PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Gratis

0
5
146
2 years ago
Preview
Full text
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh MUHAMMAD OKTAVIAN KRISTIANA Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi S1 PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 ABSTRAK PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh MUHAMMAD OKTAVIAN KRISTIANA Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran dan bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggunakan model problem based learning. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus melalui proses pengkajian berdaur, setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan nilai motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 60,46 dengan kualifikasi cukup, dan siklus II sebesar 83,61 dengan kualifikasi sangat baik. Sementara rata-rata hasil belajar siswa siklus I sebesar 66,98 dengan persentase ketuntasan sebesar 46,15%, dan nilai rata-rata siklus II meningkat menjadi 80,67 dengan persentase ketuntasan sebesar 88,46%. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Kata kunci: Model problem based learning, motivasi, hasil belajar, IPS. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ……………………………………………………… ix DAFTAR GAMBAR ……………………………………….………….. x DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………... xi I. II. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................... 1.2 Identifikasi Masalah .................................................................. 1.3 Rumusan Masalah ..................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................... 1.5 Manfaat Penelitian .................................................................... KAJIAN PUSTAKA 2.1 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) .................................................. . 2.1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)..................... 2.1.2 Karakteristik Pembelajaran IPS ..................................... 2.1.3 Tujuan IPS …………………………………………….. 2.2 Belajar ....................................................................................... 2.2.1 Pengertian Belajar ............................................................ 2.2.2 Teori Belajar .................................................................... 2.2.3 Motivasi Belajar………………………………………… 2.2.3.1 Pengertian Motivasi Belajar…………………….. 2.2.3.2 Fungsi Motivasi Belajar………………………… 2.2.4 Pengertian Hasil Belajar………………………………... 2.3 Model Problem Based Learning ............................................. 2.3.1 Pengertian Model Problem Based Learning ................... 2.3.2 Karakteristik Model Problem Based Learning ................ 2.3.3 Tujuan Model Problem Based Learning .......................... 2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based Learning……………………………………………………….. 2.3.5 Langkah-langkah Model Problem Based Learning……… 2.3.6 Peran Guru dalam Model Problem Based Learning ........ 2.4 Hipotesis Tindakan ................................................................... 1 4 4 5 5 7 7 8 8 9 9 9 11 11 13 13 14 14 15 17 17 18 19 20 vi III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ………………………………………………. 3.2 Setting Penelitian ...................................................................... 3.2.1 Subjek Penelitian………………………………………... 3.2.2 Tempat Penelitian……………………………………….. 3.2.3 Waktu Penelitian………………………………………… 3.3 Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 3.3.1 Teknik Nontes…………………………………………… 3.3.2 Teknik Tes………………………………………………. 3.4 Alat Pengumpul Data................................................................. 3.4.1 Lembar Observasi……………………………………….. 3.4.2 Tes………………………………………………………. 3.5 Teknik Analisis Data ................................................................ 3.5.1 Deskriptif Analitik………………………………………. 3.5.2 Analisis Kuantitatif……………………………………… 3.6 Urutan Penelitian Tindakan Kelas ............................................ 3.6.1 Siklus 1………………………………………………….. 3.6.2 Siklus 2………………………………………………….. 3.7 Indikator Keberhasilan .............................................................. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum SD Negeri 3 Tempuran ................................... 4.1.1 Sejarah Singkat SD Negeri 3 Tempuran ........................... 4.1.2 Keadaan Gedung SD Negeri 3 Tempuran .......................... 4.1.3 Keadaan Guru SD Negeri 3 Tempuran .............................. 4.1.4 Keadaan Siswa SD Negeri 3 Tempuran ............................. 4.2 Prosedur Penelitian 4.2.1 Deskripsi Awal ................................................................... 4.2.2 Refleksi Awal ..................................................................... 4.2.3 Persiapan Pembelajaran ..................................................... 4.3 Pelaksanaan dan Hasil Penelitian 4.3.1 Pelaksanaan Penelitian ....................................................... 4.3.2 Hasil penelitian siklus I ...................................................... 1) Perencanaan siklus I ..................................................... 2) Pelaksanaan siklus I ..................................................... 3) Hasil Observasi Siklus I ............................................... 4) Refleksi Siklus I ........................................................... 5) Saran Perbaikan/Tindakan Kelas untuk Siklus II ........ 4.3.3 Hasil Penelitian Siklus II 1) Perencanaan siklus II ................................................... 