Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Pdrb, Dan Upah Rill Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Di Sumatera Barat

 3  12  169  2017-05-18 06:06:37 Report infringing document
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting mengingat erat kaitannya dengan pengangguran baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam masalah ketenagakerjaan menunjukkan bahwa semakin tinggi angka pengangguran maka akan meningkatkan probabilitas kemiskinan, kriminalitas, dan fenomena-fenomena sosial-ekonomi di masyarakat. Pembangunan merupakan upaya perubahan struktural yang dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan kesempatan kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan penduduk. Tujuan pembangunan Indonesia itu sendiri adalah untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan adalah dengan pengentasan kemiskinan, pemerataan pendapatan serta penyediaan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun demikian tidak semua penduduk memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses dan kegiatan pembangunan, sehingga masih ada yang tertinggal dan tidak terangkat dari kemiskinan. Ketenagakerjaan masih menjadi salah satu prioritas perhatian pemerintah, hal ini dapat tercermin pada: 2 1. Ketenagakerjaan merupakan salah satu sasaran pembangunan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, sesuai triple track strategy (pro poor, pro growth, pro job). 2. Begitu pula pada RPJMN 2010-2014, sasaran pemerintah pada bidang ketenagakerjaan yaitu: a. Menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 5-6 persen. b. Menyelesaikan masalah ketenagakerjaan antara lain:  Terbatasnya kesempatan untuk memperoleh Pekerjaan yang layak  Kualitas angkatan kerja yang rendah  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda yang tinggi.  TPT terdidik (di atas SLTA) masih tinggi. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia merupakan salah satu masalah makroekonomi. Dilihat dari dimensi regional beberapa permasalahan pengangguran adalah tidak adanya konvergensi dan tingkat pengangguran provinsi menunjukkan kecenderungan yang meningkat (Sari, 2011). Tabel 1.1 Jumlah dan Persentase Pengangguran Terbuka Indonesia Dirinci Menurut Jenjang Pendidikan (juta orang) JENJANG PENDIDIKAN Februari 2010 Penganggur % TPT Terbuka Agustus 2010 Penganggur % TPT Terbuka Februari 2011 Penganggur % TPT Terbuka (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) < SD SMP SMA SMK DIPLOMA I/II/III UNIVERSITAS 2,13 1,65 2,11 1,34 0,54 0,82 24,80 19,21 24,56 15,60 6,29 9,55 2,16 1,66 2,15 1,20 0,44 0,71 25,96 19,95 25,84 14,42 5,29 8,53 1,92 1,80 2,27 1,08 0,44 0,61 23,65 22,17 27,96 13,30 5,42 7,51 TOTAL 8,59 7,41 8,32 7,14 8,12 6,80 Sumber : BPS, diolah. 3 Berdasarkan Tabel 1.1 terlihat bahwa secara total persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia sampai dengan bulan Februari 2011 sebesar 6,80 persen. Apabila kita bandingkan dengan target RPJMN 2010-2014 yang ingin dicapai maka dapat dikatakan bahwa TPT Indonesia masih jauh dari angka yang diharapkan dimana TPT terdidik (di atas SMA) masih tinggi. Pembangunan di Provinsi Sumatera Barat yang berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pencapaian hasil-hasil pembangunan yang sangat dirasakan masyarakat merupakan agregat pembangunan dari 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yang tidak terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat. Namun di sisi lain berbagai kendala dalam memaksimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber modal masih dihadapi oleh penentu kebijakan di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota. Salah satu masalah yang perlu disikapi secara tegas dan bijak adalah masalah ketenagakerjaan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Provinsi Sumatera Barat dari tahun ke tahun selalu menunjukkan adanya peningkatan. Terjadi sekali penurunan yaitu pada tahun 2009 dimana pertumbuhan ekonominya tidak sepesat tahun 2008, hal ini dikarenakan terjadi krisis global yang melanda negara-negara di dunia yang juga berimbas pada Indonesia. Kemudian di tahun 2010 pertumbuhan ekonomi kembali menunjukkan adanya peningkatan. Seperti terlihat pada Gambar 1.1 bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Tahun 2010 sebesar 6,10 persen sedangkan Sumatera Barat sebesar 5,93 persen. 4 7,00 6,88 6,35 6,14 6,00 6,10 6,34 6,01 5,73 5,93 5,69 5,50 5,00 4,58 Indonesia Sumatera Barat 4,28 4,00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Sumber: BPS, diolah. 8,50 8,39 8,14 8,00 8,04 7,97 7,90 7,87 7,57 7,50 7,41 7,14 7,14 7,00 6,95 Indonesia 6,80 Sumatera Barat 6,50 08 2008 02 2009 08 2009 02 2010 08 2010 02 2011 Gambar 1.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia dan Sumatera Barat Periode Agustus 2008 s/d Februari 2011 Sumber: BPS, diolah. 5 Menurut Wallis (2002), pertumbuhan ekonomi secara otomatis akan meningkatkan upah pekerja dan penyerapan tenaga kerja, karena meningkatnya permintaan tenaga kerja. Besarnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia dan Sumatera Barat dapat dilihat dari tingginya angka Tingkat Pengangguran Terbuka. Berdasarkan Gambar 1.2 terlihat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Sumatera Barat sangat berfluktuasi dibandingkan dengan TPT Indonesia. Pada periode Februari Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Sumatera Barat sebesar 7,14 persen di atas angka Indonesia yang sebesar 6,80 persen. Baik TPT Indonesia maupun Sumatera Barat keduanya menunjukkan angka yang sangat tinggi jika dibandingkan target yang telah ditetapkan dalam RPJM 20102014 yang sebesar 5 s/d 6 persen. 1.2 Perumusan Masalah Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, akan tetapi di sisi lain peningkatan ini justru tidak dapat menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu jumlah penduduk juga terus bertambah yang menumpuk pada usia produktif, peningkatan jumlah angkatan kerja tanpa diikuti dengan penyediaan lapangan kerja akan mengakibatkan jumlah pengangguran semakin bertambah. Tenaga kerja sebagai salah satu dari faktor produksi merupakan unsur yang penting dan paling berpengaruh dalam mengelola dan mengendalikan sistem ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi maupun investasi. Keterlibatannya dalam proses produksi menyebabkan mereka menginginkan 6 pendapatan yang memadai, tingkat keamanan dan kenyamanan kerja, serta keuntungan lain yang dapat diperoleh. Untuk mencari solusi yang tepat dari permasalahan tersebut dibutuhkan kajian mengenai ketenagakerjaan yaitu penyerapan tenaga kerja beserta faktorfaktor yang memengaruhi. Kajian tersebut juga berguna untuk merumuskan strategi kebijakan dalam ketenagakerjaan pada masa yang akan datang. Bertolak dari uraian di atas, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat? 2. Bagaimana pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat, dan seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor tersebut? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat. 2. Menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat serta besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tersebut. 1.4 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan 7 bahan sekaligus rekomendasi mengenai strategi kebijakan yang optimal untuk mengurangi tingginya pengangguran di Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan bagi pembaca diharapkan bisa menjadi informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian sejenis atupun lebih lanjut. Bagi penulis sendiri penelitian ini dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran dalam penerapan ilmu yang telah dipelajari di bidang ekonomi. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini hanya akan membahas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja mencakup seluruh sektor baik formal maupun informal. Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penyerapan tenaga kerja dibatasi pada pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil. Objek penelitian ini adalah Provinsi Sumatera Barat dengan periode waktu Tahun 2005-2010. Adapun data diperoleh dari publikasi-publikasi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS RI) maupun BPS Provinsi Sumatera Barat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Ketenagakerjaan Penduduk suatu negara dapat dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Tenaga kerja adalah penduduk yang berusia kerja (15 tahun ke atas), sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003. Penduduk usia kerja dikelompokkan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Dikatakan angkatan kerja adalah penduduk yang termasuk usia kerja yang mempunyai pekerjaan, atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Bukan angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja atau sedang tidak bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan karena sekolah, mengurus rumah tangga serta menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya misal pensiunan. Tenaga kerja adalah salah satu dari faktor produksi yang penting, karena produktivitas dari faktor produksi lain bergantung pada produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan produksi. Selain itu, tenaga kerja adalah penggerak pembangunan. Tenaga kerja diartikan sebagai penduduk usia kerja, yaitu penduduk yang berusia dari 15-64 tahun. Sebelum tahun 1997, definisi tenaga kerja adalah mereka yang berusia 10 tahun ke atas (BPS, 2010). 9 Konsep bekerja menurut BPS adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh dan membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Gambar 2.1 Diagram Ketenagakerjaan Sumber : Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 2.1.2 Pengeluaran Pemerintah Kegiatan pemerintah berfungsi untuk menyediakan jasa pelayanan umum bagi masyarakat yang secara ekonomis sulit dinilai, seperti melaksanakan administrasi pemerintah, menjaga kestabilan dan keamanan negara, meningkatkan 10 pendidikan dan kesehatan masyarakat, mengatur kebijaksanaan perekonomian dengan negara lainnya. Keynes berpendapat tingkat kegiatan dalam perekonomian ditentukan oleh perbelanjaan agregat. Pada umumnya perbelanjaan agregat dalam suatu periode tertentu adalah kurang dari perbelanjaan agregat yang diperlukan untuk mencapai tingkat full employment. Keadaan ini disebabkan karena investasi yang dilakukan para pengusaha biasanya lebih rendah dari tabungan yang akan dilakukan dalam perekonomian full employment. Keynes berpendapat sistem pasar bebas tidak akan dapat membuat penyesuaian-penyesuaian yang akan menciptakan full employment. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan kebijakan pemerintah. Tiga bentuk kebijakan pemerintah yaitu kebijakan fiskal, moneter dan pengawasan langsung. Kebijakan fiskal melalui pengaturan anggaran pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Dalam masa inflasi biasanya kebijakan fiskal akan berbentuk mengurangi pengeluaran pemerintah dan meningkatkan pajak. Sebaliknya apabila pengangguran serius maka pemerintah berusaha menambah pengeluaran dan berusaha mengurangi pajak (Mankiw, 2007). 2.1.3 PDRB Indikator yang sering dipakai untuk menilai kinerja perekonomian suatu negara adalah Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan indikator untuk melihat kinerja ekonomi suatu wilayah dalam suatu negara tertentu digunakan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), yang merupakan keseluruhan nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi yang dilakukan dalam 11 suatu wilayah terutama yang dikaitkan dengan kemampuan wilayah tersebut dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Disebut domestik karena menyangkut batas wilayah dan dinamakan bruto karena telah memasukkan komponen penyusutan dalam perhitungannya. PDRB secara umum disebut juga agregat ekonomi, maksudnya angka besaran total yang menunjukkan prestasi ekonomi suatu wilayah. Dari agregat ekonomi ini selanjutnya dapat diukur pertumbuhan ekonomi. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi riil terlebih dahulu harus dihilangkan pengaruh perubahan harga yang melekat pada angkaangka agregat ekonomi menurut harga berlaku sehingga terbentuk harga agregat ekonomi menurut harga konstan. Penelitian Okun (1980) dalam Dornbusch (1991) di Amerika Serikat yang dilatarbelakangi anggapan bahwa dari waktu ke waktu angkatan kerja mengalami pertumbuhan sehingga pengangguran akan naik kecuali jika output riil maupun kesempatan kerja mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Dalam bentuk pertumbuhan, Okun membuktikan bahwa tingkat pengangguran akan turun sebesar 0,4 persen setiap laju pertumbuhan PDB riil sebesar 1 persen per tahun. Hukum Okun ini merupakan hasil dari penelitian empiris sehingga hukum tersebut bukan merupakan hukum yang tetap, karena angka estimasi atas hubungan antara trend laju pertumbuhan output dan tingkat pengangguran akan berubah dari waktu ke waktu. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat memerlukan tenaga kerja tambahan sebagai faktor produksi untuk memenuhi permintaan agregat yang meningkat. Kondisi seperti ini terutama akan terjadi pada struktur perekonomian 12 yang memiliki corak padat karya (labour intensive). Apabila struktur perekonomian suatu wilayah adalah capital intensive (padat modal), maka pertumbuhan ekonomi hanya akan meningkatkan kebutuhan modal dan tidak akan menyerap banyak tenaga kerja. 2.1.4 Upah Riil Kaum ekonom klasik menyatakan, bahwa tenaga kerja/karyawan mendasarkan penawaran tenaga kerja atas upah riil (W/P). Oleh karena itu, kenaikan upah nominal tidak akan mengubah penawaran tenaga kerja apabila kenaikan upah tersebut disertai dengan kenaikan tingkat harga yang sepadan. Orang yang merasa lebih kaya karena kenaikan upah nominal dan kenaikan tingkat harga yang sama dikatakan terkena money illusion. Orang yang rasional tidak akan mengalami ilusi uang, karena mereka hanya mau mengubah penawaran tenaga kerja apabila terjadi perubahan dalam upah riil. Burtt (1963) dalam bukunya berjudul “Labor Market, Unions and Government Policies” menyatakan bahwa ada beberapa teori yang menjelaskan proses penentuan upah dan faktor-faktor yang mempengaruhi upah pekerja, diantaranya yaitu: 1. Teori Kebutuhan Hidup (Subsistence Theory) Salah satu teori upah yang paling tua adalah teori kebutuhan hidup (Subsistence Theory) yang dikemukakan David Ricardo. Teori ini secara sederhana mengemukakan bahwa tingkat upah yang diterima oleh tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan (unskilled worker) hanya dipengaruhi oleh 13 kepentingan untuk menutup biaya hidup kebutuhan pekerja dan keluarganya. Keadaan upah di pasar tenaga kerja akan berfluktuasi di sekitar subsistence level. Penawaran tenaga kerja tidak akan meningkat atau menurun dalam hubungan jangka panjang (long run). Jika tingkat upah naik diatas biaya hidup minimum pekerja, maka akan meningkatkan penawaran tenaga kerja dan akan menurunkan tingkat upah. Apabila tingkat upah berada di bawah biaya hidup minimum maka hal ini akan menurunkan kekuatan penawaran tenaga kerja (labor force) dan kemudian tingkat upah akan naik menuju subsistence level kembali. 2. Teori Upah Besi (Iron Wage Theory) Teori ini dikemukakan oleh Ferdinand Lassalle, yang menyatakan bahwa dengan adanya subsistence theory kepentingan pekerja tidak terlindungi. Oleh karena itu peran serikat pekerja dalam melindungi kepentingan pekerja menjadi hal yang sangat penting. Dengan adanya serikat pekerja tersebut, pekerja akan berusaha menuntut upah yang melebihi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Teori iron wage ini cenderung merugikan kepentingan pengusaha dan pekerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Kenaikan upah akibat desakan serikat pekerja akan menurunkan permintaan tenaga kerja sehingga para penganggur akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan dan para pengusaha akan disulitkan dengan kenaikan biaya produksi. 3. Wage Fund Theory Teori upah ini dikemukakan oleh John Stuart Mill. Menurut teori ini tingkat upah tergantung pada permintaan dan penawaran tenaga kerja. Penawaran tenaga kerja tergantung pada jumlah dana upah yaitu jumlah modal yang 14 disediakan perusahaan untuk pembayaran upah. Peningkatan tabungan akan meningkatkan nilai investasi pada sektor-sektor ekonomi sehingga sektor-sektor ekonomi tersebut berupaya meningkatkan kapasitas produksinya, yaitu dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Peningkatan modal (capital) ini berakibat meningkatnya upah pekerja karena permintaan tenaga kerja semakin meningkat. Teori ini juga menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk akan mendorong tingkat upah cenderung turun, karena tidak sebanding antara jumlah tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja. Sehingga menurut teori ini tingkat upah dapat ditingkatkan hanya dengan mengurangi penawaran tenaga kerja dan dengan meningkatkan tabungan. 4. Marginal Productivity Theory Teori ini menyatakan bahwa dalam rangka memaksimumkan keuntungan, tiap-tiap pengusaha menggunakan faktor-faktor produksi sedemikian rupa sehingga tiap faktor produksi yang dipergunakan menerima atau diberi imbalan sebesar nilai pertambahan hasil marginal dari faktor produksi tersebut. Pengusaha mempekerjakan sejumlah karyawan sedemikian rupa sehingga nilai pertambahan hasil marginal seorang pekerja sama dengan upah yang diterima pekerja tersebut. Teori ini menyatakan bahwa karyawan memperoleh upah sesuai dengan produktivitas marginalnya terhadap pengusaha. Kegagalan upah dalam melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya merupakan indikasi adanya kekakuan upah (wage rigidity). Kekakuan upah merupakan salah satu penyebab terjadinya pengangguran. Untuk memahami kekakuan upah dan pengangguran struktural, 15 maka penting untuk memahami mengapa pasar tenaga kerja tidak berada pada tingkat keseimbangan penawaran dan permintaan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan Gambar 2.2, saat upah riil melebihi tingkat ekuilibrium dan penawaran pekerja melebihi permintaannya, maka perusahaan-perusahaan diharapkan akan menurunkan upah yang akan dibayar kepada para pekerja. Namun pada kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Pengangguran struktural kemudian muncul sebagai implikasi karena perusahaan gagal menurunkan upah akibat kelebihan penawaran tenaga kerja (Mankiw 2007). Gambar 2.2 Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja Sumber: Mankiw (2007). Menurut Mankiw (2007) kekakuan upah riil menyebabkan penjahatan pekerjaan. Jika upah riil tertahan di atas tingkat ekuilibrium (pada W1) maka penawaran tenaga kerja melebihi permintaannya akibatnya adalah pengangguran. 16 Kekakuan upah ini terjadi sebagai akibat dari undang-undang upah minimum atau kekuatan monopoli serikat pekerja. Berbagai faktor tersebut berpotensi menjadikan upah tertahan di atas tingkat upah keseimbangan. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan pengangguran. Undang-undang upah minimum menetapkan tingkat upah minimal yang harus dibayar perusahaan kepada para karyawannya. Kebijakan upah minimum ditengarai akan lebih banyak berdampak pada penganggur dengan usia muda (Mankiw 2007). Alasannya yaitu pekerja dengan usia lebih muda termasuk anggota angkatan kerja yang kurang terdidik dan kurang berpengalaman, maka mereka cenderung memilki produktivitas marginal yang rendah. 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu Sari (2011), melakukan penelitian mengenai “Pengangguran di Indonesia 1984-2008: Persistensi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya” dengan menggunakan uji panel unit root test. Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian antara lain: angkatan kerja, pangsa sektor manufaktur terhadap PDRB, tingkat kepemilikan rumah, upah minimum propinsi, dependency ratio, pangsa sektor pertanian terhadap PDRB, dan PDRB perkapita. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian tersebut adalah angkatan kerja dan upah minimum provinsi berpengaruh positif terhadap tingkat pengangguran regional. Faktorfaktor tersebut secara simultan mengarah pada kondisi kekakuan upah yang berkepanjangan dan proses pencarian kerja yang lebih panjang sehingga berdampak pada persistensi pengangguran. 17 Kuntoro (2007) dalam penelitiannya mengenai “Hubungan Simultan Antara Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja serta Variabel yang Mempengaruhinya” menggunakan uji regresi data panel dengan model fixed effect. Penelitian dilakukan di 26 provinsi di Indonesia pada periode tahun 19972004. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu pertumbuhan ekonomi dan tingkat perubahan harga signifikan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, adapun investasi fisik tidak signifikan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Pada tahun yang sama Nilasari (2007) melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Investasi, dan Upah Minimum Regional Terhadap Kesempatan Kerja di Jawa Barat studi kasus tahun 1986-2005”. Uji dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda model double-log. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian tersebut yaitu pengeluaran pemerintah dan upah minimum regional memberikan pengaruh positif terhadap kesempatan kerja, sedangkan investasi memberikan pengaruh negatif terhadap kesempatan kerja di Jawa Barat. Sitanggang dan Nachrowi (2004) melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral”. Penelitian dilakukan di 30 provinsi di Indonesia pada kurun waktu 1980-2000. Metode anaisis yang digunakan adalah regresi data panel Generalized Least Squared (GLS) dengan penimbang Cross Section Weights. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu adanya peningkatan dan penurunan dalan jumlah penyerapan tenaga kerja disebabkan oleh perubahan populasi, net migration, output dan juga upah. 18 Lembaga Penelitian Smeru (2004) dalam penelitian “Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial untuk Memperluas Kesempatan Kerja”. Alat analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Analisis tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi dan upah riil berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Smeru (2001) juga melakukan penelitian dengan judul “Dampak Kebijakan Upah Minimum terhadap Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Perkotaan Indonesia”. Uji dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum berdampak negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Temuan yang lebih penting lagi dari studi ini adalah bahwa dampak negatif dari upah minimum sangat dirasakan oleh kelompok yang mempunyai kerentanan tinggi terhadap perubahan dalam kondisi pasar tenaga kerja, seperti pekerja perempuan, pekerja muda usia, dan pekerja berpendidikan rendah. Downes (1998) melakukan penelitian yang berjudul “An Economic Analysis of Unemployment in Trinidad and Tobago”. Penelitian dilakukan pada periode 1963-1996 dengan menggunakan metode Ordinary least Squares (OLS) dan Error Correction Model. Analisis ekonomi mengenai pengangguran di Trinidad dan Tobago mengindikasikan masalah yang serius. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa variabel-variabel yang dominan mempengaruhi penurunan tingkat pengangguran di Trinidad dan Tobago adalah GDP. Peningkatan upah riil juga berdampak pada tingkat pengangguran terutama pada jangka panjang. 19 2.3 Kerangka Pikir Berdasarkan identifikasi dan tujuan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, kemudian ditetapkan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil akan dilakukan analisis deskriptif dan inferensia. Gambaran tentang alur pemikiran penulis untuk memberikan jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti, dapat digambarkan dalam diagram kerangka berpikir sebagai berikut: RPJMN 2010-2014 MASALAH KETENAGAKERJAAN PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TINGGI PENGELUARAN PEMERINTAH PDRB PENYERAPAN TENAGA KERJA ANALISIS REGRESI DATA PANEL BERGANDA REKOMENDASI KEBIJAKAN PEMERINTAH PROV. SUMBAR Gambar 2.3. Kerangka Pikir UPAH RIIL (UPAH NOMINAL/IHK) 20 2.4 Definisi Operasional Adapun variabel-variabel yang digunakan antara lain: 1. Penyerapan tenaga kerja Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tenaga kerja yang dapat terserap dalam kegiatan ekonomi (produksi). Variabel ini didekati dengan jumlah penduduk yang bekerja. Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan tidak terputus. Kegiatan bekerja ini mencakup orang yang sedang bekerja dan juga punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja seperti: cuti, sakit, menunggu panen dan sejenisnya. 2. Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah merupakan jumlah seluruh pengeluaran pemerintah yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatannya, yang terdiri dari pembelian barang dan jasa (belanja barang), pembayaran balas jasa pegawai (belanja pegawai), dan penyusutan barang modal, tidak termasuk atau dikurangi dengan hasil penjualan (penerimaan) dari produksi barang dan jasa (output pasar) yang dihasilkan sendiri oleh pemerintah (yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah) tetapi dikonsumsi oleh masyarakat (bukan oleh pemerintah). Pengeluaran konsumsi pemerintah didasarkan pada realisasi pengeluaran pembangunan. baik yang berupa pengeluaran rutin maupun 21 3. PDRB PDRB atas dasar harga konstan (PDRB riil) menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu waktu tertentu sebagai tahun dasar. 