservasi. 2) Memberikan rekomendasi terhadap lahan. 13 Jumlah penduduk Jumlah bulan basah dan kering Water Footprint Klasifikasi Oldeman Curah hujan bulanan Metode Weibull Data suhu, kelembaban, lama penyinaran matahari, kecepatan angin Data tekstur tanah, luas wilayah kajian, peta tutupan lahan Metode CROPWAT CHandalan Kebutuhan air Thornwaite dan Mather ET0 Kapasitas simpan air (STo) Daya dukung lingkungan: status daya dukung lingkungan zona agroklimat potensi suplai air Aliran air Analisis neraca air Penentuan Daerah Tangkapan Perencanaan tata guna lahan Gambar 2. Diagram alir penelitian 14 IV. 4.1 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kampus IPB Dramaga Secara administrasi Kampus IPB Dramaga termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor di Kecamatan Dramaga. Kampus IPB Dramaga secara geografis terbentang antara 06°32’41” 06°33’58” LS dan 106°42’47” - 106°44’07” BT dengan luas wilayah ±267 ha. Kampus IPB terletak diantara dua anak Sungai Cisadane yaitu Sungai Ciapus di sebelah Utara dan Sungai Cihideung di sebelah Barat. Data curah hujan dan data iklim diperoleh dari Stasiun Klimatologi Dramaga. Stasiun ini dianggap paling mewakili kondisi iklim lokasi penelitian. Data curah hujan lengkap selama 11 tahun terakhir (2001-2011) terdapat pada Lampiran 2. Tabel 8. Diskripsi kondisi fisik Daerah Tangkapan Air Daerah Tangkapan Deskripsi Air Kelompok 1: DTA dengan arah limpasan langsung masuk ke Sungai Ciapus a. DTA 1 Relatif landai di bagian hulu dan curam di bagian hilir. Penggunaan lahan DTA 1 sebagian besar adalah vegetasi bertajuk tinggi sehingga belum memiliki saluran utama drainase. b. DTA 2 Sebagian besar penggunaan lahannya adalah vegetasi bertajuk tinggi sehingga belum memiliki saluran utama drainase juga. Bentangan DTA ini relatif landai di bagian hulu dan memiliki sebagian wilayah yang agak curam pada daerah hilir. c. DTA 5 Relatif agak curam dan sudah memiliki saluran drainase utama yang mengalir langsung ke Sungai Ciapus. d. DTA 6 Relatif curam dan belum memiliki saluran drainase utama. Dapat dikatakan daerah yang rawan longsor karena pada bagian hilir terdapat pemukiman warga dan bagian hulunya merupakan daerah terbangun yang relatif curam. e. DTA 7 Daerah yang agak curam di bagian hulu dan relatif landai di bagian hilir. Kelompok 2: DTA dengan arah limpasan langsung masuk ke Sungai Cihideung a. DTA 3 Sebagian besar penggunaan lahannya merupakan vegetasi bertajuk rendah dan kebun percobaan. Bentangan DTA 3 dapat dikatakan relatif landai. b. DTA 4 Sebagian besar penggunaan lahannya merupakan vegetasi bertajuk tinggi. Saluran drainase hanya terdapat di perumahan dan jalan, sehingga belum memiliki saluran drainase utama. Bentangan DTA 4 relatif landai keseluruhan bagiannya akan tetapi pada bagian tengah terdapat perbedaan tinggi cukup besar sehingga DTA 4 berpotensi untuk dijadikan reservoir. c. DTA 8 Bentuk tangkapan yang memanjang dan langsung dibatasi oleh sungai Cihideung. Oleh karena itu DTA ini bentangan wilayahnya relatif curam ke arah barat dimana terdapat sungai Cihideung. d. DTA 10 Penggunaan lahannya sebagian besar adalah vegetasi bertajuk tinggi dan memiliki bentangan yang relatif curam. e. DTA 12 Area budidaya dan daerahnya relatif landai. Kelompok 3: DTA yang memiliki badan air dan dengan arah limpasan melewati DTA lainnya. a. DTA 9a Saluran drainase akan bermuara di Danau Situ Leutik bagian hulu. b. DTA 9b Saluran drainase akan bermuara di danau situ leutik bagian hilir. c. DTA 9c Saluran drainase akan bermuara di kolam percobaan. Air dari danau situ Leutik dan kolam percobaan akan keluar melalui gorong-gorong menuju sungai Cihideung. d. DTA 11 DTA ini merupakan cekungan 15 Berdasarkan hasil observasi, wilayah kajian dalam penelitian ini seluas 277.15 ha dapat dibagi menjadi 14 Daerah Tangkapan Air (DTA) (Gambar 3). Daerah tangkapan ini termasuk wilayah kampus dan perumahan penduduk yang berbatasan dengan IPB namun masih dalam satu daerah tangkapan air. Aliran permukaan pada masing-masing DTA ada yang langsung terbuang ke sungai seperti DTA yang berbatasan langsung dengan Sungai Cihideung dan Sungai Ciapus. Aliran pada DTA yang tidak berbatasan langsung dengan sungai akan terkonsentrasi pada suatu badan air seperti danau maupun kolam. Deskripsi kondisi fisik DTA dapat dilihat pada Tabel 9. CA 1 CA 3 CA 2 CA 6 CA 4 CA 5 CA 7 CA 8 CA 9b CA 9a CA 9c CA 10 CA 11 CA 12 Sumber: Bakosurtanal, 2008 Gambar 3. Peta wilayah kajian penelitian dan pembagian DTA 4.2 Daya Dukung Lingkungan 4.2.1 Penentuan Status Daya Dukung Lingkungan Pendekatan analisis daya dukung lingkungan berbasis neraca air yaitu menggunakan nilai demand yang merupakan nilai Water Footprint. Ketersediaan air hujan di wilayah Kampus IPB Dramaga diperoleh dengan membandingkan nilai total CHandalan dalam satu tahun dengan kebutuhan air pada wilayah tersebut dalam satu tahun (water footprint). Water footprint merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang, komunitas, ataupun kegiatan produksi (Bulsink et al, 2009). Ketersediaan air yang dinyatakan sebagai CHandalan dihitung dengan peluang kejadian hujan ≥ 50% (Prastowo, 2010). CHandalan yang digunakan adalah 80% dengan besaran nilai 2530.0 mm/tahun. Kebutuhan air yaitu jumlah penduduk dikalikan dengan 1600 m3/kap/tahun sehingga didapat nilai sebesar 7.9 x 106 m3/tahun (Tabel 10). Nilai CHandalan total dalam satu tahun dikalikan dengan total luasan sehingga diperoleh nilai ketersediaan air dalam satuan m3/tahun, sehingga diperoleh nilai ketersediaan air dalam satuan m3/tahun yaitu sebesar 7.01 x 106 m3/tahun. Nilai kebutuhan air sebesar 7.9 x 106 m3/tahun dibandingkan dengan ketersediaan air sebesar 7.01 x 106 m3/tahun, sehingga 16 memiliki rasio ketersediaan dan kebutuhan air sebesar 0.9. Berdasarkan Tabel 5 status daya dukung lingkungan untuk wilayah Kampus IPB Dramaga adalah telah terlampaui (overshoot). Tabel 9. Kebutuhan air (water footprint) Gedung Jumlah penghuni Asrama putra Asrama Putri Rusunawa Asrama Silvalestari Asrama Silvasari Asrama Amarilis Asrama Putri Dramaga Perumahan Dosen* (159 kk) Kantin dan Kios** (260 buah) Total kebutuhan air domestik *asumsi perumahan dosen 1 kk terdiri dari 4 orang **asumsi masing-masing kios terdiri dari 2 orang 1361 1686 274 182 158 100 35 636 520 4952 kebutuhan air (m3/kap/tahun) 2177600 2697600 438400 291200 252800 160000 56000 1017600 832000 7923200 Berdasarkan kurva nomogram pada Gambar 4 yaitu hubungan antara kepadatan penduduk di wilayah Kampus IPB sebesar 1855 jiwa/km2 dengan CHandalan sebesar 2530.0 mm/tahun dapat diketahui wilayah Kampus IPB Dramaga berada dalam status telah terlampaui (overshoot). Maksud dari status overshoot ini adalah wilayah kampus IPB Dramaga tidak dapat mendukung penduduknya untuk melakukan kegiatan produksi pangan, sandang, papan dan industri sendiri. Oleh karena itu, kegiatan pangan, sandang, papan, dan industri semua telah disubsidi dari luar wilayah Kampus IPB Dramaga. Wilayah Kampus IPB Dramaga Sumber: Prastowo, 2010 Gambar 4. Nomogram penetapan status daya untuk kepadatan 1000-10000 jiwa/km2 dukung lingkungan berbasis neraca air 17 4.2.2 Zona Agroklimat Klasifikasi iklim wilayah Kampus IPB Dramaga berdasarkan klasifikasi Köppen adalah tipe Afa yaitu iklim tropik basah, tidak ada musim kering, basah sepanjang tahun dan suhu rata-rata bulanan terpanas lebih besar dari 22°C. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson iklim Dramaga adalah tipe A yaitu 0 ≤ Q < 0.143 (Evita, 2007). Menurut Rustiadi at al (2010), proses dan besarnya evapotranspirasi sangat tergantung pada kondisi penggunaan lahan untuk pertanian, hutan dan tumbuhan lain. Oldeman (1975) dalam Rustiadi at al (2010), telah mengembangkan konsep zona agroklimat. Dengan mengetahui zona agroklimat suatu wilayah, dapat diperkirakan daya dukung sumberdaya iklim untuk mengembangkan pertanian pada wilayah tersebut. Curah hujan rata – rata menunjukkan bahwa stasiun Dramaga memiliki jumlah bulan basah berturut-turut sebanyak 9 bulan. Oleh karena itu, zona agroklimat wilayah Kampus IPB Dramaga berdasarkan klasifikasi Oldeman adalah A1 yaitu sesuai untuk penanaman padi terus menerus, tetapi produksi kurang karena pada umumnya kerapatan fluks radiasi matahari rendah sepanjang tahun (Tabel 6 dan Tabel 7). 4.2.3 Potensi Suplai Air Menurut Rustiadi at al (2010), analisis potensi suplai air menentukan jumlah CHlebih dalam bentuk limpasan maupun pengisian air tanah yang potensial dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan. Analisis potensi suplai air dapat dimulai dengan memprediksi kebutuhan air operasional di wilayah tersebut. Prediksi kebutuhan air di wilayah Kampus IPB Dramaga dihitung berdasarkan kebutuhan air domestik dan non-domestik. Tabel 10. Prediksi kebutuhan air bersih non-domestik Jumlah penghuni Prediksi kebutuhan air (m3/hari) Gedung Mahasiswa (orang) Pegawai (orang) Mahasiswa Pegawai Faperta 1865 357 149.20 35.70 FKH 678 186 54.24 18.60 FPIK 1614 289 129.12 28.90 Fapet 962 199 76.96 19.90 Fahutan 1598 206 127.84 20.60 Fateta 1731 286 138.48 28.60 FMIPA 2841 390 227.28 39.00 FEM 1138 205 91.04 20.50 FEMA 1751 148 140.08 14.80 TPB 3761 300.88 Pasca Sarjana 2700 216.00 Rektorat 1146 114.60 Sub total 1651.12 341.20 Total Kebutuhan Air non-Domestik 1992.32 Sumber: Apriyanto, 2011 Tabel 10 dan Tabel 11 merupakan prediksi kebutuhan air untuk wilayah kampus IPB Dramaga sebesar 2,670.84 m3/hari. Menurut Noerbambang dan Morimura (2000), pemakaian air sehari harus dikalikan dengan konstanta 1.2 untuk penambahan mengatasi kebocoran pancuran air, 18 tambahan air untuk pemanas atau mesin pendingin gedung, penyiraman tanaman, sehingga prediksi kebutuhan air dalam sehari untuk wilayah Kampus IPB Dramaga sebesar 3205.01 m3/hari. Namun berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh Apriyanto (2011), pemakaian air bersih aktual di wilayah Kampus IPB Dramaga sebesar 3566.62 m3/hari (Tabel 12). Tabel 11. Prediksi kebutuhan air domestik Jumlah penghuni Gedung (orang) Asrama putra 1361 Asrama Putri 1686 Rusunawa 274 Asrama Silvalestari 182 Asrama Silvasari 158 Asrama Amarilis 100 Asrama Putri Dramaga 35 Perumahan Dosen* (159 kk) 636 Kantin dan Kios** (260 buah) 520 Total kebutuhan air domestik *asumsi perumahan dosen 1 kk terdiri dari 4 orang **asumsi masing-masing kios terdiri dari 2 orang Sumber: Apriyanto, 2011 Prediksi kebutuhan air (m3/hari) 163.32 202.32 44.88 21.84 18.96 12.00 4.20 159.00 52.00 678.52 Tabel 12. Pemakaian air bersih aktual Jalur Pemakaian air (m3/hari) PerumDos 903.00 Asrama TPB 703.86 Menara Fahutan 1070.93 Menara Fapet 888.83 Total 3566.62 Sumber: Apriyanto, 2011 Berdasarkan Tabel 10, Tabel 11, dan Tabel 12, nilai kebutuhan air prediksi dengan pemakaian aktual berbeda. Nilai prediksi kebutuhan air ini merupakan prediksi air yang harus dipasok tiap harinya untuk memenuhi kelangsungan kegiatan kampus. Kebutuhan air untuk wilayah Kampus IPB Dramaga dipasok dari dua WTP yang mengambil air baku dari Sungai Cihideung dan Sungai Ciapus. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan bapak Slamet (ketua Gugus Air, pengelola air, listrik dan telepon Faspro IPB), diketahui bahwa WTP Cihideung memiliki 4 GWT (Ground Water Treatment), sedangkan untuk WTP Ciapus memiliki 2 GWT yang dioperasionalkan setiap harinya. Tabel 13. Kapasitas produksi WTP WTP Debit (m3/hari) Ciapus 2222.60 Cihideung 2249.15 Total 4471.75 Sumber: Apriyanto, 2011 19 Masing-masing GWT memiliki pompa dengan kapasitas pompa 12 liter/detik/pompa. Jumlah GTW yang ada sekarang dapat memproduksi sebesar 4471.75 m3/hari. Nilai ini lebih besar dibandingkan jumlah air yang dibutuhkan. Namun dalam pendistribusian masih terjadi beberapa kendala sehingga pada jam-jam tertentu beberapa tempat mengalami kekurangan air, sehingga perlu diperbaiki pola jalur distribusi air atau bila perlu dibangun reservoir distribusi pada setiap menara fakultas. Perhitungan analisis neraca air dilakukan pada wialyah seluas 277.15 ha. Penentuan tutupan lahan dengan menggunakan Citra satelit ikonos google Earth akuisisi 17 Februari 2007 dan Citra satelit alos avnir akuisisi 3 Agustus 2009 diolah dengan Arc Gis 9.3. Perhitungan lengkap neraca air disajikan pada Lampiran 11. Perhitungan neraca air dilakukan pada 14 DTA. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa pada DTA 11 memiliki nilai persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling besar yaitu 79:21. Hal ini dikarenakan 94% wilayahnya merupakan hutan, sedangkan pada DTA 9a merupakan wilayah yang memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling kecil yaitu 53:47 dengan 42% wilayahnya berupa hutan. Menurut Asdak (2007), salah satu faktor yang berpengaruh terhadap besarnya perubahan limpasan adalah persentase luas tutupan lahan. Semakin besar perubahan tata guna lahan, semakin besar pula perubahan yang terjadi pada limpasan. Besarnya bagian CH lebih yang menjadi limpasan akan ditentukan oleh nilai koefisien limpasan (C) yang bergantung pada penutupan lahan. Nilai C berbanding terbalik dengan peningkatan komposisi luas hutan. Tabel 14. Hasil analisis neraca air wilayah kampus IPB Daerah Tangkapan Air 1 2 3 4 5 6 7 8 9a 9b 9c 10 11 12 Rata-rata 4.3 Chlebih mm/tahun 1459.8 1469.5 1469.5 1543.0 1432.8 1567.5 1819.4 1567.5 1954.7 1689.9 1751.8 1445.0 1383.8 1677.6 1604.2 Limpasan mm/tahun (%) 408.7 28 382.1 26 470.2 32 570.9 37 329.5 23 470.2 30 746.0 41 548.6 35 918.7 47 625.3 37 683.2 39 346.8 24 534.7 21 620.7 37 577.5 36 Simpan air mm/tahun (%) 1051.0 72 1087.4 74 999.3 68 972.1 63 1103.3 77 1097.2 70 1073.5 59 1018.8 65 1036.0 53 1064.6 63 1068.6 61 1098.2 76 1093.2 79 1040.1 63 1026.7 64 Presipitasi, Evapotranspirasi dan Kapasitas Simpan Air Parameter pertama yang digunakan dalam analisis neraca air adalah data iklim. Data iklim diperoleh dari stasiun klimatologi Dramaga yang terletak pada 06°33' 13” LS dan 106°44' 59 BT dengan elevasi 190 m dpl. Curah hujan yang digunakan adalah curah hujan andalan dengan peluang 80% menggunakan metode Weibull (Gambar 5). Hal ini mengindentifikasi nilai andalan satu bulan memiliki peluang terlampaui 80%. Curah hujan andalan 80% pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Lampiran 3. 20 Jan Feb Nov Des Gambar 5. Grafik curah hujan andalan 80% Parameter masukkan selanjutnya yaitu evapotranspirasi potensial (ETP). Menurut Doorenbos dan Pruit (1977), untuk wilayah yang terdapat data sekunder yang cukup (data suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari disarankan untuk menggunakan metode Penman dalam perhitungan ETP. Data iklim disajikan pada Lampiran 6. Nilai ETP didapat dengan mengalikan nilai evapotranspirasi acuan (ETo) dengan koefisien tanaman (Kc). Nilai Kc sangat berpengaruh terhadap besarnya nilai ETP sehingga untuk skenario tutupan lahan nilai Kc dianggap sama yakni digunakan nilai Kc sebesar 0.9 untuk wilayah hutan dan 0.4 untuk wilayah lainnya. Luasan lahan (%) Gambar 6. Grafik nilai STo untuk berbagai luasan hutan Nilai ET0 dan ETP per DTA selengkapnya disajikan pada Lampiran 7. Parameter masukan yang dibutuhkan selanjutnya adalah kapasitas simpan air. Menurut Thornthwaite dan Mather (1957), faktor utama untuk menentukan kapasitas simpan air yaitu jenis dan struktur tanah serta jenis tanaman yang terdapat pada lahan tersebut, sehingga nilai STo pada setiap persentase luas hutan akan berbeda. Nilai STo ditentukan dengan cara tertimbang sesuai proporsi luasan penutupan lahan. Untuk wilayah Kampus IPB Dramaga, jenis tanah disetiap persentase luas hutan dan luas pemukiman sama yaitu tanah lempung lanau. Dalam hal ini pada persentase wilayah hutan digunakan nilai STo sebesar 398 mm untuk wilayah hutan dan 84 mm. Dari Gambar 6 dapat diketahui bahwa nilai STo berbanding lurus dengan persentase luasan hutan. Bila diasumsikan seluruh tanaman hutan merupakan tanaman sejenis, maka wilayah yang memiliki komposisi hutan lebih besar akan memiliki nilai STo yang lebih besar. Hal ini serupa dengan 21 pernyataan Thornthwaite dan Mather (1957), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi nilai kapasitas simpan air adalah tutupan lahan. Nilai kapasitas simpan air paling besar terdapat pada DTA 11 yaitu sebesar 235.78 mm dengan nilai Kc sebesar 0.85 dan nilai C sebesar 0.21. Nilai kapasitas simpanan air paling kecil adalah pada DTA 9a yaitu sebesar 109.51 mm dengan nilai Kc sebesar 0.40 dan nilai C sebesar 0.47. Nilai Sto, C dan Kc untuk setiap DTA dapat dilihat pada Tabel 15. Penggunaan lahan di Kampus IPB diantaranya untuk bangunan, kebun, kebun campuran, kebun kelapa sawit, kolam, perumahan, pemukiman, tegalan, vegetasi bertajuk rendah, dan vegetasi bertajuk tinggi. Tabel 15. Nilai STo, C, dan Kc tertimbang STo DTA C Kc (mm) 1 212.85 0.28 0.79 2 214.65 0.26 0.78 3 202.57 0.32 0.78 4 164.85 0.37 0.61 5 185.94 0.37 0.81 6 193.83 0.30 0.70 7 139.86 0.41 0.50 8 184.36 0.35 0.70 9a 109.51 0.47 0.40 9b 161.92 0.27 0.60 9c 151.50 0.39 0.55 10 221.82 0.24 0.80 11 235.78 0.21 0.85 12 162.06 0.38 0.61 Proporsi penggunaan lahan di wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Lampiran 4. Wilayah Kampus IPB Dramaga dibagi menjadi 14 Daerah Tangkapan Air (DTA) untuk memudahkan dalam analisis pola drainase. Daerah tangkapan ini termasuk wilayah kampus dan perumahan penduduk yang berbatasan dengan IPB namun masih dalam satu daerah tangkapan air. Peta penggunaan lahan dan batasan DTA dapat dilihat pada Lampiran 4. Tabel perhitungan lengkap nilai Kc, STo, dan C dapat dilihat pada Lampiran 8, 9, dan 10. Tabel 16. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan hutan di wilayah kampus IPB Parameter (mm/tahun) % hutan CHlebih 1954.74 Limpasan 1270.58 Simpan air 684.16 1887.08 1137.91 749.17 20.00 1819.42 1011.60 807.82 30.00 1751.76 891.65 860.12 40.00 1689.88 780.72 909.16 50.00 1628.67 675.90 952.77 60.00 1567.46 576.83 990.63 70.00 1506.25 483.51 1022.74 80.00 1445.04 395.94 1049.10 90.00 1383.83 314.13 1069.70 100.00 1322.62 238.07 1084.55 0.00 10.00 22 Analisis neraca air dengan berbagai luasan hutan dilakukan dalam beberapa skenario. Skenario luasan hutan yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Diasumsikan luas hutan merupakan wilayah dengan tutupan lahan vegetasi bertajuk tinggi. Hasil analisis neraca air dari beberapa skenario luasan hutan pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Tabel 16. Dapat dilihat pada Tabel 16 terlihat bahwa semakin tinggi persentase luas hutan pada wilayah Kampus IPB Dramaga menyebabkan penurunan nilai CHlebih. Hal ini serupa dengan limpasan, nilainya akan menurun seiring meningkatnya persentase luas hutan, namun sebaliknya untuk nilai pengisian air tanah akan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan persentase luas hutan. Berdasarkan Gambar 7,kurva neraca air untuk beberapa komposisi luas hutan kondisi aman pada luas hutan minimal 30 %. Perhitungan lengkap neraca air untuk setiap komposisi luas hutan terdapat pada Lampiran 12. Nilai Parameter Neraca Air (mm/hari) 2500.00 2000.00 1500.00 CHlebih 1000.00 Limpasan 500.00 Pengisian Air Tanah 0.00 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Luasan hutan (%) Gambar 7. Kurva neraca air untuk berbagai luasan hutan Analisis neraca air dengan berbagai luasan lahan terbangun dilakukan dalam beberapa skenario. Skenario luasan lahan terbangun yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%, dengan asumsi bangunan merupakan lahan terbangun, bangunan perkuliahan, kantor, pemukiman, dan perumahan. Hasil analisis neraca air dari beberapa skenario luasan lahan terbangun pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Tabel 17. Pada Tabel 17 terlihat bahwa semakin tinggi persentase luas bangunan pada wilayah Kampus IPB Dramaga menyebabkan kenaikan nilai CHlebih. Hal ini serupa dengan limpasan, nilainya akan meningkat seiring meningkatnya persentase luas bangunan. Namun sebaliknya untuk nilai pengisian air tanah akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya persentase luas bangunan. Perhitungan lengkap neraca air untuk setiap komposisi luas bangunan terdapat pada Lampiran 13. Menurut Falkenmark and Rockström (2004), perbandingan ideal antara pengisian air tanah dan limpasan CHlebih adalah 50:50. Persentase simpanan air tanah dan limpasan berpotongan pada titik 40 %, nilai ini menunjukan kondisi aman adalah pada luasan lahan terbangun maksimal 40% seperti dilihat pada Gambar 8. Kampus IPB sebagai kampus hijau disarankan perbandingan pengisian air tanah dan limpasan sebesar 23 65:35 menurut nilai rataan dari tiap DTA. Secara umum dapat dilihat bahwa kapasitas simpan air pada suatu wilayah akan berpengaruh pada nilai CHlebih. Tabel 17. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan bangunan di wilayah kampus IPB Parameter (mm/tahun) % lahan terbangun 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 CHlebih 1322.62 1432.80 1542.98 1653.15 1765.29 1887.08 2008.86 2130.65 2259.55 2394.72 2529.90 Limpasan 462.92 551.63 648.05 752.19 864.99 990.72 1124.96 1267.73 1423.51 1592.49 1770.93 Simpan air 859.70 881.17 894.93 900.97 900.30 896.36 883.90 862.91 836.03 802.23 758.97 Gambar 8. Kurva neraca air untuk berbagai luasan bangunan 4.4 Konservasi Air Tanah dan Perencanaan Tata Guna Lahan Analisis neraca air untuk wilayah kampus IPB Dramaga memberikan gambaran perubahan nilai CHlebih, limpasan, dan pengisian air tanah. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui luasan ideal dalam komposisi hutan dan komposisi bangunan. Pada komposisi hutan diperoleh nilai aman pada komposisi minimal 30% luas hutan dan maksimal 40% untuk komposisi luas pemukiman. Berdasarkan perhitungan neraca air untuk DTA 7, DTA 9a dan DTA 9c memiliki persentase lahan terbangun lebih dari 40% sehingga untuk kedepannya pada lahan tersebut luasan hutan harus dipertahankan dan tidak diizinkan untuk didirikan bangunan. Untuk DTA 3 luas hutan sebesar 30% sudah mencukupi dan perlu dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Komposisi perbandingan simpanan air tanah dan limpasan yang dianggap ideal untuk Kampus IPB Dramaga adalah 65:35. Penambahan luasan lahan hutan yang disarankan untuk tiap DTA dapat dilihat pada Tabel 18 dengan 24 asumsi penambahan STo berbanding lurus, namun untuk DTA 9a dan 9c penambahan luas vegetasi tetap tidak mampu menaikan persentase perbandingan simpanan air dan limpasan pada 65:35 karena pada wilayah tersebut sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dilakukan penambahan vegetasi. Tabel 18. Perubahan luasan lahan hutan DTA 4 7 9a 9b 9c 12 Kondisi awal (ha) 13.32 11.57 7.86 5.86 22.29 7.79 Kondisi 65:35 (ha) 13.74 12.74 8.02 6.04 23.01 8.03 Penambahan yang disarankan (ha) 0.42 0.90 0.16 0.18 0.72 0.24 Pengolahan limpasan dan pengisian air tanah di wilayah Kampus IPB Dramaga memiliki memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Limpasan dan pengisian air tanah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penduduk dengan cara yang berbeda. Menurut Arsyad (2010), ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah, yaitu (1) menutup tanah dengan tanaman atau sisa-sisa tumbuhan dan tumbuhan agar terlindung dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (2) memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap daya penghancur agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan pengangkutan oleh aliran permukaan dan (3) mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi. Oleh karena itu metode konservasi yang dapat dilakukan untuk wilayah Kampus IPB Dramaga adalah pembuatan lubang biopori, reservoir, dan penambahan jumlah vegetasi. Lubang biopori merupakan teknologi yang mudah dan murah. Lubang biopori merupakan lubang sedalam 1 m dengan diameter 10 cm. Lubang biopori dapat menambah luasan resapan air ke dalam tanah yang semula 78.5 cm2 setelah menjadi lubang biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2 (Brata, et al 2007). Pada penelitian ini dilakukan observasi langsung ke wilayah kajian untuk mendapatkan pola aliran air. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dibagi dalam 14 DTA. Pembagian wilayah DTA berdasarkan input dan output aliran air. Untuk konservasi pengolahan pengisian air tanah dan perencanaan tata guna lahan perlu memperhitungkan pola aliran ini. Pola aliran air untuk wilayah kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Gambar 9. Dalam penelitian ini dilakukan penggambaran untuk 5 penggambaran melintang. Gambar melintang 1, gambar melintang 2, dan gambar melintang 3 diambil karena berada di wilayah yang padat aktifitas akademik yaitu pada DTA 9. Gambar melintang 4 diambil karena terdapat wilayah yang memiliki potensi untuk dijadikan reservoir yaitu pada DTA 4. Terdapat beberapa saluran drainase air yang mengarah ke DTA ini, sedangkan gambar melintang 5 diambil karena pada wilayah tersebut berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk yaitu pada DTA 6. Penggambaran melintang dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang jelas terhadap wilayah kajian, sehingga dapat dilakukan konservasi yang tepat. Pengolahan limpasan dan kapasitas simpan air diarahkan pada teknologi yang murah dan tepat guna. Pada gambar melintang 1, gambar melintang 2 dan gambar melintang 3 merupakan wilayah dengan aktifitas mahasiswa yang relatif padat. Aliran air pada wilayah ini mengalir kearah Danau Situ Leutik. Lahan bangunan di wilayah ini relatif luas dibandingkan dengan lahan lain di wilayah Kampus IPB. 25 DTA 6 DTA 4 DTA 9 Keterangan: : Arah aliran indikatif : Arah trase aliran : Lokasi lubang drainase yang pelu diperbesar Gambar 9. Pola aliran air 190 180 0 100 200 Gedung Kolam Vegetasi perkuliahan FPIK Jarak (m) Gambar 10. Penampang melintang 1 Penggambaran penampang melintang untuk gambar melintang 1, gambar melintang 2 dan gambar melintang 3 dapat dilihat pada Gambar 10, Gambar 11 dan Gambar 12. Pada DTA 9 sering terjadi genangan air pada saat turun hujan yaitu pada jalan Kamper, sehingga upaya yang dapat dilakukan adalah memperbesar lubang drainase pada bagian jalan Kamper (Gambar 9). Hal ini dikarenakan pada DTA 9 memiliki bangunan yang relatif luas, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi limpasan. Lubang drainase pada bangunan sadap tersebut perlu diperbesar (Gambar 13). 