Two Step Intermediation Dalam Sistem Aku

Gratis

0
7
62
2 years ago
Preview
Full text
Two Step Intermediation Dalam Sistem Akuntansi Perbankan Syariah Di Indonesia Khairun Fajri Arief, SE Forum Riset Perbankan Syariah 2010 ABSTRAK TWO STEP INTERMEDIATION DALAM SISTEM AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Oleh Khairun Fajri Arief Tujuan utama dari sistem ekonomi Islam adalah menciptakan sebuah kerangka kerja sistem yang transformatif, adil, akuntabel, maslahat dan tidak menimbulkan kerusakan. Adanya Zakat dan mekanisme Non-Ribawi, harus dilihat dalam kerangka kerja sistem tersebut secara keseluruhan.Artinya zakat dan Non-Ribawi sistem dapat dikatakan sebagai salah satu perangkat Instrumental yang paling penting, tapi bukan satu-satunya. Dalam usaha menjadikan perbankan sebagai kombinasi zakat, perbankan syariah dapat mengkonstruksi sebuah sistem kombinasi perbankan-zakat yang disebut: Intermediasi 2 tahap ( Two Step Intermediation. ) yang pada prinsipnya adalah sebuah usaha untuk menjadikan Perbankan Syariah sebagai sebuah institusi pemungut zakat yang agregatif dan akseleratif agar dapat menjadi sarana Intermediasi perangkat produksi ( Intermediasi Tahap I). Setelah intermediasi tahap satu berhasil, Mustahik yang telah cukup mampu untuk mandiri akan dijadikan sebagai mitra binaan perbankan dan pada saatnya nanti akan mendapatkan dana Intermediasi perbankan. ( Intermediasi tahap II). Terobosan-terobosan baru ini, harus mampu kita sajikan dalam rangka menghadirkan Islam sebagai sebuah peradaban total yang tidak hanya historis tetapi juga berorientasi masa depan dengan jalan yang tidak hanya menyodorkan ide tetapi juga berbagai jalan alternatif dan pemecahan yang Islami terhadap sejumlah besar persoalan yang dihadapi kemanusiaan. Karena Islam bukan hanya sekedar ibadah, etika dan juga hudud . Ia adalah solusi DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK DAFTAR ISI……………………………………………………………………..i I. PENDAHULUAN Latar Belakang…………………………………………......………………..1 I.2. Perumusan dan Pembatasan Masalah 1.2.1. Perumusan Masalah………..……………………………...……..5 1.2.2. Pembatasan Masalah………………………………………….....5 I.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Penelitian………………………………………..….…....................6 II. METODE PENELITIAN 2.1. Jenis dan Metode Penelitian.......................................................................7 2.2. Sumber Dan Metode Pengumpulan Data..................................................8 2.3. Tempat danWaktu Penelitian…………………………………………….8 III. PEMBAHASAN 3.1..Finding Epistemologi…………………………………………....................9 3.2. Aplikasi Tehnis Dari Dekonstruksi…………………................................14 3.3. Two Step Intermediation Dalam Sistem Akuntansi Perbankan Syariah di Indonesia..................................................................................................21 3.4. Konstruksi Two Step Intermediation dan Kaitannya Dengan Aturan Hukum Positif Di Indonesia.....................................................................26 3.5. Sebuah Model Manifestasi Tehnis Pada Perbankan Syariah................29 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan………………………………………………………………..50 5.2. Saran…………………………………………………………………...…..51 DAFTAR PUSTAKA 1 . BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam konstruksi sistem ekonomi Islam, Zakat dan non-ribawi sistem adalah 2 hal instrumental terpenting disamping tuntutannya untuk membangun sebuah perekonomian yang berkeadilan, sehat secara regulatif, dan tidak menimbulkan kerusakan alam. Kedua hal ini menjadi penting karena Islam sebagai sebuah kumpulan nilai-nilai moral, telah memberikan penekanan yang luar biasa dan pasti ( sharih dan Qath’y) terhadap kewajiban setiap umat muslim untuk membayar zakat dan untuk meninggalkan Riba. Dalam permasalahan anti riba, Islam bahkan sedari awal telah terang- terangan memberikan kutukannya yang keras bersamaan dengan perintahnya yang tegas dan tak dapat ditawar-tawar mengenai Monoteistik ketuhanannya. Sedangkan kata zakat dalam Al Quran, telah disebut sebagai sebuah definisi ( ma’rifah ) sebanyak tiga puluh kali. Dalam penyebutan yang sebanyak itu, dua puluh tujuh kali disebutkan dalam satu ayat bersama shalat dan hanya satu kali disebutkan dalam konteks sama dengan shalat tetapi tidak di dalam satu ayat yaitu dalam Al Quran ( 92: 5-10) dengan redaksi ayat; “Dan orang-orang yang giat menunaikan zakat” setelah ayat; “Orang-orang yang khusyu dalam bersalat” ( Qordhawi,1987 : 35 ). Dalam konteks modern saat ini sistem non-ribawi biasanya banyak dilakukan seputar implementasinya dalam perbankan bebas bunga / suku bunga nol dan prinsip kerjasama dalam pemberian modal. Konsekwensinya, perbankan tidak akan lagi mengenakan jumlah bunga yang tetap atas modal yang dalam kenyataan belum tentu dapat memberi tingkat keuntungan yang tetap. Sedangkan dalam hubungan dengan kreditor, perbankan akan memberikan bagian dari bagi hasil 2 yang didapat dari debitor yang juga melakukan kegiatan usaha dengan basis bagi hasil. Dorongan Islam lainnya adalah dengan adanya mekanisme zakat. Dalam mekanisme zakat, sebagian dari keseluruhan harta orang yang berkecukupan akan dipungut dan disebarkan kembali dalam bentuk pembiayaan alat produksi atau pemenuhan kebutuhan kasuistis yang bersifat konsumtif khusus kepada delapan kelompok masyarakat yang membutuhkan. Terlepas dari segala aspek ibadah (Ubudiyah) yang mendasari timbulnya kedua buah perintah ini, secara teori ekonomi, kombinasi sistem non-ribawi dan perintah untuk membayar zakat adalah dua buah hal yang sangat dapat untuk dipertanggung jawabkan. Suku bunga nol akan memberikan kesempatan Investasi yang tak terbatas terhadap usaha-usaha baru; yang mana dalam keadaan normal tidak dapat dilaksanakan. Kondisi itu, akan mampu menyediakan lapangan kerja dan memungkinkan tercapainya sebuah kondisi Full Employment dan mempertinggi permintaan efektif . Implikasinya adalah kesejahteraan akan meningkat lebih pesat karena produktivitas individu didorong lewat peningkatan investasi agregat. Pada akhirnya, lembaga zakat dan sedekah akan membantu mencegah timbulnya penurunan tingkat konsumsi minimum dengan distribusi pendapatan kepada masyarakat paling miskin tanpa meningkatkan kecenderungan untuk menigkatkan uang kas ( liquidity preference). Institusi yang sama, juga akan merupakan dorongan yang luar biasa terhadap kesempatan Investasi bila disalurkan dengan memperhatikan kebutuhan secara strategik dan bukan kasuistis. Dalam konteks masyarakat dimana tingkat kemiskinan sudah sangat rendah, intermediasi zakat ini mungkin sekali akan dialihkan keluar kepada negara lain yang memerlukan dana konsumtif atau bahkan strategis. Bagaimanapun, investasi masyarakat telah didorong melalui belanja barang bantuan di dalam negeri. Kalaupun tidak, perekonomian telah terbantu melalui stimulus ekonomi berupa “ umpan” Investasi kepada negara luar yang bukan tidak mungkin akan mendorong permintaan ekspor karena daya beli masyarakatnya tetap terjaga. 