PENERAPAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING PASCA SERTIFIKASI (STUDI DESKRIPTIF PADA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMP NEGERI SE KABUPATEN REMBANG TAHUN AJARAN 2012 2013)

Gratis

10
90
138
3 years ago
Preview
Full text
PENERAPAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING PASCA SERTIFIKASI (STUDI DESKRIPTIF PADA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMP NEGERI SE-KABUPATEN REMBANG TAHUN AJARAN 2012/2013) Skripsi Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang oleh Martya Eko Eriyono 1301406005 JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2013 HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Bimbingan Dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Rabu Tanggal : 20 Februari 2013 Panitia Ujian, Ketua Sekretaris Prof. Dr. Haryono, M. Psi. NIP. 19510801 197903 1 007 Kusnarto Kurniawan, M. Pd., Kons. NIP. 19780701 200604 1 002 Penguji Utama Drs. Heru Mugiarso, M. Pd., Kons. NIP. 19610602 198403 1 002 Penguji/Pembimbing I Penguji/Pembimbing II Prof. Dr. Sugiyo, M. Si. NIP. 19520411 197802 1 001 Dr. Awalya, M. Pd., Kons. NIP. 19601101 198710 2 001 ii PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang, 20 Januari 2013 Martya Eko Eriyono NIM. 1301406005 iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO ”Barang-siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Al Qur’an Surat Ath-Thalaq ayat 4) PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk : 1. Kedua orang tuaku Ibu Sulastri dan Bapak Suyono yang selalu mendoakanku dan telah banyak berjuang untukku demi kelulusanku 2. Adikku Norma yang selalu memberiku dukungan 3. Teman-teman seperjuanganku Bagus, Akbar, dan Rina yang selalu memotivasiku 4. Teman-teman mahasiswa Bimbingan dan Konseling. 5. Almamaterku iv KATA PENGANTAR Alhamdulillahi robbil alamin, segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Kompetensi Profesional Guru Bimbingan Dan Konseling Pasca Sertifikasi (Studi Deskriptif Pada Guru Bimbingan Dan Konseling SMP Negeri Se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/ 2013)”. Skripsi ini menyajikan tentang penerapan kompetensi profesional oleh Guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri seKabupaten Rembang. Penulis menyadari adanya dukungan dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Hanya ucapan terima kasih sebesar-besarnya yang dapat penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini, yaitu kepada : 1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M. Si., Rektor UNNES yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh studi di UNNES. 2. Drs. Hardjono, M. Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Drs. Eko Nusantoro, M. Pd., Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan dorongan dalam penulisan skripsi ini. 4. Prof. Dr. Sugiyo, M. Si. Dosen pembimbing I yang telah memberikan saran dan bimbingan dalam penyusunan skipsi ini. v 5. Dr. Awalya, M. Pd, Kons., Dosen pembimbing II yang telah memberikan motivasi dan kesabaran dalam membimbing penyusunan skipsi ini. 6. Drs. Heru Mugiarso, M. Pd., Kons., Dosen penguji utama dengan bijaksana memberikan arahan sehingga penulisan skripsi ini menjadi lebih baik. 7. Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Rembang yang telah memberikan ijin dalam mengadakan penelitian. 8. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang yang telah memberikan ijin dalam mengadakan penelitian. 9. Kepala SMP Negeri se-Kabupaten Rembang yang telah memberikan ijin dalam mengadakan penelitian. 10. Guru SMP Negeri se-Kabupaten Rembang sebagai responden penelitian yang telah memberikan waktu dan kerja samanya. 11. Teman-teman Lembaga Winprime, Kabkid’s Band, dan Kempet Kost yang selalu menghibur dan memberikan semangat selama proses pengerjaan skripsi. 12. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca dan dapat memberikan kontribusi di dunia pendidikan. Terima kasih. Semarang, Februari 2013 vi ABSTRAK Eriyono, Martya Eko. 2013. Penerapan Kompetensi Profesional Guru Bimbingan Dan Konseling Pasca Sertifikasi (Studi Deskriptif Pada Guru Bimbingan Dan Konseling SMP Negeri Se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/2013). Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Prof. Dr. Sugiyo, M. Si., Pembimbing II: Dr. Awalya, M. Pd., Kons. Kata kunci : kompetensi profesional guru BK, sertifikasi guru Fenomena di Lapangan melalui wawancara dengan beberapa guru BK menunjukan bahwa guru BK belum optimal dalam merancang program BK, mengimplemetasikan program BK yang komprehensif, serta mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. Guru BK yang telah mendapatkan sertifikat juga belum menunjukkan hasil maksimal sebagaimana yang diharapkan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan kompetensi profesional oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/2013? Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang penerapan kompetensi profesional oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Populai penelitian ini adalah guru BK SMP Negeri se-Kabupaten Rembang yang telah bersertifikat pendidik. Sampel penelitian diambil seluruhnya dari jumlah populasi sebanyak 27 guru BK. Variabel dalam penelitian ini merupakan variabel tunggal yaitu penerapan kompetensi profesional oleh guru BK. Metode pengumpulan data menggunakan angket. Pada taraf signifikansi 5% dan N 20 pada angket terdapat 25 item pernyataan yang tidak valid dari 102 item karena rtabel > rhitung. Reliabilitas, pada rtabel 0,195 diperoleh hasil 0,972 artinya rtabel < rhitung sehingga dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel. Hasil analisis deskriptif persentase diperoleh rata-rata persentase sebesar 76,24% dengan kriteria tinggi. Penerapan sub variabel menguasai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konseling memperoleh persentase 80,77% dengan kriteria