Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU-Sapi Perah Baturraden, Purwokerto

 0  2  92  2017-05-18 14:37:10 Report infringing document
Informasi dokumen
RINGKASAN Erni Siti Wahyuni. D14080046. 2012. Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU Sapi Perah Baturraden, Purwokerto. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D Kebutuhan akan susu yang semakin meningkat belum bisa diimbangi oleh produksi susu dalam negeri. Sapi perah betina, khususnya sapi bangsa Friesian Holstein (FH), memegang peranan penting dalam memproduksi susu di dalam negeri. Seleksi terhadap sapi betina FH diharapkan akan mampu meningkatkan nilai pemuliaannya pada suatu peternakan. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden adalah balai pemerintahan yang khusus menangani pembibitan sapi perah betina atau indukan. Sebagai pusat sapi FH betina di Indonesia, BBPTU-SP harus memiliki indukan terbaik, sehingga dapat digunakan sebagai sapi bibit atau induk yang menghasilkan keturunan dengan kemampuan produksi susu yang baik. Potensi genetik sapi betina FH dapat dilihat berdasarkan catatan produksinya melalui pendugaan nilai parameter genetik, sehingga parameter genetik tersebut dapat digunakan sebagai dasar dilakukannya evaluasi terhadap nilai pemuliaan dan keunggulan genetiknya melalui metode MPPA dan PBV. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui potensi genetik produksi susu dari sapi Friesian Holstein betina di BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan catatan produksi susu harian yang terhitung sejak tahun 2006-2011. Catatan tersebut merupakan catatan produksi susu dari 213 ekor sapi betina yang berjumlah 537 catatan. Catatan produksi susu harian kemudian selanjutnya diakumulasikan menjadi produksi susu per laktasi. Produksi susu per laktasi tersebut kemudian distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa berdasarkan faktor koreksi DHIA-USDA. Perhitungan heritabilitas dilakukan dengan metode korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation), sedangkan ripitabilitas dihitung berdasarkan analisis sidik ragam klasifikasi satu arah. Daya pewarisan sifat dari sapi betina ini dihitung dengan menggunakan metode Predicted Breeding Value (PBV) sedangkan pendugaan keunggulan produksi susunya menggunakan metode The Most Probable Producing Ability (MPPA). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai heritabilitas yang didapat tergolong sedang dengan nilai 0,40±0,36. Ripitabilitas produksi susu yang diperoleh di BBPTU-SP Baturraden tergolong tinggi dengan nilai 0,84±0,02. Sapi betina dengan peringkat terbaik berdasarkan nilai MPPA dan PBV adalah sapi dengan nomor identitas 125. Sapi ini memiliki nilai pendugaan MPPA sebesar 7.701 kg yang artinya sapi ini diduga akan menghasilkan produksi susu sebesar 7.701 kg pada laktasi berikutnya. Nilai pendugaan PBV yang diperoleh adalah sebesar 6.533 kg, artinya sapi ini memiliki keunggulan genetik produksi susu sebesar 6.533 kg. Kata-kata kunci: Sapi Friesian Holstein, potensi genetik, produksi susu. ii ABSTRACT Genetic Ability of Friesian Holstein Cow’s Milk Production in BBPTU-Sapi Perah Baturraden, Purwokerto. Wahyuni, E.S., Jakaria, A. Anggraeni Genetic ability improvement effort of dairy cattle’s milk production can be done by selection of the cow. Friesian Holstein is the most popular dairy cow to be used. Inheritance ability and estimation of production traits can be evaluated according to the milk yield record. The objectives of this research were to estimated the genetic ability of the dairy cow in BBPTU-SP Baturraden by using two methods and to test rank of genetic superiority. Daily milk production collected 537 records of 213 dairy cows. Data collected from 2006 to 2011 which originated from BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto. The daily milk production was rearranged into milk yield per lactation. The real milk yield was standardized to 305 days and mature equivalent based on DHIA-USDA’s correction factors. Repeatibility estimation was done by one way classification with unequal numbers of measurements per individual (unbalanced design). Meanwhile heritability estimation was done by using anysis of variance the interclass correlation between paternal halfsib. The methods were used to estimated the genetic ability, namely Most Probable Producing Ability (MPPA) and Predicted Breeding Value (PBV). Repeatibility and heritability value of milk production are recorded as 0.84±0.02 and 0,40±0,36. Based on the evaluation on 213 heads of HF cows, it was obtained that the average value of MPPA was 5,443±895 kg (3151-7701 kg) and that for PBV was 5,462±425 kg (4375-6533 kg). The best cow was identified for the ID 125 having the MPPA value by 7,701 kg and the PBV value by 6,533 kg. Keywords: Holstein Friesian, genetic ability, milk yield. iii PENDAHULUAN Latar Belakang Susu merupakan salah satu produk hasil ternak yang sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Direktorat Jenderal Peternakan (2011) melaporkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia sudah mencapai 16,421 kg/kapita/tahun. Laju konsumsi ini diperkirakan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Kenyataannya, produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 35% saja dari kebutuhan susu nasional, sedangkan sebagian besar sisanya dipenuhi oleh susu impor. Ketersediaan susu sebagai salah satu bahan pangan menjadi hal yang mendapat perhatian, khususnya karena kualitas dan kuantitas susu yang belum memadai. Produksi susu dari sapi perah merupakan faktor penting yang menyangkut ketersediaan susu. Produksi susu menjadi hal utama pada suatu peternakan sapi perah berdasarkan faktor ekonomis. Peningkatan produksi susu ini dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas atau populasi dari sapi perah betina laktasi. Peningkatan produktivitas merupakan salah satu cara dalam meningkatkan produksi susu nasional. Pemuliaan memiliki fungsi dan peranan yang penting dalam usaha peningkatan produktivitas ternak karena dapat meningkatan potensi genetik ternak menjadi lebih baik lagi. Sapi perah betina mempunyai kemampuan produksi susu yang berbeda-beda. Produksi susu sapi perah merupakan sifat yang dikendalikan oleh banyak gen (kuantitatif), sehingga ekspresinya merupakan akumulasi dari pengaruh genetik, lingkungan, dan interaksi keduanya. Faktor genetik merupakan hal yang lebih penting dan lebih memperoleh perhatian pada program pemuliaan ternak karena unsur inilah yang diwariskan tetua kepada keturunannya (Falconer dan Mackay, 1996). Kegiatan pemuliaan mencakup dua hal, yaitu seleksi dan persilangan. Pemilihan sapi perah betina atau seleksi sangat penting untuk dilakukan. Seleksi memberikan hasil yang permanen dan berakumulasi. Kurnianto et al. (2008) menyatakan bahwa pelaksanaan seleksi didasari alasan untuk mempertahankan jumlah ternak yang ada, dikawinkan dengan pejantan unggul untuk memperoleh anak betina yang unggul dan dapat digunakan sebagai pengganti induk (replacement) dan akan memperoleh anak jantan yang akan digunakan sebagai pemacek dalam program 1 inseminasi buatan. Seleksi dilakukan untuk mengetahui sapi perah betina yang memiliki kemampuan produksi yang tinggi dan dapat mewariskan sifat tersebut kepada keturunannya. Berdasarkan alasan tersebut, perlu dilakukan evaluasi mengenai keunggulan genetik produksi susu. Prinsip evaluasi adalah dengan mengetahui parameter-parameter genetik yang kemudian digunakan untuk mengetahui produktivitas ternak tersebut. Metode yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap kemampuan produksi susu adalah MPPA (Most Probable Producing Ability) dan PBV (Predicted Breeding Value). Evaluasi genetik sifat produksi susu perlu dilakukan pada Balai Pembibitan Ternak Unggul yang menjadi acuan peternak di Indonesia untuk mendapatkan ternak unggul. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan mengetahui potensi genetik sifat produksi susu sapi Friesian Holstein betina di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden, Purwokerto, berdasarkan pendugaan nilai MPPA dan PBV. 2 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Sapi Perah di Indonesia Usaha peternakan sapi perah yang diusahakan oleh pribumi diperkirakan berdiri sekitar tahun 1925. Usaha ini berlanjut secara bertahap sampai saat ini. Peternak-peternak kecil juga melakukan usaha sampingan untuk menghasilkan susu dengan kepemilikan sekitar 2-3 ekor sapi perah. Sapi-sapi perah tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan susu yang telah mengalami kehancuran pada masa-masa Pemerintahan Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Peternak umumnya para petani di daerah dataran tinggi yang memelihara sapi dengan tujuan utama untuk mendapatkan pupuk kandang, sedangkan susu hanya menjadi tujuan Produksi Susu (ribu ton) kedua. 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 910 926 2010 2011 827 647 568 2007 2008 2009 Tahun Gambar 1. Produksi Susu Nasional (2007-2011) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011) Industri ini mulai berkembang dengan pesat sejak awal tahun 1980. Pemerintah mulai melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi susu dalam negeri untuk kebutuhan masyarakat. Produksi susu di dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 35% dari kebutuhan susu nasional. Produksi susu tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat walaupun terjadi peningkatan produksi di setiap tahunnya. Jika populasi sapi laktasi di Indonesia diestimasi sekitar 60% dari jumlah populasi seluruhnya, maka produksi susu saat ini adalah sekitar 925.800 ton dari 358.000 ekor sapi FH. Rataan produksi susu per tahunnya adalah sekitar 2.586 kg/tahun. Rataan produksi susu ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3 produksi susu pada tahun 2007, yaitu sekitar 2.535 kg/tahun. Grafik produksi susu sejak tahun 2007 sampai 2011 dapat dilihat pada Gambar 1. Produksi susu nasional cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Laju peningkatan yang paling tinggi terjadi pada tahun 2009, yaitu sebesar 28%. Laju peningkatan produksi susu dari tahun 2007 sampai 2011 berturut-turut adalah 14%, 28%, 10%, dan 2%. Rataan laju peningkatan produksi susu di Indonesia sejak tahun 2007 sampai 2011 adalah sekitar 13,5%. Populasi ternak sapi perah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Grafik populasi ternak sapi perah dapat dilihat pada Gambar 2. Populasi tersebut sebagian besar berada di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur (49,6%), Jawa Tengah (25,1%), dan Jawa Barat (23,4%). Laju peningkatan populasi paling tinggi yang sama terjadi pada tahun 2008 dan 2011 yaitu sebesar 22%. Laju peningkatan populasi sapi perah dari tahun 2007 sampai 2011 berturut-turut adalah 22%, 4%, 0,2%, dan 22%. Laju peningkatan populasi sapi perah di Indonesia sejak tahun 2007 sampai 2011 adalah sekitar 12%. Jumlah Ternak (ribu ekor) 700 600 597 500 400 300 488 458 475 2008 2009 2010 Tahun 374 200 100 0 2007 2011 Gambar 2. Populasi Ternak Sapi Perah (2007-2011) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011) Sapi Friesian Holstein Sapi perah termasuk ke dalam family Bovidae, sub family Bovinae dan genus Bos. Sapi perah yang dikembangkan di berbagai belahan dunia adalah jenis Bos taurus (sapi Eropa) yang berasal dari daerah sub tropis dan Bos indicus (sapi berponok di Asia) yang berasal dari daerah tropis, serta hasil persilangan dari 4 keturunan Bos taurus dan Bos indicus. Sapi yang berasal dari Bos taurus dan banyak dikembangkan antara lain adalah Holstein, Brown Swiss, Ayshire, Guernsey dan Jersey. Bangsa sapi perah yang umum dikembangkan di Indonesia adalah bangsa Friesian Holstein (FH). Sapi FH berasal dari provinsi Friesland, Belanda. Bangsa sapi ini adalah bangsa sapi perah yang tertua, terkenal, dan tersebar hampir di seluruh dunia (Sudono et al., 2003). Sapi perah Fries Holland berasal dari Belanda Utara atau Friesian Barat. Di Amerika dikenal antara lain sapi Friesian Holstein (FH) dan Holstein, sedangkan di Eropa dikenal sapi perah Friesian (Sudono et al., 2003). Sapi FH memiliki ciri-ciri seperti warna belang hitam (berwarna hitam putih), ujung ekor putih, bentuk kepala yang panjang, dahi seperti cawan, moncong luas dan ambing besar serta simetris (Dewan Standardisasi Indonesia, 1992). Menurut Blakely dan Blade (1994) sapi FH memiliki berat 675 kg dengan rata-rata produksi susu per tahun 5.750-6.250 kg dan berat lahir anak 42 kg. Karakteristik lainnya adalah temperamen tenang, kemampuan merumputnya sedang dan masak kelamin lambat. Kadar lemak susu dari sapi FH umumnya 3,5% - 3,7% dengan warna lemak kuning membentuk butiran-butiran (globula) sehingga aman untuk konsumsi susu segar. Produksi susu sapi FH saat ini di Indonesia memiliki produksi rata-rata sekitar 10 liter/ekor/hari atau sekitar 3.471 kg/laktasi (Anggraeni, 2012). Meskipun demikian bangsa sapi FH menghasilkan jumlah susu yang cukup tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa sapi perah lainnya baik di daerah subtropis maupun tropis. Sifat Produksi Susu Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interaksi keduanya. Musim, curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban, tahun pemeliharaan, dan peternakan juga merupakan faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi produksi susu. Kenyataannya, faktor-faktor tersebut seringkali berkaitan satu sama lain dalam menimbulkan keragaman produksi susu (Anggraeni, 1995; Indrijani, 2001). Falconer dan Mackay (1996) menjelaskan bahwa pada program pemuliaan ternak, yang lebih penting dan mendapat perhatian adalah faktor genetik karena faktor inilah yang diwariskan tetua kepada keturunannya. Faktor lingkungan berupa iklim, pakan, dan pengelolaan merupakan faktor yang tidak diwariskan (Kurnianto et al., 2008). 5 Kurva produksi susu dalam satu masa laktasi dapat dilihat pada Gambar 3. Produktivitas sapi perah dapat dievaluasi dengan cara pengukuran produksi susu selama satu masa laktasi. Produksi susu biasanya cukup tinggi setelah enam minggu masa laktasi hingga mencapai produksi maksimum, setelah itu terjadi penurunan produksi secara bertahap sampai akhir masa laktasi. Penurunan produksi susu yang terjadi setelah mencapai puncak laktasi adalah sekitar 6% setiap bulannya (Tyler dan Ensminger, 2006). Gambar 3. Kurva Produksi Susu Sumber: Blakely dan Blade (1994) Puncak produksi tergantung pada kondisi induk saat melahirkan, keturunan, terbebasnya induk dari infeksi penyakit serta pakan setelah melahirkan. Induk yang mengalami penurunan produksi susu secara cepat setelah produksi berarti mempunyai persistensi yang rendah. Persistensi produksi adalah kemampuan induk sapi mempertahankan tingkat produksi selama masa laktasi. Persistensi ini dipengaruhi oleh umur sapi, kondisi sapi saat beranak, lama masa kering sebelumnya dan jumlah pakan (Akers, 2002). Umumnya lama masa laktasi adalah 10 bulan (305 hari) pada sapi-sapi yang mempunyai selang beranak 12 bulan. Produksi air susu tertinggi diperoleh pada periode laktasi keempat (Schmidt dan Van Vleck, 1974). Produksi susu total setiap laktasi bervariasi, namun umumnya puncak produksi dicapai pada umur 6-7 tahun, atau pada laktasi ke-3 dan ke-4. Mulai dari laktasi pertama, produksi susu akan 6 meningkat sampai umur dewasa. Umur sapi yang semakin bertambah menyebabkan penurunan produksi secara perlahan. Produksi susu pada laktasi pertama adalah 70%, laktasi kedua adalah 80%, laktasi ketiga 90% dan laktasi keempat 95% dari produksi susu pada umur dewasa dengan selang beranak 12 bulan dan beranak pertama pada umur dua tahun (Tyler dan Ensminger, 2006). Produksi susu secara umum dipengaruhi oleh faktor biologis atau internal dan factor eksternal. Faktor internal adalah faktor genetik, periode laktasi, frekuensi pemerahan, umur dan ukuran tubuh ternak, masa kering, siklus estrus dan kebuntingan, ketosis dan milk fever (Sudono et al., 2003), sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar tubuh ternak seperti iklim, jumlah dan kualitas pakan, penyakit dan parasit (Indrijani, 2001). Faktor Koreksi Produksi Susu Produksi susu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Beberapa faktor internal seperti masa laktasi, umur beranak, dan masa kosong, ataupun faktor eksternal seperti kondisi perusahaan tempat berproduksi, tahun beranak dan musim beranak dapat memberikan kontribusi terhadap variasi produksi susu dalam satu laktasi. Keadaan ini akan menutupi keragaman produksi susu yang disebabkan oleh keragaman genetik (Anggraeni, 1995). Produksi susu dapat disesuaikan atau dikoreksi ke arah standar tertentu. Faktor koreksi yang paling umum digunakan adalah faktor koreksi produksi susu yang disesuaikan ke arah lama laktasi 305 hari, umur induk dewasa dan pemerahan 2 kali perhari. Standardisasi lama laktasi 305 hari didasarkan perhitungan bahwa seekor sapi perah paling optimal dapat beranak satu kali dalam satu tahun dengan lama pengeringan 6 – 8 minggu. Umur dewasa sapi perah dicapai pada umur 66 – 72 bulan dan pada umur ini diharapkan telah mencapai produksi optimalnya (Hardjosubroto, 1994). Lama hari berproduksi atau masa laktasi antara sapi-sapi betina umumnya menunjukan keragaman yang besar. Hasil-hasil yang telah diperoleh menunjukan bahwa lama laktasi merupakan sumber keragaman yang perlu dipertimbangkan dalam mendapatkan faktor koreksi laktasi lengkap (Anggraeni, 1995). Sapi betina dengan lama laktasi kurang dari 305 hari akan memiliki faktor koreksi yang nilainya 7 lebih besar dibandingkan dengan lama laktasi yang lebih dari 305 hari, sebaliknya faktor koreksi untuk lama laktasi yang lebih dari 305 hari akan lebih kecil. Hal lain yang juga mempengaruhi produksi susu adalah umur beranak. Pendugaan nilai pemuliaan produksi susu perlu dilakukan penyesuaian produksi susu sapi betina yang dinilai terhadap produksi susu setara dewasa. Alasan mendasar dilakukan pengkoreksian dikarenakan umur beranak dapat menimbulkan bias dalam evaluasi mutu genetik sapi betina. Pembakuan menjadi satu hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir bias dalam evaluasi tersebut. Miller et al. (2002) menyatakan beberapa alasan dilakukannya pengkoreksian produksi susu terhadap umur beranak adalah agar terpenuhinya beberapa tujuan seperti 1) menghilangkan bias ketika membandingkan sapi betina dengan umur yang berbeda, 2) menurunkan keragaman karena umur yang tidak sama, dan 3) guna mengestimasi produksi susu saat umur dewasa yang mungkin dapat dihasilkan seekor sapi betina dalam kondisi faktor lingkungan yang sama. Ripitabilitas Kurnianto (2009) menyatakan bahwa konsep ripitabilitas (r) digunakan untuk mempelajari bagian ragam total suatu sifat pada suatu populasi yang disebabkan oleh keragaman antar individu yang bersifat permanen pada periode produksi yang berbeda. Ripitabilitas merupakan suatu pengukuran kesamaan antara pengukuran suatu sifat yang diukur berkali-kali pada ternak yang sama selama ternak tersebut hidup (Noor, 2010). Konsep angka pengulangan (repeatability) berguna untuk sifatsifat yang muncul berkali-kali selama hidup ternak, misalnya produksi susu, produksi telur, produksi wool, dan lain-lain. Angka pengulangan (repeatibility) dapat didefinisikan sebagai korelasi fenotip antara performan sekarang dengan performan selanjutnya di masa yang akan datang pada satu individu. Noor (2010) menyampaikan bahwa ripitabilitas digolongkan ke dalam rendah jika nilainya kurang dari 0,2, sedang jika nilainya berkisar antara 0,2 dan 0,4, dan tinggi jika nilainya lebih besar dari 0,4. Nilai ripitabilitas yang tinggi menunjukan bahwa kemampuan ternak untuk mengulang sifat produksi susu pada periode laktasi berikutnya juga akan tinggi. Sebaliknya, nilai ripitabilitas yang rendah menunjukan bahwa ternak tersebut memiliki kemampuan yang rendah untuk mengulang sifat produksi susu pada periode laktasi berikutnya. 