26 190 180 0 100 Rektorat vegetasi 350 200 Danau Situ Leutik vegetasi Jarak (m) Gambar 11. Penampang melintang 2 190 180 0 100 200 400 Arboretum 750 Fema, Fateta Fahutan Jarak (m) Gambar 12. Penampang melintang 3 Gambar 13. Lubang drainase Lahan pada DTA 4 merupakan wilayah cekungan antara RS Hewan dengan perumahan dosen. Terdapat beberapa saluran drainase yang bermuara ke lahan ini. Pada DTA 4 terdapat wilayah berpotensi dibagun reservoir yang dapat berfungsi untuk menampung limpasan. Hal ini dikarenakan banyak saluran drainase yang bermuara ke wilayah ini. Selain itu terdapat sumber mata air yang selalu mengalir dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan kolam ikan, tetapi sebagian besar mata air mengalir dalam saluran dan langsung terbuang ke sungai. Dibangun reservoir 182 172 0 Vegetasi 100 200 Vegetasi Jarak (m) Gambar 14. Penampang melintang 4 350 Perumahan dosen 27 Oleh karena itu, mata air ini sangat berpotensi untuk dijadikan sumber air untuk reservoir, bahkan menurut keterangan warga daerah ini dahulu merupakan waduk yang memiliki tubuh bendung. Namun kemungkinan tersebut perlu adanya kajian lebih lanjut. Gambar penampang melintang DTA 4 dapat dilihat pada Gambar 14. Lahan pada DTA 6 merupakan wilayah diantara Kampus IPB Dramaga dan Sungai Ciapus. Pada elevasi lahan tertinggi merupakan gedung common classroom dan beberapa gedung dalam proses pembangunan, sedangkan pada elevasi lahan terendah merupakan Sungai Ciapus. Wilayah ini memiliki kemiringan lahan sebesar 10%. Gambar penampang melintang 5 dapat dilihat pada Gambar 15. Menurut Arsyad (2010), teras tangga dibuat dengan cara mengali ranah pada lereng dan meratakan tanah dibagian bawah sehingga terjadi suatu deretan tangga atau bangku. Teras tangga dapat dibuat untuk tanah berlereng 2%-30%, sehingga konservasi menggunakan vegetasi juga perlu dilakukkan. Hal ini guna menahan longsor dan upaya dalam meningkatkan simpanan air tanah dan mengurangi limpasan. 195 185 175 165 155 0 Common classroom 100 200 Pemukiman Cangkurawok Jarak (m) Gambar 15. Penampang melintang 5 400 425 Sungai Ciapus Daerah jagaan yang perlu ditanami vegetasi Gambar 16. Kondisi wilayah DTA 6 saat penelitian Berdasarkan perhitungan USLE nilai erosi untuk wilayah DTA 6 adalah 56.317 ton/ha/tahun. Laju erosi yang masih dapat dipertahankan apabila nilai A≥T. Menurut Hudson (1971) dalam Arsyad 28 (2010) nilai T untuk tanah lempung 13-15 ton/ha/tahun, sehingga berdasarkan nilai ini erosi pada wilayah DTA 6 perlu dilakukan konservasi. Konservasi yang dapat dilakukan adalah pembuatan teras dengan penanaman vegetasi. Tanaman untuk vegetasi permanen dapat menggunakan tanaman hutan dengan semak-semak dan serasah atau kebun tanaman tahunan dengan vegetasi penutupan lahan yang baik. Menurut Constantinesco (1976) dalam Arsyad (2010), pada lereng dengan kecuraman 10% dapat dibuat teras dengan lebar 10 m dengan jumlah teras 10 per 100 m. Namun pada kondisi eksisting saat ini wilayah di DTA 6 sedang dibangun gedung perkuliahan, sehingga dibangun teras dengan batu bronjong. Struktur batu bronjong ini dianggap paling aman dan mampu untuk menahan lonsor, karena pada elevasi terendah merupakan pemukiman penduduk. Sebelum adanya pembangunan terdapat mata air yang digunakan warga sekitar. Namun karena adanya pembangunan ini mata air tersebut sudah tidak dapat digunakan, sehingga perlu dilaukan konservasi berupa penanaman vegetasi didaerah jagaan teras guna menyimpan air dan menahan erosi tanah. 29 V. 5.1 1. 2. 3. 5.2 1. 2. 3. 4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Status daya dukung lingkungan wilayah Kampus IPB Dramaga tergolong kedalam overshoot (telah terlampaui) dengan nilai water footprint sebesar 7,9 x 106 m3/kap/tahun dan perbandingan kebutuhan dan ketersediaan air sebesar 0.9. Wilayah ini termasuk kedalam zona agroklimat A1 klasifikasi Oldeman dan memiliki potensi CHlebih rata-rata sebesar 1604.2 mm/tahun. Kapasitas simpan air yang relatif paling besar adalah pada DTA 11 (94% wilayahnya berupa hutan) sebesar 235.78 mm/tahun, sedangkan kapasitas simpan air yang relatif paling kecil adalah DTA 9 (42% wilayahnya berupa hutan) sebesar 109.51 mm/tahun. Tata guna lahan di wilayah Kampus IPB Dramaga yang dianggap ideal adalah yang menghasilkan rasio simpanan air dan limpasan sebesar 65:35, sehingga perlu penambahan vegetasi dibeberapa wilayah yaitu pada DTA 4 (0.42 ha), DTA 7 (0.90 ha), DTA 9a (0.16 ha), DTA 9b (0.18 ha), DTA 9c (0.72 ha), dan DTA 12 (0.24 ha). Saran Perlu adanya penelitian lanjutan untuk segmen 4 guna mengetahui kemungkinan potensi untuk pembuatan reservoir, tipe bangunan, ataupun perhitungan struktur, serta kemungkinan wilayah genangan. Model kurva neraca air yang telah dihasilkan dalam penelitian ini dapat dikaji lebih lanjut untuk menentukan kondisi penutupan lahan yang ideal. DTA 6 disarankan penanaman vegetasi pada daerah jagaan teras yang sedang dibangun. Perlu adanya upaya untuk pengelolaan limpasan yaitu melalui kegiatan penghijauan, pemeliharaan dan penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif serta teknis sipil, pada lahan kritis dan tidak produktif. 30 ANALISIS KAPASITAS SIMPAN AIR DI WILAYAH KAMPUS IPB DRAMAGA, BOGOR SKRIPSI Oleh: SEKAR DWI RIZKI F44080019 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Allen R G, Pereira LS, Raes D, and Smith M.1998. Crop evapotranspiration – Guidelines for computing crop water requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper N0 56. Rome, Italy. Apriyanto B. 2011. Analisis Kebutuhan Air dan Headloss pada Distribusi Air Bersih di Kampus IPB Dramaga, Bogor.Skripsi.Bogor: Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB Arsyad S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press Asdak C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press [BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2008. Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1209 – 134 Leuwiliang. Cibinong: Bakosurtanal. Skala 1:25000 [BMKG] Badan Meteorologi dan Geofisika. 2012. Data Iklim 2001 – 2011. Stasiun Klimatologi Dramaga. Bogor. Brata KR, Purwakusuma W, Hidayat Y, Dwiwahyuni E, Baskoro DPT. 2007. Keunggulan dan Manfaat. http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php [30 Mei 2012] Bulsink F, Hoekstra AY, Booij MJ. 2009. The Water Footprint of Indonesian Provinces Related to the Consumption of Crop Products. [http://www.waterfootprint.org/Reports/Report37WaterFootprint-Indonesia.pdf [27 Februari 2012] [Dephut] Departemen Kehutanan. 2008. Kerangka Kerja Pengolahan Daerah Aliran Sungai di Indonesia. Jakarta: Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. [DJRLPS] Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2009. Peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor P.04/ VSET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi Daerah Aliran Sungai. Jakarta: DJRLPS. Doorenbos J, Pruitt WO. 1977. Crop Water Requirements. Rome : FAO Irrigation And Drainage Paper. FAO Evita T. 2007. Penelitian Indikasi Perubahan Iklim Ditinjau dari Intensitas Hujan Maksimum Harian di Wilayah Perkotaan (Studi Kasus Jakarta dan Bogor). Tesis. Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Falkenmark M, Rockström J. 2004. Balancing Water for Humans and Nature. London : Cromwell Press [IIT] India Institute of Technology. 2008. Water Resources Engineering. Kharagpur: India Institute of Technology Impron P, Handoko. 1993. Klasifikasi Iklim. In: Handoko (ed). Klimatologi Dasar. Bogor: Pustaka Jaya. pp:161-174 Manan S. 1976. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Bogor : IPB Press Noerbambang SM, Morimura T. 2000. Perencanaan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: PT Pradnya Paramitha Parapat JS. 1997. Perencanaan Konservasi Tanah dan Air pada Pembangunan Lapangan Golf di Aquila Cipanas Bukit Golf Hotel dan Vila, Cianjur, Jawa Barat. Skripsi. Bogor : Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB Prastowo. 2010. Daya Dukung Lingkungan Aspek Sumberdaya Air. Working Paper P4W. Bogor : Crestpent Press 31 Rustiadi E, Barus B, Prastowo, Iman LS. 2010. Pengembangan Pedoman Evaluasi Pemanfaatan Ruang. Bogor: Crestpent Press Schwab GO, Frevert RK, Edminster TW, Barnes KK. 1981. Soil and Water Conservation Engineering. New York : John Wiley and Sons. Inc. Seyhan E. 1990. Dasar – dasar Hidrologi. Penerjemah : Ir. Sentot Subagyo. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press Sjarief R. 2002. Pengolahan Sumber Daya Air Dalam Jurnal Konstruksi & Disain No.1 Jilid 1. Litbang Kimpraswil Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi Thornthwaite CW, Mather JR. 1957. Instruction and Table For Computing Potensial Evaotrasnpiration and Water Balance. New Jersey : Centerton [TPB IPB]. 2011. TPB dalam Angka [Homepage dari Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor]. http://tpb.ipb.ac.id/index.php/en/tpb-dalam-angka/category/15-tpb-dalam-angka. [22 Februari 2012]. 32 ANALISIS KAPASITAS SIMPAN AIR DI WILAYAH KAMPUS IPB DRAMAGA, BOGOR SKRIPSI Oleh: SEKAR DWI RIZKI F44080019 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ANALYSIS OF WATER STORAGE CAPACITY AT IPB CAMPUS DRAMAGA, BOGOR SD Rizki, NH Pandjaitan, and Prastowo Departement of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural Univercity, IPB Dramaga Campus, PO BOX 220, Bogor, West Java, Indonesia E-mail: sekardrizki@yahoo.com ABSTRACT Bogor Agricultural University (IPB) stage III physical development is being implemented since 2011. Water balance analysis provided an actual description of water storage capacity and its impact on the environmental carrying capacity. The objectives of the study were (1) to analyze status of environmental carrying capacity based on agroclimate zone and to analyze water supply potential, (2) to analyze water storage capacity and (3) land use planning. The research was started since Febuary until June 2012. The research was conducted using climate data and land cover map that processed with Microsoft Excel, CROPWAT 8.0 and ARCGIS 9.3 software. The ratio of water availability and water demand was 0.9 hence the environmental carrying capacity based on water balance was overshoot. IPB Campus agroclimate zone was A1 based on Oldeman classification. The water footprint was 7,9 x 106 m3/year. The region was divided into 14 catchment area (CA). The biggest storage capacity was 235.78 mm/year on CA 11 and the smallest storage capacity was on CA 9a with only 109.51 mm/year. The objectives of land-use planning was to increase water storage capacity. IPB campus as green campus was recommended to improve groundwater recharge and to reach ratio of ground water recharge and surface run-off of 65:35. According to this result it was to recommended to increase vegetation area on CA 4, CA 7, CA 9a, CA 9b, CA 9c and CA 12. Key words: Catchment area, environmental carrying capacity, land use planning, water balance, water storage capacity ii SEKAR DWI RIZKI. F44080019. Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor. Di bawah bimbingan Nora H. Pandjaitan dan Prastowo. 2012 RINGKASAN Pembangunan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahap III sedang dilaksanakan sejak tahun 2011. Pembangunan ini dilaksanakan karena jumlah civitas akademika IPB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1997 sampai 2010 jumlah mahasiswa meningkat sebesar 200 - 400 orang setiap tahunnya (TPB IPB, 2011). Kondisi ini mengakibatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan semakin bertambah. Sejalan dengan perubahan penggunaan lahan untuk pembangunan struktur dan infrastruktur di wilayah kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung lingkungan (menentukan status daya dukung lingkungan, menentukan zona agroklimat, dan menganalisis potensi suplai air), menganalisis kapasitas simpan air dan merencanakan tata guna lahan. Penelitian dilakukan di Kampus IPB Dramaga sejak bulan Febuari – Juni 2012. Beberapa alat dan bahan yang digunakanan yaitu seperangkat komputer dengan program Microsoft Excel, Arc GIS 9.3 dan Cropwat 8.0, GPS, alat tulis, kamera, dan data-data sekunder yang meliputi: Peta Kampus IPB berupa land-use (tata guna lahan), data iklim meliputi suhu, kelembaban, lama penyinaran matahari, , kecepatan angin dan data curah hujan bulanan. Rasio perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air untuk wilayah kampus IPB Dramaga adalah 0.9. Nilai ini menunjukkan status daya dukung lingkungan untuk wilayah Kampus IPB adalah overshoot (daya dukung lingkungan telah terlampaui) dan nilai water footprint sebesar 7,9 x 106 m3/kap/tahun. Kampus IPB Dramaga termasuk kedalam zona agroklimat A1 klasifikasi Oldeman dan memiliki potensi CHlebih rata-rata sebesar 1604.2 mm/tahun. Berdasarkan analisis kapasitas simpan air maka DTA 11 yang 94% wilayahnya berupa hutan memiliki kapasitas simpan air paling besar sebesar 235.78 mm/tahun, sedangkan DTA 9 yang memiliki 42% wilayahnya berupa hutan memiliki kapasitas simpan air paling kecil sebesar 109.51 mm/tahun. Hasil neraca air menunjukan wilayah DTA 9a memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling kecil yaitu 53:47 dan DTA 11 memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling besar yaitu 79:21. Untuk kampus IPB Dramaga kondisinya dapat dikatakan ideal bila luas hutan minimum 30% dan luas lahan terbangun 40%. Kampus IPB Dramaga sebagai kampus hijau diarahkan untuk meningkatkan simpanan air sehingga komposisi perbandingan simpanan air dan limpasan sebesar 65:35. Untuk itu diperlukan penambahan wilayah vegetasi yaitu pada DTA 4 (0.42 ha), DTA 7 (0.90 ha), DTA 9a (0.16 ha), DTA 9b (0.18 ha), DTA 9c (0.72 ha), dan DTA 12 (0.24 ha). iii ANALISIS KAPASITAS SIMPAN AIR DI WILAYAH KAMPUS IPB DRAMAGA, BOGOR SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNIK pada Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor Oleh SEKAR DWI RIZKI F44080019 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 iv Judul Skripsi : Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor Nama : Sekar Dwi Rizki NIM : F44080019 Departemen : Teknik Sipil dan Lingkungan Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA NIP. 19580527 198103 2 001 Dr. Ir. Prastowo, M.Eng NIP. 19580217 198703 1 004 Mengetahui, Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS NIP. 19561025 1980031 003 Tanggal Ujian: 9 Juli 2012 Tanggal Lulus: v PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan Dosen Pembimbing, dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Juni 2012 Yang membuat pernyataan Sekar Dwi Rizki F44080019 vi © Hak cipta milik Sekar Dwi Rizki, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, microfilm, dan sebagainya vii BIODATA PENULIS Sekar Dwi Rizki. Lahir di Bandar Lampung, 27 Juni 1990 dari ayah Indro Hadiyanto dan ibu Sudarni, sebagai putri kedua dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 2002 di SDN 3 Sungai Langka, kemudian melanjutkan ke pendidikan menengah pertama di SLTPN 1 Gedong Tataan dan lulus pada tahun 2005. Penulis menamatkan pendidikan menengah atas pada tahun 2008 di SMA Negeri 3 Bandar Lampung dan pada tahun yang sama diterima di IPB (Institut Pertanian Bogor) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya sebagai Sekretaris Komisi III Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa Dewan Perwakilan Mahasiswa Fateta Dewan Defragmenter (2010) dan Ketua Komisi III Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa Dewan Perwakilan Mahasiswa Fateta Dewan Emulsifier (2011). Penulis juga memperoleh prestasi di bidang olahraga diantaranya Juara I Bola Voli Putri Olimpiade Fateta Tingkat Fakultas (2010 dan 2012), dan juara III Tenis Lapangan Beregu Olimpiade Mahasiswa IPB Tingkat IPB (2012). Selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif dalam kepanitiaan maupun dalam kegiatan departemen dan himpunan profesi. Penulis melaksanakan Praktik Lapangan pada tahun 2011 dengan topik “Manajemen Sumberdaya Air di Wilayah Sungai Seputih dan Sungai Sekampung, Provinsi Lampung” di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Air, Bandung. Untuk memperoleh gelar Sarjana Tenik, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor” di bawah bimbingan Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA dan Dr. Ir. Prastowo, M.Eng. viii KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan kehendak dan limpahan karuniaNya skripsi yang berjudul “Analisis Kapasitas Simpan Air Di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor” dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, diucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA dan Dr. Ir. Prastowo, M.Eng selaku pembimbing akademik yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan selama ini. 2. Dr. Ir. Erizal, M.Agr selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan yang membangun. 3. Kedua orang tua tercinta Bapak Indro Hadiyanto dan Ibunda Sudarni, serta kakak terkasih Isnaini Eka Damayanti dan adik tersayang Nur Tri Anggun atas semua cinta dan dukungan yang diberikan. 4. Joan K Rossi, Fransiska Hicca K, dan Maulana I Rau, teman sebimbingan atas bantuan yang diberikan. 5. Andi Iqra, Tjut Endra, Indah Dwi, Syifa Nurani, Melinda Carolina, serta teman seperjuangan SIL 45 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. 6. Rizka Novia, Nur Fatillah, dan Dora Vitra atas dorangan semangat dan kebersamaanya. 7. Noe, Efri, Uyung, Marlika, Sari, Opie, Dhea dan para sahabat di Rumah Kost Salsabila atas doa, semangat dan bantuan yang diberikan. 8. Pihak LPPH-IPB yang telah memberikan banyak bantuan dalam penulisan skripsi ini. 9. Sahabat-sahabat Dewan Defragmenter DPM Fateta 2009/2010, Dewan DPM Emulsifier Fateta 2010/2011, HIMATESIL IPB atas kebersamaan dan kekeluargaannya. Disadari skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga skripsi ini memberikan manfaat dan kontribusi yang nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil dan lingkungan. Bogor, Juli 2012 Penulis ix DAFTAR ISI Hal KATA PENGANTAR .......................................................................................................................... ix DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... x DAFTAR TABEL ................................................................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................................... xiii I. PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ......................................................................................................................... 1 1.2 Tujuan ...................................................................................................................................... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................. 3 2.1 Daerah Aliran Sungai ............................................................................................................... 3 2.2 Kapasitas Simpan Air .............................................................................................................. 4 2.3 Daya Dukung Lingkungan ....................................................................................................... 8 2.4 Konservasi Tanah dan Air ..................................................................................................... 11 III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................................................................... 12 3.1 Lokasi dan Waktu .................................................................................................................. 12 3.2 Alat dan Bahan....................................................................................................................... 12 3.3 Metode Penelitian .................................................................................................................. 12 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................................................... 15 4.1 Kondisi Umum Kampus IPB Dramaga .................................................................................. 15 4.2 Daya Dukung Lingkungan ..................................................................................................... 16 4.3 Presipitasi, Evapotranspirasi dan Kapasitas Simpan Air........................................................ 20 4.4 Konservasi Air Tanah dan Perencanaan Tata Guna Lahan .................................................... 24 V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................................... 30 5.1 Kesimpulan ............................................................................................................................ 30 5.2 Saran ...................................................................................................................................... 30 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 31 LAMPIRAN ......................................................................................................................................... 33 x DAFTAR TABEL Hal Tabel 1. Pembagian hujan menjadi limpasan, air tanah dan evapotranspirasi menurut daerah dan zona iklim di dunia. .......................................................................................................................... 4 Tabel 2. Koefisien tanaman (Kc) ........................................................................................................... 6 Tabel 3. Nilai kapasitas cadangan lengas tanah berdasarkan tekstur tanah dan kelompok tanaman ...... 7 Tabel 4. Koefisien limpasan (C) untuk daerah tangkapan air lahan pertanian (kelompok tanah B) ...... 8 Tabel 5. Kriteria penetapan status DDL-Air ......................................................................................... 9 Tabel 6. Zona agroklimat utama berdasarkan klasifikasi Oldeman ....................................................... 9 Tabel 7. Penjabaran tipe agroklimat menurut Oldeman ........................................................................10 Tabel 8. Diskripsi kondisi fisik Daerah Tangkapan Air ........................................................................15 Tabel 9. Kebutuhan air (water footprint) ..............................................................................................17 Tabel 10. Prediksi kebutuhan air bersih non-domestik .........................................................................18 Tabel 11. Prediksi kebutuhan air domestik ...........................................................................................19 Tabel 12. Pemakaian air bersih aktual ...................................................................................................19 Tabel 13. Kapasitas produksi WTP ......................................................................................................19 Tabel 14. Hasil analisis neraca air wilayah kampus IPB .......................................................................20 Tabel 15. Nilai STo, C, dan Kc tertimbang ...........................................................................................22 Tabel 16. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan hutan di wilayah kampus IPB ......22 Tabel 17. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan bangunan di wilayah kampus IPB ..........................................................................................................................................24 Tabel 18. Perubahan luasan lahan hutan ...............................................................................................25 DAFTAR GAMBAR xi Hal Gambar 1. Pendekatan analisis daya dukung lingkungan berbasis neraca air .......................................10 Gambar 2. Diagram alir penelitian ........................................................................................................14 Gambar 3. Peta wilayah kajian penelitian dan pembagian DTA ...........................................................16 Gambar 4. Nomogram penetapan status daya dukung lingkungan berbasis neraca air untuk kepadatan 1000-10000 jiwa/km2 ...............................................................................17 Gambar 5. Grafik curah hujan andalan 80% ........................................................................................21 Gambar 6. Grafik nilai STo untuk berbagai luasan hutan .....................................................................21 Gambar 7. Kurva neraca air untuk berbagai luasan hutan .....................................................................23 Gambar 8. Kurva neraca air untuk berbagai luasan bangunan ..............................................................24 Gambar 9. Pola aliran air.......................................................................................................................26 Gambar 10. Penampang melintang 1 ....................................................................................................26 Gambar 11. Penampang melintang 2 ....................................................................................................27 Gambar 12. Penampang melintang 3 ....................................................................................................27 Gambar 13. Lubang drainase ................................................................................................................27 Gambar 14. Penampang melintang 4 ....................................................................................................27 Gambar 15. Penampang melintang 5 ....................................................................................................28 Gambar 16. Kondisi wilayah DTA 6 saat penelitian .............................................................................28 xii DAFTAR LAMPIRAN Hal Lampiran 1. Pemakaian air rata-rata sehari……………………………………………………………34 Lampiran 2. Data curah hujan bulanan (mm) Stasiun Klimatologi Dramaga …………………………35 Lampiran 3. Perhitungan curah hujan andalan dengan Metode Weibull ……………………………...36 Lampiran 4. Proporsi tutupan lahan …………………………………………………………………...37 Lampiran 5. Peta tutupan lahan wilayah Kampus IPB Dramaga Bogor ………………………………38 Lampiran 6. Data iklim ………………………………………………………………………………..39 Lampiran 7. Nilai evapotranspirasi potensial (mm) dan evapotranpirasi acuan ………………………40 Lampiran 8. Perhitungan nilai koefisien tanaman tertimbang ………………………………………...41 Lampiran 9. Perhitungan nilai St0 ……………………………………………………………………..43 Lampiran 10. Perhitungan nilai limpasan (C) …………………………………………………………45 Lampiran 11. Perhitungan neraca air wilayah Kampus IPB …………………………………………..47 Lampiran 12. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan hutan …………………………………….54 Lampiran 13. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan lahan terbangun ………………………...60 Lampiran 14. Perhitungan perkiraan laju erosi pada DTA 6 ………………………………………… 66 xiii I. 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, dan berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan ke danau atau laut secara alami (DJRLPS, 2009). Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Menurut Dephut (2008) pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistem DAS. Kondisi DAS dipengaruhi oleh cuaca dan hidrogeologi setempat, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan ketersediaan air. Pembangunan yang terjadi menyebabkan adanya perubahan penggunaan lahan, dari lahan yang tertutup tanaman hijau menjadi gedung-gedung. Perubahan penggunaan lahan ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan daya serap tanah terhadap hujan dan air yang seharusnya dapat diserap oleh tanah berubah menjadi limpasan permukaan. Pendayagunaan sumberdaya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, pengembangan dan pengusahaan sumberdaya air secara optimal, berhasil guna dan berdaya guna. Upaya ini ditujukan untuk memanfaatkan sumberdaya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil (Sjarief, 2002). Pemanfaatan sumber-sumber air yang tidak terkendali menyebabkan pasokan air cenderung berkurang akibat interfisiensi pemakaian air baik untuk pertanian, domestik, industri, dan lain-lain (Rustiadi et al, 2010). Neraca air menyatakan keseimbangan antara masukan (inflow) dengan keluaran air (outflow) pada suatu daerah dalam suatu periode tertentu. Hal ini dapat dikatakan bahwa neraca air menjelaskan tentang hubungan antara presipitasi dan limpasan yang akan mempengaruhi cadangan air. Salah satu metode yang digunakan dalam perhitungan neraca air adalah metoda Thornthwaite. Metode ini digunakan untuk mendapatkan besarnya kadar air tanah, kehilangan air, surplus air, dan defisit air. Pembangunan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) tahap III sedang dilaksanakan sejak tahun 2011. Pembangunan ini dilaksanakan karena jumlah civitas akademika IPB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1997 sampai 2010 jumlah mahasiswa baru meningkat sebesar 200 - 400 orang setiap tahunnya (TPB IPB, 2011). Kondisi ini mengakibatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan semakin bertambah. Sejalan dengan perubahan penggunaan lahan untuk pembangunan struktur dan infrastruktur di wilayah kampus, aktivitas yang sama juga terjadi di daerah sekitar kampus. Akan tetapi pembangunan ini dinilai kurang memperhatikan kaidah lingkungan. Hal ini berdampak pada perubahan lingkungan, termasuk salah satunya adalah perubahan kapasitas simpan air. Analisis neraca air dapat memberikan gambaran aktual terhadap perubahan kapasitas simpan air dan dampaknya pada daya dukung lingkungan. Hasil analisis ini dapat menjadi pertimbangan rekomendasi yang tepat guna memperbaiki kondisi wilayah kampus IPB Dramaga, Bogor. 1.2 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis kapasitas simpan air di wilayah kampus IPB Dramaga, Bogor adalah: 1. Menganalisis status daya dukung lingkungan, zona agroklimat dan potensi suplai air 1 2. 3. Menganalisis kapasitas simpan air Merencanakan tata guna lahan untuk meningkatkan kapasitas simpan air. 2 II. 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai Menurut Manan (1976) Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat didefinisikan sebagai areal yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya, baik dalam bentuk aliran permukaan, aliran bawah tanah dan aliran bumi ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Menurut Seyhan (1990) faktor utama di dalam DAS yang sangat mempengaruhi kapasitas sumberdaya air adalah : 1. Vegetasi Vegetasi merupakan pelindung bagi permukaan bumi terhadap hempasan air hujan, hembusan angin dan teriknya matahari. Fungsi utama dari vegetasi adalah melindungi tanah. Perlindungan ini berlangsung dengan cara : a. Melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh. b. Melindungi tanah terhadap daya merusak aliran air di atas permukaan tanah. c. Memperbaiki kapasitas infiltrasi dan struktur tanah serta daya absorbsi/daya simpan air. 2. Tanah Tanah selain berfungsi sebagai media tempat tumbuhnya vegetasi juga berfungsi sebagai pengatur tata air. Peranan tanah dalam mengatur tata air tergantung pada tingkat kemampuan tanah untuk meresapkan air yang dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tanah, makin banyak air yang dapat diserap dan masuk ke dalam profil tanah persatuan waktu, sehingga dengan demikian jumlah air yang tersimpan pada DAS menjadi lebih banyak. Menurut Internasional Glossary of Hidrology (1974) dalam Seyhan (1990) hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air bumi, terjadinya peredaran dan agihannya, sifat-sifat kimia dan fisikanya, dan reaksi dengan lingkungannya, termasuk hubungannya dengan mahluk-mahluk hidup. Di bumi air tersedia di atmosfer, di lautan, di darat dan di dalam tanah serta molekul air yang berada di batuan kerak bumi, melalui perpindahan dan perubahan dari satu tempat ke tempat lain didorong oleh energi surya. Uap air beredar dari bumi ke udara melalui penguapan dan kemudian kembali ke bumi sebagai presipitasi, proses inilah yang disebut siklus hidrologi (IIT Kharagpur, 2008). Air yang jatuh tidak semua akan mencapai permukaan tanah. Air yang jatuh ke permukaan vegetasi disebut sebagai intersepsi. Sebagian air akan menguap dalam perjalanan di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi dan sebagian pada permukaan tanah. Air yang masuk kedalam tanah akan terinfiltrasi dan membentuk cadangan lengas tanah (soil water storage). Selanjutnya sebagian air mengalami proses perkolasi yaitu air terserap ke lapisan tanah yang lebih dalam akibat gaya gravitasi. Menurut Asdak (2007), paramater hidrologis yang dapat dimanfaatkan untuk menelaah kondisi suatu DAS adalah data klimatologi seperti curah hujan dan suhu, limpasan (run off), debit sungai, sedimentasi, potensi air tanah, koefisien regim sungai, koefisien limpasan, nisbah debit maksimumminimum serta frekuensi dan periode banjir. Kondisi DAS dianggap normal apabila: 1. Koefisien limpasan berfluktuasi secara normal (nilai C dari sungai utama di DAS yang bersangkutan dari tahun ke tahun cenderung kurang lebih sama besarnya) 2. Angka koefisien varians (CV) debit aliran kecil (lebih kecil dari 10%) 3. Angka koefisien regim sungai (nisbah Qmax/Qmin) juga normal (tidak terus naik dari tahun ke tahun) 3 Menurut Falkenmark dan Rockström (2004), kondisi yang biasa terjadi pada faktor curah hujan dan komponennya termasuk limpasan, pengisian air tanah dan evapotranspirasi tergantung pada tipe daerah iklim dan zona penutupan lahan. Pembagian hujan menjadi limpasan, air tanah dan evapotranspirasi menurut daerah dan zona iklim di dunia disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pembagian hujan menjadi limpasan, air tanah dan evapotranspirasi menurut daerah dan zona iklim di dunia. Curah Total Limpasan Air tanah hujan Evapotranspirasi Daerah iklim Zona (mm/tahun) (mm/tahun) (mm/ (mm/tahun) tahun) Subtropical Desert Savanna and tropical (padang rumput 300 18 2 280 (subtopis dan panas) tropis) Dry sub-humid savanna (padang 1000 100 30 870 rumput lembab) Wet savanna 1850 360 240 1200 (padang rumput basah) Subartic Tundra temperate (daerah (Subartik, tanpa pohon) 370 70 40 260 iklim didaerah Taiga kutub) (hutan satu 700 160 140 400 spesies) Mixed Forest Wooded (hutan 750 150 100 500 campuran) Steppes (stepa) 650 90 30 530 Equatorial Wet evergreen (daerah equatorial forest 2000 600 600 800 katulistiwa) (hutan tropis) Sumber : L’vovich dalam Falkenmark dan Rockström (2004) 2.2 Kapasitas Simpan Air 2.2.1 Neraca Air Menurut Seyhan (1990) neraca air merupakan penafsiran kuantitatif dari daur hidrologi yang berupa persamaan yang menggambarkan prinsip bahwa pada selang waktu tertentu, masukkan air total pada suatu ruang tertentu harus sama dengan keluaran total ditambah perubahan bersih dalam cadangan. Perhitungan neraca air pada suatu daerah tangkapan (Thornwaite dan Mather, 1957) dapat dihitung dengan persamaan (1). P = ET + ΔSt ........................................................................................................................................ (1) dengan: P : presipitasi (mm/bulan) ET : evapotranspirasi (mm/bulan) ΔSt : perubahan cadangan air (mm/bulan) 4 2.2.2 Presipitasi Presipitasi terjadi apabila uap air atmosfer memiliki kelembaban yang tinggi. Air yang mencapai bumi dari atmosfer berbentuk hujan, hujan salju, hujan es, atau embun. Setelah mencapai permukaan bumi, air hujan tersebut dapat menjadi air limpasan permukaan, permukaan penyimpanan air, es glacial, air untuk tanaman, air tanah, atau mungkin menguap kembali ke atmosfer. Penguapan laut adalah sumber terbesar (sekitar 90%) presipitasi (IIT, 2008). Presipitasi dalam segala bentuk (seperti salju, hujan batu es, dan hujan), jatuh ke atas vegetasi, batuan, permukaan tanah, permukaan air, dan saluran-saluran sungai (Seyhan, 1990). Untuk mempelajari keadaan suatu daerah tangkapan sehubungan dengan curah hujannya. Analisis curah hujan dengan peluang tertentu dapat menggunakan persamaan Weibull. Metode Weibull merupakan suatu metode dalam memperkirakan nilai probalitas berdasarkan data yang ada. ...................................................................................................................................... (2) dengan: P m n 2.2.3 : peluang : urutan kejadian berdasarkan besarnya : jumlah tahun data pengukuran Evapotranspirasi Evapotranspirasi adalah proses yang mengembalikan air ke atmosfer sehingga melengkapi siklus hidrologi (IIT, 2008) Evapotranspirasi merupakan gabungan dari dua proses, yaitu evaporasi dan transpirasi. Evaporasi merupakan proses kembalinya uap air ke atmosfer, dimana dalam proses ini air yang ada di permukaan bumi baik di tanah, sungai, atau laut akan kembali ke atmosfer apabila disinar matahari hingga titik dimana berubah menjadi uap air atau gas. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tanaman. Evapotranspirasi yang digunakan ada dua macam, yaitu evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial adalah kemungkinan jumlah air yang dapat menguap dalam kondisi optimal diantara persediaan air. Sedangkan evapotranspirasi aktual merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Pendugaan nilai evapotranspirasi potensial dilakukan dengan menggunakan data iklim. Beberapa contoh pendugaan yang telah dikembangkan adalah metode Blaney Cridle, metode Thonthwaite, dan metode Penman. Pendugaan nilai evapotranspirasi menggunakan software CROPWAT 8.0 yang pada tahun 1990 oleh FAO dimodifikasi dan dikembangkan menjadi rumus FAO Penman-Monteith (Alen et al,1998). Rumus FAO Penman-Monteith diuraikan dalam persamaan (3). ET0 = ............................................................................. (3) dengan : ET0 : evapotransirasi acuan (mm/hari) Rn : lama penyinaran matahari setara dengan evaporasi (MJ m-2 hari-1) G : kerapatan flux panas tanah (MJ m-2 hari-1) T : temperatur harian rata-rata pada ketinggian 2 m (oC) u2 : kecepatan angin pada ketinggian 2 m (m det-1) es : tekanan uap air jenuh (kPa) ea : tekanan uap air actual (kPa) es - ea : perbedaan antara tekanan jenuh dan aktual rata-rata (kPa) 5 : kemiringan kurva tekanan uap air (kPa oC-1) : konstanta psikrometrik (kPa oC-1) Perhitungan nilai ETP dapat dilihat pada persamaan (4). ETP = Kc ET0 ........................................................................................................................... (4) dengan : ETP : evapotranspirasi potensial (mm/hari) Kc : koefisien tanaman Nilai evapotranspirasi potensial (ETP atau ET crop) tergantung pada nilai evapotranspirasi acuan (ET 0) dan koefisien tanaman. Tabel 2. Koefisien tanaman (Kc) Keterangan Kc Kebun campuran 0.80 Tegalan/ladang 0.90 Pemukiman 0 Sawah Irigasi 1.15 Semak belukar 0.80 Sawah tadah hujan 0.80 Rumput 0.80 Sumber : Doorenbos and Pruitt (1977) 2.2.4 Simpanan Air Simpanan atau cadangan air merupakan besaran yang menunjukkan jumlah air tersedia di dalam suatu batasan ruang tertentu, yang merupakan hasil interaksi antara aliran masuk dan aliran keluar pada ruang tersebut. Menurut Thornthwaite dan Mather (1957), kapasitas cadangan lengas tanah bergantung pada dua faktor yaitu jenis dan struktur tanah serta jenis tanaman yang terdapat pada permukaan tanah tersebut. Menurut Zelfi dalam Parapat (1997), besarnya cadangan lengas tanah pada suatu daerah perakaran dapat berubah-ubah dan dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi serta daya menahan air oleh tanah. Perubahan ini diidentifikasikan dengan adanya perubahan kelembaban pada zona perakaran. Menurut Thonthwaite dan Mather (1957), kapasitas simpanan air tanah (STo) dihitung dengan persamaan (5) STo = (KLfc – KLwp)x dZ ……………………………………………………………………........ (5) dengan : KLfc : kadar lengas tanah kapasitas lapang (mm) KLwp : kadar lengas tanah titik layu permanen (mm) dZ : kedalaman jeluk tanah (mm) Analisa perubahan cadangan lengas tanah pada suatu daerah, dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan (6): ΔST = STi – ST(i-1) .......................................................................................................................... (6) dengan: ΔST : perubahan cadangan lengas tanah STi : cadangan lengas tanah pada bulan ke-i (mm/bulan) Thornthwaite dan Mather (1957) telah memberikan pedoman untuk menentukan nilai kapasitas cadangan lengas tanah di daerah seperti terlihat pada Tabel 3. 6 Tabel 3. Nilai kapasitas cadangan lengas tanah berdasarkan tekstur tanah dan kelompok tanaman Klasifikasi tanaman Tanaman berakar dangkal Tekstur tanah Pasir halus Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman berakar Pasir halus sedang Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman berakar Pasir halus dalam Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman buahPasir halus buahan Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Tanaman hutan Pasir halus Lempung berpasir halus Lempung berdebu Lempung berliat Liat Sumber : Thornthwaite dan Mather, 1957 2.2.5 Air tersedia (mm/ m) 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 100 150 200 250 300 Daerah perakaran (m) 0.50 0.50 0.62 0.40 0.25 0.75 1.00 1.00 0.80 0.50 1.00 1.00 1.25 1.00 0.67 1.50 1.67 1.50 1.00 0.67 2.50 2.00 2.00 1.60 1.17 Cadangan lengas tanah (mm) 50 75 100 100 75 75 150 200 200 150 100 150 250 250 200 150 250 300 250 200 250 300 400 400 350 Limpasan Limpasan merupakan bagian dari presipitasi (juga kontribusi-kontribusi permukaan dan bawah permukaan) yang terdiri dari gerakan gravitasi air dan Nampak pada saluran permukaan dari bentuk permanen maupun terputus-putus (Seyhan, 1990). Jika evapotranspirasi potensial lebih kecil dibandingkan dengan evapotranspirasi aktual, maka akan terjadi defisit air. Hal ini ditunjukan dalam persamaan (7): D = ETP – ETa .............................................................................................................................. (7) dengan: D : defisit (mm/bulan) ETa : evapotranspirasi aktual (mm/bulan) Setelah simpan air telah mencapai kapasitas cadangan lengas tanah (water holding capacity), kelebihan curah hujan akan dihitung sebagai CHlebih. Air ini merupakan kelebihan setelah air tanah terisi kembali. Dengan demikian CHlebih dihitung sebagai nilai curah hujan dikurangi dengan nilai evapotranspirasi. Selanjutnya, CHlebih akan menjadi limpasan dan pengisian air tanah. CHlebih ditentukan dengan persamaan: S = P – ETP - ΔST .............................................................................................................................. (8) dengan: S : CHlebih (mm/bulan) 7 Curah hujan lebih kemudian akan diturunkan dalam bentuk limpasan dan pengisian air tanah. Besarnya limpasan sebanding dengan proporsi koefisien limpasan pada wilayah tersebut. Sedangkan besarnya pengisian air tanah merupakan sisa nilai curah hujan lebih yang tidak menjadi limpasan. Total limpasan dan pengisian air tanah dapat dikelola dan dijadikan suplai air. Untuk menduga besaran limpasan yang terjadi di suatu wilayah, perlu diketahui nilai koefisien aliran permukaan. Schwab et al (1981) menyatakan bahwa koefisien aliran permukaan (C) didefinisikan sebagai nisbah laju puncak aliran permukaan terhadap intensitas hujan. Faktor utama yang mempengaruhi C adalah laju infiltrasi tanah, tanaman penutup dan intensitas hujan. Nilai C untuk DAS pertanian bagi tanah kelompok hidrologi B tertera pada Tabel 4. Frekuensi terjadinya hujan mempengaruhi debit air dalam DAS. Tabel 4. Koefisien limpasan (C) untuk daerah tangkapan air lahan pertanian (kelompok tanah B) Koefisien C untuk Laju Hujan Tanaman Penutup Tanah dan No Kondisi Hidrologi 25 mm/jam 100 mm/jam 200 mm/ jam 1 Tanaman dalam baris, buruk 0.63 0.65 0.66 2 Tanaman dalam baris, baik 0.47 0.56 0.62 3 Padian, buruk 0.38 0.38 0.38 4 Padian, baik 0.18 0.21 0.22 5 Padang rumput potong, pergiliran 0.29 0.36 0.39 tanaman, baik 6 Padang rumput potong, 0.02 0.17 0.23 penggembalaan tetap, baik 7 Hutan dewasa, baik 0.02 0.10 0.15 Sumber : Schwab, et al, (1981) 2.3 Daya Dukung Lingkungan Daya dukung lingkungan berbasis neraca air suatu wilayah dapat diketahui dengan menghitung kapasitas ketersediaan air pada wilayah tersebut. Kapasitas ketersediaan air ini sangat tergantung pada kemampuan menjaga dan mempertahankan dinamika siklus hidrologi pada daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dinamika mempertahankan siklus hidrologi buatan sangat ditentukan oleh kemampuan meningkatkan kapasitas simpan air, baik penyimpanan secara “alami” dengan upaya melakukan rehabilitasi dan konservasi pada wilayah hulu DAS, ataupun secara “struktur buatan” seperti waduk (Rustiadi et al, 2010). Analisis daya dukung lingkungan berbasis neraca air menunjukan perbandingan kondisi suplai air pada suatu wilayah dengan kebutuhan yang ada, dari perbandingan keduanya akan diperoleh status kondisi ketersediaan air pada wilayah tersebut. 2.3.1 Penetapan Status Daya Dukung Lingkungan Konsep ini membandingkan antara ketersediaan air hujan (nilai CH andalan) dengan water footprint untuk menilai status daya dukung lingkungan berbasis neraca air (Prastowo, 2010). Water footprint merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang, komunitas, ataupun kegiatan produksi (Bulsink et al, 2009). Ketersediaan air yang dinyatakan sebagai CHandalan dihitung dengan peluang kejadian hujan ≥ 50% dengan metode perhitungan yang lazim digunakan, seperti metode Hazen, metode Gumbel, atau metode lainnya. perhitungan kebutuhan air dapat dihitung dari hasil konversi terhadap kebutuhan hidup layak, dengan menggunakan rumus sebagai berikut : DA = N x KHLA ...................................................................................................................................(9) dengan : 8 DA N KHLA : total kebutuhan air (m3/tahun) : jumlah penduduk (jiwa) : Kebutuhan air untuk hidup layak (1600 m3 air/kapita/tahun) 2 x 800 m3 air/kapita/tahun, 800 m3 air/kapita/tahun adalah kebutuhan air untuk keperluan domestik dan untuk menghasilkan pangan 2,0 adalah faktor koreksi untuk memperhitungkan kebutuhan hidup layak yang mencakup kebutuhan pangan, domestik dan lainnya. Kebutuhan air untuk wilayah Kampus IPB Dramaga dihitung berdasarkan jumlah mahasiswa dan staf, serta jenis gedung yang terdapat di dalam kampus. Menurut Noerbambang dan Morimura (2000) kebutuhan air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (10). Qd = (1.20) × Np × Pemakaian air rata-rata sehari ......................................................................... (10) dengan: Qd : pemakaian air sehari Np : jumlah pemakai T : jangka waktu pemakaian air rata-rata sehari Konstanta pemakaian air rata-rata sehari disajikan pada Lampiran 1, sedangkan 1.20 merupakan konstanta 20% penambahan untuk mengatasi kebocoran pancuran air, tambahan air untuk pemanas atau mesin pendingin gedung, penyiraman tanaman. Kebutuhan air Kriteria status daya dukung lingkungan berbasis neraca air tidak cukup dinyatakan dengan “surplus-defisit” saja namun untuk menunjukkan besaran relatif, perlu juga dinyatakan dengan nilai “supply/demand”. Kriteria penetapan status daya dukung lingkungan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Kriteria penetapan status DDL-Air Kriteria Rasio supply/demand > 2 Rasio supply/demand 1-2 Rasio supply/demand ETp), maka ETa = Etp e) Untuk bulan kering (PEp, dengan persamaan neraca air Thornthwaite and Mather (8). 10) Membuat kurva neraca air Menyusun perencanaan tata guna lahan sebagai upaya peningkatan simpanan air. 1) Mengidentifikasi lahan dan kesesuaian lahan. Hasil neraca air sebagai dasar penentuan wilayah yang perlu dilakukan konservasi. 2) Memberikan rekomendasi terhadap lahan. 13 Jumlah penduduk Jumlah bulan basah dan kering Water Footprint Klasifikasi Oldeman Curah hujan bulanan Metode Weibull Data suhu, kelembaban, lama penyinaran matahari, kecepatan angin Data tekstur tanah, luas wilayah kajian, peta tutupan lahan Metode CROPWAT CHandalan Kebutuhan air Thornwaite dan Mather ET0 Kapasitas simpan air (STo) Daya dukung lingkungan: status daya dukung lingkungan zona agroklimat potensi suplai air Aliran air Analisis neraca air Penentuan Daerah Tangkapan Perencanaan tata guna lahan Gambar 2. Diagram alir penelitian 14 IV. 4.1 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kampus IPB Dramaga Secara administrasi Kampus IPB Dramaga termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor di Kecamatan Dramaga. Kampus IPB Dramaga secara geografis terbentang antara 06°32’41” 06°33’58” LS dan 106°42’47” - 106°44’07” BT dengan luas wilayah ±267 ha. Kampus IPB terletak diantara dua anak Sungai Cisadane yaitu Sungai Ciapus di sebelah Utara dan Sungai Cihideung di sebelah Barat. Data curah hujan dan data iklim diperoleh dari Stasiun Klimatologi Dramaga. Stasiun ini dianggap paling mewakili kondisi iklim lokasi penelitian. Data curah hujan lengkap selama 11 tahun terakhir (2001-2011) terdapat pada Lampiran 2. Tabel 8. Diskripsi kondisi fisik Daerah Tangkapan Air Daerah Tangkapan Deskripsi Air Kelompok 1: DTA dengan arah limpasan langsung masuk ke Sungai Ciapus a. DTA 1 Relatif landai di bagian hulu dan curam di bagian hilir. Penggunaan lahan DTA 1 sebagian besar adalah vegetasi bertajuk tinggi sehingga belum memiliki saluran utama drainase. b. DTA 2 Sebagian besar penggunaan lahannya adalah vegetasi bertajuk tinggi sehingga belum memiliki saluran utama drainase juga. Bentangan DTA ini relatif landai di bagian hulu dan memiliki sebagian wilayah yang agak curam pada daerah hilir. c. DTA 5 Relatif agak curam dan sudah memiliki saluran drainase utama yang mengalir langsung ke Sungai Ciapus. d. DTA 6 Relatif curam dan belum memiliki saluran drainase utama. Dapat dikatakan daerah yang rawan longsor karena pada bagian hilir terdapat pemukiman warga dan bagian hulunya merupakan daerah terbangun yang relatif curam. e. DTA 7 Daerah yang agak curam di bagian hulu dan relatif landai di bagian hilir. Kelompok 2: DTA dengan arah limpasan langsung masuk ke Sungai Cihideung a. DTA 3 Sebagian besar penggunaan lahannya merupakan vegetasi bertajuk rendah dan kebun percobaan. Bentangan DTA 3 dapat dikatakan relatif landai. b. DTA 4 Sebagian besar penggunaan lahannya merupakan vegetasi bertajuk tinggi. Saluran drainase hanya terdapat di perumahan dan jalan, sehingga belum memiliki saluran drainase utama. Bentangan DTA 4 relatif landai keseluruhan bagiannya akan tetapi pada bagian tengah terdapat perbedaan tinggi cukup besar sehingga DTA 4 berpotensi untuk dijadikan reservoir. c. DTA 8 Bentuk tangkapan yang memanjang dan langsung dibatasi oleh sungai Cihideung. Oleh karena itu DTA ini bentangan wilayahnya relatif curam ke arah barat dimana terdapat sungai Cihideung. d. DTA 10 Penggunaan lahannya sebagian besar adalah vegetasi bertajuk tinggi dan memiliki bentangan yang relatif curam. e. DTA 12 Area budidaya dan daerahnya relatif landai. Kelompok 3: DTA yang memiliki badan air dan dengan arah limpasan melewati DTA lainnya. a. DTA 9a Saluran drainase akan bermuara di Danau Situ Leutik bagian hulu. b. DTA 9b Saluran drainase akan bermuara di danau situ leutik bagian hilir. c. DTA 9c Saluran drainase akan bermuara di kolam percobaan. Air dari danau situ Leutik dan kolam percobaan akan keluar melalui gorong-gorong menuju sungai Cihideung. d. DTA 11 DTA ini merupakan cekungan 15 Berdasarkan hasil observasi, wilayah kajian dalam penelitian ini seluas 277.15 ha dapat dibagi menjadi 14 Daerah Tangkapan Air (DTA) (Gambar 3). Daerah tangkapan ini termasuk wilayah kampus dan perumahan penduduk yang berbatasan dengan IPB namun masih dalam satu daerah tangkapan air. Aliran permukaan pada masing-masing DTA ada yang langsung terbuang ke sungai seperti DTA yang berbatasan langsung dengan Sungai Cihideung dan Sungai Ciapus. Aliran pada DTA yang tidak berbatasan langsung dengan sungai akan terkonsentrasi pada suatu badan air seperti danau maupun kolam. Deskripsi kondisi fisik DTA dapat dilihat pada Tabel 9. CA 1 CA 3 CA 2 CA 6 CA 4 CA 5 CA 7 CA 8 CA 9b CA 9a CA 9c CA 10 CA 11 CA 12 Sumber: Bakosurtanal, 2008 Gambar 3. Peta wilayah kajian penelitian dan pembagian DTA 4.2 Daya Dukung Lingkungan 4.2.1 Penentuan Status Daya Dukung Lingkungan Pendekatan analisis daya dukung lingkungan berbasis neraca air yaitu menggunakan nilai demand yang merupakan nilai Water Footprint. Ketersediaan air hujan di wilayah Kampus IPB Dramaga diperoleh dengan membandingkan nilai total CHandalan dalam satu tahun dengan kebutuhan air pada wilayah tersebut dalam satu tahun (water footprint). Water footprint merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang, komunitas, ataupun kegiatan produksi (Bulsink et al, 2009). Ketersediaan air yang dinyatakan sebagai CHandalan dihitung dengan peluang kejadian hujan ≥ 50% (Prastowo, 2010). CHandalan yang digunakan adalah 80% dengan besaran nilai 2530.0 mm/tahun. Kebutuhan air yaitu jumlah penduduk dikalikan dengan 1600 m3/kap/tahun sehingga didapat nilai sebesar 7.9 x 106 m3/tahun (Tabel 10). Nilai CHandalan total dalam satu tahun dikalikan dengan total luasan sehingga diperoleh nilai ketersediaan air dalam satuan m3/tahun, sehingga diperoleh nilai ketersediaan air dalam satuan m3/tahun yaitu sebesar 7.01 x 106 m3/tahun. Nilai kebutuhan air sebesar 7.9 x 106 m3/tahun dibandingkan dengan ketersediaan air sebesar 7.01 x 106 m3/tahun, sehingga 16 memiliki rasio ketersediaan dan kebutuhan air sebesar 0.9. Berdasarkan Tabel 5 status daya dukung lingkungan untuk wilayah Kampus IPB Dramaga adalah telah terlampaui (overshoot). Tabel 9. Kebutuhan air (water footprint) Gedung Jumlah penghuni Asrama putra Asrama Putri Rusunawa Asrama Silvalestari Asrama Silvasari Asrama Amarilis Asrama Putri Dramaga Perumahan Dosen* (159 kk) Kantin dan Kios** (260 buah) Total kebutuhan air domestik *asumsi perumahan dosen 1 kk terdiri dari 4 orang **asumsi masing-masing kios terdiri dari 2 orang 1361 1686 274 182 158 100 35 636 520 4952 kebutuhan air (m3/kap/tahun) 2177600 2697600 438400 291200 252800 160000 56000 1017600 832000 7923200 Berdasarkan kurva nomogram pada Gambar 4 yaitu hubungan antara kepadatan penduduk di wilayah Kampus IPB sebesar 1855 jiwa/km2 dengan CHandalan sebesar 2530.0 mm/tahun dapat diketahui wilayah Kampus IPB Dramaga berada dalam status telah terlampaui (overshoot). Maksud dari status overshoot ini adalah wilayah kampus IPB Dramaga tidak dapat mendukung penduduknya untuk melakukan kegiatan produksi pangan, sandang, papan dan industri sendiri. Oleh karena itu, kegiatan pangan, sandang, papan, dan industri semua telah disubsidi dari luar wilayah Kampus IPB Dramaga. Wilayah Kampus IPB Dramaga Sumber: Prastowo, 2010 Gambar 4. Nomogram penetapan status daya untuk kepadatan 1000-10000 jiwa/km2 dukung lingkungan berbasis neraca air 17 4.2.2 Zona Agroklimat Klasifikasi iklim wilayah Kampus IPB Dramaga berdasarkan klasifikasi Köppen adalah tipe Afa yaitu iklim tropik basah, tidak ada musim kering, basah sepanjang tahun dan suhu rata-rata bulanan terpanas lebih besar dari 22°C. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson iklim Dramaga adalah tipe A yaitu 0 ≤ Q < 0.143 (Evita, 2007). Menurut Rustiadi at al (2010), proses dan besarnya evapotranspirasi sangat tergantung pada kondisi penggunaan lahan untuk pertanian, hutan dan tumbuhan lain. Oldeman (1975) dalam Rustiadi at al (2010), telah mengembangkan konsep zona agroklimat. Dengan mengetahui zona agroklimat suatu wilayah, dapat diperkirakan daya dukung sumberdaya iklim untuk mengembangkan pertanian pada wilayah tersebut. Curah hujan rata – rata menunjukkan bahwa stasiun Dramaga memiliki jumlah bulan basah berturut-turut sebanyak 9 bulan. Oleh karena itu, zona agroklimat wilayah Kampus IPB Dramaga berdasarkan klasifikasi Oldeman adalah A1 yaitu sesuai untuk penanaman padi terus menerus, tetapi produksi kurang karena pada umumnya kerapatan fluks radiasi matahari rendah sepanjang tahun (Tabel 6 dan Tabel 7). 4.2.3 Potensi Suplai Air Menurut Rustiadi at al (2010), analisis potensi suplai air menentukan jumlah CHlebih dalam bentuk limpasan maupun pengisian air tanah yang potensial dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan. Analisis potensi suplai air dapat dimulai dengan memprediksi kebutuhan air operasional di wilayah tersebut. Prediksi kebutuhan air di wilayah Kampus IPB Dramaga dihitung berdasarkan kebutuhan air domestik dan non-domestik. Tabel 10. Prediksi kebutuhan air bersih non-domestik Jumlah penghuni Prediksi kebutuhan air (m3/hari) Gedung Mahasiswa (orang) Pegawai (orang) Mahasiswa Pegawai Faperta 1865 357 149.20 35.70 FKH 678 186 54.24 18.60 FPIK 1614 289 129.12 28.90 Fapet 962 199 76.96 19.90 Fahutan 1598 206 127.84 20.60 Fateta 1731 286 138.48 28.60 FMIPA 2841 390 227.28 39.00 FEM 1138 205 91.04 20.50 FEMA 1751 148 140.08 14.80 TPB 3761 300.88 Pasca Sarjana 2700 216.00 Rektorat 1146 114.60 Sub total 1651.12 341.20 Total Kebutuhan Air non-Domestik 1992.32 Sumber: Apriyanto, 2011 Tabel 10 dan Tabel 11 merupakan prediksi kebutuhan air untuk wilayah kampus IPB Dramaga sebesar 2,670.84 m3/hari. Menurut Noerbambang dan Morimura (2000), pemakaian air sehari harus dikalikan dengan konstanta 1.2 untuk penambahan mengatasi kebocoran pancuran air, 18 tambahan air untuk pemanas atau mesin pendingin gedung, penyiraman tanaman, sehingga prediksi kebutuhan air dalam sehari untuk wilayah Kampus IPB Dramaga sebesar 3205.01 m3/hari. Namun berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh Apriyanto (2011), pemakaian air bersih aktual di wilayah Kampus IPB Dramaga sebesar 3566.62 m3/hari (Tabel 12). Tabel 11. Prediksi kebutuhan air domestik Jumlah penghuni Gedung (orang) Asrama putra 1361 Asrama Putri 1686 Rusunawa 274 Asrama Silvalestari 182 Asrama Silvasari 158 Asrama Amarilis 100 Asrama Putri Dramaga 35 Perumahan Dosen* (159 kk) 636 Kantin dan Kios** (260 buah) 520 Total kebutuhan air domestik *asumsi perumahan dosen 1 kk terdiri dari 4 orang **asumsi masing-masing kios terdiri dari 2 orang Sumber: Apriyanto, 2011 Prediksi kebutuhan air (m3/hari) 163.32 202.32 44.88 21.84 18.96 12.00 4.20 159.00 52.00 678.52 Tabel 12. Pemakaian air bersih aktual Jalur Pemakaian air (m3/hari) PerumDos 903.00 Asrama TPB 703.86 Menara Fahutan 1070.93 Menara Fapet 888.83 Total 3566.62 Sumber: Apriyanto, 2011 Berdasarkan Tabel 10, Tabel 11, dan Tabel 12, nilai kebutuhan air prediksi dengan pemakaian aktual berbeda. Nilai prediksi kebutuhan air ini merupakan prediksi air yang harus dipasok tiap harinya untuk memenuhi kelangsungan kegiatan kampus. Kebutuhan air untuk wilayah Kampus IPB Dramaga dipasok dari dua WTP yang mengambil air baku dari Sungai Cihideung dan Sungai Ciapus. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan bapak Slamet (ketua Gugus Air, pengelola air, listrik dan telepon Faspro IPB), diketahui bahwa WTP Cihideung memiliki 4 GWT (Ground Water Treatment), sedangkan untuk WTP Ciapus memiliki 2 GWT yang dioperasionalkan setiap harinya. Tabel 13. Kapasitas produksi WTP WTP Debit (m3/hari) Ciapus 2222.60 Cihideung 2249.15 Total 4471.75 Sumber: Apriyanto, 2011 19 Masing-masing GWT memiliki pompa dengan kapasitas pompa 12 liter/detik/pompa. Jumlah GTW yang ada sekarang dapat memproduksi sebesar 4471.75 m3/hari. Nilai ini lebih besar dibandingkan jumlah air yang dibutuhkan. Namun dalam pendistribusian masih terjadi beberapa kendala sehingga pada jam-jam tertentu beberapa tempat mengalami kekurangan air, sehingga perlu diperbaiki pola jalur distribusi air atau bila perlu dibangun reservoir distribusi pada setiap menara fakultas. Perhitungan analisis neraca air dilakukan pada wialyah seluas 277.15 ha. Penentuan tutupan lahan dengan menggunakan Citra satelit ikonos google Earth akuisisi 17 Februari 2007 dan Citra satelit alos avnir akuisisi 3 Agustus 2009 diolah dengan Arc Gis 9.3. Perhitungan lengkap neraca air disajikan pada Lampiran 11. Perhitungan neraca air dilakukan pada 14 DTA. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa pada DTA 11 memiliki nilai persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling besar yaitu 79:21. Hal ini dikarenakan 94% wilayahnya merupakan hutan, sedangkan pada DTA 9a merupakan wilayah yang memiliki persentase perbandingan simpanan air dan limpasan paling kecil yaitu 53:47 dengan 42% wilayahnya berupa hutan. Menurut Asdak (2007), salah satu faktor yang berpengaruh terhadap besarnya perubahan limpasan adalah persentase luas tutupan lahan. Semakin besar perubahan tata guna lahan, semakin besar pula perubahan yang terjadi pada limpasan. Besarnya bagian CH lebih yang menjadi limpasan akan ditentukan oleh nilai koefisien limpasan (C) yang bergantung pada penutupan lahan. Nilai C berbanding terbalik dengan peningkatan komposisi luas hutan. Tabel 14. Hasil analisis neraca air wilayah kampus IPB Daerah Tangkapan Air 1 2 3 4 5 6 7 8 9a 9b 9c 10 11 12 Rata-rata 4.3 Chlebih mm/tahun 1459.8 1469.5 1469.5 1543.0 1432.8 1567.5 1819.4 1567.5 1954.7 1689.9 1751.8 1445.0 1383.8 1677.6 1604.2 Limpasan mm/tahun (%) 408.7 28 382.1 26 470.2 32 570.9 37 329.5 23 470.2 30 746.0 41 548.6 35 918.7 47 625.3 37 683.2 39 346.8 24 534.7 21 620.7 37 577.5 36 Simpan air mm/tahun (%) 1051.0 72 1087.4 74 999.3 68 972.1 63 1103.3 77 1097.2 70 1073.5 59 1018.8 65 1036.0 53 1064.6 63 1068.6 61 1098.2 76 1093.2 79 1040.1 63 1026.7 64 Presipitasi, Evapotranspirasi dan Kapasitas Simpan Air Parameter pertama yang digunakan dalam analisis neraca air adalah data iklim. Data iklim diperoleh dari stasiun klimatologi Dramaga yang terletak pada 06°33' 13” LS dan 106°44' 59 BT dengan elevasi 190 m dpl. Curah hujan yang digunakan adalah curah hujan andalan dengan peluang 80% menggunakan metode Weibull (Gambar 5). Hal ini mengindentifikasi nilai andalan satu bulan memiliki peluang terlampaui 80%. Curah hujan andalan 80% pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Lampiran 3. 20 Jan Feb Nov Des Gambar 5. Grafik curah hujan andalan 80% Parameter masukkan selanjutnya yaitu evapotranspirasi potensial (ETP). Menurut Doorenbos dan Pruit (1977), untuk wilayah yang terdapat data sekunder yang cukup (data suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari disarankan untuk menggunakan metode Penman dalam perhitungan ETP. Data iklim disajikan pada Lampiran 6. Nilai ETP didapat dengan mengalikan nilai evapotranspirasi acuan (ETo) dengan koefisien tanaman (Kc). Nilai Kc sangat berpengaruh terhadap besarnya nilai ETP sehingga untuk skenario tutupan lahan nilai Kc dianggap sama yakni digunakan nilai Kc sebesar 0.9 untuk wilayah hutan dan 0.4 untuk wilayah lainnya. Luasan lahan (%) Gambar 6. Grafik nilai STo untuk berbagai luasan hutan Nilai ET0 dan ETP per DTA selengkapnya disajikan pada Lampiran 7. Parameter masukan yang dibutuhkan selanjutnya adalah kapasitas simpan air. Menurut Thornthwaite dan Mather (1957), faktor utama untuk menentukan kapasitas simpan air yaitu jenis dan struktur tanah serta jenis tanaman yang terdapat pada lahan tersebut, sehingga nilai STo pada setiap persentase luas hutan akan berbeda. Nilai STo ditentukan dengan cara tertimbang sesuai proporsi luasan penutupan lahan. Untuk wilayah Kampus IPB Dramaga, jenis tanah disetiap persentase luas hutan dan luas pemukiman sama yaitu tanah lempung lanau. Dalam hal ini pada persentase wilayah hutan digunakan nilai STo sebesar 398 mm untuk wilayah hutan dan 84 mm. Dari Gambar 6 dapat diketahui bahwa nilai STo berbanding lurus dengan persentase luasan hutan. Bila diasumsikan seluruh tanaman hutan merupakan tanaman sejenis, maka wilayah yang memiliki komposisi hutan lebih besar akan memiliki nilai STo yang lebih besar. Hal ini serupa dengan 21 pernyataan Thornthwaite dan Mather (1957), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi nilai kapasitas simpan air adalah tutupan lahan. Nilai kapasitas simpan air paling besar terdapat pada DTA 11 yaitu sebesar 235.78 mm dengan nilai Kc sebesar 0.85 dan nilai C sebesar 0.21. Nilai kapasitas simpanan air paling kecil adalah pada DTA 9a yaitu sebesar 109.51 mm dengan nilai Kc sebesar 0.40 dan nilai C sebesar 0.47. Nilai Sto, C dan Kc untuk setiap DTA dapat dilihat pada Tabel 15. Penggunaan lahan di Kampus IPB diantaranya untuk bangunan, kebun, kebun campuran, kebun kelapa sawit, kolam, perumahan, pemukiman, tegalan, vegetasi bertajuk rendah, dan vegetasi bertajuk tinggi. Tabel 15. Nilai STo, C, dan Kc tertimbang STo DTA C Kc (mm) 1 212.85 0.28 0.79 2 214.65 0.26 0.78 3 202.57 0.32 0.78 4 164.85 0.37 0.61 5 185.94 0.37 0.81 6 193.83 0.30 0.70 7 139.86 0.41 0.50 8 184.36 0.35 0.70 9a 109.51 0.47 0.40 9b 161.92 0.27 0.60 9c 151.50 0.39 0.55 10 221.82 0.24 0.80 11 235.78 0.21 0.85 12 162.06 0.38 0.61 Proporsi penggunaan lahan di wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Lampiran 4. Wilayah Kampus IPB Dramaga dibagi menjadi 14 Daerah Tangkapan Air (DTA) untuk memudahkan dalam analisis pola drainase. Daerah tangkapan ini termasuk wilayah kampus dan perumahan penduduk yang berbatasan dengan IPB namun masih dalam satu daerah tangkapan air. Peta penggunaan lahan dan batasan DTA dapat dilihat pada Lampiran 4. Tabel perhitungan lengkap nilai Kc, STo, dan C dapat dilihat pada Lampiran 8, 9, dan 10. Tabel 16. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan hutan di wilayah kampus IPB Parameter (mm/tahun) % hutan CHlebih 1954.74 Limpasan 1270.58 Simpan air 684.16 1887.08 1137.91 749.17 20.00 1819.42 1011.60 807.82 30.00 1751.76 891.65 860.12 40.00 1689.88 780.72 909.16 50.00 1628.67 675.90 952.77 60.00 1567.46 576.83 990.63 70.00 1506.25 483.51 1022.74 80.00 1445.04 395.94 1049.10 90.00 1383.83 314.13 1069.70 100.00 1322.62 238.07 1084.55 0.00 10.00 22 Analisis neraca air dengan berbagai luasan hutan dilakukan dalam beberapa skenario. Skenario luasan hutan yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Diasumsikan luas hutan merupakan wilayah dengan tutupan lahan vegetasi bertajuk tinggi. Hasil analisis neraca air dari beberapa skenario luasan hutan pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Tabel 16. Dapat dilihat pada Tabel 16 terlihat bahwa semakin tinggi persentase luas hutan pada wilayah Kampus IPB Dramaga menyebabkan penurunan nilai CHlebih. Hal ini serupa dengan limpasan, nilainya akan menurun seiring meningkatnya persentase luas hutan, namun sebaliknya untuk nilai pengisian air tanah akan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan persentase luas hutan. Berdasarkan Gambar 7,kurva neraca air untuk beberapa komposisi luas hutan kondisi aman pada luas hutan minimal 30 %. Perhitungan lengkap neraca air untuk setiap komposisi luas hutan terdapat pada Lampiran 12. Nilai Parameter Neraca Air (mm/hari) 2500.00 2000.00 1500.00 CHlebih 1000.00 Limpasan 500.00 Pengisian Air Tanah 0.00 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Luasan hutan (%) Gambar 7. Kurva neraca air untuk berbagai luasan hutan Analisis neraca air dengan berbagai luasan lahan terbangun dilakukan dalam beberapa skenario. Skenario luasan lahan terbangun yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%, dengan asumsi bangunan merupakan lahan terbangun, bangunan perkuliahan, kantor, pemukiman, dan perumahan. Hasil analisis neraca air dari beberapa skenario luasan lahan terbangun pada wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Tabel 17. Pada Tabel 17 terlihat bahwa semakin tinggi persentase luas bangunan pada wilayah Kampus IPB Dramaga menyebabkan kenaikan nilai CHlebih. Hal ini serupa dengan limpasan, nilainya akan meningkat seiring meningkatnya persentase luas bangunan. Namun sebaliknya untuk nilai pengisian air tanah akan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya persentase luas bangunan. Perhitungan lengkap neraca air untuk setiap komposisi luas bangunan terdapat pada Lampiran 13. Menurut Falkenmark and Rockström (2004), perbandingan ideal antara pengisian air tanah dan limpasan CHlebih adalah 50:50. Persentase simpanan air tanah dan limpasan berpotongan pada titik 40 %, nilai ini menunjukan kondisi aman adalah pada luasan lahan terbangun maksimal 40% seperti dilihat pada Gambar 8. Kampus IPB sebagai kampus hijau disarankan perbandingan pengisian air tanah dan limpasan sebesar 23 65:35 menurut nilai rataan dari tiap DTA. Secara umum dapat dilihat bahwa kapasitas simpan air pada suatu wilayah akan berpengaruh pada nilai CHlebih. Tabel 17. Hubungan beberapa parameter neraca air dengan luasan bangunan di wilayah kampus IPB Parameter (mm/tahun) % lahan terbangun 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 CHlebih 1322.62 1432.80 1542.98 1653.15 1765.29 1887.08 2008.86 2130.65 2259.55 2394.72 2529.90 Limpasan 462.92 551.63 648.05 752.19 864.99 990.72 1124.96 1267.73 1423.51 1592.49 1770.93 Simpan air 859.70 881.17 894.93 900.97 900.30 896.36 883.90 862.91 836.03 802.23 758.97 Gambar 8. Kurva neraca air untuk berbagai luasan bangunan 4.4 Konservasi Air Tanah dan Perencanaan Tata Guna Lahan Analisis neraca air untuk wilayah kampus IPB Dramaga memberikan gambaran perubahan nilai CHlebih, limpasan, dan pengisian air tanah. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui luasan ideal dalam komposisi hutan dan komposisi bangunan. Pada komposisi hutan diperoleh nilai aman pada komposisi minimal 30% luas hutan dan maksimal 40% untuk komposisi luas pemukiman. Berdasarkan perhitungan neraca air untuk DTA 7, DTA 9a dan DTA 9c memiliki persentase lahan terbangun lebih dari 40% sehingga untuk kedepannya pada lahan tersebut luasan hutan harus dipertahankan dan tidak diizinkan untuk didirikan bangunan. Untuk DTA 3 luas hutan sebesar 30% sudah mencukupi dan perlu dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Komposisi perbandingan simpanan air tanah dan limpasan yang dianggap ideal untuk Kampus IPB Dramaga adalah 65:35. Penambahan luasan lahan hutan yang disarankan untuk tiap DTA dapat dilihat pada Tabel 18 dengan 24 asumsi penambahan STo berbanding lurus, namun untuk DTA 9a dan 9c penambahan luas vegetasi tetap tidak mampu menaikan persentase perbandingan simpanan air dan limpasan pada 65:35 karena pada wilayah tersebut sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dilakukan penambahan vegetasi. Tabel 18. Perubahan luasan lahan hutan DTA 4 7 9a 9b 9c 12 Kondisi awal (ha) 13.32 11.57 7.86 5.86 22.29 7.79 Kondisi 65:35 (ha) 13.74 12.74 8.02 6.04 23.01 8.03 Penambahan yang disarankan (ha) 0.42 0.90 0.16 0.18 0.72 0.24 Pengolahan limpasan dan pengisian air tanah di wilayah Kampus IPB Dramaga memiliki memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Limpasan dan pengisian air tanah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penduduk dengan cara yang berbeda. Menurut Arsyad (2010), ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah, yaitu (1) menutup tanah dengan tanaman atau sisa-sisa tumbuhan dan tumbuhan agar terlindung dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (2) memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap daya penghancur agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan pengangkutan oleh aliran permukaan dan (3) mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi. Oleh karena itu metode konservasi yang dapat dilakukan untuk wilayah Kampus IPB Dramaga adalah pembuatan lubang biopori, reservoir, dan penambahan jumlah vegetasi. Lubang biopori merupakan teknologi yang mudah dan murah. Lubang biopori merupakan lubang sedalam 1 m dengan diameter 10 cm. Lubang biopori dapat menambah luasan resapan air ke dalam tanah yang semula 78.5 cm2 setelah menjadi lubang biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2 (Brata, et al 2007). Pada penelitian ini dilakukan observasi langsung ke wilayah kajian untuk mendapatkan pola aliran air. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan wilayah Kampus IPB Dramaga dapat dibagi dalam 14 DTA. Pembagian wilayah DTA berdasarkan input dan output aliran air. Untuk konservasi pengolahan pengisian air tanah dan perencanaan tata guna lahan perlu memperhitungkan pola aliran ini. Pola aliran air untuk wilayah kampus IPB Dramaga dapat dilihat pada Gambar 9. Dalam penelitian ini dilakukan penggambaran untuk 5 penggambaran melintang. Gambar melintang 1, gambar melintang 2, dan gambar melintang 3 diambil karena berada di wilayah yang padat aktifitas akademik yaitu pada DTA 9. Gambar melintang 4 diambil karena terdapat wilayah yang memiliki potensi untuk dijadikan reservoir yaitu pada DTA 4. Terdapat beberapa saluran drainase air yang mengarah ke DTA ini, sedangkan gambar melintang 5 diambil karena pada wilayah tersebut berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk yaitu pada DTA 6. Penggambaran melintang dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang jelas terhadap wilayah kajian, sehingga dapat dilakukan konservasi yang tepat. Pengolahan limpasan dan kapasitas simpan air diarahkan pada teknologi yang murah dan tepat guna. Pada gambar melintang 1, gambar melintang 2 dan gambar melintang 3 merupakan wilayah dengan aktifitas mahasiswa yang relatif padat. Aliran air pada wilayah ini mengalir kearah Danau Situ Leutik. Lahan bangunan di wilayah ini relatif luas dibandingkan dengan lahan lain di wilayah Kampus IPB. 25 DTA 6 DTA 4 DTA 9 Keterangan: : Arah aliran indikatif : Arah trase aliran : Lokasi lubang drainase yang pelu diperbesar Gambar 9. Pola aliran air 190 180 0 100 200 Gedung Kolam Vegetasi perkuliahan FPIK Jarak (m) Gambar 10. Penampang melintang 1 Penggambaran penampang melintang untuk gambar melintang 1, gambar melintang 2 dan gambar melintang 3 dapat dilihat pada Gambar 10, Gambar 11 dan Gambar 12. Pada DTA 9 sering terjadi genangan air pada saat turun hujan yaitu pada jalan Kamper, sehingga upaya yang dapat dilakukan adalah memperbesar lubang drainase pada bagian jalan Kamper (Gambar 9). Hal ini dikarenakan pada DTA 9 memiliki bangunan yang relatif luas, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi limpasan. Lubang drainase pada bangunan sadap tersebut perlu diperbesar (Gambar 13). 26 190 180 0 100 Rektorat vegetasi 350 200 Danau Situ Leutik vegetasi Jarak (m) Gambar 11. Penampang melintang 2 190 180 0 100 200 400 Arboretum 750 Fema, Fateta Fahutan Jarak (m) Gambar 12. Penampang melintang 3 Gambar 13. Lubang drainase Lahan pada DTA 4 merupakan wilayah cekungan antara RS Hewan dengan perumahan dosen. Terdapat beberapa saluran drainase yang bermuara ke lahan ini. Pada DTA 4 terdapat wilayah berpotensi dibagun reservoir yang dapat berfungsi untuk menampung limpasan. Hal ini dikarenakan banyak saluran drainase yang bermuara ke wilayah ini. Selain itu terdapat sumber mata air yang selalu mengalir dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan kolam ikan, tetapi sebagian besar mata air mengalir dalam saluran dan langsung terbuang ke sungai. Dibangun reservoir 182 172 0 Vegetasi 100 200 Vegetasi Jarak (m) Gambar 14. Penampang melintang 4 350 Perumahan dosen 27 Oleh karena itu, mata air ini sangat berpotensi untuk dijadikan sumber air untuk reservoir, bahkan menurut keterangan warga daerah ini dahulu merupakan waduk yang memiliki tubuh bendung. Namun kemungkinan tersebut perlu adanya kajian lebih lanjut. Gambar penampang melintang DTA 4 dapat dilihat pada Gambar 14. Lahan pada DTA 6 merupakan wilayah diantara Kampus IPB Dramaga dan Sungai Ciapus. Pada elevasi lahan tertinggi merupakan gedung common classroom dan beberapa gedung dalam proses pembangunan, sedangkan pada elevasi lahan terendah merupakan Sungai Ciapus. Wilayah ini memiliki kemiringan lahan sebesar 10%. Gambar penampang melintang 5 dapat dilihat pada Gambar 15. Menurut Arsyad (2010), teras tangga dibuat dengan cara mengali ranah pada lereng dan meratakan tanah dibagian bawah sehingga terjadi suatu deretan tangga atau bangku. Teras tangga dapat dibuat untuk tanah berlereng 2%-30%, sehingga konservasi menggunakan vegetasi juga perlu dilakukkan. Hal ini guna menahan longsor dan upaya dalam meningkatkan simpanan air tanah dan mengurangi limpasan. 195 185 175 165 155 0 Common classroom 100 200 Pemukiman Cangkurawok Jarak (m) Gambar 15. Penampang melintang 5 400 425 Sungai Ciapus Daerah jagaan yang perlu ditanami vegetasi Gambar 16. Kondisi wilayah DTA 6 saat penelitian Berdasarkan perhitungan USLE nilai erosi untuk wilayah DTA 6 adalah 56.317 ton/ha/tahun. Laju erosi yang masih dapat dipertahankan apabila nilai A≥T. Menurut Hudson (1971) dalam Arsyad 28 (2010) nilai T untuk tanah lempung 13-15 ton/ha/tahun, sehingga berdasarkan nilai ini erosi pada wilayah DTA 6 perlu dilakukan konservasi. Konservasi yang dapat dilakukan adalah pembuatan teras dengan penanaman vegetasi. Tanaman untuk vegetasi permanen dapat menggunakan tanaman hutan dengan semak-semak dan serasah atau kebun tanaman tahunan dengan vegetasi penutupan lahan yang baik. Menurut Constantinesco (1976) dalam Arsyad (2010), pada lereng dengan kecuraman 10% dapat dibuat teras dengan lebar 10 m dengan jumlah teras 10 per 100 m. Namun pada kondisi eksisting saat ini wilayah di DTA 6 sedang dibangun gedung perkuliahan, sehingga dibangun teras dengan batu bronjong. Struktur batu bronjong ini dianggap paling aman dan mampu untuk menahan lonsor, karena pada elevasi terendah merupakan pemukiman penduduk. Sebelum adanya pembangunan terdapat mata air yang digunakan warga sekitar. Namun karena adanya pembangunan ini mata air tersebut sudah tidak dapat digunakan, sehingga perlu dilaukan konservasi berupa penanaman vegetasi didaerah jagaan teras guna menyimpan air dan menahan erosi tanah. 29 V. 5.1 1. 2. 3. 5.2 1. 2. 3. 4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Status daya dukung lingkungan wilayah Kampus IPB Dramaga tergolong kedalam overshoot (telah terlampaui) dengan nilai water footprint sebesar 7,9 x 106 m3/kap/tahun dan perbandingan kebutuhan dan ketersediaan air sebesar 0.9. Wilayah ini termasuk kedalam zona agroklimat A1 klasifikasi Oldeman dan memiliki potensi CHlebih rata-rata sebesar 1604.2 mm/tahun. Kapasitas simpan air yang relatif paling besar adalah pada DTA 11 (94% wilayahnya berupa hutan) sebesar 235.78 mm/tahun, sedangkan kapasitas simpan air yang relatif paling kecil adalah DTA 9 (42% wilayahnya berupa hutan) sebesar 109.51 mm/tahun. Tata guna lahan di wilayah Kampus IPB Dramaga yang dianggap ideal adalah yang menghasilkan rasio simpanan air dan limpasan sebesar 65:35, sehingga perlu penambahan vegetasi dibeberapa wilayah yaitu pada DTA 4 (0.42 ha), DTA 7 (0.90 ha), DTA 9a (0.16 ha), DTA 9b (0.18 ha), DTA 9c (0.72 ha), dan DTA 12 (0.24 ha). Saran Perlu adanya penelitian lanjutan untuk segmen 4 guna mengetahui kemungkinan potensi untuk pembuatan reservoir, tipe bangunan, ataupun perhitungan struktur, serta kemungkinan wilayah genangan. Model kurva neraca air yang telah dihasilkan dalam penelitian ini dapat dikaji lebih lanjut untuk menentukan kondisi penutupan lahan yang ideal. DTA 6 disarankan penanaman vegetasi pada daerah jagaan teras yang sedang dibangun. Perlu adanya upaya untuk pengelolaan limpasan yaitu melalui kegiatan penghijauan, pemeliharaan dan penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif serta teknis sipil, pada lahan kritis dan tidak produktif. 30 DAFTAR PUSTAKA Allen R G, Pereira LS, Raes D, and Smith M.1998. Crop evapotranspiration – Guidelines for computing crop water requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper N0 56. Rome, Italy. Apriyanto B. 2011. Analisis Kebutuhan Air dan Headloss pada Distribusi Air Bersih di Kampus IPB Dramaga, Bogor.Skripsi.Bogor: Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB Arsyad S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press Asdak C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press [BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2008. Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1209 – 134 Leuwiliang. Cibinong: Bakosurtanal. Skala 1:25000 [BMKG] Badan Meteorologi dan Geofisika. 2012. Data Iklim 2001 – 2011. Stasiun Klimatologi Dramaga. Bogor. Brata KR, Purwakusuma W, Hidayat Y, Dwiwahyuni E, Baskoro DPT. 2007. Keunggulan dan Manfaat. http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php [30 Mei 2012] Bulsink F, Hoekstra AY, Booij MJ. 2009. The Water Footprint of Indonesian Provinces Related to the Consumption of Crop Products. [http://www.waterfootprint.org/Reports/Report37WaterFootprint-Indonesia.pdf [27 Februari 2012] [Dephut] Departemen Kehutanan. 