ANALISIS RISIKO USAHATANI KEDELAI DI KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Gratis

5
18
93
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT Risk Analysis of Soybean Farming In Raman Utara Subdistrict of East Lampung District By Tri Naftaliasari This research aims to assess (1) the profit of soybean farming (2) the amount of risk faced by the soybean farmer (3) the correlation between risk and profit accepted by the farmers (4) the sources of risk on soybean farming, and (5) the farmer’s effort in handling risk impact on soybean farming. The data was collected in Rejo Binangun village Raman Utara Subdistrict of East Lampung District in June 2014. This research was conducted by a cencus method, involving 34 farmers. The first aim was analyzed by profit analysis and the second by risk analysis using standard deviation and coefficient variances. The third aim was analyzed by product moment Pearson correlation, whereas the fourth and fifth by descriptive analysis. The result of this research showed that (1) soybean farming on planting season (MT) 1 until MT 5 had advantages over total cost (R/C>1); (2) the results of the risk analysis showed that the value of CV<0.5 and of L>0, it meant that the soybean farming was still profitable in any level of risk; (3) there was negative correlation between the amount of risk and profit, it meant that higher risk gave lower profit; (4) the sources of risk toward soybean farming were weather and climate, pest and disease attack, land condition, and price; (5) the farmers made some efforts in addressing risk impact by improving crop pattern, controling pest and disease, liming the land and postponing the crop harvest sale. Keywords: farming, risk, soybean ABSTRAK ANALISIS RISIKO USAHATANI KEDELAI DI KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Oleh Tri Naftaliasari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) keuntungan usahatani kedelai, (2) besar risiko yang diterima oleh petani pada usahatani kedelai, (3) hubungan antara risiko dengan keuntungan yang diterima petani, (4) sumber-sumber risiko pada usahatani kedelai dan (5) upaya petani dalam menangani dampak risiko pada usahatani kedelai. Penelitian dilakukan di Desa Rejo Binangun Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur pada bulan Juni 2014. Responden dalam penelitian ini berjumlah 34 orang yang diambil menggunakan metode sensus. Tujuan penelitian 1-3 dijawab dengan menggunakan analisis keuntungan, analisis risiko dengan menghitung simpangan baku (standar deviasi) dan koefisien variasi (CV), korelasi product moment pearson. Adapun tujuan ke empat dan ke lima dijawab dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keuntungan atas biaya total usahatani kedelai pada musim tanam (MT) 1 sampai dengan MT 5 memiliki nilai R/C bernilai lebih besar dari 1,00 yang berarti usahatani kedelai yang dilakukan petani secara ekonomi menguntungkan; (2) berdasarkan hasil analisis risiko, diperoleh nilai CV<0,5 dan L>0, artinya usahatani kedelai masih menguntungkan berapapun besarnya risiko dan petani kedelai di Desa Rejo Binangun terhindar dari kerugian; (3) terdapat hubungan negatif antara besarnya risiko dengan keuntungan, artinya semakin tinggi risiko maka keuntungan yang diterima petani kedelai semakin rendah; (4) sumber-sumber risiko pada usahatani kedelai yaitu cuaca/iklim, serangan hama dan penyakit, kondisi tanah dan harga; (5) upaya-upaya petani kedelai dalam menangani risiko adalah dengan melakukan perbaikan pola tanam, pengendalian hama dan penyakit, pengapuran lahan dan penundaan penjualan hasil panen. Kata Kunci: kedelai, risiko, usahatani RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Braja Indah, Lampung Timur, pada tanggal 25 Desember 1987 dari pasangan Bapak Hadi Surono dan Ibu Sarmi, yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Pertiwi Braja Indah tahun 1994, pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 2 Braja Indah, Braja Selebah, Lampung Timur tahun 2000, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur tahun 2003, pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur tahun 2006 dan pendidikan Diploma Tiga (D3) di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA) Jurusan Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Agribisnis tahun 2009. Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswi Alih Program di Universitas Lampung, Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mengikuti Pelatihan Penerapan dan Dokumentasi Sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) oleh M-BRIO Training Body tahun 2008 dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Koperasi Karyawan PT Bio Farma (K2BF) di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat tahun 2009. Penulis juga pernah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung pada tahun 2013. Persembahan Dengan segala kerendahan dan ketulusan hati, kupersembahkan karya ini kepada: Rabbi dan Panutanku Allah SWT Nabi Muhammad SAW Ridhai dan rahmati segala urusan hambamu ini.. Bapak dan Mamak Yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membalas semua yang telah bapak dan mamak berikan selama ini kepadaku, terima kasih atas segenap ketulusan cinta dan kasih sayangnya selama ini.. Doa, pendidikan,perjuangan dan pengorbanan untukku.. Terimakasih Mak..Pak.. Aku sayang Bapak dan Mamak sampai akhir hayatku.. Mamas-mamas dan Mbak-mbakku serta Budeku Nah Terima kasih atas nasihat, bimbingan, motivasi dan doa untukku.. Terakhir, untuk keponakan-keponakanku tersayang, yang selalu memberikan keceriaan dan menjadi pelipur lara disaat dukaku.. MOTO Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:155) ... “Bilakah datangnya pertolongan Allah? “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (Q.S Ar Rahman: 13) Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan ... (Diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya, Edensor) SANWACANA Assalamu`alaikum Wr.Wb Alhamdullilahirobbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan pencerahan, meluaskan ilmu dan pengetahuan, serta memberikan kemudahan dan kesehatan dalam menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam tak lupa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu memberikan teladan bagi kehidupan umatnya. Penulis menyadari dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Analisis Risiko Usahatani Kedelai di Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur,” tak lepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tulus dan penghargaan kepada: 1. Dr. Ir. Zainal Abidin, M.E.S., selaku Pembimbing pertama dan Ir. Umi Kalsum, M.S., selaku Pembimbing ke dua, yang telah banyak memberikan ilmu, bimbingan, motivasi, waktu, kesabaran dan semangat selama proses penyelesaian skripsi. 