3 Dari penjelasan-penjelasan diatas, jelaslah sudah bahwa kombinasi zakat dan Non-Ribawi sistem bukan saja berdimensi Teologis melainkan juga Antrophocentris dengan pola-polanya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Bahkan secara teoritis, dengan kombinasi ini, celah untuk timbulnya stagnasi ekonomi dan kemiskinan tampaknya sama sekali tidak ada. Pertanyaan berikutnya yang relevan kemudian adalah; “Dari manakah semua kemiskinan yang kita lihat selama ini. Kalau kombinasi zakat dan perbankan syariah begitu luar biasa, lalu hal apakah yang telah menyebabkan kemampuannya menjadi tumpul ?” Tentu saja pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi sangat untuk perlu diperhatikan, terlebih dalam konteks Indonesia dimana sebagian besar penduduknya beragama islam. Dengan komposisi 90 % penduduknya muslim, pertanyaan tersebut tampaknya sudah selayaknya lebih mendapatkan gema. Ambillah contoh analisis resmi dari BPS tahun 2002. Dalam analisis tersebut, seandainya saja 90% penduduk Indonesia itu terakomodir dalam 40 juta keluarga, maka potensi zakat di Indonesia ini sekurang-kurangnya mencapai angka 7,5 trilyun! Hal yang serupa tetapi dengan tingkat optimistis yang lebih tinggi, tampak terlihat dalam hasil penelitian Potensi zakat versi Public Interest Research And Advocacy Center ( PIRAC ) tahun 2007 yang menyebutkan, potensi zakat di Indonesia lebih besar lagi, yaitu Rp 9,09 triliun dengan responden di 11 kota besar. Besar kemungkinan total angka-angka ini akan lebih besar lagi jumlahnya jika wilayah hitung terhadap potensi ini diperluas dan komponen yang menjadi obyek zakat diperbanyak sehingga betul-betul mencerminkan...”potongan atas setiap harta yang dapat terakumulasi”. Bukan tidak mungkin potensi zakat dalam masyarakat indonesia akan menjadi lebih tinggi 2 atau 3 kali lipat. Kenyataannya di lapangan, sekalipun potensi dana zakat di Indonesia 8 dan 10 tahun lalu saja sangat besar, namun tingkat keterkumpulan dan ketersebaran atas dana –dana itu masih sangat kecil yaitu hanya sekitar 10-15 % dari potensi zakat. Lihatlah sebagai contoh, jumlah dana zakat yang bisa dihimpun Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tahun 2007 sebesar Rp 14 miliar. Apabila digabung dengan penerimaan zakat seluruh lembaga amil zakat (LAZ) tahun 2007, dicapai 4 Rp 600 miliar. Nilai ini hanya 12,5 persen dari potensi minimal yang ada jika asumsi potensi Rp 4,8 triliun. (Www.bimasislam.com, 2008) Dari gambaran ini tampaknya terdapat sebuah gambaran umum bahwa pengembangan Zakat sebagai sebuah kekuatan transformatif haruslah melibatkan Institusi yang mampu untuk melakukan sebuah terobosan dan modus baru dalam memobilisasi, mengorganisir, dan memfasilitasi aktivitas filantropy dalam sebuah rerangka akuntabilitas publik. Oleh karena itu peningkatan kualitas dalam penyebaran zakat dan manajemen pengelolaan adalah sebuah hal yang tidak dapat diabaikan. Analisis secara makro sebuah persoalan tanpa mempertimbangkan persoalan tehnis yang dihadapi di lapangan akan menyebabkan pengelolaan zakat tersebut dilakukan tanpa arah yang jelas dan bahkan mungkin akan menyebabkan Tujuan Syariah ( Maqashid asy-syariah ) dari zakat tidak akan tercapai. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan dalam studi kasus pelaksanaan lembaga zakat dan wakaf di Indonesia (2005), bahwa; Filantropy Islam tidak saja menuntut adanya rekonseptualisasi fikih filantropy tapi juga merevitalisasi dan mengembangkan institusi-institusi filantropy Islam yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, diandaikan adanya satu pendekatan pembangunan yang lebih menitik beratkan pada investasi di bidang infrastruktur untuk menuai keuntungan jangka panjang ketimbang sekedar mengatasi masalah-masalah jangka pendek. Sehingga, secara ideal kerja Filantropy di indonesia masa depan adalah mengeksplorasi modus-modus yang baru di dalam memobilisasi, mengorganisasi, dan juga memfasilitasi aktivitas filantropy di Indonesia, untuk meningkatkan akuntabilitas publik dan mendorong inisiatif-inisiatif keadilan sosial yang berbasis pada kekuatan-kekuatan civil society. 5 I. 2. Perumusan dan Pembatasan Masalah I.2.1 Perumusan Masalah Sebagaimana telah dikemukakan dalam latar belakang, jelas sudah bahwa zakat dan perbankan syariah sangat berpotensi untuk menjadikan perekonomian tumbuh dengan sehat selaras dengan distribusi kesejahteraan yang dihasilkan dari pertumbuhan tersebut. Terlebih lagi bila kita dapat lebih jeli melihat bahwa Zakat dan Perbankan Syariah sebetulnya memiliki karakteristik yang hampir sama berkenaan dengan dorongannya terhadap pemerataan alat produksi. Namun demikian, dalam prakteknya,kedua institusi tersebut belum sepenuhnya memiliki pola intermediasi yang cukup maslahat dan mampu menjadikan zakat tersebut sebagai bagian dari akuntansi modern yang dapat mentransformasikan ekonomi. Dalam konteks ini penulis melihat beberapa permasalahan yang akan penulis analisis. Permasalahan itu adalah: a. Belum adanya pihak yang dengan sistematis dan terstruktur mencoba mengkombinasikan kelebihan-kelebihan yang ada dalam Perbankan Syariah dengan Potensi implementasi zakat. b. Selain tidak adanya sistem dan metode akuntansi yang mengkombinasikan secara baik Zakat dengan perbankan syariah, saat ini belum banyak pihak yang menyadari bahwa dana zakat yang diberikan kepada Mustahik sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang produktif. Oleh karena itu pihak manapun yang menjadi Amil zakat, sudah sepantasnya tidak mengumpulkan zakat dan kemudian mendistribusikannya tanpa konsep yang memadai. I.2. 