Peranan Komunikasi Antar Pribadi Antara Pengajar Muda dan Peserta Didik Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar ( Studi pada Program Lampung Mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran )

Gratis

2
49
80
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK Peranan Komunikasi Antar Pribadi Antara Pengajar Muda dan Peserta Didik Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar ( Studi pada Program Lampung Mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran ) Oleh Dimas Purnama Komunikasi antarpribadi terjadi dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Dalam upaya meratakan penyebaran tenaga pendidik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung membentuk program Lampung Mengajar. Program ini merekrut tenaga pendidik dari berbagai disiplin ilmu. Tenaga pendidik ini disebut pengajar muda yang akan ditempatkan di berbagai wilayah terpencil di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan komunikasi antarpribadi pengajar muda dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Tipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah pengajar muda yang tergabung dalam program Lampung Mengajar di SDN 01 Legundi. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori pendekatan humanistik dengan sudut pandang pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Model komunikasi antarpribadi yang digunakan adalah model transaksional. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajar muda telah menerapkan kelima aspek humanistik dalam menjalin komunikasi antarpribadi kepada peserta didik. Dari kelima aspek pendekatan humanistik sikap keterbukaan, empati, sikap mendukung dan kesetaraan sudah berperan cukup baik dalam meningkatkan motivasi belajar. Tetapi sikap positif lebih diperhatikan bagi peserta didik. Dalam hal ini komunikasi antarpribadi berperan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Kata Kunci: Komunikasi Antarpribadi, Motivasi Belajar. Teori Pendekatan Humanistik, ABSTRACT The Role of Interpersonal Communication Between Teachers and Students to Improve Study Motivation (Study in Lampung Mengajar Program in SDN 01 Legundi, Pesawaran) By Dimas Purnama Interpersonal communication occurs in every aspect of human life, including in education. In an effort to improve the equality of educators, the Department of Education and Culture of the Province of Lampung formed Lampung Mengajar program. The program recruited teachers from different disciplines. Educators are called young teachers who will be placed in various remote areas in Lampung Province. This study aims to determine the role of interpersonal communication beetwen the young teachers to improve study motivation of students. This type of research is qualitative research method of data collection, interviews sources and documentation methods. Informants in this study were young teachers who are members of Lampung Mengajar program at SDN 01 Legundi. This study uses the theory of humanistic approach with the viewpoint on openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality. Interpersonal communication model used is transactional model. The results of the study show that young teachers have implemented the five humanistic aspects in establishing interpersonal communication to students. The five aspects of the humanistic approach of opennes, empathy, being supportive and equality already good in increasing the study motivation. But the positive attitude is still not good. In this case interpersonal communication plays a role in increasing the study motivation of students. Keywords: Interpersonal Communication, Theory of Humanistic, Study Motivation. PERANAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ANTARA PENGAJAR MUDA DAN PESERTA DIDIK DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR (Studi Pada Program Lampung Mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran ) Oleh : Dimas Purnama Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI Pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis memiliki nama lengkap Dimas Purnama. Dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 18 Juni 1993. Penulis merupakan putra dari pasangan Bapak Sugito dan Ibu Mahlinda, sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Menempuh pendidikan di SD Kartika II-5 Bandar Lampung, SMPN 25 Bandar Lampung, dan SMA YP Unila Bandar Lampung. Menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung pada tahun 2011. Selama kuliah penulis aktif dalam keanggotaan pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung. Penulis pernah melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Radar TV Kota Bandar Lampung. Pada tahun 2014, penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat. PERSEMBAHAN Dengan Mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT Kupersembahkan Karyaku Ini Kepada: Kedua Orang Tuaku “Bapak Sugito dan Ibu Mahlinda” Yang selalu memberikan dukungan, motivasi dan doanya untuk kesuksesanku, yang telah mengajarkan banyak hal, yang telah mendidik, yang telah membesarkanku dengan limpahan kasih sayang dan tidak pernah kenal lelah terus berusaha untuk kebahagiaanku. Terima kasih untuk kasih sayang yang kalian berikan, untuk semua doa yang kalian panjatkan, untuk semua hal berharga yang tak tergantikan. Untuk adikku dan seluruh keluarga besar Salman, yang Telah Memberikan Kasih Sayang, Perhatian, Dukungan dan Doanya Untuk Keberhasilanku, Dosen Pembimbing dan Penguji yang Berjasa Almamater Tercinta, Tempat yang Telah Memberikan Pengalaman Hidup Untukku. serta seluruh pihak yang selalu mendukungku… MOTO Tanpa ada usaha dan doa, kita tidak akan mendapatkan hasil yang sempurna Jangan tunggu sampai besok apa yang bisa kamu lakukan hari ini The best pleasure in life is doing what people say you cannot do (Dimas Purnama) SANWACANA Alhamdulillahirabbil‘alaamiin, puji dan syukur atas kebesaran Allah SWT. karena hanya berkat ridho, bantuan serta kehendak-Nya semata penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Peranan Komunikasi Antar Pribadi Antara Pengajar Muda dan Peserta Didik dalam Meningkatkan Motivasi Belajar (Studi kasus pada Program Lampung Mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran)” Penulis sadar akan jauhnya penyusunan skripsi ini dari kata sempurna, namun penulis sudah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan skripsi ini dengan bekal kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Tentu dalam penyusunan skipsi ini hingga selesai tak luput akan bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Puji syukur yang tak terhingga penulis tujukan kepada Engkau ya Rabb atas nikmat, berkah, rezeki, serta rasa sayang-Mu yang tak henti-hentinya Engkau berikan kepada penulis selama hidup. 