2) Pelaksanaan siklus II .................................................... 3) Hasil Observasi Siklus II.............................................. 4) Refleksi Siklus II.......................................................... 4.4 Pembahasan 4.4.1 Motivasi Siswa dalam Proses Pembelajaran ..................... 4.4.2 Kinerja Guru dalam Proses Pembelajaran ......................... 21 22 22 22 22 22 22 22 23 23 23 23 23 25 26 26 29 30 31 31 31 32 32 33 33 34 35 35 35 36 39 47 48 48 49 53 60 61 62 vii 4.4.3 Hasil Belajar Siswa ............................................................ 65 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ................................................................................... 5.2 Saran ............................................................................................. 68 69 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 71 LAMPIRAN viii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan wahana bagi manusia untuk mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran baik secara formal, maupun non formal. Dalam prosesnya pendidikan tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan, melainkan juga keteladanan sikap. Hal ini telah ditegaskan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 3, pemerintah mengusahakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang. Oleh karena itu, dalam prinsipnya pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna (UU RI No. 20 Th. 2003 pasal 4.2). Salah satu cara untuk menunjang adanya pembelajaran yang multimakna tersebut, maka disusunlah cabang-cabang ilmu yang substansinya disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Dalam setiap cabang ilmu mempunyai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai, begitu juga dengan IPS. Dalam kurikulum 2006 dipaparkan bahwa mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan 2 pendekatan tersebut diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Pernyataan di atas didukung dengan pendapat Sapriya (2007: 133) tentang tujuan IPS yaitu (a) mengajarkan konsep-konsep dasar sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis, dan psikologis, (b) mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inkuiri, problem solving, dan keterampilan sosial, (c) membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan (d) meningkatkan kerja sama dan kompetensi dalam masyarakat yang heterogen baik secara nasional maupun global. Itulah sebabnya, IPS perlu dipelajari disetiap jenjang pendidikan. Karena IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Berdasarkan hasil survey di lapangan pada hari Rabu tanggal 12 Desember 2012, diketahui bahwa proses pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 masih banyak memiliki kekurangan. Diantaranya, guru belum memanfaatkan media dan model pembelajaran secara bervariasi. Tes yang diberikan hanya berasal dari buku cetak, sehingga siswa kurang mendapatkan jenis soal yang bervariasi. Hal ini mengakibatkan rendahnya kemampuan berpikir siswa serta kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS tidak maksimal. Hal ini dibuktikan dari data hasil ulangan semester ganjil. 3 Tabel 1. Hasil ulangan semester ganjil mata pelajaran IPS kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Trimurjo Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 Jumlah Jumlah Persentasi Persentasi Jumlah siswa Siswa Ketuntasan ketidaktuntasan No KKM Siswa yang yang tidak (%) (%) tuntas tuntas 1 67 26 11 15 42 58 Berdasarkan data di atas diketahui bahwa dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 67, hanya 11 siswa yang tuntas dari 26 siswa di kelas IV. Melihat fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas, maka perlu diadakan perbaikan proses pembelajaran agar motivasi dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Menurut Degeng (dalam Sugiyanto, 2008: 1) daya tarik suatu pembelajaran ditentukan oleh dua hal, pertama oleh mata pelajaran itu sendiri, dan kedua oleh cara mengajar guru. Pada poin yang kedua ini yaitu cara mengajar guru berkaitan erat dengan penggunaan berbagai model, metode, atau strategi dalam pembelajaran. Hal ini dipertegas oleh pendapat Zarkasi (dalam Asmani, 2011: 25) bahwa dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua strategi, model, atau metode dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Akan lebih baik apabila guru memilih model pembelajaran yang benar-benar tepat untuk memperbaiki mutu pembelajarannya. Salah satu cara untuk mengatasi masalah yang dipaparkan di atas, model problem based learning dapat dikatakan model pembelajaran yang tepat. Seperti yang diungkapkan oleh Rusman (2010: 237) bahwa model problem 4 based learning adalah sebuah cara memanfaatkan masalah untuk menimbulkan motivasi belajar. Karena model ini menekankan pada pemerolehan pemahaman yang utuh dari sebuah materi yang diformulasikan dalam masalah dunia nyata. Sehingga diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya melalui integrasi dan sintesis informasi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan perbaikan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model problem based learning pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut. 1. Guru masih mendominasi dalam pembelajaran dan belum memanfaatkan model-model pembelajaran, sehingga proses pembelajaran terasa membosankan. 2. Siswa kurang mendapatkan jenis soal yang bervariasi. 3. Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. 