2 Pembatasan Masalah 1. Penulis membatasi penelitian hanya pada Sistem Akuntansi perbankan syariah yang ada di Indonesia. 2. Aspek pencatatan dan penyusunan Laporan Keuangan dalam penelitian ini tidak sepenuhnya dieksplorasi secara detail melainkan sepenuhnya 6 mengacu kepada PSAK 59 serta PSAK 101-106 yang telah mendeskripsikannya lebih dahulu dengan terperinci. 3. Fakta yang penulis pergunakan dalam menganalisa aspek zakat adalah data-data sekunder yang berkaitan dengan zakat dalam 5 tahun terakhir di Indonesia. 1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Sebagaimana telah penulis kemukakan dalam permasalahan, bahwa persoalan utama pengelolaan zakat saat ini adalah dalam sistem dan penyebarannya. Maka penulis tertarik untuk menghasilkan ide baru (Eksplorasi) yang berkaitan dengan pola penyebaran zakat dengan mengkombinasikannya dengan perbankan syariah sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk: a. Menghasilkan bentuk Sistem Akuntansi dalam Perbankan Syariah yang di dalamnya mengkombinasikan secara sinergis Perbankan Syariah dengan Institusi Pemungut Zakat. Dalam hal ini , penulis ingin mengoptimalkan kelebihan-kelebihan dalam Perbankan Syariah berupa; Fasilitas yang lengkap, Profesionalisme kerja, kepercayaan masyarakat, Sistem Akuntansi yang mendukung dan mapan, dengan Zakat yang memiliki titik tekan tujuan: pengadaan alat produksi bagi masyarakat serta pemberdayaan bagi fakir dan miskin. Hal ini amat bersesuaian pula dengan perbankan yang memang memiliki tujuan umum : menjadi lembaga intermediasi atau penghubung antara pihak yang surplus dana dengan pihak yang defisit dana. Bentuk Sistem Akuntansi Perbankan yang ingin penulis eksplorasi memiliki pola utama: “ ( Tahap 1 ) Perbankan sebagai institusi pengumpul zakat yang agregatif dan penyebar dana zakat yang profesional dengan titik tekan pemakaian dana zakat sebagai modal kerja. ( Tahap II ) Menjadikan “ mantan” penerima zakat yang sebelumnya memperoleh dana tersebut secara cuma-cuma, menjadi penerima dana intermediasi perbankan dengan perlakuan sebagai industri kecil.” 7 BAB II METODE PENELITIAN 2.1. Jenis dan Metode Penelitian 2.1.1 Jenis Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memakai Paradigma Eksploratif dan Deskriptif untuk membuat teori ( grounded theory) dari berbagai fakta yang ada. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian penulis akan lebih banyak memakai data kualitatif. Sifat penelitian ini secara umum adalah untuk mendiagnosa fenomena hubungan antara perbankan syariah dan zakat yang sama-sama merupakan institusi intermediasi. Diagnosa tersebut diharapkan dapat menghasilkan ide berupa: 1). Tehnik baru dalam penyebaran zakat yang dikombinasikan dengan intermediasi modal kerja oleh perbankan. 2.1.2. Metodologi Penelitian Sebagaimana penulis telah kemukakan, penelitian ini adalah penelitian yang berparadigama Eksploratif dan deskriptif ,maka penulis tidak akan mempergunakan statistik sebagai sebuah alat analisis-uji. Hal ini karena penulis tidak perlu menguji ( Verifikasi) data apapun dalam penelitiannya. Tentu saja hal ini tidak berarti penulis tidak akan memakai statistik dalam bentuk apapun, karena penulis masih akan memakai beberapa data Sekunder statistik sebagai fakta sejarah yang harus penulis telaah secara serius. Data statistik itu, akan penulis bandingkan dengan teori yang sudah ada dan kemudian akan penulis ambil kesimpulan. Kesimpulan yang penulis dapat, akan penulis kelompokkan dalam kategori-kategori tertentu 8 kemudian penulis bandingkan kembali dengan teori yang sudah ada untuk akhirnya penulis pakai data tersebut untuk menyusun konstruksi teori baru atau inovasi teori yang sudah ada.( Indriantoro,Bambang supomo,1999 ) 2.2. Sumber Dan Metode Pengumpulan Data 2.2.1 Sumber Data Sumber data yang dipergunakan oleh penulis adalah sumber data sekunder yang berasal dari data-data Statistik Bank Indonesia mengenai perbankan syariah, datadata zakat dari institusi penyebar zakat ( amil ), serta data-data laporan keuangan perbankan syariah di Indonesia hingga tahun 2009 Data dan informasi yang diperoleh kemudian diolah berdasarkan studi pustaka yang dikelompokkan secara sistematis dan relevan dengan subbab dalam tema penyusunan gagasan tertulis ini. Data dan Informasi yang telah dikelompokkan kemudian dianalisis relevansinya dengan ide penulisan gagasan tertulis ini. Berdasarkan analisis sintesis yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan dan dapat dirumuskan saran berdasarkan pada prediksi penerapan ide gagasan tertulis ini. 2.2.2. Metode Pengumpulan data Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah metode pengumpulan data secara: a. Observasi terhadap sumber-sumber data yang relevan. b. Telaah literatur yang akan penulis lakukan secara intens selama masa penelitian. 2.3. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Bandar Lampung yang dilakukan dalam jangka waktu tanggal 1 Juni 2010 hingga tanggal 23 Juni 2010 9 BAB III PEMBAHASAN III.1. Finding Epistemologi. …Orang yang tidur pada suatu malam untuk terjaga keesokan harinya, ia akan dapat mengikuti perjalanan hidupnya seperti biasa. Sedangkan penghuni gua (Ashab Al Kahfi) atau orang yang semakna dengan mereka, bagi mereka tidak cukup sekedar ‘terjaga’untuk dapat mengikuti jalan kehidupan,tetapi pertama-tama dan utama mereka membutuhkan pembaruan pemikiran agar mereka dapat melihat dengan pandangan sendiri kehidupan yang baru itu sebagaimana adanya. ( Muhammad Abed Al Jabiri , 2001) Ketika kita melihat tuntutan atas implementasi Syariah yang terjadi di seluruh penjuru dunia, sebetulnya kita harus melihatnya dalam dua buah kerangka umum. Pertama, tuntutan itu kita sikapi sebagai sebentuk kesadaran umat Islam atas prinsip hidupnya secara independen dan tidak serta merta menyerahkan solusi permasalahan kepada segala sesuatu yang diimpor dari luar kesadarannya. Ini tentu saja masuk akal, kita sebagai umat Islam tidak dapat terus menerus hidup dengan konsepsi yang sepenuhnya diinstal oleh pandangan dunia barat