TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Gratis

3
36
81
2 years ago
Preview
Full text
Rengga Pinaris ABSTRAK TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Oleh RENGGA PINARIS Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. Setelah itu menentukan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa novel Cinta di dalam Gelas Karya Andrea Hirata.Teknik Pengumpulan data yaitu dokumentasi dan wawancara.Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa teknis analisis teks. Hasil penelitian menggambarkan tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas meliputi agama, pendidikan, lingkungan, ciri fisik, mata pencaharian, dan budaya. (1) Agama yang ditemukan dalam novel tersebut adalah Islam, (2) tingkat pendidikan tokoh rendah, hal ini tercermin dari tokoh yang buta huruf, tidak sekolah, dan tidak tamat SD, (3) lingkungan tokoh yang ditemukan adalah sebuah pulau kecil yang bernama Belitong, pantai yang indah, Bitun, Tanjung Pandan, Manggar, Pangkal Pinang, Pulau Sekunyit, Palembang, perkampungan di pesisir, hidup berdampingan dengan suku Sawang dan Etnis Tionghoa, (4) ciri fisik tokoh adalah tinggi besar, berbadan kecil, pendek, berbadan kekar, berkulit gelap, dan kurus tinggi, dan (5) budaya tokoh Melayu yang mancakup (a) bahasa Melayu Mentok, (b) pandangan hidup Jangan Dak Kawa Nyusa Aok dan Serumpun Sebalai, (c) mata pencaharian pendulang timah, nelayan, pelayan warung kopi, juragan warung kopi, dan kuli, (d) rumah tradisional Melayu awal, (e) kesenian lagu Badai Bulan Desember dan orkes Melayu, (f) upacara tradisional sunat, (g) makanan tradisional terasi, sedangkan pakaian dan senjata tradisional tidak ditemukan. Dari penggambaran tokoh tersebut terdapat delapan tokoh yang termasuk kategori “sangat” Melayu. Kedelapan tokoh tersebut yaitu Enong, Ikal, Pamanda, Alvin, Detektif M. Nur, Rustam, Mitoha, dan Selamot. Hal ini karena Rengga Pinaris kemelayuan tokoh-tokoh tersebut digambarkan secara lugas di dalam cerita, sehingga memenuhi tiga indikator tokoh Melayu yaitu beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu. Selain itu terdapat lima belas tokoh yang termasuk ke dalam kategori “kurang Melayu” karena kemelayuan tokoh-tokoh tersebut digambarkan tidak secara lugas di dalam cerita, sehingga tidak memenuhi tiga indikator di atas. Tokoh tersebut adalah Modin, Sersan Kepala, Hasanah, Midah, jumadi, Preman Cebol, Chip, Muntaha, Maulidi, Mustahaq Davidson, Munawir, Maksum, Matarom, Ketua Karmun, Overste Djamalam. Novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata layak untuk dijadikan alternatif bahan ajar sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria pemilihan bahan ajar meliputi aspek psikologis, bahasa, dan latar belakang budaya. Kata kunci : bahan ajar, Implikasi, tokoh Melayu, RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sri Tanjung, Kabupaten Mesuji pada 2 Juni 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putera pasangan M. Namin dan Sarina Wati. Ibu penulis bekerja sebagai seorang guru SD dan ayah bekerja sebagai seorang petani. Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1998 di SD Negeri 1 Nipah Kuning yang diselesaikan pada tahun 2004. Setelah lulus kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Simpang Pematang dan selesai pada tahun 2007, setelah itu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Simpang Pematang yang diselesaikan pada tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pada tahun 2010 penulis tergabung ke dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (HMJPBS), tahun 2011 Penulis pernah menjabat sebagai ketua PSDM HMJPBS.Tahun 2012 bergabung dengan komunitas radio kampus yang bernama RAKANILA. MOTO “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar” (Quran Surat Al Baqarah: 153) “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap” (Quran Surat Al-Insyirah: 6-8) PERSEMBAHAN Alhamdulilahirabbilalamin, segenap jiwa dan raga serta dengan penuh rasa kasih sayang atas nikmat pendidikan yang telah Tuhan Yang Maha Esa berikan, kupersembahkan karya ini kepada: 1. sepasang cinta, Ibu dan Bapak yang selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, terima kasih atas doa dan pengorbanannya demi keberhasilanku, 2. kakak dan adikku tersayang, Sigit, Selvi Oktavia, Velin Triana, yang selalu memberikan motivasi, bantuan, dukungan, dan doa, 3. keluarga besarku, 4. sahabat-sahabat seperjuangan, Arifal Paslah, Aziz Firdaus, Jannatun Naim, dan Teguh yang selalu memberikan semangat dan dukungan setiap waktu, 5. almamater tercinta Universitas Lampung yang telah mendewasakanku. SANWACANA Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah swt. karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat teriring salam semoga tetap tercurah kepada kekasih sejati yaitu Muhammad SAW. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung. Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih setulus-tulusnya kepada: 1. Dr. Muhammad Fuad M.Hum. selaku pembimbing I dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung yang selama ini telah banyak membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada penulis dengan penuh kesabaran dalam penulisan skripsi ini; 2. Dr. Edy Suyanto, M.Pd. selaku pembimbing II yang telah banyak membantu, membimbing dengan cermat, penuh kesabaran, mengarahkan, dan memberi nasihat kepada penulis; 3. Drs. Kahfie Nazaruddin, M.Hum. selaku penguji yang telah memberikan nasihat, arahan, saran, dan motivasi kepada penulis; 4. Dra. Ni Nyoman Wety Suliani, M.Pd. selaku pembimbing akademik yang senantiasa memberikan dukungan, memberikan pengarahan, nasihat dan saransaran. 5. Eka Sofia Agustina S.Pd., M. Pd. selaku dosen yang salalu memberikan nasihat, motivasi, dan dukungan kepada penulis. 6. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat; 7. Dr. Bujang Rahman, M. Si. selaku Dekan FKIP Universitas Lampung, beserta stafnya; 8. Orang tuaku tercinta, Ibu Sarina Wati dan Bapak M. Namin yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi dalam bentuk moral maupun material dan untaian doa yang tiada terputus untuk keberhasilan penulis; 9. Kakak dan Adikku yang aku sayangi (Sigit, Selvi Oktavia, Velin Triana, dan Fitri) yang selalu memberikan keceriaan, semangat, dan motivasi; 10. Keluarga besarku yang senantiasa menantikan kelulusanku dengan memberikan dorongan, semangat, dan doa; 11. Sahabat-sahabatku Arifal, Naim, Teguh, Tio, Ramanda, Aziz, M. Lukman Rifai, Dewan Syafutra, yang selama ini terus memberi motivasi, dukungan, mengingatkan ketika salah, saling mendoakan, saling menghibur di setiap kesedihan, dan saling melengkapi, semoga persahabatan dan kasih sayang kita akan kekal selamanya; 12. Teman-teman Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2010 terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang telah teman-teman berikan; 13. Keluarga HMJPBS FKIP Unila (Titik Oktavia, Teh Ina Mutmainah, Mba Ayu Nurjanah, Kak Yoga, dll) yang sudah memberikan pengalaman dan pelajaran hebat dalam hidup saya 14. Teman-teman Fotografi Lampung Arifal, Martin, Bayu, Roni, Dwi, yang telah memberikan persahabatan serta kebersamaan. 15. Team Ice Cream Fotografi yang saya cintai. 16. Teman-teman KKN/PPL di desa Murni Jaya dan di SMPN 1 Tumijajar (Ahmad Nugroho, Jannatun Naim, Tia Permana Putri, Leni Anggraini, Marlina, Desna, Mira Olivia hr, Rizkiyana ). 17. Keluarga baru yang ada di Murni Jaya, Pak Herdi Priyatno,S.Pd. dan keluarga. 18. Kepala sekolah, guru, dan siswa SMPN 1 Tumijajar yang sudah mengajarkan penulis menjadi seorang guru, memberikan motivasi serta doa. 19. Kakak tingkat 2007-2009 dan adik tingkat 2011–2013 terima kasih atas bantuan, masukan, dukungan, persahabatan serta kebersamaan yang telah kalian berikan; 20. Semua Pihak yang terlibat dalam penulisan dan penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah swt. selalu memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu dan rekan-rekan semua. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk kemajuan pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, amin. Wassalamu alaikum Wr. Wb. Bandar Lampung, September 2014 Penulis, Rengga Pinaris DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL................................................................................ ABSTRAK ................................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... MOTTO ....................................................................................................... PERSEMBAHAN........................................................................................ SANWACANA ............................................................................................ DAFTAR ISI................................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... DAFTAR SINGKATAN............................................................................. i ii iv v vi vii viii xi xiv xv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian....................................................................... 1 7 7 8 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendekatan Karya Sastra ........................................................................ 2.2 Novel ...................................................................................................... 2.3 Tokoh ...................................................................................................... 2.3.1 Pengertian Tokoh ......................................................................... 2.3.2 Tokoh Melayu .............................................................................. 2.3.2.1 Melayu Bangka Belitung ................................................... 2.3.2.2 Agama Masyarakat Melayu Bangka Belitung ................... 2.3.2.3 Pendidikan Masyarakat Melayu Bangka Belitung ............. 2.3.2.4 Lingkungan Tinggal Masyarakat Melayu Bangka Belitung . 2.3.2.5 Ciri-Ciri Fisik Masyarakat Melayu Bangka Belitung ........ 2.3.2.6 Budaya Masyarakat Melayu Bangka Belitung ................... 2.3.2.6.1 Bahasa .................................................................... 2.3.2.6.2 Pandangan Hidup ................................................... 2.3.2.6.3 Mata Pencaharian ................................................... 2.3.2.6.4 Rumah Tradisional ................................................. 2.3.2.6.5 Pakaian Tradisional................................................ 2.3.2.6.6 Kesenian Tradisional.............................................. 9 10 12 12 14 16 18 19 20 22 22 23 25 26 27 28 30 2.3.2.6.7 Upacara Tradisional ............................................... 2.3.2.6.8 Senjata Tradisional................................................. 2.3.2.6.9 Makanan Tradisional.............................................. 2.4 Pembelajaran Sastra (Novel) di SMA .................................................... 34 40 40 42 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode ................................................................................................... 3.2 Sumber Data ........................................................................................... 3.3 Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 3.3 Teknik Analisis Data .............................................................................. 54 55 55 55 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pembahasan ............................................................................................ 4.1.1 Agama Masyarakat Melayu Bangka Belitung ………………….... 4.1.2 Pendidikan Masyarakat Melayu Bangka Belitung......................... 4.1.3 Lingkungan Masyarakat Melayu Bangka Belitung........................ 