TINJAUAN YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH PADA BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) DAN PENGADILAN AGAMA

Gratis

2
15
88
2 years ago
Preview
Full text

DAFTAR PUSTAKA A

  “Memberdayakan peran Badan Arbitrase Syari’ah Nasional (Basyarnas) dalam penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah di luarpengadilan ”. “Sumber Hukum Ekonomi Syari’ah”, Makalah yang disampaikan pada acara Semiloka Syari’ah, Hotel Gren Alia Jakarta, tanggal 20 November2006.

B. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999Jo Undang-Undang No 24 Tahun 2004 Jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo Undang-Undang No 3 Tahun 2006 JoUndang-Undang Nomor 50 tahun 2009 tentang perubahan Kedua Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.

C. Internet

  “Penanganan sengketa ekonomi syariah oleh Pengadilan Agama”.http://www.badilag.net diakses pada tanggal 30 April 2010 Pukul 19:38 WIB. TINJAUAN YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH PADA BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL(BASYARNAS) DAN PENGADILAN AGAMA Oleh ELIYANI SkripsiSebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum Pada Bagian Hukum KeperdataanFakultas Hukum Universitas Lampung FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG MENGESAHKAN 1.

2. Dekan Fakultas Hukum H. Adius Semenguk, S.H., M.S. NIP 19560901 198103 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 18 Nopember 2010

SENGKETA EKONOMI SYARIAH PADA BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) DAN PENGADILAN AGAMA

Nama Mahasiswa : ELIYANINomor Pokok Mahasiswa : 0612011131Bagian : Hukum KeperdataanFakultas : Hukum MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing Amnawaty, S.H., M.H. Rilda Murniati, S.H., M.Hum

2. Ketua Bagian Hukum Keperdataan Prof. Dr. I Gede AB Wiranata, S.H., M.H

NIP 19570424 199010 2 001 NIP 19700925 199403 2 002 NIP 19621109 198811 1 001

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

  Basyarnas lahir ditengah kondisi yang tepat sebagai Lembaga arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa dengan prinsip syariah bagi kegiatan usaha 5adalah berdasarkan kontrak secara tertulis yang dibuat para pihak, baik yang dibuat sebelum timbul sengketa (factum de compromitendo) atau suatu perjanjianarbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (akta kompromis). Pada Basyarnas hukum acara yang mengatur prosedurpenyelesaian sengketanya adalah Peraturan Prosedur Basyarnas sedangkan padaPengadilan Agama adalah hukum acara yang berlaku dan dipergunakan pada lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam UUNo 3 tahun 2006 jo UU No 50 tahun 2009.

B. Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup Penelitian

  Syarat dan prosedur penyelesaian sengketa ekonomi syariah pada Basyarnas dan Pengadilan Agama; Ruang lingkup penelitian ini meliputi lingkup pembahasan dan lingkup bidang ilmu. Lingkup pembahasan dalam penelitian ini adalah dasar hukum kompetensi,syarat dan prosedur serta eksekusi putusan Basyarnas berdasarkan peraturan 8dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah.

C. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah memperoleh gambaran jelas, rinci dan sistematis tentang: 1. Dasar hukum kompetensi Basyarnas dan Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah; 2.

D. Kegunaan Penelitian

  Kegunaan penelitian ini meliputi 2 (dua aspek), yaitu: 1. Secara teoritis;Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk sumbangan pemikiran dalam rangka menambah khazanah keilmuan di bidang hukum keperdataan khususnyamengenai penyelesaian sengketa ekonomi syariah.

2. Secara praktis;

  Memberi gambaran kepada masyarakat mengenai dasar hukum kompetensi Basyarnas dan Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah;c. Memberi informasi kepada masyarakat pada umumnya, khususnya para pelaku bisnis syariah tentang prosedur menyelesaikan sengketa ekonomi syariahmelalui Basyarnas dan Pengadilan Agama; d.

II. TINJAUAN PUSTAKA A

  Sumber Hukum Acara (Hukum Formil)Hukum acara yang berlaku di Pengadilan Agama untuk mengadili sengketa ekonomi syariah adalah hukum acara yang berlaku dan dipergunakan padalingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam UUNo 3 Tahun 2006 jo UU No 50 Tahun 2009. Dalam kaitan dengan peraturan ini terdapat juga hukum acara yang diatur dalam Failissements Verordering (aturan kepailitan) sebagaimana yang diatur dalam Stb 1906 Nomor 348, dan juga terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan dijadikan pedoman dalam praktek Peradilan Indonesia.