8 Nilai ripitabilitas berguna untuk memperkirakan produktivitas di masa yang akan datang dari ternak. Nilai ripitabilitas produksi susu sapi FH di berbagai wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. Perbedaan nilai ripitabilitas yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan cara mengambil sampel, jumlah sampel, serta metode yang digunakan. Tabel 1. Ripitabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah No Lokasi Ripitabilitas Sumber 1 BPT-HMT Baturraden 0,25±0,05 Gushairiyanto (1994) 2 Yayasan Santa Maria Rawaseneng 0,40±0,05 Mekir (1982) 3 PT Baru Adjak 0,62±0,03 Gushairiyanto (1994) 4 PT Taurus Dairy Farm 0,64±0,03 Gushairiyanto (1994) 5 Sumber Susu Indonesia 0,56±0,06 Maylinda (1986) 6 Sekolah Peternakan Menengah Atas Malang 0,43±0,08 Maylinda (1986) Heritabilitas Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa angka pewarisan (heritability) dapat didefinisikan sebagai proporsi dari ragam genetik terhadap ragam fenotip. Heritabilitas (h2) merupakan nilai yang mengukur kepentingan relatif antara pengaruh genetik dan lingkungan untuk suatu sifat pada suatu populasi. Heritabilitas juga dapat didefinisikan sebagai ukuran yang menunjukan tingkat kesamaan penampilan antara anak-anak dengan tetuanya. Selain itu, heritabilitas juga merupakan suatu ukuran yang menggambarkan hubungan antara nilai fenotipik dengan nilai pemuliaan (breeding value) untuk suatu sifat pada suatu populasi (Kurnianto, 2009). Nilai heritabilitas berselang antara 0 sampai 1. Kurnianto (2009) menyatakan bahwa heritabilitas dikategorikan rendah (lowly heritable) jika nilai berselang antara 0 dan 0,15, dikategorikan sedang (moderately heritable) jika nilai berselang antara 0,15 dan 0,30 dan dikategorikan tinggi (highly heritable) jika nilai heritabilitas yang didapat lebih dari 0,3. Nilai h2 yang mendekati 1 menunjukan bahwa suatu sifat memberikan respon yang lebih baik terhadap perlakuan seleksi. Sebaliknya nilai h2 yang rendah untuk suatu sifat menunjukan bahwa respon seleksi akan lambat. Seekor ternak yang menunjukan nilai heritabilitas yang tinggi pada suatu sifat diharapkan dapat mempunyai anak dengan keunggulan yang sama pada sifat tersebut. 9 Sebaliknya, bila nilai heritabilitas dari sifat tersebut rendah maka keturunan dari ternak tersebut tidak dipastikan mempunyai keunggulan sifat yang sama, karena hanya sebagian kecil saja dari keunggulannya yang diwariskan kepada keturunannya. Beberapa nilai heritabilitas produksi susu sapi FH di berbagai wilayah dapat dilihat pada Tabel 2. Nilai pendugaan heritabilitas umumnya bervariasi tergantung pada perbedaan cara pengambilan sampel, keterbatassan sampel, perbedaan metode yang digunakan, dan managemen pada waktu pengamatan dilakukan. Tabel 2. Heritabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah No Heritabilitas Sumber BPT-HMT Baturraden 0,48±0,24 Gushairiyanto (1994) BPT-HMT Baturraden 0,32±0,34 Hidayat (2000) BPT-HMT Baturraden 0,23±0,08 Ekasanti et al. (2002) BBPTU-SP Baturraden 0,352±0,04 Indrijani (2008) 2 Yayasan Santa Maria Rawaseneng 0,23±0,25 Mekir (1982) 3 Sumber Susu Indonesia 0,43±0,74 Maylinda (1986) 4 Sekolah Peternakan Menengah Atas Malang 0,22±0,74 Maylinda (1986) 5 PT Baru Adjak 0,79±0,35 Kurnianto (1991) 0,67±0,22 Gushairiyanto (1994) 1 Lokasi 6 PT Surya Dairy Farm 0,19±0,53 Kurnianto (1991) 7 PT Taurus Dairy Farm 0,39±0,38 Kurnianto (1991) 8 BPPT Cikole 0,31±0,05 Indrijani (2001) 0,237±0,07 Indrijani (2008) 0,326±0,19 Indrijani (2008) 0,350±0,11 Indrijani (2008) 9 PT Bandang Dairy Farm Seleksi Seleksi diartikan sebagai suatu tindakan untuk membiarkan ternak-ternak tertentu bereproduksi, sedangkan ternak lainnya tidak diberi kesempatan untuk bereproduksi. Seleksi akan meningkatkan frekuensi gen-gen yang diinginkan dan menurunkan frekuensi gen-gen yang tidak diinginkan (Noor, 2010). Kurnianto (2009) menjelaskan bahwa seleksi dalam ilmu pemuliaan diartikan sebagai upaya memilih dan mempertahankan ternak-ternak yang dianggap baik untuk terus dipelihara sebagai tetua bagi generasi yang akan datang dan mengeluarkan (culling) ternak-ternak yang dianggap kurang baik. 10 Seleksi dapat dilakukan pada ternak jantan maupun betina. Seleksi terhadap sapi betina merupakan hal yang penting karena pemasukan utama bagi peternak adalah hasil dari penjualan susu, maka produktivitas sapi betina merupakan hal yang penting untuk diketahui. Sapi-sapi betina diurutkan berdasarkan produksi susunya dari yang tertinggi sampai yang terendah. Informasi mengenai silsilah juga merupakan salah satu hal yang harus diketahui khususnya untuk sapi dara yang dipilih dengan tujuan sebagai pengganti (replacement) (Ensminger, 1980). Produktivitas dari sapi betina tersebut juga dapat diturunkan kepada anaknya yang diharapkan memiliki produktivitas yang sama atau lebih tinggi lagi. Data sapi betina yang umumnya didapat saat akan melakukan seleksi antara lain produksi per laktasi, kadar lemak susu, lama laktasi dan umur beranak. Faktorfaktor yang harus diperhatikan dalam memilih sapi betina yang akan dijadikan bibit antara lain, bangsa sapi, umur sapi, silsilah (pedigree), penampakan luar (eksterior), produksi dan kesehatan (Zein dan Sumaprastowo, 1985). The Most Probable Producing Ability (MPPA) Lasley (1978) menyatakan bahwa MPPA adalah regresi dari pencatatan masa yang akan datang terhadap pencatatan saat ini, atau derajat dimana suatu catatan berulang akan menghasilkan seleksi yang lebih efektif untuk produksi yang berikutnya. MPPA digunakan untuk mengestimasi kemampuan produksi pada masa yang akan datang, sehingga berdasarkan nilai MPPA yang tertinggi akan dapat ditentukan induk-induk yang produktivitasnya tinggi sehingga dapat dipilih indukinduk yang akan dipertahankan. MPPA mencerminkan kemampuan berulang seekor sapi perah dalam produksi susu. Parameter genetik yang digunakan dalam metode ini adalah ripitabilitas. Kegunaan ripitabilitas diantaranya adalah untuk menduga nilai maksimum yang dapat dicapai heritabilitas, untuk menduga kemampuan produksi dalam masa produksi seekor ternak (MPPA) dan untuk meningkatkan ketepatan seleksi. Predicted Breeding Value (PBV) Nilai pemuliaan (breeding value) didefinisikan sebagai nilai seekor ternak sebagai tetua (the value of an individual as a parent) yang diperoleh dari perkawinan 11 acak. Nilai pemuliaan memberikan gambaran tentang dugaan kemampuan mewariskan sifat (Kurnianto, 2009). Pendugaan nilai pemuliaan sapi perah induk dapat dilakukan dengan pengamatan catatan produksinya sendiri dan dapat ditambah dengan catatan produksi kerabatnya. Induk yang memiliki nilai pendugaan PBV yang tinggi (di atas rata-rata populasi) diharapkan dapat menghasilkan keturunan dengan sifat produksi yang sama baiknya atau lebih baik dari produksi induknya, khususnya jika dikawinkan dengan pejantan unggul. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menduga nilai pemuliaan sapi induk adalah Predicted Breeding Value (PBV). PBV sering dinyatakan sebagai simpangan dari rata-rata populasi. Seleksi dengan dasar penampilan individu PBV dari seekor ternak yang dinyatakan sebagai simpangan dari rata-rata kelompok atau populasi. 12 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dan pengambilan data sekunder dilakukan selama bulan JanuariFebruari 2012 di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturradden, Purwokerto. Pengolahan data sekunder dilakukan pada bulan FebruariApril 2012. Materi Materi yang digunakan adalah data sekunder produksi susu harian dari sapi betina Friesian Holstein terhitung sejak tahun 2006-2011. Catatan produksi susu berjumlah 537 catatan dari 213 ekor sapi betina. Catatan ini terdiri dari 178 catatan periode laktasi pertama, 135 catatan periode laktasi kedua, 92 catatan periode laktasi ketiga, 81 catatan periode laktasi keempat, 39 catatan periode laktasi kelima, dan 12 catatan periode laktasi yang lebih dari lima (keenam dan ketujuh). Catatan tersebut lengkap dengan catatan individu berupa tanggal lahir dan identitas tetua baik induk maupun pejantan, serta catatan reproduksinya meliputi tanggal kawin dan tanggal beranak. Prosedur Data yang diperoleh merupakan data produksi susu harian dari individu yang diuji yang dilengkapi dengan data tetua (induk dan bapak), tanggal lahir, tanggal kawin, tanggal beranak dan tanggal kering. Data tersebut kemudian ditabulasikan berdasarkan individu yang diuji beserta seluruh informasi individu tersebut. Selanjutnya dari data tersebut masing-masing individu ditentukan lama laktasi, produksi susu per laktasi, dan lama masa kering yang ditabulasikan setiap periode laktasi. Umur beranak diketahui berdasarkan informasi tanggal lahir dan tanggal beranak. Produksi susu per laktasi dari masing-masing individu kemudian distandardisasi menggunakan faktor koreksi lama laktasi 305 hari dan umur dewasa induk berdasarkan DHIA-USDA. Faktor koreksi terhadap panjang laktasi 305 hari dan umur induk dewasa dapat dilihat pada Lampiran 5, 6, dan 7. Setelah data produksi susu terstandardisasi, nilai ripitabilitas dan heritabilitas dihitung. Nilai ripitabilitas dan heritabilitas yang didapat kemudian digunakan sebagai dasar 13 pendugaan nilai MPPA dan PBV. Nilai pendugaan MPPA dan PBV sapi betina yang telah didapat kemudian diurutkan berdasarkan nilai tersebut. Rancangan dan Analisis Data Analisis data dilakukan pertama kali dengan melakukan standardisasi data ke dalam faktor koreksi lama laktasi 305 hari dan umur dewasa induk. Data yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk analisis parameter genetik, yaitu ripitabilitas produksi susu. Nilai ripitabilitas yang didapatkan digunakan untuk pendugaan nilai MPPA yang selanjutnya diurutkan berdasarkan peringkat. Ripitabilitas (r) Perhitungan ripitabilitas produksi susu menggunakan metode sidik ragam klasifikasi satu arah dengan banyaknya pengukuran per individu yang tidak sama (Becker, 1975) dengan model statistiknya adalah sebagai berikut: Keterangan: : nilai produksi susu individu ke-k dari catatan pengukuran ke-m  : rataan produksi susu populasi : pengaruh individu ke-k : deviasi karena pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol pada individu kek dari catatan pengukuran ke-m Tabel 3. Daftar Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas Sumber Keragaman Antar Individu Pengukuran dalam Individu db JK KT N-1 JKW KTW N(M-1) JKE KTE Komponen KT Keterangan: N : jumlah individu M : jumlah pengukuran per individu k1 : koefisien komponen ragam : mk m ∑ : jumlah pengukuran individu ke-k : jumlah total pengukuran : komponen ragam antar individu : : komponen ragam antar pengukuran dalam individu 14 Galat baku ripitabilitas dihitung berdasarkan rumus berikut: √ Estimasi ripitabilitas dihitung dengan cara, Keterangan: r : nilai ripitabilitas : komponen ragam antar individu : komponen ragam antar pengukuran dalam individu Heritabilitas (h2) Pendugaan nilai heritabilitas dihitung berdasarkan metode korelasi saudara tiri (paternal halfsib correlation) dengan jumlah anak per pejantan yang tidak sama (unbalance design) menurut Becker (1975). Model statistiknya adalah sebagai berikut, Keterangan: : nilai produksi susu individu (anak) ke-k dari pejantan ke-i  : rataan produksi susu populasi : pengaruh pejantan ke-i : deviasi karena pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol pada individu (anak) ke-i dari pejantan ke-k Tabel 4. Daftar Analisis Sidik Ragam Heritabilitas Sumber Keragaman db JK KT Antar Pejantan S-1 JKs KTs Anak dalam Pejantan n-S JKw KTw Komponen KT Keterangan: S : jumlah pejantan n : jumlah anak (individu) k1 : koefisien komponen ragam ∑ : ) : komponen ragam antar pejantan : : komponen ragam anak dalam pejantan 15 Estimasi heritabilitas dihitung berdasarkan rumus, Keterangan: : nilai heritabilitas : komponen ragam antar pejantan : komponen ragam anak dalam pejantan Galat baku heritabilitas dihitung berdasarkan rumus berikut, √ Keterangan: t : interclass correlation : Pendugaan Nilai The Most Probability Producing Ability (MPPA) Perhitungan MPPA dapat dilakukan berdasarkan pendekatan Warwick (1983) dengan rumus: ̅ ̅ ̅ Keterangan: ̅ : rataan produksi susu populasi ̅ : rataan produksi susu individu n : jumlah catatan produksi r : ripitabilitas Perhitungan Prediction Breeding Value (PBV) Perhitungan PBV dapat dilakukan berdasarkan pendekatan Lasley (1978) dengan rumus, ̅ Keterangan: b : heritabilitas (untuk data tunggal) : P ̅ ̅ , untuk sebanyak n catatan : produksi dari catatan tunggal pada ternak yang dihitung PBV-nya : rata-rata produksi ternak lain pada waktu dan tempat yang sama 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden, Purwokerto, lebih tepatnya di Farm Tegalsari. BBPTU-SP Baturraden sendiri terdiri dari empat wilayah, yaitu Farm Tegalsari, Farm Limpakuwus, area Munggangsari, dan Farm Manggala. BBPTU-SP Baturraden berada di bagian selatan lereng kaki Gunung Slamet. Farm Tegalsari sendiri berada di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, tepatnya di dalam kawasan wisata Baturraden yang berjarak ±15 km ke arah Utara dari Purwokerto. Gambar 4. Lokasi BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto Temperatur rata-rata di daerah ini adalah 18-28 C dengan kelembaban berkisar antara 70% - 80%. Keadaan klimatik di BBPTU-SP Baturraden tergolong nyaman untuk hidup dan berproduksi bagi sapi perah yang berasal dari iklim sedang seperti Friesian Holstein. Kisaran temperatur udara yang baik untuk sapi perah yang berasal dari Eropa adalah sekitar 5-21 C dengan kelembaban relatif 50% - 70% (Ensminger, 1980). Daerah ini juga memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu sekitar 6.000-9.000 mm/tahun. Farm Tegalsari BBPTU-SP Baturraden memiliki ketinggian tempat sekitar ±675 m dpl yang tergolong ke dalam dataran sedang menurut Siregar (1990) karena berada pada kisaran ketinggian 250-750 m dpl. Siregar (1990) menyatakan bahwa dataran rendah memiliki ketinggian di bawah 250 m dpl sedangkan dataran tinggi memiliki ketinggian di atas 750 m dpl. 17 Gambar 5. Lahan Pastura Farm Tegalsari BBPTU-SP Baturraden Area Farm Tegalsari memiliki luas sekitar 34,18 ha. Keadaan lahan permukaan relatif rata, kecuali di bagian Utara yang meninggi ke arah Utara sedangkan di bagian Selatan cenderung menurun (0-15) ke arah Selatan dimana hampir semuanya diperuntukan sebagai lahan tanaman pakan ternak. Lahan di bagian Utara diperuntukan sebagai lahan exercise atau penggembalaan sapi. Produksi Susu Sapi-sapi betina yang diamati memiliki periode laktasi yang berbeda. Periode laktasi tersebut berkisar antara laktasi pertama sampai laktasi ketujuh. Rataan produksi susu real dan produksi susu yang telah distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa dari sapi Friesian Holstein betina di BBPTU-SP Baturraden dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan Produksi Susu per Laktasi di BBPTU-SP Baturraden Rataan Produksi Susu per Laktasi (kg) Sebelum koreksi Setelah koreksi Periode Laktasi n Rataan Lama Produksi (hari) 1 178 289 4.117±1.337 5.365±1.075 2 135 246 3.614±1.740 5.363±1.358 3 92 300 4.048±1.460 5.211±1.452 4 81 234 4.018±1.921 6.124±1.743 5 39 198 3.167±2.003 5.416±1.619 >5 12 174 2.518±2.194 4.644±1.563 3.859±1.615 5.440±1.362 Rata-rata n: jumlah catatan 18 Produksi susu real dari laktasi pertama sampai laktasi yang lebih dari lima bervariasi dari 2.518 sampai 4.048 kg/laktasi, dengan rataan produksi susu per laktasi sekitar 3.859±1.615 kg/laktasi. Lama produksi dalam satu laktasi memberi pengaruh yang sangat besar terhadap jumlah produksi susu. Produksi susu pada lama laktasi yang lebih panjang umumnya lebih besar dari jumlah produksi susu dengan masa laktasi yang lebih singkat. Lama produksi susu harus distandardisasi untuk meminimalisasi pengaruh lama laktasi terhadap jumlah produksi susu dalam satu periode laktasi. Produksi susu real tertinggi terdapat pada laktasi ketiga yaitu sekitar 4.048±1.460 kg/laktasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Philips (2002) bahwa produksi air susu tertinggi diperoleh pada periode laktasi ketiga. Rataan panjang laktasi pada periode laktasi ketiga adalah 300 hari. Hal ini menunjukan bahwa rataan produksi susu per hari pada periode laktasi ketiga adalah 13,5 kg/hari. Rataan produksi susu per hari secara keseluruhan di BBPTU-SP Baturraden adalah sekitar 15 kg/hari. Produksi susu real distandardisasi untuk menghilangkan pengaruh non genetik. Rataan produksi susu yang telah distandardisasi dari laktasi pertama sampai laktasi yang lebih dari lima bervariasi dari 5.211 sampai 6.124 kg/laktasi, dengan rata-rata produksi per laktasi sekitar 5.440±1.362 kg/laktasi. Gambar 6. Sapi Betina FH di BBPTU-SP Baturraden Faktor koreksi dilakukan terhadap lama laktasi 305 hari dan umur induk dewasa. Produksi susu rata-rata sebelum dikoreksi adalah sekitar 3.859±1.615 kg/laktasi dengan keragaman sekitar 41,8%. Produksi susu rata-rata setelah dilakukan koreksi adalah 5.440±1.362 kg/laktasi dengan keragaman sekitar 25%. 