toh? Bukankah, pandangan dunia barat adalah sebuah pandangan dunia asing yang tidak pernah menyentuh aspek autentisitas dan pengalaman keberagamaan kita sendiri secara jangka panjang? Tidakkah masuk akal jika demi autentisitas yang kita cari tersebut, kita menengok kepada syariat Islam saja dan tidak 10 memperpanjang masa percobaan atas sebuah konstruksi lain lagi yang mungkin tidak sepenuhnya ideal juga ? Namun demikian, disaat yang sama, kita juga harus menyikapi tuntutan-tuntutan tersebut dalam kerangka dialogis yang sehat dan tidak serta merta menarik demarkasi dengan kebudayaan lain namun disaat yang sama kita tidak memiliki epistemologi yang memadai untuk menjalankannya sehingga yang akhirnya nampak ke permukaan hanyalah tuntutan-tuntutan yang berorientasi perwajahan tanpa berusaha untuk memberinya bentuk yang lebih esensial. Lalu bagaimanakah sebetulnya prosedur yang benar dalam menggali otentisitas Islam berdasarkan sumber-sumbernya sendiri (Nash)? Adakah juga format yang sepenuhnya Islami dan berpijak pada kesejarahan kita sendiri dalam memahami sumber-sumber utama Islam tersebut? Sebetulnya, pesan Nabi Muhammad kepada umat Islam sangat sederhana namun relevan, ia tidak mengajarkan doktrin baru tentang Tuhan ataupun melulu tentang aspek tehnis detail yang spesifik. Bahkan lebih jauh lagi, Quran sendiri bukanlah kitab tehnis tentang Tuhan maupun keilmuan dan tidak ditujukan untuk memuaskan kecenderungan manusia demi debat spekulatif mengenai Ketuhanan, ilmu alam ataupun format tehnis dalam bernegara. Inti dari pesan kenabian adalah memurnikan KeEsaan Tuhan, mengkalamkan keadilan sosial bagi kemanusiaan dalam kerangka ‘akhlak baik secara relevan’ dan memberi manusia ancaman bahwa setiap tindakan akan diverifikasi dalam sebuah pertanggung jawaban dihari kiamat. Problem dalam menyentuhkan nash dengan akhlak baik manusia dalam kerangka yang senantiasa relevan itulah yang disebut sebagai ijtihad. Tentu saja, derivasi tehnisnya tidaklah sedemikian sederhana, namun yang membuat persoalan menjadi lebih rumit lagi sebetulnya bukanlah nash yang tidak dapat kita akses. Problem utama dari kegagalan ijtihad di belahan dunia manapun adalah fakta bahwa konteks teks-teks suci kita-Al Quran dan teladan Nabi Muhammad, kerangka acuan kita yang absolut-telah kita paksa untuk membeku dan terombang-ambing dalam lautan sejarah. Ketika sebuah Nash yang terbuka kita 11 paksa tertutup dan problem-problem tertentu kita jadikan sakral, maka tanpa sadar kita telah membuat perangkat berfikir tertentu yang membatasi kemajuan dan efeknya akan terasa akumulatif lintas generasi. Hingga tak heran jika saat ini, nash seolah timbul tenggelam dalam realita sejarah dan kita tidak pernah berani mempertanyakan format lain dari implementasinya. Hal inilah yang disitir secara serius oleh Profesor Arqoun sebagai jurang wilayah Tak Terfikir ( Unthinkable) dan Tak Terfikirkan (Unthought) dalam penalaran umat Islam. Kondisi ini terjadi ketika sebuah perangkat berfikir tertentu “memaksa” penalaran kita untuk berhenti mengeksplorasi solusi berdasarkan asumsi-asumsi kita sendiri dan menyerahkan penyelesaian kepada sesuatu yang berada diluar diri kita berupa; konstruksi sejarah yang usang, ideologi asing ataupun format tehnis yang tidak lagi relevan. Untuk itulah, pemahaman kita atas nash, harus didekonstruksi ulang agar dapat menghasilkan kesadaran nilai-nilai moral yang Qurani - bukan ideologi asing – dan akhirnya dapat mengikuti kemajuan zaman. Hasil yang diharapkan dari proses dekonstruksi ini ialah; agar nash tidak timbul tenggelam diantara laju perkembangan budaya dan syarat material yang tak terbendungkan-dan merupakan konsekwensi logis dari jalannya sejarah dan gerak kemanusiaan. Nash harus kembali menentukan tempatnya yang tepat diantara kemanusiaan. Ia harus ada, hadir dan hidup sementara disisi lain pemahaman yang sehat atas nash itu harus selalu ’ mengada’ (Being) sebagai jalan keselamatan manusia dan manifestasi atas kecintaan terhadap Tuhan (Iman). Disaat yang sama dari kebangunan kembali nash sebagai fasilitator jalannya sejarah ini, bentuk-dan juga hasil- yang paling aman dan sehat dari gerak maju ini adalah masyarakat yang kembali Dialektis dan selalu siap untuk maju. Kondisi dialektis ini, sebagaiman dikatakan dimuka, harus kembali menjadi etos sejarah dari masyarakat Islam. Yaitu masyarakat yang selalu siap untuk mengembalikan segala sesuatu kepada nash, tetapi disaat yang sama selalu bersedia melakukan tafsir ulang hasil yang telah diperolehnya dari penafsiran terhadap nash. Karenanya, pembaruan pemahaman atas Islam bukanlah sebuah hal yang remeh dan tidak relevan. Kondisi itu tidaklah harus selalu berasal dan dipicu dari apologi yang dialektis dan ketidak samaan pendapat secara horisontal antar 12 ulama. Pembaharuan pemahaman ini dapat berasal dari tantangan zaman yang berbeda, konteks budaya, sosial-politik dan ekonomi, dan bahkan mungkin sekali karena didorong oleh perkembangan dan penemuan perangkat berfikir baru yang dapat memberi pemahaman lebih lanjut mengenai masalah-masalah tertentu di dalam nash. Karena itu, Islam itu sendiri pada dasarnya adalah dinamis tidak saja dalam artiannya yang dapat mendorong “ sekularisasi “ dalam artian yang sosiologis, (Madjid,1999 ) melainkan juga karena kemampuannya untuk mendorong pembaruan-pembaruan yang dimensinya sangat tidak terbatas. Pendeknya, pembaharuan pemahaman ini kita lakukan bukanlah karena kita telah beranggapan bahwa nilai-nilai moral dan beberapa redaksional spesifik di dalam nash tidak lagi relevan dengan kemajuan zaman. Lebih tepat lagi adalah kenyataan bahwa pada saat ini, kita bahkan masih belum tahu tentang berbagai nilai-nilai serta karakter moralitas kita sendiri. Sehingga akhirnya kita sangat gamang untuk menyikapi kekinian dalam naungan hukum-hukum moral tersebut. Oleh karena itu langkah besar yang harus kita lakukan adalah: 1). Melakukan “napak tilas” terhadap nash sebagaimana di katakan oleh Anwar (2002) ketika menggambarkan proses Qiraat Quran dengan kekinian yang dilakukan oleh Prof.Arqoun: Dengan kata lain, qira’at dimaksudkan untuk melakukan semacam “napak tilas” proses pengujaran (enonciation) Al-Qur’an dari berbagai segi dan dimensinya, sebagaimana