4. Upah riil Upah riil adalah upah yang diterima pekerja yang telah diperhitungkan dengan daya beli dari upah nominal yang diterima. Upah Riil dihitung dengan membagi nilai dari upah nominal dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) dikali 100. Upah nominal adalah upah yang diterima pekerja secara nominal. Sedangkan Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi untuk megukur tingkat perubahan harga barang-barang secara umum. 2.5 Hipotesis Statistik Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Terdapat pengaruh yang positif antara pengeluaran pemerintah terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. 2. Terdapat pengaruh yang positif antara PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. 3. Terdapat pengaruh yang negatif antara upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder mulai dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010. Data tersebut didapat dari beberapa sumber sebagai berikut: 1. Data Penyerapan Tenaga Kerja yang didekati dengan Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja diperoleh dari publikasi Sumatera Barat Dalam Angka Tahun 2005 s/d 2010 dan Keadaan Angkatan Kerja di Sumatera Barat Tahun 2008-2010 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 2. Data Pengeluaran Pemerintah diperoleh dari publikasi Statistik Keuangan Daerah Kabupaten/Kota yang diterbitkan oleh BPS RI. 3. Data PDRB diperoleh dari publikasi Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Barat menurut Kabupaten/Kota yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 4. Data Upah Riil diperoleh dari hasil pembagian antara rata-rata pendapatan/gaji/upah nominal dengan indeks harga konsumen dikalikan 100, dimana:  rata-rata pendapatan/gaji/upah nominal diperoleh dari publikasi Statistik Upah Buruh dan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional, 23  data Indeks Harga Konsumen (IHK) diperoleh dari publikasi Indeks Harga Konsumen Kota Padang Tahun 2005-2010 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 3.2 Metode Analisis Pengolahan atas data sekunder yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber dilakukan menggunakan beberapa paket program statistik, seperti: Microsoft Excel 2010, dan EViews 6.0. Kegiatan pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 2010 menyangkut pembuatan tabel dan analisis. Sementara itu pada pengolahan regresi data panel, penulis menggunakan paket program EViews 6.0. 3.2.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan mendeskripsikan dan mempermudah penafsiran yang dilakukan dengan memberikan pemaparan dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram. Analisis deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan situasi ketenagakerjaan secara umum meliputi jumlah angkatan kerja, penyerapan tenaga kerja dan pengangguran. Selain itu, juga untuk menggambarkan deskripsi variabel-variabel yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, dah upah riil. 24 3.2.2 Analisis Regresi Data Panel Analisis regresi data panel digunakan untuk melihat pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB dan Upah Riil terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi Sumatera Barat melalui persamaan strukturalnya. Data panel diperoleh dengan menggabungkan data cross section dan time series. Penggunaan model regresi data panel memungkinkan peneliti untuk dapat menangkap karakteristik antar individu dan antar waktu yang bisa saja berbedabeda. Regresi dengan menggunakan panel data / data panel / pooled data, memberikan beberapa keunggulan dibandingkan dengan pendekatan standar cross section dan time series (Gujarati, 2004:637), diantaranya sebagai berikut: 1. Data panel mampu menyediakan data yang lebih banyak, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih lengkap. Sehingga diperoleh degree of freedom (df) yang lebih besar sehingga estimasi yang dihasilkan lebih baik. 2. Dengan menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul karena ada masalah penghilangan variabel (omitted variable). 3. Data panel mampu mengurangi kolinearitas antarvariabel. 4. Data panel lebih baik dalam mendeteksi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak mampu dilakukan oleh data time series murni dan cross section murni. 5. Dapat menguji dan membangun model perilaku yang lebih kompleks. Sebagai contoh, fenomena seperti skala ekonomi dan perubahan teknologi. 25 6. Data panel dapat meminimalkan bias yang dihasilkan oleh agregat individu, karena data yang diobservasi lebih banyak. Model regresi linear pada data panel dapat dituliskan sebagai berikut: (3.1) Dimana: i = 1,……, N; N adalah jumlah individu/cross-sectional units (kabupaten/kota) t = 1,…….,T; T adalah jumlah periode waktu (6 yaitu dari tahun 2005-2010) Pada ada sebanyak k slope (tidak termasuk intersep) yang menunjukkan jumlah variabel bebas yang digunakan dalam model. Sedangkan merupakan efek individu yang dapat bernilai konstan sepanjang periode t atau bahkan berbeda-beda untuk setiap individu ke-i. Apabila diasumsikan sama untuk setiap unit, maka model itu dapat disebut juga sebagai model regresi klasik (classical regression model), dimana metode Ordinary Least Square (OLS) akan menghasilkan penduga yang konsisten dan efisien untuk dan . Apabila diasumsikan berbeda-beda antar cross-section unit, dan slope konstan, maka terdapat dua model regresi data panel yang mungkin yaitu model fixed effects atau model random effects. Apabila perbedaan intersep antar cross-sectional units tersebut merupakan variabel random atau stochastic maka model random effects-lah yang sesuai. Sementara itu error dalam model regresi data panel dapat dituliskan sebagai berikut: 26 (3.2) dimana = time specific effects (residual yang terjadi karena pengaruh perbedaan waktu) = individual specific effects (residual yang terjadi karena perbedaan karakteristik setiap individu) = efek hanya pada observasi it. Untuk menyederhanakan analisis biasanya sering diasumsikan = 0 (tidak ada pengaruh spesifik waktu/no time specific effects/time invariant). Terdapat tiga jenis estimasi standar untuk regresi data panel yaitu common effects Model (pooled regression), fixed effects model (Least Square Dummy Variables estimation, LSDV estimation) dan random effects model. 3.2.2.1 Model Common Effects (Pooled Regression) Model common effects merupakan pendekatan data panel yang paling sederhana, yakni dengan hanya mengkombinasikan data cross-section dalam bentuk pool. untuk i = 1,2,…..,19 Dari persamaan (3.2), apabila = 0 dan t = 1,2,…,6 = 0, (3.3) maka model tersebut adalah model pooled regression (common effects), yang dapat diestimasi dengan metode Least Square, namun asumsi jarang sekali terpenuhi pada model regresi data panel. Model ini tidak memperhatikan dimensi individu maupun waktu, sehingga diasumsikan bahwa perilaku individu sama dalam 27 berbagai kurun waktu. Kelemahan model ini adalah ketidakseuaian model dengan keadaan sebenarnya. Kondisi tiap obyek dapat berbeda dan kondisi suatu obyek satu waktu dengan waktu yang lain dapat berbeda. Pada model ini asumsi regresi linear klasik dengan metode OLS berlaku sepenuhnya. 3.2.2.2 Model Fixed Effects Model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya. Namun intersep masing-masing crosssection bersifat fixed, tidak random. Untuk mengestimasi model fixed effects dengan intersep berbeda antar individu, maka digunakan teknik variabel dummy. Model estimasi ini sering disebut dengan teknik Least Square Dummy Variable (LSDV). Model persamaan panel fixed effects dengan asumsi tidak ada pengaruh periode waktu (no time specific effects) dapat dituliskan sebagai berikut: untuk i = 1,2,…..,19 t = 1,2,…,6 (3.4) Model pada persamaan (3.3) juga dapat dituliskan dalam bentuk stack model berdasarkan individu cross-section yaitu: [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] Dimana: = vektor berukuran T x 1 = matriks berukuran T x k , dengan k adalah jumlah variabel bebas = vektor berukuran k x 1 yang berisi parameter tidak diketahui (slope) (3.5) 28 = vektor berukuran T x 1 = vektor berukuran T x 1 Metode fixed effects, digunakan apabila error term terdiri dari: (3.6) 3.2.2.3 Model Random Effects Estimasi data panel dengan fixed effects melalui teknik variabel dummy sering menunjukkan ketidakpastian model yang digunakan. Untuk mengatasi masalah ini kita bisa menggunakan metode random effects yang mengasumsikan bahwa individual effects ( ) bersifat random dan tidak berkorelasi dengan variabel bebasnya. Dengan asumsi tidak ada pengaruh waktu (no time specific effects) maka dalam model random effects terdapat dua komponen residual, yaitu residual yang tidak terukur oleh pengaruh individu dan waktu ( ) dan residual secara individu ( ). Persamaan regresi untuk model random effects dengan asumsi no time effects dapat ditulis sebagai berikut: untuk i = 1,2,…..,19 t = 1,2,…,6 (3.7) dimana Ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi dalam model random effects, yaitu: E( E( E( , = E( )=0 =0 = 0 ; E( , = 0 ; E( , dimana t ≠ s dan i ≠ j dimana i ≠ j ) = E( , )=0 29 3.2.2.4 Pemilihan Model Estimasi Data Panel 1. Signifikansi Fixed Effects Model Signifikansi model fixed effects dapat dilakukan dengan statistik uji F. Statistik uji F digunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan fixed effects lebih baik dari model regresi data panel tanpa variabel dummy(common effects) dengan melihat residual sum of squares (RSS). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : nilai intersep sama untuk setiap individu crosssection H1 : sekurang-kurangnya ada 1 intercept yang berbeda Adapun statistik uji F-nya dapat dituliskan sebagai berikut: (3.8) dimana: N = jumlah individu k = jumlah variabel bebas/ regressor = residual sum of squares teknik tanpa variabel dummy = residual sum of squares teknik fixed effects dengan variabel dummy. Nilai statistik akan mengikuti distribusi statistik F dengan derajat bebas (df) sebanyak N-1 dan NT-N-k. Jika nilai statistik daripada lebih besar pada tingkat signifikansi tertentu, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti asumsi koefisien intersept dan slope adalah sama tidak 30 berlaku, sehingga teknik regresi data panel dengan fixed effects lebih baik dari model regresi data panel tanpa variable dummy (common effects). 2. Signifikansi Random Efects Model Untuk mengetahui apakah model random effects lebih baik dari model common effects, dapat digunakan uji Lagrange Multiplier (LM) yang dikembangkan oleh Bruesch-Pagan. Metode ini didasarkan pada nilai residual dari metode common effects. Hipotesis null (H0) yang digunakan adalah bahwa intersep bukan merupakan variabel random atau stochastic. Dengan kata lain varians dari residual bernilai nol. Adapun nilai Breusch-Pagan LM statistik dapat dihitung berdasarkan formula sebagai berikut: ∑ [∑ ∑ [∑ |∑ ∑ ∑ | ] ] Dimana N = jumlah individu; T = jumlah periode waktu dan (3.9) (3.10) adalah residual metode common effects (OLS). Uji LM ini didasarkan pada distribusi chi-square dengan derajat bebas (df) sebesar 1. Jika hasil LM statistik lebih besar dari nilai kritis statistik chi-square, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti estimasi yang tepat untuk regresi data panel adalah metode random effects daripada metode common effects. 31 3. Signifikansi Hausman Untuk mengetahui model yang terbaik antara fixed effects dengan random effects digunakan signifikansi Hausman. Uji signifikansi Hausman menggunakan hipotesis null residual persamaan panel tidak berkorelasi dengan variabel bebasnya yang berarti model random effects lebih baik dibandingkan model fixed effects. Adapun nilai statistik Hausman dapat dihitung berdasarkan formula sebagai berikut: ̂ dimana ̂ ̂ ⌊̂ ̂ ̂ (3.11) ⌋ dan ̂ ⌊ ̂⌋ ⌊̂ ⌋ Statistik uji Hausman mengikuti distribusi statistik chi-square dengan derajat bebas sebanyak jumlah variabel independen (k). Jika nilai statistik Hausman lebih besar daripada nilai kritis statistik chi-square, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti estimasi yang tepat untuk regresi data panel adalah model fixed effects dibandingkan dengan model random effects. 3.2.2.5 Pengujian Asumsi 1. Asumsi Normalitas Pengujian asumsi normalitas dilakukan untuk melihat apakah error term mengikuti distribusi normal. Jika asumsi tidak terpenuhi maka prosedur pengujian 32 menggunakan uji-t menjadi tidak sah. Pengujian dilakukan dengan uji Jarque Bera atau dengan melihat plot dari sisaan. Hipotesis dalam pengujian normalitas adalah: H0 : error term mengikuti distribusi normal H1 : error term tidak mengikuti distribusi normal. Keputusan diambil dengan membandingkan nilai probabilitas Jarque Bera dengan taraf nyata α = 0,05. Jika nilai probabilitas Jarque Bera lebih dari α = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa error term terdistribusi dengan normal. 2. Asumsi Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi yang terjadi antar observasi dalam satu peubah atau korelasi antar error masa yang lalu dengan error masa sekarang. Metode untuk mendeteksi adanya korelasi serial dilakukan dengan dengan membandingkan nilai Durbin Watson (DW) dari penghitungan dengan nilai DW tabel. Hipotesis dalam pengujian autokorekasi adalah: H0 : tidak ada Otokorelasi positif atau negatif H1 : terdapat masalah Otokorelasi positif atau negatif. Kriteria pengujian: 0 dL dU 2 4 - dU Tidak ada kesimpulan Tidak ada kesimpulan Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi positif 4 - dL Tidak Tolak H0 tidak ada masalah Otokorelasi 4 Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi negatif d 33 Tolak H0 bila  Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model lebih besar daripada nilai Durbin Watson table batas bawah (dL) yang berarti terdapat masalah otokorelasi positif (dw < dL)  Atau, nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak antara nilai (4–dL < dw < 4) yang berarti terdapat masalah otokorelasi negatif Tidak tolak H0 bila  Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak antara nilai (dU < dw < 4-dU) 3. Asumsi Homoskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan. Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk semua pengamatan. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam model dilakukan menggunakan metode General Least Square (Cross section Weights) yaitu dengan membandingkan sum square Resid pada Weighted Statistics dengan sum square Resid unweighted Statistics. Jika sum square Resid pada Weighted Statistics lebih kecil dari sum heteroskedastisitas. square Resid unweighted Statistics, maka terjadi Untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas, model diestimasi dengan menggunakan white-heteroscedasticity 34 3.2.2.6 Pengujian Parameter Model Pengujian parameter model bertujuan untuk mengetahui kelayakan model dan apakah koefisien yang diestimasi telah sesuai dengan teori atau hipotesis. Pengujian ini meliputi koefisien determinasi (R2), uji koefisien regresi parsial (uji t) dan uji koefisien regresi secara menyeluruh (F-test/uji F). 1. Uji-F Uji-F digunakan untuk melakukan uji hipotesis koefisien (slope) regresi secara menyeluruh/bersamaan. Uji-F memperlihatkan ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Hipotesis dalam uji-F adalah : Ho : β1 = β2 =….. = 0 H1 : β1 ≠ β2 ≠ … ≠ 0 Kriteria pengujiannya adalah jika nilai nilai > atau probabilitas F-statistic < taraf nyata, maka keputusannya adalah tolak H0. Dengan menolak H0 berarti minimal ada satu peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap tak bebas. 2. Uji-t Setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menguji koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t. Hipotesis pada uji-t adalah : H0 : βi = 0 , H1 : βi ≠ 0. 35 Keputusan dalam pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai dengan > atau dengan melihat nilai probabilitas dari . Jika nilai atau jika nilai probabilitas t < α = 0,05 maka tolak H0, sehingga kesimpulannya adalah peubah bebas secara parsial signifikan memengaruhi peubah tak bebas. 3. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (Goodness of Fit) merupakan suatu ukuran yang penting dalam regresi, karena dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang terestimasi. Nilai R2 mencerminkan seberapa besar variasi dari tak bebas dapat diterangkan oleh peubah bebas X atau seberapa besar keragaman peubah tak bebas yang mampu dijelaskan oleh model. Jika R2 = 0, maka variasi dari Y tidak dapat diterangkan oleh X sama sekali dan jika R2 = 1 berarti variasi dari Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X. 3.2.2.7 Model Penelitian Secara matematis pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, upah riil dapat digambarkan dalam fungsi sebagai berikut : (3.12) Keterangan: Emp : Employment/ penyerapan tenaga kerja (jiwa) G : Goverment Expenditure/ Pengeluaran Pemerintah (juta Rp.) PDRB : Produk Domestik Regional Bruto (milyar Rp.) WP : Wage per Price/ Upah Riil (Rp.) 36 i : urutan kabupaten/kota t : series tahun 2005-2010 α : intersep β1 - β3 : parameter pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil : error term BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Keadaan Geografi Provinsi Sumatera Barat terletak di sebelah barat pulau Sumatera dan sekaligus berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, Provinsi Riau, Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis, Sumatera Barat terletak antara 0° 54’ LU dan 3° 30’ LS serta 98° 36’ dan 101° 53’ BT, tercatat memiliki luas daerah sekitar 42,297 ribu Km2. Luas tersebut setara dengan 2,20 persen dari luas Republik Indonesia. Tabel 4.1 Luas Daerah dan Persentase Kabupaten/Kota di Sumatera Barat Kabupaten / Kota Luas (km2) Persentase (1) (2) (3) Kabupaten / Regency 01. Kep. Mentawai 02. Pesisir Selatan 03. S o l o k 04. Sijunjung 05.Tanah Datar 06. Padang Pariaman 07. A g a m 08. 50 K o t a 09. P a s a m a n 10. Solok Selatan 11. Dharmasraya 12. Pasaman Barat Kota/Municipality 71. P a d a n g 72. S o l o k 73. Sawahlunto 74. Padang Panjang 75. Bukittinggi 76. Payakumbuh 77. Pariaman SUMATERA BARAT Sumber: Sumatera Barat Dalam Angka 2010. 6.011,35 5.794,95 3.738,00 3.130,80 1.336,00 1.328,79 2.232,30 3.354,30 3.947,63 3.346,20 2.961,13 3.887,77 14,21 13,70 8,84 7,40 3,16 3,14 5,28 7,93 9,33 7,91 7,00 9,19 694,96 57,64 273,45 23,00 25,24 80,43 73,36 1,64 0,14 0,65 0,05 0,06 0,19 0,17 42.297,30 100,00 38 Sumatera Barat mempunyai 19 Kabupaten/Kota dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki wilayah terluas, yaitu 6,01 ribu Km2 atau sekitar 14,21 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan Kota Padang Panjang, memiliki luas daerah terkecil, yakni 23,0 Km2 (0,05%). 4.2 Penduduk Penduduk mempunyai peran besar dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat jika dimbangi dengan sumber daya alam yang memadai. Jumlah penduduk suatu daerah sangat dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk. Tabel 4.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Sumatera Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 (jiwa) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 71 72 73 74 75 76 77 Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase (1) (2) (3) (4) (5) Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Solok Sijunjung Tanah Datar Padang Pariaman Agam Lima Puluh Kota Pasaman Solok Selatan Dharmas Raya Pasaman Barat Kota Padang Kota Solok Kota Sawah Lunto Kota Padang Panjang Kota Bukittinggi Kota Payakumbuh Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat 39.504 212.228 171.845 100.764 164.852 191.940 223.077 172.571 125.249 72.568 98.892 184.022 415.315 29.359 28.161 23.369 53.845 57.894 38.922 2.404.377 36.669 217.018 176.721 101.059 173.642 199.116 231.776 175.984 128.050 71.713 92.530 181.107 418.247 30.037 28.705 23.639 57.467 58.931 40.121 2.442.532 76.173 429.246 348.566 201.823 338.494 391.056 454.853 348.555 253.299 144.281 191.422 365.129 833.562 59.396 56.866 47.008 111.312 116.825 79.043 4.846.909 Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 - BPS Republik Indonesia. 1,57 8,86 7,19 4,16 6,98 8,07 9,38 7,19 5,23 2,98 3,95 7,53 17,20 1,23 1,17 0,97 2,30 2,41 1,63 100,00 39 Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat sebanyak 4.846.909 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 1.877.822 jiwa (38,74 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 2.969.087 jiwa (61,26 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,97 persen di Kota Padang Panjang hingga yang tertinggi sebesar 17,20 persen di Kota Padang. Gambar 4.1 Piramida Penduduk Provinsi Sumatera Barat Dirinci Menurut Kelompok Umur Tahun 2010 (jiwa) Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 – BPS Republik Indonesia. Penduduk laki-laki Provinsi Sumatera Barat sebanyak 2.404.377 jiwa dan perempuan sebanyak 2.442.532 jiwa. Seks Rasio adalah 98, berarti terdapat 98 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks Rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kota Bukittinggi sebesar 94 dan tertinggi adalah Kabupaten 40 Kepulauan Mentawai sebesar 108. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 107, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 92 sampai dengan 106, dan kelompok umur 65-69 sebesar 78. Median umur penduduk Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 adalah 25,74 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Sumatera Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun (BPS, 2010). Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Sumatera Barat adalah 60,22. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 60 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 53,07 sementara di daerah perdesaan sebesar 65,10. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analis Deskriptif 5.1.1 Penyerapan Tenaga Kerja Tenaga kerja sebagai salah satu dari faktor produksi merupakan unsur yang penting dan paling berpengaruh dalam mengelola dan mengendalikan sistem ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi maupun investasi. Adapun kondisi tenaga kerja di Sumatera Barat adalah sebagai berikut: Penduduk usia kerja (PUK) merupakan penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. PUK mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan proses demografi. Dengan kata lain, jika jumlah penduduk terus bertambah maka jumlah PUK pun akan meningkat. Sejak tahun 2005 hingga tahun 2009 PUK Sumatera Barat terus meningkat. Pada tahun 2010 jumlah PUK sekitar 3,3 juta orang, sedikit lebih rendah jika dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 3,38 juta orang. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Angkatan kerja akan meningkat seiring dengan adanya peningkatan PUK. Angkatan kerja yang terus bertambah tanpa adanya perluasan lapangan kerja dapat menyebabkan pengangguran. Secara umum, jumlah angkatan kerja ini terus meningkat. Tahun 2010 jumlah angkatan kerja telah mencapai 2,19 juta orang atau dua per tiga dari penduduk usia kerja. 42 Tabel 5.1 Keadaan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Jenis Kegiatan/Type of Activity (1) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (2) (3) (4) (5) (6) (7) 3.139.890 3.161.612 3.225.756 3.325.258 3.383.457 3.306.264 1.963.332 2.501.800 2.106.711 2.127.512 2.172.002 2.194.040 1.737.472 1.808.275 1.889.406 1.956.378 1.998.922 2.041.454 Pengangguran Terbuka /Unemploy. 225.860 243.525 217.305 171.134 173.080 152.586 TPAK/Tk. Partisipasi Angkatan Kerja 62,53 64,90 65,31 63,98 64,19 66,36 11,50 9,73 10,31 8,04 7,97 6,95 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Population 15 Years of Age and Over Angkatan Kerja/Economically Active Bekerja/Working Labor Force Participation Rate (%) TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) Unemployment Rate(%) Sumber: BPS, diolah. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan hasil bagi antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah tenaga kerja. TPAK merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 orang tenaga kerja. TPAK di Sumatera Barat berkisar antara 62-66 persen. Terjadinya fluktuasi TPAK ini disebabkan karena kondisi sosial ekonomi yang belum stabil, yang dapat mempengaruhi faktor-faktor produksi. Karena naik turunnya faktor produksi dapat mempengaruhi tinggi atau rendahnya permintaan dan penawaran tenaga kerja. Besarnya pengangguran terlihat dari nilai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan hasil bagi antara jumlah pengangguran terbuka/unemployment dengan jumlah angkatan kerja. TPT 43 Sumatera Barat pernah mencapai angka 11,5 persen di tahun 2005, yang kemudian menurun di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2010 TPT Sumatera Barat mencapai 6,95 persen. Walaupun TPT Sumatera Barat telah mengalami penurunan dari tahun ke tahun namun masih jauh dari keadaan/tingkat full employment (4 persen). 4,50 4,29 4,00 3,92 3,50 3,42 3,00 2,50 2,13 2,00 2,08 2,00 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja 1,50 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.1 Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Sumber: BPS, diolah. Gambar 5.1 memperlihatkan trend pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010. Pada Tahun 2005-2007 terjadi peningkatan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja, akan tetapi pada Tahun 2007-2010 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja menunjukkan trend menurun. Penurunan ini disebabkan terjadinya bencana alam yang melanda Sumatera Barat yaitu gempa bumi pada bulan Maret tahun 2007. Gempa bumi telah merusak sarana 44 prasarana serta infrastruktur seperti jalan, bangunan, dan irigasi sehingga berdampak langsung terhadap lapangan pekerjaan. Gempa bumi Tahun 2007 hanya tercatat di 5 Kabupaten/Kota yaitu di Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, dan Kota Bukitinggi, sehingga tidak sampai melumpuhkan perekonomian di Sumatera Barat. Demikian halnya pada tanggal 30 September 2009 juga terjadi gempa bumi besar di sebagian besar wilayah Sumatera Barat terutama di pusat pemerintahan dan perekonomian yaitu Kota Padang. Gempa bumi pada periode ini sempat melumpuhkan perekonomian di Sumatera Barat yang berdampak pada penurunan penyerapan tenaga kerja. Lainnya 11% Jasa Kemasyarakatan 18% Perdagangan 20% Pertanian 44% Industri 7% Gambar 5.2 Persentase Penduduk yang Berumur 15 tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2010 Sumber: BPS, diolah. Berdasarkan Gambar 5.2 terlihat bahwa pada Tahun 2010 persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama dominan pada sektor pertanian dengan persentase sebesar 44 persen. Lapangan pekerjaan utama kedua adalah pada sektor perdagangan dengan 45 persentase sebesar 20 persen, sedangkan sektor industri dengan persentase sebesar 7 persen merupakan lapangan pekerjaan yang paling rendah menyerap tenaga kerja. 