4. Belum menggunakan model problem based learning. 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut. 5 1. Bagaimanakah meningkatkan motivasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan model problem based learning? 2. Apakah penerapan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013? 1.4 Tujuan penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk: 1. Meningkatkan motivasi siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan model problem based learning. 2. Meningkatkan hasil Belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan penerapan model problem based learning. 1.5 Manfaat penelitian Adapun penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Bagi siswa Meningkatnya motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan penerapan model problem based learning. 6 2. Bagi guru Bertambahnya wawasan guru dalam menerapkan model problem based learning dalam pembelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan keterampilan dan profesionalitas guru. 3. Bagi sekolah Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan inovasi pembelajaran guna mengoptimalkan ketercapaian tujuan dalam proses pembelajaran. 4. Bagi peneliti Bertambahnya wawasan dan pengetahuan mengenai penelitian tindakan kelas agar kelak dapat bekerja secara profesional. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 2.1.1 Pengertian IPS Menurut Djahiri (dalam Sapriya, 2007: 7) IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabangcabang ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Sedangkan dalam kurikulum 2006, IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokrasi dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan yang merupakan perpaduan sejumlah konsep cabang-cabang ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia. Cabang-cabang ilmu ini kemudian dijadikan program pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan. 8 2.1.2 Karakteristik Pembelajaran IPS Djahiri (dalam Sapriya, 2007: 8) mengemukakan ciri dan sifat utama dari pembelajaran IPS sebagai berikut. a. IPS berusaha mempertautkan teori ilmu dengan fakta atau sebaliknya (menelaah fakta dari segi ilmu). b. Penelaahan dan pembahasan IPS bersifat komprehensif, sehingga berbagai konsep ilmu secara terintegrasi digunakan untuk menelaah suatu masalah. c. Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses inkuirí agar siswa mampu mengembangkan berpikir kritis, rasional, dan analitis. d. Program pembelajaran disusun dengan meningkatkan/menghubungkan bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan nyata dimasyarakat memproyeksikannya kepada kehidupan di masa depan. e. IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil (mudah berubah). f. IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan antarmanusia yang bersifat manusiawi. g. Pembelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuan semata, tetapi juga nilai dan keterampilannya. h. Berusaha untuk memuaskan setiap siswa yang berbeda melalui program maupun pembelajarannya dalam arti memperhatikan minat siswa dan masalah-masalah kemasyarakatan yang dekat dengan kehidupannya. i. Dalam pengembangan program pembelajaran senantiasa melaksanakan prinsip-prinsip, karakteristik (sifat dasar) dan pendekatan-pendekatan yang menjadi ciri IPS itu sendiri. 2.1.3 Tujuan IPS Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (PERMENDIKNAS) No. 22 Tahun 2006 tentang stándar isi dinyatakan bahwa mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial 9 c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. 2.2 Belajar 2.2.1 Pengertian Belajar Belajar merupakan suatu aktivitas yang akan menghasilkan perubahan. Perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan melalui proses yang disebut pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2005: 27) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hal ini didukung oleh gagasan Gagne (dalam Suprijono, 2010: 2) belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa belajar ialah perubahan kemampuan individu yang merupakan akibat dari suatu proses atau kegiatan menuju perkembangan individu seutuhnya. 2.2.2 Teori Belajar Teori merupakan perangkat prinsip-prinsip yang terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Teori belajar terdiri dari tiga teori, yaitu teori behavioristik, teori kognitif dan teori 10 konstruktivistik. Teori belajar behavioristik merupakan perubahan perilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses pematangan (atau pendewasaan) semata. Sedangkan teori belajar kognitif merupakan gejala internal mental seseorang dapat dilihat dalam perilaku maupun yang tidak terlihat. Dalam teori ini, pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh pemahaman atas dirinya sendiri. Kemudian teori belajar konstruktivistik merupakan proses membangun atau membentuk makna, pengetahuan, konsep, dan gagasan melalui pengalaman, Winataputra (2007: 2.4). Sebagaimana pendapat Suprijono (2010: 16) teori-teori belajar terdiri dari teori behavioristik, teori kognitif, dan teori konstruktivistik. Teori behavioristik sendiri merupakan teori dimana pembelajaran diartikan sebagai proses pembentukan hubungan antara rangsangan (stimulus), dan balas (respon). Hasil pembelajaran yang diharapkan adalah perubahan perilaku berupa kebiasaan. Sedangkan dalam perspektif teori kognitif, belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral. Belajar merupakan perseptual, dimana tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Kemudian dalam perspektif teori konstruktivistik, belajar merupakan pemaknaan pengetahuan, dimana pembelajar bisa memiliki pemahaman berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Berdasarkan tiga teori belajar di atas, peneliti menyimpulkan bahwa teori belajar konstruktivistik merupakan teori belajar yang mendukung proses pembelajaran menggunakan model problem based learning. Dimana siswa dituntut untuk membangun pengetahuannya sendiri dan guru berperan sebagai fasilitator. Teori belajar konstruktivistik mengutamakan keaktifan siswa dan mengembangkan 11 kemampuan berpikir tinggi (kompleks) yang biasanya menggunakan prosedur pemberian tugas dan kerja kelompok. 