waktu pertama kali di ungkapkan dalam suasana semiologis yang masih kaya dan segar. Artinya, tujuan qira’at bukan semata-mata untuk mengerti teks, melainkan untuk mendapatkan teks. Secara metodologis, “napak tilas” ini sebenarnya tidak mungkin karena proses pengujaran hanya terjadi satu kali, unik, dan karenanya tak akan pernah terulang lagi. Yang paling mungkin dilakukan hanyalah menjulurkan tangan secara asimtotis kepada suatu pendekatan yang makin lama makin akrab dengan wacana itu, dengan cara mengembalikan (dengan segala keterbatasannya) teks Qur’an sebagai langue menjadi parole bagi orangorang yang hidup pada zaman sekarang ini. Tentu saja dalam hal yang bersifat metodologis kita tidak akan menggambarkan secara detail bagaimana proses “menjulurkan tangan secara asimtotis” tersebut. Namun setidaknya, yang harus kita lakukan dalam hal ini-saat ini- adalah menggambarkan strategi umum dari seluruh proses pendekatan yang dapat 13 menjadikan kita lama kelamaan makin akrab dengan wacana dan menggesernya dari Teks sebagai Language menjadi Teks sebagai Parole. Pendeknya, tindakan baca kita yang masih harus diselesaikan sejauh ini dalam menderivasikan nash adalah; membangun sebuah proses pemahaman dan cara baca yang membuat kita mampu menangkap pesan moral Islam yang menyeluruh dan disaat yang sama menjadikan kita tidak terkungkung dalam sebuah penafsiran yang menimbulkan kondisi “dangkal nalar” sehingga hanya tertarik untuk memperhatikan dan mengulang-ulang ( repetisi ) persoalan remeh dan terbaca tetapi melupakan tujuan dan konsep moral yang terkandung di dalam nash - dan merupakan jumlah yang paling besar ( keteraturan dasar ) 2.) Hasil-hasil dari pembacaan kita terhadap teks inilah yang nantinya akan kita arahkan dan kita banjiri kedalam konteks spesifik kita saat ini untuk mengatasi berbagai persoalan-persoalan utama dalam Islam yaitu: Konteks sosio historis yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Dari itu semua, asumsi kita yang utama dan harus diingat berkaitan dengan nash adalah bahwa persoalan yang harus kita selesaikan dalam derivasi bukanlah mendekonstruksi nash itu sebagai petanda akhir dan menggantinya secara serampangan tanpa mengindahkan otentifitasnya, melainkan mencoba untuk memahami nash secara lebih komprehensif sehingga menghasilkan pemahaman yang meluas dan moderat. Dengan memperhatikan seluruh persoalan-persoalan tersebut di atas, tanpa memaksudkannya sebagai sebuah ushul fikih, strategi umum dapat kita kemukakan berkaitan dengan “napak tilas” dan cara baca terhadap Nash secara berkelanjutan dan menyejarah itu. Secara detail metodologis tentu saja hal ini masih harus di analisis ulang, namun secara tahapan tindakan-tindakan strategi umum ini dapat bermanfaat untuk menjadi basis langkah pembentukan epistemologi lebih lanjut. Strategi umum itu adalah:1.) Menentukan petanda akhir dari seluruh proses penafsiran kita dengan tidak menjerumuskan diri kepada relativitas ekstrim petanda akhir , lewat serangkaian pengujian yang tidak meremehkan autentisitas Petanda Akhir itu sendiri, 2.) Menempatkan diri dalam sikap sadar yang aktif- 14 kritis terhadap seluruh gugus makna yang telah tampak berkaitan dengan pemahaman atas Petanda-petanda Akhir, 3.) Menempatkan seluruh Nash dan seluruh produk penafsiran yang timbul dari kesejarahan penafsiran Nash kepada sebuah metodologi kritis yang tidak melenceng dari petanda akhir, 4.) Menemukan keteraturan dasar yang akan dipergunakan sebagai sebuah bangunan Religio Ethic dari proses-proses penjangkauan makna, 5.) Menyentuhkan Religio Ethic yang telah ada kedalam sebuah proses yang dialektis dan gradual berkaitan dengan imajinasi sosial masyarakat di sebuah tempat. Hasil yang diharapkan dari semua proses ini adalah kemampuan kita untuk mengapresiasi Nash secara komprehensif lengkap antara perintah yang “Terkatakan” dengan perintah-perintah yang “ Tak Terkatakan”, bagian-bagian yang sakral dari sebuah Nash dan bagian mana yang merupakan produk kebudayaan. Dan kemudian menyajikan Islam itu sendiri sebagai sebuah bangunan yang komprehensif dan interaktif meliputi ; Ketakwaan kepada Allah, hukum dan juga etika-norma . Semua itulah yang kemudian akan kita arahkan kepada persoalan-persoalan spesifik saat ini agar dinaungi keseluruhan etika moral Islam dalam format solusi yang tidak harus seragam satu sama lain. Kita harus mampu menyajikan Islam sebagai sebuah peradaban total yang tidak hanya historis tetapi juga berorientasi masa depan dengan jalan yang tidak hanya menyodorkan ide tetapi juga berbagai jalan alternatif dan pemecahan yang Islami terhadap sejumlah besar persoalan yang dihadapi kemanusiaan. Karena Islam bukan hanya sekedar ibadah, etika dan juga hudud . Ia adalah solusi( Sardar,2003). III.2. Aplikasi Tehnis dari Dekonstruksi Namun demikian, persoalan nilai moral itu tidak hanya berkaitan dengan nilainilai dasar serta akhlak saja. Karena dalam nilai-nilai dasar tersebut, Islam memiliki perangkat transformasi yang khas dan menjadi piranti tekan yang harus terealisasi dalam pelaksanaan nilai-nilai dasar yang telah ada. Perangkat transformasi itu adalah: 15 1. Zakat 2. Non-ribawi sistem 3. Regulasi-keadilan sosial 4. Jaminan sosial. Dengan demikian, keseluruhan nilai-nilai moralitas dan atributif dalam ekonomi dapat kita gambarkan dalam sebuah diagram sebagai berikut; (Lihat Gambar 1) Gambar 1. Keseluruhan Konstruksi Moralitas Dalam Ekonomi Solusi Islam dalam masalah ekonomi, sebenarnya merupakan titik moderat dari individualistisnya kapitalisme dan kolektivitas komunistis. Islam mensolusikan bahwa dalam sebuah masyarakat, setiap individu harus bekerja. Sebagai prasyarat kondisi dari kerja masyarakat tersebut, setiap orang harus memiliki perangkat untuk kerja berupa Ilmu dan perangkat-perangkat produksi lainnya. Di titik ini, 2 buah konsekwensi lain muncul. 1). Karena diasumsikan bahwa semua orang harus bekerja, maka setiap orang yang sama sekali tak punya apa-apa , dari sebagian kepemilikan harta orang kaya harus mendapatkan transfer harta agar dapat memulai usaha. Disinilah posisi zakat. 