tinggi, sub variabel merancang program bimbingan dan konseling memperoleh persentase 79,10% dengan kriteria tinggi, sub variabel mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif memperoleh persentase 71,11% dengan kriteria tinggi, dan sub variabel menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling memperoleh persentase sebesar 68,00% dengan kriteria sedang. vii Kesimpulan penelitian ini adalah pada umumnya guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik pada SMP Negeri se-Kabupaten Rembang telah menerapkan dengan secara baik kompetensi profesional konselor dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling. Disarankan guru BK selalu melatih dan mengasah perangkat kompetensi yang dimiliki, khususnya dalam memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli, mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling, serta menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. viii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................. i PENGESAHAN ........................................................................................... ii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ................................................ iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................ iv KATA PENGANTAR ................................................................................. v ABSTRAK ................................................................................................... vii DAFTAR ISI ................................................................................................ ix DAFTAR TABEL ....................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xii i BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................. 1.5 Sistematika Skripsi .................................................................................. 1 10 11 12 14 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 2.2 Kompetensi Profesional Guru Bimbingan dan Konseling ...................... 2.2.1 Pengertian Kompetensi ................................................................. 2.2.2 Kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling .............................. 2.2.3 Kompetensi Profesional Guru BK ………………………….......... 2.2.4 Guru Bimbingan dan Konseling .................................................. 2.2.5 Guru Bimbingan dan Konseling Profesional ................................ 2.2.6 Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor ......................... 2.2.7 Kredensialisasi Profesi Konseling ................................................. 2.3 Sertifikasi Guru ……………………………............................................ 2.3.1 Pengertian Sertifikasi Guru …... ………........................................ 2.3.2 Tujuan Dan Manfaat Sertifikasi Guru …..………...................... 2.3.3 Landasan Sertifikasi Guru ………………………………………. 2.3.4 Upaya Guru BK Meningkatkan Profesionalisme ……..………… 2.3.5 Implementasi Sertifikasi Guru ………………................................ 2.4 Penerapan Kompetensi Profesional Guru BK Sekolah Pasca Sertifikasi .. 15 17 18 21 32 40 47 49 50 54 54 55 58 61 63 72 ix BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ......................................................................................... 3.2. Variabel Penelitian.................................................................................... 3.3. Populasi dan Sampel ................................................................................ 3.4. Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 3.5. Validitas dan Reliabilitas ........................................................................ 3.6. Metode Analisis Data ................................................................................ 3.7. Hasil Uji Instrumen ................................................................................... 75 76 78 80 88 90 92 BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ..................................................................................... 4.1.1 Hasil Analisis Kuantitatif ............................................................. 4.2. Pembahasan ............................................................................................ 94 96 113 BAB 5 PENUTUP 5.1. Simpulan .............................................................................................. 5.2. Saran .................................................................................................... 122 122 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ LAMPIRAN ................................................................................................ 124 126 x DAFTAR TABEL Halaman Tabel Tabel 2.1 Rambu-Rambu Struktur Kurikulum PLPG Binbingan dan Konselin...62 Tabel 3.2 Jumlah guru BK Yang Telah Mendapatkan Sertifikat Pendidik yang Tersebar Pada SMP Negeri se-Kabupaten Rembang ……….........… 80 Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penerapan Kompetensi Profesional guru BK Paska Sertifikasi …………….………..……………..….….. 84 Tabel 3.4 Kriteria Skor Jawaban……………………………………………….. 88 Tabel 3.5 Kriteria Penentuan Tingkatan Kompetensi Profesional guru BK……. 92 Tabel 4.1 Kriteria Persentase ……………………………………..…………… 95 Tabel 4.2 Distribusi Penerapan Kompetensi Profesional guru BK Paska Sertifikasi Dalam Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Secara Keseluruhan ………………………………………….…..….. 96 Tabel 4.3 Hasil Persentase Penerapan Kompetensi Profesional guru BK Paska Sertifikasi Dalam Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Secara Keseluruhan Per Sub Variabel…… 98 Tabel 4.4 Hasil persentase sub variabel menguasai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konselinng …………………………………………. 102 Tabel 4.5 Hasil frekuensi jawaban responden sub variabel menguasai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konseling ………………….