Implementasi Sistem Step By Step Switching Menggunakan Komponen Terintegrasi

Gratis

0
49
5
3 years ago
Preview
Full text

  IMPLEMENTASI SISTEM STEP by STEP SWITCHING MENGGUNAKAN KOMPONEN TERINTEGRASI 1 ) 1) Suhe rm a n

Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik USU

  Abstrak

  Sentral yang menggunakan sistem step by step switching telah lama ditinggalkan. Teknologi telah beralih ke sistem switching digital common control, bahkan berbasis packet switching khususnya penggunaan IP based Network. Namun demikian, teknologi switching step by step yang dahulu berbasis sistem mekanis masih dapat diperbaharui dengan memanfaatkan komponen terintegrasi (integrates cicuit, IC). Sistem switching step by step dengan komponen terintegrasi ini dapat dimanfaatkan untuk membentuk sistem PABX kapasitas kecil. Karena dibentuk dengan memanfaatkan komponen terintegrasi, teknologi ini memungkinkan untuk diimplementasikan dalam bentuk IC tunggal (Application Specipic Integrated Circuit, ASIC). Sehingga akan diperoleh komponen PABX mini yang lebih sederhana dibandingkan PABX berbasis microcontroller.

  Kata kunci : Switching, step by step, PABX, telepon, extension, trunk

  Abstract munication exchange which used step by step switching system are obsolete. Technology had move to

the digital common control switching system even based on switching package, especially using IP

based network. Even though, the step by step switching system technology based on mechanical

switching system are renewable by using integrated circuits IC’s.

  Step by step switching system using the integrated circuits technologies can be used to build a small capacity PABX system. Because of built by using IC’s, this technology can be implemented in the form

of single chip IC (Application Spesific Integrated Circuits, ASIC). This will give small PABX

components which is more simple compared to microcontroller base PABX.

  Keywords: Switching, step by step, PABX, telepon, extension, trunk 1.

  mekanis, elektronis, analog sampai sistem

   Pendahuluan

  Sistem switching merupakan bagian dari switching digital. Sistem switching step by step teknologi telekomunikasi. Sistem switching semakin ditinggalkan. manual mengawali teknologi ini, kemudian ditemukan sistem switching otomatis oleh

  2. Sistem Switching Step by Step

  Almon B. Strowger dengan sistemnya yang Sentral Step by step adalah sistem dikenal sebagai sistem step by step atau direct switching otomatis yang paling tua dan paling control. Sistem inilah yang diadopsi dalam sederhana. Step by step switching menggunakan tulisan ini. pengontrolan dial langsung (direct-dial control)

  Pada perkembangan selanjutnya, muncul dimana switch secara langsung merespon digit sistem switching common control atau indirect yang dikirimkan telepon ke masing-masing control yang diawali oleh Gothief Betulander tingkatan switch. Sistem switching ini dengan switch crossbar. Sistem common control mendominasi dunia telekomunikasi sampai berkembang dari sistem crossbar, electro- tahun 1970.

  Komponen utama yang digunakan oleh Sentral step by step terdiri dari beberapa sistem switching step by step adalah selektor. bagian, di antaranya SLIC, linefinder, alloter, Selektor merupakan alat pemilih yang group selector dan final selector. SLIC atau menghubungkan satu masukkan (inlet) dengan Subcriber Line Interface Circuit digunakan beberapa pilihan keluaran (outlet), (Sigit sebagai rangkaian interface ke pelanggan, Haryadi, 1985). Selektor elektromekanik linefinder merupakan selector yang merespons digerakkan secara elektromagnetik maupun telepon yang meminta layanan, alloter dengan mempergunakan elektromotor. Gambar merupakan selector yang mencari outlet sesuai 1 menunjukkan konstruksi selektor (Suherman, impuls yang diberikan telepon sedangkan 2004). preselector, group selector dan final selector adalah penamaan kelompok-kelompok selektor. Gambar 2 (Suherman, 2004) menunjukkan bagian switching step by step.

  3. Aplikasi Switching Step by Step

  Gambar 3 merupakan contoh switching step by step sederhana yang melayani 5 pelanggan dan 1 trunk untuk ke sentral lain (105). Karena kapasitasnya yang kecil, maka selektor yang dipakai hanyalah Line Finder, dan

  Gambar 1. Selektor Final Selector (Suherman, 2004). Selektor dalam keadaan awal berada pada Masing-masing pelanggan dihubungkan ke home position, saat menerima impuls dari SLIC dan terhubung ke 3 Line Finder. 3 line pesawat telepon, wiper atau tungkai selektor finder berarti setiap saat ada 3 telepon yang bisa akan berpindah. Perpindahannya ditentukan oleh menggunakan sentral. Dibandingkan jumlah besarnya impulse tadi. Setiap output selektor pelanggan, diperoleh perbandingan 3 : 5 atau dihubungkan dengan saluran ke telepon lain. 60%. Persentasi ini sering disebut sebagai konsentrasi. Jika disebut 20%, maka hanya 20% dari pelanggan yang bisa menggunakan sentral secara bersamaan.

