Prevalensi Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Tahun 2012-2013

Gratis

0
74
54
2 years ago
Preview
Full text

PREVALENSI KARSINOMA NASOFARING DI RSUP H. ADAM MALIK TAHUN 2012-2013 OLEH: MUHAMMAD IHSAN 110100033FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

  ADAM MALIK TAHUN 2012-2013KARYA TULIS ILMIAH Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran OLEH:MUHAMMAD IHSAN 110100033 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRAK Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan mayoritas penderita KNF adalah Laki-laki (76.15%) pada usia produktif (77.77%).

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kemudahan dan kelancaran sehingga penulis dapatmenyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Prevalensi Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Sahabat penulis Muhammad Ikhsan Chaniago dan Handan Risky yang senantiasa memberikan dukungan serta doa hingga peneliti tetapbersemangat dan pantang menyerah dalam pelaksanaan dan penyelesaian penelitian ini.

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 : Riwayat Hidup Peneliti Lampiran 2 : Ethical ClearanceLampiran 3 : Surat Izin Penelitian Lampiran 4 : Log BookLampiran 5 : Hasil Output SPSS ABSTRAK Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan mayoritas penderita KNF adalah Laki-laki (76.15%) pada usia produktif (77.77%).

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Berdasarkan data laboratorium patologi anatomik tumor ganas nasofaring sendiri selalu berada dalam kedudukan lima besar dari tumorganas tubuh manusia bersama tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit (Roezin dan Adham, 2007). Sebagai daerah kejadian tertinggi didunia, di bagian tenggara asia karsinoma nasofaring adalah penyakit ke-6 yang paling sering terjadi pada pria (Jemal et al, 2011).

1.2 Perumusan Masalah

  1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan UmumMengetahui prevalensi karsinoma nasofaring di RSUP. Bahan masukan kepada peneliti lain untuk melakukan penelitian berkaitan dengan karsinoma nasofaring.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2. Karsinoma Nasofaring

  Dilihat dari daerah yang sering terjadi, dapat dipastikan penderita KNF terbanyak adalah orang Asia, khususnya ras Mongoloid sehingga kekerapancukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand,Malaysia, Singapura, dan Indonesia. KNF juga ditemukan pada orang eskimo di Alaska dan Greenland yang diduga penyebabnya adalah karena merekamemakan makanan yang diawetkan di musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin.

2.3 Etiologi

  Antibodi Anti-EBVditemukan lebih tinggi pada pasien karsinoma nasofaring, pada pasien karsinoma nasofaring terjadi peningkatan antibodi IgG dan IgA, hal inidijadikan pedoman tes skrining karsinoma nasofaring pada populasi dengan risiko tinggi. Kebanyakan penderita karsinoma nasofaring Konsumsi tembakau dan alkohol yang terus menerus 95% berhubungan dengan kasus karsinoma sel skoamusa kepala dan leher.peningkatan konsumsi tembakau dan alkohol juga meningkatkan resiko terkena karsinoma sel skoamusa (Syah & Lydiatt, 1995).

8. Pajanan Lain

  Sebuah meta analisis pada populasi di Cina Selatan menunjukkan peningkatan karsinoma nasofaring pada HLAA2, B14 danB46, dan penurunan karsinoma nasofaring pada HLA-A11, B13 dan B22. Variasi Genetik Lain Polimorfi di sitokrom P450 2E1 (CYP2E1) dan CYP2A6 dan ketiadaan Glutation S-transferase M1 (GSTM1) dan atau GSTT1berhubungan dengan peningkatan risiko dua sampai lima kali lipat terkena Suatu penelitian di Makassar menunjukkan 20 dari 48 sampel (41,7%) hanya berpendidikan sekolah dasar.

2.4 Klasifikasi dan Histopatologi

  Tipe 2 dan 3 mungkin disertai dengan inflamasi infiltrasi limfosit, sel plasma, dan eosinofil, menyebabkan limfoepitelioma. 2 pola histologimungkin terjadi : tipe Regaud, yaitu sekumpulan sel epitel yang dikelilingi oleh limfosit dan jaringan ikat, dan tipe schminke, yaitu sel tumor berdifusi dengan selinflamasi.

2.5 Gejala Klinis Karsinoma Nasofaring

  Sekitar 3 dari 4 penderita karsinoma nasofaring mengeluh ada benjolan di leher saat pertama kali memeriksakan diri pada dokter. Gejala lain yang mungkin terjadi pada KNF : (terutama bila haya di satu sisi) Menurut Sudyartono dan Wiratno (1996) dan Ahmad (2002) dalamNasution (2008), Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama aliran getah bening atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring.