….. 102 Tabel 4.6 Hasil persentase sub variabel merancang program bimbingan dan konseling ……………………………………………105 Tabel 4.7 Hasil frekuensi jawaban responden sub variabel merancang program bimbingan dan konseling…………………………………………….105 Tabel 4.8 Hasil persentase sub variabel mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif …….……………..… 108 Tabel 4.9 Hasil frekuensi jawaban responden sub variabel mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif …………… 108 Tabel 4.10 Hasil persentase sub variabel menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konselin………………………………………...….. 111 Tabel 4.11 Hasil frekuensi jawaban responden sub variabel menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling ……………..... 111 xi DAFTAR GAMBAR Halaman Diagram Diagram 4.1 Penerapan Kompetensi Profesional Guru BK Paska Sertifikasi Dalam Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Secara Keseluruhan ……………………………………………... 97 Diagram 4.2 Hasil Persentase Penerapan Kompetensi Profesional Guru BK Paska Sertifikasi Dalam Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Secara Keseluruhan Per Sub Variaabel …………….. 99 xii DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Pengembangan Kisi–Kisi Try Out Instrumen Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah …………………………… 126 Tryout Angket Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah .. 129 Tabulasi Data Tryout Angket Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah ……………………………………………………… 136 Contoh Perhitungan Validitas Angket Per-item Data Tryout Angket Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah ……………….. 144 Contoh Perhitungan Reliabilitas Angket Per-item Data Tryout Angket Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah ………………. 145 Pengembangan Kisi–Kisi InstrumenPenerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah ……………………………. 147 Angket Penelitian Penerapan Kompetensi Profesional Konselor Sekolah 150 Analisis Deskriptif Persentase Sub Variabel …………………………… 156 Analisis Deskriptif Persentase Perindikator …………………………..... 158 Daftar Responden Tryout Angket ………………………………………. 163 Daftar Responden Penelitian ……………………………………………. 164 Salinan Permendiknas No 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor ………………………………….. 166 Unjuk Kerja Konselor Unjuk Kerja Program Studi Bimbingan Dan Konseling (Konselor) ………………………………….. 175 Kode Etik Anggota Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) ……… 189 Surat Ijin Penelitian ……………………………………………………… 195 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ………………………….. 219 Foto-Foto Dokumentasi Penelitian ………………………………………. 240 xiii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Optimalisasi dalam memperkembangkan diri siswa sebagai insan yang dididik melalui jalur pendidikan formal, menjadi dasar keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah. Posisi tersebut seperti halnya kebutuhan terhadap layanan pengajaran yang diberikan oleh seorang guru mata pelajaran, sebagai komponen yang mempunyai kedudukan yang sejajar dalam pendidikan sebagai suatu sistem. Pelayanan bimbingan dan konseling pada saat ini cukup mendapat apresiasi oleh masyarakat pengguna jasa pelayanan tersebut, khususnya di sekolah-sekolah. Guna menjamin keberlangsungan pelayanan di masa depan serta menjaga kualitas pelayanan bagi pengguna jasa konseling di lembaga pendidikan khususnya di sekolah-sekolah pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Menteri No. 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Tujuan adanya Standar Akademik dan Kompetensi konselor yang dikeluarkan pemerintah tersebut adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh konselor dan guru BK sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan sebaik-baiknya. Standar Kompetensi konselor ini juga bisa digunakan sebagai 1 2 acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi konselor untuk melakukan evaluasi, pengembangan pelayanan dan sebagainya bagi tenaga kependidikan. Dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008, tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor, dijelaskan bahwa : Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling, kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sesuai dengan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang guru BK harus memiliki keempat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional dalam melaksanakan berbagai layanan bimbingan dan konseling. Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan dalam mengelola pembelajaran peserta didik, sedangkan kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, serta masyarakat sekitar, sedangkan kompetensi kepribadian yang merupakan sebuah kepribadian yang harus melekat pada pendidik yang meliputi pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia serta dapat dijadikan teladan bagi peserta didik, dan yang terakhir kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional. 3 Telah dijelaskan sebelumnya salah satu dari empat kompetensi adalah kompetensi profesional, kompetensi profesional tak kalah pentingnya dengan kompetensi lain dan perlu diperhatikan serta pemahaman yang baik dalam proses melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling. Permendiknas nomor 27 tahun 2008 menyebutkan bahwa kompetensi profesional konselor mencakup : Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli, menguasai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konseling, merancang program bimbingan dan konseling, mengimplemetasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif, menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling, memiliki kesadaran dan komitmen etika profesional, menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling. Bentuk nyata kompetensi tersebut diantaranya adalah guru BK harus mampu menguasai hakikat, menyusun, serta mengembangkan instrumen assesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling, mampu mengaplikasikan hakikat, arah profesi, dasar-dasar, dan model pendekatan pelayanan bimbingan dan konseling, mampu menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasarkan kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan, mampu melaksanakan program bimbingan dan konseling, mampu mengevaluasi hasil, proses, dan program bimbingan konseling, mampu menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik profesional konselor, mampu memahami, merancang, melaksanakan serta memanfaatkan penelitian bimbingan dan konseling. Kompetensi profesional merupakan salah satu kompetensi yang terdapat dalam Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yang terdapat 4 dalam permendiknas no 27 tahun 2008. Kompetensi profesional mencerminkan penguasaan kiat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta diasah melalui latihan secara sistematis dan sungguh-sungguh dalam menerapkan perangkat kompetensi yang diperoleh melalui pendidian akademik yang telah diperoleh itu. Sehingga nampak bahwa kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus dikuasai guru BK dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas utamanya yaitu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Bentuk penguasaan kompetensi profesional oleh guru BK dapat dilihat pada penerapan aspek-aspek kompetensi tersebut dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di lapangan. Dengan menerapkan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetesi profesional konselor maka guru BK tersebut telah menguasai tingkat kompetensi minimal sesuai SKAKK sehingga yang bersangkutan dapat diakui telah melakukan tugasnya secara profesional. Kenyataannya dilapangan menunjukkan gejala yang belum semuanya sejalan dengan kondisi-kondisi yang digambarkan di atas. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa guru BK di Kabupaten Rembang, dan pada saat melakukan observasi untuk tugas kuliah. Ditemukan bahwa masih ada guru BK SMP Negeri di Kabupaten Rembang yang belum optimal menerapkan aspek– aspek yang ada dalam kompetensi profesional. Hasil yang diperoleh guru BK belum optimal dalam merencanakan dan melaksanakan program bimbingan dan konseling. Indikator-indikator yang menguatkan temuan tersebut antara lain: a) adanya banyak kesamaan program 5 baik program tahunan, semesteran, bulanan serta harian dengan tahun sebelumnya, b) tidak adanya asesmen untuk mengetahui masalah atau kebutuhankebutuhan siswa sebagai dasar penyusunan program bimbingan dan konseling; c) konselor sekolah hanya memberikan pelayanan secara klasikal, sedangkan pelayanan dalam format individu dan kelompok jarang dilakukan. Hal ini menunjukkan guru BK belum optimal dalam menerapkan standar kompetensi profesional konselor point ke-3 dan ke-4 yang terdapat dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008, tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yang menyebutkan bahwa “Konselor harus mampu merancang program bimbingan dan konseling, dan mengimplemetasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif.” Temuan lainnya ditemukan bahwa guru BK dalam melakukan layanan konseling perorangan tidak terlalu memperhatikan tahapan-tahapan yang ada, sehingga layanan tersebut terkesan seperti ajang pemberian nasehat kepada siswa. Selain itu, guru BK juga tidak menggunakan pendekatan-pendekatan dalam konseling dan tidak terlalu memperhatikan keterampilan-keterampilan dasar dalam konseling perorangan. Hal ini juga menunjukkan guru BK belum optimal dalam menerapkan standar kompetensi profesional konselor point ke-3 butir ke-3 yang terdapat dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008, tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor yang menyebutkan bahwa “Konselor harus mampu mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.” 6 Penelitian terkait dengan penerapan kompetensi profesional guru BK di sekolah menunjukkan perilaku guru BK yang kurang profesional. Hajati (2009: 1112) tentang “Pengembangan Kompetensi Konselor Sekolah Menengah Atas Menurut Standar Kompetensi Konselor Indonesia”, diperoleh hasil diantaranya adalah “sebagian besar konselor kurang menguasai kemampuan guna mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani dan sangat kurang dalam menguasai teori, prinsip, teknik, dan prosedur bimbingan dan konseling sebagai pendekatan”. Adanya kondisi riil yang terjadi di lapangan tersebut menunjukkan bahwa beberapa guru BK belum optimal dalam menerapkan kompetensi profesional dalam menyelengglarakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Padahal kompetensi profesional mencerminkan penguasaan kiat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Apabila guru BK kurang optimal dalam menguasai dan menerapkan kompetensi profesional, maka tujuan yang diharapkan dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008, tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor tidak akan tercapai secara optimal dan dikhawatirkan akan memberikan dampak menurunnya kualitas guru BK dalam pemberian pelayanan bimbingan dan konseling. Untuk meningkatkan profesionalisme guru (termasuk guru bimbingan dan konseling) di Indonesia pemerintah mengadakan program sertifikasi guru. Sertifikasi guru merupakan pemenuhan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi profesional. Oleh karena itu, proses sertifikasi dipandang sebagai 7 bagian esensial dalam upaya memperoleh sertifikat kompetensi sesuai standar yang telah ditetapkan. Dalam Dinas Pendidikan (2008: 277) menyebutkan sertifikasi konselor (guru BK) adalah pengakuan terhadap seseorang yang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, setelah yang bersangkutan dinyatakan lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh LPTK program studi Bimbingan dan Konseling yang terakreditasi. Kompetensi yang diakses adalah penguasaan