2). Karena setiap komponen dari kerja yang dilakukan tersebut mensyaratkan adanya rehabilitasi dan kesempatan akumulasi juga, maka setiap komponen dari kerja tersebut harus mendapatkan 16 bagian juga dari harta tersebut sebesar minimal produktivitas atau sebesar keperluannya untuk mereproduksi kemampuan agar terus menerus dapat memenuhi kebutuhan kerja jangka panjang dan lintas generasi.atau sebesar kebutuhannya agar dapat memulai secara mandiri proses akumulasi laba. Dari sinilah doktrin Islam tentang kebutuhan pembagian hasil kerja yang adil, upah yang layak, ketidak bolehan mengambil riba dan tidak merusak alam timbul dan mendapatkan tempatnya. . Karenanya, sebagai sebuah perangkat instrumental terpenting, implementasi zakat berpijak pada beberapa asumsi-asumsi pokok yang pada gilirannya akan mempengaruhi kinerjanya. Asumsi-asumsi pokok itu adalah; 1). Zakat merupakan konsekwensi normal dari basis kepemilikan dalam Islam bahwa harta adalah milik Allah yang dititipkan kepada manusia sementara di sisi lain seorang manusia telah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya. 2). Keyakinan bahwa zakat tersebut dipungut secara agregatif dan menyeluruh meliputi semua komponen masyarakat yang telah mampu dan seluruh potensi zakat yang berada di sebuah tempat 3). Kepercayaan publik atas pengumpulan dan Intermediasinya 4). Dana zakat tersebut dipergunakan untuk hal-hal yang bersesuaian dengan tujuan-tujuan zakat itu sendiri yaitu mewujudkan sebuah mekanisme transfer perangkat produksi dan solusi kasuistis atas masalah-masalah yang timbul dalam sebuah komunitas muslim. Oleh karena zakat merupakan sebuah pintu awal dari transfer kepemilikan dan alat produksi, maka setiap usaha yang mencoba untuk pelaksanaannya harus mengarahkan diri kepada proses-proses yang memungkinkan pemerataan alat produksi berupa kepemilikan atas kerja mandiri atau kemampuan seseorang untuk masuk kedalam sebuah proses kerja yang baik Berpijak pada beberapa asumsi-asumsi pokok tersebut, zakat seharusnya tidak lagi di posisikan sebagai sebuah kebajikan pihak kaya, melainkan sebuah hak yang harus didapat oleh orang-orang yang tidak memiliki harta. Artinya disini relasi sosial yang timbul dari mekanisme zakat tersebut seharusnya tidak lagi bersifat karetatif melainkan strukturalis. Karena dengan begitu zakat bukan lagi sebuah mekanisme belas kasih dari orang kaya melainkan sebuah mekanisme wajar di 17 dalam komunitas dimana sekelompok orang yang telah diperkaya oleh kontribusi masyarakat banyak, memberikan transfer harta kepada golongan lain yang tidak seberuntung dirinya sebagai konsekwensi kegiatan-kegiatan perekonomian yang telah ia lakukan telah mencapai titik tertentu dimana ia telah bisa mencukupi kebutuhan pokoknya. Konsekwensi lain dari asumsi-asumsi tersebut diatas adalah; zakat sudah seharusnya tidak berhenti pada soal-soal yang berkaitan dengan kebaikan sosial seperti menyediakan pakaian, perumahan dan makanan sebagai solusi yang tampaknya kasuistis. Karena pada intinya zakat adalah lebih dari sekedar wacana moral, melainkan juga wacana sosial dan juga material. Zakat sudah seharusnya diarahkan pada sebuah prosesi sentimen moral yang nantinya akan bertransformasi ke dalam tindakan-tindakan sosial dan struktural. Hal ini dilakukan bukan saja karena substansi zakat memang menghendaki demikian, tapi juga karena kesadaran bahwa kemiskinan yang selama ini terjadi bukan hanya karena adanya kepedulian yang semakin menipis melainkan karena struktur masyarakat dan relasi sosial yang telah menyebabkan kemiskinan itu. Untuk memenuhi 4 buah asumsi di atas dan menjalankan sebagian dari esensi ekonomi, tidak ragu lagi bahwa zakat harus diinstitusionalisasikan secara bertanggung jawab. Hal ini penulis kemukakan karena Zakat , sebagai bagian dari filantropy Islam, di Indonesia belum menemukan formatnya yang tepat. Minimal, zakat di Indonesia harus lebih dahulu meletakkan diri secara tepat di antara 2 buah titik yang-dalam konteks Indonesia dan saat ini -berpotensi menimbulkan masalah.Titik pertama adalah Institusionalisasi pemerintah , titik kedua adalah liberalisasi pembayaran zakat. Dalam titik pertama, pemerintah bertindak sebagai pemungut zakat secara penuh dalam artian regulator dan merangkap sebagai institusi pelaksana. Di titik ini, kekhawatiran yang ada adalah : Adanya kooptasi pemerintah terhadap kekuatankekuatan civil society karena adanya relasi kuasa yang dipegang oleh pemerintah menyangkut hajat hidup masyarakat. Hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa akuntabilitas pemerintah selama ini terhadap keterkumpulan zakat dan profesionalisme pengelolaan masih sangat dipertanyakan. Efek lanjutan dari 18 kondisi ini , telah menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat dari pengelolaan zakat menjadi turun atau hilang sama sekali. Kalau kondisi ini terjadi lagi, maka kehadiran zakat tidak akan memiliki dampak positif sama sekali secara transformasi ekonomi kecuali sebagai sarana untuk melanggengkan kekuasaan dan kooptasi kekuatan sosial. Di sisi lain, akibat dari akumulasi kooptasi yang terjadi, telah menyebabkan alam pikiran masyarakat terkondisi untuk tidak mempercayakan kembali pengelolaan zakat kepada pemerintah. Bila hal ini terjadi di titik yang paling ekstrim, kondisi yang timbul adalah pemberian langsung dana zakat kepada orang-orang yang dirasa layak untuk diberi. Kondisi ini, secara Fikih memang masih diperdebatkan. Namun bila dilihat dari segi maslahat, tindakan ini pada ujung-ujungnya akan menumpulkan daya transformatif zakat dan hanya akan menimbulkan relasi ketergantungan antar Mustahik-Muzakki. Karena itu, walau bagaimanapun, terlepas dari aspek fikihnya pelembagaan zakat amat bermanfaat karena menghindarkan diri beberapa permasalahan yaitu; 1).Kesimpangsiuran pembayaran yang akan timbul jika zakat dibayarkan secara langsung. Kesimpang siuran itu dapat timbul jika berhadapan dengan kondisi pembayaran zakat ganda, sementara di pihak lain terdapat kondisi ketidak terbagian dana 2).Tidak tercapainya esensi zakat sebagai sarana intermediasi alat produksi. Pada esensinya, zakat adalah sarana pemerataan alat produksi dan alat bantu dalam masalah-masalah kasuistis mendesak yang pengadaannya dipungut dari seluruh kegiatan usaha dan semua pelaku ekonomi yang telah wajib. Karena itu, pengelolaan zakat harus agregatif serta memungkinkan pemaksaan dan transfer. Hal itu,tentu tidak akan bisa terwujud kecuali melalui mekanisme institusionalisasi. Karena itu strategi agregasi zakat harus menempatkan diri dalam posisi yang tepat , dimana secara umum; regulasi yang memungkinkan agregasi harus dibuat oleh pemerintah, namun di saat yang sama pengelolaannya dengan memperbesar porsi kekuatan civil society yang profesional, akuntabel dan dapat dievaluasi dengan memakai keadilan sosial sebagai sebuah perangkat analisis utama ( Lihat Diagram 2). 