2.6 Stadium Karsinoma Nasofaring

  Pada tahap lanjut akan semakin mudah utuk mencurigai KNF dengan adanya keluhan seperti benjolan di leher (akibat pembesaran kelenjargetah bening), gejala kelainan saraf kranial atau gejala akibat metastase jauh. CT scan dan MRI kepala dan leher.

2.8.1 Radioterapi

  Tidak seperti kanker kepala dan leher yang lain, radioterapi adalah pengobatan utama pada KNF dibandigkan dengan pembedahan dikarenakan KNFbersifat sangat radiosensitif. Radioterapi adalah pengobatan utama untuk semua 2.8.2 Kemoterapi Kemoterapi induksi adalah alternatif pengobatan lain untuk KNF dengan stadium lanjut.

2.8.4 Imunoterapi

  Hanya saja pada stadium I biasanya tidak menujukkan gejala atau gangguan sehingga kebanyakanpasien memeriksakan diri setelah sampai ke stadium yag lebih lajut Yang mana sudah menimbulkan gejala atau gangguan (biasanya benjolan di leher). Angkaharapan hidup penderita KNF dalam jangka waktu 5 tahun menurut AJCC CancerStaging Manual edisi ke-7 : Stadium Angka Harapan Hidup I 72% II 64% III 62% IV 38%Suatu penelitian di Mesir pada tahun 2000 menyatakan bahwa harapan hidup keseluruhan penderita KNF untuk 5-10 tahun kedepan adalah 45%.

2.11 Komplikasi

  Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama aliran darah atau getah bening dan mengenai organtubuh yang jauh dari nasofaring. Beberapa komplikasi akibat radioterapi seperti : Mual-muntah Kerusakan beberapa saraf Komplikasi yang umum terjadi pada pembedahan leher adalah gangguan pada telinga, gangguan pada saat mengangkat tangan ke atas kepala, dankelemahan pada bibir bawah.

2.12 Pencegahan

  Salah satu pencegahan KNF adalah dengan pemberian vaksinasi. Juga penerangan tentang kebiasaan hidup yang salah, megubah cara memasak danpilihan makanan, dan menghindari berbagai faktor resiko yang ada.

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

  Keluhan utama 3.2 Defenisi Operasional Tabel 3.1 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran No Defenisi Operasional Alat Hasil Ukur Skala Ukur 1 Karsinoma nasofaring (KNF) Data Nominal adalah tumor yang timbul dari sel rekamepitel yang melindungi dan medis melintasi nasofaring. Perempuan suatu spesies sebagai sarana atau medissebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk 3 Usia adalah satuan waktu yang mengukur keberadaan suatu bendaatau makhluk baik yang hidup maupun yang mati.

BAB 4 METODE PENELITIAN

  Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional inidilakukan terhadap sekumpulan data yang biasanya cukup banyak, dalam jangka waktu tertentu yang memiliki tujuan utama untuk melihat ada atau tidaknyapasien yang terdiagnosa kanker nasofaring di RSUP H. Populasi dan Sampel Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh data pasien yang mengalami kanker nasofaring di RSUP H.

4.3.1. Populasi Target

  Populasi Terjangkau Populasi terjangkaunya adalah seluruh data rekam medik pasien yang terdiagnosa kanker rongga nasofaring pada periode 1 Januari 2012 sampai 31Desember 2013 di RSUP H. Data yang diharapkan adalah informasi tentang data pasien kankernasofaring mulai dari jenis kelamin, usia, ras/suku, pekerjaan, tipe histopatologis, dan keluhan utamanya.

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

  Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Penderita KNF Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persen Laki-laki 281 76.2%Perempuan 88 23.8% Jumlah 369 100% Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Penderita KNF Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persen Muda (<30 tahun) 23 6.2%Produktif (30-60 tahun) 287 77.8%Tua (>60 tahun) 59 16% Jumlah 369 100% Dari tabel 5.2 menunjukkan penderita KNF paling banyak dari usia produktif (77.8%) dan yang paling sedikit adalah usia muda (6.2%). Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Penderita KNF Berdasarkan ras/suku Ras/suku Frekuensi Persen Batak 83 24.1%Karo 39 8.9%Mandailing 28 7.6%Nias 12 3.3%Dairi 8 2.2%Aceh 46 12.5%Jawa 28 7.6%Tidak teridentifikasi 125 33.9% Jumlah 369 100% Dari tabel 5.2 menunjukkan penderita KNF paling banyak dari suku batak (24.1%) dan yang paling sedikit dari suku Dairi (2.2%).