3. Ciri-Ciri Ekonomi Syariah

  Memiliki target sasaran/tujuan yang lebih tinggi (al hadaf as sami), berlainan dengan sistem ekonomi non Islam yang semata-mata mengejar kepuasanmateri belaka (al rafahiyah al maddiyah); 18i. Perekonomian yang stabil atau kokoh (iqtisadun bina’un) dengan mengharamkan praktek bisnis yang membahayakan umat manusia baikperorangan maupun kemasyarakatan seperti riba, penipuan dan khamar; j.

4. Bentuk-Bentuk Usaha Ekonomi Syariah

  Berdasarkan penjelasan Pasal 49 huruf i UU No 3 Tahun 2006, dan berdasarkanSEMA No. 8 Tahun 2008 tentang Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syariah, ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurutprinsip syariah, meliputi: a.

B. Sengketa Ekonomi Syariah 1. Lingkup Sengketa Ekonomi Syariah

  Sebuah konflik berubah atau berkembang menjadi sebuah sengketa bilamana pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas ataukeprihatinannya, baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian atau kepada pihak lain (Rachmadi Usman, 2003: 1). Jadi yang dimaksudkan dengan sengketa dalam bidang ekonomisyariah adalah sengketa di dalam pemenuhan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang terikat dalam akad aktivitas ekonomi syariah (Roedjiono, 1997: 2).

2. Lembaga Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah

  Istilah arbitrase berasal dari Bahasa Belanda arbitrate dan Bahasa Inggris arbitration, dalam Bahasa Latin arbitrare yang berarti penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa mereka akan tunduk dan menaati keputusan yang diberikan oleh hakimatau para hakim yang mereka pilih atau tunjuk (Munir Fuady, 2000: 3). Arbitrase merupakan suatu lembaga alternatif yang diselenggarakan oleh dan berdasarkan kehendak serta itikad baik dari pihak yang berselisih agarperselisihan mereka tersebut diselesaikan oleh hakim yang mereka tunjuk dan angkat sendiri, dengan pengertian bahwa putusan yang diambil oleh hakimtersebut merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat kedua belah pihak untuk melaksanakannya (Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, 2001: 16).

c. Melalui Lembaga Peradilan (al-qadha) atau Pengadilan Agama

  Mekanisme penyelesaian sengketa ekonomi syariah melaluiPeradilan Agama bersifat formal, hukum acaranya bersumber dari undang-undangPeradilan Agama (lex spesialis) dan hukum acara peradilan umum pada RBg (1ex 29Peradilan Agama adalah salah satu dari badan-badan Peradilan Khusus di NegaraIndonesia untuk melaksanakan kekuasaan di bidang yudisial. Peradilan agamasebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman mempunyai kompetensi memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara terkait keperdataan Islam (2) Sumber Hukum Pengadilan Agama Perangkat hukum yang digunakan pada Pengadilan Agama dalam proses peradilan(Amnawaty, 2009: 40) adalah sebagai berikut: a.

C. Kompetensi 1. Pengertian Kompetensi

  Pengertian kompetensi yang mendekati dalam aspek hukum adalah kewenangan mengadili perkara atau sengketa dari suatu pengadilan (Abdulkadir Muhammad,2000: 26). Macam-Macam Kompetensi Kompetensi diklasifikasikan menjadi dua jenis (Abdulkadir Muhammad, 2000: 31a. Kompetensi relatif, yaitu kewenangan atau kekuasaan mengadili perkara dari suatu pengadilan daerah ditijau dari domisili daerah atau tempat benda terletak,serta domisili pilihan yang telah ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak(distribution of authority); b.

D. Eksekusi 1. Pengertian Eksekusi

  Eksekusi merupakan realisasi kewajiban pihak yang dikalahkandalam putusan hakim, untuk memenuhi prestasi yang tercantum di dalam putusan hakim (Amnawaty, 2009: 92). Mengenai Eksekusi atau Pelaksanaan Putusandiatur dalam Pasal 54 dan 55 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

2. Asas-Asas dalam Eksekusi

  Putusan yang akan dieksekusi haruslah putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;b. Eksekusi dilaksanakan atas perintah dan di bawah pimpinan ketua Pengadilan yang dilaksanakan oleh panitera dan jurusita pengadilan yang bersangkutan.

E. Kerangka Pikir Kegiatan Ekonomi Syariah Sengketa

  Dalam kegiatan ekonomi syariah juga dimugkinkan terjadinya sengketa antar para pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut, baik sengketa kepentingan maupunsengketa akibat intepretasi yang berbeda terhadap suatu perjanjian yang dibuat. Untuk itu, penelitian ini akan mengkaji penyelesaian sengketa ekonomi syariah melalui Basyarnas dan Pengadilan Agama, dengan kajian pembahasan meliputidasar hukum kompetensi Basyarnas dan Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah, syarat dan prosedur dalam penanganan sengketaekonomi syariah, serta eksekusi putusan Basyarnas dan Pengadilan Agama.