2008. Kerangka Kerja Pengolahan Daerah Aliran Sungai di Indonesia. Jakarta: Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. [DJRLPS] Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2009. Peraturan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor P.04/ VSET/2009 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi Daerah Aliran Sungai. Jakarta: DJRLPS. Doorenbos J, Pruitt WO. 1977. Crop Water Requirements. Rome : FAO Irrigation And Drainage Paper. FAO Evita T. 2007. Penelitian Indikasi Perubahan Iklim Ditinjau dari Intensitas Hujan Maksimum Harian di Wilayah Perkotaan (Studi Kasus Jakarta dan Bogor). Tesis. Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Falkenmark M, Rockström J. 2004. Balancing Water for Humans and Nature. London : Cromwell Press [IIT] India Institute of Technology. 2008. Water Resources Engineering. Kharagpur: India Institute of Technology Impron P, Handoko. 1993. Klasifikasi Iklim. In: Handoko (ed). Klimatologi Dasar. Bogor: Pustaka Jaya. pp:161-174 Manan S. 1976. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Bogor : IPB Press Noerbambang SM, Morimura T. 2000. Perencanaan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: PT Pradnya Paramitha Parapat JS. 1997. Perencanaan Konservasi Tanah dan Air pada Pembangunan Lapangan Golf di Aquila Cipanas Bukit Golf Hotel dan Vila, Cianjur, Jawa Barat. Skripsi. Bogor : Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB Prastowo. 2010. Daya Dukung Lingkungan Aspek Sumberdaya Air. Working Paper P4W. Bogor : Crestpent Press 31 Rustiadi E, Barus B, Prastowo, Iman LS. 2010. Pengembangan Pedoman Evaluasi Pemanfaatan Ruang. Bogor: Crestpent Press Schwab GO, Frevert RK, Edminster TW, Barnes KK. 1981. Soil and Water Conservation Engineering. New York : John Wiley and Sons. Inc. Seyhan E. 1990. Dasar – dasar Hidrologi. Penerjemah : Ir. Sentot Subagyo. Jogjakarta : Gadjah Mada University Press Sjarief R. 2002. Pengolahan Sumber Daya Air Dalam Jurnal Konstruksi & Disain No.1 Jilid 1. Litbang Kimpraswil Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi Thornthwaite CW, Mather JR. 1957. Instruction and Table For Computing Potensial Evaotrasnpiration and Water Balance. New Jersey : Centerton [TPB IPB]. 2011. TPB dalam Angka [Homepage dari Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor]. http://tpb.ipb.ac.id/index.php/en/tpb-dalam-angka/category/15-tpb-dalam-angka. [22 Februari 2012]. 32 LAMPIRAN 33 Lampiran 1. Pemakaian air rata-rata sehari No 1 Jenis gedung 2 3 Perumahan mewah Rumah biasa Apartement 4 5 Asrama Rumah sakit 6 7 8 Sekolah dasar SLTP SLTA dan lebih tinggi Rumah- toko Pemakaian air rata-rata sehari (liter) 250 Jangka waktu pemakaian air rata-rata sehari (jam) 8-10 Perbandingan luas lantai efektif/ total (%) 42-45 Setiap penghuni Setiap penghuni Mewah 250 liter Menengah 180 liter Bujangan 120 liter Bujangan (setiap tempat tidur pasien) Pasien luar: 8 liter Staf: 120 liter Keluarga pasien: 160 liter Guru: 100 liter Guru: 100 liter Guru/Dosen: 100 liter Penghuninya:160 liter Setiap pegawai Pemakaian air hanya untuk kakus, belum termasuk untuk bagian restorannya Untuk penghuni 160 liter Untuk penghuni: 160 liter Pelayan: 100 liter, 70 % dari jumlah tamu 15 liter/orang untuk kakus Pedagang besar: 30 liter/tamu, 150 liter/staf atau 5 liter per hari setiap m2 luas lantai Didasarkan jumlah jamaah Untuk setiap pembaca yang tinggal Setiap staf 160-250 200-250 8-10 8-10 50-53 45-50 120 Mewah>1000 Menengah 5001000 Umum 350-500 8 8-10 45-48 40 50 80 5 6 6 58-60 58-60 - 100-200 8 - 100 3 8 7 60-70 55-60 12 Gedung kantor Toserba (toko serba ada, departement store) Restoran 30 5 - 13 Restoran umum 15 7 - 14 Toko pengecer 40 6 - 15 Gedung peribadatan Perpustakaan 10 2 - 25 6 - 8 - 9 10 11 16 17 Laboraturium 100-200 Sumber: Noerbambang dan Morimura, 2000 Keterangan 34 Lampiran 2. Data curah hujan bulanan (mm) Stasiun Klimatologi Dramaga Badan meteorologi dan geofisika Balai wilayah II Stasiun klimatologi kelas I Darmaga Bogor Data iklim stasiun darmaga (2001 - 2011) Stasiun Elevasi Lokasi : klimatologi Bogor : 190m :06, 33'13” LS :106, 44'59 BT Bulan Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des 2011 351 315 271 240 571 388 131 34 147 426 407 258 2010 361 300 261 256 575 338 131 34 157 411 407 258 2009 361 305 261 260 572 338 131 33 157 416 407 258 2008 235 374 674 439 191 164 169 190 305 277 374 236 2007 395 351 285 461 174 257 135 197 207 243 342 448 2006 588 387 209 96 400 263 32 132 25 159 384 215 2005 62 22 565 296 425 596 175 99 372 310 337 209 2004 404 323 432 640 374 169 209 166 392 277 403 432 2003 212 556 471 309 701 180 25 91 268 552 328 396 2002 368 305 261 255 578 338 136 37 158 416 400 256 2001 251 307 251 263 573 330 137 150 157 516 407 218 35 Lampiran 3. Perhitungan curah hujan andalan dengan Metode Weibull Urutan curah hujan Bulanan No. Urut Bulan (mm) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep 1 588 556 674 640 701 596 209 197 392 2 404 387 565 461 578 388 175 190 372 3 395 374 471 439 575 338 169 166 4 368 351 432 309 573 338 137 5 361 323 285 296 571 338 6 361 315 271 263 571 330 7 351 307 261 260 425 8 251 305 261 256 Okt p=m/(n+1) Nov Des Jumlah 552 407 448 5959 0.08 516 407 432 4874 0.17 305 426 407 396 4460 0.25 150 268 416 407 258 4006 0.33 136 132 207 416 403 258 3725 0.42 135 99 158 411 400 258 3572 0.50 263 131 91 157 310 384 258 3199 0.58 400 257 131 37 157 277 374 236 2942 0.67 9 235 305 261 255 374 180 131 34 157 277 342 218 2769 0.75 10 212 300 251 240 191 169 32 34 147 243 337 215 2371 0.83 11 62 22 209 96 174 164 25 33 25 159 328 209 1507 0.92 Curah Hujan Bulanan (P=80%) Bulan (mm) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jumlah 221.0 302.3 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 36 Lampiran 4. Proporsi tutupan lahan Daerah Tangkapan Air (ha) No Tata guna Lahan 1 2 3 4 5 6 7 8 a 9 b c 10 11 12 Total Luas (ha) 1 Bangunan 0.71 0.04 0.38 2.84 0.09 0.00 3.42 3.52 6.70 1.01 11.04 0.00 0.00 0.77 30.52 2 Kebun 0.00 0.00 2.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 8.08 3 Kebun Campuran 0.00 1.73 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.00 0.00 0.00 0.00 2.49 4 Kelapa Sawit 0.00 0.00 2.66 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 5 Kolam 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.64 6 Lahan Terbangun 0.00 0.00 0.00 1.55 1.47 0.00 3.18 0.00 2.75 1.61 2.95 0.00 0.00 0.00 13.51 7 Pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 2.01 0.00 0.00 0.00 0.26 0.86 0.00 2.75 9.94 8 Perumahan 0.00 3.02 0.27 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6.14 10 Semak 0.00 0.21 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.21 12 Tanah Kosong 1.51 0.35 0.67 0.11 0.00 0.10 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.21 0.00 1.98 5.43 13 Tegalan 0.00 0.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.08 14 Tubuh Air 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 1.03 0.47 0.00 0.18 0.00 1.71 15 Vegetasi bertajuk rendah 6.40 1.87 8.99 5.69 0.09 0.27 0.00 9.28 0.35 1.16 0.72 0.00 0.00 0.00 48.62 16 Vegetasi bertajuk tinggi 14.97 22.73 6.38 13.32 13.89 14.33 11.57 7.58 7.86 5.86 22.29 8.38 2.97 7.79 146.12 Total Luas (ha) 23.60 30.05 21.60 27.10 15.54 18.76 20.68 20.74 18.57 11.43 37.73 9.45 3.15 18.77 277.15 37 Lampiran 5. Peta tutupan lahan wilayah Kampus IPB Dramaga Bogor 38 Lampiran 6. Data iklim Badan meteorologi dan geofisika Balai wilayah II Stasiun klimatologi kelas I Darmaga Bogor Data iklim stasiun darmaga (2001 - 2011) Bulan Stasiun Elevasi Lokasi Temperatur maksimum (0C) Temperatur minimum (0C) Kelembaban Nisbi(%) : klimatologi Bogor : 190m :06, 33'13” LS :106, 44'59 BT Lama penyinaran (%) Kecepatan angin (km/hari) Januari 28,0 22,9 88,0 37,2 82 Februari 28,9 22,2 87,8 32,3 106 Maret 31,5 23,1 83,5 62,2 85 April 31,6 23,5 83,4 63,0 75 Mei 32,0 23,7 84,4 60,3 73 Juni 32,2 23,1 83,8 74,2 80 Juli 32,0 22,1 77,5 82,6 69 Agustus 32,9 22,7 76,3 87,5 78 September 32,9 23,6 75,8 73,9 79 Oktober 33,2 22,8 82,8 70,8 77 November 31,4 23,2 83,3 31,3 76 Desember 30,9 23,1 85,0 49,7 82 39 Lampiran 7. Nilai evapotranspirasi potensial (mm) dan evapotranpirasi acuan DTA Nilai ETP Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 1 84.52 72.81 107.48 98.58 91.36 92.43 101.62 117.25 114.89 120.43 82.74 99.42 1183.51 2 83.66 72.07 106.39 97.58 90.43 91.49 100.59 116.06 113.72 119.21 81.90 98.41 1171.53 3 83.66 72.07 106.39 97.58 90.43 91.49 100.59 116.06 113.72 119.21 81.90 98.41 1171.53 4 77.23 66.53 98.21 90.07 83.48 84.46 92.85 107.14 104.98 110.04 75.60 90.84 1081.41 5 86.88 74.84 110.48 101.33 93.91 95.01 104.46 120.53 118.10 123.79 85.05 102.20 1216.59 6 75.08 64.68 95.48 87.57 81.16 82.11 90.27 104.16 102.06 106.98 73.50 88.32 1051.37 7 53.63 46.20 68.20 62.55 57.97 58.65 64.48 74.40 72.90 76.42 52.50 63.09 750.98 8 75.08 64.68 95.48 87.57 81.16 82.11 90.27 104.16 102.06 106.98 73.50 88.32 1051.37 9a 42.90 36.96 54.56 50.04 46.38 46.92 51.58 59.52 58.32 61.13 42.00 50.47 600.78 9b 64.36 55.44 81.84 75.06 69.56 70.38 77.38 89.28 87.48 91.70 63.00 75.70 901.18 9c 58.99 50.82 75.02 68.81 63.77 64.52 70.93 81.84 80.19 84.06 57.75 69.39 826.08 10 85.81 73.92 109.12 100.08 92.75 93.84 103.17 119.04 116.64 122.26 84.00 100.94 1201.57 11 91.17 78.54 115.94 106.34 98.55 99.71 109.62 126.48 123.93 129.91 89.25 107.24 1276.67 12 65.43 56.36 83.20 76.31 70.72 71.55 78.67 90.77 88.94 93.23 64.05 76.96 916.20 Nilai ET0 Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 107.26 92.40 136.40 125.10 115.94 117.30 128.96 148.80 145.80 152.83 105.00 126.17 1501.96 40 Lampiran 8. Perhitungan nilai koefisien tanaman tertimbang Tutupan lahan Kc DTA1 Luas Kc x (ha) luas DTA2 Luas Kc x (ha) luas DTA6 Luas Kc x (ha) luas DTA7 Luas Kc x (ha) luas 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.90 14.97 13.47 22.73 20.46 6.38 5.75 13.32 11.99 1.47 1.32 14.33 12.89 11.57 10.41 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.80 6.40 5.12 1.87 1.49 8.99 7.19 5.69 4.55 13.89 11.11 0.27 0.21 0.00 0.00 3 tegalan 0.80 0.00 0.00 0.08 0.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 1.80 5 kebun campuran 0.80 0.00 0.00 1.73 1.39 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 2.13 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.80 0.00 0.00 0.21 0.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.00 0.71 0.00 0.04 0.00 0.38 0.00 2.84 0.00 0.09 0.00 0.00 0.00 3.42 0.00 9 perumahan 0.00 0.00 0.00 3.02 0.00 0.27 0.00 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 0.00 2.01 0.00 11 lahan terbangun 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 0.00 1.47 0.00 0.00 0.00 3.18 0.00 12 tanah kosong 13 sungai 0.00 1.51 0.00 0.35 0.00 0.67 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.10 0.00 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 No Luas DTA Kc tertimbang Ketetangan: Doorenbos and Pruitt, 1977 23.60 18.59 0.79 30.05 23.57 0.78 DTA3 Luas Kc x (ha) luas 21.60 16.86 0.78 DTA4 Luas Kc x (ha) luas 27.10 16.54 0.61 DTA5 Luas Kc x (ha) Luas 16.91 12.43 0.81 18.76 13.11 0.70 20.68 10.41 0.50 41 Lampiran 8. Lanjutan No DTA8 Luas Kc x (ha) luas DTA9a Luas Kc x (ha) luas DTA9b Luas Kc x (ha) luas DTA9c Luas Kc x (ha) luas DTA10 Luas Kc x (ha) luas DTA11 Luas Kc x (ha) luas DTA12 Luas Kc x (ha) luas Tutupan lahan Kc 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.90 7.58 6.83 7.86 7.07 5.86 5.28 22.29 20.06 8.38 7.54 2.97 2.67 7.79 7.01 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.80 9.28 7.43 0.35 0.28 1.16 0.93 0.72 0.57 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3 tegalan 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.80 0.35 0.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 4.38 5 kebun campuran 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.61 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.00 3.52 0.00 6.70 0.00 1.01 0.00 11.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.00 9 perumahan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.00 0.86 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 11 lahan terbangun 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 1.61 0.00 2.95 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.00 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 1.03 0.00 0.47 0.00 0.21 0.00 0.18 0.00 1.98 0.00 20.74 14.53 18.57 7.35 11.43 6.82 37.73 20.63 9.44 7.54 3.15 2.67 18.78 11.39 Luas Ca Kc tertimbang Ketetangan: Doorenbos and Pruitt, 1977 0.70 0.40 0.60 0.55 0.80 0.85 0.61 42 Lampiran 9. Perhitungan nilai St0 No Tutupan lahan St0 DTA1 Luas St0 x (ha) luas DTA2 Luas St0 x (ha) luas DTA3 Luas St0 x (ha) luas DTA4 Luas St0 x (ha) luas DTA5 Luas St0 x (ha) luas DTA6 Luas St0 x (ha) luas DTA7 Luas St0 x (ha) luas 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 250 14.97 3742.28 22.73 5682.86 6.38 1596.21 13.32 3329.19 1.47 367.89 14.33 3581.88 11.57 2891.59 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 200 6.40 1280.07 1.87 373.70 8.99 1797.09 5.69 1138.63 13.89 2777.10 0.27 53.71 0.00 0.00 3 tegalan 200 0.00 0.00 0.08 15.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 200 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 450.71 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5 kebun campuran 200 0.00 0.00 1.73 346.65 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 200 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 531.79 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 150 0.00 0.10 0.21 31.83 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0 0.71 0.00 0.04 0.00 0.38 0.00 2.84 0.00 0.09 0.00 0.00 0.00 3.42 0.00 9 perumahan 0 0.00 0.00 3.02 0.00 0.27 0.00 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 0.00 2.01 0.00 11 lahan terbangun 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 0.00 1.47 0.00 0.00 0.00 3.18 0.00 12 tanah kosong 0 1.51 0.00 0.35 0.00 0.67 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.10 0.00 0.50 0.00 13 sungai 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Luas DTA 23.60 5022.45 ST0 tertimbang 212.85 Ketetangan: Thornwaite dan Mather, 1957 30.05 6450.12 21.60 4375.80 27.10 4467.82 16.91 3144.99 18.76 3635.59 20.68 2891.59 214.65 202.57 164.85 185.94 193.83 139.86 43 Lampiran 9. Lanjutan DTA9c Luas St0 x (ha) luas DTA10 Luas St0 x (ha) luas 1465.75 22.29 5572.68 8.38 2094.69 2.97 742.97 7.79 1946.69 1.16 232.96 0.72 143.24 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 1096.24 0.00 0.00 0.00 0.76 152.43 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 3.52 0.00 6.70 0.00 1.01 0.00 11.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.00 perumahan 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.00 0.86 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 11 lahan terbangun 0 0.00 0.00 2.75 0.00 1.61 0.00 2.95 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0 0.00 0.00 0.01 0.00 1.03 0.00 0.47 0.00 0.21 0.00 0.18 0.00 1.98 0.00 20.74 3822.93 18.57 2033.49 11.43 1851.13 37.73 5715.93 9.44 2094.69 3.15 742.97 18.78 3042.94 No DTA8 Luas St0 x (ha) luas DTA9a Luas St0 x (ha) luas DTA9b Luas St0 x (ha) luas Tutupan lahan STo 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 250 7.58 1896.22 7.86 1964.21 5.86 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 200 9.28 1856.96 0.35 69.28 3 tegalan 200 0.00 0.00 0.00 4 kebun 200 0.35 69.75 5 kebun campuran 200 0.00 6 kelapa sawit 200 7 semak 150 8 Bangunan 9 Luas DTA ST0 tertimbang Ketetangan: Thornwaite dan Mather, 1957 184.36 109.51 161.92 151.50 221.81 DTA11 Luas St0 x (ha) luas 235.78 DTA12 Luas St0 x (ha) luas 162.06 44 Lampiran 10. Perhitungan nilai limpasan (C) DTA1 Luas Cx (ha) luas DTA2 Luas Cx (ha) luas DTA6 Luas C x (ha) luas DTA7 Luas Cx (ha) luas 0.18 14.97 2.69 22.73 4.09 6.38 1.15 13.32 2.40 1.47 0.26 14.33 2.58 11.57 2.08 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.35 6.40 2.24 1.87 0.65 8.99 3.14 5.69 1.99 13.89 4.86 0.27 0.09 0.00 0.00 3 tegalan 0.35 0.00 0.00 0.08 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 0.79 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5 kebun campuran 0.35 0.00 0.00 1.73 0.61 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 0.93 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.35 0.00 0.00 0.21 0.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.7 0.71 0.50 9 perumahan 0.7 0.00 0.00 0.04 0.03 0.38 0.27 2.84 1.99 0.09 0.06 0.00 0.00 3.42 2.40 3.02 2.12 0.27 0.19 2.85 2.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 2.85 2.01 1.40 11 lahan terbangun 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 1.08 1.47 1.03 0.00 0.00 3.18 2.22 12 tanah kosong 0.7 1.51 1.06 0.35 0.25 0.67 0.47 0.11 0.08 0.00 0.00 0.10 0.07 0.50 0.35 13 sungai 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.52 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.7 0.00 0.00 0.02 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 23.60 6.49 30.05 7.85 21.60 6.94 27.10 10.05 16.91 6.21 18.76 5.59 20.68 8.46 No Tutupan lahan C 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 2 Luas DTA C tertimbang Ketetangan: Schawb, et al, 1981 0.28 0.26 DTA3 Luas C x (ha) luas 0.32 DTA4 Luas Cx (ha) luas 0.37 DTA5 Luas C x (ha) luas 0.37 0.30 0.41 45 Lampiran 10. Lanjutan No DTA8 Luas Cx (ha) luas DTA9a Luas Cx (ha) luas DTA9b Luas C x (ha) luas DTA9c Luas Cx (ha) luas DTA10 Luas C x (ha) luas DTA11 Luas Cx (ha) luas DTA12 Luas Cx (ha) luas Tutupan lahan C 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.18 7.58 1.37 7.86 1.41 5.86 1.06 22.29 4.01 8.38 1.51 2.97 0.53 7.79 1.40 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.35 9.28 3.25 0.35 0.12 1.16 0.41 0.72 0.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3 tegalan 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.35 0.35 0.12 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 1.92 5 kebun campuran 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.7 3.52 2.46 6.70 4.69 1.01 0.71 11.04 7.73 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.54 9 perumahan 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.18 0.86 0.60 0.00 0.00 2.75 1.93 11 lahan terbangun 0.7 0.00 0.00 2.75 1.93 1.61 1.12 2.95 2.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.7 0.00 0.00 0.90 0.63 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.7 0.00 0.00 0.01 0.01 1.03 0.72 0.47 0.33 0.21 0.15 0.18 0.13 1.98 1.39 20.74 7.20 18.57 8.79 11.43 4.28 37.73 14.57 9.44 2.25 3.15 0.66 18.78 7.18 Luas DTA C tertimbang Ketetangan: Schawb, et al, 1981 0.35 0.47 0.37 0.39 0.24 0.21 0.38 46 Lampiran 11. Perhitungan neraca air wilayah Kampus IPB Analisis NA Catchment1 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 2 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.79 212.85 Jan 221.0 84.5 136.5 0.0 212.85 0.0 84.5 Feb 302.3 72.8 229.5 0.0 212.85 0.0 72.8 Mar 255.1 107.5 147.6 0.0 212.85 0.0 107.5 Apr 245.9 98.6 147.3 0.0 212.85 0.0 98.6 Mei 264.0 91.4 172.6 0.0 212.85 0.0 91.4 136.5 38.2 98.3 229.5 64.3 165.2 147.6 41.3 106.3 147.3 41.3 106.1 172.6 48.3 124.3 : : 0.78 214.65 Jan 221.0 83.7 137.3 0.0 214.7 0.0 83.7 Feb 302.3 72.1 230.2 0.0 214.7 0.0 72.1 Mar 255.1 106.4 148.7 0.0 214.7 0.0 106.4 Apr 245.9 97.6 148.3 0.0 214.7 0.0 97.6 Mei 264 90.4 173.6 0.0 214.7 0.0 90.4 137.3 35.7 101.6 230.2 59.9 170.4 148.7 38.7 110.0 148.3 38.6 109.8 173.6 45.1 128.4 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 92.4 101.6 81.0 -30.0 0.0 30.0 212.85 182.83 0.0 -30.0 92.4 41.6 60.0 81.0 0.0 22.7 0.0 58.3 0.0 Bulan Jun 173.4 91.5 81.9 0.0 214.7 0.0 91.5 81.9 21.3 60.6 Jul 71.6 100.6 -29.0 29.0 185.7 -29.0 42.6 58.0 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 117.3 -83.4 113.4 99.48 -83.4 -49.5 166.7 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 114.9 35.9 77.5 212.85 113.4 114.9 Okt 256.6 120.4 136.2 0.0 212.85 0.0 120.4 Nov 339.0 82.7 256.3 0.0 212.85 0.0 82.7 Des 216.3 99.4 116.9 0.0 212.85 0.0 99.4 35.9 10.1 25.9 136.2 38.1 98.0 256.3 71.8 184.5 116.9 32.7 84.2 Ags 33.9 116.1 -82.2 111.2 103.5 -82.2 -48.3 164.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 113.7 37.1 74.1 214.7 111.2 113.7 0.0 37.1 9.6 27.4 Okt 256.6 119.2 137.4 214.7 0.0 119.2 Nov 339 81.9 257.1 0.0 214.7 0.0 81.9 Des 216.3 98.4 117.9 0.0 214.7 0.0 98.4 137.4 35.7 101.7 257.1 66.8 190.3 117.9 30.7 87.2 Jumlah 2530.0 1183.5 1346.4 0.0 956.8 226.7 1459.8 408.7 1051.0 Jumlah 2530.0 1171.5 1358.4 0.0 949.2 222.3 1469.5 382.1 1087.4 47 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 3 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 4 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.78 202.57 Jan 221.0 83.7 137.3 0.0 202.6 0.0 83.7 Feb 302.3 72.1 230.2 0.0 202.6 0.0 72.1 Mar 255.1 106.4 148.7 0.0 202.6 0.0 106.4 Apr 245.9 97.6 148.3 0.0 202.6 0.0 97.6 Mei 264 90.4 173.6 0.0 202.6 0.0 90.4 137.3 43.9 93.4 230.2 73.7 156.6 148.7 47.6 101.1 148.3 47.5 100.9 : : 0.72 164.85 Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 77.2 143.8 0.0 164.9 0.0 77.2 66.5 235.8 0.0 164.9 0.0 66.5 143.8 53.2 90.6 235.8 87.2 148.5 mm Jul 71.6 100.6 -29.0 29.0 173.6 -29.0 42.6 58.0 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 116.1 -82.2 111.2 91.4 -82.2 -48.3 164.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 113.7 37.1 74.1 202.6 111.2 113.7 0.0 37.1 11.9 25.2 Okt 256.6 119.2 137.4 0.0 202.6 0.0 119.2 Nov 339 81.9 257.1 0.0 202.6 0.0 81.9 Des 216.3 98.4 117.9 0.0 202.6 0.0 98.4 173.6 55.5 118.0 Bulan Jun 173.4 91.5 81.9 0.0 202.6 0.0 91.5 0.0 81.9 26.2 55.7 137.4 44.0 93.4 257.1 82.3 174.8 117.9 37.7 80.2 Apr 245.9 Mei 264 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339 Des 216.3 98.2 156.9 0.0 164.9 0.0 98.2 90.1 155.8 0.0 164.9 0.0 90.1 83.5 180.5 0.0 164.9 0.0 83.5 84.5 88.9 0.0 164.9 0.0 84.5 92.9 -21.3 21.3 143.6 -21.3 50.3 105.0 45.8 48.7 164.9 94.5 105.0 110.0 146.6 0.0 164.9 0.0 110.0 75.6 263.4 0.0 164.9 0.0 75.6 90.8 125.5 0.0 164.9 0.0 90.8 156.9 58.1 98.8 155.8 57.7 98.2 180.5 66.8 113.7 88.9 32.9 56.0 0.0 0.0 0.0 107.1 -73.2 94.5 70.4 -73.2 -39.3 146.5 0.0 0.0 0.0 45.8 17.0 28.9 146.6 54.2 92.3 263.4 97.5 165.9 125.5 46.4 79.0 Jumlah 2530.0 1171.5 1358.4 0.0 949.2 222.3 1469.5 470.2 999.3 mm Jumlah 2530.0 1081.4 1448.5 0.0 892.4 146.5 1543.0 570.9 972.1 48 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 5 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 6 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.81 224.50 Jan 221.0 86.9 134.1 0.0 224.5 0.0 86.9 Feb 302.3 74.8 227.5 0.0 224.5 0.0 74.8 Mar 255.1 110.5 144.6 0.0 224.5 0.0 110.5 Apr 245.9 101.3 144.6 0.0 224.5 0.0 101.3 Mei 264 93.9 170.1 0.0 224.5 0.0 93.9 134.1 30.8 103.3 227.5 52.3 175.1 144.6 33.3 111.4 144.6 33.3 111.3 170.1 39.1 131.0 : : 0.70 193.83 Bulan Jun 173.4 95.0 78.4 0.0 224.5 0.0 95.0 0.0 78.4 18.0 60.4 Jul 71.6 104.5 -32.9 32.9 191.6 -32.9 38.7 65.7 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 120.5 -86.6 119.5 105.0 -86.6 -52.7 173.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 118.1 32.7 86.8 224.5 119.5 118.1 0.0 32.7 7.5 25.2 Okt 256.6 123.8 132.8 0.0 224.5 0.0 123.8 Nov 339 85.1 254.0 0.0 224.5 0.0 85.1 Des 216.3 102.2 114.1 0.0 224.5 0.0 102.2 132.8 30.5 102.3 254.0 58.4 195.5 114.1 26.2 87.9 Jul 71.6 90.3 -18.7 18.7 175.2 -18.7 52.9 37.3 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 104.9 -70.3 -36.4 140.5 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 193.8 88.9 102.1 0.0 48.7 14.6 34.1 Okt 256.6 107.0 149.6 0.0 193.8 0.0 107.0 Nov 339 73.5 265.5 0.0 193.8 0.0 73.5 Des 216.3 88.3 128.0 0.0 193.8 0.0 88.3 149.6 44.9 104.7 265.5 79.7 185.9 128.0 38.4 89.6 Bulan Jan 221.0 75.1 145.9 0.0 193.8 0.0 75.1 Feb 302.3 64.7 237.6 0.0 193.8 0.0 64.7 Mar 255.1 95.5 159.6 0.0 193.8 0.0 95.5 Apr 245.9 87.6 158.3 0.0 193.8 0.0 87.6 Mei 264 81.2 182.8 0.0 193.8 0.0 81.2 145.9 43.8 102.1 237.6 71.3 166.3 159.6 47.9 111.7 158.3 47.5 110.8 182.8 54.9 128.0 Jun 173.4 82.1 91.3 0.0 193.8 0.0 82.1 0.0 91.3 27.4 63.9 Jumlah 2530.0 1216.6 1313.3 0.0 977.6 239.0 1432.8 329.5 1103.3 Jumlah 2530.0 1051.4 1478.5 0.0 873.5 177.9 1567.5 470.2 1097.2 49 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 7 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis Catchment 8 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.50 139.86 Jan 221.0 53.6 167.4 0.0 139.9 0.0 53.6 Feb 302.3 46.2 256.1 0.0 139.9 0.0 46.2 Mar 255.1 68.2 186.9 0.0 139.9 0.0 68.2 Apr 245.9 62.6 183.4 0.0 139.9 0.0 62.6 Mei 264 58.0 206.0 0.0 139.9 0.0 58.0 Bulan Jun 173.4 58.7 114.8 0.0 139.9 0.0 58.7 167.4 68.6 98.7 256.1 105.0 151.1 186.9 76.6 110.3 183.4 75.2 108.2 206.0 84.5 121.6 114.8 47.0 67.7 : : 0.70 184.36 Jan 221.0 75.1 145.9 0.0 184.4 0.0 75.1 Feb 302.3 64.7 237.6 0.0 184.4 0.0 64.7 Mar 255.1 95.5 159.6 0.0 184.4 0.0 95.5 Apr 245.9 87.6 158.3 0.0 184.4 0.0 87.6 Mei 264 81.2 182.8 0.0 184.4 0.0 81.2 145.9 51.1 94.8 237.6 83.2 154.5 159.6 55.9 103.8 158.3 55.4 102.9 182.8 64.0 118.8 Bulan Jun 173.4 82.1 91.3 0.0 184.4 0.0 82.1 0.0 91.3 32.0 59.3 Jul 71.6 64.5 7.1 0.0 139.9 0.0 64.5 Sep 150.8 72.9 77.9 0.0 139.9 40.5 72.9 Okt 256.6 76.4 180.2 0.0 139.9 0.0 76.4 Nov 339 52.5 286.5 0.0 139.9 0.0 52.5 Des 216.3 63.1 153.2 0.0 139.9 0.0 63.1 7.1 2.9 4.2 Ags 33.9 74.4 -40.5 40.5 99.4 -40.5 -6.6 81.0 0.0 0.0 0.0 77.9 31.9 46.0 180.2 73.9 106.3 286.5 117.5 169.0 153.2 62.8 90.4 Jul 71.6 90.3 -18.7 18.7 165.7 -18.7 52.9 37.3 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 95.4 -70.3 -36.4 140.5 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 184.4 88.9 102.1 0.0 48.7 17.1 31.7 Okt 256.6 107.0 149.6 0.0 184.4 0.0 107.0 Nov 339 73.5 265.5 0.0 184.4 0.0 73.5 Des 216.3 88.3 128.0 0.0 184.4 0.0 88.3 149.6 52.4 97.3 265.5 92.9 172.6 128.0 44.8 83.2 Jumlah 2530.0 751.0 1778.9 0.0 670.0 81.0 1819.4 746.0 1073.5 Jumlah 2530.0 1051.4 1478.5 0.0 873.5 177.9 1567.5 548.6 1018.8 50 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 9a Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 9b Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.40 109.51 Jan 221.0 42.9 178.1 0.0 109.5 0.0 42.9 Feb 302.3 37.0 265.3 0.0 109.5 0.0 37.0 Mar 255.1 54.6 200.5 0.0 109.5 0.0 54.6 Apr 245.9 50.0 195.9 0.0 109.5 0.0 50.0 Mei 264 46.4 217.6 0.0 109.5 0.0 46.4 Bulan Jun 173.4 46.9 126.5 0.0 109.5 0.0 46.9 178.1 83.7 94.4 265.3 124.7 140.6 200.5 94.3 106.3 195.9 92.1 103.8 217.6 102.3 115.3 126.5 59.4 67.0 : : 0.60 161.92 Jan 221.0 64.4 156.6 0.0 161.9 0.0 64.4 Feb 302.3 55.4 246.9 0.0 161.9 0.0 55.4 Mar 255.1 81.8 173.3 0.0 161.9 0.0 81.8 Apr 245.9 75.1 170.8 0.0 161.9 0.0 75.1 Mei 264 69.6 194.4 0.0 161.9 0.0 69.6 Jun 173.4 70.4 103.0 0.0 161.9 0.0 70.4 156.6 58.0 98.7 246.9 91.3 155.5 173.3 64.1 109.2 170.8 63.2 107.6 194.4 71.9 122.5 103.0 38.1 64.9 Jul 71.6 51.6 20.0 0.0 109.5 0.0 51.6 0.0 20.0 9.4 10.6 Ags 33.9 59.5 -25.6 25.6 83.9 -25.6 8.3 51.2 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 58.3 92.5 0.0 109.5 25.6 58.3 0.0 92.5 43.5 49.0 Okt 256.6 61.1 195.5 0.0 109.5 0.0 61.1 Nov 339 42.0 297.0 0.0 109.5 0.0 42.0 Des 216.3 50.5 165.8 0.0 109.5 0.0 50.5 195.5 91.9 103.6 297.0 139.6 157.4 165.8 77.9 87.9 Jul 71.6 77.4 -5.8 5.8 156.1 -5.8 65.8 11.6 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 89.3 -55.4 61.2 100.8 -55.4 -21.5 110.8 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 87.5 63.3 0.0 161.9 61.2 87.5 0.0 63.3 23.4 39.9 Okt 256.6 91.7 164.9 0.0 161.9 0.0 91.7 Nov 339 63.0 276.0 0.0 161.9 0.0 63.0 Des 216.3 75.7 140.6 0.0 161.9 0.0 75.7 164.9 61.0 103.9 276.0 102.1 173.9 140.6 52.0 88.6 Bulan Jumlah 2530.0 600.8 1929.1 0.0 549.5 51.2 1954.7 918.7 1036.0 Jumlah 2530.0 901.2 1628.7 0.0 778.9 122.3 1689.9 625.3 1064.6 51 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 9c Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 10 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.55 151.50 Jan 221.0 59.0 162.0 Feb 302.3 50.8 251.5 Mar 255.1 75.0 180.1 Apr 245.9 68.8 177.1 Mei 264 63.8 200.2 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 64.5 70.9 108.9 0.7 0.0 151.5 0.0 59.0 0.0 151.5 0.0 50.8 0.0 151.5 0.0 75.0 0.0 151.5 0.0 68.8 0.0 151.5 0.0 63.8 0.0 151.5 0.0 64.5 162.0 63.2 98.8 251.5 98.1 153.4 180.1 70.2 109.8 177.1 69.1 108.0 200.2 78.1 122.1 108.9 42.5 66.4 : : 0.80 221.81 Jan 221.0 85.8 135.2 0.0 221.8 0.0 85.8 Feb 302.3 73.9 228.4 0.0 221.8 0.0 73.9 Mar 255.1 109.1 146.0 0.0 221.8 0.0 109.1 Apr 245.9 100.1 145.8 0.0 221.8 0.0 100.1 Mei 264 92.8 171.2 0.0 221.8 0.0 92.8 Bulan Jun 173.4 93.8 79.6 0.0 221.8 0.0 93.8 135.2 32.4 102.7 228.4 54.8 173.6 146.0 35.0 110.9 145.8 35.0 110.8 171.2 41.1 130.1 79.6 19.1 60.5 Ags 33.9 81.8 -47.9 Sep 150.8 80.2 70.6 Okt 256.6 84.1 172.5 Nov 339 57.8 281.3 Des 216.3 69.4 146.9 0.0 151.5 0.0 70.9 0.0 0.7 0.3 0.4 47.9 103.6 -47.9 -14.0 95.9 0.0 0.0 0.0 0.0 151.5 47.9 80.2 0.0 70.6 27.5 43.1 0.0 151.5 0.0 84.1 0.0 151.5 0.0 57.8 0.0 151.5 0.0 69.4 172.5 67.3 105.3 281.3 109.7 171.6 146.9 57.3 89.6 Jul 71.6 103.2 -31.6 31.6 190.2 -31.6 40.0 63.1 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 119.0 -85.1 116.7 105.1 -85.1 -51.2 170.