5.2 Pembahasan

  Tipe 2 adalah yang kedua paling sering ditemui (10%) dan tipe 1 adalah yang palingsedikit ditemui (5.1%). Nasution (2008) dari penelitiannya mendapatkan penderitaKNF dengan jenis paling banyak yaitu karsinoma sel tanpa diferensiasi (tipe 3) sebanyak 38,6%, diikuti karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi sebanyak33,3% (tipe 2) dan karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi (tipe 1) sebanyak28,1%.

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian pada penderita KNF mulai bulanJanuari 2012 sampai bulan Desember 2013 didapatkan 369 penderita, dan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1) Jenis kelamin paling sering dijumpai adalah laki-laki (76.2%)2) Kelompok usia yang paling sering dijumpai adalah usia produktif (77.8%)3) Ras/suku yang paling banyak dijumpaiadalah batak (24.1%)4) Pekerjaan yang paling sering dijumpai adalah wiraswasta (32.8%)5) tipe histopatologis yang paling banyak adalah tipe 3 (22.2%)6) keluhan utama yang paling sering dijumpai adalah benjolan di leher (38.2%) 6.2 Saran 1) diharapkan tenaga medis lebih memahami mengenai KNF agar KNF lebih cepat terdeteksi sehingga tidak berlanjut ke stadium yang lebih tinggi danbisa memberikan prognosis yang lebih baik.2) Kepada pihak rumah sakit diharapkan agar lebih melengkapi data rekam medis karena hal ini sangat berguna baik bagi penderita maupun peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

  Karsinoma Nasofaring in : Buku Ajar Telinga th Hidung Tenggorok Kepala dan Leher pp 182-187. A., 2012, Korelasi antara Latent Membrane Protein-1 Virus Epstein-Barr dengan P53 pada Karsinoma Nasofaring.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :Umur : Jenis kelamin :Pekerjaan : Dengan ini menyatakan BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA* untuk menjadi sampel dalampenelitian “Perbandingan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Pasien SkizofrenikBerdasarkan Umur dan Jenis Kelamin yang Telah Diterapi Antipsikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara ” dan disertakan dalam data penelitian. Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :Umur : Jenis kelamin :Pekerjaan : Dengan ini menyatakan BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA* untuk menjadi sampel dalampenelitian “Perbandingan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Pasien SkizofrenikBerdasarkan Umur dan Jenis Kelamin yang Telah Diterapi Antipsikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara ” dan disertakan dalam data penelitian.

Dokumen baru

Download (54 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Korelasi Ekspresi Cyclooxygenase-2 Dengan Microvessel Density Pada Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan
1
60
94
Ekspresi p38 Mitogen Activated Protein Kinase (MAPK) Pada Penderita Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan
1
87
87
Prevalensi Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Tahun 2012-2013
0
74
54
Gambaran Beberapa Faktor Risiko Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan di Tahun 2014
1
40
68
Korelasi Antara Ekspresi TNF-α dan Microvessel DensityPada Penderita Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan
0
54
103
Profil Penderita Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode Januari – Desember Tahun 2012
0
46
69
Gambaran CT Scan Nasofaring Potong Axial Pada Penderita Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan Pada Tahun 2010-2012
6
85
70
Gambaran Penderita Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2006-2010
1
65
81
Korelasi Ekspresi Cyclooxygenase-2 Dengan Microvessel Density Pada Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
25
Korelasi Ekspresi Cyclooxygenase-2 Dengan Microvessel Density Pada Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karsinoma Nasofaring - Korelasi Ekspresi Cyclooxygenase-2 Dengan Microvessel Density Pada Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan
1
1
17
Korelasi Ekspresi Cyclooxygenase-2 Dengan Microvessel Density Pada Karsinoma Nasofaring Di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
15
Ekspresi p38 Mitogen Activated Protein Kinase (MAPK) Pada Penderita Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
17
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karsinoma Nasofaring - Ekspresi p38 Mitogen Activated Protein Kinase (MAPK) Pada Penderita Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
17
Ekspresi p38 Mitogen Activated Protein Kinase (MAPK) Pada Penderita Karsinoma Nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan
0
0
15
Show more