III. METODE PENELITIAN

  Penelitian hukum normatif mengkaji hukum yang dikonsepsikansebagai norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat, dan menjadi acuan perilaku setiap orang (Abdulkadir Muhammad, 2004: 52). Sebagai penelitian normatif maka penelitian ini akan mengkaji dan membahas 35dengan penyelesaian sengketa ekonomi syariah pada Basyarnas dan Pengadilan Agama yang dijadikan bahan acuan dalam menguraikan pokok bahasan.

2. Tipe Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian ini maka tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian hukum deskriptif bersifat pemaparan dan bertujuan untukmemperoleh gambaran (deskripsi) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku ditempat tertentu dan pada saat tertentu, atau mengenai gejala yuridis yang ada,atau peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat (AbdulkadirMuhammad, 2004: 50)Berdasarkan tipe penelitian deskriptif maka penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara jelas dan terperinci mengenai dasar hukum kompetensi,syarat dan prosedur penyelesaian sengketa ekonomi syariah pada Basyarnas dan Pengadilan Agama serta eksekusi putusan Basyarnas dan Pengadilan Agama.

B. Pendekatan Masalah

  Pendekatan masalah merupakan proses pemecahan atau penyelesaian masalah melalui tahap yang ditentukan sehingga mencapai tujuan penelitian (AbdulkadirMuhammad, 2004: 112). Pendekatan masalah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis teoritis, yaitu pendekatan masalah yang dilakukan berdasarkan sumberhukum secara teoritis melalui peraturan perundang-undangan yang terkait, buku- 36buku serta bahan hukum sekunder yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.

C. Data dan Sumber Data

  Datasekunder adalah data yang diperoleh dari studi pustaka dan studi dokumen dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari berbagai sumber bacaan berupabahan pustaka yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Bahan hukum sekunder (secondary law material), yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer berupa literatur-literatur hukum maupun literatur lainnya yang berhubungan dengan penyelesaian sengketa ekonomi syariah pada Basyarnas dan PengadilanAgama; 3.

E. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data 1

Metode Pengumpulan DataUntuk memperoleh data yang benar-benar akurat dan sesuai dengan yang diharapkan, maka dalam penelitian ini digunakan metode pengumpulan datamelalui studi pustaka. Studi pustaka adalah pengkajian informasi tertulis mengenai hukum yang berasal dari berbagi sumber dan dipublikasikan secara luas 38studi pustaka tersebut dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut: penentuan sumber data sekunder (bahan hukum primer dan sekunder); identifikasi datasekunder (bahan hukum primer dan sekunder) yang diperlukan; inventarisasi data yang sesuai dengan rumusan masalah dengan cara pengutipan atau pencatatan;serta pengkajian data yang sudah terkumpul guna menentukan relevansinya dengan kebutuhan dan rumusan masalah (Abdulkadir Muhammad, 2004: 81).

2. Metode Pengolahan Data

Setelah data terkumpul kemudian diadakan pengolahan data dengan langkah- langkah sebagai berikut:a Seleksi data, yaitu memeriksa data yang diperoleh secara selektif untuk mengetahui apakah ada data yang salah dan apakah data tersebut sudah sesuaidengan ketentuan dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini; b Klasifikasi data, yaitu menempatkan data sesuai dengan kelompok dan aturan yang telah diterapkan dalam pokok bahasan sehingga diperoleh data yangobjektif dan sistematis; c Sistematika data, yaitu penyusunan data berdasarkan urutan data yang telah ditentukan yang sesuai dengan konsep, tujuan dan bahasan dengan maksuduntuk memudahkan dalam menganalisis data.