2. Dr. Ir. Dyah Aring Hepiana Lestari, M.Si., selaku Pembahas, yang telah memberikan ilmu, arahan, koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini. 3. Ir. Begem Viantimala, M.S., selaku Pembimbing Akademik, atas dukungan dan bimbingannya selama ini. 4. Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.S., selaku Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas arahan, bantuan dan nasihat yang telah diberikan. 5. Seluruh Dosen Program Studi Agribisnis dan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas semua ilmu yang telah diberikan dan seluruh karyawan Mba Iin, Mba Ayi, Mas Sukardi, Mas Bukhari, dan Mas Boim di Program Studi Agribisnis. 6. Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas arahan, bantuan dan nasihat yang telah diberikan. 7. Keluargaku tercinta, Ibunda Sarmi, Ayahanda Hadi Surono, kakak-kakakku Budi Susanto, Agung Supriyatin, mba Giyem, mba Darmi serta keponakankeponakan tersayang Tobi Pratama, Indah Dwi Winata, Sinta Oriza Sativa, yang menjadi semangat dan memberi motivasi serta do’a yang sangat luar biasa, serta seluruh kerabat penulis yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. 8. Keluarga besar Pak Munawir dan Pak Suja, terimakasih untuk dukungannya. 9. Teman-teman SMA dan POLINELA yang selalu memberi semangat dan dukungan yang luar biasa kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan. 10. Zakia Permata Sari, Niky Amriyono, Eka Pariyanti, Erlis Wijayanti, Agustina, Erni, Resty dan Wulandari atas bantuan, semangat dan doa yang telah diberikan. 11. Sahabat seperjuangan: Prajanti Anuka Dewi, Made Indra Murdani, dan seluruh rekan-rekan alih program Politeknik Negeri Lampung, terima kasih atas saran, bantuan dan semangatnya selama ini. We are the champion my friend.. and we’ll keep on fighting till the end. 12. Rekan-rekan AGB 2007: Aras Sarasiha, M.J Putri, Fitri Meysti, Angga, Danang, Yassin, Arum, Dini, Randy dan Adit, terima kasih untuk semuanya. 13. Rekan-rekan AGB 09: Mazdayani, Reny, Paramitha, Abdul, Meta, Anggun, Imas, Firuza, Willy, Citra, Dea, Febi dan segenap teman-teman Agribisnis, atas kerjasama, bantuan dan telah memberi semangat kepada penulis. 14. Adik tingkat 2010: Neno, Aii, Jenny, Novita, Marcel, Meitri, Asih, Ayas, mamat dan lain-lain, serta angkatan 2011: Juwita, Mariyana, Meri dkk. 15. Pak Mudite, Pak Dasuki dan seluruh anggota kelompok tani di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur, atas bantuan kepada penulis selama melakukan penelitian. 16. Almamater tercinta dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna. Dengan segala kekurangan yang ada, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama proses penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah diberikan dan senantiasa memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua. Aamiin. Bandar lampung, 24 Desember 2014. Tri Naftaliasari i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR ................................................................................ vi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................. 1 B. Tujuan Penelitian ......................................................................... 5 C. Kegunaan Penelitian .................................................................... 5 II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS ....................................................................................... 6 A. Tinjauan Pustaka .......................................................................... 6 1. Kedelai ................................................................................... a. Budidaya Kedelai ………. .................................................. b. Kebijakan Kedelai Nasional . .............................................. 2. Konsep Usahatani . ................................................................... 3. Konsep Keuntungan Usahatani ............................................... 4. Konsep Risiko ......................................................................... 5. Pengukuran Risiko .................................................................. 6. Sumber-sumber Risiko . ........................................................... 7. Penanganan Risiko . ................................................................. 8. Tinjauan Penelitian Terdahulu ................................................ 6 6 13 19 21 23 25 29 33 37 B. Kerangka Pemikiran .................................................................... 40 C. Hipotesis . ..................................................................................... 42 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar ............................................................................... 44 B. Definisi Operasional .................................................................... 46 C. Lokasi, Responden, dan Waktu Penelitian .................................. 47 D. Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data ................................. 48 ii E. Alat Analisis Data ........................................................................ 1. 2. Analisis Deskriptif ................................................................ a). Sumber-sumber risiko pada usahatani kedelai ............... b). Upaya Petani dalam Menangani Risiko Pada Usahatani Kedelai ........................................................................... Analisis Kuantitatif ............................................................... a). Analisis Keuntungan Usahatani Kedelai ........................ b). Analisis Risiko Usahatani ............................................... c). Hubungan Antara Risiko dengan Keuntungan Usahatani Kedelai ............................................................................ 