  Sentral dengan 5 pelanggan di atas menggunakan 3 Line Finder yang menghasilkan 3 telepon yang bisa aktif secara bersamaan dengan pertimbangan, 1 telepon menelpon kesentral lain dan 2 telepon menelepon pelanggan di dalam sentral, sehingga 5 pesawat telepon dapat aktif secara bersamaan.

  Gambar 2. Sistem switching step by step SLIC

1

2 3 1 SLIC SLIC SLIC SLIC Controller Finder Line

5

1

Controller Selector 5 4 5 Controller Finder Line

5

1

  

5

Controller Selector 5 Controller Finder Line Controller Selector

  5 Sentral Lain Ke

Gambar 3. Sistem Switching Step By Step Kapasitas 105

  Im p le m e nta si Siste m Ste p b y Ste p Sw itc hing Me ng g una ka n Ko m p o ne n

  11

  SELECTOR - LINE FINDER (IC SWITCH 4066)

4. Implementasi Line Finder Tunggal

  SLIC

  Implementasi switch terintegrasi dapat TELEPHONE SLIC mempergunakan IC 4066 atau IC sejenisnya. IC LINE SLIC SLIC CHANNEL VOICE ini menghubungkan input-output jika pin SLIC CONTROL SWITCH kendali berlogika 1. Gambar 4 menunjukkan HOOK DETECT implementasi selektor line finder dengan menggunakan IC 4066 dengan gerbang logika IC QUAD LATCH serta IC latch.

  Input gerbang logika berasal dari deteksi hook. Saat semua hook tertutup, gerbang logika SWITCH CONTROL SELECTOR LAIN DARI (output gerbang OR) akan menghasilkan output logika 0. Output ini mengendalikan pin enable LINE FINDER CONTROLLER KE SELECTOR LAIN SWITCH CONTROL

  IC latch. Kondisi logika 0 menyebabkan IC latch dalam kondisi enable, input yang berasal

  Gambar 5. Line Finder Jamak

  dari deteksi hook akan dihubungkan ke output latch. Jika semua telepon dalam kondisi tertutup, Kondisi di atas dapat dihindari dengan maka output IC latch akan berlogika 0, sehingga menambahkan gerbang AND pada input tidak ada switch yang tertutup. Saat salah satu gerbang pengendali. Input gerbang AND berasal hook telepon diangkat, maka output gerbang dari line finder lain. Rangkaian lengkap akan menjadi tinggi, menyebabkan input sesaat ditunjukkan pada gambar 5.

  IC latch disalurkan ke output kemudian kondisinya mengunci (latch). Output akan

  6. Implementasi Final Selector

  menghubungkan switch bersesuaian dengan Setelah menduduki line finder, pesawat hook yang diangkat. Telepon tersebut telepon yang diangkat menekan nomor telepon menduduki switch. Saat telepon lain diangkat, yang dituju. Nomor dalam bentuk DTMF ini tidak akan mengganggu kondisi switch selama akan menggerakkan final selector. Nada DTMF ia masih diduduki. SELECTOR - LINE FINDER (IC SWITCH 4066) detector atau DTMF receiver dapat akan dideteksi oleh DTMF detektor. DTMF SLIC SLIC menggunakan IC MT8870. Output DTMF TELEPHONE LINE SLIC CHANNEL VOICE receiver akan didekodekan menggerakan switch. SLIC Tetapi untuk menghindari pendudukan switch SLIC CONTROL SWITCH terus menerus saat panggilan berakhir yang disebabkan output DTMF receiver yang bersifat DETECT HOOK mengambang (latch), maka pengontrolan juga IC QUAD LATCH dikendalikan oleh sinyal call control yang berasal dari output gerbang di line finder, serta LINE FINDER CONTROLLER pin Std yang berasal dari DTMF receiver. VOICE (IC SWITCH 4066) FINAL SELECTOR VOICE

  Gambar 4. Line Finder Untuk Aplikasi Tunggal CHANNEL CHANNEL CONTROL SWITCH 5.

   Implementasi Line Finder Jamak CALL

  Untuk aplikasi line finder lebih dari satu, CONTROL SET diperlukan rangkaian kendali yang Q Clk LATCH D BCD - DECIMAL ENCODER mengendalikan penggunaan switch satu persatu. Std Jika line finder bertingkat hanya menggunakan DTMF RECEIVER rangkaian pada gambar 4, maka saat salah satu FINAL SELECTOR CONTROLLER telepon diangkat, semua line finder akan diduduki.

  Gambar 6. Rangkaian Final Selector Gambar 6 menunjukkan rangkaian lengkap final selector. Switch akan menghubungkan voice channel telepon pemanggil ke telepon yang dipanggil.