50,00 47,97 47,93 45,46 47,25 45,39 44,10 40,00 30,00 20,00 19,48 18,46 13,89 10,00 14,17 14,32 12,18 7,51 20,33 6,57 12,45 14,34 13,01 11,89 7,41 20,76 20,24 12,94 6,56 6,56 12,95 19,90 16,63 12,60 6,78 0,00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan Industri Pengolahan Perrdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Hotel Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Lainnya Gambar 5.3 Penyerapan Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor/Lapangan Usaha di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Sektor/lapangan Usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Sumatera Barat periode 2005-2010 adalah sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan. Pada Tahun 2010, sektor ini dapat menyerap tenaga kerja sebesar 44,10 persen. Sedangkan urutan kedua adalah sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel, disusul sektor jasa, lainnya, dan industri pengolahan. Sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel Tahun 2010 dapat menyerap tenaga kerja sebesar 19,90 persen. 46 5.1.2 Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah untuk belanja pegawai, penyusutan maupun belanja barang (termasuk biaya perjalanan, pemeliharaan dan pengeluaran rutin lainnya). Pengeluaran pembangunan ditujukan untuk pembiayaan pembangunan sebagai kegiatan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan untuk menambah akumulasi modal masyarakat dalam bentuk sarana fisik maupun prasarana dasar. Dengan demikian pengeluaran pemerintah ini dapat mempengaruhi kesempatan kerja. Sebelum Tahun 2000 pengeluaran pemerintah menggunakan sistem tahun anggaran. Mulai tahun 2000 berdasarkan sistem tahun fiskal. Semenjak Tahun 2005 pengeluran rutin dan pengeluaran pembangunan digabung menjadi satu. Tabel 5.2 Realisasi Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (juta rupiah) Tahun Realisasi Belanja Daerah % Peningkatan (1) (2) (3) 2005 931.908,63 11,53 2006 1.206.372,40 22,75 2007 1.245.441,50 3,14 2008 1.637.700,49 23,95 2009 1.837.245,56 10,86 2010 1.923.567,38 4,49 Sumber: BPS, diolah. Dari tahun ke tahun pengeluaran pemerintah terus mengalami peningkatan. Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa persentase peningkatan belanja daerah pemerintah provinsi Sumatera Barat sempat di atas 20 persen yaitu pada tahun 2006 dan tahun 2008. Pada tahun 2010 realisasi belanja daerah pemerintah provinsi mencapai 47 1,923 trilyun rupiah dengan persentase peningkatan sebesar 4,49 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja pemerintah daerah diharapkan mampu lebih banyak menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya akan mengurangi tingkat pengangguran di Sumatera Barat. 5 30 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pertumbuhan pengeluaran pemerintah 4 3 25 20 15 2 10 1 5 0 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.4 Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja memperlihatkan pola yang sama (lihat Gambar 5.4). Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan antara pengeluaran pemerintah dengan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan pada tahun 2007 terjadi perbedaan arah antara pengeluaran pemerintah dengan penyerapan tenaga kerja, selain dikarenakan bencana alam yang terjadi pada Tahun 2007, peran swasta lebih dominan dibanding pemerintah. 48 5.1.3 PDRB PDRB sebagai ukuran produktivitas mencerminkan seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu wilayah dalam satu tahun. Selama kurun waktu 2005-2010, PDRB yang dihasilkan Provinsi Sumatera Barat mempunyai tren meningkat karena adanya peningkatan produksi maupun harga. Pada tahun 2010 PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi Sumatera Barat mencapai 87,22 triliun rupiah, meningkat sebanyak 10,47 triliun rupiah dibandingkan tahun 2009. Bila digolongkan menurut sektor lapangan usaha, maka sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Sumatera Barat. Dan pada tahun 2010 sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 20,79 triliun rupiah. Tabel 5.3 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (milyar rupiah) SEKTOR 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 18.381,92 20.792,32 Pertanian 11.433,00 13.396,52 14.754,87 17.379,93 Pertambangan & Penggalian 1.514,21 1.829,48 2.059,94 2.356,17 2.556,10 2.763,86 Industri Pengolahan 5.084,34 6.055,97 7.179,24 8.597,36 9.279,51 10.197,21 666,71 754,79 822,19 863,21 898,66 924,62 Bangunan 2.472,64 2.972,40 3.290,15 3.941,92 4.317,98 5.498,73 Perdagangan, Hotel, & Restoran 7.799,76 8.992,23 10.368,00 12.532,37 13.694,25 15.474,82 Pengangkutan & Komunikasi 6.167,34 8.022,49 9.009,32 10.685,33 11.670,81 13.439,31 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2.249,28 2.632,09 2.963,37 3.463,31 3.784,47 4.145,20 Jasa-jasa 7.287,29 8.373,62 9.351,98 11.134,91 12.169,26 13.985,18 44.674,57 53.029,59 59.799,05 70.954,52 76.752,94 87.221,25 Listrik, Gas & Air Bersih PDRB ADHB Sumber: BPS Provinsi Sumatera Barat. 49 Berdasarkan Tabel 5.4 sektor pertanian sebagai basis utama perekonomian Sumatera Barat menyumbangkan kontribusi terbesar dengan rata-rata 24,64 persen selama periode 2005-2010. Bila dilihat secara rentang waktu dari Tahun 2005 ke Tahun 2010 terlihat bahwa struktur perekonomian di Sumatera Barat belum terjadi pergeseran struktur ekonomi yang signifikan. Sampai dengan Tahun 2010 struktur perekonomian Sumatera Barat masih didominasi oleh tiga sektor utama yakni sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasa-jasa. Peranan sektor-sektor tersebut secara total melebihi 50 persen dari total PRDB Sumatera Barat. Tabel 5.4 Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 SEKTOR 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Ratarata (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pertanian 25,59 25,26 24,67 24,49 23,95 23,84 24,64 3,39 3,45 3,44 3,32 3,33 3,17 3,35 11,38 11,42 12,01 12,12 12,09 11,69 11,78 Listrik, Gas & Air Bersih 1,49 1,42 1,37 1,22 1,17 1,06 1,29 Bangunan 5,53 5,61 5,50 5,56 5,63 6,30 5,69 17,46 16,96 17,34 17,66 17,84 17,74 17,50 13,81 15,13 15,07 15,06 15,21 15,41 14,95 5,03 4,96 4,96 4,88 4,93 4,75 4,92 16,31 15,79 15,64 15,69 15,86 16,03 15,89 Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB ADHB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Barat. 50 5,00 8,000 4,50 7,000 4,00 6,000 3,50 5,000 3,00 2,50 4,000 2,00 3,000 1,50 2,000 1,00 Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja 0,50 Pertumbuhan Ekonomi 0,00 1,000 0,000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.5 Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja pada periode tahun 2005 sampai dengan 2010 memperlihatkan trend yang sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi atau berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat. Pada Tahun 2007 dan 2010 terlihat perbedaan arah antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja (Gambar 5.5). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hal ini lebih dikarenakan adanya musibah gempa bumi yang memporak-porandakan Sumatera Barat. Sedangkan pertumbuhan ekonomi terus meningkat karena adanya pembangunan/rekonstruksi pasca gempa yang memberikan nilai tambah pada sektor bangunan. 51 5.1.4 Upah Riil Tingkat upah sangat erat hubungannya dengan tingkat kesejahteraan pekerja. Upah merupakan balas jasa yang diterima pekerja atas keikutsertaannya dalam suatu kegiatan ekonomi. Upah Riil adalah upah yang diterima pekerja yang telah diperhitungkan dengan daya beli dari upah nominal yang diterima. Tabel 5.5 Rata-rata Upah Nominal dan Upah Riil Pekerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (rupiah) Tahun Upah Nominal Upah Riil (1) (2) (3) 2005 845.837 1.037.914 2006 997.956 1.111.905 2007 1.155.640 1.155.640 2008 1.213.302 1.097.614 2009 1.486.012 1.274.016 2010 1.529.383 1.197.731 Sumber: BPS, diolah. Berdasarkan Tabel 5.5 terlihat bahwa upah nominal terus meningkat, sedangkan upah riil berfluktuasi tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan upah riil telah diperhitungkan dengan adanya inflasi. Pada tahun 2010 upah nominal yang diterima pekerja di Sumatera Barat mencapai Rp. 1.529.383,00 meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya mencapai Rp. 1.486.012,00. Sedangkan upah riil di tahun 2010 sedikit mengalami penurunan dari Rp. 1.274.016,00 di tahun 2009 menjadi Rp. 1.197.731,00. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan upah nominal lebih rendah dari peningkatan harga-harga. Akan tetapi dengan menurunnya upah riil justru diharapkan lebih mendorong sektor- 52 sektor industri yang padat karya untuk lebih meningkatkan produksi sehingga akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. 15,00 4,50 4,00 10,00 3,50 5,00 3,00 0,00 2,50 -5,00 2,00 Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja Pertumbuhan Upah Riil -10,00 1,50 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.6 Pertumbuhan Upah Riil dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan upah riil dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pada rentang Tahun 2005 sampai dengan 2010 memperlihatkan pola/trend yang berlawanan arah. Hal ini berarti bahwa upah riil berkorelasi negatif dengan penyerapan tenaga kerja. Ketika upah riil naik maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja, demikian sebaliknya apabila upah riil turun maka penyerapan tenaga kerja akan meningkat. Walaupun upah nominal terus mengalami peningkatan (Tabel 5.5) akan tetapi upah riil mengalami fluktuasi. Fluktuasi upah riil dikarenakan adanya pengaruh inflasi. 53 5.2 Analis Regresi Data Panel Analisis regresi data panel yang dilakukan adalah untuk mengidentifikasi besarnya pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja menurut penyusunnya, baik dari pengeluaran pemerintah (G), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan upah riil (WP). Sebelum menganalisa lebih lanjut besarnya pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi model regresi. Setelah semua asumsi model regresi terpenuhi kemudian dilanjutkan pengujian terhadap model penelitian untuk memperoleh model estimasi terbaik. Pengolahan data untuk melakukan uji asumsi dan mendapatkan model dari fungsi tersebut dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Eviews versi 6.0. 5.2.1 Pengujian Asumsi 5.2.1.1 Asumsi Normalitas Asumsi pertama yang diuji adalah normalitas atau kenormalan dari sisaan (residual) dari model estimasi. Metode pengujian dilakukan dengan dua cara yaitu membuat plot dari sisaan dan melakukan uji statistik. Berdasarkan hasil pengolahan data dihasilkan plot atau gambar distribusi dari sisaan. Secara kasar, distribusi sisaan yang ditunjukkan oleh gambar sudah mengikuti bentuk kurva normal. 54 24 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2010 Observations 114 20 16 12 8 4 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 1.95e-18 -0.006919 0.482552 -0.576583 0.210962 -0.218607 2.952016 Jarque-Bera Probability 0.918930 0.631621 0 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 0.4 Gambar 5.7 Hasil Uji Asumsi Normalitas Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti, asumsi kenormalan dari sisaan diuji dengan tes Jarque-Bera. Hipotesis yang diajukan dalam pengujian JarqueBera adalah data sisaan berdistribusi normal. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah sisaan tidak berdistribusi normal. Nilai Jarque-Bera yang diperoleh dari hasil pengolahan adalah sebesar 0,918930 dengan nilai probabilitas sebesar 0,631621 atau lebih besar dari α = 0,05. Berdasarkan nilai tersebut maka keputusan yang diambil adalah tidak menolak hipotesis nol. Artinya data sisaan mengikuti distribusi normal, sehingga asumsi kenormalan dari sisaan dalam model sudah terpenuhi. 5.2.1.2 Asumsi Autokorelasi Asumsi kedua yang diuji dalam model estimasi adalah adanya autokorelasi antara observasi dalam satu peubah atau korelasi antar error masa yang lalu 55 dengan error masa sekarang. Metode pemeriksaan atau deteksi autokorelasi dapat dilakukan uji Durbin-Watson. Hipotesis yang diajukan dalam kedua uji ini adalah model tidak mengandung autokorelasi baik positif maupun negatif. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah model mengandung autokorelasi. Tabel 5.6 Hasil Uji Asumsi Autokorelasi Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared 0.957986 Mean dependent var 13.51991 Adjusted R-squared 0.948395 S.D. dependent var 5.438854 S.E. of regression 0.229339 Sum squared resid 4.838863 F-statistic 99.89168 Durbin-Watson stat 1.830430 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. d 0 1,61636 1,766 1,83043 2,233 4 Tidak ada kesimpula Tidak ada kesimpulan Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi positif 2,38364 Tidak Tolak H0 tidak ada masalah Otokorelasi Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi negatif Gambar 5.8 Kriteria Uji Asumsi Autokorelasi Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai statistik Durbin-Watson (dw) sebesar 1,830430. Nilai dL dan dU pada tabel (0,05; 114; 4) masing-masing sebesar 1,61636 dan 1,7664; sehingga daerah penolakan H0 adalah d <1, 61636 atau d > 2,2336. Nilai dw hasil observasi terletak diantara dU dan 4-dU sehingga 56 keputusan yang diambil adalah tidak menolak H0 yang berarti tidak ada gejala autokorelasi baik positif maupun negatif di dalam model. 5.2.1.3 Asumsi Homoskedastisitas Asumsi ketiga yang diuji dari model adalah homoskedastisitas atau varian konstan. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam model dilakukan menggunakan metode General Least Square (Cross section Weights) yaitu dengan membandingkan sum square Resid pada Weighted Statistics dengan sum square Resid unweighted Statistics. Jika sum square Resid pada Weighted Statistics lebih kecil dari sum square Resid unweighted Statistics, maka terjadi heteroskedastisitas. Dari hasil pengujian diperoleh nilai sum squared resid pada Weighted Statistics sebesar 4,838863 dimana nilainya lebih kecil dari sum square Resid unweighted Statistics yang sebesar 5,159940. Hal ini mengindikasikan adanya masalah heteroskedastisitas. Untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas, model diestimasi dengan menggunakan white-heteroscedasticity. Tabel 5.7 Hasil Uji Asumsi Homoskedastisitas Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid 0.934882 5.159940 Mean dependent var Durbin-Watson stat Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. 11.21061 1.606376 57 5.2.2 Pengujian Parameter Model 5.2.2.1 Uji F Uji-F digunakan untuk melakukan uji hipotesis koefisien (slope) regresi secara menyeluruh/bersamaan. Uji-F memperlihatkan ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Hipotesis nol (H0) yang diajukan dalam uji ini adalah nilai koefisien β1=β2=β3=0 yang berarti tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Hipotesis alternatifnya adalah ada satu koefisien β≠0 atau minimal ada satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tidak bebas. Kriteria pengujiannya adalah jika nilai nilai > atau probabilitas F-statistic < taraf nyata, maka keputusannya adalah tolak H0. Dengan menolak H0 berarti minimal ada satu peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap tak bebas. Tabel 5.8 Hasil Uji F Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Nilai yang dihasilkan oleh model estimasi dalam tabel adalah sebesar 99,89168. Dibandingkan dengan nilai nilai yang sebesar 2,69, jauh lebih besar. Jika dilihat dari nilai probabilitas F-statistic = 0,00000, maka nilainya lebih kecil dari α = 0,05. Berdasarkan kondisi tersebut 58 maka keputusan yang diambil adalah menolak hipotesis nol atau menerima hipotesis alternatif. Hal ini berarti ketiga variabel independent dalam model secara bersama-sama memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Pengujian ini masih belum cukup untuk menyimpulkan bahwa model ini adalah yang terbaik, sehingga masih perlu dilakukan pengujian secara parsial. 5.2.2.2 Uji-t Setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menguji koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t. Hipotesis yang diajukan dalam pengujian ini adalah masing-masing koefisien persamaan bernilai nol atau βi=0. Artinya adalah tidak ada pengaruh dari variabel independent Xi terhadap variabel dependent Y. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah βi≠0 yang artinya ada pengaruh dari setiap variabel independent Xi terhadap variabel dependent Y. Keputusan dalam pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai dengan > atau dengan melihat nilai probabilitas dari . Jika nilai atau jika nilai probabilitas t < α = 0,05 maka tolak H0, sehingga kesimpulannya adalah peubah bebas secara parsial signifikan memengaruhi peubah tak bebas. Nilai dari masing-masing koefisien dalam persamaan regresi dan nilai probabilitas atau tingkat signifikansinya dapat dilihat pada Tabel 5.9 Dibandingkan dengan nilai yang sebesar 1,983; koefisien β0, β1, 59 β2, β3 dalam persamaan memiliki nilai mutlak yang lebih besar. Keputusan yang diambil adalah menolak hipotesis nol pada semua pengujian koefisien. Hal ini berarti semua variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh signifikan yang kuat terhadap variabel penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat. Tabel 5.9 Hasil Uji-t Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 6.968477 0.235614 0.761154 -0.675332 1.311031 0.077469 0.026763 0.102880 5.315265 3.041396 28.44034 -6.564269 0.0000 0.0031 0.0000 0.0000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. 5.2.2.3 Uji Koefisien Determinasi (R2) Uji statistik dilakukan selanjutnya adalah uji koefisien determinasi (R2) yakni untuk melihat tingkat kesesuaian atau kecocokan dari estimasi model yang terbentuk (goodness of fit). Cara yang dilakukan adalah dengan melihat nilai R2 dalam model. Pada Tabel 5.8 terlihat nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan oleh model sebesar 0,957986. Angka ini berarti variasi atau proporsi keragaman penyerapan tenaga kerja yang mampu dijelaskan oleh variabel bebas dalam model adalah sebesar 95,80 persen. Sedangkan sisanya, sebanyak 4,2 persen variasi penyerapan tenaga kerja dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Secara umum, hal ini menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara variabel tidak bebas penyerapan tenaga kerja dengan semua variabel bebas. 60 5.2.3 Pemilihan Model Estimasi Data Panel Pemilihan jenis model estimasi data panel terbaik yang digunakan dalam analisis didasarkan pada dua uji, yakni uji Chow dan uji Haussman. Uji Chow digunakan untuk memutuskan apakah menggunakan common effect atau fixed effect. Sedangkan keputusan untuk menggunakan fixed effect atau random effect ditentukan oleh uji Haussman. Tabel 5.10 Hasil Uji Chow Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square 3.220657 55.707116 d.f. (18,92) 18 Prob. 0.0001 0.0000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Keputusan dalam pengujian ini menolak H0 jika jika nilai atau Prob < α. Jika H0 ditolak maka Model Fixed Effect lebih baik daripada Common Effect. Dari tabel 5.10 diperoleh nilai lebih besar dari nilai sebesar 3,220657 yang sebesar 2,69. Demikian halnya dengan probabilitas 0,0001 yang lebih kecil dari α = 0,05. Karena menolak H0 maka Model Fixed Effect lebih baik daripada Common Effect. Langkah selanjutnya adalah membandingkan model fixed effect atau random effect dengan melakukan uji Haussman. Keputusan menolak H0 dilakukan dengan membandingkannya dengan Chi square. Jika nilai maka H0 ditolak sehingga model yang digunakan adalah fixed effect, sebaliknya jika penolakan H0 tidak signifikan maka yang digunakan adalah random effect. 61 Tabel 5.11 Hasil Uji Haussman Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. 17.323482 3 0.0006 Cross-section random Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6. Hasil penghitungan uji Hausman diperoleh nilai 17,323482. Nilai ini lebih besar dari nilai sebesar yang hanya 7,814. Jika dilihat nilai probabilitas sebesar 0.0006 lebih rendah dari α = 0,05. Dengan penolakan H0 maka model estimasi data panel yang digunakan adalah fixed effect. 5.2.4 Analisis Model Regresi Penyerapan Tenaga Kerja Data Panel Model persamaan regresi penyerapan tenaga kerja data panel terbaik yang didapatkan dari hasil pengolahan menggunakan EViews 6.0 dengan model fixed effect adalah sebagai berikut: Keterangan: Emp : Employment/ penyerapan tenaga kerja G : Goverment Expenditure/ Pengeluaran Pemerintah PDRB : Produk Domestik Regional Bruto WP : Wage per Price/ Upah Riil i : urutan kabupaten/kota t : series tahun 2005-2010 : error term 62 Berdasarkan persamaan fungsi penyerapan tenaga kerja dapat dianalisis faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat selama rentang tahun 2005 s/d 2010 beserta nilai elastisitasnya. Faktorfaktor yang secara nyata memengaruhi besarnya penyerapan tenaga kerja ada tiga, yaitu pengeluaran pemerintah, besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta upah riil. 5.2.4.1 PDRB Faktor yang paling dominan dalam memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat adalah PDRB yang dalam analisis ini diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja, sehingga semakin meningkat pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat pula jumlah tenaga kerja yang terserap. Nilai koefisien pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dalam persamaan fungsi penyerapan tenaga kerja adalah sebesar 0,7612. Nilai ini mencerminkan besarnya elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang terserap sebesar 0,7612 persen dengan asumsi variabel yang lain konstan. Manusia merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses produksi, sehingga dapat dikatakan bahwa penyerapan tenaga kerja akan meningkat jika output meningkat atau sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Untuk itu pertumbuhan ekonomi hendaknya diarahkan untuk dapat menyerap tenaga kerja yang lebih besar. 63 Tambunan (2011) menyatakan bahwa selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau PDRB yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan PDRB. 5.2.4.2 Upah Riil Upah riil memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien upah riil dalam model yang sebesar -0,6753. Nilai koefisien tersebut juga menunjukkan besarnya elastisitas upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya setiap peningkatan upah riil sebesar satu persen justru akan menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,6753 persen, dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. Upah bagi pekerja merupakan pendapatan, sedangkan bagi perusahaan merupakan suatu beban (biaya), sehingga wajar saja jika pekerja menghendaki upah yang tinggi, melalui serikat pekerja mereka dapat menuntut kenaikan tingkat kesejahteraan. Sedangkan perusahaan akan menekan beban (biaya) produksi serendah-rendahnya. Hal ini mengimplikasikan bahwa pemerintah Provinsi Sumatera Barat harus berhati-hati dalam memilih dan menerapkan bentuk-bentuk 64 kebijakan berkaitan penetapan upah minimum agar tidak terjadi dampak negatif yang tidak diinginkan. Kenaikan upah minimum yang cepat di Indonesia telah mendorong perusahaan-perusahaan untuk menggunakan lebih banyak mesin dan tenaga kerja terampil dalam proses produksi. Hal ini menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja bagi tenaga kerja tidak terampil, khususnya pekerja perempuan, usia muda, dan kurang terdidik. Penelitian senada dilakukan oleh Smeru (2001 dan 2004) yang menyimpulkan bahwa kenaikan upah minimum riil berdampak negatif terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan perkecualian bagi pekerja kerah putih. Dengan adanya kenaikan tingkat upah minimum maka perusahaan akan mengurangi sebagian tenaga kerja untuk digantikan dengan pekerja kerah putih. Hal ini juga menunjukkan bahwa setelah adanya kenaikan upah minimum perusahaan mengubah proses produksi yang padat tenaga kerja dengan proses produksi yang lebih padat modal dan lebih menuntut keterampilan. Karena adanya saling keterkaitan antara modal dan keterampilan, maka proporsi pekerja kerah putih yang lebih tinggi menandai adanya pemanfaatan teknologi yang lebih padat modal. Sukirno (2000) menyatakan bahwa salah satu cara agar penyerapan tenaga kerja dapat ditingkatkan oleh suatu negara adalah dengan kebijakan pendapatan (income policy) yaitu dengan mengendalikan tuntutan kenaikan pendapatan pekerja untuk menghindari kenaikan biaya produksi yang berlebihan. Dengan tingkat upah sesuai mekanisme pasar tersebut diharapkan investor akan 65 meningkatkan outputnya karena turunnya biaya produksi termasuk biaya faktor produksi tenaga kerja. Hal ini akan berdampak meningkatnya aggregat supply yang secara perlahan akan mereduksi pengangguran sehingga perekonomian dapat mendekati kondisi full employment (tingkat pengangguran kurang dari 4 persen). Namun pada saat kesejahteraan pekerja masih rendah, kebijakan seperti ini juga kurang efektif. Hal yang lebih realistis dilakukan adalah dengan menetapkan upah minimum sewajarnya yang diikuti dengan peningkatan skill pekerja agar produktivitasnya meningkat sebanding dengan kenaikan upah minimum. 