2. Kedua orang tuaku, Bapak Sugito dan Ibunda Mahlinda terimakasih untuk semua dukungan baik moril maupun materi yang telah Mama dan Bapak berikan selama ini. Terimakasih pula untuk doa yang selalu Mama dan Bapak panjatkan untuk saya, serta kasih sayang yang berlimpah dan telah mendidik saya agar menjadi pribadi yang baik dan membanggakan. 3. Adikku tersayang, Dini Fajrina. Terima kasih untuk dukungan, doa dan motivasinya dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Keluarga Besar Salman. Terimakasih atas dukungan dan doanya kepada saya. Semoga saya dapat membuat bangga keluarga besar ini. 5. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M. Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 6. Bapak Drs. A. Effendi, M.M selaku pembantu dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 7. Bapak. Prof. Dr. Yulianto, M.S selaku pembantu dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 8. Bapak Drs. Pairul Syah, M.H selaku pembantu dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 9. Bapak Drs, Teguh Budi Raharjo, M. Si. selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung yang telah banyak membantu saya mulai dari tahap outline skripsi ini hingga selesai. 10. Ibu Dhanik Sulistyarini S.Sos, M.Comn&Media St. selaku dosen pembimbing. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas ketersediaan Ibu untuk meluangkan waktunya untuk membimbing saya dengan sabar. 11. Bapak Drs Sarwoko, M. Si. selaku dosen pembahas skripsi yang dengan ketelitiannya mengkoreksi, membimbing, memberi kritik, saran serta masukan dalam penyusunan skripsi saya sehingga skripsi saya bisa selesai dengan hasil yang memuaskan. 12. Ibu Nina Yudha, selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan banyak saran dan nasehat selama menjalani perkuliahan di Universitas Lampung. 13. Seluruh dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, Bapak Agung Wibawa, Bapak Andy Corry, Ibu Nanda Utaridah, Bapak Cahyono, Bapak Firman, Bapak Ahmad Rudy, Ibu Hestin Oktiani, Ibu Ida Nurhaida, Ibu Nina Yudha, Ibu Andi Winda, Ibu Wulan Suciska, Ibu Bangun Suharti, Ibu Anna Gustina, Ibu Tina Bapak Ahmad Riza, dan Bapak Toni. 14. Bapak Johari selaku staf jurusan Ilmu Komunikasi, serta Mas Agus dan Mas Hendro selaku kedua karyawan gedung C jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Lampung. 15. Seluruh staf, administrasi dan karyawan FISIP Universitas Lampung. 16. Saudara sepupu yang selalu memberikan support tiada henti, Ka Reza, Kinoy, Robi, Abang Hapis, Naufal, Syafik, Miko, Uni Bian, Nadin dan Riko Komeng. Semoga kesuksesan datang menyambut kita dan dapat membanggakan keluarga besar, aamiin. 17. Overture Family yang selalu memberikan dukungan dan pengertian terima kasih Bang Mbol Overture, Anggew Overture, Agung Overture dan Mus Overture. Semoga sukses buat kita semua. Aamiin. 18. Annisa Ramadini S.A.B .seseorang yang selalu support dan terima saya apa adanya, serta selalu ada di saat suka dan duka. Terimakasih yang sebesar-besarnya. Semoga kita bersama di masa depan nanti, aamiin. 19. Sahabat kite-kite yang gak ada matinya makasih banget buat Jaya Aji buat semua kebaikan lu yang mungkin gak bisa gua sebutin disini jay haha. Buat Rizal Fahmi yang udah bantuin dari selama seminar hingga turlap. Buat Ramanda Putra semoga wisuda bareng ya ndul. Buat Calvien Mutaqien, Fajri Amien, Aji Bagus, Isa Dede tetep semangat dan sabar ya broh dalam menghadapi skripsi. 20. Temen-temen kelompok belajar Mas Nanang Purwadi, Mas Novian Ardiansyah, Mas Boby Tridona, dan Mas Eko Sujatmiko.yang dari semester satu sampe akhir tetep bareng. 21. Teman-teman KOMSEBELAS, yang lebih bisa dibilang sebagai keluarga. Terlalu banyak bila kalian disebutkan satu-persatu. Sangat bersyukur dan sangat bangga telah menjadi bagian dari kalian serta memiliki kalian. Tetap solid dan kompak untuk kita semua. 22. Cowok-cowok KOMSEBELAS Mas Yoga, Sigit, Arta, Aji Ireng, Diki, Gigih, Fachri, Ady, Rony d’Aji, Arief Rizky, Riski, Ricki, Bowo, Gepeng, Dede, Ridho, Imam, Teddy, Akbar, Ade, Syahid, Metal, Bayu, Reza, Satya, dll yang belum saya bisa sebutkan satu per satu. Terimakasih banyak atas kesederhanaan dan kewelcome-an kalian. 23. Cewek-cewek KOMSEBELAS yang kece, Inka Mamamia, Lidya, Meta, Mifta, Prita, Riska, Amel, Ruri, Adel, Vio, Uti, Mayang, Hesti, Pipit, Fadhilah, Teresia, Fajriati, Imel, dll yang gak bisa disebutkan satu persatu. 24. Kelompok KKN Desa Sukajaya, Lampung Barat, Annisa Ramadini, Fikri Ibrahim, Dwi Satrio (Iyon), Vevi Aristiai, Rendy Pratama, Diah Rosalina, Kiki Rethavimarlian, Rini Sugiono, dan Faris Yursanto. Terimakasih banyak atas suka duka bersama kalian selama 40 hari. Semoga kita tetap menjadi keluarga sampai kapan pun. 25. Keluarga Pak Asnawi dan Pak Mahan, serta seluruh warga Desa Suka Jaya, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat. Terimakasih sudah menerima dan memberikan pengalaman berharga selama KKN disana. Semoga Allah selalu melimpahkan berkahNya kepada kita, aamiin. 26. Kepada Pengajar Muda Lampung Mengajar di SDN 01 Legundi, Mbak Tresna, Mbak Lucky, Mas Imam, dan Mas Rio. Terima kasih atas bantuannya dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. 27. Serta pihak-pihak lain yang telah membantu selama proses penyelesaian studi sarjana ini, yang tak dapat disebutkan satu per satu. Semoga Allah S.W.T. selalu melimpahkan nikmat dan ridho-Nya kepada kita semua dalam hidup ini sampai akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal Alaamiin, Bandar Lampung, 18 November 2015 Penulis, Dimas Purnama Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah ................................................................................... 8 1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 8 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................... 8 BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Komunikasi ........................................................................................... 