2.2.3 Motivasi Belajar 2.2.3.1 Pengertian Motivasi Belajar Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Sebagaimana pendapat Hamalik (2005: 158) mengatakan bahwa motivasi merupakan perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada dua proses yang dapat digunakan untuk menunjang motivasi, yaitu motivasi dipandang sebagai suatu proses dan menentukan karakter dari proses tersebut dengan melihat berbagai petunjuk dari tingkah lakunya. Suprijono (2010: 163) menyatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan perilaku. Motivasi belajar juga merupakan proses yang memberi semangat belajar, arah dan kegigihan perilaku. Sedangkan Uno (2006: 1) mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai 12 dengan dorongan dalam dirinya. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik merupakan faktor yang berasal dari dalam diri manusia. Contoh faktor instrinsik berupa hasrat atau keinginan berhasil dalam mencapai tujuan yang diharapkan dan dorongan kebutuhan belajar dari dalam diri manusia agar tercapainya cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia, contohnya adalah adanya penghargaan berupa penguatan dan motivasi serta hadiah kepada siswa yang memperoleh nilai terbaik, lingkungan belajar yang kondusif seperti lingkungan yang jauh dari keramaian serta tidak adanya kegaduhan dalam kelas saat proses pembelajaran, dan kegiatan belajar yang menarik dengan menggunakan berbagai variasi model dan media pembelajaran. Sudjana (2011: 61) menjelaskan bahwa dalam motivasi belajar siswa terdapat beberapa aspek yang dapat diamati yaitu minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran, semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajar, tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya, reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru serta rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan. 13 Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa motivasi merupakan kekuatan, baik dari dalam yang berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan dan cita-cita serta dari luar yang berupa adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif serta kegiatan belajar yang menarik dapat mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya atau dengan kata lain motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. 2.2.3.2 Fungsi Motivasi Belajar Motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Fungsi motivasi yaitu: a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar. b. Motivasi berfungsi mengarahkan perbuatan sebagai pengarah. kepencapaian Artinya tujuan yang diinginkan. c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Motivasi berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan, Hamalik (2005: 161). 14 2.2.4 Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran, umumnya hasil belajar berupa nilai baik berupa nilai mentah ataupun nilai yang sudah diakumulasikan. Namun, tidak menutup kemungkinan hasil belajar ini bukan hanya berupa nilai melainkan perubahan perilaku siswa. Sebagaimana diungkapkan oleh Suprijono (2010: 5) hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Bloom (dalam Suprijono, 2010: 6) menyatakan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan menurut Lindgren (dalam Suprijono, 2010: 7) hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan. Perubahan ini tidak dilihat secara terpisah melainkan secara komprehensif baik dari domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. 2.3 Model Problem Based Learning 2.3.1 Pengertian Model Problem Based Learning Model problem based learning dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model 15 problem based learning yang berorientasi pada kecakapan memproses informasi. Menurut Tan (dalam Rusman, 2010: 229) problem based learning merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Pendapat di atas diperjelas oleh Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 241) bahwa problem based learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Seperti yang telah diungkapkan oleh pakar problem based learning Barrows (dalam Renjy.Scrib.com, 2012) problem based learning merupakan sebuah model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan pengetahuan (knowledge) baru. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan problem based learning adalah suatu model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah yang diintegrasikan dengan kehidupan nyata. Dalam problem based learning diharapkan siswa dapat membentuk pengetahuan atau konsep baru dari informasi yang didapatnya, sehingga kemampuan berpikir siswa benar-benar terlatih. 