4.1.4 Ciri Fisik Masyarakat Melayu Bangka Beltung............................. 4.1.5 Budaya Masyarakat Melayu Bangka Beltung................................ 4.1.5.1 Bahasa ................................................................................ 4.1.5.2 Pandangan Hidup ............................................................... 4.1.5.3 Mata Pencaharian ............................................................... 4.1.5.4 Rumah Tradisional ............................................................. 4.1.5.5 Pakaian Tradisional............................................................ 4.1.5.6 Kesenian............................................................................. 4.1.5.7 Upacara Tradisional ........................................................... 4.1.5.8 Senjata Tradisional........................................................... 4.1.5.9 Makanan Tradisional.......................................................... 4.2 Implikasi dalam Pembelajaran Sastra di SMA ....................................... 57 58 70 75 85 91 92 105 118 127 128 128 131 133 133 145 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ................................................................................................. 160 5.2 Saran........................................................................................................ 161 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 162 LAMPIRAN................................................................................................. 164 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Cover Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ...................... 165 2. Tokoh-Tokoh dalam Novel Cinta di Dalam Gelas .................................. 166 3. Sinopsis Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ................... 168 4. Biografi Andrea Hirata ............................................................................. 171 5. Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Tingkat SMA Kelas X Kurikulum 2013 ............ 174 6.Instrumen Wawancara Tokoh Melayu dalam Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA.................................................................... 177 7. Skenario Pembelajaran Menganalisis Hal-Hal Menarik Tentang Tokoh dalam Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ........... 179 8. Lembar Kerja dan Kunci Jawaban Siswa.................................................. 188 9. Skema Menganalisis Hal-Hal Menarik Tentang Tokoh Dalam Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ................................. 193 10. Korpus Data Penelitian .......................................................................... 194 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Indikator Pemilihan Bahan Ajar Pembelajaran Sastra di SMA ............. 49 3.1 Rincian Pertanyaan Wawancara.............................................................. 55 3.2 Indikator Tokoh Melayu ......................................................................... 56 DAFTAR SINGKATAN A AL B CH CF DM EN IK JM K KK L M MA MAT MAK MU MUS MP MO PD PC PH PM R RU SE SK UT : Agama :Alvin : Bahasa : Chip : Ciri fisik : Detektif M. Nur : Enong : Ikal : Jumadi : Kesenian : Ketua Karmun : Lingkungan : Makanan : Maulidi : Matarom : Maksum : Muntaha : Mustahaq Davidson : Mata pencaharian : Modin : Pendidikan : Preman cebol : Pandangan Hidup : Pamanda : Rumah : Rustam : Selamot : Sersan Kepala : Upacara tradisional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara etimologis kata kesusastraan berasal dari kata su dan sastra. Su berarti baik dan sastra (dari bahasa Sansekerta) berarti tulisan atau karangan. Dari pengertian etimologis itu, sastra berarti karangan yang indah atau karangan yang baik (Suhendar, 1993: 1). Sastra merupakan pengungkapan fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat melalui bahasa serta memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia. Selain itu, karya sastra juga merupakan hasil imajinasi manusia yang bersifat indah dan dapat menimbulkan kesan yang indah pada jiwa pembaca. Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar-gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang dengan menggunakan bahasa. Sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sosial sebagi mediumnya, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Dalam hal ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmanusia, dan antarperistiwa. Bahan sastra yang sering 2 digunakan adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Berdasarkan bentuknya, karya sastra terdiri atas tiga jenis, yakni puisi, prosa, dan drama. Prosa juga disebut sebagai sebagai karya fiksi. Adapun prosa merupakan sebuah karya naratif yang mengangkat cerita kehidupan seorang tokoh fiksional dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu prosa fiksi adalah novel. Novel merupakan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan tokoh fiksional dengan tokoh-tokoh fiksional di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap tokohnya. Novel sebagi sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagi unsur-unsur pembangunnya. Dengan demikian, kegiatan mengapresiasi novel dapat dilakukan melalui dua tinjauan, yaitu tinjauan intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra dari dalam, seperti tema, alur, gaya bahasa, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat. Sementara itu, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, politik keagamaan, dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat. Di dalam novel, biasanya seorang pengarang mengangkat permasalahan yang terjadi di masyarakat melalui tokoh-tokohnya. Tokoh yang didukung dengan segala perwatakan dengan berbagai citra jati dirinya dalam banyak hal, akan lebih menarik perhatian orang lain atau pembaca daripada unsur lainnya (tema, plot, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat). Ketika struktur cerita atau plot 3 dianggap sebagi elemen fundamental dalam fiksi sehingga disebut sebagai jiwa fiksi, sesunggunhnya tokohlah yang mengisi plot itu. Peristiwa yang dimunculkan pengarang sangat dipengaruhi munculnya tokoh yang muncul dengan berbagai karakternya. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang. Masalah penokohan merupakan salah satu hal yang kehadirannya dalam sebuah karya fiksi (novel) sangat penting bahkan sangat menentukan karena belum ada karya fiksi tanpa adanya tokoh yang diceritakan dan tanpa adanya penggambaran sifat tokohnya. Setiap tokoh tentunya memiliki karakter tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Karakter yang berbeda pada setiap tokoh membuat setiap tokoh mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri, sehingga akan menarik untuk dibaca. Keberhasilan pengarang menyajikan cerita dalam suatu novel, tercermin melalui pengungkapan setiap unsur ceritanya itu. Salah satu di antaranya adalah pelukisan tokoh cerita yang disebut dengan penokohan. Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur yang penting dalam ‘menghidupkan’ tokoh dalam cerita. Istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh, sebab sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakannya, dan bagaimana pelukisan tokoh dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca ( Nurgiyantoro, 2007: 165-166). Novel Cinta di Dalam Gelas merupakan sebuah novel yang menceritakan model kehidupan masyarakat Melayu di Balitong. Hampir semua tokoh yang dimunculkan oleh pengarang (Andrea Hirata) adalah orang Melayu. Andrea 4 Hirata adalah seorang sastrawan yang novelnya mempunyai ciri khas membahas kehidupan masyarakat Melayu. Bagian yang menarik perhatian penulis dalam pembahasan aspek tokoh adalah tentang cara penggambaran tokoh Melayu. Alasan penulis lebih memfokuskan penelitian ini terhadap tokoh Melayu adalah sebagai berikut. 1) Melayu merupakan salah satu kebudayaan, ras dan suku bangsa yang ada di Indonesia. 2) Modernisasi membuat hal-hal yang bersifat kedaerahan, seperti budaya, mulai dilupakan oleh generasi muda, terutama budaya Melayu. 3) Memberikan pengetahuan tentang kebudayaan masyarakat Melayu 4) Menghadirkan bahan ajar yang bermanfaat bagi siswa SMA tentang orang Melayu. Selain keempat alasan di atas, novel Cinta Di Dalam Gelas karya Andrea Hirata juga memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikan penulis yakin untuk memilihnya sebagai subjek penelitian. Adapun keistimewaan itu adalah sebagai berikut. 1) Novel Cinta di Dalam Gelas merupakan novel best seller yang cetakan pertama habis terjual hanya dalam hitungan bulan. 2) Novel ini merupakan karya penulis terkenal Andrea Hirata yang karya-karya novelnya bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. 3) Novel ini mengandung pesan moral yang sangat kuat yaitu mengajarkan kepada setiap wanita bahwa mereka juga tidak kalah dengan lelaki dalam kehidupan bermasyarakat, pentingnya sebuah usaha untuk berjuang keras 5 dengan kesungguhan, kedisiplinan, sabar, ikhlas, dan selalu berdoa demi untuk mencapai cita-cita, serta betapa pentingnya nilai-nilai keagamaan. 4) Novel ini mengangkat kisah hidup seorang tokoh perempuan yang memberikan kekuatan dan motivasi bagi pembaca untuk tidak putus asa dalam menjalani hidup dan menjadikan diri lebih bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Sesuai dengan tujuan pengajaran umum Bahasa Indonesia, yaitu siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangakan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa ( Depdiknas, 2007: 1). Artinya, dalam mengahadirkan bahan ajar sastra guru harus menggiring siswa memenuhi tujuan umum di atas. Bahan ajar harus mampu membuat siswa mengembangkan kepribadian, misalnya saja dengan melihat sifat dan karakter tokoh protagonis di dalam novel siswa tergerak untuk menirunya. Siswa dapat memperluas wawasan dengan membaca sebuah karya sastra karena isinya berupa hal-hal baru yang berisi ilmu pengetahuan baik di bidang bahasa maupun umum. Dalam Kurikulum 2013 SMA, program pembelajaran sastra Indonesia yang berkaitan dengan pembelajaran novel, terdapat KI 3, yaitu memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang 6 kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minat untuk memecahkan masalah. KD 3.8 Menganalisis hal-hal menarik tentang tokoh hikayat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan mampu menganalisis hal-hal menarik tentang tokoh cerita seperti agama, pendidikan, lingkungan, ciri fisik, dan budaya. Enong atau Maryamah merupakan tokoh utama dan tokoh protagonis yang merupakan orang Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas. Artinya, tokoh yang paling banyak diceritakan dan tokoh yang menampilkan norma-norma dan nilainilai yang ideal. Tokoh utama tergolong penting dan biasanya ditampilkan terusmenerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita. Bahkan dalam novel tertentu, tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui pada tiap halaman buku cerita yang bersangkutan. Tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan unsur lainnya secara keseluruhan. Ia juga selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenai kejadian dan konflik, penting mempengaruhi perkembangan plot. Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk menganalisis tokoh, khususnya tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas ( SMA). Dari hasil penelitian ini, maka akan ditemukan tokoh Melayu yang ditinjau dari aspek agama, pendidikan, lingkungan, ciri fisik, dan budaya, serta implikasi novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang akan ditinjau melalui layak atau tidaknya novel Cinta di Dalam Gelas karya 7 Andrea Hirata dijadikan alternatif bahan ajar sastra di SMA. Layak atau tidaknya novel Cinta di Dalam Gelas dijadikan bahan ajar akan di analisis menggunakan teori pemilihan bahan ajar meliputi aspek bahasa, psikologi, dan budaya. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, peneliti merumuskan masalah pada penelitian ini yaitu “ Bagaimana tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA?” Adapun rinciannya sebagai berikut. 1. Bagaimanakah tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata? 2. Bagaimana implikasi novel Cinta di dalam Gelas karya Andrea Hirata terhadap pembelajaran sastra di Sekolah Menegah Atas? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini yaitu mendeskripsikan tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA. Adapun rincian dari tujuan utama penelitian ini sebagai berikut. 1. Menemukan dan mendeskripsikan agama, pendidikan, lingkungan, ciri fisik, dan budaya tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, lalu menentukan tokoh Melayu berdasarkan indikator beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu. 2. Mengimplikasikan novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata bagi pembelajaran sastra di SMA. 8 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. a) Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi di bidang sastra mengenai tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi peneliti selanjutnya. b) Memberikan pengetahuan kepada penulis maupun pembaca mengenai agama, mata pencaharian, ciri-ciri fisik, pandangan hidup, lingkungan tempat tinggal, dan pendidikan tokoh Melayu dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. c) Membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA dalam memilih bahan pengajaran. d) Membantu guru dan siswa dalam memahami dan mengapresiasi karya sastra terutama novel. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut. 1. Subjek penelitian ini yaitu novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, diterbitkan oleh PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, cetakan pertama Maret 2011, dengan tebal buku xx + 316 halaman. 2. Objek dalam penelitian ini yaitu tokoh Melayu dan implikasi novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata terhadap pembelajaran sastra di SMA. 9 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendekatan Karya Sastra Pendekatan karya sastra adalah cara memandang dan mendekati suatu objek. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa pendekatan itu adalah asumsi-asumsi dasar yang dijadikan pegangan dalam memandang suatu objek (Semi, 1993: 63). Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosiologi sastra sebagai landasan teori dalam menganalisa novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata. Menurut pandangan teori ini, karya sastra berhubungan dengan kenyataan sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Kehidupan sosial sangat mungkin menjadi pemicu lahirnya karya satra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya. Sosiologi sastra adalah suatu telaah sosiologis terhadap suatu karya sastra. Artinya sosiologi sastra menelaah kehidupan masayarakat atau tokoh yang ada di dalam karya sastra. Telaah sosiologis terbagi menjadi tiga klasifikasi sebagai berikut (Semi 1982: 53). 10 a. Sosiologi pengarang yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang. b. Sosiologi karya sastra yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra; yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya; c. Sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat . Selain klasifikasi di atas, dengan melihat hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, telaah suatu karya sastra akan mencakup tiga hal sebagai berikut (Jabrohim, 2012: 218-220). a. Konteks sosial pengarang, yakni yang menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi diri pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya. b. Sastra sebagai cermin masyarakat, yang ditelaah adalah sampai sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. c. Fungsi sosial sastra, dalam hal ini ditelaah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial, dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan masyarakat bagi pembaca. 2.2 Novel Sebutan novel dalam bahasa Inggris adalah novel dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia. Novel berasal dari bahasa Itali yaitu novella. Novella berarti 11 sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan cerita pendek dalam bentuk prosa (Nurgiyantoro, 1994: 9). Novel merupakan bentuk lain dari cerita rekaan di samping cerita pendek. Keduanya memiliki lebih banyak persamaan bila dibandingkan dengan perbedaan. Perbedaannya yang terutama terletak pada intensitas atau kedalaman perwatakannya dan pada ragam alur ceritanya. Di dalam novel penggambaran watak tokoh lebih mungkin dirinci setuntas-tuntasnya, hal seperti ini kurang mungkin dilakukan dalam cerita pendek (Sutawijaya dan Rumini, 1996: 91). Novel adalah sebuah karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita). Novel lebih mencerminkan gambaran tokoh nyata, tokoh yang berangkat dari realitas sosial dan mencoba mengangkat nilai-nilai, yang hidup di dalam masyarakat sehingga novel memungkinkan adanya penyajian panjang lebar tentang tempat dan ruang. Melalui novel, pembaca diajak melakukan eksplorasi dan penemuan diri. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan posisi manusia dalam masyarakat menjadi pokok permasalahan yang selalu menarik perhatian para novelis (Suroto 1989: 19). Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa novel adalah sebuah cerita yang panjang membahas atau menggambarkan watak tokoh secara rinci dan mendalam, yang di dalamnya berisi berbagai peristiwa dengan permasalahan yang sangat kompleks dan bersifat realistis atau diadaptasi dari kenyataan. Cerita di dalam sebuah novel biasanya panjang karena membahas keadaan dalam suatu masyarakat dengan konflik-konflik tertentu yang diceritakan secara mendetail. 