5.2.4.3 Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah juga berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan asumsi variabel lain adalah tetap, kenaikan satu persen pengeluaran pemerintah dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat sebesar 0,2356 persen. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kenaikan pengeluaran pemerintah dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja. Pengeluaran pemerintah dapat memperbesar output yang dihasilkan oleh suatu sektor ekonomi. Selain itu, juga dapat menaikkan pendapatan masyarakat karena pengeluaran pemerintah akan menjadi penerimaan masyarakat sehingga mendorong permintaan agregat. Karena adanya kenaikan permintaan agregat sehingga mendorong produsen untuk meningkatkan output produksinya. Untuk itu, produsen memerlukan tambahan input produksi, salah satunya adalah tenaga kerja, sehingga akan tercipta kesempatan kerja baru. Dengan demikian, kenaikan pengeluaran pemerintah akan menambah kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Proyek-proyek yang dibiayai oleh pemerintah seperti membangun jalan, sekolah, 66 atau fasilitas lain umumnya bersifat padat karya sehingga dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hipotesis Minsky (1974) dalam Prasetyantoko (2008) bahwa pengangguran tidak bisa diatasi tanpa campur tangan pemerintah. Dalam hal ini, pasar tidak akan dengan sendirinya menyelesaikan persoalan pengangguran serta derivasi masalah yang ditimbulkannya sehingga pemerintah harus lebih meningkatkan pengeluaran pembangunan yang nantinya akan merangsang penyerapan tenaga kerja. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil-hasil empiris dan pembahasan, sesuai dengan tujuan penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Peningkatan jumlah penduduk di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 meningkatkan jumlah penduduk usia kerja. Jumlah angkatan kerja yang bekerja juga mengalami peningkatan. Angkatan kerja yang bertambah tanpa adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja dapat mengakibatkan pengangguran. Sektor/lapangan Usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan serta sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel. 2. Faktor-faktor yang secara nyata atau signifikan memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2010 adalah pengeluaran pemerintah dan besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang berpengaruh positif. Sedangkan upah riil berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. 3. Nilai elastisitas yang tertinggi dihasilkan oleh PDRB yang diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yakni sebesar 0,7612. Artinya pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,7612 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 68 4. Sementara upah riil memiliki elastisitas sebesar -0,6753. Artinya penurunan upah riil sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,6753 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 5. Sedangkan pengeluaran pemerintah menghasilkan elastisitas terendah yaitu sebesar 0,2356 persen. Artinya peningkatan pengeluaran pemerintah sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,2356 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 6.2 Saran Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka beberapa saran dan rekomendasi yang diberikan adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan output riil (PDRB ADHK) ataupun pertumbuhan ekonomi perlu ditingkatkan karena mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat hendaknya merangsang sektor pertanian karena sektor ini banyak menyerap tenaga kerja. Salah satu cara adalah dengan penigkatan teknologi pertanian yang tepat guna. 2. Kenaikan upah yang tinggi ternyata bisa berdampak pada penurunan penyerapan tenga kerja. Kenaikan upah tersebut hanya menguntungkan pekerja insider (pekerja yang sudah mendapatkan pekerjaan), sedangkan pekerja yang sedang mencari pekerjaan akan lebih dirugikan. Oleh karena itu pemerintah perlu membiarkan perilaku upah itu sesuai dengan mekanisme pasar tenaga kerja dengan sesekali melakukan kontrol. Pemerintah hendaknya 69 menetapkan upah minimum sewajarnya dengan mempertimbangkan standar biaya hidup. Hal yang lebih realistis dilakukan adalah dengan menetapkan upah minimum sewajarnya yang diikuti dengan peningkatan skill pekerja agar produktivitasnya meningkat sebanding dengan kenaikan upah minimum. 3. Pengeluaran pemerintah hendaknya lebih diprioritaskan pada pengeluaran untuk pembangunan yang nantinya akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Karena pengeluaran pemerintah hanya menyerap tenaga kerja yang relatif sedikit. Pemerintah provinsi Sumatera Barat diharapkan benar-benar dapat menciptakan stimulus fiskal bagi perluasan tenaga kerja. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan irigasi agar lebih ditingkatkan karena nantinya akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, PDRB, DAN UPAH RIIL TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA BARAT OLEH HERY FERDINAN H14114008 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2011. Ekonomi dan Ketenagakerjaan Indonesia 2009-2010. BPS, Jakarta. ________. Indikator Tingkat Hidup Pekerja Berbagai Edisi. BPS, Jakarta. ________. 2010. Statistik Indonesia 2010. BPS, Jakarta. ________. Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat II Berbagai Edisi. BPS, Jakarta. BPS Provinsi Sumatera Barat. 2011. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang ________. 2011. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang. ________. 2010. Sumatera Barat Dalam Angka 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang. Burtt, E.J. Jr. 1963. Labor Market, Unions, and Government Policies. St Martin’s Press, New York. Dornbusch, R., S. Fischer, dan R. Startz. 1991. Makroekonomi. Edisi Keempat. J. Mulyadi (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Downes, A.S. 1998. “An Economic Analysis of Unemployment in Trinidad and Tobago”. University of the West Indies, Barbados. Gujarati, D. N. 2004. Basic Econometrics Fourth Edition. Mac Grow-Hill International Editions, Singapore. Kuntoro, E. 2007. “Hubungan Simultan Antara Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja serta Variabel yang Mempengaruhinya” [Skripsi]. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta. Mankiw, N.G. 2007. Makroekonomi. Edisi Keenam. Fitria Liza dan Imam Nurmawan (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Nilasari, L. 2007. “Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Investasi, dan Upah Minimum Regional Terhadap Kesempatan Kerja di Jawa Barat studi kasus tahun 1986-2005” [Skripsi]. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta. Prasetyantoko, A. 2008. Bencana Finansial Stabilitas Sebagai Barang Publik. Kompas, Jakarta. 71 Sari, N.A. 2011. Pengangguran di Indonesia 1984-2008:Persistensi dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya [Tesis]. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Sitanggang, I.R dan Nachrowi, N.D. 2004. “Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Provinsi pada 9 Sektor di Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, Vol 5 No.01: 103-133. Smeru. 2004. “Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial untuk Memperluas Kesempatan Kerja”. Jakarta: Smeru Research Institude. ________. 2001. “Dampak Kebijakan Upah Minimum terhadap Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Perkotaan Indonesia”. Jakarta: Smeru Research Institude. Sukirno, S. 2000. Teori Pengantar Makroekonomi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tambunan, Tulus T.H. 2011. Perekonomian Indonesia Kajian Teoritis dan Analisis Empiris. Ghalia Indonesia, Bogor. ________. 2011. Krisis Ekonomi Indonesia Teori dan Empiris, Universitas Trisakti, Jakarta. Todaro, M.P. dan Smith, S.C. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid I Edisi Kesembilan. Haris Munandar (penerjemah). Erlangga, Jakarta. ________. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid II Edisi Kesembilan. Andri Yelvi (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Wallis, G. 2002. “The Effect of Skill Shortage on Unemploymrnt and Real Wage Growth: A Simultaneous Equation Approach”. British National Statistics Office, Warwick. Yamin, S., L.A. Rachmah, dan H. Kurniawan. 2011. Regresi dan Korelasi Dalam Genggaman Anda. Salemba Empat, Jakarta. http://sp2010.bps.go.id http://www.datastatistik-indonesia.com http://www.depnakertrans.go.id PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, PDRB, DAN UPAH RIIL TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA BARAT OLEH HERY FERDINAN H14114008 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, PDRB, DAN UPAH RIIL TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA BARAT Oleh HERY FERDINAN H14114008 Skripsi Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 RINGKASAN HERY FERDINAN. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, PDRB, dan Upah Riil Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat (dibimbing oleh FIFI DIANA THAMRIN). Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting dan urgent mengingat erat kaitannya dengan pengangguran baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam masalah ketenagakerjaan menunjukkan bahwa semakin tinggi angka pengangguran maka akan meningkatkan probabilitas kemiskinan, kriminalitas, dan fenomena-fenomena sosial-ekonomi di masyarakat. Peningkatan pertumbuhan ekonomi selama periode 2005-2010 di Provinsi Sumatera Barat ternyata tidak selalu diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk menganalisis keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat dan pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat serta besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan sekaligus rekomendasi mengenai strategi kebijakan yang optimal untuk mengurangi tingginya pengangguran di Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS tahun 2005 – 2010 yang meliputi data Pengeluaran Pemerintah, PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK), dan Upah Riil. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi berganda data panel dengan fixed effects model. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah rill. Ketiga variabel tersebut berpengaruh secara signifikan. Variabel yang paling tinggi pengaruhnya adalah PDRB dengan elastisitas 0,7612. Sementara upah riil memiliki elastisitas sebesar -0,6753. Sedangkan pengeluaran pemerintah menghasilkan elastisitas sebesar 0,2356. Dengan mengetahui karakteristik penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat, diharapkan pemerintah daerah Sumatera Barat lebih memperhatikan masalah ketenagakerjaan. Selain itu, pemerintah daerah Sumatera Barat hendaknya mendorong sektor pertanian dengan peningkatan teknologi pertanian yang tepat guna, menetapkan upah minimum sewajarnya dengan mempertimbangkan standar biaya hidup yang diikuti dengan skill dan produktivitas pekerja, serta menciptakan stimulus fiskal bagi perluasan tenaga kerja. Judul Skripsi : PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, PDRB, DAN UPAH RILL TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA BARAT Nama : Hery Ferdinan NRP : H14114008 Menyetujui, Dosen Pembimbing Fifi Diana Thamrin, M. Si NIP. 19730424 200604 2 006 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Dedi Budiman Hakim, Ph.D NIP. 19641022 198903 1 003 Tanggal Kelulusan : PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor, November 2011 Hery Ferdinan H14114008 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Hery Ferdinan, dilahirkan di Sleman pada tanggal 27 Februari 1982 dari pasangan Sukirman Saeno dan Sutarti. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis menikah dengan Ika Maylasari, dan dikaruniai satu orang putri bernama Fadia Khaylila Nurazizah. Penulis mengikuti pendidikan di SDN Rejowinangun Utara 5 pada tahun 1988 sampai dengan tahun 1994, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 8 Magelang pada tahun 1994 sampai dengan tahun 1997, dan Sekolah Menengah Umum Negeri 2 Magelang pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2000. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta Jurusan Statistik Kependudukan pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2004. Sejak Desember 2004 penulis bekerja di BPS Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Penulis diamanahi jabatan sebagai Kasi Statistik Produksi. Pada tahun 2011 penulis diterima menjadi mahasiswa program alih jenis di Sekolah Pasca Sarjana Departemen Ilmu Ekonomi melalui program beasiswa kerjasama Badan Pusat Statistik dengan Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor. KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, PDRB, DAN UPAH RIIL TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI SUMATERA BARAT”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moral-spiritual dan material kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada: 1. Seluruh jajaran pimpinan BPS, khususnya Dr. Rusman Heriawan, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan melalui program tugas belajar pasca sarjana. 2. Fifi Diana Thamrin, M.Si, selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Dr. Wiwiek Rindayati, selaku dosen penguji atas saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi ini. 4. Deni Lubis, MA, selaku dosen penguji komisi pendidikan atas saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi ini. 5. Istriku tercinta, Ika Maylasari, atas dukungannya yang setiap saat membantu penulis. Serta keluarga yang selalu memberikan bantuan doanya. 6. Rekan mahasiswa kelas khusus BPS-IPB Batch 4 angkatan 2011, khususnya yang satu kosan dengan penulis. 7. Seluruh jajaran pegawai BPS yang telah membantu penyediaan data. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak yang membutuhkan. Bogor, November 2011 Hery Ferdinan H14114008 viii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................... viii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xi DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiii I. II. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1 1.2. Perumusan Masalah ........................................................................ 5 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................ 6 1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................... 6 1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian .................................. 7 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 8 2.1. Tinjauan Teoritis ............................................................................. 8 2.1.1. Ketenagakerjaan ................................................................... 8 2.1.2. Pengeluaran Pemerintah ....................................................... 9 2.1.3. PDRB.................................................................................... 10 2.1.4. Upah Riil .............................................................................. 12 2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu ......................................................... 16 2.3. Kerangka Pikir ................................................................................ 19 2.4. Definisi Operasional ....................................................................... 20 2.5. Hipotesis Statistik ........................................................................... 21 III. METODE PENELITIAN ........................................................................ 22 3.1. Jenis dan Sumber Data .................................................................... 22 3.2. Metode Analisis .............................................................................. 23 3.2.1. Analisis Deskriptif ................................................................ 23 3.2.2. Analisis Regresi Data Panel .................................................. 24 3.2.2.1. Model Common Effects .......................................... 26 3.2.2.2. Model Fixed Effects ................................................ 27 ix 3. 2.2.3. Model Random Effects .......................................... 28 3. 2.2.4. Pemilihan Model Estimasi Data Panel ................... 29 3. 2.2.5. Pengujian Asumsi .................................................. 31 3. 2.2.6. Pengujian Parameter Model ................................... 34 3. 2.2.7 Model Penelitian ................................................... 35 IV. GAMBARAN UMUM ........................................................................... 37 4.1. Keadaan Geografi............................................................................ 37 4.2. Penduduk ......................................................................................... 38 V. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 41 5.1. Analisis Deskriptif .......................................................................... 41 5.1.1. Penyerapan Tenaga Kerja ..................................................... 41 5.1.2. Pengeluaran Pemerintah ....................................................... 46 5.1.3. PDRB.................................................................................... 48 5.1.4. Upah Riil .............................................................................. 51 5.2. Analisis Regresi Data Panel ............................................................ 53 5.2.1. Pengujian Asumsi ................................................................. 53 5.2.1.1. Asumsi Normalitas ................................................. 53 5.2.1.2. Asumsi Autokorelasi .............................................. 54 5.2.1.3. Asumsi Homoskedastisitas ..................................... 56 5.2.2. Pengujian Parameter Model.................................................. 57 5.2.2.1. Uji F ........................................................................ 57 5.2.2.2. Uji-t ......................................................................... 58 5.2.2.3. Uji Koefisien Determinasi (R2) .............................. 59 5.2.3. Pemilihan Model Estimasi Data Panel ................................. 60 5.2.4. Analisis Model Regresi Penyerapan Tenaga Kerja ............. 61 5.2.4.1. PDRB ...................................................................... 62 5.2.4.2. Upah Riil ................................................................. 63 5.2.4.3. Pengeluaran Pemerintah ......................................... 65 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 67 6.1. Kesimpulan ...................................................................................... 67 6.2. Saran ................................................................................................. 68 x DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 70 LAMPIRAN .................................................................................................. 72 xi DAFTAR TABEL Nomor 1.1 Halaman Jumlah dan persentase pengangguran terbuka Indonesia dirinci menurut jenjang pendidikan (juta orang) ...................................... 2 4.1 Luas daerah dan persentase kabupaten/kota di Sumatera Barat .... 37 4.2 Jumlah dan persentase penduduk Sumatera Barat dirinci menurut kabupaten/kota tahun 2010 (jiwa) ................................... 38 5.1 Keadaan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 ......... 42 5.2 Realisasi belanja daerah pemerintah provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (juta rupiah) ..................................................... 46 PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (milyar rupiah) ....................... 48 Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 ....................... 49 Rata-rata upah nominal dan upah riil pekreja di Sumatera Barat tahun 2005-2010 (rupiah) .............................................................. 51 5.6 Hasil uji asumsi Autokorelasi ....................................................... 55 5.7 Hasil uji asumsi Homoskedastisitas .............................................. 56 5.8 Hasil uji F ...................................................................................... 57 5.9 Hasil uji t ....................................................................................... 59 5.10 Hasil uji Chow............................................................................... 60 5.11 Hasil uji Haussman........................................................................ 61 5.3 5.4 5.5 xii DAFTAR GAMBAR Nomor 1.1 Halaman Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Sumatera Barat Tahun 2005-2010 .......................................................................................... 4 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia dan Sumatera Barat periode Agustus 2008 s/d Februari 2011.................................. 4 2.1 Diagram ketenagakerjaan................................................................... 9 2.2 Keseimbangan pasar tenaga kerja ...................................................... 15 2.3 Kerangka pikir ................................................................................... 19 4.1 Piramida penduduk Sumatera Barat dirinci menurut kelompok umur tahun 2010 (jiwa) ...................................................................... 39 Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 .......................................................................................... 43 Persentase penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama Tahun 2010 ............................... 44 Penyerapan tenaga kerja berdasarkan sektor/lapangan usaha di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) .............................................. 45 Pertumbuhan pengeluaran pemerintah dan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) .......................................... 47 Pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) .............................................................. 50 Pertumbuhan upah riil dan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) .............................................................. 52 5.7 Hasil uji asumsi Normalitas ............................................................... 54 5.8 Kriteria uji asumsi Autokorelasi ........................................................ 55 1.2 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 xiii DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1 2 Halaman Data penyerapan tenaga kerja, PDRB, Pengeluaran Pemerintah, dan upah riil kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat tahun 2005-2010 ........................................................................................ 72 Hasil uji regresi berganda data panel menggunakan EViews 6.0 ... 75 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting mengingat erat kaitannya dengan pengangguran baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam masalah ketenagakerjaan menunjukkan bahwa semakin tinggi angka pengangguran maka akan meningkatkan probabilitas kemiskinan, kriminalitas, dan fenomena-fenomena sosial-ekonomi di masyarakat. Pembangunan merupakan upaya perubahan struktural yang dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan kesempatan kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan penduduk. Tujuan pembangunan Indonesia itu sendiri adalah untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan adalah dengan pengentasan kemiskinan, pemerataan pendapatan serta penyediaan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun demikian tidak semua penduduk memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses dan kegiatan pembangunan, sehingga masih ada yang tertinggal dan tidak terangkat dari kemiskinan. Ketenagakerjaan masih menjadi salah satu prioritas perhatian pemerintah, hal ini dapat tercermin pada: 2 1. Ketenagakerjaan merupakan salah satu sasaran pembangunan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, sesuai triple track strategy (pro poor, pro growth, pro job). 2. Begitu pula pada RPJMN 2010-2014, sasaran pemerintah pada bidang ketenagakerjaan yaitu: a. Menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 5-6 persen. b. Menyelesaikan masalah ketenagakerjaan antara lain:  Terbatasnya kesempatan untuk memperoleh Pekerjaan yang layak  Kualitas angkatan kerja yang rendah  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda yang tinggi.  TPT terdidik (di atas SLTA) masih tinggi. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia merupakan salah satu masalah makroekonomi. Dilihat dari dimensi regional beberapa permasalahan pengangguran adalah tidak adanya konvergensi dan tingkat pengangguran provinsi menunjukkan kecenderungan yang meningkat (Sari, 2011). Tabel 1.1 Jumlah dan Persentase Pengangguran Terbuka Indonesia Dirinci Menurut Jenjang Pendidikan (juta orang) JENJANG PENDIDIKAN Februari 2010 Penganggur % TPT Terbuka Agustus 2010 Penganggur % TPT Terbuka Februari 2011 Penganggur % TPT Terbuka (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) < SD SMP SMA SMK DIPLOMA I/II/III UNIVERSITAS 2,13 1,65 2,11 1,34 0,54 0,82 24,80 19,21 24,56 15,60 6,29 9,55 2,16 1,66 2,15 1,20 0,44 0,71 25,96 19,95 25,84 14,42 5,29 8,53 1,92 1,80 2,27 1,08 0,44 0,61 23,65 22,17 27,96 13,30 5,42 7,51 TOTAL 8,59 7,41 8,32 7,14 8,12 6,80 Sumber : BPS, diolah. 