19 Adanya penurunan keragaman ini menunjukan bahwa koreksi data yang dilakukan dapat menurunkan variasi produksi antar individu sebesar 16,8%. Hasil penelitian Ekasanti et al. (2002) juga menunjukan bahwa penurunan keragaman variasi produksi antar induvidu sebesar 8,41%. Parameter Genetik Parameter genetik yang diamati adalah heritabilitas (h2) dan ripitabilitas (r). Heritabilitas didasarkan pada metode korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation), sedangkan ripitabilitas dihitung berdasarkan analisis sidik ragam klasifikasi satu arah. Kedua parameter genetik ini selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai MPPA dan PBV dari masing-masing ternak. Nilai heritabilitas dan ripitabilitas dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Heritabilitas dan Ripitabilitas di BBPTU-SP Baturraden Parameter Genetik h2 Nilai 0,40±0,36 r 0,84±0,02 Ripitabilitas Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa konsep ripitabilitas menunjukan sejauh mana hubungan antara produksi pertama dengan produksi berikutnya pada individu. Nilai ripitabilitas produksi susu di BBPTU-SP Baturraden yang diperoleh adalah sekitar 0,84±0,02. Nilai ripitabilitas ini tergolong tinggi. Noor (2010) menyampaikan bahwa ripitabilitas tergolong ke dalam kategori rendah jika nilainya lebih rendah dari 0,2, tergolong sedang jika nilainya berkisar antara 0,2–0,4, dan tegolong tinggi jika nilainya lebih besar dari 0,4. Nilai ripitabilitas ini jelas lebih besar dari pernyataan Warwick dan Legates (1979) bahwa nilai ripitabilitas produksi susu berkisar antara 0,35–0,50. Lasley (1978) juga menyatakan bahwa nilai ripitabilitas produksi susu sapi perah adalah sekitar 0,41–0,64. Nilai ripitabilitas yang didapat juga lebih tinggi dari pernyataan Gushairiyanto (1994) yang menyatakan nilai ripitabilitas di BBPTU-SP Baturraden adalah sebesar 0,25±0,05. Hardjosubroto (1994) juga menyatakan bahwa nilai heritabilitas produksi susu umumnya adalah 0,4–0,6. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan cara mengambil sampel, jumlah sampel dan metode yang digunakan. 20 Ripitabilitas yang didapatkan bernilai tinggi yang kemungkinan dikarenakan variasi produksi antar individu yang tinggi. Selain itu, variasi faktor lingkungan tetap yang tinggi juga dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap nilai ripitabilitas. Nilai ripitabilitas ini berguna untuk memperkirakan produktivitas di masa yang akan datang dari ternak. Heritabilitas Nilai heritabilitas produksi susu di BBPTU-SP Baturraden dihitung dengan menggunakan korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation) dari 78 ekor pejantan. Nilai heritabilitas yang diperoleh yaitu 0,40±0,36. Nilai ini tergolong ke dalam heritabilitas yang tergolong sedang sebagaimana yang dinyatakan oleh Noor (2010) serta Warwick dan Legates (1979) bahwa nilai heritabilitas yang lebih kecil dari 0,2 tergolong rendah, kisaran 0,2-0,4 tergolong sedang dan tergolong tinggi jika nilainya lebih dari 0,4. Hasil perhitungan heritabilitas ini sesuai dengan pernyataan Hardjosubroto (1994) bahwa nilai heritabilitas produksi susu sapi perah berkisar antara 0,2-0,4. Nilai heritabilitas ini juga lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan Indrijani (2008) di tempat yang sama dengan nilai 0,352±0,04. Hal ini dapat dikarenakan beberapa faktor, antara lain perbedaan cara pengambilan sampel, keterbatasan sampel, perbedaan metode yang digunakan dan managemen pada waktu pengamatan. Pendugaan nilai heritabilitas ini diharapkan dapat mewariskan sifat produksi susu pada keturunannya dengan kemajuan genetik yang tinggi (Bourdon, 1997). Kecermatan perhitungan nilai heritabilitas akan lebih baik jika paling sedikit terdapat lima ekor penjantan dengan jumah anak sekitar 10 ekor per pejantan (Dalton, 1981). Penelitian ini mengggunakan lebih dari 10 ekor pejantan untuk pendugaan nilai heritabilitas, namun jumlah anak per pejantan tidak seluruhnya lebih dari 10 ekor. Hal ini dapat menjadi suatu kekurangan dalam kecermatan perhitungan heritabilitas. Pendugaan Nilai MPPA Kemampuan produksi individu sapi dapat diketahui dengan metode MPPA. Daya produksi susu yang diketahui dari perhitungan MPPA merupakan pendugaan produksi susu pada laktasi berikutnya. Ternak yang memiliki daya produksi yang 21 tinggi akan mempunyai peringkat MPPA yang tinggi dibandingkan dengan rataan populasi. Rata-rata pendugaan nilai MPPA yang didapatkan adalah 5.443 kg. Nilai hasil pendugaan MPPA menunjukan bahwa sebesar 48% atau sekitar 102 ekor dari 213 ekor sapi betina yang diamati berada di atas nilai rataan, sedangkan sisanya berada di bawah nilai rataan. Pendugaan daya produksi susu tertaksir (MPPA) memperoleh hasil bahwa nilai tertinggi terdapat pada sapi dengan nomor identitas 125. Sapi ini mempunyai nilai pendugaan MPPA sebesar 7.701 kg. Sapi tersebut diperkirakan dapat menghasilkan susu 7.701 kg lebih tinggi pada laktasi-laktasi berikutnya. Hasil dari pendugaan ini menunjukan bahwa produksi susu sapi dengan nomor identitas 125 adalah 2.258 kg lebih tinggi dibandingkan dengan rataan produksi susu dari sapi lain yang diamati di BBPTU-SP Baturraden. Nilai terendah pada pendugaan nilai MPPA adalah 3.151 kg. Peringkat terendah ini terdapat pada sapi dengan nomor identitas 1878-07. Sapi dengan nomor identitas 1878-07 memiliki produksi susu 2.292 kg lebih rendah dibandingkan dengan sapi lainnya dalam populasi. Peringkat MPPA digunakan untuk seleksi terhadap induk yang akan dipertahankan di peternakan berdasarkan produksinya yang tinggi. Umumnya ternak yang dipertahankan adalah sekitar 50% peringkat terbaik dari populasi (Direktorat Pembibitan, 2012). Data keseluruhan ternak beserta nilai MPPA dan PBV dapat dilihat pada Lampiran 3. Pendugaan Nilai PBV PBV atau dugaan nilai pemuliaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu genetik ternak dalam menghasilkan susu. Ternak dengan nilai pemuliaan terbaik diharapkan dapat mewariskan gen kepada keturunannya, sehingga keturunannya memiliki kemampuan produksi yang baik pula. Perhitungan yang dilakukan dengan metode ini diharapkan dapat mengevaluasi ternak yang memiliki kemampuan mewariskan sifat produksi susu kepada keturunannya. Pendugaan nilai PBV dihitung sebagai estimasi dari nilai pemuliaan ternak. Nilai rata-rata pendugaan PBV dari 213 ekor sapi betina FH yang diamati adalah 5.462 kg. Nilai hasil pendugaan PBV juga menunjukan bahwa sebesar 48% atau 22 sekitar 102 ekor dari sapi betina yang diamati berada di atas nilai rataan, sedangkan sisanya berada di bawah nilai rataan. Tabel 7. Nilai MPPA dan PBV dari 10% Sapi FH Betina Terbaik di BBPTU-SP Baturraden No Identitas 125 n 1 MPPA (kg) 7.701 PBV (kg) 6.533 Peringkat 1 1899-08 1 7.525 6.450 2 027 3 7.303 6.344 3 066 3 7.247 6.318 4 078 4 7.194 6.293 5 1886-07 1 7.172 6.282 6 008 1 7.115 6.255 7 056 1 7.031 6.215 8 1786-06 1 7.030 6.215 9 067 4 7.016 6.209 10 0030 4 7.008 6.205 11 1874-07ET 2 6.975 6.189 12 076 4 6.947 6.175 13 054 4 6.932 6.168 14 006 4 6.906 6.156 15 1890-08 1 6.857 6.133 16 016 4 6.832 6.121 17 028 4 6.818 6.115 18 1889-08 1 6.814 6.112 19 0306-07 2 6.752 6.083 20 0343-07 1 6.748 6.081 21 0269-07 1 6.716 6.066 22 n : jumlah catatan laktasi Sapi betina dengan nilai PBV tertinggi adalah sapi dengan nomor identitas 125 yang memiliki nilai pendugaan PBV sebesar 6.533 kg. Sapi ini diduga memiliki keunggulan genetik produksi susu sebesar 6.533 kg. Hasil pendugaan ini menunjukan bahwa sapi dengan nomor identitas 125 memiliki keunggulan genetik 23 produksi susu 1.071 kg lebih tinggi dibandingkan dengan rataan produksi susu dari sapi-sapi lain yang diamati pada penelitian ini. Nilai pendugaan PBV terendah adalah 4.375 kg pada sapi dengan nomor identitas 1878-09. Sapi ini memiliki keunggulan genetik produksi susu 1.087 kg lebih rendah dibandingkan dengan rataan populasi yang diamati. Nilai pendugaan PBV umumnya digunakan untuk melakukan seleksi terhadap induk yang akan menghasilkan bibit serta untuk replacement stock. Umumnya ternak yang digunakan sebagai bibit adalah 10% terbaik dari seluruh betina yang diseleksi dalam populasi (Direktorat Jenderal Pembibitan, 2012). Nilai MPPA dan PBV dari 10% betina terbaik di BBPTU-SP Baturraden dapat dilihat pada Tabel 7. Replacement stock ditujukan untuk menggantikan induk yang ada sebelumnya sehingga produksi susu dapat terus berjalan. Sapi betina yang dapat digunakan sebagai replacement stock dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil perankingan menunjukan bahwa seekor ternak selalu mendapat peringkat yang sama berdasarkan nilai MPPA dan PBV. Hal ini menunjukan bahwa ternak yang mempunyai kemampuan produksi susu yang tinggi juga akan memiliki kemampuan pewarisan sifat yang tinggi. Penelitian mengenai kemampuan produksi tertaksir dan nilai pemuliaan juga dilakukan oleh Nugroho (2004) di PT. Taurus Dairy Farm, yang memperoleh hasil bahwa ternak yang memperoleh peringkat tinggi pada perhitungan nilai pemuliaan juga akan memiliki peringkat yang tinggi pada perhitungan kemampuan produksi tertaksir. 24 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Rataan produksi susu real per laktasi yang paling tinggi didapat pada laktasi ketiga yaitu sekitar 4.048±1.460 kg, dengan rataan produksi susu per ekor secara keseluruhan sekitar 15 kg per hari. Nilai ripitabilitas produksi susu yang diperoleh adalah 0,84±0,02. Daya pengulangan sifat produksi susu tergolong tinggi. Nilai ini sangat tinggi kemungkinan dikarenakan variasi produksi antar individu yang tinggi pula. Nilai heritabilitas produksi susu yang diperoleh adalah 0,40±0,36 yang tergolong sedang dimana kemampuan induk untuk menurunkan sifat produksi susu cukup baik kepada anaknya. Sapi yang dipertahankan dan dijadikan sebagai replacement stock merupakan sapi dengan peringkat 50% terbaik, sedangkan sapi yang digunakan bibit adalah sapi dengan peringkat 10% terbaik. Sapi terbaik berdasarkan nilai pendugaan MPPA dan PBV adalah sapi dengan nomor identitas 125 dengan nilai pendugaan masing-masing 7.701 kg dan 6.533 kg. Saran Upaya peningkatan akurasi dalam pendugaan parameter genetik (ripitabilitas dan heritabilitas) perlu didukung oleh kelengkapan data. Pendugaan nilai heritabilitas perlu didukung oleh jumlah anak per pejantan untuk meningkatkan akurasi. Pendugaan ripitabilitas perlu didukung oleh kelengkapan catatan produksi susu setiap laktasinya. Pertimbangan pemilihan sapi betina untuk bibit dan replacement stock berdasarkan nilai PBV perlu mempertimbangkan jumlah dan kelengkapan catatan serta umur ternak tersebut. Pertimbangan dalam mempertahankan ternak dalam peternakan dapat diestimasi berdasarkan peringkat nilai PBV. Manajemen pemeliharaan, reproduksi, dan pemuliaan harus tetap diterapkan dan ditingkatkan. Evaluasi terhadap efektivitas program yang ada di BBPTU-SP juga perlu dilakukan agar dapat terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas sapi FH betina yang ada disana. 25 POTENSI GENETIK PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN BETINA DI BBPTU SAPI PERAH BATURRADEN, PURWOKERTO SKRIPSI ERNI SITI WAHYUNI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i POTENSI GENETIK PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN BETINA DI BBPTU SAPI PERAH BATURRADEN, PURWOKERTO SKRIPSI ERNI SITI WAHYUNI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i RINGKASAN Erni Siti Wahyuni. D14080046. 2012. Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU Sapi Perah Baturraden, Purwokerto. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D Kebutuhan akan susu yang semakin meningkat belum bisa diimbangi oleh produksi susu dalam negeri. Sapi perah betina, khususnya sapi bangsa Friesian Holstein (FH), memegang peranan penting dalam memproduksi susu di dalam negeri. Seleksi terhadap sapi betina FH diharapkan akan mampu meningkatkan nilai pemuliaannya pada suatu peternakan. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden adalah balai pemerintahan yang khusus menangani pembibitan sapi perah betina atau indukan. Sebagai pusat sapi FH betina di Indonesia, BBPTU-SP harus memiliki indukan terbaik, sehingga dapat digunakan sebagai sapi bibit atau induk yang menghasilkan keturunan dengan kemampuan produksi susu yang baik. Potensi genetik sapi betina FH dapat dilihat berdasarkan catatan produksinya melalui pendugaan nilai parameter genetik, sehingga parameter genetik tersebut dapat digunakan sebagai dasar dilakukannya evaluasi terhadap nilai pemuliaan dan keunggulan genetiknya melalui metode MPPA dan PBV. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui potensi genetik produksi susu dari sapi Friesian Holstein betina di BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan catatan produksi susu harian yang terhitung sejak tahun 2006-2011. Catatan tersebut merupakan catatan produksi susu dari 213 ekor sapi betina yang berjumlah 537 catatan. Catatan produksi susu harian kemudian selanjutnya diakumulasikan menjadi produksi susu per laktasi. Produksi susu per laktasi tersebut kemudian distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa berdasarkan faktor koreksi DHIA-USDA. Perhitungan heritabilitas dilakukan dengan metode korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation), sedangkan ripitabilitas dihitung berdasarkan analisis sidik ragam klasifikasi satu arah. Daya pewarisan sifat dari sapi betina ini dihitung dengan menggunakan metode Predicted Breeding Value (PBV) sedangkan pendugaan keunggulan produksi susunya menggunakan metode The Most Probable Producing Ability (MPPA). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai heritabilitas yang didapat tergolong sedang dengan nilai 0,40±0,36. Ripitabilitas produksi susu yang diperoleh di BBPTU-SP Baturraden tergolong tinggi dengan nilai 0,84±0,02. Sapi betina dengan peringkat terbaik berdasarkan nilai MPPA dan PBV adalah sapi dengan nomor identitas 125. Sapi ini memiliki nilai pendugaan MPPA sebesar 7.701 kg yang artinya sapi ini diduga akan menghasilkan produksi susu sebesar 7.701 kg pada laktasi berikutnya. Nilai pendugaan PBV yang diperoleh adalah sebesar 6.533 kg, artinya sapi ini memiliki keunggulan genetik produksi susu sebesar 6.533 kg. Kata-kata kunci: Sapi Friesian Holstein, potensi genetik, produksi susu. ii ABSTRACT Genetic Ability of Friesian Holstein Cow’s Milk Production in BBPTU-Sapi Perah Baturraden, Purwokerto. Wahyuni, E.S., Jakaria, A. Anggraeni Genetic ability improvement effort of dairy cattle’s milk production can be done by selection of the cow. Friesian Holstein is the most popular dairy cow to be used. Inheritance ability and estimation of production traits can be evaluated according to the milk yield record. The objectives of this research were to estimated the genetic ability of the dairy cow in BBPTU-SP Baturraden by using two methods and to test rank of genetic superiority. Daily milk production collected 537 records of 213 dairy cows. Data collected from 2006 to 2011 which originated from BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto. The daily milk production was rearranged into milk yield per lactation. The real milk yield was standardized to 305 days and mature equivalent based on DHIA-USDA’s correction factors. Repeatibility estimation was done by one way classification with unequal numbers of measurements per individual (unbalanced design). Meanwhile heritability estimation was done by using anysis of variance the interclass correlation between paternal halfsib. The methods were used to estimated the genetic ability, namely Most Probable Producing Ability (MPPA) and Predicted Breeding Value (PBV). Repeatibility and heritability value of milk production are recorded as 0.84±0.02 and 0,40±0,36. Based on the evaluation on 213 heads of HF cows, it was obtained that the average value of MPPA was 5,443±895 kg (3151-7701 kg) and that for PBV was 5,462±425 kg (4375-6533 kg). The best cow was identified for the ID 125 having the MPPA value by 7,701 kg and the PBV value by 6,533 kg. Keywords: Holstein Friesian, genetic ability, milk yield. iii POTENSI GENETIK PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN BETINA DI BBPTU SAPI PERAH BATURRADEN, PURWOKERTO ERNI SITI WAHYUNI D14080046 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 iv Judul : Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU-Sapi Perah Baturraden, Purwokerto Nama : Erni Siti Wahyuni NIM : D14080046 Menyetujui, Pembimbing Utama Pembimbing Anggota (Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si) NIP. 19660105 199303 1 001 (Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D) NIP. 19630924 199803 2 001 Mengetahui Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc) NIP 19591212 198603 1 004 Tanggal Ujian: 23 Juli 2012 Tanggal Lulus: v RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Maret 1990 di Bandung, Jawa Barat. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Dadang Jauhari dan Ibu Cucu Lusiani. Penulis pertama kali mengenyam pendidikan di TK Al Manar pada tahun 1995-1996. Selanjutnya penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Sirnagalih mulai tahun 1996-2002. Pendidikan tingkat pertama dijalani di SMP Al Ma’soem selama tahun 2002-2005 yang dilanjutkan di SMA Al Ma’soem pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2008. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008 dan terdaftar sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Penulis aktif di organisasi dan kepanitiaan. Penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (Himaproter) sebagai sekretaris divisi Fotoproter pada periode 2010/2011. Penulis juga berkesempatan menjadi reporter di Majalah Emulsi (2009-2010) dan menjadi Pimpinan Redaksi di majalah yang sama (20102012). Selama kuliah, penulis juga menjadi salah satu pengajar di MSCollege (20102011) dan menjadi pengajar privat (2011-2012). Pada tahun 2012, penulis aktif menjadi reporter lepas di Majalah Food Review. Selain itu, penulis juga aktif dalam berbagai bidang seni, antara lain Lises Gentra Kaheman (2008-2009), paduan suara Graziono Symphonia (2009-2010), dan tim perkusi d’Ransum (2010-2012). Penulis juga aktif sebagai salah satu atlet basket putri Fakultas Peternakan, IPB. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Balai Inseminasi Buatan, Lembang pada tahun 2010. Selama menjadi mahasiswa, penulis memperoleh beberapa prestasi antara lain Juara II Basket Putri Dekan Cup 2010, Juara II Aerobik Dekan Cup 2010, Juara I Lomba Tulis Puisi Fapet Show Time 2010, Juara I Fotografi Fapet Show Time 2010, Juara I Lomba Tulis Puisi Fapet Show Time 2011, Juara I Basket Putri Dekan Cup 2012, dan Mahasiswa Berprestasi Fakultas Peternakan 2010. Penulis juga berkesempatan menjadi asisten praktikum mata kuliah Dasar Teknologi Hasil Ternak pada tahun 2011. Penulis juga merupakan salah satu penerima beasiswa PPA pada tahun 2010-2012 dan berhasil didanai dalam Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian sebanyak 2 proposal pada tahun 2011. vi KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahiim, Alhamdulillahirabbilalamiin, puji syukur senantiasa tercurah ke hadirat Sang Pencipta, Pemilik dan Maha Segala, Allah SWT atas segala nikmat, karunia, taufik dan hidayah-Nya, sehingga Penulis diberikan kesempatan untuk menikmati hidup sejauh ini dan diberi kemudahan serta kelancaran selama penelitian dan pemulisan skripsi ini. Shalawat serta salam juga tak berhenti tercurah kepada Nabi Besar, junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan semua umat yang berjuang di jalan yang sama hingga akhir hayat. Penelitian ini berjudul “Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU Sapi Perah Baturraden, Purwokerto”. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2012 di BBPTU-SP Baturraden, sedangkan pengolahan data sekunder dilakukan selama bulan Februari-April 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keunggulan genetik produksi susu sapi FH betina di BBPTU-SP Baturraden dengan metode MPPA dan PBV. Penulis berharap agar penelitian ini dapat menjadi acuan, informasi, dan rekomendasi bagi para peternak, peneliti maupun pemerintah dalam mengetahui sapi betina dengan keunggulan genetik terbaik di BBPTU-SP Baturraden. Dengan demikian, upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu dapat dilakukan dan didukung oleh semua pihak yang terkait. Semoga skripsi ini dapat menjadi suatu manfaat yang dimanfaatkan kembali oleh para pembaca. Selain itu, skripsi ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan untuk menambah ilmu mengenai evaluasi keunggulan genetik produksi susu sapi perah. Penulis berterimakasih kepada semua pihak yang telah memotivasi, membantu dan memberi kesempatan serta ijin untuk penggunaan berbagai materi selama penelitian dan penulisan skripsi ini dilakukan. Bogor, Agustus 2012 Penulis vii DAFTAR ISI RINGKASAN………………………………………………………………. ii ABSTRACT………………………………………………………………… iii LEMBAR PERNYATAAN………………………………………………… iv LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………… v RIWAYAT HIDUP…………………………………………………………. vi KATA PENGANTAR……………………………………………………… vii DAFTAR ISI………………………………………………………………... viii DAFTAR TABEL…………………………………………………………... x DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….. xi DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………... xii PENDAHULUAN………………………………………………………….. 1 Latar Belakang………………………………………………………... Tujuan………………………………………………………………… 1 2 TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………. 3 Perkembangan Sapi Perah di Indonesia………………………………. Sapi Friesian Holstein………………………………………………... Produksi Susu Sapi FH..……………………………………………… Faktor Koreksi Susu ..………………………………………………… Ripitabilitas…………………………………………………………… Heritabilitas…………………………………………………………… Seleksi………………………………………………………………… The Most Probable Producing Ability (MPPA)………………………. Predicted Breeding Value (PBV)……………………………………... 3 4 5 7 8 9 10 11 11 MATERI DAN METODE………………………………………………….. 13 Lokasi dan Waktu………………………………………………….…. Materi……………………………………………………………….… Prosedur…………………………………………………………….… Rancangan dan Analisis Data………………………………………… Ripitabilitas (r)………………………………………………... Heritabilitas (h2)………………………………………………. Pendugaan Nilai The Most Probability Producing Ability…… Pendugaan Nilai Predicted Breeding Value…………………... 13 13 13 14 14 15 16 16 HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………….. 17 Keadaan Umum Lokasi……………………………………………….. Produksi Susu…………………………………………………………. Parameter Genetik…………………………………………………….. 17 18 20 viii Ripitabilitas (r)………………………………………………... Heritabilitas (h2)………………………………………………. Pendugaan Nilai MPPA………………………………………. Pendugaan Nilai PBV………………………………………… KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………. 20 21 21 22 25 Kesimpulan…………………………………………………………… Saran…………………………………………………………………... 25 25 UCAPAN TERIMA KASIH……………………………………………….. 26 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………. 27 LAMPIRAN………………………………………………………………… 29 ix DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Ripitabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah……....... 9 2. Heritabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah……….. 10 3. Daftar Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas…………………............ 14 4. Daftar Analisis Sidik Ragam Heritabilitas…………………............ 15 5. Rataan Produksi Susu per Laktasi di BBPTU-SP Baturraden……. 18 6. Nilai Heritabilitas dan Ripitabilitas di BBPTU-SP Baturraden…... 20 7. Nilai MPPA dan PBV dari 10% Sapi FH Betina Terbaik di BBPTU-SP Baturraden..................................................................... 23 8. Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas………………………………... 31 9. Analisis Sidik Ragam Heritabilitas………………………………... 32 x DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Produksi Susu Nasional (2007-2011)…...…………………............. 3 2. Populasi Ternak Sapi Perah (2007-2011)………………………….. 4 3. Kurva Produksi Susu………………………………………………. 6 4. Lokasi BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto..……………………... 17 5. Lahan Pastura Farm Tegalsari BBPTU-SP Baturraden……………. 18 6. Sapi Betina FH di BBPTU-SP Baturraden………………………… 19 xi DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. Perhitungan Nilai Ripitabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa)……………………………………………………… 2. Perhitungan Nilai Heritabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa)……………………………………………………… Halaman 30 31 3. Peringkat Sapi Friesian Holstein di BBPTU-SP Baturraden Berdasarkan Nilai MPPA dan PBV………………………………… 32 4. Data 50% Sapi FH Betina Sebagai Ternak Pengganti di BBPTU-SP Baturraden……………..…………………………….……………… 35 5. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Kurang dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari…………………………………………… 37 6. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Lebih dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari…………………………………………... 38 7. Faktor Koreksi untuk Menyesuaikan Umur Sapi ke Arah Umur Dewasa……………………………………………………………… 39 xii PENDAHULUAN Latar Belakang Susu merupakan salah satu produk hasil ternak yang sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Direktorat Jenderal Peternakan (2011) melaporkan bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia sudah mencapai 16,421 kg/kapita/tahun. Laju konsumsi ini diperkirakan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Kenyataannya, produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 35% saja dari kebutuhan susu nasional, sedangkan sebagian besar sisanya dipenuhi oleh susu impor. Ketersediaan susu sebagai salah satu bahan pangan menjadi hal yang mendapat perhatian, khususnya karena kualitas dan kuantitas susu yang belum memadai. Produksi susu dari sapi perah merupakan faktor penting yang menyangkut ketersediaan susu. Produksi susu menjadi hal utama pada suatu peternakan sapi perah berdasarkan faktor ekonomis. Peningkatan produksi susu ini dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas atau populasi dari sapi perah betina laktasi. Peningkatan produktivitas merupakan salah satu cara dalam meningkatkan produksi susu nasional. Pemuliaan memiliki fungsi dan peranan yang penting dalam usaha peningkatan produktivitas ternak karena dapat meningkatan potensi genetik ternak menjadi lebih baik lagi. Sapi perah betina mempunyai kemampuan produksi susu yang berbeda-beda. Produksi susu sapi perah merupakan sifat yang dikendalikan oleh banyak gen (kuantitatif), sehingga ekspresinya merupakan akumulasi dari pengaruh genetik, lingkungan, dan interaksi keduanya. Faktor genetik merupakan hal yang lebih penting dan lebih memperoleh perhatian pada program pemuliaan ternak karena unsur inilah yang diwariskan tetua kepada keturunannya (Falconer dan Mackay, 1996). Kegiatan pemuliaan mencakup dua hal, yaitu seleksi dan persilangan. Pemilihan sapi perah betina atau seleksi sangat penting untuk dilakukan. Seleksi memberikan hasil yang permanen dan berakumulasi. Kurnianto et al. (2008) menyatakan bahwa pelaksanaan seleksi didasari alasan untuk mempertahankan jumlah ternak yang ada, dikawinkan dengan pejantan unggul untuk memperoleh anak betina yang unggul dan dapat digunakan sebagai pengganti induk (replacement) dan akan memperoleh anak jantan yang akan digunakan sebagai pemacek dalam program 1 inseminasi buatan. Seleksi dilakukan untuk mengetahui sapi perah betina yang memiliki kemampuan produksi yang tinggi dan dapat mewariskan sifat tersebut kepada keturunannya. Berdasarkan alasan tersebut, perlu dilakukan evaluasi mengenai keunggulan genetik produksi susu. Prinsip evaluasi adalah dengan mengetahui parameter-parameter genetik yang kemudian digunakan untuk mengetahui produktivitas ternak tersebut. Metode yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap kemampuan produksi susu adalah MPPA (Most Probable Producing Ability) dan PBV (Predicted Breeding Value). Evaluasi genetik sifat produksi susu perlu dilakukan pada Balai Pembibitan Ternak Unggul yang menjadi acuan peternak di Indonesia untuk mendapatkan ternak unggul. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan mengetahui potensi genetik sifat produksi susu sapi Friesian Holstein betina di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden, Purwokerto, berdasarkan pendugaan nilai MPPA dan PBV. 2 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Sapi Perah di Indonesia Usaha peternakan sapi perah yang diusahakan oleh pribumi diperkirakan berdiri sekitar tahun 1925. Usaha ini berlanjut secara bertahap sampai saat ini. Peternak-peternak kecil juga melakukan usaha sampingan untuk menghasilkan susu dengan kepemilikan sekitar 2-3 ekor sapi perah. Sapi-sapi perah tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan susu yang telah mengalami kehancuran pada masa-masa Pemerintahan Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Peternak umumnya para petani di daerah dataran tinggi yang memelihara sapi dengan tujuan utama untuk mendapatkan pupuk kandang, sedangkan susu hanya menjadi tujuan Produksi Susu (ribu ton) kedua. 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 910 926 2010 2011 827 647 568 2007 2008 2009 Tahun Gambar 1. Produksi Susu Nasional (2007-2011) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011) Industri ini mulai berkembang dengan pesat sejak awal tahun 1980. Pemerintah mulai melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi susu dalam negeri untuk kebutuhan masyarakat. Produksi susu di dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 35% dari kebutuhan susu nasional. Produksi susu tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat walaupun terjadi peningkatan produksi di setiap tahunnya. Jika populasi sapi laktasi di Indonesia diestimasi sekitar 60% dari jumlah populasi seluruhnya, maka produksi susu saat ini adalah sekitar 925.800 ton dari 358.000 ekor sapi FH. Rataan produksi susu per tahunnya adalah sekitar 2.586 kg/tahun. Rataan produksi susu ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3 produksi susu pada tahun 2007, yaitu sekitar 2.535 kg/tahun. Grafik produksi susu sejak tahun 2007 sampai 2011 dapat dilihat pada Gambar 1. Produksi susu nasional cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Laju peningkatan yang paling tinggi terjadi pada tahun 2009, yaitu sebesar 28%. Laju peningkatan produksi susu dari tahun 2007 sampai 2011 berturut-turut adalah 14%, 28%, 10%, dan 2%. Rataan laju peningkatan produksi susu di Indonesia sejak tahun 2007 sampai 2011 adalah sekitar 13,5%. Populasi ternak sapi perah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Grafik populasi ternak sapi perah dapat dilihat pada Gambar 2. Populasi tersebut sebagian besar berada di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur (49,6%), Jawa Tengah (25,1%), dan Jawa Barat (23,4%). Laju peningkatan populasi paling tinggi yang sama terjadi pada tahun 2008 dan 2011 yaitu sebesar 22%. Laju peningkatan populasi sapi perah dari tahun 2007 sampai 2011 berturut-turut adalah 22%, 4%, 0,2%, dan 22%. Laju peningkatan populasi sapi perah di Indonesia sejak tahun 2007 sampai 2011 adalah sekitar 12%. Jumlah Ternak (ribu ekor) 700 600 597 500 400 300 488 458 475 2008 2009 2010 Tahun 374 200 100 0 2007 2011 Gambar 2. Populasi Ternak Sapi Perah (2007-2011) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011) Sapi Friesian Holstein Sapi perah termasuk ke dalam family Bovidae, sub family Bovinae dan genus Bos. Sapi perah yang dikembangkan di berbagai belahan dunia adalah jenis Bos taurus (sapi Eropa) yang berasal dari daerah sub tropis dan Bos indicus (sapi berponok di Asia) yang berasal dari daerah tropis, serta hasil persilangan dari 4 keturunan Bos taurus dan Bos indicus. Sapi yang berasal dari Bos taurus dan banyak dikembangkan antara lain adalah Holstein, Brown Swiss, Ayshire, Guernsey dan Jersey. Bangsa sapi perah yang umum dikembangkan di Indonesia adalah bangsa Friesian Holstein (FH). Sapi FH berasal dari provinsi Friesland, Belanda. Bangsa sapi ini adalah bangsa sapi perah yang tertua, terkenal, dan tersebar hampir di seluruh dunia (Sudono et al., 2003). Sapi perah Fries Holland berasal dari Belanda Utara atau Friesian Barat. Di Amerika dikenal antara lain sapi Friesian Holstein (FH) dan Holstein, sedangkan di Eropa dikenal sapi perah Friesian (Sudono et al., 2003). Sapi FH memiliki ciri-ciri seperti warna belang hitam (berwarna hitam putih), ujung ekor putih, bentuk kepala yang panjang, dahi seperti cawan, moncong luas dan ambing besar serta simetris (Dewan Standardisasi Indonesia, 1992). Menurut Blakely dan Blade (1994) sapi FH memiliki berat 675 kg dengan rata-rata produksi susu per tahun 5.750-6.250 kg dan berat lahir anak 42 kg. Karakteristik lainnya adalah temperamen tenang, kemampuan merumputnya sedang dan masak kelamin lambat. Kadar lemak susu dari sapi FH umumnya 3,5% - 3,7% dengan warna lemak kuning membentuk butiran-butiran (globula) sehingga aman untuk konsumsi susu segar. Produksi susu sapi FH saat ini di Indonesia memiliki produksi rata-rata sekitar 10 liter/ekor/hari atau sekitar 3.471 kg/laktasi (Anggraeni, 2012). Meskipun demikian bangsa sapi FH menghasilkan jumlah susu yang cukup tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa sapi perah lainnya baik di daerah subtropis maupun tropis. Sifat Produksi Susu Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interaksi keduanya. Musim, curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban, tahun pemeliharaan, dan peternakan juga merupakan faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi produksi susu. Kenyataannya, faktor-faktor tersebut seringkali berkaitan satu sama lain dalam menimbulkan keragaman produksi susu (Anggraeni, 1995; Indrijani, 2001). Falconer dan Mackay (1996) menjelaskan bahwa pada program pemuliaan ternak, yang lebih penting dan mendapat perhatian adalah faktor genetik karena faktor inilah yang diwariskan tetua kepada keturunannya. Faktor lingkungan berupa iklim, pakan, dan pengelolaan merupakan faktor yang tidak diwariskan (Kurnianto et al., 2008). 