F. Analisis Data

  Analisis data yaitu menguraikan data dalam bentuk rumusan angka-angka, sehingga mudah dibaca dan diberi arti bila data itu kuantitatif dan menguraikan 39data dalam bentuk kalimat yang baik dan benar, sehingga mudah dibaca dan diberi arti (diinterpretasikan) bila data itu kualitatif (Abdulkadir Muhammad, 2004: 91). Pada penelitian ini, data yang terkumpul dan tersusun secara sistematis kemudian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif, artinya menguraikan datasecara bermutu dalam kalimat yang teratur, runtun, tidak tumpang tindih, dan efektif sehingga memudahkan pembahasan dan pemahaman serta intepretasi data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A

  Pasal 3 UU No 30 Tahun 1999 menyatakan Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam 42telah sepakat untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase dan dituangkan ke dalam perjanjian yang dibuat sebelum terjadinya sengketa (pactum de compromitendo) maka pengadilan tidak berwenang menangani sengketa tersebut. Bahkan menurut Pasal 11 UU No 30 Tahun 1999, adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaiansengketa atau beda pendapat yang termuat dalam perjanjiannya ke PengadilanNegeri dan Pengadilan Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan di dalam suatu penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase,kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan dalam UU No 30 Tahun 1999.

d. Peraturan Prosedur Basyarnas

  Pemberian pendapat yang mengikat dari lembaga arbitrase juga diatur dalam Pasal 52 UU No 30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari lembaga arbitraseatas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa Basyarnas berkompetensi menangani sengketa ekonomi syariah berdasarkan UU No 14 Tahun 1970 Jo UUNo 35 Tahun 1999 Jo UU No 4 Tahun 2004 Jo UU No 48 Tahun 2009, UU No 30Tahun 1999, UU No 21 Tahun 2008 dan Peraturan Prosedur Basyarnas sebagai aturan tekhnis dalam menangani sengketa.

2. Dasar Hukum Kompetensi Pengadilan Agama dalam Menangani Sengketa Ekonomi Syariah

  Undang-Undang No 7 Tahun 1989 Jo Undang-Undang No 3 Tahun 2006 Jo Undang-Undang No 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama Lahirnya UU No 3 Tahun 2006 membawa perubahan yang fundamental dalam tugas dan kewenangan Pengadilan Agama yaitu terkait ekonomi syariah. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukan bahwa Pengadilan Agama berwenang menangani sengketa ekonomi syariah berdasarkan UU No 14 Tahun1970 Jo UU No 35 Tahun 1999 Jo UU No 4 Tahun 2004 Jo UU No 48 Tahun2009, UU No 7 Tahun 1989 Jo UU No 3 Tahun 2006 Jo UU No 50 Tahun 2009 dan UU No 21 Tahun 2008 hal ini menjadi wacana baru di Pengadilan Agama 51shadaqoh.

B. Syarat dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah pada Basyarnas dan Pengadilan Agama 1. Syarat dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah pada Basyarnas

  Dan Pasal 2 Peraturan ProsedurBasyarnas yang menyatakan kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa kepada Basyarnas dengan mencantumkan klausula arbitrase dalamperjanjian para pihak atau dalam perjanjian tersendiri yang dibuat dan disetujui oleh para pihak setelah sengketa timbul. Terhadap bantahan yang diajukan termohon, pemohon dapat mengajukan jawaban (replik) yang dibarengidengan tambahan tuntutan dan hal itu mempunyai hubungan yang sangat erat langsung dengan pokok yang disengketakan serta termasuk dalam yurisdiksiBasyarnas, baik tuntutan konvensi, rekonvensi maupun addional claim akan diperiksa dan diputus oleh arbiter atau majelis terlebih dulu akan mengusahakantercapainya perdamaian.

2. Syarat dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah pada Pengadilan Agama

  Dalam hal ini terkait dengan asas personalitas ke Islaman, yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepadakekuasaan peradilan agama, hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam atau secara suka rela tunduk terhadap hukum Islam hal ini tertera dalampenjelasan umum angka 2 alinia ketiga dan Pasal 49 Ayat (1) UU No 7 Tahun 1989 Jo UU No 3 Tahun 2006 Jo UU No 50 Tahun 2009 (Amnawaty, 2009: 51). Hal ini berdasarkan Pasal 54 UU No 7 Tahun 1989 Jo UU No 3 Tahun 2006 JoUU No 50 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa hukum acara yang berlaku padaPengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, kecuali yangtelah diatur secara khusus dalam undang-undang ini.

C. Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) dan Pengadilan Agama 1. Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas)

  Memastikan apakah sengketa tersebut adalah sengketa di bidang ekonomi syariah dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya pihak yang bersengketa; c. Dalam Pasal 59 Ayat (1) UU No 48 Tahun 2009 menyatakan bahwa arbitrase merupakan cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luarpengadilan yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh paran pihak yang bersengketa.