3 Berdasarkan Tabel 1.1 terlihat bahwa secara total persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia sampai dengan bulan Februari 2011 sebesar 6,80 persen. Apabila kita bandingkan dengan target RPJMN 2010-2014 yang ingin dicapai maka dapat dikatakan bahwa TPT Indonesia masih jauh dari angka yang diharapkan dimana TPT terdidik (di atas SMA) masih tinggi. Pembangunan di Provinsi Sumatera Barat yang berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pencapaian hasil-hasil pembangunan yang sangat dirasakan masyarakat merupakan agregat pembangunan dari 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yang tidak terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat. Namun di sisi lain berbagai kendala dalam memaksimalkan potensi sumber daya manusia dan sumber modal masih dihadapi oleh penentu kebijakan di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota. Salah satu masalah yang perlu disikapi secara tegas dan bijak adalah masalah ketenagakerjaan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Provinsi Sumatera Barat dari tahun ke tahun selalu menunjukkan adanya peningkatan. Terjadi sekali penurunan yaitu pada tahun 2009 dimana pertumbuhan ekonominya tidak sepesat tahun 2008, hal ini dikarenakan terjadi krisis global yang melanda negara-negara di dunia yang juga berimbas pada Indonesia. Kemudian di tahun 2010 pertumbuhan ekonomi kembali menunjukkan adanya peningkatan. Seperti terlihat pada Gambar 1.1 bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Tahun 2010 sebesar 6,10 persen sedangkan Sumatera Barat sebesar 5,93 persen. 4 7,00 6,88 6,35 6,14 6,00 6,10 6,34 6,01 5,73 5,93 5,69 5,50 5,00 4,58 Indonesia Sumatera Barat 4,28 4,00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Sumber: BPS, diolah. 8,50 8,39 8,14 8,00 8,04 7,97 7,90 7,87 7,57 7,50 7,41 7,14 7,14 7,00 6,95 Indonesia 6,80 Sumatera Barat 6,50 08 2008 02 2009 08 2009 02 2010 08 2010 02 2011 Gambar 1.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia dan Sumatera Barat Periode Agustus 2008 s/d Februari 2011 Sumber: BPS, diolah. 5 Menurut Wallis (2002), pertumbuhan ekonomi secara otomatis akan meningkatkan upah pekerja dan penyerapan tenaga kerja, karena meningkatnya permintaan tenaga kerja. Besarnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia dan Sumatera Barat dapat dilihat dari tingginya angka Tingkat Pengangguran Terbuka. Berdasarkan Gambar 1.2 terlihat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Sumatera Barat sangat berfluktuasi dibandingkan dengan TPT Indonesia. Pada periode Februari Tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka Sumatera Barat sebesar 7,14 persen di atas angka Indonesia yang sebesar 6,80 persen. Baik TPT Indonesia maupun Sumatera Barat keduanya menunjukkan angka yang sangat tinggi jika dibandingkan target yang telah ditetapkan dalam RPJM 20102014 yang sebesar 5 s/d 6 persen. 1.2 Perumusan Masalah Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, akan tetapi di sisi lain peningkatan ini justru tidak dapat menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu jumlah penduduk juga terus bertambah yang menumpuk pada usia produktif, peningkatan jumlah angkatan kerja tanpa diikuti dengan penyediaan lapangan kerja akan mengakibatkan jumlah pengangguran semakin bertambah. Tenaga kerja sebagai salah satu dari faktor produksi merupakan unsur yang penting dan paling berpengaruh dalam mengelola dan mengendalikan sistem ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi maupun investasi. Keterlibatannya dalam proses produksi menyebabkan mereka menginginkan 6 pendapatan yang memadai, tingkat keamanan dan kenyamanan kerja, serta keuntungan lain yang dapat diperoleh. Untuk mencari solusi yang tepat dari permasalahan tersebut dibutuhkan kajian mengenai ketenagakerjaan yaitu penyerapan tenaga kerja beserta faktorfaktor yang memengaruhi. Kajian tersebut juga berguna untuk merumuskan strategi kebijakan dalam ketenagakerjaan pada masa yang akan datang. Bertolak dari uraian di atas, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat? 2. Bagaimana pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat, dan seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor tersebut? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat. 2. Menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat serta besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tersebut. 1.4 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan 7 bahan sekaligus rekomendasi mengenai strategi kebijakan yang optimal untuk mengurangi tingginya pengangguran di Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan bagi pembaca diharapkan bisa menjadi informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian sejenis atupun lebih lanjut. Bagi penulis sendiri penelitian ini dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran dalam penerapan ilmu yang telah dipelajari di bidang ekonomi. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini hanya akan membahas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja mencakup seluruh sektor baik formal maupun informal. Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penyerapan tenaga kerja dibatasi pada pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil. Objek penelitian ini adalah Provinsi Sumatera Barat dengan periode waktu Tahun 2005-2010. Adapun data diperoleh dari publikasi-publikasi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS RI) maupun BPS Provinsi Sumatera Barat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Ketenagakerjaan Penduduk suatu negara dapat dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Tenaga kerja adalah penduduk yang berusia kerja (15 tahun ke atas), sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003. Penduduk usia kerja dikelompokkan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Dikatakan angkatan kerja adalah penduduk yang termasuk usia kerja yang mempunyai pekerjaan, atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara tidak bekerja dan yang mencari pekerjaan. Bukan angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja atau sedang tidak bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan karena sekolah, mengurus rumah tangga serta menerima pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung atas jasa kerjanya misal pensiunan. Tenaga kerja adalah salah satu dari faktor produksi yang penting, karena produktivitas dari faktor produksi lain bergantung pada produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan produksi. Selain itu, tenaga kerja adalah penggerak pembangunan. Tenaga kerja diartikan sebagai penduduk usia kerja, yaitu penduduk yang berusia dari 15-64 tahun. Sebelum tahun 1997, definisi tenaga kerja adalah mereka yang berusia 10 tahun ke atas (BPS, 2010). 9 Konsep bekerja menurut BPS adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh dan membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Gambar 2.1 Diagram Ketenagakerjaan Sumber : Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 2.1.2 Pengeluaran Pemerintah Kegiatan pemerintah berfungsi untuk menyediakan jasa pelayanan umum bagi masyarakat yang secara ekonomis sulit dinilai, seperti melaksanakan administrasi pemerintah, menjaga kestabilan dan keamanan negara, meningkatkan 10 pendidikan dan kesehatan masyarakat, mengatur kebijaksanaan perekonomian dengan negara lainnya. Keynes berpendapat tingkat kegiatan dalam perekonomian ditentukan oleh perbelanjaan agregat. Pada umumnya perbelanjaan agregat dalam suatu periode tertentu adalah kurang dari perbelanjaan agregat yang diperlukan untuk mencapai tingkat full employment. Keadaan ini disebabkan karena investasi yang dilakukan para pengusaha biasanya lebih rendah dari tabungan yang akan dilakukan dalam perekonomian full employment. Keynes berpendapat sistem pasar bebas tidak akan dapat membuat penyesuaian-penyesuaian yang akan menciptakan full employment. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan kebijakan pemerintah. Tiga bentuk kebijakan pemerintah yaitu kebijakan fiskal, moneter dan pengawasan langsung. Kebijakan fiskal melalui pengaturan anggaran pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Dalam masa inflasi biasanya kebijakan fiskal akan berbentuk mengurangi pengeluaran pemerintah dan meningkatkan pajak. Sebaliknya apabila pengangguran serius maka pemerintah berusaha menambah pengeluaran dan berusaha mengurangi pajak (Mankiw, 2007). 2.1.3 PDRB Indikator yang sering dipakai untuk menilai kinerja perekonomian suatu negara adalah Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan indikator untuk melihat kinerja ekonomi suatu wilayah dalam suatu negara tertentu digunakan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), yang merupakan keseluruhan nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktivitas ekonomi yang dilakukan dalam 11 suatu wilayah terutama yang dikaitkan dengan kemampuan wilayah tersebut dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Disebut domestik karena menyangkut batas wilayah dan dinamakan bruto karena telah memasukkan komponen penyusutan dalam perhitungannya. PDRB secara umum disebut juga agregat ekonomi, maksudnya angka besaran total yang menunjukkan prestasi ekonomi suatu wilayah. Dari agregat ekonomi ini selanjutnya dapat diukur pertumbuhan ekonomi. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi riil terlebih dahulu harus dihilangkan pengaruh perubahan harga yang melekat pada angkaangka agregat ekonomi menurut harga berlaku sehingga terbentuk harga agregat ekonomi menurut harga konstan. Penelitian Okun (1980) dalam Dornbusch (1991) di Amerika Serikat yang dilatarbelakangi anggapan bahwa dari waktu ke waktu angkatan kerja mengalami pertumbuhan sehingga pengangguran akan naik kecuali jika output riil maupun kesempatan kerja mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Dalam bentuk pertumbuhan, Okun membuktikan bahwa tingkat pengangguran akan turun sebesar 0,4 persen setiap laju pertumbuhan PDB riil sebesar 1 persen per tahun. Hukum Okun ini merupakan hasil dari penelitian empiris sehingga hukum tersebut bukan merupakan hukum yang tetap, karena angka estimasi atas hubungan antara trend laju pertumbuhan output dan tingkat pengangguran akan berubah dari waktu ke waktu. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat memerlukan tenaga kerja tambahan sebagai faktor produksi untuk memenuhi permintaan agregat yang meningkat. Kondisi seperti ini terutama akan terjadi pada struktur perekonomian 12 yang memiliki corak padat karya (labour intensive). Apabila struktur perekonomian suatu wilayah adalah capital intensive (padat modal), maka pertumbuhan ekonomi hanya akan meningkatkan kebutuhan modal dan tidak akan menyerap banyak tenaga kerja. 2.1.4 Upah Riil Kaum ekonom klasik menyatakan, bahwa tenaga kerja/karyawan mendasarkan penawaran tenaga kerja atas upah riil (W/P). Oleh karena itu, kenaikan upah nominal tidak akan mengubah penawaran tenaga kerja apabila kenaikan upah tersebut disertai dengan kenaikan tingkat harga yang sepadan. Orang yang merasa lebih kaya karena kenaikan upah nominal dan kenaikan tingkat harga yang sama dikatakan terkena money illusion. Orang yang rasional tidak akan mengalami ilusi uang, karena mereka hanya mau mengubah penawaran tenaga kerja apabila terjadi perubahan dalam upah riil. Burtt (1963) dalam bukunya berjudul “Labor Market, Unions and Government Policies” menyatakan bahwa ada beberapa teori yang menjelaskan proses penentuan upah dan faktor-faktor yang mempengaruhi upah pekerja, diantaranya yaitu: 1. Teori Kebutuhan Hidup (Subsistence Theory) Salah satu teori upah yang paling tua adalah teori kebutuhan hidup (Subsistence Theory) yang dikemukakan David Ricardo. Teori ini secara sederhana mengemukakan bahwa tingkat upah yang diterima oleh tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan (unskilled worker) hanya dipengaruhi oleh 13 kepentingan untuk menutup biaya hidup kebutuhan pekerja dan keluarganya. Keadaan upah di pasar tenaga kerja akan berfluktuasi di sekitar subsistence level. Penawaran tenaga kerja tidak akan meningkat atau menurun dalam hubungan jangka panjang (long run). Jika tingkat upah naik diatas biaya hidup minimum pekerja, maka akan meningkatkan penawaran tenaga kerja dan akan menurunkan tingkat upah. Apabila tingkat upah berada di bawah biaya hidup minimum maka hal ini akan menurunkan kekuatan penawaran tenaga kerja (labor force) dan kemudian tingkat upah akan naik menuju subsistence level kembali. 2. Teori Upah Besi (Iron Wage Theory) Teori ini dikemukakan oleh Ferdinand Lassalle, yang menyatakan bahwa dengan adanya subsistence theory kepentingan pekerja tidak terlindungi. Oleh karena itu peran serikat pekerja dalam melindungi kepentingan pekerja menjadi hal yang sangat penting. Dengan adanya serikat pekerja tersebut, pekerja akan berusaha menuntut upah yang melebihi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Teori iron wage ini cenderung merugikan kepentingan pengusaha dan pekerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Kenaikan upah akibat desakan serikat pekerja akan menurunkan permintaan tenaga kerja sehingga para penganggur akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan dan para pengusaha akan disulitkan dengan kenaikan biaya produksi. 3. Wage Fund Theory Teori upah ini dikemukakan oleh John Stuart Mill. Menurut teori ini tingkat upah tergantung pada permintaan dan penawaran tenaga kerja. Penawaran tenaga kerja tergantung pada jumlah dana upah yaitu jumlah modal yang 14 disediakan perusahaan untuk pembayaran upah. Peningkatan tabungan akan meningkatkan nilai investasi pada sektor-sektor ekonomi sehingga sektor-sektor ekonomi tersebut berupaya meningkatkan kapasitas produksinya, yaitu dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Peningkatan modal (capital) ini berakibat meningkatnya upah pekerja karena permintaan tenaga kerja semakin meningkat. Teori ini juga menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk akan mendorong tingkat upah cenderung turun, karena tidak sebanding antara jumlah tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja. Sehingga menurut teori ini tingkat upah dapat ditingkatkan hanya dengan mengurangi penawaran tenaga kerja dan dengan meningkatkan tabungan. 4. Marginal Productivity Theory Teori ini menyatakan bahwa dalam rangka memaksimumkan keuntungan, tiap-tiap pengusaha menggunakan faktor-faktor produksi sedemikian rupa sehingga tiap faktor produksi yang dipergunakan menerima atau diberi imbalan sebesar nilai pertambahan hasil marginal dari faktor produksi tersebut. Pengusaha mempekerjakan sejumlah karyawan sedemikian rupa sehingga nilai pertambahan hasil marginal seorang pekerja sama dengan upah yang diterima pekerja tersebut. Teori ini menyatakan bahwa karyawan memperoleh upah sesuai dengan produktivitas marginalnya terhadap pengusaha. Kegagalan upah dalam melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya merupakan indikasi adanya kekakuan upah (wage rigidity). Kekakuan upah merupakan salah satu penyebab terjadinya pengangguran. Untuk memahami kekakuan upah dan pengangguran struktural, 15 maka penting untuk memahami mengapa pasar tenaga kerja tidak berada pada tingkat keseimbangan penawaran dan permintaan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan Gambar 2.2, saat upah riil melebihi tingkat ekuilibrium dan penawaran pekerja melebihi permintaannya, maka perusahaan-perusahaan diharapkan akan menurunkan upah yang akan dibayar kepada para pekerja. Namun pada kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Pengangguran struktural kemudian muncul sebagai implikasi karena perusahaan gagal menurunkan upah akibat kelebihan penawaran tenaga kerja (Mankiw 2007). Gambar 2.2 Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja Sumber: Mankiw (2007). Menurut Mankiw (2007) kekakuan upah riil menyebabkan penjahatan pekerjaan. Jika upah riil tertahan di atas tingkat ekuilibrium (pada W1) maka penawaran tenaga kerja melebihi permintaannya akibatnya adalah pengangguran. 16 Kekakuan upah ini terjadi sebagai akibat dari undang-undang upah minimum atau kekuatan monopoli serikat pekerja. Berbagai faktor tersebut berpotensi menjadikan upah tertahan di atas tingkat upah keseimbangan. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan pengangguran. Undang-undang upah minimum menetapkan tingkat upah minimal yang harus dibayar perusahaan kepada para karyawannya. Kebijakan upah minimum ditengarai akan lebih banyak berdampak pada penganggur dengan usia muda (Mankiw 2007). Alasannya yaitu pekerja dengan usia lebih muda termasuk anggota angkatan kerja yang kurang terdidik dan kurang berpengalaman, maka mereka cenderung memilki produktivitas marginal yang rendah. 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu Sari (2011), melakukan penelitian mengenai “Pengangguran di Indonesia 1984-2008: Persistensi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya” dengan menggunakan uji panel unit root test. Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian antara lain: angkatan kerja, pangsa sektor manufaktur terhadap PDRB, tingkat kepemilikan rumah, upah minimum propinsi, dependency ratio, pangsa sektor pertanian terhadap PDRB, dan PDRB perkapita. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian tersebut adalah angkatan kerja dan upah minimum provinsi berpengaruh positif terhadap tingkat pengangguran regional. Faktorfaktor tersebut secara simultan mengarah pada kondisi kekakuan upah yang berkepanjangan dan proses pencarian kerja yang lebih panjang sehingga berdampak pada persistensi pengangguran. 17 Kuntoro (2007) dalam penelitiannya mengenai “Hubungan Simultan Antara Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja serta Variabel yang Mempengaruhinya” menggunakan uji regresi data panel dengan model fixed effect. Penelitian dilakukan di 26 provinsi di Indonesia pada periode tahun 19972004. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu pertumbuhan ekonomi dan tingkat perubahan harga signifikan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja, adapun investasi fisik tidak signifikan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Pada tahun yang sama Nilasari (2007) melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Investasi, dan Upah Minimum Regional Terhadap Kesempatan Kerja di Jawa Barat studi kasus tahun 1986-2005”. Uji dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda model double-log. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian tersebut yaitu pengeluaran pemerintah dan upah minimum regional memberikan pengaruh positif terhadap kesempatan kerja, sedangkan investasi memberikan pengaruh negatif terhadap kesempatan kerja di Jawa Barat. Sitanggang dan Nachrowi (2004) melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral”. Penelitian dilakukan di 30 provinsi di Indonesia pada kurun waktu 1980-2000. Metode anaisis yang digunakan adalah regresi data panel Generalized Least Squared (GLS) dengan penimbang Cross Section Weights. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu adanya peningkatan dan penurunan dalan jumlah penyerapan tenaga kerja disebabkan oleh perubahan populasi, net migration, output dan juga upah. 18 Lembaga Penelitian Smeru (2004) dalam penelitian “Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial untuk Memperluas Kesempatan Kerja”. Alat analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Analisis tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi dan upah riil berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Smeru (2001) juga melakukan penelitian dengan judul “Dampak Kebijakan Upah Minimum terhadap Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Perkotaan Indonesia”. Uji dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum berdampak negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Temuan yang lebih penting lagi dari studi ini adalah bahwa dampak negatif dari upah minimum sangat dirasakan oleh kelompok yang mempunyai kerentanan tinggi terhadap perubahan dalam kondisi pasar tenaga kerja, seperti pekerja perempuan, pekerja muda usia, dan pekerja berpendidikan rendah. Downes (1998) melakukan penelitian yang berjudul “An Economic Analysis of Unemployment in Trinidad and Tobago”. Penelitian dilakukan pada periode 1963-1996 dengan menggunakan metode Ordinary least Squares (OLS) dan Error Correction Model. Analisis ekonomi mengenai pengangguran di Trinidad dan Tobago mengindikasikan masalah yang serius. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa variabel-variabel yang dominan mempengaruhi penurunan tingkat pengangguran di Trinidad dan Tobago adalah GDP. Peningkatan upah riil juga berdampak pada tingkat pengangguran terutama pada jangka panjang. 19 2.3 Kerangka Pikir Berdasarkan identifikasi dan tujuan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, kemudian ditetapkan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil akan dilakukan analisis deskriptif dan inferensia. Gambaran tentang alur pemikiran penulis untuk memberikan jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti, dapat digambarkan dalam diagram kerangka berpikir sebagai berikut: RPJMN 2010-2014 MASALAH KETENAGAKERJAAN PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TINGGI PENGELUARAN PEMERINTAH PDRB PENYERAPAN TENAGA KERJA ANALISIS REGRESI DATA PANEL BERGANDA REKOMENDASI KEBIJAKAN PEMERINTAH PROV. SUMBAR Gambar 2.3. Kerangka Pikir UPAH RIIL (UPAH NOMINAL/IHK) 20 2.4 Definisi Operasional Adapun variabel-variabel yang digunakan antara lain: 1. Penyerapan tenaga kerja Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tenaga kerja yang dapat terserap dalam kegiatan ekonomi (produksi). Variabel ini didekati dengan jumlah penduduk yang bekerja. Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan tidak terputus. Kegiatan bekerja ini mencakup orang yang sedang bekerja dan juga punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja seperti: cuti, sakit, menunggu panen dan sejenisnya. 2. Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah merupakan jumlah seluruh pengeluaran pemerintah yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatannya, yang terdiri dari pembelian barang dan jasa (belanja barang), pembayaran balas jasa pegawai (belanja pegawai), dan penyusutan barang modal, tidak termasuk atau dikurangi dengan hasil penjualan (penerimaan) dari produksi barang dan jasa (output pasar) yang dihasilkan sendiri oleh pemerintah (yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah) tetapi dikonsumsi oleh masyarakat (bukan oleh pemerintah). Pengeluaran konsumsi pemerintah didasarkan pada realisasi pengeluaran pembangunan. baik yang berupa pengeluaran rutin maupun 21 3. PDRB PDRB atas dasar harga konstan (PDRB riil) menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu waktu tertentu sebagai tahun dasar. 4. Upah riil Upah riil adalah upah yang diterima pekerja yang telah diperhitungkan dengan daya beli dari upah nominal yang diterima. Upah Riil dihitung dengan membagi nilai dari upah nominal dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) dikali 100. Upah nominal adalah upah yang diterima pekerja secara nominal. Sedangkan Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi untuk megukur tingkat perubahan harga barang-barang secara umum. 2.5 Hipotesis Statistik Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Terdapat pengaruh yang positif antara pengeluaran pemerintah terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. 2. Terdapat pengaruh yang positif antara PDRB terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. 3. Terdapat pengaruh yang negatif antara upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder mulai dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010. Data tersebut didapat dari beberapa sumber sebagai berikut: 1. Data Penyerapan Tenaga Kerja yang didekati dengan Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja diperoleh dari publikasi Sumatera Barat Dalam Angka Tahun 2005 s/d 2010 dan Keadaan Angkatan Kerja di Sumatera Barat Tahun 2008-2010 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 2. Data Pengeluaran Pemerintah diperoleh dari publikasi Statistik Keuangan Daerah Kabupaten/Kota yang diterbitkan oleh BPS RI. 3. Data PDRB diperoleh dari publikasi Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Barat menurut Kabupaten/Kota yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 4. Data Upah Riil diperoleh dari hasil pembagian antara rata-rata pendapatan/gaji/upah nominal dengan indeks harga konsumen dikalikan 100, dimana:  rata-rata pendapatan/gaji/upah nominal diperoleh dari publikasi Statistik Upah Buruh dan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional, 23  data Indeks Harga Konsumen (IHK) diperoleh dari publikasi Indeks Harga Konsumen Kota Padang Tahun 2005-2010 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. 3.2 Metode Analisis Pengolahan atas data sekunder yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber dilakukan menggunakan beberapa paket program statistik, seperti: Microsoft Excel 2010, dan EViews 6.0. Kegiatan pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 2010 menyangkut pembuatan tabel dan analisis. Sementara itu pada pengolahan regresi data panel, penulis menggunakan paket program EViews 6.0. 3.2.