12 Tokoh-tokoh di dalam novel cenderung lebih banyak daripada tokoh yang ada di dalam cerpen. 2.3 Tokoh Tokoh merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. Plot dipandang orang sebagai tulang punggung cerita, namun kita pun dapat mempersoalkan siapa yang diceritakan itu? Siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu, “sesuatu” yang dalam plot disebut sebagai peristiwa, siapa pembuat konflik, dan lain-lain adalah urusan tokoh. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dan berbagai citra dirinya, dalam banyak hal, lebih menarik perhatian. 2.3.1 Pengertian Tokoh Tokoh merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu novel atau cerita rekaan. Tokoh cerita (character) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif (novel) yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan. Artinya, sifat atau karakter tokoh dalam cerita dapat terlihat melalui tingkah laku tokoh di dalam cerita (Nurgiyantoro 2007: 165). Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh tidak selalu berwujud manusia, tapi bergantung pada siapa atau apa yang diceritakannya itu di dalam cerita. Watak atau karakter adalah sifat dan sikap para tokoh tersebut (Suyanto, 2012 : 46). Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi 13 dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Artinya, benda atau binatang tersebut dibuat seolah-olah seperti sifat manusia (Sudjiman,1991:16). Tokoh dalam cerita berperan sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan keadaan lahiriah dan batiniah. Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Seluruh pengalaman yang diungkapkan dalam cerita, kita ikuti berdasarkan tingkah laku dan pengalaman yang dijalani oleh pelakunya. Tokoh yang berperan penting dalam sebuah cerita disebut tokoh inti atau tokoh utama. Tokoh yang memiliki peran yang tidak penting karena fungsinya hanya melengkapi, melayani dan mendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu ( Aminudin, 2002: 79). Pembedaan tokoh dapat dilihat berdasarkan fungsi tokoh. Di dalam cerita tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendapat empati pembaca. Sementara tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik (Suyanto, 2012: 49). Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi dibedakan menjadi dua, yakni tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh pariferal atau tokoh tambahan (bawahan). Karena acapkali sebuah fiksi melibatkan beberapa tokoh,perlu begi kita untuk pertama kali menentukan tokoh sentralnya. Tokoh sentral adalah tokoh yang paling sering dimunculkan atau bisa juga disebut tokoh utama (Sayuti, 2000: 74). Berdasarkan peranan dan tingkat pentingnya, tokoh terdiri atas tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak 14 diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan kejadiannya lebih sedikit dibandingkan tokoh utama. Kejadiannya hanya ada jika berkaitan dengan tokoh utama secara langsung. Tokoh utama dapat saja hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam setiap halaman buku cerita yang bersangkutan, tetapi tokoh utama juga bisa tidak muncul dalam setiap kejadian atau tidak langsung ditunjuk dalam kejadian meskipun masih tetap erat kaitannya dengan tokoh utama (Nurgiyantoro, 2007: 176). Penentuan tokoh utama dalam sebuah cerita dapat dilakukan dengan cara, melihat tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema, tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Pembaca dapat menentukan tokoh utama dengan jalan melihat keseringan pemunculan dalam suatu cerita. Selain lewat memahami peranan dan keseringan munculnya, dalam menentukan tokoh utama dapat juga melalui petunjuk yang diberikan pengarangnya. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya ( Aminuddin, 2002: 80). 2.3.2 Tokoh Melayu Jika kita mendengar kata Melayu tentu yang terbayang di benak adalah istilah lama untuk menyebut bahasa Indonesia sebelum terjadinya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yaitu bahasa Melayu. Melayu juga dipahami sebagai sebuah ras atau sub-ras atau bangsa. Ras adalah kategori individu yang secara turun temurun memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu. 15 Kata Melayu berasal dari kata “Mala” (yang berarti mula) dan “Yu” (yang berarti negeri). Kemudian kata “Melayu” atau “Melayur” dalam bahasa Tamil berarti tanah tinggi atau bukit, kata “Malay” yang berarti hujan. Ini bersesuaian dengan tempat orang melayu tinggal yaitu negeri yang banyak mendapat hujan, karena terletak antara dua benua, yaitu Asia dan Australia. Semua istilah dan perkataan itu dapat dirangkum sehingga Melayu dapat diartikan sebagai suatu negeri yang mula-mula didiami dan mendapat banyak hujan. Negeri itu dibangun di atas perbukitan (Isjoni, 2007: 15). Seiring dengan perkembangan zaman, banyak terdapat penemuan-penemuan baru tentang fakta-fakta melayu. Dalam berbagai sumber yang dibuat orang-orang Eropa pada abad 17 dan 18 menyebutkan jika “negeri asal” Melayu itu adalah Sumatra (pantai timur bagian tengah atau bagian selatan). Sumber-sumber tersebut berasal dari catatan Petrus Van Der worms dan Valentijn serta W. Marsden. Penemuan orang-orang Eropa tersebut kemudian melebarkan makna dari Melayu menjadi penamaan sebuah wilayah dan sekumpulan besar orang yang mendiami daerah tersebut dan juga sebagian besar Sumatra (Isjoni, 2007: 21). Daerah hunian orang Melayu adalah pesisir timur Sumatra sampai ke timur Palembang, sebagian kecil Lampung, Jambi, dan Riau. Daerah pesisir timur Sumatra salah satunya adalah Bangka Belitung (Sinar, 1994: 11). Ada tiga ciri-ciri orang Melayu. Ciri-ciri tersebut adalah beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu (Isjoni, 2007: 29). Artinya, jika 16 seseorang memenuhi tiga ciri-ciri di atas dia disebut Melayu “asli” atau “asli