10 2.1.1 Unsur-Unsur Komunikasi............................................................... 11 2.1.2 Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi .......................... 12 2.2 Komunikasi Antarpribadi ....................................................................... 14 2.2.2 Komponen-Komponen Komunikasi Antarpribadi ........................ 16 2.2.3 Ciri-Ciri Komunikasi Antarpribadi ................................................ 17 2.2.4 Keberhasilan Komunikasi Antarpribadi ......................................... 18 2.2.5 Model-Model Komunikasi Antarpribadi ........................................ 19 2.3 Komunikasi Pendidikan ......................................................................... 21 2.4 Motivasi Belajar ..................................................................................... 23 2.4.1 Pengertian Motivasi Belajar ........................................................... 23 2.4.2 Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik .................................... 24 2.4.3 Perbedaan Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik .................. 24 2.4.4 Fungsi Motivasi Belajar ................................................................. 25 2.4.5 Ciri-Ciri Siswa Yang Termotivasi .................................................. 26 2.4.6 Peranan Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran ....................... 26 2.5 Landasan Teori ................................................................................... .. 27 2.6 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 30 2.7 Kerangka Pemikiran ............................................................................... 32 BAB III Metode Penelitian 3.1 Tipe Penelitian ...................................................................................... 35 3.2 Metode Penelitian.................................................................................. 35 3.3 Definisi Konseptual ............................................................................... 36 3.4 Fokus Penelitian .................................................................................... 38 3.5 Subjek dan Objek Penelitian ................................................................. 40 3.6 Penentuan Informan ............................................................................. 41 3.7 Sumber Data .......................................................................................... 41 3.8 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 42 3.9 Metode Analisis Data ............................................................................ 43 3.10 Validitas Instrumen Penelitian ............................................................ 44 BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Program Lampung Mengajar ................................................................. 46 4.2 SDN 01 Legundi ................................................................................... 53 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Profil Informan ...................................................................................... 56 5.2 Hasil Wawancara Terhadap Pengajar Muda ........................................ 59 5.3 Hasil Wawancara Terhadap Guru ......................................................... 85 5.4 Hasil Wawancara Terhadap Siswa ....................................................... 88 5.5 Analisis Hasil Wawancara ..................................................................... 90 5.6 Pembahasan ............................................................................................ 93 5.7 Pembahasan Kesuaian Teori Model Transaksional ............................. 100 5.8 Keberhasilan Komunikasi Antar Pribadi ............................................. 103 5.9 Peningkatan Kondisi Fisik SDN 01 Legundi....................................... 106 5.10 Faktor Penghambat Motivasi Belajar Peserta Didik .......................... 107 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan .......................................................................................... 110 6.2 Saran .................................................................................................... 112 Daftar Pustaka Lampiran Daftar Tabel 1.1 Data Perkembangan IPM Indonesia Tahun 2010-2014 .................................. 3 1.2 Data Perkembangan IPM Provinsi Lampung Tahun 2009-2013...................... 6 4.1 Daftar Informan ........................................................................................... 57 5.2 Hasil Wawancara Terhadap Siswa SDN 01 Legundi ..................................... 88 Daftar Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian .......................................................................... ..... 34 4.1 SDN 01 Legundi ........................................................................................... ..... 53 4.3 Struktur Organisasi Sekolah ...................................................................... ..... 55 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikasi bahwa manusia sebagai makhluk sosial, adalah perilaku komunikasi antar manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Dari lahir sampai mati, cenderung memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga,saudara, dan teman). Kecenderungan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan fakta bahwa semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain (Soyomukti, 2010). Fakta kehidupan dewasa ini, dimana teknologi komunikasi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, semakin menegaskan bahwa manusia senantiasa berinteraksi dengan orang lain. Meskipun di tempat tertentu seseorang duduk sendirian, tetapi dengan media komunikasi yang dimilikinya dia dengan mudah berinteraksi dengan siapapun yang diinginkannya. Manusia era tekhnologi komunikasi senantiasa menjalin interaksi baik secara bertatap muka maupun dengan memanfaatkan bantuan berbagai media (Soyumukti, 2010). Dalam berteman, belajar, berdagang dan lain sebagainya sudah pasti mementingkan komunikasi sebagai proses transaksional antar manusia satu dengan lainnya. Tidak dapat dipungkiri jika kemudian komunikasi harus 2 dilakukan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan komunikator kepada komunikan. Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain, dapat mengemukakan apa yang ingin disampaikannya, sebagai mahkluk sosial manusia ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator terhadap komunikan. Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal, saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Effendy, 2003). Komunikasi antar pribadi mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Didalam kehidupan sehari-hari komunikasi antar pribadi sering dilakukan baik itu didalam rumah, di kantor, di pasar, di kampus dan ditempat umum lainnya. Seperti halnya di dalam sekolah pun komunikasi antar pribadi mempunyai peran yang sangat penting. Di setiap provinsi di Indonesia sudah pasti terdapat sekolah disetiap daerahnya. Tidak semua sekolah di Indonesia mempunyai mutu pendidikan yang sama, terdapat kesenjangan antara sekolah-sekolah yang terdapat di daerah terpencil dengan sekolah-sekolah yang terdapat di kota besar. Faktor-faktor penyebab kesenjangan yang dialami sekolah-sekolah di setiap daerah berbeda. Seperti tidak meratanya pembagian tenaga pengajar, susahnya akses menuju daerah-daerah terpencil sehingga menyulitkan distribusi sarana dan prasarana, kekurangan sarana 3 dan prasarana ini menyebabkan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdapat di daerah terpencil menjadi tidak maksimal, serta sulitnya mendapatkan informasi menyebabkan warganya terisolir dari dunia luar. Kesenjangan ini mengakibatkan angka buta huruf di daerah terpencil lebih besar daripada di kota. Angka buta huruf ini dapat dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM). Indeks perkembangan manusia di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1.1 Data Perkembangan IPM Indonesia Tahun 2010-2014 Provinsi Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepuauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Kalimantan Utara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2010 67,09 67,09 67,25 68,65 65,39 64,44 65,35 63,71 66,02 2011 67,45 67,34 67,81 68,90 66,14 65,12 65,96 64,20 66,59 2012 67,81 67,74 68,36 69,15 66,94 65,79 66,61 64,87 67,21 2013 68,30 68,36 68,91 69,91 67,76 66,16 67,50 65,73 67,92 2014 68,81 68,87 69,36 70,33 68,24 66,75 68,06 66,42 68,27 71,13 76,31 66,15 66,08 75,37 65,36 67,54 70,10 61,16 59,21 71,61 76,98 66,67 66,04 75,93 66,06 68,22 70,87 62,14 60,24 72,36 77,53 67,32 67,21 76,15 66,74 68,92 71,62 62,98 60,81 73,02 78,08 68,25 68,02 76,44 67,55 69,47 72,09 63,76 61,68 73,40 78,39 68,80 68,78 76,81 68,14 69,89 72,48 64,31 62,66 61,97 65,96 65,20 71,31 67,83 63,29 66,00 65,99 62,65 59,74 64,27 62,79 59,60 54,45 66,53 62,35 66,38 65,89 72,02 68,31 64,27 66,05 66,52 63,48 60,63 64,75 63,19 59,90 55,01 67,09 63,41 66,66 66,68 72,62 69,04 65,00 67,26 67,67 64,16 61,61 65,43 63,93 60,30 55,55 67,70 64,30 67,41 67,17 73,21 67,99 69,49 65,79 67,92 67,55 64,70 61,53 66,69 64,78 60,91 56,25 68,31 64,89 67,77 67,63 73,82 68,64 69,96 66,43 68,49 68,67 65,17 62,24 66,74 65,18 61,28 56,75 68,90 Sumber: Badan Pusat Statistik 4 Pada dasarnya IPM menggambarkan perkembangan pembangunan manusia secara berkelanjutan yang dianggap cukup respresentatif dalam perencanaan pembangunan bagi pemerintah. IPM mencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia dan secara operasional mudah dihitung untuk menghasilkan suatu ukuran yang merefleksikan upaya pembangunan manusia, artinya IPM mengukur pencapaian manusia pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Aspek tersebut adalah peluang hidup, pengetahuan dan kelayakan hidup. Perkembangan pembangunan manusia yang digambarkan dengan IPM di Provinsi Lampung masuk dalam golongan menengah keatas, dimana nilai IPM 2014 telah mencapai 66,42 dimana rata-rata IPM Indonesia sebesar 68,90. Artinya IPM lampung masih berada dibawah indeks rata-rata IPM nasional. Mutu pendidikan di Provinsi Lampung masih terbilang cukup rendah, terdapat banyak kekurangan didalam dunia pendidikan khususnya di daerah terpencil di beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Lampung. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya fasilitas sekolah yang kurang memadai dan kurangnya tenaga pengajar. Anakanak di beberapa kabupaten di Lampung mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak sehingga mereka tidak tertinggal dengan anak-anak yang mendapatkan pendidikan di kota-kota besar di Indonesia. Oleh karena itu pada tahun 2014 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung membentuk program yang bernama Lampung Mengajar dalam rangka meminimalisir kesenjangan layanan mutu pendidikan antara daerah perkotaan dengan daerah terpencil, tertinggal atau daerah yang secara geografis sulit dijangkau. “Lampung Mengajar” adalah suatu kegiatan pengadaan para sarjana 5 terbaik dari berbagai disiplin ilmu yang akan dididik secara intensif, sehingga dinilai layak untuk melaksanakan tugas profesi guru untuk diperbantukan sebagai tenaga pengajar pada pendidikan dasar di daerah terpencil. Mereka ini selanjutnya disebut “Pengajar Muda” yang diharapkan mampu menebar inspirasi di tempat tugas. Selain memenuhi syarat kelayakan untuk melaksanakan tugas profesi guru, mereka juga harus memiliki kepedulian sosial, jiwa kepemimpinan, semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving serta menghargai dan berempati terhadap orang lain. Hingga saat ini jumlah pengajar muda pada program Lampung Mengajar 2015 sebanyak 100 orang yang disebar di 12 kabupaten yang ada di Provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Way Kanan, Tulang Bawang, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, Lampung Utara, Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Barat. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya pemberdayaan potensi masyarakat untuk berpartispasi aktif dalam pembangunan pendidikan di Provinsi Lampung. Kegiatan ini bertujuan untuk: a. meminimalisir kesenjangan layanan mutu pendidikan antar wilayah perkotaan dengan daerah terpencil atau daerah yang sulit dijangkau b. mengatasi kekurangan guru pendidikan dasar yang bermutu di daerah tersebut c. mendorong terjadinya perubahan prilaku masyarakat kearah yang lebih baik sacara berkelanjutan d. membangun gerakan sosial pendidikan menuju Lampung yang maju dan sejahtera. 