49 49 49 50 51 51 53 57 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kecamatan Raman Utara .................................. 60 1. Keadaan Geografis .................................................................. 2. Keadaan Iklim ......................................................................... 3. Keadaan Demografi . ............................................................... 60 60 61 B. Keadaan Umum Desa Rejo Binangun ......................................... 62 1. 2. 3. 4. 5. Keadaan Geografis ................................................................. Keadaan Iklim ......................................................................... Keadaan Demografi ................................................................ Keadaan Umum Pertanian ...................................................... Sejarah dan Perkembangan Kedelai di Desa Rejo Binangun ........................................................................ 62 62 63 64 C. Sarana dan Prasarana Usahatani . ................................................. 69 66 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Petani ................................................................ 1. 2. 3. 4. 5. 6. 71 Umur Responden ..................................................................... Tingkat Pendidikan ................................................................. Pengalaman Berusahatani Kedelai .......................................... Jumlah Tanggungan Keluarga ................................................. Luas Lahan Garapan dan Status Kepemilikan Lahan ............. Pola Tanam .............................................................................. 71 72 73 74 75 76 B. Budidaya Kedelai di Desa Rejo Binangun Kecamatan Raman Utara ................................................................................ 77 1. Penggunaan Sarana Produksi .................................................. a). Penggunaan Benih dan Pupuk ........................................... b). Penggunaan Obat-obatan ................................................... c). Penggunaan Tenaga Kerja ................................................. d). Penggunaan Peralatan ....................................................... 80 80 83 85 87 iii 2. Analisis Keuntungan Usahatani Kedelai ................................ 88 C. Analisis Risiko Usahatani Kedelai ............................................... 1. Risiko Produksi ........................................................................ 2. Risiko Harga ........................................................................... 3. Risiko Keuntungan .................................................................. 92 98 99 102 D. Hubungan antara Risiko dengan Keuntungan Usahatani Kedelai ......................................................................................... 105 E. Sumber-sumber Risiko dan Upaya Petani dalam Menangani Risiko pada Usahatani Kedelai di Desa Rejo Binangun Kecamatan Raman Utara .............................................................. 107 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .................................................................................. 113 B. Saran ............................................................................................ 114 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 115 LAMPIRAN ............................................................................................. 119 iv DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Variabel dan definisi operasional usahatani kedelai ................................ 46 2. Luas wilayah, jumlah penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk per desa di Kecamatan Raman Utara Tahun 2012 ................................ 61 3. Jumlah penduduk dan rumah tangga penduduk Desa Rejo Binangun tahun 2012 ................................................................................................ 63 4. Distribusi penduduk berdasarkan kelompok usia di Desa Rejo Binangun tahun 2012 .............................................................................................. 64 5. Luas panen, produksi dan produktivitas tanaman padi dan palawija di Desa Rejo Binangun tahun 2012 ................................................................66 6. Sebaran petani responden berdasarkan kelompok umur ................................71 7. Sebaran petani responden berdasarkan tingkat pendidikan di Desa 72 Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara ............................................................ 8. Sebaran petani responden berdasarkan pengalaman usahatani kedelai di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara ................................ 74 9 Sebaran petani responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara ................................ 74 10. Sebaran petani berdasarkan luas lahan garapan dan status kepemilikan lahan di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara tahun 2014 ................................................................................................ 75 11. Rata-rata penggunaan benih dan pupuk dalam usahatani kedelai di Desa Rejo Binangun tahun 2013 ................................................................ 82 12. Rata-rata biaya penggunaan obat-obatan oleh petani responden per usahatani dan per hektar pada MT 5 tahun 2013 di daerah penelitian.............................................................................................. 83 v 13. Rata-rata penggunaan tenaga kerja usahatani kedelai per usahatani dan per hektar pada MT 5 tahun 2013 di Desa Rejo Binangun dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK) . ................................................................ 86 14. Rata-rata nilai penyusutan peralatan untuk usahatani kedelai di Desa Rejo Binangun ................................................................................................87 15. Nilai risiko produksi, harga dan keuntungan usahatani kedelai selama lima musim tanam terakhir di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara tahun 2014 ................................................................ 