5 Kurva produksi susu dalam satu masa laktasi dapat dilihat pada Gambar 3. Produktivitas sapi perah dapat dievaluasi dengan cara pengukuran produksi susu selama satu masa laktasi. Produksi susu biasanya cukup tinggi setelah enam minggu masa laktasi hingga mencapai produksi maksimum, setelah itu terjadi penurunan produksi secara bertahap sampai akhir masa laktasi. Penurunan produksi susu yang terjadi setelah mencapai puncak laktasi adalah sekitar 6% setiap bulannya (Tyler dan Ensminger, 2006). Gambar 3. Kurva Produksi Susu Sumber: Blakely dan Blade (1994) Puncak produksi tergantung pada kondisi induk saat melahirkan, keturunan, terbebasnya induk dari infeksi penyakit serta pakan setelah melahirkan. Induk yang mengalami penurunan produksi susu secara cepat setelah produksi berarti mempunyai persistensi yang rendah. Persistensi produksi adalah kemampuan induk sapi mempertahankan tingkat produksi selama masa laktasi. Persistensi ini dipengaruhi oleh umur sapi, kondisi sapi saat beranak, lama masa kering sebelumnya dan jumlah pakan (Akers, 2002). Umumnya lama masa laktasi adalah 10 bulan (305 hari) pada sapi-sapi yang mempunyai selang beranak 12 bulan. Produksi air susu tertinggi diperoleh pada periode laktasi keempat (Schmidt dan Van Vleck, 1974). Produksi susu total setiap laktasi bervariasi, namun umumnya puncak produksi dicapai pada umur 6-7 tahun, atau pada laktasi ke-3 dan ke-4. Mulai dari laktasi pertama, produksi susu akan 6 meningkat sampai umur dewasa. Umur sapi yang semakin bertambah menyebabkan penurunan produksi secara perlahan. Produksi susu pada laktasi pertama adalah 70%, laktasi kedua adalah 80%, laktasi ketiga 90% dan laktasi keempat 95% dari produksi susu pada umur dewasa dengan selang beranak 12 bulan dan beranak pertama pada umur dua tahun (Tyler dan Ensminger, 2006). Produksi susu secara umum dipengaruhi oleh faktor biologis atau internal dan factor eksternal. Faktor internal adalah faktor genetik, periode laktasi, frekuensi pemerahan, umur dan ukuran tubuh ternak, masa kering, siklus estrus dan kebuntingan, ketosis dan milk fever (Sudono et al., 2003), sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar tubuh ternak seperti iklim, jumlah dan kualitas pakan, penyakit dan parasit (Indrijani, 2001). Faktor Koreksi Produksi Susu Produksi susu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Beberapa faktor internal seperti masa laktasi, umur beranak, dan masa kosong, ataupun faktor eksternal seperti kondisi perusahaan tempat berproduksi, tahun beranak dan musim beranak dapat memberikan kontribusi terhadap variasi produksi susu dalam satu laktasi. Keadaan ini akan menutupi keragaman produksi susu yang disebabkan oleh keragaman genetik (Anggraeni, 1995). Produksi susu dapat disesuaikan atau dikoreksi ke arah standar tertentu. Faktor koreksi yang paling umum digunakan adalah faktor koreksi produksi susu yang disesuaikan ke arah lama laktasi 305 hari, umur induk dewasa dan pemerahan 2 kali perhari. Standardisasi lama laktasi 305 hari didasarkan perhitungan bahwa seekor sapi perah paling optimal dapat beranak satu kali dalam satu tahun dengan lama pengeringan 6 – 8 minggu. Umur dewasa sapi perah dicapai pada umur 66 – 72 bulan dan pada umur ini diharapkan telah mencapai produksi optimalnya (Hardjosubroto, 1994). Lama hari berproduksi atau masa laktasi antara sapi-sapi betina umumnya menunjukan keragaman yang besar. Hasil-hasil yang telah diperoleh menunjukan bahwa lama laktasi merupakan sumber keragaman yang perlu dipertimbangkan dalam mendapatkan faktor koreksi laktasi lengkap (Anggraeni, 1995). Sapi betina dengan lama laktasi kurang dari 305 hari akan memiliki faktor koreksi yang nilainya 7 lebih besar dibandingkan dengan lama laktasi yang lebih dari 305 hari, sebaliknya faktor koreksi untuk lama laktasi yang lebih dari 305 hari akan lebih kecil. Hal lain yang juga mempengaruhi produksi susu adalah umur beranak. Pendugaan nilai pemuliaan produksi susu perlu dilakukan penyesuaian produksi susu sapi betina yang dinilai terhadap produksi susu setara dewasa. Alasan mendasar dilakukan pengkoreksian dikarenakan umur beranak dapat menimbulkan bias dalam evaluasi mutu genetik sapi betina. Pembakuan menjadi satu hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir bias dalam evaluasi tersebut. Miller et al. (2002) menyatakan beberapa alasan dilakukannya pengkoreksian produksi susu terhadap umur beranak adalah agar terpenuhinya beberapa tujuan seperti 1) menghilangkan bias ketika membandingkan sapi betina dengan umur yang berbeda, 2) menurunkan keragaman karena umur yang tidak sama, dan 3) guna mengestimasi produksi susu saat umur dewasa yang mungkin dapat dihasilkan seekor sapi betina dalam kondisi faktor lingkungan yang sama. Ripitabilitas Kurnianto (2009) menyatakan bahwa konsep ripitabilitas (r) digunakan untuk mempelajari bagian ragam total suatu sifat pada suatu populasi yang disebabkan oleh keragaman antar individu yang bersifat permanen pada periode produksi yang berbeda. Ripitabilitas merupakan suatu pengukuran kesamaan antara pengukuran suatu sifat yang diukur berkali-kali pada ternak yang sama selama ternak tersebut hidup (Noor, 2010). Konsep angka pengulangan (repeatability) berguna untuk sifatsifat yang muncul berkali-kali selama hidup ternak, misalnya produksi susu, produksi telur, produksi wool, dan lain-lain. Angka pengulangan (repeatibility) dapat didefinisikan sebagai korelasi fenotip antara performan sekarang dengan performan selanjutnya di masa yang akan datang pada satu individu. Noor (2010) menyampaikan bahwa ripitabilitas digolongkan ke dalam rendah jika nilainya kurang dari 0,2, sedang jika nilainya berkisar antara 0,2 dan 0,4, dan tinggi jika nilainya lebih besar dari 0,4. Nilai ripitabilitas yang tinggi menunjukan bahwa kemampuan ternak untuk mengulang sifat produksi susu pada periode laktasi berikutnya juga akan tinggi. Sebaliknya, nilai ripitabilitas yang rendah menunjukan bahwa ternak tersebut memiliki kemampuan yang rendah untuk mengulang sifat produksi susu pada periode laktasi berikutnya. 8 Nilai ripitabilitas berguna untuk memperkirakan produktivitas di masa yang akan datang dari ternak. Nilai ripitabilitas produksi susu sapi FH di berbagai wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. Perbedaan nilai ripitabilitas yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan cara mengambil sampel, jumlah sampel, serta metode yang digunakan. Tabel 1. Ripitabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah No Lokasi Ripitabilitas Sumber 1 BPT-HMT Baturraden 0,25±0,05 Gushairiyanto (1994) 2 Yayasan Santa Maria Rawaseneng 0,40±0,05 Mekir (1982) 3 PT Baru Adjak 0,62±0,03 Gushairiyanto (1994) 4 PT Taurus Dairy Farm 0,64±0,03 Gushairiyanto (1994) 5 Sumber Susu Indonesia 0,56±0,06 Maylinda (1986) 6 Sekolah Peternakan Menengah Atas Malang 0,43±0,08 Maylinda (1986) Heritabilitas Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa angka pewarisan (heritability) dapat didefinisikan sebagai proporsi dari ragam genetik terhadap ragam fenotip. Heritabilitas (h2) merupakan nilai yang mengukur kepentingan relatif antara pengaruh genetik dan lingkungan untuk suatu sifat pada suatu populasi. Heritabilitas juga dapat didefinisikan sebagai ukuran yang menunjukan tingkat kesamaan penampilan antara anak-anak dengan tetuanya. Selain itu, heritabilitas juga merupakan suatu ukuran yang menggambarkan hubungan antara nilai fenotipik dengan nilai pemuliaan (breeding value) untuk suatu sifat pada suatu populasi (Kurnianto, 2009). Nilai heritabilitas berselang antara 0 sampai 1. Kurnianto (2009) menyatakan bahwa heritabilitas dikategorikan rendah (lowly heritable) jika nilai berselang antara 0 dan 0,15, dikategorikan sedang (moderately heritable) jika nilai berselang antara 0,15 dan 0,30 dan dikategorikan tinggi (highly heritable) jika nilai heritabilitas yang didapat lebih dari 0,3. Nilai h2 yang mendekati 1 menunjukan bahwa suatu sifat memberikan respon yang lebih baik terhadap perlakuan seleksi. Sebaliknya nilai h2 yang rendah untuk suatu sifat menunjukan bahwa respon seleksi akan lambat. Seekor ternak yang menunjukan nilai heritabilitas yang tinggi pada suatu sifat diharapkan dapat mempunyai anak dengan keunggulan yang sama pada sifat tersebut. 9 Sebaliknya, bila nilai heritabilitas dari sifat tersebut rendah maka keturunan dari ternak tersebut tidak dipastikan mempunyai keunggulan sifat yang sama, karena hanya sebagian kecil saja dari keunggulannya yang diwariskan kepada keturunannya. Beberapa nilai heritabilitas produksi susu sapi FH di berbagai wilayah dapat dilihat pada Tabel 2. Nilai pendugaan heritabilitas umumnya bervariasi tergantung pada perbedaan cara pengambilan sampel, keterbatassan sampel, perbedaan metode yang digunakan, dan managemen pada waktu pengamatan dilakukan. Tabel 2. Heritabilitas Produksi Susu Sapi FH di Berbagai Wilayah No Heritabilitas Sumber BPT-HMT Baturraden 0,48±0,24 Gushairiyanto (1994) BPT-HMT Baturraden 0,32±0,34 Hidayat (2000) BPT-HMT Baturraden 0,23±0,08 Ekasanti et al. (2002) BBPTU-SP Baturraden 0,352±0,04 Indrijani (2008) 2 Yayasan Santa Maria Rawaseneng 0,23±0,25 Mekir (1982) 3 Sumber Susu Indonesia 0,43±0,74 Maylinda (1986) 4 Sekolah Peternakan Menengah Atas Malang 0,22±0,74 Maylinda (1986) 5 PT Baru Adjak 0,79±0,35 Kurnianto (1991) 0,67±0,22 Gushairiyanto (1994) 1 Lokasi 6 PT Surya Dairy Farm 0,19±0,53 Kurnianto (1991) 7 PT Taurus Dairy Farm 0,39±0,38 Kurnianto (1991) 8 BPPT Cikole 0,31±0,05 Indrijani (2001) 0,237±0,07 Indrijani (2008) 0,326±0,19 Indrijani (2008) 0,350±0,11 Indrijani (2008) 9 PT Bandang Dairy Farm Seleksi Seleksi diartikan sebagai suatu tindakan untuk membiarkan ternak-ternak tertentu bereproduksi, sedangkan ternak lainnya tidak diberi kesempatan untuk bereproduksi. Seleksi akan meningkatkan frekuensi gen-gen yang diinginkan dan menurunkan frekuensi gen-gen yang tidak diinginkan (Noor, 2010). Kurnianto (2009) menjelaskan bahwa seleksi dalam ilmu pemuliaan diartikan sebagai upaya memilih dan mempertahankan ternak-ternak yang dianggap baik untuk terus dipelihara sebagai tetua bagi generasi yang akan datang dan mengeluarkan (culling) ternak-ternak yang dianggap kurang baik. 10 Seleksi dapat dilakukan pada ternak jantan maupun betina. Seleksi terhadap sapi betina merupakan hal yang penting karena pemasukan utama bagi peternak adalah hasil dari penjualan susu, maka produktivitas sapi betina merupakan hal yang penting untuk diketahui. Sapi-sapi betina diurutkan berdasarkan produksi susunya dari yang tertinggi sampai yang terendah. Informasi mengenai silsilah juga merupakan salah satu hal yang harus diketahui khususnya untuk sapi dara yang dipilih dengan tujuan sebagai pengganti (replacement) (Ensminger, 1980). Produktivitas dari sapi betina tersebut juga dapat diturunkan kepada anaknya yang diharapkan memiliki produktivitas yang sama atau lebih tinggi lagi. Data sapi betina yang umumnya didapat saat akan melakukan seleksi antara lain produksi per laktasi, kadar lemak susu, lama laktasi dan umur beranak. Faktorfaktor yang harus diperhatikan dalam memilih sapi betina yang akan dijadikan bibit antara lain, bangsa sapi, umur sapi, silsilah (pedigree), penampakan luar (eksterior), produksi dan kesehatan (Zein dan Sumaprastowo, 1985). The Most Probable Producing Ability (MPPA) Lasley (1978) menyatakan bahwa MPPA adalah regresi dari pencatatan masa yang akan datang terhadap pencatatan saat ini, atau derajat dimana suatu catatan berulang akan menghasilkan seleksi yang lebih efektif untuk produksi yang berikutnya. MPPA digunakan untuk mengestimasi kemampuan produksi pada masa yang akan datang, sehingga berdasarkan nilai MPPA yang tertinggi akan dapat ditentukan induk-induk yang produktivitasnya tinggi sehingga dapat dipilih indukinduk yang akan dipertahankan. MPPA mencerminkan kemampuan berulang seekor sapi perah dalam produksi susu. Parameter genetik yang digunakan dalam metode ini adalah ripitabilitas. Kegunaan ripitabilitas diantaranya adalah untuk menduga nilai maksimum yang dapat dicapai heritabilitas, untuk menduga kemampuan produksi dalam masa produksi seekor ternak (MPPA) dan untuk meningkatkan ketepatan seleksi. Predicted Breeding Value (PBV) Nilai pemuliaan (breeding value) didefinisikan sebagai nilai seekor ternak sebagai tetua (the value of an individual as a parent) yang diperoleh dari perkawinan 11 acak. Nilai pemuliaan memberikan gambaran tentang dugaan kemampuan mewariskan sifat (Kurnianto, 2009). Pendugaan nilai pemuliaan sapi perah induk dapat dilakukan dengan pengamatan catatan produksinya sendiri dan dapat ditambah dengan catatan produksi kerabatnya. Induk yang memiliki nilai pendugaan PBV yang tinggi (di atas rata-rata populasi) diharapkan dapat menghasilkan keturunan dengan sifat produksi yang sama baiknya atau lebih baik dari produksi induknya, khususnya jika dikawinkan dengan pejantan unggul. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menduga nilai pemuliaan sapi induk adalah Predicted Breeding Value (PBV). PBV sering dinyatakan sebagai simpangan dari rata-rata populasi. Seleksi dengan dasar penampilan individu PBV dari seekor ternak yang dinyatakan sebagai simpangan dari rata-rata kelompok atau populasi. 12 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dan pengambilan data sekunder dilakukan selama bulan JanuariFebruari 2012 di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturradden, Purwokerto. Pengolahan data sekunder dilakukan pada bulan FebruariApril 2012. Materi Materi yang digunakan adalah data sekunder produksi susu harian dari sapi betina Friesian Holstein terhitung sejak tahun 2006-2011. Catatan produksi susu berjumlah 537 catatan dari 213 ekor sapi betina. Catatan ini terdiri dari 178 catatan periode laktasi pertama, 135 catatan periode laktasi kedua, 92 catatan periode laktasi ketiga, 81 catatan periode laktasi keempat, 39 catatan periode laktasi kelima, dan 12 catatan periode laktasi yang lebih dari lima (keenam dan ketujuh). Catatan tersebut lengkap dengan catatan individu berupa tanggal lahir dan identitas tetua baik induk maupun pejantan, serta catatan reproduksinya meliputi tanggal kawin dan tanggal beranak. Prosedur Data yang diperoleh merupakan data produksi susu harian dari individu yang diuji yang dilengkapi dengan data tetua (induk dan bapak), tanggal lahir, tanggal kawin, tanggal beranak dan tanggal kering. Data tersebut kemudian ditabulasikan berdasarkan individu yang diuji beserta seluruh informasi individu tersebut. Selanjutnya dari data tersebut masing-masing individu ditentukan lama laktasi, produksi susu per laktasi, dan lama masa kering yang ditabulasikan setiap periode laktasi. Umur beranak diketahui berdasarkan informasi tanggal lahir dan tanggal beranak. Produksi susu per laktasi dari masing-masing individu kemudian distandardisasi menggunakan faktor koreksi lama laktasi 305 hari dan umur dewasa induk berdasarkan DHIA-USDA. Faktor koreksi terhadap panjang laktasi 305 hari dan umur induk dewasa dapat dilihat pada Lampiran 5, 6, dan 7. Setelah data produksi susu terstandardisasi, nilai ripitabilitas dan heritabilitas dihitung. Nilai ripitabilitas dan heritabilitas yang didapat kemudian digunakan sebagai dasar 13 pendugaan nilai MPPA dan PBV. Nilai pendugaan MPPA dan PBV sapi betina yang telah didapat kemudian diurutkan berdasarkan nilai tersebut. Rancangan dan Analisis Data Analisis data dilakukan pertama kali dengan melakukan standardisasi data ke dalam faktor koreksi lama laktasi 305 hari dan umur dewasa induk. Data yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk analisis parameter genetik, yaitu ripitabilitas produksi susu. Nilai ripitabilitas yang didapatkan digunakan untuk pendugaan nilai MPPA yang selanjutnya diurutkan berdasarkan peringkat. Ripitabilitas (r) Perhitungan ripitabilitas produksi susu menggunakan metode sidik ragam klasifikasi satu arah dengan