6 Meyakini bahwa pendidikan dasar adalah fondasi pembangunan masyarakat, maka program Lampung Mengajar percaya bahwa pendidikan dasar untuk anak– anak diseluruh pelosok daerah yang berada di Lampung wajib disamakan dengan anak-anak yang berada di kota. Setiap siswa memiliki motivasi belajar yang berbeda-beda, hal ini merupakan tantangan bagi pengajar muda untuk meningkatkan motivasi belajar dengan cara menggunakan komunikasi antar pribadi yang baik kepada peserta didik untuk menciptakan kondisi belajar yang efektif. Motivasi belajar adalah sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Penelitian ini mengambil studi kasus pada sekolah dasar negeri Pulau Legundi. Pulau Legundi masuk dalam kabupaten Pesawaran dengan indeks pembangunan manusia (IPM) yang lebih rendah dari rata-rata IPM Provinsi Lampung. Dapat dilihat pada tabel 1.2 Tabel 1.2 Data Perkembangan IPM Provinsi Lampung Tahun 2009-2013 Kabupaten/ Kota 2009 2010 2011 2012 2013 Lampung Barat 68,83 Tanggamus 70,84 Lampung Selatan 69,51 Lampung Timur 70,20 Lampung Tengah 70,38 Lampung Utara 69,85 Way Kanan 69,46 Tulang Bawang 69,63 Pesawaran 69,43 Pringsewu 71,74 Mesuji 67,06 Tulang Bawang Barat 68,53 Pesisir Barat Bandar Lampung 75,35 Metro 75,98 Rata-Rata 70,93 Sumber: BPS Provinsi Lampung 69,28 71,31 70,06 70,73 70,74 70,36 69,92 70,34 69,77 71,97 67,49 68,98 75,7 76,25 71,42 69,72 71,83 70,53 71,26 71,29 70,81 70,43 70,96 70,3 72,37 67,98 69,32 76,29 76,95 71,94 70,17 72,32 70,95 71,64 71,81 71,28 70,84 71,6 70,9 72,8 68,3 69,62 76,83 77,3 72,45 70,37 72,66 71,25 72,14 72,30 71,70 71,08 71,86 71,25 73,22 68,79 70,38 68,43 77,17 77,53 72,87 7 Penulis memilih Pulau Legundi sebagai lokasi penelitian dikarenakan: 1. Pulau Legundi merupakan salah satu pulau terpencil di Provinsi Lampung dengan jumlah penduduk sekitar 1998 jiwa yang terdiri dari 5 pedukuhan di kecamatan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran, Lampung. 2. Ada banyak generasi muda (anak-anak) di Pulau Legundi yang harus mendapatkan pendidikan secara formal maupun informal. 3. Letak yang jauh dari pusat kota menyebabkan akses informasi untuk penduduk di Pulau Legundi sangat terbatas. 4. Pulau Legundi memiliki potensi wisata yang besar sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk dapat mengelola dan mengembangkan potensi tersebut. Dengan adanya program Lampung mengajar, pengajar muda dalam program ini memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan motivasi belajar perserta didik di SDN Pulau Legundi. Menurut pengajar muda, sebelumnya motivasi belajar yang dimiliki siswa/i SDN Pulau Legundi masih sangat rendah, kurangnya kesadaran orang tua dan siswa akan pentingnya pendidikan membuat beberapa anak di Pulau Legundi kurang rajin dalam mengikuti program belajar mengajar secara rutin. Oleh karena itu peneliti ingin lebih mendalami komunikasi antar pribadi yang terjadi dalam proses pembelajaran yang dilakukan dalam upaya meningkatan motivasi belajar siswa/i SDN Pulau Legundi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin melakukan sebuah penelitian tentang “Peranan komunikasi antar pribadi antara pengajar muda dan peserta didik dalam meningkatkan motivasi belajar” (Studi pada program Lampung mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung). 8 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat diambil rumusan masalah yaitu: Bagaimana peranan komunikasi antar pribadi antara pengajar muda dan peserta didik dalam meningkatkan motivasi belajar khususnya di SDN Pulau Legundi ? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas maka didapat tujuan penelitian yaitu: Untuk mengetahui dan menjelaskan mengenai peranan komunikasi antar pribadi antara pengajar muda dan peserta didik dalam meningkatkan motivasi belajar khususnya di SDN 01 Pulau Legundi. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang di dapat dalam penelitian ini, yaitu: 1. Untuk Mahasiswa, penelitian ini dapat menjadi rujukan, sumbangan ilmu pengetahuan serta menjadi acuan kajian studi ilmu komunikasi (komunikasi antar pribadi) khususnya yang terkait dengan komunikasi antar pribadi pengajar muda dan peserta didiknya. 2. Untuk Peneliti Selanjutnya, penelitian ini dapat berfungsi sebagai penambah wawasan ilmu pengetahuan dan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi. 9 3. Untuk Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi Dinas Pendidikan Provinsi Lampung untuk dapat memperhatikan sekolah-sekolah tertinggal yang ada di Provinsi Lampung. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia. Kehidupan manusia akan tampak “hampa” atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia baik secara perorangan, kelompok atau organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia ini (baik perorangan, kelompok, organisasi) dalam ilmu komunikasi disebut sebagai tindakan komunikasi (Effendi, 2000). Widjaja (2000), mengatakan komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu. Mengandung arti, dilakukan oleh penyampaian pesan ditujukan kepada penerima pesan. Komunikasi adalah suatu tingkah laku, perbuatan atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang, yang mengandung arti atau makna. Atau perbuatan penyampaian suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lain. pengertian secara paradigmatik yaitu komunikasi yang berlangsung menurut suatu pola dan memiliki tujuan tertentu, dengan pola komunikasi yang sebenarnya memberi tahu, menyampaikan pikiran dan perasaan, mengubah pendapat maupun sikap. 11 Komunikasi adalah pertukaran pesan verbal maupun non verbal antara si pengirim dan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku. Menurut kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (Human Communication) bahwa komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan 1. membangun hubungan antar sesama manusia 2. melalui pertukaran informasi 3. untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain serta berusaha merubah sikap dan tingkah laku itu. Komunikasi telah kita definisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia. 2.1.1 Unsur-Unsur Komunikasi Gary Cronkhite dalam Effendy (2000) merumuskan empat asumsi pokok komunikasi yang dapat membantu memahami komunikasi : 1. Komunikasi adalah suatu proses (communication is proses) 2. Komunikasi adalah pertukaran pesan (communication is transtactive) 3. Komunikasi adalah interaksi yang bersifat multidimensi (communication is multidimentional). Artinya karateristik sumber, saluran, pesan, audience dan efek dari pesan, semuanya berdimensi kompleks. Suatu pesan, misalnya mempunyai efek yang berbeda-beda diantara audience. Tergantung pada keyakinan, kepribadian, motif maupun pola perilaku yang spesifikasi 4. Komunikasi merupakan interaksi yang mempunyai tujuan-tujuan atau maksud maksud ganda (communication is multipurposeful). 