98 16. Sumber-sumber risiko dan upaya-upaya penanganan risiko oleh petani pada usahatani kedelai ................................................................ 108 vi DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Bagan alir kerangka pemikiran analisis risiko usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur .......................... 43 2. Penggunaan lahan pertanian di Desa Rejo Binangun tahun 2012 .......................... 65 3. Pola tanam usahatani kedelai pada lahan sawah di Desa Rejo Binangun 2013 ................................................................................................ 76 4. Grafik penerimaan, total biaya dan keuntungan atas biaya total per hektar yang diterima petani pada usahatani kedelai selama lima musim tanam terakhir .......................................................................... 90 5. Fluktuasi produksi kedelai per hektar selama lima musim tanam terakhir ......................................................................................................... 94 6. Fluktuasi harga yang diterima petani kedelai selama lima musim tanam terakhir ................................................................................. 95 7. Fluktuasi keuntungan yang diterima petani kedelai selama lima musim tanam terakhir ................................................................................... 96 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tanaman pangan merupakan komoditas penting dan strategis, karena pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Salah satu komoditas pangan yang penting di Indonesia adalah kedelai. Kedelai memiliki gizi yang tinggi karena mengandung protein nabati dan anti-oksidan. Kedelai dapat diolah menjadi berbagai macam bahan pangan seperti tahu, tempe, susu kedelai, kembang tahu, kecap, oncom, tauco, tauge, dan tepung kedelai, serta bahan pakan ternak. Kedelai merupakan satu dari lima komoditas utama di Indonesia dengan target swasembada tahun 2014. Kebijakan utama pengembangan kedelai nasional adalah (1) meningkatkan produksi kedelai menuju swasembada tahun 2014, (2) mengembangkan agribisnis kedelai dengan menumbuhkembangkan peran swasta, koperasi dan BUMN, (3) meningkatkan sumber permodalan usahatani yang mudah diakses petani, dan (4) mengembangkan sistem pemasaran hasil panen dan merevitalisasi tata niaga yang kondusif bagi petani (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Pada tahun 1980-an dan 2000-an, Lampung pernah menjadi lumbung kedelai nasional, akan tetapi hingga saat ini produktivitas dan produksi kedelai 2 cenderung menurun, menurunnya produksi diiringi dengan menurunnya luas panen kedelai. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2013), pada tahun 2000 luas panen kedelai Lampung mencapai 24.006 hektar dengan produksi 22.457 ton. Setelah itu, luas areal panen kedelai terus menurun menjadi 5.088 hektar dengan produksi 6.274 ton pada tahun 2013. Artinya terjadi penurunan luas panen sebesar 78,81 persen dan penurunan produksi sebesar 72,06 persen selama kurun waktu 13 tahun. Sementara peningkatan produktivitas kedelai berjalan lambat, dari sekitar 9,33 ku/hektar pada tahun 2000 menjadi sekitar 12,33 ku/hektar pada tahun 2013. Sedangkan, konsumsi kedelai cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Implikasinya adalah jika terjadi penurunan produksi kedelai lokal, sedangkan kebutuhan kedelai di Lampung mengalami kenaikan setiap tahunnya maka Lampung akan semakin bergantung pada kedelai impor. Menurut Pusat Data dan Informasi Pertanian (2013), total impor kedelai Lampung tahun 2012 adalah 110.657,096 ton dan total sementara impor tahun 2013 sebesar 90.643,007 ton. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung (2014), menyatakan bahwa pada tahun 2014 Lampung diperkirakan masih mengimpor kedelai untuk memenuhi kebutuhan. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung mencatat berdasarkan prognosa, total produksi kedelai lokal tahun 2014 hanya 20.000 ton sementara total konsumsi 99.005 ton. Oleh sebab itu, Lampung harus mengimpor kedelai sebanyak 80.005 ton (Lampost, 2014). Hingga saat ini, usaha untuk mengatasi defisit produksi kedelai nasional telah berkali-kali diprogramkan oleh Kementerian Pertanian. Hampir setiap Menteri 3 Pertanian membuat program swasembada kedelai, antara lain Program Pengapuran Tanah Masam untuk Kedelai (1983-1987), Perbenihan Kedelai (19861988), Gema Palagung (1994-1999), Kedelai Bangkit (2000-2005), Program Komoditas Unggulan Kedelai (2005-2009) dan Program Swasembada Kedelai 2014 (2010-2014). Harsono (2008) menyatakan bahwa usaha peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas lahan (intensifikasi) dan perluasan areal tanam (ekstensifikasi). Namun, perluasan areal tanam kedelai mengalami kendala karena tanahnya termasuk tanah ultisol yang bereaksi masam dan areal tanam yang bergantian dengan komoditas pangan lain. Selain itu, usahatani kedelai juga dihadapkan dengan risiko yang tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya, sehingga petani lebih banyak memilih jenis komoditas pangan lain untuk dibudidayakan. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2013), Lampung Timur merupakan salah satu kabupaten penghasil kedelai di Lampung. Produksi kedelai Lampung Timur pada 2012 mencapai 1.060 ton dengan produktivitas 11,50 ku/hektar yang menempati urutan kelima. Posisi pertama ditempati oleh Lampung Tengah sebesar 1.824 ton, kemudian diikuti oleh Lampung Selatan sebesar 1.734 ton. Selama ini pemerintah Kabupaten Lampung Timur telah berupaya memperluas areal kedelai, namun program peningkatan 1.000 hektar kedelai pada tahun 2012 belum tercapai. Padahal, Lampung Timur memiliki prospek yang baik dalam pengembangan kedelai, karena memiliki lahan pertanian yang cukup luas, yakni mencapai 247.580 hektar, namun produksi kedelai masih 4 fluktuatif. Hal ini mengindikasikan adanya masalah dan risiko dalam usahatani kedelai, sedangkan usahatani kedelai merupakan usahatani yang memerlukan biaya tinggi untuk pemeliharaannya. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, petani di Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur masih konstan menanam kedelai setiap tahunnya. Bagi petani, usahatani kedelai memiliki risiko yang tinggi sehingga menyebabkan produktivitas dan keuntungan usahatani rendah, bahkan beberapa kali gagal panen. Menurut Kadarsan (1995), risiko usahatani adalah terjadinya kemungkinan kerugian dalam suatu usahatani. Namun, sampai saat ini seberapa besar keuntungan dan risiko yang diterima petani kedelai belum diketahui. Dengan demikian, untuk mengembangkan usahatani kedelai perlu dikaji sumbersumber risiko dan seberapa besar risiko yang dihadapi oleh petani kedelai di Kecamatan Raman Utara, serta apakah dengan menurunnya produktivitas kedelai, usahatani kedelai masih menguntungkan atau tidak. Setelah sumber risiko dan besarnya risiko diketahui, kemudian hasilnya digunakan petani untuk menyusun upaya penanganan risiko pada usahatani kedelai. Maka risiko yang diterima petani kedelai dapat diatasi dan kerugian yang diterima dapat diminimalisir. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Apakah usahatani kedelai menguntungkan? (2) Seberapa besar risiko yang diterima oleh petani pada usahatani kedelai? (3) Bagaimana hubungan antara risiko dengan keuntungan yang diterima petani? (4) Sumber-sumber risiko apa saja yang dihadapi petani pada usahatani kedelai? (5) Bagaimana upaya petani dalam menangani dampak risiko yang terjadi? 5 B. Tujuan Penelitian Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui keuntungan usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur. (2) Mengetahui besarnya risiko yang diterima oleh petani pada usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur. (3) Mengetahui hubungan antara risiko dengan keuntungan petani pada usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur.. (4) Mengetahui sumber-sumber risiko pada usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur. (5) Mengetahui upaya petani dalam menangani dampak risiko pada usahatani kedelai di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur. C. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi: (1) Petani, sebagai masukan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menghadapi risiko pada usahatani kedelai yang dilakukan. (2) Dinas dan instansi terkait, sebagai bahan informasi untuk pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan masalah risiko pada usahatani kedelai. (3) Peneliti lain, sebagai bahan pembanding dan referensi untuk penelitian sejenis. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Kedelai a. Budidaya Kedelai Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia (Aksi Agraris Kanisius, 2005). Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai di dukung oleh komponen utamanya yaitu, akar, daun, batang, polong dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal (Rukmana dan Yuniarsih, 2003). a) Kesesuaian agroklimat, tanah dan iklim Di Indonesia kedelai ditanam pada lahan sawah (setelah panen padi) dan pada lahan kering (terutama pada lahan kering yang tidak masam). Di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera ada juga kedelai ditanam pada lahan pasang surut/lebak yaitu pada musim kemarau (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Syarat tumbuh pada tanaman kedelai dapat dilihat pada dua aspek yaitu kondisi tanah dengan syarat 7 drainase dan aerasi tanah yang cukup baik dan iklim. Kedelai dapat tumbuh baik dengan tempat yang berhawa panas, di tempat-tempat yang terbuka dan bercurah hujan 100-400 mm/bulan (Nazar, Mustikawati dan Yani, 2008). Suhu permukaan tanah pada musim panas sekitar 35-39 oC dengan curah hujan yang optimal dan temperatur antara 25-27 oC (Aksi Agraris Kanisius, 2005). Adapun untuk lebih jelasnya kriteria kesesuaian lahan agroklimat untuk tanaman kedelai dapat dilihat pada lampiran Tabel 17. Menurut Ditjen Tanaman Pangan (2013), kedelai tumbuh subur pada lahan dengan pH>5,0 atau tidak lahan masam, tekstur lempung dan kandungan bahan organik tinggi sampai sedang. Kandungan hara tanah (N, P2O5, K2O, Ca, Mg) yang cocok atau sesuai adalah tinggi sampai sedang. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman kedelai antara 1.000-2.500 mm/tahun. Curah hujan ini berkaitan dengan kebutuhan air pada masa pertumbuhan tanaman kedelai, yakni 350-450 mm. Temperatur atau suhu udara yang sesuai untuk tanaman kedelai adalah 20-35 oC. Suhu yang terlampau tinggi ataupun terlampau rendah akan menggangu pertumbuhan kedelai dan dapat menurunkan produksi kedelai. Pada umumnya tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik pada jenis lahan apa saja selama drainase dan aerasinya cukup baik, kecuali jenis lahan PMK (podzolik merah kuning) dan lahan yang mengandung pasir kwarsa. Tanah yang terlalu basah atau digenangi air akan menyebabkan akar tanaman kedelai menjadi busuk sedangkan aerasi penting untuk ketersediaan oksigen. Tanah berpasir pun masih bisa ditanami kedelai selama air dan hara tanaman cukup tersedia untuk pertumbuhannya (Irwan, 2006). Pada tanah PMK (podzolik merah kuning) dan 8 tanah-tanah yang banyak mengandung pasir kwarsa hendaknya diberikan pupuk organik dan kapur pertanian untuk tanah PMK dalam jumlah cukup. Demikian juga tanah dengan pH<5,5 pemberian kapur dapat menaikan hasil produksi (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Selain media tanam dan ketinggian, faktor penting untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah iklim. Unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kedelai antara lain lama penyinaran matahari, suhu dan curah hujan. Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan panjang hari atau lama penyinaran sinar matahari karena tanaman ini tergolong tanaman hari pendek, yang artinya tanaman tidak akan berbunga jika panjang hari melebihi 15 jam/hari (Irwan, 2006). Tanaman kedelai merupakan tanaman daerah subtropis yang dapat beradaptasi baik di daerah tropis. Kedelai dapat tumbuh baik dengan curah hujan 500 mm/tahun dan suhu optimal 25-30 oC dengan penyinaran penuh minimal 10 jam per hari, kelembapan rata-rata 50 persen. Penanaman pada ketinggian lebih dari 750 m dpl, pertumbuhan mulai terhambat dan umur tambah panjang namun masih berproduksi baik pada ketinggian 110 m dpl (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). b) Teknis Budidaya kedelai Beberapa komponen penting dalam teknis budidaya kedelai sebagai berikut. (1) Persiapan lahan Persiapan lahan dilakukan dengan cara yang berbeda untuk jenis lahan yang berbeda. Pada lahan sawah tanah tidak perlu diolah, cukup dibersihkan dan dibuat saluran drainase atau selokan dengan jarak 3 meter untuk menghindari genangan 9 air. Pada lahan tegal/kering tanah diolah hingga gembur (olah tanah sempurna), dibuat bedengan 2-3 meter atau teras dengan batas pematang (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Jika tanah bersifat masam, lahan ditambah kapur berbarengan dengan pengolahan lahan. Tanah yang baru pertama kali ditanami kedelai, pada persiapan lahan perlu diberi bakteri Rhizobium, kecuali tanah yang sudah ditanami kacang panjang (Irwan, 2006). (2) Penggunaan varietas unggul Pemilihan varietas mempertimbangkan umur panen, ukuran dan warna biji, serta tingkat adaptasi terhadap lingkungan tumbuh. Umur panen dari varietas yang akan ditanam disesuaikan dengan pola tanam pada lahan untuk menghindari terjadinya pergeseran waktu tanam pasca panen kedelai. Pemilihan ukuran dan warna biji varietas mempertimbangkan faktor ekonomi, yakni permintaan pasar, sehingga memudahkan saat menjual hasil panen (Nazar, dkk., 2008). Menurut Rukmana dan Yuniarsih (1996), benih kedelai yang akan ditanam harus dipilih yang bermutu tinggi agar mendapatkan produksi kedelai yang maksimal. Benih yang dipilih adalah benih yang bernas, tidak cacat, tidak keriput, bersih dari kotoran, bebas dari wabah hama dan penyakit, dan umurnya cukup tua. Benih yang digunakan tergantung pada luas areal, jarak tanam, varietas kedelai dan cara bertanam. Menurut Ditjen Tanaman Pangan (2013), sampai dengan tahun 2009 telah dilepas sebanyak ± 80 varietas kedelai. Daftar nama-nama varietas kedelai yang sudah dirilis oleh pemerintah sampai dengan tahun 2009 disajikan pada lampiran Tabel 18. 10 (3) Penanaman Waktu yang tepat untuk penanaman dipilih sedemikian rupa sehingga lahan tidak mengalami kebanjiran dan kekeringan. Penanaman dilakukan dengan mengisi lubang yang dibuat dengan menggunakan tugal dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 20 cm sebanyak 2-3 biji/lubang, kemudian ditutup dengan tanah gembur. Semakin subur lahan, sebaiknya jarak tanam dibuat semakin lebar. Sebelum benih kedelai ditanam dilakukan seed treatment (perlakuan benih) dahulu, dengan cara inokulasi dengan menggunakan tanah yang bekas ditanami kedelai (Suprapto, 1999). (4) Pemupukan Tanah sawah yang subur cukup diberikan 50 kg urea/hektar saat tanam sebagai pemicu awal pertumbuhan. Tanah grumosol perlu dipupuk 50 kg urea + 75 kg TSP + 75 kg KCL/hektar. Pada lahan kering perlu dipupuk kandang 3-5 ton/hektar dan untuk lahan kering bereaksi masam perlu diberi kapur pertanian 0,5-2,5 ton/hektar agar memperoleh hasil maksimal. Pupuk fused Magnesium Phosfat (FMP) untuk kedelai dianjurkan dosis 100 kg/hektar, waktu aplikasi adalah saat pemupukan dasar. Pupuk phosfat alam dianjurkan di lahan sawah bukaan baru dengan dosis anjuran 500 kg/hektar, diberikan dengan cara larikan pada saat pemupukan dasar (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Pemupukan kedelai dilakukan dengan cara disebar merata di lahan atau dimasukkan ke dalam lubang di sisi kanan dan kiri lubang tanam sedalam 5 cm (Irwan, 2006). 11 (5) Penyiangan Penyiangan harus dilakukan seawal mungkin, agar gulma tidak menyaingi pertumbuhan kedelai. Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu. Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman kedelai selesai berbunga, sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2 (pemupukkan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kored. Apabila lahannya luas, dapat juga dengan menggunakan herbisida (Menegristek, 2012) (6) Pengairan/penyiraman Kelembapan tanah perlu diusahakan setara dengan kapasitas lapang, terutama pada awal pertumbuhan vegetatif, saat pertumbuhan polong dan saat pengisian biji. Kekeringan pada saat-saat tersebut dapat mengakibatkan merosotnya produksi. Tanaman perlu diairi (dileb) 1 kali dalam 2 minggu mulai saat pertumbuhan hingga pembungaan dan pembentukan polong. Jika tidak dapat dengan cara dileb maka dilahan kering dilakukan penyiraman jika diperlukan (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Secara umum kedelai dapat diberi pengairan 3-4 kali selama periode pertumbuhan dan diberikan sampai daerah perakaran tanaman (Rukmana dan Yuniarsih, 2003). (7) Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai dilakukan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, menggunakan biopestisida atau pestisida 12 organik jika serangan hama masih dibawah ambang ekonomi dan menggunakan pestisida kimia jika serangan hama dan penyakit diatas ambang ekonomi. Hamahama yang menyerang tanaman kedelai yaitu (1) lalat kacang atau lalat bibit, (2) ulat grayak, (3) ulat jengkal, (4) penggulung daun, (5) kumbang kedelai, (6) lalat pucuk, (7) ulat polong atau buah, (8) penggerek polong, (9) kepik hijau, (10) kepik coklat, (11) hama gudang, (12) pelipat daun dan (13) kumbang tanah kuning. Sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman kedelai yaitu (1) karat daun, (2) sapu, (3) kerdil, (4) busuk Rhizoctonia dan (5) antraknose (Rukmana dan Yuniarsih, 2003). (8) Panen dan pasca panen Kedelai harus dipanen pada tingkat kemasakan biji yang tepat, yaitu apabila sebagian besar sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen terlalu awal menyebabkan banyak biji kedelai keriput, sedangkan panen terlalu akhir menyebabkan kehilangan hasil karena biji rontok (Aksi Agraris Kanisius, 2005). Menurut Ditjen Tanaman Pangan (2013), umur panen kedelai berkisar antara 75110 hari tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Kedelai yang akan digunakan sebagai konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul merata. Secara visual saat panen ditandai dengan daun berwarna kuning coklat kehitaman dan mudah rontok, batang telah kering serta polong biji mengering, 13 berwarna kecoklatan dan pecah. Cara panen adalah memotong batang menggunakan sabit bergerigi dan tidak dianjurkan dengan mencabut batang bersama akar. Tanaman diupayakan tidak tercabut agar bintil akar Rhizobium tetap dalam tanah sebagai pupuk. Hasil pemotongan dikumpulkan secara teratur dan dipisahkan bila tingkat kematangannya berbeda. Pengumpulan dilakukan dengan baik sehingga tidak ada yang tercecer. Kedelai dijemur langsung di bawah panas matahari di