banyaknya pengukuran per individu yang tidak sama (Becker, 1975) dengan model statistiknya adalah sebagai berikut: Keterangan: : nilai produksi susu individu ke-k dari catatan pengukuran ke-m  : rataan produksi susu populasi : pengaruh individu ke-k : deviasi karena pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol pada individu kek dari catatan pengukuran ke-m Tabel 3. Daftar Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas Sumber Keragaman Antar Individu Pengukuran dalam Individu db JK KT N-1 JKW KTW N(M-1) JKE KTE Komponen KT Keterangan: N : jumlah individu M : jumlah pengukuran per individu k1 : koefisien komponen ragam : mk m ∑ : jumlah pengukuran individu ke-k : jumlah total pengukuran : komponen ragam antar individu : : komponen ragam antar pengukuran dalam individu 14 Galat baku ripitabilitas dihitung berdasarkan rumus berikut: √ Estimasi ripitabilitas dihitung dengan cara, Keterangan: r : nilai ripitabilitas : komponen ragam antar individu : komponen ragam antar pengukuran dalam individu Heritabilitas (h2) Pendugaan nilai heritabilitas dihitung berdasarkan metode korelasi saudara tiri (paternal halfsib correlation) dengan jumlah anak per pejantan yang tidak sama (unbalance design) menurut Becker (1975). Model statistiknya adalah sebagai berikut, Keterangan: : nilai produksi susu individu (anak) ke-k dari pejantan ke-i  : rataan produksi susu populasi : pengaruh pejantan ke-i : deviasi karena pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol pada individu (anak) ke-i dari pejantan ke-k Tabel 4. Daftar Analisis Sidik Ragam Heritabilitas Sumber Keragaman db JK KT Antar Pejantan S-1 JKs KTs Anak dalam Pejantan n-S JKw KTw Komponen KT Keterangan: S : jumlah pejantan n : jumlah anak (individu) k1 : koefisien komponen ragam ∑ : ) : komponen ragam antar pejantan : : komponen ragam anak dalam pejantan 15 Estimasi heritabilitas dihitung berdasarkan rumus, Keterangan: : nilai heritabilitas : komponen ragam antar pejantan : komponen ragam anak dalam pejantan Galat baku heritabilitas dihitung berdasarkan rumus berikut, √ Keterangan: t : interclass correlation : Pendugaan Nilai The Most Probability Producing Ability (MPPA) Perhitungan MPPA dapat dilakukan berdasarkan pendekatan Warwick (1983) dengan rumus: ̅ ̅ ̅ Keterangan: ̅ : rataan produksi susu populasi ̅ : rataan produksi susu individu n : jumlah catatan produksi r : ripitabilitas Perhitungan Prediction Breeding Value (PBV) Perhitungan PBV dapat dilakukan berdasarkan pendekatan Lasley (1978) dengan rumus, ̅ Keterangan: b : heritabilitas (untuk data tunggal) : P ̅ ̅ , untuk sebanyak n catatan : produksi dari catatan tunggal pada ternak yang dihitung PBV-nya : rata-rata produksi ternak lain pada waktu dan tempat yang sama 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Sapi Perah (BBPTU-SP) Baturraden, Purwokerto, lebih tepatnya di Farm Tegalsari. BBPTU-SP Baturraden sendiri terdiri dari empat wilayah, yaitu Farm Tegalsari, Farm Limpakuwus, area Munggangsari, dan Farm Manggala. BBPTU-SP Baturraden berada di bagian selatan lereng kaki Gunung Slamet. Farm Tegalsari sendiri berada di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, tepatnya di dalam kawasan wisata Baturraden yang berjarak ±15 km ke arah Utara dari Purwokerto. Gambar 4. Lokasi BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto Temperatur rata-rata di daerah ini adalah 18-28 C dengan kelembaban berkisar antara 70% - 80%. Keadaan klimatik di BBPTU-SP Baturraden tergolong nyaman untuk hidup dan berproduksi bagi sapi perah yang berasal dari iklim sedang seperti Friesian Holstein. Kisaran temperatur udara yang baik untuk sapi perah yang berasal dari Eropa adalah sekitar 5-21 C dengan kelembaban relatif 50% - 70% (Ensminger, 1980). Daerah ini juga memiliki curah hujan yang cukup tinggi yaitu sekitar 6.000-9.000 mm/tahun. Farm Tegalsari BBPTU-SP Baturraden memiliki ketinggian tempat sekitar ±675 m dpl yang tergolong ke dalam dataran sedang menurut Siregar (1990) karena berada pada kisaran ketinggian 250-750 m dpl. Siregar (1990) menyatakan bahwa dataran rendah memiliki ketinggian di bawah 250 m dpl sedangkan dataran tinggi memiliki ketinggian di atas 750 m dpl. 17 Gambar 5. Lahan Pastura Farm Tegalsari BBPTU-SP Baturraden Area Farm Tegalsari memiliki luas sekitar 34,18 ha. Keadaan lahan permukaan relatif rata, kecuali di bagian Utara yang meninggi ke arah Utara sedangkan di bagian Selatan cenderung menurun (0-15) ke arah Selatan dimana hampir semuanya diperuntukan sebagai lahan tanaman pakan ternak. Lahan di bagian Utara diperuntukan sebagai lahan exercise atau penggembalaan sapi. Produksi Susu Sapi-sapi betina yang diamati memiliki periode laktasi yang berbeda. Periode laktasi tersebut berkisar antara laktasi pertama sampai laktasi ketujuh. Rataan produksi susu real dan produksi susu yang telah distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa dari sapi Friesian Holstein betina di BBPTU-SP Baturraden dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan Produksi Susu per Laktasi di BBPTU-SP Baturraden Rataan Produksi Susu per Laktasi (kg) Sebelum koreksi Setelah koreksi Periode Laktasi n Rataan Lama Produksi (hari) 1 178 289 4.117±1.337 5.365±1.075 2 135 246 3.614±1.740 5.363±1.358 3 92 300 4.048±1.460 5.211±1.452 4 81 234 4.018±1.921 6.124±1.743 5 39 198 3.167±2.003 5.416±1.619 >5 12 174 2.518±2.194 4.644±1.563 3.859±1.615 5.440±1.362 Rata-rata n: jumlah catatan 18 Produksi susu real dari laktasi pertama sampai laktasi yang lebih dari lima bervariasi dari 2.518 sampai 4.048 kg/laktasi, dengan rataan produksi susu per laktasi sekitar 3.859±1.615 kg/laktasi. Lama produksi dalam satu laktasi memberi pengaruh yang sangat besar terhadap jumlah produksi susu. Produksi susu pada lama laktasi yang lebih panjang umumnya lebih besar dari jumlah produksi susu dengan masa laktasi yang lebih singkat. Lama produksi susu harus distandardisasi untuk meminimalisasi pengaruh lama laktasi terhadap jumlah produksi susu dalam satu periode laktasi. Produksi susu real tertinggi terdapat pada laktasi ketiga yaitu sekitar 4.048±1.460 kg/laktasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Philips (2002) bahwa produksi air susu tertinggi diperoleh pada periode laktasi ketiga. Rataan panjang laktasi pada periode laktasi ketiga adalah 300 hari. Hal ini menunjukan bahwa rataan produksi susu per hari pada periode laktasi ketiga adalah 13,5 kg/hari. Rataan produksi susu per hari secara keseluruhan di BBPTU-SP Baturraden adalah sekitar 15 kg/hari. Produksi susu real distandardisasi untuk menghilangkan pengaruh non genetik. Rataan produksi susu yang telah distandardisasi dari laktasi pertama sampai laktasi yang lebih dari lima bervariasi dari 5.211 sampai 6.124 kg/laktasi, dengan rata-rata produksi per laktasi sekitar 5.440±1.362 kg/laktasi. Gambar 6. Sapi Betina FH di BBPTU-SP Baturraden Faktor koreksi dilakukan terhadap lama laktasi 305 hari dan umur induk dewasa. Produksi susu rata-rata sebelum dikoreksi adalah sekitar 3.859±1.615 kg/laktasi dengan keragaman sekitar 41,8%. Produksi susu rata-rata setelah dilakukan koreksi adalah 5.440±1.362 kg/laktasi dengan keragaman sekitar 25%. 19 Adanya penurunan keragaman ini menunjukan bahwa koreksi data yang dilakukan dapat menurunkan variasi produksi antar individu sebesar 16,8%. Hasil penelitian Ekasanti et al. (2002) juga menunjukan bahwa penurunan keragaman variasi produksi antar induvidu sebesar 8,41%. Parameter Genetik Parameter genetik yang diamati adalah heritabilitas (h2) dan ripitabilitas (r). Heritabilitas didasarkan pada metode korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation), sedangkan ripitabilitas dihitung berdasarkan analisis sidik ragam klasifikasi satu arah. Kedua parameter genetik ini selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai MPPA dan PBV dari masing-masing ternak. Nilai heritabilitas dan ripitabilitas dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Heritabilitas dan Ripitabilitas di BBPTU-SP Baturraden Parameter Genetik h2 Nilai 0,40±0,36 r 0,84±0,02 Ripitabilitas Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa konsep ripitabilitas menunjukan sejauh mana hubungan antara produksi pertama dengan produksi berikutnya pada individu. Nilai ripitabilitas produksi susu di BBPTU-SP Baturraden yang diperoleh adalah sekitar 0,84±0,02. Nilai ripitabilitas ini tergolong tinggi. Noor (2010) menyampaikan bahwa ripitabilitas tergolong ke dalam kategori rendah jika nilainya lebih rendah dari 0,2, tergolong sedang jika nilainya berkisar antara 0,2–0,4, dan tegolong tinggi jika nilainya lebih besar dari 0,4. Nilai ripitabilitas ini jelas lebih besar dari pernyataan Warwick dan Legates (1979) bahwa nilai ripitabilitas produksi susu berkisar antara 0,35–0,50. Lasley (1978) juga menyatakan bahwa nilai ripitabilitas produksi susu sapi perah adalah sekitar 0,41–0,64. Nilai ripitabilitas yang didapat juga lebih tinggi dari pernyataan Gushairiyanto (1994) yang menyatakan nilai ripitabilitas di BBPTU-SP Baturraden adalah sebesar 0,25±0,05. Hardjosubroto (1994) juga menyatakan bahwa nilai heritabilitas produksi susu umumnya adalah 0,4–0,6. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan cara mengambil sampel, jumlah sampel dan metode yang digunakan. 20 Ripitabilitas yang didapatkan bernilai tinggi yang kemungkinan dikarenakan variasi produksi antar individu yang tinggi. Selain itu, variasi faktor lingkungan tetap yang tinggi juga dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap nilai ripitabilitas. Nilai ripitabilitas ini berguna untuk memperkirakan produktivitas di masa yang akan datang dari ternak. Heritabilitas Nilai heritabilitas produksi susu di BBPTU-SP Baturraden dihitung dengan menggunakan korelasi saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation) dari 78 ekor pejantan. Nilai heritabilitas yang diperoleh yaitu 0,40±0,36. Nilai ini tergolong ke dalam heritabilitas yang tergolong sedang sebagaimana yang dinyatakan oleh Noor (2010) serta Warwick dan Legates (1979) bahwa nilai heritabilitas yang lebih kecil dari 0,2 tergolong rendah, kisaran 0,2-0,4 tergolong sedang dan tergolong tinggi jika nilainya lebih dari 0,4. Hasil perhitungan heritabilitas ini sesuai dengan pernyataan Hardjosubroto (1994) bahwa nilai heritabilitas produksi susu sapi perah berkisar antara 0,2-0,4. Nilai heritabilitas ini juga lebih tinggi dari penelitian yang dilakukan Indrijani (2008) di tempat yang sama dengan nilai 0,352±0,04. Hal ini dapat dikarenakan beberapa faktor, antara lain perbedaan cara pengambilan sampel, keterbatasan sampel, perbedaan metode yang digunakan dan managemen pada waktu pengamatan. Pendugaan nilai heritabilitas ini diharapkan dapat mewariskan sifat produksi susu pada keturunannya dengan kemajuan genetik yang tinggi (Bourdon, 1997). Kecermatan perhitungan nilai heritabilitas akan lebih baik jika paling sedikit terdapat lima ekor penjantan dengan jumah anak sekitar 10 ekor per pejantan (Dalton, 1981). Penelitian ini mengggunakan lebih dari 10 ekor pejantan untuk pendugaan nilai heritabilitas, namun jumlah anak per pejantan tidak seluruhnya lebih dari 10 ekor. Hal ini dapat menjadi suatu kekurangan dalam kecermatan perhitungan heritabilitas. Pendugaan Nilai MPPA Kemampuan produksi individu sapi dapat diketahui dengan metode MPPA. Daya produksi susu yang diketahui dari perhitungan MPPA merupakan pendugaan produksi susu pada laktasi berikutnya. Ternak yang memiliki daya produksi yang 21 tinggi akan mempunyai peringkat MPPA yang tinggi dibandingkan dengan rataan populasi. Rata-rata pendugaan nilai MPPA yang didapatkan adalah 5.443 kg. Nilai hasil pendugaan MPPA menunjukan bahwa sebesar 48% atau sekitar 102 ekor dari 213 ekor sapi betina yang diamati berada di atas nilai rataan, sedangkan sisanya berada di bawah nilai rataan. Pendugaan daya produksi susu tertaksir (MPPA) memperoleh hasil bahwa nilai tertinggi terdapat pada sapi dengan nomor identitas 125. Sapi ini mempunyai nilai pendugaan MPPA sebesar 7.701 kg. Sapi tersebut diperkirakan dapat menghasilkan susu 7.701 kg lebih tinggi pada laktasi-laktasi berikutnya. Hasil dari pendugaan ini menunjukan bahwa produksi susu sapi dengan nomor identitas 125 adalah 2.258 kg lebih tinggi dibandingkan dengan rataan produksi susu dari sapi lain yang diamati di BBPTU-SP Baturraden. Nilai terendah pada pendugaan nilai MPPA adalah 3.151 kg. Peringkat terendah ini terdapat pada sapi dengan nomor identitas 1878-07. Sapi dengan nomor identitas 1878-07 memiliki produksi susu 2.292 kg lebih rendah dibandingkan dengan sapi lainnya dalam populasi. Peringkat MPPA digunakan untuk seleksi terhadap induk yang akan dipertahankan di peternakan berdasarkan produksinya yang tinggi. Umumnya ternak yang dipertahankan adalah sekitar 50% peringkat terbaik dari populasi (Direktorat Pembibitan, 2012). Data keseluruhan ternak beserta nilai MPPA dan PBV dapat dilihat pada Lampiran 3. Pendugaan Nilai PBV PBV atau dugaan nilai pemuliaan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu genetik ternak dalam menghasilkan susu. Ternak dengan nilai pemuliaan terbaik diharapkan dapat mewariskan gen kepada keturunannya, sehingga keturunannya memiliki kemampuan produksi yang baik pula. Perhitungan yang dilakukan dengan metode ini diharapkan dapat mengevaluasi ternak yang memiliki kemampuan mewariskan sifat produksi susu kepada keturunannya. Pendugaan nilai PBV dihitung sebagai estimasi dari nilai pemuliaan ternak. Nilai rata-rata pendugaan PBV dari 213 ekor sapi betina FH yang diamati adalah 5.462 kg. Nilai hasil pendugaan PBV juga menunjukan bahwa sebesar 48% atau 22 sekitar 102 ekor dari sapi betina yang diamati berada di atas nilai rataan, sedangkan sisanya berada di bawah nilai rataan. Tabel 7. Nilai MPPA dan PBV dari 10% Sapi FH Betina Terbaik di BBPTU-SP Baturraden No Identitas 125 n 1 MPPA (kg) 7.701 PBV (kg) 6.533 Peringkat 1 1899-08 1 7.525 6.450 2 027 3 7.303 6.344 3 066 3 7.247 6.318 4 078 4 7.194 6.293 5 1886-07 1 7.172 6.282 6 008 1 7.115 6.255 7 056 1 7.031 6.215 8 1786-06 1 7.030 6.215 9 067 4 7.016 6.209 10 0030 4 7.008 6.205 11 1874-07ET 2 6.975 6.189 12 076 4 6.947 6.175 13 054 4 6.932 6.168 14 006 4 6.906 6.156 15 1890-08 1 6.857 6.133 16 016 4 6.832 6.121 17 028 4 6.818 6.115 18 1889-08 1 6.814 6.112 19 0306-07 2 6.752 6.083 20 0343-07 1 6.748 6.081 21 0269-07 1 6.716 6.066 22 n : jumlah catatan laktasi Sapi betina dengan nilai PBV tertinggi adalah sapi dengan nomor identitas 125 yang memiliki nilai pendugaan PBV sebesar 6.533 kg. Sapi ini diduga memiliki keunggulan genetik produksi susu sebesar 6.533 kg. Hasil pendugaan ini menunjukan bahwa sapi dengan nomor identitas 125 memiliki keunggulan genetik 23 produksi susu 1.071 kg lebih tinggi dibandingkan dengan rataan produksi susu dari sapi-sapi lain yang diamati pada penelitian ini. Nilai pendugaan PBV terendah adalah 4.375 kg pada sapi dengan nomor identitas 1878-09. Sapi ini memiliki keunggulan genetik produksi susu 1.087 kg lebih rendah dibandingkan dengan rataan populasi yang diamati. Nilai pendugaan PBV umumnya digunakan untuk melakukan seleksi terhadap induk yang akan menghasilkan bibit serta untuk replacement stock. Umumnya ternak yang digunakan sebagai bibit adalah 10% terbaik dari seluruh betina yang diseleksi dalam populasi (Direktorat Jenderal Pembibitan, 2012). Nilai MPPA dan PBV dari 10% betina terbaik di BBPTU-SP Baturraden dapat dilihat pada Tabel 7. Replacement stock ditujukan untuk menggantikan induk yang ada sebelumnya sehingga produksi susu dapat terus berjalan. Sapi betina yang dapat digunakan sebagai replacement stock dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil perankingan menunjukan bahwa seekor ternak selalu mendapat peringkat yang sama berdasarkan nilai MPPA dan PBV. Hal ini menunjukan bahwa ternak yang mempunyai kemampuan produksi susu yang tinggi juga akan memiliki kemampuan pewarisan sifat yang tinggi. Penelitian mengenai kemampuan produksi tertaksir dan nilai pemuliaan juga dilakukan oleh Nugroho (2004) di PT. Taurus Dairy Farm, yang memperoleh hasil bahwa ternak yang memperoleh peringkat tinggi pada perhitungan nilai pemuliaan juga akan memiliki peringkat yang tinggi pada perhitungan kemampuan produksi tertaksir. 24 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Rataan produksi susu real per laktasi yang paling tinggi didapat pada laktasi ketiga yaitu sekitar 4.048±1.460 kg, dengan rataan produksi susu per ekor secara keseluruhan sekitar 15 kg per hari. Nilai ripitabilitas produksi susu yang diperoleh adalah 0,84±0,02. Daya pengulangan sifat produksi susu tergolong tinggi. Nilai ini sangat tinggi kemungkinan dikarenakan variasi produksi antar individu yang tinggi pula. Nilai heritabilitas produksi susu yang diperoleh adalah 0,40±0,36 yang tergolong sedang dimana kemampuan induk untuk menurunkan sifat produksi susu cukup baik kepada anaknya. Sapi yang dipertahankan dan dijadikan sebagai replacement stock merupakan sapi dengan peringkat 50% terbaik, sedangkan sapi yang digunakan bibit adalah sapi dengan peringkat 10% terbaik. Sapi terbaik berdasarkan nilai pendugaan MPPA dan PBV adalah sapi dengan nomor identitas 125 dengan nilai pendugaan masing-masing 7.701 kg dan 6.533 kg. Saran Upaya peningkatan akurasi dalam pendugaan parameter genetik (ripitabilitas dan heritabilitas) perlu didukung oleh kelengkapan data. Pendugaan nilai heritabilitas perlu didukung oleh jumlah anak per pejantan untuk meningkatkan akurasi. Pendugaan ripitabilitas perlu didukung oleh kelengkapan catatan produksi susu setiap laktasinya. Pertimbangan pemilihan sapi betina untuk bibit dan replacement stock berdasarkan nilai PBV perlu mempertimbangkan jumlah dan kelengkapan catatan serta umur ternak tersebut. Pertimbangan dalam mempertahankan ternak dalam peternakan dapat diestimasi berdasarkan peringkat nilai PBV. Manajemen pemeliharaan, reproduksi, dan pemuliaan harus tetap diterapkan dan ditingkatkan. Evaluasi terhadap efektivitas program yang ada di BBPTU-SP juga perlu dilakukan agar dapat terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas sapi FH betina yang ada disana. 