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 116.6 34.2 0.0 221.8 116.7 116.6 Okt 256.6 122.3 134.3 0.0 221.8 0.0 122.3 Nov 339 84.0 255.0 0.0 221.8 0.0 84.0 Des 216.3 100.9 115.4 0.0 221.8 0.0 100.9 34.2 8.2 26.0 134.3 32.2 102.1 255.0 61.2 193.8 115.4 27.7 87.7 Jumlah 2530.0 826.1 1703.8 0.0 730.2 95.9 1751.8 683.2 1068.6 Jumlah 2530.0 1201.6 1328.3 0.0 968.2 233.4 1445.0 346.8 1098.2 52 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 11 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.85 235.78 Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 Apr 245.9 Mei 264 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 91.2 129.8 0.0 235.8 0.0 91.2 78.5 223.8 0.0 235.8 0.0 78.5 115.9 139.2 0.0 235.8 0.0 115.9 106.3 139.6 0.0 235.8 0.0 106.3 98.5 165.5 0.0 235.8 0.0 98.5 99.7 73.7 0.0 235.8 0.0 99.7 129.8 27.3 102.6 223.8 47.0 176.8 139.2 29.2 109.9 139.6 29.3 110.3 165.5 34.7 130.7 73.7 15.5 58.2 : : 0.61 162.06 Apr Mei Analisis NA Catchment 12 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339 Des 216.3 109.6 -38.0 38.0 197.8 -38.0 33.6 76.0 0.0 0.0 0.0 126.5 -92.6 130.6 105.2 -92.6 -58.7 185.2 0.0 0.0 0.0 123.9 26.9 103.7 235.8 130.6 123.9 0.0 26.9 5.6 21.2 129.9 126.7 0.0 235.8 0.0 129.9 89.3 249.8 0.0 235.8 0.0 89.3 107.2 109.1 0.0 235.8 0.0 107.2 126.7 26.6 100.1 249.8 52.4 197.3 109.1 22.9 86.2 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Bulan Mar Jumlah 2530.0 1276.7 1253.2 0.0 1015.5 261.2 1383.8 290.6 1093.2 Jumlah Jan Feb 221.0 65.4 155.6 0.0 162.1 0.0 302.3 56.4 245.9 0.0 162.1 0.0 255.1 83.2 171.9 0.0 162.1 0.0 245.9 76.3 169.6 0.0 162.1 0.0 264 70.7 193.3 0.0 162.1 0.0 173.4 71.6 101.8 0.0 162.1 0.0 71.6 78.7 -7.1 7.1 155.0 -7.1 33.9 90.8 -56.9 63.9 98.1 -56.9 150.8 88.9 61.9 2.1 162.1 63.9 256.6 93.2 163.4 0.0 162.1 0.0 339 64.1 275.0 0.0 162.1 0.0 216.3 77.0 139.3 0.0 162.1 0.0 2530.0 916.2 1613.7 65.4 56.4 83.2 76.3 70.7 71.6 77.0 171.9 65.3 106.6 169.6 64.4 105.1 193.3 73.4 119.8 101.8 38.7 63.1 88.9 0.0 61.9 23.5 38.4 64.1 245.9 93.5 152.5 -23.0 113.7 0.0 0.0 0.0 93.2 155.6 59.1 96.5 64.5 14.1 0.0 0.0 0.0 163.4 62.1 101.3 275.0 104.5 170.5 139.3 52.9 86.4 788.3 127.9 1677.6 620.7 1040.1 0.0 53 Lampiran 12. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan hutan Analisis NA Luasan Hutan 100 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : Bulan Jun Jul 173.4 71.6 105.6 116.1 67.8 -44.5 0.0 44.5 398.0 353.54 0.0 -44.5 Jan 221.0 96.5 124.5 0.0 398.0 0.0 Feb 302.3 83.2 219.1 0.0 398.0 0.0 Mar 255.1 122.8 132.3 0.0 398.00 0.0 Apr 245.9 112.6 133.3 0.0 398.0 0.0 Mei 264.0 104.3 159.7 0.0 398.0 0.0 96.5 83.2 122.8 112.6 104.3 124.5 22.4 102.1 219.1 39.4 179.7 132.3 23.8 108.5 133.3 24.0 109.3 159.7 28.7 130.9 105.6 0.0 67.8 12.2 55.6 Analisis NA Luasan Hutan 90 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter 0.90 398.00 : : Ags 33.9 133.9 -100.0 144.5 253.52 -100.0 Sep 150.8 131.2 19.6 124.9 398.00 144.5 Okt 256.6 137.5 119.1 5.9 398.00 0.0 Nov 339.0 94.5 244.5 0.0 398.00 0.0 Des 216.3 113.6 102.7 0.0 398.00 0.0 27.1 88.9 0.0 0.0 0.0 -66.1 200.0 0.0 0.0 0.0 131.2 0.0 19.6 3.5 16.1 137.5 94.5 113.6 119.1 21.4 97.6 244.5 44.0 200.5 102.7 18.5 84.3 Ags Sep Okt Nov Des Jumlah 2530.0 1351.8 1178.1 0.0 1062.8 289.0 1322.6 238.1 1084.5 0.85 366.60 Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Presipitasi (P) (mm) 221.0 302.3 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) 91.2 129.8 78.5 223.8 115.9 139.2 106.3 139.6 98.5 165.5 99.7 73.7 366.60 0.0 115.9 366.60 0.0 106.3 366.60 0.0 98.5 129.9 126.7 0.0 366.60 0.0 129.9 89.3 249.8 0.0 366.60 0.0 89.3 366.60 0.0 107.2 129.8 29.5 100.4 223.8 50.8 173.0 139.2 31.6 107.6 139.6 31.7 107.9 165.5 37.6 127.9 366.60 0.0 99.7 0.0 73.7 16.7 57.0 123.9 26.9 103.7 366.60 130.6 123.9 0.0 26.9 6.1 20.8 1276.7 1253.2 366.60 0.0 78.5 126.5 -92.6 130.6 236.00 -92.6 -58.7 185.2 0.0 0.0 0.0 107.2 109.1 366.60 0.0 91.2 109.6 -38.0 38.0 328.58 -38.0 33.6 76.0 0.0 0.0 0.0 126.7 28.8 97.9 249.8 56.7 193.1 109.1 24.8 84.3 0.0 1015.5 261.2 1383.8 314.1 1069.7 54 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 80 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 70 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.80 335.2 mm Jan 221.0 85.8 135.2 Feb 302.3 73.9 228.4 Mar 255.1 109.1 146.0 Apr 245.9 100.1 145.8 Mei 264.0 92.8 171.2 335.20 0.0 85.8 335.20 0.0 73.9 335.20 0.0 109.1 335.20 0.0 100.1 335.20 0.0 92.8 135.2 37.0 98.1 228.4 62.6 165.8 146.0 40.0 106.0 145.8 40.0 105.9 171.2 46.9 124.3 : : 0.75 303.8 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 93.8 103.2 79.6 -31.6 31.6 335.20 303.63 0.0 -31.6 93.8 40.0 63.1 79.6 0.0 21.8 0.0 57.8 0.0 Ags 33.9 119.0 -85.1 116.7 218.49 -85.1 -51.2 170.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 116.6 34.2 82.5 335.20 116.7 116.6 Okt 256.6 122.3 134.3 Nov 339.0 84.0 255.0 Des 216.3 100.9 115.4 335.20 0.0 122.3 335.20 0.0 84.0 335.20 0.0 100.9 34.2 9.4 24.8 134.3 36.8 97.5 255.0 69.9 185.1 115.4 31.6 83.8 Ags 33.9 111.6 -77.7 102.8 200.98 -77.7 -43.8 155.4 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 109.4 41.5 61.4 303.80 102.8 109.4 0.0 41.5 13.3 28.1 Okt 256.6 114.6 142.0 Nov 339.0 78.8 260.3 Des 216.3 94.6 121.7 303.80 0.0 114.6 303.80 0.0 78.8 303.80 0.0 94.6 142.0 45.6 96.4 260.3 83.5 176.7 121.7 39.1 82.6 Jumlah 2530.0 1201.6 1328.3 0.0 968.2 233.4 1445.0 395.9 1049.1 mm Bulan Jan 221.0 80.4 140.6 Feb 302.3 69.3 233.0 Mar 255.1 102.3 152.8 Apr 245.9 93.8 152.1 Mei 264.0 87.0 177.0 Jun 173.4 88.0 85.4 303.80 0.0 80.4 303.80 0.0 69.3 303.80 0.0 102.3 303.80 0.0 93.8 303.80 0.0 87.0 140.6 45.1 95.4 233.0 74.8 158.2 152.8 49.0 103.8 152.1 48.8 103.3 177.0 56.8 120.2 303.80 0.0 88.0 0.0 85.4 27.4 58.0 Jul 71.6 96.7 -25.1 25.1 278.68 -25.1 46.5 50.2 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 1126.5 1403.4 0.0 920.8 205.6 1506.3 483.5 1022.7 55 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 60 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 50 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.70 272.4 mm Bulan Jun Jul 173.4 71.6 82.1 90.3 91.3 -18.7 18.7 Jan 221.0 75.1 145.9 Feb 302.3 64.7 237.6 Mar 255.1 95.5 159.6 Apr 245.9 87.6 158.3 Mei 264.0 81.2 182.8 272.40 272.40 272.40 272.40 272.40 272.40 0.0 75.1 0.0 64.7 0.0 95.5 0.0 87.6 0.0 81.2 0.0 82.1 0.0 145.9 53.7 92.2 237.6 87.4 150.2 159.6 58.7 100.9 158.3 58.3 100.1 182.8 67.3 115.6 91.3 33.6 57.7 : : 0.65 241.0 Jumlah Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 Okt 256.6 107.0 149.6 Nov 339.0 73.5 265.5 Des 216.3 88.3 128.0 253.73 183.47 272.40 272.40 272.40 272.40 -18.7 52.9 37.3 -70.3 -36.4 140.5 88.9 102.1 0.0 0.0 107.0 0.0 73.5 0.0 88.3 0.0 873.5 177.9 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 48.7 17.9 30.8 149.6 55.1 94.6 265.5 97.7 167.8 128.0 47.1 80.9 1567.5 576.8 990.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 76.2 83.8 97.2 -12.2 12.2 241.00 228.78 0.0 -12.2 76.2 59.4 0.0 24.4 97.2 0.0 40.3 0.0 56.8 0.0 Ags 33.9 96.7 -62.8 75.0 165.96 -62.8 -28.9 125.6 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 94.8 56.0 19.0 241.00 75.0 94.8 0.0 56.0 23.3 32.8 Okt 256.6 99.3 157.3 Nov 339.0 68.3 270.8 Des 216.3 82.0 134.3 241.00 0.0 99.3 241.00 0.0 68.3 241.00 0.0 82.0 157.3 65.3 92.0 270.8 112.4 158.4 134.3 55.7 78.6 2530.0 1051.4 1478.5 mm Jan 221.0 69.7 151.3 Feb 302.3 60.1 242.2 Mar 255.1 88.7 166.4 Apr 245.9 81.3 164.6 Mei 264.0 75.4 188.6 241.00 0.0 69.7 241.00 0.0 60.1 241.00 0.0 88.7 241.00 0.0 81.3 241.00 0.0 75.4 151.3 62.8 88.5 242.2 100.5 141.7 166.4 69.1 97.4 164.6 68.3 96.3 188.6 78.3 110.4 Jumlah 2530.0 976.3 1553.6 0.0 826.2 150.1 1628.7 675.9 952.8 56 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 40 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 30 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.60 209.6 mm Jan 221.0 64.4 156.6 Feb 302.3 55.4 246.9 Mar 255.1 81.8 173.3 Apr 245.9 75.1 170.8 Mei 264.0 69.6 194.4 209.60 0.0 64.4 209.60 0.0 55.4 209.60 0.0 81.8 209.60 0.0 75.1 209.60 0.0 69.6 156.6 72.4 84.3 246.9 114.0 132.8 173.3 80.0 93.2 170.8 78.9 91.9 194.4 89.8 104.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 70.4 77.4 103.0 -5.8 5.8 209.60 203.82 0.0 -5.8 70.4 65.8 0.0 11.6 103.0 0.0 47.6 0.0 55.4 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 64.5 70.9 108.9 0.7 : : 0.55 178.2 Ags 33.9 89.3 -55.4 61.2 148.44 -55.4 -21.5 110.8 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 87.5 63.3 Okt 256.6 91.7 164.9 Nov 339.0 63.0 276.0 Des 216.3 75.7 140.6 209.60 61.2 87.5 0.0 63.3 29.3 34.1 209.60 0.0 91.7 209.60 0.0 63.0 209.60 0.0 75.7 164.9 76.2 88.7 276.0 127.5 148.5 140.6 65.0 75.6 Sep 150.8 80.2 70.6 Okt 256.6 84.1 172.5 Nov 339.0 57.8 281.3 Des 216.3 69.4 146.9 178.20 47.9 80.2 0.0 70.6 35.9 34.7 178.20 0.0 84.1 178.20 0.0 57.8 178.20 0.0 69.4 172.5 87.8 84.7 281.3 143.2 138.1 146.9 74.8 72.1 Jumlah 2530.0 901.2 1628.7 0.0 778.9 122.3 1689.9 780.7 909.2 mm Jan 221.0 59.0 162.0 Feb 302.3 50.8 251.5 Mar 255.1 75.0 180.1 Apr 245.9 68.8 177.1 Mei 264.0 63.8 200.2 178.20 0.0 59.0 178.20 0.0 50.8 178.20 0.0 75.0 178.20 0.0 68.8 178.20 0.0 63.8 162.0 82.5 79.5 251.5 128.0 123.5 180.1 91.7 88.4 177.1 90.1 87.0 200.2 101.9 98.3 178.20 0.0 64.5 0.0 108.9 55.4 53.5 178.20 0.0 70.9 0.0 0.7 0.3 0.3 Ags 33.9 81.8 -47.9 47.9 130.26 -47.9 -14.0 95.9 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 826.1 1703.8 0.0 730.2 95.9 1751.8 891.6 860.1 57 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 20 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 10 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.50 146.8 mm Bulan Jun Jul 173.4 71.6 58.7 64.5 114.8 7.1 Jan 221.0 53.6 167.4 Feb 302.3 46.2 256.1 Mar 255.1 68.2 186.9 Apr 245.9 62.6 183.4 Mei 264.0 58.0 206.0 146.80 0.0 53.6 146.80 0.0 46.2 146.80 0.0 68.2 146.80 0.0 62.6 146.80 0.0 58.0 146.80 0.0 58.7 167.4 93.1 74.3 256.1 142.4 113.7 186.9 103.9 83.0 183.4 101.9 81.4 206.0 114.6 91.5 114.8 63.8 50.9 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 52.8 58.0 120.6 13.6 : : 0.45 115.4 146.80 0.0 64.5 0.0 7.1 4.0 3.2 Ags 33.9 74.4 -40.5 40.5 106.30 -40.5 -6.6 81.0 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 72.9 77.9 Okt 256.6 76.4 180.2 Nov 339.0 52.5 286.5 Des 216.3 63.1 153.2 146.80 40.5 72.9 0.0 77.9 43.3 34.6 146.80 0.0 76.4 146.80 0.0 52.5 146.80 0.0 63.1 180.2 100.2 80.0 286.5 159.3 127.2 153.2 85.2 68.0 Sep 150.8 65.6 85.2 Okt 256.6 68.8 187.8 Nov 339.0 47.3 291.8 Des 216.3 56.8 159.5 115.40 33.1 65.6 0.0 85.2 51.4 33.8 115.40 0.0 68.8 115.40 0.0 47.3 115.40 0.0 56.8 187.8 113.3 74.6 291.8 175.9 115.8 159.5 96.2 63.3 Jumlah 2530.0 751.0 1778.9 0.0 670.0 81.0 1819.4 1011.6 807.8 mm Jan 221.0 48.3 172.7 Feb 302.3 41.6 260.7 Mar 255.1 61.4 193.7 Apr 245.9 56.3 189.6 Mei 264.0 52.2 211.8 115.40 0.0 48.3 115.40 0.0 41.6 115.40 0.0 61.4 115.40 0.0 56.3 115.40 0.0 52.2 115.40 0.0 52.8 172.7 104.2 68.6 260.7 157.2 103.5 193.7 116.8 76.9 189.6 114.3 75.3 211.8 127.7 84.1 120.6 72.7 47.9 115.40 0.0 58.0 0.0 13.6 8.2 5.4 Ags 33.9 67.0 -33.1 33.1 82.34 -33.1 0.8 66.1 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 675.9 1854.0 0.0 609.8 66.1 1887.1 1137.9 749.2 58 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 0 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) : : 0.40 84.0 mm Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 Apr 245.9 Mei 264.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339.0 Des 216.3 42.9 178.1 37.0 265.3 54.6 200.5 50.0 195.9 46.4 217.6 46.9 126.5 51.6 20.0 59.5 -25.6 58.3 92.5 61.1 195.5 42.0 297.0 50.5 165.8 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 25.6 58.38 84.00 84.00 84.00 84.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -25.6 25.6 0.0 0.0 0.0 0.0 42.9 37.0 54.6 50.0 46.4 46.9 51.6 8.3 58.3 61.1 42.0 50.5 549.5 0.0 51.2 0.0 20.0 13.0 7.0 0.0 0.0 0.0 92.5 60.1 32.4 Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) 178.1 115.8 62.3 265.3 172.5 92.9 200.5 130.4 70.2 195.9 127.3 68.6 217.6 141.5 76.2 126.5 82.2 44.3 Jumlah 2530.0 600.8 1929.1 51.2 195.5 127.1 68.4 297.0 193.1 104.0 165.8 107.8 58.0 1954.7 1270.6 684.2 59 Lampiran 13. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan lahan terbangun Analisis NA Luasan Bangunan 100 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 90 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.00 0.00 Ags 33.9 0.0 33.9 -105.5 0.00 0.0 0.0 0.0 33.9 23.7 10.2 Sep 150.8 0.0 150.8 -256.3 0.00 0.0 0.0 0.0 150.8 105.6 45.2 Okt 256.6 0.0 256.6 -512.9 0.00 0.0 0.0 Nov 339.0 0.0 339.0 0.0 0.00 0.0 0.0 Des 216.3 0.0 216.3 0.0 0.00 0.0 0.0 264.0 184.8 79.2 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 0.0 0.0 173.4 71.6 0.0 -71.6 0.00 0.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 173.4 71.6 121.4 50.1 52.0 21.5 256.6 179.6 77.0 339.0 237.3 101.7 216.3 151.4 64.9 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 10.6 11.6 162.8 60.0 Ags 33.9 13.4 20.5 Sep 150.8 13.1 137.7 Okt 256.6 13.8 242.8 Nov 339.0 9.5 329.6 Des 216.3 11.4 204.9 25.00 0.0 13.4 0.0 20.5 13.6 6.9 25.00 0.0 13.1 0.0 137.7 91.6 46.1 25.00 0.0 13.8 25.00 0.0 9.5 25.00 0.0 11.4 242.8 161.5 81.4 329.6 219.2 110.4 204.9 136.3 68.7 Jan 221.0 0.0 221.0 0.0 0.00 0.0 0.0 Feb 302.3 0.0 302.3 0.0 0.00 0.0 0.0 Mar 255.1 0.0 255.1 0.0 0.00 0.0 0.0 Apr 245.9 0.0 245.9 0.0 0.00 0.0 0.0 Mei 264.0 0.0 264.0 0.0 0.00 0.0 0.0 221.0 154.7 66.3 302.3 211.6 90.7 255.1 178.6 76.5 245.9 172.1 73.8 : : Jumlah 2530.0 0.0 2529.9 0.0 0.0 0.0 2529.9 1770.9 759.0 0.09 25.00 Jan 221.0 9.7 211.3 Feb 302.3 8.3 294.0 Mar 255.1 12.3 242.8 Apr 245.9 11.3 234.6 Mei 264.0 10.4 253.6 25.00 0.0 9.7 25.00 0.0 8.3 25.00 0.0 12.3 25.00 0.0 11.3 25.00 0.0 10.4 211.3 140.5 70.8 294.0 195.5 98.5 242.8 161.5 81.3 234.6 156.0 78.6 253.6 168.6 84.9 25.00 0.0 10.6 0.0 162.8 108.3 54.6 25.00 0.0 11.6 0.0 60.0 39.9 20.1 Jumlah 2530.0 135.2 2394.7 0.0 135.2 0.0 2394.7 1592.5 802.2 60 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan80 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 70 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.18 50.0 mm Jan 221.0 19.3 201.7 Feb 302.3 16.6 285.7 Mar 255.1 24.6 230.5 Apr 245.9 22.5 223.4 Mei 264.0 20.9 243.1 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 21.1 23.2 152.3 48.4 50.00 0.0 19.3 50.00 0.0 16.6 50.00 0.0 24.6 50.00 0.0 22.5 50.00 0.0 20.9 50.00 0.0 21.1 201.7 127.1 74.6 285.7 180.0 105.7 230.5 145.2 85.3 223.4 140.7 82.7 243.1 153.2 90.0 152.3 95.9 56.3 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 31.7 34.8 141.7 36.8 : : 0.27 75.0 50.00 0.0 23.2 0.0 48.4 30.5 17.9 Ags 33.9 26.8 7.1 Sep 150.8 26.2 124.6 Okt 256.6 27.5 229.1 Nov 339.0 18.9 320.1 Des 216.3 22.7 193.6 50.00 0.0 26.8 0.0 7.1 4.5 2.6 50.00 0.0 26.2 50.00 0.0 27.5 50.00 0.0 18.9 50.00 0.0 22.7 124.6 78.5 46.1 229.1 144.3 84.8 320.1 201.7 118.4 193.6 122.0 71.6 Ags 33.9 40.2 -6.3 6.3 68.72 -6.3 27.6 12.6 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 39.4 111.4 -105.2 75.00 6.3 39.4 0.0 111.4 66.3 45.1 Okt 256.6 41.3 215.3 Nov 339.0 28.4 310.7 Des 216.3 34.1 182.2 75.00 0.0 41.3 75.00 0.0 28.4 75.00 0.0 34.1 215.3 128.1 87.2 310.7 184.8 125.8 182.2 108.4 73.8 Jumlah 2530.0 270.4 2259.5 0.0 270.4 0.0 2259.5 1423.5 836.0 mm Jan 221.0 29.0 192.0 Feb 302.3 24.9 277.4 Mar 255.1 36.8 218.3 Apr 245.9 33.8 212.1 Mei 264.0 31.3 232.7 75.00 0.0 29.0 75.00 0.0 24.9 75.00 0.0 36.8 75.00 0.0 33.8 75.00 0.0 31.3 192.0 114.3 77.8 277.4 165.0 112.3 218.3 129.9 88.4 212.1 126.2 85.9 232.7 138.5 94.2 75.00 0.0 31.7 0.0 141.7 84.3 57.4 75.00 0.0 34.8 0.0 36.8 21.9 14.9 Jumlah 2530.0 405.5 2124.4 0.0 393.0 12.6 2130.6 1267.7 862.9 61 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 60 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 50 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.36 100.0 mm Jan 221.0 38.6 182.4 Feb 302.3 33.3 269.0 Mar 255.1 49.1 206.0 Apr 245.9 45.0 200.9 Mei 264.0 41.7 222.3 100.00 0.0 38.6 100.00 0.0 33.3 100.00 0.0 49.1 100.00 0.0 45.0 100.00 0.0 41.7 182.4 102.1 80.3 269.0 150.7 118.4 206.0 115.4 90.6 200.9 112.5 88.4 222.3 124.5 97.8 : : 0.45 125.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 42.2 46.4 131.2 25.2 100.00 0.0 42.2 0.0 131.2 73.5 57.7 100.00 0.0 46.4 0.0 25.2 14.1 11.1 Ags 33.9 53.6 -19.7 19.7 80.33 -19.7 14.2 39.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 52.5 98.3 Okt 256.6 55.0 201.6 Nov 339.0 37.8 301.2 Des 216.3 45.4 170.9 100.00 19.7 52.5 0.0 98.3 55.1 43.3 100.00 0.0 55.0 100.00 0.0 37.8 100.00 0.0 45.4 201.6 112.9 88.7 301.2 168.7 132.5 170.9 95.7 75.2 Sep 150.8 65.6 85.2 Okt 256.6 68.8 187.8 Nov 339.0 47.3 291.8 Des 216.3 56.8 159.5 125.00 33.1 65.6 0.0 85.2 44.7 40.5 125.00 0.0 68.8 125.00 0.0 47.3 125.00 0.0 56.8 187.8 98.6 89.2 291.8 153.2 138.6 159.5 83.7 75.8 Jumlah 2530.0 540.7 1989.2 0.0 501.4 39.3 2008.9 1125.0 883.9 mm Jan 221.0 48.3 172.7 Feb 302.3 41.6 260.7 Mar 255.1 61.4 193.7 Apr 245.9 56.3 189.6 Mei 264.0 52.2 211.8 125.00 0.0 48.3 125.00 0.0 41.6 125.00 0.0 61.4 125.00 0.0 56.3 125.00 0.0 52.2 172.7 90.7 82.0 260.7 136.9 123.8 193.7 101.7 92.0 189.6 99.5 90.1 211.8 111.2 100.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 52.8 58.0 120.6 13.6 125.00 0.0 52.8 0.0 120.6 63.3 57.3 125.00 0.0 58.0 0.0 13.6 7.1 6.4 Ags 33.9 67.0 -33.1 33.1 91.94 -33.1 0.8 66.1 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 675.9 1854.0 0.0 609.8 66.1 1887.1 990.7 896.4 62 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 40 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 30 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.54 150.0 mm Jan 221.0 57.9 163.1 Feb 302.3 49.9 252.4 Mar 255.1 73.7 181.4 Apr 245.9 67.6 178.3 Mei 264.0 62.6 201.4 150.00 0.0 57.9 150.00 0.0 49.9 150.00 0.0 73.7 150.00 0.0 67.6 150.00 0.0 62.6 163.1 79.9 83.2 252.4 123.7 128.7 181.4 88.9 92.5 178.3 87.4 91.0 201.4 98.7 102.7 : : 0.63 175.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 63.3 69.6 110.1 2.0 150.00 0.0 69.6 0.0 2.0 1.0 1.0 Ags 33.9 80.4 -46.5 46.5 103.55 -46.5 -12.6 92.9 0.0 0.0 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 73.9 81.2 99.5 -9.6 9.6 175.00 165.36 0.0 -9.6 73.9 62.0 0.0 19.3 99.5 0.0 45.3 0.0 54.2 0.0 Ags 33.9 93.7 -59.8 69.5 105.51 -59.8 -25.9 119.7 0.0 0.0 0.0 150.00 0.0 63.3 0.0 110.1 53.9 56.1 Sep 150.8 78.7 72.1 Okt 256.6 82.5 174.1 Nov 339.0 56.7 282.3 Des 216.3 68.1 148.2 150.00 46.5 78.7 0.0 72.1 35.3 36.8 150.00 0.0 82.5 150.00 0.0 56.7 150.00 0.0 68.1 174.1 85.3 88.8 282.3 138.3 144.0 148.2 72.6 75.6 Sep 150.8 91.9 58.9 Okt 256.6 96.3 160.3 Nov 339.0 66.2 272.9 Des 216.3 79.5 136.8 175.00 69.5 91.9 0.0 58.9 26.8 32.1 175.00 0.0 96.3 175.00 0.0 66.2 175.00 0.0 79.5 160.3 72.9 87.4 272.9 124.1 148.7 136.8 62.2 74.6 Jumlah 2530.0 811.1 1718.8 0.0 718.2 92.9 1765.3 865.0 900.3 mm Jan 221.0 67.6 153.4 Feb 302.3 58.2 244.1 Mar 255.1 85.9 169.2 Apr 245.9 78.8 167.1 Mei 264.0 73.0 191.0 175.00 0.0 67.6 175.00 0.0 58.2 175.00 0.0 85.9 175.00 0.0 78.8 175.00 0.0 73.0 153.4 69.8 83.6 244.1 111.1 133.0 169.2 77.0 92.2 167.1 76.0 91.1 191.0 86.9 104.1 Jumlah 2530.0 946.2 1583.7 0.0 807.3 139.0 1653.2 752.2 901.0 63 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 20 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 10 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.72 200.0 mm Jan 221.0 77.2 143.8 Feb 302.3 66.5 235.8 Mar 255.1 98.2 156.9 Apr 245.9 90.1 155.8 Mei 264.0 83.5 180.5 200.00 0.0 77.2 200.00 0.0 66.5 200.00 0.0 98.2 200.00 0.0 90.1 200.00 0.0 83.5 143.8 60.4 83.4 235.8 99.0 136.7 156.9 65.9 91.0 155.8 65.4 90.4 180.5 75.8 104.7 : : 0.81 225.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 84.5 92.9 88.9 -21.3 21.3 200.00 178.75 0.0 -21.3 84.5 50.3 42.5 88.9 0.0 37.4 0.0 51.6 0.0 Ags 33.9 107.1 -73.2 94.5 105.51 -73.2 -39.3 146.5 0.0 0.0 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 95.0 104.5 78.4 -32.9 32.9 225.00 192.14 0.0 -32.9 95.0 38.7 65.7 78.4 0.0 30.2 0.0 48.2 0.0 Ags 33.9 120.5 -86.6 119.5 105.51 -86.6 -52.7 173.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 105.0 45.8 Okt 256.6 110.0 146.6 Nov 339.0 75.6 263.4 Des 216.3 90.8 125.5 200.00 94.5 105.0 0.0 45.8 19.2 26.6 200.00 0.0 110.0 200.00 0.0 75.6 200.00 0.0 90.8 146.6 61.6 85.0 263.4 110.6 152.8 125.5 52.7 72.8 Sep 150.8 118.1 32.7 Okt 256.6 123.8 132.8 Nov 339.0 85.1 254.0 Des 216.3 102.2 114.1 225.00 119.5 118.1 0.0 32.7 12.6 20.1 225.00 0.0 123.8 225.00 0.0 85.1 225.00 0.0 102.2 132.8 51.1 81.7 254.0 97.8 156.2 114.1 43.9 70.2 Jumlah 2530.0 1081.4 1448.5 0.0 892.4 189.0 1543.0 648.0 894.9 mm Jan 221.0 86.9 134.1 Feb 302.3 74.8 227.5 Mar 255.1 110.5 144.6 Apr 245.9 101.3 144.6 Mei 264.0 93.9 170.1 225.00 0.0 86.9 225.00 0.0 74.8 225.00 0.0 110.5 225.00 0.0 101.3 225.00 0.0 93.9 134.1 51.6 82.5 227.5 87.6 139.9 144.6 55.7 88.9 144.6 55.7 88.9 170.1 65.5 104.6 Jumlah 2530.0 1216.6 1313.3 0.0 977.6 239.0 1432.8 551.6 881.2 64 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 0 % Nilai Kc : 0.90 Kapasitas cadangan lengas tanah : 250.0 mm Bulan Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Jan Feb 221.0 302.3 96.5 124.5 Mar Mei Jun 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 83.2 122.8 112.6 104.3 105.6 219.1 132.3 133.3 159.7 67.8 Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Jul Ags Sep Okt Nov Des 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 116.1 133.9 131.2 137.5 94.5 113.6 1351.8 -44.5 -100.0 19.6 119.1 244.5 102.7 1178.1 44.5 144.5 250.00 250.00 250.00 250.00 250.00 250.00 205.54 105.52 250.00 250.00 250.00 250.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -44.5 -100.0 144.5 0.0 0.0 0.0 0.0 96.5 83.2 122.8 112.6 104.3 105.6 27.1 -66.1 131.2 137.5 94.5 113.6 1062.8 88.9 200.0 0.0 Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Jumlah Apr 289.0 124.5 219.1 132.3 133.3 159.7 67.8 0.0 0.0 19.6 119.1 244.5 102.7 1322.6 Limpasan (mm) 43.6 76.7 46.3 46.7 55.9 23.7 0.0 0.0 6.9 41.7 85.6 36.0 462.9 Pengisian airtanah (mm) 80.9 142.4 86.0 86.7 103.8 44.1 0.0 0.0 12.7 77.4 158.9 66.8 859.7 65 Lampiran 14. Perhitungan perkiraan laju erosi pada DTA 6 1. Menghitung faktor erosivitas hujan (R) yaitu EI30 tahunan yang besarnya dapat dihitung: EI30 = 2.34 R(1.98) (R adalah curah hujan tahunan) EI30 = 2.34 (253.0)1.98 = 134089.41 R = = 1340.89 Maka faktor curah hujan dan aliran permukaan (R) adalah sebesar 1340.89. 2. Menentukan nilai faktor erodibilitas tanah (K) Nilai faktor K beberapa tanah di Indonesia Jenis tanah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bahan induk Nilai K Kisaran 0.02-0.04 0.08-0.09 0.11 – 0.16 0.24 – 0.30 0.09 – 0.11 0.09 – 0.11 0.16 – 0.29 0.18 – 0.25 - Latosol Darmaga Tufa volkan Latosol Citayam Tufa volkan Regosol Tanjungharjo Batu liat berkapur Grumusol Jegu. Blitar Napal Podsolik jonggol Batu liat Mediteran Citayam Tufa volkan Mediteran Putat Breksi berkapur Mediteran Punung Breksi berkapur Podsolik Merah Kuning Dasitik Pekalongan. Lampung Tengah Sumber: Kurnia Undang dan Suwardjo, 1984 dalam Arsyad (2010) Jenis tanah yang digunakan adalah latosol dramaga sehingga nilai K sebesar 0.03 Rata-rata 0.03 0.09 0.14 0.27 0.16 0.10 0.23 0.22 0.32 3. Menentukan faktor panjang lereng L = (X/22)m Yang menyatakan X adalah panjang lereng (dalam meter) dan m adalah konstanta yang besarnya sama dengan: 0.5 untuk lereng yang kecuramannya > 5% 0.4 untuk lereng yang kecuramannya 3.5 – 4.5 % 0.3 untuk lereng yang kecuramannya 1 – 3% 0.2 untuk lereng yang kecuramannya < 1% Berdasarkan Tabel 12 panjang lereng dan kemiringan lahan pada DTA 4 berturut-turut sebesar 351.75 m dan 10 % sehingga besarnya L adalah L = (351.75/22)0.5 = 3.998 =4 4. Menentukan kemiringan lahan (LS) yaitu sebesar ((0.43+(0.33x10)+(0.043x10^2))/6.613=1.214 5. Menentukan faktor vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman berdasarkan tabel hasil penelitian faktor C yang dilakukan oleh pusat penelitian tanah. 66 Lampiran 14. Lanjutan Faktor C untuk berbagai jenis tanaman Macam penggunaan Tanah terbuka/tanpa tanaman Sawah Tegalan tidak dispesifikasi Kebun campuran: - kerapatan tinggi - Kerapatan sedang - Kerapatan rendah Perladangan Hutan alam : - Serasah banyak - Serasah kurang - Semak belukar/padang rumput Sumber: Arsyad, 2010 Nilai faktor 1.0 0.01 0.7 0.1 0.2 0.5 0.4 0.001 0.005 0.3 Berdasarkan keadaan di lapangan maka ditentukan faktor C untuk tanah terbuka/tanpa tanaman yaitu sebesar 1. 