penjemuran yang berlantai atau beralas plastik hitam. Plastik hitam menyerap panas sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengeringan kedelai. Pembijian atau perontokan biji kedelai dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu digebuk/dipukul atau dengan menggunakan mesin (power tresher). Pembersihan biji kedelai dari kotoran dapat dilakukan dengan cara ditampi, disilir atau dengan menggunakan mesin pembersih. Biji kedelai yang telah bersih ditempatkan dalam wadah yang bersih bebas hama penyakit, tidak bocor serta ditutup rapat. Penyimpanan tempat atau penyimpanan biji kedelai harus teduh, kering, dan bebas hama penyakit, kadar air harus 9-14 persen (Aksi Agraris Kanisius, 2005). b. Kebijakan Kedelai Nasional Menurut Badan Litbang Pertanian (2012), salah satu target utama dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014 adalah swasembada kedelai dengan pencapaian produksi sebesar 2,7 juta ton di tahun 2014. Data produksi kedelai pada tahun 2011, pencapaian produksi baru mencapai 870.000 ton, atau sebesar 32,2 persen dari target produksi pada 2014. Sementara itu, konsumsi domestik pada 2011 mencapai 2 juta ton, yang berarti defisit sekitar 1,3 juta ton. Dengan 14 kecenderungan luas panen dan produksi kedelai lokal yang semakin menurun maka ketergantungan terhadap impor kedelai, terutama dari Amerika Serikat sebagai pengekspor kedelai terbesar dunia, semakin tinggi. Pemenuhan kedelai yang sangat bergantung dari impor menyebabkan harga kedelai dalam negeri akan sangat dipengaruhi fluktuasi harga kedelai di pasar internasional. Oleh sebab itu, ketika harga kedelai di pasar internasional meningkat akibat persoalan kedelai di negara produsen, maka berdampak pada melambungnya harga kedelai di pasar dalam negeri. Harga kedelai di pasar internasional mengalami lonjakan pada tahun 2007 dan 2008. Peningkatan harga ini ternyata mampu mendorong peningkatan produksi kedelai domestik yang pada tahun 2007 hanya sebesar 596.600 ton menjadi 775.700 ton pada 2008, dan kemudian meningkat menjadi 974.500 ton pada 2009. Namun, setelah harga kedelai kembali menurun pada akhir 2009, maka produksi juga kembali menurun . Hal ini menunjukkan bahwa tidak membaiknya produksi kedelai dalam negeri terjadi karena tidak adanya jaminan harga jual dan risiko terserang hama dan penyakit sangat tinggi. Petani enggan menanam kedelai karena tidak mampu bersaing dengan kedelai impor yang harganya lebih murah dan lebih disukai oleh produsen tempe dan tahu. Petani yang sebelumnya secara tradisional menanam kedelai, mengganti dengan komoditas lain, seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau dan tanaman palawija lainnya yang lebih memberikan keuntungan (Badan Litbang 2012). Badan Litbang Pertanian (2012) menyatakan bahwa kebutuhan kedelai masyarakat harus didasarkan pada kemampuan produksi domestik agar tidak 15 mudah terganggu oleh gejolak yang terjadi dalam perdagangan internasional. Oleh sebab itu, swasembada adalah kata kunci yang paling tepat bagi terwujudnya ketahanan pangan. Dengan demikian, Kementerian Pertanian harus membuka lahan baru untuk penanaman kedelai sedikitnya 500.000 hektar, meningkatkan produktivitas kedelai hingga 2-2,5 ton per hektar melalui penanaman varietas Anjasmoro, Ijen, Mahameru, Panderman dan Merubetiri. Didukung pula dengan penggalakan penyuluhan agar teknologi yang diaplikasikan petani dapat lebih baik. Pemberian insentif berproduksi berupa pemberian benih, pupuk dan obat kimia pembasmi serangga secara gratis untuk penanaman kedelai. Selain itu, perlindungan harga kedelai petani saat panen raya, melalui mekanisme harga pembelian pemerintah atau harga referensi seperti pada komoditas jagung. Peran pemerintah daerah juga perlu dibangkitkan untuk ikut serta melindungi petani kedelai dari kejatuhan harga saat panen raya dan kejatuhan harga internasional melalui mekanisme resi gudang, dana talangan atau pembelian hasil oleh pemerintah. Serta dengan memberlakukan penetapan tarif impor kedelai sekitar 23 persen untuk melindungi daya saing kedelai lokal dan petani memperoleh keuntungan sebesar 25 persen atau tarif impor sebesar 35 persen agar petani mempunyai tingkat keuntungan sebesar 30 persen (Badan Litbang Pertanian, 2012). Sejalan dengan hal itu, menurut Ditjen Tanaman Pangan (2013), kebijakan yang ditempuh untuk swasembada tahun 2014 pada dasarnya diarahkan untuk mendorong terwujudnya usahatani kedelai yang memiliki daya saing terhadap 16 kedelai impor, memenuhi kebutuhan kedelai nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Dasar pengambilan kebijakan tersebut berasal dari 4 Sukses Program Kementerian Pertanian, Gema Revitalisasi Pertanian. Kebijakankebijakan yang ditempuh meliputi: (a) meningkatkan produksi kedelai menuju swasembada tahun 2014. (b) mengembangkan agribisnis kedelai dengan menumbuhkembangkan peran swasta, koperasi dan BUMN. (c) meningkatkan sumber permodalan usahatani yang mudah di akses petani (d) mengembangkan sistem pemasaran hasil panen dan merevitalisasi tata niaga yang kondusif bagi petani. Secara operasional, kebijakan pembangunan tanaman pangan khususnya untuk Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi diprioritaskan pada pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Dalam pencapaian swasembada tersebut perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Dukungan kebijakan untuk menciptakan iklim usahatani kedelai yang kondusif diantaranya dengan : (a) Harga Usahatani kedelai dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait, baik pada tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. (b) Penetapan tarif bea masuk Produk kedelai impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Hal ini dapat menghancurkan agribisnis kedelai dalam negeri. Oleh 17 karena itu perlindungan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan dengan produk impor, pemerintah menerapkan pemberlakukan tarif bea masuk impor. (c) Penyederhanaan tataniaga Rantai tataniaga kedelai dalam negeri cenderung rumit dan panjang sehingga selisih harga di tingkat produsen (petani) dengan harga di tingkat grosir dan eceran cukup mencolok. Untuk meminimalisir hal tersebut, pemerintah perlu mengatur tataniaga kedelai agar lebih sederhana dengan rantai tataniaga yang lebih sederhana