Melayu, tetapi jika tidak memenuhi disebut “kurang” atau “tidak” Melayu. Dari uraian di atas penulis menyimpulkan pengertian Melayu adalah masyarakat yang menetap di pesisir timur Sumatra sampai ke timur Palembang, sebagian kecil Lampung, Jambi, Kalimantan, dan Riau yang mempunyai ciri-ciri beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu. Jadi pengertian tokoh Melayu adalah masyarakat yang menetap di pesisir timur Sumatra ( Bangka Belitung) yang mempunyai ciri-ciri beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu yang ditampilkan dalam suatu karya naratif (novel) yang oleh pembaca dapat ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan uraian di atas ada tiga indikator yang digunakan untuk menentukan tokoh Melayu. Ketiga indikator tersebut adalah beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat istiadat Melayu. Peneliti Menganalisis 3 indikator tersebut dengan lima aspek meliputi agama, pendidikan, lingkungan, ciri fisik, dan budaya. 2.3.2.1 Melayu Bangka Belitung Provinsi kepulauan Bangka Belitung termasuk provinsi yang masih muda di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dahulu provinsi ini termasuk dalam wilayah Sumatra Selatan. Hingga keluarlah Undang-Undang No. 27 tahun 2000 tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai dasar hukum berdirinya provinsi tersebut. Provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari 2002. 17 Ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah kota Pangkal Pinang. Provinsi ini merupakan gugusan dua pulau, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Gugusan pulau ini terletak di sebelah selatan Kepulauan Riau dan di sebelah timur daratan Provinsi Sumatra Selatan samapai Selat Karimata. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki beragam suku bangsa. Salah satu suku bangsa itu adalah suku bangsa Melayu. Suku bangsa Melayu merupakan suku bangsa asli provinsi tersebut. Di provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdapat beberapa suku bangsa. Sukusuku bangsa tersebut antara lain suku bangsa Melayu, suku bangsa Bugis, Madura, Minang, Flores, dan etnis Cina. Namun sebagian besar penduduk di provinsi ini adalah beretnis Melayu (60%) dan penduduk lainnya adalah etnis Cina (30%) dan sisanya adalah etnis lainnya (Eti, 2009: 26). Mayoritas suku bangsa di Bangka Belitung adalah rumpun Melayu. Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa Melayu sehingga tidak sulit bagi kaum pendatang untuk menangkap pembicaraan masyarakat di provinsi ini. Salah satu bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari di provinsi ini adalah bahasa Melayu Bangka. Bahasa Melayu Bangka tentu dipengaruhi oleh dialek Bangka Belitung. Dialek Bangka Belitung tidak lain adalah bahasa Melayu yang mengalami sedikit perubahan disana-sini. Pada umumnya perubahan itu terletak pada pengucapan vokal “a” (terakhir) yang adakalanya berubah ucapan menjadi “e” atau “o” atau “e”, misalnya siapa menjadi siape atau siapo ataupun siape’. Adanya perubahan dalam pengucapan ini memudahkan kita untuk mengenal apakah seseorang itu berasal dari Bangka 18 Belitung bagian barat atau bagian utara, bagian tengah ataukah bagian selatan. Secara umum bahasa yang digunakan di Pulau Bangka lebih mirip degan Bahasa Melayu yang ada di Palembang, sedangkan bahasa yang digunakan di Belitung lebih mirip dengan bahasa Melayu yang ada di Malaysia. Selain bahasa Melayu Bangka Belitung di provinsi ini juga digunakan bahasa lain. Bahasa tersebut adalah bahasa Cina (Orang Tionghoa Bangka Belitung) dan bahasa Indonesia. Bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut tidak mengenal tingkatan seperti bahasa Jawa atau Sunda. Untuk mengungkapkan hal-hal yang formal, masyarakat di provinsi ini menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat nonformal, penduduk di provinsi ini menggunakan bahasa Melayu Bangka Belitung. 2.3.2.2 Agama Masyarakat Melayu Bangka Belitung Agama adalah ajaran, sistem yang mengtur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang Maha kuasa. Di dalam suatu karya sastra, sastrawan menggambarkan agama yang dianut masyarakat untuk menggambarkan kepercayaan mereka kepada tuhan. Masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah masyarakat yang beragama. Ada berbagai macam agama yang dipeluk oleh masyarakat di provinsi ini, seperti agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha ( Eti, 2009: 25). Islam memang identik dengan masyarakat Melayu, mayoritas masyarakat Bangka Belitung adalah Melayu, hal ini menyebabkan agama Islam merupakan agama mayoritas. Pengaruh Islam cukup kuat di Belitung, akulturasi tradisi kepercayaan 19 dengan ajaran agama Islam menjadi cukup signifikan, tradisi Islam dapat dilihat dari tradisi selamatan kampung, acara syukuran pada anak yang lahir, disambut dengan membaca doa islami dan pembacaan syair marhaban. Meskipun sistem ritual kepercayaan masih tetap dihormati sampai sekarang, hal ini menyebabkan kepercayaan asli yang bersifat animisme masih berkembang di kalangan masyarakat. Kepercayaan animisme terlihat dari berbagai upacara adat yang kerap dilakukan di provinsi ini, seperti upacara mengerjakan ladang (maras taun), menangkap ikan (buang jong), menyelenggarakan perkawinan (gawai penganten). Mereka juga masih percaya kepada kekutan gaib pada benda-benda keramat dan melakukan berbagai pantangan. 2.3.2.3 Pendidikan Masyarakat Melayu Bangka Belitung Pendidikan sebagai salah satu faktor yang paling penting dalam pembangunan nasional, dijadikan andalan utama untuk berfungsi semaksimal mungkin dalam upaya meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut (Ihsan, 2011: 4-5). a) Driyarkarya mengatakan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia ke taraf insani itulah yang disebut mendidik. Pendidikan pemanusiaan manusia muda. b) Ki Hadjar dewantara dalam Kongres Taman Siswa yang pertama pada tahun 1930 menyebutkan pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. 