19 Derivasi dari seluruh persoalan itu dalam konteks yang lebih mikro dan juga akuntansi adalah; bagaimana membuat seperangkat pembangun informasi yang dapat menjadi sebuah alur kerja dari proses yang lebih manusiawi lewat implementasi dan pengungkapan nilai moral yang inheren dalam laporan keuangan. Sehingga secara tehnis derivasinya akan mencakup 1. Pencapaian nilai syariah dalam proses kerja usaha. Sehingga dapat menjamin kehalalan produk dan pencapaian nilai moral syariah lainnya. 2. Pencapaian ke dalam perusahaan yang dapat dilihat dari segi pencapaian keuntungan, likuiditas,solvensi , efisiensi serta perlakuan terhadap seluruh aset dan tenaga kerja. 3. Pencapaian keluar perusahaan, yang mengakomodir keseimbangan dari pencapaian keuntungan perusahaan dengan distribusi keuntungan tersebut kepada seluruh pihak eksternal seperti pemerintah yang melahirkan regulasi, bagi hasil nilai tambah terhadap alam, serta pencapaian penyebaran zakat dengan tepat guna kepada mustahiknya, 4. Menjadikan institusi bisnis itu sebagai organisasi pembelajar yang memiliki sebuah perencanaan jangka panjang untuk merealisasikan tujuan kedalam dan keluar perusahaan tersebut secara bertahap. 20 Diagram 2. Konstruksi Strategi Agregasi Zakat Dan Ekonomi Yang Islami Dalam Struktur Tehnis Kelembagaan Indonesia Sumber: Goenawan Mohammad (1992). Dengan revisi seperlunya. 21 III.3. Two Step Intermediation Dalam Sistem Akuntansi Perbankan Syariah di Indonesia Dalam seluruh masalah manajerial dan regulatif yang berkaitan dengan institusionalisasi zakat ini, perbankan adalah institusi yang paling mungkin untuk melakukan institusionalisasi, agregasi dan terobosan-terobosan baru. Dalam usaha kita menjadikan perbankan sebagai kombinasi zakat ini, perbankan syariah dapat mengkonstruksi sebuah sistem kombinasi perbankan-zakat yang disebut: Intermediasi 2 tahap ( Two Step Intermediation. ). Intermediasi 2 tahap ini, pada prinsipnya adalah sebuah usaha untuk menjadikan Perbankan Syariah sebagai sebuah institusi pemungut zakat yang agregatif dan akseleratif melalui segala kelebihan dan kesempatan yang dipunyai oleh perbankan dan kemudian memberdayakan zakat tersebut agar dapat menjadi sarana Intermediasi perangkat produksi ( Intermediasi Tahap I). Setelah intermediasi tahap satu berhasil, tentu saja dengan parameter yang dimiliki oleh perbankan, perbankan akan menjadikan Mustahik zakat, berkat dana zakat sebelumnya, yang telah cukup mampu mandiri sebagai mitra binaan perbankan dan pada saatnya nanti akan mendapat dana Intermediasi perbankan.( Intermediasi tahap II) ( Lihat Gambar 3 ) Gambar 3. Konstruksi Prinsip Two Step Intermediation. PERBANKAN DANA ZAKAT DAN ASISTENSI: MUSTAHIK PERGESERAN DARI MUSTAHIKPENGUSAHA KECIL / MUZAKKI DANA ZAKAT DAN ASISTENSI: PENGUSAHA KECIL / MUZAKKI 22 Dalam konstruksinya, Two Step Intermediation. ini akan diarahkan untuk mempercepat daya dorong perekonomian Mustahik secara produktif, dan untuk tujuan tersebut, pendekatan serta metode dapat dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk Namun demikian, hemat penulis, selain kita menekankan fungsi-fungsi pengelolaan zakat tersebut pada titik tekan intermediasi alat produksi kearah pemberdayaan aset-aset produktif dan kepentingan bisnis yang dapat memberdayakan Mustahik menjadi Muzakki, kita tidak boleh melupakan bantuanbantuan zakat yang bersifat kasuistis. Karena itu, pemanfaatan dana zakat dalam Two Step Intermediation. ini harus juga memperhatikan karakteristik Mustahik yang memerlukan jenis-jenis dana yang berbeda. Konsekwensinya jenis dana yang akan di Intermediasikan dalam Two Step Intermediation ini harus kita bagi kedalam minimal 2 buah jenis dana. Pertama, Dana Strategis yang akan dipergunakan sebagai sarana penyebaran perangkat produksi. Kedua, Dana Kasuistis parsial yang akan dipergunakan untuk keperluan-keperluan lain seperti pinjaman ataupun bantuan konsumtif. Sedangkan Implementasi dilapangan atas sistem ini sangatlah cair dan diperlukan upaya kontekstualisasi lebih lanjut yang lebih sesuai dengan Spesialisasi Program, karakteristik Sistem Akuntansi Perbankan Syariah secara spesifik, lingkungan dan usul fikih yang dominan di sebuah tempat. Spesialisasi atas sistem, dalam hal ini bukanlah hal yang remeh. Spesialisasi itu dapat berupa spesialisasi wilayah, skim, ataupun spesialisasi program. Spesialisasi ini juga tidak harus spesialisasi antar bank namun bisa juga berupa spesialisasi antar kantor cabang. Spesialisasi ini, selain mempercepat akselerasi, juga akan mempermudah sinergi antar LAZ . Sebagai contoh, spesialisasi perbankan syariah A adalah pada program-program pertanian pada kantor cabang A1, sedangkan pada kantor cabang A2 adalah pada program beasiswa. Disisi lain, spesialisasi perbankan syariah B adalah program beasiswa pada kantor cabang A1 ,sedangkan pada kantor cabang A2 adalah program-program penciptaan usaha perdagangan. Dari contoh ini, dua buah perbankan tersebut melakukan spesialisasi dalam program-program tertentu. Adalah baik sekali jika Two Step Intermediation. 