12 2.1.2 Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi Komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh bebrapa faktor yang dapat mendukung atau malah menghambat keberhasilan komunikasi antarpribadi tersebut. Faktor pendukung dan penghambat komunikasi antarpribadi diuraikan sebagai berikut: A. Faktor Pendukung Ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan komunikasi dilihat dari sudut komunikator, komunikan, dan pesan, sebagai berikut (Suranto, 2010): a. Komunikator memiliki kredibilitas/kewibawaan yang tinggi, daya tarik fisik maupun nonfisik yang mengundang simpati, cerdas dalam menganalisis suatu kondisi, memiliki integritas/keterpaduan antara ucapan dan tindakan, dapat dipercaya, mampu memahami situasi di lingkungan kerja, mampu mengendalikan emosi, memahami kondisi psikologis komunikan, bersikap supel, ramah, dan tegas, serta mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat dimanaia berbicara. b. Komunikan memiliki pengetahuan yang luas, memiliki kecerdasan menerima dan mencerna pesan, bersikap ramah, supel, dan pandai bergaul, memahami dengan siapa ia berbicara, bersikap bersahabat dengan komunikator. Pesan komunikasi dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, disampaikan secara jelas sesuai kondisi dan situasi, lambang-lambang yang digunakan dapat dipahami oleh komunikator dan komunikan, dan tidak menimbulkan multi interpretasi/penafsiran yang berlainan. 13 B. Faktor Penghambat Faktor-faktor yang dapat menghambat komunikasi adalah sebagai berikut (Suranto, 2010): a. Komunikator komunikator gagap (hambatan biologis), komunikator tidak kredibel/tidak berwibawa dan kurang memahami karakteristik komunikan (tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, dan lain-lain) atau komunikator yang gugup (hambatan psikologis), perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki (hambatan gender). b. Komunikan yang mengalami gangguan pendengaran (hambatan biologis), komunikan yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan (hambatan psikologis), seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki (hambatan gender). c. Komunikator dan komunikan kurang memahami latar belakang sosial budaya yang berlaku sehingga dapat melahirkan perbedaan persepsi. d. Komunikator dan momunikan saling berprasangka buruk sehingga membosankan. e. Tidak digunakannya media yang tepatatau terdapat masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya). f. Perbedaan bahasa sehingga menyebabkan perbedaan penafsiran pada simbolsimbol tertentu. 14 2.2 Komunikasi Antarpribadi Menurut Joseph A. Devito dalam Suranto (2010), komunikasi antar pribadi didefinisikan sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Gitosudarmo dan Agus Mulyono dalam Mulyana (2012) memaparkan bahwa komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berbentuk tatap muka, interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan nonverbal, serta saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.. Mulyana (2012), menyebutkan bahwa komunikasi antarpribadi berarti komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Ia menjelaskan bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang. Komunikasi demikian menunjukkan pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat dan mereka saling mengirim dan menerima pesan baik verbal ataupun nonverbal secara simultan dan spontan. Menurut para ahli ada tiga perspektif yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang definisi komunikasi antarpribadi, yaitu: a. Perspektif komponensial, yaiti definisi komunikasi antarpribadi yang dilihat dari komponen-komponennya. Komunikasi antarpribadi dalam definisi ini diartikan sebagai proses mengirim dan menerima pesan-pesan diantara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan berbagai umpan balik dan efek. 15 b. Perspektif pengembangan, yaitu definisi komunikasi antarpribadi yang dilihat dari “proses pengembangannya”. Komunikasi dalam definisi ini dianggap sebagai proses yang berkembang, yakni dari hubungan yang bersifat impersonal meningkat menjadi hubungan antarpribadi.Suatu komunikasi dikatakan bersifat antarpribadi bila berdasarkan pada a) data psikologis; b) pengetahuan yang dimiliki, dan c) aturan-aturan yang ditentukan sendiri oleh para pelaku komunikasi. c. Perspektif relasional, yaitu definisi komunikasi antarpribadi yang dilihat dari hubungan diantara dua orang. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia baik secara perorangan, kelompok atau organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Komunikasi ini biasanya berlangsung secara berhadapan muka, bisa juga melalui sebuah medium telepon. Komunikasi antarpribadi dapat terjadi dalam konteks satu komunikator dengan satu komunikan (komunikasi diadik: dua orang) atau satu komunikator dengan dua komunikan (komunikasi triadik: tiga orang). Lebih dari tiga orang biasanya dianggap komunikasi kelompok. Menurut Gerald A Miller dalam Suranto (2010) komunikasi antarpribadi dapat dilihat dari 3 tingkatan analisis: a. Analisis tingkat kultural, bahwa untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain paling tidak mempunyai kesamaan kultral. b. Analisis tingkat sosiologis, yaitu komunikator melakukan prediksi mengenai reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan berdasarkan keanggotaan kelompok yang mempunyai aturan-aturan yang bernilai. 16 c. Analisis tingkat psikologis, komunikator ataupun komunikan mampu memprediksi kejiwaan lawannya. Keefektifan komunikasi dalam hubungan antarpribadi ditentukan oleh kemampuan kita untuk mengkomunikasikan secara jelas apa yang ingin kita sampaikan, menciptakan kesan yang kita inginkan, atau mempengaruhi orang lain sesuai keinginan kita. Dengan cara berlatih mengungkapkan maksud keinginan kita, menerima umpan balik tentang tingkah laku kita, dan memodifikasi tingkah laku kita sampai orang lain mempersepsikannya sebagaimana kita maksudkan. Dalam tataran antarpribadi, komunikasi relatif lebih dinamis, bersifat dua arah, komunikator dan komunikan sama-sama aktif saling mempertukarkan pesan (mengirim dan menerima pesan) untuk dimaknai dan ditanggapi oleh pihak lainnya. Jadi, disebut komunikasi antarpribadi jika antara komunikator dan komunikan mempunyai persepsi yang sama, saling kenal, dan mempunyai tujuan yang sama. 2.2.2 Komponen-Komponen Komunikasi Antarpribadi Berikut ini merupakan komponen-komponen yang berperan dalam komunikasi antar pribadi (Suranto, 2010): a. Komunikator, yaitu orang yang menciptakan, memformulasikan, dan menyampaikan pesan. b. Encoding, yaitu tindakan komunikator memformulasikan isi pikiran ke dalam simbol-simbol, kata-kata, dan sebagainya sehingga komunikator merasa yakin dengan pesan yang disusun dan cara penyampaiannya. c. Pesan, merupakan hasil encoding berupa informasi, gagasan, ide,simbol, atau stimuli yang dapat berupa pesan verbal maupun nonverbal. 