kemampuan akademik sebagai landasan keilmuan dari segi penyelenggaraan layananan ahli di bidang BK. Sertifikasi dikuatkan keberadaannya dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menyebutkan bahwa: (1) Pasal 1 butir 11: sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru dan dosen (2) Pasal 8: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (3) Pasal 11 butir 1: sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memiliki persyaratan. (4) Pasal 16: guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji, guru negeri maupun swasta dibayar pemerintah. Menurut UU No 14 Tahun 2005 sertifikasi bagian dari peningkatan dari mutu guru dan peningkatan kesejahteraannya. Oleh karena itu, lewat setifikasi ini diharapkan guru menjadi pendidik yang profesional, yaitu berpendidikan minimal S-1/D-4 dan berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikan dengan pemilihan sertifikat pendidik setelah dinyatakan lulus uji kompetensi. Atas 8 profesinya itu, ia berhak mendapatkan imbalan berupa tunjangan profesi dari pemerintah sebesar satu kali gaji pokok. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6, “keberadaan Konselor (guru BK) dalam Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur”. Guru BK yang telah memenuhi persyaratan juga bisa mengikuti program sertifikasi. Di Kabupaten Rembang terdapat 58 orang guru BK yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik, yang bertugas di sekolah negeri maupun swasta. Terdiri dari 28 orang guru BK yang bertugas di SMP, 4 orang guru BK yang bertugas di MTs, 18 orang guru BK yang bertugas di SMA, 4 orang guru BK yang bertugas di MA dan 4 orang guru BK yang bertugas di SMK. Untuk guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik yang bertugas di SMP negeri berjumlah 27 orang. Data diperoleh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang terhitung pada bulan Februari 2012. Peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi ini sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan penghasilan bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya bagus maka dapat membuahkan pelayanan yang bermutu. Secara teoritik konselor guru BK yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik diharapkan dapat memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Namun, hasil kajian Hartono (2011) menyebutkan bahwa program sertifikasi guru dalam jabatan yang telah diselenggarakan sejak tahun 2006 sampai 9 tahun 2010 melalui penilaian portofolio, bagi yang tidak lulus harus mengikuti PLPG (termasuk guru Bimbingan dan Konseling), belum mampu menunjukkan hasil yang maksimal sebagaimana yang diharapkan. Hasil kajian Hartoyo dan Baedhowi (dalam Hartono, 2011) menunjukkan bahwa motivasi guru dalam program sertifikasi guru dalam jabatan, didorong oleh motivasi finansial, bukan motivasi mengembangkan kompetensi. Hasil kajian tersebut menunjukkan ketidakprofesionalan guru BK yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam Dinas Pendidikan (2008: 278) disebutkan bahwa penyelenggaraan program sertifikasi konselor ( guru BK) dalam jabatan mengacu kepada Standar Kompetensi Konselor Indonesia (sekarang direvisi menjadi SKAKK). Hal ini sejalan seperti yang dikemukakan oleh Muslick (2009: 33-34) menyebutkan bahwa “Rujukan dasar yang digunakan dalam penyelenggaraan sertifikasi guru adalah sosok utuh kompetensi profesional guru tersebut”. Sehingga, guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik diharapkan dapat menerapkan aspek– aspek kompetensi profesional yang terdapat dalam Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Dengan menerapkan aspek-aspek yang terdapat dalam SKAKK tersebut, maka guru BK dianggap telah menguasai tingkat kompetensi minimal sesuai dengan SKAKK sehingga yang bersangkutan dapat diakui melakukan tugas-tugasnya secara profesional. Berdasarkan kondisi di atas mengenai penerapan kompetensi profesional oleh guru BK yang telah sertifikasi, yang secara teori diharapkan mampu meningkatan kompetensi profesional dengan menerapkan aspek-aspek yang 10 terdapat dalam SKAKK, mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang “Penerapan Kompetensi Profesional Guru Bimbingan Dan Konseling Pasca Sertifikasi (Studi Deskriptif Pada Guru Bimbingan Dan Konseling SMP Negeri Se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/2013)”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1.2.1 Masalah Umum Bagaimanakah penerapan kompetensi profesional oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/2013 ? 1.2.2 Masalah Khusus a. Bagaimanakah penerapan sub kompetensi mengusai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? b. Bagaimanakah penerapan sub kompetensi merancang program bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? c. Bagaimanakah penerapan sub kompetensi mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? d. Bagaimanakah penerapan sub kompetensi menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik? 11 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1.3.1 Tujuan Umum Untuk memperoleh data empiris tentang penerapan kompetensi profesional oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri se-Kabupaten Rembang Tahun Ajaran 2012/2013. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui penerapan sub kompetensi mengusai kerangka teoritik dan praksis bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik. b. Untuk mengetahui penerapan sub kompetensi merancang program bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik. c. Untuk mengetahui penerapan sub kompetensi mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik. d. Untuk mengetahui penerapan sub kompetensi menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling oleh guru BK yang telah mendapatkan sertifikat pendidik. 12 1.