25 UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillaahirabbilalamiin, segala puji dan syukur tak henti dipanjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat, karunia dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam tercurah tanpa henti kepada Nabi Muhammad SAW, imam seluruh kaum muslim dan muslimah. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si dan Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D selaku pembimbing dalam melakukan penelitian dan penulisan skripsi, yang selalu memberikan bimbingan, arahan, saran serta motivasi kepada penulis. Terima kasih kepada Dr. Ir. Bagus P. Purwanto, Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS., dan Dr. Ir. Afton Atabany, M.Si. selaku penguji dalam ujian sidang. Terima kasih pula kepada Dr. Ir. Rarah Ratih Adjie Maheswari, DEA. dan Ir. B.N. Polii, S.U. atas segala motivasi dan bimbingan kepada penulis selama masa perkuliahan. Teruntuk orangtua tercinta, Bapak Dadang Jauhari dan Ibu Cucu Lusiani, serta kepada saudara-saudara yang terkasih (Ganjar Wahyudi, S.T., M.O.S dan Muhammad Jamilludin) atas cinta, kasih sayang, doa, motivasi, dan semangat bagi penulis. Terima kasih kepada Umi dan tenaga pendidik lainnya di Fakultas Peternakan. Terima kasih pula kepada seluruh staf di BBPTU-SP Baturraden yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. Terima kasih kepada Angga Galih Pradana, untuk segala motivasi dan perhatiannya selama ini. Kepada sahabat yang luar biasa Alvi Nadia Putri, Pandu Permatasari, Achdyawan Wenda, Eka, Isyana, dan Sri atas segala hal yang menyenangkan selama ini. Teruntuk sahabat-sahabat IPTP 45, semoga kesuksesan senantiasa bersama kita semua. Iqbal Rizqhie Yustisi, sahabat seperjuangan dalam penelitian ini, terima kasih atas segala bantuannya. Kawan-kawan tim perkusi (Zakir, Aldi, Irul, Cicha, Yudhi, Aria, Ochan) dan adik-adik yang sangat luar biasa (Rini, Ata, Ajeng, Winda, Ike, Devin), terima kasih untuk semuanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. Bogor, Agustus 2012 Penulis 26 DAFTAR PUSTAKA Akers, R.M. 2002. Lactation and The Mammary Glands. Iowa States Press, US. Anggraeni, A. 1995. Faktor-faktor koreksi hari laktasi dan umur untuk produksi susu sapi perah Fries Holland. Tesis. PPs IPB, Bogor. Anggraeni, A. 2012. Perbaikan genetik sifat produksi susu dan kualitas susu sapi Friesian Holstein melalui seleksi. J. Wartazoa 22 (1): 1-11. Becker, W. A. 1975. Manual of Quantitative Genetics. 4th ed. Published by Academic Enterprise. Pullman, Washington. Bourdon, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice Hall, Inc. Upper Sanddle River, New Jersey. Blakely, J & D. H. Blade. 1994. Ilmu Peternakan. 3rd ed. Penerjemah: Srigandono B. Terjemahan dari: The Science of Animal Husbandry. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Dalton, D. C. 1981. An Introduction to Practical Animal Breeding. The English Languange Book Society and Granada, London. Dewan Standardisasi Indonesia. 1992. Sapi Perah Bibit. SNI 01-2891-1992. Standardisasi Nasional Indonesia, Jakarta. Direktorat Jenderal Peternakan. 2011. Buku Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta. Direktorat Pembibitan. 2012. Pedoman Teknis Pengembangan Pembibitan Sapi Perah. Departemen Pertanian, Jakarta. Ekasanti, A., D. D. Purwantini, A., & T. A. Sadewo. 2002. Kajian respon seleksi taksiran dan nyata uji keturunan untuk evaluasi genetik pejantan sapi perah di BPT-HMT Baturraden. J. Pet. Trop. 2 (1): 1-6 Ensminger, M.E. 1980. Dairy Cattle Science. The Interstate Printers & Publishers, Inc., Danville. Falconer, D. S. & T. F. C. Mackay. 1996. Introduction to Quantitative Genetik. Longman. Gushairiyanto. 1994. Parameter genetik produksi susu dan reproduksi, evaluasi nilai pemuliaan pejantan serta induk sapi perah Fries Holland di beberapa peternakan. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Hidayat, R. 2000. Uji keturunan untuk memilih pejantan sapi perah Friesian Holstein menggunakan jumlah keturunan betina per pejantan yang berbeda di BPTHMT Baturraden. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Soedirman, Purwokerto. Indrijani, H. 2008. Penggunaan catatan produksi susu 305 hari dan catatan produksi susu test day (hari uji) untuk menduga nilai pemuliaan produksi susu sapi perah. Disertasi. PPs. Universitas Padjajaran, Bandung. 27 Indrijani, H. 2001. Penggunaan catatan test day untuk mengevaluasi mutu geneik sapi perah. Tesis. Program Pascasarjana IPB, Bogor. Kurnianto, E. 1991. Penilaian pejantan sapi perah berdasarkan catatan produksi susu sebagian. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kurnianto, E. 2009. Pemuliaan Ternak. Graha Ilmu, Yogyakarta. Kurnianto, E., I. Sumeidina, & P. P. Astuti. 2008. Evaluasi keunggulan genetik sapi perah betina untuk program seleksi. J. Indonesian Trop. Anim. and Agric. 33 (3): 186-190 Lasley, J. E. 1978. Genetiks of Livestock Improvement. 3rd ed. Prentice-Hall Inc. Engelwood Cliffs, New Jersey. Maylinda, S. 1986. Pendugaan nilai pemuliaan dan keefisienan reproduksi sapi perah di beberapa peternakan sapi perah di Kabupaten dan Kotamadya Malang. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Insitut Pertanian Bogor, Bogor. Mekir, W. S. 1982. Parameter fenotip dan genetik sifat-sifat reproduksi dan produksi sapi perah Fries Holland di beberapa perusahaan peternakan. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Miller, R. H., R. E. Pearson, M. H. Fohran, & M. E. Creegan. 2002. Methods of projecting complete lactation production from part lactation yield. J. Dairy Sci. 55: 1602-1606. Noor, R. R. 2010. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta. Nugroho, C. W. 2004. Pendugaan nilai pemuliaan dan genetic trend produksi susu di peternakan sapi perah Taurus Dairy Farm, Cicurug-Sukabumi. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Philips, J. C. J. 2002. Principles of Cattle Production. CABI Publishing, Wallingford. Schmidt, G. H. & L. D. Van Vleck. 1974. Principles of Dairy Science. W.H. Freeman and Co., San Fransisco. Siregar, S. 1990. Sapi Perah: Jenis Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penerbit Swadaya, Jakarta. Sudono, A., R. F. Rosdiana, & B. S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah secara Intensif. Cetakan I. PT Agromedia Pustaka, Jakarta. Sundasesan, D. 1975. Livestock Breeding in India. Vikar Publisher House PVT Ltd. Delhi, India. Tyler, H. D. & M. E. Ensminger. 2006. Dairy Cattle Science. 4th Edition. Prantice Hall, New Jersey. Warwick, E. J. 1983. Pemuliaan Ternak. Terjemahan J.M. Astuti & W. Hardjosubroto. Gadjah Mada University Press, Yoyakarta. Warwick, E. J. & J. E. Legates, 1979. Breeding & Improvement of Farm Animal. Tata McGraw-Hill Publishing Company, LTD., New Delhi. Zein, S. M. & R. M. Sumaprastowo. 1985. Ternak Perah. CV Yasaguna, Jakarta. 28 LAMPIRAN 29 Lampiran 1. Perhitungan Nilai Ripitabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa) Jumlah individu (n) : 213 Jumlah catatan pengukuran : 537 Koefisien komponen ragam (k1) : 2,517 Tabel 8. Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas Sumber Keragaman db JK KT Antar Individu 212 486919743,48 2296791,243 Antar pengukuran 324 52898948,06 163268,3582 Ragam pengukuran dalam individu ( Komponen ragam antar individu Ragam individu ( ) ) : Komponen Ragam = 163268,3582 = 2296791,243 = = 851365,876 Ripitabilitas (r) = = 0,838 Galat baku r :√ = 0,018 30 Lampiran 2. Perhitungan Nilai Heritabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa) Jumlah Pejantan (S) : 78 Jumlah total individu (anak) dari pejantan ke-i (n) : 196 Koefisien komponen ragam (k1) : 2,393 Tabel 9. Analisis Ragam Heritabilitas Sumber Keragaman Pejantan db 77 JK 156257672,69 KT 2029320,424 Anak 118 189432422,63 1605359,514 Komponen Ragam Komponen ragam antar pejantan : = 2029320,424 Ragam antar pejantan ( : = 177167,1169 Komponen ragam anak dalam pejantan : = 1605359,514 Heritabilitas (h2) : = 0,398 Galat baku h2 : ) √ = 0,355 31 Lampiran 3. Peringkat Sapi Friesian Holstein di BBPTU-SP Baturraden Berdasarkan Nilai MPPA dan PBV. No Identitas MPPA PBV n Peringkat No Identitas MPPA PBV n Peringkat 125 7.701 6.533 1 1 0432-08 5.405 5.444 1 108 1899-08 7.525 6.450 1 2 0481-09 5.388 5.436 1 109 027 7.303 6.344 3 3 0394-08 5.386 5.435 2 110 066 7.247 6.318 3 4 1883-07ET 5.367 5.426 1 111 078 7.194 6.293 4 5 0408-08 5.364 5.425 1 112 1886-07 7.172 6.282 1 6 0278-07 5.355 5.421 2 113 008 7.114 6.255 1 7 1870-07 5.352 5.419 2 114 056 7.031 6.215 1 8 015 5.350 5.418 1 115 1786-06 7.030 6.215 1 9 0340-07 5.326 5.407 1 116 067 7.016 6.209 4 10 022 5.323 5.406 5 117 0030 7.008 6.205 4 11 1905-08 5.297 5.393 1 118 1874-07ET 6.975 6.189 2 12 010 5.274 5.382 5 119 076 6.947 6.176 4 13 0273-07 5.260 5.375 2 120 054 6.932 6.168 4 14 1860-07 5.246 5.369 2 121 006 6.906 6.156 4 15 0420-08 5.239 5.365 1 122 1890-08 6.857 6.133 1 16 1901-08 5.233 5.363 1 123 016 6.832 6.121 4 17 0334-07 5.200 5.347 2 124 028 6.818 6.115 4 18 086 5.191 5.343 4 125 1889-08 6.814 6.112 1 19 138 5.191 5.343 4 126 0306-07 6.752 6.083 2 20 106 5.185 5.340 4 127 0343-07 6.748 6.081 1 21 0412-08 5.180 5.337 1 128 0269-07 6.716 6.066 1 22 1882-07 5.177 5.336 2 129 1775-06 6.694 6.056 1 23 1912-08 5.139 5.318 1 130 1693-04 6.672 6.045 3 24 0277-07 5.138 5.318 2 131 102 6.596 6.009 4 25 1153-00 5.134 5.316 4 132 057 6.564 5.994 1 26 024 5.125 5.311 5 133 1881-07 6.530 5.978 2 27 029 5.121 5.310 5 134 1888-08 6.525 5.975 1 28 0329-07 5.119 5.307 2 135 004 6.477 5.953 4 29 041 5.078 5.289 5 136 043 6.412 5.922 4 30 132 5.060 5.281 4 137 045 6.368 5.901 4 31 117 5.060 5.281 2 138 1779-06 6.355 5.895 4 32 0301-07 5.059 5.280 2 139 095 6.353 5.894 1 33 0430-08 5.049 5.275 1 140 1729-05 6.319 5.878 2 34 030 5.046 5.274 3 141 1891-08 6.286 5.862 2 35 009 5.045 5.273 5 142 32 068 6.276 5.857 1 36 0027 5.003 5.253 3 143 1902-08 6.268 5.854 1 37 1859-07 4.997 5.251 2 144 055 6.252 5.846 4 38 0294-07 4.988 5.247 2 145 040 6.243 5.842 5 39 0319-07 4.985 5.245 2 146 092 6.211 5.827 2 40 048 4.979 5.242 5 147 001 6.208 5.825 5 41 0404-08 4.951 5.229 2 148 133 6.195 5.819 4 42 1880-07 4.945 5.226 2 149 1892-08 6.178 5.811 1 43 144 4.932 5.220 2 150 139 6.150 5.798 4 44 0488-09 4.930 5.219 1 151 050 6.147 5.796 4 45 1846-06 4.922 5.215 3 152 1614-04 6.088 5.768 4 46 0313-07 4.915 5.212 2 153 0427-08 6.050 5.750 1 47 1907-08 4.903 5.206 1 154 101 6.033 5.742 5 48 1913-08 4.862 5.186 1 155 036 6.032 5.742 2 49 1570-03 4.856 5.184 4 156 1774-06 6.031 5.741 1 50 1885-07 4.855 5.183 1 157 046 6.018 5.735 5 51 0470-09 4.851 5.181 1 158 094 5.996 5.725 2 52 073 4.845 5.178 5 159 084 5.990 5.722 4 53 111 4.841 5.177 1 160 012 5.989 5.721 5 54 1180-00 4.814 5.164 5 161 0330-07 5.976 5.715 2 55 088 4.806 5.160 2 162 0336-07 5.970 5.712 2 56 0390-08 4.803 5.159 1 163 116 5.962 5.708 5 57 1607-03 4.799 5.157 3 164 017 5.958 5.707 2 58 013 4.796 5.155 4 165 1922-09 5.950 5.702 1 59 0376-08 4.796 5.155 2 166 063 5.948 5.701 1 60 0411-08 4.790 5.152 2 167 034 5.947 5.701 4 61 1908-08 4.781 5.148 1 168 005 5.944 5.700 2 62 098 4.733 5.125 5 169 0402-08 5.941 5.698 1 63 1780-06 4.724 5.121 1 170 1923-09 5.937 5.696 1 64 1867-07 4.710 5.114 1 171 1200-01 5.932 5.694 4 65 0389-08 4.699 5.109 1 172 074 5.903 5.680 5 66 0276-07 4.683 5.102 2 173 1893-08 5.899 5.678 2 67 038 4.683 5.102 4 174 1766-06 5.887 5.673 1 68 142 4.678 5.100 5 175 109 5.878 5.669 2 69 081 4.658 5.090 2 176 090 5.875 5.667 4 70 075 4.657 5.089 5 177 1453-02 5.815 5.639 3 71 124 4.656 5.089 3 178 1773-06 5.798 5.630 1 72 080 4.649 5.086 4 179 0001 5.797 5.630 3 73 0323-07 4.646 5.084 2 180 33 0415-08 5.782 5.623 2 74 0431-08 4.594 5.060 1 181 0346-07 5.779 5.622 2 75 079 4.579 5.052 1 182 0489-09 5.779 5.621 1 76 1637-04 4.568 5.047 4 183 049 5.770 5.617 4 77 1784-06 4.543 5.036 4 184 1909-08 5.761 5.613 1 78 1877-07 4.539 5.033 2 185 0406-08 5.751 5.608 1 79 1810-06 4.526 5.027 1 186 096 5.746 5.606 2 80 108 4.476 5.004 3 187 052 5.746 5.606 2 81 0282-07 4.457 4.995 1 188 1711-05 5.742 5.604 4 82 021 4.445 4.989 4 189 103 5.731 5.599 5 83 1597-03 4.415 4.974 4 190 145 5.726 5.596 2 84 115 4.403 4.969 4 191 0341-07 5.721 5.594 2 85 114 4.385 4.960 5 192 123 5.714 5.591 3 86 037 4.364 4.950 4 193 1723-05 5.700 5.584 2 87 0291-07 4.363 4.950 2 194 065 5.674 5.572 1 88 1894-08 4.341 4.939 1 195 0396-08 5.669 5.570 1 89 0344-07 4.329 4.934 2 196 1895-08 5.641 5.556 1 90 0315-07 4.279 4.910 1 197 1521-03 5.619 5.546 4 91 137 4.202 4.873 1 198 0441-08 5.615 5.544 1 92 1791-06 4.200 4.872 2 199 1695-04A 5.607 5.540 4 93 0274-07 4.124 4.836 2 200 0475-09 5.603 5.538 1 94 1267-01 4.074 4.813 4 201 099 5597 5.535 6 95 113 4.046 4.800 2 202 093 5.594 5.534 4 96 1560-03 3.991 4.773 3 203 026 5.584 5.529 1 97 0270-07 3.984 4.770 3 204 1920-09 5.555 5.516 1 98 1800-06 3.685 4.628 1 205 002 5.535 5.506 4 99 097 3.644 4.609 1 206 1298-01 5.490 5.484 4 100 1556-03 3.641 4.608 4 207 129 5.466 5.473 4 101 110 3.564 4.571 2 208 0296-07 5.457 5.469 1 102 0268-07 3.353 4.471 2 209 0378-08 5.440 5.461 1 103 100 3.315 4.452 2 210 1776-06 5.427 5.455 3 104 1276-01 3.252 4.423 5 211 1506-03 5.427 5.455 4 105 1461-02 3.245 4.420 2 212 035 5.419 5.451 4 106 1878-07 3.151 4.375 2 213 0284-07 5.416 5.450 2 107 Keterangan: n : jumlah catatan laktasi 34 Lampiran 4. Data 50% Sapi FH Betina Terbaik Sebagai Ternak Pengganti di BBPTU-SP Baturraden No Identitas MPPA PBV Peringkat No Identitas MPPA PBV Peringkat 125 7.701 6.533 1 0330-07 5.976 5.715 55 1899-08 7.525 6.450 2 0336-07 5.970 5.712 56 027 7.303 6.344 3 116 5.962 5.708 57 066 7.247 6.318 4 017 5.958 5.707 58 078 7.194 6.293 5 1922-09 5.950 5.702 59 1886-07 7.172 6.282 6 063 5.948 5.701 60 008 7.114 6.255 7 034 5.947 5.701 61 056 7.031 6.215 8 005 5.944 5.700 62 1786-06 7.030 6.215 9 0402-08 5.941 5.698 63 067 7.016 6.209 10 1923-09 5.937 5.696 64 0030 7.008 6.205 11 1200-01 5.932 5.694 65 1874-07ET 6.975 6.189 12 074 5.903 5.680 66 076 6.947 6.176 13 1893-08 5.899 5.678 67 054 6.932 6.168 14 1766-06 5.887 5.673 68 006 6.906 6.156 15 109 5.878 5.669 69 1890-08 6.857 6.133 16 090 5.875 5.667 70 016 6.832 6.121 17 1453-02 5.815 5.639 71 028 6.818 6.115 18 1773-06 5.798 5.630 72 1889-08 6.814 6.112 19 0001 5.797 5.630 73 0306-07 6.752 6.083 20 0415-08 5.782 5.623 74 0343-07 6.748 6.081 21 0346-07 5.779 5.622 75 0269-07 6.716 6.066 22 0489-09 5.779 5.621 76 1775-06 6.694 6.056 23 049 5.770 5.617 77 1693-04 6.672 6.045 24 1909-08 5.761 5.613 78 102 6.596 6.009 25 0406-08 5.751 5.608 79 057 6.564 5.994 26 096 5.746 5.606 80 1881-07 6.530 5.978 27 052 5.746 5.606 81 1888-08 6.525 5.975 28 1711-05 5.742 5.604 82 004 6.477 5.953 29 103 5.731 5.599 83 043 6.412 5.922 30 145 5.726 5.596 84 045 6.368 5.901 31 0341-07 5.721 5.594 85 1779-06 6.355 5.895 32 123 5.714 5.591 86 095 6.353 5.894 33 1723-05 5.700 5.584 87 1729-05 6.319 5.878 34 065 5.674 5.572 88 1891-08 6.286 5.862 35 0396-08 5.669 5.570 89 35 068 6.276 5.857 36 1895-08 5.641 5.556 90 1902-08 6.268 5.854 37 1521-03 5.619 5.546 91 055 6.252 5.846 38 0441-08 5.615 5.544 92 040 6.243 5.842 39 1695-04A 5.607 5.540 93 092 6.211 5.827 40 0475-09 5.603 5.538 94 001 6.208 5.825 41 099 5597 5.535 95 133 6.195 5.819 42 093 5.594 5.534 96 1892-08 6.178 5.811 43 026 5.584 5.529 97 139 6.150 5.798 44 1920-09 5.555 5.516 98 050 6.147 5.796 45 002 5.535 5.506 99 1614-04 6.088 5.768 46 1298-01 5.490 5.484 100 0427-08 6.050 5.750 47 129 5.466 5.473 101 101 6.033 5.742 48 0296-07 5.457 5.469 102 036 6.032 5.742 49 0378-08 5.440 5.461 103 1774-06 6.031 5.741 50 1776-06 5.427 5.455 104 046 6.018 5.735 51 1506-03 5.427 5.455 105 094 5.996 5.725 52 035 5.419 5.451 106 084 5.990 5.722 53 0284-07 5.416 5.450 107 012 5.989 5.721 54 36 Lampiran 5. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Kurang dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari Jumlah Hari Laktasi 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 Umur ≤ 36 bulan 8,32 6,24 4,99 4,16 3,58 3,15 2,82 2,55 2,34 2,16 2,01 1,88 1,77 1,67 1,58 1,51 1,44 1,38 1,32 1,27 1,23 1,19 1,15 1,12 1,08 1,06 1,03 1,01 Umur > 36 bulan 7,42 5,57 4,47 3,74 3,23 2,85 2,56 2,32 2,13 1,98 1,85 1,73 1,64 1,55 1,48 1,41 1,35 1,30 1,26 1,22 1,18 1,14 1,11 1,09 1,06 1,04 1,03 1,01 37 Lampiran 6. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Lebih dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari Hari 305 – 308 309 – 312 313 – 316 317 – 320 321 – 324 325 – 328 329 – 332 333 – 336 Faktor 1,00 0,99 0,98 0,97 0,96 0,95 0.94 0,93 Hari 337 – 340 341 – 344 345 – 348 349 – 352 353 – 356 357 – 360 361 – 364 365 Faktor 0,92 0,91 0,90 0,89 0,88 0,87 0,86 0,85 38 Lampiran 7. Faktor Koreksi untuk Menyesuaikan Umur Sapi ke Arah Umur Dewasa Umur (tahun - bulan) 1–9 1 – 10 1 – 11 2–0 2–1 2–2 2–3 2–4 2–6 2–7 2–8 2–9 2 – 10 2 – 11 3–0 3–1 3–3 3–4 3–5 3–6 3–7 3–8 3–9 3 – 10 3 – 11 4–0 4–1 4–2 4–3 4–4 4–5 4–6 4–7 FKU 1,37 1,35 1,33 1,31 1,30 1,29 1,28 1,26 1,24 1,23 1,22 1,21 1,20 1,19 1,18 1,17 1,15 1,14 1,13 1,12 1,12 1,11 1,10 1,10 1,09 1,08 1,07 1,06 1,05 1,05 1,04 1,04 1,03 Umur (tahun - bulan) 4–8 4–9 4 – 10 4 – 11 5–0 5–1 5–2 5–3 5–4 5–5 5–6 5–7 5–9 5 – 10 5 – 11 6–0 6–1 8–5 8–6 8–7 8–8 8–9 8 – 10 8 – 11 9–0 9–1 9–2 9–3 9–4 9–5 9–6 FKU 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,01 1,01 1,01 1,01 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,01 1,01 1,01 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,03 1,03 1,03 1,03 Umur (tahun - bulan) 9–7 9–8 9–9 9 – 10 9 – 11 10 – 0 10 – 1 10 – 2 10 – 3 10 – 8 10 – 9 10 – 10 10 – 11 11 – 0 11 – 1 11 – 2 11 – 3 11 – 6 11 – 7 11 – 10 11 – 11 12 – 2 12 – 3 12 – 6 12 – 7 12 – 10 12 – 11 13 – 2 13 – 3 13 – 6 13 – 7 13 – 11 14 - 0 FKU 1,03 1,03 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,05 1,05 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 1,07 1,07 1,08 1,08 1,09 1,09 1,10 1,10 1,11 1,11 1,12 1,12 1,13 1,13 1,14 1,14 1,15 39 DAFTAR PUSTAKA Akers, R.M. 2002. Lactation and The Mammary Glands. Iowa States Press, US. Anggraeni, A. 1995. Faktor-faktor koreksi hari laktasi dan umur untuk produksi susu sapi perah Fries Holland. Tesis. PPs IPB, Bogor. Anggraeni, A. 2012. Perbaikan genetik sifat produksi susu dan kualitas susu sapi Friesian Holstein melalui seleksi. J. Wartazoa 22 (1): 1-11. Becker, W. A. 1975. Manual of Quantitative Genetics. 4th ed. Published by Academic Enterprise. Pullman, Washington. Bourdon, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice Hall, Inc. Upper Sanddle River, New Jersey. Blakely, J & D. H. Blade. 1994. Ilmu Peternakan. 3rd ed. Penerjemah: Srigandono B. Terjemahan dari: The Science of Animal Husbandry. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Dalton, D. C. 1981. An Introduction to Practical Animal Breeding. The English Languange Book Society and Granada, London. Dewan Standardisasi Indonesia. 1992. Sapi Perah Bibit. SNI 01-2891-1992. Standardisasi Nasional Indonesia, Jakarta. Direktorat Jenderal Peternakan. 2011. Buku Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta. Direktorat Pembibitan. 2012. Pedoman Teknis Pengembangan Pembibitan Sapi Perah. Departemen Pertanian, Jakarta. Ekasanti, A., D. D. Purwantini, A., & T. A. Sadewo. 2002. Kajian respon seleksi taksiran dan nyata uji keturunan untuk evaluasi genetik pejantan sapi perah di BPT-HMT Baturraden. J. Pet. Trop. 2 (1): 1-6 Ensminger, M.E. 1980. Dairy Cattle Science. The Interstate Printers & Publishers, Inc., Danville. Falconer, D. S. & T. F. C. Mackay. 1996. Introduction to Quantitative Genetik. Longman. Gushairiyanto. 1994. Parameter genetik produksi susu dan reproduksi, evaluasi nilai pemuliaan pejantan serta induk sapi perah Fries Holland di beberapa peternakan. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Hidayat, R. 2000. Uji keturunan untuk memilih pejantan sapi perah Friesian Holstein menggunakan jumlah keturunan betina per pejantan yang berbeda di BPTHMT Baturraden. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Soedirman, Purwokerto. Indrijani, H. 2008. Penggunaan catatan produksi susu 305 hari dan catatan produksi susu test day (hari uji) untuk menduga nilai pemuliaan produksi susu sapi perah. Disertasi. PPs. Universitas Padjajaran, Bandung. 27 Indrijani, H. 2001. Penggunaan catatan test day untuk mengevaluasi mutu geneik sapi perah. Tesis. Program Pascasarjana IPB, Bogor. Kurnianto, E. 1991. Penilaian pejantan sapi perah berdasarkan catatan produksi susu sebagian. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kurnianto, E. 2009. Pemuliaan Ternak. Graha Ilmu, Yogyakarta. Kurnianto, E., I. Sumeidina, & P. P. Astuti. 2008. Evaluasi keunggulan genetik sapi perah betina untuk program seleksi. J. Indonesian Trop. Anim. and Agric. 33 (3): 186-190 Lasley, J. E. 1978. Genetiks of Livestock Improvement. 3rd ed. Prentice-Hall Inc. Engelwood Cliffs, New Jersey. Maylinda, S. 1986. Pendugaan nilai pemuliaan dan keefisienan reproduksi sapi perah di beberapa peternakan sapi perah di Kabupaten dan Kotamadya Malang. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Insitut Pertanian Bogor, Bogor. Mekir, W. S. 1982. Parameter fenotip dan genetik sifat-sifat reproduksi dan produksi sapi perah Fries Holland di beberapa perusahaan peternakan. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Miller, R. H., R. E. Pearson, M. H. Fohran, & M. E. Creegan. 2002. Methods of projecting complete lactation production from part lactation yield. J. Dairy Sci. 55: 1602-1606. Noor, R. R. 2010. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta. Nugroho, C. W. 2004. Pendugaan nilai pemuliaan dan genetic trend produksi susu di peternakan sapi perah Taurus Dairy Farm, Cicurug-Sukabumi. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Philips, J. C. J. 2002. Principles of Cattle Production. CABI Publishing, Wallingford. Schmidt, G. H. & L. D. Van Vleck. 1974. Principles of Dairy Science. W.H. Freeman and Co., San Fransisco. Siregar, S. 1990. Sapi Perah: Jenis Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penerbit Swadaya, Jakarta. Sudono, A., R. F. Rosdiana, & B. S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah secara Intensif. Cetakan I. PT Agromedia Pustaka, Jakarta. Sundasesan, D. 1975. Livestock Breeding in India. Vikar Publisher House PVT Ltd. Delhi, India. Tyler, H. D. & M. E. Ensminger. 2006. Dairy Cattle Science. 4th Edition. Prantice Hall, New Jersey. Warwick, E. J. 1983. Pemuliaan Ternak. Terjemahan J.M. Astuti & W. Hardjosubroto. Gadjah Mada University Press, Yoyakarta. Warwick, E. J. & J. E. Legates, 1979. Breeding & Improvement of Farm Animal. Tata McGraw-Hill Publishing Company, LTD., New Delhi. Zein, S. M. & R. M. Sumaprastowo. 1985. Ternak Perah. CV Yasaguna, Jakarta. 28 LAMPIRAN 29 Lampiran 1. Perhitungan Nilai Ripitabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa) Jumlah individu (n) : 213 Jumlah catatan pengukuran : 537 Koefisien komponen ragam (k1) : 2,517 Tabel 8. Analisis Sidik Ragam Ripitabilitas Sumber Keragaman db JK KT Antar Individu 212 486919743,48 2296791,243 Antar pengukuran 324 52898948,06 163268,3582 Ragam pengukuran dalam individu ( Komponen ragam antar individu Ragam individu ( ) ) : Komponen Ragam = 163268,3582 = 2296791,243 = = 851365,876 Ripitabilitas (r) = = 0,838 Galat baku r :√ = 0,018 30 Lampiran 2. Perhitungan Nilai Heritabilitas Produksi Susu (Setelah Distandardisasi pada Faktor Koreksi Lama Laktasi 305 Hari dan Umur Dewasa) Jumlah Pejantan (S) : 78 Jumlah total individu (anak) dari pejantan ke-i (n) : 196 Koefisien komponen ragam (k1) : 2,393 Tabel 9. Analisis Ragam Heritabilitas Sumber Keragaman Pejantan db 77 JK 156257672,69 KT 2029320,424 Anak 118 189432422,63 1605359,514 Komponen Ragam Komponen ragam antar pejantan : = 2029320,424 Ragam antar pejantan ( : = 177167,1169 Komponen ragam anak dalam pejantan : = 1605359,514 Heritabilitas (h2) : = 0,398 Galat baku h2 : ) √ = 0,355 31 Lampiran 3. Peringkat Sapi Friesian Holstein di BBPTU-SP Baturraden Berdasarkan Nilai MPPA dan PBV. No Identitas MPPA PBV n Peringkat No Identitas MPPA PBV n Peringkat 125 7.701 6.533 1 1 0432-08 5.405 5.444 1 108 1899-08 7.525 6.450 1 2 0481-09 5.388 5.436 1 109 027 7.303 6.344 3 3 0394-08 5.386 5.435 2 110 066 7.247 6.318 3 4 1883-07ET 5.367 5.426 1 111 078 7.194 6.293 4 5 0408-08 5.364 5.425 1 112 1886-07 7.172 6.282 1 6 0278-07 5.355 5.421 2 113 008 7.114 6.255 1 7 1870-07 5.352 5.419 2 114 056 7.031 6.215 1 8 015 5.350 5.418 1 115 1786-06 7.030 6.215 1 9 0340-07 5.326 5.407 1 116 067 7.016 6.209 4 10 022 5.323 5.406 5 117 0030 7.008 6.205 4 11 1905-08 5.297 5.393 1 118 1874-07ET 6.975 6.189 2 12 010 5.274 5.382 5 119 076 6.947 6.176 4 13 0273-07 5.260 5.375 2 120 054 6.932 6.168 4 14 1860-07 5.246 5.369 2 121 006 6.906 6.156 4 15 0420-08 5.239 5.365 1 122 1890-08 6.857 6.133 1 16 1901-08 5.233 5.363 1 123 016 6.832 6.121 4 17 0334-07 5.200 5.347 2 124 028 6.818 6.115 4 18 086 5.191 5.343 4 125 1889-08 6.814 6.112 1 19 138 5.191 5.343 4 126 0306-07 6.752 6.083 2 20 106 5.185 5.340 4 127 0343-07 6.748 6.081 1 21 0412-08 5.180 5.337 1 128 0269-07 6.716 6.066 1 22 1882-07 5.177 5.336 2 129 1775-06 6.694 6.056 1 23 1912-08 5.139 5.318 1 130 1693-04 6.672 6.045 3 24 0277-07 5.138 5.318 2 131 102 6.596 6.009 4 25 1153-00 5.134 5.316 4 132 057 6.564 5.994 1 26 024 5.125 5.311 5 133 1881-07 6.530 5.978 2 27 029 5.121 5.310 5 134 1888-08 6.525 5.975 1 28 0329-07 5.119 5.307 2 135 004 6.477 5.953 4 29 041 5.078 5.289 5 136 043 6.412 5.922 4 30 132 5.060 5.281 4 137 045 6.368 5.901 4 31 117 5.060 5.281 2 138 1779-06 6.355 5.895 4 32 0301-07 5.059 5.280 2 139 095 6.353 5.894 1 33 0430-08 5.049 5.275 1 140 1729-05 6.319 5.878 2 34 030 5.046 5.274 3 141 1891-08 6.286 5.862 2 35 009 5.045 5.273 5 142 32 068 6.276 5.857 1 36 0027 5.003 5.253 3 143 1902-08 6.268 5.854 1 37 1859-07 4.997 5.251 2 144 055 6.252 5.846 4 38 0294-07 4.988 5.247 2 145 040 6.243 5.842 5 39 0319-07 4.985 5.245 2 146 092 6.211 5.827 2 40 048 4.979 5.242 5 147 001 6.208 5.825 5 41 0404-08 4.951 5.229 2 148 133 6.195 5.819 4 42 1880-07 4.945 5.226 2 149 1892-08 6.178 5.811 1 43 144 4.932 5.220 2 150 139 6.150 5.798 4 44 0488-09 4.930 5.219 1 151 050 6.147 5.796 4 45 1846-06 4.922 5.215 3 152 1614-04 6.088 5.768 4 46 0313-07 4.915 5.212 2 153 0427-08 6.050 5.750 1 47 1907-08 4.903 5.206 1 154 101 6.033 5.742 5 48 1913-08 4.862 5.186 1 155 036 6.032 5.742 2 49 1570-03 4.856 5.184 4 156 1774-06 6.031 5.741 1 50 1885-07 4.855 5.183 1 157 046 6.018 5.735 5 51 0470-09 4.851 5.181 1 158 094 5.996 5.725 2 52 073 4.845 5.178 5 159 084 5.990 5.722 4 53 111 4.841 5.177 1 160 012 5.989 5.721 5 54 1180-00 4.814 5.164 5 161 0330-07 5.976 5.715 2 55 088 4.806 5.160 2 162 0336-07 5.970 5.712 2 56 0390-08 4.803 5.159 1 163 116 5.962 5.708 5 57 1607-03 4.799 5.157 3 164 017 5.958 5.707 2 58 013 4.796 5.155 4 165 1922-09 5.950 5.702 1 59 0376-08 4.796 5.155 2 166 063 5.948 5.701 1 60 0411-08 4.790 5.152 2 167 034 5.947 5.701 4 61 1908-08 4.781 5.148 1 168 005 5.944 5.700 2 62 098 4.733 5.125 5 169 0402-08 5.941 5.698 1 63 1780-06 4.724 5.121 1 170 1923-09 5.937 5.696 1 64 1867-07 4.710 5.114 1 171 1200-01 5.932 5.694 4 65 0389-08 4.699 5.109 1 172 074 5.903 5.680 5 66 0276-07 4.683 5.102 2 173 1893-08 5.899 5.678 2 67 038 4.683 5.102 4 174 1766-06 5.887 5.673 1 68 142 4.678 5.100 5 175 109 5.878 5.669 2 69 081 4.658 5.090 2 176 090 5.875 5.667 4 70 075 4.657 5.089 5 177 1453-02 5.815 5.639 3 71 124 4.656 5.089 3 178 1773-06 5.798 5.630 1 72 080 4.649 5.086 4 179 0001 5.797 5.630 3 73 0323-07 4.646 5.084 2 180 33 0415-08 5.782 5.623 2 74 0431-08 4.594 5.060 1 181 0346-07 5.779 5.622 2 75 079 4.579 5.052 1 182 0489-09 5.779 5.621 1 76 1637-04 4.568 5.047 4 183 049 5.770 5.617 4 77 1784-06 4.543 5.036 4 184 1909-08 5.761 5.613 1 78 1877-07 4.539 5.033 2 185 0406-08 5.751 5.608 1 79 1810-06 4.526 5.027 1 186 096 5.746 5.606 2 80 108 4.476 5.004 3 187 052 5.746 5.606 2 81 0282-07 4.457 4.995 1 188 1711-05 5.742 5.604 4 82 021 4.445 4.989 4 189 103 5.731 5.599 5 83 1597-03 4.415 4.974 4 190 145 5.726 5.596 2 84 115 4.403 4.969 4 191 0341-07 5.721 5.594 2 85 114 4.385 4.960 5 192 123 5.714 5.591 3 86 037 4.364 4.950 4 193 1723-05 5.700 5.584 2 87 0291-07 4.363 4.950 2 194 065 5.674 5.572 1 88 1894-08 4.341 4.939 1 195 0396-08 5.669 5.570 1 89 0344-07 4.329 4.934 2 196 1895-08 5.641 5.556 1 90 0315-07 4.279 4.910 1 197 1521-03 5.619 5.546 4 91 137 4.202 4.873 1 198 0441-08 5.615 5.544 1 92 1791-06 4.200 4.872 2 199 1695-04A 5.607 5.540 4 93 0274-07 4.124 4.836 2 200 0475-09 5.603 5.538 1 94 1267-01 4.074 4.813 4 201 099 5597 5.535 6 95 113 4.046 4.800 2 202 093 5.594 5.534 4 96 1560-03 3.991 4.773 3 203 026 5.584 5.529 1 97 0270-07 3.984 4.770 3 204 1920-09 5.555 5.516 1 98 1800-06 3.685 4.628 1 205 002 5.535 5.506 4 99 097 3.644 4.609 1 206 1298-01 5.490 5.484 4 100 1556-03 3.641 4.608 4 207 129 5.466 5.473 4 101 110 3.564 4.571 2 208 0296-07 5.457 5.469 1 102 0268-07 3.353 4.471 2 209 0378-08 5.440 5.461 1 103 100 3.315 4.452 2 210 1776-06 5.427 5.455 3 104 1276-01 3.252 4.423 5 211 1506-03 5.427 5.455 4 105 1461-02 3.245 4.420 2 212 035 5.419 5.451 4 106 1878-07 3.151 4.375 2 213 0284-07 5.416 5.450 2 107 Keterangan: n : jumlah catatan laktasi 34 Lampiran 4. Data 50% Sapi FH Betina Terbaik Sebagai Ternak Pengganti di BBPTU-SP Baturraden No Identitas MPPA PBV Peringkat No Identitas MPPA PBV Peringkat 125 7.701 6.533 1 0330-07 5.976 5.715 55 1899-08 7.525 6.450 2 0336-07 5.970 5.712 56 027 7.303 6.344 3 116 5.962 5.708 57 066 7.247 6.318 4 017 5.958 5.707 58 078 7.194 6.293 5 1922-09 5.950 5.702 59 1886-07 7.172 6.282 6 063 5.948 5.701 60 008 7.114 6.255 7 034 5.947 5.701 61 056 7.031 6.215 8 005 5.944 5.700 62 1786-06 7.030 6.215 9 0402-08 5.941 5.698 63 067 7.016 6.209 10 1923-09 5.937 5.696 64 0030 7.008 6.205 11 1200-01 5.932 5.694 65 1874-07ET 6.975 6.189 12 074 5.903 5.680 66 076 6.947 6.176 13 1893-08 5.899 5.678 67 054 6.932 6.168 14 1766-06 5.887 5.673 68 006 6.906 6.156 15 109 5.878 5.669 69 1890-08 6.857 6.133 16 090 5.875 5.667 70 016 6.832 6.121 17 1453-02 5.815 5.639 71 028 6.818 6.115 18 1773-06 5.798 5.630 72 1889-08 6.814 6.112 19 0001 5.797 5.630 73 0306-07 6.752 6.083 20 0415-08 5.782 5.623 74 0343-07 6.748 6.081 21 0346-07 5.779 5.622 75 0269-07 6.716 6.066 22 0489-09 5.779 5.621 76 1775-06 6.694 6.056 23 049 5.770 5.617 77 1693-04 6.672 6.045 24 1909-08 5.761 5.613 78 102 6.596 6.009 25 0406-08 5.751 5.608 79 057 6.564 5.994 26 096 5.746 5.606 80 1881-07 6.530 5.978 27 052 5.746 5.606 81 1888-08 6.525 5.975 28 1711-05 5.742 5.604 82 004 6.477 5.953 29 103 5.731 5.599 83 043 6.412 5.922 30 145 5.726 5.596 84 045 6.368 5.901 31 0341-07 5.721 5.594 85 1779-06 6.355 5.895 32 123 5.714 5.591 86 095 6.353 5.894 33 1723-05 5.700 5.584 87 1729-05 6.319 5.878 34 065 5.674 5.572 88 1891-08 6.286 5.862 35 0396-08 5.669 5.570 89 35 068 6.276 5.857 36 1895-08 5.641 5.556 90 1902-08 6.268 5.854 37 1521-03 5.619 5.546 91 055 6.252 5.846 38 0441-08 5.615 5.544 92 040 6.243 5.842 39 1695-04A 5.607 5.540 93 092 6.211 5.827 40 0475-09 5.603 5.538 94 001 6.208 5.825 41 099 5597 5.535 95 133 6.195 5.819 42 093 5.594 5.534 96 1892-08 6.178 5.811 43 026 5.584 5.529 97 139 6.150 5.798 44 1920-09 5.555 5.516 98 050 6.147 5.796 45 002 5.535 5.506 99 1614-04 6.088 5.768 46 1298-01 5.490 5.484 100 0427-08 6.050 5.750 47 129 5.466 5.473 101 101 6.033 5.742 48 0296-07 5.457 5.469 102 036 6.032 5.742 49 0378-08 5.440 5.461 103 1774-06 6.031 5.741 50 1776-06 5.427 5.455 104 046 6.018 5.735 51 1506-03 5.427 5.455 105 094 5.996 5.725 52 035 5.419 5.451 106 084 5.990 5.722 53 0284-07 5.416 5.450 107 012 5.989 5.721 54 36 Lampiran 5. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Kurang dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari Jumlah Hari Laktasi 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 Umur ≤ 36 bulan 8,32 6,24 4,99 4,16 3,58 3,15 2,82 2,55 2,34 2,16 2,01 1,88 1,77 1,67 1,58 1,51 1,44 1,38 1,32 1,27 1,23 1,19 1,15 1,12 1,08 1,06 1,03 1,01 Umur > 36 bulan 7,42 5,57 4,47 3,74 3,23 2,85 2,56 2,32 2,13 1,98 1,85 1,73 1,64 1,55 1,48 1,41 1,35 1,30 1,26 1,22 1,18 1,14 1,11 1,09 1,06 1,04 1,03 1,01 37 Lampiran 6. Faktor Koreksi Panjang Laktasi Lebih dari 305 Hari Menjadi Panjang Laktasi 305 Hari Hari 305 – 308 309 – 312 313 – 316 317 – 320 321 – 324 325 – 328 329 – 332 333 – 336 Faktor 1,00 0,99 0,98 0,97 0,96 0,95 0.94 0,93 Hari 337 – 340 341 – 344 345 – 348 349 – 352 353 – 356 357 – 360 361 – 364 365 Faktor 0,92 0,91 0,90 0,89 0,88 0,87 0,86 0,85 38 Lampiran 7. Faktor Koreksi untuk Menyesuaikan Umur Sapi ke Arah Umur Dewasa Umur (tahun - bulan) 1–9 1 – 10 1 – 11 2–0 2–1 2–2 2–3 2–4 2–6 2–7 2–8 2–9 2 – 10 2 – 11 3–0 3–1 3–3 3–4 3–5 3–6 3–7 3–8 3–9 3 – 10 3 – 11 4–0 4–1 4–2 4–3 4–4 4–5 4–6 4–7 FKU 1,37 1,35 1,33 1,31 1,30 1,29 1,28 1,26 1,24 1,23 1,22 1,21 1,20 1,19 1,18 1,17 1,15 1,14 1,13 1,12 1,12 1,11 1,10 1,10 1,09 1,08 1,07 1,06 1,05 1,05 1,04 1,04 1,03 Umur (tahun - bulan) 4–8 4–9 4 – 10 4 – 11 5–0 5–1 5–2 5–3 5–4 5–5 5–6 5–7 5–9 5 – 10 5 – 11 6–0 6–1 8–5 8–6 8–7 8–8 8–9 8 – 10 8 – 11 9–0 9–1 9–2 9–3 9–4 9–5 9–6 FKU 1,03 1,03 1,03 1,03 1,03 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,01 1,01 1,01 1,01 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,01 1,01 1,01 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,02 1,03 1,03 1,03 1,03 Umur (tahun - bulan) 9–7 9–8 9–9 9 – 10 9 – 11 10 – 0 10 – 1 10 – 2 10 – 3 10 – 8 10 – 9 10 – 10 10 – 11 11 – 0 11 – 1 11 – 2 11 – 3 11 – 6 11 – 7 11 – 10 11 – 11 12 – 2 12 – 3 12 – 6 12 – 7 12 – 10 12 – 11 13 – 2 13 – 3 13 – 6 13 – 7 13 – 11 14 - 0 FKU 1,03 1,03 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,04 1,05 1,05 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 1,06 1,07 1,07 1,08 1,08 1,09 1,09 1,10 1,10 1,11 1,11 1,12 1,12 1,13 1,13 1,14 1,14 1,15 39
Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian Holstein Betina di BBPTU-Sapi Perah Baturraden, Purwokerto
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Potensi Genetik Produksi Susu Sapi Friesian H..

Gratis

Feedback