6. Menentukan nilai faktor tindakan – tindakan khusus konservasi tanah (P) Nilai faktor P untuk berbagai tindakan konservasi tanah khusus Tindakan khusus konservasi tanah Nilai P Teras bangku - Konstruksi baik 0.04 - Konstruksi sedang 0.15 - Konstruksi kurang baik 0.35 - Teras tradisional 0.40 Strip tanaman rumput Bahia 0.04 Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontur: - Kemiringan 0 – 8% 0.50 - Kemiringan 9 – 20% 0.75 - Kemiringan > 20% 0.90 Tanpa tindakan konservasi 1.00 Sumber: Arsyad, 2010 Berdasarkan keadaan di lapangan maka ditentukan faktor P untuk teras bangku konstruksi kurang baik yaitu sebesar 0.35. Setelah didapatkan faktor – faktor laju erosi. maka dapat dihitung laju erosi A = R.K.L.S.C.P = 1340.89 x 0.03 x 4 x 1.214 x 1 x 0.35 = 56.317 ton/ha/tahun 67 LAMPIRAN 33 Lampiran 1. Pemakaian air rata-rata sehari No 1 Jenis gedung 2 3 Perumahan mewah Rumah biasa Apartement 4 5 Asrama Rumah sakit 6 7 8 Sekolah dasar SLTP SLTA dan lebih tinggi Rumah- toko Pemakaian air rata-rata sehari (liter) 250 Jangka waktu pemakaian air rata-rata sehari (jam) 8-10 Perbandingan luas lantai efektif/ total (%) 42-45 Setiap penghuni Setiap penghuni Mewah 250 liter Menengah 180 liter Bujangan 120 liter Bujangan (setiap tempat tidur pasien) Pasien luar: 8 liter Staf: 120 liter Keluarga pasien: 160 liter Guru: 100 liter Guru: 100 liter Guru/Dosen: 100 liter Penghuninya:160 liter Setiap pegawai Pemakaian air hanya untuk kakus, belum termasuk untuk bagian restorannya Untuk penghuni 160 liter Untuk penghuni: 160 liter Pelayan: 100 liter, 70 % dari jumlah tamu 15 liter/orang untuk kakus Pedagang besar: 30 liter/tamu, 150 liter/staf atau 5 liter per hari setiap m2 luas lantai Didasarkan jumlah jamaah Untuk setiap pembaca yang tinggal Setiap staf 160-250 200-250 8-10 8-10 50-53 45-50 120 Mewah>1000 Menengah 5001000 Umum 350-500 8 8-10 45-48 40 50 80 5 6 6 58-60 58-60 - 100-200 8 - 100 3 8 7 60-70 55-60 12 Gedung kantor Toserba (toko serba ada, departement store) Restoran 30 5 - 13 Restoran umum 15 7 - 14 Toko pengecer 40 6 - 15 Gedung peribadatan Perpustakaan 10 2 - 25 6 - 8 - 9 10 11 16 17 Laboraturium 100-200 Sumber: Noerbambang dan Morimura, 2000 Keterangan 34 Lampiran 2. Data curah hujan bulanan (mm) Stasiun Klimatologi Dramaga Badan meteorologi dan geofisika Balai wilayah II Stasiun klimatologi kelas I Darmaga Bogor Data iklim stasiun darmaga (2001 - 2011) Stasiun Elevasi Lokasi : klimatologi Bogor : 190m :06, 33'13” LS :106, 44'59 BT Bulan Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des 2011 351 315 271 240 571 388 131 34 147 426 407 258 2010 361 300 261 256 575 338 131 34 157 411 407 258 2009 361 305 261 260 572 338 131 33 157 416 407 258 2008 235 374 674 439 191 164 169 190 305 277 374 236 2007 395 351 285 461 174 257 135 197 207 243 342 448 2006 588 387 209 96 400 263 32 132 25 159 384 215 2005 62 22 565 296 425 596 175 99 372 310 337 209 2004 404 323 432 640 374 169 209 166 392 277 403 432 2003 212 556 471 309 701 180 25 91 268 552 328 396 2002 368 305 261 255 578 338 136 37 158 416 400 256 2001 251 307 251 263 573 330 137 150 157 516 407 218 35 Lampiran 3. Perhitungan curah hujan andalan dengan Metode Weibull Urutan curah hujan Bulanan No. Urut Bulan (mm) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep 1 588 556 674 640 701 596 209 197 392 2 404 387 565 461 578 388 175 190 372 3 395 374 471 439 575 338 169 166 4 368 351 432 309 573 338 137 5 361 323 285 296 571 338 6 361 315 271 263 571 330 7 351 307 261 260 425 8 251 305 261 256 Okt p=m/(n+1) Nov Des Jumlah 552 407 448 5959 0.08 516 407 432 4874 0.17 305 426 407 396 4460 0.25 150 268 416 407 258 4006 0.33 136 132 207 416 403 258 3725 0.42 135 99 158 411 400 258 3572 0.50 263 131 91 157 310 384 258 3199 0.58 400 257 131 37 157 277 374 236 2942 0.67 9 235 305 261 255 374 180 131 34 157 277 342 218 2769 0.75 10 212 300 251 240 191 169 32 34 147 243 337 215 2371 0.83 11 62 22 209 96 174 164 25 33 25 159 328 209 1507 0.92 Curah Hujan Bulanan (P=80%) Bulan (mm) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jumlah 221.0 302.3 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 36 Lampiran 4. Proporsi tutupan lahan Daerah Tangkapan Air (ha) No Tata guna Lahan 1 2 3 4 5 6 7 8 a 9 b c 10 11 12 Total Luas (ha) 1 Bangunan 0.71 0.04 0.38 2.84 0.09 0.00 3.42 3.52 6.70 1.01 11.04 0.00 0.00 0.77 30.52 2 Kebun 0.00 0.00 2.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 8.08 3 Kebun Campuran 0.00 1.73 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.00 0.00 0.00 0.00 2.49 4 Kelapa Sawit 0.00 0.00 2.66 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 5 Kolam 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.64 6 Lahan Terbangun 0.00 0.00 0.00 1.55 1.47 0.00 3.18 0.00 2.75 1.61 2.95 0.00 0.00 0.00 13.51 7 Pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 2.01 0.00 0.00 0.00 0.26 0.86 0.00 2.75 9.94 8 Perumahan 0.00 3.02 0.27 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6.14 10 Semak 0.00 0.21 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.21 12 Tanah Kosong 1.51 0.35 0.67 0.11 0.00 0.10 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.21 0.00 1.98 5.43 13 Tegalan 0.00 0.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.08 14 Tubuh Air 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 1.03 0.47 0.00 0.18 0.00 1.71 15 Vegetasi bertajuk rendah 6.40 1.87 8.99 5.69 0.09 0.27 0.00 9.28 0.35 1.16 0.72 0.00 0.00 0.00 48.62 16 Vegetasi bertajuk tinggi 14.97 22.73 6.38 13.32 13.89 14.33 11.57 7.58 7.86 5.86 22.29 8.38 2.97 7.79 146.12 Total Luas (ha) 23.60 30.05 21.60 27.10 15.54 18.76 20.68 20.74 18.57 11.43 37.73 9.45 3.15 18.77 277.15 37 Lampiran 5. Peta tutupan lahan wilayah Kampus IPB Dramaga Bogor 38 Lampiran 6. Data iklim Badan meteorologi dan geofisika Balai wilayah II Stasiun klimatologi kelas I Darmaga Bogor Data iklim stasiun darmaga (2001 - 2011) Bulan Stasiun Elevasi Lokasi Temperatur maksimum (0C) Temperatur minimum (0C) Kelembaban Nisbi(%) : klimatologi Bogor : 190m :06, 33'13” LS :106, 44'59 BT Lama penyinaran (%) Kecepatan angin (km/hari) Januari 28,0 22,9 88,0 37,2 82 Februari 28,9 22,2 87,8 32,3 106 Maret 31,5 23,1 83,5 62,2 85 April 31,6 23,5 83,4 63,0 75 Mei 32,0 23,7 84,4 60,3 73 Juni 32,2 23,1 83,8 74,2 80 Juli 32,0 22,1 77,5 82,6 69 Agustus 32,9 22,7 76,3 87,5 78 September 32,9 23,6 75,8 73,9 79 Oktober 33,2 22,8 82,8 70,8 77 November 31,4 23,2 83,3 31,3 76 Desember 30,9 23,1 85,0 49,7 82 39 Lampiran 7. Nilai evapotranspirasi potensial (mm) dan evapotranpirasi acuan DTA Nilai ETP Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 1 84.52 72.81 107.48 98.58 91.36 92.43 101.62 117.25 114.89 120.43 82.74 99.42 1183.51 2 83.66 72.07 106.39 97.58 90.43 91.49 100.59 116.06 113.72 119.21 81.90 98.41 1171.53 3 83.66 72.07 106.39 97.58 90.43 91.49 100.59 116.06 113.72 119.21 81.90 98.41 1171.53 4 77.23 66.53 98.21 90.07 83.48 84.46 92.85 107.14 104.98 110.04 75.60 90.84 1081.41 5 86.88 74.84 110.48 101.33 93.91 95.01 104.46 120.53 118.10 123.79 85.05 102.20 1216.59 6 75.08 64.68 95.48 87.57 81.16 82.11 90.27 104.16 102.06 106.98 73.50 88.32 1051.37 7 53.63 46.20 68.20 62.55 57.97 58.65 64.48 74.40 72.90 76.42 52.50 63.09 750.98 8 75.08 64.68 95.48 87.57 81.16 82.11 90.27 104.16 102.06 106.98 73.50 88.32 1051.37 9a 42.90 36.96 54.56 50.04 46.38 46.92 51.58 59.52 58.32 61.13 42.00 50.47 600.78 9b 64.36 55.44 81.84 75.06 69.56 70.38 77.38 89.28 87.48 91.70 63.00 75.70 901.18 9c 58.99 50.82 75.02 68.81 63.77 64.52 70.93 81.84 80.19 84.06 57.75 69.39 826.08 10 85.81 73.92 109.12 100.08 92.75 93.84 103.17 119.04 116.64 122.26 84.00 100.94 1201.57 11 91.17 78.54 115.94 106.34 98.55 99.71 109.62 126.48 123.93 129.91 89.25 107.24 1276.67 12 65.43 56.36 83.20 76.31 70.72 71.55 78.67 90.77 88.94 93.23 64.05 76.96 916.20 Nilai ET0 Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des 107.26 92.40 136.40 125.10 115.94 117.30 128.96 148.80 145.80 152.83 105.00 126.17 1501.96 40 Lampiran 8. Perhitungan nilai koefisien tanaman tertimbang Tutupan lahan Kc DTA1 Luas Kc x (ha) luas DTA2 Luas Kc x (ha) luas DTA6 Luas Kc x (ha) luas DTA7 Luas Kc x (ha) luas 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.90 14.97 13.47 22.73 20.46 6.38 5.75 13.32 11.99 1.47 1.32 14.33 12.89 11.57 10.41 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.80 6.40 5.12 1.87 1.49 8.99 7.19 5.69 4.55 13.89 11.11 0.27 0.21 0.00 0.00 3 tegalan 0.80 0.00 0.00 0.08 0.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 1.80 5 kebun campuran 0.80 0.00 0.00 1.73 1.39 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 2.13 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.80 0.00 0.00 0.21 0.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.00 0.71 0.00 0.04 0.00 0.38 0.00 2.84 0.00 0.09 0.00 0.00 0.00 3.42 0.00 9 perumahan 0.00 0.00 0.00 3.02 0.00 0.27 0.00 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 0.00 2.01 0.00 11 lahan terbangun 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 0.00 1.47 0.00 0.00 0.00 3.18 0.00 12 tanah kosong 13 sungai 0.00 1.51 0.00 0.35 0.00 0.67 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.10 0.00 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 No Luas DTA Kc tertimbang Ketetangan: Doorenbos and Pruitt, 1977 23.60 18.59 0.79 30.05 23.57 0.78 DTA3 Luas Kc x (ha) luas 21.60 16.86 0.78 DTA4 Luas Kc x (ha) luas 27.10 16.54 0.61 DTA5 Luas Kc x (ha) Luas 16.91 12.43 0.81 18.76 13.11 0.70 20.68 10.41 0.50 41 Lampiran 8. Lanjutan No DTA8 Luas Kc x (ha) luas DTA9a Luas Kc x (ha) luas DTA9b Luas Kc x (ha) luas DTA9c Luas Kc x (ha) luas DTA10 Luas Kc x (ha) luas DTA11 Luas Kc x (ha) luas DTA12 Luas Kc x (ha) luas Tutupan lahan Kc 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.90 7.58 6.83 7.86 7.07 5.86 5.28 22.29 20.06 8.38 7.54 2.97 2.67 7.79 7.01 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.80 9.28 7.43 0.35 0.28 1.16 0.93 0.72 0.57 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3 tegalan 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.80 0.35 0.28 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 4.38 5 kebun campuran 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.61 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.00 3.52 0.00 6.70 0.00 1.01 0.00 11.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.00 9 perumahan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.00 0.86 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 11 lahan terbangun 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 1.61 0.00 2.95 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.00 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 1.03 0.00 0.47 0.00 0.21 0.00 0.18 0.00 1.98 0.00 20.74 14.53 18.57 7.35 11.43 6.82 37.73 20.63 9.44 7.54 3.15 2.67 18.78 11.39 Luas Ca Kc tertimbang Ketetangan: Doorenbos and Pruitt, 1977 0.70 0.40 0.60 0.55 0.80 0.85 0.61 42 Lampiran 9. Perhitungan nilai St0 No Tutupan lahan St0 DTA1 Luas St0 x (ha) luas DTA2 Luas St0 x (ha) luas DTA3 Luas St0 x (ha) luas DTA4 Luas St0 x (ha) luas DTA5 Luas St0 x (ha) luas DTA6 Luas St0 x (ha) luas DTA7 Luas St0 x (ha) luas 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 250 14.97 3742.28 22.73 5682.86 6.38 1596.21 13.32 3329.19 1.47 367.89 14.33 3581.88 11.57 2891.59 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 200 6.40 1280.07 1.87 373.70 8.99 1797.09 5.69 1138.63 13.89 2777.10 0.27 53.71 0.00 0.00 3 tegalan 200 0.00 0.00 0.08 15.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 200 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 450.71 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5 kebun campuran 200 0.00 0.00 1.73 346.65 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 200 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 531.79 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 150 0.00 0.10 0.21 31.83 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0 0.71 0.00 0.04 0.00 0.38 0.00 2.84 0.00 0.09 0.00 0.00 0.00 3.42 0.00 9 perumahan 0 0.00 0.00 3.02 0.00 0.27 0.00 2.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 0.00 2.01 0.00 11 lahan terbangun 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 0.00 1.47 0.00 0.00 0.00 3.18 0.00 12 tanah kosong 0 1.51 0.00 0.35 0.00 0.67 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.10 0.00 0.50 0.00 13 sungai 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Luas DTA 23.60 5022.45 ST0 tertimbang 212.85 Ketetangan: Thornwaite dan Mather, 1957 30.05 6450.12 21.60 4375.80 27.10 4467.82 16.91 3144.99 18.76 3635.59 20.68 2891.59 214.65 202.57 164.85 185.94 193.83 139.86 43 Lampiran 9. Lanjutan DTA9c Luas St0 x (ha) luas DTA10 Luas St0 x (ha) luas 1465.75 22.29 5572.68 8.38 2094.69 2.97 742.97 7.79 1946.69 1.16 232.96 0.72 143.24 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 1096.24 0.00 0.00 0.00 0.76 152.43 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 3.52 0.00 6.70 0.00 1.01 0.00 11.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.00 perumahan 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.00 0.86 0.00 0.00 0.00 2.75 0.00 11 lahan terbangun 0 0.00 0.00 2.75 0.00 1.61 0.00 2.95 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0 0.00 0.00 0.90 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0 0.00 0.00 0.01 0.00 1.03 0.00 0.47 0.00 0.21 0.00 0.18 0.00 1.98 0.00 20.74 3822.93 18.57 2033.49 11.43 1851.13 37.73 5715.93 9.44 2094.69 3.15 742.97 18.78 3042.94 No DTA8 Luas St0 x (ha) luas DTA9a Luas St0 x (ha) luas DTA9b Luas St0 x (ha) luas Tutupan lahan STo 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 250 7.58 1896.22 7.86 1964.21 5.86 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 200 9.28 1856.96 0.35 69.28 3 tegalan 200 0.00 0.00 0.00 4 kebun 200 0.35 69.75 5 kebun campuran 200 0.00 6 kelapa sawit 200 7 semak 150 8 Bangunan 9 Luas DTA ST0 tertimbang Ketetangan: Thornwaite dan Mather, 1957 184.36 109.51 161.92 151.50 221.81 DTA11 Luas St0 x (ha) luas 235.78 DTA12 Luas St0 x (ha) luas 162.06 44 Lampiran 10. Perhitungan nilai limpasan (C) DTA1 Luas Cx (ha) luas DTA2 Luas Cx (ha) luas DTA6 Luas C x (ha) luas DTA7 Luas Cx (ha) luas 0.18 14.97 2.69 22.73 4.09 6.38 1.15 13.32 2.40 1.47 0.26 14.33 2.58 11.57 2.08 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.35 6.40 2.24 1.87 0.65 8.99 3.14 5.69 1.99 13.89 4.86 0.27 0.09 0.00 0.00 3 tegalan 0.35 0.00 0.00 0.08 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 2.25 0.79 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5 kebun campuran 0.35 0.00 0.00 1.73 0.61 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 2.66 0.93 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.35 0.00 0.00 0.21 0.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.7 0.71 0.50 9 perumahan 0.7 0.00 0.00 0.04 0.03 0.38 0.27 2.84 1.99 0.09 0.06 0.00 0.00 3.42 2.40 3.02 2.12 0.27 0.19 2.85 2.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4.06 2.85 2.01 1.40 11 lahan terbangun 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.55 1.08 1.47 1.03 0.00 0.00 3.18 2.22 12 tanah kosong 0.7 1.51 1.06 0.35 0.25 0.67 0.47 0.11 0.08 0.00 0.00 0.10 0.07 0.50 0.35 13 sungai 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.74 0.52 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.7 0.00 0.00 0.02 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 23.60 6.49 30.05 7.85 21.60 6.94 27.10 10.05 16.91 6.21 18.76 5.59 20.68 8.46 No Tutupan lahan C 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 2 Luas DTA C tertimbang Ketetangan: Schawb, et al, 1981 0.28 0.26 DTA3 Luas C x (ha) luas 0.32 DTA4 Luas Cx (ha) luas 0.37 DTA5 Luas C x (ha) luas 0.37 0.30 0.41 45 Lampiran 10. Lanjutan No DTA8 Luas Cx (ha) luas DTA9a Luas Cx (ha) luas DTA9b Luas C x (ha) luas DTA9c Luas Cx (ha) luas DTA10 Luas C x (ha) luas DTA11 Luas Cx (ha) luas DTA12 Luas Cx (ha) luas Tutupan lahan C 1 Vegetasi Bertajuk Tinggi 0.18 7.58 1.37 7.86 1.41 5.86 1.06 22.29 4.01 8.38 1.51 2.97 0.53 7.79 1.40 2 Vegetasi Bertajuk Rendah 0.35 9.28 3.25 0.35 0.12 1.16 0.41 0.72 0.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3 tegalan 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 kebun 0.35 0.35 0.12 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 5.48 1.92 5 kebun campuran 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.76 0.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 kelapa sawit 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 semak 0.35 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Bangunan 0.7 3.52 2.46 6.70 4.69 1.01 0.71 11.04 7.73 0.00 0.00 0.00 0.00 0.77 0.54 9 perumahan 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 pemukiman 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.26 0.18 0.86 0.60 0.00 0.00 2.75 1.93 11 lahan terbangun 0.7 0.00 0.00 2.75 1.93 1.61 1.12 2.95 2.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 tanah kosong 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 sungai 0.7 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 kolam 0.7 0.00 0.00 0.90 0.63 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 tubuh air 0.7 0.00 0.00 0.01 0.01 1.03 0.72 0.47 0.33 0.21 0.15 0.18 0.13 1.98 1.39 20.74 7.20 18.57 8.79 11.43 4.28 37.73 14.57 9.44 2.25 3.15 0.66 18.78 7.18 Luas DTA C tertimbang Ketetangan: Schawb, et al, 1981 0.35 0.47 0.37 0.39 0.24 0.21 0.38 46 Lampiran 11. Perhitungan neraca air wilayah Kampus IPB Analisis NA Catchment1 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 2 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.79 212.85 Jan 221.0 84.5 136.5 0.0 212.85 0.0 84.5 Feb 302.3 72.8 229.5 0.0 212.85 0.0 72.8 Mar 255.1 107.5 147.6 0.0 212.85 0.0 107.5 Apr 245.9 98.6 147.3 0.0 212.85 0.0 98.6 Mei 264.0 91.4 172.6 0.0 212.85 0.0 91.4 136.5 38.2 98.3 229.5 64.3 165.2 147.6 41.3 106.3 147.3 41.3 106.1 172.6 48.3 124.3 : : 0.78 214.65 Jan 221.0 83.7 137.3 0.0 214.7 0.0 83.7 Feb 302.3 72.1 230.2 0.0 214.7 0.0 72.1 Mar 255.1 106.4 148.7 0.0 214.7 0.0 106.4 Apr 245.9 97.6 148.3 0.0 214.7 0.0 97.6 Mei 264 90.4 173.6 0.0 214.7 0.0 90.4 137.3 35.7 101.6 230.2 59.9 170.4 148.7 38.7 110.0 148.3 38.6 109.8 173.6 45.1 128.4 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 92.4 101.6 81.0 -30.0 0.0 30.0 212.85 182.83 0.0 -30.0 92.4 41.6 60.0 81.0 0.0 22.7 0.0 58.3 0.0 Bulan Jun 173.4 91.5 81.9 0.0 214.7 0.0 91.5 81.9 21.3 60.6 Jul 71.6 100.6 -29.0 29.0 185.7 -29.0 42.6 58.0 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 117.3 -83.4 113.4 99.48 -83.4 -49.5 166.7 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 114.9 35.9 77.5 212.85 113.4 114.9 Okt 256.6 120.4 136.2 0.0 212.85 0.0 120.4 Nov 339.0 82.7 256.3 0.0 212.85 0.0 82.7 Des 216.3 99.4 116.9 0.0 212.85 0.0 99.4 35.9 10.1 25.9 136.2 38.1 98.0 256.3 71.8 184.5 116.9 32.7 84.2 Ags 33.9 116.1 -82.2 111.2 103.5 -82.2 -48.3 164.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 113.7 37.1 74.1 214.7 111.2 113.7 0.0 37.1 9.6 27.4 Okt 256.6 119.2 137.4 214.7 0.0 119.2 Nov 339 81.9 257.1 0.0 214.7 0.0 81.9 Des 216.3 98.4 117.9 0.0 214.7 0.0 98.4 137.4 35.7 101.7 257.1 66.8 190.3 117.9 30.7 87.2 Jumlah 2530.0 1183.5 1346.4 0.0 956.8 226.7 1459.8 408.7 1051.0 Jumlah 2530.0 1171.5 1358.4 0.0 949.2 222.3 1469.5 382.1 1087.4 47 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 3 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 4 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.78 202.57 Jan 221.0 83.7 137.3 0.0 202.6 0.0 83.7 Feb 302.3 72.1 230.2 0.0 202.6 0.0 72.1 Mar 255.1 106.4 148.7 0.0 202.6 0.0 106.4 Apr 245.9 97.6 148.3 0.0 202.6 0.0 97.6 Mei 264 90.4 173.6 0.0 202.6 0.0 90.4 137.3 43.9 93.4 230.2 73.7 156.6 148.7 47.6 101.1 148.3 47.5 100.9 : : 0.72 164.85 Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 77.2 143.8 0.0 164.9 0.0 77.2 66.5 235.8 0.0 164.9 0.0 66.5 143.8 53.2 90.6 235.8 87.2 148.5 mm Jul 71.6 100.6 -29.0 29.0 173.6 -29.0 42.6 58.0 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 116.1 -82.2 111.2 91.4 -82.2 -48.3 164.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 113.7 37.1 74.1 202.6 111.2 113.7 0.0 37.1 11.9 25.2 Okt 256.6 119.2 137.4 0.0 202.6 0.0 119.2 Nov 339 81.9 257.1 0.0 202.6 0.0 81.9 Des 216.3 98.4 117.9 0.0 202.6 0.0 98.4 173.6 55.5 118.0 Bulan Jun 173.4 91.5 81.9 0.0 202.6 0.0 91.5 0.0 81.9 26.2 55.7 137.4 44.0 93.4 257.1 82.3 174.8 117.9 37.7 80.2 Apr 245.9 Mei 264 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339 Des 216.3 98.2 156.9 0.0 164.9 0.0 98.2 90.1 155.8 0.0 164.9 0.0 90.1 83.5 180.5 0.0 164.9 0.0 83.5 84.5 88.9 0.0 164.9 0.0 84.5 92.9 -21.3 21.3 143.6 -21.3 50.3 105.0 45.8 48.7 164.9 94.5 105.0 110.0 146.6 0.0 164.9 0.0 110.0 75.6 263.4 0.0 164.9 0.0 75.6 90.8 125.5 0.0 164.9 0.0 90.8 156.9 58.1 98.8 155.8 57.7 98.2 180.5 66.8 113.7 88.9 32.9 56.0 0.0 0.0 0.0 107.1 -73.2 94.5 70.4 -73.2 -39.3 146.5 0.0 0.0 0.0 45.8 17.0 28.9 146.6 54.2 92.3 263.4 97.5 165.9 125.5 46.4 79.0 Jumlah 2530.0 1171.5 1358.4 0.0 949.2 222.3 1469.5 470.2 999.3 mm Jumlah 2530.0 1081.4 1448.5 0.0 892.4 146.5 1543.0 570.9 972.1 48 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 5 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 6 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.81 224.50 Jan 221.0 86.9 134.1 0.0 224.5 0.0 86.9 Feb 302.3 74.8 227.5 0.0 224.5 0.0 74.8 Mar 255.1 110.5 144.6 0.0 224.5 0.0 110.5 Apr 245.9 101.3 144.6 0.0 224.5 0.0 101.3 Mei 264 93.9 170.1 0.0 224.5 0.0 93.9 134.1 30.8 103.3 227.5 52.3 175.1 144.6 33.3 111.4 144.6 33.3 111.3 170.1 39.1 131.0 : : 0.70 193.83 Bulan Jun 173.4 95.0 78.4 0.0 224.5 0.0 95.0 0.0 78.4 18.0 60.4 Jul 71.6 104.5 -32.9 32.9 191.6 -32.9 38.7 65.7 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 120.5 -86.6 119.5 105.0 -86.6 -52.7 173.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 118.1 32.7 86.8 224.5 119.5 118.1 0.0 32.7 7.5 25.2 Okt 256.6 123.8 132.8 0.0 224.5 0.0 123.8 Nov 339 85.1 254.0 0.0 224.5 0.0 85.1 Des 216.3 102.2 114.1 0.0 224.5 0.0 102.2 132.8 30.5 102.3 254.0 58.4 195.5 114.1 26.2 87.9 Jul 71.6 90.3 -18.7 18.7 175.2 -18.7 52.9 37.3 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 104.9 -70.3 -36.4 140.5 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 193.8 88.9 102.1 0.0 48.7 14.6 34.1 Okt 256.6 107.0 149.6 0.0 193.8 0.0 107.0 Nov 339 73.5 265.5 0.0 193.8 0.0 73.5 Des 216.3 88.3 128.0 0.0 193.8 0.0 88.3 149.6 44.9 104.7 265.5 79.7 185.9 128.0 38.4 89.6 Bulan Jan 221.0 75.1 145.9 0.0 193.8 0.0 75.1 Feb 302.3 64.7 237.6 0.0 193.8 0.0 64.7 Mar 255.1 95.5 159.6 0.0 193.8 0.0 95.5 Apr 245.9 87.6 158.3 0.0 193.8 0.0 87.6 Mei 264 81.2 182.8 0.0 193.8 0.0 81.2 145.9 43.8 102.1 237.6 71.3 166.3 159.6 47.9 111.7 158.3 47.5 110.8 182.8 54.9 128.0 Jun 173.4 82.1 91.3 0.0 193.8 0.0 82.1 0.0 91.3 27.4 63.9 Jumlah 2530.0 1216.6 1313.3 0.0 977.6 239.0 1432.8 329.5 1103.3 Jumlah 2530.0 1051.4 1478.5 0.0 873.5 177.9 1567.5 470.2 1097.2 49 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 7 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis Catchment 8 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.50 139.86 Jan 221.0 53.6 167.4 0.0 139.9 0.0 53.6 Feb 302.3 46.2 256.1 0.0 139.9 0.0 46.2 Mar 255.1 68.2 186.9 0.0 139.9 0.0 68.2 Apr 245.9 62.6 183.4 0.0 139.9 0.0 62.6 Mei 264 58.0 206.0 0.0 139.9 0.0 58.0 Bulan Jun 173.4 58.7 114.8 0.0 139.9 0.0 58.7 167.4 68.6 98.7 256.1 105.0 151.1 186.9 76.6 110.3 183.4 75.2 108.2 206.0 84.5 121.6 114.8 47.0 67.7 : : 0.70 184.36 Jan 221.0 75.1 145.9 0.0 184.4 0.0 75.1 Feb 302.3 64.7 237.6 0.0 184.4 0.0 64.7 Mar 255.1 95.5 159.6 0.0 184.4 0.0 95.5 Apr 245.9 87.6 158.3 0.0 184.4 0.0 87.6 Mei 264 81.2 182.8 0.0 184.4 0.0 81.2 145.9 51.1 94.8 237.6 83.2 154.5 159.6 55.9 103.8 158.3 55.4 102.9 182.8 64.0 118.8 Bulan Jun 173.4 82.1 91.3 0.0 184.4 0.0 82.1 0.0 91.3 32.0 59.3 Jul 71.6 64.5 7.1 0.0 139.9 0.0 64.5 Sep 150.8 72.9 77.9 0.0 139.9 40.5 72.9 Okt 256.6 76.4 180.2 0.0 139.9 0.0 76.4 Nov 339 52.5 286.5 0.0 139.9 0.0 52.5 Des 216.3 63.1 153.2 0.0 139.9 0.0 63.1 7.1 2.9 4.2 Ags 33.9 74.4 -40.5 40.5 99.4 -40.5 -6.6 81.0 0.0 0.0 0.0 77.9 31.9 46.0 180.2 73.9 106.3 286.5 117.5 169.0 153.2 62.8 90.4 Jul 71.6 90.3 -18.7 18.7 165.7 -18.7 52.9 37.3 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 95.4 -70.3 -36.4 140.5 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 184.4 88.9 102.1 0.0 48.7 17.1 31.7 Okt 256.6 107.0 149.6 0.0 184.4 0.0 107.0 Nov 339 73.5 265.5 0.0 184.4 0.0 73.5 Des 216.3 88.3 128.0 0.0 184.4 0.0 88.3 149.6 52.4 97.3 265.5 92.9 172.6 128.0 44.8 83.2 Jumlah 2530.0 751.0 1778.9 0.0 670.0 81.0 1819.4 746.0 1073.5 Jumlah 2530.0 1051.4 1478.5 0.0 873.5 177.9 1567.5 548.6 1018.8 50 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 9a Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 9b Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.40 109.51 Jan 221.0 42.9 178.1 0.0 109.5 0.0 42.9 Feb 302.3 37.0 265.3 0.0 109.5 0.0 37.0 Mar 255.1 54.6 200.5 0.0 109.5 0.0 54.6 Apr 245.9 50.0 195.9 0.0 109.5 0.0 50.0 Mei 264 46.4 217.6 0.0 109.5 0.0 46.4 Bulan Jun 173.4 46.9 126.5 0.0 109.5 0.0 46.9 178.1 83.7 94.4 265.3 124.7 140.6 200.5 94.3 106.3 195.9 92.1 103.8 217.6 102.3 115.3 126.5 59.4 67.0 : : 0.60 161.92 Jan 221.0 64.4 156.6 0.0 161.9 0.0 64.4 Feb 302.3 55.4 246.9 0.0 161.9 0.0 55.4 Mar 255.1 81.8 173.3 0.0 161.9 0.0 81.8 Apr 245.9 75.1 170.8 0.0 161.9 0.0 75.1 Mei 264 69.6 194.4 0.0 161.9 0.0 69.6 Jun 173.4 70.4 103.0 0.0 161.9 0.0 70.4 156.6 58.0 98.7 246.9 91.3 155.5 173.3 64.1 109.2 170.8 63.2 107.6 194.4 71.9 122.5 103.0 38.1 64.9 Jul 71.6 51.6 20.0 0.0 109.5 0.0 51.6 0.0 20.0 9.4 10.6 Ags 33.9 59.5 -25.6 25.6 83.9 -25.6 8.3 51.2 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 58.3 92.5 0.0 109.5 25.6 58.3 0.0 92.5 43.5 49.0 Okt 256.6 61.1 195.5 0.0 109.5 0.0 61.1 Nov 339 42.0 297.0 0.0 109.5 0.0 42.0 Des 216.3 50.5 165.8 0.0 109.5 0.0 50.5 195.5 91.9 103.6 297.0 139.6 157.4 165.8 77.9 87.9 Jul 71.6 77.4 -5.8 5.8 156.1 -5.8 65.8 11.6 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 89.3 -55.4 61.2 100.8 -55.4 -21.5 110.8 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 87.5 63.3 0.0 161.9 61.2 87.5 0.0 63.3 23.4 39.9 Okt 256.6 91.7 164.9 0.0 161.9 0.0 91.7 Nov 339 63.0 276.0 0.0 161.9 0.0 63.0 Des 216.3 75.7 140.6 0.0 161.9 0.0 75.7 164.9 61.0 103.9 276.0 102.1 173.9 140.6 52.0 88.6 Bulan Jumlah 2530.0 600.8 1929.1 0.0 549.5 51.2 1954.7 918.7 1036.0 Jumlah 2530.0 901.2 1628.7 0.0 778.9 122.3 1689.9 625.3 1064.6 51 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 9c Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Catchment 10 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.55 151.50 Jan 221.0 59.0 162.0 Feb 302.3 50.8 251.5 Mar 255.1 75.0 180.1 Apr 245.9 68.8 177.1 Mei 264 63.8 200.2 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 64.5 70.9 108.9 0.7 0.0 151.5 0.0 59.0 0.0 151.5 0.0 50.8 0.0 151.5 0.0 75.0 0.0 151.5 0.0 68.8 0.0 151.5 0.0 63.8 0.0 151.5 0.0 64.5 162.0 63.2 98.8 251.5 98.1 153.4 180.1 70.2 109.8 177.1 69.1 108.0 200.2 78.1 122.1 108.9 42.5 66.4 : : 0.80 221.81 Jan 221.0 85.8 135.2 0.0 221.8 0.0 85.8 Feb 302.3 73.9 228.4 0.0 221.8 0.0 73.9 Mar 255.1 109.1 146.0 0.0 221.8 0.0 109.1 Apr 245.9 100.1 145.8 0.0 221.8 0.0 100.1 Mei 264 92.8 171.2 0.0 221.8 0.0 92.8 Bulan Jun 173.4 93.8 79.6 0.0 221.8 0.0 93.8 135.2 32.4 102.7 228.4 54.8 173.6 146.0 35.0 110.9 145.8 35.0 110.8 171.2 41.1 130.1 79.6 19.1 60.5 Ags 33.9 81.8 -47.9 Sep 150.8 80.2 70.6 Okt 256.6 84.1 172.5 Nov 339 57.8 281.3 Des 216.3 69.4 146.9 0.0 151.5 0.0 70.9 0.0 0.7 0.3 0.4 47.9 103.6 -47.9 -14.0 95.9 0.0 0.0 0.0 0.0 151.5 47.9 80.2 0.0 70.6 27.5 43.1 0.0 151.5 0.0 84.1 0.0 151.5 0.0 57.8 0.0 151.5 0.0 69.4 172.5 67.3 105.3 281.3 109.7 171.6 146.9 57.3 89.6 Jul 71.6 103.2 -31.6 31.6 190.2 -31.6 40.0 63.1 0.0 0.0 0.0 Ags 33.9 119.0 -85.1 116.7 105.1 -85.1 -51.2 170.