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut, 1.4.1 Manfaat Teoritis Sebagai suatu karya ilmiah maka hasil penelitian ini dapat diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya, maupun bagi masyarakat luas pada umumnya mengenai penerapan kompetensi profesional guru BK pasca sertifikasi di SMP Negeri se-Kabupaten Rembang. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan awal untuk penelitian lebih lanjut. 1.4.2 Manfaat Praktis Selain dilihat dari manfaat teoritis, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis yaitu antara lain, a. Bagi Guru BK, dapat dijadikan informasi atas kinerjanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan profesionalitasnya dalam penyelenggaraan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. b. Bagi Pengawas Sekolah, dapat dijadikan informasi atas kinerja guru BK, sebagai bahan masukan dalam memberikan pembinaan dan pembimbingan yang proporsional kepada guru BK yang dibina. c. Bagi Dinas Pendidikan, dapat dijadikan informasi atas kinerja guru BK, sehingga diharapkan dapat menggiatkan pelatihan yang berkaitan tentang kegiatan BK untuk meningkatkan profesionalitas konselor. 13 d. Bagi Para Peneliti, sebagai pijakan penelitian awal tentang penerapan kompetensi profesional Guru BK bagi peneliti lain, dan bila menjadi lebih sempurna bila dilengkapi dengan sub kompetensi menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli, memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional, dan menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling. 14 1.5 Sistematika Penulisan Skripsi Laporan hasil penelitian ini akan disusun dalam sistematika penulisan sebagai berikut: Bagan isi skripsi terdiri dari: Bab I : Pendahuluan Pendahuluan terdiri atas latar belakang, rumusan masalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika skripsi. Bab II : Landasan Teori Dalam bab ini membahas tentang penelitian terdahulu, kompetensi professional guru BK, sertifikasi guru, dan penerapan kompetensi profesional guru BK pasca sertifikasi. Bab III : Metode Penelitian Metode penelitian terdiri dari pendekatan yang digunakan, penetuan populasi dan sampel, metode pengumpulan data serta instrument yang akan digunakan, uji validitas dan reliabilitas, dan metode analisis data. Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada bab ini dibicarakan tentang data-data hasil penelitian deskriptif dan pembahasannya. Bab V : Penutup Berisi kesimpulan dan saran. BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu Sebelum diuraikan mengenai kajian pustaka yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai penerapan kompetensi profesional guru BK pasca sertifikasi, maka terlebih dahulu peneliti akan memaparkan beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian pertama dilakukan Istikomah (2008: vii) dengan judul “Profesionalisasi Konselor di SMA Negeri Se-Kabupaten Rembang”. Hasil penelitian diketahui dari 30 konselor di SMA Negeri se-Kabupaten Rembang sebanyak 26 konselor (86.7%) memiliki kompetensi dalam kategori sedang, dan 4 konselor (13.3%) dalam kategori tinggi. Simpulan yang dapat diambil adalah tugas pokok dan peranan konselor dalam pelaksanaan bimbingan konseling di SMA se-Kabupaten Rembang kebanyakan sudah cukup baik. Tingkat profesionalisasi konselor dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah rata-rata dalam kategori sedang. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis deskriptif terdapat 26 konselor (86.7%) memiliki kompetensi dalam kategori sedang. Terdapat keterkaitan antara penelitian yang dilakukan oleh Istikomah (2008: vii) dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Penelitian yang berjudul Profesionalisasi Konselor di SMA Negeri Se-Kabupaten Rembang memberikan gambaran awal tentang profesionalisasi yang dimiliki konselor SMA 15 16 se-Kabupaten Rembang yang mempunyai kategori sedang. Secara teoritis guru BK yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik diharapkan profesional dan mempunyai kategori profesionalitas lebih baik dibanding konselor yang belum mendapatkan setifikat pendidik. Penelitian selanjutnya yang relevan dengan judul penelitian tentang kompetensi profesional adalah penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2011: vii), skripsi dengan judul “Tingkat Profesionalitas Konselor di SMA Negeri Se Kabupaten Batang Tahun Ajaran 2010/2011”. Dari hasil penelitian diketahui bahwa secara keseluruhan kompetensi konselor sekolah menengah atas Se Kabupaten Batang termasuk dalam kriteria baik yaitu dengan prosentase hasil 78,92%. Hal ini menunjukkan bahwa konselor sekolah menengah atas Se-Kabupaten Batang telah menguasai profesionalitas sebagai konselor yang baik. Kaitan antara penilitian yang dilakukan oleh Aziz (2011: vii) dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah guru BK diharapkan menguasai kompetensi profesional sehingga guru BK memiliki profesionalitas yang baik. Begitu juga guru BK yang sertifikasi harus memiliki dan mengusai kompetensi profesional dengan baik pula. Sehingga guru BK yang sudah sertifikasi menjadapat jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru BK. 17 Penelitian selanjutnya yang relevan dengan judul penelitian tentang sertifikasi guru adalah penelitian yang dilakukan oleh Anoraga (2011: viii) dengan judul “Kinerja Guru SMP Se Kota Semarang Pasca Sertifikasi”. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata guru bersertifikat pendidik sebesar 88,5, sedangkan nilai rata-rata guru yang belum bersertifikat pendidik sebesar 66,5. Kemudin sebesr 85% kinerja guru yang bersertifikat masuk kriteria sangat tinggi, sedangkan 75% kinerja guru yang belum bersertifikat masuk pada kriteria cukup. Berarti kinerja guru bersertifikat lebih baik daripada kinerja guru yang belum bersertifikat pendidik. Kemudian pada uji t diperoleh thitung (13,6) > ttabel (2,02) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara guru yang bersertifikat pendidik dengan guru yang belum bersertifikat pendidik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: bahwa terdapat perbedaan kinerja guru bersertifikat pendidik dan yang belum bersertifikat pendidik, dan kinerja guru yang bersertifikat pendidik lebih baik daripada kinerja guru yang belum bersertifikat pendidik. Kaitan penelitian yang dilakukan Anoraga (2005: vii) dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah guru BK yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik harusnya menampilkan kinerja yang bermutu dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan konseling di sekolah. 