23 diarahkan pada hal-hal semacam ini dan diiringi dengan koordinasi antar bank pengelola zakat sehingga nantinya akan tercipta sinergi ( Lihat Gambar 4) Gambar 4. Spesialisasi Berdasar Kegiatan Spesifik Bank Gambar 4a. PERBANKAN SYARIAH A ( Bagian Terbesar Masyarakat Adalah Petani ) Intermediasi tahap I dan II dengan titik tekan perangkat modal pertanian. Kantor cabang A1 MUSTAHIK Kantor cabang B1 Spesialisasi Beasiswa Titik tekan pada bantuan pendidikan PERBANKAN SYARIAH B ( Bagian Terbesar Masyarakat Adalah Petani ) Gambar 4b. PERBANKAN SYARIAH A ( Bagian Terbesar Masyarakat Adalah Pedagang ) Titik tekan pada bantuan pendidikan Kantor cabang A2 MUSTAHIK Kantor cabang B2 spesialisasi Perdagangan PERBANKAN SYARIAH B ( Bagian Terbesar Masyarakat Adalah Pedagang ) Intermediasi tahap I dan II dengan titik tekan perangkat modal dagang 24 Spesialisasi juga dapat berupa spesialisasi kegiatan. Misalnya dalam konteks perbankan syariah tidak diperbolehkan menjadi penyebar dana zakat secara langsung, perbankan syariah dapat menjalin kerja sama dengan Amil atas spesialisasi kegiatan. Perbankan dalam hal ini dapat bertindak sebagai pemungut zakat yang agregatif sedangkan Amil dalam hal ini berperan sebagai penyampai dana zakat, fasilitator lapangan dan pemberdayaan masyarakat berupa verifikasi, pemetaan kemiskinan dan pendampingan atas pemanfaatan dana zakat yang diberikan kepada Mustahik pada Intermediasi Tahap I dan Tahap II ( Lihat Gambar 5 ) Gambar 5. Spesialisasi Berdasar Kerja ( 1 ) Job : Asistensi, Pemetaan Dan Pendampingan Two Step Intermediation Institusi 1. Institusi 2. Job: Two Step Intermediation MUSTAHIK Spesialisasi lain dapat berupa pemosisian perbankan syariah hanya sebagai koordinator dari pengumpulan zakat dengan menampung dana dari LAZDA dan berspesialisasi dengan menempatkan diri khusus sebagai pengelola zakat yang berupa dana struktural dengan persentase anggaran dana sebesar yang disepakati LAZDA. Dalam hal ini LAZDA dapat berperan sebagai penyalur dana parsial dan pinjaman. Pemosisian Bank dan LAZDA ini dapat dilakukan dengan pertimbangan kedekatan mereka dengan masyarakat ( lihat Gambar 6) 25 Gambar 6. Spesialisasi Berdasar Kerja ( 2) MUZAKKI LAZDA MUZAKKI Perbankan Syariah % Dana Parsial Mustahik Kasuistis Intermediasi Tahap I Mustahik Struktural Pengusaha Kecil / Muzakki % Dana Struktural Pergeseran MustahikPengusaha Kecil / Intermediasi Tahap II Prinsipnya, Two Step Intermediation. adalah sebuah mekanisme yang mengkombinasi-kan perbankan syariah dan kelebihan zakat dalam sebuah institusionalisasi. Bila kemudian terdapat beberapa variasi di lapangan, itu justru merupakan kebaikan selama hal ini tidak menimbulkan kontradiksi dalam pengelolaan Two Step Intermediation. berupa pelanggaran atas hukum-hukum utama sistem islam dan ketidak patuhan atas prinsip-prinsip akuntansi yang manusiawi. Hal ini karena, pada dasarnya konstruksi Two Step Intermediation. ini sangat terbuka dan hanya berupa prinsip-prinsip dasar. Kontekstualisasi lebih lanjut dalam sistem ini dapat berupa; Kontekstualisasi prosedur akuntansi, Kontekstualisasi bentuk Intermediasi I, Kontekstualisasi skim yang terlibat , Kontekstualisasi pilihan metode akibat perbedaan pilihan mazhab Islam di suatu daerah tertentu, Kontekstualisasi manajemen resiko dan 26 Kontekstualisasi format pendampingan atas Mustahik agar dapat bergeser menjadi pengusaha kecil dan Muzakki. III.4. Konstruksi Two Step Intermediation. Dan Kaitannya Dengan Aturan Hukum Positif Di Indonesia Two Step Intermediation sebagai sebuah institusi pengumpul zakat dalam kaitannya dengan peraturan hukum positif di Indonesia, tidaklah luar biasa dan istimewa. Mekanisme ini, sebetulnya adalah mekanisme yang secara “ diamdiam” sudah ada dan mendapat legalitas secara hukum. Dengan kata lain, usaha untuk pembentukan institusi ini pada perbankan syariah tidak akan mendapatkan “hambatan” hukum apapun ataupun memerlukan sebuah regulasi yang sangat baru. Dalam masalah pengelolaan zakat, perangkat Undang-Undang positif yang menjadi dasar dari pelaksanaannya adalah UU RI No.38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dan Keputusan Menteri Agama RI No. 373 tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaannya serta Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Dan Urusan Haji Nomor D-291 tahun 2000 tentang Pedoman Tehnis Pengelolaan Zakat. Tambahan lainnya yang berkenaan dengan zakat adalah UU RI No.17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas UU No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Adapun yang berhubungan dan berkaitan langsung dengan Perbankan Syariah dan Aspek Akuntansi di dalamnya, terakomodir dalam ketentuan UU yang telah dikeluarkan pemerintah antara lain UU No. 7 Tahun 1992, Tahun 1998 dengan diberlakukannya UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang merubahan UU No. 7 Tahun 1992, Peraturan Bank Indonesia nomor: 8/3/PBI/2006 , Peraturan Bank Indonesia 6/24/2004 , Surat keputusan Direksi Bank Indonesia No.32/34 1999 tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, kemudian akhirnya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ( PSAK ) No.59 Tentang Standar Akuntansi Keuangan Perbankan Syariah dan PAPSI 2003. 27 Dalam UU RI No. 38 tahun 1999, dikatakan bahwa:    Pengelolaan zakat bertujuan untuk; 1.) Meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntutan agama; 2.) Meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial 3.) Meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat. ( Pasal 5 Ayat 1-3) Badan amil zakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan lembaga amil zakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 mempunyai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama. ( Pasal 9 ) Badan amil zakat dapat bekerja sama dengan bank dalam pengumpulan zakat harta Muzakki yang berada di bank atas permintaan Muzakki. ( Pasal 12) Dalam UU RI No.17 Tahun 2000, dikemukakan:  Yang tidak termasuk obyek pajak adalah: bantuan sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembagaamil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak; ( Pasal 4 ayat 3, butir A1 ) Sedangkan hal-hal yang menyangkut dan berkaitan dengan perbankan syariah, dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan khususnya pasal 6 point m. Dikatakan bahwa salah satu Usaha Bank Umum adalah : “Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia” . Selain itu, di dalam Peraturan Bank Indonesia 6/24/2004 Tentang Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, pasal 37 ayat 2, terdapat redaksional: “Bank syariah dalam melaksanakan fungsi sosial dapat bertindak sebagai penerima dana sosial antara lain dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, waqaf, hibah dan menyalurkannya sesuai syariah atas nama Bank atau lembaga a

Dokumen baru

Download (62 Halaman)
Gratis