16 2.3.2 Karakteristik Model Problem Based Learning Setiap model pembelajaran, memiliki karakteristik masingmasing untuk membedakan model yang satu dengan model yang lain. Seperti yang diungkapkan Trianto (2009: 93) bahwa karakteristik model problem based learning yaitu: (a) adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, (b) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (c) penyelidikan autentik, (d) menghasilkan produk atau karya dan mempresentasikannya, dan (e) kerja sama. Sedangkan karakteristik model problem based learning menurut Rusman (2010: 232) adalah sebagai berikut. a) Permasalahan menjadi starting point dalam belajar. b) Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur. c) Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). d) Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. e) Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam problem based learning. g) Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. h) Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. i) Keterbukaan proses dalam problem based learning meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. j) Problem based learning melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar. Selain itu, ada hal khusus yang membedakan model problem based learning dengan model lain yang sering digunakan guru. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel 2 yang dikemukakan oleh Slavin; Badin, & Moust, bouhuijs, Schmidt, (dalam Amir, 2010: 23). 17 Tabel 2. Perbedaan PBL dengan Metode lain No 1 Metode belajar Ceramah 2 Studi Kasus 3 PBL Deskripsi  Informasi dipresentasikan dan didiskusikan oleh guru dan siswa.  Pembahasan kasus biasanya dilakukan di akhir pembelajaran dan selalu disertai dengan pembahasan di kelas tentang materi (dan sumber-sumbernya) atau konsep terkait dengan kasus.  Informasi tertulis yang berupa masalah diberikan diawal kegiatan pembelajaran. Fokusnya adalah bagaimana siswa mengidentifikasi isu pembelajaran sendiri untuk memecahkan masalah. Materi dan konsep yang relevan ditemukan oleh siswa TujuM 2.3.3 Tujuan Model Problem Based Learningased Le Setiap model pembelajaran memiliki tujuan yang ingin dicapai. Seperti yang diungkapkan Rusman (2010: 238) bahwa tujuan model problem based learning adalah penguasaan isi belajar dari disiplin heuristik dan pengembangan keterampilan pemecahan masalah. Hal ini sesuai dengan karakteristik model problem based learning yaitu belajar tentang kehidupan yang lebih luas, keterampilan memaknai informasi, kolaboratif, dan belajar tim, serta kemampuan berpikir reflektif dan evaluatif. Sedangkan Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 242) mengemukakan tujuan model problem based learning secara lebih rinci yaitu: (a) membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah; (b) belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman nyata; (c) menjadi para siswa yang otonom atau mandiri. 18 2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Model Problem Based Learning Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, sebagaimana model problem based learning juga memiliki kelemahan dan kelebihan yang perlu dicermati untuk keberhasilan penggunaannya. Beberapa kelebihan model problem based learning menurut CIRD (dalam Renjy.Scrib.com, 2012) antara lain: a. Retensi siswa terhadap apa yang dipelajari lebih lama dan kuat. b. Pengetahuan siswa terintegrasi dengan baik. c. Mengembangkan belajar jangka panjang, yaitu bagaimana meniliti, berkomunikasi dalam kelompok, dan bagaimana menangani masalah. d. Meningkatkan motivasi, minat bidang studi, dan kemandirian belajar. e. Meningkatkan interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Berdasarkan hasil penelitian Ward dan Lee (dalam Renjy.Scrib.com, 2012) diketahui kelemahan dari model problem based learning adalah sebagai berikut. a) Waktu yang diperlukan dalam pembelajaran. b) Kendala pada faktor guru yang sulit berubah orientasi dari guru mengajar menjadi siswa belajar. c) Sulitnya merancang masalah yang standar problem based learning. 2.3.5 Langkah-langkah Model Problem Based Learning Model problem based learning memiliki beberapa langkah pada implementasinya dalam proses pembelajaran. Menurut Ibrahim dan Nur (dalam Rusman, 2010: 243) mengemukakan bahwa langkahlangkah problem based learning adalah sebagai berikut. 19 a. Orientasi siswa pada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. b. Mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. c. Membimbing pengalaman individual/kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka lakukan. 2.3.6 Peran Guru dalam Model Problem Based Learning Seorang guru dalam model problem based learning harus mengetahui apa peranannya, mengingat model problem based learning menuntut siswa untuk mengevaluasi secara kritis dan berpikir berdayaguna. Peran guru dalam model problem based learning berbeda dengan peran guru di dalam kelas. Peran guru dalam model problem based learning menurut Rusman (2010: 245) antara lain: a. Menyiapkan perangkat berpikir siswa Menyiapkan perangkat berpikir siswa bertujuan agar siswa benar-benar siap untuk mengikuti pembelajaran dengan model problem based learning. Seperti, membantu siswa mengubah cara berpikirnya, menyiapkan siswa untuk pembaruan dan kesulitan yang akan menghadang, membantu siswa merasa memiliki masalah, dan mengkomunikasikan tujuan, hasil, dan harapan. b. Menekankan belajar kooperatif Dalam prosesnya, model problem based learning berbentuk inquiry yang bersifat kolaboratif dan belajar. Seperti yang diungkapkan Bray, dkk (dalam Rusman, 2010: 235) inkuiri 20 kolaboratif sebagai proses di mana orang melakukan refleksi dan kegiatan secara berulang-ulang, mereka bekerja dalam tim untuk menjawab pertanyaan penting. Sehingga siswa dapat memahami bahwa bekerja dalam tim itu penting untuk mengembangkan proses kognitif. c. Memfasilitasi pembelajaran kelompok kecil dalam model problem based learning Belajar dalam bentuk kelompok lebih mudah dilakukan, karena dengan jumlah anggota kelompok yang sedikit akan lebih mudah mengontrolnya. Sehingga guru dapat menggunakan berbagai teknik belajar kooperatif untuk menggabungkan kelompok-kelompok tersebut untuk menyatukan ide. d. Melaksanakan problem based learning Dalam pelaksanaannya guru harus dapat mengatur lingkungan belajar yang mendorong dan melibatkan siswa dalam masalah. Selain itu, guru juga berperan sebagai fasilitator dalam proses inkuiri kolaboratif dan belajar siswa. 