2.2 Kompetensi Profesional Guru Bimbingan Dan Konseling Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru sebagai tenaga kependidikan yang harus dapat menunjukkan kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan yang akan menentukan guru tersebut kompeten atau tidak kompeten. Berdasarkan Permendiknas No. 27 18 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor disebutkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki guru BK mencakup empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Akan tetapi disini peneliti ingin menekankan pada salah satu kompetensi saja yaitu kompetensi profesional yang harus dimiliki seorang guru BK dalam menjalankan tugasnya dan memberikan pelayanan kepada siswa didik. Maksud peneliti disini bukan ingin mengedepankan kompetensi profesional saja, tetapi ingin menitik beratkan pada sub bahasan kompetensi profesional tanpa ada deskriminasi dari keseluruhan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru BK profesional, karena keempat kompetensi harus dimiliki. 2.2.1 Pengertian Kompetensi Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi disamping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi dan kredensi yang ditetapkan dalam prosedur dan sistem pengawasan tertentu. Kompetensi mengarah pada sikap, kepribadian, profesionalitas yang harus dimiliki anggota profesi untuk dapat sesuai dengan kompetensi profesinya. Kompetensi dapat diartikan kemampuan, kecakapan dan wewenang. Menurut Usman yang dikutip oleh Saudagar dan Idrus (2009: 30) menyebutkan bahwa kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang baik yang kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan kualitatif seseorang adalah kemampuan sikap dan perbuatan seseorang yang hanya dapat dinilai dengan ukuran baik dan buruk. Sedangkan kuantitatif adalah kemampuan seseorang yang dapat dinilai dengan ukuran. 19 Kompetensi yang terdapat dalam pengertian di atas dapat digunakan dalam dua konteks. Pertama, sebagai indikator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati, yakni seperangkat teori ilmu pengetahuan dalam bidangnya. Kedua, sebagai konsep yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh. Kompetensi merupakan sebuah kontinum perkembangan mulai dari proses kesadaran, akomodasi, dan tindakan nyata sebagai wujud kinerja. Sebagai satu keutuhan, kompetensi konselor merujuk pada sebuah konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel (ABKIN, 2005: 96). Menurut Gordon yang dikutip oleh Mulyasa (2002: 38) mengemukakan ada beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut: 1) Pengetahuan (knowledge) Yang dimaksud dengan pengetahuan (knowledge) disini adalah kesadaran dalam bidang kognitif. Kognitif disini adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Proses yang dilakukan kognitif adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. 2) Pemahaman (Undertanding) Yang dimaksud dengan pemahaman (undertanding) yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Aspek afektif adalah aspek 20 yang berkaitan dengan sikap, nilai, dan perilaku atau lebih pada pengelolan emosi dan rasa. Jadi pemahaman dalam ranah kompetensi adalah penggabungan antara cara berfikir dan pengelolaan emosi. 3) Kemampuan (skill) Yang dimaksud dengan kemampuan (skill) adalah suatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Skil yang tinggi akan mendukung seseorang dalam mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan skilnya. Sebagai contoh seorang yang mempunyai skil dalam bermain gitar, akan lebih optimal hasil pekerjaannya di bidang musik seperti group band. 4) Nilai (value) Yang dimaksud dengan nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Nilai disini adalah tentang suatu yang dianggap benar dan salah. Misalnya berbuat curang itu salah maka seseorang akan merasa bersalah jika melakukan kecurangan. 5) Sikap (attitude) Yang dimaksud dengan sikap (attitude) adalah perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Sikap yang tanggap dan cekatan merupakan ciri dari seseorang yang mempunyai kompetensi tinggi. Dia akan selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. 21 6) Minat (Interest) Yang dimaksud dengan minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Jika seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, dia akan melakukan pekerjaan itu dengan senang hati sehingga akan mempengarui kompetensinya dalam mengerjakan suatu pekerjaan itu. Berdasarkan pengertian kompetensi di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan seperangkat perilaku dari seseorang berupa sikap, karakteristik pribadi, keterampilan, kemampuan, serta pengetahuan yang mengarah kepada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan yang efisien. 2.2.2 Kompetensi Guru Bimbingan Dan Konseling Kompetensi merupakan seperangkat perilaku dari seseorang berupa sikap, karakteristik pribadi, keterampilan, kemampuan, serta pengetahuan yang mengarah kepada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan yang efisien. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Depdiknas, 2005a), dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Depdiknas, 2005b), dikemukakan empat kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran. Kompetensi tersebut mencakup kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. 