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan mendeskripsikan dan mempermudah penafsiran yang dilakukan dengan memberikan pemaparan dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram. Analisis deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan situasi ketenagakerjaan secara umum meliputi jumlah angkatan kerja, penyerapan tenaga kerja dan pengangguran. Selain itu, juga untuk menggambarkan deskripsi variabel-variabel yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja yaitu pengeluaran pemerintah, PDRB, dah upah riil. 24 3.2.2 Analisis Regresi Data Panel Analisis regresi data panel digunakan untuk melihat pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB dan Upah Riil terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi Sumatera Barat melalui persamaan strukturalnya. Data panel diperoleh dengan menggabungkan data cross section dan time series. Penggunaan model regresi data panel memungkinkan peneliti untuk dapat menangkap karakteristik antar individu dan antar waktu yang bisa saja berbedabeda. Regresi dengan menggunakan panel data / data panel / pooled data, memberikan beberapa keunggulan dibandingkan dengan pendekatan standar cross section dan time series (Gujarati, 2004:637), diantaranya sebagai berikut: 1. Data panel mampu menyediakan data yang lebih banyak, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih lengkap. Sehingga diperoleh degree of freedom (df) yang lebih besar sehingga estimasi yang dihasilkan lebih baik. 2. Dengan menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi masalah yang timbul karena ada masalah penghilangan variabel (omitted variable). 3. Data panel mampu mengurangi kolinearitas antarvariabel. 4. Data panel lebih baik dalam mendeteksi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak mampu dilakukan oleh data time series murni dan cross section murni. 5. Dapat menguji dan membangun model perilaku yang lebih kompleks. Sebagai contoh, fenomena seperti skala ekonomi dan perubahan teknologi. 25 6. Data panel dapat meminimalkan bias yang dihasilkan oleh agregat individu, karena data yang diobservasi lebih banyak. Model regresi linear pada data panel dapat dituliskan sebagai berikut: (3.1) Dimana: i = 1,……, N; N adalah jumlah individu/cross-sectional units (kabupaten/kota) t = 1,…….,T; T adalah jumlah periode waktu (6 yaitu dari tahun 2005-2010) Pada ada sebanyak k slope (tidak termasuk intersep) yang menunjukkan jumlah variabel bebas yang digunakan dalam model. Sedangkan merupakan efek individu yang dapat bernilai konstan sepanjang periode t atau bahkan berbeda-beda untuk setiap individu ke-i. Apabila diasumsikan sama untuk setiap unit, maka model itu dapat disebut juga sebagai model regresi klasik (classical regression model), dimana metode Ordinary Least Square (OLS) akan menghasilkan penduga yang konsisten dan efisien untuk dan . Apabila diasumsikan berbeda-beda antar cross-section unit, dan slope konstan, maka terdapat dua model regresi data panel yang mungkin yaitu model fixed effects atau model random effects. Apabila perbedaan intersep antar cross-sectional units tersebut merupakan variabel random atau stochastic maka model random effects-lah yang sesuai. Sementara itu error dalam model regresi data panel dapat dituliskan sebagai berikut: 26 (3.2) dimana = time specific effects (residual yang terjadi karena pengaruh perbedaan waktu) = individual specific effects (residual yang terjadi karena perbedaan karakteristik setiap individu) = efek hanya pada observasi it. Untuk menyederhanakan analisis biasanya sering diasumsikan = 0 (tidak ada pengaruh spesifik waktu/no time specific effects/time invariant). Terdapat tiga jenis estimasi standar untuk regresi data panel yaitu common effects Model (pooled regression), fixed effects model (Least Square Dummy Variables estimation, LSDV estimation) dan random effects model. 3.2.2.1 Model Common Effects (Pooled Regression) Model common effects merupakan pendekatan data panel yang paling sederhana, yakni dengan hanya mengkombinasikan data cross-section dalam bentuk pool. untuk i = 1,2,…..,19 Dari persamaan (3.2), apabila = 0 dan t = 1,2,…,6 = 0, (3.3) maka model tersebut adalah model pooled regression (common effects), yang dapat diestimasi dengan metode Least Square, namun asumsi jarang sekali terpenuhi pada model regresi data panel. Model ini tidak memperhatikan dimensi individu maupun waktu, sehingga diasumsikan bahwa perilaku individu sama dalam 27 berbagai kurun waktu. Kelemahan model ini adalah ketidakseuaian model dengan keadaan sebenarnya. Kondisi tiap obyek dapat berbeda dan kondisi suatu obyek satu waktu dengan waktu yang lain dapat berbeda. Pada model ini asumsi regresi linear klasik dengan metode OLS berlaku sepenuhnya. 3.2.2.2 Model Fixed Effects Model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya. Namun intersep masing-masing crosssection bersifat fixed, tidak random. Untuk mengestimasi model fixed effects dengan intersep berbeda antar individu, maka digunakan teknik variabel dummy. Model estimasi ini sering disebut dengan teknik Least Square Dummy Variable (LSDV). Model persamaan panel fixed effects dengan asumsi tidak ada pengaruh periode waktu (no time specific effects) dapat dituliskan sebagai berikut: untuk i = 1,2,…..,19 t = 1,2,…,6 (3.4) Model pada persamaan (3.3) juga dapat dituliskan dalam bentuk stack model berdasarkan individu cross-section yaitu: [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] Dimana: = vektor berukuran T x 1 = matriks berukuran T x k , dengan k adalah jumlah variabel bebas = vektor berukuran k x 1 yang berisi parameter tidak diketahui (slope) (3.5) 28 = vektor berukuran T x 1 = vektor berukuran T x 1 Metode fixed effects, digunakan apabila error term terdiri dari: (3.6) 3.2.2.3 Model Random Effects Estimasi data panel dengan fixed effects melalui teknik variabel dummy sering menunjukkan ketidakpastian model yang digunakan. Untuk mengatasi masalah ini kita bisa menggunakan metode random effects yang mengasumsikan bahwa individual effects ( ) bersifat random dan tidak berkorelasi dengan variabel bebasnya. Dengan asumsi tidak ada pengaruh waktu (no time specific effects) maka dalam model random effects terdapat dua komponen residual, yaitu residual yang tidak terukur oleh pengaruh individu dan waktu ( ) dan residual secara individu ( ). Persamaan regresi untuk model random effects dengan asumsi no time effects dapat ditulis sebagai berikut: untuk i = 1,2,…..,19 t = 1,2,…,6 (3.7) dimana Ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi dalam model random effects, yaitu: E( E( E( , = E( )=0 =0 = 0 ; E( , = 0 ; E( , dimana t ≠ s dan i ≠ j dimana i ≠ j ) = E( , )=0 29 3.2.2.4 Pemilihan Model Estimasi Data Panel 1. Signifikansi Fixed Effects Model Signifikansi model fixed effects dapat dilakukan dengan statistik uji F. Statistik uji F digunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan fixed effects lebih baik dari model regresi data panel tanpa variabel dummy(common effects) dengan melihat residual sum of squares (RSS). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : nilai intersep sama untuk setiap individu crosssection H1 : sekurang-kurangnya ada 1 intercept yang berbeda Adapun statistik uji F-nya dapat dituliskan sebagai berikut: (3.8) dimana: N = jumlah individu k = jumlah variabel bebas/ regressor = residual sum of squares teknik tanpa variabel dummy = residual sum of squares teknik fixed effects dengan variabel dummy. Nilai statistik akan mengikuti distribusi statistik F dengan derajat bebas (df) sebanyak N-1 dan NT-N-k. Jika nilai statistik daripada lebih besar pada tingkat signifikansi tertentu, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti asumsi koefisien intersept dan slope adalah sama tidak 30 berlaku, sehingga teknik regresi data panel dengan fixed effects lebih baik dari model regresi data panel tanpa variable dummy (common effects). 2. Signifikansi Random Efects Model Untuk mengetahui apakah model random effects lebih baik dari model common effects, dapat digunakan uji Lagrange Multiplier (LM) yang dikembangkan oleh Bruesch-Pagan. Metode ini didasarkan pada nilai residual dari metode common effects. Hipotesis null (H0) yang digunakan adalah bahwa intersep bukan merupakan variabel random atau stochastic. Dengan kata lain varians dari residual bernilai nol. Adapun nilai Breusch-Pagan LM statistik dapat dihitung berdasarkan formula sebagai berikut: ∑ [∑ ∑ [∑ |∑ ∑ ∑ | ] ] Dimana N = jumlah individu; T = jumlah periode waktu dan (3.9) (3.10) adalah residual metode common effects (OLS). Uji LM ini didasarkan pada distribusi chi-square dengan derajat bebas (df) sebesar 1. Jika hasil LM statistik lebih besar dari nilai kritis statistik chi-square, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti estimasi yang tepat untuk regresi data panel adalah metode random effects daripada metode common effects. 31 3. Signifikansi Hausman Untuk mengetahui model yang terbaik antara fixed effects dengan random effects digunakan signifikansi Hausman. Uji signifikansi Hausman menggunakan hipotesis null residual persamaan panel tidak berkorelasi dengan variabel bebasnya yang berarti model random effects lebih baik dibandingkan model fixed effects. Adapun nilai statistik Hausman dapat dihitung berdasarkan formula sebagai berikut: ̂ dimana ̂ ̂ ⌊̂ ̂ ̂ (3.11) ⌋ dan ̂ ⌊ ̂⌋ ⌊̂ ⌋ Statistik uji Hausman mengikuti distribusi statistik chi-square dengan derajat bebas sebanyak jumlah variabel independen (k). Jika nilai statistik Hausman lebih besar daripada nilai kritis statistik chi-square, maka hipotesis null akan ditolak, yang berarti estimasi yang tepat untuk regresi data panel adalah model fixed effects dibandingkan dengan model random effects. 3.2.2.5 Pengujian Asumsi 1. Asumsi Normalitas Pengujian asumsi normalitas dilakukan untuk melihat apakah error term mengikuti distribusi normal. Jika asumsi tidak terpenuhi maka prosedur pengujian 32 menggunakan uji-t menjadi tidak sah. Pengujian dilakukan dengan uji Jarque Bera atau dengan melihat plot dari sisaan. Hipotesis dalam pengujian normalitas adalah: H0 : error term mengikuti distribusi normal H1 : error term tidak mengikuti distribusi normal. Keputusan diambil dengan membandingkan nilai probabilitas Jarque Bera dengan taraf nyata α = 0,05. Jika nilai probabilitas Jarque Bera lebih dari α = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa error term terdistribusi dengan normal. 2. Asumsi Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi yang terjadi antar observasi dalam satu peubah atau korelasi antar error masa yang lalu dengan error masa sekarang. Metode untuk mendeteksi adanya korelasi serial dilakukan dengan dengan membandingkan nilai Durbin Watson (DW) dari penghitungan dengan nilai DW tabel. Hipotesis dalam pengujian autokorekasi adalah: H0 : tidak ada Otokorelasi positif atau negatif H1 : terdapat masalah Otokorelasi positif atau negatif. Kriteria pengujian: 0 dL dU 2 4 - dU Tidak ada kesimpulan Tidak ada kesimpulan Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi positif 4 - dL Tidak Tolak H0 tidak ada masalah Otokorelasi 4 Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi negatif d 33 Tolak H0 bila  Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model lebih besar daripada nilai Durbin Watson table batas bawah (dL) yang berarti terdapat masalah otokorelasi positif (dw < dL)  Atau, nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak antara nilai (4–dL < dw < 4) yang berarti terdapat masalah otokorelasi negatif Tidak tolak H0 bila  Nilai d hitung atau nilai Durbin Watson Model terletak antara nilai (dU < dw < 4-dU) 3. Asumsi Homoskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan. Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk semua pengamatan. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam model dilakukan menggunakan metode General Least Square (Cross section Weights) yaitu dengan membandingkan sum square Resid pada Weighted Statistics dengan sum square Resid unweighted Statistics. Jika sum square Resid pada Weighted Statistics lebih kecil dari sum heteroskedastisitas. square Resid unweighted Statistics, maka terjadi Untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas, model diestimasi dengan menggunakan white-heteroscedasticity 34 3.2.2.6 Pengujian Parameter Model Pengujian parameter model bertujuan untuk mengetahui kelayakan model dan apakah koefisien yang diestimasi telah sesuai dengan teori atau hipotesis. Pengujian ini meliputi koefisien determinasi (R2), uji koefisien regresi parsial (uji t) dan uji koefisien regresi secara menyeluruh (F-test/uji F). 1. Uji-F Uji-F digunakan untuk melakukan uji hipotesis koefisien (slope) regresi secara menyeluruh/bersamaan. Uji-F memperlihatkan ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Hipotesis dalam uji-F adalah : Ho : β1 = β2 =….. = 0 H1 : β1 ≠ β2 ≠ … ≠ 0 Kriteria pengujiannya adalah jika nilai nilai > atau probabilitas F-statistic < taraf nyata, maka keputusannya adalah tolak H0. Dengan menolak H0 berarti minimal ada satu peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap tak bebas. 2. Uji-t Setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menguji koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t. Hipotesis pada uji-t adalah : H0 : βi = 0 , H1 : βi ≠ 0. 35 Keputusan dalam pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai dengan > atau dengan melihat nilai probabilitas dari . Jika nilai atau jika nilai probabilitas t < α = 0,05 maka tolak H0, sehingga kesimpulannya adalah peubah bebas secara parsial signifikan memengaruhi peubah tak bebas. 3. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (Goodness of Fit) merupakan suatu ukuran yang penting dalam regresi, karena dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang terestimasi. Nilai R2 mencerminkan seberapa besar variasi dari tak bebas dapat diterangkan oleh peubah bebas X atau seberapa besar keragaman peubah tak bebas yang mampu dijelaskan oleh model. Jika R2 = 0, maka variasi dari Y tidak dapat diterangkan oleh X sama sekali dan jika R2 = 1 berarti variasi dari Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X. 3.2.2.7 Model Penelitian Secara matematis pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, upah riil dapat digambarkan dalam fungsi sebagai berikut : (3.12) Keterangan: Emp : Employment/ penyerapan tenaga kerja (jiwa) G : Goverment Expenditure/ Pengeluaran Pemerintah (juta Rp.) PDRB : Produk Domestik Regional Bruto (milyar Rp.) WP : Wage per Price/ Upah Riil (Rp.) 36 i : urutan kabupaten/kota t : series tahun 2005-2010 α : intersep β1 - β3 : parameter pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil : error term BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Keadaan Geografi Provinsi Sumatera Barat terletak di sebelah barat pulau Sumatera dan sekaligus berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, Provinsi Riau, Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis, Sumatera Barat terletak antara 0° 54’ LU dan 3° 30’ LS serta 98° 36’ dan 101° 53’ BT, tercatat memiliki luas daerah sekitar 42,297 ribu Km2. Luas tersebut setara dengan 2,20 persen dari luas Republik Indonesia. Tabel 4.1 Luas Daerah dan Persentase Kabupaten/Kota di Sumatera Barat Kabupaten / Kota Luas (km2) Persentase (1) (2) (3) Kabupaten / Regency 01. Kep. Mentawai 02. Pesisir Selatan 03. S o l o k 04. Sijunjung 05.Tanah Datar 06. Padang Pariaman 07. A g a m 08. 50 K o t a 09. P a s a m a n 10. Solok Selatan 11. Dharmasraya 12. Pasaman Barat Kota/Municipality 71. P a d a n g 72. S o l o k 73. Sawahlunto 74. Padang Panjang 75. Bukittinggi 76. Payakumbuh 77. Pariaman SUMATERA BARAT Sumber: Sumatera Barat Dalam Angka 2010. 6.011,35 5.794,95 3.738,00 3.130,80 1.336,00 1.328,79 2.232,30 3.354,30 3.947,63 3.346,20 2.961,13 3.887,77 14,21 13,70 8,84 7,40 3,16 3,14 5,28 7,93 9,33 7,91 7,00 9,19 694,96 57,64 273,45 23,00 25,24 80,43 73,36 1,64 0,14 0,65 0,05 0,06 0,19 0,17 42.297,30 100,00 38 Sumatera Barat mempunyai 19 Kabupaten/Kota dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki wilayah terluas, yaitu 6,01 ribu Km2 atau sekitar 14,21 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan Kota Padang Panjang, memiliki luas daerah terkecil, yakni 23,0 Km2 (0,05%). 4.2 Penduduk Penduduk mempunyai peran besar dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat jika dimbangi dengan sumber daya alam yang memadai. Jumlah penduduk suatu daerah sangat dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk. Tabel 4.2 Jumlah dan Persentase Penduduk Sumatera Barat Dirinci Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 (jiwa) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 71 72 73 74 75 76 77 Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase (1) (2) (3) (4) (5) Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Solok Sijunjung Tanah Datar Padang Pariaman Agam Lima Puluh Kota Pasaman Solok Selatan Dharmas Raya Pasaman Barat Kota Padang Kota Solok Kota Sawah Lunto Kota Padang Panjang Kota Bukittinggi Kota Payakumbuh Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat 39.504 212.228 171.845 100.764 164.852 191.940 223.077 172.571 125.249 72.568 98.892 184.022 415.315 29.359 28.161 23.369 53.845 57.894 38.922 2.404.377 36.669 217.018 176.721 101.059 173.642 199.116 231.776 175.984 128.050 71.713 92.530 181.107 418.247 30.037 28.705 23.639 57.467 58.931 40.121 2.442.532 76.173 429.246 348.566 201.823 338.494 391.056 454.853 348.555 253.299 144.281 191.422 365.129 833.562 59.396 56.866 47.008 111.312 116.825 79.043 4.846.909 Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 - BPS Republik Indonesia. 1,57 8,86 7,19 4,16 6,98 8,07 9,38 7,19 5,23 2,98 3,95 7,53 17,20 1,23 1,17 0,97 2,30 2,41 1,63 100,00 39 Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat sebanyak 4.846.909 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 1.877.822 jiwa (38,74 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 2.969.087 jiwa (61,26 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,97 persen di Kota Padang Panjang hingga yang tertinggi sebesar 17,20 persen di Kota Padang. Gambar 4.1 Piramida Penduduk Provinsi Sumatera Barat Dirinci Menurut Kelompok Umur Tahun 2010 (jiwa) Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 – BPS Republik Indonesia. Penduduk laki-laki Provinsi Sumatera Barat sebanyak 2.404.377 jiwa dan perempuan sebanyak 2.442.532 jiwa. Seks Rasio adalah 98, berarti terdapat 98 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks Rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kota Bukittinggi sebesar 94 dan tertinggi adalah Kabupaten 40 Kepulauan Mentawai sebesar 108. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 107, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 92 sampai dengan 106, dan kelompok umur 65-69 sebesar 78. Median umur penduduk Provinsi Sumatera Barat tahun 2010 adalah 25,74 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Sumatera Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun (BPS, 2010). Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Sumatera Barat adalah 60,22. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 60 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 53,07 sementara di daerah perdesaan sebesar 65,10. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analis Deskriptif 5.1.1 Penyerapan Tenaga Kerja Tenaga kerja sebagai salah satu dari faktor produksi merupakan unsur yang penting dan paling berpengaruh dalam mengelola dan mengendalikan sistem ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi maupun investasi. Adapun kondisi tenaga kerja di Sumatera Barat adalah sebagai berikut: Penduduk usia kerja (PUK) merupakan penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. PUK mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan proses demografi. Dengan kata lain, jika jumlah penduduk terus bertambah maka jumlah PUK pun akan meningkat. Sejak tahun 2005 hingga tahun 2009 PUK Sumatera Barat terus meningkat. Pada tahun 2010 jumlah PUK sekitar 3,3 juta orang, sedikit lebih rendah jika dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 3,38 juta orang. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Angkatan kerja akan meningkat seiring dengan adanya peningkatan PUK. Angkatan kerja yang terus bertambah tanpa adanya perluasan lapangan kerja dapat menyebabkan pengangguran. Secara umum, jumlah angkatan kerja ini terus meningkat. Tahun 2010 jumlah angkatan kerja telah mencapai 2,19 juta orang atau dua per tiga dari penduduk usia kerja. 42 Tabel 5.1 Keadaan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Jenis Kegiatan/Type of Activity (1) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (2) (3) (4) (5) (6) (7) 3.139.890 3.161.612 3.225.756 3.325.258 3.383.457 3.306.264 1.963.332 2.501.800 2.106.711 2.127.512 2.172.002 2.194.040 1.737.472 1.808.275 1.889.406 1.956.378 1.998.922 2.041.454 Pengangguran Terbuka /Unemploy. 225.860 243.525 217.305 171.134 173.080 152.586 TPAK/Tk. Partisipasi Angkatan Kerja 62,53 64,90 65,31 63,98 64,19 66,36 11,50 9,73 10,31 8,04 7,97 6,95 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Population 15 Years of Age and Over Angkatan Kerja/Economically Active Bekerja/Working Labor Force Participation Rate (%) TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) Unemployment Rate(%) Sumber: BPS, diolah. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan hasil bagi antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah tenaga kerja. TPAK merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 orang tenaga kerja. TPAK di Sumatera Barat berkisar antara 62-66 persen. Terjadinya fluktuasi TPAK ini disebabkan karena kondisi sosial ekonomi yang belum stabil, yang dapat mempengaruhi faktor-faktor produksi. Karena naik turunnya faktor produksi dapat mempengaruhi tinggi atau rendahnya permintaan dan penawaran tenaga kerja. Besarnya pengangguran terlihat dari nilai Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan hasil bagi antara jumlah pengangguran terbuka/unemployment dengan jumlah angkatan kerja. TPT 43 Sumatera Barat pernah mencapai angka 11,5 persen di tahun 2005, yang kemudian menurun di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2010 TPT Sumatera Barat mencapai 6,95 persen. Walaupun TPT Sumatera Barat telah mengalami penurunan dari tahun ke tahun namun masih jauh dari keadaan/tingkat full employment (4 persen). 4,50 4,29 4,00 3,92 3,50 3,42 3,00 2,50 2,13 2,00 2,08 2,00 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja 1,50 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.1 Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 Sumber: BPS, diolah. Gambar 5.1 memperlihatkan trend pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010. Pada Tahun 2005-2007 terjadi peningkatan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja, akan tetapi pada Tahun 2007-2010 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja menunjukkan trend menurun. Penurunan ini disebabkan terjadinya bencana alam yang melanda Sumatera Barat yaitu gempa bumi pada bulan Maret tahun 2007. Gempa bumi telah merusak sarana 44 prasarana serta infrastruktur seperti jalan, bangunan, dan irigasi sehingga berdampak langsung terhadap lapangan pekerjaan. Gempa bumi Tahun 2007 hanya tercatat di 5 Kabupaten/Kota yaitu di Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, dan Kota Bukitinggi, sehingga tidak sampai melumpuhkan perekonomian di Sumatera Barat. Demikian halnya pada tanggal 30 September 2009 juga terjadi gempa bumi besar di sebagian besar wilayah Sumatera Barat terutama di pusat pemerintahan dan perekonomian yaitu Kota Padang. Gempa bumi pada periode ini sempat melumpuhkan perekonomian di Sumatera Barat yang berdampak pada penurunan penyerapan tenaga kerja. Lainnya 11% Jasa Kemasyarakatan 18% Perdagangan 20% Pertanian 44% Industri 7% Gambar 5.2 Persentase Penduduk yang Berumur 15 tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2010 Sumber: BPS, diolah. Berdasarkan Gambar 5.2 terlihat bahwa pada Tahun 2010 persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama dominan pada sektor pertanian dengan persentase sebesar 44 persen. Lapangan pekerjaan utama kedua adalah pada sektor perdagangan dengan 45 persentase sebesar 20 persen, sedangkan sektor industri dengan persentase sebesar 7 persen merupakan lapangan pekerjaan yang paling rendah menyerap tenaga kerja. 50,00 47,97 47,93 45,46 47,25 45,39 44,10 40,00 30,00 20,00 19,48 18,46 13,89 10,00 14,17 14,32 12,18 7,51 20,33 6,57 12,45 14,34 13,01 11,89 7,41 20,76 20,24 12,94 6,56 6,56 12,95 19,90 16,63 12,60 6,78 0,00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan Industri Pengolahan Perrdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Hotel Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Lainnya Gambar 5.3 Penyerapan Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor/Lapangan Usaha di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Sektor/lapangan Usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Sumatera Barat periode 2005-2010 adalah sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan. Pada Tahun 2010, sektor ini dapat menyerap tenaga kerja sebesar 44,10 persen. Sedangkan urutan kedua adalah sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel, disusul sektor jasa, lainnya, dan industri pengolahan. Sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel Tahun 2010 dapat menyerap tenaga kerja sebesar 19,90 persen. 