dengan rantai tataniaga yang lebih pendek, misalnya produsen/petani–pedagang–konsumen (Ditjen Tanaman Pangan, 2013). Namun, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selama ini belum berjalan dengan baik. Terlihat bahwa pada tahun 2014 target produksi kedelai nasional kembali menurun, target produksi yang sebelumnya dipatok pada kisaran 2,5 juta ton per tahun turun menjadi 1 juta ton per tahun. Menurut Haryono, Plt. Ditjen Tanaman Pangan Kementan (2014), penurunan produksi kedelai akibat adanya penurunan luas area penanaman kedelai. Luas area tanam kedelai menurun dari 568.000 hektar pada 2012 menjadi 554.000 hektar pada 2013. Akibatnya, jumlah produksi kedelai juga mengalami penurunan, seperti pada ARAM II (bulan Juni), produktivitas kedelai menurun dari 14,85 ku/hektar menjadi 14,57 ku/hektar (Tempo, 2014). Haryono (2014) menyatakan ada tiga faktor yang menghambat peningkatan produksi kedelai dalam satu tahun terakhir. Pertama, tidak adanya jaminan pasar 18 terhadap harga kedelai petani lokal. Petani juga resah dengan serbuan kedelai impor yang harganya bisa lebih murah dengan kedelai lokal. Hal ini menyebabkan minat petani kurang dalam menanam kedelai. Ke dua, sosialisasi dan distribusi bibit unggul yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan belum berjalan baik. Petani belum mendapat cukup akses untuk menggunakan varietas tersebut di lahan produksi mereka. Ke tiga, kurangnya perlindungan pemerintah terhadap petani kedelai lokal. Hal ini ditandai dengan diterapkannya kebijakan tarif impor kedelai sebesar nol persen. Petani kedelai pun mengalami kerugian karena harga produksi kedelai mereka lebih mahal daripada harga kedelai impor (Tempo, 2014). Pada saat panen raya bulan September 2014, pasokan kedelai lokal melimpah di pasaran, hal ini membuat harga kedelai lokal terus turun, bahkan harganya lebih murah dari kedelai impor yang saat ini bergerak naik. Namun demikian, permintaan kedelai lokal tidak mengalami peningkatan. Pembeli yang kebanyakan adalah perajin tahu dan tempe enggan menggunakan komoditas lokal lantaran berbagai alasan, misalnya kondisi kedelai yang lebih kotor sehingga tidak baik untuk produksi tempe. Para perajin tahu dan tempe membeli kedelai lokal hanya untuk campuran saja, misal untuk 5 kuintal, 1 kuintal diantaranya adalah kedelai lokal (Suara Merdeka, 2014). Kabid Pengembangan Tanaman Pangan DPTH Provinsi Lampung (2014) menyatakan bahwa strategi pengembangan kedelai yang selama ini dilakukan kurang benar, karena masalah yang esensial belum terjawab, misalnya masalah benih yang harus dibenahi secara baik. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan 19 oleh Dinas tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung untuk kedelai saat ini yaitu melakukan pengembangan teknis kualitas benih kedelai, mencanangkan gerakan pengelolaan tanaman terpadu kedelai untuk menumbuhkan minat petani, memberikan kepastian harga kedelai dan memperjelas pasar kedelai agar para petani tertarik menanam kedelai. 2. Konsep Usahatani Menurut Suratiyah (2008), ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengkoordinir faktorfaktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan keuntungan semaksimal mungkin. Dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa tujuan akhir dari usahatani adalah memperoleh keuntungan setinggi-tingginya. Karena keuntungan dari usahatani akan digunakan petani untuk pengembangan usahatani dan memenuhi kebutuhan keluarga. Suatu usahatani dikatakan berhasil atau tidak diketahui dari besarnya pendapatan atau keuntungan yang diperoleh. Besarnya tingkat perolehan keuntungan petani dari usahataninya sangat ditentukan oleh bagaimana petani mengkombinasikan penggunaan faktor-faktor produksi. Faktor produksi merupakan korbanan yang diberikan pada tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. 20 Banyaknya jumlah faktor-faktor produksi ini akan menentukan besar kecilnya produksi yang dihasilkan (Mubyarto, 1994). Faktor-faktor produksi merupakan benda atau

Dokumen baru

Download (93 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

DAMPAK REMITAN TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA MANTAN TKI DI DESA RANTAU FAJAR KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2011
4
25
68
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING USAHATANI TEMBAKAU DI KECAMATAN BATANGHARI NUBAN KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
14
39
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING USAHATANI UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) DI KECAMATAN MARGA TIGA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
11
70
SLAMETAN SEPASARAN PADA MASYARAKAT JAWA DI DESA RANTAU FAJAR KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATENLAMPUNG TIMUR
0
30
78
ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KECAMATAN WAWAY KARYA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
3
149
ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KECAMATAN WAWAY KARYA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
4
121
POTENSI PAKAN HIJAUAN DI BAWAH NAUNGAN POHON KARET PRAPRODUKSI DAN PRODUKSI DI PERKEBUNAN MASYARAKAT DESA RUKTI SEDYO KECAMATAN RAMAN UTARA LAMPUNG TIMUR
2
24
39
ANALISIS PENDAPATAN DAN RISIKO USAHATANI JAGUNG DI DESA BANDAR AGUNG KECAMATAN BANDAR SRIBHAWONO KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
2
14
15
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI DAN DAYA SAING USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
10
17
DESKRIPSI TENTANG PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA RATNA DAYA KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
11
42
ANALISIS PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DI KECAMATAN PURBOLINGGO KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
8
60
83
ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
7
66
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI TEMBAKAU DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
3
45
69
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN RISIKO USAHATANI TEMBAKAU VIRGINIA DI DESA SIDODADI KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN
0
13
61
ANALISIS RISIKO USAHATANI KEDELAI DI KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
5
18
93
Show more