0 c) Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, seperti sekolah dan sebagainya. Di dalam sebuah karya sastra pengarang akan mengambarkan kondisi pendidikan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Kondisi tersebut bisa beragam, seperti tingkat pendidikan rendah, cukup mendapatkan pendidikan, dan mendapatkan pendidikan yang memadai. Pendidikan masyarakat Melayu di Bangka Belitung sama halnya dengan pendidikan di daerah-daerah terpencil Indonesia lainnya. Pemerintah Bangka Belitung telah berusaha meningkatkan mutu pendidikan dengan cara memperhatikan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam dunia pendidikan. Namun pendidikan di Bumi Serumpun Sebalai ini memang belum menghasilkan prestasi yang membanggakan (Eti, 2009: 29-30). 2.3.2.4 Lingkungan Tinggal Masyarakat Melayu Bangka Belitung Lingkungan adalah suatu media di mana makhluk hidup tinggal, mencari penghidupannya, dan memiliki karakterserta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbale balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil (Setiadi dkk. 2008: 177), atau bisa disebut juga lingkungan adalah daerah atau kawasan yang di dalamnya terdapat tempat tinggal seperti perkampungan atau perkotaan. ✁1 Di dalam karya sastra pengarang akan mengambarkan lingkungan tokoh, atau latar tempat kejadian di dalam novel berlangsung. Lingkungan tokoh yang digambarkan bisa berupa keadaan tempat tinggal, sungai, laut, dermaga, pulaupulau dan lain lain. Lingkungan masyarakat Melayu Bangka Belitung hidup dengan berbagai macam suku, yaitu suku bangsa Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Banjar, Minang, Manado, Sawang, dan etnis Cina (Tionghoa). Namun, sebagian besar penduduk di provinsi ini adalah beretnis Melayu (60%). Adapun sebagian kecil penduduk lainnya adalah etnis Cina (30%) dan etnis-etnis lainnya (10%) (Eti, 2009: 26). Secara umum lingkungan tinggal masyarakat Melayu Bangka Belitung sebagian besar merupakan dataran rendah, lembah, rawa-rawa, sebagian kecil pegunungan dan perbukitan. Selain itu, provinsi ini juga dikelilingi oleh pantai sejauh 1200 kilometer. Kepulauan Bangka Belitung sangat terkenal akan keindahan pantainya. Pada umumnya pantai di Kepulauan Bangka Belitung berpasir putih dan halus. Namun ada juga yang berwarna kuning keemasan seperti bulir padi. Ketinggian dataran rendah rata-rata sekitar 50 meter di atas permukaan laut dan ketinggian daerah pegunungan antara lain untuk Gunung Maras mencapai 699 meter di Kecamatan Belinyu (Pulau Bangka), Gunung Tajam Kaki ketinggiannya kurang lebih 500 meter diatas permukaan laut di Pulau Belitung. Sedangkan untuk daerah perbukitan seperti Bukit Menumbing ketinggiannya mencapai kurang lebih 445 meter di Kecamatan Mentok dan Bukit Mangkol dengan ketinggian sekitar 395 meter di atas permukaan laut di Kecamatan Pangkalan Baru. ✂✂ 2.3.2.5 Ciri- Ciri Fisik Masyarakat Melayu Bangka Belitung Ciri-ciri fisik adalah tanda khas yang membedakan fisik orang melayu dengan fisik suku bangsa lainnya. Di dalam karya sastra pengarang akan menggambarkan ciri-ciri fisik tokoh cerita di dalam novelnya. Ciri fisik tersebut bisa berupa tinggi badan, bentuk hidung, warna rambut, dan lain-lain. Ras yang ada pada orang Melayu menyebabkan ciri-ciri fisik tersendiri pada masyarakat Melayu. Pada umumnya ras masyarakat Melayu masuk ke dalam Ras Mongoloid. Golongan Melayu Mongoloid ini adalah golongan terbesar yang ditemukan di Indonesia dan dianggap sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Ras Melayu Mongoloid mempunyai ciri-ciri fisik rambut ikal atau lurus dan muka bulat,kulit coklat muda, dan hidung pesek ( Sinar, 1994:9). Golongan Ras Melayu Mongoloid dibagi menjadi dua. Kedua golongan tersebut adalah sebagai berikut. a. Golongan Melayu Tua (Proto Melayu), seperti Suku Batak, Toraja dan Dayak. b. Golongan Melayu Muda (Deutro Melayu), seperti Suku Aceh, Jawa, Melayu adPesisir, Bangka Belitung, Bali, Madura dan Banjar. 2.3.2.6 Budaya Masyarakat Melayu Bangka Belitung Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari b

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS ASPEK SOSIAL DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT KARYA ANDREA HIRATA
0
7
13
ASPEK PSIKOLOGI KEPRIBADIAN HUMANISTIK TOKOH UTAMA DALAM DWILOGI NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA
1
33
4
ASPEK PSIKOLOGI KEPRIBADIAN HUMANISTIK TOKOH UTAMA DALAM DWILOGI NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA
1
4
20
NILAI MORAL DALAM NOVEL PESANTREN IMPIAN KARYA ASMA NADIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
27
252
121
KONDISI SOSIAL DAN POLITIK EKSIL DI PRANCIS DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
0
12
107
TIPE KEPRIBADIAN PADA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
8
107
98
CIRI-CIRI TOKOH DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SMA
2
33
14
RELASI DALAM WACANA KUMPULAN CERPEN DI ATAS SAJADAH CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
1
42
62
PERILAKU TOKOH YANG ‘HASANAH’ DALAM NOVEL “AYAT-AYA T CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
2
65
101
DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
2
30
72
TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
3
36
81
PANDANGAN DUNIA TOKOH MARGINAL DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA (Sebuah Tinjauan Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann)
17
228
181
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PAK GURU KARYA AWANG SURYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
5
42
56
ASPEK KEJIWAAN TOKOH DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT KARYA ANDREA HIRATA TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA
1
2
116
GAYA BAHASA DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA
0
6
12
Show more