22 Proses pembelajaran, yang dalam pelayanan konseling berbentuk proses konseling merupakan kondisi yang secara dinamis, strategis langsung dikembangkan oleh guru BK terhadap klien. Proses konseling inilah yang menjadi tugas pokok guru BK profesional. Untuk mampu mewujudkan proses konseling yang efektif guru BK profesional dituntut menguasai berbagai kompetensi yang mendukung profesi guru BK. Kompetensi guru BK yang dimaksud disini mengacu pada Standar Kompetensi Konselor (SKK) yang terdapat dalam Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor (SKAKK) yang dirumuskan dalam permendiknas No. 27 Tahun 2008. 1. Standar Kompetensi Konselor Dalam Permendiknas nomor 27 tahun 2008 yang dikutip dalam Payong (2011: 304) tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK), dijelaskan bahwa : Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling, kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sesuai dengan Permendiknas nomor 27 tahun 2008 tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang guru BK harus memiliki keempat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Untuk lebih jelasnya keempat kompetensi tersebut akan dipaparkan dibawah: 23 1) Kompetensi Pedagogik Pedagodik berarti segala usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk membimbing anak muda menjadi manusia dewasa dan matang. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Mulyasa, 2009: 75). Dalam hal ini kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru BK yaitu kemampuan dalam memberikan bimbingan belajar bagi siswa terutama siswa yang malas belajar. Dalam Standar Kompetensi Konselor menurut Permendiknas nomor 27 tahun 2008, kompetensi pedagogik dijabarkan menjadi beberapa indikator, yaitu: a. Menguasai teori dan praksis pendidikan Tugas konselor adalah memberikan pelayanan kepada konseli. Seorang guru BK harus bisa menguasai teori yang ada berdasarkan landasan keilmuannya sehingga teori tersebut dapat digunakan untuk bekal guru BK dalam memberikan pelayanan kepada siswa. Dengan teori yang matang maka kemampuan dalam memberikan layananpun akan lebih optimal. 24 b. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli. Dalam layanan konseling guru BK yang baik harus mengetahui dan mencatat setiap perkembangan yang ada yang terjadi pada konseli, baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis. Data perkembangan tadi sangat berguna untuk menentukan pemberian layanan yang tepat dalam tahap konseling selanjutnya. c. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan. Setiap guru BK profesional dituntut untuk fleksibel menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam semua jalur, jenis dan jenjang satuan pendidikan. Karena ruang lingkup guru BK sangatlah luas dalam bidang pendidikan. Dengan dikuasainya esensi pelayanan bimbingan dan konseling tersebut maka guru BK akan siap ditugaskan di mana saja yang sesuai dengan jalurnya. Kaitan kompetensi pedagogik dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah kompetensi pedagogik merupakan bagian dari komponen pembentuk profesionalisme konselor. Dengan memiliki kompetensi pedagogik yang baik guru BK mampu mengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. 2) Kompetensi kepribadian Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku yang memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam kehidupan 25 sehari-hari. Guru BK harus mempunyai kepribadian yang mantap artinya mampu mengendalikan diri dan memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada sisw

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PELAKSANAAN LAYANAN DAN KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SMP NEGERI SE-KECAMATAN TULANG BAWANG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
12
86
KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP NEGERI SE KOTA CILACAP TAHUN PELAJARAN 2012 2013
2
44
169
STUDI DESKRIPTIF PEMAHAMAN GURU BK TERHADAP BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA KABUPATEN LANGKAT TAHUN AJARAN 2012/2013.
0
1
55
PROGRAM PENINGKATAN KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING BERDASARKAN HASIL ANALISIS KINERJA PROFESIONAL: Studi Kasus terhadap Guru Bimbingan dan Konseling di Kabupaten Bandung Barat.
0
4
52
Model Pelatihan Berbasis Kompetensi untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Bimbingan dan Konseling di SMK Se-Kota Pontianak.
1
12
36
KOMPETENSI PENGETAHUAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MERANCANG PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF DI SEKOLAH :Studi Deskriptif terhadap Guru Bimbingan dan Konseling pada SMA Negeri di Kabupaten Bandung Barat Tahun Ajaran 2013/2014.
0
2
43
PROFIL KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI : Studi Deskriptif Terhadap Guru Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cimahi Tahun Ajaran 2012/2013.
0
0
43
Upaya–upaya guru bimbingan dan konseling meningkatkan kompetensi profesional (studi deskriptif analitis pada guru–guru bimbingan dan konseling Yayasan IPEKA Jakarta tahun ajaran 2015/2016).
0
2
165
IbM guru bimbingan dan konseling: upaya peningkatan kompetensi profesional.
0
0
17
HUBUNGAN PROFESIONALITAS GURU DAN PENGELOLAAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KINERJA GURU BIMBINGAN KONSELING SMP KOTA SALATIGA.
0
0
10
TINGKAT PENGUASAAN KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI SE-KOMISARIAT 1 KABUPATEN CIAMIS.
0
0
240
KOMPETENSI SOSIAL GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI DI KABUPATEN SLEMAN.
0
2
194
TINGKAT PEMAHAMAN KETERAMPILAN KONSELING PADA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMA NEGERI SE-KABUPATEN BANTUL.
0
1
255
Peningkatan Profesional Guru Bimbingan Dan Konseling
0
0
13
PERAN MUSWARAH GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (MGBK) DAN KOMPETENSI PROFESIONAL KONSELOR DI SMP NEGERI SE-KOTA SEMARANG TAHUN 2015 -
0
3
66
Show more