2. Eksekusi Putusan Pengadilan Agama

  Dan setiap perintahyang dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan Agama dan atau panitera harus dalam bentuk tertulis dan memperhatikan tenggang waktu sekurang-kurangnya 3 (tiga)hari sebelum dijalankan suatu tindakan eksekusi harus disampaikan dan diketahui pihak tereksekusi (Amnawaty, 2009: 93). Seperti yang halnya dalam Pasal 54 UU No 48 Tahun 2009 yang menyatakan pelaksanaanputusan pengadilan dalam perkara perdata dilakukan oleh panitera dan juru sita dipimpin oleh ketua pengadilan.

RIWAYAT HIDUP

  Puji syukur kepada ALLAH SWT, Tuhan semesta alam penguasa siang dan malam yang selalu memberikan limpahan rahmat, hidayah serta inayahNyakepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan penulisan skipsi ini yang berjudul“Tinjauan Yuridis Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah pada Badan ArbitraseSyariah Nasional (Basyarnas) dan Pengadilan Agama ”. Melalui skripsi ini peneliti banyak belajar sekaligus memperoleh ilmu dan pengalaman, yang belum pernahdiperoleh sebelumnya dan diharapkan ilmu dan pengalaman tersebut kelak dapat bermanfaaat dimasa yang akan datang.

1. Bapak Hi. Adius Semenguk, S.H., M.S., Dekan Fakultas Hukum Universitas

2. Prof. Dr. I Gede Arya Bagus Wiranata, S.H., M.H., Ketua Bagian Hukum

  Seluruh karyawan dan sahabat-sahabat di PT PLN Sektor Pembangkitan Bandar Lampung, terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan, semangat dan dorongan untuk terus maju, dan “listrik untukkehidupan yang lebih baik”; 9. Teman kuliah, teman sekolah, teman kosan Angan saka (Echi, Eka, Vita, Esti, Siti, Umi, Ambar, Devi, Novi) dan teman menuntut ilmu dimanapun berada tanpa terkecuali, serta seluruh pihak yang telah banyak membantu, terimakasih banyak atas bantuan, semangat, motivasi, dan doa kalian, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan kalian dengan balasan yang jauh lebih baik.

V. SIMPULAN

  Dasar Hukum kompetensi Basyarnas dalam menangani sengketa ekonomi syariah adalah UU No 14 Tahun 1970 Jo UU No 35 Tahun 1999 Jo UU No 4Tahun 2004 Jo UU No 48 Tahun 2009, UU No 30 Tahun 1999, UU No 21Tahun 2008 dan Peraturan Prosedur Basyarnas sebagai aturan tekhnis dalam menangani sengketa. Dalam penyelesaian secara litigasi dasar hukumPengadilan Agama berwenang menangani sengketa ekonomi syariah adalahUU No 14 Tahun 1970 Jo UU No 35 Tahun 1999 Jo UU No 4 Tahun 2004 JoUU No 48 Tahun 2009, UU No 7 Tahun 1989 Jo UU No 3 Tahun 2006 Jo UUNo 50 Tahun 2009 dan UU No 21 Tahun 2008; 2.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) SEBAGAI LEMBAGA ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PEMBIAYAAN BERDASAR AKAD MUSYARAKAH
1
14
20
EMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE OLEH PENGADILAN NEGERI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA
0
7
17
KEKUATAN HUKUM PUTUSAN BADAN ARBITRASE SYARI’AH NASIONAL (BASYARNAS) TERHADAP PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERBANKAN SYARI’AH
0
7
18
KEKUATAN PEMBUKTIAN ALAT BUKTI SURAT DALAM PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA (BANI) (Studi Putusan BANI Nomor 397/V/ARB-BANI/2011)
5
62
11
TINJAUAN YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH PADA BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) DAN PENGADILAN AGAMA
0
8
13
TINJAUAN YURIDIS PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH PADA BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS) DAN PENGADILAN AGAMA
2
15
88
PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN MELALUI BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA (BANI)
3
61
66
PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2008
1
28
72
87 PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH MELALUI JALUR NON LIGITASI Parman Komarudin
1
3
19
PENGUATAN KERANGKA HUKUM TERKAIT PENYELESAIAN SENGKETA PASAR MODAL SYARIAH PADA PENGADILAN AGAMA STRENGTHENING LEGAL FRAMEWORK FOR SHARIA CAPITAL MARKET DISPUTE RESOLUTION IN RELIGIOUS COURT
0
0
20
PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH DI PENGADILAN AGAMA
0
0
22
PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS SYARIAH MELALUI BADAN ARBITRASE SYARIAH NASIONAL (BASYARNAS)
0
0
10
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH DI PENGADILAN AGAMA THE SETTLEMENT FOR SHARIAH ECONOMY DISPUTES WITHIN RELIGIOUS COURT
0
0
13
PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
1
2
12
PARADIGMA PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA
0
0
19
Show more