2.4 Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian pustaka di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan sebagai berikut: ”Apabila dalam pembelajaran IPS menggunakan model problem based learning dengan langkah-langkah yang tepat, maka dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013”. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu suatu Action Research yang dilakukan di dalam kelas (Wardhani, 2007: 1.3). Prosedur penelitian yang digunakan berbentuk siklus (cycle). Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali namun dilaksanakan beberapa kali hingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai. Konsep pokok penelitian menurut Arikunto (2006: 16) terdiri dari empat tahapan, yaitu (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi. Alur penelitian dapat dilihat pada bagan siklus berikut. Perencanaan Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan dst Gambar 1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Diadopsi dari Arikunto, (2006: 7) 22 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seorang guru dan siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran Lampung Tengah yang berjumlah 26 orang siswa terdiri dari 13 orang siswa laki-laki dan 13 orang perempuan. 3.2.2 Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di SD Negeri 3 Tempuran Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah. 3.2.3 Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian selama 6 bulan, yaitu terhitung dari bulan Desember 2012 sampai Mei 2013. 3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1 Teknik Nontes Teknik nontes yang digunakan yaitu observasi. Observasi digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dalam kelompok selama pembelajaran IPS dengan menggunakan model problem based learning. 3.3.2 Teknik Tes Tes adalah sekumpulan pertanyaan atau latihan serta alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006: 150). Teknik tes ini digunakan untuk mendapatkan 23 data yang bersifat kuantitatif (angka). Melalui tes ini akan diketahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan model problem based learning. 3.4 Alat Pengumpul Data Pada penelitian ini digunakan alat-alat pengumpul data sebagai berikut. 3.4.1 Lembar Observasi Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan kondisi/interaksi belajar-mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok (Kusumah, 2009: 66). Pada penelitian ini lembar panduan observasi dirancang oleh peneliti. Kegiatan observasi ini dilakukan untuk mengetahui motivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, baik dalam kelompok maupun individu. 3.4.2 Soal-soal Tes Tes dilakukan pada akhir pembelajaran yang bertujuan untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran serta mengetahui ketercapaian indikator pembelajaran IPS dengan menggunakan model problem based learning. 24 3.5 Teknik Analisis Data 3.5.1 Deskriptif Analitik Deskriptif analitik akan digunakan untuk menganalisis data yang menunjukkan dinamika proses yaitu, data tentang motivasi siswa, dan kinerja guru selama pembelajaran berlangsung. a. Nilai motivasi belajar siswa diperoleh dengan rumus: N= x 100 Keterangan: N = nilai yang dicari R = skor yang diperoleh SM = skor maksimum 100 = bilangan tetap (Diadopsi dari Purwanto, 2009: 102) Tabel 3 Kategori Motivasi No 1 2 3 4 5 Rentang nilai 0 – 20 21- 40 41 – 60 61 – 80 81 – 100 Kategori Sangat kurang Kurang Cukup Baik Sangat baik (Dimodifikasi dari Poerwanti, 2008: 7.8) b. Nilai kinerja guru diperoleh dengan rumus: N= x 100 Keterangan : N = nilai yang dicari R = skor yang diperoleh SM = skor maksimum ideal 25 100 = bilangan tetap (Adaptasi dari Purwanto, 2009: 102) Tabel 4 Kategori kinerja guru mengajar berdasarkan perolehan nilai. Nilai kinerja (NK) Yang Kualifikasi Diperoleh 80 ≤ NK ≤ 100 Sangat baik 60 ≤ NK ≤ 80 Baik 40 ≤ NK ≤ 60 Cukup 20 ≤ NK ≤ 40 Kurang 0 ≤NK ≤ 20 Sangat kurang (sumber Prayitno, 2010: 49) 3.5.2 Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif akan digunakan untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa terhadap penguasaan materi yang telah dipelajari. Nilai tes hasil belajar siswa diperoleh dari tes pada setiap siklus. Nilai individual ini diperoleh menggunakan rumus: x 100 S = Keterangan: S : nilai yang dicari atau diharapkan R : skor yang diperoleh N : skor maksimum dari tes 100 : bilangan tetap (Adopsi dari Purwanto, 2009: 112) Nilai rata-rata hasil belajar siswa diperoleh dengan rumus: X= ∑ ∑ x 100 26 Ketuntasan klasikal diperoleh dengan rumus: ∑ × 100 ∑ Tabel 5. Kriteria Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa Tingkat Keberhasilan (%) Arti > 80 % 60-79 % Sangat tinggi Tinggi 40-59 % Sedang 20-39 % Rendah < 20 % (adaptasi dari Aqib, 2009: 41) 3.6 Sangat rendah Urutan Penelitian Tindakan Kelas Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan berbagai kemungkinan yang dianggap perlu. Setiap siklus yang dilaksanakan terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. 