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 116.6 34.2 0.0 221.8 116.7 116.6 Okt 256.6 122.3 134.3 0.0 221.8 0.0 122.3 Nov 339 84.0 255.0 0.0 221.8 0.0 84.0 Des 216.3 100.9 115.4 0.0 221.8 0.0 100.9 34.2 8.2 26.0 134.3 32.2 102.1 255.0 61.2 193.8 115.4 27.7 87.7 Jumlah 2530.0 826.1 1703.8 0.0 730.2 95.9 1751.8 683.2 1068.6 Jumlah 2530.0 1201.6 1328.3 0.0 968.2 233.4 1445.0 346.8 1098.2 52 Lampiran 11. Lanjutan Analisis NA Catchment 11 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.85 235.78 Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 Apr 245.9 Mei 264 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 91.2 129.8 0.0 235.8 0.0 91.2 78.5 223.8 0.0 235.8 0.0 78.5 115.9 139.2 0.0 235.8 0.0 115.9 106.3 139.6 0.0 235.8 0.0 106.3 98.5 165.5 0.0 235.8 0.0 98.5 99.7 73.7 0.0 235.8 0.0 99.7 129.8 27.3 102.6 223.8 47.0 176.8 139.2 29.2 109.9 139.6 29.3 110.3 165.5 34.7 130.7 73.7 15.5 58.2 : : 0.61 162.06 Apr Mei Analisis NA Catchment 12 Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339 Des 216.3 109.6 -38.0 38.0 197.8 -38.0 33.6 76.0 0.0 0.0 0.0 126.5 -92.6 130.6 105.2 -92.6 -58.7 185.2 0.0 0.0 0.0 123.9 26.9 103.7 235.8 130.6 123.9 0.0 26.9 5.6 21.2 129.9 126.7 0.0 235.8 0.0 129.9 89.3 249.8 0.0 235.8 0.0 89.3 107.2 109.1 0.0 235.8 0.0 107.2 126.7 26.6 100.1 249.8 52.4 197.3 109.1 22.9 86.2 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Bulan Mar Jumlah 2530.0 1276.7 1253.2 0.0 1015.5 261.2 1383.8 290.6 1093.2 Jumlah Jan Feb 221.0 65.4 155.6 0.0 162.1 0.0 302.3 56.4 245.9 0.0 162.1 0.0 255.1 83.2 171.9 0.0 162.1 0.0 245.9 76.3 169.6 0.0 162.1 0.0 264 70.7 193.3 0.0 162.1 0.0 173.4 71.6 101.8 0.0 162.1 0.0 71.6 78.7 -7.1 7.1 155.0 -7.1 33.9 90.8 -56.9 63.9 98.1 -56.9 150.8 88.9 61.9 2.1 162.1 63.9 256.6 93.2 163.4 0.0 162.1 0.0 339 64.1 275.0 0.0 162.1 0.0 216.3 77.0 139.3 0.0 162.1 0.0 2530.0 916.2 1613.7 65.4 56.4 83.2 76.3 70.7 71.6 77.0 171.9 65.3 106.6 169.6 64.4 105.1 193.3 73.4 119.8 101.8 38.7 63.1 88.9 0.0 61.9 23.5 38.4 64.1 245.9 93.5 152.5 -23.0 113.7 0.0 0.0 0.0 93.2 155.6 59.1 96.5 64.5 14.1 0.0 0.0 0.0 163.4 62.1 101.3 275.0 104.5 170.5 139.3 52.9 86.4 788.3 127.9 1677.6 620.7 1040.1 0.0 53 Lampiran 12. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan hutan Analisis NA Luasan Hutan 100 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : Bulan Jun Jul 173.4 71.6 105.6 116.1 67.8 -44.5 0.0 44.5 398.0 353.54 0.0 -44.5 Jan 221.0 96.5 124.5 0.0 398.0 0.0 Feb 302.3 83.2 219.1 0.0 398.0 0.0 Mar 255.1 122.8 132.3 0.0 398.00 0.0 Apr 245.9 112.6 133.3 0.0 398.0 0.0 Mei 264.0 104.3 159.7 0.0 398.0 0.0 96.5 83.2 122.8 112.6 104.3 124.5 22.4 102.1 219.1 39.4 179.7 132.3 23.8 108.5 133.3 24.0 109.3 159.7 28.7 130.9 105.6 0.0 67.8 12.2 55.6 Analisis NA Luasan Hutan 90 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter 0.90 398.00 : : Ags 33.9 133.9 -100.0 144.5 253.52 -100.0 Sep 150.8 131.2 19.6 124.9 398.00 144.5 Okt 256.6 137.5 119.1 5.9 398.00 0.0 Nov 339.0 94.5 244.5 0.0 398.00 0.0 Des 216.3 113.6 102.7 0.0 398.00 0.0 27.1 88.9 0.0 0.0 0.0 -66.1 200.0 0.0 0.0 0.0 131.2 0.0 19.6 3.5 16.1 137.5 94.5 113.6 119.1 21.4 97.6 244.5 44.0 200.5 102.7 18.5 84.3 Ags Sep Okt Nov Des Jumlah 2530.0 1351.8 1178.1 0.0 1062.8 289.0 1322.6 238.1 1084.5 0.85 366.60 Bulan Jumlah Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Presipitasi (P) (mm) 221.0 302.3 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) 91.2 129.8 78.5 223.8 115.9 139.2 106.3 139.6 98.5 165.5 99.7 73.7 366.60 0.0 115.9 366.60 0.0 106.3 366.60 0.0 98.5 129.9 126.7 0.0 366.60 0.0 129.9 89.3 249.8 0.0 366.60 0.0 89.3 366.60 0.0 107.2 129.8 29.5 100.4 223.8 50.8 173.0 139.2 31.6 107.6 139.6 31.7 107.9 165.5 37.6 127.9 366.60 0.0 99.7 0.0 73.7 16.7 57.0 123.9 26.9 103.7 366.60 130.6 123.9 0.0 26.9 6.1 20.8 1276.7 1253.2 366.60 0.0 78.5 126.5 -92.6 130.6 236.00 -92.6 -58.7 185.2 0.0 0.0 0.0 107.2 109.1 366.60 0.0 91.2 109.6 -38.0 38.0 328.58 -38.0 33.6 76.0 0.0 0.0 0.0 126.7 28.8 97.9 249.8 56.7 193.1 109.1 24.8 84.3 0.0 1015.5 261.2 1383.8 314.1 1069.7 54 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 80 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 70 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.80 335.2 mm Jan 221.0 85.8 135.2 Feb 302.3 73.9 228.4 Mar 255.1 109.1 146.0 Apr 245.9 100.1 145.8 Mei 264.0 92.8 171.2 335.20 0.0 85.8 335.20 0.0 73.9 335.20 0.0 109.1 335.20 0.0 100.1 335.20 0.0 92.8 135.2 37.0 98.1 228.4 62.6 165.8 146.0 40.0 106.0 145.8 40.0 105.9 171.2 46.9 124.3 : : 0.75 303.8 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 93.8 103.2 79.6 -31.6 31.6 335.20 303.63 0.0 -31.6 93.8 40.0 63.1 79.6 0.0 21.8 0.0 57.8 0.0 Ags 33.9 119.0 -85.1 116.7 218.49 -85.1 -51.2 170.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 116.6 34.2 82.5 335.20 116.7 116.6 Okt 256.6 122.3 134.3 Nov 339.0 84.0 255.0 Des 216.3 100.9 115.4 335.20 0.0 122.3 335.20 0.0 84.0 335.20 0.0 100.9 34.2 9.4 24.8 134.3 36.8 97.5 255.0 69.9 185.1 115.4 31.6 83.8 Ags 33.9 111.6 -77.7 102.8 200.98 -77.7 -43.8 155.4 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 109.4 41.5 61.4 303.80 102.8 109.4 0.0 41.5 13.3 28.1 Okt 256.6 114.6 142.0 Nov 339.0 78.8 260.3 Des 216.3 94.6 121.7 303.80 0.0 114.6 303.80 0.0 78.8 303.80 0.0 94.6 142.0 45.6 96.4 260.3 83.5 176.7 121.7 39.1 82.6 Jumlah 2530.0 1201.6 1328.3 0.0 968.2 233.4 1445.0 395.9 1049.1 mm Bulan Jan 221.0 80.4 140.6 Feb 302.3 69.3 233.0 Mar 255.1 102.3 152.8 Apr 245.9 93.8 152.1 Mei 264.0 87.0 177.0 Jun 173.4 88.0 85.4 303.80 0.0 80.4 303.80 0.0 69.3 303.80 0.0 102.3 303.80 0.0 93.8 303.80 0.0 87.0 140.6 45.1 95.4 233.0 74.8 158.2 152.8 49.0 103.8 152.1 48.8 103.3 177.0 56.8 120.2 303.80 0.0 88.0 0.0 85.4 27.4 58.0 Jul 71.6 96.7 -25.1 25.1 278.68 -25.1 46.5 50.2 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 1126.5 1403.4 0.0 920.8 205.6 1506.3 483.5 1022.7 55 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 60 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 50 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.70 272.4 mm Bulan Jun Jul 173.4 71.6 82.1 90.3 91.3 -18.7 18.7 Jan 221.0 75.1 145.9 Feb 302.3 64.7 237.6 Mar 255.1 95.5 159.6 Apr 245.9 87.6 158.3 Mei 264.0 81.2 182.8 272.40 272.40 272.40 272.40 272.40 272.40 0.0 75.1 0.0 64.7 0.0 95.5 0.0 87.6 0.0 81.2 0.0 82.1 0.0 145.9 53.7 92.2 237.6 87.4 150.2 159.6 58.7 100.9 158.3 58.3 100.1 182.8 67.3 115.6 91.3 33.6 57.7 : : 0.65 241.0 Jumlah Ags 33.9 104.2 -70.3 88.9 Sep 150.8 102.1 48.7 40.2 Okt 256.6 107.0 149.6 Nov 339.0 73.5 265.5 Des 216.3 88.3 128.0 253.73 183.47 272.40 272.40 272.40 272.40 -18.7 52.9 37.3 -70.3 -36.4 140.5 88.9 102.1 0.0 0.0 107.0 0.0 73.5 0.0 88.3 0.0 873.5 177.9 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 48.7 17.9 30.8 149.6 55.1 94.6 265.5 97.7 167.8 128.0 47.1 80.9 1567.5 576.8 990.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 76.2 83.8 97.2 -12.2 12.2 241.00 228.78 0.0 -12.2 76.2 59.4 0.0 24.4 97.2 0.0 40.3 0.0 56.8 0.0 Ags 33.9 96.7 -62.8 75.0 165.96 -62.8 -28.9 125.6 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 94.8 56.0 19.0 241.00 75.0 94.8 0.0 56.0 23.3 32.8 Okt 256.6 99.3 157.3 Nov 339.0 68.3 270.8 Des 216.3 82.0 134.3 241.00 0.0 99.3 241.00 0.0 68.3 241.00 0.0 82.0 157.3 65.3 92.0 270.8 112.4 158.4 134.3 55.7 78.6 2530.0 1051.4 1478.5 mm Jan 221.0 69.7 151.3 Feb 302.3 60.1 242.2 Mar 255.1 88.7 166.4 Apr 245.9 81.3 164.6 Mei 264.0 75.4 188.6 241.00 0.0 69.7 241.00 0.0 60.1 241.00 0.0 88.7 241.00 0.0 81.3 241.00 0.0 75.4 151.3 62.8 88.5 242.2 100.5 141.7 166.4 69.1 97.4 164.6 68.3 96.3 188.6 78.3 110.4 Jumlah 2530.0 976.3 1553.6 0.0 826.2 150.1 1628.7 675.9 952.8 56 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 40 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 30 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.60 209.6 mm Jan 221.0 64.4 156.6 Feb 302.3 55.4 246.9 Mar 255.1 81.8 173.3 Apr 245.9 75.1 170.8 Mei 264.0 69.6 194.4 209.60 0.0 64.4 209.60 0.0 55.4 209.60 0.0 81.8 209.60 0.0 75.1 209.60 0.0 69.6 156.6 72.4 84.3 246.9 114.0 132.8 173.3 80.0 93.2 170.8 78.9 91.9 194.4 89.8 104.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 70.4 77.4 103.0 -5.8 5.8 209.60 203.82 0.0 -5.8 70.4 65.8 0.0 11.6 103.0 0.0 47.6 0.0 55.4 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 64.5 70.9 108.9 0.7 : : 0.55 178.2 Ags 33.9 89.3 -55.4 61.2 148.44 -55.4 -21.5 110.8 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 87.5 63.3 Okt 256.6 91.7 164.9 Nov 339.0 63.0 276.0 Des 216.3 75.7 140.6 209.60 61.2 87.5 0.0 63.3 29.3 34.1 209.60 0.0 91.7 209.60 0.0 63.0 209.60 0.0 75.7 164.9 76.2 88.7 276.0 127.5 148.5 140.6 65.0 75.6 Sep 150.8 80.2 70.6 Okt 256.6 84.1 172.5 Nov 339.0 57.8 281.3 Des 216.3 69.4 146.9 178.20 47.9 80.2 0.0 70.6 35.9 34.7 178.20 0.0 84.1 178.20 0.0 57.8 178.20 0.0 69.4 172.5 87.8 84.7 281.3 143.2 138.1 146.9 74.8 72.1 Jumlah 2530.0 901.2 1628.7 0.0 778.9 122.3 1689.9 780.7 909.2 mm Jan 221.0 59.0 162.0 Feb 302.3 50.8 251.5 Mar 255.1 75.0 180.1 Apr 245.9 68.8 177.1 Mei 264.0 63.8 200.2 178.20 0.0 59.0 178.20 0.0 50.8 178.20 0.0 75.0 178.20 0.0 68.8 178.20 0.0 63.8 162.0 82.5 79.5 251.5 128.0 123.5 180.1 91.7 88.4 177.1 90.1 87.0 200.2 101.9 98.3 178.20 0.0 64.5 0.0 108.9 55.4 53.5 178.20 0.0 70.9 0.0 0.7 0.3 0.3 Ags 33.9 81.8 -47.9 47.9 130.26 -47.9 -14.0 95.9 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 826.1 1703.8 0.0 730.2 95.9 1751.8 891.6 860.1 57 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 20 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Hutan 10 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.50 146.8 mm Bulan Jun Jul 173.4 71.6 58.7 64.5 114.8 7.1 Jan 221.0 53.6 167.4 Feb 302.3 46.2 256.1 Mar 255.1 68.2 186.9 Apr 245.9 62.6 183.4 Mei 264.0 58.0 206.0 146.80 0.0 53.6 146.80 0.0 46.2 146.80 0.0 68.2 146.80 0.0 62.6 146.80 0.0 58.0 146.80 0.0 58.7 167.4 93.1 74.3 256.1 142.4 113.7 186.9 103.9 83.0 183.4 101.9 81.4 206.0 114.6 91.5 114.8 63.8 50.9 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 52.8 58.0 120.6 13.6 : : 0.45 115.4 146.80 0.0 64.5 0.0 7.1 4.0 3.2 Ags 33.9 74.4 -40.5 40.5 106.30 -40.5 -6.6 81.0 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 72.9 77.9 Okt 256.6 76.4 180.2 Nov 339.0 52.5 286.5 Des 216.3 63.1 153.2 146.80 40.5 72.9 0.0 77.9 43.3 34.6 146.80 0.0 76.4 146.80 0.0 52.5 146.80 0.0 63.1 180.2 100.2 80.0 286.5 159.3 127.2 153.2 85.2 68.0 Sep 150.8 65.6 85.2 Okt 256.6 68.8 187.8 Nov 339.0 47.3 291.8 Des 216.3 56.8 159.5 115.40 33.1 65.6 0.0 85.2 51.4 33.8 115.40 0.0 68.8 115.40 0.0 47.3 115.40 0.0 56.8 187.8 113.3 74.6 291.8 175.9 115.8 159.5 96.2 63.3 Jumlah 2530.0 751.0 1778.9 0.0 670.0 81.0 1819.4 1011.6 807.8 mm Jan 221.0 48.3 172.7 Feb 302.3 41.6 260.7 Mar 255.1 61.4 193.7 Apr 245.9 56.3 189.6 Mei 264.0 52.2 211.8 115.40 0.0 48.3 115.40 0.0 41.6 115.40 0.0 61.4 115.40 0.0 56.3 115.40 0.0 52.2 115.40 0.0 52.8 172.7 104.2 68.6 260.7 157.2 103.5 193.7 116.8 76.9 189.6 114.3 75.3 211.8 127.7 84.1 120.6 72.7 47.9 115.40 0.0 58.0 0.0 13.6 8.2 5.4 Ags 33.9 67.0 -33.1 33.1 82.34 -33.1 0.8 66.1 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 675.9 1854.0 0.0 609.8 66.1 1887.1 1137.9 749.2 58 Lampiran 12. Lanjutan Analisis NA Luasan Hutan 0 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) : : 0.40 84.0 mm Jan 221.0 Feb 302.3 Mar 255.1 Apr 245.9 Mei 264.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 Ags 33.9 Sep 150.8 Okt 256.6 Nov 339.0 Des 216.3 42.9 178.1 37.0 265.3 54.6 200.5 50.0 195.9 46.4 217.6 46.9 126.5 51.6 20.0 59.5 -25.6 58.3 92.5 61.1 195.5 42.0 297.0 50.5 165.8 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 84.00 25.6 58.38 84.00 84.00 84.00 84.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -25.6 25.6 0.0 0.0 0.0 0.0 42.9 37.0 54.6 50.0 46.4 46.9 51.6 8.3 58.3 61.1 42.0 50.5 549.5 0.0 51.2 0.0 20.0 13.0 7.0 0.0 0.0 0.0 92.5 60.1 32.4 Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) 178.1 115.8 62.3 265.3 172.5 92.9 200.5 130.4 70.2 195.9 127.3 68.6 217.6 141.5 76.2 126.5 82.2 44.3 Jumlah 2530.0 600.8 1929.1 51.2 195.5 127.1 68.4 297.0 193.1 104.0 165.8 107.8 58.0 1954.7 1270.6 684.2 59 Lampiran 13. Perhitungan neraca air pada berbagai luasan lahan terbangun Analisis NA Luasan Bangunan 100 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 90 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.00 0.00 Ags 33.9 0.0 33.9 -105.5 0.00 0.0 0.0 0.0 33.9 23.7 10.2 Sep 150.8 0.0 150.8 -256.3 0.00 0.0 0.0 0.0 150.8 105.6 45.2 Okt 256.6 0.0 256.6 -512.9 0.00 0.0 0.0 Nov 339.0 0.0 339.0 0.0 0.00 0.0 0.0 Des 216.3 0.0 216.3 0.0 0.00 0.0 0.0 264.0 184.8 79.2 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 0.0 0.0 173.4 71.6 0.0 -71.6 0.00 0.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 173.4 71.6 121.4 50.1 52.0 21.5 256.6 179.6 77.0 339.0 237.3 101.7 216.3 151.4 64.9 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 10.6 11.6 162.8 60.0 Ags 33.9 13.4 20.5 Sep 150.8 13.1 137.7 Okt 256.6 13.8 242.8 Nov 339.0 9.5 329.6 Des 216.3 11.4 204.9 25.00 0.0 13.4 0.0 20.5 13.6 6.9 25.00 0.0 13.1 0.0 137.7 91.6 46.1 25.00 0.0 13.8 25.00 0.0 9.5 25.00 0.0 11.4 242.8 161.5 81.4 329.6 219.2 110.4 204.9 136.3 68.7 Jan 221.0 0.0 221.0 0.0 0.00 0.0 0.0 Feb 302.3 0.0 302.3 0.0 0.00 0.0 0.0 Mar 255.1 0.0 255.1 0.0 0.00 0.0 0.0 Apr 245.9 0.0 245.9 0.0 0.00 0.0 0.0 Mei 264.0 0.0 264.0 0.0 0.00 0.0 0.0 221.0 154.7 66.3 302.3 211.6 90.7 255.1 178.6 76.5 245.9 172.1 73.8 : : Jumlah 2530.0 0.0 2529.9 0.0 0.0 0.0 2529.9 1770.9 759.0 0.09 25.00 Jan 221.0 9.7 211.3 Feb 302.3 8.3 294.0 Mar 255.1 12.3 242.8 Apr 245.9 11.3 234.6 Mei 264.0 10.4 253.6 25.00 0.0 9.7 25.00 0.0 8.3 25.00 0.0 12.3 25.00 0.0 11.3 25.00 0.0 10.4 211.3 140.5 70.8 294.0 195.5 98.5 242.8 161.5 81.3 234.6 156.0 78.6 253.6 168.6 84.9 25.00 0.0 10.6 0.0 162.8 108.3 54.6 25.00 0.0 11.6 0.0 60.0 39.9 20.1 Jumlah 2530.0 135.2 2394.7 0.0 135.2 0.0 2394.7 1592.5 802.2 60 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan80 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 70 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.18 50.0 mm Jan 221.0 19.3 201.7 Feb 302.3 16.6 285.7 Mar 255.1 24.6 230.5 Apr 245.9 22.5 223.4 Mei 264.0 20.9 243.1 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 21.1 23.2 152.3 48.4 50.00 0.0 19.3 50.00 0.0 16.6 50.00 0.0 24.6 50.00 0.0 22.5 50.00 0.0 20.9 50.00 0.0 21.1 201.7 127.1 74.6 285.7 180.0 105.7 230.5 145.2 85.3 223.4 140.7 82.7 243.1 153.2 90.0 152.3 95.9 56.3 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 31.7 34.8 141.7 36.8 : : 0.27 75.0 50.00 0.0 23.2 0.0 48.4 30.5 17.9 Ags 33.9 26.8 7.1 Sep 150.8 26.2 124.6 Okt 256.6 27.5 229.1 Nov 339.0 18.9 320.1 Des 216.3 22.7 193.6 50.00 0.0 26.8 0.0 7.1 4.5 2.6 50.00 0.0 26.2 50.00 0.0 27.5 50.00 0.0 18.9 50.00 0.0 22.7 124.6 78.5 46.1 229.1 144.3 84.8 320.1 201.7 118.4 193.6 122.0 71.6 Ags 33.9 40.2 -6.3 6.3 68.72 -6.3 27.6 12.6 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 39.4 111.4 -105.2 75.00 6.3 39.4 0.0 111.4 66.3 45.1 Okt 256.6 41.3 215.3 Nov 339.0 28.4 310.7 Des 216.3 34.1 182.2 75.00 0.0 41.3 75.00 0.0 28.4 75.00 0.0 34.1 215.3 128.1 87.2 310.7 184.8 125.8 182.2 108.4 73.8 Jumlah 2530.0 270.4 2259.5 0.0 270.4 0.0 2259.5 1423.5 836.0 mm Jan 221.0 29.0 192.0 Feb 302.3 24.9 277.4 Mar 255.1 36.8 218.3 Apr 245.9 33.8 212.1 Mei 264.0 31.3 232.7 75.00 0.0 29.0 75.00 0.0 24.9 75.00 0.0 36.8 75.00 0.0 33.8 75.00 0.0 31.3 192.0 114.3 77.8 277.4 165.0 112.3 218.3 129.9 88.4 212.1 126.2 85.9 232.7 138.5 94.2 75.00 0.0 31.7 0.0 141.7 84.3 57.4 75.00 0.0 34.8 0.0 36.8 21.9 14.9 Jumlah 2530.0 405.5 2124.4 0.0 393.0 12.6 2130.6 1267.7 862.9 61 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 60 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 50 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.36 100.0 mm Jan 221.0 38.6 182.4 Feb 302.3 33.3 269.0 Mar 255.1 49.1 206.0 Apr 245.9 45.0 200.9 Mei 264.0 41.7 222.3 100.00 0.0 38.6 100.00 0.0 33.3 100.00 0.0 49.1 100.00 0.0 45.0 100.00 0.0 41.7 182.4 102.1 80.3 269.0 150.7 118.4 206.0 115.4 90.6 200.9 112.5 88.4 222.3 124.5 97.8 : : 0.45 125.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 42.2 46.4 131.2 25.2 100.00 0.0 42.2 0.0 131.2 73.5 57.7 100.00 0.0 46.4 0.0 25.2 14.1 11.1 Ags 33.9 53.6 -19.7 19.7 80.33 -19.7 14.2 39.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 52.5 98.3 Okt 256.6 55.0 201.6 Nov 339.0 37.8 301.2 Des 216.3 45.4 170.9 100.00 19.7 52.5 0.0 98.3 55.1 43.3 100.00 0.0 55.0 100.00 0.0 37.8 100.00 0.0 45.4 201.6 112.9 88.7 301.2 168.7 132.5 170.9 95.7 75.2 Sep 150.8 65.6 85.2 Okt 256.6 68.8 187.8 Nov 339.0 47.3 291.8 Des 216.3 56.8 159.5 125.00 33.1 65.6 0.0 85.2 44.7 40.5 125.00 0.0 68.8 125.00 0.0 47.3 125.00 0.0 56.8 187.8 98.6 89.2 291.8 153.2 138.6 159.5 83.7 75.8 Jumlah 2530.0 540.7 1989.2 0.0 501.4 39.3 2008.9 1125.0 883.9 mm Jan 221.0 48.3 172.7 Feb 302.3 41.6 260.7 Mar 255.1 61.4 193.7 Apr 245.9 56.3 189.6 Mei 264.0 52.2 211.8 125.00 0.0 48.3 125.00 0.0 41.6 125.00 0.0 61.4 125.00 0.0 56.3 125.00 0.0 52.2 172.7 90.7 82.0 260.7 136.9 123.8 193.7 101.7 92.0 189.6 99.5 90.1 211.8 111.2 100.6 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 52.8 58.0 120.6 13.6 125.00 0.0 52.8 0.0 120.6 63.3 57.3 125.00 0.0 58.0 0.0 13.6 7.1 6.4 Ags 33.9 67.0 -33.1 33.1 91.94 -33.1 0.8 66.1 0.0 0.0 0.0 Jumlah 2530.0 675.9 1854.0 0.0 609.8 66.1 1887.1 990.7 896.4 62 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 40 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 30 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.54 150.0 mm Jan 221.0 57.9 163.1 Feb 302.3 49.9 252.4 Mar 255.1 73.7 181.4 Apr 245.9 67.6 178.3 Mei 264.0 62.6 201.4 150.00 0.0 57.9 150.00 0.0 49.9 150.00 0.0 73.7 150.00 0.0 67.6 150.00 0.0 62.6 163.1 79.9 83.2 252.4 123.7 128.7 181.4 88.9 92.5 178.3 87.4 91.0 201.4 98.7 102.7 : : 0.63 175.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 63.3 69.6 110.1 2.0 150.00 0.0 69.6 0.0 2.0 1.0 1.0 Ags 33.9 80.4 -46.5 46.5 103.55 -46.5 -12.6 92.9 0.0 0.0 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 73.9 81.2 99.5 -9.6 9.6 175.00 165.36 0.0 -9.6 73.9 62.0 0.0 19.3 99.5 0.0 45.3 0.0 54.2 0.0 Ags 33.9 93.7 -59.8 69.5 105.51 -59.8 -25.9 119.7 0.0 0.0 0.0 150.00 0.0 63.3 0.0 110.1 53.9 56.1 Sep 150.8 78.7 72.1 Okt 256.6 82.5 174.1 Nov 339.0 56.7 282.3 Des 216.3 68.1 148.2 150.00 46.5 78.7 0.0 72.1 35.3 36.8 150.00 0.0 82.5 150.00 0.0 56.7 150.00 0.0 68.1 174.1 85.3 88.8 282.3 138.3 144.0 148.2 72.6 75.6 Sep 150.8 91.9 58.9 Okt 256.6 96.3 160.3 Nov 339.0 66.2 272.9 Des 216.3 79.5 136.8 175.00 69.5 91.9 0.0 58.9 26.8 32.1 175.00 0.0 96.3 175.00 0.0 66.2 175.00 0.0 79.5 160.3 72.9 87.4 272.9 124.1 148.7 136.8 62.2 74.6 Jumlah 2530.0 811.1 1718.8 0.0 718.2 92.9 1765.3 865.0 900.3 mm Jan 221.0 67.6 153.4 Feb 302.3 58.2 244.1 Mar 255.1 85.9 169.2 Apr 245.9 78.8 167.1 Mei 264.0 73.0 191.0 175.00 0.0 67.6 175.00 0.0 58.2 175.00 0.0 85.9 175.00 0.0 78.8 175.00 0.0 73.0 153.4 69.8 83.6 244.1 111.1 133.0 169.2 77.0 92.2 167.1 76.0 91.1 191.0 86.9 104.1 Jumlah 2530.0 946.2 1583.7 0.0 807.3 139.0 1653.2 752.2 901.0 63 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 20 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) Analisis NA Luasan Bangunan 10 % Nilai Kc Kapasitas cadangan lengas tanah Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Limpasan (mm) Pengisian airtanah (mm) : : 0.72 200.0 mm Jan 221.0 77.2 143.8 Feb 302.3 66.5 235.8 Mar 255.1 98.2 156.9 Apr 245.9 90.1 155.8 Mei 264.0 83.5 180.5 200.00 0.0 77.2 200.00 0.0 66.5 200.00 0.0 98.2 200.00 0.0 90.1 200.00 0.0 83.5 143.8 60.4 83.4 235.8 99.0 136.7 156.9 65.9 91.0 155.8 65.4 90.4 180.5 75.8 104.7 : : 0.81 225.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 84.5 92.9 88.9 -21.3 21.3 200.00 178.75 0.0 -21.3 84.5 50.3 42.5 88.9 0.0 37.4 0.0 51.6 0.0 Ags 33.9 107.1 -73.2 94.5 105.51 -73.2 -39.3 146.5 0.0 0.0 0.0 Bulan Jun Jul 173.4 71.6 95.0 104.5 78.4 -32.9 32.9 225.00 192.14 0.0 -32.9 95.0 38.7 65.7 78.4 0.0 30.2 0.0 48.2 0.0 Ags 33.9 120.5 -86.6 119.5 105.51 -86.6 -52.7 173.3 0.0 0.0 0.0 Sep 150.8 105.0 45.8 Okt 256.6 110.0 146.6 Nov 339.0 75.6 263.4 Des 216.3 90.8 125.5 200.00 94.5 105.0 0.0 45.8 19.2 26.6 200.00 0.0 110.0 200.00 0.0 75.6 200.00 0.0 90.8 146.6 61.6 85.0 263.4 110.6 152.8 125.5 52.7 72.8 Sep 150.8 118.1 32.7 Okt 256.6 123.8 132.8 Nov 339.0 85.1 254.0 Des 216.3 102.2 114.1 225.00 119.5 118.1 0.0 32.7 12.6 20.1 225.00 0.0 123.8 225.00 0.0 85.1 225.00 0.0 102.2 132.8 51.1 81.7 254.0 97.8 156.2 114.1 43.9 70.2 Jumlah 2530.0 1081.4 1448.5 0.0 892.4 189.0 1543.0 648.0 894.9 mm Jan 221.0 86.9 134.1 Feb 302.3 74.8 227.5 Mar 255.1 110.5 144.6 Apr 245.9 101.3 144.6 Mei 264.0 93.9 170.1 225.00 0.0 86.9 225.00 0.0 74.8 225.00 0.0 110.5 225.00 0.0 101.3 225.00 0.0 93.9 134.1 51.6 82.5 227.5 87.6 139.9 144.6 55.7 88.9 144.6 55.7 88.9 170.1 65.5 104.6 Jumlah 2530.0 1216.6 1313.3 0.0 977.6 239.0 1432.8 551.6 881.2 64 Lampiran 13. Lanjutan Analisis NA Luasan Bangunan 0 % Nilai Kc : 0.90 Kapasitas cadangan lengas tanah : 250.0 mm Bulan Parameter Presipitasi (P) (mm) Evapotranspirasi Potensial (ETP) (mm) P – ETP (mm) Jan Feb 221.0 302.3 96.5 124.5 Mar Mei Jun 255.1 245.9 264.0 173.4 71.6 83.2 122.8 112.6 104.3 105.6 219.1 132.3 133.3 159.7 67.8 Akumulasi kehilangan air potensial ( - ) Cadangan lengas tanah (mm) Perubahan cadangan lengas tanah ( + / - ) Evapotranspirasi actual (mm) Jul Ags Sep Okt Nov Des 33.9 150.8 256.6 339.0 216.3 2530.0 116.1 133.9 131.2 137.5 94.5 113.6 1351.8 -44.5 -100.0 19.6 119.1 244.5 102.7 1178.1 44.5 144.5 250.00 250.00 250.00 250.00 250.00 250.00 205.54 105.52 250.00 250.00 250.00 250.00 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -44.5 -100.0 144.5 0.0 0.0 0.0 0.0 96.5 83.2 122.8 112.6 104.3 105.6 27.1 -66.1 131.2 137.5 94.5 113.6 1062.8 88.9 200.0 0.0 Defisit cadangan air (mm) Surplus cadangan air (mm) Jumlah Apr 289.0 124.5 219.1 132.3 133.3 159.7 67.8 0.0 0.0 19.6 119.1 244.5 102.7 1322.6 Limpasan (mm) 43.6 76.7 46.3 46.7 55.9 23.7 0.0 0.0 6.9 41.7 85.6 36.0 462.9 Pengisian airtanah (mm) 80.9 142.4 86.0 86.7 103.8 44.1 0.0 0.0 12.7 77.4 158.9 66.8 859.7 65 Lampiran 14. Perhitungan perkiraan laju erosi pada DTA 6 1. Menghitung faktor erosivitas hujan (R) yaitu EI30 tahunan yang besarnya dapat dihitung: EI30 = 2.34 R(1.98) (R adalah curah hujan tahunan) EI30 = 2.34 (253.0)1.98 = 134089.41 R = = 1340.89 Maka faktor curah hujan dan aliran permukaan (R) adalah sebesar 1340.89. 2. Menentukan nilai faktor erodibilitas tanah (K) Nilai faktor K beberapa tanah di Indonesia Jenis tanah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bahan induk Nilai K Kisaran 0.02-0.04 0.08-0.09 0.11 – 0.16 0.24 – 0.30 0.09 – 0.11 0.09 – 0.11 0.16 – 0.29 0.18 – 0.25 - Latosol Darmaga Tufa volkan Latosol Citayam Tufa volkan Regosol Tanjungharjo Batu liat berkapur Grumusol Jegu. Blitar Napal Podsolik jonggol Batu liat Mediteran Citayam Tufa volkan Mediteran Putat Breksi berkapur Mediteran Punung Breksi berkapur Podsolik Merah Kuning Dasitik Pekalongan. Lampung Tengah Sumber: Kurnia Undang dan Suwardjo, 1984 dalam Arsyad (2010) Jenis tanah yang digunakan adalah latosol dramaga sehingga nilai K sebesar 0.03 Rata-rata 0.03 0.09 0.14 0.27 0.16 0.10 0.23 0.22 0.32 3. Menentukan faktor panjang lereng L = (X/22)m Yang menyatakan X adalah panjang lereng (dalam meter) dan m adalah konstanta yang besarnya sama dengan: 0.5 untuk lereng yang kecuramannya > 5% 0.4 untuk lereng yang kecuramannya 3.5 – 4.5 % 0.3 untuk lereng yang kecuramannya 1 – 3% 0.2 untuk lereng yang kecuramannya < 1% Berdasarkan Tabel 12 panjang lereng dan kemiringan lahan pada DTA 4 berturut-turut sebesar 351.75 m dan 10 % sehingga besarnya L adalah L = (351.75/22)0.5 = 3.998 =4 4. Menentukan kemiringan lahan (LS) yaitu sebesar ((0.43+(0.33x10)+(0.043x10^2))/6.613=1.214 5. Menentukan faktor vegetasi penutup dan pengelolaan tanaman berdasarkan tabel hasil penelitian faktor C yang dilakukan oleh pusat penelitian tanah. 66 Lampiran 14. Lanjutan Faktor C untuk berbagai jenis tanaman Macam penggunaan Tanah terbuka/tanpa tanaman Sawah Tegalan tidak dispesifikasi Kebun campuran: - kerapatan tinggi - Kerapatan sedang - Kerapatan rendah Perladangan Hutan alam : - Serasah banyak - Serasah kurang - Semak belukar/padang rumput Sumber: Arsyad, 2010 Nilai faktor 1.0 0.01 0.7 0.1 0.2 0.5 0.4 0.001 0.005 0.3 Berdasarkan keadaan di lapangan maka ditentukan faktor C untuk tanah terbuka/tanpa tanaman yaitu sebesar 1. 6. Menentukan nilai faktor tindakan – tindakan khusus konservasi tanah (P) Nilai faktor P untuk berbagai tindakan konservasi tanah khusus Tindakan khusus konservasi tanah Nilai P Teras bangku - Konstruksi baik 0.04 - Konstruksi sedang 0.15 - Konstruksi kurang baik 0.35 - Teras tradisional 0.40 Strip tanaman rumput Bahia 0.04 Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontur: - Kemiringan 0 – 8% 0.50 - Kemiringan 9 – 20% 0.75 - Kemiringan > 20% 0.90 Tanpa tindakan konservasi 1.00 Sumber: Arsyad, 2010 Berdasarkan keadaan di lapangan maka ditentukan faktor P untuk teras bangku konstruksi kurang baik yaitu sebesar 0.35. Setelah didapatkan faktor – faktor laju erosi. maka dapat dihitung laju erosi A = R.K.L.S.C.P = 1340.89 x 0.03 x 4 x 1.214 x 1 x 0.35 = 56.317 ton/ha/tahun 67
Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor Daerah Aliran Sungai TINJAUAN PUSTAKA Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi Umum Kampus IPB Dramaga Konservasi Air Tanah dan Perencanaan Tata Guna Lahan Konservasi Tanah dan Air Limpasan Kapasitas Simpan Air Lokasi dan Waktu Alat dan Bahan Metode Penelitian Neraca Air Presipitasi Evapotranspirasi Penentuan Status Daya Dukung Lingkungan Penetapan Status Daya Dukung Lingkungan Presipitasi, Evapotranspirasi dan Kapasitas Simpan Air Simpanan Air Kapasitas Simpan Air Zona Agroklimat Daya Dukung Lingkungan Zona Agroklimat Potensi Suplai Air
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Analisis Kapasitas Simpan Air di Wilayah Kampus IPB Dramaga, Bogor

Gratis