46 5.1.2 Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah untuk belanja pegawai, penyusutan maupun belanja barang (termasuk biaya perjalanan, pemeliharaan dan pengeluaran rutin lainnya). Pengeluaran pembangunan ditujukan untuk pembiayaan pembangunan sebagai kegiatan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan untuk menambah akumulasi modal masyarakat dalam bentuk sarana fisik maupun prasarana dasar. Dengan demikian pengeluaran pemerintah ini dapat mempengaruhi kesempatan kerja. Sebelum Tahun 2000 pengeluaran pemerintah menggunakan sistem tahun anggaran. Mulai tahun 2000 berdasarkan sistem tahun fiskal. Semenjak Tahun 2005 pengeluran rutin dan pengeluaran pembangunan digabung menjadi satu. Tabel 5.2 Realisasi Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (juta rupiah) Tahun Realisasi Belanja Daerah % Peningkatan (1) (2) (3) 2005 931.908,63 11,53 2006 1.206.372,40 22,75 2007 1.245.441,50 3,14 2008 1.637.700,49 23,95 2009 1.837.245,56 10,86 2010 1.923.567,38 4,49 Sumber: BPS, diolah. Dari tahun ke tahun pengeluaran pemerintah terus mengalami peningkatan. Dari Tabel 5.2 terlihat bahwa persentase peningkatan belanja daerah pemerintah provinsi Sumatera Barat sempat di atas 20 persen yaitu pada tahun 2006 dan tahun 2008. Pada tahun 2010 realisasi belanja daerah pemerintah provinsi mencapai 47 1,923 trilyun rupiah dengan persentase peningkatan sebesar 4,49 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja pemerintah daerah diharapkan mampu lebih banyak menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya akan mengurangi tingkat pengangguran di Sumatera Barat. 5 30 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pertumbuhan pengeluaran pemerintah 4 3 25 20 15 2 10 1 5 0 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.4 Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja memperlihatkan pola yang sama (lihat Gambar 5.4). Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan antara pengeluaran pemerintah dengan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan pada tahun 2007 terjadi perbedaan arah antara pengeluaran pemerintah dengan penyerapan tenaga kerja, selain dikarenakan bencana alam yang terjadi pada Tahun 2007, peran swasta lebih dominan dibanding pemerintah. 48 5.1.3 PDRB PDRB sebagai ukuran produktivitas mencerminkan seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu wilayah dalam satu tahun. Selama kurun waktu 2005-2010, PDRB yang dihasilkan Provinsi Sumatera Barat mempunyai tren meningkat karena adanya peningkatan produksi maupun harga. Pada tahun 2010 PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi Sumatera Barat mencapai 87,22 triliun rupiah, meningkat sebanyak 10,47 triliun rupiah dibandingkan tahun 2009. Bila digolongkan menurut sektor lapangan usaha, maka sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Sumatera Barat. Dan pada tahun 2010 sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 20,79 triliun rupiah. Tabel 5.3 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (milyar rupiah) SEKTOR 2005 2006 2007 2008 2009 2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 18.381,92 20.792,32 Pertanian 11.433,00 13.396,52 14.754,87 17.379,93 Pertambangan & Penggalian 1.514,21 1.829,48 2.059,94 2.356,17 2.556,10 2.763,86 Industri Pengolahan 5.084,34 6.055,97 7.179,24 8.597,36 9.279,51 10.197,21 666,71 754,79 822,19 863,21 898,66 924,62 Bangunan 2.472,64 2.972,40 3.290,15 3.941,92 4.317,98 5.498,73 Perdagangan, Hotel, & Restoran 7.799,76 8.992,23 10.368,00 12.532,37 13.694,25 15.474,82 Pengangkutan & Komunikasi 6.167,34 8.022,49 9.009,32 10.685,33 11.670,81 13.439,31 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 2.249,28 2.632,09 2.963,37 3.463,31 3.784,47 4.145,20 Jasa-jasa 7.287,29 8.373,62 9.351,98 11.134,91 12.169,26 13.985,18 44.674,57 53.029,59 59.799,05 70.954,52 76.752,94 87.221,25 Listrik, Gas & Air Bersih PDRB ADHB Sumber: BPS Provinsi Sumatera Barat. 49 Berdasarkan Tabel 5.4 sektor pertanian sebagai basis utama perekonomian Sumatera Barat menyumbangkan kontribusi terbesar dengan rata-rata 24,64 persen selama periode 2005-2010. Bila dilihat secara rentang waktu dari Tahun 2005 ke Tahun 2010 terlihat bahwa struktur perekonomian di Sumatera Barat belum terjadi pergeseran struktur ekonomi yang signifikan. Sampai dengan Tahun 2010 struktur perekonomian Sumatera Barat masih didominasi oleh tiga sektor utama yakni sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasa-jasa. Peranan sektor-sektor tersebut secara total melebihi 50 persen dari total PRDB Sumatera Barat. Tabel 5.4 Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Sumatera Barat Tahun 2005-2010 SEKTOR 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Ratarata (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pertanian 25,59 25,26 24,67 24,49 23,95 23,84 24,64 3,39 3,45 3,44 3,32 3,33 3,17 3,35 11,38 11,42 12,01 12,12 12,09 11,69 11,78 Listrik, Gas & Air Bersih 1,49 1,42 1,37 1,22 1,17 1,06 1,29 Bangunan 5,53 5,61 5,50 5,56 5,63 6,30 5,69 17,46 16,96 17,34 17,66 17,84 17,74 17,50 13,81 15,13 15,07 15,06 15,21 15,41 14,95 5,03 4,96 4,96 4,88 4,93 4,75 4,92 16,31 15,79 15,64 15,69 15,86 16,03 15,89 Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB ADHB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Barat. 50 5,00 8,000 4,50 7,000 4,00 6,000 3,50 5,000 3,00 2,50 4,000 2,00 3,000 1,50 2,000 1,00 Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja 0,50 Pertumbuhan Ekonomi 0,00 1,000 0,000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.5 Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja pada periode tahun 2005 sampai dengan 2010 memperlihatkan trend yang sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berkorelasi atau berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat. Pada Tahun 2007 dan 2010 terlihat perbedaan arah antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja (Gambar 5.5). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, hal ini lebih dikarenakan adanya musibah gempa bumi yang memporak-porandakan Sumatera Barat. Sedangkan pertumbuhan ekonomi terus meningkat karena adanya pembangunan/rekonstruksi pasca gempa yang memberikan nilai tambah pada sektor bangunan. 51 5.1.4 Upah Riil Tingkat upah sangat erat hubungannya dengan tingkat kesejahteraan pekerja. Upah merupakan balas jasa yang diterima pekerja atas keikutsertaannya dalam suatu kegiatan ekonomi. Upah Riil adalah upah yang diterima pekerja yang telah diperhitungkan dengan daya beli dari upah nominal yang diterima. Tabel 5.5 Rata-rata Upah Nominal dan Upah Riil Pekerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (rupiah) Tahun Upah Nominal Upah Riil (1) (2) (3) 2005 845.837 1.037.914 2006 997.956 1.111.905 2007 1.155.640 1.155.640 2008 1.213.302 1.097.614 2009 1.486.012 1.274.016 2010 1.529.383 1.197.731 Sumber: BPS, diolah. Berdasarkan Tabel 5.5 terlihat bahwa upah nominal terus meningkat, sedangkan upah riil berfluktuasi tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan upah riil telah diperhitungkan dengan adanya inflasi. Pada tahun 2010 upah nominal yang diterima pekerja di Sumatera Barat mencapai Rp. 1.529.383,00 meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya mencapai Rp. 1.486.012,00. Sedangkan upah riil di tahun 2010 sedikit mengalami penurunan dari Rp. 1.274.016,00 di tahun 2009 menjadi Rp. 1.197.731,00. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan upah nominal lebih rendah dari peningkatan harga-harga. Akan tetapi dengan menurunnya upah riil justru diharapkan lebih mendorong sektor- 52 sektor industri yang padat karya untuk lebih meningkatkan produksi sehingga akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. 15,00 4,50 4,00 10,00 3,50 5,00 3,00 0,00 2,50 -5,00 2,00 Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja Pertumbuhan Upah Riil -10,00 1,50 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.6 Pertumbuhan Upah Riil dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 (%) Sumber: BPS, diolah. Pertumbuhan upah riil dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pada rentang Tahun 2005 sampai dengan 2010 memperlihatkan pola/trend yang berlawanan arah. Hal ini berarti bahwa upah riil berkorelasi negatif dengan penyerapan tenaga kerja. Ketika upah riil naik maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja, demikian sebaliknya apabila upah riil turun maka penyerapan tenaga kerja akan meningkat. Walaupun upah nominal terus mengalami peningkatan (Tabel 5.5) akan tetapi upah riil mengalami fluktuasi. Fluktuasi upah riil dikarenakan adanya pengaruh inflasi. 53 5.2 Analis Regresi Data Panel Analisis regresi data panel yang dilakukan adalah untuk mengidentifikasi besarnya pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja menurut penyusunnya, baik dari pengeluaran pemerintah (G), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan upah riil (WP). Sebelum menganalisa lebih lanjut besarnya pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi model regresi. Setelah semua asumsi model regresi terpenuhi kemudian dilanjutkan pengujian terhadap model penelitian untuk memperoleh model estimasi terbaik. Pengolahan data untuk melakukan uji asumsi dan mendapatkan model dari fungsi tersebut dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Eviews versi 6.0. 5.2.1 Pengujian Asumsi 5.2.1.1 Asumsi Normalitas Asumsi pertama yang diuji adalah normalitas atau kenormalan dari sisaan (residual) dari model estimasi. Metode pengujian dilakukan dengan dua cara yaitu membuat plot dari sisaan dan melakukan uji statistik. Berdasarkan hasil pengolahan data dihasilkan plot atau gambar distribusi dari sisaan. Secara kasar, distribusi sisaan yang ditunjukkan oleh gambar sudah mengikuti bentuk kurva normal. 54 24 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2010 Observations 114 20 16 12 8 4 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 1.95e-18 -0.006919 0.482552 -0.576583 0.210962 -0.218607 2.952016 Jarque-Bera Probability 0.918930 0.631621 0 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 0.4 Gambar 5.7 Hasil Uji Asumsi Normalitas Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti, asumsi kenormalan dari sisaan diuji dengan tes Jarque-Bera. Hipotesis yang diajukan dalam pengujian JarqueBera adalah data sisaan berdistribusi normal. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah sisaan tidak berdistribusi normal. Nilai Jarque-Bera yang diperoleh dari hasil pengolahan adalah sebesar 0,918930 dengan nilai probabilitas sebesar 0,631621 atau lebih besar dari α = 0,05. Berdasarkan nilai tersebut maka keputusan yang diambil adalah tidak menolak hipotesis nol. Artinya data sisaan mengikuti distribusi normal, sehingga asumsi kenormalan dari sisaan dalam model sudah terpenuhi. 5.2.1.2 Asumsi Autokorelasi Asumsi kedua yang diuji dalam model estimasi adalah adanya autokorelasi antara observasi dalam satu peubah atau korelasi antar error masa yang lalu 55 dengan error masa sekarang. Metode pemeriksaan atau deteksi autokorelasi dapat dilakukan uji Durbin-Watson. Hipotesis yang diajukan dalam kedua uji ini adalah model tidak mengandung autokorelasi baik positif maupun negatif. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah model mengandung autokorelasi. Tabel 5.6 Hasil Uji Asumsi Autokorelasi Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared 0.957986 Mean dependent var 13.51991 Adjusted R-squared 0.948395 S.D. dependent var 5.438854 S.E. of regression 0.229339 Sum squared resid 4.838863 F-statistic 99.89168 Durbin-Watson stat 1.830430 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. d 0 1,61636 1,766 1,83043 2,233 4 Tidak ada kesimpula Tidak ada kesimpulan Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi positif 2,38364 Tidak Tolak H0 tidak ada masalah Otokorelasi Tolak H0 Ada masalah Otokorelasi negatif Gambar 5.8 Kriteria Uji Asumsi Autokorelasi Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai statistik Durbin-Watson (dw) sebesar 1,830430. Nilai dL dan dU pada tabel (0,05; 114; 4) masing-masing sebesar 1,61636 dan 1,7664; sehingga daerah penolakan H0 adalah d <1, 61636 atau d > 2,2336. Nilai dw hasil observasi terletak diantara dU dan 4-dU sehingga 56 keputusan yang diambil adalah tidak menolak H0 yang berarti tidak ada gejala autokorelasi baik positif maupun negatif di dalam model. 5.2.1.3 Asumsi Homoskedastisitas Asumsi ketiga yang diuji dari model adalah homoskedastisitas atau varian konstan. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam model dilakukan menggunakan metode General Least Square (Cross section Weights) yaitu dengan membandingkan sum square Resid pada Weighted Statistics dengan sum square Resid unweighted Statistics. Jika sum square Resid pada Weighted Statistics lebih kecil dari sum square Resid unweighted Statistics, maka terjadi heteroskedastisitas. Dari hasil pengujian diperoleh nilai sum squared resid pada Weighted Statistics sebesar 4,838863 dimana nilainya lebih kecil dari sum square Resid unweighted Statistics yang sebesar 5,159940. Hal ini mengindikasikan adanya masalah heteroskedastisitas. Untuk mengatasi masalah heteroskedastisitas, model diestimasi dengan menggunakan white-heteroscedasticity. Tabel 5.7 Hasil Uji Asumsi Homoskedastisitas Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid 0.934882 5.159940 Mean dependent var Durbin-Watson stat Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. 11.21061 1.606376 57 5.2.2 Pengujian Parameter Model 5.2.2.1 Uji F Uji-F digunakan untuk melakukan uji hipotesis koefisien (slope) regresi secara menyeluruh/bersamaan. Uji-F memperlihatkan ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Hipotesis nol (H0) yang diajukan dalam uji ini adalah nilai koefisien β1=β2=β3=0 yang berarti tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Hipotesis alternatifnya adalah ada satu koefisien β≠0 atau minimal ada satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tidak bebas. Kriteria pengujiannya adalah jika nilai nilai > atau probabilitas F-statistic < taraf nyata, maka keputusannya adalah tolak H0. Dengan menolak H0 berarti minimal ada satu peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap tak bebas. Tabel 5.8 Hasil Uji F Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Nilai yang dihasilkan oleh model estimasi dalam tabel adalah sebesar 99,89168. Dibandingkan dengan nilai nilai yang sebesar 2,69, jauh lebih besar. Jika dilihat dari nilai probabilitas F-statistic = 0,00000, maka nilainya lebih kecil dari α = 0,05. Berdasarkan kondisi tersebut 58 maka keputusan yang diambil adalah menolak hipotesis nol atau menerima hipotesis alternatif. Hal ini berarti ketiga variabel independent dalam model secara bersama-sama memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Pengujian ini masih belum cukup untuk menyimpulkan bahwa model ini adalah yang terbaik, sehingga masih perlu dilakukan pengujian secara parsial. 5.2.2.2 Uji-t Setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menguji koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t. Hipotesis yang diajukan dalam pengujian ini adalah masing-masing koefisien persamaan bernilai nol atau βi=0. Artinya adalah tidak ada pengaruh dari variabel independent Xi terhadap variabel dependent Y. Sedangkan hipotesis alternatifnya adalah βi≠0 yang artinya ada pengaruh dari setiap variabel independent Xi terhadap variabel dependent Y. Keputusan dalam pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai dengan > atau dengan melihat nilai probabilitas dari . Jika nilai atau jika nilai probabilitas t < α = 0,05 maka tolak H0, sehingga kesimpulannya adalah peubah bebas secara parsial signifikan memengaruhi peubah tak bebas. Nilai dari masing-masing koefisien dalam persamaan regresi dan nilai probabilitas atau tingkat signifikansinya dapat dilihat pada Tabel 5.9 Dibandingkan dengan nilai yang sebesar 1,983; koefisien β0, β1, 59 β2, β3 dalam persamaan memiliki nilai mutlak yang lebih besar. Keputusan yang diambil adalah menolak hipotesis nol pada semua pengujian koefisien. Hal ini berarti semua variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh signifikan yang kuat terhadap variabel penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat. Tabel 5.9 Hasil Uji-t Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 6.968477 0.235614 0.761154 -0.675332 1.311031 0.077469 0.026763 0.102880 5.315265 3.041396 28.44034 -6.564269 0.0000 0.0031 0.0000 0.0000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. 5.2.2.3 Uji Koefisien Determinasi (R2) Uji statistik dilakukan selanjutnya adalah uji koefisien determinasi (R2) yakni untuk melihat tingkat kesesuaian atau kecocokan dari estimasi model yang terbentuk (goodness of fit). Cara yang dilakukan adalah dengan melihat nilai R2 dalam model. Pada Tabel 5.8 terlihat nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan oleh model sebesar 0,957986. Angka ini berarti variasi atau proporsi keragaman penyerapan tenaga kerja yang mampu dijelaskan oleh variabel bebas dalam model adalah sebesar 95,80 persen. Sedangkan sisanya, sebanyak 4,2 persen variasi penyerapan tenaga kerja dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Secara umum, hal ini menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara variabel tidak bebas penyerapan tenaga kerja dengan semua variabel bebas. 60 5.2.3 Pemilihan Model Estimasi Data Panel Pemilihan jenis model estimasi data panel terbaik yang digunakan dalam analisis didasarkan pada dua uji, yakni uji Chow dan uji Haussman. Uji Chow digunakan untuk memutuskan apakah menggunakan common effect atau fixed effect. Sedangkan keputusan untuk menggunakan fixed effect atau random effect ditentukan oleh uji Haussman. Tabel 5.10 Hasil Uji Chow Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square 3.220657 55.707116 d.f. (18,92) 18 Prob. 0.0001 0.0000 Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6.0. Keputusan dalam pengujian ini menolak H0 jika jika nilai atau Prob < α. Jika H0 ditolak maka Model Fixed Effect lebih baik daripada Common Effect. Dari tabel 5.10 diperoleh nilai lebih besar dari nilai sebesar 3,220657 yang sebesar 2,69. Demikian halnya dengan probabilitas 0,0001 yang lebih kecil dari α = 0,05. Karena menolak H0 maka Model Fixed Effect lebih baik daripada Common Effect. Langkah selanjutnya adalah membandingkan model fixed effect atau random effect dengan melakukan uji Haussman. Keputusan menolak H0 dilakukan dengan membandingkannya dengan Chi square. Jika nilai maka H0 ditolak sehingga model yang digunakan adalah fixed effect, sebaliknya jika penolakan H0 tidak signifikan maka yang digunakan adalah random effect. 61 Tabel 5.11 Hasil Uji Haussman Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. 17.323482 3 0.0006 Cross-section random Sumber : Hasil Pengolahan dengan EViews 6. Hasil penghitungan uji Hausman diperoleh nilai 17,323482. Nilai ini lebih besar dari nilai sebesar yang hanya 7,814. Jika dilihat nilai probabilitas sebesar 0.0006 lebih rendah dari α = 0,05. Dengan penolakan H0 maka model estimasi data panel yang digunakan adalah fixed effect. 5.2.4 Analisis Model Regresi Penyerapan Tenaga Kerja Data Panel Model persamaan regresi penyerapan tenaga kerja data panel terbaik yang didapatkan dari hasil pengolahan menggunakan EViews 6.0 dengan model fixed effect adalah sebagai berikut: Keterangan: Emp : Employment/ penyerapan tenaga kerja G : Goverment Expenditure/ Pengeluaran Pemerintah PDRB : Produk Domestik Regional Bruto WP : Wage per Price/ Upah Riil i : urutan kabupaten/kota t : series tahun 2005-2010 : error term 62 Berdasarkan persamaan fungsi penyerapan tenaga kerja dapat dianalisis faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat selama rentang tahun 2005 s/d 2010 beserta nilai elastisitasnya. Faktorfaktor yang secara nyata memengaruhi besarnya penyerapan tenaga kerja ada tiga, yaitu pengeluaran pemerintah, besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta upah riil. 5.2.4.1 PDRB Faktor yang paling dominan dalam memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat adalah PDRB yang dalam analisis ini diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja, sehingga semakin meningkat pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat pula jumlah tenaga kerja yang terserap. Nilai koefisien pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dalam persamaan fungsi penyerapan tenaga kerja adalah sebesar 0,7612. Nilai ini mencerminkan besarnya elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang terserap sebesar 0,7612 persen dengan asumsi variabel yang lain konstan. Manusia merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses produksi, sehingga dapat dikatakan bahwa penyerapan tenaga kerja akan meningkat jika output meningkat atau sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Untuk itu pertumbuhan ekonomi hendaknya diarahkan untuk dapat menyerap tenaga kerja yang lebih besar. 63 Tambunan (2011) menyatakan bahwa selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau PDRB yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan PDRB. 5.2.4.2 Upah Riil Upah riil memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien upah riil dalam model yang sebesar -0,6753. Nilai koefisien tersebut juga menunjukkan besarnya elastisitas upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja. Artinya setiap peningkatan upah riil sebesar satu persen justru akan menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,6753 persen, dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. Upah bagi pekerja merupakan pendapatan, sedangkan bagi perusahaan merupakan suatu beban (biaya), sehingga wajar saja jika pekerja menghendaki upah yang tinggi, melalui serikat pekerja mereka dapat menuntut kenaikan tingkat kesejahteraan. Sedangkan perusahaan akan menekan beban (biaya) produksi serendah-rendahnya. Hal ini mengimplikasikan bahwa pemerintah Provinsi Sumatera Barat harus berhati-hati dalam memilih dan menerapkan bentuk-bentuk 64 kebijakan berkaitan penetapan upah minimum agar tidak terjadi dampak negatif yang tidak diinginkan. Kenaikan upah minimum yang cepat di Indonesia telah mendorong perusahaan-perusahaan untuk menggunakan lebih banyak mesin dan tenaga kerja terampil dalam proses produksi. Hal ini menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja bagi tenaga kerja tidak terampil, khususnya pekerja perempuan, usia muda, dan kurang terdidik. Penelitian senada dilakukan oleh Smeru (2001 dan 2004) yang menyimpulkan bahwa kenaikan upah minimum riil berdampak negatif terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan perkecualian bagi pekerja kerah putih. Dengan adanya kenaikan tingkat upah minimum maka perusahaan akan mengurangi sebagian tenaga kerja untuk digantikan dengan pekerja kerah putih. Hal ini juga menunjukkan bahwa setelah adanya kenaikan upah minimum perusahaan mengubah proses produksi yang padat tenaga kerja dengan proses produksi yang lebih padat modal dan lebih menuntut keterampilan. Karena adanya saling keterkaitan antara modal dan keterampilan, maka proporsi pekerja kerah putih yang lebih tinggi menandai adanya pemanfaatan teknologi yang lebih padat modal. Sukirno (2000) menyatakan bahwa salah satu cara agar penyerapan tenaga kerja dapat ditingkatkan oleh suatu negara adalah dengan kebijakan pendapatan (income policy) yaitu dengan mengendalikan tuntutan kenaikan pendapatan pekerja untuk menghindari kenaikan biaya produksi yang berlebihan. Dengan tingkat upah sesuai mekanisme pasar tersebut diharapkan investor akan 65 meningkatkan outputnya karena turunnya biaya produksi termasuk biaya faktor produksi tenaga kerja. Hal ini akan berdampak meningkatnya aggregat supply yang secara perlahan akan mereduksi pengangguran sehingga perekonomian dapat mendekati kondisi full employment (tingkat pengangguran kurang dari 4 persen). Namun pada saat kesejahteraan pekerja masih rendah, kebijakan seperti ini juga kurang efektif. Hal yang lebih realistis dilakukan adalah dengan menetapkan upah minimum sewajarnya yang diikuti dengan peningkatan skill pekerja agar produktivitasnya meningkat sebanding dengan kenaikan upah minimum. 5.2.4.3 Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah juga berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Dengan asumsi variabel lain adalah tetap, kenaikan satu persen pengeluaran pemerintah dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat sebesar 0,2356 persen. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kenaikan pengeluaran pemerintah dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja. Pengeluaran pemerintah dapat memperbesar output yang dihasilkan oleh suatu sektor ekonomi. Selain itu, juga dapat menaikkan pendapatan masyarakat karena pengeluaran pemerintah akan menjadi penerimaan masyarakat sehingga mendorong permintaan agregat. Karena adanya kenaikan permintaan agregat sehingga mendorong produsen untuk meningkatkan output produksinya. Untuk itu, produsen memerlukan tambahan input produksi, salah satunya adalah tenaga kerja, sehingga akan tercipta kesempatan kerja baru. Dengan demikian, kenaikan pengeluaran pemerintah akan menambah kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Proyek-proyek yang dibiayai oleh pemerintah seperti membangun jalan, sekolah, 66 atau fasilitas lain umumnya bersifat padat karya sehingga dapat menaikkan penyerapan tenaga kerja. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hipotesis Minsky (1974) dalam Prasetyantoko (2008) bahwa pengangguran tidak bisa diatasi tanpa campur tangan pemerintah. Dalam hal ini, pasar tidak akan dengan sendirinya menyelesaikan persoalan pengangguran serta derivasi masalah yang ditimbulkannya sehingga pemerintah harus lebih meningkatkan pengeluaran pembangunan yang nantinya akan merangsang penyerapan tenaga kerja. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil-hasil empiris dan pembahasan, sesuai dengan tujuan penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Peningkatan jumlah penduduk di Sumatera Barat Tahun 2005-2010 meningkatkan jumlah penduduk usia kerja. Jumlah angkatan kerja yang bekerja juga mengalami peningkatan. Angkatan kerja yang bertambah tanpa adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja dapat mengakibatkan pengangguran. Sektor/lapangan Usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan serta sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel. 2. Faktor-faktor yang secara nyata atau signifikan memengaruhi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2010 adalah pengeluaran pemerintah dan besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang berpengaruh positif. Sedangkan upah riil berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. 