17 d. Saluran/Media, yaitu sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan yang dapat berupa media cetak, audio, maupun audiovisual. e. Komunikan, yaitu orang yang menerima pesan, menganalisis, dan menafsirkan pesan tersebut sehingga memahami maknanya. f. Decoding, merupakan proses memberi makna dari pesan yang diterima. g. Umpan Balik, merupakan respon/tanggapan/reaksi yang timbul dari komunikan setelah mendapat pesan. h. Gangguan, merupakan komponen yang mendistorsi (menyebabkan penyimpangan/kekeliruan) pesan. Gangguan dapat bersifat teknis maupun semantis. i. Konteks Komunikasi, konteks dimana komunikasi itu berlangsung yang meliputi konteks ruang, waktu, dan nilai. 2.2.3 Ciri-Ciri Komunikasi Antarpribadi Berikut ini merupakan ciri-ciri komunikasi antar pribadi (Suranto, 2010): a. Arus pesan dua arah Arus pesan secara dua arah ini berlangsung secara berkelanjutan. Komunikator dan komunikan dapat berganti peran secara cepat, komunikator dapat berubah peran sebagai penerima pesan maupun sebaliknya. b. Suasana nonformal Komunikasi antarpribadi yang terjalin biasanya berlangsung dalam suasana nonformal dan pendekatan pribadi. 18 c. Umpan balik segera Karena komunikasi antarpribadi berlangsung secara tatap muka, maka umpan balik dapat diketahui dengan segera. Komunikan segera memberikan respon secara verbal berupa kata-kata atau nonverbal misalnya pandangan mata, raut muka, anggukan, dan sebagainya. d. Peserta komunikasi berada dalam jarak dekat Jarak dekat yang dimaksud yaitu fisik (peserta komunikasi saling bertatap muka dalam satu lokasi) maupun psikologis (menunjukkan hubungan keintiman antar-individu). e. Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal Untuk meningkatkan keefektifan komunikasi antarpribadi, peserta komunikasi berupaya saling meyakinkan, dengan mengoptimalkan penggunaan pesan verbal maupun nonverbal secara bersamaan, saling mengisi, saling memperkuat, sesuai tujuan komunikasi. 2.2.4 Keberhasilan Komunikasi Antarpribadi Untuk menciptakan keberhasilan komunikasi antar pribadi, perlu dikembangkan sikap-sikap positif sebagai berikut (Suranto, 2010): a. Membuka pintu komunikasi, misalnya dengan cara lambaian tangan, senyum yang tulus dan simpatik, mengucapkan kata sapaan, mengajak berjabat tangan, menanyakan keadaan, meminta maaf dan permisi, dan mengucapkan terima kasih. b. Sopan dan ramah dalam berkomunikasi tidak hanya dalam berbicara, tetapi juga dalam berpenampilan. 19 c. Jangan sungkan meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Dengan begitu kita menaruh rasa hormat pada orang yang diajak berbicara, dan pada gilirannya kita akan dihormati pula. d. Penuh perhatian, hal ini dapat diketahui dari seberapa jauh komunikator mengetahui karakteristik komunikan atau seberapa jauh wali kelas menghafal nama-nama siswa, apa yang disukai atau tidak, dan lain-lain. e. Bertindak jujur dan adil. Hal ini akan mengantarkan komunikator pada keprofesionalan karena kejujuran merupakan prinsip professional yang penting. 2.2.5 Model-Model Komunikasi Antarpribadi Berikut ini merupakan model-model komunikasi antar pribadi menurut Julia T. Wooddalam Vardiansyah (2004): a. Model Linier (Komunikasi Satu Arah) Komunikasi mengalir hanya dalam satu arah, yaitu dari pengirim ke penerima pasif. Dalam pembelajaran, pengirim yaitu wali kelas dan penerima yaitu siswa. Wali kelas hanya mengajar dengan metode ceramah. Ini berarti bahwa siswa tidak pernah mengirim pesan dan hanya menyerap secara pasif apa yang sedang dibicarakan. Model linier juga keliru dengan mewakili komunikasi sebagai urutan tindakan dimana satu langkah (mendengarkan) mengikuti langkah sebelumnya (berbicara). Dalam interaksi yang sebenarnya, bagaimanapun, berbicara dan mendengarkan sering terjadi secara bersamaan atau mereka tumpang tindih. Setiap saat dalam proses komunikasi 20 antarpribadi, peserta secara bersamaan mengirim dan menerima pesan dan beradaptasi satu sama lain. b. Model Interaktif (Komunikasi Dua Arah) Komunikasi sebagai sebuah proses dimana pendengar memberikan umpan balik, yang merupakan tanggapan terhadap pesan. Dalam pembelajaran, siswa memberikan umpan balik/tanggapan terhadap pesan yang disampaikan wali kelas. Jadi, wali kelas dan siswa memiliki peran yang sama, sebagai pemberi dan penerima reaksi. Meskipun model interaktif merupakan perbaikan atas model linier, model interaktif ini masih menggambarkan komunikasi sebagai proses yang berurutan dimanasatu orang adalah pengirim dan yang lain adalah penerima. Pada kenyataannya, semua orang yang terlibat dalam komunikasi mengirim dan menerima pesan. Model Interaktif juga gagal untuk menangkap sifat dinamis dari komunikasi antarpribadi bahwa cara berkomunikasi berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, guru dan siswa berkomunikasi dengan lebih mudah dan efektif setelah berminggu-minggu tidak bertemu karena libur sekolah. c. Model Transaksional (Komunikasi Banyak Arah) Model transaksional komunikasi antarpribadi menekankan dinamika komunikasi antarpribadi dan peran ganda orang yang terlibat dalam proses tersebut. Dalam model transaksional ini tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara wali kelas dengan siswa, tetapi juga interaksi dinamis antarsiswa. Proses belajar mengarah pada proses pembelajaran yang mengembangkan kegiatan siswa yang optimal, sehingga mendorong siswa aktif. Model transaksional juga menjelaskan bahwa komunikasi terjadi dalam 21 sistem yang mempengaruhi apa dan bagaimana orang berkomunikasi dan apa makna yang diciptakan. Sistem-sistem, atau konteks, termasuk sistem bersama dari kedua komunikator (sekolah, kota, tempat kerja, agama, kelompok sosial, atau budaya) dan sistem pribadi setiap orang (keluarga, asosiasi agama, teman-teman). Akhirnya, kita harus menekankan bahwa model transaksional tidak melabeli satu orang sebagai pengirim dan orang lain sebagai penerima.Sebaliknya, kedua orang didefinisikan sebagai komunikator yang berpartisipasi sama dan sering bersamaan dalam proses komunikasi. Ini berarti bahwa pada saat tertentu dalam komunikasi, Anda dapat mengirim pesan (berbicara atau menganggukkan kepala), menerima pesan, atau melakukan keduanya pada saat yang sama (menafsirkan apa yang dikatakan seseorang ketika noding untuk menunjukkan Anda tertarik). 