  SLIC atau Subcriber Line Interface Card adalah rangkaian antarmuka telepon pelanggan yang melakukan fungsi suplai tegangan 48V, perlindungan tegangan lebih, sinyal dering, ringback tone, deteksi hook dan fungsi-fungsi signaling pelanggan lainnya. Dalam sentral digital, fungsi SLIC mencakup BORSCHT, yakni battery feeding, overvoltage protection, ringing, supervision, coding, hibrid dan test. SLIC pada sentral umumnya dalam bentuk modul kapasitas 8, 16 atau 32 telepon.

  OT600 Telepon 4 5 2 1 4N25 +48V 5V 5 V 5V BD139 1 00K 2x 414 1 N 8 10u 1 0nF F 10K 10K 10K 4K7 10K 10K 10uF 10uF/ 100V 470 470 470 MOV Deteksi Hook Sinyal Dering Sinyal Suara Sinyal Ringback Tone Kontrol Dering

  Gambar 7. Rangkaian SLIC sederhana

  Salah satu contoh rangkaian SLIC ditunjukkan pada gambar 7. Suplai tegangan telepon sebesar 48V akan mengalirkan arus berkisar 20mA saat telepon diangkat. Arus akan mengalir melalui optocoupler 4N25 melalui rangkaian penarik arus BD139. Saat arus mengalir menyebabkan tegangan pada pin kolektor 4N25 akan turun dari 5V menjadi 0V. Pin 5 ini akan berfungsi sebagai pendeteksi hook saat telepon diangkat. Saat telepon akan diberi nada dering (kondisi tertutup, on hook), kontrol dering diberi tegangan yang menyebabkan rele berpindah dari catuan 48V ke catuan tegangan dering AC (sekitar 55Vac – 90Vac). Saat ingin memberikan sinyal ringback tone, sinyal akan dikopling melalui kopling capasitor, pembagi tegangan dan trafo. Fungsi trafo digunakan untuk mencegang tegangan 48V masuk ke line finder maupun final selector.

  Pencegahan tegangan lebih yang dapat merusak rangkaian menggunakan MOV (Metal Oxide Varistor), yakni komponen yang identik dengan 2 buah zener diode bertolak belakang yang memberikan stabilisasi nilai tegangan.

  8. Implementasi Trunking

  Trunking menghubungkan sentral ke sentral lain. Saat panggilan keluar (outgoing call), trunk dihubungkan ke final selector, sedangkan saat panggilan masuk (incoming call), trunk dihubungkan dengan line finder. Sehingga dibutuhkan rangkaian khusus sebagai antarmuka trunking. Gambar 8 menunjukkan blok antarmuka trunking.

7. Implementasi SLIC

  9. Komparasi Teknologi

  Sistem step by step terintegrasi memiliki kelebihan dibandingkan sentral step by step konvensional. Hal ini disebabkan adanya reduksi volume selector. Namun jika dibandingkan teknologi common control, baik sentral analog maupun sentral digital, sentral ini memiliki banyak kekurangan.

  Kebutuhan komponen relatif besar jika implementasinya menggunakan teknologi SSI/MSI serta komponen pasif yang terdapat di pasaran. Untuk implementasi gambar 3, membutuhkan 5 buah SLIC dengan kepadatan 25 komponen per SLIC, 3 buah line finder dengan kepadatan 15 komponen per line finder, membutuhkan 3 buah final selector dengan kepadatan 10 komponen per unit. Trunk Interface

  SLIC Trunk Ke Line Finder Ke Final Selector Gambar 8. Blok Antarmuka Trunk

  Pada gambar 3, trunking hanya berfungsi sebagai outgoing call, sehingga dibutuhkan 1 rangkaian interface trunk dengan komposisi 10 komponen. Sehingga perkiraan total komponen berkisar 210 komponen tidak termasuk catudaya.

  Selain komposisi komponen rangkaian, fitur telepon hanya terbatas pada incoming dan outgoing call, tanpa dilengkapi fitur sentral pada umumnya. Namun demikian, penggunaan komponen VLSI, komponen surface mount dan kombinasi step by step dengan common control (penggunaan mikrokontroler) dapat menjadi alternatif teknologi sentral berkapasitas kecil.

  Im p le m e nta si Siste m Ste p b y Ste p Sw itc hing Me ng g una ka n Ko m p o ne n

  13

10. Kesimpulan

  Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi teknologi switching step by step dengan komponen terintegrasi adalah mungkin. Namun masih memiliki kekurangan pada kepadatan komponen dan fitur sentral.

  Daftar Pustaka

  Sigit Haryadi,Ir, 1986, “Diktat Kuliah Dasar Teknik Penyambungan Telepon”, Pendidikan Ahli Teknik Telekomunikasi.

  Suherman,ST., 2004, “Diktat Teknik Jaringan Telekomunikasi”, Politeknik Caltex Riau, Pekanbaru.

  Suherman,ST., (Desember 2004) “Modifikasi Sistem Pemrograman Pabx Mini Dilengkapi Rangkaian Penguji”, Jurnal Ensikom, Vol.2 No.2, Medan.

Dokumen baru