3.6.1 Siklus 1 1. Tahap Perencanaan Pada siklus 1 materi pembelajarannya adalah ”Perkembangan teknologi produksi, transportasi dan komunikasi”. Hal-hal yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut. a) Menyiapkan rencana pembelajaran dan bahan ajar yang disesuaikan dengan silabus. b) Menyiapkan instrument penelitian yang terdiri dari lembar observasi untuk kegiatan guru, dan siswa, lembar kerja siswa, dan alat evaluasi. c) Menyiapkan alat, sarana, dan bahan diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. pendukung yang 27 2. Tahap Pelaksanaan Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah mengelola proses pembelajaran IPS dengan menggunakan model problem based learning. Penerapannya mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disesuaikan dengan fase-fase pada model problem based learning. Secara rinci pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Kegiatan awal 1) Pengondisian kelas 2) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 3) Guru memberikan apersepsi yang orientasinya pada pemunculan masalah. b. Kegiatan inti 1. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5–6 orang. Dalam setiap kelompok ditunjuk seorang ketua dan sekretaris. 2. Guru memberikan pengarahan tentang tugas yang harus dikerjakan oleh setiap kelompok 3. Guru membimbing siswa untuk dapat mengumpulkan informasi, seperti meminta siswa mencari referensi di perpustakaan, diskusi, dan bertanya. 4. Setelah melakukan penyelidikan dan diskusi, siswa diminta untuk membuat laporan dari hasil penyelidikannya dalam 28 memecahkan masalah dan mempresentasikannya di depan kelas secara bergantian. 5. Guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi hasil laporan dari kelompok yang sedang presentasi. 6. Guru dan siswa melakukan analisis dan evaluasi terhadap penyelidikan yang telah dilakukan siswa dan hasil laporan. 7. Guru memberikan tes hasil belajar untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi. c. Penutup 1. Guru membimbing siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 2. Guru memberikan penguatan kepada seluruh siswa. 3. Guru menutup pembelajaran. 3. Tahap Observasi a. Melakukan pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan Model problem based learning. b. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model problem based learning dengan lembar observasi yang telah dibuat. 4. Tahap Refleksi a. Menganalisis kekurangan dan keberhasilan guru dalam menerapkan model problem based learning. 29 b. Menganalisis hasil observasi motivasi dan hasil belajar siswa selama pembelajaran dengan Model problem based learning. c. Berdiskusi dengan guru untuk merencanakan perbaikan pembelajaran sebagai tindak lanjut pertemuan selanjutnya. 3.6.2 Siklus 2 1. Perencanaan Pada siklus 2 ini kegiatan dibuat dengan membuat rencana pembelajaran secara kolaboratif antara peneliti dan guru seperti siklus sebelumnya berdasarkan refleksi pada siklus I yang membedakan hanya materinya. 2. Pelaksanaan Pada siklus 2 tindakan yang dilakukan sama seperti siklus I yang disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus I. 3. Observasi Pelaksanaan observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan alat bantu berupa lembar observasi. Lembar observasi yang disiapkan meliputi lembar observasi tentang motivasi siswa dan kinerja guru. 4. Refleksi Peneliti melakukan refleksi terhadap siklus II baik itukelebhan atau kelemahan selama proses pembelajaran berlangsung. Jika pada siklus II pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan telah 30 terjadi peningkatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya, maka penelitian dianggap cukup. 3.7 Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila: 1. Adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran, Lampung Tengah pada setiap siklusnya 2. Pembelajaran di kelas dianggap tuntas apabila ≥75% dari jumlah siswa mencapai nilai ˃ 67 untuk mata pelajaran IPS. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilakukan terhadap siswa kelas IV SD Negeri 3 Tempuran pada pembelajaran IPS dengan menerapkan model problem based learning dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Penerapan model problem based learning dalam pembelajaran IPS, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai motivasi siswa per siklus. Pada siklus I memperoleh nilai sebesar 60,46 dengan kategori “cukup” dan meningkat pada siklus II menjadi 83,61 dengan kategori “sangat baik”. Peningkatan antara siklus I dengan siklus II sebesar 23,15. 2. Penerapan model problem based learning dalam pembelajaran IPS, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa setiap siklusnya. Siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 66,98, kemudian pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 80,67. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I sampai siklus II. Persentase ketuntasan pada siklus I sebesar 46,15% dengan tingkat keberhasilan rendah. Pada siklus II meningkat sebesar 42,31% menjadi 88,46% dengan tingkat keberhasilan tinggi dari jumlah 69 siswa keseluruhan yaitu 26 orang siswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai hasil belajar setiap siklusnya. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas, berikut ini peneliti memberikan saran dalam menerapkan model problem based learning pada pembelajaran IPS antara lain sebagai berikut: 1) Siswa Siswa diharapkan dapat bertanggung jawab akan tugas yang diberikan guru baik tugas individu maupun kelompok dan siswa dapat berkonsentrasi pada proses pembelajaran, khususnya pada saat guru menjelaskan. Siswa harus berani untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran khususnya saat mengemukakan pertanyaan tentang materi yang belum jelas. 2) Guru Guru diharapkan dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif agar siswa lebih siap mengikuti pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Menginovasi pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif yang dapat membuat agar siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Guru harus lebih menguasai materi pembelajaran dan lebih kreatif dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan yang dapat mengemukakan pertanyaan. menstimulasi siswa untuk berani 70 3) Sekolah Sekolah dapat melakukan inovasi pembelajaran dengan penggunaan LKS dan media dalam proses pembelajaran serta dengan pengembangan model-model pembelajaran untuk dapat mengoptimalisasi pelaksanaan pembelajaran. 4) Peneliti selanjutnya Penelitian ini dilakukan pada materi perkembangan teknologi dan permasalahan sosial di kelas IV SD, untuk itu disarankan menggunakan problem based learning pada materi dan kelas lainnya. DAFTAR PUSTAKA Amir, M. Taufiq. 2010. INOVASI PENDIDIKAN MELALUI PROBLEM BASED LEARNING: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. Andayani, dkk. 2009. Pemanfaatan Kemampuan Profesional. Universitas Terbuka. Jakarta Angga. 2012. Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa. http : // angga gocill. blogspot. com/ (diakses pada hari Rabu 23 Januari 2013 @08.00) Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta. Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). DIVA Press. Yogyakarta. Aqib, zainal, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK. Yrama Widya. Bandung Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta. Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual. Refika Aditama. Bandung. Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Kusumah, Wijaya. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. PT Indeks. Jakarta. Purwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Purwanto, Ngalim. 2009. Prinsip-prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Rosda. Bandung 72 Prayitno, Edi & Sri Wulandari. 2010. Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pembelajaran Matematika Di SD (Versi Ebook). Pusat Pengembangan dan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. Yogyakarta. Renjy, Doddy. 2012. Pembahasan. 17 April 2011. http://renjy. Scrib.com/2010/04/17/Pembahasan/ (diakses pada tanggal 15 Desember 2012 @09: 22) Rusman, 2010. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Raja Grafindo persada. Bandung. Sapriya, dkk. 2007. Pengembangan Pendidikan IPS di SD. UPI PRESS. Bandung. Sardiman . 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung. Sugiyanto. 2008. Model-model Pembelajaran Inovatif. Panitia Sertifikasi. Surakarta Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Tim Penyusun. 2006. Standar Isi dan Standar Kompetensi untuk Satuan Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dan Menengah. (Permendiknas No. 22 tahun 2006). Depdiknas. Jakarta. Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Prestasi Pustaka Publiser. Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Th. 2003 Tentang Si

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGS A W PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 1 JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
7
54
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DENGAN MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 TEMPURAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
9
64
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 PENENGAHAN BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
11
47
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DENGAN MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IVB SD NEGERI 3 KARANG ENDAH LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013
1
11
61
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH DENGAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS IVA SD NEGERI 3 KARANG ENDAH LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
10
53
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
5
146
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VB SD NEGERI 1 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
8
40
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SD NEGERI 1 PALAPA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013
9
127
48
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV B SD NEGERI 01 METRO BARAT
1
23
66
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS IV SD NEGERI 2 SABAH BALAU LAMPUNG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
9
53
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SD NEGERI SUKABUMI
1
39
65
PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS X SMA NEGERI 7 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
0
8
58
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 BANJARREJO BATANGHARI LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2014/2015
0
24
52
PENERAPAN MODEL ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD NEGERI 3 TEMPURAN LAMPUNG TENGAH
0
12
106
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPS DI KELAS VII SMP NEGERI 3 PONTIANAK
0
0
11
Show more