3. Nilai elastisitas yang tertinggi dihasilkan oleh PDRB yang diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yakni sebesar 0,7612. Artinya pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,7612 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 68 4. Sementara upah riil memiliki elastisitas sebesar -0,6753. Artinya penurunan upah riil sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,6753 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 5. Sedangkan pengeluaran pemerintah menghasilkan elastisitas terendah yaitu sebesar 0,2356 persen. Artinya peningkatan pengeluaran pemerintah sebesar satu persen akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,2356 persen dengan asumsi variabel lain dianggap tetap atau konstan. 6.2 Saran Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka beberapa saran dan rekomendasi yang diberikan adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan output riil (PDRB ADHK) ataupun pertumbuhan ekonomi perlu ditingkatkan karena mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat hendaknya merangsang sektor pertanian karena sektor ini banyak menyerap tenaga kerja. Salah satu cara adalah dengan penigkatan teknologi pertanian yang tepat guna. 2. Kenaikan upah yang tinggi ternyata bisa berdampak pada penurunan penyerapan tenga kerja. Kenaikan upah tersebut hanya menguntungkan pekerja insider (pekerja yang sudah mendapatkan pekerjaan), sedangkan pekerja yang sedang mencari pekerjaan akan lebih dirugikan. Oleh karena itu pemerintah perlu membiarkan perilaku upah itu sesuai dengan mekanisme pasar tenaga kerja dengan sesekali melakukan kontrol. Pemerintah hendaknya 69 menetapkan upah minimum sewajarnya dengan mempertimbangkan standar biaya hidup. Hal yang lebih realistis dilakukan adalah dengan menetapkan upah minimum sewajarnya yang diikuti dengan peningkatan skill pekerja agar produktivitasnya meningkat sebanding dengan kenaikan upah minimum. 3. Pengeluaran pemerintah hendaknya lebih diprioritaskan pada pengeluaran untuk pembangunan yang nantinya akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Karena pengeluaran pemerintah hanya menyerap tenaga kerja yang relatif sedikit. Pemerintah provinsi Sumatera Barat diharapkan benar-benar dapat menciptakan stimulus fiskal bagi perluasan tenaga kerja. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan irigasi agar lebih ditingkatkan karena nantinya akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2011. Ekonomi dan Ketenagakerjaan Indonesia 2009-2010. BPS, Jakarta. ________. Indikator Tingkat Hidup Pekerja Berbagai Edisi. BPS, Jakarta. ________. 2010. Statistik Indonesia 2010. BPS, Jakarta. ________. Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat II Berbagai Edisi. BPS, Jakarta. BPS Provinsi Sumatera Barat. 2011. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang ________. 2011. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang. ________. 2010. Sumatera Barat Dalam Angka 2010. BPS Provinsi Sumatera Barat, Padang. Burtt, E.J. Jr. 1963. Labor Market, Unions, and Government Policies. St Martin’s Press, New York. Dornbusch, R., S. Fischer, dan R. Startz. 1991. Makroekonomi. Edisi Keempat. J. Mulyadi (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Downes, A.S. 1998. “An Economic Analysis of Unemployment in Trinidad and Tobago”. University of the West Indies, Barbados. Gujarati, D. N. 2004. Basic Econometrics Fourth Edition. Mac Grow-Hill International Editions, Singapore. Kuntoro, E. 2007. “Hubungan Simultan Antara Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja serta Variabel yang Mempengaruhinya” [Skripsi]. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta. Mankiw, N.G. 2007. Makroekonomi. Edisi Keenam. Fitria Liza dan Imam Nurmawan (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Nilasari, L. 2007. “Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Investasi, dan Upah Minimum Regional Terhadap Kesempatan Kerja di Jawa Barat studi kasus tahun 1986-2005” [Skripsi]. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta. Prasetyantoko, A. 2008. Bencana Finansial Stabilitas Sebagai Barang Publik. Kompas, Jakarta. 71 Sari, N.A. 2011. Pengangguran di Indonesia 1984-2008:Persistensi dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya [Tesis]. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Sitanggang, I.R dan Nachrowi, N.D. 2004. “Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Provinsi pada 9 Sektor di Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, Vol 5 No.01: 103-133. Smeru. 2004. “Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial untuk Memperluas Kesempatan Kerja”. Jakarta: Smeru Research Institude. ________. 2001. “Dampak Kebijakan Upah Minimum terhadap Tingkat Upah dan Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Perkotaan Indonesia”. Jakarta: Smeru Research Institude. Sukirno, S. 2000. Teori Pengantar Makroekonomi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tambunan, Tulus T.H. 2011. Perekonomian Indonesia Kajian Teoritis dan Analisis Empiris. Ghalia Indonesia, Bogor. ________. 2011. Krisis Ekonomi Indonesia Teori dan Empiris, Universitas Trisakti, Jakarta. Todaro, M.P. dan Smith, S.C. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid I Edisi Kesembilan. Haris Munandar (penerjemah). Erlangga, Jakarta. ________. 2006. Pembangunan Ekonomi. Jilid II Edisi Kesembilan. Andri Yelvi (penerjemah). Erlangga, Jakarta. Wallis, G. 2002. “The Effect of Skill Shortage on Unemploymrnt and Real Wage Growth: A Simultaneous Equation Approach”. British National Statistics Office, Warwick. Yamin, S., L.A. Rachmah, dan H. Kurniawan. 2011. Regresi dan Korelasi Dalam Genggaman Anda. Salemba Empat, Jakarta. http://sp2010.bps.go.id http://www.datastatistik-indonesia.com http://www.depnakertrans.go.id 72 Lampiran 1 Data Penyerapan Tenaga Kerja, PDRB, Pengeluaran Pemerintah, dan Upah Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat tahun 2005-2010 Kode Kabupaten/Kota Tahun Bekerja 1301 1301 1301 1301 1301 1301 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1303 1303 1303 1303 1303 1303 1304 1304 1304 1304 1304 1304 1305 1305 1305 1305 1305 1305 1306 1306 1306 1306 1306 1306 Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Solok Solok Solok Solok Solok Solok Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 24.748 22.519 21.553 25.830 31.574 36.453 150.121 149.001 163.282 160.929 170.536 158.806 147.193 154.037 150.814 154.042 160.023 161.700 79.445 76.898 74.523 83.250 91.122 83.023 141.382 134.032 148.227 159.833 153.903 153.948 127.030 139.932 144.397 154.287 161.164 159.162 PDRB 428.728 446.108 465.787 486.659 509.396 534.232 1.625.743 1.710.570 1.801.336 1.899.033 2.002.249 2.107.966 1.608.661 1.705.497 1.811.861 1.926.827 2.047.057 2.175.126 1.023.241 1.084.134 1.145.007 1.205.418 1.271.638 1.343.278 1.961.820 2.076.125 2.201.715 2.331.746 2.468.737 2.614.193 1.971.582 2.346.366 2.489.684 2.645.119 2.749.337 2.890.753 Pengeluaran Pemerintah 145.752 265.247 241.349 283.243 609.751 545.041 271.341 392.518 496.545 612.101 626.139 677.938 221.712 325.110 474.784 499.483 493.436 527.011 165.529 231.624 293.640 367.989 476.746 489.570 418.538 106.369 452.695 620.665 671.994 612.409 262.213 362.115 462.284 613.087 698.921 671.718 Upah Riil 1.208.316 1.198.743 1.150.658 1.107.895 1.470.593 1.720.135 1.209.299 1.190.574 1.150.548 1.095.396 1.248.925 1.321.162 1.160.480 1.087.300 1.015.650 971.255 946.609 944.036 1.183.814 1.123.727 1.095.657 1.066.172 1.019.708 1.133.544 1.307.443 1.245.967 1.257.754 1.229.039 1.359.595 1.245.520 1.111.504 1.066.129 1.005.435 967.569 1.141.962 1.123.765 73 Kode 1307 1307 1307 1307 1307 1307 1308 1308 1308 1308 1308 1308 1309 1309 1309 1309 1309 1309 1310 1310 1310 1310 1310 1310 1311 1311 1311 1311 1311 1311 1312 1312 1312 1312 1312 1312 1371 1371 1371 Kabupaten/Kota Agam Agam Agam Agam Agam Agam Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Kota Padang Kota Padang Kota Padang Tahun Bekerja PDRB 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 163.760 175.976 194.544 192.364 198.408 198.682 148.505 139.713 154.579 158.475 161.663 168.563 95.658 109.710 110.344 111.267 105.165 105.560 49.766 48.403 51.753 52.818 54.887 63.111 69.571 73.001 72.451 75.551 75.844 87.419 117.241 133.696 135.932 143.122 139.868 158.617 259.421 277.716 284.970 2.325.162 2.468.762 2.626.067 2.792.887 2.929.872 3.096.175 2.125.657 2.255.102 2.398.598 2.545.802 2.684.575 2.846.149 1.022.263 1.081.242 1.145.235 1.214.884 1.289.261 1.368.460 486.320 514.760 546.075 579.479 614.814 653.447 846.238 899.309 957.502 1.020.080 1.087.776 1.158.558 1.988.703 2.115.152 2.250.819 2.394.935 2.544.771 2.707.343 9.110.697 9.577.496 10.165.761 Pengeluaran Pemerintah 255.892 339.567 483.048 575.083 657.407 624.577 218.348 338.565 435.608 594.295 648.462 606.377 171.617 278.772 357.729 409.029 466.572 440.908 78.284 219.301 262.181 304.679 389.645 357.792 101.048 193.613 298.144 388.453 500.136 518.572 127.491 259.446 322.915 399.206 526.082 556.642 459.086 614.440 740.303 Upah Riil 1.079.730 1.011.960 986.367 973.853 1.199.923 1.160.194 1.209.275 1.198.534 1.189.657 1.168.349 1.226.660 1.152.244 1.108.357 1.097.913 1.095.435 1.055.360 1.121.897 1.214.583 1.076.904 1.010.003 968.954 992.576 978.151 1.028.027 1.000.660 975.577 909.658 889.015 1.018.094 1.065.961 1.135.688 1.090.782 1.078.684 1.077.355 1.161.512 1.113.411 1.297.629 1.292.119 1.286.545 74 Kode Kabupaten/Kota Tahun Bekerja PDRB 1371 1371 1371 1372 1372 1372 1372 1372 1372 1373 1373 1373 1373 1373 1373 1374 1374 1374 1374 1374 1374 1375 1375 1375 1375 1375 1375 1376 1376 1376 1376 1376 1376 1377 1377 1377 1377 1377 1377 Kota Padang Kota Padang Kota Padang Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 294.154 297.203 304.790 19.702 20.992 23.016 24.592 24.844 23.312 20.076 22.318 19.347 19.190 19.960 25.414 16.708 19.999 18.069 23.274 23.091 20.970 39.399 43.790 47.498 48.786 50.363 46.800 41.717 43.249 44.758 47.009 49.544 53.192 26.029 23.293 29.349 27.605 29.760 31.932 10.797.259 11.345.637 12.021.599 394.217 418.554 445.152 473.694 497.623 527.271 444.672 449.255 458.646 474.379 494.708 519.599 311.166 330.173 351.228 373.249 396.829 420.843 762.433 809.614 862.158 918.915 969.591 1.028.923 644.369 684.222 727.773 774.486 819.397 871.654 561.912 589.877 621.504 656.250 685.598 721.657 Pengeluaran Pemerintah 881.728 1.038.700 1.322.015 112.147 170.079 230.724 288.480 372.936 367.819 129.747 191.842 227.380 278.259 317.442 343.423 131.275 170.960 196.536 248.443 353.602 313.988 157.119 224.543 278.952 290.389 407.955 403.939 164.148 216.425 259.623 305.317 402.579 388.136 127.630 212.546 246.529 266.139 325.207 357.836 Upah Riil 1.237.330 1.460.776 1.350.945 1.221.540 1.191.717 1.167.471 1.140.259 1.323.006 1.344.718 1.198.223 1.130.657 1.097.538 1.026.710 1.450.640 1.378.492 1.199.725 1.121.955 1.087.659 1.071.892 1.342.561 1.265.751 1.074.304 1.006.427 969.784 1.137.121 1.258.408 1.229.001 1.222.205 1.187.119 1.165.677 1.152.669 1.307.948 1.273.541 1.136.047 1.100.450 1.015.117 960.041 1.213.049 1.147.257 75 Lampiran 2 Hasil Uji Regresi Berganda Data Panel Menggunakan EViews 6 Dependent Variable: LOG(EMP) Method: Panel Least Squares Date: 10/27/11 Time: 11:35 Sample: 2005 2010 Periods included: 6 Cross-sections included: 19 Total panel (balanced) observations: 114 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 10.32258 0.292661 0.780880 -0.987688 3.447236 0.120049 0.053316 0.265385 2.994452 2.437843 14.64630 -3.721722 0.0035 0.0167 0.0000 0.0003 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.936533 0.922046 0.233803 5.029071 16.13591 64.64643 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 11.21061 0.837396 0.102879 0.630917 0.317180 1.784526 24 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2010 Observations 114 20 16 12 8 4 0 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 0.4 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 1.95e-18 -0.006919 0.482552 -0.576583 0.210962 -0.218607 2.952016 Jarque-Bera Probability 0.918930 0.631621 76 Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square d.f. Prob. (18,92) 18 0.0001 0.0000 Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. 17.323482 3 0.0006 3.220657 55.707116 Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Cross-section random G PDRB WP G 1.000000 0.719973 0.294831 PDRB 0.719973 1.000000 0.256192 Descriptive Statistics for RESID01 Categorized by values of CROSSID Date: 10/28/11 Time: 08:49 Sample: 2005 2010 Included observations: 114 CROSSID 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 All Std. Dev. 0.230170 0.137711 0.163229 0.356943 0.151548 0.186192 0.336995 0.163240 0.229316 0.256786 0.163162 0.312535 0.307451 0.093737 0.225435 0.219864 0.141884 0.305494 0.152370 0.210962 Obs. 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 114 WP 0.294831 0.256192 1.000000 77 Dependent Variable: LOG(EMP) Method: Panel EGLS (Cross-section weights) Date: 10/28/11 Time: 08:59 Sample: 2005 2010 Periods included: 6 Cross-sections included: 19 Total panel (balanced) observations: 114 Linear estimation after one-step weighting matrix White cross-section standard errors & covariance (d.f. corrected) Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 6.968477 0.235614 0.761154 -0.675332 1.311031 0.077469 0.026763 0.102880 5.315265 3.041396 28.44034 -6.564269 0.0000 0.0031 0.0000 0.0000 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid 0.934882 5.159940 Mean dependent var Durbin-Watson stat 11.21061 1.606376 Estimation Command: ========================= LS(CX=F,WGT=CXDIAG,COV=CXWHITE) LOG(EMP) C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) Estimation Equation: ========================= LOG(EMP) = C(1) + C(2)*LOG(G) + C(3)*LOG(PDRB) + C(4)*LOG(WP) + [CX=F] Substituted Coefficients: ========================= LOG(EMP) = 6.96847734847 + 0.235614149202*LOG(G) + 0.761153960115*LOG(PDRB) 0.675331943423*LOG(WP) + [CX=F] 72 Lampiran 1 Data Penyerapan Tenaga Kerja, PDRB, Pengeluaran Pemerintah, dan Upah Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat tahun 2005-2010 Kode Kabupaten/Kota Tahun Bekerja 1301 1301 1301 1301 1301 1301 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1303 1303 1303 1303 1303 1303 1304 1304 1304 1304 1304 1304 1305 1305 1305 1305 1305 1305 1306 1306 1306 1306 1306 1306 Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Kep. Mentawai Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Pesisir Selatan Solok Solok Solok Solok Solok Solok Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Sijunjung Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Tanah Datar Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman Padang Pariaman 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 24.748 22.519 21.553 25.830 31.574 36.453 150.121 149.001 163.282 160.929 170.536 158.806 147.193 154.037 150.814 154.042 160.023 161.700 79.445 76.898 74.523 83.250 91.122 83.023 141.382 134.032 148.227 159.833 153.903 153.948 127.030 139.932 144.397 154.287 161.164 159.162 PDRB 428.728 446.108 465.787 486.659 509.396 534.232 1.625.743 1.710.570 1.801.336 1.899.033 2.002.249 2.107.966 1.608.661 1.705.497 1.811.861 1.926.827 2.047.057 2.175.126 1.023.241 1.084.134 1.145.007 1.205.418 1.271.638 1.343.278 1.961.820 2.076.125 2.201.715 2.331.746 2.468.737 2.614.193 1.971.582 2.346.366 2.489.684 2.645.119 2.749.337 2.890.753 Pengeluaran Pemerintah 145.752 265.247 241.349 283.243 609.751 545.041 271.341 392.518 496.545 612.101 626.139 677.938 221.712 325.110 474.784 499.483 493.436 527.011 165.529 231.624 293.640 367.989 476.746 489.570 418.538 106.369 452.695 620.665 671.994 612.409 262.213 362.115 462.284 613.087 698.921 671.718 Upah Riil 1.208.316 1.198.743 1.150.658 1.107.895 1.470.593 1.720.135 1.209.299 1.190.574 1.150.548 1.095.396 1.248.925 1.321.162 1.160.480 1.087.300 1.015.650 971.255 946.609 944.036 1.183.814 1.123.727 1.095.657 1.066.172 1.019.708 1.133.544 1.307.443 1.245.967 1.257.754 1.229.039 1.359.595 1.245.520 1.111.504 1.066.129 1.005.435 967.569 1.141.962 1.123.765 73 Kode 1307 1307 1307 1307 1307 1307 1308 1308 1308 1308 1308 1308 1309 1309 1309 1309 1309 1309 1310 1310 1310 1310 1310 1310 1311 1311 1311 1311 1311 1311 1312 1312 1312 1312 1312 1312 1371 1371 1371 Kabupaten/Kota Agam Agam Agam Agam Agam Agam Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Lima Puluh Kota Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Pasaman Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Solok Selatan Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Dharmas Raya Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Pasaman Barat Kota Padang Kota Padang Kota Padang Tahun Bekerja PDRB 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 163.760 175.976 194.544 192.364 198.408 198.682 148.505 139.713 154.579 158.475 161.663 168.563 95.658 109.710 110.344 111.267 105.165 105.560 49.766 48.403 51.753 52.818 54.887 63.111 69.571 73.001 72.451 75.551 75.844 87.419 117.241 133.696 135.932 143.122 139.868 158.617 259.421 277.716 284.970 2.325.162 2.468.762 2.626.067 2.792.887 2.929.872 3.096.175 2.125.657 2.255.102 2.398.598 2.545.802 2.684.575 2.846.149 1.022.263 1.081.242 1.145.235 1.214.884 1.289.261 1.368.460 486.320 514.760 546.075 579.479 614.814 653.447 846.238 899.309 957.502 1.020.080 1.087.776 1.158.558 1.988.703 2.115.152 2.250.819 2.394.935 2.544.771 2.707.343 9.110.697 9.577.496 10.165.761 Pengeluaran Pemerintah 255.892 339.567 483.048 575.083 657.407 624.577 218.348 338.565 435.608 594.295 648.462 606.377 171.617 278.772 357.729 409.029 466.572 440.908 78.284 219.301 262.181 304.679 389.645 357.792 101.048 193.613 298.144 388.453 500.136 518.572 127.491 259.446 322.915 399.206 526.082 556.642 459.086 614.440 740.303 Upah Riil 1.079.730 1.011.960 986.367 973.853 1.199.923 1.160.194 1.209.275 1.198.534 1.189.657 1.168.349 1.226.660 1.152.244 1.108.357 1.097.913 1.095.435 1.055.360 1.121.897 1.214.583 1.076.904 1.010.003 968.954 992.576 978.151 1.028.027 1.000.660 975.577 909.658 889.015 1.018.094 1.065.961 1.135.688 1.090.782 1.078.684 1.077.355 1.161.512 1.113.411 1.297.629 1.292.119 1.286.545 74 Kode Kabupaten/Kota Tahun Bekerja PDRB 1371 1371 1371 1372 1372 1372 1372 1372 1372 1373 1373 1373 1373 1373 1373 1374 1374 1374 1374 1374 1374 1375 1375 1375 1375 1375 1375 1376 1376 1376 1376 1376 1376 1377 1377 1377 1377 1377 1377 Kota Padang Kota Padang Kota Padang Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Solok Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Sawahluto Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Pd. Panjang Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Bukittinggi Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman Kota Pariaman 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 294.154 297.203 304.790 19.702 20.992 23.016 24.592 24.844 23.312 20.076 22.318 19.347 19.190 19.960 25.414 16.708 19.999 18.069 23.274 23.091 20.970 39.399 43.790 47.498 48.786 50.363 46.800 41.717 43.249 44.758 47.009 49.544 53.192 26.029 23.293 29.349 27.605 29.760 31.932 10.797.259 11.345.637 12.021.599 394.217 418.554 445.152 473.694 497.623 527.271 444.672 449.255 458.646 474.379 494.708 519.599 311.166 330.173 351.228 373.249 396.829 420.843 762.433 809.614 862.158 918.915 969.591 1.028.923 644.369 684.222 727.773 774.486 819.397 871.654 561.912 589.877 621.504 656.250 685.598 721.657 Pengeluaran Pemerintah 881.728 1.038.700 1.322.015 112.147 170.079 230.724 288.480 372.936 367.819 129.747 191.842 227.380 278.259 317.442 343.423 131.275 170.960 196.536 248.443 353.602 313.988 157.119 224.543 278.952 290.389 407.955 403.939 164.148 216.425 259.623 305.317 402.579 388.136 127.630 212.546 246.529 266.139 325.207 357.836 Upah Riil 1.237.330 1.460.776 1.350.945 1.221.540 1.191.717 1.167.471 1.140.259 1.323.006 1.344.718 1.198.223 1.130.657 1.097.538 1.026.710 1.450.640 1.378.492 1.199.725 1.121.955 1.087.659 1.071.892 1.342.561 1.265.751 1.074.304 1.006.427 969.784 1.137.121 1.258.408 1.229.001 1.222.205 1.187.119 1.165.677 1.152.669 1.307.948 1.273.541 1.136.047 1.100.450 1.015.117 960.041 1.213.049 1.147.257 75 Lampiran 2 Hasil Uji Regresi Berganda Data Panel Menggunakan EViews 6 Dependent Variable: LOG(EMP) Method: Panel Least Squares Date: 10/27/11 Time: 11:35 Sample: 2005 2010 Periods included: 6 Cross-sections included: 19 Total panel (balanced) observations: 114 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 10.32258 0.292661 0.780880 -0.987688 3.447236 0.120049 0.053316 0.265385 2.994452 2.437843 14.64630 -3.721722 0.0035 0.0167 0.0000 0.0003 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.936533 0.922046 0.233803 5.029071 16.13591 64.64643 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat 11.21061 0.837396 0.102879 0.630917 0.317180 1.784526 24 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2010 Observations 114 20 16 12 8 4 0 -0.6 -0.4 -0.2 -0.0 0.2 0.4 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 1.95e-18 -0.006919 0.482552 -0.576583 0.210962 -0.218607 2.952016 Jarque-Bera Probability 0.918930 0.631621 76 Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic Cross-section F Cross-section Chi-square d.f. Prob. (18,92) 18 0.0001 0.0000 Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. 17.323482 3 0.0006 3.220657 55.707116 Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Cross-section random G PDRB WP G 1.000000 0.719973 0.294831 PDRB 0.719973 1.000000 0.256192 Descriptive Statistics for RESID01 Categorized by values of CROSSID Date: 10/28/11 Time: 08:49 Sample: 2005 2010 Included observations: 114 CROSSID 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 All Std. Dev. 0.230170 0.137711 0.163229 0.356943 0.151548 0.186192 0.336995 0.163240 0.229316 0.256786 0.163162 0.312535 0.307451 0.093737 0.225435 0.219864 0.141884 0.305494 0.152370 0.210962 Obs. 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 114 WP 0.294831 0.256192 1.000000 77 Dependent Variable: LOG(EMP) Method: Panel EGLS (Cross-section weights) Date: 10/28/11 Time: 08:59 Sample: 2005 2010 Periods included: 6 Cross-sections included: 19 Total panel (balanced) observations: 114 Linear estimation after one-step weighting matrix White cross-section standard errors & covariance (d.f. corrected) Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) 6.968477 0.235614 0.761154 -0.675332 1.311031 0.077469 0.026763 0.102880 5.315265 3.041396 28.44034 -6.564269 0.0000 0.0031 0.0000 0.0000 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) 0.957986 0.948395 0.229339 99.89168 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 13.51991 5.438854 4.838863 1.830430 Unweighted Statistics R-squared Sum squared resid 0.934882 5.159940 Mean dependent var Durbin-Watson stat 11.21061 1.606376 Estimation Command: ========================= LS(CX=F,WGT=CXDIAG,COV=CXWHITE) LOG(EMP) C LOG(G) LOG(PDRB) LOG(WP) Estimation Equation: ========================= LOG(EMP) = C(1) + C(2)*LOG(G) + C(3)*LOG(PDRB) + C(4)*LOG(WP) + [CX=F] Substituted Coefficients: ========================= LOG(EMP) = 6.96847734847 + 0.235614149202*LOG(G) + 0.761153960115*LOG(PDRB) 0.675331943423*LOG(WP) + [CX=F] RINGKASAN HERY FERDINAN. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, PDRB, dan Upah Riil Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Sumatera Barat (dibimbing oleh FIFI DIANA THAMRIN). Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting dan urgent mengingat erat kaitannya dengan pengangguran baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam masalah ketenagakerjaan menunjukkan bahwa semakin tinggi angka pengangguran maka akan meningkatkan probabilitas kemiskinan, kriminalitas, dan fenomena-fenomena sosial-ekonomi di masyarakat. Peningkatan pertumbuhan ekonomi selama periode 2005-2010 di Provinsi Sumatera Barat ternyata tidak selalu diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk menganalisis keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Barat dan pengaruh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah riil terhadap penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat serta besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan sekaligus rekomendasi mengenai strategi kebijakan yang optimal untuk mengurangi tingginya pengangguran di Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS tahun 2005 – 2010 yang meliputi data Pengeluaran Pemerintah, PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK), dan Upah Riil. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi berganda data panel dengan fixed effects model. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah, PDRB, dan upah rill. Ketiga variabel tersebut berpengaruh secara signifikan. Variabel yang paling tinggi pengaruhnya adalah PDRB dengan elastisitas 0,7612. Sementara upah riil memiliki elastisitas sebesar -0,6753. Sedangkan pengeluaran pemerintah menghasilkan elastisitas sebesar 0,2356. Dengan mengetahui karakteristik penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat, diharapkan pemerintah daerah Sumatera Barat lebih memperhatikan masalah ketenagakerjaan. Selain itu, pemerintah daerah Sumatera Barat hendaknya mendorong sektor pertanian dengan peningkatan teknologi pertanian yang tepat guna, menetapkan upah minimum sewajarnya dengan mempertimbangkan standar biaya hidup yang diikuti dengan skill dan produktivitas pekerja, serta menciptakan stimulus fiskal bagi perluasan tenaga kerja.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Pdrb, Dan Up..

Gratis

Feedback