2.3 Komunikasi Pendidikan Ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan (Effendi, 2000). Pendapat tersebut menekankan pendidikan itu berlangsung secara berencana didalam kelas secara tatap muka dan mengabaikan kegiatan pendidikan secara umum pada masyarakat dan pendidikan secara khusus dalam keluarga. Hal ini dapat dilihat pada pendapat berikutnya bahwa perbedaan antara komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuan atau efek yang diharapkan. Ditinjau dari efek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khas atau khusus, yakni meningkatkan pengetahuan seseorang 22 mengenai sesuatu hal sehingga ia menguasainya. Tujuan Pendidikan akan tercapai jika secara minimal prosesnya komunikatif. Bagaimana caranya agar proses penyampaian suatu materi mata ajar oleh pengajar/guru (sebagai komunikator) kepada para pelajar/siswa (sebagai komunikan) harus terjadi secara tatap muka dan secara timbal balik dua arah (Bahri,2011). Ada beberapa komponen-komponen penting yang menentukan keberhasilan komunikasi dalam proses belajar mengajar. Sebuah definisi singkat dibuat oleh Harold D. Lasswell dalam Rusydi (2006) bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya. Berdasarkan definisi Lasswell ini dapat diturunkan 5 unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain yaitu pertama guru sebagai komunikan dan sumber yang menyampaikan informasi tertentu kepada anak didik. Kedua pengkodean (Encoding) adalah pengirim mengkodean informasi yang akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat. Ketiga pesan (message), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya dapat dirasakan atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima. Keempat saluran (chanel) adalah cara mentrasmisikan pesan, misal kertas untuk surat, udara untuk kata-kata yang diucapkan dan kelima adalah peserta didik sebagai penerima (receiver) yakni orang yang menafsirkan pesan penerima, jika pesan tidak disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak akan terjadi. Penafsiran kode (decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Umpan balik (feedback) adalah pembalikan dari proses komunikasi dimana reaksi komunikasi pengirim dinyatakan. 23 Komunikasi menjadi sangat penting perannya karena peristiwa memindahkan pengetahuan dari sang guru kepada peserta didik, peristiwa membentuk perilaku dan moral yang baik, peristiwa belajar setiap harinya semua terjadi hanya lewat komunikasi yang dikembangkan sang guru dengan peserta didik. Komunikasi akan menjadi jendela jiwa sang guru untuk mampu memahami dan mengendalikan perilaku belajar peserta didik. Dengan menguasai ko

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (80 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Peran Komunikasi Antar Pribadi Pengajar Tari Dalam Meningkatkan Potensi Diri Anak (Studi Kasus Pada Sanggar Tari Sir Istana Maimun Medan)
0
57
136
Komunikasi Antar Pribadi dan Produktivitas Kerja ( Studi Korelasional Tentang Peranan Komunikasi Antar Pribadi antara Pimpinan Dan Karyawan Terhadap Peningkatan Produktivitas Kerja di PT. LOGIKREASI UTAMA MEDAN)
0
50
85
Komunikasi Antar Pribadi Dan Motivasi Belajar (Studi Korelasional Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Guru BP Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di SMK Negeri 7 Medan)
0
58
128
Komunikasi Antar Pribadi dan Peningkatan Kualitas Kerja Karyawan (Studi Deskriptif Peranan Komunikasi Antar Pribadi Team Leader pada PT. Infomedia Medan terhadap Peningkatan Kualitas Kerja Caroline Officer)
2
40
72
Peranan Komunikasi Antar Pribadi Terhadap Kepuasan Ekspatriat :( Studi Deskriptif Tentang Peranan Komunikasi Antar Pribadi Yang Dilakukan GRO (Guest Relation Officer ) Shoot Sports Bar & Billiards Medan Terhadap Kepuasan Ekspatriat )
0
57
94
Komunikasi Antar Pribadi Dan Kepribadian Anak-Anak Cacat (Studi Deskriptif Peranan Komunikasi Antar Pribadi Guru Dalam Perkembangan Kepribadian Anak-anak Cacat Pada YPAC Melalui Pendekatan Behaviorisme di Kota Medan)
9
77
109
Hubungan Antara Motivasi Dengan Disiplin Belajar Peserta Didik Kejar Paket C di SKB Situbondo Tahun Pelajaran 2010/2011
0
12
18
Hubungan Minat Peserta Didik Dalam Mengikuti Pendidikan Non-Formal Dengan Prestasi Belajar Peserta Didik Dalam Bidang Studi Fiqih di Kelas VIII Pondok Pesantren Asy-Syarif Desa Ajung Kabupaten Jember Tahun 2012/2013
0
6
3
Komunikasi Antar Pribadi Tentor Dan Murid Di Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Quantum Kids Cabang Metro Trade Center Bandung Dalam Proses Belajar Mengajar
1
36
124
Pola Komunikasi Pengajar Kepada Anak Jalanan di Rumah Belajar Sahaja Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Pengajar Kepada Anak Jalanan di Rumah Belajar Sahaja Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar)
4
24
96
Peranan Komunikasi Antar Pribadi dalam Meningkatkan Kedekatan Emosional Antara Pengurus dengan Anggota Baru (Studi pada Inter Club Indonesia Lampung Utara)
0
5
81
Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Dalam Pelayanan Ruang Baca Terhadap Kepuasan Mahasiswa Pengguna Ruang Baca FISIP Universitas Lampung ( Studi Pada Mahasiswa Pengguna Ruang Baca FISIP Universitas Lampung )
3
26
89
Peranan Komunikasi Antar Pribadi Antara Pengajar Muda dan Peserta Didik Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar ( Studi pada Program Lampung Mengajar di SDN 01 Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran )
2
49
80
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Discovery pada Peserta Didik Kelas IV SD Negeri 01 Ngombak Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan Semester 2 Tahun
0
0
142
Peran Komunikasi Antar Pribadi Pengajar Tari Dalam Meningkatkan Potensi Diri Anak (Studi Kasus Pada Sanggar Tari Sir Istana Maimun Medan)
0
0
35
Show more